Anda di halaman 1dari 10

CORPORATE GOVERNANCE

“STRUKTUR KEPEMILIKAN”

NAMA KELOMPOK :

NI PUTU SWANDEWI 1607532113 / 25


I GUSTI AYU AGUSTIA ARINI 1607532125 / 26
NI NYOMAN PARAMITHA 1607532126 / 27

REGULER DENPASAR

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2019
Organisasi dan Lingkungan
Good governance dalam organisasi merupakan kebutuhan mendesak bagi pucuk
pimpinan organisasi. Kebijakan good governance sebagai instrumen dasar dalam
merancang pedoman good governance dalam organisasi harus memiliki perspektif yang
luas, sehingga bisa menjadi pedoman yang dapat diandalkan. Sebagaimana kita ketahui,
dewan komisaris dan dewan direksi yang bertanggungjawab atas pengelolaan sumber
daya organisasi dalam rangka tercapainya tujuan organisasi sesuai dengan prinsip
corporate governance. Berdasarkan literatur manajemen, pemimpin yang menentukan
berhasil atau tidaknya suatu organisasi. Hal ini konsisten dengan konsep good
governance dimana pemain kunci penegakkan “good governance” dalam suatu
organisasi. Dalam konteks manajemen modern sistem governance memerlukan
perhatian yang besar selaras dengan semakin komplek sitasnya organisasi dan tuntutan
dari para stakeholders.
Meskipun prinsip-prinsip manajemen dan governance mempunyai kaitan yang
erat, akan tetapi governance memiliki ruang lingkup yang lebih luas daripada sekedar
manajemen dari sekumpulan manajer dan para bawahannya. Rahasia dari sistim modern
governance adalah kebijakan governance yang tepat sesuai dengan kondisi dan budaya
organisasi. Kebijakan governance harus merupakan suatu model yang lengkap yang
mencakup semua struktur dan instrument governance. Dengan kata lain, kebijakan
governance memiliki dimensi saling melengkapi antara konsep dan prinsip yang secara
internal konsisten dalam menghadapi berbagai kemungkinan situasi organisasi.
Sebagaimana kita ketahui, good governance ini merupakan suatu pengetahuan yang
baru bagi kebanyakan para eksekutif di Indonesia, maka diperlukan pemahaman yang
menyeluruh atas prinsip-prinsip yang mendasari kebijakan governance tersebut.

Struktur Kepemilikan Korporasi (Struktur Terkosentrasi dan Struktur Tersebar)

Struktur kepemilikan suatu perusahaan menunjuk kepada konfigurasi saham


yangdimiliki oleh investor, baik individual maupun institusional, baik yang berada
dalam maupundi luar organisasi perusahaan. struktur kepemilikan sangat tergantung
bagaimana perusahaanmemenuhi kebutuhan pendanaannya. Pendanaan internal dengan
penjualan saham atau lalui laba di tahan, sedangkan pendanaan eksternal dilakukan
melalui jasa intermediasiseperti bank.Struktur kepemilikan merupakan elemen dasar
dalam corporate governance suatu perusahaan Wicaksono (2000), seperti
yang dikutip oleh Cynthia (2003), menjelaskan bahwakeberhasilan penerapan corporate
governance tidak terlepas dari struktur kepemilikan perusahaan. Struktur kepemilkan
tercermin baik melalui instrument saham maupun instrumenhutang sehingga melalui
struktur tersebut dapat ditelaah kemungkinan bentuk masalahkeagenan yang akan
terjadi. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam strukturkepemilikan, antara
lain:

1. Kepemilikan sebagian kecil saham perusahaan oleh manajemen mempengaruhi


kecenderungan untuk memaksimalkan nilai pemegang saham dibanding sekedar
mencapaitujuan perusahaan semata.
2. Kepemilikan yang terkonsentrasi memberi insentif kepada pemegang saham
mayoritasuntuk berpartisipasi secara aktif dalam perusahaan.
3. Identitas pemilik menentukan prioritas tujuan sosial perusahaan dan
maksimalisasi
nilai pemegang saham, misalnya perusahaan milik pemerintah cenderung untuk
mengikutitujuan politik dibanding tujuan perusahaan.

