Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN HASIL DISKUSI TUTORIAL BLOK PENGANTAR KEDOKTERAN

GIGI
MODUL 5

KELOMPOK 4
ANGGOTA KELOMPOK:
VIKRA PRASETYA WALDI 1611411013
INNE PRATIWI DEBITA 1611411014
FAHIRA OCSA VISRA 1611411015
FIKA MELINDA PUTRI 1611411016
ADHITYA OKTAPRAJA 1611412011
VIKTORIA SURYA DHARMA 1611412012
HARLISA PUSPA WATI 1611412013
AVISA ULIMA 1611413010
RIKA IRMA YANTI 1611413011
KINANTYA PUTRI RIDELFI 1611413012
BAYU RAGIL PANGESTU 1611413013

PENDIDIKAN DOKTER GIGI-FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2017
MODUL 5
PROSES PENUAAN JARINGAN RONGGA MULUT
Skenario 5 :
Gusi Pak Telolet atropi

Pak Telolet (68 th) datang ke Dokter gigi untuk memeriksakan giginya. Pak Telolet
mengeluhan akhir-akhir ini ia merasakan banyak sekali keluhan yang dirasakan pada
mulutnya dan banyak gigi yang ompong, serta terasa linu bila minum dingin.
Hasil pemeriksaan dokter gigi diketahui lebih dari 2/3 dari jumlah giginya sudah
hilang dengan kondisi tulang alveolar yang atropi.Selain itu gigi yang masih ada mengalami
atrisi, abrasi, dan resesi gingiva.Hal ini sering dialami olleh orang seusia pak Telolet.Pak
Telolet sering mengeluh sakit kepala dan sakit di sekitar bawah telinga ketika pak Telolet
menggerakkan rahangnya.
Bagaimana saudara menjelaskan keadaan yang dialami pak Telolet?

Langkah 1. Mengklarifikasi terminologi yang tidak diketahui dan mendefinisikan


hal-hal yang dapat menimbulkan kesalahan interpretasi
 Atropi adalah penuaan, pengecilan otot akibat respon nutrisi yang kurang. Dan
merupakan proses fisiologi umum yang menyebabkan apoptosis akibat dari
penyusutan/ penurunan organ jaringan atau sel tersebut.
 Atrisi adalah kerusakan pada permukaan oklusi gigi karena adanya kelainan
pada rongga mulut.
 Abrasi adalah ausnya jaringan gigi akibat factor mekanik, luka kecil pada
permukaan kulit atau mukosa karena trauma atau gesekan.
 Resesi gingiva adalah pergeseran gingiva, surut sehingga akar terlihat, yang
bergerak kearah apical.

Langkah 2. Menentukan Masalah


1. Bagaiman proses penuaan jaringan keras rongga mulut ?
2. Bagaiman proses penuaan jaringan lunak rongga mulut ?
3. Bagaiman karakteristik penuaan jaringan lunak rongga mulut ?
4. Factor apa saja yang memperpengaruh penuaan rongga mulut ?
5. Apa saja pengaruh penuaan jaringan rongga mulut ?
6. Bagaimana dampak penuaan jaringan rongga mulut terhadap rongga mulut ?
7. Apa yang menyebabkan terjadinya atrisi, abrasi dan resesi gingiva ?
8. Bagaiman dampak kehilangan gigi geligi ?
9. Apa yang menyebabkan pak Telolet ngilu ketika minum-minuman dingin ?
10. Apa penyebab sakit rahang pak telolet ?

