Anda di halaman 1dari 10

METODE PEMERIKSAAN BENDUNGAN BESAR DI INDONESIA

ABSTRAK
Untuk memenuhi semua kepentingan prosedur perencanaan pembangunan dan tahap operasi
pemeliharaan bangunan bendungan besar di Indonesia dan diselenggarakannya UU No.11 Tahun
1974 tentang Pengairan maka amat penting untuk dipahami bahwa dalam pembangunan Pengelolaan
tahap operasi dan pemeliharaan amat penting untuk dipahami agar semua langkah-langkah yang
diperlukan dalam semua proses dan tahapan sesuai dengan aturan yang telah diundangkan agar
kedepan tidak lagi terjadi hal-hal yang merugikan segmen masyarakat umum untuk itu kita harus
memahami bahwa dalam tahap pemeriksaan Bendungan Besar di Indonesia dapat dipahami bahwa
ini adalah proses yang harus dilalui oleh Pengelola Bangunan Bendungan Besar di Indonesia.
Keterpaduan dalam perencanaan, pembangunan, kebersamaan dalam tahap operasi dan
pemeliharaan amat penting dipahami oleh seluruh masyarakat di Indonesia agar bendungan yang
mengalami penurunan fungsi dapat ditunjang agar dapat mengembalikan fungsinya sedia kala.

BAB I
PENDAHULUAN

 Gambaran Umum
Bendungan samping memiliki manfaat yang besar, juga menyimpan potensi bahaya yang besar pula.
Bendungan yang runtuh akan menimbulkan banjir bandang yang dahsyat sampai jauh ke daerah hilir
yang akan mengakibatkan timbulnya banyak korban jiwa, harta benda, fasilitas umum dan kerusakan
lingkungan yang sangat parah di daerah hilir.
Untuk mencegah terjadinya musibah tersebut, setiap bendungan harus selalu dipantau dan dipelihara
dengan baik. Dengan pemantauan yang baik, pengelola bendungan akan mengetahui sedini mungkin
problem yang sedang berkembang pada bendungannya, untuk kemudian melakukan langkah-langkah
yang tepat untuk mencegah berkembang buruknya problem tersebut.
Keberhasilan pemantauan bendungan perlu didukung dengan kegiatan inspeksi (pemeriksaan) rutin,
inspeksi berkala, dan inspeksi luar biasa dan khusus. Inspeksi berkala terdiri dari Inspeksi berkala
biasa yang dilakukan setiap 1/2 tahun dan Inspeksi besar yang harus dilakukan dilakukan sekurang-
kurangnya satu kali dalam kurun waktu 5 tahun.
Pemeriksaan besar, pada dasarnya adalah merupakan kegiatan Inspeksi bendungan secara
menyeluruh terhadap aspek teknis dan non teknis dalam rangka evaluasi keamanan suatu bendungan
(safe evolution of existing dam). Dari kegiatan ini diharapkan akan teridentifikasi masalah yang
sedang berkembang, kemudian diketahui kondisi keamanan/kekokohan struktur dan keamanan
operasional bendungan, kekurangan pada sistim keamanan bendungan serta tindak lanjut yang
diperlukan untuk mempertahankan atau meningkatkan keamanannya.
Dalam rangka memenuhi amanat SNI No. 1731-189-F tentang Tatacara Keamanan Bendungan, Balai
Besar Wilayah Sungai Pompengan-Jeneberang akan melakukan Pemeriksaan Besar Evaluasi
Keamanan Bendungan Ponre-Ponre, dan untuk menunjang kegiatan inspeksi besar ini juga akan
dilakukan pengukuran sedimentasi waduk.

 Maksud dan Tujuan Pekerjaan


1. Maksud
 Melakukan survei/pengukuran sedimentasi waduk
 Melakukan inspeksi besar dan evaluasi keamanan bendungan dan mendapatkan sertifikasi
persetujuan pengoperasian dari Kementerian Pekerjaan Umum.
 Pemutakhiran Panduan Operasi dan Pemeliharaan
 Melakukan proses sertifikasi operasi.

1. Tujuan
 Mengetahui penyebaran pengendapan sedimen di waduk, laju sedimentasi waduk, kapasitas
tampungan dan umur waduk yang tersisa, hubungan antara elevasi dan volume waduk.

