Anda di halaman 1dari 28

HUBUNGAN ORIENTASI ALAT MEDIS DENGAN TINGKAT STRES

HOSPITALISASI ANAK USIA PRASEKOLAH DI RUMAH SAKIT SANTO

BORROMEUS BANDUNG

Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah pengantar Riset Metodologi Keperawatan

dengan dosen pembimbing Thina Shinta Parulian.,S.Kep.,M.Kep.,Sp.Kep.An

Disusun Oleh:

Wayan Sudiarta

30140115026

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SANTO BORROMEUS

PADALARANG

2018

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat

rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan proposal penelitian ini. Proposal penelitian ini

berjudul “Orientasi Alat Medis dengan Tingkat Stres Hospitalisasi Anak usia Prasekolah Di

Rumah Sakit Santo Borromeus”. Proposal penelitian ini disusun untuk memenuhi tugas mata

ajar Metodologi Keperawatan studi DIII Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Santo

Borromeus.

Dalam penyelesaian Proposal penelitian ini, masih terdapat kekurangan dan kesalahan

dari segi materi maupun penulisan. Oleh karena itu, demi perbaikan selanjutnya yang dapat

dipertanggungjawabkan, saran dan kritik yang membangun dari semua pihak. Besar harapan

penulis, Proposal penelitian ini bermanfaat bagi perawat khususunya dan para pembaca.

Padalarang, Januari 2018

2
Lampiran 1

INFORMED CONSENT

LEMBAR PENJELASAN PENELITIAN

Nama peneliti : Wayan Sudiarta

NIM : 30140115026

Instansi pendidikan : Stikes Santo Borromeus

Judul penelitian : Hubungan orientasi alat kesehatan dengan tingkat stres hospitalisasi anak

usia prasekolah Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung

Saudara telah diminta ikut berpartisipasi dalam penelitian ini. Responden dalam penelitian

ini adalah secara sukarela. Saudara berhak menolak berpartisipasi dalam penelitian ini.

Penelitian ini dilakukan dalam bentuk observasi dan kuisioner. Wawancara dilakukan satu

kali selama kurang dari 60 menit. Segala informasi yang saudara berikan akan digunakan

sepenuhnya hanya dalam penelitian ini. Peneliti sepenuhnya akan menjaga kerahasiaan

identitas saudara dan tidak dipublikasikan dalam bentuk apapun. Jika ada yang belum jelas,

saudara boleh bertanya pada peneliti. Jika saudara sudah memahami penjelasan ini dan

bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini, silahkan saudara menandatangani lembar

persetujuan yang akan dilampirkan.

Peneliti,

Wayan Sudiarta

3
Lampiran 2

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Setelah mendengarkan penjelasan dari peneliti tentang penelitian yang berjudul

“Hubungan orientasi alat kesehatan dengan tingkat stres hospitalisasi anak usia prasekolah di

Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung”

Maka saya dengan sukarela dan tanpa paksaan menyatakan bersedia menjadi

responden dalam penelitian tersebut.

Bandung 2018,

Responden

4
Daftar Isi
KATA PENGANTAR ........................................................................................................................... 2
INFORMED CONSENT ...................................................................................................................... 3
LEMBAR PENJELASAN PENELITIAN .......................................................................................... 3
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN .................................................................... 4
Daftar isi ................................................................................................................................................ 5
BAB I ...................................................................................................................................................... 6
PENDAHULUAN ................................................................................................................................. 6
A. Latar Belakang .......................................................................................................................... 6
B. Rumusan Masalah .................................................................................................................... 7
C. Tujuan Penulisan ...................................................................................................................... 7
D. Manfaat Penulisan .................................................................................................................... 8
E. Ruang Lingkup.......................................................................................................................... 9
BAB II .................................................................................................................................................. 10
TINJAUAN TEORI ............................................................................................................................ 10
A. Konsep Orientasi ..................................................................................................................... 10
B. Konsep Stress .......................................................................................................................... 10
C. Macam-macam Stres .............................................................................................................. 11
D. Sumber stres ( Stressor ) ........................................................................................................ 12
E. Faktor Pengaruh Respon Terhadap Stressor ....................................................................... 13
F. Tahapan Stres.......................................................................................................................... 15
G. Management Stres .............................................................................................................. 16
H. Konsep hospitalisasi ............................................................................................................ 18
I. Kerangka Teori ....................................................................................................................... 21
J. Kerangka konsep .................................................................................................................... 21
K. Hipotesis ............................................................................................................................... 22
BAB III................................................................................................................................................. 23
METODE PENELITIAN ................................................................................................................... 23
A. Desain Penelitian ..................................................................................................................... 23
B. Populasi dan Sampel ............................................................................................................... 23
C. Instrumen Penelitian .............................................................................................................. 24
D. Pengumpulan Data.................................................................................................................. 24
E. Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................................................................. 25
F. Etika Penelitian ....................................................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................................... 28

5
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hospitalisasi (rawat inap) pada pasien anak dapat menyebabkan kecemasan

dan stres pada semua tingkat usia. Penyebab dari kecemasan ini dipengaruhi oleh

banyak faktor, baik faktor dari petugas (perawat, dokter dan tenaga kesehatan

lainnya), lingkungan baru maupun keluarga yang mendampinginya selama perawatan.

