Anda di halaman 1dari 11

TAX & ACCOUNTING REVIEW, VOL. 4, NO.

1, 2014

Pengaruh Money Ethics terhadap Tax Evasion dengan Intrinsic dan Extrinsic
Religiosity sebagai Variabel Moderating
Camelia Rosianti dan Yenny Mangoting
Akuntansi Pajak Universitas Kristen Petra
Email : cameliarosianti@gmail.com

ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh money ethics terhadap tax evasion dan
juga untuk mengetahui dampak intrinsic dan extrinsic religiosity sebagai variabel moderating
dalam pengaruhnya terhadap money ethics dan tax evasion. Teknik pengumpulan data primer yang
digunakan adalah dengan menyebarkan kuesioner kepada 100 wajib pajak orang pribadi di
Surabaya Barat. Teknik sampling yang digunakan adalah judgment sampling atau purposive
sampling. Teknik analisa data yang digunakan adalah analisis regresi linier sederhana dan analisis
regresi moderasi dengan menggunakan program SPSS.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa money ethics berpengaruh positif terhadap tax
evasion. Sedangkan intrinsic religiosity sebagai variabel moderating berhasil memoderasi
hubungan di antara money ethics dengan tax evasion. Akan tetapi, extrinsic religiosity tidak
berhasil memoderasi dalam hubungan ini.

Kata kunci: Money ethics, Intrinsic, Extrinsic Religiosity, Tax Evasion

ABSTRACT
This study was conducted to know the influence of money ethics against tax evasion and also to know
the effects of intrinsic and extrinsic religiosity in their influence on money ethics and tax evasion. The primary
data collection technique used was to distribute questionnaires to 100 individual taxpayers in West Surabaya.
The sampling technique used was judgment sampling or purposive sampling. The data analysis techniques
used were simple linear regression analysis and moderated regression analysis by using SPSS program.
The results of the study showed that money ethics had positive affect on tax evasion. While intrinsic
religiosity as moderating variable successfully moderate the relationship between money ethics and tax
evasion. However, extrinsic religiosity did not succeed in moderating in this relationship.

Keywords : Money ethics, Intrinsic, Extrinsic Religiosity, Tax Evasion.

PENDAHULUAN melalui berbagai cara, salah satunya adalah tax


evasion. Tax evasion adalah suatu skema
Pajak berfungsi untuk membiayai memperkecil pajak yang terhutang dengan cara
pembangunan nasional serta membiayai sarana dan yang ilegal (Hutami, 2012). Tax evasion biasanya
prasarana umum seperti alat transportasi, stasiun, dilakukan dengan cara membuat laporan keuangan
dan jalan raya. Fungsi pajak tersebut termasuk dan faktur pajak palsu atau tidak mencatat sebagian
dalam fungsi budgetair. Fungsi ini bertujuan untuk penjualan.
meningkatkan penerimaan kas negara sebanyak- Di Indonesia praktek penggelapan pajak juga
banyaknya dalam rangka membiayai pengeluaran semakin meningkat dari tahun ke tahun.
dan pembangunan pemerintah pusat ataupun Berdasarkan data dari Dirjen Pajak, pada tahun
daerah. Hal tersebut dilakukan dengan mengisi 2011 ditemukan 23 kasus dengan kerugian Rp 194
APBN sesuai dengan target penerimaan pajak yang miliar, pada tahun 2012 terdapat 12 kasus dengan
telah ditetapkan. Akan tetapi menurut Direktorat kerugian Rp 326 miliar serta pada tahun 2013
Jendral Pajak Fuad Rahmany, penerimaan pajak ditemukan 20 kasus dengan kerugian negara
pada tahun 2011 dan 2012 belum mencapai target mencapai Rp 239 miliar (www.beritasatu.com).
yang telah ditentukan. Tidak tercapainya target Dapat dilihat bahwa praktek penggelapan
penerimaan pajak tersebut dapat disebabkan adanya pajak ini telah dilakukan oleh para wajib pajak dari
tindakan wajib pajak yang meminimalkan pajaknya tahun ke tahun. Para wajib pajak berusaha untuk

1
TAX & ACCOUNTING REVIEW, VOL. 4, NO.1, 2014

meminimalkan beban pajak yang harus dibayarkan religiosity seseorang memiliki dampak yang positif
dengan cara yang ilegal. Tujuan atau alasan para terhadap hubungan money ethics dan tax evasion.
wajib pajak melakukan tax evasion tersebut dapat Sedangkan extrinsic religiosity tidak memiki
dipengaruhi oleh kecintaan terhadap uang yang dampak yang signifikan.
tinggi karena menurut Sloan (2002) kecintaan Maka dari itu, tujuan penelitian ini adalah menguji
terhadap uang atau “the love of money” adalah apakah terdapat pengaruh antara money ethics terhadap
keinginan manusia terhadap uang atau keserakahan. tax evasion dengan menggunakan intrinsic dan extrinsic
Alasan lain yang mendukung adalah ketika religiosity sebagai variabel moderating. Berdasarkan latar
seseorang menempatkan uang sebagai prioritas belakang di atas, maka rumusan masalah dalam
utama dalam kehidupan sehari-harinya, mereka penelitian ini adalah :
akan merasa bahwa tax evasion adalah tindakan 1. Apakah money ethics berpengaruh terhadap tax
yang dapat diterima (Lau, Choe, dan Tan, 2013). evasion ?
Orang-orang yang memiliki kecintaan terhadap 2. Apakah intrinsic religiosity memoderasi hubungan
uang yang sangat tinggi secara mental lebih banyak diantara money ethics dengan tax evasion ?
terlibat dalam perilaku tidak etis dalam organisasi 3. Apakah extrinsic religiosity memoderasi hubungan
(Tang & Chiu, 2003) karena mereka termotivasi diantara money ethics dengan tax evasion ?
untuk mendapatkan lebih banyak uang. Menurut
Tang (2002) money ethics berhubungan secara Tax Evasion
langsung dengan perilaku tidak etis. Hal ini dapat Penggelapan pajak mengacu pada tindakan
diartikan bahwa semakin seseorang yang tidak benar yang dilakukan oleh wajib pajak
memprioritaskan uang sebagai hal yang penting mengenai kewajiban dalam membayar pajak
(high money ethics), orang tersebut lebih cenderung (Suminarsasi & Supriyadi, 2011). Menurut
untuk melakukan tindakan tax evasion yang tidak Mardiasmo (2009), mengartikan tax evasion
etis daripada orang yang low money ethics. sebagai usaha yang dilakukan oleh wajib pajak
Dalam melakukan penelitian mengenai untuk meringankan beban pajak dengan cara
pengaruh money ethics terhadap tax evasion, melanggar undang-undang. Para wajib pajak
terdapat beberapa penelitian sebelumnya yang mengabaikan ketentuan formal perpajakan yang
mengkaitkan adanya variabel moderating yang menjadi kewajibannya, memalsukan dokumen, atau
menghubungkan antara money ethics dengan tax mengisi data dengan tidak lengkap dan tidak benar.
evasion, yaitu religiosity. Religiosity berlaku seperti Penelitian mengenai tax evasion yang membahas
sebuah mekanisme penegakan aturan moral internal dari sudut pandang etika dimulai dari Crowe (1944)
yang dapat membatasi niatan individu untuk dan kemudian telah dikembangkan lebih dalam
melakukan tax evasion (Rajagukguk & Sulistianti, oleh McGee (2006). Negara-negara yang telah
2011). diteliti oleh McGee (2006), menemukan bahwa tax
Tax evasion sendiri dianggap sebagai evasion memiliki tiga pandangan yaitu :
tindakan melanggar agama / tidak beretika apabila 1. Tax evasion dianggap tidak pernah etis
para wajib pajak tidak membayar sesuai dengan Hal ini dikarenakan individu memiliki kewajiban
jumlah yang seharusnya dibayar (Hutami, 2012). kepada pemerintah untuk membayar pajak yang
Alasan masih banyak para wajib pajak melakukan telah ditetapkan, individu seharusnya
tindakan tersebut karena insentif dari tax evasion berkontribusi untuk membayar jasa yang telah
melebihi dari sanksi/denda yang harus dibayar disediakan pemerintah dan tidak hanya menjadi
meskipun sudah tersedia ancaman hukuman pidana individu yang hanya menikmati keuntungan dari
bagi wajib pajak. Oleh karena itu, penelitian ini jasa-jasa yang telah disediakan pemerintah
menggunakan variabel religiosity sebagai variabel (Cohn, 1998; Tamari, 1998).
moderating karena menurut Grasmick, Bursik, & 2. Tax evasion dipandang selalu etis
Cochran (1991) religiosity berperan sebagai Hal ini dikarenakan individu tidak memiliki
pencegahan yang lebih kuat daripada perasaan takut kewajiban untuk membayar pajak kepada
akan sanksi hukum. pemerintahan yang korupsi (Block, 1993).
Di Indonesia penelitian yang lebih mendalam 3. Tax evasion dapat dipandang etis atau tidak
menunjukkan masih minimnya studi empiris tergantung pada situasi dan kondisi yang ada
mengenai pengaruh money ethics terhadap tax Penilaian etis atau tidak etisnya tindakan tax
evasion dengan intrinsic reliogisity dan extrinsic evasion atas dasar moral dapat dinilai dari sistem
religiosity sebagai variabel moderating, sehingga pajak, tarif pajak, keadilan, korupsi pemerintah,
peneliti termotivasi untuk melakukan penelitian ini. atau tidak mendapat banyak imbalan atas
Penelitian yang serupa juga dilakukan oleh Lau, pembayaran pajak, dan kemungkinan terdeteksi
Choe, & Tan (2013) di Malaysia. Hasil oleh fiskus (McGee & Guo, 2007).
penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat Peningkatan tarif pajak dimaksudkan untuk
hubungan yang positif diantara money ethics dan meningkatkan pendapatan pemerintah. Akan tetapi,
tax evasion, serta semakin tinggi intrinsic dengan adanya peningkatan tarif pajak, justu