Langkah 3. Menganalisa masalah


1. Penuaan jaringan keras rongga mulut terjadi pada gigi dan tulang alveolar. Diman
pada gigi, email akan atrisi, terjadi proses erosi, dan abrasi akibat factor mekanik.
Pulpa akan mengecil, terjadinya penurunan vaskuler dan berkurangnya asupan nutrisi
dan mineral. Sementum menebal 1/3 akar. Pada dentin, terbentuknya dentin sekunder
dan tersier. Sedangkan pada tulang alveolar terjadinya degenerasi.
2. penuaan jaringan lunak rongga mulut :
 Mukosa : pucat, kering, dan terjadi oedema, rapuh, disebabkan karena trauma
mekanik, merokok, dan obat-obatan.
 Gingiva : keratinitas menipis dan adanya ressi dan atropi.
 Lidah : papilla berkurang, lidah menjadi besar, beralut dan lebar, fissure
dalam.
 Saliva : produksinya menjadi turun karena degenerasi sel asini, aliran saliva
menurun sehingga terjadi gangguan pengecapan, karies meningkat, mudah
terjadi trauma mekanik, penumpukan fibrosa, dan xerostamia.
 Ligament periodontal : kolagen yang menebal
 DEJ ke apical dan meluas ke CEJ.
3. Karakteristik penuaan jaringan lunak rongga mulut
 Mukosa : terlihat pucat, stipling hilang, elastisitas turun, rapuh, atropi, epitel
menipis, kemunduran lamina propria.
 Lidah : papilla berkurang, lidah berulur, dan berambut.
 Saliva : produksinya menurun.
 Gingiva : stipling dan oksidasi menurun, resesi.
4. Factor yang memperpengaruh penuaan rongga mulut
 Genetic : penuaan dini, intelegensi, penyakit dan radikal bebas.
 Endogenic : hormone.
 Eksogenik dan kebiasaan hidup : asupan gizi dan merokok.
 Obat-obatan : obat depresan dan make up.
 Jenis kelamin : wanita lebih cepat menua dari pada laki-laki.
 System imun
 Kepribadian : stress.
 Pekerjaan.
5. Pengaruh penuaan jaringan rongga mulut
 Berbicara
 TMJ (Temporo Mandibula Joint)
 Persyarafan.
 Perubahan pada sendi
 Kehilangan kontak oklusi
 Penipisan enamel
 Penurunan lekukan rahang
6. Dampak penuaan jaringan rongga mulut terhadap rongga mulut
 Fungsi pengecapan berkurang
 Kehiangan kontak oklusi yang mengganggu fungsi kunyah
 Perubahan lekukan
 resorpsi linggir alveolar
 Perubahan pada sendi
7. Penyebabkan terjadinya atrisi, abrasi dan resesi gingiva
 Adanya gesekan terhadap gigi
 Kebiasaan buruk
 Penuaan
8. Dampak kehilangan gigi geligi
 Kelainan dalam berbicara, dimana rahang atas dan rahang bawah menjadi
dekat.
 Estetika menurun
9. Menyebabkan pak Telolet ngilu ketika minum-minuman dingin adalah karena
terjadinya abrasi, erosi pada gigi sehingga enamel tipis yang nantinya akan menjadi
lebih sensitive dan air dingin dengan mudah merembes ke dentin karena email yang
tipis.
10. Penyebab sakit rahang pak telolet :
 Sering menggemertakkan gigi
 Cedera rahang, dislokasi, gangguan TMJ

Langkah 4. Membuat skema atau diagram dari komponen-komponen permasalahan

Pak Telolet (68 th)

Keluhan

Dokter gigi
Atropi,abrasi dan 2/3 gigi hilang
resesi gingiva

Tulang alveolar
atropi

Penuaan jaringan rongga mulut

Proses penuaan
rongga mulut Factor penuaan Pengaruh dan
rongga mulut dampak penuaan
rongga mulut

Proses penuaan jaringan lunak rongga mulut

Proses penuaan jaringan keras rongga mulut

Langkah 5. Langkah 5. Memformulasikan tujuan pembelajaran

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelskan proses penuaan jaringan


lunak rongga mulut
2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelskan proses penuaan jaringan
keras rongga mulut
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelskan faktor-faktor yang
mempengaruhi penuaan rongga mulut
4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelskan pengarug dan dampak
penuaan rongga mulut

