Anda di halaman 1dari 12

Recovery Silika Dari Abu Batubara Boiler Tekanan Rendah

(Taofik Hidayat, Hartini Hadi Santosa)

RECOVERY SILIKA DARI ABU BATUBARA BOILER TEKANAN RENDAH

Taofik Hidayat1), Hartini Hadi Santosa2)


Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik
Universitas Muhammadiyah Jakarta
Hadihartini@gmail.com

ABSTRAK. Saat ini abu batubara dari boiler tekanan rendah merupakan limbah yang belum
tertangani dengan baik. Komponen utama yang ada di dalam abu batubara adalah silika
(Si02), yaitu sebesar 40,22%. Oleh karena itu, silika dalam abu batubara memiliki potensi yang
besar untuk di-recovery menjadi produk berbasis silika. Proses recovery dilakukan dengan
cara mereaksikan abu batubara dengan larutan NaOH, kemudian campuran reaksi difiltrasi
sehingga menghasilkan filtrat berupa, natrium silikat. Untuk melakukan proses recovery
tersebut, maka diberikan variasi: konsentrasi larutan NaOH (0,5; 0,8; 1,1; 1,4; 1,6; dan 2 M),
rasio mol NaOH/Si02 (0,5; 0,7; 1,7; 3; dan 4), suhu reaksi (60, 70, 80, 90 dan 100°C), waktu
reaksi (1, 3, 5, 7, dan 9 jam), dan diameter partikel abu (+2 mm, -1+0,63 mm, -0,63+0,335 mm,
-0,355+0,2 mm, dan -0,112+0,05 mm).
Dari penelitian yang telah dilakukan, kondisi operasi yang menghasilkan persen recovery
silika tertinggi dari abu batubara adalah: konsentrasi larutan NaOH 2M, rasio mol NaOH/Si02
4, suhu reaksi 100°C, waktu reaksi 9 jam, dan diameter partikel abu -0,112+0,05 mm. Selain
itu, didapatkan hasil bahwa rentang variasi diameter partikel abu yang diberikan tidak
menghasilkan perbedaan persen recovery yang signifikan.

Kata kunci : silica, batu bara, boiler

35
KONVERSI Vol. 2 No. 2 Oktober 2013 ISSN 2252-7311

PENDAHULUAN hasil pembakaran batubara yaitu sebanyak


52% (Kemeneg. Lingkungan Hidup, 2006).
Latar Belakang Penelitian Hal ini menjadikan abu batubara sangat
Saat ini, ketergantungan manusia terhadap potensial untuk di-recovery sehingga dapat
energi yang bersumber dari minyak bumi dihasilkan produk-produk berbasis silika
dan gas sangat tinggi. Akan tetapi dengan yang berguna untuk berbagai keperluan.
semakin menipisnya cadangan minyak
bumi dan gas, terutama yang berada di Silika merupakan senyawa kimia yang
Indonesia, maka ketergantungan tersebut pemanfaatan dan aplikasinya sangat luas
harus dikurangi. Oleh karena itu, batubara mulai di bidang elektronika, mekanik,
diprediksi akan menjadi motor energi di medis, seni, dan bidang-bidang lainnya
Indonesia. Pemerintah telah membuat (Harsono, 2002).
skenario bahwa untuk tahun 2025
persentase sumber energi di Indonesia Silika dapat direaksikan dengan bahan
akan mengalami perubahan dengan kimia lain seperti NaOH sehingga
menggunakan batubara sebagai sumber dihasilkan produk berupa natrium silikat
energi sebanyak 33% dari total sumber yang berwujud padat ataupun cair.
energi yang ada (Pusat Litbang. Tekmira, Persamaan reaksi antara natrium
2006). hidroksida (NaOH) dengan silika (Si0 2)
yang disebutkan dalam sebuah artikel di
Industri tekstil merupakan industri yang http://en.wikipedia.org/wiki/Silicon dioxide
menggunakan batubara terbanyak kedua (2010) adalah
setelah industri pembangkit listrik tenaga Si02 + 2 NaOH -»■ Na2Si03 + H20
uap (PLTU) dengan konsumsi batubara Oleh karena itu, penelitian ini ditujukan
sekitar 4,2 juta ton per tahun (PT Visidata untuk mengolah limbah hasil pembakaran
Riset Indonesia, 2009). batubara dengan cara recovery sehingga
dihasilkan produk lain yang memiliki nilai
Konsumsi batubara yang tinggi berpotensi ekonomi lebih tinggi dan mengurangi
menimbulkan masalah baru terhadap kandungan B3 dalam abu hasil
lingkungan karena akan menghasilkan abu pembakaran batubara tersebut.
sebanyak 5 - 10% dari setiap massa
batubara yang dibakar. Perumusan Masalah
Pada dasarnya proses recovery silika
Sebagai contoh, limbah abu batubara di adalah mereaksikan abu hasil pembakaran
daerah industri Majalaya mengganggu batubara dengan larutan basa kuat pada
kenyamanan lingkungan permukiman kondisi operasi tertentu. Pada penelitian ini
karena kalangan industri pengguna akan dikaji bagaimana pengaruh beberapa
batubara menumpuk limbahnya di area kondisi operasi terhadap proses recovery
bebas atau terbuka, bahkan ada yang sehingga didapatkan kondisi operasi
membuang di pinggir jalan sehingga dengan persen recovery silika tertinggi.
pemandangan menjadi terganggu oleh
gundukan limbah tersebut (Suara Karya, TINJAUAN PUSTAKA
2006). Hal ini menunjukkan bahwa saat ini
limbah batubara yang ada masih belum Batubara
tertangani dengan baik karena belum Batubara adalah batuan sedimen yang
adanya metode yang tepat untuk mengolah berasal dari tumbuhan purba yang telah
limbah tersebut. Selain itu, proses tertimbun dan terdekomposisi selama
perizinan untuk membuang limbah ini jutaan tahun di dalam tanah. Kandungan
sangat sulit sehingga kalangan industri utama batubara adalah karbon sehingga
lebih banyak yang membuang secara ilegal menyebabkan batubara menjadi mudah
ke lingkungan pemukiman. terbakar. Batubara memiliki nilai kalori
yang tinggi yaitu antara 4200 sampai 6300
Silikon dioksida (Si02) merupakan senyawa kkal/kg (www.coalindoenergy.com. 2008).
yang paling banyak terkandung dalam abu Oleh karena itu, batubara dapat digunakan