Struktur Kepemilikan Terkonsentrasi adalah kepemilikan saham mayoritas sebuah


perusahaan oleh pengendali tunggal (individu/negara/perusahaan), keluarga atau
sekelompok kecil pemegang saham. Dengan kata lain beberapa orang (atau pemegang
saham) saja dapat mempengaruhi keputusan sebuah perusahaan. Dalam ownership
concentration kata kuncinya "mayoritas" dan "tunggal/kecil". Mayoritas disini bisa 30%
bisa 50%, intinya pemegang saham yang sedikit (individu/keluarga/negara/perusahaan)
ini dapat memenangkan jumlah voting saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
(diatas 50%). Contoh: Perusahaan Sido Muncul (SIDO), kepemilikannya oleh PT Hotel
Candi Baru sebesar 81% sedangkan 19% dimiliki publik, dimana PT Hotel Candi Baru
tersebut 100% dimiliki oleh keluarga Hidayat yang merupakan pendiri SIDO. Jadi dapat
disimpulkan perusahaan SIDO ini termasuk jenis struktur kepemilikan terkonsentrasi.
Struktur Kepemilikan Tersebar (dispersed ownership) adalah kebalikan dari
concentrated ownership, kata kuncinya "minoritas" dan "banyak". Jadi dalam Struktur
Kepemilikan Tersebar terdapat banyak pemegang saham dengan proporsi yang
minoritas (tidak ada pemilik mayoritas atau bahasa akademisnya block holders).
Contoh: Bakrie Development Tbk (ELTY) dengan kepemilikan publik 88%, Asuransi
Jiwa Sinarmas 5% dan Interventure Capital 7%. Jadi dapat disimpulkan saham ELTY
memiliki struktur kepemilikan tersebar.

Governance: Pemisahan dan Mekanisme Pengendalian

Konsep perusahaan (modern) muncul pada saat perusahaan tersebut dimiliki oleh
banyak pihak. Kebutuhan modal usaha dan pengembangan bisnis menjadi satu alasan
mengapa kepemilikan perusahaan dibuka kepada banyak pihak. Awalnya pemilik
perusahaan (owner) masih merangkap juga sebagai manajer perusahaan yang
menjalankan operasional perusahaan sehari-hari. Namun seiring dengan berkembangnya
kepemilikan pada banyak pihak (diverse ownership), maka para pemilik perusahaan
(shareholders) harus menyerahkan pengendalian perusahaan (control) kepada pihak
lain, dalam hal ini management yang akan menjalankan operasional perusahaan sehari-
hari. Inilah awal konsep “separation of ownership and control” yaitu pemisahan antara
kepemilikan (ownership) dan pengendalian (control). Pemisahan ini kemudian dikenal
dengan teori keagenan (agency theory) dimana terdapat pihak principal (shareholders)
yang mendelegasikan kewenangan untuk mengelola perusahaan kepada agent
(manajemen) dan untuk bertindak mewakili kepentingan principal.
Adanya pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian ini juga menimbulkan
permasalahan yang dikenal sebagai “agency problem”, yaitu adanya perbedaan
kepentingan antara pemilik dan manajemen. Pemilik mengharapkan perusahaannya bisa
tumbuh dalam jangka panjang, sedangkan manajemen dalam menjalankan tugasnya
lebih berorientasi kepada jangka pendek, sesuai dengan kontrak masa kerjanya, dan
penyalahgunaan wewenang untuk kepentingan pribadi yang dibebankan kepada
perusahaan. Secara teoritis, agency theory and agency problem merupakan cikal bakal
tumbuhnya ilmu corporate governance. Secara sederhana corporate governance bisa
diartikan bagaimana mekanisme perusahaan dikelola dan dijalankan serta mempelajari
hubungan antara berbagai pihak yang terkait dengan perusahaan. Dari sinilah muncul
berbagai macam pengaturan terhadap perusahaan yang dikenal sebagai “good corporate
governance” untuk melindungi kepentingan shareholders dan stakeholders.

