Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK

SEMESTER I 2010/2011
Percobaan-04
KROMATOGRAFI KOLOM & KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
Isolasi Kurkumin dari Kunyit (Curcuma longa L)

Oleh :
Nama : Virginia Agustina Sigi
NIM/Prodi : 10709017 / Sains dan Teknologi Farmasi
Kelompok :2
Shift : Rabu siang : 13.00 s.d. 17.00
Asisten / NIM : Yogi Prasetyo Nugroho / 21110014

LABORATORIUM KIMIA ORGANIK


PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2010
A. Tujuan Percobaan

1. Memisahkan komponen penyusun kurkuminoid hasil isolasi dari kunyit


dengan cara Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Kromatografi Kolom.
2. Menetukan Rf komponen senyawapenyusun kurkuminoid hasil isolasi dari
kunyit dengan cara Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

B. Teori Dasar
Kromatografi adalah metode untuk memisahkan senyawa organik dan anorganik
agar dapat dianalisis. Metode pemisahan berdasarkan pada perbedaan migrasi dan
distribusi senyawa atau ion-ion di dalam dua fasa berbeda. Pergerakan fasa gerak
dalam fasa diam bergantung pada afinitasnya. Semakin besar afinitasnya terhadap
fasa gerak, zat akan semakin lama
tertahan di fasa gerak. Semakin kecil
afinitasnya terhadap fasa gerak, zat akan
semakin lama tertahan di fasa diam

Kunyit adalah tummbuhan yang sudah


sering digunakan oleh semua orang.
Rimpang dari tumbuhan ini biasa
digunakan sebagai bahan warna kuning
dalam industri tekstil, sebagai bumbu
masakan, dan obat tradisional.
Komponen penyusun kurkuminoid
antara lain adalah kurkumin yang
bersifat antikanker dan anti tumor,
demetoksi kurkumin dan bisdemetoksi
kurkumin
C. Alat dan Bahan

1. Diklorometana

2. N-heksana

3. Air

4. Kunyit

5. Penyaring vakum

6. Alat distilasi

7. Penangas air

8. Batang pengaduk

9. Pipet tetes

10. Pipa kapiler

11. Gelas kimia

12. Spatula

13. Statif

D. Cara Kerja
20 g rimpang kunyit dalam 50 ml diklorometana direfluks selama 1 jam.
Campuran kemudian disaring dengan saringan vakum hingga diperoleh
larutan kuning. Larutan lalu dipekatkan melalui distilasi pada pengangas air
50oC. Residu kuning kemerahan yang diperoleh kemudian dicampurkan
dengan 20ml n-heksana dan diaduk secara merata. Campuran kemudian
disaring lagi dengan penyaring vakum. Padatan yang dihasilkan selanjutnya
dianalisis dengan Kromatografi Lapis Tipis menggunakan eluen CH 2CL2 :
MeOH = 97 : 3 yang akan menunjukkan tiga komponen utama.

Kromatografi menggunakan kromatografi kolom dibuat menggunakan 15 g


silica gel dan eluen CH2CL2 : MeOH = 99 : 1 dengan tinggi kolom berkisar
antara 15 – 20 cm. 0,3 g ekstrak kasar yang diperoleh dilarutkan dengan
sesedikit mungkin pelarut CH2CL2 : MeOH = 99 : 1 dan kemudian
diteteskan secara perlahan pada bagian atas kolom. Elusi dilakukan sampai
komponen pertama habis. Monitoring dilakukan dengan menggunakan
KLT. Gabungkan fraksi yang menggunakan komponen pertama ini
kemudian dikeringkan. Uji spektrum UV dan IR dari senyawa murni yang
berhasil diisolasi.

Proses pemisahan dilakjukan pula dengan menggunakan KLT preparatif.


Ekstrak kasar (0.1 g) dilarutkan dengan sesedikit mungkin pelarut CH 2CL2 :
MeOH = 99 : 1, kemudian ditootolkan pada batas awal pelat KLT
preparatif dengan menggunakan pipa kapiler yang diameternya lebih bbesar
daripada pipa kapiler untuk titik leleh. Setelah noda kering, elusi dilakukan
dengan eluen CH2CL2 : MeOH = 97 : 3. Hasil elusi dilihat di bawah lampu
UV, kemudian pita komponen utamanya diberi tanda dengan ujung tumpul
pipa kapiler. Bagian pita yang dipilih kemudian dipisahkan dari komponen
lainnya dengan cara mengerok lapisan silica tersebut dan ditampung pada
kertas. Pindahkan silica tersebut ke dalam gelas kimia, larutkan dengan
rotary evaporator (atau distilasi biasa dengan penangas air pada suhu
60oC). Lakukan uji kemurnian fraksi yang diperoleh dengan KLT (eluen
CH2CL2 : MeOH = 97 : 3). Bandingkan kemurniannya dengan fraksi hasil
pemisahan secara kromatografi kolom.
E. Data Pengamatan