Langkah 6. Mengumpulkan informasi di perpustakaan, internet, dan lain lain

A. Mahasiswa mampu memahami dan menjelskan proses penuaan jaringan lunak


rongga mulut
a. Mukosa, Terjadi perubahan pada struktur, fungsi dan elastisitas jaringan mukosa
mulut.
 Gambaran klinis jaringan mukosa mulut lansia tidak berbeda jauh dengan individu
muda, tetapi riwayat adanya trauma, penyakit mukosa, kebiasaan merokok, dan
adanya gangguan pada kelenjar ludah dapat mengubh gambran klinis
 Gambaran histologis jaringan mukosa mulut yaitu trjadi penipisan epitel, penurunan
proliferasi seluler, hilangnya lemak dan elastisitas submukosa, meningkatnya jaringan
ikat fibrotik yang disertai perubahan degenerati kolagen.
 Perubahan struktural tersebut disertai dengan permukan yang halus, kering, dan
tampak tipis, seta hilangnya stippling dan elastisitas mukosa. Perubahan tersebut
meningkatkan predisposisi mukosa terhadap trauma dan infeksi

Karakteristik penuaan mukosa mulut :


 Terlihat pucat dan kering
 hilangnya stippling
 terjadinya Oedema
 elastisitas jaringan berkurang
 jaringan mudah mengalami iritasi dan rapuh
 kemunduran lamina propria
 epitel mengalami penipisan
 keratinisasi berkurang
 vaskularisasi berkurang sehingga mudah atropi
 penebalan serabut kolagen pada lamina propia.

b. Lidah
 Tonus lidah mengalami penurunan tapi ukurannya tidak berubah kecuali pada orang
yang kehilangan giginya
 Papilla lidah berkurang demikian juga ukurannya. Diprediksi bahwa 65% taste bud
hilang pada umur 80 tahun.
 Tampak bercelah dan beralur atau ada pula yang tampak berambut
 Varikositas pada ventral lidah tampak jelas.
 Manifestasi yang sering terlihat adalah atrofi papil lidah dan terjadinya fisura-fisura.
Sehubungan dengan ini maka terČjadi perubahan persepsi terhadap pengecapan.
Akibatnya orang tua sering mengeluh tentang kelainan yang dirasakan terhadap rasa
tertentu misalnya pahit dan asin. Dimensi lidah biasanya membesar dan akibat
kehilangan sebagian besar gigi, lidah besentuhan dengan pipi waktu mengunyah,
menelan dan berbicara.

c. Kelenjar Saliva
 Kecepatan aliran saliva rendah
 Biosintesis protein menurun karena sel-sel asinus mengalami atropi sehingga jumlah
protein saliva menurun
 Xerostomia, aliran saliva berkurang karena menurunya jumlah jaringan asihan yang
sebanding dengan ductus dan connective tissue
Fungsi kelenjar saliva yang mengalami penurunan merupakan suatu keadaaan normal
pada proses penuaan manusia. Lansia mengeluarkan jumlah saliva yang lebih sedikit pada
keadaan istirahat, saat berbicara, maupun saat makan. Keluhan berupa xerostomia atau
mulut kering sering ditemukan pada orang tua daripada orang muda yang disebabkan oleh
perubahan karena usia pada kelenjar itu sendiri. Berdasarkan penelitian terjadinya
degenerasi epitel saliva, atrofi, hilangnya asini dan fibrosis terjadi dengan frekuensi dan
keparahan yang meningkat dengan meningkatnya usia. Secara umum dapat dikatakan
bahwa saliva nonstimulasi (istirahat) secara keseluruhan berkurang volumenya pada usia
tua.
d. Ligamen Periodontal
Perubahan pada ligamen periodontal yang berkaitan dengan lanjut usia yaitu
· berkurangnya fibroblas dan strukturnya lebih irregular,
· berkurangnya produksi matriks organik dan sisa sel epitel serta
· meningkatnya jumlah serat elastis.
Dalam referensi lain (Makalah Bagian Prostodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Padjadjaran Bandung 2009,dengan judul “Respon Jaringan terhadap Gigi Tiruan Lengkap
pada Pasien Usia Lanjut”,yang disusun oleh drg. Lisda Damayanti, sp. Pros.) disebutkan
adanya peningkatan fibrosis dan menurunnya selularitas ligamen periodontal.

