Anda di halaman 1dari 27

KISTA OVARIUM

diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Maternitas II


dosen pengampu Ariani Fatmawati, S.Kep.,Ners.,M.Kep.,Sp.Kep.Mat

Disusun oleh:
Kelompok 6

Rizki Julia 302017062


Wulan Dari Febrianti 302017083
Zelfira Latifah Dewi 302017087

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ‘AISYIYAH BANDUNG
2019
KATA PENGANTAR

Menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “Kista Ovarium”
Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi
susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka
kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar makalah ini dapat di
perbaiki seUntuk mengetahui mestinya.
Akhir kata saya berharap semoga makalah mengenai Kista Ovarium ini
berguna dan dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Bandung, Maret 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ iii
BAB I. PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
A. Latar Belakang ......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................... 1
C. Tujuan Makalah ........................................................................................ 2
BAB II. PEMBAHASAN ...................................................................................... 3
A. PENGERTIAN KISTA OVARIUM ........................................................ 3
B. KLASIFIKASI KISTA OVARIUM ....................................................... 3
C. ETIOLOGI KISTA OVARIUM............................................................... 5
D. MANIFESTASI KLINIS ......................................................................... 6
E. PATOFISIOLOGI .................................................................................... 6
F. PATHWAY .............................................................................................. 7
G. KOMPLIKASI ......................................................................................... 7
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG ............................................................. 9
I. PENATALAKSANAAN ....................................................................... 10
J. DIAGNOSA ........................................................................................... 11
K. RENACANA KEPERAWATAN .......................................................... 11
BAB III. PENUTUP ............................................................................................ 22
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 23

ii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1 Kista Ovarium Fungsional ................................................................. 4
Gambar 2. 2 Kista Corpus Luteum ......................................................................... 5
Gambar 2. 3 Kista Pilikistik Ovarium ..................................................................... 5

iii
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seiring meningkatnya ilmu pengetahuan di Indonesia, berkembang pula
upaya peningkatan pelayanan kesehatan terhadap wanita yang semakin membaik.
Sarana dan prasarana di pelayanan kesehatan menunjang terdeteksinya penyakit
wanita yang bermacam-macam, termasuk penyakit ginekologi. Berbagai macam
penyakit sistem reproduksi yang memiliki efek negatif pada kualitas kehidupan
wanita dan keluarganya dengan gejala salah satunya gangguan menstruasi seperti
menarche yang lebih awal, periode menstruasi yang tidak teratur, panjang siklus
menstruasi yang pendek, paritas yang rendah, dan riwayat infertilitas.
Nyeri yang berlebih pada saat haid juga dapat terjadi akibat adanya massa
pada organ reproduksi seperti kista atau tumor. Kista adalah bentuk gangguan
adanya pertumbuhan sel-sel otot polos yang abnormal. Pertumbuhan otot polos
abnormal yang terjadi pada ovarium disebut kista ovarium. Kista ovarium secara
fungsional adalah kista yang dapat bertahan dari pengaruh hormonal dengan siklus
menstruasi.
Nyeri yang berlebih pada saat haid juga dapat terjadi akibat adanya massa
pada organ reproduksi seperti kista atau tumor. Kehamilan tumor ovarii yang
dijumpai paling sering ialah kista dermoid, kista coklat atau kista lutein. Tumor
ovarium yang cukup besar dapat menyebabkan kelainan letak janin dalam rahim
atau dapat menghalang-halangi masuknya kepala kedalam panggul. Oophorektomy
adalah operasi pengangkatan dari ovarium atau indung telur. Tetapi istilah ini
telah digunakan secara tradisional dalam penelitian ilmu dasar yang
menggambarkan operasi pengangkatan indung telur.

