Anda di halaman 1dari 13

PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN MATAKULIAH

DASAR-DASAR KIMIA ANALISIS MELALUI STRATEGI


THINK PAIR SHARE (TPS) DENGAN PENGORGANISASIAN
PEMBELAJARAN MENURUT TEORI ELABORASI

Endang Budiasih & Dedek Sukarianingsih.


Jurusan Kimia, FMIPA
Universitas Negeri Malang
endang.budiasih.fmipa@um.ac.id

Abstrak

Telah dilakukan penelitian yang berjudul Peningkatan Kualitas Pembelajaran Matakuliah


Dasar-dasar Kimia Analisis. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui peningkatan
kualitas proses belajar mengajar ditinjau dari aspek kualitatif maupun kuantitatif. Penelitian
ini dirancang sebagai penelitian tindakan kelas tiga siklus, dengan mengambil pokok
bahasan Ruang Lingkup Kimia Analisis, Analisis Kation, Analisis Anion, Pengolahan Data
Analitik, dan Gravimetri. Subyek penelitian adalah mahasiswa S1 Pendidikan Kimia yang
sedang mengambil perkuliahan Dasar-dasar Kimia Analisis pada semester gasal 2015 –
2016, dengan jumlah mahasiswa sebanyak 35 orang. Instrumen penelitian terdiri dari
instrumen pembelajaran, yaitu bahan ajar yang diwajibkan dan suplemen bahan ajar (hand
out). Instrumen pengukuran dibedakan menjadi dua macam, yaitu instrumen pengukuran
kualitatif (lembar observasi), serta instrumen pengukuran kuantitatif (Lembar Kerja
Mahasiswa dan tes tertulis). Data kuantitatif dikelompokkan berdasarkan rentangan skor
tertentu, dan hasilnya disimpulkan berdasarkan patokan kemampuan yang berlaku di
Universitas Negeri Malang. Berdasarkan analisis data, maka dari penelitian ini dapat
disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran melalui Strategi TPS dengan Pengorganisasian
Pembelajaran menurut Teori Elaborasi pada matakuliah Dasar-dasar Kimia Analisis dapat
meningkatkan kualitas proses belajar mengajar ditinjau dari aspek kualitatif maupun
kuantitatif. Secara kualitatif peningkatan itu dapat diketahui dari kemampuan kooperatif
mahasiswa dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Indikator peningkatan tersebut dapat
dilihat dari aspek-aspek saling ketergantungan yang positif, interaksi langsung antar
mahasiswa, pertanggungjawaban individu, dan keterampilan berinteraksi antar individu dan
kelompok Secara kuantitatif dapat diketahui dari penilaian aspek kognitif, yaitu hasil LKM
dan hasil ujian pada pokok bahasan Ruang Lingkup Kimia Analisis, Analisis Kation,
Analisis Anion, Pengolahan Data Analitik, dan Gravimetri. Berdasarkan hasil analisis data,
dapat disimpulkan telah terjadi peningkatan kemampuan mahasiswa siklus demi siklus.

Kata kunci: Think, Pair, Share (TPS), Teori Elaborasi

Abstract

Has conducted a study entitled Improving the Quality Learning Course Fundamentals of Chemical
Analysis. The purpose of this study was to determine the improvement of the quality of teaching and
learning process in terms of qualitative and quantitative aspects. The study was designed as an action
research three cycles, with the subject taking Scope Chemical Analysis, Analysis of cation, anion
analysis, Analytical Data Processing, and Gravimetry. Subjects were students of S1 Chemical
Education who were taking the course Fundamentals of Chemical Analysis in odd semester of 2015-
2016, the number of students as many as 35 people. The research instrument consists of instruments
of the learning and teaching materials that are required to supplement teaching materials (handouts).
Measurement instruments can be divided into two kinds, namely the qualitative measurement
instruments (observation sheet), as well as quantitative measurement instruments (Worksheet Students
and written test). Quantitative data grouped by specific range of scores, and the result was concluded

Endang Budiasih dkk, Peningkatan Kualitas Pembelajaran melalui Strategi 19


Think Pair Share (TPS)
JURNAL PEMBELAJARAN KIMIA (J-PEK) ISSN: 2528-6536
Vol. 01, No. 2, Desember 2016

based benchmark capabilities in force in Universitas Negeri Malang (UM). Based on data analysis, it
can be concluded from this study that the application of learning through TPS with Organizing
Learning Strategies by Elaboration Theory on the course Fundamentals of Chemical Analysis can
improve the quality of teaching and learning process in terms of qualitative and quantitative aspects.
Qualitatively it can be seen from the increase in cooperative ability students in completing a given
task. Indicators of the increase can be seen from the aspects of positive interdependence, direct
interaction between students, individual responsibility, and the skills of interaction between
individuals and groups Quantitatively it can be seen from the assessment of cognitive aspects, namely
the results of the MFI and the test results on the subject of the Scope of Chemistry analysis, analysis
of cation, anion analysis, Analytical Data Processing, and Gravimetry. Based on the analysis, we can
conclude there has been increased ability of students cycle-by-cycle.