e. Gingiva
 Terjadinya penambahan papilla jaringan ikat dan menurunnya keratinisasi epitel.
Keratinisasi epitel gingiva yang menipis dan berkurang terjadi berkaitan dengan usia.
Keadaan ini berarti permeabilitas terhadap antigen bakteri meningkat, resistensi terhadap
trauma fungsional berkurang, atau keduanya.Karena itulah, perubahan tersebut dapat
mempengaruhi hasil perawatan periodontal jangka panjang.
 Pergerakkan dent gingival junction ke apical meluas ke Cemento Enamel Junction.
Migrasi epitel junction ke arah permukaan akar dapat disebabkan oleh erupsi gigi melewati
gingiva sebagai usaha untuk mengatur kontak oklusal dengan gigi lawannya (erupsi pasif)
akibat hilangnya permukaan gigi karena atrisi.Hal ini kemudian berkaitan dengan resesi
gingiva.Resesi gingiva yang terjadi pada lanjut usia bukanlah merupakan proses fisiologis
yang pasti, namun merupakan akibat kumulatif dari inflamasi atau trauma yang terjadi pada
periodontal (seperti menyikat gigi yang terlalu keras).

B. Mahasiswa mampu memahami dan menjelskan proses penuaan jaringan keras


rongga mulut
Penuaan jaringan keras rongga mulut terbagi 2 :
1. Penuaan gigi
Berkaitan dengan proses fisiologis normal dan proses patologis akibat tekanan
fungsional dan lingkungan. Gigi geligi mengalami diskolorasi menjadi lebih gelap dan
kehilangan email akibat abrasi, erosi, dan atrisi.
Gigi-gigi biasanya menunjukkan tanda-tanda perubahan dengan bertambahnya usia
perubahan ini bukanlah sebagai akibat dari usia tetapi disebabkan oleh refleks, keausan,
penyakit, kebersihan mulut, dan kebiasaan. Email mengalami perubahan pada yang nyata
karena pertanbahan usia, termasuk kenaikan konsetrasi nitrogen dan fluoride sejalan usia.
a) Email :
 Erosi : melarutnya email gigi (kalsium) oleh asam.Erosi merupakan kelinan yang
disebabkan hilangnya jaringan keras gigi karena proses kimiawi dan tidak melibatkan
bakeri.
Penyebab utama larutnya email gigi adlah makanan atu minuman yang mengandung asam,
asam yang timbul akibat gangguan pencernaan yaitu hasil metabolisme sisa makanan oleh
kuman, asm yang mempunyai PH kurang dari 5,5.
 Abrasi : terkikisnya lapisan email gigi sehingga email menjadi berkurang atau hilang
hingga mencapi dentin .
Penyebab yaitu gaya friksi (gesekan) langsung antara gigi yang berkontak dengan objek
eksternal karena cara menyikat gigi yang tidak tepat, kebiasaan buruk seperti menggigit
pensil, mengunyah tembakau, menggunakan tusuk gigi yang berlebihan diantara gigi, serta
pemakaian gigi tiruan lepasan yang menggunakan cengkeraman.
 Atrisi : hilangnya suatu substansi gigi secara bertahap (keausan) pada permukaan
oklusal, incisal, dan proksimal gigi karena proses mekanis yang terjadi secara
fisiologis akibat pengunyahan.
Penyebabnya yaitu proses pengunyahan didukung oleh kebiasaan buruk seperti mrngunyah
sirih, kontak premature dan makanan yang bersifat abrasive, serta proses fisiologis
pengunyahan pada manula.
b) Dentin
Terjadinya proses pembentukan:
 Dentin sekunder : kelanjutan dentinogenesis, reduksi jumlah odontoblas
 Dentin tersier : adanya respon ransangan, odontoblas berdesakan, dan tubulus dentin
bengkok
 Dentin skelrotik : karies terhenti/berjalan sangat lambat, tubulus dentin menghilang,
dan merupakan system pertahanan tubuh ketika ada karies
 Dead tracks (saluran mati ) : tubulus dentin kosong
c) Pulpa
 Peningkatan kalsifikasi jaringan pulpa
 Penurunan komponen vaskuler dan seluler
 Reduksi ukuran ruang pulpa, Pembentukan dentin yang berlanjut sejalan dengan usia
menyebabkan reduksi secara bertahap pada ukuran kamar pulpa.
 Peningkatan jaringan kolagen pulpa
2. Penuaan tulang alveolar
 Terjadinya resorpsi dari processus alveolaris terutama setelah pencabutan gigi
sehingga tinggi wajah berkurang, pipi dan labium oris tidak terdukung, wajah menjadi
keriput
 Terjadi resorpsi pada caput mandibula, fossa glenoidales yang akan membatasi ruang
gerak membuka dan menutup mandibula
 Degenerasi tulang alveolar menyebabkan gigi geligi tampak lebih panjang. Masa
tulang (baik pada tulang alveolar atau sendi rahang ) menurun akibat menurunya
asupan kalsium dan hilangnya mineral tulang. Massa tulang dewasa mencapai
puncaknya sekitar 35 tahun. Kemudian massa tulang menurun sejalan dengan usia,
dengan hilangnya tulang kortikal maupun tulang trebekular.
 Tulang alveolar juga mengalami remodeling. Resorbsi rahang atas menyebabkan
dasar sinus tipis.
Dalam suatu kelompok orang berusia 65 tahun atau yang lebih tua, menunjukkan adanya
kehilangan perlekatan dan tulang alveolar yang lebih berat dibandingkan orang yang lebih
muda.Gambaran klinis ini kemungkinan terjadi akibat efek dari akumulasi plak dalam jangka
waktu yang lama.Faktanya, penelitian klinis menyimpulkan bahwa penuaan kronologis tidak
selalu menyebabkan terjadinya kehilangan perlekatan ataupun penurunan penyangga tulang
alveolar.
3. Penuaan sementum
Penebalan sementum disepanjang seluruh permukaan akar meningkat seiring dengan
bertambahnya usia, dan penebalan ini lebih terlihat pada sepertiga apikal akar. Faktor-faktor
yang mempengaruhi proses penuaan jaringan rongga mulut.

