Anda di halaman 1dari 27

SPESIFIKASI TEKNIS

Keterangan :
Spesifikasi teknis disusun oleh Panitia pengadaan berdasarkan jenis pekerjaan yang
akan dilaksanakan, dengan ketentuan :

1. Tidak mengarah kepada merk/produk tertentu, tidak menutup kemungkinan

digunakan produksi dalam negeri;

2. Semaksimal mungkin diupayakan menggunakan standar nasional;

3. Metoda pelaksanaan harus logis, realistik dan dapat dilaksanakan;

4. Jadwal waktu pelaksanaan harus sesuai dengan metoda pelaksanaan

5. Harus mencantumkan macam, jenis, kapasitas dan jumlah peralatan utama

minimal yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan

6. Harus mencantumkan syarat-syarat bahan yang dipergunakan dalam

pelaksanaan pekerjaan

7. Harus mencantumkan syarat-syarat pengujian bahan dan hasil produk

8. Harus mencantumkan kriteria kinerja produk (out put performance) yang

diinginkan

9. Harus mencantumkan tata cara pengukuran dan tata cara pembayaran

1
A. SPESIFIKASI UMUM

Pekerjaan : Pemeliharaan Poskesdes Gampong Blang Kecamatan Langsa Kota


Lokasi : Kota Langsa
Tahun Anggaran : 2019

1. KETENTUAN UMUM
Kontraktor harus melindungi Pemilik dari tuntutan atas hak Paten, Lisensi, serta Hak Cipta
yang melekat pada barang, bahan jasa yang digunakan atau disediakan kontraktor untuk
melaksanakan pekerjaan.

Apabila ada perbedaan antara standar yang disyaratkan dengan standar yang diajukan
oleh kontraktor, kontraktor harus menjelaskan secara tertulis kepada Direksi pekerjaan,
sekurang-kurangnya 28 hari sebelum Direksi Pekerjaan menetapkan setuju atau ditolak.

Dalam hal Direksi pekerjaan menetapkan bahwa standar yang diajukan kontraktor tidak
menjamin secara substansial sama atau lebih tinggi dari Standar yang disyaratkan dalam
Dokumen Kontrak.

Sesifikasi ini disusun sedemikian rupa dimaksudkan agar calon penawar dapat menyusun
penawarannya yang realistis dan kompetitif, sesuai dengan kebutuhan pemilik tanpa
catatan dan persyaratan lain dalam penawarannya.

Barang, bahan yang digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan harus mengutamakan


produksi dalam negeri.

Srandar yang digunakan adalah Standar Nasional (SNI, SII, SKN) untuk barang, bahan,
dan jasa/pengerjaan/pabrikasi dari edisi atau revisi ASTM, BS, dll, yang padananya secara
substantif sama atau lebih tinggi dari Standar Nasional.

Standar satuan ukuran yang digunakan adalah MKS, sedangkan penggunaan Standar
satuan lain, dapat digunakan sepanjang hal tersebut tidak dapat dielakkan.

Semua kegiatan yang perlu untuk pelaksanaan pekerjaan, penyelesaian dan perbaikan
harus dilakukan sedemikian rupa dengan mematuhi ketentuan dan persyaratan kontrak
agarv tidak menimbulkan gangguan terhadap kepentingan umum.

Kontraktor harus mengamankan dan membebaskan pemilik dari kewajiban membayar ganti
rugi yang berkenaan dengan segala klaim, tuntutan hukum dalam bentuk apapun yang
timbul dari satu sehubungan dengan hal tersebut.

2. HUKUM DAN PERATURAN


Kontraktor harus mengetahui, memahami dan mematuhi ketentaun hukum dan peraturan
mengenai Lingkungan Hidup, Keselamatan Kerja, Perpajakan, Bea Cukai, ijin pemasukan
Barang, Import dan Komoditi, penyimpangan merupakan keharusan bagi kontraktor mengikuti
produser yang harus ditempuh.

Dengan tidak mengurangi kewajiban Kontraktor akan hal tersebut diatas, kontraktor harus
mematuhi ketentuan peraturan/perundang-undangan sebagai berikut :

2
2.1 Dalam pelaksanaan pekerjaan harus mengikut sertakan perusahaan Golongan Ekonomi
Lemah Setempat/Koperasi sesuai surat Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Keuangan
dan Pengawasan pembangunan No. S.91/M.EKKU/1997 tanggal 23 Juli 1997 tentang :
Peningkatan peran serta dan pemberdayaan Pengusaha kecil dan Koperasi dalam
pengadaan barang/jasa Intansi Pemerintah.

2.2 Untuk melindungi tenaga kerja, Kontraktor wajib melaksanakan program JAMSOSTEK
sesuai dengan Surat Keputusan Bersama Menteri Pekerjaan Umum danMenteri Tenaga
Kerja No. 30/KPTS/1989 tanggal 27 Januari 1989 Jo. Surat Kakanwil No. KEP
07/Men/1989. Departemen Umum Propinsi Daerah Istimewa Aceh Nomor :
PR.06.07.W.01/BJ.3/660 tanggal 10 Agustus 1998.

3. PROGRAM PELAKSANAAN DAN LAPORAN


LAPORAN BULANAN KEMAJUAN PEKERJAAN
Sebelum tanggal sepuluh setiap bulan atau pada waktu yang telah ditetapkan Direksi,
kontraktor harus menyerahkan 5 (lima) salinan Laporan Kemajuan Bulanan dalam bentuk
yang biasa diterima oleh Direksi, yang menggambarkan secara detail kemajuan pekerjaan
selama bulan yang terdahulu. Laporan sekurang-kurangnya harus berisi hal-hal sebagai
berikut :

Prosentase total pekerjaan yang telah dilaksanakan berdasarkan kenyataan yang


dicapai pada bulan laporan dan prosentase rencana yang diprogramkan pada bulan
berikutnya.
Prosentase dari tiap pekerjaan pokokm yang telah diselesaikan, disertai dengan
prosentase rencana yang diprogramkan, dan diberi keterangan mengenai kemajuan
pekerjaan.
Jadwal rencana kegiatan mendatang yang akan dilaksanakan dalam waktu dua
bulan berturut-turut dengan perkiraan tanggal permulaan dan penyelesaian.

LAPORAN HARIAN
Kontraktor harus membuat laporan harian atau laporan periodic atas setiap bagian
pekerjaan yang diminta Direksi dan dalam bentuk yang disetujui oleh Direksi. Laporan
dimaksud harus memuat, tetapi tidak dibatasi, data-data berikut.

Keadaan cuaca, jumlah tenaga staf dan buruh yang dipekerjakan serta keterampilannya,
jumlah bahan-bahan ditempat pekerjaan, jumlah bahan yang sedang dipesan, kemajuan
pekerjaan, persiapan pekerjaan dan peralatan serta data-data percobaan laboratorium,
kecelakaan dan informasi yang lain yang berkaitan erat dengan kemajuan pekerjaan.

RAPAT BERSAMA UNTUK MEMBICARAKAN KEMAJUAN PEKERJAAN


Rapat tetap antara Direksi dan kontraktor diadakan seminggu sekali pada waktu yang telah
disetujui oleh kedua belah pihak. Maksud daripada rapat ini membicarakan pekerjaan yan
dilakukan, pekerjaan yang diusulkan untuk minggu selanjutnya dan membahas
permasalahan yang timbul agar dapar segera diselesaikan.

PHOTO KEMAJUAN PEKERJAAN


Kontraktor harus menyerahkan photo berwarna kepada Direksi mengenai kemajuan
pekerjaan (dengan ukuran tidak kurang 8 cm x 12 cm) pada lokasi yang telah ditentukan
Direksi selama masa kontrak.

Photo diambil pada waktu awal dan selesainya pelaksanaan pekerjaan, serta pada waktu
yang ditentukan oleh Direksi. Photo yang harus diserahkan kepada Direksi dilampirkan
pada laporan kemajuan bulanan dan masing-masing sebanyak 5 (lima) rangkap. Tanggal
dan penjelasan dari tiap photo perlu dicantumkan Biaya pembuatan photo tidak akan
dibayar terpisah dan dianggap termasuk dalam harga satuan untuk tiap pekerjaan pada
Biaya Kuantitas Pekerjaan.
3
4. BAHAN-BAHAN DAN ALAT YANG HARUS DISEDIAKAN KONTRAKTOR
Kontraktor harus menyediakan seluruh alat produksi dan material yang dibutuhkan untuk
pelaksanaan pekerjaan kecuali bila disebutkan tersendiri di dalam Kontrak. Jika tidak
ditentukan lain, segala peralatan dan material yang membutuhkan bagian pekerjaan baru dan
harus disesuaikan dengan standar menurut dokumen lelang. Bahan-bahan yang akan
digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan harus mengutamakan produksi dalam negeri.

Apabila disebabkan karena sesuatu hal sahingga bahan yang dimakdud tidak dapat diperoleh
didalam negeri, maka kontraktor dapat melakukan pemesanan dari luar negeri setelah
mendapat persetujuan terlebih dahulu dari pemberi pekerjaan. Kontraktor harus melaporkan
kepada Direksi, bilamana bermaksud untuk mensuplai peralatan dan material yang tidak sesuai
dengan standar sebagai tersebut diatas dan harus mendapat persetujuan tertulis dari Direksi.

