Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA KOMPUTASI
STABILITAS KARBOKATION DAN HIPERKONJUGASI

Disusun oleh:
1. Ahmad Taupik (F1C113025)
2. Dwi Wahyu Ramadhan (F1C113003)
3. Fahrur Razi (F1C1130)
4. Zainudin Alamsyah (F1C1130)

PROGRAM STUDI KIMIA


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS JAMBI
2015
LAPORAN 1
Stabilitas Karbokation dan Hiperkonjugasi

I. Tujuan

Adapun tujuan dilakukannya praktikum kali ini adalah untuk mengkaji


stabilitas beberapa karbokation dan pengaruh hiperkonjugasi terhadap panjang
ikatan dan kerapatan muatan menggunakan perhitungan semiempiris AM1.

II. Latar belakang

Karbokation menunjukkan satu dari sangat penting dan sering dijumpai dari
jenis zat antara yang terlibat dalam reaksi senyawa organik. Stabilitas relatif
karbokation dapat dijadikan indikasi untuk keberadaanya dalam reaksi yang
sedang berlangsung. Banyak cara untuk menjelaskan kestabilan karbokation, salah
satunya adalah hiperkonjugasi.
Hiperkonjugasi melibatkan tumpang tindih antara suatu ikatan (orbital ikatan)
dengan orbital p yang kosong yang terdapat pada atom karbon bermuatan positif
(lihat gambar dibawah). Walaupun gugus alkil yang terikat pada atom karbon
positif tersebut dapat berputar, satu dari ikatan sigma selalu sebidang dengan
orbital p kosong pada karbokation. Pasangan elektron pada ikatan sigma ini
disebarkan ke orbital orbital p kosong sehingga menstabilkan atom karbon yang
kekurangan elektron.
Kita dapat memikirkan fenomena hiperkonjugasi seperti yang kita jumpai
dalam bentuk klasik. Sebagai contoh bahwa isopropyl kation distabilkan oleh
hiperkonjugasi menghasilkan beberapa bentuk resonansi seperti dinyatakan dalam
bentuk berikut :

Hiperkonjugasi akan meningkatkan order ikatan dari ikatan CC (lebih bersifat


ikatan rangkap) dan akan berakibat memendekkan ikatan CC. Perlu ditekankan
juga bahwa akan terjadi fenomena melemahnya dan memanjangnya ikatan CH
yang dinyatakan dengan kerapatan elektron pada orbital p kosong. Akhirnya
muatan positif yang signifikan dipindahkan kepada atom H yang terlibat dalam
hiper-konjugasi.

III. Landasan teori

Karbokation atau ion karbonium merupakan suatu spesi yang memiliki atom
karbon dengan muatan positif. Pada suatu karbokation, atom karbon yang
bermuatan positif berikatan dengan tiga atom lainnya dan tidak memiliki elektron
nonbonding, sehingga hanya memiliki enam elektron pada kulit valensinya.
Karbokation terhibridisasi sp2, dengan struktur planar dan sudut ikatan sekitar 120o.
Sebagai contoh, kation metil berbentuk planar, dengan sudut ikatan tepat 120 o.
Orbital p yang tidak terhibridisasi kosong dan berada tegak lurus dengan bidang
ikatan C-H. Struktur CH3+ mirip dengan struktur BH3. Dengan hanya enam
elektron dalam kulit valensi karbon positif, karbokation merupakan elektrofil kuat
(asam Lewis), dan dapat bereaksi dengan nukleofil apapun. Karbokation berperan
sebagai intermediet dalam banyak reaksi organik, contohnya reaksi SN1, E1.
Atom karbon ini berikatan sigma dengan orbital s hidrogen. Serupa dengan
radikal bebas, karbokation merupakan spesi yang kekurangan elektron (electron-
deficient). Keduanya sama-sama memiliki enam elektron dalam kulit valensi.
Selain itu, karbokation juga terstabilisasi oleh substituen alkil. Gugus alkil
menstabilisasi karbokation yang kekurangan elektron dengan dua cara: (1) melalui
efek induksi dan (2) melalui overlap orbital yang telah terisi ke orbital kosong
(hiperkonjugasi). Efek induksi merupakan donasi densitas elektron melalui ikatan
sigma molekul. Atom karbon yang bermuatan positif menarik sebagian densitas
elektron dari gugus alkil terpolarisasi yang berikatan dengan karbokation.

