Anda di halaman 1dari 27

PEMBENAHAN ALUR PELAKSANAAN PELAPORAN HASIL PIS-PK

PUSKESMAS KEPADA DINAS KESEHATAN KOTA SEMARANG

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN INSTITUSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk menyelesaikan Tugas Mata Kuliah
Praktik Kerja Lapangan (PKL) Institusi

Disusun oleh:

Ais Dafitri

NIM. 6411415066

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2018

12
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT atas kehadirat-Nya, sehingga Laporan Hasil

Praktik Kerja Lapangan Institusi dapat selesai sebagaimana yang diharapkan.

Adapun penyusunan laporan hasil Praktik Kerja Lapangan Institusi ini adalah

salah satu syarat yang harus dipenuhi, dan merupakan rangkaian dari mata kuliah

pada Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Negeri Semarang.

Dalam penyusunan laporan hasil Praktik Kerja Lapangan Institusi ini,

terdapat berbagai hambatan dan tantangan. Namun hal itu tidak mengurangi

semangat dalam melaksanakan rangkaian kegiatan dalam mengamati kegiatan di

Subbagian Pelayanan Kesehatan . Sehingga, hasil pengamatan kegiatan tersebut

disusun dalam bentuk laporan akhir.

Sebagai manusia biasa, terdapat kesadaran bahwa laporan yang disusun ini

masih jauh dari kesempurnaan, mengingat terbatasnya kemampuan yang dimiliki.

Karena itu saran, bimbingan, serta kritikan yang sifatnya membangun sangat

diharapkan.

Tidak lupa, ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya disampaikan

kepada :

1. Ketua Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Negeri Semarang,

Bapak Irwan Budiono, S.K.M., M.Kes(Epid) atas persetujuan dan arahan

dalam kegiatan Praktik Kerja Lapangan Institusi.

13
2. Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang , Bapak Slamet Budiyanto, S.K.M.,

M.Kes atas persetujuan dan arahan dalam kegiatan Praktik Kerja Lapangan

Institusi.

3. Pembimbing Akademik Praktik Kerja Lapangan Institusi, Bu Nur Siyam,

S.K.M., M.Kes., atas petunjuk dan bimbingan dalam penyusunan laporan

Praktik Kerja Lapangan Institusi.

4. Pembimbing Lapangan Praktik Kerja Lapangan institusi, Bu dr. Tuti

Widayanti, S.K.M., M.Kes., atas bimbingan dan arahan selama kegiatan dan

penyusunan laporan Praktik kerja Lapangan Institusi.

5. Kepala Subbagian Pelayanan Kesehatan , Bu Mei Lestariningrum, S.K.M.,

M.Kes atas arahan selama kegiatan Praktik Kerja Lapangan Institusi.

6. Segenap staf dan karyawan Subbagian Pelayanan Kesehatan atas bantuan

selama kegiatan Praktik Kerja Lapangan Institusi.

Diharapkan laporan ini dapat bermanfaat.

Semarang, 20 November 2018

Penyusun

14
DAFTAR ISI

15
DAFTAR TABEL

16
DAFTAR GAMBAR

17
DAFTAR LAMPIRAN

18
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah upaya yang dilaksanakan

oleh semua komponen Bangsa Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan

kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud

derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi

pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis.

Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh kesinambungan

antar upaya program dan sektor, serta kesinambungan dengan upaya-upaya yang

telah dilaksanakan oleh periode sebelumnya (Kemenkes, 2015).

Pembangunan kesehatan di Indonesia mengacu pada Sistem Kesehatan

Nasional (SKN) tahun 2012, yang memiliki visi dan misi pencapaiaan pemenuhan

hak asasi manusia. Pengelolaan kesehatan yang diselenggarakan oleh komponen

bangsa Indonesia harus secara terpadu saling mendukung untuk tercapainya

derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Pelaksanaan SNK tahun

2012 tersebut, dituangkan pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang

Kesehatan tahun 2005-2025 (RPJK-K) dan sinergis dengan Sembilan Agenda

Perubahan (Nawacita) Kabinet kerja tahun 2015-2019, khususnya dalam bidang

kesehatan.

Program pembangunan kesehatan Indonesia salah satunya adalah Program

Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK). Program pembangunan

19
kesehatan Indonesia mengacu pada 3 (tiga) pilar Program Indonesia Sehat yaitu

mengedepankan paradigma sehat, penguatan pelayanan kesehatan dan pemenuhan

universal health coverage melalui Jaminan Kesehatan Nasional. Pelaksanaan tiga

pilar Program Indonesia Sehat tersebut mempunyai target sasaran seluruh usia

(total coverage) mengikuti siklus kehidupan (life cycle) sehingga integrasi

pelaksanaan pelayanan kesehatan dapat dilakukan lebih efektif jika melalui

pendekatan keluarga.

Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) ini

mengintegrasi pelaksanaan program melalui pendekatan 6 komponene utama

dalam penguatan system kesehatan, yaitu penguatan upaya pelayanan kesehatan,

ketersediaan tenaga kesehatan, system informasi kesehatan, akses terghadap

ketersediaan obat esensisal, pembiayaan dan kepemimpinan atau pemerintahan.

Pelaksanaan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-

PK) ditekankan pada integrasi pendekatan akses pelayanan kesehatan,

ketersediaan tenaga kesehatan, pembiayaan serta sarana dan prasarana termasuk

program upaya kesehatan masyarakat, dan perseorangan yang mencakup seluruh

keluarga dalam wilayah kerja puskesmas dengan memperhatikan manajemen

puskesmas. Agar kegiatan PIS-PK dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan

target pencapaiannnya maka diperlukan alur atau system pelaporan hasil dari PIS-

PK yang efektif sehingga akan selesai pada target yang telah ditentukan.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat di rumuskan,

20
1.2.1

1.3 TUJUAN

1.4 MANFAAT

1.5 RUANG LINGKUP

21
BAB II
ANALISIS SITUASI

2.1 ANALISIS SITUASI MASALAH

2.1.1 Profil Kota Semarang

Kota Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah, Indonesia sekaligus

kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia setelah Jakarta,

Surabaya, Bandung, dan Medan. Sebagai salah satu kota paling berkembang di

Pulau Jawa, Kota Semarang mempunyai jumlah penduduk yang hampir mencapai

2 juta jiwa. Bahkan, Area Metropolitan Kedungsapur (Kendal, Demak,

Ungaran Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Purwodadi Grobogan) dengan

penduduk sekitar 6 juta jiwa, merupakan Wilayah Metropolis terpadat ke 4,

setelah Jabodetabek (Jakarta), Gerbang kertosusilo (Surabaya),

dan Bandung Raya. Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan Semarang

ditandai pula dengan munculnya beberapa gedung pencakar langit di beberapa

sudut kota. Sayangnya, pesatnya jumlah penduduk membuat kemacetan lalu lintas

di dalam Kota Semarang semakin parah. Kota Semarang dipimpin oleh wali

kota Hendrar Prihadi, S.E, M.M. Kota ini terletak sekitar 466 km sebelah

timur Jakarta, atau 312 km sebelah barat Surabaya, atau 624 km sebalah barat

daya Banjarmasin (via udara). Semarang berbatasan dengan Laut Jawa di

utara, Kabupaten Demak di timur, Kabupaten Semarang di selatan,

dan Kabupaten Kendal di barat. Luas Kota 373.67 km2

22
2.1.2 Profil Dinas Kesehatan Kota Semarang

2.1.2.1 Lokasi Dinas Kesehatan Kota Semarang

Dinas Kesehatan Kota Semarang terletak di Jl. Inspeksi Gajahmada Mg

Setos Lantai 7 Semarang.

2.1.2.2 Gambaran Umum

2.1.2.2.1 Visi dan Misi

Visi :

Terwujudnya Pelayanan Kesehatan Masyarakat Kota Semarang Yang

terbaik se-Jawa Tengah Tahun 2021

Misi :

1. Meningkatkan pelayanan kesehatan dengan sumber daya manusia

kesehatan yang handal & berprestasi

2. Meningkatkan upaya pencegahan penyakit dan promosi kesehatan

3. Mengembangkan kemitraan dan menggerakkan masyarakat untuk hidup

sehat

4. Mengembangkan keunggulan teknologi informasi

23
2.1.2.2.2 Tugas pokok dan fungsi dinas kesehatan kota Semarang

a. Tugas dan fungsi Dinas kesehatan Kota

Tugas :

membantu Bupati/Wali Kota melaksanakan Urusan Pemerintahan di bidang

kesehatan yang menjadi kewenangan Daerah dan Tugas Pembantuan yang

diberikan kepada Daerah Kabupaten/Kota.