36
Recovery Silika Dari Abu Batubara Boiler Tekanan Rendah
(Taofik Hidayat, Hartini Hadi Santosa)

sebagai bahan bakar untuk memenuhi No. Komponen Persen Berat


kebutuhan energi di dunia industri.
1 SiO, 50 - 60%
Di dunia industri, batubara digunakan 2 A1203 18-28%
sebagai bahan bakar boiler. Menurut 3 Fe203 9 - 29%
Kemeneg. Lingkungan Hidup (2006),
4 CaO 1 - 5%
sistem pembakaran batubara di boiler
umumnya terbagi dua yaitu: 5 MgO 1 - 2%
(1) Sistem unggun terfluidakan (fluidized Ti02 1 - 2%
bed system), yaitu sistem 6
pembakaran dimana udara ditiupkan Sumber: MSDS Bottom Ash (2001)
dari bawah menggunakan blower
sehingga benda padat di atasnya Silikon Dioksida
berperilaku seperti fluida. Dalam sebuah artikel di
(2) Fixed bed system atau grate http://en.wikipedia.org/wiki/Silicon dioxide
system, yaitu teknik pembakaran (2010), disebutkan bahwa silikon dioksida
dimana batubara berada di atas merupakan sebuah oksida dari silikon yang
conveyor yang berjalan atau grate. mempunyai rumus kimia Si02. Silikon
dioksida juga dikenal dengan nama silika
Abu Batubara yang mempunyai dua bentuk, yaitu bentuk
Abu batubara adalah partikel halus yang kristal dan bentuk amorf.
terbentuk karena adanya perubahan bahan
mineral (mineral matter) dalam batubara Menurut Takeuchi (2008), secara umum,
akibat proses pembakaran di boiler perbedaan antara kristal dan amorf terletak
(http://firdaushanif.multiplv.eom/ioumal/ite pada susunan partikel
m/2/ Pembakaran Batubara. 2007). penyusunnya.Gambar 2.2 menunjukkan
perbedaan antara susunan partikel
Pada pembakaran batubara di dalam boiler pembentuk padatan amorf dan padatan
terbentuk dua jenis batubara yaitu abu kristal.
terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom
ash). Menurut Kemeneg. Lingkungan
Hidup (2006), fl'y ash dan bottom ash
adalah terminologi umum untuk abu
terbang yang ringan dan abu relatif berat
yang timbul dari suatu proses pembakaran
suatu bahan yang lazimnya menghasilkan
abu. Fly ash dan bottom ash dalam konteks a. Padatan Kristal b. Padatan
ini adalah abu yang dihasilkan dari Amorf
pembakaran batubara. Gambar 2.2 Susunan Partikel
Padatan Kristal dan Padatan
Pada boiler dengan fix bed system, Amorf Sumber: Takeuchi
perbandingan berat fly ash dan bottom ash (2008)
yang terbentuk adalah 15-25% berbanding
75-25% (Kemeneg. Lingkungan Hidup, Dalam sebuah artikel di
2006). Umumnya, komposisi kimia bottom http://en.wikiDedia.org/wiki/Silicon dioxide
ash ditunjukkan oleh tabel 2.1 (2010), disebutkan bahwa silika larut dalam
larutan alkali yang panas dan memiliki
Tabel 2.1 Komposisi Kimia Bottom Ash konsentrasi tinggi. Persamaan reaksinya
adalah sebagai berikut
Si02 + 2 NaOH -»• Na2Si03 + H20

Menurut Sarkar dkk. (2004), silika


berbentuk amorf memiliki reaktivitas yang
lebih tinggi terhadap alkali (natrium dan
kalium) dibandingkan dengan silika yang

37
KONVERSI Vol. 2 No. 2 Oktober 2013 ISSN 2252-7311

berbentuk kristal. silikat.