2
TAX AND ACCOUNTING REVIEW, VOL. 1, 2015

menyebabkan timbulnya keinginan untuk bahwa kemungkinan terdeteksinya kecurangan


melakukan tax evasion sehingga pajak yang dibayar melalui pemeriksaan pajak yang dilakukan rendah,
menjadi lebih kecil (Permatasari & Laksito, 2013). maka dia akan cenderung untuk tidak patuh
Salah satu hal yang harus diperhatikan dalam terhadap aturan perpajakan, dalam hal ini berati
penerapan pajak suatu negara adalah adanya aspek wajib pajak menganggap bahwa tindakan tax
keadilan. Wajib pajak ingin mendapatkan perlakuan evasion dapat dibenarkan.
yang adil dalam pengenaan dan pemungutan pajak
oleh negara. Di Indonesia yang menganut self Money Ethics
assesment system, prinsip keadilan ini sangat Berbicara mengenai money ethics berarti
diperlukan untuk meminimalisasi tax evasion. berbicara mengenai uang. Berdasarkan literatur
Pemungutan pajak harus bersifat adil dan merata managemen menyimpulkan bahwa dalam level
yaitu dikenakan kepada orang pribadi yang harus individu, uang sangat berhubungan penting dengan
sebanding dengan kemampuanya untuk membayar sikap individu yang dapat dilihat melalui
(ability to pay) dan sesuai dengan manfaat yang kepribadiaan, biografi, dan variabel sikap (Mitchell
diterima (benefit principle). Berdasarkan prinsip & Mickel, 1999).
manfaat menurut Siahaan (2010), suatu sistem Menurut Tang & Chiu (2003) seseorang yang
pajak dikatakan adil apabila kontribusi yang high love of money atau memiliki kecintaan
diberikan oleh setiap wajib pajak sesuai dengan terhadap uang yang tinggi lebih termotivasi untuk
manfaat yang diperolehnya dari jasa-jasa melakukan tindakan apapun demi memperoleh
pemerintah, yang digunakan untuk meningkatkan uang yang lebih banyak. Individu yang high love of
kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan prinsip ini, money secara mental lebih banyak terlibat dalam
maka sistem pajak yang benar-benar adil akan perilaku tidak etis dalam organisasi daripada orang-
sangat tergantung pada struktur pengeluaran orang yang low love of money.
pemerintah. Apabila dari prinsip kemampuan The Love of Money memiliki banyak arti
membayar, perekonomian memerlukan suatu secara subjek. Tang dan Luna-Arocas (2004)
jumlah penerimaan pajak tertentu, dan setiap wajib mendefinisikan love of money sebagai : 1)
pajak diminta untuk membayar sesuai dengan pengukuran terhadap nilai seseorang atau keinginan
kemampuannya (Siahaan, 2010). akan uang tetapi bukan kebutuhan mereka; 2)
Tax evasion dapat dipandang sebagai tindakan makna dan pentingnya uang dan perilaku personal
yang etis apabila adanya korupsi pemerintah dan seseorang terhadap uang. Kemudian Tang, Chen,
masyarakat tidak merasakan adanya kewajiban dan Sutarso (2008) mendefinisikan love of money
moral untuk membayar pajak kepada pemerintah. sebagai perilaku seseorang terhadap uang;
(McGee dan Maranjyan, 2006). Menurut McGee, pengertian seseorang terhadap uang; keinginan dan
Ho, & Li (2008), ketika pemerintah melakukan aspirasi seseorang terhadap uang.
korupsi atau telah terjadi pendiskriminasian sistem The Love of Money ini merupakan subset dari
pajak, tax evasion dapat dipandang sebagai money ethics yang dapat dianalisis dengan dan
tindakan yang etis. diukur dengan menggunakan Money Ethics Scale
Berdasarkan penelitian McGee & Guo (2007) (MES). Konsep MES ini digunakan untuk
di Cina menunjukkan bahwa masyarakat Cina tidak mengukur subjektifnya seseorang terhadap uang.
merasakan manfaat langsung dari adanya Menurut Tang (2002) faktor kognitif yang
pengeluaran fasilitas publik pemerintah. Dana pajak berhubungan dengan seberapa pentingnya uang
yang terkumpul terbuang sia-sia karena digunakan dibagi menjadi empat yaitu :
untuk membiayai investasi publik seperti travelling, 1. Motivator
dinner dengan rekan partner, dan proyek yang tidak Dalam hal ini uang dapat dipandang sebagai
efisien yang dibangun untuk kepentingan mereka. motivator dalam kehidupan seseorang dan
Seharusnya dengan adanya dana pajak yang sudah penggerak untuk pencapaian tujuan (Gupta &
dikumpulkan oleh pemerintah, maka ketersediaan Shaw, 1998). Menurut Tang dan Chiu (2003),
fasilitas umum untuk kepentingan masyarakat sesorang yang sangat mencintai uang termotivasi
semakin banyak. Akan tetapi apabila dana pajak untuk melakukan apa saja agar dapat
yang dikeluarkan pemerintah dianggap tidak menghasilkan lebih banyak uang,
memberikan kontribusi nyata pada pembangunan 2. Success
wilayahnya, maka kecenderungan masyarakat Kesuksesan mewakili pandangan orang-orang
untuk melakukan tax evasion semakin tinggi (Ayu bahwa “obsesi terhadap uang merupakan tanda
dan Hastuti, 2009). kesuksesan” (Furnham & Argyle, 1998 dalam
Tang, 2002).
Penilaian etis atau tidak etisnya tindakan tax 3. Importance
evasion juga dapat didasarkan pada kemungkinan Uang dipandang sebagai faktor yang penting
terdeteksinya kecurangan. Menurut Ayu dan dalam kehidupan manusia (Mitchell & Mickel,
Hastuti (2009), ketika seseorang menganggap 1999). Uang dianggap sebagai hal yang berharga

