Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

OSTEOPOROSIS

OLEH :

NIRMA YULAN
JULIARTI
SRI HANDAYANI

PROGRAM STUDI SI KEPERAWATAN

STIKES KURNIA JAYA PERSADA

PALOPO

2018

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat dan rahmat,serta penyertaan-Nya,sehingga makalah “OSTEOPOROSIS”
ini dapat kami selesaikan.

Dalam penulisan makalah ini kami berusaha menyajikan bahan dan bahasa
yang sederhana,singkat serta mudah dicerna isinya oleh para pembaca.kami
menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna serta masih terdapat
kekurangan dan kekeliruan dalam penulisan makalah ini. Maka kami berharap
adanya masukan dari berbagai pihak untuk perbaikan dimasa yang akan
mendatang.

Akhir kata,semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan
dipergunakan dengan layak sebagaimana mestinya.

Palopo, 05 September 2018

Kelompok 2

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...........................................................................................

DAFTAR ISI........................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang ........................................................................................


B. Rumusan masalah ..................................................................................
C. Tujuan....................................................................................................
BAB II KONSEP MEDIS

A. Definisi ...................................................................................................
B. Etiologi ...................................................................................................
C. Manifesta klinis........................................................................................
D. Patofisiologi ........................................................................................
E. Pemeriksaan penunjang............................................................................
F. Penatalaksanaan.......................................................................................
BAB III KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian ..............................................................................................
B. Diagnosa .............................................................................................
C. Intervensi ..............................................................................................
D. Evaluasi ....................................................................................................
E. Discharge planning ................................................................................

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan .............................................................................................
B. Saran .......................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................

JURNAL PENELITIAN ...................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit tulang dan patah tulang merupakan salah satu dari sindrom
geriatrik, dalam arti insiden dan akibatnya pada usia lanjut yang cukup
signifikan. Dengan bertambahnya usia terdapat peningkatan hilang tulang
secara linear. Hilang tulang ini lebih nyata pada wanita dibanding pria.
Tingkat hilang tulang ini sekitar 0,5 – 1% per tahun dari berat tulang pada
wanita pasca menopause dan pada pria > 80 tahun. Hilang tulang ini lebih
mengenai bagian trabekula dibanding bagian korteks, dan pada
pemeriksaan histologik wanita dengan osteoporosis spinal pasca
menopause tinggal mempunyai tulang trabekula < 14% (nilai normal pada
lansia 14 – 24% ) . Sepanjang hidup tulang mengalami perusakan
(dilaksanakan oleh sel osteoklas) dan pembentukan (dilakukan oleh sel
osteoblas) yang berjalan bersama-sama, sehingga tulang dapat membentuk
modelnya sesuai dengan pertumbuhan badan (proses remodelling). Oleh
karena itu dapat dimengerti bahwa proses remodelling ini akan sangat
cepat pada usia remaja. Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi
pembentukan dan pengrusakan oleh kedua jenis sel tersebut. Apabila hasil
akhir perusakan (resorbsi/destruksi) lebih besar dari pembentukan
(formasi) maka akan timbul osteoporosis. Kondisi ini tentu saja sangat
mencemaskan siapapun yang peduli, hal ini terjadi karena ketidaktahuan
pasien terhadap osteoporosis dan akibatnya. Beberapa hambatan dalam
penanggulangan dan pencegahan osteoporosis antara lain karena kurang
pengetahuan, kurangnya fasilitas pengobatan, faktor nutrisi yang
disediakan, serta hambatan-hambatan keuangan. Sehingga diperluan kerja
sama yang baik antara lembaga-lembaga kesehatan, dokter dan pasien.
Pengertian yang salah tentang perawatan osteoporosis sering terjadi karena
kurangnya pengetahuan. Peran dari petugas kesehatan dalam hal ini adalah
dokter dan perawat sangatlah mutlak untuk dilaksanakan. Karena dengan
perannya akan membantu dalam mengatasi peningkatan angka prevalensi
dari osteoporosis. Perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan berperan
dalam upaya pendidikan dengan memberikan penyuluhan tentang
pengertian osteoporosis, penyebab dan gejala osteoporosis serta
pengelolaan osteoporosis. Berperan juga dalam meningkatkan mutu dan
pemerataan pelayanan kesehatan serta peningkatan pengetahuan, sikap dan
praktik pasien serta keluarganya dalam melaksanakan pengobatan
osteoporosis. Peran yang terakhir adalah peningkatan kerja sama dan
system rujukan antar berbagai tingkat fasilitas pelayanan kesehatan, hal ini
akan memberi nilai posistif dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat.
{Fatimah,2010}.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah definisi dari osteoporosis ?
2. Apakah etiologi osteoporosis ?
3. Bagaimana manifestasi klinis osteoporosis ?
4. Apakah patofisiologi dari osteoporosis ?
5. Bagaimana pemeriksaan diagnostik osteoporosis ?
6. Bagaimana penatalaksanaan osteoporosis ?
7. Bagaimana konsep keperawatan osteoporosis ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui gambaran secara nyata dan lebih mendalam tentang
pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan osteoporosis .
2. Mahasiswa mampu memahami pengertian osteoporosis .
3. Mahasiswa mampu memahami etiologi osteoporosis .
4. Mahasiswa mampu memahami manifestasi osteoporosis .
5. Mahasiswa mampu memahami patofisiologi osteoporosis .
6. Mahasiswa mampu memahami pemeriksaan diagnostik osteoporosis .
7. Mahasiswa mampu mengetahui cara penatalaksanaan osteoporosis .
8. Mahasiswa mampu memahami konsep keperawatan osteoporosis

