Anda di halaman 1dari 11

PAPER K3

MANAJEMEN RISIKO
DALAM KESELAMATAN PASIEN

NAMA KELOMPOK 6 :

1. Ari Cendani Prabawati ( 17.321.2658 )


2. Ni Ketut Yuliana ( 17.321.2686 )
3. Ni Made Ayu Priyastini ( 17.321.2695 )
3. Ni Wayan Yuna Pratiwi ( 17.321.2705 )

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
STIKES WIRA MEDIKA BALI
2018 / 2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keselamatan pasien di rumah sakit adalah suatu sistem rumah sakit dalam membuat
asuhan pasien lebih aman yang meliputi asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang
berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari
insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan
mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan
atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (Kemenkes RI, 2011).
Keselamatan (safety) telah menjadi isu global termasuk juga untuk rumah sakit. Ada
enam sasaran keselamatan pasien di rumah sakit yaitu ketepatan identifikasi, peningkatan
komunikasi efektif, peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai, kepastian tepat lokasi,
tepat prosedur, tepat pasien operasi, pengurangan resiko infeksi terkait pelayanann kesehatan
pengurangan resiko pasien jatuh (Depkes, 2010).
Mutu pelayanan sebagai hasil dari sebuah sistem dalam organisasi pelayanan kesehatan
dipengaruhi oleh komponen struktur dan proses. Organisasi (struktur dan budaya), manajemen,
sumber daya manusia, teknologi, peralatan, finansial adalah komponen dari struktur. Proses
pelayanan, prosedur tindakan, sistem informasi, sistem administrasi, sistem pengendalian,
pedoman merupakan komponen proses. Keselamatan pasien merupakan hasil interaksi antara
komponen struktur dan proses. Mutu pelayanan rumah sakit dapat dilihat dari segi aspek-aspek
sebagai berikut: aspek klinis (pelayanan dokter, perawat dan terkait teknis medis), aspek efisiensi
dan efektifitas pelayanan, keselamatan pasien dan kepuasan pasien (Donabedian 1988, dalam
Cahyono, 2011).
Konsep manajemen risiko mulai diperkenalkan di bidang keselamatan dan kesehatan
kerja pada era tahun 1980-an setelah berkembangnya teori accident model dan juga semakin
maraknya isu lingkungan dan kesehatan. Pada dasarnya manajemen risiko bersifat pencegahan
terhadap terjadinya kerugian maupun ‘accident’ (Tantri, 2016). Rumah sakit yang menerapkan
prinsip keselamatan pasien berkewajiban untuk mengidentifikasi dan mengendalikan seluruh
risiko strategis dan operasional, manajemen risiko juga berhubungan erat dengan pelaksanaan
keselamatan pasien rumah sakit dan berdampak kepada pencapaian sasaran mutu rumah sakit
(Fachmi, 2010).
Berdasarkan latar belakang di atas, dan mengingat pentingnya manajemen resiko. Maka,
oleh karena itu kelompok akan membahas manajemen risiko khususnya tentang bagaimana
penanggulangan manajemen risiko keselamatan pasien (patient safety) di rumah sakit.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana peran manajemen resiko dalam keselamatan pasien ?
2. Apa pentingnya manajemen resiko dalam keselamatan pasien ?
3. Jelaskan proses manajemen resiko dalam keselamatan pasien ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui peran manajemen resiko dalam keselamatan pasien.
2. Untuk mengetahui pentingnya manajemen resiko dalam keselamatan pasien.
3. Untuk memahami proses manajemen resiko dalam kesehatan pasien.

1.4 Manfaat
Mengidentifikasi manajemen risiko K3 dalam keselamatan pasien dan perawat.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Peran Manajemen Risiko dalam Keselamatan Pasien