5. ALAT-ALAT PRODUKSI

Kontraktor harus menyediakan segala alat produksi yang diperlukan secukupnya untuk
pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan. Direksi boleh meminta kepada kontraktor untuk
menyediakan alat produksi tambahan dan peralatan lain bilamana menurut pertimbangannya
penting untuk pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan kontrak. Kontraktor harus menyediakan
seluruh peralatan serta suku cadang dan harus menjaga persediaan yang cukup untuk tidak
memperlambat pelaksanaan pekerjaan.

6. MATERIAL PENGGANTI

Kontraktor harus berusaha mendapat material yang ditemukan, bilamana material yang
ditentukan tidak mungkin diperoleh dengan alasan yang dapat diterima, kontraktor dapat
menggunakan material pengganti, tetapi harus terlebih dahulu mendapat persetujuan tertulis
dari Direksi. Harga satuan penawaran pada Daftar Kuantitas dan Harga Pekerjaan tidak
diperkenankan untuk dinaikkan akibat penggantian material.

7. PAGAR SEMENTARA

Apabila diperlukan kontraktor harus membuat pagar daerah kerja dan semua tanah yang
ditempat intuk melaksanakan kewajibannya sesuai dengan syarat-syarat kontrak atas biaya
dari kontrak sendiri. Apabila pagar sementara perlu didirikan sepanjang jalan umum, jalan
kereta api, harus merupakan tipe yang diminta dan Disetujui oleh Pemerintah Setempat.

8. YANG HARUS DISERAHKAN PADA PROYEK

Dengan selesainya waktu pemeliharaan atau pada tanggal-tanggal lebih awal dari yang
dikehendaki oleh Direksi, kontraktor harus mengosongkan dan menyerahkan pada Direksi
seperti yang ditentukan dalam pasal ini.

Kontraktor tidak membongkar atau merusak bangunan, peralatan, barang-barang yang


berfaedah, kantor-kantor, gudang dan lainnya seperti yang tercantum dalam spesifikasi ini.

Semua unit perumahan, kantor, dan fasilitas lain harus dibersihkan dan dalam keadaan baik
kecuali untuk yang dibongkar bila diserahkan kepada pemberi pekerjaan.

9. PAPAN NAMA PROYEK


Kontraktor wajib membuat Nama Proyek yang ditempatkan dilokasi-lokasi tertentu menurut
petunjuk Direksi selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah terbitnya Surat Keputusan
Pemenang Pelangan.
4
Papan Nama tersebut harus dibuat ketentuan sebagai berikut:
a. Ukuran papan (150 x 100) cm2 harus dibuat dari papan kayu kelas II dan dilapisi
dengan BWG 28 atau yang sejenis.

b. Tiang penyangga dan penyokong dibuat dari kayu kelas I ukuran (5 x 7) cm2

c. Pemasangan papan nama sedemikian rupa sehingga tepi bawah terletak setinggi 2 m
dari tanah. Bagian tanah tiang penyangga dan penyokong ditanam didalam lubang
yang kemudian dicor dengan beton tumbuk campuran 1 : 3 : 5 (dalam volume) sedalam
40 cm didalam tanah dan 10 cm diatas tanah.

d. Pengecatan papan nama tersebut harus dilakukan dengan cat meni sekali, cat dasar
sekali,dan cat penutup sekali. Dipapan nama tertulis sebagai berikut sesuai dengan
petunjuk Direksi.

PEMERINTAH KOTA LANGSA


DINAS KESEHATAN KOTA LANGSA

 Nama Intansi .
 Nama Proyek
 Pemilik Proyek
 Lokasi Proyek
 Jumlah Biaya (kontrak)
 Nama Konsultan Perencana
 Nama Konsultan Pengawas
 Nama Pelaksana (Kotraktor)
 Proyek dimulai tanggal, bulan, tahun.

Kontraktor wajib memelihara dan merawat papan nama dan menjaga agar tetap dalam
keadaan baik sampai dengan penyerahan pekerjaan yang terakhir kalinya kepada
Direksi pekerjaan.

5
A. SPESIFIKASI TEKNIK

Pasal 1
PEKERJAAN PERSIAPAN

Untuk keperluan persiapan dan perlengkapan guna pelaksanaan pekerjaan, kontraktor


berkewajiban.

1. Membersihkan halaman pekerjaan darisegala kotoran/sampah dan akar-akar kayu.

2. Mengadakan air untuk keperluan pelaksanaan pekerjaan. Air harus memenuhi syarat-syarat
yang diperlukan masing-masing pekerjaan yang bersangkutan.

3. Membuat gudang-gudang, los kerja dan kantor Direksi.

4. Membuat papan nama proyek dari papan dilapis sengdengan ukuran 120 x 90 m. didirikan
tegak diatas kayu 5/7 cm. Diletakkan ditempat yang mudah dilihat.
Papan nama proyek berisikan :

 Nama Intansi .
 Nama Proyek
 Pemilik Proyek
 Lokasi Proyek
 Jumlah Biaya (kontrak)
 Nama Konsultan Perencana
 Nama Konsultan Pengawas
 Nama Pelaksana (Kotraktor)
 Proyek dimulai tanggal, bulan, tahun.

Pasal 2
UKURAN-UKURAN

1. Ukuran-ukuran patok dan ukurantinggitelah ditetapkan dalamgambar dan dijelaskan dalam


gambar detail. Ukuran-ukuran dalam gambar tersebut adalah ukuran setelah pekerjaan selesai
dikerjakan.

2. Peil ketinggian lantai (+/- 0,00) diambil sesuai dengan ketetapan dalam gambar, ukuran
tersebut merupakan perhitungan rata-rata diatas tanah berkontur (tingginya sesuai dengan
lantai bangunan yang telah ada). Penentuan peil ini akan dilakukan oleh Direksi bersama-sama
dengan kontraktor. Selanjutnya peil ini harus merupakan dasar tiap ukuran tinggi /rendah
horizontal.
¼
3. Penentuan titik-titik ketinggian bangunan dilakukan dengan selang air ukuran sedangkan
ukuran sudut siku-siku dilakukan dengan benang secara azas dalil Pythagoras.

Pasal 3
KANTOR PEMBORONG DAN GUDANG

1. Untuk keperluan, kelancaran dan tempat tinggal pekerja kontraktor diharuskan untuk membuat
Direksi keet, pondok kerja dan gudang tempat penyimpanan bahan (KEET).

6
2. Bangunan keet ini dibuat secara sederhana sehingga pada waktu bangunan selesai dikerjakan
memudahkan pembongkarannya.

3. Untuk memudahkan pengawasan pada bangunan keet ini disedikakan dan dilengkapi dengan
peralatan Direksi keet, seperti meja tulis, kursi dan peralatan lainnya.

4. Letak bangunan ini disesuaikan dengan situasi tempat agar sirkulasi pekerjaan tidak saling
menghambat.
Pasal 4
PEMASANGAN BOUWPLANK

1. Lingkup pekerjaan
Meliputi seluruh keliling bangunan

2. Persyaratan bahan
Bahan dari kayu yang cukup kuat, dengan ukuran patok 5/7 cm dan untuk papan 2/18 cm.

3. Pedoman pelaksanaan
 Papan diketam halus dan lurus pada sisi atasnya
 Harus benar-benar water pas (timbang air) dan sudut-sudutnya harus siku
 Bouwplank harus terpasang kuat.

Pasal 5
PEKERJAAN TANAH

1. Lingkup pekerjaan

Pekerjaan Tanah terdiri dari :


 Galian tanah untuk pekerjaan substruktur (pondasi)
 Timbunan dibawah lantai
 Timbunan kembali tanah pondasi
 Urugan pasir bawah lantai
 Perataan tanah sekeliling bangunan.

2. Persyaratan bahan
Untuk timbunan bekas galian pondasi, digunakan tanah bekas galian pondasi. Untuk timbunan
bawah lantai digunakan tanah urug dan pasir urug kualitas baik. Tanah timbunan dan pasir
urug harus bersih dari kotoran-kotoran dan akar kayu, serta sampah lainnya.

3. Pedoman pelaksanaan
a. Galian pondasi baru boleh dilaksanakan setelah bouwplank dengan penandaan sumbu
kesumbu selesai diperiksa dan disetujui Direksi. Apabila ditempat galian ditemukan pipa-
pipa pembuangan, kabel listrik, telepon atau lainnya yang masih berfungsi, maka kontraktor
secepatnya memberitahukan kepada Direksi atau instansi yang berwenang untuk
mendapatkan petunjuk seperlunya.Kontraktor bertanggung jawab sepenuhnya atas segala
kerusakan yang diakibatkan pekerjaan galian tersebut.

b. Bila ternyata penggalian melebihi kedalaman yang telah ditentukan dalam gambar, maka
kontraktor harus mengisi kelebihan galian tersebut dengan bahan pondasi yang sesuai
dengan spesifikasi pondasi.

