Anda di halaman 1dari 6

Cara Pembuatan Kitosan

Isolasi kitosan berlangsung melalui tahapan demineralisasi, deproteinasi, dan deasetilasi


(Irawati, 2007).

1. Penyiapan kitin
Kulit udang yang dikumpulkan dari resto kedai seafood, terlebih dahulu dicuci dengan air
agar kotoran yang melekat hilang, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari. Setelah kering,
kulit udang dihaluskan dengan blander agar diperoleh serbuk kulit udang untuk memperbesar
luas permukaan. Isolasi kitin dari kulit udang dilakukan dua tahap yaitu deproteinasi dan
demineralisasi.

2. Deproteinasi
Sebanyak 30 g serbuk kulit udang dimasukkan ke dalam labu alas datar , lalu ditambahkan
300 mL larutan NaOH 5%, sehingga perbandingan serbuk dan pelarutnya 1 : 10 (b/v)
dipanaskan pada suhu 65oC selama 1 jam sambil diaduk dengan pengaduk magnet.
Selanjutnya padatan disaring, dicuci dengan aquades hingga pH netral. Padatan yang
diperoleh (kitin kasar) dikeringkan dalam oven pada suhu 65oC selama 24 jam.

3. Demineralisasi
Kitin kasar yang diperoleh di atas dimasukkan ke dalam larutan HCl 1 M, dengan
perbandingan kitin dan pelarutnya 1 : 15 (b/v). Campuran dipanaskan pada suhu 65oC,
selama 2 jam sambil diaduk dengan pengaduk magnet, kemudian disaring. Padatan yang
diperoleh dicuci dengan aquades untuk menghilangkan HCl yang tersisa. Lalu dikeringkan
dalam oven pada suhu 65oC selama 24 jam. Padatan ini disebut kitin murni.

4. Deasetilasi
Kitin hasil isolasi direfluk dengan larutan NaOH 50% b/v dengan perbandingan kitin dan
pelarut 1:10 pada suhu 100oC selama 4 jam. Campuran diaduk dengan pengaduk magnet,
suhu dijaga konstan, kemudian disaring. Residu yang merupakan kitosan dicuci dengan
aquades sampai pH netral. Kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 65oC selama 24
jam.
Gambar . Penghilangan gugus asetil pada gugus asetamida (Lee, 2004 dalam dalam Azhar,
2010)
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari parameter yang di analisa maka tampak bahwa kualitas chitosan yang dihasilkan
dan digunakan dalam penelitian ini cukup memenuhi kualitas bakumutu chitosan yang
ditentukan.
Pada percobaan ini koagulan yang digunakan FeSO4 sebagai pembanding dengan alasan
bahwa ferri sulfat adalah koagulan yang paling banyak digunakan dalam proses pengolahan
limbah secara koagulasi. Dari perbandingan hasil koagulan dengan menggunakan chitosan,
maka dapat dilihat effektifitas chitosan sebagai koagulan. Selain itu untuk mendapatkan hasil
yang optimum, juga dilakukan beberapa penelitian terhadap perubahan variabel proses seperti
konsentrasi chitosan dan pH chitosan.

Tabel 1. Hasil Analisa Parameter Limbah Tekstil Setelah Koagulasi

Keterangan :

- (A) COD, (B) BOD, (C) Kekeruhan, (D) Padatan tersuspensi.


- Data awal limbah cair industri tekstil sebelum proses koagulasi :COD (692,32 ppm), BOD
(478,49 ppm), Kekeruhan (54,39), Padatan tersuspensi (93,21 ppm) dan pH (8)
Grafik 1. Pengaruh pH Kitosan Terhadap Penurunan Kadar Polutan Limbah
A : COD, B : BOD, C : Kekeruhan,
D : Padatan Tersuspensi

Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa chitosan dapat digunakan sebagai bahan
koagulan untuk limbah cair industri tekstil, dengan hasil yang cukup memuaskan, karena
dapat menurunkan kandungan beberapa parameter dalam limbah sampai mendekati nilai yang
diperoleh oleh koagulan FeSO4. Pada konsentrasi 50 ppm, penggunaan chitosan menunjukkan
hasil optimal dimana nilai parameter A & D tidak berbeda jauh dengan hasil yang diperoleh
bila menggunakan koagulan FeSO4.

