Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.LATAR BELAKANG
Colelitiasi adalah pembentukan batu empedu yang biasanya terbentuk dalam
kandungan empedu dari unsur-unsur padat yang membentuk cairan empedu ( Brunner
& Sunder 2001). Batu empedu merupakan endapan satu atau lebih komponen empedu
kolesterol,bilirubin,garam empedu,kalium,protein,asam lemak dan fosfolip (Price &
Wilson,2005).
Cholelithiasis merupakan adanya atau pembentukan batu empedu, batu ini
mungkin terdapat dalam kandung empedu (cholecystolithiasis) atau dalam ductus
choledochus (choledocholithiasis). Kolelitiasis (kalkuli/ kalkulus, batu empedu)
merupakan suatu keadaan dimana terdapatnya batu empedu di dalam kandung empedu
(vesica fellea) yang memiliki ukuran,bentuk dan komposisi yang bervariasi. Kolelitiasis
lebih sering dijumpai pada individu berusia diatas 40 tahun terutama pada wanita
dikarenakan memiliki faktor resiko,yaitu: obesitas, usia lanjut, diet tinggi lemak dan
genetik.
Melihat komplikasi yang ditimbulkan baik oleh penyakit maupun
penatalaksanaan colelitiasis, penulis tertarik untuk membahas asuhan keperawatan pada
pasien pre dan post operasi colelitiasis. Dengan memahami asuhan keperawatan pada
pasien colelitiasis, penulis berharap dapat mendapat wawasan baru sebagai upaya
meningkatkan mutu pelayanan pada pasien.

1.2.TUJUAN
Setalah dilakukan persentasi diharapakan perawat:
1.2.1. Mengetahui definisi colelitiasis
1.2.2. Mengetahui etiologi colelitiasis
1.2.3. Mengetahui patifisiologi colelitiasis
1.2.4. Mengetahui klasifikasi colelitiasis
1.2.5. Mengetahui penatalaksanaan colelitiasis
1.2.6. Mengetahui Asuhan Keperawatan pada colelitiasis

1
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Definisi Hisprung

Cholelithiasis merupakan adanya atau pembentukan batu empedu, batu ini mungkin
terdapat dalam kandung empedu (cholecystolithiasis) atau dalam ductus
choledochus (choledocholithiasis). Kolelitiasis (kalkuli/ kalkulus, batu empedu)
merupakan suatu keadaan dimana terdapatnya batu empedu di dalam kandung empedu
(vesica fellea) yang memiliki ukuran,bentuk dan komposisi yang bervariasi. Kolelitiasis
lebih sering dijumpai pada individu berusia diatas 40 tahun terutama pada wanita
dikarenakan memiliki faktor resiko,yaitu: obesitas, usia lanjut, diet tinggi lemak dan
genetik.

2.2 Etiologi Colelitiasis


Colelitiasis dapat terjadi dengan atau tanpa faktor resiko dibawah ini. Namun, semakin
banyak faktor resiko yang dimiliki seseorang, semakin besar kemungkinan untuk
terjadinya kolelitiasis. Faktor resiko tersebut antara lain:
 Jenis kelamin
Wanita mempunyai resiko 3 kali lipat untuk terkena kolelitiasis dibandingkan
dengan pria. Ini dikarenakan oleh hormon esterogen berpengaruh terhadap
peningkatan eskresi kolesterol oleh kandung empedu. Kehamilan, yang menigkatkan
kadar esterogen juga meningkatkan resiko terkena kolelitiasis. Penggunaan pil
kontrasepsi dan terapi hormon (esterogen) dapat meningkatkan kolesterol dalam
kandung empedu dan penurunan aktivitas pengosongan kandung empedu.

 Usia
Resiko untuk terkena kolelitiasis meningkat sejalan dengan bertambahnya
usia. Orang dengan usia > 60 tahun lebih cenderung untuk terkena kolelitiasis
dibandingkan dengan orang degan usia yang lebih muda.

 Berat badan
Orang dengan body mass index (bmi) tinggi, mempunyai resiko lebih tinggi
untuk terjadi kolelitiasis. Ini karenakan dengan tingginya bmi maka kadar kolesterol
dalam kandung empedu pun tinggi, dan juga mengurasi garam empedu serta
mengurangi kontraksi/ pengosongan kandung empedu.

2
 Makanan
Intake rendah klorida, kehilangan berat badan yang cepat (seperti setelah
operasi gatrointestinal) mengakibatkan gangguan terhadap unsur kimia dari empedu
dan dapat menyebabkan penurunan kontraksi kandung empedu.

 Riwayat keluarga
Orang dengan riwayat keluarga kolelitiasis mempunyai resiko lebih besar
dibandingkan dengan tanpa riwayat keluarga.

 Aktivitas fisik
Kurangnya aktifitas fisik berhungan dengan peningkatan resiko terjadinya
kolelitiasis. Ini mungkin disebabkan oleh kandung empedu lebih sedikit berkontraksi.

2.3 Klasifikasi Hisprung

3 Menurut gambaran makroskopis dan komposisi kimianya, batu empedu di golongkan atas
3 (tiga) golongan, yaitu:

3.1 Komplikasi Hisprung

Secara garis besarnya, komplikasi pasca tindakan bedah penyakit Hirschsprung


dapat digolongkan atas kebocoran anastomose, stenosis, enterokolitis dan gangguan
fungsi spinkter (Irwan, 2003).

1. Kebocoran anastomose

Kebocoran anastomose pasca operasi dapat disebabkan oleh ketegangan yang


berlebihan pada garis anastomose, vaskularisasi yang tidak adekuat pada kedua tepi
sayatan ujung usus, infeksi dan abses sekitar anastomose serta trauma colok dubur atau
businasi pasca operasi yang dikerjakan terlalu dini dan tidak hati-hati. Manifestasi klinis
yang terjadi akibat kebocoran anastomose ini beragam, mulai dari abses rongga pelvik,
abses intraabdominal, peritonitis, sepsis dan kematian (Irwan, 2003).

2. Stenosis

Stenosis yang terjadi pasca operasi tarik terobos dapat disebabkan oleh gangguan
penyembuhan luka di daerah anastomose, serta prosedur bedah yang dipergunakan.
Stenosis sirkuler biasanya disebabkan komplikasi prosedur Swenson atau Rehbein,
stenosis posterior berbentuk oval akibat prosedur Duhamel sedangkan bila stenosis

3
memanjang biasanya akibat prosedur Soave. Manifestasi yang terjadi dapat berupa
kecipirit, distensi abdomen, enterokolitis hingga fistula perianal (Irwan, 2003).

3. Enterokolitis

Enterokolitis merupakan komplikasi yang paling berbahaya, dan dapat berakibat


kematian. Swenson mencatat angka 16,4% dan kematian akibat enterokolitis mencapai
1,2%. Kartono mendapatkan angka 14,5% dan 18,5% masing-masing untuk prosedur
Duhamel modifikasi dan Swenson. Sedangkan angka kematiannya adalah 3,1% untuk
prosedur Swenson dan 4,8% untuk prosedur Duhamel modifikasi. Tindakan yang dapat
dilakukan pada penderita dengan tanda-tanda enterokolitis adalah segera melakukan
resusitasi cairan dan elektrolit, pemasangan pipa rektal untuk dekompresi, melakukan
wash out dengan cairan fisiologis 2-3 kali perhari serta pemberian antibiotika yang tepat
(Irwan, 2003).