Keywords: think, pair, share (TPS), elaboration theory

PENDAHULUAN urutan pertama dalam bidang Kimia


Dalam rangka pelaksanaan kegiatan Analisis. Isi perkuliahan pada prinsipnya
pembelajaran, umumnya dosen mengha- terdiri dari dua pokok bahasan besar, yaitu
rapkan semua mahasiswanya memiliki Analisis Kualitatif dan Analisis Kuantitatif.
motivasi dan minat yang tinggi terhadap Selama menjadi pembina perkuliahan ini +
matakuliah yang dibinanya. Hal yang paling 15 tahun, umumnya mahasiswa kurang
diharapkan seorang dosen adalah semua menguasai dengan baik pada pokok bahasan
mahasiswanya memiliki prestasi yang bagus. terkait masalah konsep dan prinsip. Masalah
Banyak faktor yang menjadi penyebab konseptual utamanya terkait hubungan antar
rendahnya motivasi, minat, dan prestasi konsep kurang dikuasai. Kontribusi nilai
belajar mahasiswa. Strategi penyajian yang terbesar dari soal hitung menghitung,
kurang menarik, patut dicatat sebagai faktor asalkan kaitan dengan rumus tertentu cukup
utama. Strategi pembelajaran yang tidak jelas. Bila kondisi soal dibuat sedikit
banyak melibatkan mahasiswa cenderung bervariasi, mahasiswa kurang bisa
membosankan, sehingga pada akhirnya menyelesaikan soal-soal yang demikian.
prestasi belajarnya juga akan rendah. Dari segi soal terkait masalah konseptual,
Disamping rendahnya motivasi, minat, dan umumnya mahasiswa akan menjawab
prestasi belajar, hal yang banyak dikeluhkan dengan kalimat yang sama dengan buku ajar
dosen adalah kurangnya kemampuan yang dipelajari (dalam perkuliahan ini sudah
mahasiswa dalam berpikir tingkat tinggi. tersedia buku ajar). Daya analisis, sintesis,
Selama  15 tahun menjadi pengajar dan evaluasi begitu rendah, dan umumnya
perkuliahan Dasar-dasar Kimia Analisis, hal mahasiswa hanya pandai menghafal, tanpa
yang sangat dirasakan adalah rendahnya bisa memahaminya. Ditinjau dari proses
kemampuan menganalisis, mensintesis, serta pembelajaran yang terjadi, umumnya
mengevaluasi permasalahan yang diberikan mahasiswa jarang sekali bertanya, dan kalau
Mahasiswa umumnya sangat trampil bila ditanya sangat malas menjawab pertanyaan.
menyelesaikan masalah-masalah sebatas Selaku dosen pengajar, keadaan demikian
recall, pemahaman, maupun aplikasi. merupakan hal yang memprihatinkan. Oleh
Kegiatan aplikasipun sebatas penyelesaian karena itu perlu mengubah keadaan tersebut
soal-soal yang ada kaitan secara jelas menjadi lebih baik, dengan menggunakan
dengan rumus tertentu. Umumnya strategi pembelajaran yang melinatkan
mahasiswa tidak bisa menyimpulkan arti mahasiswa secara aktif. Strategi penugasan
fisik dari hasil perhitungan yang diperoleh. dengan cara Think Pair Share (TPS) dipilih
Dengan kata lain daya analisis mahasiswa sebagai alternatif pemecahan, karena
umumnya rendah. diyakini dapat meningkatkan keaktifan
Perkuliahan Dasar-dasar Kimia Analisis mahasiswa dalam belajar karena mahasiswa
merupakan sajian matakuliah bagi bekerja secara kooperatif dengan teman di
mahasiswa semester III. Ditinjau dari hirarki sebelahnya. Hal ini sejalan dengan hasil
perkuliahan, matakuliah ini berada pada penelitian Iskandar (2013) yang menyatakan

20
Endang Budiasih dkk, Peningkatan Kualitas Pembelajaran melalui Strategi Think
Pair Share (TPS)

bahwa ada pengaruh penerapan model mengarahkan perhatian kepada suatu bagian
pembelajaran TPS terhadap hasil belajar dan dan terus ke bagian-bagian utama lainnya.
motivasi belajar siswa kelas XI IPA SMAN Dengan cara ini, pemahaman si belajar
I Purwosari pada materi kelarutan dan hasil terhadap suatu topik akan menjadi lebih
kali kelarutan. Pengaruh itu adalah baik. Pembelajaran sehari-hari tanpa
meningkatnya prestasi siswa dan menggunakan teori elaborasi di dasarkan
ketuntasannya, demikian pula motivasinya. atas urutan yang terdapat dalam buku teks.
Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Pembelajaran demikian ini memungkinkan
Rama Radhakhrisna et.al (2012) menyatakan untuk tidak terlewatinya konsep demi
bahwa strategi TPS dapat mengaktifkan konsep yang akan disampaikan. Namun,
siswa dalam belajar. Active Learning pembelajaran yang demikian ini berdasarkan
memiliki makna dapat mengaktifkan siswa pengalaman memberikan perolehan belajar
dalam dua aspek, yaitu melakukan sesuatu sepotong demi sepotong, yang memung
dan dapat berpikir tentang apa yang mereka kinkan pemahaman siswa tidak optimal.
lakukan. Penelitian Mahmoud Kaddoura Ketidak optimalan menyebabkan hasil
(2013) menyatakan bahwa TPS merupakan belajar mahasiswa juga kurang maksimum.
strategi yang dapat meningkatkan Oleh karena itu perlu diteliti apakah terdapat
kemampuan berpikir kritis siswa. Dengan perbedaan hasil belajar.
dukungan berbagai penelitian tersebut,
peneliti tertarik untuk mengaplikasikannya RUMUSAN MASALAH
dalam perkuliahan Dasar-dasar Kimia Berdasarkan pada bahasan yang terdapat
Analisis yang dibina penulis pada semester di bagian pendahuluan, maka diperoleh
ini. rumusan masalah sebagai berikut: Apakah
strategi TPS dan pengorganisasian
Pengorganisasian pembelajaran merupa-
pembelajaran menurut teori elaborasi dapat
kan fase yang amat penting dalam rancangan
meningkatkan kualitas pembelajaran pada
pembelajaran. Synthesizing akan membuat
mahasiswa peserta perkuliahan Dasar-dasar
topik-topik dalam suatu bidang studi
Kimia Analisis di Jurusan Kimia UM?
menjadi lebih bermakna bagi si belajar
(Ausubel, 1968). Kebermaknaan ini akan Sehubungan dengan perumusan masalah
menyebabkan si belajar memiliki retensi di atas, maka perlu dijelaskan hal-hal
yang lebih baik dan lebih lama terhadap sebagai berikut:
topik-topik yang dipelajari. Sequencing juga
Beberapa Definisi
penting karena sangat diperlukan dalam
pembuatan sintesis. Bila isi bidang studi a. Kualitas pembelajaran yaitu keadaan
ditata maka akan membuat sintesis lebih pembelajaran yang mengarahkan
efektif, dan kebermaknaan itu menjadi lebih mahasiswa agar dapat aktif selama proses
tinggi (Gagne, 1968). pembelajaran dan mampu berpikir
dengan kemampuan berpikir tingkat
Teori elaborasi merupakan salah satu tinggi, yang diukur melalui tes.
cara pengorganisasian pembelajaran yang
mempreskripsikan pembelajaran mengikuti b. Kemampuan berpikir tingkat tinggi
urutan umum yang rinci. Urutan itu diawali adalah kemampuan yang terkait dengan
dengan menampilkan epitome, kemudian tiga kemampuan terakhir dalam cakupan
mengelaborasi bagian-bagian yang ada taksonomi Bloom, yaitu kemampuan
dalam epitome secara lebih rinci. Konteks menganalisis, mensintesis, serta
selalu ditunjukkan dengan menampilkan mengevaluasi.
sintesis secara bertahap. Menurut Reigeluth c. Think Pair Share (TPS) adalah salah satu
dan Stein (1983), seseorang biasanya akan strategi pembelajaran kooperatif yang
mulai dengan pandangan yang menyeluruh, membagi proses pembelajaran dalam
yang menunjukkan bagian-bagian utama. beberapa tahap, yaitu Think, Pair, dan
Tanpa memberikan perhatian khusus pada Share. Pada tahap Think, siswa berpikir
hal-hal yang rinci. Setelah gambaran secara individual, pada tahap Pair, siswa
menyeluruh diperoleh, baru kemudian