B. Rumusan Masalah
Menurut Pariata Westra (1981: 263). Rumusan masalah adalah suatu
masalah yang terjadi apabila seseorang berusaha mencoba suatu tujuan

1
2

percobaannya yang pertama untuk mencapai tujuan itu hingga berhasil. Dalam
makalah ini rumusan masalah sebagai berikut.
1. Bagiamana pengertian dari kista ovarium ?
2. Bagimana klasifikasi kista ovarium ?
3. Bagimana etiologi kista ovarium ?
4. Bagimana manifestasi klinis kista ovarium ?
5. Bagimana patofisiologi kista ovarium ?
6. Untuk mengetahui pathway kista ovarium ?
7. Apa saja komplikasi kista ovarium ?
8. Apa saja pemeriksaan penunjang kista ovarium ?
9. Bagimana penatalaksanaan kista ovarium ?
10. Apa saja diagnosa kista ovarium ?
11. Bagimana renacana keperawatan kista ovarium ?

C. Tujuan Makalah
Menurut Satjipoto Rahardjo dalam Selltiz (2017) Tujuan adalah
mendapatkan pengetahuan tentang suatu gejala, sehingga dapat merumuskan
masalah secara tepat. Dalam makalah ini tujuan sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui pengertian dari kista ovarium.
2. Untuk mengetahui klasifikasi kista ovarium.
3. Untuk mengetahui etiologi kista ovarium.
4. Untuk mengetahui manifestasi klinis kista ovarium.
5. Untuk mengetahui patofisiologi kista ovarium.
6. Untuk mengetahui pathway kista ovarium.
7. Untuk mengetahui komplikasi kista ovarium.
8. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang kista ovarium.
9. Untuk mengetahui penatalaksanaan kista ovarium.
10. Untuk mengetahui diagnosa kista ovarium.
11. Untuk mengetahui renacana keperawatan kista ovarium.
BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN KISTA OVARIUM


Kista ovarium merupakan suatu tumor, baik kecil maupun besar, kistik
maupun solid, jinak maupun ganas (Wiknjosastro, 2007: 346).
Kista ovarium (atau kista indung telur) berarti kantung berisi
cairan,normalnya berukuran kecil, yang terletak di indung telur (ovarium).
Kistaindung telur dapat terbentuk kapan saja, pada masa pubertas
sampaimenopause, juga selama masa kehamilan (Bilotta. K, 2012).
Kista indung telur adalah rongga berbentuk kantong berisi cairan di dalam
jaringan ovarium. Kista ini disebut juga kista fungsional karena terbentuk setelah
telur dilepaskan sewaktu ovulasi (Yatim, 2005: 17)

B. KLASIFIKASI KISTA OVARIUM


Menurut Nugroho (2010), klasifikasi kista ovarium terbagi menjadi 2 tipe, yaitu :
1. Tipe Kista Normal
Kista fungsional ini merupakan jenis kista ovarium yang paling banyak
ditemukan. Kista ini berasal dari sel telur dan korpus luteum, terjadi bersamaan
dengan siklus menstruasi yang normal.
Kista fungsional akan tumbuh setiap bulan dan akan pecah pada masa
subur, untuk melepaskan sel telur yang pada waktunya siap dibuahi oleh sperma.
Setelah pecah, kista fungsional akan menjadi kista folikuler dan akan hilang saat
menstruasi. Kista fungsional terdiri dari: kista folikel dan kista korpus luteum.
Keduanya tidak mengganggu, tidak menimbulkan gejala dan dapat menghilang
sendiri dalam waktu 6 – 8 minggu.