Humus (1) Silika Gel
Humus merupakan senyawa kompleks Silika gel merupakan suatu bentuk
yang tahan terhadap perombakan oleh dari silika yang dihasilkan melalui
mikroorganisme, berbentuk amorf, penggumpalan sol natrium silikat
berwarna coklat kehitaman, bersifat koloid (NaSi02). Sol dapat didehidrasi
dan berasal dari proses degradasi bahan sehingga berubah menjadi padatan
organik seperti daun, pohon atau kayu oleh atau butiran mirip kaca yang
mikroba tanah (Ariyanto, tanpa tahun). bersifat tidak elastis
Menurut Ariyanto (tanpa tahun), humus (http://punkels.wordpress.com/200
diklasifikasikan menjadi tiga bagian, yaitu: 8/12/21 /kegunaan-silica-gel/.
1. Humic acid atau asam humat 2008). Silika gel merupakan
Asam humat memiliki warna yang padatan yang memiliki porositas
gelap, aktif dalam reaksi kimia, yang sangat tinggi
dapat larut dalam basa kuat tetapi (http://www.chromatographv-online
tidak larut dalam asam, dan .org/topics/silica/gel.html. tanpa
mempunyai gugus fungsional tahun). Porositas yang tinggi ini
asam. menjadikan silika gel memiliki daya
2. Fulvic acid atau asam fulvat serap yang tinggim terhadap
Asam fulvat mengandung gugus kelembaban atau substansi lain
fungsional basa, dapat larut dalam sehingga dapat dimanfaatkan
basa dan asam, dan aktif dalam sebagai zat penyerap, pengering,
reaksi kimia.. dan penopang katalis.
3. Humin (2) Natrium Silikat
Humin adalah bagian dari humus Natrium silikat adalah salah satu
yang tidak larut dalam asam dan senyawa yang mengandung
basa, memiliki berat molekul paling natrium oksida (Na20) dan silika
besar, dan tidak aktif dalam reaksi (Si02). Menurut Speight (2002),
kimia. natrium silikat diproduksi dengan
mereaksikan soda abu (Na2C03)
Gambar 2.4 menunjukkan contoh susunan dengan pasir silika pada suhu
molekul dari asam humat yang 1200°C sampai 1400°C dengan
mengandung gugus phenolic. persamaan reaksi sebagai berikut:
Na2CC>3 + «Si02 —► Na20.«Si02 + C02

Natrium silikat merupakan senyawa yang


tidak berwarna, transparan dan terlihat
seperti kaca. Di pasaran, natrium silikat
tersedia dalam bentuk bubuk (powder) dan
cairan kental. Senyawa ini dapat larut
dalam air membentuk cairan seperti sirup.
Beberapa bentuk dari natrium silikat
mempunyai kelarutan yang kecil di dalam
Gambar 2.3 Susunan Molekul Asam air dan ada pula yang tidak larut sama
Humat sekali. Natrium silikat dapat larut baik di
Sumber: dalam air yang dipanaskan dalam kondisi
https://en.wikipedia.org/wiki/Humic_acid vakum
(2010) (http://chemicalland21.com/industrialchem/
inorganic/sodium%20silicate.htm).
Produk Berbasis Silika
Produk berbasis silika merupakan produk Pemanfaatan Natrium Silikat
yang mengandung silika sebagai Berikut ini adalah beberapa pemanfaatan
komponen dasar. Produk berbasis silika dari natrium silikat.
yag paling banyak digunakan terutama di (1) Pengawetan makanan (telur)
dunia industri adalah silika gel dan natrium Telur dapat diawetkan dengan cara