Poin kedua untuk mengeksplorasi melibatkan stabilitas karbokation. 2-


methylpropene mungkin bereaksi dengan H1 untuk membentuk karbokation
memiliki tiga substituen alkil (ion tersier, 3 °), atau mungkin bereaksi membentuk
karbokation memiliki satu alkil substituen (ion utama, 1 °). Karena alkil klorida
tersier, 2-kloro-2-metilpropana, adalah satu-satunya produk yang diamati,
pembentukan kation tersier jelas disukai lebih pembentukan kation utama.
Pengukuran termodinamika menunjukkan bahwa, memang, stabilitas karbokation
meningkat dengan meningkatnya substitusi sehingga urutan stabilitas tersier >
sekunder > primer > metil.

Distribusi muatan dalam molekul lebih stabil daripada muatan yang lebih
lokal. Telah ditentukan secara eksperimental bahwa ikatan ganda satu kelompok
vinil yang berdekatan menyediakan sekitar sebanyak stabilisasi dua gugus alkil.
Dengan demikian, kation alil dan 2 ° isopropil kation yang stabilitas sebanding.
Klasifikasi kation allylic sebagai 1 °, 2 °, dan 3 ° ditentukan oleh lokasi dari
muatan positif dalam struktur kontribusi lebih penting. berikut ini adalah contoh 2
° dan 3 ° karbokation allylic.

Hiperkonjugasi Merupakan delokalisasi yang melibatkan elektron σ.


Hiperkonjugasi di atas dapat dipandang sebagai overlap antara orbital σ ikatan C-
H dengan orbital π ikatan C=C, analog dengan overlap π-π. Hiperkonjugasi disebut
juga resonansi tanpa ikatan. Secara singkat efek hiperkonjugasi merupakan
perubahan dari suatu ikatan C-H menjadi ikatan C=C atau C≡C oleh Hα.
Hiperkonjugasi dapat meningkatakan kestabilan molekul dengan semakin
banyaknya Hα maka suatu molekul tersebut akan semakin stabil. Contoh:
Jika suatu karbon yang mengikat atom hydrogen dan terikat pada atom tak
jenuh atau pada satu atom yang mempunyai orbital bukan ikatan maka untuknya
dapat dituliskan bentuk kanonik seperti diatas. Di dalam bentuk kanonik seperti itu
sama sekali tidak ada ikatan antara karbon dengan ion hidrogen, dan resonansi
seperti itu disebut resonansi tanpa ikatan. Hidrogen tidak pergi (karena resonansi
tersebut bukanlah suatu hal yang nyata melainkan hanya bentuk kanonik yang
berkontribusi ke struktur molekul nyata). Efek struktur diatas pada molekul nyata
adalah elektron dalam C-H lebih dekat ke karbon daripada jika struktur
diatas tidak berkontribusi.

IV. Prosedur Percobaan


1. Gunakan menu draw untuk menggambarkan isobutana.
2. Klik build dan kemudian add H & Model Build.
3. Gunakan menu selection dan hapus atom H sesuai dengan karbon kation yang
akan digambar.
4. Klik setup dan kemudian semi empiris.
5. Klik AM1 dan kemudian Options.
6. Atur Total charge pada 1 dan spin Multiplicity pada 1 (semua spin
terpasangkan).
7. Lakukan optimasi dengan memilih compute dan kemudian Geometry
Optimization.
8. Setelah perhitungan selesai, catat panas pembentukannya.
V. Data pengamatan