Kromatografi Lapis Tipis

Jarak tempuh pelarut : 4 cm

Jarak noda 1 : 0,9 cm

Jarak noda 2 : 1,6 cm

Jarak noda 3 : 2,7 cm

F. Pengolahan Data

0,9
Rf 1 = =0,225
4

1,6
Rf 2 = =0,4
4

2,7
Rf 3 = =¿ 0,675
4
G. Pembahasan

Pada pengerjaan isolasi kurkumin, proses pemisahannya dilakukan dengan


menggunakan pelarut diklorometana yang merupakan pelarut non polar
karena senyawa yang tedapat di dalam kunyit adalah senyawa organik yang
bersifat non polar. Jadi digunakan pelarut non polar agar senyawa yang
terdapat di dalam kunyit bisa larut. Kunyit direfluks selama satu jam
dengan tujuan untuk mengekstrak kurkumin. Setelah itu ekstrak kurkumin
di distilasi untuk menguapkan pelarut sehingga didapat residu berwarna
kuning kemerahan.

Kemudian residu ditambahkan n-heksana yang berfungsi untuk


menjenuhkan residu sehingga residu memadat. Setelah itu campuran
disaring dan didapatkan padatan/ serbuk kurkuminoid yang akan digunakan
untuk analisi dengan metode kromatografi kolom dan kromatografi lapis
tipis.

Pada kromatografi kolom dan kromatografi lapis tipis, fasa diam yang
digunakan adalah silika gel yang memiliki sifat polar. Silika gel memiliki
pori berukuran 24 angstroms. Pada kromatografi kolom, pemisahan
komponen komponen kurkuminoid juga berdasarkan ukuran molekul zat
terlarut. Zat terlarut dengan ukuran molekul lebih besar dari fasa diam akan
tertahan. Sedangkan fasa gerak yang dipakai bersifat non polar, yaitu pada
kromatografi kolom adalah CH2CL2 : MeOH = 99 : 1 dan pada kromatografi
lapis tipis adalah CH2CL2 : MeOH = 97 : 3. Maka komponen penyusun
kurkuminoid yang lebih polar cenderung tertahan pada fasa diam. Karena
fasa diam yang bersifat polar akan mengikat senyawa yang lebih polar
sehingga senyawa tertahan dan jarak tempuhnya paling kecil. Sedangkan
senyawa yang lebih non polar akan terbawa oleh fasa gerak yang non polar
sehingga akan memiliki jarak tempuh lebih jauh.

Setelah di elusi, pada kedua jenis kromatografi didapatkan tiga fraksi


senyawa. Warna senyawa berurutan dari yang jarak tempuhnya paling kecil
adalah coklat kemerahan, oranye, dan kuning. Senyawa yang berwarna
coklat kemerahan adalah bisdemetoksi kurkumin, senyawa yang berwarna
oranye adalah demetoksi kurkumin dan senyawa yang berwarna kuning
adalah kurkumin. Dari hasil kromatografi dapat disimpulkan bahwa urutan
komponen berdasarkan kepolarannya dari yang paling polar adalah
kurkumin, demetoksi kurkumin, bisdemetoksi kurkumin.

Hasil nilai Rf yang diperoleh dari percobaan adalah 0,225 untuk


bisdemetoksi kurkumin, 0,4 untuk demetoksi kurkumin dan 0,675 untuk
kurkumin. Dan nilai Rf yang diperoleh dari literatur adalah 0,29 untuk
bisdemetoksi kurkumin, 0,44 untuk demetoksi kurkumin dan 0,69 untuk
kurkumin. Nilai Rf yang diperoleh sudah mendekati literatur tetapi belum
sama, artinya senyawa yang diperoleh belum benar-benar murni. Mungkin
ketiga komponen tersebut belum terpisah dengan sempurna sehingga nilai
Rf yang diperoleh berbeda.

H. Kesimpulan

1. Komponen penyusun kurkuminoid dalam kunyit berhasil dipisahkan


menjadi tiga komponen, yaitu kurkumin, demetoksi kurkumin dan
bisdemetoksi kurkumin.
2. Nilai Rf yang diperoleh dari percobaan adalah 0,225 untuk
bisdemetoksi kurkumin, 0,4 untuk demetoksi kurkumin dan 0,675 untuk
kurkumin

I. Daftar Pustaka

Mayo, D.W. et al. Microscale Organic Laboratory 2nd edition. John Wiley &
Sons. New York. 1994. P 90 – 108

http://carcin.oxfordjournals.org/content/20/5/911.full

tanggal akses 20/10/2010

http://kr.cimap.res.in/bitstream/123456789/80/1/J_Journal_Liquid_Chrom
atography_Related_Technologies_22_1561.pdf

tanggal akses 20/10/2010