Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Plasenta atau ari-ari ini merupakan organ manusia yang berfungsi sebagai media
nutrisi untuk embrio yang ada dalam kandungan. Umumnya placenta terbentuk lengkap pada
kehamilan < 16 minggu dengan ruang amnion telah mengisi seluruh kavum uteri.

Letak placenta umumnya di depan/di belakang dinding uterus, agak ke atas kearah
fundus uteri. Karena alasan fisiologis, permukaan bagian atas korpus uteri lebih luas,
sehingga lebih banyak tempat untuk berimplementasi.
Pada awal kehamilan, plasenta mulai terbentuk, berbentuk bundar, berupa organ datar
yang bertanggung jawab menyediakan oksigen dan nutrisi untuk pertumbuhan bayi dan
membuang produk sampah dari darah bayi. Plasenta melekat pada dinding uterus dan pada
tali pusat bayi, yang membentuk hubungan penting antara ibu dan bayi.
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi atau tertanam pada segmen bawah
rahim dan menutupi sebagian atau seluruh ostium utri internum. Angka kejadian plasenta
previa adala 0,4 -0,6 % dari keseluruhan persalinan.
Solusio plasenta atau disebut abruption placenta / ablasia placenta adalah separasi
prematur plasenta dengan implantasi normalnya di uterus (korpus uteri) dalam masa
kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak
pembuluh darah yang memungkinkan pengantaran zat nutrisi dari ibu kejanin, jika plasenta
ini terlepas dari implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan
perdarahan yang hebat.
Perdarahan pada solusio plasenta sebenarnya lebih berbahaya daripada plasenta previa
oleh karena pada kejadian tertentu perdarahan yang tampak keluar melalui vagina hampir
tidak ada / tidak sebanding dengan perdarahan yang berlangsung internal yang sangat banyak
pemandangan yang menipu inilah yang sebenarnya yang membuat solusio plasenta lebih
berbahaya karena dalam keadaan demikian seringkali perkiraan jumlah, darah yang telah
keluar sukar diperhitungkan, padahal janin telah mati dan ibu berada dalam keadaan syok.

1
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa definisi plasenta previa, solisio plasenta, retensio plasenta?
2. Apa saja klasifikasi dari plasenta previa, solisio plasenta, retensio plasenta?
3. Apa etiologi dari plasenta previa, solisio plasenta, retensio plasenta?
4. Apa saja tanda dan gejala dari plasenta previa, solisio plasenta, retensio plasenta?
5. Bagaimana insidensi kejadian dari plasenta previa, solisio plasenta, retensio plasenta?
6. Bagaimana diagnosis pasien dengan plasenta previa, solisio plasenta, retensio plasenta
dapat ditegakkan ?
7. Apa saja terapi untuk pasien dengan plasenta previa, solisio plasenta, retensio plasenta?
8. Apa saja komplikasi dari plasenta previa, solisio plasenta, retensio plasenta?

B. TUJUAN
Tujuan pembuatan makalah ini yaitu :
1. Untuk mengetahui definisi plasenta previa, solisio plasenta, retensio plasenta
2. Untuk mengetahui klasifikasi dari plasenta previa, solisio plasenta, retensio plasenta
3. Untuk mengetahui etiologi dari plasenta previa, solisio plasenta, retensio plasenta
4. Untuk mengetahui tanda dan gejala dari plasenta previa, solisio plasenta, retensio plasenta
5. Untuk mengetahui insidensi kejadian dari plasenta previa, solisio plasenta, retensio
plasenta
6. Untuk mengetahui diagnosis pasien dengan plasenta previa, solisio plasenta, retensio
plasenta
7. Untuk mengetahui terapi untuk pasien dengan plasenta previa, solisio plasenta, retensio
plasenta
8. Untuk mengetahui terapi untuk pasien dengan plasenta previa, solisio plasenta, retensio
plasenta

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Solusio Plasenta
Suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya normal terlepas sebagian atau seluruhnya
sebeluym janin lahir, biasanya dihitung sejak usia kehamilan lebih dari 28 minggu.Solusio
plasenta adalah lepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri sebeum janin
lahir.Biasanya terjadi dalam triwulan ketiga, walaupun dapat pula terjadi setiap saat dalam
kehamilan. Apabila terjadi pada kehamilan sebelum 20 minggu, mungkin akan dibuat
diagnosis abortus imminens. Plasenta dapat terlepas seluruhnya (solusio plasenta totalis),
atau plasenta terlepas sebagian ( solusio plasenta paralisis ) atau sebagian pinggir plasenta (
rupture sinus marginalis).

Gb. SOLUSIO PLASENTA


Pendarahan yang terjadi karena lepasnya plasenta dapat menyeludup keluar; atautersembunyi
dibelakang plasenta yaitu pada solisio plasenta dengan pendarahan keluar; atau tersembunyi
dibelakang plasenta yaitu pada solusio plasenta dengan pendarahan tersembunyi atau kedua –
duanya; atau penarahannya menembus selaput ketuban masuk ke dalam kantong ketuban.
Pada soluio plasenta darah dari tempat pelepasan, mencari jalan keluar antara selaput janin
dan dinding Rahim dan akhirnya keluar dari serviks ; terjadilah pendarahan yang keluar atau
pendarahan tampak. Kadang – kadang darah tidak keluar lagi tapi terkumpul dibelakang
placenta membentuk hematom retroplacentaliar.Pendarahan semacam ini disebut pendarahan
kedalam atau pendarahan tersembunyi.Kadang darah masuk ke dalam cairan amnion,

3
sehingga pendarahan tetap tersembunyi.Solusio plecenta dengan pendarahan tersembunyi
menimbulkan tanda yang lebih khas dan pada umumnya lebih berbahaya dari pada solusio
placenta dengan pendarahan keluar.
Secara klinis solusio plasenta dibagi dalam (1) solusio plasenta ringan ; (2) solusio
plasenta sedang ; (3) solusio plasenta berat. Klasifikasi ini dibuat berdasarkan tanda – tanda
kliniknya; hal ini sesuai dengan derajat terlepasnya plasenta.
Perbedaaan solusio plasenta dengan pendarahan tersembunyi dan dengan pendarahan
keluar :
Dengan pendarahan tersembunyi Dengan pendarahan keluar
Lepasnya plasenta lebih komplit Biasanya inkomplit
Sering disertai toxaemia Jarang disertai toxaemia
Hanya merupakan 20% dari solusio Merupakan 80% dari solusio plasenta
plasenta

Batasan solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta sebelum waktunya dengan implantasi
normal pada kehamilan trimester tiga.Terlepasnya plasenta sebelum waktunya menyebabkan
akumulasi darah antara plasenta dan dinding Rahim yang dapat menimbulkan gangguan –
penyulit terhadap ibu maupun janin.
Penyulit terhadap ibu dapat dalam bentuk :
1. Berkurangnya darah dalam sirkulasi darah umum
2. Terjadinya penurunan tekanan darah, peningkatan nadi dan pernafasan
3. Penderita tampak anemis
4. Dapat menimbulkan gangguan pembekuan darah, karena terjadi pembekuan intravaskuler
yang diikuti hemolysis darah sehingga fibrinogen semakin berkurang dan memudahkan
terjadinya pendarahan
5. Setelah persalinan dpat menimbulkan pendarahan postpartum karena atonia uteri dan
gangguan pembekuan darah
6. Menimbulkan gangguan fungsi ginjal dan terjadi emboli yang menimbulkan komplikasi
sekunder
7. Peningkatan akumulasi darah dibelakang plasenta dapat menyebabkan rahim yang keras,
padat dan kaku
8. Penyulit terhadap janin dalam Rahim, bergantung pada luas plasenta yang lepas dapat
menimbulkan asfiksia ringan sampai kematian janin dalam Rahim.