Keluarga sering merasa cemas dengan perkembangan anaknya, pengobatan, peraturan

dan keadaan di rumah sakit, serta biaya perawatan. Meskipun dampak tersebut tidak

berlangsung pada anak, secara psikologis anak akan merasakan perubahan perilaku

dari orang tua yang mendampinginya selama perawatan. Anak akan semakin stres dan

hal ini berpengaruh terhadap proses penyembuhan, yaitu menurunnya respon imun.

Hal ini telah dibuktikan bahwa pasien yang mengalami kegoncangan jiwa akan

mudah terserang penyakit, karena pada kondisi stres terjadi penekanan sistem imun.

Pasien anak yang teraupetik dan sikap perawat yang penuh perhatian akan

mempercepat proses penyembuhan (Nursalam, 2005)

Krisis penyakit dan hospitalisasi pada masa anak-anak mempengaruhi setiap

anggota keluarga inti. Reaksi orang tua terhadap penyakit anak mereka bergantung

pada keberagaman faktor-faktor yang mempengaruhinya. Hampir semua orang tua

berespons terhadap penyakit dan hospitalisasi anak mereka dengan reaksi yang luar

biasa konsisten. Pada awalnya orang tua dapat bereaksi tidak percaya, marah atau

merasa bersalah, takut, cemas, dan frustasi (Wong, 2008).

Anak merupakan populasi yang sangat rentan terutama ketika menghadapi

situasi yang membuat stres. Hal ini dikarenakan kemampuan koping yang digunakan

6
oleh orang dewasa pada anak-anak belum berkembang dengan sempurna. Kondisi

anak yang dirawat di rumah sakit saat ini banyak mengalami masalah yang lebih

serius dan kompleks dibandingkan kejadian hospitalisasi pada tahun-tahun

sebelumnya. Timbul tantangan-tantangan yang harus dihadapi anak, seperti mengatasi

suatu perpisahan, penyesuaian dengan lingkungan yang asing baginya.

Pada saat dirawat di rumah sakit anak akan mengalami berbagai perasaan

tidak menyenangkan, seperti marah, takut, cemas, sedih dan nyeri. Kecemasan

merupakan perasaan yang paling umum dialami oleh pasien anak yang dirawat di

rumah sakit. Menurut Supartini(2004) dalam Sutomo (2011), Terapi bermain

merupakan terapi pada anak yang mengalami hospitalisasi.

Berdasarkan data WHO (2010) dalam Winata (2012), bahwa 3-10%pasien

anak yang dirawat di Amerika Serikat mengalami stres selama hospitalisasi. Sekitar 3

sampai dengan 7% dari anak usia sekolah yang dirawat di Jerman juga mengalami hal

yang serupa, 5 sampai dengan 10% anak yang dihospitalisasi di Kanada dan Selandia

Baru juga mengalami stres selama dihospitalisasi.Sumaryoko (2008) dalam

Kholisatun (2013) menyatakan prevalensi mortalitas anak di Indonesia yang harus

dirawat di rumah sakit cukup tinggi yaitu sekitar 35 per 100 anak, yang ditunjukkan

dengan selalu penuhnya ruang anak baik di rumah sakit pemerintah ataupun rumah

sakit swasta

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan latar belakang bahwa tingginya mortalitas anak di

indonesia yang dirawat di rumah sakit cukup tinggi yaitu 35 per 100 anak, maka

penulis tertarik untuk melakuka penelitian mengenai “Hubungan orientasi alat

kesehatan dengan tingkat stres hospitalisasi anak usia pra sekolah”?

C. Tujuan Penulisan

7
1. Tujuan Umum

Mengetahui Hubungan orientasi alat kesehatan dengan tingkat stres hospitalisasi

anak usia pra sekolah di Rumah Sakit Santo Borromeus.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui Faktor-faktor yang dapat menimbulkan stres saat anak menjalani

hospitalisasi.

b. Mengetahui Respon Anak ketika Menjalani Hospitalisasi

D. Manfaat Penulisan

1. Rumah Sakit Borromeus

a. Sebagai informasi tambahan yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan

pelayanan kesehatan pada keperawatan anak

b. Sebagai bahan pertimbangan saat melakukan tindakan mendis pada perawatan

anak

2. Institusi pendidikan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan

tentang Mengetahui Hubungan orientasi alat kesehatan dengan tingkat stres

hospialisasi anak usia prasekolah

3. Bagi peneliti

Peneliti dapat mengetahui Hubungan orientasi alat kesehatan dengan tingkat stres

hospitalisasi anak usia prasekolah, dapat menambah wawasan dan pegalaman saat

melakukan penelitian

4. Bagi orang tua

Hasil penelitian ini dapat mejadi tambahan informasi kepada orang tua bahwa

pentingnya pendampingan orang tua agar anak tidak mengalami stres saat anak

harus di rawat di rumah sakit.