1. Panjang ikatan

Panjang Ikatan Panjang Ikatan Sudut terhadap Energi


Karbokation C-C (A) Csp3- H (A) Csp2(o) Pembentukan
(kj/mol)
C1-C2 =1.45531 C1-H6=1.12367 C1C2C3=119, 992
t-butil C2-C3=1.45527 C1-H7=1.13393 C1C2C4=119,9921 -977.8583
C2-C4=1.45529 C1-H5=1.12367 C3C2C4=119,995
C1-C2=1.43812 C1-H5=1.13712 C1C2C3=123.291
C2-C3= 1.44354 C1-H6=1.13273 C1C2C4=114,870
C3-C4= 1.50878 C1-H7=1.12084 C1C2H6= 121,444
C1C2H5= 109.104
C1C2H7= 114.434
Sek-butil C2C1H8=118.334 -968.6557
C2C3H9= 107,011
C2C3H10= 110,624
C3C4H13= 111,352
C3C4H12= 110.84
C3C4H11= 109.545
C1-C2=1.42302 C2-H7=1.13051
C2-C3=1.53086 C2-H8=1.13011 C1C2H7=110.074
C2-C4=1.5029 C1C2H6= 121.58
C1C2H5= 121.291
C2C3H8= 118.345
n-butil -949.5129
C2C3H9= 109.335
C2C3H10= 109.864
C3C4H13= 111.12
C3C4H12= 109.539
C3C4H11= 111.072

2. Kerapatan muatan tiap karbokation

t-butil Sek-butil n-butil


C1= -0.319 C1= -0.337 C2= -0.312
C1-H5=0.169 C1-H5=0.217 C2-H7=0.191
C1-H6=0.201 C1-H6=0.160 C2-H8=0.191
C1-H7=0.169 C1-H7=0.204
C3=-0.260
C3-H9=0.218
C3-H10=0.198
VI. Pembahasan
Percobaan ini bertujuan untuk menyelidiki stabilitas beberapa karbokation dan
pengaruh hiperkonjugasi terhadap panjang ikatan dan kerapatan muatan
menggunakan perhitungan semi empiris AM1. Biasanya perhitungan yang sering
digunakan adalah ab initio dan semiempiris. Ab initio mengacu pada perhitungan
mekanika kuantum melalui beberapa pendekatan matematis, seperti penggunaan
persamaan yang disederhanakan (Born-Oppenheimer approximation) atau
pendekatan untuk penyelesaian persamaan differensial. Metoda ini merupakan
perhitungan variasional, yang berarti bahwa energy pendekatan terhitung adalah
sama atau lebih tinggi daripada energy eksaknya.
Perhitungan semiempiris disusun dengan cara yang secara umum sama
dengan perhitungan HF. Beberapa perhitungan, seperti integral elektron ganda
diselesaikan dengan cara pendekatan atau sama sekali dihilangkan. Dalam rangka
mengoreksi kesalahan perhitungan akibat penghilangan sebagian dari perhitungan
HF, metoda ini diparameterisasi dengan cara fitting kurva untuk menghasikan
beberapa parameter atau angka agar dapat memberikan kesesuaian dengan data
eksperimen. Sisi baik dari perhitungan semiempiris adalah mereka lebih cepat
daripada perhitungan ab initio.
Perhitungan semiempiris telah sangat sukses dalam menjelaskan masalah di
bidang kimia organik yang hanya mengandung beberapa unsur secara ekstensif
dan molekul dengan ukuran yang sedang. Perhitungan semiempiris AM1 ini lebih
mudah dan cepat dalam mengelolah data perhitungan dibandingkan dengan
metode ab initio. Metode ini digunakan untuk mencari panjang ikatan, sudut
ikatan, dan energi ikatan dari molekul yang dianalisis. Adapun molekul yang
dianalisis dalam percobaan ini adalah t-butil, sec-butil dan n butyl.