21
JURNAL PEMBELAJARAN KIMIA (J-PEK) ISSN: 2528-6536
Vol. 01, No. 2, Desember 2016

bekerja berpasangan, dan pada tahap 2. Mendorong mahasiswa untuk aktif


Share, siswa memeparkan hasil ke belajar secara bermakna sehingga tercipta
seluruh kelas. kemampuan berpikir tingkat tinggi.
d. Teori elaborasi merupakan cara 3. Memberikan sumbangan pemikiran
pengorganisasian pembelajaran dengan berupa inovasi pembelajaran yang
mengikuti urutan umum ke rinci, yaitu berorientasi pada teori konstruktivisme.
diawali dengan menampilkan epitome,
4. Memberikan sumbangan konkrit, dengan
kemudian mengelaborasi bagian-bagian
tersusunnya seperangkat alat
yang ada dalam epitome secara lebih
pembelajaran pada pokok-pokok bahasan
rinci.
yang dipilih, yaitu berupa:
Asumsi penelitian
- Skenario Pembelajaran
Asumsi yang dipakai peneliti dalam
- Suplemen Bahan Ajar
perumusan masalah, yaitu bahwa mahasiswa
telah memahami strategi TPS dalam proses - Alat evaluasi terkait kemampuan
pembelajaran. kognitif, dan kemampuan kinerja,
yaitu Lembar Kerja mahasiswa
Lingkup Penelitian
(LKM).
a. Strategi pengorganisasian pembelajaran
menurut teori elaborasi dibatasi pada tiga RANCANGAN PENELITIAN
pokok bahasan, yaitu Pendahuluan dan Penelitian ini menggunakan rancangan
Ruang Lingkup Kimia Analisis; Analisis penelitian tindakan kelas. Penelitian
Kation; Analisis Anion; dan Analisis tindakan kelas adalah penelitian bersifat
Gravimetri. praktis yang bertujuan untuk memperbaiki
suatu keadaan pembelajaran di kelas dengan
b. Aspek penilaian diarahkan pada dua hal,
melakukan tindakan-tindakan agar terjadi
yaitu penilaian LKM yang dikerjakan
perubahan untuk menuju ke arah perbaikan.
mahasiswa, serta penyelesaian soal-soal
Penelitian ini direncanakan berlangsung 3
terkait kemampuan analisis, sintesis,
(tiga) siklus, yang tiap siklusnya akan terdiri
serta evaluasi pada setiap akhir pokok
dari 4 (empat) tahap, yaitu perencanaan,
bahasan.
pelaksanaan tindakan, observasi, dan
TUJUAN PENELITIAN refleksi. Uraian dari tahapan-tahapan
tersebut adalah sebagai berikut:
Adapun tujuan penelitian ini adalah
untuk memaparkan apakah strategi Siklus I
pengorganisasian pembelajaran menurut
1) Perencanaan atau Persiapan
teori elaborasi melalui penugasan dengan
strategi TPS, dapat meningkatkan kualitas - Menentukan pokok bahasan acuan,
pembelajaran pada mahasiswa peserta yaitu Pendahuluan, Ruang Lingkup
perkuliahan Dasar-dasar Kimia Analisis. Kimia Analisis yang merupakan
Peningkatan kualitas pembelajaran ditinjau pokok bahasan awal dari perkuliahan
dari proses pembelajaran yang dilakukan, ini.
dan hasil belajar yang diperoleh mahasiswa, - Menyiapkan Skenario Pembelajaran,
dengan menggunakan lembar observasi dan Suplemen Bahan Ajar, Alat Evaluasi
tes. Kognitif dengan penekanan soal-soal
TARGET PENELITIAN yang bersifat analisis, sintesis, dan
evaluasi, dan Lembar Kerja
Kontribusi penelitian ini adalah:
Mahasiswa (LKM).
1. Dapat digunakan sebagai alternatif
- Menyiapkan instrumen monitoring
strategi pembelajaran bagi dosen dalam
Proses Belajar Mengajar.
upaya lebih mengaktifkan mahasiswa
selama proses pembelajaran. 2) Pelaksanaan Tindakan