BAB II
PEMBAHASAN

1. Defenisi
Osteoporosis adalah berkurangnya kepadatan tulang yang progresif,
sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Tulang terdiri dari
mineral-mineral seperti kalsium dan fosfat, sehingga tulang menjadi keras
dan padat. Penurunan Massa tulang ini sebagai akibat dari berkurangnya
pembentukan, meningkatnya perusakan (destruksi) atau kombinasi dari
keduanya.
Osteoporosis dibedakan menjadi 2 yaitu osteoporosis lokal dan
osteopororsis umum.
 Osteoporosis lokal dapat terjadi karena kelainan primer di tulang
atau sekunder seperti akibat imobilisasi anggota gerak dalam waktu
lama, dll .
 Osteoporosis umum primer tipe I : pasca menopause, terjadi pada
usia 50-75 tahun, wanita 6-8 kali beresiko dr pd laki-laki ,
penyebabnya adalah menurunnya kadar hormon estrogen dan
menurunnya penyerapan kalsium.
Osteoporosis umum primer tipe II terjadi pada usia 75-85 tahun,
wanita 2 kali lebih banyak daripada pria, penyebabnya adalah
proses penuaan dan menurunnya penyerapan kalsium.
Osteoporosis umum sekunder dihubungkan dengan pelbagai
penyakit yang mengakibatkan kelainan pada tulang, akibat
penggunaan obat tertentu dan lain-lain.

{Tandra, H. 2009}.