4
a.Klasifikasi
Solusio plasenta menurut derajat lepasnya plasenta dibagi menjadi :
Solusio plasenta lateralis atau parsialis
Bila hanya sebagian dari plasenta yang terlepas dari tempat perlekatannya
Solusio plasenta totalis
Bila seluruh bagian plasenta sudah terlepas dari perlekatannya
Prolapsus plasenta
Kadang-kadang plasenta ini turun kebawah dan teraba pada pemeriksaan dalam

b. Frekuensi
Solusio plasenta terjadi kira – kira 1 diantara 50 persalinan. Di rumah sakit Dr. Cpto
Mangunkusumo antara tahun 1968 – 1971 solusio plasenta terjadi kira – kira 2,1 % dari
seluruh persalinan, yang terdiri dari 14% solusio plasenta sedang, 86% solusio plasenta berat.
Solusio plasenta ringan jarang didiagnosisis, mungkin Karenna penderita selalu datang
terlambat datang kerumah sakit; atau, tanda – tanda dan gejalanya terlampaui ringan,
sehingga tidak menarik perhatian penderita maupun dokternya.

c. Etiologi
Etiologi solusio plasenta hingga kini belum diketahui dengan jelas, namun beberapa
keadaan tertentu dapat menyertainya, seperti umur ibu yang tua, mutiparas, penyakit
hipertensi menahun, pre-eklamsia, trauma, tali pusat yang pendek, tekanan pada vena cava
inferior, dan defisiensi asam folik.
Pengalaman dari Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo menunjukkan bahwa kejadian
solusio plasenta meningkat dengan meningkatnya umur dan paritas ibu. Ha ini dapat
diterangkan karena makin tua umur ibu, makin tinggi frekuensi penyakit hipertensi menahun.
Demikian pula, makin tinggi paritas ibu, makin kurang baik endometriumnya.
Walaupun pernah dilaporkan tali pusat yang pendek, tekanan pada vena kava inferior
oleh uterus yang membesar, dan defisiensi asam folik dapat merupakan etiologi solusio
plasenta, akan tetapi penyidik lain tidak dapat membuktikannya.
Patologi
Pendarahan yang terjadi dari pembuluh darahplasenta atau uterus yang membentuk
hematoma pada desidua, sehingga plasenta mendesak dan akhirnya terlepas. Apabila
pendarahan sedikit, hematoma yang kecil tu hanya akan mendesak jaringan plasenta,
pendarahan darah antara uterus dan plasenta belum terganggu, dan tanda serta gejalanya pun
5
tidak jelas. Ejadiannya baru diketahui setelah plasenta lahir, yang pada pemeriksaan didapati
cekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan darah lama yang berwarna kehtam –
hitaman.
Biasanya pendarahan akan berlangsung terus menerus karena otot uterus yang telah
meregang oleh kahamilan itu tidak mampu untuk lebih berkontraksi menghentikan
pendarahannya. Akibatnya, hematoma retroplasenter akan bertambah besar sehingga
sebagian dan akhirnya seluruh plasnta terlepas dari dinding uterus. Sebagian darah akan
menyeludup dibawah selaput ketuban keluar dari vagina; atau menembus selaput ketuban
masuk kedalam kantong ketuban; atau mengadakan ekstravasasi antara serabut – serabt otot
uterus. Apabila ekstravasasinya berlangsung hebat, seluruh permukaan uterus akan berbecak
biru atau ungu. Hal ini disebut uterus Couvelaire, menurut orang yang pertama kali
menemukannya. Uterus seperti itu akan terasa sangat tegang dan nyeri. Akibat kerusakan
jaringan myometrium dan pembekuan retroplasenter, banyak tromboplastin akan masuk ke
dalam peredaran darah ibu, sehingga terjadi pembekuan intravaskuler dimana – mana, yang
akan menghabiskan sebagian besar persediaan fibrinogen. Akibatnya, terjadi
hipofibrinogenemi yang menyebabkan gangguan pembekuan darah tidak hanya diuterusm
akan tetapi juga pada alat – alat tubuh lainnya. Perfungsi ginjal akan terganggu karena syok
dan pembekuan intravaskuler. Oliguria dan proteinuriaakan terjadi akibat nekrosis tubuli
ginjal mendadak yang masih dapat sembuh kembali, atau akibat nekrosis korteks ginjal
mendadak yang biasanya berakibat fatal.
Nasib janin tergantung pada luasnya plasenta yang terlepas dari dinding uterus. Apabila
sebagian besar atau seluruhnya terlepas, aniksia akan mengakibatkan kematian janin. Apabila
sebagian kecil yang terlepas, munkin tidak berpengaruh sama sekali atau mengakibatkan
gawat janin.
Waktu, sangat menentukan hebatnya gangguan pembekuan darah, kelainan ginjal, dan
nasib janin.Makin lama sejak terjadinya solusio plasenta sampai persalinan selesai, makin
hebat umumnya komplikasi.

d. Tanda dan Gejala


Pendarahan yang disertai nyeri, juga diluar his
Anemi dan shock, beratnya anaemi dan shock sering tidak sesuai dengan banyaknya darah
yang keluar

6
Rahim keras seperti papan dan nyeri ang dipegang karena diatas Rahim bertambah dengan
darah yang terumpul dibelakang plasenta hingga Rahim tegang ( uterus en bois )
Palpasi sukar karena Rahim keras
Fundus uteri makin ama makin naik
Bunyi jantung biasanya tidak ada
Pada toucher teraba ketuban yang tegag terus menerus ( karena isi Rahim bertambah)
Sering ada proteinuria karena disertai taxaemia
Perbedaan antara solusio plasenta dan plasenta previa:
Solusio Plasenta Plasenta Previa
Pendarahan dengan nyeri Pendarahan tanpa nyeri
Pendarahan segera disusul dengan Pedarahan berulang – ulang sebelum
partus partus
Pendarahan keluar hanya sedikit Pendarahan keluar banyak
Palpasi sukar Bagian depan tinggi
Bunyi jantung anak biasanya tidak ada Biasanya ada
Pada toucher tidak teraba plasenta tapi Teraba bagian plasenta
ketuban yang terus menerus tegang
Ada impressi pada jaringan plasenta Robekan selapot marginal
karena hematom

e. Komplikasi
Komplikasi pada ibu dan janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas dan
lamanya solusio plasenta berlangsung.Komplikasi yang dapat terjadi ialah pendarahan,
kelaina pembekuan darah, oliguria, gawat janin sampai kematian.Pada solusio plasenta yang
berat semua kompilasi ini dapat terjadi sekaligus dalam waktu singkat, sedangkan pada
solusio plasenta sedang apalagi yang ringan, terjadinya satu per satu dan perlahan – lahan.
1. Pendarahan
Pendarahan antepartum dan intrapartum pada solusio plasenta hamper tidak dapat
dicegah, keculai dengan menyelesaikan persalinan segera. Bila persalinan telah selesai,
penderita belum bebas dari bahaya pendarahan postpartum karena kontraksi uterus yang tidak
kuat untuk menghentikan pendarahan pada kala III, dan kelainan pembekuan darah.
Kontraksi uerus yang tidak kuat itu disebabkan oleh ektravesasi darah diantara otot – otot
myometrium, seperti yang terjadi pada uterus Couvelaire.Apabila pendarahan postpartum