7
4. Penimbunan
a. Seluruh bagian site yang direncanakan untuk perletakan bangunan harus ditimbun sampai
ketinggian yang ditentukan, tanah timbun harus cukup baik, bebas dari sisa-sisa (rumput,
akar-akar dan lainnya).

b. Penimbunan dilakukan lapis demi lapis setebal 30 cm hamparan setiap lapisan.

c. pengurugan bekas galian pondasi diurug lapis demi lapis dengan ketebalan tiap lapis
maksimum 15 cm. Tiap lapisan dipadatkan dengan menumbuk lapisan tersebut,
menggunakan alat tumbuk yang baik. Setelah lapisan pertama padat, ditimbun dengan
lapisan berikutnya dan dipadatkan kembali seperti diatas. Demikian seterusnya dilakukan
sampai semua lubang bekas galian pondasi tertutup kembali.

d. Pengurugan dengan tanah timbun dibawah lantai dan dihalaman dilakukan lapis demi lapis
hingga ketebalan yang ditentukan dibawah lantai, ditumbuk hingga padat menggunakan
alat pemadat. Lapisan-lapisan urug untuk ditumbuk ini dibuat maksimal 10 cm perlapisan,
dilakukan penimbunan sampai ketinggian yang ditentukan, tanah timbun harus cukup baik
bebas dari sisa-sisa ( rumput, akar-akar dan lainnya).

e. Dibawah lantai setebal 5 cm diurug dengan pasir pasangan dan dipadatkan. Pengurugan
dan pemadatan ini dilakukan dengan menyiram air hingga penuh. Kemudian ditumbuk
dengan alat yang sesuai untuk pemadatan. Hasil akhir harus mendapat persetujuan Direksi
atas kesempurnaan pengurugan dan pemadatan.

f. Pengurugan tanah untuk dasar pondasi plat/setempat, dimana dasar pondasi harus diurug
maka syarat-syarat pengurugan seperti diatas harus dipenuhi dengan kepadatan 95%
dalam lapisan-lapisan 20 cm.

Pasal 6
PEKERJAAN PONDASI

1. Lingkup pekerjaan
Meliputi seluruh pengerjaan pondasi pasangan batu kali/batu pecah, seperti yang tercantum
dalam gambar dan dijelaskan dalam gambar detail

2. Persyaratan bahan
Seluruh bahan yang digunakan untuk pondasi harus memenuhi persyaratan yang diuraikan
dalam pasal beton-beton bertulang.

3. Pedoman pelaksanaan
a. Sebelum pondasi dipasang terlebih dahulu diadakan pengurukan-pengukuran untuk asas
pondasi sesuai dengan gambar konstruksi yang diminta persetujuan Direksi tentang
kesempurnaan galian.

b. Pemborong wajib melaporkan kepada Direksi bila ada perbedaan gambar konstruksi
dengan gambar arsitektur atau bila ada hal-hal yang kurang jelas.

c. Dibawah dasar pondasi didasari dengan pasangan batu kosong (Aanstamping) setelah 10
cm dan beton Cor Campuran 1:3:5, sebagai lantai kerja.

d. Pondasi dibuat dari pasangan beton dengan adukan 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr.

e. Pedoman pelaksanaan, adukan harus memenuhi pedoman pada pasal beton.

8
Pasal 7
PEKERJAAN BETON-BETON BERTULANG

1. Pekerjaan beton bertualang


a. kualitas yang dipakai untuk pekerjaan ini adalah :
Mutu beton BO untuk pekerjaan beton biasa
Mutu beton campuran 1 : 2 : 3 untuk :
 Sloof beton bertulang,
 Kolom beton bertulang,
 Balok-bolak beton bertulang.
 Lantai dan Atap Beton Bertulang

b. Pemborong harus memberikan/membuat kualitas beton dengan memperhatikan data-data


pelaksanaan sesuai petunjuk pengawas.

c. Pemborong harus membuat laporan tertulis atas data-data kualitas yang dibuat. Laporan
tersebut harus dilengkapi dengan nilai karakteristik dengan beton tersebut dan harus
disetujui oleh Direksi/Konsultan pengawas. Laporan tersebut harus disertai sertifikat dari
laboratorium dan harus dibuat rangkap 5 (lima)

d. Jumlah semen minimal 375 Kg per m3 beton. Khusus pada atap, luifel, konsol, kamar mandi
dan WC, talang beton, dan lantai.

e. Jika dianggap perlu, maka digunakan juga pembuatan kubus percobaan untuk umur
3,7,14,21,2 hari dengan ketentuan bahwa hasilnya tidak boleh kurang dari presentase
kekuatan yang diminta pada 28 hari, untuk lebih jelasnya lihat table 4.1.4.PBI-, 971. Angka
kekuatan yang diminta, maka harus dilakukan pengujuan beton setempat dengan cara-cara
seperti yang ditentukan dalam PBI-1971.

f. Pengadukan beton dari mixer tidak boleh kurang dari 75 detik terhitung setelah seluruh
adukan masuk kedalam mixer.

g. Penyampaian beton (adukan) dari mixer ketempat pengecoran harus dilakukan dengan
cara yang tidak berakibat terjadinya pemisahan komponen-komponen beton.

h. Minimal 2 (dua) harri sebelim pengecoran dilakukan, pemborong harus memberitahukan


kepada Direksi/Konsultan pengawas dan pengecoran baru dapat dilakukan setelah
mendapat izin tertulis dari Direksi/Konsultan pengawas sebelum memberikan persetujuan
pengecoran Direksi/konsultan pengawas wajib memeriksa pembesian yang terpasang pada
daerah yang akan di cor.

i. Diluar uraian diatas terhadap tepat atau bagian lain dari pekerjaan yang memerlukan
penggunaan beton bukan sebagai struktur utama (misalnya beton rabat) dapat dipakai
campuran adukan 1 PC : 3 Psr : 5 Kr yang dicetak dan dicor berdasar ketentuan PUBB (NI.
3-1957) dan PBI (NI.2-1971).

2. Siar-siar Konstruksi dan Pembongkaran Acuan/Bekisting


a. Pembongkaran Acuan/Bekisting sepanjang tidak ditentukan lain dalam Kambar Kerja harus
mengikuti pasal 6.8 PBI-1971. Pembongkaran Acuan/Bekisting baru dilakukan apabila
bagian konstruksi dengan system Acuan/Bekisting yang masih ada telah mencapai
kekuatan yang cukup untuk memikul berat sendiri dan beban-beban pelaksanaan yang
bekerja padannya.

b. Pada bagian-bagian konstruksi dimana aka bekerja beban-beban yan glebih besa dari
beton rencana atau terjadi keadaan yan glebih membahayakan daripada yang
9
diperhitungkan, cuaca dari bagian konstruksi tersebut tidak dapat dibongkar selama
keadaan tersebut terus berlangsung.
c. Acuan/Bekisting balok dapat dibongkar setelah dari semua kolom-kolom penunjangnya
telah dibongkar cetakannya dan dari penglihatannya ternyata baik hasil pengecorannya.

3. Pekerjaan Besi
Besi beton yang digunakan harus memenuhi critera mutu, besi dengan ukuran < Ø14 mm
digunakan U 24 dan besi dengan ukuran > Ø 14 mm digunakan U 32.

Bending Schedule dan Pergantian Besi


a. Pemborong harus mengusahakan supaya besi yang dipasang adalah sesuai dengan apa
yang tertera pada Gambar Kerja. Sebelum dilakukan pemotongan besi beton, maka
pemborong harus membuat “Bending Schedule” (rencana pembengkokan tulangan) untuk
diajukan dan dimintakan persetujuan dari Direksi/Konsultan Pengawas.
b. Dalam hal dimana berdasarkan pengalaman pemborong atau pendapatnya terdapat
kekeliruan atau kekurangan atau perlu penyempurnaan pembesian yang ada, maka :
 Pemborong dapat menambah ekstra besi dengan tidak mengurangi pembesian yang
tertera dalam Gambar Kerja. Secepatnya hal ini diberitahukan perencanaan konstruksi
untuk informasi.
 Jika hal tersebut diatas akan dimintakan oleh pemborong sebagai pekerjaan lebih, maka
penambahan tersebut hanya dapat dilakukan setelah ada persetujuan tertulis dari
perencanaan konstruksi.
 Jika diusulkan perubahan dari jalan/arah pembesian maka perubahan tersebut hanya dapat
dilakukan dengan persetujuan tertulis dari perencanaan konstruksi.

c. Jika pemborong tidak berhasil mendapatkan diameter besi yang sesuai dengan yang
ditetapkan dalam gambar kerja, maka dapat dlakukan penukaran diameter besi dengan
diameter yang terdekat dengan catatan harus ada persetujuan tertulis dari
Direksi/Konsultan Pengawas.

d. Jumlah besi persatuan panjang atau jumlah besi ditempat tersebut tidak boleh kurang dari
yang tertera dalam Gambar Kerja (dalam hal ini yang dimaksudkan adalah jumlah luas).

e. Toleransi Besi

Diameter, ukuran sisi


Variasi dalam berat yang
(jarak antara dua diameter Toleransi
diperbolehkan
permukaan yang berlawanan)
Dibawah 10 mm +/- 7% +/- 0,4 mm