2. Etiologi Osteoporosis
1. Determinan Massa Tulang
Massa tulang maksimal pada usia dewasa ditentukan oleh berbagai
faktor antara lain :
a. Faktor genetik
Perbedaan genetik mempunyai pengaruh terhadap kepadatan tulang
b. Faktor mekanik
Beban mekanik berpengaruh terhadap massa tulang, bertambahnya
beban akan menambah massa tulang dan berkurangnya massa
tulang. Ada hubungan langsung dan nyata antara massa otot dan
massa tulang. Kedua hal tersebut menunjukkan respon terhadap
kerja mekanik. Beban mekanik yang berat akan mengakibatkan
massa otot besar dan juga massa tulang yang besar.
c. Faktor makanan dan hormon
Pada seseorang dengan pertumbuhan hormon dengan nutrisi yang
cukup (protein dan mineral), pertumbuhan tulang akan mencapai
maksimal sesuai dengan pengaruh genetic yang bersangkutan
2. Determinan pengurangan massa tulang
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penurunan massa tulang pada
usia lanjut yang dapat mengakibatkan fraktur osteoporosis pada
dasarnya sama seperti pada faktor-faktor yang mempengaruhi massa
tulang.
a. Faktor genetic
Faktor genetik berpengaruh terhadap resiko terjadinya fraktur.
Pada seseorang dengan tulang yang kecil akan lebih mudah
mendapat resiko fraktur dari seseorang denfan tulang yang besar.
b. Faktor mekanis
Pada umumnya aktifitas fisik akan menurun dengan bertambahnya
usia dan karena massa tulang merupakan fungsi beban mekanik,
massa tulang tersebut pasti akan menurun dengan bertambahnya
usia.
c. Faktor lain
- Kalsium
Kalsium merupakan nutrisi yang penting, dengan masukan
kalsium yang rendah dan absorbsinya tidak baik akan
mengakibatkan keseimbangan kalsium yang negatif begitu
sebaliknya.
- Protein
Protein yang berlebihan akan mengakibatkan kecenderungan
keseimbangan kalsium yang negative
- Estrogen
Berkurangnya/hilangnya estrogen dari dalam tubuh akan
mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan kalsium,
karena menurunnya efisiensi absorbsi kalsium dari makanan
dan juga menurunnya konservasi kalsium diginjal.
- Rokok dan kopi
Merokok dan minum kopi dalam jumlah banyak cenderung
akan mengakibatkan penurunan massa tulang, lebih-lebih bila
disertai masukan kalsium yang rendah. Mekanisme pengaruh
rokok terhadap penurunan massa tulang tidak diketahui, akan
tetapi kafein dapat memperbanyak ekskresi kalsium melalui
urin maupun tinja.
- Alkohol
Individu dengan alkoholisme mempunyai kecenderungan
masukan kalsium yang rendah, disertai dengan ekskresi lewat
urin yang meningkat. Mekanisme yang pasti belum diketahui.

{Lippincott dkk. 2011}.

3. Manifestasi Klinis Osteoporosis


a. Nyeri dengan atau tanpa adanya fraktur yang nyata
b. Nyeri timbul secara mendadadak
c. Nyeri dirasakan ringan pada pagi hari (bangun tidur)
d. Nyeri akan bertambah karena melakukan aktifitas atau pekerjaan
sehari-hari atau karena pergerakan yang salah .
e. Rasa sakit karena oleh adanya fraktur pada anggota gerak
f. Rasa sakit karena adanya kompresi fraktur pada vertebra
g. Rasa sakit hebat yang terlokalisasi pada daerah vertebra
h. Rasa sakit akan berkurang apabila pasien istirahat di tempat tidur.

{Nurrahmi Ulfa, 2012}.