C. Mahasiswa mampu memahami dan menjelskan faktor-faktor yang


mempengaruhi penuaan rongga mulut
1. Factor genetic
 Penuaan dini
 Resiko penyakit
2. Factor endogenick
Hormone : menurunnya hormone estrogen dan testosterone menyebabkan osteoblast
menurun, osteoklast meningkat sehingga terjadi reabsorpsi dan remodeling tulang dan
tulang alveolaris menjadi berkurang.
3. Factor eksogenik (lingkungan dan gayahidup)
 Diet/asupan gizi
 Vitamin dapat memperlambat proses degenerative pada lansia.
 Defisiensi ion Zn dapat menyebabkan gangguan fungsi imun dan
pengecapan.
 Merokok dapat menggangu vaskulerisasi sehingga mempercepat penuaan
rongga mulut
 Penyinaran ultraviolet
 Polusi
Proses penuaan dipicu oleh laju peningkatan radikal bebas dan system penawaran racunyang
semakin berubah seiring berjalannya usia.
D. Mahasiswa mampu memahami dan menjelskan pengarug dan dampak penuaan
rongga mulut
Secara umum :
1. Fungsi pengecapan berkurang : terjadi karena taste buds berkurang.
2. Penuaan mengakibatkan kehilangan kontak oklusal akan menganggu kestabilan
lengkung gigi sehingga menganggu fungsi kunyah.
3. Epitel mukosa mudah terkelupas dan jaringan ikat di bawahnya sembuh lambat.
Atropi jaringan ikat menyebabkan elastisitas menurun sehingga menyulitkan
pembuatan protesa yang baik.
4. Secara klinis, mukosa mulut memperlihatkan kondisi yang menjadi lebih pucat, tipis
kering, dengan proses penyembuhan yang melambat. Hal ini menyebabkan mukosa
mulut lebih mudah mengalami iritasi terhadap tekanan ataupun gesekan, yang
diperparah dengan berkurangnya aliran saliva (Silverman 1965).
5. Perubahan Ukuran Lengkung Rahang.
Kebanyakan proses penuaan disertai dengan perubahan-perubahan osteoporosis pada
tulangnya. Penelitian pada inklinasi aksial gigi pada tengkorak manusia yang kemudian
diikuti oleh hilangnya gigi, merupakan salah satu pertimbangan dari awal berkurangnya
tinggi tulang alveolar (Boucher, 1982).
Umumnya gigi-gigi rahang atas arahnya ke bawah dan keluar, maka pengurangan
tulangnya pada umumnya juga terjadi ke arah atas dan dalam.Karena itu lempeng kortikalis
tulang bagian luar lebih tipis daripada bagian dalam.Resorbsi bagian luar lempeng kortikalis
tulang berjalan lebih banyak dan lebih cepat. Dengan demikian, lengkung maksila akan
berkurang menjadi lebih kecil dalam seluruh dimensi dan juga permukaan landasan gigi
menjadi berkurang.
Pada rahang bawah, inklinasi gigi anterior umumnya ke atas dan ke depan dari bidang
oklusal, sedangkan gigi-gigi posterior lebih vertikal atau sedikit miring ke arah lingual.
Permukaan luar lempeng kortikalis tulang lebih tebal dari permukaan lingual, kecuali pada
daerah molar, juga tepi bawah mandibula merupakan lapisan kortikalis yang paling tebal.