3.2 Manifestasi Hisprung


a. Temuan klinis bervariasi sesuai usia pada saat diagnosis
- Pada bayi baru lahir ; kegagalan mengeluarkan mekanium, malas minum, distensi
abdomen, dan emesis yang mengandung empedu
- Pada bayi ; gagal tumbuh, konstipasi, distensi abdomen, muntah, dan diare
episodic
- Pada anak-anak yang lebih besar ; anoreksia, konstipasi kronis, feses berbau
busuk dan berbentuk pita, distensi abdomen, peristaltis yang terlihat, massa feses
dapat dipalpasi, malnutrisi, tanda-tanda anemia, dan hipoproteinemia
b. Pada pemeriksaan rectum biasanya ditemukan rectum kosong dari feses, sfingter ani
kencang, dan kebocoran feses
c. Tanda-tanda yang memburuk yang menandakan enterokolitis ; diare hebat dan tiba-
tiba, diare bercampur darah, demam, dan kelelahan yang parah.

3.3 Penatalaksanaan Hisprung

Pra Bedah

 Tingkatkan hidrasi dan nutrisi sesuai dengan usia anak dan kebutuhan anak.
Berikan nutrisi parenteral dengan jumlah kalori :
BB normal : umur bayi(bulan)/2 + 4

4
Berikan rehidrasi cairan :
BB : 0-10 Kg=100 ml/KgBB/hari.
 Berikan obat-obatan jenis antibiotic sistemik untuk mengurangi flora intestinal dan
pelunak feses diberikan untuk mengatasi konstipasi.
 Dilatasi anus secara manual, penatalaksanaan diet, dan pembersihan dengan enema Nacl
hangat sampai anak mampu mentoleransi pembedahan.

Tindakan Pembedahan

Pembedahan untuk mengankat segmen aganglionik yang tidak berfungsi dilanjutkan dengan
anastomosis terdiri dari 3 tahap yaitu :

1. Kolostomi sementara yang dilakukan sebelum pembedahan definitif untuk


mengistirahatkan usus dan meningkatkan BB anak.
2. Reanastomosis yang dilakukan 3-6 bulan setelah dilakukan kolostomi. Teknik yang
dilakukan ada 2 jenis yaitu :
 Teknik Pullthrough
Teknik ini dilakukan dengan penarikan abdominoperineal ke bagian anus sehingga
bagian aganglionik pada kolon diselubungi dengan kolon yang sehat. Teknik ini
meninggalkan stam . Teknik yang termasuk ke dalam jenis ini adalah metode
Duhamel, Soave, dan Rehbein.
 Teknik Stappler
Teknik ini dilakukan dengan memotong bagian kolon aganglionik untuk kemudian
disambung dengan kolon yang sehat. Teknik ini tidak meninggalkan stam.
3. Penutupan kolostomi sekitar 3 bulan setelah dilakukan tindakan pembedahan.

Pasca Bedah

 Tetap mempuasakan anak selama periode pasca operasi awal.


 Memantau asupan dan hauran cairan, termasuk drainage selang nasogastrik.
 Menjauhkan popok anak dari pakaian untuk mencegah kontaminasi.
 Memberikan perawatan ostomi sesuai yang diindikasikan. Hal ini mencakup persiapan
kulit, penggunaan alat pengumpul feses, perawatan alat-alat, pengendalian bau, dan
memantau masalah-masalah seperti feses berbentuk pita, diare berlebihan, perdarahan,
prolapos, dan kegagalan mengeluarkan feses atau flaktus

5
2.7 Patofisiologi Hisprung

kebocoran

stenosis
Hisprung anastemose
enterokolitis
gerakan
cairan dan absorsi air in intake nutrisi in peristaltik
elektrolit penurunan adekuat/tidak adekuat tidak teratur
menurun intake cairan normal
nutrisi ke tidak dapat mendorong
perfusi ginjal otak kurang makanan yg diterima
cairan tidak resiko ketidak
seimbang menurun nekrosis
seimbangan obstruksi
cairan oligutia jaringan penyumbatan kolon
anuria distal
ketidak volume cairan hipoksia
penimbunan
seimbangan menurun fungsi konstipasi
kesadaran feses
asam basa glumerulus
syok menurun menurun gangguan gangguan
hipovelemik gastrontestinal obstruksi kolon eliminasi
resiko asidosis fungsi tubukus
penurunan proksimal BAB
metabolik proksimal resiko
kesadaran menurun resiko cidera cidera mual,munta
cemas
perfusi jaringan h, kembung intervensi
resiko bradikardi gangguan serebral pembedahan
gangguan eliminasi
pola nafas kompensasi urin anoreksia kerusakan
jantung
jar.pasca
operasi
takikardi perubahan nutrisi
kurang dari resiko
keburuhan nyeri infeksi
gangguan
jaringan perifer

6
2.8 Asuhan Keperawatan
a Pengkajian Keperawatan
1. Identitas pasien
Penyakit ini ditemukan sebagian besar pada bayi cukup bulan dan merupakan
kelainan tunggal. Jarang pada bayi premature atau dengan kelainan lainnya. Pada
segmen aganglionisis dari anus sampai sigmoid lebih sering ditemukan pada anak
laki-laki dari pada anak perempuan. Sedangkan kelaianan melebihi sigmoid bagkan
seluruh kolon sampai usus halus ditemukan sama banyak antara anak laki-laki dan
anak perempuan (Ngastiyah,1997).
2. Riwayat pasien
a. Keluhan utama
Masalah yang dirasa mengganggu pasien pada saat pengkajian pada pasien
hisprung biasanya ada keluhan distensi, sulit BAB, kembung, muntah, obtipasi
merupakan tanda pasti pada bayi baru lahir. Perut kembung dan muntah
bewarna hijau, gejala lain adalah muntah dan diare.
b. Riwayat sekarang
Tanyakan kepada keluaraga atau orang tua sudah berapa lama merasakan
gejala seperti yang dirasakan dan tanyakan pada pasien upaya apa yang sudah
dilakukan kepada pasien. Bayi sering merasakan konstipasi, muntah dan
dehidrasi. Gejala ringan berupa konstipasi selama beberapa minggu yang
diikuti dengan obstruksi usus akut. Namun ada juga konstipasi ringan,
enterokolitis dengan diare, distensi abdomen dan demam. Diare berbau busuk
juga bisa terjadi
c. Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit yang pernah diderita pasien dan riwayat imunisasi pada
pasien
d. Riwayat penyakit keluarga
Tanyakan pada keluarga atau orang tua adakah riwayat penyakit Hisprung di
keluarga walaupun hisprung bukan penyakit keturunan.
e. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan
Ada/tidaknya riwayat perkembangan dan pertumbuhan kurang baik sejak lahir
f. Riwayat nutrisi
Pemenuhan nutri ibu pada saat hamil dan ASI Eksklusif