38
Recovery Silika Dari Abu Batubara Boiler Tekanan Rendah
(Taofik Hidayat, Hartini Hadi Santosa)

direndam di natrium silikat. Ketika


direndam, pori-pori pada kulit telur Hipotesis
akan tertutup sehingga menghalangi Persen recovery silika dari abu hasil
bakteri penyebab busuk untuk masuk pembakaran batubara akan semakin besar
dan dapat menjaga telur tetap segar dengan bertambahnya konsentrasi NaOH,
hingga sembilan bulan rasio mol NaOH/Si02, suhu reaksi, dan
(http://en.wikinedia.org/wiki/Sodium waktu reaksi.
silicate. 2010). Menurut
http://www.scribd.com/doc/18083044/ METODOLOGI PENELITIAN
BUDIDAYA-TERNAK- ITIK(2009),
telur yang akan diawetkan direndam Tempat dan Waktu Penelitian
selama satu bulan dengan larutan Penelitian ini dilakukan di Laboratorium
natrium silikat 10%. Penelitian Politeknik Negeri Bandung,
(2) Inhibitor korosi Jalan Gegerkalong Hilir, Bandung, Jawa
Natrium silikat yang dicampur dengan Barat. Pelaksanaan penelitian dilakukan
senyawa posfat efektif menghambat pada bulan Februari sampai Maret 2010.
laju korosi pada logam baja dengan
kondisi pH mendekati 7 dan dengan Alat dan Bahan
kadar CI yang rendah. Pada Tabel 3.1 adalah tabel yang menyajikan
umumnya larutan Natrium Silikat yang data alat - alat utama yang digunakan
digunakan mempunyai komposisi dalam penelitian ini.
8,76% Na2O dan 28,38% SiO2 dengan
konsentrasi 2-10 ppm (Dalimunthe
2014)
(3) Pengawetan kayu
Rolfe Cobleigh dalam bukunya yang
berjudul Handy Farm Devices and
How to Make Them menyarankan
untuk menggunakan natrium silikat
sebagai bahan untuk mengolah kayu.
Kayu yang diolah dengan natrium
silikat memiliki ketahanan yang tinggi
terhadap rayap dan menjadi tidak
mudah terbakar
('http://en.wikiDedia.org/wiki/Sodium
silicate. 2010). Tabel 3.1 Alat-alat Untuk Mengumpulkan
(4) Builder pada deterjen Data
Builder adalah salah satu komponen
deterjen yang dapat mengikat kation- Bahan utama yang digunakan dalam
kation penyebab kesadahan yang penelitian ini adalah
sebagian besar adalah kation Ca 2r (a) NaOH teknis dan p.a. dari Brataco
(kalsium) dan Mg (magnesium), Chemical yang telah distandardisasi
dengan cara melepas kation Na dengan asam oksalat
(natrium) dan menggantikannya (b) abu batubara dari boiler tekanan
dengan kalsium atau magnesium rendah dari pabrik tekstil PT Garuda
(Hardi dan Ramadhan S., 2008). Mas Tekstil Cimahi
(5) Pelapis beton
Natrium silikat yang melapisi beton Metode Penelitian
akan menutup pori-pori beton dan Dalam penelitian ini, tahap - tahap
mengikat kelebihan Ca(OH)2 penelitian yang dilakukan terdiri dari tahap
sehingga beton tidak akan rusak oleh persiapan, tahap pelaksanaan percobaan,
adanya air dan tahap analisis.
(http://en.wikipedia.org/wiki/Sodium
silicate. 2010). Tahap Persiapan
Tahap persiapan ini terdiri dari:

39
KONVERSI Vol. 2 No. 2 Oktober 2013 ISSN 2252-7311

1. Persiapan Peralatan
Peralatan utama yang digunakan 2. Persiapan Bahan
dalam penelitian ini adalah Bahan utama yang digunakan
(a) labu leher tiga kapasitas 500 dalam penelitian ini adalah
ml dilengkapi dengan kondensor; (c) NaOH teknis dan p.a. dari
(b) termometer dengan Brataco Chemical yang telah
temperatur maksimal 250 °C; distandardisasi dengan asam
(c) motor pengaduk dengan oksalat
kecepatan maksimum sebesar 800 (d) abu batubara dari boiler
rpm; tekanan rendah dari pabrik
(d) spektrofotometer HA tekstil PT Garuda Mas Tekstil
CHD2800\ Cimahi
(e) penangas listrik dengan
spesifikasi yaitu : Tahap Pelaksanaan Percobaan
• Temperatur maksimal
200 °C Tahap pelaksanaan percobaan yang
• Voltase 200 volt dilakukan adalah sebagai berikut:
• Daya 1000 watt (1) Tahap pre-treatment
• Frekuensi 50 Hz
a) Pengecilan ukuran Abu boiler yang
Gambar 3.1 menunjukkan
didapatkan dikecilkan ukurannya
rangkaian reaktor yang digunakan
dengan menggunakan ball mill agar
untuk penelitian.
luas permukaan antara abu dengan
NaOH lebih besar sehingga silika
yang bereaksi menjadi lebih
banyak.
b) Pengayakan
Pengayakan dilakukan untuk
memvariasikan ukuran partikel
yang digunakan untuk reaksi,
pengayakan ini dilakukan dengan
menggunakan screen analyzer
c) Pencucian
Pencucian dilakukan untuk
menghilangkan alkali total dengan
cara melarutkannya dengan
aquades, agar alkali total tersebut
tidak mengganggu proses reaksi
Keterangan: yang akan dilakukan. Abu batubara
1. Rdicuci dengan aquades dan
eaktor disaring sampai filtrat mempunyai
2. PpH yang netral. Setiap 10 gram abu
enangas batubara dicuci dengan aquades
3. Ksebanyak 100 ml.
ondensor d) Pengeringan
4. TAbu yang telah dicuci dikeringkan
ermometer dengan menggunakan oven pada
5. Ttemperatur 110 °C selama 4 jam
abung CaCL agar abu yang ditimbang bebas air.
6. e) MPenghilangan senyawa besi
otor pengaduk (separasi magnetik)
7. SSenyawa besi dalam abu batubara
elang silikon merupakan pengotor yang akan
8. L mengganggu proses reaksi yang
ubang pengambil sampel akan dilakukan. Penghilangan