3
TAX & ACCOUNTING REVIEW, VOL. 4, NO.1, 2014

dan menarik (Tang, 2002) karena dengan uang Extrinsic Religiosity


mereka dapat meningkatkan gaya hidup, status Menurut Allport & Ross (1967) extrinsic
sosial, dan kepuasaan individu. religiosity adalah partisipasi seseorang untuk ikut
4. Rich beragama dengan tujuan untuk alasan pencarian jati
Hidup seseorang akan menjadi lebih nyaman dna diri (yang mana digunakan untuk mendukung atau
menyenangkan apabila mereka memiliki banyak mempromosikan kepentingan bisnis diri sendiri dan
uang dan menjadi kaya karena dengan uang untuk menemukan cara bagaimana agama dapat
seseorang dapat memenuhi segala kebutuhan melayani individu). Karaktek extrinsic religiosity
hidupnya (Tang & Chiu, 2003). hanya mewakili peran eksterior dari agama yang
digunakan untuk dukungan sosial bahkan juga
Religiosity untuk kepuasan individu semata (Allport & Ross,
Menurut McDaniel dan Burnett (1990) 1967) serta untuk mendukung eksistensi diri di
religiosity adalah sebuah kepercayaan kepada tengah pergaulan sosial kemasyarakatannya (Ismail,
Tuhan dengan komitmen untuk mengikuti prinsip- 2012).
prinsip yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Perilaku Individu dengan extrinsic religiosity yang
etis individu dipengaruhi oleh identitas diri orang tinggi berfokus pada bagaimana agama mereka
tersebut terhadap agamanya (Choe & Lau, dipandang oleh orang lain dan cenderung untuk
2010). Identitas diri ini pada akhirnya dibentuk melihat agama sebagai tempat untuk menyediakan
oleh peran internalisasi yang ditawarkan oleh kenyamanan dan pendukung (Vitell, Paolillo, &
agama. Sehingga agama adalah wujud orientasi dari Singh, 2005). Dengan mengambil peran agama
religiosity. secara ekstrinsik individu menjadi tidak spritual
Agama dapat mempengaruhi kepercayaan dan ataupun memiliki komitmen kepada agamanya
perilaku seseorang bergantung pada level melalui tindakan / perilaku mereka sehingga
religiositas seseorang. Allport dan Ross (1967) individu tidak memiliki kepercayan etika yang kuat
membagi religiosity menjadi 2 dimensi/orientasi (Vitell, Patwardhan, & Keith, 2012).
yaitu intrinsic reliogisity dan extrinsic religiosity. Extrinsic religiosity kadang kala dihubungkan
dengan hasil kehidupan yang negatif (Smith,
Intrinsic Religiosity McCullough, & Poll, 2003). Orang yang
Menurut Allport & Ross (1967) intrinsic berorientasi secara ekstrinsik ini mungkin saja rajin
religiosity adalah komitmen seseorang untuk beribadah, tetapi tidak berminat untuk
memeluk agama dengan tujuan kerohanian atau membicarakan masalah iman mereka melebihi
spiritual (menggunakan iman untuk keuntungan dan manfaat praktis apa yang bisa di
mempromosikan kepentingan rakyat dan dapat dalam keberagamannya (Ismail, 2012). Orang
menemukan cara untuk melayani agama). Karaktek ekstrinsik ini menggunakan agama untuk
intrinsic religiosity mewakili jaminan internal yang kepentingannya sendiri seperti kebutuhan untuk
kuat untuk agama sebagai bagian dari kehidupan peningkatan diri, keamanan, kenyamanan, status
sehari-hari seseorang (Allport & Ross, 1967). atau dukungan sosial (Ismail, 2012).
Donahue (1985) juga mengatakan bahwa intrinsic
religiosity memiliki hubungan yang kuat dengan Pengaruh Money Ethics Tehadap Tax Evasion
komitmen beragama daripada extrinsic religiosity. Menurut Tang (2002) terdapat pengaruh
Individu yang hidup berdasarkan atau sesuai langsung antara money ethics dan perilaku tidak
dengan agama yang dianutnya memiliki orientasi etis. Hal ini berarti bahwa orang-orang yang high
beragama secara intrinsic (Ismail, 2012). Ide money ethics atau memiliki kecintaan terhadap
keimanan yang dimotivasi secara intrinsik uang yang sangat tinggi akan menempatkan uang
bermakna bahwa iman seseorang ada dalam dan sebagai hal yang penting dan akan menjadi kurang
berasal dari orang tersebut. Ia selalu berkomitmen etis dibandingkan dengan orang-orang yang low
terhadap agamanya tanpa syarat dan membuat money ethics. Sehingga dengan memiliki banyak
keputusan secara independen. uang, orang-orang memiliki kepuasaan kebutuhan
Orang yang memiliki intrinsic religiosity, yang lebih tinggi dan dapat menikmati standart
menjadikan agama sebagai motivasi hidup, hidup kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, mereka
yang bermoral secara konsisten, bertanggung jawab berusaha untuk menghasilkan lebih banyak uang
terhadap sesama manusia dan juga kepada Tuhan, untuk mempertahankan gaya hidupnya. Kecintaan
hidupnya berguna, dan selalu mencari kebenaran mereka terhadap uang memotivasi mereka untuk
(Ismail, 2012). Agama atau iman dihayati sebagai terlibat dalam perilaku tidak etis (Tang, 2002),
kebutuhan yang melekat dalam setiap tindakan dan salah satunya adalah melakukan penggelapan pajak.
merupakan bagian yang paling hakiki. Lau, Choe, dan Tan (2013) menemukan
hubungan yang positif antara money ethics dengan
tax evasion. Ketika seseorang menekankan pada
pentingnya uang dan memperoleh kekayaan,