22
Endang Budiasih dkk, Peningkatan Kualitas Pembelajaran melalui Strategi Think
Pair Share (TPS)

- Membagikan suplemen bahan ajar berlangsung, menugaskan mahasiswa


satu minggu sebelum topik acuan membacanya.
berlangsung, menugaskan mahasiswa
- Melakukan pembelajaran dengan
membacanya.
menggunakan skenario yang telah
- Melakukan pembelajaran berdasar direvisi.
skenario yang telah disiapkan, yaitu
- Menugaskan kembali mahasiswa
menurut teori elaborasi dan strategi
untuk mengerjakan LKM sesuai
TPS.
sintaks TPS dengan kelompok yang
- Menugaskan mahasiswa mengerkana berbeda (anggota berbeda).
LKM menurut sintaks TPS.
- Melakukan monitoring proses belajar
- Melakukan monitoring proses Belajar mengajar menggunakan instrumen
Mengajar menggunakan instrumen yang telah disiapkan.
yang telah disiapkan.
- Melakukan ujian pada pokok bahasan
- Melakukan ujian pada pokok bahasan acuan.
acuan.
3) Kegiatan Observasi
3) Kegiatan Observasi
Kegiatan observasi diarahkan untuk
Kegiatan observasi diarahkan untuk dapat menilai aspek kualitatif proses
dapat menilai aspek kualitatif proses belajar mengajar. Kegiatan observasi
belajar mengajar. Kegiatan observasi menggunakan instrumen monitoring
menggunakan instrumen monitoring proses belajar mengajar.
proses belajar mengajar, dilakukan oleh
4) Evaluasi dan Refleksi
observer.
- Evaluasi: Berdasar peta konsep yang
4) Evaluasi dan Refleksi
dibuat mahasiswa, dan hasil ujian
- Evaluasi: Berdasar nilai LKM yang pada pokok bahasan acuan.
dikerjakan mahasiswa, dan hasil ujian
- Refleksi: Dari hasil observasi dan
pada pokok bahasan acuan.
hasil evaluasi, akan diketahui
- Refleksi: Dari hasil observasi dan kelemahan-kelemahan pada siklus II,
hasil evaluasi, akan diketahui yang akan dicoba diperbaiki pada
kelemahan-kelemahan pada siklus I, siklus III.
yang akan dicoba diperbaiki pada
Siklus III
siklus II.
Kegiatan siklus III berdasarkan refleksi
Siklus II
siklus II, dan akan dilakukan revisi
1) Perencanaan atau Persiapan utamanya pada bagian skenario
pembelajaran.
- Menentukan pokok bahasan acuan,
yaitu Analisis Kation dan Analisis SUBYEK PENELITIAN
Anion.
Subyek penelitian adalah mahasiswa S1
- Menyiapkan Skenario Pembelajaran kependidikan, yang sedang mengikuti
(memperhatikan kelemahan siklus I), perkuliahan Dasar-dasar Kimia Analisis di
Suplemen Bahan Ajar, Alat Evaluasi semester ganjil tahun pelajaran 2015/2016,
Kognitif, dan LKM. beserta dosen pembina matakuliah tersebut.
- Menyiapkan Instrumen Monitoring PENGUMPULAN DATA
Proses Belajar Mengajar.
Dalam penelitian ini pengumpulan data
2) Pelaksanaan Tindakan dilakukan dengan teknik observasi,
pemeriksaan LKM, dan pelaksanaan tes.
- Membagikan suplemen bahan ajar
Teknik observasi dilakukan dengan alat
satu minggu sebelum topik acuan
bantu pedoman observasi yang dibuat

23
JURNAL PEMBELAJARAN KIMIA (J-PEK) ISSN: 2528-6536
Vol. 01, No. 2, Desember 2016

sendiri oleh peneliti. Dari hasil observasi ini LKM mahasiswa menggunakan rubrik
akan diketahui aspek kualitatif proses belajar penilaian yang ditetapkan oleh dosen.
mengajar, baik dari segi dosen maupun
Kriteria yang digunakan adalah sebagai
mahasiswa. Data kuantitatif diperoleh
berikut:
melalui penilaian LKM yang dibuat
mahasiswa, dan hasil ujian siklus demi Siklus I : Nilai LKM  70 (skala 100)
siklus.
Hasil ujian  70 (skala 100)
ANALISIS DATA
Siklus II : Nilai LKM  80 (skala 100)
Data yang telah terkumpul selanjutnya
dipilah-pilah sesuai dengan keperluan. Hasil ujian  75 (skala 100)
Selanjutnya dilakukan analisis yaitu mencari Siklus III : Nilai LKM > 80 (skala 100)
nilai rata-rata kelas, mengelompokkan skor
berdasar rentangan tertentu, dan Hasil ujian  80 (skala 100)
menyimpulkan hasilnya berdasarkan ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
patokan pencapaian kemampuan yang
berlaku di Universitas Negeri Malang. Hasil Hasil penelitian dan pembahasan
analisis ini digunakan untuk menjawab ditujukan untuk mengetahui peningkatan
rumusan masalah. Hasil analisis yang kualitas proses belajar mengajar ditinjau dari
bersifat kualitatif diperoleh melalui aspek kualitatif maupun kuantitatif dalam
informasi berdasarkan lembar observasi pembelajaran mata kuliah Dasar-dasar
yang dikembangkan oleh peneliti. Hasil Kimia Analisis. Indikator peningkatan
analisis ini untuk mengetahui keefektifan dilihat dari aktivitas mahasiswa selama
strategi TPS dan pengorganisasian proses belajar mengajar, nilai LKM dan nilai
pembelajaran menurut teori elaborasi ujian pada setiap akhir siklus. Penilaian
terhadap kualitas proses pembelajaran. dilakukan siklus demi siklus selama tiga
siklus PTK.
Tingkat pemahaman mahasiswa pada
setiap aspek yang diteliti didasarkan atas HASIL KEGIATAN PADA SIKLUS I
rentang skor taraf penguasaan atau Implementasi tindakan pada siklus I
kemampuan yang terdapat dalam pedoman meliputi: membagikan suplemen bahan ajar
pendidikan Universitas Negeri Malang, pokok bahasan Pendahuluan Kimia Analisis
dengan beberapa modifikasi seperti Ruang Lingkup Kimia Analitis, melakukan
diberikan pada tabel 1 berikut. pembelajaran dengan menggunakan strategi
Tabel 1. Kriteria Tingkat Pemahaman TPS dalam pembelajaran yang mengacu
Mahasiswa pada teori elaborasi, melakukan observasi,
melakukan penilaian LKM, dan melakukan
Taraf Pemahaman ujian pada setiap akhir pokok bahasan.
Mahasiswa Berdasarkan Sebutan
Rentang Skor
1. Hasil Observasi Selama Kegiatan
85 – 100 Sangat baik Proses Belajar Mengajar
70 – 84 Baik Hasil observasi selama kegiatan belajar
55 – 69 Cukup mengajar diarahkan pada kemampuan
50 – 54 Kurang kooperatif mahasiswa dalam mendiskusikan
0 - 49 Sangat kurang
materi dan pengerjaan LKM. Data
kemampuan kooperatif yang diperoleh
Indikator keberhasilan ditentukan dengan
ditunjukkan pada Tabel 2.
cara menilai LKM mahasiswa, dan hasil
ujian pada akhir setiap siklus. Penilaian