40
Recovery Silika Dari Abu Batubara Boiler Tekanan Rendah
(Taofik Hidayat, Hartini Hadi Santosa)

senyawa besi ini dilakukan dengan konsentrasi NaOH 2M dan rasio


menggunakan magnet. mol NaOH/Silika adalah 3.
f) Analisis awal terhadap abu Proses recovery silika dalam
batubara penelitian ini menerapkan kondisi
Analisis awal yang dilakukan operasi pada tekanan atmosfir
terhadap abu batubara adalah: dengan kecepatan pengadukan 800
• analisis kandungan kimia abu rpm. Tabel 3.2 menunjukkan daftar
batubara dengan variasi yang dilakukan pada suhu
menggunakan metode 90°C dan waktu 5 jam untuk
spektrofotometri. Alat yang mengetahui konsentrasi yang
digunakan dalam analisis ini menghasilkan persen recovery silika
adalah spektrofotometri tertinggi.
serapan atom (SSA),
• analisis mengenai bentuk Tahap Analisis
silika dalam abu batubara Filtrat yang dihasilkan dari tahap filtrasi
dengan menggunakan dianalisis kadar silikanya dengan
metode mikroskopik optik. menggunakan metoda spektrofotometri.
Alat yang digunakan dalam
analisis ini adalah mikroskop Metode Analisis
optik Carl Zeiss. Dalam penelitian ini, analisis utama yang
dilakukan adalah
(2) Tahap reaksi (1) Analisis bentuk silika dalam abu
a) Tahap reaksi awal dengan menggunakan alat mikroskop
Tahap reaksi awal dilakukn Cari Zeiss.
dengan cara mereaksikan abu (2) Analisis kandungan kimia dalam abu
hasil pre-treatment dengan dua dengan menggunakan alat
jenis NaOH (p.a. dan teknis) spektrofotometer serapan atom
kemudian membandingkan hasil (SSA). Analisis ini menggunakan
recovery dari kedua reaksi metode SNI 13-3608-1994.
tersebut. Hal ini dilakukan untuk (3) Analisis kadungan silika
menentukan jenis NaOH yang dalam filtrat dengan menggunakan
akan dipakai dalam reaksi-reaksi alat spektrofotometer Hach D2800.
berikutnya. Analisis ini menggunakan metode
b) Tahap reaksi utama SMEWW 4500 Si02
Tahap reaksi utama merupakan
tahap yang digunakan untuk Hasil Reaksi Recovery Silika dari Abu
menentukan kondisi operasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa
dalam recovery silika yang ada di rentang konsentrasi dari 4 M sampai 6 M,
dalam batubara dengan cara analisis terhadap persen recovery silika
memvariasikan konsentrasi tidak dapat dilakukan. Hal ini teijadi karena
NaOH, rasio NaOH/SiOi, suhu pada rentang konsentrasi tersebut,
reaksi, waktu reaksi, dan diameter campuran antara abu batubara dengan
partikel abu. NaOH menghasilkan campuran berbentuk
slurry yang tidak dapat menghasilkan
Kondisi operasi yang didapatkan dari produk berupa cairan ketika campuran
penelitian yang pernah dilakukan tentang tersebut difiltrasi. Slurry terbentuk karena
recovery silika dari abu batubara adalah: massa abu yang diberikan lebih banyak
1. Vucinic dkk. (tanpa tahun), dari massa larutan NaOH.
proses reaksi dilakukan pada
suhu 90°C, waktu reaksi 5 jam Untuk mengetahui secara lebih tepat
dan rasio mol NaOH/Silika pengaruh konsentrasi terhadap persen
adalah 0,7 dan 1,3 recovery, maka dilakukan perubahan
2. Nugteren dkk. (2001), proses rentang konsentrasi menjadi 0,5 M sampai
reaksi dilakukan pada suhu 2M agar persen recovery-nya dapat
90°C, waktu reaksi 6 jam, diketahui dan konsentrasi optimum dapat