4
TAX AND ACCOUNTING REVIEW, VOL. 1, 2015

mereka akan merasa bahwa tax evasion dapat Kehadiran di gereja ataupun menjalankan ibadah
diterima. Seseorang yang sangat termotivasi oleh hanya untuk tujuan yang lain seperti bertemu
uang atau yang menempatkan uang sebagai dengan relasi, tidak digunakan untuk bersekutu
prioritas utama akan percaya bahwa tax evasion dengan Tuhan. Jadi, agama hanya memilki peran
adalah tindakan yang etis. Hal ini konsisten dengan ekstrinsik yang digunakan untuk dukungan sosial
penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa atau kepuasan individu (Allport dan Ross, 1967).
money ethics memiliki dampak yang signifikan dan Dimensi ekstrinsik adalah prediktor yang
langsung terhadap perilaku yang tidak etis (Tang, lemah dalam hasil kehidupan yang positif yang
2002; Tang & Chiu, 2003). Semakin tinggi tingkat berbeda dengan dimensi intrinsik (Salsman et al,.
kecintaan sesorang terhadap uang, maka semakin 2005). Sebagai tambahan, elemen ekstrinsik kadang
tinggi peluang seseorang melakukan tindakan tax kala dihubungkan dengan hasil kehidupan yang
evasion yang tidak etis. negatif (Smith, McCullough, & Poll, 2003).
Dari literatur dan studi empiris yang telah Menurut Lau, Choe, & Tan (2013) individu
dijelaskan di atas, maka peneliti menetapkan yang memiliki orientasi beragama secara ekstrinsik
hipotesis pertama sebagai berikut : tidak memoderasi hubungan diantara money ethics
H1: Terdapat pengaruh positif signifikan antara dan tax evasion. Orang-orang yang memiliki
money ethics terhadap tax evasion. orientasi beragama secara ekstrinsik tidak akan
terpengaruh oleh praktek tax evasion. Orang-orang
Intrinsic Religiosity Memoderasi Hubungan Money ekstrinsik termotivasi menggunakan agamanya
Ethics dengan Tax Evasion sedangkan orang-orang intrinsik termotivasi untuk
Lau, Choe, dan Tan (2013) berpendapat hidup di dalam agamanya (Allport & Ross, 1967).
bahwa money ethics dapat mempengaruhi tax Dari literatur dan studi empiris yang telah
evasion melalui intrinsic religiosity yang dimiliki dijelaskan sebelumnya, maka peneliti menetapkan
individu. Hal tersebut dikarenakan dengan adanya hipotesis kedua B sebagai berikut :
intrinsic religiosity yang tinggi dalam diri H2b : Extrinsic Religiosity Tidak Memoderasi
seseorang dapat memberikan pengaruh yang positif Hubungan Money Ethics dengan Tax Evasion
terhadap money ethics dalam praktek tax evasion.
Individu dengan high intrinsic religiosity mampu Kajian Penelitian Terdahulu
mengendalikan diri untuk tidak mengambil Penelitian ini memiliki satu jurnal utama yaitu
keuntungan dalam praktek tax evasion. Individu berdasarkan Lau, Choe, & Tan (2013) akan tetapi
yang memiliki orientasi beragama secara intrinsik penelitian ini juga didukung oleh jurnal-jurnal
memandang tax evasion sebagai perilaku yang pendukung yang lain yang meneliti mengenai
tidak etis dalam hubungan antara money ethics dan money ethics, intrinsic religiosity, dan extrinsic
tax evasion dibandingkan dengan individu yang religiosity dengan berbagai variasi variabel
memiliki intrinsic religiosity yang rendah. dependen.
Keyakinan agama yang kuat diharapkan mencegah Penelitian mengenai tax evasion dari sudut
perilaku ilegal melalui perasaan bersalah terutama pandang etika telah banyak dilakukan oleh McGee
dalam hal penggelapan pajak (Grasmick, Bursik, & dan asosiasinya. Salah satunya adalah penelitian
Cochran, 1991). dari McGee & Guo (2007) di Cina. Hasil
Menurut Ismail (2012) orang yang memiliki penelitiannya menunjukkan bahwa tax evasion
orientasi beragama secara intrinsik tidak akan merupakan tindakan yang etis apabila pemeritah
melakukan tindakan yang merugikan orang lain melakukan korupsi, sistem pajak dipandang tidak
karena dalam hidupnya ia tidak ingin merugikan adil, atau dana pajak digunakan untuk projek yang
orang lain, jika perbuatan merugikan orang lain tidak disetujui oleh masyarakat.
dicontohkan dengan tindakan tax evasion, orang Penelitian terdahulu yang utama adalah
yang beragama secara intrinsik tidak akan penelitian dari Lau, Choe, dan Tan (2013) yang
melakukan tindakan tersebut. melakukan penelitian berjudul “The Moderating
Dari literatur dan studi empiris yang telah Effect of Religiosity in the Relationship between
dijelaskan sebelumnya, maka peneliti menetapkan Money and Tax Evasion”. Hasil penelitiannya
hipotesis kedua A sebagai berikut : menunjukkan bahwa money ethics memiliki
H2a : Intrinsic Religiosity Memoderasi Hubungan pengaruh positif terhadap tax evasion. Sedangkan
Money Ethics dengan Tax Evasion intrinsic religiosity memiliki dampak positif dalam
hubungan antara money ethics dan tax evasion,
Extrinsic Religiosity Tidak Memoderasi Hubungan akan tetapi extrinsic religiosity bukan menjadi
Money Ethics dengan Tax Evasion moderator dalam hubungan ini.
Orientasi beragama individu secara ekstrinsik Adapula penelitian dari Lau, Choe, & Tan
cenderung menggunakan agama untuk (2011) yang melakukan penelitian serupa mengenai
kepentingannya sendiri (Ismail, 2012). Individu pengaruh money ethics dan religiosity terhadap
hanya memanfaatkan agama yang dianutnya. consumers’ ethical beliefs. Dari hasil penelitian

