Anda di halaman 1dari 18

DISKUSI REFLEKSI KASUS (DRK)

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN FRAKTUR

Oleh:

Vinda Gressita Putri, Amd.Kep

HCU BEDAH

IRNA BEDAH RSUP DR. M. DJAMIL PADANG

PADANG, 2017
LEMBAR PERSETUJUAN

Diskusi Refleksi Kasus

Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Fraktur

Disetujui Oleh:

Ka. SPF Irna Bedah Karu HCU Bedah


RSUP Dr. M. Djamil Padang RSUP Dr. M. Djamil Padang

Ns. Yola Febrianti, S.Kep Ermayani, Amd.Kep


TINJAUAN TEORITIS

A. Definisi
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan
oleh rudapaksa (Mansjoer et al, 2000). Sedangkan menurut Linda Juall C. dalam
buku Nursing Care Plans and Dokumentation menyebutkan bahwa Fraktur adalah
rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan eksternal yang datang lebih
besar dari yang dapat diserap oleh tulang.
Patah Tulang Tertutup adalah patah tulang dimana tidak terdapat hubungan antara
fragmen tulang dengan dunia luar (Soedarman, 2000). Pendapat lain menyatakan
bahwa patah tulang tertutup adalah suatu fraktur yang bersih (karena kulit masih
utuh atau tidak robek) tanpa komplikasi (Handerson, M. A, 1992).

B. Etiologi
1. Kekerasan langsung
Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya kekerasan.
Fraktur demikian demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan garis patah
melintang atau miring.
2. Kekerasan tidak langsung
Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh dari
tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling
lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan.
3. Kekerasan akibat tarikan otot
Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi. Kekuatan dapat berupa
pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan
penarikan.

C. Patofisiologi
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk
menahan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang
dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan
rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. Setelah terjadi fraktur, periosteum dan
pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang
membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan
terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan
ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi
terjadinya respon inflamasi yang ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi plasma dan
leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari
proses penyembuhan tulang nantinya
Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur:
1. Faktor Ekstrinsik
Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung terhadap
besar, waktu, dan arah tekanan yang dapat menyebabkan fraktur.
2. Faktor Intrinsik
Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya tahan untuk
timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan, elastisitas, kelelahan,
dan kepadatan atau kekerasan tulang.

D. Klasifikasi Fraktur
Penampikan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang praktis , dibagi
menjadi beberapa kelompok, yaitu:
1. Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan).
a. Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen
tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih
utuh) tanpa komplikasi.
b. Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara
hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan
kulit.
2. Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur.
a. Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau
melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.
b. Fraktur Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang
tulang seperti:
1) Hair Line Fraktur (patah retidak rambut)
2) Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan
kompresi tulang spongiosa di bawahnya.
3) Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks
lainnya yang terjadi pada tulang panjang.
3. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubbungannya dengan mekanisme trauma.
a. Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan
merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.
b. Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap
sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasijuga.
c. Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang
disebabkan trauma rotasi.
d. Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang
mendorong tulang ke arah permukaan lain.
e. Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi
otot pada insersinya pada tulang.
4. Berdasarkan jumlah garis patah.
a. Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling
berhubungan.
b. Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak
berhubungan.
c. Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada
tulang yang sama.
5. Berdasarkan pergeseran fragmen tulang.
a. Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap tetapi kedua
fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh.
b. Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga
disebut lokasi fragmen, terbagi atas:
1) Dislokasi ad longitudinam cum contractionum pergeseran searah sumbu
dan overlapping).
2) Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).
3) Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh).
6. Berdasarkan posisi frakur
a. 1/3 proksimal
b. 1/3 medial
c. 1/3 distal
7. Fraktur Kelelahan: fraktur akibat tekanan yang berulang- ulang.
8. Fraktur Patologis: fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang.
Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan
jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:
a. Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa ceddera jaringan
lunak sekitarnya.
b. Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan
subkutan.
c. Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian
dalam dan pembengkakan.
d. Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata dan
ancaman sindroma kompartement.