3
4

Gambar 2. 1 Kista Ovarium Fungsional

2. Tipe Kista Abnormal


a. Kistadenoma
Merupakan kista yang berasal dari bagian luar sel indung telur. Biasanya
bersifat jinak, namun dapat membesar dan dapat menimbulkan nyeri.
b. Kista coklat (endometrioma)
Merupakan endometrium yang tidak pada tempatnya. Disebut kista coklat
karena berisi timbunan darah yang berwarna coklat kehitaman.
c. Kista dermoid
Merupakan kista yang berisi berbagai jenis bagian tubuh seperti kulit,
kuku, rambut, gigi dan lemak. Kista ini dapat ditemukan di kedua bagian
indung telur. Biasanya berukuran kecil dan tidak menimbulkan gejala.
d. Kista endometriosis
Merupakan kista yang terjadi karena ada bagian endometrium yang
berada di luar rahim. Kista ini berkembang bersamaan dengan tumbuhnya lapisan
endometrium setiap bulan sehingga menimbulkan nyeri hebat, terutama saat
menstruasi dan infertilitas.
e. Kista hemorhage
Merupakan kista fungsional yang disertai perdarahan sehingga
menimbulkan nyeri di salah satu sisi perut bagian bawah.
f. Kista lutein
Merupakan kista yang sering terjadi saat kehamilan. Kista lutein yang
sesungguhnya, umumnya berasal dari korpus luteum haematoma.
5

Gambar 2. 2 Kista Corpus Luteum

g. Kista polikistik ovarium


Merupakan kista yang terjadi karena kista tidak dapat pecah dan
melepaskan sel telur secara kontinyu. Biasanya terjadi setiap bulan. Ovarium
akan membesar karena bertumpuknya kista ini. Kista polikistik ovarium yang
menetap (persisten), operasi harus dilakukan untuk mengangkat kista tersebut
agar tidak menimbulkan gangguan dan rasa sakit.

Gambar 2. 3 Kista Pilikistik Ovarium

C. ETIOLOGI KISTA OVARIUM


Menurut Nugroho (2010: 101), kista ovarium disebabkan oleh gangguan
(pembentukan) hormon pada hipotalamus, hipofisis dan ovarium
(ketidakseimbangan hormon). Kista folikuler dapat timbul akibat hipersekresi dari
FSH dan LH yang gagal mengalami involusi atau mereabsorbsi cairan. Kista
granulosa lutein yang terjadi didalam korpus luteum indung telur yang fungsional
6

dan dapat membesar bukan karena tumor, disebabkan oleh penimbunan darah yang
berlebihan saat fase pendarahan dari siklus menstruasi. Kista theka-lutein biasanya
bersifay bilateral dan berisi cairan bening, berwarna seperti jerami. Penyebab lain
adalah adanya pertumbuhan sel yang tidak terkendali di ovarium, misalnya
pertumbuah abnormal dari folikel ovarium, korpus luteum, sel telur.

D. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi Klinis Kista Ovarium Menurut Nugroho (2010: 104),
kebanyakan wanita yang memiliki kista ovarium tidak memiliki gejala sampai
periode tertentu. Namun beberapa orang dapat mengalami gejala ini :
1. Nyeri saat menstruasi.
2. Nyeri di perut bagian bawah.
3. Nyeri saat berhubungan seksual.
4. Nyeri pada punggung terkadang menjalar sampai ke kaki.
5. Terkadang disertai nyeri saat berkemih atau BAB.
6. Siklus menstruasi tidak teratur, bisa juga jumlah darah yang keluar banyak.

E. PATOFISIOLOGI
Menurut Nurgroho (2010) Fungsi ovarium yang abnormal dapat
menyebabkan penimbunan folikel yang terbentuk secara tidak sempurna didalam
ovarium. Folikel tersebut gagal mengalami pematangan dan gagal melepaskan sel
telur, terbentuk secara tidak sempurna didalam ovarium karena itu terbentuk kista
di dalam ovarium. Setiap hari, ovarium normal akan membentuk beberapa kista
kecil yang disebut Folikel de Graff. Pertengahan siklus, folikel dominan dengan
diameter lebih dari 2.8 cm akan melepaskan oosit mature. Folikel yang ruptur
akan menjadi korpus luteum, yang pada saat matang memiliki struktur 1,5 – 2
cm dengan kista ditengah- tengah. Bila tidak terjadi fertilisasi pada oosit,
korpus luteum akan mengalami fibrosis dan pengerutan secara progresif. Namun
bila terjadi fertilisasi, korpus luteum mula-mula akan membesar kemudian secara
gradual akan mengecil selama kehamilan. Kista ovari yang berasal dari proses
ovulasi normal disebut kista fungsional dan selalu jinak.
7