10 mm sampai 16 mm (tapi tidak +/- 5% +/- 0,4 mm


termasuk diameter 16 mm)

16 mm sampai 28 mm (tapi tidak


termasuk diameter 28 mm) +/- 4% +/- 0,3 mm

4. Perawatan beton

a. Beton harus dilindungi dari pengaruh panas, hingga tidak terjadi penguapan cepat.

b. Persiapan perlindungan atas kemungkinan datangnya hujan, harus diperhatikan.

c. Beton harus dibashi tesur menerus paling sedikit selama 10 hari setelah pengecoran untuk
mencegah pengeringan bidang beton. Pembasahan terus menerus ini dilakukan antara lain
dengan menutupinnya dengan karung-karung basah. Pada pelat-pelat atap pembasahan
terus menerus dilakukan dengan merendam atau (mengenanginnya) dengan air.
10
d. Pada hari-hari pertama sesudah selesai pengecoran, proses pengerasan tidak boleh
diganggu.

e. Tidak diperkanankan untuk mempergunakan lantai yang belum cukup mengeras sebagai
tempat penimbunan bahan-bahan atau sebagai jalan untuk mengangkut bahan-bahan
berat. Minimal 1 (satu) minggu setelah pengecoran selesai, baru dapat dibebani untuk
pekerjaan selanjutnya dengan syarat Acuan/Bekisting lantai yang dibebani tersebut tidak
dibongkar dan untuk memulai pekerjaan tersebut harus dengan persetujuan tertulis oleh
Direksi/Konsultan Pengawas.

f. Perawatan dengan uap bertekanan tinggi, uap bertekanan udara luar, pemanasan atau
proses-proses lain untuk mempersingkat waktu pengerasan dapat dipakai setelah
mendapatkan persetujuan dari Direksi/Konsultan Pengawas.

5. Tanggung Jawab Pemborongan

Pemborong bertanggung jawab penuh atas kualitas konstruksi sesuai dengan ketentuan-
ketentuan diatas dan sesuai dengan gambar kerja yang diberikan. Kehadiran Direksi/Konsultan
pengawas selaku wakil pemberi tugas atau konsultan perencana yang sejauh mungkin
melihat /mengawasi/menegur atau memberi nasehat tidaklah mengurangi tanggung jawab.

6. Perbaikan Permukaan Beton


a. Pada proyek ini permukaan beton yang dihasilkan bukan merupakan hasil akhir yang tidak
mengalami finishing arsitektur sehingga akan ada pekerjaan plasteran baik untuk balok
kolom dan pelat lantai. Tapi apabila terjadi ketidaksempurnaan dalam pengecoran sehingga
terjadi keropos dan lain-lain maka harus dilakukan hal-hal seperti langkah berikut ini.
b. Penambahan pada daerah yang tidak sempurna, keropos dengan campuran adukan
semen (cement morlar) setelah pembukaan Acuan/Bekisting, hanya boleh dilakukan
setelah mendapatkan persetujuan tertulis dan sepengetahuan Direksi/Konsultan
Pengawas.
c. Jika ketidak-sempurnaan itu tidak dapat diperbaiki untuk menghasilkan permukaan yang
diharapkan dan diterima Direksi/Konsultan Pengawas, maka harus dibongkar dan diganti
dengan pembetonan kembali atas biaya Pemborong.
d. Ketidaksempurnaan yang dimaksud adalah susunan yang tidak teratur, pecah/retak, ada
gelembung udara, keropos berlubang, tonjolan dan yang lainnya yang tidak sesuai dengan
bentuk yang diharapkan/diinginkan.

7. Bagian-bagian Yang Tertanam Dalam Beton


a. Pasangan angkur dan lain-lain yang akan menjadi satu dengan beton berlubang.
b. Dipergunakan juga tempat untuk kols-klos untuk kosen atau instalansi.

8. Bahan
a. Semen
 Dipergunakan Potland Cement jenis 1 (Tipe) menurut NI-8 tahun 1975 dan memenuhi
S-400 menurut Standart Cement yan gdigariskan oleh Asosiasi Semen Indonesia (NI-8
tahun 1972). Merek yang dipilih tidak dapat ditukar-tukar dalam pelaksanaan terkecuali
mendapat persetujuan dari Direksi. Pertimbangan Direksi hanya dapat diberikan dalam
keadaan :
 Tiada stok dipasarkan dari merk semen yang telah digunakan
 Kontraktor memberi data-data teknis bahwa mutu semen pengganti setaraf dengan
mutu semen yang telah dipakai.
 Semen yang mengeras sebagian maupun seluruhnya dalam satu zak semen tidak
diperkenankan pemakaiannya sebagai bahan campuran.
 Penyimpanan harus sedemikian rupa sehingga terhindar dari tempat lembab agar
semen tidak cepat mengaras. Tempat penyimpanan semen harus ditinggikan 30 cm
11
dan tumpukan paling tinggi 2 m. Setiap semen baru yang masuk harus dipisahkan dari
semen yang telah ada agar pemakaian semen dapat dilakukan menurut urutan
pengiriman.

b. Pasir Beton
Pasir beton harus berupa butir-butir tajam dan keras, bebas dari bahan-bahan organis,
lumpur dan sejenisnya serta memenuhi komposisi butir serta kekerasan sesuai dengan
syarat-syarat yang tercantum dalam PBI-1971.

c. Kerikil
Kerikil yang digunakan harus bersih dan bermutu baik serta mempunyai gradasi dan
kekerasan sesuai yang disyaratkan dalam PBI-1971. Penimbunan pasir dengan kerikil
harus dipisahkan agar kedua jenis material tersebut tidak tercampur untuk menjamin
adukan beton dengan komposisi material tepat.

d. Air
Air yang digunakan harus air tawar, tidak mengandung minyak, asam alkali, garam, bahan-
bahan organis atau bahan-bahan lain yang dapat merusak beton atau baja tulangan. Dalam
hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum.

e. Besi beton
Besi beton yang digunakan adalah baja lunak dengan mutu U-24 ( Tegangan leleh
karaktaristik minimum 24 Kg/cm2 ) untuk ukuran < Ø 14 mm dan baja sedang dengan mutu
U-32 (Tegangan leleh karakteristik minimum 32 Kg/cm2 ) untuk ukuran ≥ Ø 14 mm. Daya
lekat baja tulangan harus dijaga dari kotoran, minyak, karat blepas dan bahan lainnya. Besi
beton harus disimpan dengan tidak menyentuh tanah dan tidak boleh disimpan diudara
terbuka dalam jangka waktu panjang. Membengkok dan meluruskan tulangan harus
dilakukan dalam keadaan batang dingin. Tulangan harus dipotong dan dibengkokan sesuai
gambar dan harus diminta persetujuan Direksi terlebih dahulu. Jika pemborong tidak
berhasil memperoleh diameter besi sesuai dengan yang ditetapkan dalam gambar, maka
dapat dilakukan penukaran dengan diameter terdekat dengan catatan :

f. Harus ada persetujuan Direksi


Jumlah besi persatuan panjang atau jumlah besi ditempat tersebut tidak boleh kurang dari
yang tertera dalam gambar (dalam hal ini dimaksud adalah jumlah luas). Biaya tambahan
yang diakibatkan penukaran diameter besi menjadi tanggung jawab pemborong.

9. Cetakan dan Acuan


Bahan yang digunakan untuk cetakan dan acuan harus bermutu baik sehingga hasil akhir
konstruksi mempunyai bentuk, ukuran bats-bats yang sesuai dengan yang ditunjuk oleh
gambar rencana dan uraian pekerjaan. Pembuatan cetakan dan acuan harus memenuhi
ketntuan-ketntuan dalam pasal 5.1 PBI-1971

12
10. Mutu Beton
Mutu beton yang digunakan adalah perbandingan 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr

11. Adukan Beton


Pengangkutan adukan beton dari tempat pengadukan ketempat pengecoran harus dilakukan
dengan cara yang disetujui oleh Direksi, yaitu :
a. Tidak berakibat pemisahan dan kehilangan bahan-bahan
b. Tidak terjadi perbedaan waktu pengikatan yang menyolok antara beton yang sudah dicor
dan yang akan dicor, dan nilai slump untuk berbagai pekerjaan beton harus memenuhi
table 4.4.1 PBI 1971.

12. Pengecoran
Pengecoran beton hanya dapat dilaksanakan atas persetujuan tertulis Direksi. Selama
pengecoran berlangsung pekerja dilarang berdiri dan berjalan-jalandiatas penulangan. Untuk
dapat sampai ketempat-tempat yang sulit dicapai harus digunakan papan-papan berkaki yang
tidak membebani tulangan. Kaki-kaki tersebut harus sudah dapat dicabut pada saat beton di
cor.

