Anda di halaman 1dari 23

HUBUNGAN ANTARA STRES DENGAN POLA MENSTRUASI

PADA SISWI di SMA NEGERI 3 MODEL


KOTA SORONG

PROPOSAL PENELITIAN

DISUSUN OLEH :
Devita N.A Toisuta
1614201578

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN INDONESIA


FAKULTAS KEPERAWATAN
MANADO
2019

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di Indonesia masalah kesehatan reproduksi masih memprihatinkan
karena penyebaran penduduk yang belum merata tingkat sosial ekonomi dan
pendidikan belum memadai serta tingkat kesehatan belum terjangkau. Pada
umumnya sebagian perempuan mengalami ketidaknyamanan yang
dirasakan sebelum menstruasi dengan gejala bervariasi, sehingga mampu
mengganggu aktivitas sehari-hari.
Penelitian yang dilakukan oleh Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja
(PKPR) dibawah naungan World Health Organization (WHO) tahun 2005
menyebutkan bahwa permasalahan remaja di Indonesia adalah seputar
permasalahan mengenai gangguan menstruasi (38,45%), masalah gizi yang
berhubungan dengan anemia (20,3%), gangguan belajar (19,7%), gangguan
psikologis (0,7%), serta masalah berat badan (0,5%).
Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 persentase remaja
putri yang berusia antara 15–19 tahun di Provinsi Sulawesi Tenggara
mengalami perubahan siklus menstruasi yang tidak teratur yaitu sebanyak
8,7 %. Alasan perubahan siklus menstruasi yang tidak teratur pada
perempuan usia 15–19 tahun di Sulawesi Tenggara adalah 0,5% karena
sakit, 4,6% karena masalah hormonal, 2,3% karena masalah berat badan,
6,9% karena faktor stres, 11,3% lain-lain, dan 15,7% tidak mengetahui
alasannya.
Remaja pada umunya mengalami pencarian jati diri atau keutuhan
diri, itu suatu masalah utama karena adanya perubahan-perubahan sosial,
fisiologi dan psikologis didalam diri mereka maupun ditengah masyarakat
tempat mereka hidup. Remaja seringkali sulit mengatasi masalah mereka.
Ada dua alasan hal itu terjadi, yaitu :
pertama : ketika masih anak-anak, seluruh masalah mereka selalu diatasi
oleh orang-orang dewasa. Hal inilah yang membuat remaja tidak
mempunyai pengalaman dalam menghadapi masalah.
Kedua : karena remaja merasa dirinya telah mandiri, maka mereka
mempunyai gengsi dan menolak bantuan dari orang dewasa.
Salah satu yang terjadi pada seseorang yang mengalami gangguan
reproduksi berkaitan dengan peristiwa menstruasi, yang ditentukan oleh
proses somato-psikik, yang sifatnya kompleks yang meliputi hormonal,
psikososial, dan salah satunya siklus menstruasi dan sering disertai dengan
gangguan fisik dan mental yang bisa menyebabkan salah satunya yaitu
pikiran, adanya kecemasan dan stres. Berdasarkan data dari pengambilan
data awal yang dilakukan pada tanggal 12 Mei 2014 didapatkan data jumlah
siswi di SMA NEGERI 3 MODEL KOTA SORONG pada tahun ajaran
2013/2014 sebanyak 603 orang siswi dengan rincian sebagai berikut : Kelas
X dengan jumlah siswi sebanyak 217 orang siswi dan terbagi menjadi
sebelas kelas. Kemudian pada kelas XI terdapat 205 orang siswi yang
terbagi menjadi dua jurusan yaitu jurusan IPA dan jurusan IPS. Sedangkan

2
pada kelas XII adalah sebanyak 181 orang siswi yang terbagi atas dua
jurusan yaitu jurusan IPA dan IPS.
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan tersebut diatas, maka
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “ Gambaran tingkat
stres dengan siklus menstruasi pada siswi SMA NEGERI 3 MODEL KOTA
SORONG ”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang tersebut diatas, maka


peneliti dapat merumuskan masalah penelitian yaitu “Bagaimanakah
Gambaran Tingkat Stres dengan Siklus Menstruasi pada Siswi di SMA
NEGERI 3 MODEL KOTA SORONG? ”.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum
Diketahuinya gambaran tingkat stres dengan siklus menstruasi pada
siswi di SMA NEGERI 3 MODEL KOTA SORONG.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya gambaran tingkat stres yang dialami oleh siswi di
SMA NEGERI 3 MODEL KOTA SORONG.
b. Diketahuinya gambaran siklus menstruasi pada siswi di SMA
NEGERI 3 MODEL KOTA SORONG.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Bagi Institusi Sebagai bahan masukan bagi institusi S1 di
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN INDOSESIA KOTA MANADO
untuk sebagai bahan referensi, administrasi perpustakaan bagi
mahasiswa-mahasiswi dilingkungan akademik.
2. Bagi Responden Sebagai bahan informasi bagi siswi SMA NEGERI 3
MODEL KOTA SORONG untuk memahami tentang hubungan tingkat
stres dengan perubahan siklus menstruasi.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya Sebagai bahan informasi dan bahan masukan
bagi peneliti selanjutnya khususnya bagi program studi keperawatan
yang berhubungan dengan penelitian tentang tingkat stres dengan
perubahan siklus menstruasi.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum tentang Stres