7
3. Pemeriksaan Fisik
a. Sistem kardiovaskuler
Ada tidaknya kelaianan akibat hisprung atau bawaan kelainan yang lain.
b. Sistem Pernafasan
Sesak nafas distres pernafasan akibat distensi abdomen
c. Sistem Penglihatan
Adanya konjungtivitis, anemis, ikterik
d. Sitem Pendengaran
Fungsi pendengaran dan ada tidaknya serum di telinga pasien
e. Sistem pencernaan
Umunya obstipasi, muntah, distensi abdomen, pada anak yang tumbuh besar
terdapat diare kronik, pada colok anus jari akan merasakan jepitan dan pada
waktu ditarik akan diikuti keluarnya udara dan mekonium atau feses.
f. Sistem muskuloskeletal
Kekuatan otot pada bayi atau anak, gangguan nyaman yang tampak pada anak
g. Sistem Integumen
Turgor kulit pada anak, crp< 3 detik
4. Pemeriksaan diagnostik
 Foto polos abdomen tegak akan terlihat usus-usus melebar atau terdapat
gambaran obstruksi usus rendah
 Pemeriksaan dengan barium enema ditemukan derah transisi gambaran
kontraksi usus yang tidak teratur di bagian menyempit, enterokolitis pada
segmen yang melebar dan terdapat retensi barium selama 24-48 jam
 Biopsi isap mencari sel ganglion pada daerah submokosa
 Biopsi otot rektum yaitu pengambilan lapisan rektum
 Pemeriksaan aktivitas enzim esetilkolin esterase dimana terdapat peningkatan
aktivitas enzim asetilkolin esterase
b Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan Eliminasi : BAB b.d. konstipasi
2. Gangguan jaringan perifer b.d intake cairan yang berkurang
3. Gangguan eliminasi: BAK b.d absorbsi cairan yang kurang
4. Kurangnya kebutuhan nutrisi b.d gerakan peristaltik yang tidak teratur
5. Cemas b.d intervensi pembedahan yang akan dilakukan

8
6. Nyeri b.d terputusya kontinuitas jaringan
7. Resiko gangguan pola nafas b.d.cairan dan elektrolit yang kurang
8. Resiko cidera perfusi jaringan serebral b.d intake nutrisi yang kurang
9. Resiko cidera b.d. penurunan kesadaran
10. Resiko infeksi b.d kerusakan jaringan pasca operasi

c Perencanaan Keperawatan

NO DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL

1. Risiko konstipasi Tujuan : pola BAB 1. Observasi bising usus 1. Untuk menyusun
berhubungan dengan normal dan periksa adanya rencana penanganan
penyempitan kolon, distensi abdomen yang efektif dalam
sekunder, obstruksi Kriteria hasil : pasien. Pantau dan mencegah
mekanik pasien tidak catat frekuensi dan konstipasi dan
mengalami karakteristik feses. impaksi fekal
konstipasi,pasien
mempertahankan
defekasi setiap hari
2. Catat asupan haluaran 2. Untuk meyakinkan
secara akurat terapi penggantian
cairan yang
adekuat.
3. Dorong pasien untuk 3. Untuk
mengonsumsi cairan meningkatkan terapi
2,5 L setiap hari, bila penggantian cairan
tidak ada dan hidrasi
kontraindikasikan
4. Untuk membantu
4. Lakukan program adaptasi terhadap
defekasi. Letakkan fungsi fisiologis
pasien di atas pispot normal
atau commode pada
saat tertentu setiap
hari, sedekat mungkin
kewaktu biasa defekasi
(bila diketahui)

5. Berikan laksatif, 5. Untuk


enema atau supositoria meningkatkan
sesuai instruksi. eliminasi feses

9
padat atau gas dari
saluran pencernaan,
pantai
keefektifannya.

2. Risiko Tujuan : kebutuhan 1. Timbang berat 1. Untuk membantu


ketidakseimbangan cairan terpenuhi, badan pasien setiap mendeteksi
volume cairan tubuh hari sebelum perubahan
berhubungan dengan Kriteria hasil : turgor sarapan keseimbangan
keluar cairan tubuh kulit elastic dan cairan
dari muntah, normal, CRT < 3 2. Ukur asupan
ketidakmampuan detik cairan dan haluaran 2. Penurunan asupan
absorbs air oleh urine untuk atau peningkatan
intestinal mendapatkan haluaran
status cairan mengakibatkan
deficit cairan
3. Pantau berat jenis
urin 3. Peningkatan berat
jenis urin
mengindikasikan
dehidrasi. Berat
jenis urin rendah
mengindikasikan
kelebihan volume
cairan.
4. Periksa membrane
4. Membrane mukosa
mukosa mulut
kering merupakan
setiap hari
suatu indikasi
dehidrasi.

5. Tentukan cairan 5. Untuk


apa yang disukai meningkatkan
pasien dan simpan asupan.
cairan tersebut
disamping tempat
tidur pasien, sesuai
instruksi.
6. Perubahan nilai
6. Pantau kadar elektrolit dapat
elektrolit serum menandakan awitan
ketidak seimbangan
cairan

10
3. Risiko injuri Tujuan : Dalam 1. Observasi faktor- 1. Pascabedah terdapat
berhubungan dengan waktu 2x24jam faktor yang resiko rekuren dari
pasca prosedur bedah, pascaintervensi meningkatkan resiko hernia umbilikalis
iskemia, nekrosis reseksi kolon pasien injuri akibat peningkatan
dinding intestinal tidak mengalami tekanan intra
sekunder dari kondisi injuri abdomen
obtruksi usus
Kriteria hasil : TTV 2. Monitor tanda dan 2. Perawat yang
dalam batas gejala perforasi atau mengantisipasi resiko
normal,(RR : 16-24 peritoniti terjadinya perforasi
x/menit,Suhu : atau peritonitis.
36oC-37oC,N : 60- Tanda gejala yang
100 x/menit, TD : penting adalah anak
120/70 mmHg), rewel tiba-tiba dan
Kardiorespirasi tidak bisa dibujuk
optimal, Tidak atau diam oleh
terjadi infeksi pada orangtua atau
insisi perawat, muntah-
muntah, peningkatan
suhu tubuh dan
hilangnya bising
usus. Adanya
pengeluaran pada
anus yang berupa
cairan feses yang
bercampur darah
merupakan tanda
klinik penting bahwa
telah terjadi
perforasi.semua
perubahan yang
terjadi
didokumentasikan
oleh perawat dan
laporkan pada dokter
yang merawat.
3. Lakukan pemasangan 3. Tujuan memasang
selang nasogastrik selang nasogastrik
adalah intervensi
dekompresi akibat
respon dilatasi dan
kolon obstruksi dari
kolon aganglionik.

11
Apabila tindakan
dekompresiini
optimal, maka akan
menurunkan distensi
abdominal yang
menjadi penyebab
utama nyeri
abdominal pada
pasien hirschsprung.

4. Monitor adanya 4. Perawat memonitor


komplikasi pascabedah adanya komplikasi
pascabedah seperti
mencret atau
ikontinensia fekal,
kebocoran
anastomosis,formasi
striktur, obstruksi
usus, dan
enterokolitis. Secara
kondisi
5. Pertahankan status
hemodinamik yang 5. Pasien akan
optimal mendapatkan cairan
intravena sebagai
pemeliharaan status
hemodinamik

6. Pasien dibantu turun


6. Bantu ambulasi dini
dari tempat tidur pada
hari pertama
pascaoperatif dan
didorong untuk mulai
berpartisipasi dalam
ambulasi dini.
7. Hadirkan orang
7. Pada anak
terdekat
menghadirkan orang
terdekat dapat
menpengaruhi
penurunan respon
nyeri. Sedangkan
pada dewasa
merupakan tambahan
dukungan psikologis

12
dalam menghadapi
masalah kondisi nyeri
baik akibat dari kolik
abnomen atau nyeri
pascabedah.