7
tidak dapat diatasi dengan kompresi bimanual uterus, pemberian uteritonika, maupun
pengobatan kelainan pebekuan darah, maka tindakan terakhir untuk mengatasi pendarahan
postpartum itu ialah histeroktomi atau pengikatan ateria hipogastrika.
2. Kelainan pembekuan darah
Kelainan pembekuan darah pada solusio plasenta yang biasanya disebabkan oleh
hipofibrinogenemi terjadi kira – kira 10%. Terjadinya hipofebrinnogenemi diterangkan oleh
Page ( 1951 ), dan Schneider ( 1955 ) dengan masuknya tromboplastin ke dalam peredaran
darah ibu akibat terjadinya pembekuan darah retroplasenter, sehingga terjadi pembekuan
darah diintravaskuler dimana – mana, yang akan menghabiskan faktor – faktor pembekuan
darah lainnya, terutama fibrinogen. Selain keterangan yang sederhana ini, masih terdapat
banyak keterangan lain yang lebih rumit.
Kadar fibrinogen plasa normal pada wanita hamil cukup bulan ialah 450mg%, brkisar
antara 300-700mg%.apabila kadar fibrinogen leih rendah dari 100mg%, akan terjadi
gangguan pembekuan darah.
3. Oliguria
Pada tahap oliguria, keadaan umum penderita biasanya masih baik.Oleh karena itu,
oliguria hanya dapatdiketahui dengan pengukuran teliti pengeluaran air kencing yang harus
secara rutin dilakukan pada solusio plasenta sedang, dan solusio plasenta berat, apalagi yang
disertai pendarahan tersembunyi, pre-eklamsia, atau hipertensi menahun.Terjadinya oliguria
belum dapat diterangkan dengan jelas.Sangat mungkin berhubungan dengan hipovolemi, dan
penyempitan pembuluh darah ginjal akibat pendarahan yang banyak. Ada pula yang
menerangkan bahwa tekanan intrauterine yang meninggi karena solusio plasenta
menimbulkan reflex penyempitan pembuluh darah yang meninggi karena solusio plasenta
menimbulkan reflex penyempitan pembuluh darah ginjal. Kelainan pembekuan darah
berperanan pula dalam terjadinya kelainan fungsi ginjal ini.
4. Gawat janin
Jarang kasus solusio plasenta yang datang ke rumah sakit dengan janin yang masih
hidup.Kalaupun didapatkan janin masih hidup, biasanya kedaannya sudah semakin gawat,
kecuali pada kasus solusio plasenta ringan.
Solusio Plasenta ringan.Pendarahan antepartum sedikit, dengan uterus yang tidak tegang,
pertama kali harus ditangani sebagai kasus plasenta previa.Apabila kemudian ternyata
kemungkinan plasenta previa dapat disingkirkan, barulah ditangani sebagai solusio plasenta.
Apabila kehamilan kurang dari 36 minggu, dan pendarahannya kemudian berhenti,
perutnya tidak menjadi sakit, dan uterusnya tidak menjadi tenang, kiranya penderita dapat
8
dirawat konservatif dirumah sait dengan observasi ketat. Apabila pendarahan berlangsung
terus, dan gejalan solusio plasenta bertambah jelas, atau dalam pemantauan ultrasonografik
daerah solusio plasenta bertambah luas, maka pengakhiran kehamilan tidak dapat dihindarkan
lagi.Apabila janin hidup, lakukan seksio sesaria; apabila janin mati ketuban segera
dipecahkan disusul dengan pemberian oksitosin untuk mempercepat persalinan.
Solusio plasenta sedang dan berat. Apabila tanda dan gejala klinik solusio plasenta jelas
dapat dtemukan, penanganannya dirumah sakit meliputi :
a. Transfuse darah
b. Pemecahan ketuban
c. Infus oksitosin
d. Jika perlu, seksio sesaria
Apabila diagnosis linik solusio plasenta dapat ditegakkan, itu berarti pendarahan terjadi
sekurang – kurangnya 1000ml. dengan demikian, transfuse darah harus segera diberikan,
tidak peduli bagaimana keadaan umum penderita waktu itu. Tekanan darah tidak merupakan
petunjuk banyaknya pendarahan karena vasospasmus sebagai reaksi dari pendarahan ini akan
meninggikan tekanan darah. Petunjuk yang paling tepat untuk memberikan transfuse dara
secukupnya ialah dengan mengukur tekanan vena pusat ( CPV atau central venous pressure ).
Perbandingan gejala klinis dari berbagai kehilangan darah pada Solusio Plasenta

f. Diagnosis dan gambaran klinis


Gambaran klinis solusio plasenta bergantung pada seberapa bagian plasenta yang terlepas.
1. Solusio plasenta ringan
a. Terlepasnya plasenta kurang dari ¼ luasnya
b. Tidak memberikan gejala klinik dan ditemukan setelah persalinan
c. Keadaan umum ibu dan janin tidak mengalami gangguan
d. Persainan berjalan lancer pervagina
2. Solusio Plasenta sedang
a. Terlepasnya plasenta lebih dari ¼ tetapi belum mencapai 2/3 bagian
b. Apat menimbulkan gejala klinis: pendarahan dengan rasa sakit, perut terasa
tegang, gerakan janin berkurang, palpasi bagian janin sulit diraba, auskultasi
jantung janin dapat menjadi asfiksia ringan dan sedang pada pemeriksaan dalam
ketuban menonjol, dapat terjadi gangguan pembekuan darah.
3. Solusio plasenta berat
a. Lepasnya plasenta lebih dari 2/3 bagian
9
b. Terjadi pendarahan disertai rasa nyeri
c. Penyulit pada ibu :
 Terjadi shock dengan tekanan darah menurun, nadi dan pernafasan meningkat
 Dapat terjadi gangguan pembekuan darah
 Pada penderita dijumpai turunnya tekanan darah sampai syok, tidak sesuai
dengan pendarahan dan penderita tampak anemis
 Pemeriksaan abdomen tegang, bagian janin sulit teraba; dinding perut terasa
sakit; dan janin telah meninggal didalam Rahim
 Pemeriksaan dalam ketuban tegang dan menonjol
 Psolusio plasenta berat dengan Cauvelaire uterus terjadi gangguan kontraksi
dan atonia uteri.
Diagnosis
Diagnosis solusio plasenta dapat ditegakkan dengan melakukan :
1. Anamnesa
Terdapat pendarahan disertai rasa nyeri, terjadi spontan atau karena trauma, perut teasa nyeri
diikuti penurunan sampai terhentinya gerakan janin dalam Rahim.
2. Pemeriksaan
a. Pemeriksaan fisik umum
Keadaan umum penderita tidak sesuai dengan jumlah pendarahan, tekanan darah menurun,
nadi dan pernafasan meningkat, penderita tampak anemis
b. Pemeriksaan khusus
Palpasi abdomen ( perut tegang terus menerus, terasa nyeri saat dipalpasi, bagian janin sukar
dientukan ), auskutasi ( DJJ bervariasi dan asfiksia ringan sampai berat), pemeriksaan dalam (
terdapat pembukaan, ketuban tegang dan menonjol).
3. Pemeriksaan penunjang
Dengan USG, dijumpai pendarahan antara plasenta dan dinding abdomen.