1
 Mengetahui status/tingkat keamanan bendungan ditinjau dari aspek struktur, hidrolik, rembesan
serta operasionalnya; mengidentifikasi masalah yang ada; menetapkan rencana perbaikan dan
atau penyempurnaan yang diperlukan.
 Mendapatkan Panduan Operasi dan Pemeliharaan sesuai dengan kondisi akhir pada saat mobilisasi
 Mendapatkan sertifikat operasi bendungan.
1. Ruang Lingkup Pekerjaan
Garis besar lingkup pekerjaan jasa konsultasi ini, terdiri dari :
 Survei sedimentasi waduk
1. Mengumpulkan data yang diperlukan, antara lain: data topografi, data survei sedimentasi
sebelumnya (bila ada), dan lain-lainnya.
2. Melakukan pemeriksaan lapangan.
3. Membuat bagan alir metode pelaksanaan survei.
4. Melakukan pemetaan dasar waduk sampai elevasi muka air maksimum dengan pengukuran
teristris (untuk areal di atas muka air waduk) dan pemeruman (bathimetri) waduk.
5. Memasang patok tetap (BM/SDM) di sepanjang tepian kiri dan kanan waduk untuk setiap jarak 0.5
(nol koma lima) km, masing-masing patok di sisi kiri dan patok di sisi kanan waduk. Memasang
patok bantu (control point) dengan jarak antar patok 250 m.
6. Melakukan perhitungan: kapasitas waduk, volume dan ketebalan endapan sedimen waduk, laju
sedimentasi waduk, umur layanan yang tersisa, hubungan antara elevasi dan volume tampungan
waduk, hubungan antara elevasi dan luas genangan waduk, dan lain-lain.
7. Melakukan analisis, penggambaran, dan membuat laporan.
 Inspeksi besar
1. Mengumpulkan dan mempelajari data hidrologi sampai tahun terakhir, dokumen desain,
pelaksanaan konstruksi dan riwayat Operasi dan Pemeliharaan termasuk data pemantauan,
laporan inspeksi sebelumnya, system Operasi dan Pemeliharaan, Rencana
2. Melakukan pemeriksaan tubuh bendungan di atas dan di bawah air, bangunan pelengkap, bukit
tumpuan, waduk dan sekitamya, dan lain-lainnya.
3. Melakukan pemeriksaan dan uji operasi peralatan hidromekanik, listrik, dan sistim peringatan dini
(bila ada).
4. Pemeriksaan peralatan pemantau keamanan bendungan/ instrumentasi dan evaluasi terhadap
data hasil pemantauannya.
5. Analisis banjir desain berdasar data hidrologi terbaru.
6. Evaluasi keamanan bendungan yang mencakup aspek struktur, hidrolik, rembesan, dan sistim
operasi berdasar hasil kegiatan.
7. Melaksanakan konsultasi dengan Balai Bendungan mengenai hasil pemeriksaan/analisis
instrumentasi keamanan bendungan sampai dengan pelaksanaan sidang pleno Komisi Keamanan
Bendungan.
8. Membuat laporan teramasuk kesimpulan status keamanan bendungan dan saran tindak lanjut
yang diperlukan.
 Pelatihan Keamanan Bendungan untuk petugas rselama 2 hari.
 Pemutakhiran Panduan Pedoman Operasi dan Pemeliharaan.

 Pedoman, Kriteria Dan Standar


Pedoman kriteria dan standar yang digunakan dalam menyelesaikan pekerjaan adalah pedoman,
kriteria dan standar yang berlaku di Indonesia atau spesifik di lokasi proyek pada saat ini, antara lain
:
1. Standar dan Pedoman yang digunakan:
2. SNI 03-3432-1994, Tata Cara Penetapan Banjir Desain dan Kapasitas Peiimpahan untuk
Bendungan
3. RSNI M-03-2002, Metode analisis stabilitas lereng statik bendungan urugan

2
4. SNI 03-3417-1994, Metode Penentuan Posisi Titik Perum Menggunakan Alat Penyipat Ruang
5. SNI 03-6737-2002, Metode Perhitungan Awal Laju Sedimentasi Waduk
6. Pd T-14-2004-A, Pedoman analisis stabilitas bendungan tipe urugan akibat gempa, Dept
Kimpraswil 10 Mei 2004
7. Pedoman Analisis dinamik bendungan urugan, Keputusan Dirjen SDA No. 27/KPTS/D/2008 tanggal
31 Januari 2008
8. Pedoman survai dan monitoring sedimentasi waduk, Keputusan Dirjen SDA No. 39/KPTS/D/2009
tanggal 26 Februari 2009
9. Pedoman Inspeksi dan Evaluasi Keamanan Bendungan, Keputusan Dirjen SDA No. 05/KPTS/2003
tanggal 14 Maret 2003
10. Pedoman pembangunan bendungan urugan pada pondasi tanah lunak, Ditjen SDA, Nopember
2006
11. Pedoman Operasi, Pemeliharaan dan Pengamatan Bendungan, Keputusan Dirjen SDA No.
199/KPTS/D/2003, Maret 2003
12. Manual Inspeksi Visual Bendungan urugan, Ditjen SDA 2004
13. PT-02 Pengukuran Topografi, Standar Perencanaan Irigasi, Ditjen Air 1986
14. SNI dan Pedoman lain yang terkait.
15. Peraturan Perundangan yang digunakan :
16. UU 18/1999 tentang Jasa Konstruksi
17. UU 7/2004 tentang Sumber Daya Air
18. PP 28/2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi
19. PP 29/2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi
20. PP 37 /2010 tentang Bendungan.
21. Permen Pekedaan Umum No. 04/PRT/M/2009 tentang Sistem Manajemen Mutu (SMM)
Departemen Pekerjaan Umum.