1. Definisi Stres
Stres adalah suatu reaksi tubuh yang dipaksa, dimana ia boleh
mengganggu equilibrium (homeostasis) fisiologi normal.
Stres adalah reaksi atau respons tubuh terhadap stresor psikososial
(tekanan mental atau beban kehidupan).
Stres adalah stimulus atau situasi yang menimbulkan distres dan
menciptakan tuntutan fisik dan psikis pada seseorang.
Jadi stres adalah suatu keadaan yang bersifat internal, yang bisa
disebabkan oleh tuntutan fisik (badan), atau lingkungan, dan situasi
sosial, yang berpotensi merusak dan tidak terkontrol.
Stres membutuhkan koping dan adaptasi. Sindrom adaptasi umum
menggambarkan stres sebagai kerusakan yang terjadi pada tubuh tanpa
mempedulikan apakah penyebab stres tersebut positif atau negatif.
Respon tubuh dapat diprediksi tanpa memperhatikan stresor atau
penyebab tertentu.
Stres remaja ini digunakan secara bergantian untuk menjelaskan
berbagai stimulus dengan intensitas berlebihan yang tidak disukai
berupa respon fisiologis, perilaku, dan subjektif terhadap stres, konteks
yang menjembatani pertemuan antara individu dengan stimulus yang
membuat stres, semua sebagai suatu sistem.

2. Jenis-Jenis Stres
Stres terbagi atas dua jenis, yaitu eustres dan distres. Eustres, yaitu
hasil dari respon terhadap stres yang bersifat sehat, positif, dan
konstruktif (bersifat membangun). Hal tersebut termasuk kesejahteraan
individu dan juga organisasi yang diasosiasikan dengan pertumbuhan,
fleksibilitas, kemampuan adaptasi, dan tingkat performance yang tinggi.
Ini adalah semua bentuk stres yang mendorong tubuh untuk beradaptasi
dan meningkatkan kemampuan untuk beradaptasi. Ketika tubuh mampu
menggunakan stres yang dialami untuk membantu melewati sebuah
hambatan dan meningkatkan performa, stres tersebut bersifat positif,
sehat, dan menantang.
Di sisi lain distres, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang
bersifat tidak sehat, negatif, dan destruktif (bersifat merusak). Hal
tersebut termasuk konsekuensi individu terhadap penyakit sistemik dan
tingkat ketidakhadiran (absenteeism) yang tinggi, yang diasosiasikan
dengan 7 keadaan sakit, penurunan, dan kematian. Distres adalah semua
bentuk stres yang melebihi kemampuan untuk mengatasinya,
membebani tubuh, dan menyebabkan masalah fisik atau psikologis.
Ketika seseorang mengalami distres, orang tersebut akan cenderung
bereaksi secara berlebihan, bingung, dan tidak dapat berperforma secara
maksimal.

4
3. Sumber Stres (Stresor)
Stresor adalah semua kondisi stimulasi yang berbahaya dan
menghasilkan reaksi stres, misalnya jumlah semua respon fisiologis
nonspesifik yang menyebabkan kerusakan dalam sistem biologis. Stress
reaction acute (reaksi stres akut) adalah gangguan sementara yang
muncul pada seorang individu tanpa adanya gangguan mental lain yang
jelas, terjadi akibat stres fisik dan atau mental yang sangat berat,
biasanya mereda dalam beberapa jam atau hari. Kerentanan dan
kemampuan koping seseorang memainkan perenan dalam terjadinya
reaksi stres akut dan keparahannya.
Jenis stresor meliputi fisik, psikologis, dan sosial. Stresor fisik
berasal dari luar diri individu, seperti suara, polusi, radiasi, suhu udara,
makanan, zat kimia, trauma, dan latihan fisik yang terpaksa.
Pada stresor psikologis tekanan dari dalam diri individu biasanya
yang bersifat negatif seperti frustasi, kecemasan (anxiety), rasa bersalah,
kuatir berlebihan, marah, benci, sedih, cemburu, rasa kasihan pada diri
sendiri, serta rasa rendah diri, sedangkan stresor sosial yaitu tekanan dari
luar disebabkan oleh interaksi individu dengan lingkungannya. Banyak
stresor sosial yang bersifat traumatic yang tak dapat dihindari, seperti
kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, pensiun,
perceraian, masalah keuangan, pindah rumah dan lain-lain.

4. Gejala Stres
Berikut ini adalah gejala-gejala psikologis stres : kecemasan,
ketegangan, kebingungan dan mudah tersinggung, perasaan frustrasi,
rasa marah, dan dendam (kebencian), sensitif dan hyperreactivity,
memendam perasaan, penarikan diri, depresi, komunikasi yang tidak
efektif, perasaan terkucil dan terasing, kebosanan dan ketidakpuasan
kerja, kelelahan mental, penurunan fungsi intelektual, dan kehilangan
konsentrasi, kehilangan spontanitas dan kreativitas serta menurunnya
rasa percaya diri.
Gejala-gejala fisiologis yang utama dari stres adalah : meningkatnya
denyut jantung, tekanan darah, dan kecenderungan mengalami penyakit
kardiovaskular, meningkatnya sekresi dari hormon stres (contoh :
adrenalin dan nonadrenalin), gangguan gastrointestinal (misalnya
gangguan lambung), meningkatnya frekuensi dari luka fisik dan
kecelakaan, kelelahan secara fisik dan kemungkinan mengalami
sindrom kelelahan yang kronis (chronic fatigue syndrome), gangguan
pernapasan, termasuk gangguan dari kondisi yang ada, gangguan pada
kulit, sakit kepala, sakit pada punggung bagian bawah, ketegangan otot,
gangguan tidur, rusaknya fungsi imun tubuh, termasuk resiko tinggi
kemungkinan terkena kanker
Gejala-gejala perilaku dari stres adalah: menunda, menghindari
pekerjaan, dan absen dari pekerjaan, menurunnya prestasi
(performance) dan produktivitas, meningkatnya penggunaan minuman

5
keras dan obat-obatan, perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan),
mengarah ke obesitas, perilaku makan yang tidak normal (kekurangan)
sebagai bentuk penarikan diri dan kehilangan berat badan secara tiba-
tiba, kemungkinan berkombinasi dengan tandatanda depresi,
meningkatnya kecenderungan berperilaku beresiko tinggi, seperti
menyetir dengan tidak hati-hati dan berjudi, meningkatnya agresivitas,
vandalisme, dan kriminalitas, menurunnya kualitas hubungan
interpersonal dengan keluarga dan teman serta kecenderungan untuk
melakukan bunuh diri. Pengalaman stres sangat individual. Stres yang
luar biasa untuk satu orang tidak semestinya dianggap sebagai stres oleh
yang lain. Demikian pula, gejala dan tanda-tanda stres akan berbeda
pada setiap individu.