E. Manifestasi Klinis
1. Deformitas
2. Bengkak/edema
3. Echimosis (Memar)
4. Spasme otot
5. Nyeri
6. Kurang/hilang sensasi
7. Krepitasi
8. Pergerakan abnormal
9. Rontgen abnormal

F. Komplikasi
1. Komplikasi Awal
a. Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi,
CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin
pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting,
perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan pembedahan.
b. Kompartement Syndrom
Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi karena
terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut.
Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang menekan otot, saraf, dan
pembuluh darah. Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips dan
embebatan yang terlalu kuat.
c. Fat Embolism Syndrom
Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering terjadi
pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-sel lemak yang
dihasilkan bone marrow kuning masuk ke aliran darah dan
menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang ditandai
dengan gangguan pernafasan, tachykardi, hypertensi, tachypnea, demam.
d. Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma
orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini
biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena
penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
e. Avaskuler Nekrosis
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau
terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan adanya
Volkman’s Ischemia.
f. Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya
permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini
biasanya terjadi pada fraktur.
2. Komplikasi Dalam Waktu Lama
a. Delayed Union
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan
waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karena
penurunan supai darah ke tulang.
b. Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkkonsolidasi dan memproduksi
sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan.
Nonunion ditandai dengan adanya pergerakan yang berlebih pada sisi
fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseudoarthrosis. Ini juga
disebabkan karena aliran darah yang kurang.
c. Malunion
Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya
tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion dilakukan
dengan pembedahan dan reimobilisasi yang baik.
TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian Keperawatan
1. Data Klinis
Nama Pasien : Ny. R
No. MR : 987357
Ibu Kandung : Ny. M
Umur : 52 Tahun
2. Alasan Masuk RS (Keluhan utama saat masuk RS)
Nyeri pada kaki kanan akibat kecelakaan lalu lintas sejak 5 jam sebelum masuk
rumah sakit
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pasien masuk ruangan RR Bedah dengan fraktur femur (d) 1/3 distal dan
fraktur tibia fibula (d). Pernafasan spontan, RR 18 x/i, Nadi 100 x/i, CRT < 2
detik, kesadaran compos mentis, ditemukan fraktur pada kaki kanan (femur,
tibia, fibula), fraktur dengan luka terbuka pada tibia, pasien mengeluh nyeri
pada kaki, skala nyeri 4 – 6 (sedang).
b. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien belum pernah mengalami trauma/kecelakaan sebelumnya. Pasien
belum pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya.
c. Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga mengatakan pasien tidak memiliki riwayat penyakit DM, Asma,
TBC, atau Hipertensi.
4. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum : Buruk
b. TTV: TD 120/60 mmHg, Nadi 100x/menit, Suhu 38,1oC, Pernafasan 18
x/menit
c. Kepala : Simetris.
d. Rambut : tidak ada kelainan
e. Mata : Simetris kanan kiri, pupil ishokor (3 mm/ 3 mm), reflek cahaya (+/+),
terdapat lebam pada kelopak mata kiri atas.
f. Hidung : tidak ada kelainan, perdarahan tidak ada
g. Telinga : simetris
h. Mulut : tidak ada kelainan
i. Gigi : tidak ada kelainan
j. Tenggorokan : tidak ada kelainan
k. Leher : tidak ada kelainan
l. Intergumen : ditemukan luka terbuka pada bagian tibia kanan, edema pada
luka dan tulang yang fraktur
m. Payudara : tidak ada kelainan
n. Thorax/paru : tidak ada kelainan, krepitasi tidak ada
o. Jantung : tidak ada kelainan
p. Abdomen : tidak ada kelainan
q. Genitalia : tidak ada kelainan, perdarahan tidak ada
r. Anus : tidak ada kelainan, perdarahan tidak ada
s. Muskuloskeletal : ditemukan fraktur pada femur (d), dan tibia fibula (d).
5. Pemeriksaan Diagnostik
a. Ronsen : fraktur femur (d) 1/3 distal + fraktur tibia fibula (d)
6. Analisis Masalah Keperawatan
Tabel Analisis Masalah Keperawatan
Penyebab/ Faktor Diagnosa
No. Masalah
Resiko Keperawatan
1 DS: Pasien mengeluh nyeri Spasme otot, gerakan Nyeri Akut
DO: fragmen tulang, edema,
P : Fraktur cedera jaringan lunak,
Q : sedang stress/ansietas
R : Kaki Kanan
S:4–5
T : terus menerus
2 DS: Pasien mengeluh sakit Kerusakan rangka Gangguan
saat menggerakkan kaki neuromuskuler, nyeri mobilitas fisik
DO:
- Fraktur pada kaki
kanan
- Nyeri (+)
3 DS: Pasien mengeluh kaki Ketidakadekuatan Risiko infeksi
terasa panas pertahanan primer
DO: (kerusakan kulit,
- Luka terbuka pada taruma jaringan lunak)
kaki kanan
- S 38,1oC