4. Patofisiologi Osteoporosis
Setelah menopause, kadar hormon estrogen semakin menipis dan
kemudian tidak diproduksi lagi. Akibatnya, osteoblas pun makin
sedikit diproduksi. Terjadilah ketidakseimbangan antara pembentukan
tulang dan kerusakan tulang. Osteoklas menjadi lebih dominan,
kerusakan tulang tidak lagi bisa diimbangi dengan pembentukan
tulang. Untuk diketahui, osteoklas merusak tulang selama 3 minggu,
sedangkan pembentukan tulang membutuhkan waktu 3 bulan. Dengan
demikian, seiring bertambahnya usia, tulang-tulang semakin keropos
(dimulai saat memasuki menopause) dan mudah diserang penyakit
osteoporosis.
{ Tandra, H. 2009}
5. Pemeriksaan Diagnostik dan Penunjang
- X-ray
- Bone Mineral Density (BMD) : untuk mengukur densitas
tulang
- Serum kalsium, posphor, alkalin fosfatase
- Quantitative ultrasound (QUS) : mebgukur densitas tulang
dengan gelombang suara
Osteoporosis teridentifikasi pada pemeriksaan sinar-x rutin bila sudah
terjadi demineralisasi 25% sampai 40%. Tampak radiolusensi tulang.
Ketika vertebra kolaps, vertebra torakalis menjadi berbentuk baji dan
vertebra lumbalis menjadi bikonkaf. Pemeriksaan laboratorium
(misalnya kalsium serum, fosfat, serum, fosfatase alkalu, ekskresi
kalsium urine, ekskresi hidroksi prolin urine, hematokrit, laju endap
darah), dan sinar-x dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan
diagnosis medis lain (misalnya ; osteomalasia, hiperparatiroidisme, dll)
yang juga menyumbang terjadinya kehilangan tulang. Absorbsiometri
foton-tunggal dapat digunakan untuk memantau massa tulang pada
tulang kortikal pada sendi pergelangan tangan. Absorpsiometri dual-
foton, dual energy x-ray absorpsiometry (DEXA) , dan CT mampu
memberikan informasi mengenai massa tulang pada tulang belakang
dan panggul. Sangat berguna untuk mengidentifikasi tulang
osteoporosis dan mengkaji respon terhadap terapi. .
Penatalaksanaan Osteoporosis :
Diet kaya kalsium dan vitamin D yang mencukupi dan seimbang
sepanjang hidup, dengan peningkatan asupan kalsium pada permulaan
umur pertengahan, dapat melindungi terhadap demineralisasi skeletal.
Pada menopause, terapi penggantian hormon dengan estrogen dan
progesterone dapat diresepkan untuk memperlambat kehilangan tulang
dan mencegah terjadinya patah tulang yang diakibatkannya. Obat-obat
yang lain yang dapat diresepkan untuk menangani osteoporosis
termasuk kalsitonin, natrium florida, dan natrium etidronat. Kalsitonin
secara primer menekan kehilangan tulang dan diberikan secara injeksi
subkutan atau intramuskular. Efek samping (misalnya : gangguan
gastrointestinal , aliran panas , frekuensi urin ) , biasanya ringan dan
hanya kadang-kadang dialami. Natrium florida memperbaiki aktifitas
osteoblastik dan pembentukan tulang.
{Sudoyo, Aru dkk. 2009}.
6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan penderita osteoporosis terdiri atas:
a. Penyuluhan Penderita
Pada penderita osteoporosis, faktor resiko di luar tulang harus
diperhatikan program latihan kebugaran tubuh (fitness), melompat,
dan lari tidak boleh dilakukan karena resiko besar patah tulang.
Berdirilah tegak kalau jalan, bekerja, menyetrika, menyapu
(gunakan sapu dengan tangkai panjang) dan masak. Duduklah
tegak kalau bekerja, masak, sikat gigi dan mencuci. Tidak boleh
mengepel lantai dengan berlutut dan membungkuk karena resiko