F. PATHWAY

Bagan 2. 1 Pathway Kista Ovarium (Nugroho, 2010)

G. KOMPLIKASI
Menurut Wiknjosastro (2007: 347-349), komplikasi yang dapat terjadi pada
kista ovarium diantaranya:
1. Akibat pertumbuhan kista ovarium
8

Adanya tumor di dalam perut bagian bawah bisa menyebabkan pembesaran


perut. Tekanan terhadap alat-alat disekitarnya disebabkan oleh besarnya tumor atau
posisinya dalam perut. Apabila tumor mendesak kandung kemih dan dapat
menimbulkan gangguan miksi, sedangkan kista yang lebih besar tetapi terletak
bebas di rongga perut kadang-kadang hanya menimbulkan rasa berat dalam perut
serta dapat juga mengakibatkan edema pada tungkai.
2. Akibat aktivitas hormonal kista ovarium
Tumor ovarium tidak mengubah pola haid kecuali jika tumor itu sendiri
mengeluarkan hormon.
3. Akibat komplikasi kista ovarium
a. Perdarahan ke dalam kista
Biasanya terjadi sedikit-sedikit sehingga berangsur-angsur menyebabkan kista
membesar, pembesaran luka dan hanya menimbulkan gejala-gejala klinik yang
minimal. Akan tetapi jika perdarahan terjadi dalam jumah yang banyak akan
terjadi distensi yang cepat dari kista yang menimbukan nyeri di perut.
b. Torsio atau putaran tangkai
Torsio atau putaran tangkai terjadi pada tumor bertangkai dengan diameter 5
cm atau lebih. Torsi meliputi ovarium, tuba fallopi atau ligamentum rotundum
pada uterus. Jika dipertahankan torsi ini dapat berkembang menjadi infark,
peritonitis dan kematian. Torsi biasanya unilateral dan dikaitkan dengan kista,
karsinoma, TOA, massa yang tidak melekat atau yang dapat muncul pada
ovarium normal. Torsi ini paling sering muncul pada wanita usia reproduksi.
Gejalanya meliputi nyeri mendadak dan hebat di kuadran abdomen bawah,
mual dan muntah. Dapat terjadi demam dan leukositosis. Laparoskopi adalah
terapi pilihan, adneksa dilepaskan (detorsi), viabilitasnya dikaji, adneksa
gangren dibuang, setiap kista dibuang dan dievaluasi secara histologis.
c. Infeksi pada tumor
Jika terjadi di dekat tumor ada sumber kuman patogen.
d. Robek dinding kista
Terjadi pada torsi tangkai, akan tetapi dapat pula sebagai akibat trauma, seperti
jatuh atau pukulan pada perut dan lebih sering pada saat bersetubuh. Jika
9

robekan kista disertai hemoragi yang timbul secara akut, maka perdarahan
bebas berlangsung ke uterus ke dalam rongga peritoneum dan menimbulkan
rasa nyeri terus menerus disertai tanda-tanda abdomen akut.
e. Perubahan keganasan
Setelah tumor diangkat perlu dilakukan pemeriksaan mikroskopis yang
seksama terhadap kemungkinan perubahan keganasannya. Adanya asites
dalam hal ini mencurigakan. Massa kista ovarium berkembang setelah masa
menopause sehingga besar kemungkinan untuk berubah menjadi kanker
(maligna). Faktor inilah yang menyebabkan pemeriksaan pelvik menjadi
penting.