5. Tahapan Stres
Sriati mengatakan bahwa Amberg dalam penelitiannya membagi
tahapan-tahapan stres sebagai berikut :
a. Stres Tahap I
Tahapan ini merupakan tahapan stres yang paling ringan dan
biasanya disertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut:
1) Semangat bekerja besar, berlebihan (over acting) .
2) Penglihatan tajam tidak sebagaimana biasanya.
3) Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari
biasanya, namun tanpa disadari cadangan energi semakin
menipis.

b. Stres Tahap II
Dalam tahapan ini dampak/respon terhadap stresor yang
semula menyenangkan sebagaimana diuraikan pada tahap I
diatas mulai menghilang dan timbul keluhan-keluhan yang
disebabkan karena cadangan energi yang tidak lagi cukup
sepanjang hari, karena tidak cukup waktu untuk beristirahat.
Istirahat yang dimaksud antara lain dengan tidur yang cukup,
bermanfaat untuk mengisi atau memulihkan cadangan energi
yang mengalami defisit.
Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang
yang berada pada stres tahap II adalah sebagai berikut:
1) Merasa letih sewaktu bangun pagi yang seharusnya
merasa segar.
2) Merasa mudah lelah sesudah makan siang.
3) Lekas merasa lelah menjelang sore hari.
4) Sering mengeluh lambung/perut tidak nyaman (bowel
discomfort).
5) Detakan jantung lebih keras dari biasanya
(berdebardebar).
6) Otot-otot punggung dan tengkuk terasa tegang.
7) Tidak bisa santai.

6
c. Stres Tahap III
Apabila seseorang tetap memaksakan diri dalam
pekerjaannya tanpa menghiraukan keluhan-keluhan pada stres
tahap II, maka akan menunjukkan keluhan-keluhan yang
semakin nyata dan mengganggu, yaitu :
1) Gangguan lambung dan usus semakin nyata;
misalnya keluhan maag, buang air besar tidak teratur
(diare).
2) Ketegangan otot-otot semakin terasa.
3) Perasaan ketidaktenangan dan ketegangan emosional
semakin meningkat.
4) Gangguan pola tidur (insomnia), misalnya sukar
untuk mulai masuk tidur (early insomnia) atau
terbangun tengah malam dan sukar kembali tidur
(middle insomnia) atau bangun terlalu pagi atau dini
hari dan tidak dapat kembali tidur (late insomnia).
5) Koordinasi tubuh terganggu (badan terasa akan jatuh
dan serasa mau pingsan). Pada tahapan ini seseorang
sudah harus berkonsultasi pada dokter untuk
memperoleh terapi, atau bisa juga beban stres
hendaknya dikurangi dan tubuh memperoleh
kesempatan untuk beristirahat guna menambah
suplai energi yang mengalami defisit.
d. Stres Tahap IV
Gejala stres tahap IV, akan muncul :
1) Untuk bertahan sepanjang hari saja sudah terasa amat
sulit.
2) Aktivitas pekerjaan yang semula menyenangkan dan
mudah diselesaikan menjadi membosankan dan terasa
lebih sulit.
3) Yang semula tanggap terhadap situasi menjadi
kehilangan kemampuan untuk merespons secara
memadai (adequate).
4) Ketidakmampuan untuk melaksanakan kegiatan rutin
sehari-hari.
5) Gangguan pola tidur disertai dengan mimpi-mimpi yang
menegangkan. Seringkali menolak ajakan (negativism)
karena tiada semangat dan kegairahan.
6) Daya konsentrasi daya ingat menurun.
7) Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak
dapat dijelaskan apa penyebabnya.