8
E. Ruang Lingkup

penelitian ini difokuskan untuk mengetahui Mengetahui Hubungan orientasi

alat kesehatan dengan tingkat stres hospitalisasi anak usia pra sekolah di Rumah Sakit

Santo Borromeus Bandung dengan menggunakan metode diskriptif korelasional

dengan pendekatan cross sectional design Teknik sampling yang digunakan adalah

Purposive Sampling.

9
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Orientasi

1. Pengertian orientasi

Orientasi merupakan pandangan yang mendasari pikiran, perhatian, atau

kecenderungan. Orientasi ruangan merupakan hal yang penting yang harus

dilaksanakan oleh perawat kepada pasien dan pendamping untuk menghindari

sesuatu yang mencemaskan dan menakutkan bagi pasien tersebut. “HUBUNGAN

ORIENTASI ALAT MEDIS DENGAN TINGKAT STRES HOSPITALISASI

ANAK USIA PRASEKOLAH DI RUMAH SAKIT SANTO BORROMEUS

BANDUNG” Mengorientasikan pasien dan pendamping tentang rumah sakit,

fasilitas, dan peraturan yang berlaku (Nursalam, 2008). Informasi tentang rumah

sakit dibutuhkan pasien dan pendamping untuk dapat beradaptasi dengan situasi

rumah sakit yang berbeda dengan rumah sendiri (Keliat, 2002). Dengan dilakukan

orientasi sebelumnya, seseorang akan lebih mudah berdaptasi sehingga akan

mempengaruhi prilaku selanjutnya.

B. Konsep Stress

1. Pengertian Stres

Stres adalah kumpulan hasil, respon, jalan, dan pengalaman yang

berkaitan, yang disebabkan oleh berbagai keadaan atau peristiwa yang

menyebabkan stres (Manktelow, 2008). Stres biasanya dipersepsikan sebagai

sesuatu yang negatif padahal tidak. Sumber stressor dapat mempengaruhi sifat

10
dari stressor seperti lingkungan, baik secara fisik, psikologis maupun spiritual

(Hidayat, 2008). Dalam batas tertentu, stres dapat membantu kita untuk tetap aktif

dan waspada. Akan tetapi, stres yang berlangsung lama dapat melebihi

kemampuan kita untuk mengatasinya dan menyebabkan distress emosional

seperti kelelahan, meningkatnya asam lambung, dan sakit kepala (Sukmono,

2009).

C. Macam-macam Stres

1. Stres Fisik

Stres yang disebabkan karena keadaan fisik seperti karena temperatur

yang tinggi atau yang sangat rendah, suara yang bising, sinar matahari atau

karena tegangan arus listrik (Hidayat, 2008). Perubahan iklim, alam, suhu, cuaca,

geografi; yang meliputi letak tempat tinggal, domisili, demografi; berupa jumlah

anggota dalam keluarga, nutrisi, radiasi kepadatan penduduk, imigrasi, dll

(Rasmun,2004).

2. Stres Kimiawi

Stres yang disebabkan karena zat-zat kimia seperti obat-obatan dan zat

beracun asam, basa, faktor hormon atau gas dan prinsipnya karena pengaruh

senyawa kimia (Hidayat, 2008).

3. Stres Mikrobiologik

Stres yang disebabkan karena kuman seperti adanya virus, bakteri atau

parasit (Hidayat, 2008). Bermacam tumbuhan dan makhluk hidup lainnya yang

dapat mempengaruhi kesehatan misalnya; tumbuhnya jerawat, demam yang

dipersepsikan mengancam konsep diri individu juga dapat menyebabkan stres

(Rasmun, 2004).

4. Stres Fisiologis

11
Stres yang disebabkan karena gangguan fungsi organ tubuh (Hidayat,

2008).

5. Stres Proses Pertumbuhan Dan Perkenbangan

Stres yang disebabkan karena proses pertumbuhan dan perkembangan

seperti pada pubertas, perkawinan, dan proses lanjut usia (Hidayat, 2008).

6. Stres Psikis atau Emosional

Stres yang disebabkan karena gangguan situasi psikologis atau

ketidakmampuan kondisi psikologis untuk menyesuaikan diri seperti hubungan

interpersonal, dan sosial budaya (Hidayat, 2008).