8. Antibiotik
8. Kolaborasi pemberian menurunkan resiko
antibiotik pascabedah infeksi yang akan
menimbulkan reaksi
inflamasi lokal dan
dapat memperlama
proses penyembuhan
pascafunduplikasi
lambung

4. Risiko infeksi Tujuan : suhu dalam 1. Minimalkan risiko


berhubungan dengan keadaan normal (36- infeksi pasien dengan :
pasca prosedur 37o C) 1.a. mencuci tangan
pembedahan. a) Mencuci tangan adalah satu-satunya
kriteria hasil : suhu sebelum dan cara terbaik untuk
dalam rentang setelah mencegah penularan
normal, tidak ada memberikan pathogen.
pathogen yang perawatan
terlihat dalam kultur, 1.b. sarung tangan
luka dan insisi b) menggunakan dapat melindungi
terlihat bersih, merah sarung tangan tangan pada saat
muda, dan bebas dari untuk memegang luka yang
drainase purulen. mempertahankan dibalut atau melakukan
asepsis pada saat berbagai tindakan.
memberikan
perawatan langsung

2. Observasi suhu 2. Suhu yang terus


minimal setiap 4 meningkat setelah
jamdan catat pada pembedahan dapat
kertas grafik. Laporkan merupakan tanda
evaluasi kerja. awitan komplikasi
pulmonal, infeksi luka
atau dehisens

13
BAB III

TINJAUAN KASUS

3.1 PENGKAJIAN

3.1.1 RIWAYAT PASIEN

Pasien atas nama An. M. Tristan (6 hari) datang ke RSIA Hermina paster tanggal
29/3/15 dengan keluhan os demam semenjak tanggal 28/13/15 dimana keluhan
disertai perut tampak membesar, minum mau, muntah tidak, BAB kuning
kehijaun. Riwayat lahir dari ibu P1A0 lahir spontan dengan presentasi kepala,
langsung menangis¸ketuban jernih¸BBL 3,1 kg. Pasien tidak memiliki riwayat alergi
dan tidak memiliki riwayat penyakit lainnya ataupun kelainan lainnya.

3.1.2 PENGKAJIAN FISIK

 Keadaan umum pasien sedang, kesadaran compos mentis, hasil TTV yang
didapat nadi: 144x/menit,respirasi 36x/menit, suhu: 39.2o celcius.

 Sistem susunan syaraf pusat : gerak bayi aktif, ubun-ubun datar, kejang tidak
ada, refleks moro, tangis bayi kuat.

 Sistem penglihatan: posisi mata simetris, besar pupil iskhor, kelopak mata,
konjungtiva,dan sklera tidak ada kelainan

 Sistem pendengaran: tidak ada kelainan

 Sistem penciuman : tidak ada kelainan

 Sistem kardiovaskuler : warna kulit kemerahan, denyut nadi yeratur, sirklulasi


akral hangat pulsasi kuat tidak ada kelainan

 Sistem pernafasan tidak ada kelainan

 Sistem pencernaan: abdomen tampak asites, Lp: 35.5, BAB bewarna hitam
kehijauan

 Sistem integumen: lanugo tipis, warna kulit iterik. Turgor baik, kulit normal

14
3.1.3 Status Psikologis

Pada saat dilakukan pengkajian pasien terlihat tenang dan terdapat cemas pada
saat dijlelaskan tentang persiapan operasi Orang Tua pasien baanyak bertanya.

3.1.4 DATA PENUNJANG

3.1.4.1 Laboratorium

 Tanggal 29/03/15

Pemeriksaan Hasil Nilai normal

Hematologi
Hematologi rutin
Hemaglobin 18.7 15.0-24.6 q/dl
Hematokrit 51.3 50.0-82.0 %
Lekosit 9000 5000-21000 /ul
Trombosit 327000 150000-40000 /ul
Golongan darah A
Rh faktor +
Kimia klinik
Natrium 156.70 136.00-146.00 mmol/L
Kalium 4.06 3.50-5.00 mmol/L
Chlorida 122.50 98.00-106.00 mmol/L
Ureum 162.00 10.00-50.00 mg/dl
Kreatinin 1.03 0.0-0.9 mg/dl
Kalsium Total 10.23 8.60-10.30 mg/dl
Imunologi
CRP Negatif <6 mg/L
Fungsi hati
Bilirubin Total 13.51 <12 mg/dl
Bilirubin Direk 1.41 <1.2 mg/dl
Karbohidrat
GDS 110.0 50.0-80.0 mg/dl

 Pemeriksaan laboratorium tanggal 31/03/15

Pemeriksaan Hasil Nilai normal

Feces
Darah samar Negatif Negatif

15
 Pemeriksaan Laboratorium tanggal 13/04/2015

Pemeriksaan Hasil Nilai normal

Kimia klinik
Ureum 22.00 10.00-50.00 mg/dl
Kreatinin 0.52 0.0-0.9 mg/dl

 Pemeriksaan Laboratorium tanggal 15/04/15

Pemeriksaan Hasil Nilai normal

Hematologi
Hematologi rutin
Hemaglobin 18.7 12.7-18.7 q/dl
Hematokrit 48.6 42.0-62.0 %
Lekosit 23700 6000-17500 /ul
Trombosit 376000 150000-40000 /ul

Imunologi
CRP (+) 130 <6 mg/L

 Pemeriksaan Laboratorium 16/04/15

Pemeriksaan Hasil Nilai normal

Hemotasis
Masa Pendarahan 1 <3 menit
Masa Pembekuan 3 5.00-19.00 menit
Kimia klinik
Natrium 142.00 136.00-146.00 mmol/L
Kalium 2.92 3.50-5.00 mmol/L
Chlorida 81.80 98.00-106.00 mmol/L
Ureum 24.00 10.00-50.00 mg/dl
Kreatinin 0.46 0.0-0.9 mg/dl
Kalsium Total 6.86 8.60-10.30 mg/dl
Fungsi hati
Protein Total 2.59 4.60-8.30
Albumin 2.33 3.80-5.40
Karbohidrat
GDS 70 70.0-140.0

16
 Pemeriksaan Laboratorium 16/04/2015

Pemeriksaan Hasil Nilai normal

Hemotasis
Masa protombim (PT) 11.7 10.0-15.0 detik
APTT 29.40 27.00-42.00 detik

 Hasil laboratorium tanggal 17/04/15

Pemeriksaan Hasil Nilai normal


Kimia klinik
Natrium 139.00 136.00-146.00 mmol/L
Kalium 5.00 3.50-5.00 mmol/L
Kalsium Total 10.35 8.60-10.30 mg/dl
Fungsi hati
Protein total 6.34 4.60-8.30 g/d
Albumin 4.44 3.80-5.40 g/dl

 Hasil laboratorium tanggal 17/04/2015 (Post Op)

Pemeriksaan Hasil Nilai normal

Hematologi
Hematologi rutin
Hemaglobin 17.5 10.3-17.9 q/dl
Hematokrit 45.9 31.0-54.0 %
Lekosit 14880 6000-17500 /ul
Trombosit 113000 150000-40000 /ul
Kimia klinik
Natrium 134.70 136.00-146.00 mmol/L
Kalium 4.71 3.50-5.00 mmol/L
Imunologi
CRP (+) 92 <6 mg/L

17
 Hasil laboratorium tanggal 20/04/2015

Pemeriksaan Hasil Nilai normal

Hematologi
Hematologi rutin
Hemaglobin 12.9 10.3-17.9 q/dl
Hematokrit 35.0 31.0-54.0 %
Lekosit 20190 6000-17500 /ul
Trombosit 95000 150000-40000 /ul
Kimia klinik
Natrium 138.40 136.00-146.00 mmol/L
Kalium 5.69 3.50-5.00 mmol/L
Ureum 25.00 10.00-50.00 mg/dl
Kreatinin 0.40 0.0-0.9 mg/dl
Imunologi
CRP (+) 81 <6 mg/L

 Hasil laboratoriu tanggal 20/04/2015

Pemeriksaan Hasil Nilai normal

Hematologi
Hematologi rutin
Hemaglobin 14.7 9.0-16.6 q/dl
Hematokrit 39.7 30.0-54.0 %
Lekosit 15770 6000-17500 /ul
Trombosit 488000 150000-40000 /ul
Imunologi
CRP (+) 11 <6 mg/L

3.1.4.2 Foto abdomen

 Hasil foto abdomen 2 posisi, kesan: radiologis mengarah


NECROTIZING ENTERO COLITIS (Tanggal 29/03/15)

 Hasil foto abdomen 2 posisi, kesan: radiologis mengarah


NECROTIZING ENTERO COLITIS ( Tanggal 30/03/2015)

 Hasil foto abdomen 2 posisi, kesan: tidak tampak lagi tanda-tanda


NEC, Meteorismus ( tanggal 31/03/2015)

18
 Hasil foto abdomen 3 posisi, kesan: distribusi udara dalam kolom yang
berlebihan samapi daerah rongga panggul, ileus paralitik?