7
B. Tinjauan Umum tentang Menstruasi
1. Definisi Menstruasi
Menstruasi adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari
uterus yang disertai dengan pelepasan (deskuamasi)
endometrium.
Menstruasi adalah penumpahan lapisan uterus yang terjadi
setiap bulan berupa darah dan jaringan, yang dimulai pada masa
pubertas, ketika seorang perempuan mulai memproduksi cukup
hormon tertentu (kurir kimiawi yang dibawa didalam aliran
darah) yang menyebabkan mulainya aliran darah ini.
Menstruasi adalah puncak dari serangkaian perubahan yang
terjadi karena adanya serangkaian interaksi antara beberapa
kelenjer didalam tubuh.
2. Dinamika Siklus Menstruasi
Siklus menstruasi merupakan waktu sejak hari pertama
menstruasi sampai datangnya menstruasi periode berikutnya.
Sedangkan panjang siklus menstruasi adalah jarak antara tanggal
mulainya menstruasi yang lalu dan mulainya menstruasi berikutnya.
Hari mulainya perdarahan dinamakan hari pertama siklus. Karena
jam mulainya menstruasi tidak diperhitungkan dan tepatnya waktu
keluar menstruasi dari ostium uteri eksternum tidak dapat diketahui,
maka panjang siklus mengandung kesalahan ± 1 hari. Dalam satu
siklus terjadi perubahan pada dinding rahim sebagai akibat dari
produksi hormon-hormon oleh ovarium, yaitu dinding rahim makin
menebal sebagai persiapan jika terjadi kehamilan.
Siklus menstruasi perempuan normal berkisar antara 21- 35
hari dan hanya 10-15 persen perempuan yang memiliki siklus
menstruasi 28 hari. Panjangnya siklus menstruasi ini dipengaruhi
oleh usia seseorang. Rata-rata panjang siklus menstruasi gadis usia
12 tahun ialah 25,1 hari, pada perempuan usia 43 tahun 27,1 hari,
dan pada perempuan usia 55 tahun 51,9 hari. Setiap bulannya,
menstruasi berlangsung sekitar 3-7 hari. Setelah hari kelima dari
siklus menstruasi, endometrium mulai tumbuh dan menebal sebagai
persiapan terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan. Pada sekitar
hari ke-28, jika tidak terjadi pembuahan, endometrium meluruh dan
terjadilah siklus berikutnya.
Lama keluarnya darah menstruasi juga bervariasi, pada
umumnya lamanya 4 sampai 6 hari, tetapi antara 2 sampai 8 hari
masih dapat dianggap normal. Pengeluaran darah menstruasi terdiri
dari fragmen-fragmen kelupasan endrometrium yang bercampur
dengan darah yang banyaknya tidak tentu. Biasanya darahnya cair,
tetapi apabila kecepatan aliran darahnya terlalu besar, bekuan
dengan berbagai ukuran sangat mungkin ditemukan. Ketidakbekuan
darah menstruasi yang biasa ini disebabkan oleh suatu sistem
fibrinolitik lokal yang aktif didalam endometrium.

8
Rata-rata banyaknya darah yang hilang pada wanita normal
selama satu periode menstruasi telah ditentukan oleh beberapa
kelompok peneliti, yaitu 25-60 ml. Konsentrasi Hb normal 14 gr per
dl dan kandungan besi Hb 3,4 mg per g, volume darah ini
mengandung 12-29 mg besi dan menggambarkan kehilangan darah
yang sama dengan 0,4 sampai 1,0 mg besi untuk setiap hari siklus
tersebut atau 150 sampai 400 mg pertahunnya.

3. Fase Siklus Menstruasi


Pada awalnya, siklus mungkin tidak teratur, jarak antara 2
siklus bisa berlangsung selama 2 bulan atau dalam 1 bulan mungkin
terjadi 2 siklus. Hal ini adalah normal, setelah beberapa lama siklus
akan menjadi lebih teratur. Siklus dan lamanya menstruasi bisa
diketahui dengan membuat catatan pada kalender. Dengan
menggunakan kalender tersebut, tandailah siklus Anda setiap
bulannya. Setelah beberapa bulan, Anda bisa mengetahui pola siklus
Anda dan hal ini akan membantu Anda dalam memperkirakan siklus
yang akan datang. Tandai setiap hari ke-1 dengan tanda silang, lalu
hitung sampai tanda silang berikutnya dengan demikian Anda dapat
mengetahui siklus Anda.

Setiap bulan, setelah hari ke-5 dari siklus menstruasi,


endometrium mulai tumbuh dan menebal sebagai persiapan
terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan. Sekitar hari ke- 14,
terjadi pelepasan telur dari ovarium (ovulasi). Sel telur ini masuk ke
dalam salah satu tuba falopi dan didalam tuba bisa terjadi
pembuahan oleh sperma. Jika terjadi pembuahan, sel telur akan
masuk ke dalam rahim dan mulai tumbuh menjadi janin.
Pada hari ke-28, jika tidak terjadi pembuahan maka
endometrium akan dilepaskan dan terjadi perdarahan (siklus
menstruasi). Siklus ini berlangsung selama 3 – 5 hari kadang sampai
7 hari. Proses pertumbuhan dan penebalan endometrium kemudian
dimulai lagi pada siklus ovarium.
Menurut Wiknjosastro, siklus menstruasi dibedakan menjadi
4 fase, yaitu :
a) Fase Menstruasi atau Dekuamasi
Dalam fase ini endometrium dilepaskan dari dinding
uterus disertai perdarahan hanya stratum basale yang tinggal
utuh. Darah menstruasi mengandung darah vena dan arteri
dangan sel-sel darah merah dalam hemolisis atau aglutinasi,
sel-sel epitel dan struma yang mengalami disintegrasi dan
otolisis, dan sekret dari uterus, cervik, dan kelenjar-kelenjar
vulva. Fase ini berlangsung 3 – 4 hari.
b) Fase Pasca Menstruasi atau Fase Regenerasi
Luka endometrium yang terjadi akibat pelepasan
sebagian besar berangsur-angsur sembuh dan ditutup