5
TAX & ACCOUNTING REVIEW, VOL. 4, NO.1, 2014

menunjukkan bahwa intrinsic religiosity Populasi pada penelitian ini adalah semua wajib
memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pajak orang pribadi di Surabaya Barat di mana
dimensi consumers’ ethical belief dan extrinsic jumlahnya tidak diketahui. Mengingat adanya
religiosity tidak memberikan kontribusi yang keterbatasan waktu, biaya dan tenaga yang dihadapi oleh
signifikan terhadap dimensi consumer ethics. peneliti, maka akan diambil beberapa sampel yang dapat
Sedangkan money ethics memiliki pengaruh mewakili populasi dalam penelitian ini. Adapun teknik
terhadap consumers’ ethical belief. sampling yang digunakan dalam penelitian ini
Kemudian penelitian dari Tang (2002) dan adalah judgement sampling di mana pemilihan
Tang & Chiu (2003) menyimpulkan bahwa the love sampel didasarkan atas pertimbangan peneliti
of money memiliki pengaruh yang langsung sendiri (Malhotra dan Birks, 2006). Adapun kriteria
terhadap perilaku tidak etis. Dan juga terdapat yang ditetapkan peneliti dalam memilih sampel
pengaruh tidak langsung dari the love of money adalah wajib pajak orang pribadi yang melakukan
terhadap perilaku tidak etis. The love of money kegiatan usaha dengan omzet di bawah Rp 4,8M
menyebabkan kepuasaan pembayaran yang rendah, per tahun di Surabaya Barat. Karena jumlah populasi
yang dapat menurunkan komitmen organisasi, tidak diketahui, maka dalam penelitian ini akan
sehingga dapat menyebabkan perilaku tidak etis. digunakan rumus Lemeshow (1997) untuk menentukan
Jadi, kecintaan terhadap uang yang tinggi justru jumlah sampel minimal yang diperlukan. Adapun rumus
dapat menyebabkan seseorang terlibat dalam tersebut adalah sebagai berikut :
perilaku tidak etis.
p (1 − p) (Z1−α/2 )2
METODE PENELITIAN 𝑛 =
𝐷2
Pada penelitian ini menggunakan moderated Di mana :
regression analyses untuk menguji pengaruh money n = jumlah sampel minimal yang diperlukan
ethics (X1) terhadap tax evasion (Y1) dengan intrinsic Z = tingkat kepercayaan
religiosity (Z1) dan extrinsic religiosity (Z2) sebagai p = maximal estimation (0,5)
variable moderating dengan model analisis seperti yang D = limit dari eror atau presisi absolut
tampak pada gambar 1.
Melalui rumus di atas, peneliti akan menentukan
Gambar 1. Model Analisis Hipotesis jumlah sampel dengan data di bawah ini :
Z = 95%
p = 0,5
D = 10%
p (1 − p) (Z1−α/2 )2
𝑛 =
𝐷2
0,5 (1 − 0,5)(1,962 )
𝑛 = = 96,04 = 100
(0,12 )

Teknik analisa data yang digunakan dalam


penelitian ini adalah uji validitas dan reliabilitas, uji
Skala pengukuran yang digunakan dalam asumsi klasik, dan pengujian hipotesis.
penelitian ini adalah skala pengukuran interval, di mana Uji validitas digunakan untuk mengukur sah
responden diminta untuk menentukan pilihan jawaban atau tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner
pada ranking sesuai dengan yang dipersepsikan oleh dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner
responden. Sedangkan instrument yang digunakan dalam mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan
penelitian ini adalah skala Likert. Skala likert digunakan diukur oleh kuesioner tersebut (Ghozali, 2013). Uji
untuk menilai tingkat kesetujuan dan validitas yang dipakai dalam penelitian ini adalah
ketidaksetujuan responden pada suatu pernyataan melalui analisis butir-butir, dimana untuk menguji
(Malhotra dan Birks, 2006). Pada penelitian ini, setiap butir maka skor total valid tidaknya suatu
digunakan 5 poin rating skala likert, yaitu : item dapat diketahui dengan membandingkan
1 = Sangat Tidak Setuju antara angka korelasi product moment Pearson (r
2 = Tidak Setuju hitung) pada level signifikansi 0,05 nilai kritisnya.
3 = Netral Uji reliabilitas merupakan alat yang digunakan
4 = Setuju untuk mengukur kuesioner yang merupakan
5 = Sangat Setuju indikator dari variabel atau konstruk. Suatu
Penelitian ini menggunakan jenis data kuantitatif kuesioner dikatakan reliable atau handal jika
yaitu data yang diukur dengan skala numerik. jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah
Sedangkan untuk prosedur pengumpulan data dilakukan konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Ghozali,
melalui proses penyebaran kuesioner kepada responden. 2012). Pengukuran reliabilitas dalam penelitian ini

6
TAX AND ACCOUNTING REVIEW, VOL. 1, 2015

adalah dengan uji statistic Cronbach Alpha (α). Lainnya 8 8%


Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliable jika Total 100 100%
memberikan nilai Cronbach Alpha > 0,7 (Nunnally, Dagang 63 63%
1994) yang dikutip oleh Ghozali (2013).
Bidang Manufaktur 25 25%
Uji asumsi klasik ini dilakukan adalah sebagai
usaha Jasa 12 12%
alat peramalan atau prediksi yang baik agar model
dalam penelitian dapat digunakan. Uji asumsi Total 100 100%
klasik ini meliputi uji normalitas, multikolinearitas Sumber : Data Primer Diolah
dan heteroskedastisitas. Untuk memberikan gambaran mengenai variabel-
Untuk menguji hipotesis penelitian digunakan variabel penelitian (money ethics, intrinsic religiosity,
metode analisis regresi sederaha dan moderated extrinsic religiosity, dan tax evasion) digunakan tabel
regression analysis (MRA) dengan bantuan statistik deskriptif yang menunjukkan angka nilai
program SPSS dengan persamaan : minimum, maximum, rata-rata, dan standar deviasi yang
disajikan pada tabel 2 di bawah ini.
Y1 =  + 1X1 + ε ………………………….H1
Tabel 2. Statistik Deskriptif Variabel
Y2 =  + 1X1 + 2Z1 +3 X1Z1 +  ………..H2a
Y3 =  + 1X1 + 2Z2 +3 X1Z2 +  ………..H2b Std.
Min Max Mean
Deviation
Keterangan :
Y = Tax Evasion ME 2 5 3.85 .642
α = konstanta IR 2 5 3.68 .649
1 - 3 = arah koefisien regresi
X1 = Money Ethics ER 1 3 2.16 .615
Z1 = Intrinsic Religiosity TE 2.4 5 3.744 .6359
Z2 = Extrinsic Religiosity Sumber : Data Primer Diolah
X1Z1 = Interaksi antara Money Ethics dengan
Intrinsic Religiosity Dapat dilihat pada tabel 2 bahwa variabel money
X1Z2 = Interaksi antara Money Ethics dengan ethics memiliki nilai rata-rata sebesar 3,85 dan memiliki
Extrinsic Religiosity standar deviasi sebesar 0,642. Variabel intrinsic
ε = error term religiosity memiliki nilai rata-rata sebesar 3,68 dan
memiliki standar deviasi sebesar 0,649. Variabel extrinsic
Pengujian menggunakan uji t dengan dasar religiosity memiliki nilai rata-rata sebesar 2,16 dan
pengambilan keputusan adalah : memiliki standar deviasi sebesar 0,615. Variabel tax
evasion memiliki nilai rata-rata sebesar 3,74 dan
 Jika t hitung > t tabel, maka H0 ditolak dan Ha
memiliki standar deviasi sebesar 0,635. Semua standart
diterima
deviasi di tiap variabel menunjukkan nilai yang jauh
 Dengan tingkat signifikansi (α) = 5%, jika sig.
lebih kecil dari rata-rata jumlah variabel. Hal ini
penelitian < 0,05, maka H0 ditolak dan Ha diterima
menunjukkan bahwa nilai penyimpangan data kecil,
maka nilai mean dapat digunakan sebagai representasi
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
dari keseluruhan data.
Hasil uji validitas menunjukan bahwa semua
Dalam penelitian ini telah disebarkan 100
item pertanyaan untuk variabel Money Ethics,
kuesioner kepada wajib pajak orang pribadi yang
Intrinsic, Extrinsic Religiosity, dan Tax Evasion
memiliki kegiatan usaha dengan omzet di bawah Rp
mempunyai nilai probabilitas lebih kecil dari 0,05.
4,8M per tahun di Surabaya barat. Adapun deskripsi
Dengan demikian berarti bahwa item pertanyaan
profil responden yang meliputi jenis kelamin, tingkat
untuk mengukur variabel dalam peneilitian ini
pendidikan, dan bidang usaha dapat dilihat pada tabel 1.
dinyatakan valid.
Dari 100 responden, 15 orang perempuan yang menjadi
responden telah memiliki NPWP.
Tabel 3. Hasil Uji Reliabilitas
Tabel 1. Data Analisis Deskriptif Variabel Cronbach’s Alpha Kesimpulan
Jumlah ME 0,829 Reliabel
Profil Kategori Persentase
Responden IR 0,720 Reliabel
Laki-laki 85 85% ER 0,751 Reliabel
Jenis TE 0,864 Reliabel
Perempuan 15 15%
kelamin Sumber : Data Primer yang diolah
Total 100 100%
SMA 32 32% Pada table 3 dapat dilihat bahwa nilai
Tingkat
S1 40 40% Cronbach Alpha untuk masing-masing variabel >
pendidikan
S2 20 20%