Solusio plasenta Plasenta previa

Kejadian Hamil tua Hamil tua


In partu
Anamnesis Medadak Perlahan tanpa disadari
Terdapat trauma Tanpa trauma
Pendarahan dengan nyeri Pendarahan tanpa nyeri

10
Keadaan umum Tidak sesuai dengan Sesuai dengan
pendarahan pendarahan yang tampak
Anamnesis, tekanan darah,
frekuensi nadi dan pernafasan
tidak sesuai dengan Tidak ada
pendarahan
Disertai pre – eklamsia /
eklamsia
Palpasi abdomen Tegang, nyeri Lembek – tanpa rasa
Bagian janin sulit diraba nyeri
Bagian janin muda teraba
Denyut jantung Asfiksia sampai mati Asfiksia
janin bergantung pada lepasnya Meninggal bila Hb <5g%
plasenta
Pemeriksaan Ketuban tegang menonjol Jaringan plasenta
dalam

g. Penatalaksanaan solusio plasenta


Solusio plasenta ringan.Pasa solusio plasentaringan dengan tanda perut tegang
sedikit, pendarahan tidak terlalu banyak, keadaan janin masih baik, dapat dilakukan
penanganan secara konservatif.Bila pendarahan berlangsung terus, ketegangan makin
meningkat, dengan janin yang masih baik dilakukan seksio sesaria.Penanganan pendarahan
yang berhenti dan keadaan yang baik pada kehamilan premature dilakukan dirumah sakit.
Solusio plasenta tingkat sedang dan berat.penanganan dilakukan dirumah sakit
karena dapat membahayakan jiwa penderita. Tatalaksananya adalah pemasangan infus dan
transfuse darah, memecahkan ketuban, induksi persalinan atau seksio sesaria. Oleh karena
itu, penanganan solusio plasenta sedang dan berat harus dilakukan dirumah sakit dengan
fasilitas yang mencukupi.
Bidan merupakan tenaga andalan masyarakat untuk dapat memberikan pertolongan
kebidanan, sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu maupun
perinatal.Dalam menghadapi pendarahan pada kehamilan, sikap bidan yang paling utama
adalah melakukan rujukan ke rumah sakit.

11
Dalam melakukan rujukan diberikan pertolongan darurat :
 Pemasangan infus
 Tanpa melakukan pemeriksaan dalam
 Diantar petugas yang dapat memberikan pertolongan
 Mempersiapkan donor dari masyarakat atau keluarganya
 Menyertakan keterangan tentang apa yang telah dilakukan untuk memberikan
pertolongan pertama.

B. Plasenta Previa
Plasenta previa merupakan implantasi plasenta di bagian bawah sehingga menutupi
ostium uteri internum, serta menimbulkan perdarahan saat pembentukan segmen bawah
rahim. (Cunningham, 2006).
Plasenta Previa adalah plasenta berimplantasi, baik parsial atau total pada sekmen bawah
uteri dan terletak di bawah (previa) bagian presentasi bawah janin .(Lewellyn, 2001)
Plasenta previa plasenta yang letaknya apnormal, pada sekme uterus sehingga dapat
menutupi sebagian atau seluruh pada jalanlahir (Mansjoer, 2001).
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus
sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (FKUI, 2000).

Gb. Plasenta Previa

a. Etiologi
Penyebab plasenta previa belum diketahui dengan pasti, namun bermacam-macam teori dan
faktor-faktor dikemukakan sebagai etiologi.
Faktor-faktor yang dapat meningkatkan kejadian plasenta previa :
a. Umur penderita
Umur muda karena endometrium masih belum sempurna.

12
Umur diatas 35 tahun karena tumbuh endometrium yang kurang subur.
b. Paritas
Pada paritas yang tinggi kejadian plasenta previa makin besar karena endometrium belum
sempat tumbuh.
c. Endometrium yang cacat
 Bekas persalinan berulang dengan jarak pendek.
 Bekas operasi, bekas kuretase atau plasentamanual.
 Pertumbuhan tumor endometrium seperti pada mioma uteri atau polip endometrium.
 Gestasi ganda.
 Endometriosis puerperal.
d. Hipoplasia endometrium
Bila kawin dan hamil pada umur muda
Menurut Manuaba (2003), penyebab terjadinya plasenta previa diantaranya adalah mencakup:
a. Perdarahan (hemorrhaging).
b. Usia lebih dari 35 tahun.
c. Multiparitas.
d. Pengobatan infertilitas.
e. Multiple gestation.
f. Erythroblastosis.
g. Riwayat operasi/pembedahan uterus sebelumnya.
h. Keguguran berulang.
i. Status sosial ekonomi yang rendah.
j. Jarak antar kehamilan yang pendek.
k. Merokok.

Penyebab plasenta previa secara pasti sulit ditentukan, tetapi ada beberapa faktor yang
meningkatkan risiko terjadinya plasenta previa, misalnya bekas operasi rahim (bekas cesar
atau operasi mioma), sering mengalami infeksi rahim (radang panggul), kehamilan ganda,
pernah plasenta previa, atau kelainan bawaan rahim.
Sedangkan menurut Kloosterman(1973), Plasenta bertumbuh pada segmen bawah
uterus tidak selalu dapat dengan jelas diterangkan. Vaskularisasi yang berkurang atau
perubahan atropi akibat persalinan yang lalu dapat menyebabkan plasenta previa, tidak selalu
benar. Memang apabila aliran darah ke plasenta tidak cukup seperti pada kehamilan kembar

13
maka plasenta yang letaknya normal sekalipun akan memperluas permukaannya sehingga
mendekati atau menutupi pembukaan jalan lahir. Frekuensi plasenta previa pada primigravida
yang berumur lebih 35 tahun kira-kira 10 kali lebih sering dibandingkan dengan primigravida
yang berumur kurang dari 25 tahun . Pada grandemultipara yang berumur lebih dari 30 tahun
kira-kira 4 kali lebih sering dari grandemultipara yang berumur kurang dari 25 tahun.

Faktor Predisposisi dan Presipitasi


Menurut Mochtar (1998), faktor predisposisi dan presipitasi yang dapat mengakibatkan
terjadinya plasenta previa adalah :
a. Melebarnya pertumbuhan plasenta :
1) Kehamilan kembar (gamelli).
2) Tumbuh kembang plasenta tipis.
b. Kurang suburnya endometrium :
1) Malnutrisi ibu hamil.
2) Melebarnya plasenta karena gamelli.
3) Bekas seksio sesarea.
4) Sering dijumpai pada grandemultipara.
c. Terlambat implantasi :
1) Endometrium fundus kurang subur.
2) Terlambatnya tumbuh kembang hasil konsepsi dalam bentuk blastula yang siap
untuk nidasi.

b. Patofisologi
Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atau uterus. Kadang-kadang bagian
atau seluruh organ dapat melekat pada segmen bawah uterus, dimana hal ini dapat diketahui
sebagai plasenta previa. Karena segmen bawah agak merentang selama kehamilan lanjut dan
persalinan, dalam usaha mencapai dilatasi serviks dan kelahiran anak, pemisahan plasenta
dari dinding uterus sampai tingkat tertentu tidak dapat dihindarkan sehingga terjadi
pendarahan.
Plasenta previa adalah implantasi plasenta bawah rahim sehingga menutupi kanalis servikalis
dan mengganggu proses persalinan dengan terjadinya perdarahan. Zigot yang
tertanam sangat rendah dalam kavum uteri, akan membentuk plasenta yang pada awal
mulanya sangat berdekatan dengan ostimintenum. Plaseta yang letaknya demikian akan diam
di tempatnya sehingga terjadi plasenta previa
14
Penurunan kepala janin yang mengakibatkan tertekannya plasenta (apabila plasenta
tumbuh di segmen bawah rahim ). Pelebaran pada segmen bawah uterus dan
pembukaan serviks akan menyebabkan bagian plasenta yang di atas atau dekat ostium akan
terlepas dari dinding uterus. Segmen bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan pada
trimester III.Perdarahan tidak dapat dihindari karena ketidakmampuan serabut otot
segmenbawah uterus berkontraksi seperti pada plasenta letak normal. ( Doengoes, 2000 ).

c. Klasifikasi
Klasifikasi plasenta previa berdasarkan terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan
lahir pada waktu atau derajat abnormalitas tertentu :

1. Placenta previa totalis

Bila plasenta menutupi ostium internum servisis seluruh pembukaanjalan lahir. Pada posisi
ini, jelas tidak mungkin bayi dilahirkan per-vaginam (normal/spontan/biasa), karena risiko
perdarahan sangat hebat.