41
KONVERSI Vol. 2 No. 2 Oktober 2013 ISSN 2252-7311

diperoleh. konsentrasi dan pengaruhnya alumunium tersebut masih dapat bereaksi


terhadap persen recovery silika. dengan NaOH membentuk senyawa
Semakin tinggi konsentrasi larutan NaOH natrium aluminat (Sri Rahayu, 2010).30
maka silika yang bereaksi dengan NaOH
lebih banyak sehingga menghasilkan Pengaruh Bentuk Silika Terhadap
persen recovery yang lebih Persen Recovery
besar.Pembahasan Dari seluruh percobaan yang dilakukan,
persen recovery maksimum yang
Proses Pencucian didapatkan adalah 65,32%. Persen
Pada pencucian tahap pertama, pH filtrat recovery ini merupakan nilai yang rendah
cenderung basa. Hal ini terjadi karena jika dibandingkan dengan persen recovery
kandungan alkali di dalam abu (K2O, Na20, silika dari abu sekam padi yang mencapai
CaO, dan MgO) larut dalam air cucian yang kisaran 80% (Harsono, 2010). Rendahnya
menjadi filtrat. Pada pencucian berikutnya, persen recovery ini dikarenakan silika yang
pH filtrat menurun dan mendekati pH netral terkandung di dalam abu lebih banyak
karena jumlah alkali di dalam abu yang yang berbentuk kristal, yaitu 51,85%.
membuat pH filtrat menjadi basa semakin Sedangkan di dalam abu sekam padi,
berkurang. Nilai pH filtrat yang netral semua silika berbentuk amorf (Harsono,
tersebut menunjukkan bahwa abu yang Recovery Silika Dari Abu Batubara Boiler
dicuci telah bebas alkali. Dengan demikian, Tekanan Rendah 2010). Menurut Sarkar
untuk membuat abu menjadi bebas dari dkk. (2004), silika yang berbentuk kristal
alkali, diperlukan pencucian sebanyak tiga memiliki reaktivitas yang lebih rendah
kali. terhadap alkali dibandingkan dengan silika
yang berbentuk amorf. Kristal memiliki
Penentuan Jenis NaOH yang Akan reaktivitas yang lebih rendah karena
Digunakan susunan partikelnya yang teratur sehingga
Hasil percobaan menunjukkan bahwa menyebabkan silika kristal lebih rapat dan
natrium silikat yang dihasilkan memiliki cenderung tidak berpori. Kerapatan dan
perbedaan kadar silika yang tidak tidak adanya pori ini yang menyebabkan
signifikan antara yang menggunakan silika memiliki surface contact area yang
NaOH p.a. dengan NaOH teknis. Hal ini lebih kecil sehingga reaktivitasnya lebih
menunjukkan bahwa pengotor yang rendah dibandingkan dengan silika yang
terkandung di dalam NaOH dengan berbentuk amorf.
kualitas teknis tidak mengganggu reaksi
antara silika di dalam abu batubara dengan Identifikasi Penyebab Warna Dalam
NaOH sehingga untuk run - run berikutnya, Filtrat
jenis NaOH yang digunakan adalah NaOH Semua percobaan yang dilakukan
kualitas teknis. menghasilkan produk reaksi yang
Pengamatan terhadap kondisi fisik natrium berwarna coklat. Beberapa cara yang
silikat yang dihasilkan tidak menunjukkan dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab
adanya gel. Hal ini menunjukkan bahwa warna cokelat adalah sebagai berikut:
alumina yang ada di dalam batubara tidak (1) Menyaring produk reaksi dengan
ikut larut dalam NaOH membentuk alumino kertas watman 40 yang dilapisi
silikat yang berupa gel. Di dalam abu, dengan 3 kertas saring biasa. Hal ini
terkandung silika dalam bentuk bebas dilakukan berdasarkan hipotesis
(Si02) dan silika yang terikat dengan bahwa warna yang terdapat dalam
alumina (Al203.Si02) (Huda, 2010). natrium silikat disebabkan oleh
Reakivitas NaOH terhadap silika mampu partikel yang dapat tertahan oleh
memutuskan ikatan antara silika dan kertas watman 40 dan kertas saring
alumina ini sehingga hanya silika saja yang biasa masih terlalu besar untuk
bereaksi dengan NaOH membentuk menyaring partikel penyebab warna
natrium silikat. Jadi, Al203.Si02 tidak tersebut. Percobaan ini menghasilkan
bereaksi dengan NaOH dalam keadaan filtrat yang tetap berwarna cokelat.
terikat membentuk alumino silikat yang Dengan demikian, penyebab warna
berbentuk gel. Walaupun demikian, cokelat bukan partikel yang dapat