9
kembali oleh selaput lendir yang tumbuh dari sel-sel
endometrium. Fase ini telah mulai sejak fase menstruasi dan
berlangsung kurang lebih 4 hari.
c) Fase Proliferasi
Dalam fase ini endometrium tumbuh menjadi setebal 3,5
mm. Fase ini berlangsung dari hari ke-5 sampai hari ke-14
dari siklus menstruasi. Fase Proliferasi dapat dibagi atas 3
subfase, yaitu :
1) Fase Proliferasi Dini (Early Proliferation Phase)
Berlangsung antara hari ke-4 sampai hari ke-
7. Fase ini dapat dikenal dari epitel permukaan yang
tipis dan adanya regenerasi epitel, terutama dari
mulut kelenjar.
2) Fase Proliferasi Madya (Mid Proliferation Phase)
Berlangsung antara hari ke-8 sampai hari ke-
10. Fase ini merupakan bentuk transisi dan dapat
dikenal dari epitel permukaan yang berbentuk torak
dan tinggi. Tampak adanya banyak mitosis dengan
inti berbentuk telanjang (nake nukleus).
3) Fase Proliferasi Akhir (Late Proliferation)
Fase ini berlangsung pada hari ke-11 sampai
hari ke-14. Fase ini dapat dikenal dari permukaan
kelenjar yang tidak rata dan dengan banyak mitosis.
Inti epitel kelenjar membentuk pseudostratifikasi.
Stoma bertumbuh aktif dan padat.
d) Fase Pra Menstruasi atau Fase Sekresi
Fase ini dimulai sesudah ovulasi dan berlangsung
dari hari ke-14 sampai ke-28. Pada fase ini endometrium
tebalnya tetap, bentuk kelenjar berubah menjadi panjang,
berkeluk-keluk, dan mengeluarkan getah yang makin lama
makin nyata. Didalam endometrium tertimbun glikogen dan
kapur yang kelak diperlukan sebagai makanan untuk telur
yang dibuahi.
4. Mekanisme Siklus Menstruasi
Hormon steroid,estrogen,dan progesteron mempengaruhi
pertumbuhan endometrium.Dibawah pengaruh estrogen
endometrium memasuki fase ploriferasi sesudah ovulasi,
endometrium memasuki fase sekresi dibawah pengaruh progesteron.
Dengan menurunnya kadar estrogen dan progesteron pada akhir
siklus menstruasi, terjadilah regresi endometrium yang kemudian
diikuti oleh perdarahan yang dikenal dengan nama menstruasi.
Mekanisme menstruasi belum diketahui seluruhnya, selain
faktor hormonal, maka ada beberapa faktor lain yang ikut berperan.
Faktor-faktor tersebut ialah :
a Faktor Enzim

10
Dalam fase proliferasi, estrogen mempengaruhi
tersimpannya enzim-enzim hidrolitik tersebut dilepaskan
dan merusak bagian dari sel-sel yang berperan dalam sintesis
protein. Akibatnya terjadi gangguan dalam metabolisme
endometrium yang mengakibatkan regresi endometrium dan
perdarahan.
b Faktor Vaskuler
Fase proliferasi, terjadi pembentukan sistem
vaskularisasi dalam lapisan fungsional endometrium dalam
hal ini pertumbuhan arteri, vena, dan hubungan diantaranya
dengan terjadinya regresi endometrium, maka timbul statis
dalam vena serta saluran-saluran yang menghubungkannya
dengan arteri yang akhirnya terjadi nekrosis, perdarahan, dan
hematom baik dari arteria maupun dari vena.
c Faktor Prostaglandin
Endometrium mengandung banyak prostaglandin.
Dengan desigentrasi endometrium, prostaglandin terlepas
dan menyebabkan berkontraksinya miometrium sebagai
suatu faktor untuk membatasi perdarahan pada menstruasi.

5. Hormon yang Mengontrol Siklus Menstruasi


Pematangan folikel dan ovulasi dikontrol oleh hipotalamus–
pituitary ovarium axis. Hipotalamus mengontrol siklus, tetapi
hipotalamus dapat dipengaruhi oleh stimulus yang lebih tinggi
diotak misalnya kecemasan dan stres dapat mempengaruhi siklus
menstruasi. Hipotalamus memacu kelenjar hipofisis dengan
mensekresi gonadotroping-releasing hormon (GnRH).
Sekresi GnRH melalui pembuluh darah kecil disistem
pembuluh darah portal kelenjar hipofisis ke hipofisis anterior,
gonadotropin hipofisis mengatur sintesis dan pelepasan follicle-
stimulating hormone (FSH) dan luteining hormone (LH).
Follicle stimulating hormone (FSH) adalah hormon
glikoprotein yang memacu pematangan folikel selama fase folikuler
dari siklus menstruasi. FSH juga membantu LH memacu sekresi
hormon steroid, terutama estrogen oleh sel granulose dari folikel
matang. LH juga termasuk glikoprotein, LH ikut dalam
steroidogenosis dalam folikel dan berperan penting dalam ovulasi
yang tergantung pada midcicle surge dari LH. Produksi progesteron
oleh korpus luteum juga dipengaruhi oleh LH.

6. Gangguan dalam Siklus Menstruasi


a. Amenorea
Amenorea adalah keadaan tidak adanya menstruasi
sedikitnya tiga bulan berturut-turut. Amenorea primer apabila
seorang wanita berumur 18 tahun keatas tidak pernah dapat

11
menstruasi, sedangkan pada amenorea sekunder penderita
pernah mendapat menstruasi tetapi kemudian tidak dapat lagi.
Amenorea primer umumnya mempunyai sebab-sebab yang
lebih berat dan lebih sulit untuk diketahui, seperti kelainan-
kelainan kongenital dan kelainan-kelainan genetik. Adanya
amenorea sekunder lebih menunjuk kepada sebab-sebab yang
timbul kemudian dalam kehidupan wanita, seperti gangguan
gizi, gangguan metabolisme, tumor, penyakit infeksi, dan lain-
lain.
b. Polimenorea atau Epimenoragia
Polimenorea adalah siklus haid yang lebih memendek dari
biasa yaitu kurang 21 hari, sedangkan jumlah perdarahan
relatif sama atau lebih banyak dari biasa. Polimenorea
merupakan gangguan hormonal dengan umur korpus luteum
memendek sehingga siklus 26 menstruasi juga lebih pendek
atau bisa disebabkan akibat stadium proliferasi pendek atau
stadium sekresi pendek atau karena keduanya.
c. Oligomenorea
Oligomenore merupakan suatu keadaan dimana siklus haid
memanjang lebih dari 35 hari, sedangkan jumlah perdarahan
tetap sama. Wanita yang mengalami oligomenorea akan
mengalami haid yang lebih jarang dari pada biasanya. Namun,
jika berhentinya siklus haid berlangsung lebih dari 3 bulan,
maka kondisi tersebut dikenal sebagai amenorea sekunder.
Oligomenorea biasanya terjadi akibat adanya gangguan
keseimbangan hormonal pada aksis hipotalamus-hipofisis-
ovarium. Gangguan hormone tersebut menyebabkan lamanya
siklus haid normal menjadi memanjang, sehingga haid
menjadi lebih jarang terjadi. Oligomenorea sering terjadi pada
3-5 tahun pertama setelah haid pertama ataupun beberapa
tahun menjelang terjadinya menopause. Oligomenorea yang
terjadi pada masa-masa itu merupakan variasi normal yang
terjadi karena kurang baiknya koordinasi antara hipotalamus,
hipofisis dan ovarium pada awal terjadinya haid pertama dan
menjelang terjadinya menopause, sehingga timbul gangguan
keseimbangan hormon dalam tubuh.

7. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Siklus Menstruasi


Faktor-faktor yang mempengaruhi siklus menstruasi adalah
sebagai berikut :
a Ketidakseimbangan Hormon
Menstruasi iregular dapat disebabkan terlalu banyak
atau sedikit hormon, yang dapat disebabkan oleh masalah
tiroid, sindrom polikistik ovarium, obat-obatan,
premenopause, sakit, gaya hidup, olah raga berlebihan, dan
stres.

12
b Stres
Beban pikiran sangat berpengaruh terhadap kondisi
tubuh,termasuk periode menstruasi. Kondisi pikiran yang
tidak stabil dapat menyebabkan kelenjar adrenal
mengeluarkan kortisol. Hal ini berefek pada estrogen,
progesteron dan menurunkan produksi
gonadotropinreleasing hormone (GnRH) sehingga
menghambat terjadinya ovulasi atau menstruasi.
c Penyakit
Siklus menstruasi yang tidak teratur dalam waktu
lama merupakan tanda-tanda adanya penyakit pada saluran
reproduksi. Misalnya, fibroid, kistas, endometriosis, polip,
sindrom polikistik ovarium, infeksi pada saluran reproduksi
maupun kelainan genetik.
d Perubahan Rutinitas
Perubahan rutinitas dalam hidup dapat berpengaruh
pada kondisi fisik. Misalnya, mereka yang harus berganti
jam kerja dari pagi menjadi malam. Hal ini biasa terjadi
hingga tubuh menyesuaikan dengan siklus atau rutinitas
baru.
e Berat Badan
Berat badan dan perubahan berat badan
mempengaruhi fungsi menstruasi. Penurunan berat badan
akut dan sedang menyebabkan gangguan pada fungsi
ovarium, tergantung derajat tekanan pada ovarium dan
lamanya penurunan berat badan. Kondisi patologis seperti
berat badan yang kurang/kurus dan anorexia nervosa yang
menyebabkan penurunan berat badan yang berat dapat
menimbulkan amenorrhea.

13
Kerangka Teori
Stresor

Stresor Fisik : Suara, Stresor Psikologi : Tekanan Stresor Sosial :


polusi, radiasi, suhu, dari dalam diri individu, Kehilangan orang yang
udara, makanan, trauma biasanya bersifat negatif. dicintai, perceraian,
serta latihan fisik yang masalah keungan,
terpaksa. pindah rumah, dsb.

Tingkat Stres

Respon Psikologi Respon Fisiologi Respon Sosial

Sistem Pernapasan Gangguan Tidur Sistem Endokrin Sistem Pencernaan dan


dan Kardiovaskular dan Reproduksi Perkemihan

Siklus Menstruasi

Gambar 2.1
14
BAB III
KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI OPRASIONAL

A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah kerangka hubungan antara konsep yang ingin
diamati atau diukur melalui penelitian yang dilakukan. Berdasarkan landasan
teoritis yang telah diuraikan pada tinjauan kepustakaan maka dapat dirangkumkan
kerangka berpikir peneliti dalam bentuk sebuah kerangka konsep seperti yang
digambarkan dibawah ini :

Variabel Independen Variabel


Dependen

stres
Siklus
Berat Badan Menstruasi

Aktifitas

Penyakit

Hormona

Gambar 3.1
Kerangka Konsep Penelitian
Keterangan :
: Variabel Independen Yang Diteliti
: Variabel Independen Yang tidak Diteliti

: Variabel Dependen Yang Diteliti

15
: Menyatakan Hubungan Antara Variabel

B. Hipotesis

Adanya hubungan atara Stres dengan Pola Menstruasi

C. Definisi Operasional

NO Variabel Defenisi Kriteria Skala


Penelitian Operasional Objektif Pengukur

1. Independen Stress Sedang :


Tingkat stress Respon tubuh yang (19 – 25)
spesifik berupa
respon fisiologis, Stress Berat : Interval
psikologis maupun
(26 – 42)
perilaku terhadap
stresor yang dialami

2. Dependen Normal :
Siklus Menstruasi Jarak waktu sejak (21 – 35 hari)
hari pertama
menstruasi sampai Tidak Normal : Interval
datangnya
(<21 hari atau >35
menstruasi
hari)
berikutnya