Struktur Kepemlikan dan Mekanisme Pengendalian


Sebuah studi oleh Claessens dan Fan mengungkapkan fakta dari kepemilikan
perusahaan-perusahaan di Asia. Perusahaan di Amerika dan Eropa umumnya dimiliki
oleh berbagai pihak secara diffusely, sementara perusahaan di Asia umumnya dimiliki
oleh keluarga. Pada 1998 dalam council meeting oleh, Organisation for Economic
Cooperation and Development (OECD) menyusun kerangka dasar tata kelola
perusahaan yang baik. Prinsip dasar tata kelola yang disusun OECD adalah ensuring
the basis for an effective corporate governance framework (memastikan dasar kerangka
tata kelola perusahaan yang efektif), rights of shareholders and key ownership
functions (hak pemegang saham dan fungsi kepemilikan), equitable treatment for
shareholders (perlakuan yang sama untuk pemegang saham), role of stakeholders in
corporate governance (peran pihak terkait dalam tata kelola perusahaan), disclosure
and transparency (pengungkapan dan transparansi), serta responsibilities of
the board (tanggung jawab dewan).
Terkait kepemilikan mereka di perusahaan, pemegang saham mayoritas dan
minoritas haruslah diperlakukan seimbang. Masing-masing pemegang saham berhak
untuk mengakses informasi perusahaan, masing-masing pemegang saham berhak untuk
mempertahankan kepemilikan mereka (menghindari dilution, dan hak-hak lain yang
diakui lewat prinsip tata kelola maupun undang-undang. Untuk menghindari
ekspropriasi (tindakan yang merugikan) oleh pemegang saham mayoritas, pemegang
saham minoritas harus dilindungi haknya. Bentuk perlindungan ini misalnya adanya
komisaris independen yang merepresentasikan pemegang saham minoritas. Terkait
dengan perlakuan seimbang ini, anggota dewan (komisaris dan direksi) diharapkan
melakukan pengungkapan yang sesuai terkait tindakan akan perusahaan,
misalnya related party. OECD Principle V mengatur tentang pengungkapan dan
transparansi yang perlu dicapai perusahaan terkait dengan tata kelola yang baik.
Menurut prinsip tersebut, beberapa pengungkapan yang menjadi basis minimal untuk
dilaporkan adalah kinerja finansial dan operasional perusahaan, tujuan
perusahaan,kepemilikan saham mayoritas, kebijakan remunerasi untuk eksekutif
perusahaan, transaksi antar pihak berelasi, faktor risiko yang harus diantisipasi, isu
terkait karyawan dan stakeholders lainnya, serta struktur dan kebijakan tata kelola
perusahaan. Sebagai bentuk transparansi perusahaan, perusahaan harus diaudit oleh
pihak yang independen dan kompeten.
Masalah Dalam Model Manajerial

Model manajerial ditandai dengan terpisahnya pengelolaan perusahaan dari


kepemilikan. Dengan pemisahan tersebut, masalah yang segera muncul adalah tidak
sepahamnya kepentingan pemilik dan pengelola. Semakin modernnya system korporasi,
yang salah satunya ditandai dengan makin besarnya skala usaha perusahaan, pola
pembiayaan pun makin kompleks. Seiring dengan makin berkembangnya pasar
finansial, pemilik perusahaan pun makin anonim. Dalam kasus perusahaan
yang menjual kepemilikan di bursa saham, para pemegang saham menjadi tidak saling
mengenal satu sama lain. Dalam kasus perusahaan memiliki pemegang saham yang
manjemuk,masalah keagenan (agency problem) akan muncul bukan saja antara pemilik
modal dan pengelola, melainkan juga antara pemegang saham mayoritas dan
pemegangsaham minoritas.
Dapat dikatakan ketegangan antara pemegang saham dan pengelola perusahaan
sebagai masalah keagenan tipe I, sedangkan ketegangan antara pemegang saham
mayoritas dan pemegang sahamminoritas sebagai masalah keagenan tipe II. Dalam
kasus perusahaan di berbagai Negara di kawasan Asia, sebagai manaterjadi pula di
Negara berkembang lain, masalahnya tidak lagi terletak pada masalah keagenan tipe
pertama, melainkan tipe kedua. Selain itu, tipe kepemilikan di tangan keluarga dan
Negara akan menimbulkan berbagai penyimpangan kebijakan yang berlawanan dengan
standar etis serta moral (moral hazard). Ada beberapa cara atau mekanisme untuk
menekan masalah keagenan,seperti:
1) Sistem penggajian (remuneration system)
2) Sistem pengawasan
3) Sistem pengawasan eksternal (pasar)
4) Pasar eksekutif
5) Konsentrasi kepemilikan.