 Hasil foto abdomen 3 posisi kesan:suspek ileus paralitik, belum tampak


perbaikan

 Hasil Waters soluble, hasil:

o klinis: suspect hirscsprung’s disease

o Foto water soluble contrast enema:Daerah rectosigmoid


terdapat spasme dengan dilatasi colon descenden,
flexura lienalis, dan colon tranversum di proksimalnya
secara abrupt. Pada beberap moment tampak sebagian
colon sigmoid proksimal dilatasi, yang disebabkan oleh
karena bayi mengedan, tidak terdapat tanda-tanda NEC
atau ekstravarsi kontras.

o RO: tampak penyakit Hirschprung’s dengan segmen


hipoganglionik di rectosigmoid dan zona transisi di
perbatasan colon sigmoid dan colon descenden tipe
abrupt. Tidak terdapat tanda-tanda NEC atau
ekstravasasi kontras.

3.2 Analisa data

Data Etiologi Masalah

Megakolon Resiko keseimbangan


cairan berhubungan
Memudahkan bakteri yg berkembang dengan diare ditandai
DO : Natrium : 156.70
dengan hasil pemeriksaan
Chlorida: 122.50
Mengeluarkan mediator inflamasi darah yang tidak dalam
Ureum: 162.00
(sitokinin) batas normal
DS : -

Gangguan sekresi air dan elektrolit

Diare

19
Dehidrasi

Gangguan ketidakseimbangan nutrisi


Distensi abdomen Gangguan
ketidakseimbangan nutrisi
Mengenai reseptor mual, muntah kurang dari kebutuhan
b.d. anorexia ditandai
Disampaikan ke hipotalamus dengan muntah, perut
DO: pasien riwayat
membesar terdapat residu
muntah hijau, terdpat
Refluks lambung bewarna kuning
residu bewarna kuning
LP: 35.5cm
Mual, muntah
DS: -

Anorexia

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari


kebutuhan

DO: Foto water Idiopatik Gangguan eliminasi,


soluble contrast konstipasi berhubungan

enema:Daerah Neuroblast gagal berpoliperasi dengan akumulasi

rectosigmoid terdapat makanan pada kolon

spasme dengan Terhentinya migrasi sel ganglion (obstruksi usus) ditandai

dilatasi colon meisner dan auerbach dengan distensi abdomen.

descenden, flexura
lienalis, dan colon Aganglion pada dinding submukosa

tranversum di kolon distal

proksimalnya secara
Hilangnya pengaturan neurologis
abrupt
DS: ot mengatakan BAB
Aperistaltik
ada tapi tidak banyak
hanya cepirit dan perut
Sfingter rektum gagal relaksasi
membesar.

20
Akumulasi makanan (obstruksi usus)

Konstipasi

Gangguan eliminasi

Megakolon Ansietas berhubungan


DO : ibu klien slalu dengan kurangnya
menanyakan keadaan Indikasi pembedahan pengetahuan tentang
anaknya dan prosedur tindakan operasi
menayakan perosedur Anxietas
tindakan operasi
Kurangnya pengetahuan tentang proses
penyakit dan pengobatannya
DS:- Megacolon Resiko cidera posisi
Do: operatif berhubungan
 terpasang alat Tindakan operatif dengan kebutuhan posisi
elektromedik pembedahan dak
 Pasien terpengaruh Pembiusan, terpasang elektromedik kehilangan sesnsori
efek anastesi sekunder akibat anastesi
umum. Cidera posisi operatif
 Posisi pasien
terlentang
DS: Tindakan operatif Resiko pola nafas tidak
Do: efektif berhubungan efek
 Keadaan umum: Pembiusan sekunder anastesi
sedang
 Kesadaran: Fungsi tubuh melemah termasuk
Composmentis pernafasn
 Tanda tanda vital:
Nadi;140x/menit Pernafasan tidak maksimal
Respirasi:
60x/menit Pola nafas pasien tidak efektif

21
Suhu:36.6C
 SpO2: 98%
 Terpasng
Nasacanule
Ds: Prosedur pembedahan Infeksi luka operasi
Do: berhubungan dengan
 Tanda-tanda vital: masuknya
Suhu:37.3 Terputusnya kontinui-tas jaringan mikroorganisme sekunder
Nadi:116x/menit akibat insisi pembedahan
RR: 50-60x/menit
Mikroorganisme masuk kedalam luka
 Tanda infeksi luka
operasi
operasi
 CRP: +91
Tanda-tanda infeksi
 Terdapat luka
opersi dan
Infeksi pada luka operasi
colostomy

3.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Gangguan Eliminasi BAB b. d konstipasi ditandai dengan adanya distensi abdomen

2. Gangguan ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d. anorexia ditandai


dengan muntah, perut membesar terdapat residu bewarna kuning

3. Resiko keseimbangan cairan berhubungan dengan diare ditandai dengan hasil


pemeriksaan darah yang menurun.

4. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang prosedur tindakan


operasi

5. Resiko cidera posisi operatif berhubungan dengan kebutuhan posisi pembedahan dak
kehilangan sesnsori sekunder akibat anastesi

6. Resiko pola nafas tidak efektif berhubungan efek sekunder anastesi

22
7. Infeksi luka operasi berhubungan dengan masuknya mikroorganisme sekunder akibat
insisi pembedahan

3.4 Perencanaan Keperawatan

Tanggal perencanaan Tanggal


No Diagnosa diitegakkan Teratasi
Dx Keperawatan & Nama & Nama
Perawat Tujuan Kriteria Hasil Rencana Tindakan Perawat
1 PRE OPERASI Ganguan pola - Anak sudah 1. Kaji pola
Ganguan pola eleminasi BAB dapat BAB eliminasi BAB
eliminasi BAB teratasi setelah - Sudah BAB sejak 2. Observasi
berhubungan dialakukan lahir frekuensi,
dengan konstipasi tindakan asuhan - Konsistensi konsistensi,
ditandai dengan keperatawan BAB lembek dan
distensi abdoment selama 7 x 24 jam - Pola eliminasi karakteristik
defekasi sesuai BAB
kebutuhan, 3. Observasi
ketepatan peristalktik
jumlah dan usus
konsistensi 4. Berikan diit
- Irigasi rektal rendah serat
tetap bersih dan tidak
- Peristaltik merangsang
normal 5. Kolaborasi
dengan dokter
untuk
pemberian
Terapi
6. Berikan penkes
pada OT
tanda-tanda
anak diare
7.kolaborasi
dengan dokter
untuk
melakukan wash
out
8. Libatkan
keluarga dalam
proses
perawatan
anaknya
2 Ketidakseimbangan Ketidakseimbangan - Tanda-tanda 1. Timbang berat
nutrisi b.d.
Anorexia nutrisi teratasi vital dalam anak
ditandai dengan setelah dilakukan batas normal 2. Berikan terapi