Untuk kestabilan karbokation baik dari t-butil, sek-butil dan n-butil


mempunyai kestabilan yang berbeda. Pada percobaan yang pertama kita bisa lihat
bahwa urutan stabilitas alkil karbokation adalah tersier > sekunder > primer >
metil. Hal ini dikarenakan elektron tidak berpasangan dapat terdelokalisasi lebih
dari satu sistem orbital phi yang extended, sehingga allylic dan karbokation
benzilik yang luar biasa sangat stabil. Hiperkonjugasi disebut juga resonansi tanpa
ikatan. Secara singkat efek hiperkonjugasi merupakan perubahan dari suatu ikatan
C-H menjadi ikatan C=C atau C≡C oleh Hα. Hiperkonjugasi dapat meningkatakan
kestabilan molekul dengan semakin banyaknya Hα maka suatu molekul tersebut
akan semakin stabil.

Panjang ikatan C-H yang terlibat hiperkonjugasi akan bernilai lebih besar
daripada yang tidak terlibat konjugasi. Hiperkonjugasi akan memanjangkan ikatan
C-H yang ditandai perubahan kerapatan elektron pada orbital p. Atom H yang
terlibat hiperkonjugasi akan selalu ditarik oleh orbital p kosong. Akibat dari
tarikan ini maka atom H akan lebih menjauh dari atom C dan akan
memperpanjang ikatannya. Muatan pada atom H yang terlibat hiperkonjugasi akan
lebih besar daripada yang tidak mengalami hiperkonjugasi.karena muatan positif
pada atom karbon dipindahkan ke atom H yang terlibat hiperkonjugasi.
Hal ini dapat dilihat dari data yang diperoleh kerapatan dari t-butil pada C 1-H5
= 0.169, pada sek-butil kerapatan dari C1-H5 = 0.217 dan untuk ikatan n-butyl
kerapatan dari ikatan C dan H pada C2-H7=0.191. Dari data ini dapat dilihat bahwa
ternyata hiperkonjungsi dari senyawa n-butil lebih besar dibandingkan dengan ter-
butil dan sek-butil sehingga atom H yang menjauh dari atom C pada n-butil
semakin besar dan kerapatannya lebih besar dibandingkan dengan yang lainnya.

Hiperkonjugasi akan meningkatkan order ikatan dari ikatan C-C dan akan
berakibat terjadinya pemendekkan ikatan C-C. Panjang ikatan C-C yang terlibat
hiperkonjugasi lebih pendek daripada yang tidak terlibat hiperkonjugasi. Hal ini
dikarenakan hiperkonjugsi yang melibatkan tumpang tindih antara suatu ikatan
dengan orbital p yang kosong yang terdapat pada atom karbon yang bermuatan
positif. Satu ikatan sigma pada gugus alkil selalu sebidang dengan orbital p kosong
pada karbokation. Pasangan elektron pada ikatan sigma ini disebarkan ke orbital p
kosong sehingga menstabilkan atom karbon yang kekurangan elektron.
Sudut ikatan pada senyawa yang dianalisa dalam percobaan ini diperoleh dari
menghubungkan 3 ikatan karbon yang berbeda. Sudut terhadap Csp 2 pada
karbokation t-butil lebih kecil dibandingkan pada karbokation sek-butil dan n-
butil. Karena pada karbokation sek-butil terjadi deviasi sudut ikatan, dimana atom
C yang terlibat hiperkonjugasi mengalami tarikkan sehingga sudutnya menjadi
lebih besar dari hibridisasi. Sedangkan untuk atom C yang tidak terlibat
hiperkonjugasi tidak mengalami tarikkan dengan antar atom C.

Pada sek-butil yang terlibat hiperkonjugasi hanya 2 atom C dan ada satu
gugus alkil yang tidak terlibat dalam hiperkonjugasi. Sedangkan pada n-butil
hanya satu gugus alkil yang terlibat dalam hiperkonjugasi. Sehingga pada t-butil
pasangan elektron ketiga gugus alkilnya tumpang tindih dengan orbital p yang
kosong pada atom C bermuatan positif. Dan ini juga yang menstabilkan atom
karbon yang bermuatan negatif. Sedangkan pada n-butil hanya 1 gugus alkil yang
memberikan pasangan elektronnya untuk disebarkan pada orbital p kosong dan ini
menyebabkan n-butil sangat tidak stabil.