16
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan
menggunakan study crossectional yang merupakan rancangan
penelitian dengan melakukan pengukuran atau pengamatan
dilakukan pada satu saat bersamaan (sekali waktu), untuk melihat
gambaran tingkat stres dengan siklus menstruasi pada siswi di SMA
NEGERI 3 MODEL KOTA SORONG
B. Waktu dan Tempat Penelitian
1) Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan (Juli S/d Agustus
2019)
2) Tempat Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di SMA
NEGERI 3 MODEL KOTA SORONG
C. Populasi dan Sampel
1) Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek
atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian
ditarik kesimpulan.Populasi dalam penelitian ini adalah semua
siswi di SMA NEGERI 3 MODEL KOTA SORONG
2) Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah semua siswi di SMA
NEGERI 3 MODEL KOTA SORONG yang mengalami
menstruasi, dengan tekhnik pengambilan sampel non probability
sampling yaitu dengan 45 teknik purposive sampling adalah
merupakan teknik sampling dengan pertimbangan tertentu.
Teknik ini tidak memberikan peluang yang sama dari setiap
anggota populasi, yang bertujuan tidak untuk generalisasi yang
berasas pada probabilitas yang tidak sama.
Jumlah sampel pada penelitian ini dihitung dengan
menggunakan rumus Slovin yaitu :

n= N
(α ) + 1
2

Keterangan :
N = Besar populasi.
n = Besarnya sampel.
α 2 = Tingkat kepercayaan yang diinginkan = 0,102

Adapun kriteria sampel dibagi atas kriteria inklusi dan kriteria eksklusi
sebagai berikut :

17
a) Kriteria Inklusi Kriteria inklusi merupakan kriteria dimana subjek penelitian
dapat mewakili sampel penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel.
Pertimbangan ilmiah harus menjadi pedoman dalam menentukan kriteria
inklusi. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah :

1. Semua siswi di SMA NEGERI 3 MODEL KOTA SORONG 2019/2020


yang mengalami menstruasi.
2. Siswi yang bersedia untuk menjadi responden.
3. Siswi yang aktif sekolah.
4. Siswi yang mengalami menstruasi selama 1 tahun.
5. Siswi yang dalam keadaan sehat.

b) Kriteria Eksklusi Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau


mengeluarkan subyek yang memenuhi kriteria inklusi dari studi karena
berbagai sebab. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan kriteria eksklusi
sebagai berikut :

1. Siswi yang tidak bersedia untuk menjadi responden.


2. Siswi yang tidak aktif sekolah.
3. Siswi yang tidak mengalami menstruasi.
4. Siswi yang tidak sehat.

D. Alat dan Bahan Penelitian


Alat dan bahan untuk penelitian ini merupakan data primer yang diambil
melalui 2 kuisioner, yaitu :
1. Kuisioner siklus menstruasi Kuisioner ini berisikan tentang pertanyaan
mengenai siklus menstruasi. Pada saat itu juga responden menjawab
pertanyaan yang ada dalam kuisioner dan dikembalikan hari itu juga.
2. Kuisioner Depression Anxiety Stress Scale 24 (DASS 24) Kuisioner
DASS adalah 24 butir ukuran kuantitatif untuk mengukur kondisi
emosional negatif depresi, kecemasan dan stres. Dalam penelitian ini
peneliti hanya memilih kuisioner yang mengukur tentang stres. Skala
peringkat pada DASS 24 adalah sebagai berikut:
a. Tidak berlaku untuk saya sama sekali = 0
b. Diterapkan pada saya untuk beberapa derajat, atau beberapa waktu = 1
c. Diterapkan kepada saya ke tingkat yang cukup, atau bagian yang baik
dari waktu = 2
d. Diterapkan pada saya sangat banyak, atau sebagian besar waktu = 3

18
E. Analisis Data
Data yang akan dikumpulkan terlebih dahulu diedit baik pada waktu
dilapangan maupun pada saat memasukkan data ke dalam komputer.
Hal ini dimaksudkan untuk menilai kebenaran data. Setelah itu
dilakukan koding kemudian data dimasukkan kedalam tabel sesuai
dengan tujuan penelitian dan diolah secara elektronik dengan
menggunakan program komputer Microsoft Office Excel versi 2007.
Kemudian data dianalisa melalui persentase dan perhitungan jumlah
dengan cara menggunakan analisa univariat dilakukan terhadap tiap
variabel dari hasil penelitian dengan menggunakan tabel distribusi
frekuensi sehingga menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap
variabel yang diteliti.
F. Etika Penelitian
Dalam melakukan penelitian, peneliti perlu membawa rekomendasi
dari institusinya untuk pihak lain dengan cara mengajukan permohonan
izin kepada institusi/lembaga tempat penelitian yang dituju oleh
peneliti. Setelah mendapat persetujuan, barulah peneliti melakukan
penelitian dengan menekankan masalah etika yang meliputi :
1. Informed Consent (Lembar Persetujuan) Lembar persetujuan ini
diberikan kepada responden yang diteliti yang memenuhi
kriteria inklusi dan disertai judul penelitian dan manfaat
penelitian. Bila subjek menolak maka peneliti tidak memaksa
dan tetap menghormati hak-hak subjek.
2. Anonimity (Tanpa Nama) Untuk menjaga kerahasiaan peneliti
tidak mencantumkan nama responden, tetapi lembar tersebut
diberikan kode atau inisial.
3. Confendiality (Kerahasiaan) Kerahasiaan informasi responden
dijamin peneliti hanya kelompok data tertentu yang dilaporkan
sebagai hasil penelitian.

19
LEMBAR KUISIONER
GAMBARAN TINGKAT STRES DENGAN SIKLUS MENSTRUASI PADA
SISWI SMA NEGERI 3 MODEL KOTA SORONG
A. Identintas Responden
1. Nama responden ( inisial ) :
2. Umur :
3. Kelas :
4. Siklus menstruasi :
a. Normal (21-35 hari) :
b. Polimenorchea (<21 hari) :
c. Oligomenorchea (>35 hari) :

B. Pertanyaan Responden
1. Tingkat stres
Petunjuk :
a. Berilah tanda ceklist ( _ ) pada kolom yang sesuai dengan
pendapat Saudari terhadap pernyataan yang diajukan.
b. Bacalah dengan baik pernyataan sebelum menjawab.
c. Pilihan jawaban terdiri dari empat pilihan yaitu :
1) Tidak berlaku untuk saya sama sekali = 0.
2) Diterapkan pada saya untuk beberapa derajat, atau
beberapa waktu = 1.
3) Diterapkan kepada saya ke tingkat yang cukup atau
bagian yang baik dari waktu = 2.
4) Diterapkan pada saya sangat banyak atau sebagian
besar waktu = 3.