7. Stres Spiritual

Yaitu adanya persepsi negatif terhadap nilai-nilai keagamaan (Rasmun, 2004).

D. Sumber stres ( Stressor )

Sumber stresor merupakan asal dari penyebab suatu stres yang dapat

mempengaruhi sifat dari stresor seperti lingkungan, baik secara fisik, psikologis

maupun spiritual. Sumber stresor lingkungan fisik dapat berupa fasilitas-fasilitas

seperti air minum. Makanan, atau tempat-tempat umum sedangkan lingkungan

psikologis dapat berupa suara atau sikap kesehatan atau orang yang ada disekitarnya,

sedangkan lingkungan spiritual dapat berupa tempat pelayanan keagamaan seperti

fasilitas ibadah atau lainnya. Sumber stresor yang lain adalah diri sendiri yang dapat

berupa perubahan fisiologis dalam tubuh, seperti adanya operasi, obat-obatan atau

lainnya. Sedangkan sumber stresor dari pikiran adalah berhubungan dengan penilaian

seseorang terhadap status kesehatan yang dialami serta pengaruh terhadap dirinya.

Selain sumber stresor di atas, menurut Alimul (2008), stres yang dialami manusia

dapat berasal dari berbagai sumber dari dalam diri seseorang, keluarga dan

lingkungan.

12
1. Sumber Stres Dalam Diri

Sumber stres dalam diri sendiri pada umumnya dikarenakan konflik yang

terjadi antara keinginan dan kenyataan berbeda, dalam hal ini adalah berbagai

permasalahan yang terjadi yang tidak sesuai dengan dirinya dan tidak mampu

diatasi, maka dapat menimbulkan suatu stres.

2. Sumber Stres Dalam keluarga

Stres ini bersunber dari masalah keluarga ditandai dengan adanya

perselisihan masalah keluarga, masalah keuangan serta adanya tujuan yang

berbeda diantara keluarga. Permasalahan ini akan selalu menimbulkan suatu

keadaan yang dinamakan stres.

3. Sumber Stres Dalam Masyarakat dan Lingkungan

Sumber stres ini dapat terjadi di lingkungan atau masyarakat pada

umumnya, seperti lingkungan pekerjaan, secara umum disebut sebagai stres

pekerja karena lingkungan fisik, dikarenakan kurangnya hubungan interpersonal

serta kurangnya adanya pengakuan di masyarakat sehingga tidak dapat

berkembang.

E. Faktor Pengaruh Respon Terhadap Stressor

1. Sifat Stressor

Faktor yang dapat mempengaruhi respon tubuh terhadap stressor secara

tiba-tiba atau berangsur-angsur, dapat berbeda pada setiap individu tergantung

dari pemahaman tentang arti stressor (Hidayat, 2008).

2. Durasi Stressor

Lamanya stressor yang dialami akan mempengaruhi respon tubuh.

Apabila stressor yang dialami lama, maka respon yang dialami juga lama

(Hidayat, 2008). Memanjangnya stressor dapat menyebabkan menurunnya

13
kemampuan individu mengatasi stres, karena individu telah berada pada fase

kelelahan, individu sudah kehabisan tenaga untuk menghadapi stressor tersebut

(Rasmun, 2004).

3. Jumlah Stressor

Jumlah stressor seseorang dapat menentukan respon tubuh. Semakin

banyak stressor yang dialami, maka dapat menimbulkan dampak yang besar bagi

fungsi tubuh (Hidayat, 2008). Pada waktu yang bersamaan bertumpuk sejumlah

stressor yang harus dihadapi, sehingga stressor kecil dapat menjadi pemicu

(pencetus) yang mengakibatkan reaksi yang berlebihan (Rasmun, 2004).

4. Pengalaman Masa lalu

Pengalaman masa lalu dapat mempengaruhi kemampuan individu dalam

menghadapi stressor yang sama (Rasmun, 2004). Semakin banyak stressor dan

pengalaman yang dialami dan mampu menghadapinya, maka semakin baik dalam

mengatasinya sehingga kemampuan adaptifnya akan semakin baik pula (Hidayat,

2008).

5. Tipe Kepribadian

Seseorang yang memiliki tipe kepribadian A lebih rentan terkena stres

dibanding dengan tipe kepribadian B. Karena tipe kepribadian A memiliki ciri

agresif, bicara cepat, kurang sabar, mudah tersinggung, mudah marah, dan lain-

lain. Sedangkan tipe kepribadian B kebalikan dari tipe kepribadian A (Hidayat,

2008).

6. Tingkat Perkembangan

Pada tingkat perkembangan tertentu terdapat jumlah dan intensitas

stressor yang berbeda sehinggga resiko terjadi stres pada tiap tingkat

perkembangan akan berbeda (Rasmun, 2004). Semakin matang dalam

14
perkembangannya, maka semakin baik pula kemampuan untuk mengatasinya.