Fungsi:

1) Perumusan kebijakan di bidang kesehatan masyarakat, pencegahan dan

pengendalian penyakit, pelayanan kesehatan, kefarmasian, alat kesehatan

dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) serta sumber daya

kesehatan;

2) Pelaksanaan kebijakan di bidang kesehatan masyarakat, pencegahan dan

pengendalian penyakit, pelayanan kesehatan, kefarmasian, alat kesehatan

dan perbekalan kesehatan rumah tangga (PKRT) serta sumber daya

kesehatan;

3) Pelaksanaan evalusasi dan pelaporan di bidang kesehatan masyarakat,

pencegahan dan pengendalian penyakit, pelayanan kesehatan, kefarmasian,

alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga (PKRT) serta

sumber daya kesehatan;

4) Pelaksanaan administrasi dinas sesuai dengan lingkup tugasnya; dan

5) Pelaksanaan fungsi lain yang di berikan oleh Kepala Daerah terkait dengan

bidang kesehatan.

24
b. Tugas dan Fungsi Sekretariat

Tugas:

Melaksanakan koordinasi, pelaksanaan dan pemberian dukungan administrasi

kepada seluruh unsur organisasi di lingkungan Dinas Kesehatan Daerah.

Fungsi:

1) Penyiapan perumusan kebijakan operasional tugas administrasi di

lingkungan Dinas Kesehatan Daerah;

2) Koordinasi pelaksanaan tugas dan pemberian dukungan administrasi

kepada seluruh unsur organisasi di lingkungan Dinas Kesehatan Daerah;

3) Pemantauan, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas administrasi di

lingkungan Dinas Kesehatan Daerah; dan

4) Pengelolaan aset yang menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan Daerah.

Sekretariat terdiri dari:

1) Subbagian Program, Informasi dan Hubungan Masyarakat

Tugas:

Penyiapan dan koordinasi penyusunan rumusan program dan informasi

serta penatalaksanaan hubungan masyarakat yang menjadi tanggung jawab Dinas

Kesehatan Daerah.

2) Subbagian Keuangan dan Pengelolaan Aset

Tugas:

Penyiapan dan koordinasi penyelenggaraan urusan keuangan dan

pengelolaan asset yang menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan Daerah.

25
3) Subbagian Hukum, Kepegawaian, dan Umum

Tugas:

Penyiapan dan koordinasi penatalaksanaan hukum, kepegawaian dan

dukungan administrasi umum yang menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan

Daerah.

c. Tugas dan Fungsi Bidang Kesehatan Masyarakat

Tugas:

Melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional di

bidang kesehatan keluarga, gizi masyarakat, promosi kesehatan, pemberdayaan

masyarakat, kesehatan lingkungan, kesehatan kerja dan olah raga.

Fungsi:

1) Penyiapan perumusan kebijakan operasional di bidang kesehatan keluarga,

gizi masyarakat, promosi kesehatan, pemberdayaan masyarakat, kesehatan

lingkungan, kesehatan kerja dan olah raga;

2) Penyiapan pelaksanaan kebijakan operasional di bidang kesehatan

keluarga, gizi masyarakat, promosi kesehatan, pemberdayaan masyarakat,

kesehatan lingkungan, kesehatan kerja dan olah raga;

3) Penyiapan bimbingan teknis dan supervisi di bidang kesehatan keluarga,

gizi masyarakat, promosi kesehatan, pemberdayaan masyarakat, kesehatan

lingkungan, kesehatan kerja dan olah raga; dan

26
4) Pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang kesehatan keluarga, gizi

masyarakat, promosi kesehatan, pemberdayaan masyarakat, kesehatan

lingkungan, kesehatan kerja dan olah raga.

Bidang Kesehatan Masyarakat terdiri dari:

1) Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat

Tugas:

Penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional, bimbingan teknis

dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang kesehatan

keluarga dan gizi masyarakat.

2) Seksi Promosi dan Pemberdayaan Masyarakat

Tugas:

Penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional, bimbingan teknis

dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang promosi dan

pemberdayaan masyarakat.

3) Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olah Raga

Tugas:

Penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional, bimbingan teknis

dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang kesehatan

lingkungan, kesehatan kerja dan olah raga.

d. Tugas dan Fungsi Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit

Tugas:

27
Melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional di

bidang surveilans dan imunisasi, pencegahan dan pengendalian penyakit menular,

pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular dan kesehatan jiwa.

Fungsi:

1) Penyiapan perumusan kebijakan operasional di bidang surveilans dan

imunisasi, pencegahan dan pengendalian penyakit menular, pencegahan

dan pengendalian penyakit tidak menular dan kesehatan jiwa;

2) Penyiapan pelaksanaan kebijakan operasional di bidang surveilans dan

imunisasi, pencegahan dan pengendalian penyakit menular, pencegahan

dan pengendalian penyakit tidak menular dan kesehatan jiwa;

3) Penyiapan bimbingan teknis dan supervisi di bidang surveilans dan

imunisasi, pencegahan dan pengendalian penyakit menular, pencegahan

dan pengendalian penyakit tidak menular dan kesehatan jiwa; dan

4) Pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang surveilans dan imunisasi,

pencegahan dan pengendalian penyakit menular, pencegahan dan

pengendalian penyakit tidak menular dan kesehatan jiwa.

Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit terdiri dari:

1) Seksi Surveilans dan Imunisasi

Tugas:

28
Penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional, bimbingan teknis

dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang surveilans dan

imunisasi.

2) Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular

Tugas:

Penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional, bimbingan teknis

dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang pencegahan

dan pengendalian penyakit menular.

3) Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan

Jiwa

Tugas:

Penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional, bimbingan teknis

dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang pencegahan

dan pengendalian penyakit tidak menular dan kesehatan jiwa.

e. Tugas dan Fungsi Bidang Pelayanan Kesehatan

Tugas:

Melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional di

bidang pelayanan kesehatan primer dan pelayanan kesehatan rujukan termasuk

peningkatan mutunya, serta pelayanan kesehatan tradisional.

Fungsi:

1) Penyiapan perumusan kebijakan operasional di bidang pelayanan

kesehatan primer dan pelayanan kesehatan rujukan termasuk peningkatan

mutunya, serta pelayanan kesehatan tradisional;

29
2) Penyiapan pelaksanaan kebijakan operasional di bidang pelayanan

kesehatan primer dan pelayanan kesehatan rujukan termasuk peningkatan

mutunya, serta pelayanan kesehatan tradisional;

3) Penyiapan bimbingan teknis dan supervisi di bidang pelayanan kesehatan

primer dan pelayanan kesehatan rujukan termasuk peningkatan mutunya,

serta pelayanan kesehatan tradisional; dan

4) Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pelayanan kesehatan

primer dan pelayanan kesehatan rujukan termasuk peningkatan mutunya,

serta pelayanan kesehatan tradisional.

Bidang Pelayanan Kesehatan terdiri dari:

1) Seksi Pelayanan Kesehatan Primer

Tugas:

Penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional, bimbingan teknis

dan supervisi, pemantauan, evaluasi dan pelaporan serta peningkatan mutu

fasyankes di bidang pelayanan kesehatan primer.

2) Seksi Pelayanan Kesehatan Rujukan

Tugas:

Penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional, bimbingan teknis

dan supervisi, pemantauan, evaluasi dan pelaporan serta peningkatan mutu

fasyankes di bidang pelayanan kesehatan rujukan.

3) Seksi Pelayanan Kesehatan Tradisional

Tugas:

30
Penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional, bimbingan teknis

dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang pelayanan

kesehatan tradisional.

f. Tugas dan Fungsi Bidang Sumber Daya Kesehatan

Tugas:

Melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional di

bidang kefarmasian, alat kesehatan dan PKRT serta sumber daya manusia

kesehatan.

Fungsi:

1) Penyiapan perumusan kebijakan operasional di bidang kefarmasian, alat

kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga (PKRT) serta sumber

daya manusia kesehatan;

2) Penyiapan pelaksanaan kebijakan operasional di bidang kefarmasian, alat

kesehatan dan PKRT serta sumber daya manusia kesehatan;

3) Penyiapan bimbingan teknis dan supervisi di bidang kefarmasian, alat

kesehatan dan PKRT serta sumber daya manusia kesehatan; dan

4) Pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang kefarmasian, alat kesehatan

dan PKRT serta sumber daya manusia kesehatan.

Bidang Sumber Daya Kesehatan terdiri dari:

1) Seksi Kefarmasian

Tugas:

31
Penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional, bimbingan teknis

dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang pelayanan

kefarmasian.

2) Seksi Alat Kesehatan dan PKRT

Tugas:

Penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional, bimbingan teknis

dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang alat kesehatan

dan PKRT.

3) Seksi Sumber Daya Manusia Kesehatan

Tugas:

Penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan operasional, bimbingan teknis

dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang sumber daya

manusia kesehatan.