23
muntah, perut tindakan - OT mengatakan nutrisi dalam
membesar keperawatan anak mau makan program
terdapat residu selama 7x24 jam - Pembesaran pengobatan
bewarna kuning abdomen tidak 3. Pertahankan
ada puasa sesuai
- Residu tidak ada indikasi
4. Berikan nutrisi
parenteral
5. Berikan penkes
pada OT
perubahan
nutrisi pre
operasi
3 Resiko Ketidakseimbangan - OT mengatakan 1. Ukur intake
keseimbangan cairan teratasi reflek hisap dan output
cairan berhubungan setelah dilakukan bayi setiap hari
dengan diare tindakan - Mual muntah 2. Ukur tanda-
ditandai dengan keperawatan tidak ada tanda vital
hasil pemeriksaan selama 7x24 jam - Diare tidak ada 3. Kolaborasi
darah yang - Hasil untuk hasil
menurun laboratorium laboratorium
dalam batas 4. Kolaborasi
normal untuk hasil
pemberian
cairan intravena
dan elektrolit
sesuai indikasi
5. Berikan penkes
pada OT
tentang tanda-
tanda
kurangnya
cairan
4 Ansietas Ansietas teratasi - OT mengerti 1. Jelaskan
berhubungan setelah dilakukan tentang tentang
dengan kurangnya asuhan tindakan prosedur
pengetahuan keperawatan operasi tindakan
tentang prosedur 1x24 jam - OT siap operasi
tindakan operasi dilakukan 2. Jelaskan
tindakan tentang
operasi anastesi yang
akan dilakukan
3. Jelaskan
persiapan
operasi
4. Berikan ruang

24
untuk
menyampaikan
kecemasan
OT dalam
persiapan
operasi
5. Memberikan
kesempatan
kepada orang
tua bersama
pasien untuk
berdoa
INTRA OPERASI
Resiko cidera
5 posisi Resiko cedera tidak - Tidak ada luka 1. Kaji apakah
operatif terjadi setelah bakar pasien
berhubungan dilakukan tindakan - Funsi sensori mempunyai
dengan kebutuhan keperawatan pasien baik faktor resiko
posisi pembedahan 1x3 jam sebelumnya
dak kehilangan 2. Kaji kondisi
sensori sekunder pasien
akibat anastesi seperti
kemampuan
rentan gerak,
fisik, status
sirkulasi
3. Pasang
elektromedik
sesuai
kebutuhan
4. Kolaborasi
dengan dokter
anastesi
untuk
perubahan
posisi
pasien yang
sudah
dianastesi
5. Observasi
selama operasi
berlangsung
apakah ada
penekanan
pada anggota
tubuh pasien

25
6. Pindahkan
pasien dengan
brankar/ isolet
pre dan pos
operasi sesuai
prosedur
7. Berikan penkes
kepada OT
tentang resiko
cidera
POST OPERASI
6 Resiko pola nafas Pola nafas tidak - Tanda-tanda 1. Kaji pola napas
tidak efektif efektif, tidak vital dalam pasien
berhubungan efek terjadi setelah batas normal 2. Observasi
sekunder anastesi dilakukan asuhan - SPO2 dalam tanda-tanda
keperawatan batas normal vital
1x6 jam - Tidak adanya 3. Berikan
sianosis, tidak ganjalan atau
ada retraksi dada bantalan
- CRT kurang pada bahu
dari 3 detik bila
diindikasikan
4. Pertahankan
jalan nafas
dengan triple
air way
5. Ubah posisi
secara periodik
dan ambulasikan
sedini mungkin
sesuai dengan
indikasi
6. Berikan penkes
pada OT
tentang efek
sekunder
anastesi
7. Kolaborasi
pemberian
oksigen
sesuai indikasi
7 Infeksi luka operasi Infeksi teratasi - Tanda-tanda 1. Kaji adanya
berhubungan setelah dilakukan vital dalam rembesan atau
dengan masuknya tindakan batas normal tidak
mikroorganisme keperawatan - Tidak ada 2. Observasi
sekunder akibat 10x24 jam rembesan muka tanda-tanda

26
insisi pembedahan operasi vital
- Hasil 3. Lakukan
laboratorium perawatan
dalam batas muka dengan
normal teknik septik
- Daerah sekitar aseptik
operasi baik 4. Kolaborasi
untuk
pemberian
antibiotik
5. Berikan
informasi
tentang
tanda-tanda
inflamasi
6. Berikan penkes
OT tentang
perawatan
muka dan
perawatan
stoma

3.5 Implementasi dan Evaluasi Keperawaatan

Tanggal & Implementasi & Evaluasi Tanda tangan &


Jam Nama Perawat

29/03/15 Mengobservasi keadaan bayi,hasil: bayi aktif, tangis Sr. T


kuat, kembung ada,muntah tidak ada, residu hijau
16.00

19.30 Memasang OGT¸hasil: OGT terpasang residu Sr.T


bewarna hijau

Mengkaji tanda-tanda dehidrasi pada pasien,hasil:


20.00
turgor kulit elastis, UUB datar, rencana pemeriksaan
Laboratorium kimia klinik

20.30 Evaluasi sore:

S: - O: k/u sedang , ke.cm, UUB datar, akral hangat,

27
tangis kuat, muntah tidak ada, LP: 35 cm, LD: 32 cm,
klinis iterik, turgor elastis, mukosa lembab, A: Dx 1
gangguan eliminasi BAB teratasi sebagian, DX 2
Gangguan ketidakseimbangan nutrisi teratasi
sebagian, P: lanjutkan intervensi

15/04/2015 Melakukan Wash out hasil: keluar BAB ampas Sr.K


kuning
08.00
Menjelaskan prosedur operasi yang akan dilakukan,
09.30 Sr.K
hasil: OT mengerti dengan yang dijelaskan

Mengobservasi keadaan pasien, hasil: Posisi


10.00 terlentang, tangis kuat, gerak aktif, distensi abdomen Sr.K
masih ada.

16/04/2015 Mendampingi OT untuk penjelasan persiapan operasi Sr.E


dan penjelasan anastesi yang di berikan dijelaskan
15.00
oleh dr. Anastesi, hasil: OT mengerti apa yang
dijelaskan

17.00 Melakukan wash out hasil ampas kecoklatan Sr.T

17/04/15 Melakukan persiapan operasi hasil: infus terpasang 2


09.00 line, tranfusi albumin,terpasng ulang OGT,
Mengobservasi keadaan bayi: bayi rewel, kembung
ada, residu ada bewarna bening
17/04/15 Melakukan operan dengan sr D untuk tindakan
operasi hasil: terapi yang sudah diberikan dan
18.30
tindakan yang akan di lakukan

Memberikan informasi kepada OT bahwa operasi


18.45 akan dilakukan dan menjelaskan resiko cidera yang
akan terjadi selama operasi hasil: Ot mengerti

Mengkaji tingkat resiko pada pasien hasil: pasien


19.00
terpasang plate, posisi terlentang

28
19.15 Mengobservasi selama operasi berlangsung, hasil:
tidak ada penekanan media pada pasien

Memindahkan pasien psaien dari kamar operasi ke


ruang NICU pasien dipindahkan dengan isolet pasien
dengan penggunaan nasa canule atas intruksi dokter
anastesi.