7
TAX & ACCOUNTING REVIEW, VOL. 4, NO.1, 2014

0,7, sehingga alat ukur penelitian ini dinyatakan Untuk mendeteksi ada tidaknya
reliabel. heteroskedastisitas dalam model regresi ini,
dilakukan dengan menggunakan Uji Glejser. Jika
Tabel 4. Hasil Uji Multikolinearitas
probabilitas signifikansi masing-masing variabel
Variabel Collinerity Statistics
independen > 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa
Model Independ
Tolerance VIF model regresi tidak terjadi heteroskedastisitas.
en
Berdasarkan table 5 di atas, dapat dilihat bahwa
ME 0,027 37,366 semua variabel independen memiliki nilai
Persam IR 0,021 46,564 probabilitas yang signifikansinya di atas 0,05. Hal
aan 2 Interaksi ini dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi
0,014 73,379
ME*IR heteroskesdasitas sehingga model regresi layak
ME 0,113 8,853 digunakan.
Persam ER 0,029 34,301
aan 3 Interaksi Tabel 6. Hasil Uji Normalitas
0,022 45,958
ME*ER
Sumber : Data Primer Diolah
Keterangan K-S Z* 2 tailed p.
Pengujian alat statistik regresi berganda
mensyaratkan dilakukannya pengujian asumsi Persamaan Regresi 1 0,810 0,528
klasik. Berdasarkan tabel 4 di atas, dapat dilihat Persamaan Regresi 2 0,521 0,949
hasil uji multikolinearitas pada persamaan 2 dan 3 Persamaan Regresi 3 0,874 0,429
variabel money ethics, intrinsic religiosity, extrinsic
Sumber : Data primer yang diolah
religiosity, dan interaksinya mengalami gelaja
multikolinearitas, yang memiliki nilai tolerance Uji normalitas bertujuan untuk menguji
kurang dari 0,1. Hasil perhitungan nilai VIF juga apakah dalam model regresi, variabel penggangu
menunjukkan hal yang sama variabel money ethics, atau residual memiliki distribusi normal. Uji
intrinsic religiosity, extrinsic religiosity, dan normalitas data yang digunakan adalah uji statistic
interaksinya memiliki nilai VIF lebih dari 10, non-parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S).
kecuali untuk persamaan 3 pada variabel money Apabila angka signifikansi (Sig) > α = 0,05, maka
ethics yang menunjukkan nilai tolerance > 0,1 dan data berdistribusi normal. Berdasarkan tabel 6
nilai VIF < 10. Hal ini berarti secara keseluruhan diatas, hasil uji normalitas menunjukkan bahwa
telah terjadi multikolinearitas antar variabel dalam nilai Kolmogorov-Smirnov untuk semua persamaan
model regresi. Pada penelitian ini variabel regresi signifikan di atas 0,05. Hal ini berarti bahwa
independen dan moderating yang digunakan model regresi memenuhi asumsi normalitas.
dijadikan satu. Oleh karena itu, multikolinearitas
pada model regresi ini dapat diabaikan karena
Tabel 7. Hasil Analisis Regresi Pengaruh Money
korelasi antar variable tersebut terjadi disebabkan
Ethics Terhadap Tax Evasion
oleh interaksi antar variabel independen dengan
Variabel Koef. T Sig. Ket.
variabel moderating.
Regresi hitung
Konstanta 24,343 Signifikan
Tabel 5. Hasil Uji Heteroskedastisitas
Money 0,539 3,930 0,000 Signifikan
Variabel Ethics
Model Sig. Interprestasi R = 0,369
Independen
R Square = 0,136
Persam Homoskedastis F hitung = 15,443
ME 0,888 F tabel = 3,94
aan 1 itas
Homoskedastis Sign. F = 0,000
ME 0,702
itas  = 0,05
Persam Homoskedastis Sumber data : Data primer yang diolah
Keterangan : - Nilai Ttabel :  = 5% = 1,66055
IR 0,956
aan 2 itas
Interaksi Homoskedastis - Dependent variable Tax Evasion
0,584
ME*IR itas
Homoskedastis Hasil pengujian hipotesis pertama
ME 0,246
itas menunjukkan bahwa variabel money ethics sebagai
Persam Homoskedastis variabel independen berpengaruh positif dan
ER 0,150
aan 3 itas signifikan terhadap tax evasion. Hal tersebut
Interaksi Homoskedastis ditunjukkan dengan nilai thitung sebesar 3,930. Nilai
0,200
ME*ER itas ini lebih besar dari t tabel (3,930 > 1,660) dengan
Sumber : Data primer yang diolah tingkat signifikan 0,000 yang lebih kecil dari 0,05.