42
Recovery Silika Dari Abu Batubara Boiler Tekanan Rendah
(Taofik Hidayat, Hartini Hadi Santosa)

tertahan oleh kertas watman 40. tersebut direaksikan dengan NaOH teknis
(2) Mengaerasi produk reaksi selama dengan konsentrasi 3 M, rasio mol
satu hari kemudian larutan hasil aerasi NaOH/Si02 3, suhu 90°C dan waktu 2 jam.
disentrifugasi. Hal ini dilakukan Hasil dari percobaan tersebut adalah
berdasarkan hipotesis bahwa larutan produk yang masih berwarna
penyebab warna cokelat adalah sisa cokelat. Dengan demikian, flotasi yang
senyawa besi di dalam abu yang tidak dilakukan tidak mampu menghilangkan zat
terpisahkan ketika dilakukan separasi penyebab wama keruh di dalam larutan
magnetik. Dengan meng-aerasi produk karena tekniknya masih sederhana
larutan tersebut diharapkan senyawa sehingga persen penyisihan karbonnya
besi penyebab warna dapat dioksidasi sedikit.
dan diendapkan oleh sentrifugasi. Untuk membuktikan bahwa penyebab
Hasil sentrifugasi tetap menghasilkan wama cokelat dalam filtrat adalah karbon,
larutan yang bernama cokelat yang maka dilakukan percobaan dengan cara
menunjukkan bahwa penyebab wama mereaksikan karbon aktif dengan NaOH 1
bukan senyawa besi tetapi senyawa M pada suhu 90°C selama 5 jam. Hasilnya
lain yang tidak dapat mengendap adalah sebuah larutan yang berwarna
dengan cara di-aerasi dan cokelat. Menurut Huda (2010), karbon
sentrifugasi. Selain, senyawa besi bersifat inert (tidak bereaksi) terhadap
tidak dapat menyebabkan wama larutan NaOH. Dengan demikian,
larutan natrium silikat menjadi cokelat penyebab wama cokelat bukan karbon
tetapi menyebabkan wama yang ikut bereaksi dengan NaOH tetapi
kekuningan yang tidak akan sepekat ada suatu senyawa yang teijebak dalam
seperti yang dihasilkan pada padatan karbon dan larut dalam NaOH.
penelitian ini (Saleh, 2010).
(3) Melakukan pencucian dengan air Menurut Saleh (2010), penyebab wama
bersuhu 90°C kemudian mereaksikan coklat tersebut adalah asam humat (humic
abu hasil pencucian dengan larutan acid) yang terdapat di dalam batubara dan
NaOH 1 M, rasio mol Na0H/Si02 0,5, tersisa di dalam abu yang dihasilkan dari
suhu reaksi 90°C, dan waktu reaksi 5 pembakaran batubara. Karena
jam. Hal ini dilakukan berdasarkan batubaranya dibakar di dalam boiler
hipotesis bahwa zat yang bertekanan rendah dengan sistem
menyebabkan warna cokelat pada pembakaran fix bed, maka asam humat
produk reaksi adalah zat yang dapat masih tersisa di dalam abu yang dihasilkan
larut dalam air panas. Setelah abu dari boiler tersebut. Asam humat adalah
hasil pencucian direaksikan dengan senyawa berwarna cokelat yang dapat
larutan NaOH, produk reaksi yang larut dalam basa kuat seperti NaOH
dihasilkan masih berwarna cokelat. (Ariyanto, tanpa tahun).
Hal ini menunjukkan bahwa zat yang
menyebabkan warna cokelat tidak Penjernihan Filtrat
terbuang pada saat pencucian. Warna cokelat pada filtrat disebabkan oleh
Dengan demikian, zat yang adanya asam humat. Menurut Ariyanto
menyebabkan wama cokelat adalah (tanpa tahun), asam humat merupakan
zat yang tidak larut dalam air bersuhu koloid yang bermuatan negatif. Oleh
90°C karena itu, PAC (polialumunium klorida)
dapat digunakan sebagai pendestabil
Kadar karbon yang terkandung di dalam koloid asam humat sehingga muatan
abu batubara yang digunakan dalam negatif dalam koloid dapat dinetral dengan
penelitian ini adalah 35,42%. Diperkirakan muatan positif dari ion alumunium. Menurut
zat yang menyebabkan cokelatnya larutan Saleh (2010), konsentrasi larutan PAC
produk adalah kandungan karbon yang yang digunakan untuk mengendapkan
tinggi dalam abu sehingga karbon tersebut asam humat adalah 50% dan jumlah
bereaksi dengan NaOH (Soeswanto, penambahannya adalah 30% dari volume
2010). Oleh karena itu, dilakukan flotasi filtrat yang akan dijernihkan. Dengan
sederhana pada abu kemudian hasil flotasi penambahan PAC tersebut, asam humat

43
KONVERSI Vol. 2 No. 2 Oktober 2013 ISSN 2252-7311

dapat diendapkan dan filtrat berwarna


cokelat yang dihasilkan dari penelitian ini
dapat menjadi jernih.

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa telah teijadi


penurunan kadar silika sebesar 84,75%
pada saat proses penjernihan dengan
menggunakan PAC. Penurunan kadar 2. Pada reaksi dengan rentang variasi
silika ini disebabkan oleh penambahan ukuran diameter rata-rata partikel
PAC yang dapat menurunkan pH. abu menghasilkan perbedaan persen
Penurunan pH tersebut menyebabkan recovery yang silika yang tidak
silika dalam filtrat mengendap dan signifikan.
terbuang bersama endapan asam humat.
3. Nilai persen recoveiy silika yang
Hasil analisis terhadap endapan asam rendah (65,32%) dikarenakan
humat yang dihasilkan dari proses adanya silika kristal yang memiliki
penjernihan menunjukkan bahwa pada reaktivitas yang rendah
endapan tersebut mengandung silika
sebesar 9,3%. Dengan demikian proses 4. Proses penjernihan filtrat dengan
penjernihan dengan menggunakan larutan menggunakan larutan PAC tidak
PAC tidak layak untuk dilakukan karena layak untuk dilakukan karena
dapat menyebabkan penurunan kadar menyebabkan penurunan kadar
silika dalam filtrat hasil reaksi antara abu silika sebesar 84,75%
dengan larutan NaOH.
DAFTAR PUSTAKA
Penurunan Volume Larutan NaOH di
Fiitrat Ariyanto, Dwi Priyo. tanpa tahun. Ikatan
Semua percobaan yang dilakukan Asam antara Asam Organik Tanah
menunjukkan adanya rata-rata penurunan dengan Logam (on line).
volume sebanyak 24,52% pada saat Surakarta: Jurusan Ilmu Tanah
larutan NaOH menjadi fiitrat. Menurut Fakultas
Schure dkk. (1985), abu batubara Pertanian Universitas Sebelas
merupakan partikel yang porous. Porositas Maret.
dari abu menyebabkan cairan yang berada Budidaya Ternak Itik. 2009.
di sekitarnya berdifusi ke dalam dan http://www.scribd.com/doc/18083
terjebak di dalam padatan abu sehingga Q44/BUDIDAYA- TERNAK-ITIK.
menyebabkan penurunan volume larutan Dalimunthe, Indra Surya. 2004. Kimia dari
NaOH ketika larutan tersebut menjadi Inhibitor Korosi (on line). Medan:
fiitrat. Fakultas Teknik Universitas
Sumatra Utara.
KESIMPULAN Harsono, Heru. 2002. Pembuatan Silika
Amorf dari Limbah Sekam Padi
Berdasarkan pembahasan pada bab IV, (Synthesis of Amorphous Silicon
maka diambil beberapa kesimpulan from Outer Shell of Rice Seeds).
sebagai berikut: Malang: Jurusan Fisika FMIPA
1. Dari semua rentang variasi yang Universitas Brawijaya.
dilakukan, kondisi operasi yang Huda, Miftahul. 2010. Komunikasi
menghasilkan persen recovery silika Langsung. Bandung, 29 April
tertinggi dari abu batubara boiler 2010.
tekanan rendah pada tekanan Indonesian Coal Index. 2008.
atmosfir dan kecepatan pengadukan www.coalindoenergy.com. (21
800 rpm adalah: Januari 2010).
Kegunaan Silika Gel. 2008.
http://punkels.wordpress.com/2Q0
8/12/21/kegunaan- silica-gel/. (12