Kemampuan individu dalam mengatasi stressor dan respon berbeda-beda

(Hidayat, 2008).

F. Tahapan Stres

1. Tahapan Pertama

Tahap yang ringan dari stres yang ditandai dengan adanya semangat

bekerja besar, penglihatannya tajam tidak seperti pada umumnya, merasa mampu

menyelesaikan pekerjaan yang tidak seperti biasanya, kemudian merasakan

senang dengan pekerjaan akan tetapi kemampuan yang dimilikinya semakin

berkurang.

2. Tahapan Kedua

Pada tahap ini seseorang memiliki ciri adanya perasaan letih sewaktu

bangun pagi yang semestinya segar, terasa lelah sesudah makan siang, cepat lelah

menjelang sore, sering mengeluh lambung atau perut tidak nyaman, denyut

jantung berdebar-debar lebih dari biasanya, otot-otot punggung dan tengkuk

semakin tegang dan tidak bisa santai.

3. Tahapan Ketiga

Pada tahap ini apabila seseorang mengalami gangguan seperti adanya

keluhan gastritis, buang air besar tidak teratur, ketegangan otot semakin terasa,

perasaan tidak tenang, gangguan pola tidur, lemah, terasa seperti tidak bertenaga.

4. Tahapan Keempat

Pada tahap ini seseorang akan mengalami gejala seperti segala pekerjaan

yang menyenangkan terasa membosankan, semula tanggap terhadap situasi

menjadi kehilangan kemampuan untuk merespon secara adekuat, tidak mampu

15
melaksanakan kegiatan sehari-hari, adanya gangguan pola tidur, sering menolak

ajakan karena tidak bergairah, kemampuan mengingat dan konsentrasi menurun.

5. Tahapan Kelima

Pada tahap ini ditandai dengan adanya kelelahan fisik secara mendalam,

tidak mampu menyelesaikan pekerjaan yang ringan dan sederhana, gangguan

pada sistem pencernaan semakin berat dan perasaan ketakutan dan kecemasan

semakin meningkat.

G. Management Stres

Apabila stres tidak cepat ditanggulangi atau dikelola dengan baik, maka akan

dapat berdampak lebih lanjut seperti mudah terjadi gangguan atau terkena penyakit

(Hidayat, 2008). Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa stres membuat kita

rentan terhadap penyakit karena melemahnya sistem kekebalan tubuh (Sukmono,

2009). Tahap untuk mengatasi dan mencegah stres dapat dilakukan dengan:

1. Pengaturan Diet dan Nutrisi

Pengaturan diet dan nutrisi merupakan cara yang efektif dalam

mengurangi atau mengatasi stres melalui makan dan minum yang halal dan tidak

berlebihan, dengan mengatur jadwal makan secara teratur, menu bervariasi,

hindari makanan dingin dan menonton karena dapat menurunkan kekebalan tubuh

(Hidayat, 2008). Menurut Batmanghelid (2007), minum air dapat mengurangi

nyeri menstruasi, air dapat mengencerkan darah dan mencegah penggumpalan

darah ketika ia beredar ke seluruh tubuh serta sumber utama energi bagi tubuh.

2. Istirahat dan Tidur

Istirahat dan tidur merupakan obat yang baik dalam mengatasi stres

karena dengan istirahat dan tidur yang cukup akan memulihkan keletihan fisik

16
dan akan memulihkan keadaan tubuh. Tidur yang cukup akan memberikan

kegairahan dalam hidup dan memperbaiki sel-sel yang rusak.

3. Olahraga atau Latihan Teratur

Olahraga atau latihan teratur adalah salah satu cara untuk meningkatkan

daya tahan dan kekebalan fisik maupun mental. Olahraga dapat dilakukan dengan

cara jalan pagi, lari pagi.

4. Berhenti Merokok

Berhenti merokok adalah salah satu cara menanggulangi stres karena

dapat meningkatkan status kesehatan dan mempertahankan ketahanan dan

kekebalan tubuh.

5. Tidak Mengkonsumsi Minuman Keras

Dengan tidak mengkonsumsi minuman keras, kekebalan dan ketahanan

tubuh akan semakin baik, segala penyakit dapat dihindari karena minuman keras

banyak mengandung alkohol.

6. Pengaturan Berat Badan

Peningkatan berat badan dapat menyebabkan stres karena mudah

menurunkan daya tahan tubuh terhadap stres.

7. Pengaturan Waktu

Dengan pengaturan waktu segala pekerjaan yang dapat menimbulkan

kelelahan fisik dapat dihindari. Pengaturan waktu dapat dilakukan dengan cara

menggunakan waktu secara efektif dan efisien serta melihat aspek produktivitas

waktu.