Meskipun hasil dari koagulasi menggunakan chitosan ternyata masih sedikit dibawah
hasil dari koagulasi menggunakan FeSO4, namun penggunaan chitosan sebagai bahan
koagulan mempunyai beberapa keunggulan karena mudah diperoleh dari bahan yang
berlimpah (limbah kullit udang), dan merupakan bahan tidak beracun (non-toxic) serta mudah
terurai sehingga tidak menghasilkan bahan pencemar baru setelah proses pengolahan limbah.
Dengan pertimbangan hal-hal tersebut, maka alternatif penggunaan koagulan chitosan
dipandang sebagai alternatif yang cukup menggembirakan karena sifatnya yang ramah
terhadap lingkungan.

Dari hasil analisa dapat dilihat bahwa pH chitosan mempunyai pengaruh terhadap
penurunan nilai parameter polutan limbah cair industri tekstil. Prosentase penurunan tertinggi
diperoleh pada kondisi pH 8. Pada suasana alkali, gugus amino yang terdapat pada chitosan
lebih reaktif dibanding pada suasana asam (pH rendah). Sehingga proses pembentukan
koagulan antara chitosan dengan koloid dalam limbah akan lebih kuat.

Secara umum setiap kenaikan konsentrasi dosis koagulan kitosan yang ditambahkan
ke dalam sampel air,maka akan terjadi kecenderungan penurunan pH. Hal ini disebabkan
karena koagulan yang ditambahkan relatif bersifat asam karena terdiri dari kitosan yang
dilarutkan dalam asam asetat. Kitosan merupakan koagulan yang tidak terionisasi dengan
baik di dalam air, sehingga tidak merubah pH yang begitu besar pada sampel air.

Pengaruh Kitosan terhadap penurunan kadar COD.


Adapun kaitannya dengan hasil pengukuran diatas adalah bahan organik yang terendapkan
secara fisika setelah dilakukan proses koagukasi flokulasi jartest belum dapat dipastikan
bahwa semua bahan organik tersebut dapat terurai secara biologis oleh mikroorganisme.
Akan tetapi kemungkinan untuk mengoksidasi bahan organik tersebut secara kimia memiliki
nilai kemungkinan yang lebih besar. Penambahan koagulan kitosan dalam proses jar test
dapat menurunkan konsentrasi COD secara signifikan. Penurunan konsentrasi COD
diakibatkan oleh penyisihan bahan bahan organik yang berupa padatan koloid organik yang
terdapat dalam air limbah (Nugrahaeni, 2014).

Pada penambahan kitosan yang melebihi batas optimal, mengakibatkan ion positif yang
berlebih menghasilkan gaya tolak yang cukup besar yang menyebabkan adanya gerakan
partikel dalam air dan menggangu proses stabilisasi yang telah terjadi. Hal ini dapat
menyebabkan gagalnya pengikatan dan pembentukan flok (Fharihin, 2014).

Pengaruh Kitosan terhadap penurunan kadar TSS

Seiring diberikannya dosis biokoagulan semakin besar, maka penurunan koansentrasi TSS
semakin besar juga, hal ini dikarenakan pemberian koagulan pada dosis yang optimal
membantu mengikat partikel yang tersuspensi lalu membuat partikel-partikel halus
tersuspensi tersebut yang pada kondisi awal bersifat stabil menjadi tidak stabil muatannya
sehingga gaya tarik-menarik menjadi terendapkan membenruk flok. Gaya tarik menarik ini
terjadi karena penetralan muatan listrik partikel koloid akibat penambahan koagulan karena
koagulan tersebut memberi ion positif ke dalam limbah cair sehingga konsentrasi TSS
menurun (Rustam, 2010).
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
1. Kondisi operasi untuk koagulasi chitosan yang optimum pada penelitian ini adalah
pada konsentrasi 50 ppm dalam suasana alkali ( pH = 8 ).
2. Secara umum hasil koagulasi dengan chitosan masih di bawah hasil FeSO4, tetapi
penggunaan chitosan dalam proses ini dipandang mempunyai keunggulan/ prospek yang
lebih baik karena chitosan merupakan senyawa biologis bipolimer yang mudah terurai
dan tidak bersifat toxic. Sedangkan penggunaan FeSO4, meskipun dapat menurunkan
bahan koagulasi lebih baik, tetapi dipandang sebagai proses yang kurang ramah terhadap
lingkungan karena masih menghasilkan limbah baru.

5.2. Saran
1. Perlu dilakukan penelitian yang lebih lanjut mengenai penggunaan chitosan, terutama
pada polutan-polutan lain seperti penyerapan logam berat, protein, dll.
2. Disamping pada bidang pengolahan limbah, perlu aplikasi chitosan pada bidang-
bidang yang lain seperti farmasi, kedokteran, fotografi, dll.