BAB II
METODOLOGI PELAKSANAAN PEKERJAAN

Dalam rangka pelaksanaan pekerjaan yang tertuang dalam lingkup pekerjaan ini harus melakukan
hal-hal sebagai berikut:
 Persiapan dan Orientasi Lapangan
Sebelum memulai pekerjaan penyedia jasa harus melakukan persiapan seperlunya, diantaranya
adalah mobilisasi peralatan, personil, bahan dan perlengkapan yang diperlukan untuk melaksanakan
pekedaan ini, yang semuanya harus dalam kondisi baik. Disamping itu jugs harus melakukan orientasi
lapangan untuk mengetahui kondisi umum lapangan secara menyeluruh, mengidentifikasi kendala
yang ada, kemudian menjabarkan program pelaksanaan dan Rencana Mutu Kontrak. Setelah
pekerjaan selesai, lokasi yang ditinggalkan harus dalam keadaan bersih dan dirapihkan kembali.

 Pengumpulan dan Analisa Data


Konsultan berkewajiban mengumpulkan dan menganalisa data yang diperlukan untuk masing-masing
pekerjaan. Konsultan harus memeriksa ketelitian data yang dipakai dan bertanggung jawab terhadap
mutu data yang dipakai. Data yang harus dikumpulkan antara lain :
1. Semua laporan studi yang pernah dilakukan.
2. Laporan desain termasuk review/revisi/modifikasi desain.
3. Laporan pelaksanaan konstruksi, meliputi: kendali mutu (quality control), laporan akhir proyek
(project completion report), dan lain-lain.
4. Laporan yang berkaitan dengan pengelolaan opini dan pemeliharaan bendungan antara lain
laporan pemantauan, laporan pelaksanaan, laporan inspeksi, dan lain-lain.
5. Data hidrologi terbaru, peta geologi regional, dan lain sebagainya.

3
 Asistensi dan Diskusi
1. Konsultan wajib melakukan asistensi dan diskusi dengan pemberi tugas atau
yang dikuasakan, pada setiap akan memulai dan akhir dari suatu kegiatan.
2. Konsultan wajib melakukan diskusi dengan Balai Bendungan dalam rangka mendapatkan masukan
sesuai terkait.

 Presentasi Dalam Sidang Komisi Keamanan Bendungan


Konsultan wajib menyiapkan laporan dan bahan presentasi untuk kemudian di presentasi dam Sidang
Komisi Keamanan Bendungan, serta melakukan perbaikan-perbaikan sesuai dengan saran sidang
Komisi Keamanan Bendungan
Konsultan berkewajiban memperbaiki laporan inspeksinya sesuai dengan saran sidang Komisi
Keamanan Bendungan

 Ketersediaan Penyedia Jasa


Konsultan harus menunjuk seorang wakilnya yang sewaktu-waktu dapat dihubungi dalam rangka
pelaksanaan pekerjaan dan mempunyai kuasa untuk bertindak dan mengambil keputusan atas nama
Konsultan.

 Pekerjaan Survei Sedimen


1. Peralatan survei teristris dan bathimetri
 Semua peralatan survei yang digunakan harus dalam keadaan baik dan sebelumnya digunakan
harus dikalibrasi lebih dulu.
Peralatan yang digunakan untuk melakukan survei sedimentasi waduk antara lain:
1. Receiver GPS tipe DGPS
2. Antene GPS
3. Echosounder Single Beam, Multibeam atau Multi Tranducer
4. Bar Check dengan panjang tali minimum 15 m
5. Software untuk mengintegrasikan GPS dengan echosonder
6. Perahu dengan kapasitas minimum 5 orang
7. Laptop sesuai spesifikasi software
8. Alat pengukur sudut (TO/T2/Total Stasion)
9. Alat Pengukur Jarak (water pass/EDM)
10. Patok Pembantu
11. BM /Patok tetap dan patok kontrol untuk Jalur Pemeruman (Sounding)
12. Alat bantu lainnya seperti bendera
13. Perangkat lunak yang digunakan Autocad,Map info atau Surfer.
 Peralatan GPS
Peralatan GPS yang digunakan dalam survei sedimentasi waduk harus mempunyai kemampuan
differential secara real time dengan spesifikasi sebagai berikut :
1. Tipe DGPS single frekuensi 12 channel dengan akurasi:
 Posisi horizontal : 10 cm
 Posisi vertikal : 20 cm
1. Tipe RTK dual frequency 40 channel dengan akurasi:
 Posisi horizontal : 1 cm
 Posisi vertikal : 2 cm
1. Piranti Lunak data-logging
Laptop untuk penyimpanan data dan pengolahan yang mampu untuk mendukung piranti lunak yang
digunakan.
 Echo Sounder