8. Terapi Psikofarmaka

Terapi ini menggunakan obat-obatan dalam mengatasi stres yang dialami

dengan cara memutuskan jaringan antara psiko neuro dan imunologi sehingga

17
stresor psikososial yang dialami tidak mempengaruhi fungsi kognitif afektif atau

psikomotor yang dapat mengganggu organ tubuh yang lain.

9. Terapi Somatik

Terapi ini hanya dilakukan pada gejala yang ditimbulkan akibat stres yang

dialami sehingga diharapkan tidak dapat mengganggu sistem tubuh yang lain.

10. Psikoterapi

ini dapat meliputi psikoterapi suportif dan psikoterapi reedukatif dimana

psikoterapi suportif memberikan motivasi atas dukungan agar pasien percaya diri,

sedangkan psikoterapi reedukatif dilakukan dengan memberikan pendidikan

secara berulang.

11. Terapi Psikoreligius

Terapi ini menggunakan pendekatan agama dalam mengatasi

permasalahan psikologis mengingat dalam mengatasi atau mempertahankan

kehidupan seseorang harus sehat secara fisik, psikis, sosial dan sehat spiritual

sehingga stres yang dialami dapat diatasi (Hidayat, 2008).

H. Konsep hospitalisasi

1. Pengertian hospitalisasi

Menurut Supartini (2004), hospitalisasi merupakan suatu proses dimana

karena alasan tertentu atau darurat mengharuskan anak untuk tinggal di RS,

menjalani terapi perawatan sampai pemulangannya kembali ke rumah.

Hospitalisasi adalah bentuk stressor individu yang berlangsung selama individu

tersebut dirawat di rumah sakit (Wong,2003). Menurut WHO, hospitalisasi

merupakan pengalaman yang mengancam ketika anak menjalani hospitalisasi

karena stressor yang dihadapi dapat menimbulkan perasaan tidak aman.

2. Faktor yang dapat menimbulkan stres saat anak menjalani hospitalisasi

18
a. Faktor Lingkungan rumah sakit; Rumah sakit dapat menjadi suatu tempat yang

menakutkan dilihat dari sudut pandang anak-anak. Suasana rumah sakit yang

tidak familiar, wajah-wajah yang asing, berbagai macam bunyi dari mesin

yang digunakan, dan bau yang khas, dapat menimbulkan kecemasan dan

ketakutan baik bagi anak ataupun orang tua. (Norton-Westwood,2012).

b. Faktor Berpisah dengan orang yang sangat berarti; Berpisah dengan suasana

rumah sendiri, benda-benda yang familiar digunakan sehari-hari, juga rutinitas

yang biasa dilakukan dan juga berpisah dengan anggota keluarga lainnya

(Pelander & Leino-Kilpi,2010).

c. Faktor kurangnya informasi yang didapat anak dan orang tuanya ketika akan

menjalani hospitalisasi. Hal ini dimungkinkan mengingat proses hospitalisasi

merupakan hal yang tidak umum di alami oleh semua orang. Proses ketika

menjalani hospitalisasi juga merupakan hal yang rumit dengan berbagai

prosedur yang dilakukan (Gordon dkk,2010).

d. Faktor kehilangan kebebasan dan kemandirian; Aturan ataupun rutinitas

rumah sakit, prosedur medis yang dijalani seperti tirah baring, pemasangan

infus dan lain sebagainya sangat mengganggu kebebasan dan kemandirian

anak yang sedang dalam taraf perkembangan (Price & Gwin,2005).

e. Faktor pengalaman yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan; semakin

sering seorang anak berhubungan dengan rumah sakit, maka semakin kecil

bentuk kecemasan atau malah sebaliknya (Pelander & Leino-Kilpi,2010).

f. Faktor perilaku atau interaksi dengan petugas rumah sakit; khususnya perawat;

mengingat anak masih memiliki keterbatasan dalam perkembangan kognitif,

bahasa dan komunikasi. Perawat juga merasakan hal yang sama ketika

berkomunikasi, berinteraksi dengan pasien anak yang menjadi sebuah

19
tantangan, dan dibutuhkan sensitifitas yang tinggi serta lebih kompleks

dibandingkan dengan pasien dewasa. Selain itu berkomunikasi dengan anak

juga sangat dipengaruhi oleh usia anak, kemampuan kognitif, tingkah laku,

kondisi fisik dan psikologis tahapan penyakit dan respon pengobatan (Pena &

Juan,2011).