Mengobservasi keadaan pasien, bayi keadaan tenang

Mengkaji keadaan pasien, hasil: Lp:36cm, klinis


anemis.

Melakukan kolaborasi dengan dokter bedah


melaporakan keadaan pasien, hasil: jika terdapat
kembung masukan foleycath no.20 kedalam
18/04/2015
kolostomi hingga udara keluar,jika LP meninngkat
08.00 dan pengeluaran produksi kolostomi tidak lancar.

Mendampingi dr. D untuk melakukan washout


melalui stoma menggunakan nacl 0.9% dan folley
08.30
cath no.18: feses keluar dan kembung berkurang

Melakukan kolaborasi pemeriksaan lab, pemeriksaan


17.30 HR1 dan CRP

Melaporakan hasil lab dan keadan pasien ke dr.D


hasil: therapi lanjut

Melakukan perawatan colostomy dan luka operasi


hasil: luka operasi baik dan stoma bewarna merah,
BAB cair hitam, abdomen lembek,pendarahan tidak
ada, tanda infeksi tidak ada.

Mengajarkan kepada OT cara peraatan kolostomi,


hasil Ot mengerti dan paham dengan yang dijelaskan.

29
Evaluasi

S: -

O: K/u sedang. Kes.cm, UUB datar, tangis kuat,


gerak aktif, akrla hangat, reflek hisap dan menelan
baik, muntah kembung tidak ada, terdapat kolostomi,
tanda-tanda infeksi tidak adam mukosa bibi lembab,
BAB kelur dari stoma lancar, klinis ananemis

A: DX I, DX II, DX III, DX IV, DX V, DX VI,


DXVII teratasi

P: Hentikan intervensi, pasien kontrol ke dr. D dan dr.


A.

30
BAB IV

PEMBAHASAN

Pada bab ini membahas kesenjangan antara teori dan praktek langsung dilapangan
mengenai asuhan keperawatan pada pasien dengan Hisprung. Adapun ruang lingkup dari
pembahasan kasus ini adalah sesuai dengan proses keperawatan yaitu mulai dari pengkajian,
diagnosa keperawatan, perencanaan (intervensi), pelaksanaan (implementasi) dan evaluasi.

Pada kasus Hisprung ini secara teori klasifikasi Hisprung ini terdapat 4 macam, pada
pasien ini Hisprung yang dimiliki termasuk dalam klasifikasi Hisprung segmen pendek
karena sesuai dengan hasil pemeriksaan penunjang Waters soluble dimana hasil RO: tampak
penyakit Hirschprung’s dengan segmen hipoganglionik di rectosigmoid dan zona transisi di
perbatasan colon sigmoid dan colon descenden tipe abrupt. Tidak terdapat tanda-tanda NEC
atau ekstravasasi kontras.

Pada kasus Hisprung dalam tindakan medis berupa tindakan operatif tidak dapat
menahan lama tindakan operatif karena dapat menyebabkan komplikasi yang berlanjut dari
Hisprung itu sendiri, dalam kasus ini tindakan operatif yang dilakukan sangat lama dari
pasien masuk tanggal 29/03/2015 hingga tindakan dilakukan tanggal 17/04/2015, lamanya
tindakan operatif yang dilakukan karena menunggu diagnosa yang tepat untuk pasien dimana
dilihat dari pemeriksaan rotgen abdomen pasien yang mengalami perubahan yang tidak stabil
sehingga akhirnya dilakukan pemeriksaan Waters soluble untuk menentukan tindakan yang
akan dilakukan pada pasien dan diagnosa yang didapat setelah hasil pemeriksaan didapat
adalah suspect hirscsprung’s disease. Setelah diagnosa medis didapat maka diputuskan untuk
dilakukan tindakan operatif pada pasien.

4. 1 Pengkajian

Pengkajian intra operasi pasien dengan Hisprung berfokus pada menilai


kondisi pasien dan lingkungan agar operasi berjalan dengan baik dan tidak ada resiko
cedera ataupun komplikasi akibat pembedahan. Secara teoritis pengkajian pada intra
operasi meliputi pengkajian identifikasi pasien, validasi data, informed consent,
kelengkapan catatan riwayat kesehatan, pengkajian, pemeriksaan fisik, hasil

31
pemeriksaan diagnostic dan checklist praoperasi, serta mengkaji kemungkinan adanya
potensial cedera pada saat operasi.

Pengkajian perawat dilapangan cukup baik, tetapi masih ada pengkajian fokus
yang kurang terperinci mengenai masalah. Terdapat sedikit kesenjangan pengkajian
antara teori dan praktek dilapangan. Pada pemeriksaan fisik pasien kurang dijelaskan
pengkajian fokus mengenai penyakitnya, ada diare atau tidak kah,berapa lama sudah
tidak BAB, berapa jam mekonium keluar setelah lahir. Kemudian data-data yang
menunjang masalah belum sepenuhnya tergambar dalam pengkajian. Data objektif
dan subjektif masih kurang diaplikasikan ke dalam pengkajian.

Saran untuk perawat dilapangan yaitu lebih meningkatkan lagi pengkajian


fokus, ketelitian dan detail dalam menggambarkan masalah sehingga asuhan yang
diberikan kepada pasien dapat optimal.

4. 2 DiagnosaKeperawatan

Ada perbedaan diagnosa antara teori dan dilapangan. Penulis lebih


menekankan diagnosa intra op karena pasien pre op dari perina, setelah prosedur
pembedahan tidak di observasi di RR melainkan kembali ke NICU untuk dievaluasi
ketat. Tetapi penulis menampilkan semua diagnosa pre, intra dan post op agar dapat
diketahui oleh pembaca sehingga dapat berkesinambungan.

Diagnosa Pre Op dilapangan :

1. Gangguan Eliminasi BAB b. d konstipasi ditandai dengan adanya distensi


abdomen

2. Gangguan ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d. anorexia


ditandai dengan muntah, perut membesar terdapat residu bewarna kuning

3. Resiko keseimbangan cairan berhubungan dengan diare ditandai dengan hasil


pemeriksaan darah yang menurun.

4. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang prosedur


tindakan operasi

32
Diagnosa Pre op secara teoritis :

1. Gangguan Eliminasi : BAB b.d. konstipasi

2. Gangguan jaringan perifer b.d intake cairan yang berkurang

3. Gangguan eliminasi: BAK b.d absorbsi cairan yang kurang

4. Kurangnya kebutuhan nutrisi b.d gerakan peristaltik yang tidak teratur

5. Cemas b.d intervensi pembedahan yang akan dilakukan

Perbedaan diagnosa antar teori dengan dilapangan tidak terlalu jauh, walaupun
ada diagnosa yang tidak muncul karena dihubungkan dengan kondisi pasien langsung,
yaitu diagnosa gangguan eliminasi BAK. Karena dari hasil pengkajian tidak ada data-
data yang mengarah ke ganggual eliminasi BAK.

Diagnosa Intra op dilapangan

1. Resiko cedera intra op b/d kebutuhan posisi pembedahan, pemasangan alat-


alat elektromedik.

Diagnosa Intra op secara teori :

1. Resiko cedera b/d kondisi lingkungan, pemajanan peralatan, instrumentasi dan


penggunaan obat-obatan anastesi.

Tidak ada perbedaan dalam pengangkatan diagnosa keperawatan di Intra


Operasi karna data yang didapat sesuai dengan keadaan pasien.