4
Peralatan pengukuran bathimetri dengan menggunakan echo sounder harus memenuhi kriteria
dengan spesifikasi teknis minimum sebagai berikut:
1. Mempunyai frekuensi ganda (dual frequency) 15 kHz sampai 350 kHz, dioperasikan dengan arus
DC
2. Software untuk data logging
3. Mempunyai tingkat akurasi:
 0,10 m ± 0,5% kedalaman pada frekuensi rendah
 0,01 m ± 0,5% kedalaman pada frekuensi tinggi

1. Pengukuran Topografi Teristris di Sekitar Daerah Genangan Waduk


Pengukuran atau survei topografi teristris dilakukan pada daerah di sekitar genangan waduk yang
tidak tergenang, minimal sampai pada elevasi muka air maksimum (saat banjir maksimum). Pada
daerah sekitar tubuh bendungan, pengukuran diperluas sampai puncak dan di lereng hulu-hilir
bendungan, untuk memperoleh gambaran potongan memanjang dan melintang bendungan guna
mendukung analisis stabilitas bendungan.
Patok-patok tetap dan patok rencana jalur-jalur pemeruman daerah genangan waduk harus
digunakan sebagai patok-patok pengikat dalam pengukuran darat di sekitar daerah genangan.
Apabila referensi elevasi yang ads di lokasi masih bersifat lokal maka harus dilakukan transformasi
datum ke Titik Tinggi Geodesi Nasional yang dibuat oleh Bakosurtanal.
Pengukuran topografi teristris/tachimetri ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
 Pada saat mengukur tepi waduk (muka air) harus dicatat waktunya (jam).
 Jika tepi waduk tedal maka tachimetri dilakukan dari tepi waduk sampai pada perubahan
ketinggian dan ditambah dengan satu titik tachimetri di atas bukit. Jarak antara titik tachimetri
bisa kurang dari 50 meter.
 Jika tepi waduk landai maka tachimetri dilakukan. Sebaliknya jika landai maka jarak antara titik
tachimetri sekurang-kurangnya per 50 meter.
 Setiap dijumpai adanya teluk dan tanjung harus dilakukan pengukuran darat dengan metode
tahchimetri dimulai dari muka air saat itu sampai pada tepi waduk pada elevasi genangan tertinggi
atau sebaliknya. Jarak antara titiktitik tachimetri sekurang-kurangnya 25 m, disesuaikan dengan
bentuk topografi dan kemiringan lerengnya
 Surveyor wajib menggambar sket lapangan untuk menghindari kesalahan interpretasi
 Setiap patok pemeruman dan patok tetap (patok BM/SDM) yang dijumpai harus diukur
 Perhitungan elevasi dan koordinat tidak dilakukan secara manual tetapi harus dengan perangkat
lunak komputer.
Peralatan utama yang digunakan dalam pengukuran topografi teristris adalah alat pengukur sudut
(TO/T2/Total Station) lengkap dengan peralatan penunjang lainnya (bak ukur, refiektor, statif,
tribach), alat pengukur jarak (water pass/EDM) dan GPS.

1. Pemeruman/Bathimetri
 Pemeruman dilakukan untuk mendapatkan pets topografi dasar waduk menggunakan GPS
dan echo sounder. Pemeruman dilakukan pada sepanjang jalur-jalur pemeruman (range lines)
yang telah ditentukan sebelumnya mendapatkan data kedalaman waduk. Bila jalur pemeruman
belum ada, sebelum pelaksanaan pemeruman lebih dulu harus ditetapkan jalur-jalur pemeruman.
 Kerapatan atau jarak antara jalur-jalur pemerum ditetapkan sebagai berikut:
1. Pada bagian diatas lereng hulu bendungan: jarak jalur pemeruman berkisar 15 sampai 30 m,
dengan jumlah jalur minimal 3 (bga) jalur. Pemeruman pada daerah ini terutama ditujukan untuk
mendapatkan gambaran kondisi/geometri lereng hulu bendungan guna mendukung kegiatan
pemeriksaan bawah air.
2. Untuk waduk kecil atau pada daerah genangar sampai dengan jarak 1 km dari puncak bendungan
jarak jalur pemeruman berkisar 30 sampai 60 m, dengan jarak yang lebih rapat pada daerah
tampungan mat (dead storage).
3. Pada daerah genangan diatas jarak 1 km dari puncak bendungan, jarak jalur pemeruman berkisar
100 sampai 200 m.