patah tulang pinggang cukup besar. Untuk memperkuat dan
mempertahankan kekuatan neuromuskuler memerlukan latihan tiap
hari atau paling sedikit 3 hari sekali. Berdansa santai dan jalan kaki
cepat 20 — 30 menit sehari adalah sehat dan aman untuk penderita
osteoporosis.
Penderita perlu menyadari besarnya resiko jatuh. Setelah
makan atau tidur, duduk sebentar dulu sebelum berdiri dan pada
permulaan berdiri berpegangan dahulu pada tepi meja makan.
Mereka yang sering kehilangan keseimbangan bahan perlu
memakai tongkat/walker.
b. Pencegahan
- Pencegahan primer bertujuan untuk membangun kepadatan
tulang dan neuromuskler yang maksimal. Ini dimulai dari
balita, remaja dewasa umur pertengahan sampai umur 36 tahun.
Beberapa hal penting pada pencegahan primer:
Pemberian kalsium yang cukup (1200 mg) sehari selama masa
remaja
Kegiatan fisik yang cukup dalam keadaan berdiri. Minimal
jalan kaki 30 menit tiap hari.
Mengurangi faktor resiko rapuh tulang seperti merokok,
alkohol dan imobilisasi.
Menambah kalsium dalam diet sebanyak 800 mg sehari pada
manula
Untuk wanita resiko tinggi penambahan estrogen, difosfonat
atau kalsitonin harus dipertimbangkan.
- Pencegahan sekunder yaitu pemberian hormon-hormon
estrogen progesterone. Hormon-hormon ini dilaporkan
menghentikan setidak-tidaknya mengurangi kehilangan tulang
selama menopause.
- Pencegahan tersier dilakukan bila penderita mengalami patah
tulang pada osteoporosis atau pada orang yang masuk lanjut
usia (lansia).
c. Pemberian Gizi Optimal
Pencegahan primer bertujuan agar kepadatan tulang yang maksimal
tercapai pada umur 36 tahun. Pencegahan sekunder bertujuan
menghambat kehilangan kepada tulang waktu menopause dengan
pemberian hormon pengganti. Selanjutnya kehilangan kepadatan
tulang pada lansia dihambat dengan pencegahan tersier.
Pencegahan primer, sekunder dan tersier dilaksanakan melalui
pengaturan gizi yang optimal, dibarengi dengan aktivitas fisik dan
olahraga yang sesuai dengan umur dan stadium kerapuhan tulang
penderita. Kebutuhan kalsium sehari—hari untuk mencegah
osteoporosis:
Sebelum menopause kebutuhan sehari 800 — 1000 mg Kalsium
Selama menopause kebutuhan sehari 1000— 1200 mg Kalsium
Selama menopause kebutuhan sehari 1200 — 1500 mg kalsium
d. Upaya Rehabilitasi Medik
Prinsip terapi fisik dan rehabilifasi dapat bermanfaat dalam
penatalaksanaan penderita osteoporosis
Latihan/exercise , latihan dapat mengurangi hilangnya massa
tulang dan menambah massa tulang dengan cara meningkatkan
pembentukan tulang yang lebih besar dari pada resorbsi tulang.
Pengobatan Pada Patah Tulang :
Pada orang tua dengan keluhan nyeri yang hebat pada lokalisasi
tertentu seperti pada punggung, pinggul, pergelangan tangan,
disertai adanya riwayat jatuh, maka perlu segera memeriksakan diri
ke dokter untuk mengetahui adanya patah tulang. Apabila pada
pemeriksaan selanjutnya didapatkan adanya patah tulang, maka
harus dipertimbangkan tindakan-tindakan sebagai berikut:
1. Menghilangkan nyeri disertai pemberian obat-obatan untuk
membangun kekuatan tulang, yaitu kalsium dan obat-obat
osteoporosis
2. Tindakan pemasangan gips pada patah tulang pergelangan
tangan. Tindakan menarik tulang pada panggul dan dilanjutkan
dengan tindakan operasi pada panggul dengan mengganti
kepala panggul pada patah leher paha.