Sehingga arah tanggul gigitan pada mandibula terlihat lebih ke lingual dan ke bawah pada
daerah anterior dan ke bukal pada daerah posterior. Resorbsi pada tulang alveolar mandibula
terjadi ke arah bawah dan belakang, kemudian ke depan. Terjadi perubahan-perubahan pada
otot sekitar mulut, hubungan jarak antara mandibula dan maksila serta perubahan ruangan
dari posisi mandibula dan maksila.
6. Resorbsi Linggir Alveolar
Tulang akan mengalami resorbsi dimana atropi selalu berlebihan. Resorbsi yang
berlebihan dari tulang alveolar mandibula menyebabkan foramen mentale mendekati puncak
linggir alveolar.Puncak tulang alveolar yang mengalami resorbsi berbentuk konkaf atau datar
dengan akhir seperti ujung pisau.Resorbsi berlebihan pada puncak tulang alveolar
mengakibatkan bentuk linggir yang datar akibat hilangnya lapisan kortikalis tulang.Resorbsi
linggir yang berlebihan dan berkelanjutan merupakan masalah karena menyebabkan fungsi
gigi tiruan lengkap kurang baik dan terjadinya ketidakseimbangan oklusi.
7. Berkurangnya fungsi pengecapan juga cenderung menambah masalah pada
pemakaian gigi tiruan (Barnes).
Pengurangan aliran saliva akan mengganggu retensi gigi tiruan, karena mengurangi ikatan
adhesi saliva diantara dasar gigi tiruan dan jaringan lunak dan menyebabkan iritasi mukosa.
Keadaan ini menyebabkan kemampuan pemakaian gigi tiruan berkurang sehingga
kemampuan mengunyah berkurang, kecekatan gigi tiruan berkurang, kepekaan pasien
terhadap gesekan-gesekan dari gigi tiruan bertambah (Boucher 1982).
Pengaruh penuaan terhadap sendi TMJ
Perubahan pada sendi Temporo Madibular Junction sering terjadi pada usia 30-50
tahun. Penelitian tentang otot-otot penutupan mulut menunjukkan perpanjangan fase
konstraksi sejalan dengan usia, yang menunjukkan perubahan umum dari otot atau hilangnya
serabut otot untuk gerakan mandibula berkaitan dengan pertambahan usia. Reduksi lebih
lanjut pada ketebalan otot rahang ditemukan pada orang tidak bergigi dibanding yang masih
bergigi. Perubahan ini terjadi akibat dari proses degenerasi sehingga melemahnya otot-otot
mengunyah yang mengakibatkan sukar membuka mulut secara lebar. Maka pengaruh yang
akan terjadi pada TMJ :
 Pengaruh pengurangan jumlah gigi akibat penaan, terutama di gigi posterior telah
diindikasikan sebagai penyabab gangguan TMJ. Hal ini karena condilust
mandibula akan mencari posisi yang nyaman pada saat menutup mulut. Inilah
yang memicu perubahan letak condilust pada fossa glenoid dan menyebabkan
kelainan pada TMJ
 Akibat penuaan jmengakibatkan kontraksi otot bertambah panjang saat menutup
mulut. Hal ini menyebabkan kerja sendi lebih kompleks
 Penuaan mengakibatkan remodeling.