8
TAX AND ACCOUNTING REVIEW, VOL. 1, 2015

Dengan demikian H01 ditolak dan Ha1 diterima. positif dalam hubungan money ethics dengan tax
Hasil ini memperlihatkan bahwa money ethics evasion. Dalam hal ini dampak positif yang
berpengaruh positif signifikan secara parsial dimaksud adalah dengan adanya intrinsic religiosity
terhadap tax evasion. Hal ini berarti apabila yang tinggi, maka menurunkan kecintaan seseorang
semakin tinggi money ethics seseorang, maka orang terhadap uang yang menyebabkan menurunkan
tersebut akan merasa bahwa tindakan tax evasion keinginan seseorang untuk melakukan tindakan tax
adalah tindakan yang dapat diterima. Seseorang evasion yang tidak etis. Hal ini dikarenakan
yang sangat termotivasi oleh uang atau komitmen dan keyakinan agama yang kuat dapat
menempatkan uang sebagai top priority akan mencegah tindakan yang tidak etis melalui perasaan
merasa bahwa tindakan tax evasion adalah tindakan bersalah (Grasmick, Bursik, & Cochran, 1991).
yang etis. Hasil penelitian ini konsisten dengan Hasil penelitian ini konsisten dengan Lau, Choe
penelitian Lau, Choe dan Tan (2013) yang dan Tan (2013) yang menunjukkan bahwa intrinsic
menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki religiosity memoderasi hubungan money ethics dan
money ethics yang tinggi memandang penggelapan tax evasion. Berdasarkan hasil ini, hipotesis kedua
pajak sebagai tindakan yang etis. Hasil penelitian bagian A penelitian yang menduga intrinsic
ini juga mendukung penelitian sebelumnya Tang religiosity memoderasi hubungan money ethics
(2002) dan Tang & Chiu (2003) bahwa money dengan tax evasion terbukti kebenarannya.
ethics berhubungan dengan perilaku tidak etis
seseorang. Berdasarkan hasil ini, hipotesis pertama Tabel 9. Hasil Analisis Regresi Extrinsic Religiosity
penelitian yang menduga terdapat pengaruh positif Tidak Memoderasi Hubungan Money Ethics dengan
money ethics terhadap tax evasion terbukti Tax Evasion
kebenarannya.
Variabel Koef. T Sig. Ket
Regresi hitung
Tabel 8. Hasil Analisis Regresi Intrinsic
Religiosity Memoderasi Hubungan Money Konstanta 21,925 Tidak
Ethics dengan Tax Evasion Signifikan
Koef. T Money 0,677 1,649 0,102
Tidak
Variabel Sig. Ket Ethics Signifikan
Regresi hitung
Konstanta 67,949 Signifikan Extrinsic 0,254 0,196 0,845
Tidak
Money Tidak Religiosity Signifikan
-1,075 -1,321 0,190 Interaksi -0,014 -0,327 0,744
Tidak
Ethics Signifikan
ME*ER Signifikan
Intrinsic Tidak
-1,917 -1,741 0,085 R = 0,377
Religiosity Signifikan
R Square = 0,142
Interaksi
0,071 2,048 0,043 Signifikan F hitung = 5,293
ME*IR
F tabel = 3,09
R = 0,449
Sign. F = 0,002
R Square = 0,202  = 0,05
F hitung = 8,098
F tabel = 3,09 Sumber data : Data primer yang diolah
Sign. F = 0,000 Keterangan : - Nilai Ttabel :  = 5% = 1,66071
 = 0,05 - Dependent variable Tax Evasion
Sumber data : Data primer yang diolah
Keterangan : - Nilai Ttabel :  = 5% = 1,66071 Hasil pengujian hipotesis kedua bagian B
- Dependent variable Tax Evasion menunjukkan nilai thitung sebesar -0,327. Nilai ini lebih
kecil dari t tabel (-0,327 < 1,660) dengan tingkat
Hasil pengujian hipotesis kedua bagian A signifikan 0,608 yang lebih besar dari 0,005. Dengan
menunjukkan bahwa nilai thitung sebesar 2,048. Nilai demikian H02b tidak ditolak. Hasil ini memperlihatkan
ini lebih besar dari t tabel (2,048 > 1,660) dengan bahwa extrinsic religiosity tidak memoderasi hubungan
tingkat signifikan 0,043 yang lebih kecil dari 0,05. diantara money ethics dengan tax evasion. Hal ini berarti
Dengan demikian H02a ditolak dan Ha2a diterima. apabila extrinsic religiosity seseorang semakin tinggi,
Hasil ini memperlihatkan bahwa intrinsic maka tidak akan meningkatkan ataupun memberikan
religiosity secara signifikan memoderasi hubungan dampak positif dalam hubungan money ethics dengan tax
diantara money ethics dengan tax evasion. evasion. Hal ini dikarenakan individu yang memiliki
Koefisien regresi yang positif sebesar 0,071 orientasi beragama secara ekstrinsik cenderung
menunjukkan hubungan yang kuat antara money memanfaatkan agama untuk kepentingannya sendiri
ethics dengan tax evasion. Hal ini berarti apabila (Ismail, 2012). Tujuan menjalankan ibadah hanya untuk
intrinsic religiosity seseorang semakin tinggi, maka bertemu dengan relasi dan memenuhi kepentingannya
akan meningkatkan dan memberikan dampak sendiri. Allport dan Ross (1967) bahkan menyimpulkan

9
TAX & ACCOUNTING REVIEW, VOL. 4, NO.1, 2014

bahwa seseorang secara ekstrinsik termotivasi untuk 3. Pendidikan keagamaan ataupun lembaga
menggunakan agamanya sedangkan seseorang secara keagamaan diharapkan dapat lebih
intrinsik termotivasi untuk hidup di dalam agamanya. menekankan orientasi beragama secara
Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Lau, intrinsik kepada para umatnya.
Choe dan Tan (2013) yang menunjukkan bahwa
extrinsic religiosity tidak memoderasi hubungan antara DAFTAR PUSTAKA
money ethics dengan tax evasion. Berdasarkan hasil ini,
hipotesis kedua bagian B penelitian yang menduga Allport, G. W., & Ross, J. M. (1967). Personal
extrinsic religiosity tidak memoderasi hubungan money Religious Orientation and Prejudice. Journal of
ethics dengan tax evasion terbukti kebenarannya. Personality and Social Psychology, 5, 447-457.
Ayu, D., & Hastuti, R. (2009). Persepsi WP:
Angka adjusted R square untuk model regresi 2 seperti
Dampak Pertentangan Diametral Pada Tax
yang disajikan dalam tabel 8 adalah sebesar 0.202 lebih
Evasion WP Dalam Aspek Kemungkinan
besar dibandingkan dengan model 1 (0.136) dan model 3
Terdeteksinya Kecurangan, Keadilan, Ketepatan
(0.142). Hal ini menunjukkan bahwa model 2 dengan
Pengalokasian, Teknologi Sistem Perpajakan,
menggunakan intrinsic religiosity sebagai variabel
dan Kecenderungan Personal (Studi WP Orang
moderating lebih bagus dalam menjelaskan variasi tax
Pribadi"). Kajian Akuntansi, 1(1), 1-12.
evasion.
Block, W. (1993). Public Finance Texts Cannot
Justify Government Taxation: A Critique.
KESIMPULAN Canadian Public Administration/Administration
Publique du Canada, 36(2), 225-262.
Berdasarkan hasil perhitungan dan pengujian Choe, K. L., & Lau, T. C. (2010). Attitude towards
hipotesis pada bagian sebelumnya, maka dapat Business Ethics: Examining the Influence of
disimpulkan sebagai berikut: Religiosity, Gender, and Education Levels.
1) Terdapat pengaruh positif antara money ethics International Journal of Marketing Studies,
terhadap tax evasion. Seseorang yang high 2(1), 225-232.
money ethics atau memiliki kecintaan terhadap Cohn, G. (1998). The Jewish View on Paying
uang yang tinggi cenderung menyebabkan Taxes. Journal of Accounting, Ethics & Public
seseorang melakukan tindakan tax evasion yang Policy, 1(2),109-120.
tidak etis. Crowe, M. T. (1944). The Moral Obligation of
2) Intrinsic religiosity memoderasi hubungan Paying Just Taxes. The Catholic University of
money ethics dengan tax evasion. Hasil America Studies in Sacred Theology, 84.
penelitian menunjukkan intrinsic religiosity Donahue, M. J. (1985). Intrinsic and Extrinsic
sebagai variable moderating berhasil Religiousness: Review and Meta-analysis.
memoderasi dan memperkuat hubungan diantara Journal of Personality and Social Psychology,
money ethics dengan tax evasion. Dengan 48, 400-419.
demikian, hipotesis kedua bagian A diterima. Ghozali, I. (2013). Aplikasi Analisis Multivariate
3) Extrinsic religiosity tidak memoderasi hubungan dengan Program IBM SPSS 20 cet. 6. Semarang
money ethics dengan tax evasion. Hasil : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
penelitian menunjukkan extrinsic religiosity Grasmick, H.G., Bursik, R.J., & Cochran, J.K.
sebagai variable moderating tidak berhasil (1991). “Render Unto Caesar What Is Caesar’s”:
memoderasi hubungan diantara money ethics Religiosity and Taxpayers’ Inclinations to
dengan tax evasion. Dengan demikian, hipotesis Cheat. Sociological Quarterly, 32, 251–266.
kedua bagian B diterima. Gupta, N. & Shaw, J. D. (1998). Let the Evidence
Speak : Financial Incentives are Effective!!.
Saran Compensation and Benefit Reviews, 30(2), 26-
Adapun beberapa saran yang dapat diberikan 32
adalah sebagai berikut : Hutami, S. (2012). Tax Planning (Tax Avoidance
1. Penelitian selanjutnya disarankan untuk dan Tax Evasion) Dilihat dari Teori Etika.
memperbanyak sampel dan menggunakan Majalah Online Politeknosains, 9(2), 57-64.
wilayah yang lebih luas sehingga hasil Ismail, R. (2012). Keberagaman Koruptor Menurut
penelitian lebih dapat digeneralisasi. Psikologi (Tinjauan Orientasi Keagamaan dan
2. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat Psikografi Agama). Esensia, 8(2).
menambahkan serta mempertimbangkan Lau, T. C., Choe, K. L., & Tan, L. P. (2011).
variabel moderating lainnya selain intrinsic Consumers’ Ethical Beliefs : Ascertaining the
religiosity dan extrinsic religiosity yang dapat Roles of Money and Religiosity. International
mempengaruhi hubungan money ethics dengan Conference on Sociality and Economics
tax evasion, misalnya variabel materialsme. Development, 10, 162-166.