3. Respon Anak ketika Menjalani Hospitalisasi


Hospitalisasi dapat dianggap sebagai suatu pengalaman yang mengancam dan

merupakan sebuah stressor, serta dapat menimbulkan krisis bagi anak dan

keluarga. Hal ini mungkin terjadi karena anak tidak memahami mengapa di rawat,

stress dengan adanya perubahan akan status kesehatan, lingkungan dan kebiasaan

sehari-hari dan keterbatasan mekanisme koping. Menurut Alimul (2005) anak

akan memberikan reaksi saat sakit dan mengalami proses hospitalisasi. Reaksi

tersebut dipengaruhi oleh tingkat perkembangan, pengalaman sebelumnya,

support system dalam keluarga, ketrampilan koping dan berat ringannya penyakit.

a. Cemas akibat Perpisahan

Kecemasan yang timbul merupakan respon emosional terhadap

penilaian sesuatu yang berbahaya, berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan

tidak berdaya (Stuart & Sundeen, 1998). Menurut Wong (2003), Stres utama

dari masa bayi pertengahan sampai usia prasekolah, terutama untuk anak-anak

yang berusia 6 bulan sampai 30 bulan adalah kecemasan akibat perpisahan

yang disebut sebagai depresi anaklitik. Pada kondisi cemas akibat perpisahan

anak akan memberikan respon berupa perubahan perilaku. Manifestasi

kecemasan yang timbul terbagi menjadi tiga fase yaitu:

1) fase protes (phase of protest); anak-anak bereaksi secara agresif dengan

menangis dan berteriak memanggil orang tua, menarik perhatian agar

20
orang lain tahu bahwa ia tidak ingin ditinggalkan orang tuanya serta

menolak perhatian orang asing atau orang lain dan sulit ditenangkan.

2) fase putus asa (phase of despair); dimana tangisan akan berhenti dan

muncul depresi yang terlihat adalah anak kurang begitu aktif, tidak tertarik

untuk bermain atau terhadap makanan dan menarik diri dari orang lain.

3) fase menolak (phase of denial); merupakan fase terakhir yaitu fase

pelepasan atau penyangkalan, dimana anak tampak mulai mampu

menyesuaikan diri terhadap kehilangan, tertarik pada lingkungan sekitar,

bermain dengan orang lain dan tampak membentuk hubungan baru,

meskipun perilaku tersebut dilakukan merupakan hasil dari kepasrahan

dan bukan merupakan kesenangan.

I. Kerangka Teori

Berdasarkan tinjauan teori diatas maka peneliti membuat kerangka teori sebagai

berikut:
Tingkat stres Hospitalisasi
Orientasi - Faktor yang dapat
alat medis
menimbulkan stres saat anak

menjalani hospitalisasi

- Respon Anak ketika


Menjalani Hospitalisasi

Skema 2.1 kerangka teori

J. Kerangka konsep

21
Kerangka konsep merupakan suatu uraian dan visualisasi hubungan atau

kaitan antara konsep satu dengan konsep yang lain, atau dari variabel satu dengan

variabel yang lain dari masalah yang ingin diteliti ( Soekidjo, 2010 ).

Berdasarkan tinjauan teori, maka kerangka konsep yang dibuat oleh peneliti sebagai

berikut :

Variabel indenpenden Variabel dependen

Orientasi alat medis Tingkat stres hospitalisasi


- Faktor yang dapat menimbulkan
stres saat anak menjalani
hospitalisasi
- Respon Anak ketika Menjalani
Hospitalisasi

Skema 2.2 Kerangka Konsep

Keterangan : = variabel yang diteliti

K. Hipotesis

Hipotesis merupakan kesimpulan teoritis yang masih harus dibuktikan kebenaranya

melalui analisis terhadap bukti-bukti empiris ( Danim, 2003 ).

Berdasarkan variabel-variabel penelitian yang dilakukan maka hipotesis penelitan

adalah : H1 ada Hubungan Orientasi Alat Medis dengan Tingkat Stres Hospitalisasi

Anak Usia PraSekolah.

22
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian merupakan rancangan penelitian yang disusun

sedemikian rupa sehingga menuntun peneliti untuk dapat meperoleh jawaban terhadap

pertanyaan penelitian ( Alatas dkk. 2011 Dalam Sastroasmoro, 2011 ). Desain yang

digunakan dalam penelitian adalah deskriptif korelasi dengan rancangan potong

lintang/ cross sectional. Cross sectional merupakan pengukukuran variabel yang

dilakukan sekali untuk mengetahui hubungan variabel indenpenden dengan variabel

dependen (Sastroasmoro, 2011 ). Pada penelitian ini penulis ingin mengetahui

Hubungan Orientasi Alat Medis dengan Tingkat Stres Hospitalisasi Anak Usia Pra

Sekolah.. Variabel indenpenden adalah Orientasi Alat Medis, sedangkan variabel

dependen adalah Tingkat Stres Hospitalisasi Anak Usia Pra Sekolah.