Struktur Kepemilikan di Negara Maju

Menurut Sycip di kebanyakan negara industri maju seperti Inggris, Amerika,


Australia, Jerman, dan Perancis mayoritas perusahaan besar dan menengah berstatus
perusahaan publik. Sebagian besar pemegang saham perusahaan-publik adalah
masyarakat. Separuh dari penduduk usia dewasa di Australia misalnya, memiliki saham-
saham perusahaan publik.

Di negara industri maju, pasar modal menjadi sumber utama pendanaan operasi
jangka menengah perusahaan. Sebagai contoh sekitar 70-80% saham perusahaan-
perusahaan besar di Amerika dimiliki pemegang saham institusional. Investor orang
perorangan menanamkan dananya melalui investor institusional seperti dana pensiun,
mutual funds atau perusahaam reksa dana. Oleh karena itu di negara-negara tersebut
para pemegang saham mengumandangkan suara yang lantang agar perusahaan-
perusahaan publik menerapkan prinsip-prinsip good corporate governance secara
konsekuen, termasuk melakukan evaluasi kinerja Board of Directors secara periodik.
Tujuan menyarankan perusahaan menerapkan prinsip-prinsip good corporate
governance tersebut adalah untuk melindungi hak dan kepentingan para pemegang
saham.

Struktur Kepemilikan di Asia

Sebuah studi oleh Claessens dan Fan mengungkapkan fakta menarik dari
kepemilikan perusahaan-perusahaan di Asia. Perusahaan di Amerika dan Eropa
umumnya dimiliki oleh berbagai pihak secara diffusely, sementara perusahaan di Asia
umumnya dimiliki oleh keluarga. Misal, Toyota Motor Corporation yang secara turun
temurun dimiliki oleh keluarga Toyota. Tidak hanya itu, keluarga umumnya juga
memiliki grup perusahaan yang terdiri dari beberapa perusahaan, baik listed maupun
tidak. Di kawasan Asia, pada umumnya pemisahan antara kepemilikan dan
kepengelolaan perusahaan tidak terlalu berkembang. Bisnis lebih bersifat kekeluargaan
sehingga kelompok-kelompok usaha besar yang berkembang selalu dikendalikan oleh
anggota keluarga dari hubungan darah atau hubungan perkawinan. Hal tersebut sangat
terasa dalam sistem Keiretsu di Jepang, Chebol di Korea, dan Konglomerasi di
Indonesia. Dalam sistem Anglo-Saxon, pemisahan antara pemilik dan pengelola
perusahaan umumnya cukup tegas. Pemilik modal menyerahkan sepenuhnya
pengelolaan perusahaan kepada para professional. Hal tersebut bisa terjadi karena
adanya dukungan sistem pasar modal yang kuat sehingga kepemilikan perusahaan bisa
dijualbelikan dengan baik. Dalam hal ini, kepemilikan perusahaan bisa saja terjadi
secara anonim lewat pembelian kepemilikan perusahaan lewat mekanisme pasa modal.
Umumnya, para pemilik modal ini memiliki suara dalam Rapat Umum Pemegang
Saham. Para pemilik modal dikelompokkan dalam pemilik modal besar (blockholder)
atau pemilik modal kecil (ritel). Pemilik modal besar memiliki hak suara cukup besar
serta posisi lemah dalam menyuarakan kepentingan. Bahkan, banyak diantara mereka
yang merasa tidak memiliki insentif untuk menyuarakan kepentingan. Namun, dalam
perusahaan dikenal sistem “komisaris independen” yang bertugas melindungi
kepentingan pemegang saham minoritas. Di Korea, Singapura, Taiwan, dan Hongkong,
kontrol keluarga terhadap perusahaan begitu tinggi. Kontrol para pemilik perusahaan
dilakukan melalui struktur piramida dan kepemilikan silang diantara beberapa
perusahaan. Model ini nampaknya sangat umum terjadi di semua negara di kawasan
Asia Tenggara. Jadi pada dasarnya, pemisahan antara pemilik dan pengelola sangat
jarang terjadi di kawasan tersebut. Ditambah lagi, pemisahan antara kontrol dan
manajerial juga jarang terjadi karena para pemilik menguasai hak suara dengan model
kepemilikan silang yang dipertahankan untuk mempertahankan posisi suara.