24
Endang Budiasih dkk, Peningkatan Kualitas Pembelajaran melalui Strategi Think
Pair Share (TPS)

Tabel 2. Data Kemampuan Kooperatif pada Siklus I


Kelompok I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII XIV XV XVI XVII
Aspek
Saling 2 2 2 1 2 1 2 2 2 2 1 2 1 2 2 2 2
ketergantungan
positif
Interaksi langsung 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
antar mahasiswa
Pertanggungjawaban 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
individu
Keterampilan 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2
berinteraksi antar
individu dan
kelompok
Keterangan : 2 : kualitas bagus
1 : kualitas sedang
0 : kualitas kurang

Penilaian kemampuan kooperatif yaitu pada aspek saling ketergantungan


dilakukan secara berkelompok mengingat positif dan keterampilan berinteraksi
kegiatan perkuliahan dilakukan secara individu.
berkelompok. Berdasarkan penilaian yang
2. Hasil Penilaian LKM
dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa
dari 17 kelompok terdapat 13 kelompok Selama kegiatan diskusi, mahasiswa
yang menunjukkan kemampuan kooperatif mengerjakan LKM dan kemudian
dengan kategori bagus. Dengan demikian, dipresentasikan. Berdasarkan kriteria
dapat disimpulkan pada siklus I ini hanya pemberian skor yang ditetapkan peneliti,
empat kelompok yang belum menunjukkan maka diperoleh sebaran nilai yang tertera
kemampuan kooperatif yang sempurna, pada Tabel 3.
Tabel 3. Nilai LKM pada Siklus I
Rentang Skor Frekuensi Persentase (%)
85 – 100 - -
70 – 84 4 23,5
55 – 69 5 29,4
50 – 54 8 47,1
Total 17 100

Berdasarkan Tabel 3 dan kriteria siklus PTK selanjutnya akan dicoba untuk
penilaian, maka dapat disimpulkan bahwa merevisi skenario pembelajarannya, yaitu
sebagian besar mahasiswa (47,1%) belum dengan menampilkan kembali pemetaan
bisa menyelesaikan soal-soal di LKM Ruang Lingkup Kimia Analitik, serta
dengan baik. Menurut kriteria, maka kaitannya dengan pokok bahasan Analisis
sebagian besar mahasiswa berada dalam Kation dan Anion.
kualifikasi kurang. Berdasarkan hasil
3. Hasil Ujian Siklus I
refleksi dari pengerjaan LKM, diperoleh
indikasi bahwa mahasiswa belum Pelaksanaan ujian merupakan kegiatan
memahami apa dan bagaimana peran Kimia terakhir dalam satu siklus. Ujian dilakukan
Analitik bagi bidang ilmu yang lain dan secara tertulis pada hari yang berbeda dari
dalam kehidupan sehari-hari. Demikian juga serangkaian kegiatan pembelajaran. Soal
terkait lingkup Kimia Analitik yang meliputi ujian tertera pada Lampiran. Dari hasil ujian
analisis makro, mikro, semi-mikro, analisis ini akan diketahui seberapa pemahaman
trace; Mereka masih bingung mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran
membedakannya. Oleh karena itu pada pada pokok bahasan terkait. Sebaran skor

25
JURNAL PEMBELAJARAN KIMIA (J-PEK) ISSN: 2528-6536
Vol. 01, No. 2, Desember 2016

ujian pada pokok bahasan Pendahuluan, pada Tabel 4.


Ruang Lingkup Kimia Analisis dapat dilihat
Tabel 4. Skor Ujian Tertulis pada Pokok Bahasan Pendahuluan, Ruang Lingkup Kimia Analisis
Rentang Skor Frekuensi Persentase (%)
85 – 100 3 8,6
70 – 84 8 22,8
55 – 69 12 34,2
50 – 54 5 14,3
0 – 49 7 20,1
Total 35 100