Apabila pengecoran harus dihentikan, maka tempat penghentiannya harus disetujui oleh
Direksi. Untuk melanutkan pekerjaan yan gdiputus tersebut, bagian permukaan yang mengeras
harus dibersihkan dan dibuat kasar kemudian diberi additive yang memperlambat proses
pengerasan. Kecuali pada pengecoran kolom, adukan tidak boleh dicurahkan dari ketinggian
yang lebih tinggi dari1,5 mm

13. Hal-hal lain (Miscellaneus Items)


a. Isi lubang-lubang dan bukaan-bukaan yang tertinggal dibeton bekas jalan kerja sewaktu
pembetonan. Jika dianggap perlu dibuat bantalan beton untuk pondasi alat-alat mekanik
dan electronik yang ukuran, rencana dan tempatnya berdasarkan Gambar Kerja
mekanikal dan elektrikal. Digunakan mutu beton seperti yang ditentukan dan dengan
penghalusan pemukaannya.
b. Pegangan plafond dari besi beton diameter 6 mm dengan jarak x dan y : 150 cm.
Dipasang sebelum pengecoran beton dan penggantungan harus dikaitkan pada tulangan
pelat atau balok.

13
Pasal 8
PASANGAN BATU KOSONG

1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini terdiri dari pekerjaan susunan batu kosong (baik tampa siar) mulai dari
menyiapkan bahan pemasangan menurut spesifikasi pekerjaan lainnya yang ada hubungannya
dengan pekerjaan ini, dimana bentuk, ukuran dan tempat menurut gambar rencana atau
petunjuk Direksi
2. Bahan
Bahan untuk susunan batu ini dapat dipakai batu yang ada disekitarnya atau sumber material
dimana bentuknya mendekati bulat.
Batu harus segar (bersih), keras awet dan padat serta tahan terhadap pengaruh cuaca dan air.
Material untuk pelindung sloof, bahu jalan akhir dan timbunan dan sebagainya, dibutuhkan batu
dengan beratnya berkisar dari minimum 10 Kg sampai maksimum 70 Kg dan tidak kurang dari
50% batu itu beratnya lebiha dari 30 Kg.
Batu untuk dasar dan pelindung pondasi batu kali/gunung berkisar minimum 20 Kg sampai
maksimum 100 Kg dan tidak kurang 60% batu tersebut mempunyai berat lebih dari 40 Kg.
Potongan-potongan keras yang terdiri dari patahan beton dan bongkaran jembatan, kepala
gorong-gorong dan konstruksi lainnya dapat dipakai sebagai bahan pengganti asal disetujui
oleh Direksi.

3. Pelaksanaan
a). Galian
Dasar untuk susunan batu digali sedalam yang dibutuhkan dan menurut bentuk yang
diminta
b). Penempatan
Susunan batu yang ditempatkan dibawah permukaan air harus didistribusikan sedemikian
rupa sehingga tebal minimum dan susunan bahan tersebut tidak kurang dari tebal yang
diminta atau yang disyaratkan.
Batu yang ditempatkan diatas permukaan air disusun dengan tangan disusun dengan
saling menutup dan hubungannya dibuat sedemikian rupa sehingga cukup kompak dan
saling memegang. Batu-batu pada bagian akhir disusun tegak lurus dengan pada sloof
dengan pengakhiran yang baik. Pasangan batu kosong harus dipadatkan denga baik
sebagaimana disyaratkan dan permukaan akhir yang rapi dan kuat.
Tebal pasangan batu kosong minimum 10 cm. diukur secara tegak lurus pada sloof.

14
Pasal 9
PASANGAN PONDASI
1. Uraian
Pekerjaan yang termasuk pekerjaan pasangan batu kali yaitu pondasi Konstruksi ringan,
dinding penahan tanah dan pada tempat –tempat yang ditentukan pada gambar rencana atau
atas perintah yang tertulis dari Direksi. Pemasangan batu kali/gunung harus mengikuti
spesifikasi ini dan spesifikasi lainnya yang melibatkan pekerjaan ini dan harus sesuai dengan
bentuk, ketinggian dan bentuk yang ditentukan dalam gambar rencana atau persetujuan
Direksi/Pengawas.

2. Material
a). Batu
Batu harus keras, bersih dan semacam batu yang tahan lama dan disetujui oleh Direksi
atau batu yang rapuh atau batu endapan tidak diperkanankan dipergunakan.
Jika tidak dientukan ukurannya didalam gambar rencana, batu harus mempunyai ketebalan
tidak kurang dari 15 cm, lebar tidak kurang dari 1½ kali tebalnya dan pajangnya tidak
kurang dari 1½ kali lebarnya. Setiap batu harus baik bentuknya dan bebas dari penyusutan
dan berkurangnya kekuatan batu.
b). Adukan semen
Adukan semen yang digunakan yaitu 1 PC : 4 Ps

3. Pelaksanaan
a). Pemilihan dan penempatan
Jika baatu kali dipasang baik untuk pondasi, dinding penahan tanah dan lain sebagainya
harus mendapat persetujuan dari Direksi/Pengawas sebelum pasangan batu dipasang .
Semua batu harus bersih sama sekali dan dibasahi segera seblum disusun dan dasarnya
harus bersih dan juga dibasahi sebelum adaukan semen diletakkan.
Batu diletakkan dengan bagian lebar menyentuh dasar dan lapisan adukan, dan ruang
diantaranya diisi dengan adukan bagian yang diletakkan dari batu harus disusun paralel
dengan muka dinding dimana batu disusun.

b). Dasar dan hubungannya


Permukaan dasar dari batu dilapisi dengan adukan semen setebal 2 samapai 5 cm. Siar
datar pada batu dasar dari tidak boleh lebih dari 5 ( lima ) batu terus menerus. Sedangkan
antara satu sama lainnya tidak boleh bersinggungan tetapi harus dilapisi dengan adukan
sebebal 2 cm sampai 5 cm sedangkan siar tidak boleh dari 2 ( dua ) batu.
Batu dapat membuat sudut dengan garis vertikal dari 0º samapi 45º tidak boleh ada
pertemuan dengan 4 (empat) sudut batu sekaligus.
15
c). Penyelesaian
Siar kedua sisi tegak diharuskan menurut gambar rencana atau pentunjuk Direksi.
Penyelesaian sebelah atas dibuat agak bulat pada tengahnya untuk menghindari adanya
genangan air.

d). Lubang Rembesan


Seluruh dinding dan abutmen harus dilengkapi dengan lobang rembesan lebih kurang
menurut pentunjuk Direksi. Lobang rembesan ditempatkan disebalah bawah, dimana
pengaliran keluarnya dapat bebas dan lancar. Jaraknya tidak lebih 2 cm dari as ke as
lobang.
e). Batu kali Sebelah Luar.
Untuk permukaan yang batu kalinya diletakkan, maka setelah selesai disusun dan adukan
masih baru atau basah, selurh permukaan batu dibasahi dan sisa-sisa adukan dibersihkan
sampai bersih.

Pasal 10
PEKERJAAN DINDING BATA.

1. Lingkup Pekerjaan
Pemasangan dinding bata merah setebal ½ bata dan sekat dinding (partisi) dilakukan untuk
seluruh pembatas ruangan, dan dinding penahan tanah emperan keliling bangunan, seperti
tertera dalam gambar dan dijelaskan dalam gambar detail

2. Dinding Bata
a. Persyaratan Bahan
Bata, bentuk standar batu bata adalah prisma empat persegi panjang, bersudut siku dan
tajam, permukaannya rata dan tidak menampakkan adanya retak-retak yang merugikan.
Bata merah dibuat dari tanah liat dengan atau campuran bahan lainnya, yang dibakar pada
suhu cukup tinggi hingga tidak hancur bila direndam air ± 5 mm. Pembongkaran batu bata
dari kendaraan pada saat pemasukan barang harus dilakukan dengan tangan dan
ditumpuk dengan rapi ditempat yang telah ditentukan oleh Konsultant Pengawas.

b. Pasir, harus terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras, butir-butir harus bersifat kekal,
artinnya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca, seperti terik matahari dan hujan.
Kadar lumpur tidak boleh melebihi 5 % berat.

c. Semen dan air, untuk persyaratn kedua bahan etrsebut, mengikuti persyaratn yang telah
digariskan pada pasal beton bertulang.
16
3. Persyaratan Adukan
Adukan pasangan harus dibuat secara berhati-hati, diaduk didalam bak kayu yang
memenuhi syarat, mencampur semen dengan pasir harus dalam keadaan kering yang
kemudian diberi air sampai didapat campuran yang plastis. Adukan yang telah mengering
akibat tidak habis digunakan sebelumnya, tidak boleh dicampur lagi dengan adukan yang
baru.