Dari data pengamatan untuk panjang ikatan C-C yang telah mengalami
hiperkonjugasi menunjukkan bahwa pemendekan dari ikatannya. Pada ter-butil
untuk ikatan C1-C2 nilainya 1.4553 A, sedangkan pada sek-butil panjang ikatan
antara C1-C2 yaitu 1.43812 A dan untuk n-butil panjang ikatan antara C 1-C2 yaitu
1.42302 A. Dari data ini dapat dilihat bahwa hiperkonjungsi orde ikatan C-C pada
senyawa n-butil lebih besar dibandingkan dengan sek-butil dan ter-butil, karena
pemendekan ikatan pada C-C lebih besar.

Berdasarkan pada uji panas pembentukkan ketiga karbokation ini, dapat


dikatakan bahwa karbokation t-butil memiliki panas pembentukan yang lebih kecil
dibandingkan dengan sek-butil dan n-butil. Hal ini bekaitan dengan kestabilan
karbokation tersebut. Karbokation t-butil lebih stabil sehingga untuk menangkap
nukleofil membentuk suatu senyawa baru tidak memerlukan energi yang besar.
Sedangkan karbokation n-butil sangat tidak stabil, sehingga nukleofil sulit untuk
masuk kedalam karbokation dan membentuk senyawa baru. Oleh sebab itu energi
yang diperlukan besar. Berdasarkan pada nilai panas pembentukannya maka dapat
dikatakan bahwa urutan kestabilan karbotion t-butil lebih besar dari sek-butil lebih
besar dari n-butil. Selain itu kestabilan karbokation juga dipengaruhi oleh seberapa
banyak atom karbon yang terlibat dalam hiperkonjugasi. Pada t-butil, ketiga atom
karbon terlibat dalam hiperkonjugasi.

Untuk pembentukan karbokation yang diingikan tersebut diperoleh energi


untuk pembentukannya untuk t-butil -977,8583, untuk sek-bitul panas
pembentukkannya yaitu -968,6557 dan energi pembentukkan n-butil yaitu
-949,5129.

VII. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari percobaan ini yaitu:

1. Berdasarkan pada uji panas pembentukkan ketiga karbokation ini, dapat


dikatakan bahwa karbokation t-butil memiliki panas pembentukan yang lebih
kecil dibandingkan dengan sek-butil dan n-butil. Berdasarkan pada nilai panas
pembentukannya maka dapat dikatakan bahwa urutan kestabilan karbotion t-
butil lebih besar dari sek-butil lebih besar dari n-butil.
2. Selain itu kestabilan karbokation juga dipengaruhi oleh seberapa banyak atom
karbon yang terlibat dalam hiperkonjugasi. Pada t-butil, ketiga atom karbon
terlibat dalam hiperkonjugasi.
3. Hiperkonjugasi akan meningkatkan order ikatan dari ikatan C-C dan akan
berakibat terjadinya pemendekkan ikatan C-C. Panjang ikatan C-C yang
terlibat hiperkonjugasi lebih pendek daripada yang tidak terlibat
hiperkonjugasi.
4. Panjang ikatan C-H yang terlibat hiperkonjugasi akan bernilai lebih besar
daripada yang tidak terlibat konjugasi. Hiperkonjugasi akan memanjangkan
ikatan C-H yang ditandai perubahan kerapatan elektron pada orbital p. Atom
H yang terlibat hiperkonjugasi akan selalu ditarik oleh orbital p kosong.
Akibat dari tarikan ini maka atom H akan lebih menjauh dari atom C dan akan
memperpanjang ikatannya.

DAFTAR PUSTAKA
Brown William H., 2012, Organic Chemistry Sixth Edition, Brooks /Cole
Cengage Learning, USA
McMurry, J. 2012, Organic Chemistry. 3rd edition, Brooks/Cole Publishing
Company, Callifornia
Smith, Janice Gorzynski., 2011, Organic ChemistryThird Edition, The
McGraw-Hill Companies, Inc., New
LAMPIRAN

Energi pembentukan t-butil

Kerapatan t-butil
Energy pembentukan Sek butyl

Kerapatan sek-butil
Energy Pembentukan n-butil