5
 Penentuan posisi, dilakukan dengan Diferensi GPS (DGPS). Pada metode ini, posisi suatu titik
ditentukan relatif terhadap titik lainnya yang telah diketahui koordinatnya. Prosesnya dilakukan
dengan menggunakan data yang diamati oleh 2 (dua) receiver GPS pada waktu yang bersamaan.
Hasil survei sedimentasi waduk harus dibuat laporan tersendiri yang isinya mencakup hal-hal
sebagaimana dijelaskan pada Sub.Bab 11.2 Pedoman Survei dan Monitoring Sedimentasi Waduk.

BAB III
PEMERIKSAAN BESAR

Secara umum, yang dimaksud inspeksi besar pada studi ini adalah inspeksi/pemeriksaan yang
dilakukan secara menyeluruh terhadap aspek teknis maupun non teknis, dalam rangka evaluasi
keamanan bendungan bagi suatu bendungan yang telah ada ( Safety Evalution of Existing
Dams/SEED).

Cakupan inspeksi antara lain meliputi: Pemeriksaan komponen-komponen bendungan diatas air dan
bawah air termasuk peralatan mekanik-listrik fondasi, tumpuan waduk dan daerah sekitarnya;
pemeriksaan dan uji peralatan hidromekanik-elektrik dan gawar banjir; pemeriksaan instrumen dan
evaluasi data pembacaannya; tinjauan terhadap sistem Operasi dan Pemeliharaan dan RTD (Rencana
Tindak Darurat), serta evaluasi keamanan bendungan tahap pertama dan tahap kedua/lanjutan.

Kegiatan tersebut diatas perlu ditunjang dan dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan diantaranya dan
tidak terbatas hal-hal sebagai berikut:
 Pekerjaan persiapan
Sebelum pelaksanaan inspeksi, konsultan harus melakukan pekerjaan persiapan yang mencakup
antara lain:
1. Pengumpulan data, yang mencakup antara lain: data hidrologi terbaru, dokumen desain, dokumen
pelaksanaan konstruksi, dokumen operasional dan Pemeliharaan termasuk data pemantauan,
laporan inspeksi sebelumnya, Operasi dan Pemeliharaan dan RTD (Rencana Tindak Darurat), dan
lain-lain. Dokumen atau data desain dan konstruksi yang ada di proyek kemungkinan sangat
terbatas, dalam kondisi demikian konsuItan harus mengumpulkan data dari berbagai sumber lain
yang dapat dipercaya.
2. Kajian data: setiap inspeksi harus didahului dengan mempelajari ata yang ada, laporan-laporan
inspeksi/kajian sebelumnya. Bila belum pernah dilakukan inspeksi, pelajari dokumen desain,
konstruksi dan riwayat
3. Daftar simak inspeksi: harus disiapkan secara rinci sesuai bendungan yang diinspeksi dan
dipahami setiap anggota tim.
4. Perlengkapan inspeksi yang harus dibawa saat inspeksi antara lain: ringkasan data bendungan,
ringkasan laporan inspeksi sebelumnya, gambargambar, daftar simak, kamera, alat bantu inspeksi
seperti: pita ukur, teropong, lampu senter, waterpas kecil, palu geologi, kompas, alat baca
instrumen, dan lain-lain.
1. Pemeriksaan Bendungan
5. Pemeriksaan visual pada obyek inspeksi yang berada diatas permukaan tanah dan air seperti:
permukaan tubuh bendungan, bangunan pelengkap, tebing tumpuan, tebing waduk, peralatan
hidromekanik, dan lain-lain. Di atas dan di bawah air, bangunan pelengkap, bukit tumpuan, waduk
dan sekitarnya, dan lain-lain.
6. Pemeriksaan bawah air terhadap obyek inspeksi dibawah air antara lain:
7. Permukaan lereng hulu bendungan; periksa kemungkinan adanya lubang
benam, longsoran, kemerosotan mutu lapis lindung lereng, dan lain-lain.
8. Kolam peredam energi dan kolam loncat air; periksa kemungkinan adanya erosi dan gerusan.
9. Muka hulu bendungan/membran beton; periksa kemungkinan adanya: retakan, kemerosotan
mutu, bukaan sambungan yang berakibat peningkatan rembesan/bocoran, dan lain-lain.
Pemeriksaan bawah air dilakukan dengan cara:
1. pemeruman seperti dijelaskan diatas,