{Tandra, H. 2009}.
BAB III

KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian
a. Identitas
Nama :
Umur :
Alamat :
Tanggal Lahir :
Pekerjaan :
Suku / Bangsa :
Jenis Kelamin :
Tanggal Masuk Rumah Sakit :
Jam Masuk Rumah Sakit :
Diagnose Medis :
Nomor Registrasi :
b. Riwayat Keperawatan :
 Keluhan Utama
Mengkaji keluhan yang dirasakan pasien saat dilakukan pengkajian .
 Riwayat Kesehatan Sekarang
Mengkaji keluhan yang dirasakan pasien saat munculnya gejala
sampai pada saat dilakukan pengkajian .
 Riwayat Penyakit Dahulu
Mengkaji riwayat penyakit yang pernah di alami pasien .
 Riwayat Kesehatan Keluarga
Mengkaji adanya penyakit keturunan dan penyakit menular dalam
keluarga pasien .
c. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum : Melihat kondisi umum pasien .
2. Tingkat kesadaran : Memeriksa tingkat kesadaran pasien dan respon
pasien.
3. Tanda tanda vital : Mengukur tekanan darah , nadi , suhu dan
Pernafasan
4. Head to toe : pemeriksaan head to toe diilakukan dari kepala sampai
kaki , namun data yang lebih di fokuskan meliputi pemeriksaan pada
:
 Kepala
- Inspeksi apakah ada massa pada kepala pasien, kebersihan
kulit kepala, ketombe, kutu, dan warna rambut.
- Bentuk kepala : mesosephal (normal)
- Palpasi apakah ada massa yang terdapat besar atau kecil.
 leher
- Inspeksi leher, lihat apakah ada pembesaran
- Palpasi jika ada pembesaran kelenjar tiroid, seberapa luas
dan seberapa besar
 Mata
- Inspeksi:
Perhatikan kesimetrisan kedua mata dan alis serta
persebarannya
Konjungtiva anemis
Normal pupil mata 3-7 mm
Normal kornea tidak berwarna ( bening ) dan bertepi rata
- Palpasi
Kaji kekenyalan bola mata
Kaji jika terdapat massa
 Hidung
- Inspeksi
Perhatikan kesimetrisan lubang hidung kiri dan kanan
Letak hidung terletak di tengah wajah
Adanya produksi secret (jika ada), perhatikan warna,
produksi, dan bau secret
Periksa apakah tampak perforasi, massa, secret,
sumbatan, deviasi, pendarahan, atau adanya polip di
bagian dalam hidung
- Palpasi
Palpasi pada sinus-sinus hidung dengan menggunakanujung
ketiga jari tengah. Normalnya klien tidak mengeluh nyeri
atau teraba panas saat palpasi
 Telinga
- Inspeksi
Lihat kesimetrisan kedua daun telinga
Lihat adanya serumen, normalnya telinga mempunyai
serumen tapi tidak terlalu banyak
- Palpasi
Palpasi telinga pada daerah tragus, normalnya tidak akan
terasa nyeri
Jika nyeri, kemungkinan ada infeksi di dalam saluran
telinga
- Tes ketajaman pendengaran
Tes berbisik
Tes weber
Tes rinne
 Mulut
- Inspeksi:
Berdiri agak jauh dari klien, cium aroma nafasnya,
normalnya tercium segar
Bau nafas abnormal:
 Bau aseton (seperti buah)
 Bau amoniak
 Bau ganggren ( seperti bau busuk)
 Bau foetor hepatic
Lihat lipatan nasolabial, normalnya terletak di tengah
Bibir terletak tepat ditengah wajah, warna bibir merah
muda, lembab, tidak tampak kering ( pecah-pecah), tidak
tampak sianosis.
Normal gusi berwarna merah muda
Posisi lidah tepat ada di tengah
Posisi uvula tepat ditengah, normalnya berwarna merah
muda
 Dada (toraks)
- Paru-paru (pulmo)
Inspeksi:
Lihat gerakan dinding dada, bandingkan kesimetrisan
gerakan dinding dada kiri dan kanan saat pernafasan
berlangsung
Lihat adanya bekas luka, bekas operasi, atau adanya lesi.
perhatikan bentuk dinding dada klien, bentuk-bentuk
dinding dada:
 dada Barel (barrel chest)
 dada corong (funnel chest)
 dada burung (pigeon chest)
 dada normal (normal chest)
perhatikan adanya bentuk kelainan tulang belakang:
 scoliosis (tulang belakang berlekuk)
 kifosis ( bungkuk)
 lordosis (dada lebih maju kedepan)
Palpasi
Rasakan adanya massa dan krepitasi
Minta pasien mengatakan” tujuh puluh tujuh” atau
“Sembilan puluh Sembilan”, prinsip pemeriksaan:
 Getaran suara akan merambat melalui udara yang ada
dalam paru-paru( vibrasi)
 Saat bicara, getaran akan terasa dari luar dinding
dada.
Perkusi
Lakukan perkusi pada seluruh lapang paru pada ruang
interkostanya (ruang diantara 2 kosta/ ICS)
Hasil perkusi normal pada paru adalah resonan
Pada area jantung akan menghasilkan bunyi pekak ( ICS
3-5, sebelah kiri sternum)
Auskultasi
Anjurkan pasien untuk bernafas normal. Setelah beberapa
saat, letakkan stetoskop pada ICS 2 kanan, minta klien
untuk bernafas panjang
Suara nafas normal:
 Vesikuler: suara ini terdengar halus dan lembut
 Bronkovesikuler: suara ini dapat didengarkan pada
ICS 1dan 2 kiri dan kanan
 Bronkial: suaranya terdengar keras dan kasar
Suara nafas tambahan pada paru-paru:
 Krekels
 Ronki
 Mengi (wheezing)
 Pleural friction rub
 Stridor
- Jantung
Inspeksi
Denyutan jantung (saat kontraksi ventrikel) atau iktus
kordis dapat dilihat dipermukaan dinding dada pada ICS
5 midklavikular garis sinistra
Palpasi
Palpasi iktus kordis pada ICS 5 midklavikular garis
sinistra
Rasakan iktus kordisnya, hitung denyutan jantung yang