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan berdasarkan prioritas masalah yang ditemukan pada pasien
No Diagnosa Tujuan Intervensi
1. Nyeri akut b/d Klien mengataka 1. Pertahankan imobilasasi
spasme otot, nyeri berkurang bagian yang sakit dengan tirah
gerakan fragmen atau hilang dengan baring, gips, bebat dan atau
tulang, edema, menunjukkan tindakan traksi
cedera jaringan santai, mampu 2. Tinggikan posisi ekstremitas
lunak, berpartisipasi dalam yang terkena.
stress/ansietas beraktivitas, tidur, 3. Lakukan dan awasi latihan
istirahat dengan tepat, gerak pasif/aktif.
menunjukkan 4. Lakukan tindakan untuk
penggunaan meningkatkan kenyamanan
keterampilan relaksasi (masase, perubahan posisi)
dan aktivitas trapeutik 5. Ajarkan penggunaan teknik
sesuai indikasi untuk manajemen nyeri (latihan
situasi individual napas dalam, imajinasi visual,
aktivitas dipersional)
6. Lakukan kompres dingin
selama fase akut (24-48 jam
pertama) sesuai keperluan.
7. Kolaborasi pemberian
analgetik sesuai indikasi.
2. Gangguan Klien dapat 1. Pertahankan pelaksanaan
mobilitas fisik meningkatkan/mempe aktivitas rekreasi terapeutik
b/d kerusakan rtahankan mobilitas (radio, koran, kunjungan
rangka pada tingkat paling teman/keluarga) sesuai
neuromuskuler, tinggi yang mungkin keadaan klien.
nyeri dapat 2. Bantu latihan rentang
mempertahankan gerak pasif aktif pada
posisi fungsional ekstremitas yang sakit
meningkatkan maupun yang sehat sesuai
kekuatan/fungsi yang keadaan klien.
sakit dan 3. Berikan papan penyangga kaki,
mengkompensasi gulungan trokanter/tangan
bagian tubuh sesuai indikasi.
menunjukkan tekhnik 4. Bantu dan dorong
yang memampukan perawatan diri
melakukan aktivitas (kebersihan/eliminasi) sesuai
keadaan klien.
5. Ubah posisi secara
periodik sesuai keadaan klien.
6. Dorong/pertahankan
asupan cairan 2000-3000
ml/hari.
7. Berikan diet TKTP.
8. Kolaborasi
pelaksanaan fisioterapi sesuai
indikasi.
9. Evaluasi kemampuan
mobilisasi klien dan program
imobilisasi.
3. Risiko infeksi Klien mencapai 1. Lakukan perawatan pen steril
b/d penyembuhan luka dan perawatan luka sesuai
ketidakadekuatan sesuai waktu, bebas protokol
pertahanan drainase purulen atau 2. Ajarkan klien untuk
primer eritema dan demam mempertahankan sterilitas
(kerusakan kulit, insersi pen.
taruma jaringan 3. Kolaborasi pemberian
lunak) antibiotika dan toksoid tetanus
sesuai indikasi.
4. Analisa hasil pemeriksaan
laboratorium (Hitung
darah lengkap, LED,
Kultur dan sensitivitas
luka/serum/tulang)
5. Observasi tanda-tanda vital
dan tanda-tanda peradangan
lokal pada luka.