Manajemen Resiko dalam Pelayanan Kesehatan merupakan upaya untuk mereduksi KTD
yang dalam pelayanan kesehatan apabila hal ini terjadi akan merupakan beban tersendiri, terlepas
dari KTD tersebut karena resiko yang melekat ataupun memang setelah dianalisis karena adanya
error atau negligence dalam pelayanan. Apabila KTD sudah terjadi, beban pelayanan tidak
hanya pada sisi finansial semata, namun beban psikologis dan sosial kadang-kadang terasa lebih
berat. Untuk mencegah KTD dan menempatkan resiko KTD secara prorposional beberapa
pendekatan dapat dilakukan pada sumber penyebab itu sendiri, baik pada faktor manusianya
(pasien dan tenaga kesehatannya), maupun dari sisi organisasinya.
Rumah sakit sebagai instansi pelayanan kesehatan yang berhubungan langsung dengan
pasien harus mengutamakan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminasi dan
efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit
(Undang-Undang tentang Kesehatan dan Rumah Sakit Pasal 29b UU No.44/2009). Pasien
sebagai pengguna pelayanan kesehatan berhak memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya
selama dalam perawatan di rumah sakit (Undang-Undang tentang Kesehatan dan Rumah Sakit
Pasal 32n UU No.44/2009).
Secara umum dapat dikatakan bahwa kejadian yang tidak diharapkan dalam pelayanan
kesehatan semakin meningkat. Kejadian yang tidak diharapkan (KTD) atau dalam literarur
berbahasa Inggris dikenal dengan istilah adverse event adalah kondisi akibat pelayanan yang
menimbulkan rasa tidak nyaman, tidak sembuh, kecacatan bahkan kematian. KTD pada dasarnya
adalah resiko yang melekat dari tindakan pelayanan kesehatan, hal ini mengingat bahwa dalam
pelayanan kesehatan yang diukur adalah upaya yang dilakukan (inspaning verbentenis),
bukanlah hasil akhirnya (resultante verbintennis). Dalam hal ini kejadian tidak diinginknan
(KTD) tidak dapat dikatakan malpraktik medik apabila terbukti nantinya upaya yang dilakukan
sudah benar walaupun kenyataannya hasil pelayanan tersebut bisa saja menyebabkan kecacatan
bahkan kematian.
Keselamatan pasien saat ini menjadi isu global dan terangkum dalam lima isu penting
yang terkait di rumah sakit yaitu: keselamatan pasien (patient safety), keselamatan pekerja atau
petugas kesehatan, keselamatan bangunan dan peralatan di rumah sakit yang bisa berdampak
terhadap keselamatan pasien dan petugas, keselamatan lingkungan (green productivity) yang
berdampak terhadap pencemaran lingkungan dan keselamatan ”bisnis” rumah sakit yang terkait
dengan kelangsungan hidup rumah sakit. Keselamatan pasien merupakan prioritas utama untuk
dilaksanakan terkait dengan isu mutu dan citra perumahsakitan (Depkes, 2006).
Keselamatan pasien merupakan langkah kritis pertama untuk memperbaiki kualitas
pelayanan. Tercermin dari laporan Institute Of Medicine (IOM) tahun 2000 tentang KTD
(adverse event) di rumah sakit kota Utah dan Colorado sebesar 2,9% dan 6,6% KTD berupa
meninggal dunia. Di kota New York KTD (adverse event) sebesar 3,7% dan 13,6% KTD berupa
meninggal dunia. Angka kematian akibat KTD pada pasien rawat inap di Amerika adalah 33,6
juta di tahun 1997, di kota Utah dan Colorado berkisar 44.000, sementara di New York 98.000
per tahun (IOM, 2000). Laporan tersebut mencerminkan bahwa keselamatan pasien kurang
diterapkan, sehingga banyak KTD yang akhirnya menciptakan pelayanan kesehatan yang kurang
bermutu. Menanggapi hal ini Indonesia telah mendirikan KKP-RS (Komite Keselamatan Pasien
Rumah Sakit) oleh PERSI (Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia) (Depkes, 2008).
Powell (2004) menyatakan bahwa budaya keselamatan merupakan faktor dominan dalam
upaya keberhasilan keselamatan dan kunci bagi terwujudnya pelayanan yang bermutu dan aman.
Kedisiplinan, ketaatan terhadap standar, prosedur dan protokol, bekerja dalam tim, kejujuran,
keterbukaan, saling menghargai adalah nilai dasar yang harus dijunjung tinggi. Manajemen
diperlukan dalam untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Seluruh tingkatan manajer
dituntut untuk memiliki kemampuan kepemimpinan dan menjalankan fungsi manajerial.
Pemimpin bertugas membangun visi, misi, mengkomunikasikan ide perubahan, menyusun
strategi sehingga setiap komponen dalam organisasi akan bekerja dengan memperhatikan
keselamatan (Cahyono, 2008).
Mutu pelayanan sebagai hasil dari sebuah sistem dalam organisasi pelayanan kesehatan
dipengaruhi oleh komponen struktur dan proses. Organisasi (struktur dan budaya), manajemen,
sumber daya manusia, teknologi, peralatan, finansial adalah komponen dari struktur. Proses
pelayanan, prosedur tindakan, sistem informasi, sistem administrasi, sistem pengendalian,
pedoman merupakan komponen proses. Keselamatan pasien merupakan hasil interaksi antara
komponen struktur dan proses. Mutu pelayanan rumah sakit dapat dilihat dari segi aspek-aspek
sebagai berikut: aspek klinis (pelayanan dokter, perawat dan terkait teknis medis), aspek efisiensi
dan efektifitas pelayanan, keselamatan pasien dan kepuasan pasien (Donabedian 1988, dalam
Cahyono, 2008).
Hasil penelitian Dwiyanto (2007) dengan judul “penerapan hospital by laws dalam
meningkatkan patient safety di rumah sakit” mengungkapkan bahwa tujuan utama dari
keselamatan pasien adalah mencegah terjadinya cidera yang diakibatkan oleh kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak melaksanakan tindakan yang seharusnya diambil.
Tujuan tersebut dapat ditempuh dengan upaya peningkatan mutu pelayanan medis di rumah sakit
yang dilakukan secara gotong-royong oleh tenaga medis, staff kesehatan fungsional dengan
melakukan pelayanan medis yang bermutu. Pelaksanaan audit medis di rumah sakit merupakan
salah satu upaya yang efektif dan efisien untuk melakukan monitoring peningkatan kualitas
pelayanan.
Selain itu Perawat harus memahami betul pasien kelolahan di ruangan dan juga mengetahui
standar keselamatan pasien sesuai dengan uraian DepKes, sebagai berikut :
Standar Keselamatan Pasien RS (KARS – DepKes).
1. Hak pasien
2. Mendidik pasien dan keluarga
3. Keselamatan pasien dan asuhan berkesinambungan
4. Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja, untuk melakukan evaluasi dan
meningkatkan keselamatan pasien
5. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
6. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien.