B. Populasi dan Sampel

Populasi adalah sebagian dari sampel objek penelitian atau objek yang akan

diteliti ( Notoatmojo, 2005 ). Populasi pada penelitian ini anak yang dirawat di ruang

irene 2 Rumah Sakit Santo Borromeus. Sampel adalah kelompok yang mewakili

populasi ( Notoatmojo, 2005 ) Teknik sampling yang akan digunakan adalah

Purposive Sampling yang berarti metode penetapan sampel dengan memilih beberapa

23
sampel tertentu yang dinilai sesuai dengan tujuan atau masalah penelitian dalam

sebuah populasi (Nursalam:2008).

C. Instrumen Penelitian

Menurut Suharsimi Arikunto (2010), instrumen penelitian merupakan alat

bantu yang dipilih & digunakan oleh peneliti dalam melakukan kegiatannya untuk

mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis & dipermudah olehnya.

Jadi instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan peneliti dalam

mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam

arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah.

Dalam penelitian ini instrumen penelitian atau alat yang digunakan untuk

pengambilan data adalah dengan menggunakan observasi dan kuesioner metode

tertutup, dimana 20 pilihan jawaban sudah ditentukan terlebih dahulu dan responden

tidak diberikan alternatif jawaban lain.

1. Uji Validitas

Uji validitas untuk mengetahui alat ukur tersebut valid, valid artinya ketepatan

mengukur, atau alat ukur tersebut tepat untuk mengukur sebuah variabel yang

akan diukur ( Riwidikdo, 2013 ).

2. Uji Realibilitas

Uji reabilitas adalah hal yang dapat dipercaya. Hasil pengukuran harus reliabel

dalam artian harus memiliki tingkat konsistensi dan kemantapan. Reliabel dapat

diartikan ajeg, artinya alat ukur mempunyai prinsip keajegan, dimana dipakai pada

waktu dan tempat yang berbeda mempunyai kemampuan mengukur yang sama .

D. Pengumpulan Data

1. Alat pengumpulan Data

a) Metode Observasi

24
Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan yang

dilakukan secara sistematis terhadap gejala yang tampak pada obyek

penelitian. Nantinya Dalam penelitian ini, penulis menggunakan observasi

langsung yakni pengamatan dan pencatatan yang dilakukan subyek ditempat

kerja atau berlangsungnya peristiwa, sehingga observer berada bersama

subyek yang diteliti.

b) Metode kuisioner

Angket atau kuisioner merupakan sejumlah pertanyaan atau

pernyataan tertulis tentang data faktual atau opini yang berkaitan dengan diri

responden yang dianggap fakta atau kebenaran yang diketahui dan perlu

dijawab oleh responden. (Suroyo anwar 2009)

2. Teknik Pengumpulan Data

a. Data Primer

Data primer adalah data yang di kumpulkan langsung dengan observasi pada

obyek yang akan di teliti dan memberikan kuesioner pada responden tentang

hubungan orientasi alat medis dengan tingkat stres anak usia prasekolah.

b. Data Skunder

Data Skunder berupa data terkaitan penelitian yang di dapatkan di ruang irene

2 Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung.

E. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi penelitian adalah tempat yang akan dilakukan penelitian oleh peneliti

dalam melaksanakan kegiatan penelitian ( Hidayat, 2007 ). Lokasi penelitian

dilakukan di Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung.

2. Waktu penelitian adalah rentan waktu yang dilakukan peneliti dalam

melaksanakan kegiatan penelitian ( Hidayat, 2007 ).

25
F. Etika Penelitian

Peneliti menentukan masalah etika penelitian kepada calon responden diantaranya

yaitu

1. Informed Consent (Lembar Persetujuan) Sebelum melakukan penelitian, peneliti

memberikan lembar persetujuan kepada responden, jika responden menyetujui

maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan.

2. Anonymity (Tanpa Nama) Dalam penelitian ini, peneliti tidak mencantumkan

nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode yang terdapat

dilembar kuesioner pada hasil penelitian yang akan disajikan.

3. Confidentiality (Kerahasiaan) Dalam penelitian ini, peneliti menyampaikan

kepada responden bahwa peneliti akan menjaga kerahasiaan hasil penelitian, baik

informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang dikumpulkan

dijamin kerahasiaanya oleh peneliti.

26
27
DAFTAR PUSTAKA

Hidayat , A. A. (2009). Konsep Stres dan Adaptasi Stres. Jakarta : Salemba

H. Alimul dan A. Aziz, Pengantar Ilmu Keperawatan Anak (Edisi 1). Salemba

Medika. Jakarta. 2005.

Soekijo Notoatmojo. 2010. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan kombinasi (mixed

methods)

https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/05/21/pengumpulan-data-dan-

instrumen-penelitian-3/. Diakses tanggal 07 januari 2018; 21:00

28

Beri Nilai