4. Pedoman Pelaksanaan
a. Pekerjaan dinding mempunyai dua macam pasangan, yaitu :
O Pasangan kedap air (1 Pc : 2 Ps), semua pasangan bata dimulai diatas sloof sampai
setimggi 35 cm samapai setinggi 65 cm ( sesuai gambar), diatas lantai dan sampai
setinggi 150 cm dari permukaan lantai setempat untuk sekeliling dinding ruang-ruang
basah (toilet,kamar mandi dan WC).
O Pasangan dinding penahan tanah emperan keliling bangunan.
O Pasangan adukan 1 Pc : 4 Ps berada diatas pasangan kedap air tersebut.

b. Pengukuran (Uit-zet)harus dilakukan oleh kontraktor secara teliti dan sesuai gambar,
dengan syarat :
Semua pasangan dinding harus rata (horizontal) dan pengukuran harus dilakukan dengan
benang. Pengukuran pasangan benang antara satu kali menaikkan benang tidak boleh
melebihi 30 cm, dari pasangan bata yang telah selesai.

c. Lapisan bata yang satu dengan lapisan bata yang diatasnya harus berbeda setengah
panjang bata. Bata setengah tidak dibenarkan digunakan ditengan pasangan bata, kecuali
pasangan bata sudut.

d. Pengakhiran sambungan pada satu hari kerja harus dibuat bertangga menurun dan tidak
tegak bergigi untuk menghindari retak dikemudian hari. Pada tempat tertentu sesuai
gambar diberi kolom-kolom praktis yang ukurannya disesuaikan dengan tebal dinding.

e. Lubang untuk alat-alat listrik dan pipa yang ditanam didalam dinding, harus dibuat pahatan
secukupnya pada pasangan bata (sebelum diplaster). Pahatan tersebut setelah dipasang
pipa/plat, harus ditutp dengan adukan plesteran yang dilaksanakan secara sempurna.
Dikerjakan bersama-sama dengan plesteran seluruh bidang tembok.

Dalam mendirikan dinding yang kena udara terbuka, selama waktu hujan lebat harus diberi
perlindungan dengan penutup bagian atas dari tembok dengan suatu penutup yang sesuai
(plastik). Dinding yan gtelah terpasang harus diberi perawatan dengan cara menbasahinya
secara teurs menerus paling sedikit 7 hari setelah pemasangannya.

17
Pasal 11
PEKERJAAN PLESTERAN
1. Lingkup Pekerjaan, pekerjaan pelesteran dilakukan pada pasangan bata untuk bak air.
2. Persyaratn Bahan-bahan pasir, semen dan air mengikuti persyaratn yangtelah digariskan
dalam pasal beton bertulang.
3. Pedoman Pelaksanaan
a. Sebelum plesteran dilakukan, maka :
 Dinding dibersihkan dari semua kotoran
 Dinding dibasahi dengan air
 Semua siar permukaan dinding batu bata dikorek dalam 0,5 cm
 Permukaan beton yang akan diplester dibuat kasar agar bahan plesteran dapat merekat
dengan baik.
b. Adukan plesteran pasangan bata kedap air dipakai 1 Pc : 2 Ps
c. Ketebalan plesteran pada semua bidang permukaan harus sama tebalnya dan tidak
diperbolehkan plesteran yang terlalu tipis dan terlalu tebal.
d. Ketebalan yang diperbolehkan berkisar antara 1.00 cm sampai 1,50 cm. Untuk mencapai
tebal plesteran yang rata sebaiknya diadakan pemeriksaan secara silang dengan
menggunakan mistar kayu panjang yang digerakkan secara horizontal dan vertikal.
Bilamana terdapat bidang plesteran yang berombak harus diusahakan memperbaikinya
secara keseluruhan. Bidang-bidang yang harus diperbaiki hendaknya dibongkar secara
teratur (dibuat bongkaran berbentuk segi empat) dan plesteran yang baru harus rata
dengan sekitarnya.
e. Semua bidang plesteran harus dipelihara kelembabannya selama seminggu sejak
permulaan plesterannya.

Pasal 12
PEKERJAAN ATAP

1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan atap terdiri pekerjaan rangka atap baja ringan untuk semua rangka atap dan
penutup atap genteng metal untuk semua penutup atap.
Pekerjaan atap ini meliputi penyediaan dan pendayagunaan semua tenaga kerja, bahan-
bahan, peralatan dan perlengkapan dan hal lainnya sehingga pekerjaan ini didapat hasil yang
baik.

2. Pekerjaan Rangka Atap Baja Ringan


a. Persyaratan Bahan
Rangka atap baja ringan yang digunakan adalah terbuat dari bahan zincalume dengan
komposisi 55% aliminium, 43.5% seng, dan 1,5% silikon alloy dengan ketebalan 0.7 mm

b. Pelaksanaan
Pelaksanaan rangka atap baja ringan dilakukan oleh tenaga ahli atau disetujui oleh
Direksi/Konsultan Pengawas.

3. Pekerjaan Penutup Atap


a. Bahan yang digunakan
18
Untuk Atap digunakan Atap Bituman setara Onduline tebal 0.30 mm Ukuran 200 x 95 cm
dan bubungan memakai jenis yang sama engan ketebalan 0.35 mm ukuran 7 mm dengan
atap yang digunakan, kesemua mutunya harus standar ( SII ).
b. Pedoman Pelaksanaan
 Pemasangan atap dipakukan langsung pada gording dengan menggunakan paku ulir
untuk atap.
 Tiap sambungan diberi tidisan sesuai dengan spesifikasi pabrik.
 Alur seng harus dipasang merata ( tidak bolak balik ), sehingga hasil akhir pasangan
akan rapi.
 Bubungan ditutup dengan seng bubungan. Tindisan antara satu lembaran bubungan
dengan lembaran bubungan lainnya harus sesuai dengan persyaratan pabrik minimal
10 cm.
 Pemasangan harus rapi dan memenuhi syarat – syarat sehingga tidak mengakibatkan
kebocoran
Apabila terjadi kebocoran setelah pemasangannya, maka bagian yang bocor tersebut
harus dibongkar dan dipasang yang baru.

Pasal 13
PEKERJAAN PLAFOND

1. Lingkup Pekerjaan
Meliputi penyediaan bahan langit-langit, peralatan dan konstruksi penggantungnya, penyiapan
tempat serta pemasangan plafondnya, sesuai RKS dan gambar.
2. Persyaratan Bahan
a. Untuk luar dan dalam rungan menggunakan bahan Gypsumboard tebal 3,5 mm, berat 19
Kg, ukuran 2400 mm x 1200 mm yang merupakan panel kalsium silikat dengan
menggunakan serat sellulosa sebaga penguat. Bahan plafond ini harus 100% non
asbestos.
b. Pengeringan board melalui proses autoclaving yang menjadikan panel sangat stabil, hampir
tidak mengalami muai susut lembab maupun panas
c. Rangka Plafond menggunakan rangka furing.
d. Untuk pemasangan rangka plafond furing menggunakan jenis self embebed head dan self
tapping dengan diberi anti karat jenis electro-plating.
e. Joint Tape untuk Board terbuat dari serat fiber glass yang kuat dan memiliki perekat
sehingga mempermudah pekerjaan.
f. Komponen untuk bahan plafond digunakan untuk pada sistem sambungan tertutup (flush
joint system), untuk perekat profil gypsum pada board, untuk penutup kepala sekrup atau
paku.
3. Persyaratan Pelaksanaan
a. Persiapan dan Pemasangan

19
Tempat penggantung rangka plafond (biasanya terdiri dari plat beton, balok, atau struktur
lainnya) harus dapat mendukung beban minimum 38 kg/m2. Urutan pemasangan pada
umumnya adalah :
 Buat garis (marking lin) ketinggian plafond pada sekeliling dinding
 Gantung furing-channel sebagai main runner pada setiap jarak interval 1200 mm.
Dengan penggantung (yang berupa C joint, rod hanger, nut dan L-bracket) dengan titik
gantung yang berjarak interval 1200 mm pada setiap batang main - runner.
 Atur ketinggian main-runner pada level yang dikenhendaki dengan patokan garis
marking dan membentuk bidang datar yang sempurna.
 Kemudian pasang furing-channel sebagai cross-runner dibawah main-runner dengan
menggunakan joiner pada jarak interval 481 mm untuk tebal 4,5 mm
 Pasang sekrup board pada setiap jarak maksimum 200 mm sepanjang cross-runner,
dengan ketentuan minimum 12 mm dari tepi panel dan minimum 50 mm dari sudut
panel. Mulailah menyekrup/mamaku dari tengah panel lalu kemudian berurut ketepi
 Terakhir lakukan proses penutup sambungan (flush-joint) dengan prosedur seperti
dijelaskan berikut.

b. Penutup Sambungan
Pastiakan terdapat nat berjarak 4 mm pada setiap pertemuan panel board.
 Tempelkan Self Adhesive Joint Tape Board diatas nat sedemikian rupa setelah
sebelumnya nat dibersihakan dari debu dengan kuas bersih.

 Dengan kapi-1 aplikasikan Kompon board sebagai kompon pengisi nat sekaligus
menutup Joint Tape setipis mungkin Namun pastikan menembus Joint Tape dan
mengisi nat di belakangnya. Sekaligus pula tutup kepala sekrup dengan Kompon
Board sebagai tahap 1.

 Setelah kompon pengisi mengering dengan kapi 2 aplikasikan Kompon board sebagai
kompon penutup (kompon tahap 2) selebar 35 cm diatas kompon board sebagai tahap
1 setipis dan serapi mungkin. Sekaligus pula tutup kapa sekrup dengan kompon board
sebagai tahap 2.

 Setelah kompon penutup kering, amplas seluruh permukaan yang berkompon dengan
amplas ukuran sedang dang menggunakan alat bantu.