6
2. pemeriksaan secara langsung saat air surut.
3. Indentifikasi dan pencatatan masalah
Sebelum informasi, laporan dan catatan yang berkaitan dengan masalah yang timbul harus
dikumpulkan dan dipelajari, dan bendungan perlu diperiksa atas:
1. unjuk kerja/performance yang tidak sesuai dengan yang direncanakan
2. terjadinya kerusakan konstruksi
3. penyimpangan yang terkait dengan deformasi, tekanan pori, rembesan
4. timbulnya bahaya dari kondisi geologi
5. tidak berfungsinya peralatan mutu, melemahnya bangunan dan atau fondasi
6. penyimpangan terhadap NSPM (norms, standar, pedoman, dan manual) dan lain sebagainya yang
dampaknya berpotensi mengganggu fungsi dan keamanan bendungan.
1. Pemeriksaan dan Uji operasi; harus dilakukan terhadap peralatan yang terkait dengan
keamanan bendungan seperti: peralatan hidromekanik, tenaga listrik utama dan cadangan
untuk operasi pintu dan katup, sistem dan prosedur peringatan banjir termasuk kehandalam
peralatan yang digunakan, dan lain-lain.
2. Instrumentasi; periksa kondisi dan fungsi instrumentasi dengan melakukan pembacaan
secara langsung dan/atau lakukan kajian/evaluasi terhadap serta data pemantauan yang ada.
Pemeriksaan dan pastikan slat-slat hidrologi, sistem pemantau jarak jauh serta peralatan
komunikasinya semua berfungsi baik, dokumentasi dan evaluasi data hasil pemantaunya.
 Hidrologi dan banjir desain; kaji laporan analisis hujan dan banjir desain yang ada dan kriteria
desain yang digunakan, lakukan analisis hujan dan banjir desain dan penelusuran banjir berdasar
data mutahir, periksa kecukupan pelimpah, tinggi jagaan, pola operasi, potensi bencana didaerah
hilir bila terjadi keruntuhan bendungan, dan lain-lain.
 Sistem OP dan RTD
1. Sistem OP mencakup: periksa ketersediaan panduan OP dilapangan: waktu penyusunan;
kecukupan instruksi/ petunjuk dalam panduan; ketersediaan clokumen penting, gambar-gambar,
grafik, format laporan; dipahamikah panduan oleh petugas; kecukupan tenaga dari aspek jumlah
dan kemampuan, perlukah penyempurnaan dan lain-lain.
2. RTD dan kesiapannya: periksa keandalan sistem komunikasi, prosedur operasi, tenaga listrik
cadangan, sistem gawar banjir, dipahamkan RTD oleh petugas, perlukah penyempurnaan, dan
lain-lain
1. Evaluasi keamanan bendungan
3. Evaluasi tahap pertama;
 Kaji semua data yang ada yang terkait dengan desain, konstruksi, OP bendungan dan bangunan
pelengkapnya, sehingga benar-benar memahami penuh bendungan dan riwayat operasi serta
pemeliharaannya.
 Identifikasi semua potensi masalah yang dampaknya merugikan terhadap keamanan hulu dan hilir
bendungan serta periksa kecukupan bendungan dan bangunan pelengkapnya untuk memenuhi
fungsinya, dengan didukung: data yang relevan, pertimbangan dan analisis teknis diantaranya
dengan membandingkan perilaku bendungan dengan perilaku yang direncanakan dalam desain.
1. Evaluasi tahap kedua ;
Lakukan analisis teknik untuk menilai status/tingkat keamanan bendungan ditinjau dari:
1. aspek struktur; periksa stabilitas tubuh bendungan termasuk stabilitas terhadap gempa pada
kondisi normal dan luar biasa, minimal pada potongan: bagian tertinggi, bagian yang perilakunya
menyimpang dan bagian yang geometrinya berubah cukup besar dan bagian kritis.
2. Aspek hidroiik (kecukupan pelimah, tinggi jagaan, erosi eksternal, dan lain-lain).
3. Aspek rembesan (erosi internal, piping, boiling, uplift, pelarutan materil bendungan dan pondasi,
dan lain-lain), berdasar data-data yang tersedia, kemudian membuat kesimpulan dan saran.

 Pelatihan Keamanan Bendungan


Pelatihan dilakukan terhadap pars petugas yang terkait dengan operasional dan pemeliharaan serta
pemantauan bendungan.
Materi pelatihan meliputi antara lain:

7
1. Konsepsi dan pengaturan Keamanan Bendungan
2. Dasar-dasar OP Bendungan
3. Inspeksi dan evaluasi Keamanan Bendungan
4. Inspeksi visual
5. Instrumentasi
6. Uji mutu pelaksanaan konstruksi bendungan urugan.

 Buat laporan, termasuk kesimpulan status keamanan bendungan dan saran tindak lanjut yang
diperlukan.