2.2 ANALISIS SITUASI KHUSUS

2.2.1 Sub Bagian Pelayanan Kesehatan

Sub bagian pelayanan kesehatan di dinas kesehatan kota semarang

membawahi 4 seksi yaitu ………

32
BAB III
IDENTIFIKASI MASALAH

3.1 IDENTIFIKASI MASALAH

Berdasarkan hasil observasi melalui pengamatan terhadap kegiatan Praktik

Kerja Lapangan yang berlangsung di Subbagian Pelayanan Kesehatan Dinas

Kesehatan Kota Semarang, maka didapatkan berbagai permasalahan, diantaranya:

1. Pelaksanaan alur pelaporan data hasil PIS-PK dari Puskesmas ke Dinas

kesehatan kota semarang yang belum efektif

2. Banyak puskesmas yang tidak hadir ketika kegiatan pelaporan .

3.2 PRIORITAS MASALAH

1.1 Penetapan Prioritas Masalah

Penetapan prioritas masalah dilakukan terhadap masalah yang telah

diidentifikasi. Adapun metode yang digunakan untuk menentukan prioritas

masalah, yaitu dengan metode Hanlon Kuantitatif. Hanlon Kuantitatif

memberikan cara untuk membandingkan berbagai masalah kesehatan dengan cara

yang relatif, tidak absolut/mutlak, memiliki kerangka, sebisa mungkin

sama/sederajat, dan objektif.

33
Metode ini, yang disebut dengan Metode Hanlon maupun Sistem Dasar

Penilaian Prioritas (BPRS), dijelaskan dalam buku Public Health: Administration

and Practice (Hanlon and Pickett, Times Mirror/Mosby College Publishing) dan

Basic Health Planning (Spiegel and Hyman, Aspen Publishers).

Metode ini memiliki tiga tujuan utama:

 Identifikasi faktor-faktor yang dapat diikut sertakan dalam proses

penentuan masalah;

 Mengelompokkan faktor-faktor yang ada dan memberi bobot terhadap

kelompok faktor;

 Memungkinkan anggota untuk mengubah faktor dan nilai sesuai

kebutuhannya.

Penggunaan metoda Hanlon diiakukan menggunakan 4 kriteria:

 Kelompok kriteria A yaitu besamya masalah (magnitude);

 Kelompok kriteria B yaitu tingkat kegawatan masalah

(emergency/seriousness);

 Kelompok kriteria C yaitu kemudahan penanggulangan masalah

(causability);

 Kelompok kriteria D yaitu dapat atau tidaknya program dilaksanakan

menggunakan istilah PEARL faktor.

3.3 IDENTIFIKASI PENYEBAB MASALAH

3.4 PRIORITAS PENYEBAB MASALAH

19
20
BAB IV
PENYELESAIAN MASALAH

4.1 ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

Berdasarkan analisa prioritas masalah dengan menggunakan metode

Hanlon Kuantitatif didapatkan permasalahan, yaitu Perbedaan entryan DHA

(District Health Account) kasir kegiatan. Maka dari itu diperlukan alternatif

pemecahan masalah yang dapat mengatasi permasalahan tersebut. Berikut adalah

beberapa alternatif solusi yang dapat digunakan untuk menyelesaikan

permasalahan tersebut:

1. Pembuatan panduan entry data DHA dalam bentuk booklet, yang bertujuan

agar kasir kegiatan di setiap bidang tidak terjadi kesalahan dalam proses

entry data;

2. Sosialisasi atau workshop disemua bidang untuk kasir kegiatan terkait

entry data dalam sistem DHA agar tidak terjadi kesalahan entry data;

4.2 PRIORITAS PEMECAHAN MASALAH

Penentuan prioritas pemecahan masalah ditentukan dengan menggunakan

metode CARL. Metode CARL merupakan akronim dari aspek Capability,

Accessibility, Readiness, dan Leverage.

21
1. Capability meliputi ketersediaan sumber daya baik manusia, dana, maupun

sarana prasana terhadap pemecahan masalah yang dipilih.

2. Accessibility merupakan kemudahan solusi untuk dilaksanakan.

3. Readiness merupakan kesiapan dari tenaga pelaksana maupun kesiapan

sasaran, seperti keahlian atau kemampuan dan motivasi.

4. Leverage merupakan seberapa besar pengaruh kriteria yang satu dengan

yang lain dalam pemecahan masalah yang dibahas.

Adapun langkah-langkah dalam penyusunan prioritas pemecahan masalah

yaitu:

1. Masalah atau alternatif pemecahan masalah diidentifikasi.

2. Dibuat tabel kriteria CARL dan diisi skornya.

3. Kriteria diberi skor 0-10.

4. Bila ada beberapa pendapat tentang nilai skor yang diambil adalah rerata.

5. Nilai total merupakan hasil perkalian: C x A x R x L

4.3 INTERVENSI

4.4 EVALUASI INTERVENSI

4.5 PEMBAHASAN

22
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

5.2 Saran

23