 Agar pekerjaan penutup sambungan mendapatkan hasil yang maksimal gunakan alat
bantu yang sesuai untuk pekerjaan ini.

c. Sambungan Muai
Sambungan muai diperlukan untuk plafond concealed yang sangat luas. Adapaun batasan
luas maksimum dimana lebih dari ukuran terseut diperlukan adanya sambungan muai
adalah (4 Panjang) x ( 6 Lebar ) dari panel utuh baoard, termasuk nat 4 mm sehingga
menjadi 9,916 mm x 7,224 mm.

d. Pemotongan

20
Cara pemotongan board adalah gurat dengan penggurat bermata tungsen carbide atau
cutter kemudian patahkan lalu haluskan bekas potongandengan amplas.
Untuk mendapatkan hasil potongan yang rapi gunakan gergaji mesin putaran rendah
dengan mata pemotong jenis circular diamond tip blade.

e. Finishing Awal Permukaan


Finishing awal permukaan dalam hal ini adalah penyelesaian permukaan board untuk siap
ditutup oleh penutup (finishing) akhir yang arsitektural ( seperti cat polos, cat motif, cat
texture dan lain-lain)
Untuk itu tingkat finishing awal dibagi dalam 2 macam :
1). Tingkatan A
Pada area dimana :
a). Akan difinishing dengan cat yang tidak mengkilat, cat bermotif/dekoratif, cat yang
agak tebal dan/atau bertextur.
b). Tidak ada cahaya yang jatuh miring dengan sudut tajam pada permukaan.
Cahaya yang jatuh hayan frontal baik langsung maupun pantulan.

Tahapan Finishing
i). Lakukan tahap penutup sambungan (flush joint)
ii). Pastikan tidak ada goresan atau tonjolan.

2). Tingkatan B
Pada area dimana :
a). Akan difinish dengan cat semi mengkilap yang halus dan tipis serta tidak
bertekstur.
b). Adanya cahaya yang jatuh miring dengan sudut tajam yang menimpa
dipermukaan.
Tingkatan Finishing
i). Lakukan tahap penutup sambungan (flush joint)
ii). Aplikasikan selapis tpis skim coat dengan menggunakan finishing compound
(topping compound) pada seluruh permukaan.
iii). Pastikan tidak ada goresan atau tonjolan.
f. Finishing Akhir
Dalam melaksanakan finishing akhir haruslah mengikuti tata cara dari pabrik pembuatnya.
Yang perlu dicatat disini bahwa bahan finishing tersebut haruslah cocok diaplikasikan untuk
bahan plafond ini. Untuk pengecatan dianjurkan memakai Cat Acrylic, apabila menggukan cat
non acrylic harus dilakukan pengecatan pada kedua sisi lembaran board.

21
Pasal 14
PEKERJAAN PELAPIS LANTAI DAN DINDING

1. Pekerjaan pelapis lantai


Lingkup pekerjaan
Pemasangan lantai di buat untuk semua lantai Bangunan Utama,selasar depan dan
sekeliling bangunan , car port Lantai Kamar Mandi.
Pekerjaan ini terdiri dari :
 Lantai beton bertulang dan lantai beton cor di dalam bangunan.
 Lantai beton cor di luar bangunan
Bahan
Beton tumbuk campuran 1 : 3 : 6 setebal 7 cm untuk lantai bawah.
Permukaan lantai di lapisi oleh bahan keramik ukuran 40 x 40 cm untuk lantai
ruangan biasa dan 25 x 25 cm dengan permukaan kasar ( tidak licin ) untuk keramik
KM / WC serta 25 x 25 cm untuk dinding keramik KM/WC.
Sebagai pengikat lapisan keramik di gunakan spesi campuran 1 PC : 3 PS.
Data tekhnik bahan
 Ukuran : 40 x 40 cm
Produk : ex. Impresso atau setara.
Posisi : Lantai bagunan
Warna : White Linen 32

 Ukuran : 25 x 40 cm
Produk : ex. Impresso atau setara .
Posisi : Dinding dalam bangunan

Dasar Lantai
Di lapisi pasir pasangan setebal 5 cm .
Pemeriksaan
Sebelum lantai di pasang, Kontraktor harus memeriksa semua pasangan pipa – pipa,
saluran – saluran dan lain sebagainya yang harus sudah terpasang dengan baik
sebelum pemasangan lantai di mulai.

Adukan
Untuk lantai beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 6 Kr. Dan untuk lantai Wire mesh di pakai
campuran 1 Pc : 1.5 Ps : 2.5 Kr .

Pemasangan
Adukan perekat untuk Pc harus betul – betul padat atau penuh agar tidak terdapat
rongga – rangga di bawah keramik yang dapat melemahkan kontruksi. Sambungan
antara keramik harus sam lebarnya, lurus dan di isi dengan air semen yang
warnanya sesuai dengan warna keramik. Hasil pemasangan akhir harus rata tidak
bergelombang dan waterpass.
Lantai beton tumbuk di pasang dengan ketebalan 7 cm dan di plaster setebal 1 cm.
adukan perekat lantai di pakai 1 Pc : 3 Ps 6 Kr dengan plasteran 1 Pc : 3 Ps.

22
Pekerjaan yang telah selesai tidak boleh ada retak , noda dan cacat – cacat lainnya.
Apabila terjadi cacat pada lantai, maka bagian cacat tersebut harus di bongkar
sampai berbentuk bujur sangkar dan pasangan baru harus rata dengan sekitarnya.
Untuk ruang flumbing, pertama – pertama di buat lantai kerja dengan hamparan pasir
urug setebal 5 cm . setelah pasir urug di ratakan, diletakan wiremesh di atas lantai
kerja. Setelah wiremes di letakan lalu lantai di cor dengan spesi 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr
setebal 10 cm.

2. Pekerjaan Pelapis Dinding


Lingkup pekerjaan
Pemasangan pelapis dinding keramik di lakukan pada semua dinding kamar mandi .
Bahan yang di gunakan harus sudah dapat persetujuan dari direksi lapangan setelah di seleksi
mengenai kualitas bahan, warna, tekstur, dan bahan tidak boleh retak maupun retak .
Bahan
Bahan yang di gunakan yaitu keramik ukuran 20 x 25 cm dan sebagai pengikat
spessi dengan campuran 1 Pc : 3 Ps .
Data tekhnik bahan :
 Ukuran : 20 x 25 cm
Produk : ex. Impresso atau setara
Posisi : Dinding kamar mandi
Warna : P 06
Pelaksanaan
a. Persiapan
 Sebelum memulai pekerjaan, Kontraktor di wajibkan membuat shop drawing
mengenai pola keramik.
 Bahan keramik sebelum di pasang harus di rendam dalam air bersih ( tidak
mengandung asam alkali ) sampai jenuh .
 Keramik yang akan di pasang harus dalam keadaan baik, tidak retak, cacat
ataupun bernoda.
 Pemotongan unit – unit keramik harus menggunakan alat pemotong kermik
khusus sesuai persyarata pabrik

b. Pemasangan dinding keramik


 Adukan pasangan /pengikat dengan produk dari AM yaitu AM 40 untuk area
dalam di tambah bahan perekatr seperti yang di persyaratkan.
 Hasil pemasangan dinding keramik harus merupakan budang ppermukaan
yang benar – benar rata dan tidak bergelombang.
 Pemasangan keramik untuk dinding ini harus memperhatikan perletakan
features sanitar yang ada seperti di perlihatkan dalam gambar.
 Pola, arah dan pemasangan dinding keramik harus sesuai gambar detail atau
sesui petunjuk pengawas .
 Jarak antara unit – unit pemasangan keramik satu sama lain ( siar – siar ) ,
harus sama lebarnya , sama dalamnya untuk siar – siar yang berpotongan
harus berbentuk sudut siku yang saling berpotongan tegak lurus sesamanya .
 Siar – siar di isi dengan bahan pengisi dengan warna keramik.
 Keramik yang sudah terpasang harus di bersihkan dari segala macam noda
pada permukaan keramik hingga betul – betul bersih .
 Dinding dengan pengakhiran keramik , minimum 3 mm dan maximum 6 mm.

23
c. Perlindungan dan pemeliharaan
Keramik yang terpasang harus di hindarkan dari sentuhan atau beban lain selama 1
x 24 jam dan di lindungi dari kemungkinan cacat akibat dari pekerjaan lain .

Pasal 15
PEKERJAAN KUSEN, DAUN PINTU DAN JENDELA

1. Lingkup Pekerjaan
Lingkup pekerjaan kayu meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan, alat-alat bantu yang
diperlukan konstruksi selesai dilaksanakan.
Bagian pekerjaan adalah :
a. Pekerjaan kozen pintu/jendela
b. Daun pintu/jendela dan ventilasi

2. Persyaratan Bahan :
o Untuk kozen pintu dan jendela digunakan kayu kelas I
o Untuk semua daun pintu dan daun jendela digunakan kayu-kayu kelas II
o Ukuran kayu yang tertera dalam gambar merupakan ukuran terpasang
o Kayu harus betul-betul kering, tidak keropos, lurus, tidak cacat/bermata.