2.2 Pentingnya Manajemen Risiko


Adapun beberapa manfaat dari manajemen resiko adalah sebagai berikut:
1. Keputusan yang lebih efektif
2. Efektivitas dalam pelaksanaan program-program atau kegiatan
3. Efektivitas pengalokasian dan penggunaan sumber daya
4. Standar yang tinggi dalam pelayanan pelanggan
5. Standar yang tinggi dalam akuntabilitas
6. Kreativitas dan inovasi dalam praktik manajemen
7. Peningkatan kapasitas
8. Peningkatan moral organisasi
9. Transparansi

2.3 Proses Manajemen Risiko


Adapun proses dari manajemen resiko (Hanafi, 2014) terdiri atas:
1) Identifikasi risiko
Identifikasi risiko dilakukan untuk mengidentifikasi risiko-risiko apa saja yang
dihadapi oleh suatu organisasi. Banyak risiko yang dihadapi oleh suatu organisasi, mulai
dari risiko penyelewengan oleh karyawan, risiko kejatuhan meteor atau komet, dan
lainnya. Ada beberapa teknik untuk mengidentifikasi risiko, misal dengan menelusuri
sumber risiko sampai terjadinya peristiwa yang tidak diinginkan.
2) Evaluasi dan Pengukuran Risiko
Tujuan evaluasi risiko adalah untuk memahami karakteristik risiko dengan lebih
baik. Jika kita memperoleh pemahaman yang lebih baik, maka risiko akan lebih mudah
dikendalikan. Evaluasi yang lebih sistematis dilakukan untuk ‘mengukur’ risiko
tersebut. Ada beberapa teknik untuk mengukur risiko tergantung jenis risiko tersebut.
Sebagai contoh kita bisa memperkirakan probabilitas (kemungkinan) risiko atau suatu
kejadian jelek terjadi.
Contoh lain adalah membuat matriks dengan sumbu mendatar adalah probabilitas
terjadinya risiko, dan sumbu vertikal adalah tingkat keseriusan konsekuensi risiko
tersebut (severity, atau besarnya kerugian yang timbul akibat risiko tersebut). Teknik
lain untuk mengukur risiko adalah dengan mengevaluasi dampak risiko tersebut
terhadap kinerja perusahaan.
3) Pengelolaan risiko
Setelah analisis dan evaluasi risiko, langkah berikutnya adalah mengelola risiko.
Risiko harus dikelola. Jika organisasi gagal mengelola risiko, maka konsekuensi yang
diterima bisa cukup serius, misal kerugian yang besar. Risiko bisa dikelola dengan
berbagai cara, seperti penghindaran, ditahan (retention), diversifikasi, atau ditransfer ke
pihak lainnya. Erat kaitannya dengan manajemen risiko adalah pengendalian risiko (risk
control), dan pendanaan risiko (risk financing).
a. Penghindaran.
Cara paling mudah dan aman untuk mengelola risiko adalah menghindar. Tetapi cara
semacam ini barangkali tidak optimal. Sebagai contoh, jika kita ingin memperoleh
keuntungan dari bisnis, maka mau tidak mau kita harus keluar dan menghadapi risiko
tersebut. Kemudian kita akan mengelola risiko tersebut.
b. Ditahan (Retention).
Dalam beberapa situasi, akan lebih baik jika kita menghadapi sendiri risiko tersebut
(menahan risiko tersebut, atau risk retention). Sebagai contoh, misalkan seseorang
akan keluar rumah membeli sesuatu dari supermarket terdekat, dengan menggunakan
kendaraan. Kendaraan tersebut tidak diasuransikan. Orang tersebut merasa asuransi
terlalu repot, mahal, sementara dia akan mengendarai kendaraan tersebut dengan hati-
hati. Dalam contoh tersebut, orang tersebut memutuskan untuk menanggung sendiri
(menahan, retention) risiko kecelakaan.
c. Diversifikasi.
Diversifikasi berarti menyebar eksposur yang kita miliki sehingga tidak
terkonsentrasi pada satu atau dua eksposur saja. Sebagai contoh, kita barangkali akan
memegang aset tidak hanya satu, tetapi pada beberapa aset, misal saham A, saham B,
obligasi C, properti, dan sebagainya. Jika terjadi kerugian pada satu aset, kerugian