Berdasarkan Tabel 4 dapat disimpulkan Berdasarkan hasil ujian tertulis memang


bahwa sebagian besar mahasiswa yaitu 24 masih sebagian besar mahasiswa (66,7%)
orang (66,7%) memiliki kemampuan kurang mempunyai kemampuan kurang (<69).
dalam hal pemahaman terkait pokok bahasan Materi pada bagian pendahuluan memang
bahasan Pendahuluan, Ruang Lingkup cukup luas, karena terkait keseluruan isi
Kimia Analisis. perkuliahan. Banyak istilah-istilah baru bagi
mahasiswa semester tiga yang mengambil
Semua kelemahan pada siklus I akan
mata kuliah ini, sehingga walaupun
dicoba diperbaiki pada sikus II, baik dari
materinya masih pada taraf pendahuluan,
segi pemaparan LKM, kerja kooperatif, dan
hasil yang diperoleh kurang memuaskan.
penjelasan terkait materi pembelajaran
dalam hands out. HASIL KEGIATAN PADA SIKLUS II
4. Refleksi Siklus 1 Berdasarkan refleksi terhadap hasil yang
dicapai pada siklus I, maka implementasi
Pelaksanaan pembelajaran menunjukkan
tindakan pada siklus II meliputi kegiatan-
bahwa RPP yang direncanakan telah dapat
kegiatan membagikan suplemen bahan ajar
dilaksanakan dengan baik. Namun demikian,
(hands out) pokok bahasan Analisis Kation
ada empat kelompok yang kurang optimal
dan Analisis Anion serta menyuruh
dalam kegiatan diskusi kelompok yang
mahasiswa mempelajarinya, memberi tugas
dilakukan. Berdasarkan hasil observasi
masing-masing kelompok sesuai prosedur,
diketahui bahwa ada anggota kelompok
melakukan pembelajaran dengan
yang tidak ikut secara aktif dalam kegiatan
menggunakan model TPS, melakuan
diskusi. Mahasiswa tersebut sibuk membaca
observasi, melakukan penilaian LKM,
sendiri sehingga tidak terlibat dalam
melakukan ujian pada pokok bahasan
kegiatan diskusi. Pada siklus I ini dosen
terkait. Pada pembelajaran siklus II ini
tidak menginstruksikan untuk membagi
dilakukan revisi, yaitu dosen menjelaskan
tugas diantara anggota kelompok.
dahulu hal-hal terkait materi ajar secara
Berdasarkan hasil penilaian LKM yang garis besar, kemudian memberikan contoh
dihasilkan pada siklus I, umumnya penyelesaian masalah yang diberikan terkait
mahasiswa belum bisa menghubungkan satu analisis kation, dan bagaimana mengaitkan
konsep dengan konsep lainnya, mereka satu konsep dengan konsep yang lain dalam
cenderung menghafal saja, tanpa penyelesaian masalah. Kemudian menyuruh
memahaminya. Sesuai dengan teori mahasiswa bekerja secara kooperatif
elaborasi, maka pengorganisasian
1. Hasil Observasi selama Kegiatan
pembelajaran seharusnya mengikuti urutan
Proses Belajar Mengajar
umum ke rinci. Urutan itu selalu diawali
dengan menampilkan epitome, kemudian Penilaian Kemampuan Kooperatif
mengelaborasi bagian-bagian yang ada
Data kemampuan kooperatif yang
dalam epitome secara lebih rinci. Demikian
diperoleh dapat dilihat pada Tabel 5.
juga dengan “menghubungkan”
(synthesizing), belum nampak dilakukan.

26
Endang Budiasih dkk, Peningkatan Kualitas Pembelajaran melalui Strategi Think
Pair Share (TPS)

Tabel 5. Data Kemampuan Kooperatif pada Siklus II


Kelompok I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII XIV XV XVI XVII
Aspek
Saling ketergantungan 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
positif
Interaksi langsung 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
antar mahasiswa
Pertanggungjawaban 2 2 1 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
individu
Keterampilan 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
berinteraksi antar
individu dan
kelompok
Keterangan : 2 : kualitas bagus
1 : kualitas sedang
0 : kualitas kurang

Seperti halnya pada siklus I, maka 2. Hasil Penilaian LKM


penilaian kemampuan kooperatif ini
Setelah kegiatan diskusi selesai,
dilakukan secara berkelompok. Berdasarkan
mahasiswa membuat peta konsep dan
penilaian yang dilakukan, maka dapat
mempresentasikannya. Berdasarkan kriteria
disimpulkan bahwa dari semua kelompok
pemberian nilai yang ditetapkan peneliti,
(17 kelompok), masih ada 2 kelompok yang
maka diperoleh sebaran nilai LKM seperti
menunjukkan kemampuan kooperatif kurang
yang tertera pada Tabel 6.
sempurna, yaitu pada aspek pertanggung
jawaban individu.

Tabel 6. Nilai LKM pada Siklus II


Rentang Skor Frekuensi Persentase (%)
85 – 100 3 17,6
70 – 84 4 23,5
55 – 69 10 58,9
50 – 54 - -
Total 17 100

Berdasarkan Tabel 6 dan kriteria 58,9%, kesalahan yang dibuat yaitu pada
penilaian, maka dapat disimpulkan bahwa aspek pembatasan masalah dan solusinya.
tidak ada lagi mahasiswa yang Oleh karena itu konsep pembelajaran pada
berkemampuan kurang. Kondisi ini dapat siklus II tetap dipertahankan dengan
dikatakan lebih bagus dari siklus I. melakukan revisi pada kemampuan untuk
Kemampuan yang meningkat ini lebih jeli dalam melihat masalah yang
diperkirakan memiliki kaitan dengan diberikan.
prosedur pengerjaan LKM yang diawali
3. Hasil Ujian Siklus II
dengan penjelasan terlebih dahulu oleh
dosen terkait materi pembelajaran. Dosen Seperti halnya pada siklus I ujian
memberikan contoh cara penyelesaian dilakukan secara tertulis. Penekanan soal
masalah, mengaitkan konsep, prinsip, atau ujian terkait masalah konseptual dan
prosedur, kemudian mahasiswa melakukan hubungan antar konsep. Soal ujian tertera
pengerjaan. Refleksi dari hasil peta konsep pada Lampiran. Sebaran skor ujian pada
yang dihasilkan, masih ada kelompok yang pokok bahasan Analisis Kation ditunjukkan
belum bisa melakukan dengan baik, yaitu pada Tabel 7.