BAB IV
TENAGA YANG DIBUTUHKAN

Untuk melaksanakan pekerjaan tersebut diatas, Konsultan harus menggunakan tenaga ahli yang
berpengalaman di bidangnya masing-masing. Perkiraan tenaga ahli yang terlibat dalam pekerjaan
yang terdiri dari:

 Ketua Tim (Team Leader)/Ahli Bendungan)


Sarjana Teknik Sipil/Teknik Sumber Daya Air/Teknik Pengairan yang berpengalaman seku rang-ku
rang nya 8 (delapan) tahun di bidang Sumber Daya Air dan minimal 6 tahun di bidang bendungan
dan pernah menjadi Ketua Tim untuk pekerjaan sejenis minimal 2 (dua) kali. Ketua Tim harus
menguasai bahasa Inggris baik lisan maupun tertulis, dan memiliki Sertifinkat AN Bendungan Besar
(paling rendah Ahli Madya) yang dikeluarkan oleh KNIBB. Pendidikan Pasca Sarjana/S2 di bidang
Teknik Sumber Daya Air lebih diutamakan.

 Ahli Bangunan Air/Hidrolika)


Sarjana Teknik Sipil/Teknik Sumber Daya Air/Teknik Pengairan dan berpengalaman sekurang-
kurangnya 6 (enam) tahun di bidang perencanaan konstruksi bangunan air dan minimal 4 (empat)
tahun di bidang rancang bangun konstruksi bendungan termasuk bendungan tipe urugan (earhtfill
dam/rockfill dam), dan harus menguasai bahasa Inggris baik lisan maupun tertulis.

 Ahli Hidro-Mekanikal (Hydro-Mechanical Specialist)


Sarjana Teknik Mesin dengan pengalaman sekurang-kurangnya 6 (enam) tahun di bidang
hidromekanikal konstruksi bangunan air dan minimal 4 (empat) tahun di bidang rancang bangun
hidromekanikal untuk bendungan. Diutamakan yang menguasai bahasa Inggris baik lisan maupun
tertulis.

 Ahli Hidrologi
Sarjana Teknik Sipil/Teknik Pengairan dengan pengalaman sekurang-kurangnya 6 (enam) tahun di
bidang analisis hidrologi untuk rancang bangun konstruksi bangunan air dan minimal 4 (empat) tahun
di bidang rancang bangun konstruksi bendungan. Diutamakan yang menguasai bahasa Inggris baik
lisan maupun tertulis.

 Ahli Geodesi (Geodetik Engineer)


Sarjana Geodesi yang berpengalaman sekurang–kurangnya 6 (enam) tahun di bidang survei dan
pengukuran untuk rancang bangun konstruksi bangunan air dan minimal 4 (empat) tahun di bidang
rancang bangun konstruksi bendungan. diutamakan yang menguasai bahasa Inggris baik lisan
maupun tertulis.

 Ahli Mekanika Tanah


Sarjana Teknik Sipil yang berpengalaman sekurang–kurangnya 6 (enam) tahun di bidang mekanika
tanah dan pondasi untuk rancang bangun konstruksi bangunan air dan minimal 4 (empat) tahun di
bidang rancang bangun konstruksi bendungan khususnya bendungan tipe ( earhtfill dam/rockfill dam).
Diutamakan yang menguasai bahasa Inggris baik lisan maupun tertulis.

8
 Ahli Instrumentasi Keamanan Bendungan
Sarjana Teknik Sipil, minimal S-1, berpengalaman minimal 5 (lima) tahun untuk pekerjaan
pemeriksaan kondisi instrumentasi bendungan dan bangunan pelengkapnya. Mampu menganalisis
ketersediaan dan perilaku peralatan instrumentasi terhadap keamanan bendungan serta
menyampaikan usulan perbaikan dan atau penambahan peralatan instrumentasi lengkap dengan
rencana anggaran biaya dan spesifikasi teknisnya. Diutamakan yang menguasai Bahasa Inggris, lisan
maupun tertulis.

 Asisten Tenaga Ahli


 Asisten Ahli Bendungan
Sarjana Teknik Sipil/Pengairan dan berpengalaman di bidang rancang bangun bendungan minimal 4
(empat) tahun.

 Asisten Ahli Hidro-Mekanikal


Sarjana Teknik Mesin dengan pengalaman sekurang-kurangnya 4 (empat) tahun di bidang
hidromekanikal konstruksi bangunan air.

 Asisten Ahli Geotek.


Sarjana Teknik Sipil dan berpengalaman di bidang rancang bangun bendungan minimal 4 (empat)
tahun.