C. Implementasi dan Catatan Perkembangan


Hari/ Tgl Implementasi Keperawatan Evaluasi
Rabu/ 1. Pertahankan imobilasasi S: pasien masih mengeluh nyeri
16/08/2017 bagian yang sakit dengan pada kaki
tirah baring, gips, bebat dan O:
atau traksi P: fraktur pada kaki kanan
2. Tinggikan posisi Q: sedang
ekstremitas yang terkena. R: kaki kanan
3. Lakukan tindakan untuk S: 5
meningkatkan kenyamanan T: terus menerus
(masase, perubahan posisi) A: Masalah belum teratasi
4. Ajarkan penggunaan teknik P: Intervensi dilanjutkan
manajemen nyeri (latihan
napas dalam, imajinasi
visual, aktivitas
dipersional)
5. Lakukan kompres dingin
selama fase akut (24-48 jam
pertama) sesuai keperluan.
6. Kolaborasi pemberian
analgetik sesuai indikasi.
1. Bantu latihan rentang S: pasien mengatakan masih terasa
gerak pasif aktif pada nyeri saat menggerakkan kaki
ekstremitas yang sakit O:
maupun yang sehat sesuai - Nyeri saat pergerakan (+)
keadaan klien. - Pasien masih kesulitan saat
2. Berikan papan penyangga menggerakkan kaki
kaki, gulungan A: Masalah belum teratasi
trokanter/tangan sesuai P: Intervensi dilanjutkan
indikasi.
3. Bantu dan dorong
perawatan diri
(kebersihan/eliminasi)
sesuai keadaan klien.
4. Ubah posisi secara
periodik sesuai keadaan
klien.
5. Dorong/pertahankan
asupan cairan 2000-3000
ml/hari.
6. Evaluasi kemampuan
mobilisasi klien dan
program imobilisasi.
1. Lakukan perawatan pen S: pasien mengeluh terasa panas
steril dan perawatan luka pada kaki kanan
sesuai protokol O:
2. Kolaborasi pemberian - Luka terbuka pada tibia
antibiotika dan toksoid - S : 38oC
tetanus sesuai indikasi. - Edema pada luka
3. Observasi tanda-tanda A: Masalah belum teratasi
vital dan tanda-tanda P : Intervensi dilanjutkan
peradangan lokal pada luka.
Kamis/ 1. Pertahankan imobilasasi S: pasien mengatakan nyeri pada
17/08/2017 bagian yang sakit dengan kaki mulai berkurang
tirah baring, gips, bebat dan O:
atau traksi P: post debridement pada kaki
2. Tinggikan posisi kanan
ekstremitas yang terkena. Q: sedang
3. Lakukan tindakan untuk R: kaki kanan
meningkatkan kenyamanan S: 4
(masase, perubahan posisi) T: terus menerus
4. Ajarkan penggunaan teknik A: Masalah belum teratasi
manajemen nyeri (latihan P: Intervensi dilanjutkan
napas dalam, imajinasi
visual, aktivitas
dipersional)
5. Lakukan kompres dingin
selama fase akut (24-48 jam
pertama) sesuai keperluan.
6. Kolaborasi pemberian
analgetik sesuai indikasi.
1. Bantu latihan rentang S: pasien mengatakan masih terasa
gerak pasif aktif pada nyeri saat menggerakkan kaki
ekstremitas yang sakit O:
maupun yang sehat sesuai - Nyeri saat pergerakan (+)
keadaan klien. - Pasien masih kesulitan saat
2. Berikan papan penyangga menggerakkan kaki