Secara umum pada system stomatognatik:


- Penuaan mengakibatkan kehilangan kontak oklusal akan mengganggu kestabilan lengkung
gigi sehingga mengacaukan fungsi kunyah
- Pada proses bicara, huruf konsonan dibentuk oleh pemutusan aliran udara di atas larink.
Pemutusan ini dapat dilakukan oleh salhsatunya karena gigi sehingga jika gigi sudah tanggal,
pembentukan huruf konsonan terganggu, dan menghambat proses bicara
- Produk bicara juga dipengaruhi oleh otot pengunyahan
Pengaruh perubahan usia pada gigi geligi
 Pergerakan ke mesial (kea rah depan) dari gigi geligi. Pada tiap arcus dentalis yang
berhubungan dengan ausnya facies aproximalis (daerah kontak) dari gigi geligi
tetangganya (proses penyesuaian local untuk gigi sebelahnya)
 Atrisi enamel, diikuti dengan terbukanya dentin pada facies occlusalis dan edge
insisal. Proses ini berhubungan dengan reduksi besar cavitas pulparis karena dentin
sekunder yang mengalami atrisi yang hebat
 Pergerakan mandibula ke depan dalam hubungan dengan maksila. Diakibatkan karena
atrisi bonjol-bonjol gigi belakang cenderung menimbulkan kontak gigitan tepi dari
insisivus atas dan bawah bertemu
 Resesi gingiva, menyebabkan CEJ pada cavum oris sehingga perlekatan ligamentum
periodonsium akan berkurang dan tepi soket tereabsorpsi. Terjadi rasa ngilu/ karies
serviko fasial, menganggu estetika karena gigi terlihat panjang, dinding poket
meradang, jumlah sel fibrobrast ligament periodontal menurun.
 Akar gigi memanjang karena deposisi cementum pada regio apicalis sehingga
kompensasi resesi gusi ke arah akar menyebabkan erupsi aktif
 Penyempitan rongga pulpa dan penebalan cementum.
DAFTAR PUSTAKA

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/29639/Chapter%20II.pdf
;jsessionid=A814E5227A6D15946CC77BD36F3A2161?sequence=4

Nugroho, Wahyudi, SKM, 1995, Perawatan Lanjut Usia, Jakarta : EGC

Pudjirochani E. Cara penanganan penderita lanjut usia di bidang Prostodonsia. Dent J.


2002;35:3-36. Indonesian