Struktur Kepemilikan di Indonesia

Perusahaan di Indonesia pada umumnya dimiliki oleh keluarga. keluarga


umumnya juga memiliki grup perusahaan yang terdiri dari beberapa perusahaan, baik
listed maupun tidak. Misalnya, grup Salim Indonesia yang memiliki perusahaan di
antaranya Indofood Sukses Makmur dan Indomobil, atau grup Bakrie yang memiliki
bisnis di bidang sumber daya (Bumi Plc, PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk), media
(PT Visi Media Asia Tbk), telekomunikasi (PT Bakrie Telecom Tbk), dan lain-lain.
Country assessment yang dilakukan oleh ROSC menemukan bahwa terdapat lima
kategori kepemilikan yang umum dijumpai di Indonesia, yakni kepemilikan oleh
keluarga sesuai studi Claessens dan Fan secara grup, kepemilikan oleh negara (BUMN),
bank, kepemilikan asing, dan kepemilikan secara independen bukan bagian dari grup.
Contoh Perusahaan dengan Kepemilikan Sesuai Kategori ROSC. Pemilik perusahaan
yang merupakan keluarga ini mencapai kontrol yang efektif terhadap perusahaan yang
mereka miliki adalah dengan kepemilikian struktur piramida dan kepemilikan silang.
Dengan struktur demikian, perusahaan mendapatkan voting rights yang lebih tinggi
dibanding cash flow rights-nya. Voting rights adalah hak perusahaan (atau pemilik
perusahaan) untuk mempengaruhi keputusan anak perusahaannya, yakni dengan
memilih (vote) eksekutif yang menjalankan perusahaan. Sementara cash flow rights
adalah hak perusahaan (atau pemilik perusahaan) terhadap keuntungan yang diperoleh
anak perusahaannya.

Tipikal perusahaan keluarga di Indonesia (dan juga di negara lain, meski tidak
mendominasi) adalah kepemilikan keluarga besar. Sesuatu yang normal untuk
menjumpai grup perusahaan keluarga yang berada dalam bisnis yang bervariasi dan
eksekutif perusahaan (komisaris dan direksi) dipegang oleh anggota keluarga tersebut,
mengingat eksekutif perusahaan dipilih oleh pemegang saham (yang adalah keluarga)
lewat RUPS.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.scribd.com/document/361905262/Sap-5-Kelompok-4-Struktur-
Kepemilikan (Diakses tanggal 11 Februari 2019)

https://www.coursehero.com/file/29131729/PAPER-SAP-5-STRUKTUR-
KEPEMILIKANdocx/

Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Siswanto Sutojo, E. John Aldridge. 2008.


Good Corporate Governance Tata Kelola Perusahaan Yang Sehat. Jakarta: PT Damar
Mulia Pustaka.

https://dwiermayanti.wordpress.com/category/sistem-pengendalian-manajemen/

https://www.kompasiana.com/bobyhernawan/552fef086ea834b36b8b45cd/corporate-
governance-dua-makna-konsep-separation-of-ownership-and-control.

https://www.academia.edu/5434174/PENGARUH_CORPORATE_GOVERNANCE
_DAN_STRUKTUR_KEPEMILIKAN_TERHADAP_KINERJA_PERUSAHAAN.

http://diklat.jogjaprov.go.id/v2/kegiatan/artikel/item/87-pemecahan-masalah-dan-
pengambilan-keputusan.

http://setabasri01.blogspot.com/2010/12/pengambilan-keputusan.html