2. Placenta previa partialis

Bila hanya sebagian/separuh plasenta yang menutupi ostium internum pembukaan jalan lahir.
Pada posisi inipun risiko perdarahan masih besar, dan biasanya tetap tidak dilahirkan melalui
per-vaginam.

3. Placenta previa marginalis

Bila hanya bagian tepi plasenta yang menutupi jalan lahir. Bisa dilahirkan per-vaginam tetapi
risiko perdarahan tetap besar.

4. Low-lying placenta

(Plasenta letak rendah, lateralis placenta atau kadang disebut juga dangerous placenta). Yaitu
posisi plasenta beberapa mm atau cm dari tepi jalan lahir sehingga tidak akan teraba pada
pembukaan jalan lahir. Risiko perdarahan tetap ada, namun bisa dibilang kecil, dan bisa
dilahirkan per-vaginam dengan aman, asal hati-hati.

Derajat plasenta previa akan tergantung kepada luasnya ukuran dilatasi serviks saat
dilakukan pemeriksaan. Perlu ditegaskan bahwa palpasi digital untuk mencoba memastikan

15
hubungan yang selalu berubah antara tepi plasenta dan ostium internum ketika serviks
berdilatasi, dapat memicu terjadinya perdarahan hebat.

Tanda dan Gejala


Menurut FKUI (2000), tanda dan gejala plasenta previa di antaranya adalah:

a. Pendarahan tanpa sebab dan tanpa rasa nyeri dari biasanya serta berulang.
b. Darah biasanya berwarna merah segar.
c. Terjadi pada saat tidur atau saat melakukan aktivitas.
d. Bagian terdepan janin tinggi (floating), sering dijumpai kelainan letak janin.
e. Pendarahan pertama (first bleeding) biasanya tidak banyak dan tidak fatal, kecuali bila
dilakukan periksa dalam sebelumnya. Tetapi perdarahan berikutnya (reccurent bleeding)
biasanya lebih banyak.

Menurut Departemen Kesehatan RI (1996) :


Gejala Utama :
Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang berwarna merah segar,
tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri.
Gejala Klinik :
a. Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang terjadi pertama kali
biasanya tidak banyak dan tidak berakibat fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu
lebih banyak dari sebelumnya. Perdarahan pertama sering terjadi pada triwulan ketiga.
b. Pasien yang datang dengan perdarahan karena plasenta previa tidak mengeluh adanya
rasa sakit.
c. Pada uterus tidak teraba keras dan tidak tegang.
d. Bagian terbanyak janin biasanya belum masuk pintu atas panggul dan tidak jarang
terjadi letak janin lintang atau letak sungsang.
e. Janin mungkin masih hidup atau sudah mati, tergantung banyaknya perdarahan,
sebagian besar kasus, janinnya masih hidup.

Perdarahan adalah gejala primer dari placenta previa dan terjadi pada mayoritas
(70%-80%) dari wanita-wanita dengan kondisi ini. Perdarahan vagina setelah minggu ke 20
kehamilan adalah karakteristik dari placenta previa. Biasanya perdarahan tidak menyakitkan,
namun ia dapat dihubungkan dengan kontraksi-kontraksi kandungan dan nyeri perut.
Perdarahan mungkin mencakup dalam keparahan dari ringan sampai parah.

16
Pemeriksaan ultrasound digunakan untuk menegakan diagnosis dari placenta previa.
Evaluasi ultrasound transabdominal (menggunakan probe pada dinding perut) atau
transvaginal (dengan probe yang dimasukan ke dalam vagina namun jauh dari mulut serviks)
mungkin dilakukan, tergantung pada lokasi dari placenta. Adakalanya kedua tipe-tipe dari
pemeriksaan ultrasound adalah perlu. Adalah penting bahwa pemeriksaan ultrasound
dilakukan sebelum pemeriksaan fisik dari pelvis pada wanita-wanita dengan placenta previa
yang dicurigai, karena pemeriksaan fisik pelvic mungkin menjurus pada perdarahan yang
lebih jauh.
Gejala paling khas dari plasenta previa adalah perdarahan pervaginam (yang keluar
melalui vagina) tanpa nyeri yang pada umumnya terjadi pada akhir triwulan kedua. Ibu
dengan plasenta previa pada umumnya asimptomatik (tidak memiliki gejala) sampai terjadi
perdarahan pervaginam. Biasanya perdarahan tersebut tidak terlalu banyak dan berwarna
merah segar. Pada umumnya perdarahan pertama terjadi tanpa faktor pencetus, meskipun
latihan fisik dan hubungan seksual dapat menjadi faktor pencetus. Perdarahan terjadi karena
pembesaran dari rahim sehingga menyebabkan robeknya perlekatan dari plasenta dengan
dinding rahim. Koagulapati jarang terjadi pada plasenta previa. Jika didapatkan kecurigaan
terjadinya plasenta previa pada ibu hamil, maka pemeriksaan Vaginal Tousche (pemeriksaaan
dalam vagina) oleh dokter tidak boleh dilakukan kecuali di meja operasi mengingat risiko
perdarahan hebat yang mungkin terjadi.

d. Komplikasi
1. Plasenta abruptio. Pemisahan plasenta dari dinding rahim.
2. Perdarahan sebelum atau selama melahirkan yang dapat menyebabkan histerektomi
(operasi pengangkatan rahim).
3. Plasenta akreta, plasenta inkreta, plasenta perkreta.
4. Prematur atau kelahiran bayi sebelum waktunya (< 37 minggu).
5. Kecacatan pada bayi.

Menurut Roeshadi (2004), kemungkinan komplikasi yang dapat ditimbulkan dari adanya
plasenta previa adalah sebagai berikut :
a. Pada ibu dapat terjadi :
1) Perdarahan hingga syok akibat perdarahan.
2) Anemia karena perdarahan.
3) Plasentitis
17
4) Endometritis pasca persalinan
b. Pada janin dapat terjadi :
1) Persalinan premature.
2) Asfiksia berat.

e. Prognosis
Perdarahan yang salah satunya disebabkan oleh plasenta previa, dapat menyebabkan
kesakitan atau kematian baik pada ibu maupun pada janinnya. Faktor resiko yang juga
penting dalam terjadinya plasenta previa adalah kehamilan setelah menjalani seksio
sebelumnya, kejadian plasenta previa meningkat 1% pada kehamilan dengan riwayat seksio.
Kematian ibu disebabkan karena perdarahan uterus atau karena DIC (Disseminated
Intravascular Coagulopathy). Sedangkan morbiditas/ kesakitan ibu dapat disebabkan karena
komplikasi tindakan seksio sesarea seperti infeksi saluran kencing, pneumonia post operatif
dan meskipun jarang dapat terjadi embolisasi cairan amnion (Hanafiah, 2004).