teraba selama 1 menit penuh
Tinggi iktus kordis norma tidak lebih dari 1 cm
Perkusi
Normalnya:
 Sepanjang ICS 3-5 toraks sinistra, terdengar suara
pekak
 Jika hasil perkusi terdengar pekak lebih dari batas
tersebut, dikatakan kardiomegali ( pembesaran
jantung)
Auskultasi
Bunyi jantung I ( S1)
 Katup mitralis terletas di ICS 5, dipotongkan dengan
midklavikular garis distra
 Katup aorta terletak di ICS 2 sternal garis sinistra
Bunyi jantung II (S2)
 Katup pulmonal terletak di ICS 2 sternal garis sinistra
 Katup trikuspidalis terletak di ICS 4 atau 5 sternal
garis sinistra
Bunyi jantung III ( S3) / gallop ( adanya bunyi bernada
rendah yang terdengar setelah S2)
Bunyi jantung IV (S4)/ murmur: bunyi jantung
berfrekuensi rendah yang bisa didengarkan sebelum S1
 Abdomen
- Inspeksi
Perhatikan bentuk abdomen klien
Perhatikan alastisitas kulit abdomen
Inspeksi umbilicus, normalnya tidak menonjol
- Auskultasi
Dilakukan pada keempat kuadran abdomen
Bising usus normalnya terdengar 5-30 x/i
Jika peristaltic usus terdengar lebih dari nilai normal,
kemungkinan klien sedang mengalami diare
- Perkusi
Lakukan perkusi pada kesembilan region abdomen
Jika perkusi terdengar timpani, berarti perkusi dilakukan
diatas organ yang berisi udara
Jika terdengar pekak, berarti perkusi mengenai organ
padat
- Palpasi
Berdiri disamping kanan klien
Kaji jika terdapat massa pada bdomen
 Ekstremitas bawah
- Inspeksi
Lihat apakah ada edema pada kaki
Kaji kaki dan tumit
- Palpasi
Kaji seberapa besar edemanya jika ada
Kaji jika terdapat lesi pada kaki
- Perkusi
Lakukan reflex patella
(Kumala. 2005.)
d. Pemeriksaan Diagnostik : Memeriksa keadaan pasien dengan
menggunakan X-ray , Bone Mineral Density (BMD) untuk mengukur
densitas tulang , Serum kalsium, posphor, alkalin fosfatase ,
Quantitative ultrasound (QUS) mengukur densitas tulang dengan
gelombang suara
B. Diagnosa Keperawatan
1. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan ,
kendali , atau massa otot.
2. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologi.
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan
muskuloskeletal
4. Risiko cedera berhubungan dengan dampak sekunder perubahan
skeletal dan ketidakseimbangan tubuh .
C. Intervensi Keperawatan
1. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan ,
kendali atau massa otot .
Intervensi :
- Kaji tingkat kemampuan klien untuk bergerak
- untuk mengetahui tingkat kemampuan klien dalam
menggerakkan anggota tubuh
- Lakukan latihan ROM aktif dan ROM Pasif
- untuk mempertahankan dan mengembalikan fleksibilitas sendi
- Ajarkan pasien teknik ambulasi dan berpindah yang aman
- untuk menumbuhkan kemandirian pasien dalam beraktivitas
- Kolaborasikan dengan ahli terapi fisik untuk program latihan
- untuk mengembangkan kemampuan pasien dalam mobilitas
2. Nyeri berhubungan dengan agen cedera biologi
Tujuan : Setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan nyeri
berkurang .
Intervensi :
- Monitoring keluhan nyeri, perhatikan lokasi dan karakteristik
termasuk intensitas (skala 1-10). Perhatikan petunjuk nyeri
nonverbal (perubahan pada tanda vital dan emosi/prilaku)
- untuk mengetahui tingkat ketidaknyamanan pasien
- Lakukan teknik relaksasi
- untuk membantu mengurangi nyeri yang dirasakan pasien
- Ajarkan pasien teknik nafas dalam ketika nyeri tiba-tiba muncul
- untuk membantu pasien mengurangi rasa nyeri yang tiba-tiba
muncul
- Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi dan program terapi ,
contoh : analgesik
- untuk membantu mengurangi nyeri dengan terapi farmakologi
sesuai program terapi
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal
- Observasi tingkat kekuatan dan toleransi terhadap aktivitas
- untuk mengetahui kebutuhan aktivitas mandiri pasien yang
tidak terpenuhi
- Bantu pasien dalam melakukan perawatan diri
- untuk membantu pasien dalam memenuhi kebutuhan dasar dan
aktivitas perawatan diri pasien
- Dorong kemandirian pasien dalam melakukan aktivitas dan
perawatan mandiri
- untuk meningkatkan kemampuan kemandirian pasien dalam
melakukan perawatan diri sesuai kemampuan pasien
- Kolaborasikan dengan keluarga dalam memenuhi kebutuhan
mandiri pasien
- untuk membantu pasien mendapatkan perawatan dari keluarga
4. Risiko cedera berhubungan dengan dampak sekunder perubahan
skeletal dan ketidakseimbangan tubuh.
Tujuan : Cedera/injuri tidak terjadi.
Intervensi :
- identifikasi risiko yang meningkatkan kerentanan terhadap
cedera
- untuk mengetahui faktor resiko dalam meningkatkan keamanan
pasien
- Manajemen lingkungan yang aman untuk pasien
- untuk memfasilitasi keamanan
- Ajarkan perilaku yang kondusif
- untuk menjaga kesehatan , keseimbangan tubuh
- Kolaborasikan dengan tim medis penggunaan alat bantu
- untuk membantu pasien dalam menjaga keamanannya.