27
JURNAL PEMBELAJARAN KIMIA (J-PEK) ISSN: 2528-6536
Vol. 01, No. 2, Desember 2016

Tabel 7. Skor Ujian Tertulis pada Pokok Bahasan Analisis Kation


Rentang Skor Frekuensi Persentase (%)
85 – 100 4 11,4
70 – 84 22 62,8
55 – 69 1 2,8
50 – 54 8 23,0
0 – 49 - -
Total 35 100

Berdasarkan Tabel 7 dapat disimpulkan melakukan observasi, melakukan penilaian


bahwa tidak ada mahasiswa yang LKM, dan melakukan ujian pada akhir
berkemampuan sangat kurang. Namun pokok bahasan. Karakteristik materi pada
masih ada yang berkemampuan kurang yaitu siklus III ini berbeda, jika pada siklus I dan
sebanyak 23,0%, akan tetapi sebagian besar II bersifat deskriptif, pada siklus ini lebih
mahasiswa yaitu 74,2% berada dalam bersifat konseptual, algoritmik.
kemampuan baik dan sangat baik. Kondisi
1. Hasil Observasi Selama Kegiatan
ini tentunya lebih bagus dari siklus I.
Proses Belajar Mengajar
Dengan demikian cara kerja dimana
mahasiswa diberi penjelasan dan arahan Penilaian kemampuan Kooperatif
bagaimana mencermati permasalahan, Data kemampuan kooperatif yang
keterkaitan antar konsep, prinsip, dan diperoleh ditunjukkan pada Tabel 8. Pada
prosedur atas dasar hand out sangat siklus III ini kegiatan yang dilakukan
membantu, dan cara ini dicoba untuk menggunakan pola yang sama dengan siklus
dipertahankan pada siklus III. I dan siklus II, hanya dilakukan pergantian
HASIL KEGIATAN PADA SIKLUS III pada teman kelompoknya sesuai yang duduk
di dekatnya. Pada siklus III ini dapat
Berdasarkan refleksi terhadap hasil yang
dikatakan bahwa semua kelompok telah
dicapai pada siklus II, maka implementasi
melakukan pembelajaran kooperatif dengan
tindakan pada siklus III meliputi kegiatan-
baik. Pada siklus III ini langkah
kegiatan: membagikan suplemen bahan ajar
pembelajaran masih sama dengan siklus II,
pokok bahasan Analisis Gravimetri,
yaitu dengan menugaskan masing-masing
memberi penjelasan outline materi
anggota kelompok untuk mencermati
gravimetri, memberi tugas masing-masing
konsep-konsep penting, istilah-istilah baru
anggota kelompok untuk mencari kata-kata
pada materi gravimetri, keterkaitan satu
kunci sebagai konsep, melakukan
sama lain berdasarkan hand out yang
pembelajaran secara kooperatif TPS,
dibagikan.
Tabel 8. Data Kemampuan Kooperatif pada Siklus III
Kelompok I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII XIV XV XVI XVII
Aspek
Saling ketergantungan 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
positif
Interaksi langsung 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
antar mahasiswa
Pertanggungjawaban 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
individu
Keterampilan 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2
berinteraksi antar
individu dan
kelompok
Keterangan: 2 : kualitas bagus
1 : kualitas sedang
0 : kualitas kurang

28
Endang Budiasih dkk, Peningkatan Kualitas Pembelajaran melalui Strategi Think
Pair Share (TPS)

2. Hasil Penilaian LKM 10. Berdasarkan Tabel 10 dapat disimpulkan


bahwa tidak ada mahasiswa yang
Setelah kegiatan secara individual,
berkemampuan angat kurang. Kondisi ini
mahasiswa mengerjakan secara kooperatif
jauh lebih bagus dari siklus II, yaitu 23,0%
dan mempresentasikannya. Berdasarkan
yang berkemampuan sangat kurang.
kriteria pemberian nilai yang ditetapkan
Terjadinya peningkatan kemampuan yang
peneliti, maka diperoleh sebaran nilai LKM
cukup signifikan, yaitu pada kategori
seperti yang tertera pada Tabel 9.
kemampuan baik. Pada siklus II terdapat
Berdasarkan Tabel 9 dan kriteria penilaian,
62,8% mahasiswa berkemampuan baik,
maka dapat disimpulkan bahwa sebagian
yang berubah menjadi 80,0% pada siklus III,
besar mahasiswa telah memahami materi
Peningkatan kemampuan ini secara umum
dengan baik. Berdasarkan Tabel 9 dapat
dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh
dilihat bahwa 41,2% mahasiswa
positif pembelajaran dengan menggunakan
menunjukkan kemampuan yang baik sekali,
cara menurut teori elaborasi melalui
dan 47,1% berkemampuan baik. Dengan
pengerjaan LKM secara kooperatif (TPS).
demikian dapat disimpulkan pada akhir
Pada model yang diaplikasikan dalam
siklus III walaupun tidak 100 % telah
pembelajaran ini, intervensi dosen betul-
berkemampuan baik, namun kondisi ini jauh
betul dikurangi, sedang peran mahasiswa
lebih baik dari siklus II.
demikian besar.
3. Hasil Ujian Siklus III
Hasil ujian tertulis pada pokok bahasan
Analisis Gravimetri dapat dilihat pada Tabel
Tabel 9. Nilai Peta Konsep pada Siklus III
Rentang Skor Frekuensi Persentase (%)
85 – 100 7 41,2
70 – 84 8 47,1
55 – 69 2 11,7
50 – 54 - -
Total 17 100

Tabel 10. Skor Ujian pada Pokok Bahasan Analisis Anion


Rentang Skor Frekuensi Persentase (%)
85 – 100 4 11,4
70 – 84 28 80,0
55 – 69 3 8,6
50 – 54 - -
0 – 49 - -
Total 35 100