Terhadap janin, plasenta previa meningkatkan insiden kelainan kongenital dan


pertumbuhan janin terganggu sehingga bayi yang dilahirkan memiliki berat yang kurang
dibandingkan dengan bayi yang lahir dari ibu yang tidak menderita plasenta previa. Risiko
kematian neonatal juga meningkat pada bayi dengan plasenta previa (Hanafiah, 2004).

Pemeriksaaan Penunjang dan Laboratorium

a. USG : biometri janin, indeks cairan amnion, kelainan congenital, letak dan derajat
maturasi plasenta. Lokasi plasenta sangat penting karena hal ini berkaitan dengan
teknik operasi yang akan dilakukan.
b. Kardiotokografi (KTG) : dilakukan pada kehamilan > 28 minggu.
c. Laboratorium : darah perifer lengkap. Bila akan dilakukan PDMO atau operasi, perlu
diperiksa faktor waktu pembekuan darah, waktu perdarahan dan gula darah sewaktu.
d. Sinar X : Menampakkan kepadatan jaringan lembut untuk menampakkan bagian-
bagian tubuh janin.
e. Pengkajian vaginal : Pengkajian ini akan mendiagnosa placenta previa tapi seharusnya
ditunda jika memungkinkan hingga kelangsungan hidup tercapai (lebih baik sesuadah
34 minggu). Pemeriksaan ini disebut pula prosedur susunan ganda (double setup
procedure). Double setup adalah pemeriksaan steril pada vagina yang dilakukan di
ruang operasi dengan kesiapan staf dan alat untuk efek kelahiran secara cesar.
f. Isotop Scanning : Atau lokasi penempatan placenta.

18
g. Amniocentesis : Jika 35 – 36 minggu kehamilan tercapai, panduan ultrasound pada
amniocentesis untuk menaksir kematangan paru-paru (rasio lecithin / spingomyelin
[LS] atau kehadiran phosphatidygliserol) yang dijamin. Kelahiran segera dengan
operasi direkomendasikan jika paru-paru fetal sudah mature.

f. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Medis

Episode pendarahan signifikan yang pertama biasanya terjadi di rumah pasien, dan
biasanya tidak berat. Pasien harus dirawat di rumah sakit dan tidak dilakukan pemeriksaan
vagina, karena akan mencetuskan perdarahan yang sangat berat. Di rumah sakit TTV pasien
diperiksa, dinilai jumlah darah yang keluar, dan dilakukan close match. Kehilangan darah
yang banyak memerlukan transfusi. Dilakukan palpasi abdomen untuk menentukan umur
kehamilan janin, presentasi, dan posisinya.

Pemeriksaan Ultrasonografi dilakukan segara setelah masuk, untuk mengkonfirmasi


diagnosis Penatalaksanaan selajutnya tergantung pada perdarahan dan umur kehamilan janin.
Dalam kasus perdarahan hebat, diperlukan tindakan darurat untuk melahirkan bayi (dan
plasenta) tanpa memperhitungkan umur kehamilan janin. Jika perdarahan tidak hebat,
perawatan kehamilan dapat dibenarkan jika umur kehamilan janin kurang dari 36 minggu.
Karena perdarahan ini cenderung berulang, ibu harus tetap dirawat di RS. Episode perdarahan
berat mungkin mengharuskan pengeluaran janin darurat, namum pada kebanyakan kasus
kehamilan dapat dilanjutkan hingga 36 minggu, kemudian pilihan melahirkan bergantung
pada apakah derajat plasenta previanya minor atau mayor. Wanita yang memiliki
derajat plasenta previa minor dapat memilih menunggu kelahiran sampai term atau dengan
induksi persalinan, asalkan kondisinya sesuai. Plasenta previa derajat mayor ditangani dengan
seksio seksarae pada waktu yang ditentukan oleh pasien atau dokter, meskipun biasanya
dilakukan sebelum tanggal yang disepakati, karena perdarahan berat dapat terjadi setiap saat.

Menurut Wiknjosastro (2005), penatalaksanaan yang diberikan untuk penanganan plasenta


previa tergantung dari jenis plasenta previanya yaitu :

a. Kaji kondisi fisik klien.

b. Menganjurkan klien untuk tidak coitus.

c. Menganjurkan klien istirahat.

d. Mengobservasi perdarahan.

19
e. Memeriksa tanda vital.

f. Memeriksa kadar Hb.

g. Berikan cairan pengganti intravena RL.

h. Berikan betametason untuk pematangan paru bila perlu dan bila fetus masih premature.

i. Lanjutkan terapi ekspektatif bila KU baik, janin hidup dan umur kehamilan < 37 minggu.

b. Penanganan konservatif bila :


1. Kehamilan kurang 37 minggu.
2. Perdarahan tidak ada atau tidak banyak (Hb masih dalam batas normal).
3. Tempat tinggal pasien dekat dengan rumah sakit (dapat menempuh perjalanan selama 15
menit).

c. Penanganan konservatif berupa :


1. Istirahat.
2. Memberikan hematinik dan spasmolitik unntuk mengatasi anemia.
3. Memberikan antibiotik bila ada indikasii.
4. Pemeriksaan USG, Hb, dan hematokrit.

Bila selama 3 hari tidak terjadi perdarahan setelah melakukan perawatan konservatif
maka lakukan mobilisasi bertahap. Pasien dipulangkan bila tetap tidak ada perdarahan. Bila
timbul perdarahan segera bawa ke rumah sakit dan tidak boleh melakukan senggama.

d. Penanganan aktif bila :


1. Perdarahan banyak tanpa memandang usia kehamilan.
2. Umur kehamilan 37 minggu atau lebih.
3. Anak mati.

e. Penanganan aktif berupa :


1. Persalinan per vaginam.
2. Persalinan per abdominal.

20
Penderita disiapkan untuk pemeriksaan dalam di atas meja operasi (double set up)
yakni dalam keadaan siap operasi. Bila pada pemeriksaan dalam didapatkan :
a. Plasenta previa marginalis.
b. Plasenta previa letak rendah.
c. Plasenta lateralis atau marginalis dimana janin mati dan serviks sudah matang, kepala sudah
masuk pintu atas panggul dan tidak ada perdarahan atau hanya sedikit perdarahan maka
lakukan amniotomi yang diikuti dengan drips oksitosin pada partus per vaginam bila gagal
drips (sesuai dengan protap terminasi kehamilan). Bila terjadi perdarahan banyak, lakukan
seksio sesar.

f. Penanganan (pasif)
1. Tiap perdarahan triwulan III yang lebih dari show harus segera dikirim ke Rumah sakit
tanpa dilakukan suatu manipulasi/UT.
2. Apabila perdarahan sedikit, janin masih hidup, belum inpartus, kehamilan belum cu
kup 37
minggu/berat badan janin kurang dari 2.500 gram persalinan dapat ditunda dengan
istirahat, obat-obatan; spasmolitik, progestin/progesterone, observasi teliti.
3. Siapkan darah untuk transfusi darah, kehamilan dipertahankan setua mungkin supay
tidak prematur.
4. Bila ada anemia; transfusi dan obat-obatan penambah darah.