BAB V
PENUTUP

1. Simpulan
Bendungan yang sudah dibangun oleh pemerintahan Belanda yang lalu dan dilanjutkan oleh
Pemerintah Republik Indonesia sudah banyak yang mengalami penurunan fungsi dan untuk itu perlu
dilakukan pemeriksaan besar bendungan yang ada di Indonesia.

1. Saran
Untuk itu pada setiap pembangunan bendungan di seluruh Indonesia telah disepakati melalui
Undang-Undang No.11 Tahun 1974 tentang Pengairan bahwa pelestarian bendungan harus
dipertahankan agar dapat berfungsi setiap saat.

DAFTAR PUSTAKA

Perundang-Undangan:

1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya
Air
2. Undang-undang No.11 Tahun 1974 Tentang Pengairan
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.20 Tahun 2006 Tentang Irigasi
4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.43 Tahun 2008 Tentang Air Tanah
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.39 Tahun 2006 Tentang Bendungan
6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.33 Tahun 2011 Tentang Kebijakan Nasional
Pengelolaan SDA

Buku
1. Ackers, P., and White, W.R.,1973. Sediment Transport: New Approach and Analysis. J. Hyd. Div.
ASCE, 99, No.HY11:p. 2041-60.
2. Ansori Imam, 2004. Konsepsi Pengelolaan Sumber Daya Air Menurut UU No.7 Tahun 2004.
Makalah, Dep. Kimpraswil.

9
3. Danaryanto H.,Djaenadi, Hadipuwo Satriyo, Tirtomiharjo Haryadi, Setiadi Hendri, Wirakusumah A.
Djumarma, Siagian Yousana OP.,2005. Air Tanah di Indonesia dan Pengelolaannya. Editor Hadi
Darmawan Said, Dit Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan, Ditjen Geologi dan
Sumber Daya Mineral, Dep. Energi dan Sumber Daya Mineral.
4. Ditjen Sumber Daya Air Dep. Kimpraswil, 2002. Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air dan
Reformasi Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Air. Lokakarya Nasional tentang Pengelolaan
Terpadu Sumber Daya Air. Kerja-sama Ditjen. Sumberdaya Air Dep. Kimpraswil dengan South East
Asia Tecnical Advisory Committee (SEATAC).
5. Ditjen (Direktur Jenderal) Sumberdaya Air, Departemen Permukiman Dan Prasarana Wilayah,
2003. Konsep Pembagian Kewenangan Pemerintah Pusat, Propinsi dan Kabupaten / Kota Bidang
Permukiman dan Prasarana Wilayah Sub Bidang: Sumber Air.
6. Tata Ruang dan Pengembangan Wilayah, 2002. Kamus Istilah Penataan Ruang dan
Pengembangan Wilayah. Diterbitkan oleh Ditjen Tata Ruang dan Pengembangan Wilayah Dep.
Kimpraswil.
7. Domenico, Patrick A., and Schwartz, Franklin W., 1990. Physical and Chemical Hydrogeologi, John
Wiley & Sons.
8. Hadimuljono, Basuki, Direktur Jenderal Sumber Daya Air Dep. PU dan Dosen Tamu, 2005. Menuju
Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu. Kuliah Umum Pada Program Doktor Teknik Sipil
Universitas Diponegoro Program Pascasarjana Universitas Diponegoro, Semarang, 5 Maret.
9. H.P, Eger.H, Fleischhhauer, Habel.A, Reij.C, Steiner.K.G,Towards Sustainable Land Use, A
Coperating Series of the Internasional Society of Soil Science (ISSS), Copyright by Catena Verlag
GMBH, Germany, 1998.
10. Hadi S.Pasaribu, Pengembangan Kelembagaan Pembangunan RRL dalam konteks Pengelolaan
DAS, Departemen Kehutanan dan Perkebunan, 1996.
11. David W. Sanders, Paul.C. Huszar, Samran Sombatpanit, Thomas Enters, Incentives in Soil
Conservation From Theory to Practice, Oxford & IBH Publishing CO.PVT.LTD, Calcuta India,1999.
12. Bruce Mitchel, Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan, Universitas Gadjah Mada Press,
Yogyakarta,2000.
13. Smith G.D, Yule D.F, Srinivasan S.T, Rao K.P.C. Effect of Soil Management Practices on Runoff and
Infiltraction Processes of Hardsetting Alfisol in Semi Arid Tropics, Soil and Water Conservation,
The Eight Internasional Soil Conservation.
14. Tripathi K.P., Samraj P, Hydrological Evalution of Land Use Effect in Southern Hilly Region of
India, Soil and Water Consevation, The Eight Internasional Soil Conservation.
15. Hidayat Pawitan, Dr. Ir. Msc, Catatan kuliah Strategi Pengelolaan DAS, IPB, Bogor, 2002 (tidak
dipublikasikan).

10