10
TAX AND ACCOUNTING REVIEW, VOL. 1, 2015

Lau, T. C., Choe, K. L., & Tan, L. P. (2013). The Siahaan, M. P. (2010). Hukum Pajak Elementer.
Moderating Effect of Religiosity in the Yogyakarta: Penerbit Graha Ilmu.
Relationship between Money Ethics and Tax Smith, T. B., McCullough, M. E., & Poll, J. (2003).
Evasion. Asian Social Science, 9(11), 213-220. Religiousness and Depression: Evidence for a
Lemeshow, S., & David W.H.Jr. (1997). Besar Main Effect and the Moderating Influence of
Sampel dalam Penelitian Kesehatan. Yogyakarta Stressful Life Events. Psychological Bulletin,
: Gadjahmada University Press. 129(4), 614-636.
Malhotra, N. K., & Birks, D. F. (2006). Marketing Suminarsasi, W., & Supriyadi. (2011). Pengaruh
research : An Applied Approach. Harlow : Keadilan, Sistem Perpajakan, dan Diskriminasi
Prentice Hall. terhadap Persepsi Wajib Pajak Mengenai Etika
Mardiasmo. (2009). Perpajakan Edisi Revisi 2009. Penggelapan Pajak (Tax Evasion). Jurnal
Yogyakarta : Penerbit Andi. Simposium Nasional Akuntansi XV.
McDaniel, S. W., & Burnett, J. J. (1990). Consumer Sloan, A. (2002). June, 24. “The Jury’s In : Greed
Religiosity and Retail Store Evaluative Criteria. Isn’t Good”. News Week, 37.
Journal of the Academy of Marketing Science, Tamari, M. (1998). Ethical Issues in Tax Evasion:
18(2), 101-112. A Jewish Perspective. Journal of Accounting,
McGee, R. W. (2006). Three Views on the Ethics Ethics & Public Policy, 1(2), 121-132.
of Tax Evasion. Journal of Business Ethics, 67, Tang, T. L. P. (2002). Is the Love of Money the
15-35. Root of All Evil? Or Different Strokes for
McGee, R. W., & Guo, Z. (2007). A Survey of Different Folks : Lessons in 12 Countries. Paper
Law, Business and Philosophy Students in Presented to the International Conference on
China on the Ethics of Tax Evasion. Society and Business Ethics in the Knowledge Economy.
Business Review, 2(3), 299-315. Hongkong, China.
McGee, R. W., Ho, S. S. M., & Li, A. Y. S. (2008). Tang, T.L.P., Chen, Y.J. & Sutarso, T. (2008). Bad
A Comparative Study on Perceived Ethics of Apples in Bad (Business) Barrels: The Love of
Tax Evasion: Hong Kong vs. the United States. Money, Machiavellianism, Risk Tolerance, and
Journal of Business Ethics, 77(2), 147-158. Unethical Behavior. Management Decision,
McGee, R. W., & Maranjyan, T. B. (2006). Tax 46(2), 243-263.
evasion in Armenia: An Empirical Study. Tang, T. L. P., & Chiu, R. K. (2003). Income,
Proceedings of the Fourth Annual Armenian Money Ethic, Pay Satisfaction, Commitment,
International Policy Research Group and Unethical Behaviour : Is the Love of Money
Conference. Washington, DC, 14-15 January. the Root of Evil for Hongkong Employees?
Mitchell, T. R., & Mickel, A. (1999). The Meaning Journal of Business Ethics, 46, 13-30.
of Money: An Individual Difference Tang, T. L. P., & Luna-Arocas, R. (2004). The
Perspective. The Academy of Management Love of Money, Satisfaction, and The Protestant
Review, 24, 568-578. Work Ethic: Money Profiles Among University
Permatasai, I., & Laksito, H. (2013). Minimalisasi Professors in the USA and Spain. Journal of
Tax Evasion Melalui Tarif Pajak, Teknologi dan Business Ethics, 50(4), 329-354.
Informasi Perpajakan, Keadilan Sistem Vitell, S. J., Paolillo, J. G. P., & Singh, J. J. (2005).
Perpajakan, dan Ketepatan Pengalokasian Religiosity and Consumer Ethics. Journal of
Pengeluaran Pemerintah (Studi Empiris pada Business Ethics, 57(2), 175–181.
Wajib Pajak Orang Pribadi di Wilayah KPP Vitell, S. J., Patwardhan, A. M., & keith, M. E.
Pratama Pekanbaru Senapelan). Diponegoro (2012). Religiosity, Attitude Toward Business,
Journal of Accounting, 2(2), 1-10. and Ethical Beliefs: Hispanic Consumers in the
Potensi Kerugian Negara Faktur Pajak Fiktif United States. Journal of Business Ethics, 110,
Capai Rp 1,5 T. Retrieved September 20, 2014, 61-70.
from http://www.beritasatu.com.
Rajagukguk, S. M., & Sulistianti, F. (2011).
Religiosity Over Law and Tax Compliance.
Prosiding Seminar Nasional “Problematika
Hukum dalam Implementasi Bisnis dan
Investasi (Perspektif Multidisipliner)”. Jurnal
Magister Akuntansi.
Salsman, J. M., Brown, T. L., Brechting, E. H., &
Carlson, C. R. (2005). The Link between
Religion and Spirituality and Psychological
Adjustment: the Mediating Role of Optimism
and Social Support. Personality and Social
Psychology Bulletin, 31(4), 522-535.

11