kaki, gulungan A: Masalah belum teratasi
trokanter/tangan sesuai P: Intervensi dilanjutkan
indikasi.
3. Bantu dan dorong
perawatan diri
(kebersihan/eliminasi)
sesuai keadaan klien.
4. Ubah posisi secara
periodik sesuai keadaan
klien.
5. Dorong/pertahankan
asupan cairan 2000-3000
ml/hari.
6. Evaluasi kemampuan
mobilisasi klien dan
program imobilisasi.
1. Lakukan perawatan pen S: pasien mengeluh demam
steril dan perawatan luka O:
sesuai protokol - Luka post debridemen
2. Kolaborasi pemberian - S : 37,9oC
antibiotika dan toksoid A: Masalah belum teratasi
tetanus sesuai indikasi. P : Intervensi dilanjutkan
3. Observasi tanda-tanda
vital dan tanda-tanda
peradangan lokal pada luka.
Jumat/ 1. Pertahankan imobilasasi S: pasien mengatakan masih terasa
18/08/2017 bagian yang sakit dengan nyeri pada kaki saat digerakkan
tirah baring, gips, bebat dan O:
atau traksi P: fraktur pada kaki kanan
2. Tinggikan posisi Q: sedang
ekstremitas yang terkena. R: kaki kanan
3. Lakukan tindakan untuk S: 4
meningkatkan kenyamanan T: terus menerus
(masase, perubahan posisi) A: Masalah belum teratasi
4. Ajarkan penggunaan teknik P: Intervensi dilanjutkan
manajemen nyeri (latihan
napas dalam, imajinasi
visual, aktivitas
dipersional)
5. Lakukan kompres dingin
selama fase akut (24-48 jam
pertama) sesuai keperluan.
6. Kolaborasi pemberian
analgetik sesuai indikasi.
1. Bantu latihan rentang S: pasien mengatakan belum bisa
gerak pasif aktif pada menggerakkan kaki
ekstremitas yang sakit O:
maupun yang sehat sesuai - Nyeri saat pergerakan (+)
keadaan klien. - Pasien masih kesulitan saat
2. Berikan papan penyangga menggerakkan kaki
kaki, gulungan A: Masalah belum teratasi
trokanter/tangan sesuai P: Intervensi dilanjutkan
indikasi.
3. Bantu dan dorong
perawatan diri
(kebersihan/eliminasi)
sesuai keadaan klien.
4. Ubah posisi secara
periodik sesuai keadaan
klien.
5. Dorong/pertahankan
asupan cairan 2000-3000
ml/hari.
6. Evaluasi kemampuan
mobilisasi klien dan
program imobilisasi.
1. Lakukan perawatan pen S: pasien masih mengeluh demam
steril dan perawatan luka O:
sesuai protokol - Luka post debridemen
2. Kolaborasi pemberian - S : 38oC
antibiotika dan toksoid A: Masalah belum teratasi
tetanus sesuai indikasi. P : Intervensi dilanjutkan
3. Observasi tanda-tanda
vital dan tanda-tanda
peradangan lokal pada luka.
DAFTAR PUSTAKA

Donges Marilynn, E. (1993). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta. EGC

Price Sylvia, A (1994), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jilid 2 . Edisi 4.
Jakarta. EGC

Smeltzer Suzanne, C (1997). Buku Ajar Medikal Bedah, Brunner & Suddart. Edisi 8. Vol 3.
Jakarta. EGC

Tucker,Susan Martin (1993). Standar Perawatan Pasien, Edisi V, Vol 3. Jakarta. EGC