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Bilotta, 2012 :1) Tidak jarang tentang penegakkan diagnosis tidak
dapat diperoleh kepastian sebelum dilakukan operasi, akan tetapi pemeriksaan yang
cermat dan analisis yang tajam dari gejala-gejala yang ditemukan dapat
membantudalam pembuatan differensial diagnosis. Beberapa cara yang dapat
digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis yaitu,
1. Laparaskopi
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuahtumor berasal
dari ovarium atau tidak, serta untuk menentukan sifat-sifat tumor itu.
2. Ultrasonografi (USG)
Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor,apakah tumor
berasal dari uterus, ovarium, atau kandung kencing,apakah tumor kistik atau
solid, dan dapat pula dibedakan antara cairandalam rongga perut yang bebas
dan yang tidak.
3. Foto Rontgen
Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrotoraks.Selanjutnya,
pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat adanyagigi dalam tumor.
4. Parasintesis
10

Fungsi ascites berguna untuk menentukan sebab ascites. Perludiperhatikan


bahwa tindakan tersebut dapat mencemarkan kavum peritonei dengan isi kista bila
dinding kista tertusuk.

I. PENATALAKSANAAN
1. Observasi
Jika kista tidak menimbulkan gejala, maka cukup dimonitor (dipantau) selama
1 -2 bulan, karena kista fungsional akan menghilang dengan sendirinya setelah satu
atau dua siklus haid. Tindakan ini diambil jika tidak curiga ganas (kanker)
(Nugroho, 2010: 105).
2. Terapi bedah atau operasi
Bila tumor ovarium disertai gejala akut misalnya torsi, maka tindakan
operasi harus dilakukan pada waktu itu juga, bila tidak ada 22 gejala akut, tindakan
operasi harus dipersiapkan terlebih dahulu dengan seksama.
Kista berukuran besar dan menetap setelah berbulan-bulan biasanya
memerlukan operasi pengangkatan. Selain itu, wanita menopause yang memiliki
kista ovarium juga disarankan operasi pengangkatan untuk meminimalisir resiko
terjadinya kanker ovarium. Wanita usia 50-70 tahun memiliki resiko cukup besar
terkena kenker jenis ini. Bila hanya kistanya yang diangkat, maka operasi ini
disebut ovarian cystectomy. Bila pembedahan mengangkat seluruh ovarium
termasuk tuba fallopi, maka disebut salpingo oophorectomy.
Faktor-faktor yang menentukan tipe pembedahan, antara lain tergantung
pada usia pasien, keinginan pasien untuk memiliki anak, kondisi ovarium dan jenis
kista. Kista ovarium yang menyebabkan posisi batang ovarium terlilit (twisted) dan
menghentikan pasokan darah ke ovarium, memerlukan tindakan darurat
pembedahan (emergency surgery) untuk mengembalikan posisi ovarium menurut
Yatim, (2005: 23)

Prinsip pengobatan kista dengan pembedahan (operasi) menurut Yatim,


(2005: 23) yaitu:
11

a. Apabila kistanya kecil (misalnya, sebesar permen) dan pada pemeriksaan


sonogram tidak terlihat tanda-tanda proses keganasan, biasanya dokter
melakukan operasi dengan laparoskopi. Dengan cara ini, alat laparoskopi
dimasukkan ke dalam rongga panggul 23 dengan melakukan sayatan kecil pada
dinding perut, yaitu sayatan searah dengan garis rambut kemaluan.
b. Apabila kistanya besar, biasanya pengangkatan kista dilakukan dengan
laparatomi. Teknik ini dilakukan dengan pembiusan total. Dengan cara
laparotomi, kista bisa diperiksa apakah sudah mengalami proses keganasan
(kanker) atau tidak. Bila sudah dalam proses keganasan, operasi sekalian
mengangkat ovarium dan saluran tuba, jaringan lemak sekitar serta kelenjar
limfe.