44
Recovery Silika Dari Abu Batubara Boiler Tekanan Rendah
(Taofik Hidayat, Hartini Hadi Santosa)

Agustus 2010). http://chemicalland21.com/industri


KementrianNegara LingkunganHidup. alchem/inorganic/sodium%20silica
2006.
http//b3.menlh.go.id/3r/article.php?articl te.html 12 Juni 2010).
e_id=6. (27 Januari 2010). Soeswanto, Bambang. 2010. Komunikasi
Maulida Hardi, Fikri dan Riyadi Ramadhan Langsung. Bandung, 12 Juli 2010.
S. 2008. Tugas Akhir Pembuatan Speight, James G. 2002. Chemical and
Natrium Silikat Dari Abu Sekam Process Design Handbook (on
Padi (on line). (27 Januari 2010). line).
MSDS Bottom Ash (on line). 2001. (27 (27 Januari 2010).
Januari 2010). Sri Rahayu, Endang. 2010. Komunikasi
Nugteren, Henk W., dkk .2001. Langsung. Bandung, 4 Agustus
Determination of The Available Si 2010.
and Al from Coal Fly Ashes Under Suara Karya. 2006.
Alkaline Condition with The Aim of www.ima-api.com/news.php?pid=9
The Synthesizing Zeolit Product 68&act=detail. (27 Januari
(on line). Kentucky: International 2010).
Ash Utilization Symposium. Takeuchi, Yoshito. Padat an Kristalin dan
Pembakaran Batubara. 2007. http Amorf. 2008.
://firdaushanif. multiply, com/ i http://www.chem-in-try.org/materi
oumal/item/2/ Pembakaran kimia/kimia
Batubara. (19 Mei 2007). dasar/padatan-kristalin-omorf
Peraturan Pemerintah no.85 tahun 1999 (l0Juli 2010).
(on line). (27 Januari 2010). Tim Kajian Batubara Nasional Kelompok
PT Visidata Riset Indonesia. 2009. Masa Kajian Kebijakan Mineral da
Depan Bisnis Industri Batubara. 2006. Batubara Indonesia
Pertambangan Batubara Di (on line). Pusat Litbang Teknologi
Indonesia, www.visdatin.com/kp/kp Mineral dan Batubara.
batubara ind.htmT 27 Januari www.tekmira.esdm.go.id/dala/files
2010). /batubara%20Indonesia.pdf (27
Saleh, Nuryadi. 2010. Komunikasi Januari 2010).
Langsung. Bandung, 22 Maret Vucinic,Dusicadkk. tanpa tahun.
2010. http://www.doai.org/doai?func=abstract
Sarkar dkk. 2004. Handbook for &id=l 12286. ( 27 Januari 2010).
Identification of Alkali-Silica
Reactivity in Airfield Pavement (on
line). U.S. Department of
Transportation Federal Aviation
Administration.
Schure dkk. .1985. Surface Area and
Porousity of Coal Fly Ash.
http://pubs.acs.Org/doi/abs/l 0.102
l/es00131 a009. ( 25 Juli 2010).
Silica Gel. tanpa tahun.
http://www.chromatography-online.
org/topics/silica/gel.html (12
Agustus, 2010).
Silicon Dioxide. 2010.
http://en.wikipedia.org/wiki/Silicon
dioxide. (25 Januari
2010).
Sodium Silicate. 2010.
http://en.wikipedia.org/wiki/Sodium
silicate. (12 Juni
2010).
Sodium Silicate (online) (tanpa tahun)

45
KONVERSI Vol. 2 No. 2 Oktober 2013 ISSN 2252-7311

46