3. Pedoman Pelaksanaan
a. Kozen pintu dan jendela
 Konstruksi sambungan kayu harus rapi, tidak longgar, ikatan perkuatan harus
menggurkan pen kayu keras sebelumnya bidang sambungan ini harus dilumuri dengan
lem kayu, agar sambungannya dapat melekat dengan baik.

 Setiap kozen pintu harus dilengkapi dengan angket minimal 3 buah untuk kiri kanan
kozen yang melekat ketembok. Untuk kozen jendela 2 buah dikiri kanan kozen yang
melekat ketembok. Khusus untuk kozen pintu dibawah kozen dilengkapi dengan dork
yang diangker kedalam neut beton
 Semua bidang kozen yang bersinggungan dengan dinding/beton dibuat alur-alur kapur,
kemudian dibidang tersebut diawetkan dengan cat cat meni 2 (dua) kali. Daun pintu
dibuat dengan kayu meuranti sesuai dengan detail
c. Daun pintu/jendela dan ventilasi
 Daun pintu dibuat dengan kayu kelas 1 dan disyaratkan agar kontraktor memesan
langsung pada tempat khusus pembuat pintu atau pada look. Tidak dibenarkan
kontraktor membuat sendiri dilapangan pekerjaan.
 Jendela dibuat model bingkai, dengan petak-petak tempat kaca disesuaikan dengan
gambar detail. Kaca untuk jendela dipasang kaca reyben tebal 5 mm dan kaca bening
tebal 5 mm. pasangan harus memperhatikan muai susut baik dari kozen, maupun
bahan kaca tersebut.
 Ventilasi dibuat model bingkai, hampir sama dengan daun jendel hanya ukurannya
lebiih kecil, pemasangan harus rapi dan lurus. Apabila dijumpai pemasangan yang
tidak lurus maka bagian tersebut harus dibongkar dan diperbaiki kembali atas beban
kontraktor

24
Pasal 16
PEKERJAAN KACA

1. Lingkup Pekerjaan
Menyediakan tenaga kerja, bahan – bahan peralatan dan alat bantu lainnya untuk
melaksanakan pekerjaan seperti di nyatakan dalam gambar dengan hasil yang baik dan rapi.
Pekerjaan ini meliputi :
Pemasangan seluruh kaca – kaca bagian dinding, pintu, jendela dan lain – lain.
Pengadaan atau pemasangan kaca cermin pada toilet dan lain – lain, lengkap dengan sekrup
dan bingkai.

2. Persyaratan Bahan
System kaca yang di gunakan proyek ini adalah system “ Putih dan Reiben ” ketebalan 5 s/d
10mm.
Jenis kaca yang di gunakan untuk ruang kerja adalah kaca bening product ex Asahimas atau
yang setara denganya, sedangkan untuk kamar mandi menggunakan kaca buram yebal 5 mm .
Bahan – bahan kaca yang di gunakan pada daun jendela yang akan di gunakan kaca bening
dengan ketebalan 5 mm, kontraktor terlebih dahulu harus mengajukan contoh – contoh kaca
yang akan di gunakan untuk mendapat persetujuan pemberi kerja.

3. Persyaratan Pekerjaan
Semua pekerjaan di laksanakan dengan mengikuti petunjuk gambar, uraian dan syarat
pekerjaan petunjuk Pemberi tugas .
Pekerjaan ini memerlukan keahlian dan ketelitian.
Semua bahan yang telah terpasang harus di lindungi dari kerusakan dan benturan, dan diberi
tanda untuk mudah di ketahui.
Pemotongan kaca harus rapi dan lurus, di haruskan menggunakan alat – alat pemotong kaca
khusus.
Bahan kaca yang di gunakan adalah produksi dalam asahimas atau yang setara dengannya .

4. Shop Drawing dan Contoh


Kontraktor wajib membuat shop drawing ( gambar detail pelaksanaan ) berdasarkan pada
gambar dokumen kontrak dan telah di sesuaikan dengan keadaan lapangan .
Kontraktor wajib membuat shop drawing untuk detail detail khusus yang belum tercakup
lengkap dalm gambar kerja / dokumen kontrak .
Dalam shop drawing harus jelas di cantumkan semua data yang di perlukan termasuk
keterangan produk, cara pemasangan dan persyaratan khusus yang belum tercakup secara
lengkap di dalam gambar kerja atau dokumen kontrak sesuai dengan spesifikasi pabrik .
Gambar shop drawing sebelum di laksanakan harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari
Pemberi tugas.
Kontraktor wajib mengajukan contoh dari semua bahan .

25
Pasal 17
PEKERJAAN PENGUNCI DAN PENGGANTUNG

1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan pengunci dan penggantung dipasang pada semua daun dan jendela, selanjutnya
pada jendela dipasang grendel dan hak angin

2. Persyaratan bahan
a. Engsel-engsel biasa ukuran 4” dan 3” atau setaraf. Kunci pintu dipasang kunci
tanam 2 slag grendel dan hak angin berkualitas baik.

3. Pedoman pelaksanaan
a. Setiap daun pintu dipasang kunci tanam 2 (dua) slag, yang kualitasnya
ditentukan seperti diatas baik
b. Engsel pintu dipasang 2 (dua) buah setiap lembaran daun pintu. Engsel jendela
dipasang 2 (dua) buah pada setiap daun jendela. Pemasangan dilakukan dengan mur
khusus, tidak dibenarkan melengketkan engsel kepintu/jendela dan kekozen dengan
menggunakan paku. Penguncian mur harus dilakukan dengan memutarnya dengan obeng,
sehingga seluruh batang masuk menempel kuat kekayu yang dipasang.
c. Untuk alat-alat tersebut diatas sebelum dipasang, kontraktor wajib memperlihatkan contoh
terlebih dahulu untuk dimintakan persetujuan Direksi atau pemberi tugas.
d. Apabila pada waktu pemasangan alat-alat tersebut tidak sesuai dengan disyaratkan, maka
Direksi berhak untuk menyuruh bongkar kembali dan diganti dengan alat-alat yang
disyaratkan atas biaya kontraktor.
e. Grendel dan hak angin dipasang 2 (dua) buah untuk setiap jendela.
f. Pasangan harus rapi dan dapat bekerja dengan baik. Untuk melengketkan alat tersebut ke
daun jendela harus menggunakan mur seperti tersebut pada ayat pasal ini.

Pasal 19
PEKERJAAN INTALASI AIR

1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan intalasi air kotor meliputi pemasangan seluruh jaringan intalasi bungan air kotor
penyambungan yang bersumber dan bangunan yang telah ada, penyediaan bahan-bahan
kelengkapan pipa-pipa PVC dan sebagainya sehingga intalasi berfungsi dengan baik.

2. Pedoman Pelaksanaan
a. Pipa diameter 2” dan 3” untuk intalasi air kotor (buangan )
b. Sebagai alat sambuangan digunakan sock drat, Elbow dan T yang sesuai
dengan spesifikasi dan ukuran bahan yang direkatkan dengan menggunakan lem PVC

Pasal 20
PEKERJAAN PENGECATAN

1. Lingkup Pekerjaan
a. Cat kayu untuk bidang-bidang kozen kayu yang nampak, daun pintu panel dan
ventilasi kayu
26
b. Cat Tembok untuk dinding yang diplester, bidang-bidang beton dan plafond

2. Bahan-bahan yang digunakan harus berkualitas baik seperti :


a. Cat kayu sekualitas Cap Kuda Terbang
b. Cat Tembok vinelex atau setara

3. Pedoman Pelaksanaan
a. Pekerjaan meni harus betul-betul rata, berwarna sama, pengecetan minimal 2
(dua) kali
b. Pekerjaan cat kayu harus dilakukan lapis demi lapis dengan memperhatikan
waktu pengeringan jenis bahan yang digunakan. Urutan pekerjaan sebagai berikut :
 2 (dua) kali pekerjaan meni kayu
 1 (satu) kali lapis pengisi dengan plamur kayu
 Penghalusan dengan amplas
 Finising dengan cat kayu sampai rata-rata minimal 2 (dua) kali

c. Warna yang digunakan


Apabila tidak ditentukan lain oleh pemberi tugas maka digunakan warna sebagai berikut :
 Kozen pintu dan jendela digunakan warna putih dari cat kuda terbang atau yang
sekualitas

Pasal 21
PEKERJAAN FINISHING

1. Guna mendapatkan hasil pekerjaan yang baik bagi kesempatan pekerjaan, walaupun tidak
tersebut dalam bagian-bagian pekerjaan, maka kontraktor wajib melaksanakannya atau sesuai
dengan petunjuk Direksi
2. Apabila ternyata terdapat ketidak sesuaian antara Gambar dan RKS, maka diambil gambar
detail sebagai pedoman dan bila juga tidak sesuai atau kurang jelas, maka berlaku apa yang
tercantum dalam RKS atau meminta petunjuk Direksi
3. Sebelum pekerjaan diserahkan terimakan, kontraktor diwajibkan membersihkan bahan-bahan
bangunan kotoran-kotoran bekas yang ada dalam lokasi bangunan, sehingga pada saat serah
terima dilaksanakan, bangunan dalam keadaan bersih dan rapi.

27