tersebu diharapkan bisa dikompensasi oleh keuntungan dari aset lainnya.
d. Transfer Risiko.
Jika kita tidak ingin menanggung risiko tertentu, kita bisa mentransfer risiko tersebut
ke pihak lain yang lebih mampu menghadapi risiko tersebut. Sebagai contoh, kita bisa
membeli asuransi kecelakaan. Jika terjadi kecelakaan, perusahaan asuransi akan
menanggung kerugian dari kecelakaan tersebut.
e. Pengendalian Risiko
Pengendalian risiko dilakukan untuk mencegah atau menurunkan probabilitas
terjadinya risiko atau kejadian yang tidak kita inginkan. Sebagai contoh, untuk
mencegah terjadinya kebakaran, kita memasang alarm asap di bangunan kita. Alarm
tersebut merupakan salah satu cara kita mengendalikan risiko kebakaran.
f. Pendanaan Risiko
Pendanaan risiko mempunyai arti bagaimana ‘mendanai’ kerugian yang terjadi jika
suatu risiko muncul. Sebagai contoh, jika terjadi kebakaran, bagaimana menanggung
kerugian akibat kebakaran tersebut, apakah dari asuransi, ataukah menggunakan dana
cadangan. Isu semacam itu masuk dalam wilayah pendanaan risiko.
4. Risiko Yang Dapat Diasuransi
Risiko yang dapat diasuransikan adalah risiko yang dapat dipindahkan pada
perusahaan asuransi yang pada dasarnya adalah jenis risiko murni/statis merupakan risiko
yang dapat diasuransikan.
Persyaratan dari sudut pandang perusahaan asuransi :
1.Obyek pertanggungan harus cukup kuantitas dan kualitas
2.Kerugian yang terjadi secara kebetulan dan tidak disengaja
3.Kerugian harus dapat ditentukan dan diukur
4.Kerugian yang ditanggung tidak berkaitan dengan keadaan yang dapat
menimbulkan bencana besar.
Syarat Ideal Risiko yang Dapat Diasuransikan :
1. Kerugian potensial cukup besar sehingga layak secara ekonomis
2. Probabilitas kerugian dapat diperhitungkan
3.Terdapat sejumlah besar unit terbuka terhadap risiko yang sama (massal dan
homogen)
4. Kerugian yg terjadi bersifat kebetulan (fortuitous)
5. Kerugian tertentu (definitif)
6. Bukan risiko berupa bencana besar dan serentak (catastrope)
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Peningkatan mutu dan keselamatan pasien saling berhubungan, pemberian asuhan pasien
sesuai kebutuhan, dokter, perawat, tenaga bedah yang berkompeten, SDM sesuai kompetensi,
alat sesuai kebutuhan pasien, peralatan mendukung pasien safety dapat meningkatkan mutu
pelayanan. pelayanan bermutu diartikan sejauh mana realitas pelayanan kesehatan yang
diberikan sesuai dengan kriteria, standar profesional medis terkini, baik yang telah memenuh
iatau melebihi kebutuhan dan keinginan pelanggan dengan tingkat efisiensi yang optimal
sehingga petugas mudah untuk berbuat benar dan tidak mudah membuat kesalahan melalui
dukungan teknologi, kerjasama tim, komunikasi, SDM yang memenuhi syarat, supervisi,
standarisasi prosedur dan lainnya.
Dalam peningkatan mutu pelayanan untuk menghindarkan dari kesalahan yang mungkin
akan terjadi di pelayanan rumah sakit di haruskan seluruh SDM khususnya tenaga medis dan
paramedis membuat rancangan proses manajamen risiko dalam memberi pelayanan kesehatan
ke pasien untuk meminimalkan adanya kesalahan yang terjadi di proses pelayanan kesehatan
tersebut.

3.2 Saran
Saran penulis kepada pembaca yaitu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari pembaca demi kesempurnaan pembuatan paper selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

Darmawi, Herman., 2010. Manajemen Risiko. Bumi Aksara. Jakarta.


https://www.scribd.com/document/349593662/makalah-manajemen-resiko diaskes pada tanggal
21 Februari 2019
Silalahi, Bennett. 2012. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, PT. Pustaka Binaman P,
Jakarta.