J. DIAGNOSA
Herdman (2011), kemungkinan diagnosa yang muncul pada pasien dengan kista
ovarium adalah :
1. Pre Operasi
a. Nyeri akut b.d agen cedera biologi
b. Ansietas b.d perubahan status kesehatan
2. Post Operasi
a. Nyeri akut b.d agen cedera biologi
b. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan
c. Hambatan mobilisasi fisik b.d kelemahan fisik

K. RENACANA KEPERAWATAN
Pre Operasi

RENCANA KEPERAWATAN

DIANGOSA INTERVENSI
NO TUJUAN (NOC)
KEPERAWATAN (NIC)
12

1. Nyeri akut b.d agen Setelah dilakukan asuhan NIC :


cidera biologi keperawatan selama 3x24 jam
Pain Management
diharapkan nyeri pasien berkurang
a. Lakukan
NOC : pengkajian nyeri
a. Pain Level, secara
b. Pain control, komprehensif
c. Comfort level termasuk lokasi,
Kriteria Hasil : karakteristik,
durasi, frekuensi,
a. Mampu mengontrol nyeri
kualitas dan
(tahu penyebab nyeri, mampu
faktor presipitasi
menggunakan tehnik
b. Observasi reaksi
nonfarmakologi untuk
nonverbal dari
mengurangi nyeri, mencari
ketidaknyamanan
bantuan)
c. Gunakan teknik
b. Melaporkan bahwa nyeri
komunikasi
berkurang dengan
terapeutik untuk
menggunakan manajemen
mengetahui
nyeri
pengalaman
c. Mampu mengenali nyeri
nyeri pasien
(skala, intensitas, frekuensi
d. Kaji kultur yang
dan tanda nyeri)
mempengaruhi
d. Menyatakan rasa nyaman
respon nyeri
setelah nyeri berkurang
e. Evaluasi
e. Tanda vital dalam rentang
pengalaman
normal
nyeri masa
lampau
f. Evaluasi bersama
pasien dan tim
kesehatan lain
13

tentang
ketidakefektifan
kontrol nyeri
masa lampau
g. Bantu pasien dan
keluarga untuk
mencari dan
menemukan
dukungan
h. Kontrol
lingkungan yang
dapat
mempengaruhi
nyeri seperti suhu
ruangan,
pencahayaan dan
kebisingan
i. Kurangi faktor
presipitasi nyeri
j. Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologi,
non farmakologi
dan inter
personal)
k. Kaji tipe dan
sumber nyeri
untuk
menentukan
intervensi
14

l. Ajarkan tentang
teknik non
farmakologi
m. Berikan analgetik
untuk
mengurangi nyeri
n. Evaluasi
keefektifan
kontrol nyeri
o. Tingkatkan
istirahat
p. Kolaborasikan
dengan dokter
jika ada keluhan
dan tindakan
nyeri tidak
berhasil

Post Operasi

RENCANA KEPERAWATAN

DIANGOSA
NO TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC)
KEPERAWATAN

1. Nyeri akut b.d agen Setelah dilakukan asuhan NIC :


injuri fisik keperawatan selama 3x24
Pain Management
jam diharapkan nyeri pasien
berkurang a. Lakukan
pengkajian nyeri
NOC :
secara
15

a. Pain Level, komprehensif


b. Pain control, termasuk lokasi,
c. Comfort level karakteristik,
Kriteria Hasil : durasi, frekuensi,
a. Mampu mengontrol kualitas dan faktor
nyeri (tahu penyebab presipitasi
nyeri, mampu b. Observasi reaksi
menggunakan tehnik nonverbal dari
nonfarmakologi untuk ketidaknyamanan
mengurangi nyeri, c. Gunakan teknik
mencari bantuan) komunikasi
b. Melaporkan bahwa nyeri terapeutik untuk
berkurang dengan mengetahui
menggunakan pengalaman nyeri
manajemen nyeri pasien
c. Mampu mengenali nyeri d. Kaji kultur yang
(skala, intensitas, mempengaruhi
frekuensi dan tanda respon nyeri
nyeri) e. Evaluasi
d. Menyatakan rasa pengalaman nyeri
nyaman setelah nyeri masa lampau
berkurang f. Evaluasi bersama
e. Tanda vital dalam pasien dan tim
rentang normal kesehatan lain
tentang
ketidakefektifan
kontrol nyeri masa
lampau
g. Bantu pasien dan
keluarga untuk
16