Penatalaksanaan kehamilan yang disertai komplikasi plasenta previa dan janin


prematur tetapi tanpa perdarahan aktif, terdiri atas penundaan persalinan dengan menciptakan
suasana yang memberikan keamanan sebesar-besarnya bagi ibu maupun janin. Perawatan di
rumah sakit yang memungkinkan pengawasan ketat, pengurangan aktivitas fisik,
penghindaran setiap manipulasi intravaginal dan tersedianya segera terapi yang
tepat merupakan tindakan yang ideal. Terapi yang diberikan mencangkup infus larutan
elektrolit, tranfusi darah, persalinan sesarea dan perawatan neonatus oleh ahlinya sejak saat
dilahirkan.
Pada penundaan persalinan, salah satu keuntungan yang kadang kala dapat diperoleh
meskipun relatif terjadi kemudian dalam kehamilan, adalah migrasi plasenta yang cukup jauh
dari serviks, sehingga plasenta previa tidak lagi menjadi permasalahan utama. Arias (1988)
melaporkan hasil-hasil yang luar biasa pada cerclage serviks yang dilakukan antara usia
kehamilan 24 dan 30 minggu pada pasien perdarahan yang disebabkan oleh plasenta previa.
21
Prosedur yang dapat dilakukan untuk melahirkan janin bisa digolongkan ke dalam dua
kategori, yaitu persalinan sesarea atau per vaginam. Logika untuk melahirkan lewat bedah
sesarea ada dua :
a. Persalinan segera janin serta plasenta yang memungkinakan uterus untuk berkontraksi
sehingga perdarahan berhenti
b. Persalinan searea akan meniadakan kemungkinan terjadinya laserasi serviks yang
merupakan komplikasi serius persalinan per vaginam pada plasenta previa totalis serta
parsial.

Penatalaksanaan

Sebelum dirujuk anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap ke kiri,
tidak melakukan senggama, menghindari peningkatan tekanan rongga perut (misal batuk,
mengedan karena sulit buang air besar). Pasang infus NaCl fisiologis. Bila tidak
memungkinkan, beri cairal peroral, pantau tekanan darah dan frekuensi nadi pasien secara
teratur tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya hipotensi atau syok akibat perdarahan. Pantau
pula BJJ dan pergerakan janin. Bila terjadi renjatan, segera lakukan resusitasi cairan dan
transfusi darah bila tidak teratasi, upaya penyelamatan optimal, bila teratasi, perhatikan usia
kehamilan.Penanganan di RS dilakukan berdasarkan usia kehamilan. Bila terdapat renjatan,
usia gestasi kurang dari 37 minggu, taksiran Berat Janin kurang dari 2500g, maka :

a. Bila perdarahan sedikit, rawat sampai usia kehamilan 37 minggu, lalu lakukan mobilisasi
bertahap, beri kortikosteroid 12 mg IV/hari selama 3 hari.

b. Bila perdarahan berulang, lakukan PDMO kolaborasi (Pemeriksaan Dalam Di atas Meja
Operasi), bila ada kontraksi tangani seperti kehamilan preterm. Bila tidak ada renjatan usia
gestasi 37 minggu atau lebih, taksiran berat janin 2500g atau lebih lakukan PDMO, bila
ternyata plasenta previa lakukan persalinan perabdominam, bila bukan usahakan partus
pervaginam.

Cara menyelesaikan persalinan dengan placenta previa adalah :


1. Seksio Cesaria (SC)
Prinsip utama dalam melakukan SC adalah untuk menyelamatkan ibu, sehingga walaupun
janin meninggal atau tak punya harapan hidup tindakan ini tetap dilakukan. Tujuan SC antara
lain :
a. Melahirkan janin dengan segera sehingga uterus dapat segera berkontraksi dan menghentikan
perdarahan.

22
b.Menghindarkan kemungkinan terjadinya robekan pada cervik uteri, jika janin dilahirkan
pervaginam.

Tempat implantasi plasenta previa terdapat banyak vaskularisasi sehingga cervik


uteri dan segmen bawah rahim menjadi tipis dan mudah robek. Selain itu, bekas tempat
implantasi placenta sering menjadi sumber perdarahan karena adanya perbedaan vaskularisasi
dan susunan serabut otot dengan korpus uteri.
Siapkan darah pengganti untuk stabilisasi dan pemulihan kondisi ibu.
Lakukan perawatan lanjut pascabedah termasuk pemantauan perdarahan,
infeksi, dan keseimbangan cairan dan elektrolit.

2. Melahirkan pervaginam
Perdarahan akan berhenti jika ada penekanan pada placenta. Penekanan tersebut dapat
dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
a. Amniotomi dan akselerasi Umumnya dilakukan pada placenta previa lateralis / marginalis
dengan pembukaan > 3cm serta presentasi kepala. Dengan memecah ketuban, placent akan
mengikuti segmen bawah rahim dan ditekan oleh kepala janin. Jika kontraksi uterus belum
ada atau masih lemah akselerasi dengan infus oksitosin.
b. Versi Braxton Hicks Tujuan melakukan versi Braxton Hicks adalah mengadakan
tamponade placenta dengan bokong (dan kaki) janin. Versi Braxton Hicks tidak dilakukan
pada janin yang masih hidup.
c. Traksi dengan Cunam Willet Kulit kepala janin dijepit dengan Cunam Willet, kemudian
diberi beban secukupnya sampai perdarahan berhenti. Tindakan ini kurang efektif untuk
menekan placentadan seringkali menyebabkan perdarahan pada kulit kepala. Tindakan ini
biasanya dikerjakan pada janin yang telah meninggal dan perdarahan yang tidak aktif.

C. Retensio Plasenta
 Retensio Plasenta adalah plasenta yang belum lepas setelah bayi lahir, melebihi
waktu setengah jam (Manuaba, 2001: 432).
 Retensio Plasenta ialah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga 30 menit atau
lebih setelah bayi (Syaifudin AB, 2001).
 Retensio plasenta adalah keadaan dimana plasenta belum lahir daam waktu 1
jam setelah bayi lahir (Rsustam Mochtar, 1998 : 299).

23
Gb. Retensio Plasenta
Etiologi
Menurut Wiknjosastro (2007) sebab retensio plasenta dibagi menjadi 2 golongan ialah sebab
fungsional dan sebab patologi anatomik.
1. Sebab fungsional
a. His yang kurang kuat (sebab utama)
b. Tempat melekatnya yang kurang menguntungkan (contoh : di sudut tuba)
c. Ukuran plasenta terlalu kecil
d. Lingkaran kontriksi pada bagian bawah perut

2. Sebab patologi anatomik (perlekatan plasenta yang abnormal)


a. Plasenta akreta : vili korialis menanamkan diri lebih dalam ke dalam dinding rahim
dari pada biasa ialah sampai ke batas antara endometrium dan miometrium
b. Plasenta inkreta : vili korialis masuk ke dalam lapisan otot rahim
c. Plasenta perkreta : vili korialis menembus lapisan otot dan mencapai serosa atau
menembusnya
Pencegahan
Untuk mencagah retensio plasenta dapat disuntikkan 10 iu pitosin i.m segera setelah
bayi lahir.

Akibat
Dapat menimbulkan bahaya perdarahan, infeksi karena sebagai benda mati, dapat
terjadi placenta inkarserata, dapat terjadi polip placenta dan terjadi degenarasi ganas
korio karsinoma.