No PERNYATAAN 0 1 2 3

Saya merasa bahwa diri saya


1 menjadi marah karena hal-hal
sepele.
Saya cenderung bereaksi
2 berlebihan terhadap suatu situasi.
Saya merasa sulit untuk
3 bersantai.

Saya menemukan diri saya mudah


4. merasa kesal.

Saya merasa telah menghabiskan


5. banyak energi untuk merasa
gelisah.

20
Saya menemukan diri saya menjadi
6. tidak sabar ketika mengalami
penundaan (misalnya : menunggu
sesuatu).
Saya merasa bahwa saya mudah
7. tersinggung.

Saya merasa sulit untuk


8. beristirahat.

Saya merasa bahwa saya sangat


9 mudah marah.

Saya merasa sulit untuk tenang


10. setelah sesuatu membuat saya
kesal.
Saya sulit untuk sabar dalam
11. menghadapi gangguan terhadap
hal yang sedang saya lakukan.

12. Saya sedang merasa gelisah.


Saya tidak dapat memaklumi hal
13. apapun yang menghalangi saya
untuk menyelesaikan hal yang
sedang saya lakukan.

Saya menemukan diri saya mudah


14. gelisah.

Keterangan :
Stres Sedang jika memiliki skor 19 – 25.
Stres Berat jika memiliki skor 26 – 42.

21
DAFTAR PUSTAKA

Hawari D., (2008), Stres, Cemas, dan Depresi. FKUI; Jakarta

Heffner L, dan Schust D., (2008), Sistem Reproduksi. Erlangga, Surabaya.

Koban W.S.,dkk.,(2011),Tumbuh Kembang/Remaja.


http://rumahbelajarpsikologi.com, diakses 21 Mei 2014

Nasution I.K., (2007), Stress pada Remaja (on line). Skripsi (tidak
diterbitkan), Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
http://repository.usu.ac.id,diakses 21 Mei 2014.

Nursalam, (2008), Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu


Keperawatan: Pedoman Skiripsi , Tesis dan Instrument Penelitian
Keperawatan. Edisi 2, Salemba Medika, Jakarta.

Papalia D.E., dkk., (2008). Human Developmant ( Perkembangan


Manusia). Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

Prawirohardjo S., (2008), Ilmu Kebidanan, Edisi Keempat, PT Bina


Pustaka, Jakarta.

Price S.A., dan Wilson L.M., (2005), Patofisologi Konsep Klinis Proses-
Proses Penyakit. Edisi 6 Volume 2, EGC, Jakarta.

Putranti N., (2008), Remaja dan Permasalahannya (Part 1) (on line),


http://nuritaputranti.wordpress.com, diakses 18 Mei 2014.

Rakhmawati A., (2012), Hubungan Tingkat Stres dan Obesitas dengan


Kejadian Gangguan Siklus Menstruasi pada Wanita Dewasa Muda (on line)
Fakultas Kedokteran Universitas Di Ponegoro. Semarang.
http://eprints.undip.ac.id, di akses 15 Mei 2014.
Riset Kesehatan Dasar, (2010), Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar
(RISKESDAS) Tahun 2010. Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Kementrian Kesehatan RI. Jakarta.
http://akademikciamik2010.files.wordpress.com, diakses 18 Mei 2014.

Riswan I., dkk., 22 Januari (2007), Kesehatan Remaja (on line), Majalah
Kesehatan untuk Pekerja Kesehatan Indonesia dipublikasikan oleh AIDE
Medicale Internasionale (AMI). Edisi Kelima,
http://www.amifrance.org/IMG/pdf_HM5_Adolescents_health_.pdf,
diakses 18 Mei 2014.

22
Saifuddin A.B., (2006), Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. YBPSP, Jakarta.

Santrock J.W., (2009), Adolescence : Perkembangan Remaja. Edisi


Keenam, Erlangga, Jakarta.

Saryono, (2009), Sindrom Pramenstruasi. Nuha Medika, Yogyakarta.

Sarwono S.W., (2006), Psikologi Remaja. PT Raja Grafindo Persada,


Jakarta.

Setiadi, (2007), Konsep & Penulisan Riset Keperawatan. Edisi Pertama.


Penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta.

Sriati A., (2007), Tinjauan Tentang Stress (on line). Fakultas Ilmu
Keperawatan Jatinagor. Http://www.recaucesunpad.ac.id, diakses 15 Mei
2014

Sugiyono, (2012), Statistika untuk Penelitian. Alfabeta, Bandung.

Sunaryo, (2004), Psikologi Untuk Keperawatan. EGC, Jakarta.

Tim STIK-GIA Makassar, (2013), Pedoman Penulisan Skripsi. Yayasan


Gema Insan Akademik, Makassar.

Walker J., (2004), Teens in Distress Series Adolescent Stress and


Depression, Minnesota University. http://www.extension.umn.edu, diakses
21 Mei 2014.

Widyastuti Y., dkk, (2009), Kesehatan Reproduksi. Fitramaya, Yogyakarta.

Wiknjosastro H., dkk, (2006), Ilmu Kandungan, Edisi Ketiga Cetakan


Kedelapan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, Jakarta.

23