mencari dan
menemukan
dukungan
h. Kontrol lingkungan
yang dapat
mempengaruhi
nyeri seperti suhu
ruangan,
pencahayaan dan
kebisingan
i. Kurangi faktor
presipitasi nyeri
j. Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologi, non
farmakologi dan
inter personal)
k. Kaji tipe dan
sumber nyeri untuk
menentukan
intervensi
l. Ajarkan tentang
teknik non
farmakologi
m. Berikan analgetik
untuk mengurangi
nyeri
n. Evaluasi
keefektifan kontrol
nyeri
17

o. Tingkatkan
istirahat
p. Kolaborasikan
dengan dokter jika
ada keluhan dan
tindakan nyeri tidak
berhasil
2. Resiko infeksi b.d Setelah dilakukan asuhan NIC :
penurunan keperawatan selama 3x 24
Infection Control
pertahanan primer jam diharapakan infeksi
(Kontrol infeksi)
terkontrol
a. Bersihkan
NOC : lingkungan setelah
a. Immune Status dipakai pasien lain
b. Knowledge : Infection b. Pertahankan teknik
control isolasi
c. Risk control c. Batasi pengunjung
Kriteria Hasil : bila perlu
a. Klien bebas dari tanda d. Instruksikan pada
dan gejala infeksi pengunjung untuk
b. Mendeskripsikan proses mencuci tangan
penularan penyakit, saat berkunjung
factor yang dan setelah
mempengaruhi berkunjung
penularan serta meninggalkan
penatalaksanaannya, pasien
c. Menunjukkan e. Gunakan sabun
kemampuan untuk antimikrobia untuk
mencegah timbulnya cuci tangan
infeksi f. Cuci tangan setiap
sebelum dan
18

d. Jumlah leukosit dalam sesudah tindakan


batas normal kperawtan
e. Menunjukkan perilaku g. Gunakan baju,
hidup sehat sarung tangan
sebagai alat
pelindung
h. Pertahankan
lingkungan aseptik
selama
pemasangan alat
i. Ganti letak IV
perifer dan line
central dan
dressing sesuai
dengan petunjuk
umum
j. Gunakan kateter
intermiten untuk
menurunkan
infeksi kandung
kencing
k. Tingktkan intake
nutrisi
l. Berikan terapi
antibiotik bila
perlu

Infection Protection
(proteksi terhadap
infeksi)
19

a. Monitor tanda dan


gejala infeksi
sistemik dan lokal
b. Monitor hitung
granulosit, WBC
c. Monitor
kerentanan
terhadap infeksi
d. Batasi pengunjung
e. Saring pengunjung
terhadap penyakit
menular
f. Partahankan teknik
aspesis pada pasien
yang beresiko
g. Pertahankan teknik
isolasi k/p
h. Berikan perawatan
kuliat pada area
epidema
i. Inspeksi kulit dan
membran mukosa
terhadap
kemerahan, panas,
drainase
j. Ispeksi kondisi
luka / insisi bedah
k. Dorong masukkan
nutrisi yang cukup
20

l. Dorong masukan
cairan
m. Dorong istirahat
n. Instruksikan pasien
untuk minum
antibiotik sesuai
resep
o. Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan
gejala infeksi
p. Ajarkan cara
menghindari
infeksi
q. Laporkan
kecurigaan infeksi
r. Laporkan kultur
positif
3. Hambatan Setelah Dilakukan NIC :
mobilisasi fisik Tindakan Keperawatan
Terapi latihan fisik :
berhubungan selama 3x24 jam
Mobilitas sendi
dengan kelemahan diharapkan hambatan
fisik mobilitas fisik dapat a. Monitoring vital