24
Penanganan
a. Sikap umum Bidan
1. Memperhatikan k/u penderita
 Apakah anemis
 Bagaimana jumlah perdarahannya
 TTV : TD, nadi dan suhu
 Keadaan fundus uteri : kontraksi dan fundus uteri
2. Mengetahui keadaan placenta
 Apakah placenta ikarserata
 Melakukan tes pelepasan placenta : metode kusnert, metode klein, metode strassman,
metode manuaba
 Memasang infus dan memberikan cairan pengganti
3. Sikap khusus bidan
1) Retensio placenta dengan perdarahan
Langsung melakukan placenta manual
2) Retensio placenta tanpa perdarahan
 Setelah dapat memastikan k/u penderita segera memasang infus dan memberikan
cairan.
 Merujuk penderita ke pusat dengan fasilitas cukup untuk mendapatkan penanganan
lebih baik.
 Memberikan tranfusi.
 Proteksi dengan antibiotika.
 Mempersiapkan placenta manual dengan legeartis dalam keadaan pengaruh narkosa.

4. Upaya preventif retensio placenta oleh bidan


 Meningkatkan penerimaan keluarga berencana sehingga, memperkecil terjadi retensio
placenta.
 Meningkatkan penerimaan pertolongan persalinan oleh nakes yang terlatih.
 Pada waktu melakukan pertolongan persalinan kala III tidak diperkenankan
untuk melakukan massase dengan tujuan mempercepat proses persalinan placenta.
 Massase yang tidak tepat waktu dapat mengacaukan kontraksi otot rahim
dan mengganggu pelepasan placenta.

25
PLACENTA MANUAL
Placenta manual merupakan tindakan operasi kebidanan untuk melahirkan retensio
placenta. Kejadian retensio placenta berkaitan dengan :
1. Grandemulti para dengan implantasi dalam bentuk placenta adhesiva, placenta
akreta, placenta perkreta.
2. Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan.
a. Retensio placenta tanpa perdarahan dapat diperkirakan :
Darah penderita terlalu banyak hilang
Keseimbangan baru terbentuk bekuan darah, sehingga perdarahan tidak terjadi.
Kemungkinan implantasi placenta terlalu dalam.

b. Placenta manual dengan segera dilakukan :


Terdapat riwayat perdarahan post partum berulang
Terjadi perdarahan post partum melebihi 500 cc.
Pada pertolongan persalinan dengan narkosa.
Placenta belum lahir setelah menunggu selama setengah jam.

PERSIAPAN PLACENTA MANUAL


Handscoon steril panjang
Desinfektan untuk genitalia eksterna

TEKHNIK
Sebaiknya dengan narkosa, untuk mengurangi sakit dan menghindari syok.
1. Tangan kiri melebarkan genetalia eksterna, tangan kanan dimasukkan secara obstetri
sampai mencapai tepi placenta dengan menelusuri tali pusat.
2. Tepi placenta dilepaskan dengan ulnar tangan kanan sedangkan tangan kiri
menahan fundus uteri sehingga tidak terdorong ke atas.
3. Setelah seluruh placenta dapat dilepaskan, maka tangan dikeluarkan bersama dengan
placenta.
4. Dilakukan eksplorasi untuk mencari sisa placenta atau membrannya.
5. Kontraksi uterus ditimbulkan dengan memberikan uterotonika.
6. Perdarahan di observasi.

26
KOMPLIKASI TINDAKAN PLACENTA MANUAL

Tindakan placenta manual dapat menimbulkan komplikasi sebagai berikut :


 Terjadi perforasi uterus
 Terjadi infeksi akibat terdapat sisa placenta atau membran dan bakteria terdorong
ke dalam rongga rahim
 Terjadi perdarahan karena atonia uteri.

Untuk memperkecil komplikasi dapat dilakukan tindakan profilaksis dengan :


Memberikan uterotonika intravena atau intramuskular
Memasang tamponade utero vaginal
Memberikan antibiotika
Memasang infus dan persiapan tranfusi darah.

ASUHAN KEBIDANAN PADA POST PLACENTA MANUAL

1. Observasi kontraksi uterus setiap 15 menit pada 1 jam pertama. Pada jam kedua setiap
30 menit.
2. Observasi TD dan nadi setiap 15 menit pada 1 jam pertama. Pada jam kedua setiap 30
menit.
3. Observasi suhu setiap 1 jam.
4. Observasi TFU, UC dan kandung kemih setiap 15 menit pada 1 jam pertama. Pada jam
kedua setiap 30 menit.
5. Observasi perdarahan.
6. Pemenuhan kebutuhan cairan dengan RL
7. Pemenuhan kebutuhan nutrisi
8. Pemberian terapi obat terutama antibiotik , analgesik
9. Pemberian tablet Fe
10. Pemberian vit A

27
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Solusio plasenta adalah terlepasnya sebagian atau seluruh permukaan maternalplasenta dari
tempat implantasinya yang normal pada lapisan desidua endometrium sebelumwaktunya
yakni sebelum anak lahir. Di berbagai literatur disebutkan bahwa risiko mengalamisolusio
plasenta meningkat dengan bertambahnya usia. Solusio plasenta merupakan salah satu
penyebab perdarahan antepartum yangmemberikan kontribusi terhadap kematian maternal
dan perinatal di Indonesia. Terdapatfaktor-faktor lain yang ikut memegang peranan penting
yaitu kekurangan gizi, anemia,paritas tinggi, dan usia lanjut pada ibu hamil. Di negara yang
sedang berkembang penyebabkematian yang disebabkan oleh komplikasi kehamilan,
persalinan, nifas atau penangannya(direct obstetric death) adalah perdarahan, infeksi,
preeklamsi/eklamsi. Selain itu kematianmaternal juga dipengaruhi faktor-faktor reproduksi,
pelayanan kesehatan, dan sosioekonomi.Salah satu faktor reproduksi ialah ibu hamil dan
paritas
Solusio plasenta atau disebut abruption placenta / ablasia placenta adalah separasi prematur
plasenta dengan implantasi normalnya di uterus (korpus uteri) dalam masa kehamilan lebih
dari 20 minggu dan sebelum janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah
yang memungkinkan pengantaran zat nutrisi dari ibu kejanin, jika plasenta ini terlepas dari
implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan perdarahan yang
hebat.

Plasenta previa (prae = di depan, vias = jalan) adalah plasenta yang terletak di depan jalan
lahir, implantasinya rendah sekali sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri
internum. Implantasi plasenta yang normal adalah pada dinding anterior atau dinding
posterior fundus uteri.
Plasenta previa cukup sering dijumpai dan pada tiap perdarahan antepartum kemungkinan
plasenta previa harus dipikirkan. Plasenta previa lebih sering terjadi pada multigravida
daripada primigravida dan juga pada usia lanjut.
Plasenta previa terbagi menjadi tiga tingkat:
Plasenta previa totalis: seluruh ostium uteri internum tertutup oleh plasenta
Plasenta previa lateralis: hanya sebagian ostium uteri internum tertutup oleh plasenta
Plasenta previa marginalis: hanya pinggir ostium uteri internum tertutup oleh plasenta

28
Apabila plasenta belum lahir sama sekali, tidak terjadi perdarahan jika lepas sebagian,
terjadi pendarahan yang merupakan indikasi untuk mengeluarkannya plasenta dengan segera

B. Saran
Dalam pembuatan makalah ini tentu jauh dari sempurna. Untuk itu, kami mengharapkan
kritik serta saran dari pembaca demi perbaikan di masa yang akan datang.

29
DAFTAR PUSTAKA

http://siti-solichahnulhakim.blogspot.com/2012/12/makalah-plasenta-previa-dan-solusio.html

http://ayuwijaya28.blogspot.com/2016/05/makalah-solusio-plasenta-plasenta_19.html

30