{NANDA Iternational, diagnosis keperawatan: definisi dan klasifikasi


2015-2017 edisi 10,Nursing Intervension Classification (Nic) 2013,
Edisi 6}.

D. Evaluasi
a. S = Subject (Respon klien)
b. O = Object (Hasil pengamatan perawat terhadap klien)
c. A = Assessment (Penilaian perawat terhadap berhasil tidaknya asuhan
yang diberikan kepada klien)
d. P = Planning (Rencana tindak lanjut)
E. Discharge planning
Discharge planning (perencanaan pulang) adalah serangkaian
keputusan dan aktivitas-aktivitasnya yang terlibat dalam pemberian
asuhan keperawatan yang kontinu dan terkoordinasi ketika pasien
dipulangkan dari lembaga pelayanan kesehatan (Potter & Perry,
2005:1106).
Menurut Kozier (2004), discharge planning didefenisikan sebagai
proses mempersiapkan pasien untuk meninggalkan satu unit pelayanan
kepada unit yang lain di dalam atau di luar suatu agen pelayanan
kesehatan umum.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Osteoporosis adalah suatu keadaan pengurangan jaringan tulang per unit
volume, sehingga tidak mampu melindungi atau mencegah terjadinya
fraktur terhadap trauma minimal. Secara histopatologis osteoporosis
ditandai oleh berkurangnya ketebalan korteks disertai dengan
berkurangnya jumlah maupun ukuran trabekula tulang .
B. Saran
Sebagai perawat dalam melakukan tindakan asuhan keperawatan berperan
dalam upaya pendidikan dengan memberikan penyuluhan tentang
pengertian osteoporosis, penyebab dan gejala osteoporosis serta
pengelolaan osteoporosis. Berperan juga dalam meningkatkan mutu dan
pemerataan pelayanan kesehatan serta peningkatan pengetahuan, sikap dan
praktik pasien serta keluarganya dalam melaksanakan pengobatan
osteoporosis. Peran yang terakhir adalah peningkatan kerja sama dan
system rujukan antar berbagai tingkat fasilitas pelayanan kesehatan, hal ini
akan memberi nilai posistif dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Junaidi, I, 2007. Osteoporosis - Seri Kesehatan Populer. Jakarta : PT


Bhuana Ilmu Populer.
Lippincott dkk. 2011. Nursing Memahami Berbagai Macam
Penyakit. Jakarta : PT Indeks.
Lukman & Nurna Ningsih.2009. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan
Gangguan Sistem Muskolokeletal. Jakarta : Salemba Medika.
Sudoyo, Aru dkk. 2009. Buku Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 3 Edisi 5.
Jakarta : Internal Publishing.
Fatimah, 2010. Merawat manusia lanjut usia. Trans info Media. Jakarta
Tandra, H. 2009. Segala Sesuatu Yang Harus Anda Ketahui Tentang
Osteoporosis Mengenal, Mengatasi dan Mencegah Tulang
Keropos. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Nurrahmi Ulfa, 2012. Stop osteoporosis. Familia. Yogyakarta.
NANDA Iternational, diagnosis keperawatan: definisi dan klasifikasi
2015-2017 edisi 10,Nursing Intervension Classification (Nic) 2013,
Edisi 6.