teratasi. sign
sebelm/sesudah
NOC : Mobilitas
latihan dan lihat
Kriteria Hasil : respon pasien saat
latihan
a. Klien meningkat dalam
b. Ajarkan pasien
aktivitas fisik
atau tenaga
b. Mengerti tujuan dari
kesehatan lain
peningkatan mobilitas
21

c. Memverbalisasikan tentang teknik


perasaan dalam ambulasi
meningkatkan kekuatan c. Kaji kemampuan
dan kemampuan pasien dalam
berpindah mobilisasi
d. Latih pasien
dalam pemenuhan
kebutuhan ADLs
secara mandiri
sesuai
kemampuan
e. Ajarkan pasien
Untuk
mengetahui
merubah posisi
dan berikan
bantuan jika
diperlukan.
BAB III

PENUTUP

Kista ovarium adalah kantong berisi cairan yang terbentuk di dalam


ovarium. Tiap wanita memiliki dua indung telur (ovarium), satu di bagian kanan
dan satu lagi di kiri rahim. Ovarium yang berukuran sebesar biji kenari ini
merupakan bagian dari sistem reproduksi wanita. Ada 2 tipe kista ovarium yaitu
kista ovarium normal dan kista ovarium abnormal.
Penyebabnya adalah adanya pertumbuhan sel yang tidak terkendali di
ovarium, misalnya pertumbuah abnormal dari folikel ovarium, korpus luteum, sel
telur. Tanda gejala kista ovarium adalah nyeri saat menstruasi, nyeri di perut bagian
bawah.
Komplikasi yang aka terjadi adalah Akibat aktivitas hormonal kista ovarium
tumor ovarium tidak mengubah pola haid kecuali jika tumor itu sendiri
mengeluarkan hormon. Diagnosa yang muncul adalah Nyeri akut b.d agen injuri
fisik. Intervensi yang harus dilakukan adalah Lakukan pengkajian nyeri secara
komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor
presipitasi
Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan, gunakan teknik
komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien, kaji kultur yang
mempengaruhi respon nyeri dll

22
DAFTAR PUSTAKA
Benson Ralp C dan Martin L. Pernoll. 2008. Buku Saku Obstetri dan Ginekologi.
Jakarta: EGC

Bilotta Kimberly. 2012. Kapita Selekta Penyakit dengan Implikasi Keperawatan.


Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Bobak, Lowdermilk, & Jensen. (2004). Buku Ajar Keperawatan Maternitas, alih
bahasa Maria A. Wijayarini, Peter I. Anugrah (Edisi 4). Jakarta: EGC.

Nugroho, Taufan. 2010. Kesehatan Wanita, Gender dan Permasalahannya.


Yogyakarta : Nuha Medika

Rohardjo. 2017. Tujuan Menurut Para Ahli. Tersedia:


http://meaningaccordingtoexperts.blogspot.co.id/2017/04/pengertian-dan-
tujuan-penelitian-ilmiah.html [17 Nov 2017]

Westra ,Pariata. 1981. Rumusan Masalah Menurut Para Ahli. Tersedia:


http://makalahbarataanpba.blogspot.co.id/2009/10/pengertian-rumusan-
masalah.html [17 Nov 2017].

Winkjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kandungan Ed.2. Jakarta: Yayasan Bina


Pustaka Sarwomo Prawirohardjo

Yatim, Faisal. 2005. Penyakit Kandungan, Myom, Kista, Indung Telur, Kanker
Rahim/Leher Rahim, serta Gangguan lainnya. Jakarta: Pustaka Populer
Obor

23

Anda mungkin juga menyukai