PEMBAHASAN lembar observasi. Pada pendekatan


pembelajaran ini, terasa bahwa peran dosen
Jika diperhatikan proses pembelajaran sebagai “pemberi ilmu” telah banyak
siklus demi siklus, tampak bahwa telah ada berkurang, yaitu dengan menyuruh
peningkatan kualitas pembelajaran ditinjau mahasiswa untuk aktif berpikir melalui
dari kemampuan mahasiswa untuk pengerjaan LKM, yang kemudian
melakukan kerja kooperatif, dengan unsur- didiskusikan antar mereka sendiri. Dosen
unsur saling ketergantungan yang positif, benar-benar hanya sebatas fasilitator. Hal ini
interaksi langsung antar mahasiswa, berbeda dengan pembelajaran sebelumnya,
pertanggungjawaban individu, dan dengan menjadikan mahasiswa sebagai
keterampilan berinteraksi antar individu dan obyek pembelajaran, dan membuat mereka
kelompok. Hal ini dapat diamati selama seperti robot. Dari aspek kuantitatif telah
proses pembelajaran, dan dapat dilihat pada terjadi peningkatan ditinjau dari hasil

29
JURNAL PEMBELAJARAN KIMIA (J-PEK) ISSN: 2528-6536
Vol. 01, No. 2, Desember 2016

penilaian LKM, maupun tes pada (pada fase ”think”), yang akibatnya tidak ada
pembahasan terkait. efek ”penumpang gelap” dalam
pembelajaran.
Hal-hal yang bisa dikemukakan mengapa
pembelajaran menggunakan teori elaborasi KESIMPULAN
memberikan hasil yang lebih baik? Bisa
Berdasarkan analisis data, maka dari
dikemukakan bahwa teori elaborasi
penelitian ini dapat disimpulkan bahwa
mempreskripsikan cara pengorganisasian
penerapan pembelajaran dengan strategi
dengan mengikuti urutan umum ke rinci
TPS dan pengorganisasian pembelajaran
yang diawali dengan menampilkan epitome
menurut teori elaborasi pada matakuliah
(struktur isi) bidang studi yang dipelajari.
Dasar-dasar Kimia Analisis dapat
Epitome menunjukkan kerangka isi dan
meningkatkan kualitas proses pembelajaran
hubungan-hubungan utama diantara bagian
ditinjau dari aspek kualitatif maupun
tersebut. Menurut Ausubel (1968), penyajian
kuantitatif. Secara kualitatif peningkatan itu
kerangka isi pada fase pertama memberikan
dapat diketahui dari kemampuan kooperatif
ideational scaffolding bagi isi yang lebih
mahasiswa dalam menyelesaikan tugas yang
rinci yang akan dipelajari kemudian.
diberikan. Indikator peningkatan tersebut
Penataan urutan yang logis antara dapat dilihat dari aspek-aspek saling
satu materi dengan materi yang lain ketergantungan positif, interaksi langsung
memudahkan mahasiswa untuk antar mahasiswa, pertanggungjawaban
memahaminya. Demikian juga penyajian individu, dan keterampilan berinteraksi antar
pensintesis antara satu konsep dengan individu dan kelompok
konsep yang lain, membuat mahasiswa bisa
Secara kuantitatif dapat diketahui
berpikir ke arah pemikiran yang lebih tinggi,
dari penilaian aspek kognitif, yaitu hasil
yang dibuktikan dengan hasil pengerjaan
penilaian LKM dan hasil ujian pada pokok
LKM maupun tes yang meningkat dari
bahasan Pendahuluan, Ruang Lingkup
siklus I sampai siklus III. Berdasarkan
Kimia Analisis, Analisis Kation, Analisis
observasi pembelajaran, dan keterlaksanaan
Anion, dan Analisis Gravimetri.
proses pembelajaran, penggunaan strategi
Berdasarkan hasil analisis, dapat
TPS dirasa sangat praktis dan efektif.
disimpulkan telah terjadi peningkatan
Mahasiswa tanpa mengubah posisi kursi
kemampuan mahasiswa siklus demi siklus.
dapat berdiskusi dengan efektif dan efisien.
Dengan strategi ini tentunya memaksa
mahasiswa untuk berpikir secara individual

DAFTAR PUSTAKA Material Design for Distance Education.


TOJDE, ISSN 1302-6488, 15(1): 143-150.
Ausubel, D.P. 1968. Educational
Psychology: A Cognitive View. New York: Degeng, I.N.S. 1989. Teori Pembelajaran I:
Holt, Rinehart and Winston. Taksonomi Variabel. Jakarta: Program
Magister Manajemen Pendidikan
Bikmaz, F. H., Ҫelebí, Ö., Ata, A., dan Özer, Universitas Terbuka.
E. 2010. Scaffolding Strategies Applied by
Student Teachers to Teach Mathematics. Fernández, M., Wegerif, R., Mercer, N., dan
The International Journal of Research in Drummond-Rojas, S. 2001. Re-
Teacher Education, (Online), 1 (Special conceptualizing “Scaffolding” and the Zone
Issue): 25-36, of Proximal Development in the Context of
(http://ijrte.eab.org.tr/1/spc.issue/3f.hazir.pdf Symmetrical Collaborative Learning.
), diakses 25 April 2015. Journal of Classroom Interaction, (Online),
36 (2): 40-54, (http:// catedra.ruv.itesm.mx),
Cahiroglu, U dan Ozturk, M. 2014. diakses 25 April 2015.
Implementation of Elaboration Theory in

30
Endang Budiasih dkk, Peningkatan Kualitas Pembelajaran melalui Strategi Think
Pair Share (TPS)

Radhakhrisna, R., Ewing, J., dan Theories and Models: An Overview of Their
Chikthimmah, N. 2012. TPS (Think Pair Current Status. Hillsdale, New Jersey:
Share) as an Active Learning Strategy. Lawrence Erlbaum Associates Publisher.
Nacta Journal, September 2012.
Kaddoura, M. 2013. Think Pair Share: A
Reigeluth, C.M. & Stein, F.S. 1983. “The Teaching Learning Strategy to Enhance
Elaboration Theory of Instruction” dalam Student’s Critical Thinking. Educational
Reigeluth, C.M. (Ed). Instructional –design Research Quarterly, 36(4): 3-24.

31