Diagnosa Post Op dilapangan :

1. Resiko pola nafas tidak efektif berhubungan efek sekunder anastesi

2. Infeksi luka operasi berhubungan dengan masuknya mikroorganisme sekunder


akibat insisi pembedahan

Diagnosa Post op secara teori :

1. Nyeri b.d terputusya kontinuitas jaringan

2. Resiko gangguan pola nafas b.d.cairan dan elektrolit yang kurang

33
3. Resiko cidera perfusi jaringan serebral b.d intake nutrisi yang kurang

4. Resiko cidera b.d. penurunan kesadaran

5. Resiko infeksi b.d kerusakan jaringan pasca operasi

Untuk diagnosa post op kesenjangannya ada pada diagnosa resiko cidera perfusi jaringan
serebral dan diagnosa cidera karena penurunan kesadaran. Diagnosa tersebut tidak di angkat
karena data objektif tidak mendukung. Selebihnya diagnosa lain tidak ada kesenjangan. Saran
untuk perawat dilapangan untuk lebih meningkatkan dan mengembangkan diagnosa, karena
kondisi post operatif dapat berubah sewaktu-waktu terutama bila dalam pengawasan ketat.

4. 3 Perencanaan

Perencanaan dalam proses keperawatan dimulai setelah data terkumpul,


dikelompokan, dianalisa dan ditetapkan masalah keperawatan. Perencanaan disusun
berdasarkan prioritas masalah yang disesuaikan dengan kondisi klien. Setelah masalah
ditentukan berdasarkan prioritas, tujuan pelayanan keperawatan ditetapkan. Tujuan
bisa ditetapkan dalam jangka panjang atau jangka pendek, harus jelas, dapat diukur
dan realistis. Ditegaskan dalam bentuk perubahan, kriteria hasil sebagai alat ukur
pencapaian tujuan yang mengacu pada tujuan yang disusun pada rencana
keperawatan. Pada perencanaan harus tertuang 5 aspek (tindakan mandiri, observasi,
pendidikan kesehatan yang melibatkan pasien dan keluarga, serta kolaborasi dengan
petugas kesehatan lain). Perencanaan secara teoritis belum menyangkut 5 aspek
perencanaan keperawatan. Untuk dilapangan formulir perencanaan sudah menyangkut
5 aspek dan berupa poin-poin yang bisa disesuaikan dengan kondisi sehingga
memudahkan perawat dalam merencanakan asuhan keperawatan kepada pasien.

Standar asuhan keperawatan di RSIA Hermina sudah sangat baik, namun ada
beberapa data subjektif dan objektif yang tidak tertuang dalam askep, seperti pada
diagnosa resiko cidera intra operatif b/d kebutuhan posisi pembedahan, pembiusan,
tetapi ditandai dengan DO terpasangnya alat-alat elektromedik, posisi pembedahan
tidak dituliskan, jenis anastesi yang diberikan tidak dituliskan. Perbaikan untuk
perawat dilapangan yaitu lebih meningkatkan motivasi untuk melengkapi data-data
yang mendukung masalah, sehingga tidak akan terjadi kesenjangan

34
4. 4 Implementasi

Setelah rencana keperawatan dibuat, kemudian dilanjutkan dengan


pelaksanaan. Pelaksanaan rencana asuhan keperawatan merupakan kegiatan atau
tindakan yang diberikan pada pasien dengan menerapkan pengetahuan dan
kemampuan klinik yang dimiliki oleh klien berdasarkan ilmu keperawatan dan ilmu
lainnya yang terkait. Seluruh perencanaan tindakan yang telah dibuat dapat terlaksana
dengan baik.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pelaksanaan rencana asuhan


keperawatan atau hambatan yang penulis dapatkan. Hambatan-hambatan tersebut
antaralain, keterbatasan sumber referensi buku sebagai acuan penulis,
pendokumentasian yang dilakukan oleh perawat ruangan tidak lengkap sehingga sulit
untuk mengetahui perkembangan klien dari mulai masuk sampai pasien dipindahkan
keruang NICU, dan waktu keberadaan penulis di ruang operasi terbatas.

Dalam implementasi askep intra op, masalah dapat langsung dinilai dan
masalah langsung teratasi. Tidak semua perencanaan dapat diimplementasikan dengan
baik, dan implementasi yang dilakukan hanya tergambar rutinitas tidak
menggambarkan lima aspek yang ada di perencanaan. Saran untuk perawat
dilapangan diharapkan perawat melakukan implementasi sesuai dengan perencanaan
yang telah dibuat, dan menggambarkan 5 aspek implementasi.

4. 5 Evaluasi

Evaluasi adalah tahap akhir dalam proses keperawatan. Tahap evaluasi dalam
proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subjektif dan data objektif yang
akan menunjukkan apakan tujuan asuhan keperawatan sudah tercapai sepenuhnya,
sebagian atau belum tercapai. Serta menentukan masalah apa yang perlu dikaji,
direncanakan, dilaksanakan dan dinilai kembali.

Tujuan tahap evaluasi adalah untuk memberikan timbal balik rencana


keperawatan, menilai, meningkatkan mutu asuhan keperawatan melalui perbandingan
asuhan keperawatan yang diberikan serta hasilnya dengan standar yang telah
ditetapkan lebih dulu.

35
Adapun evaluasi dari tindakan keperawatan diatas adalah karena tindakan
yang dilakukan hanya 1x30 menit dan 1x1, 5 jam, maka tujuan keperawatan dapat
tercapai. Dalam evaluasi, perawat bedah menuliskan diagnosa pre op dan intra op
yang selanjutnya di follow up di NICU. Saran untuk perawat dilapangan didalam
planning selanjutnya, sebaiknya dituliskan kembali intervensi diagnosa mana yang
harus terus dilanjutkan.

36
BAB V

KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

Penyakit Hisprung (Hirschprung) adalah kelainan bawaan penyebab gangguan


pasase usus (Ariff Mansjoer, dkk. 2000). Dikenalkan pertama kali oleh Hirschprung tahun
1886. Zuelser dan Wilson , 1948 mengemukakan bahwa pada dinding usus yang
menyempit tidak ditemukan ganglion parasimpatis. Hisrpung kemmungkinan disebabkan
aganglionosis Meissner dan Aurbach dalam lapisan dinding usus, mulai dari sfingter ani
internus ke arah proksimal, 70 % terbatas di daerah rektosigmoid, 10 % sampai seluruh
kolon dan sekitarnya 5 % dapat mengenai seluruh usus sampai pilorus. Komplikasi yang
terjadi pada Hisprung adalah kebocoran anastomose, stenosis dan enterokolitis. Kondisi
Hisprung ini diperbaiki dengan cara dilakukan pembedahan dengan cara tehnik
pullthrough dan stappler.

Pengkajian An. M dengan Hisprung di RSIAH Pasteur sudah cukup baik, tetapi masih
perlu ditingkatkan lagi pengkajian fokus yang berkenaan dengan masalah agar dapat
dipahami baik oleh tenaga kesehatan lain ataupun untuk study. Diagnosa keperawatan
dilapangan cukup baik, disesuaikan dengan standar asuhan keperawatan yang berlaku di
RSIAH Pasteur. Diagnosa intra operasi untuk kasus Hisprung pada An. M yang muncul
dilapangan yaitu : resiko cedera intra op bd kebutuhan posisi pembedahan, pemasangan
alat-alat elekttromedik. Perencanaan disesuaikan dengan masalah yang muncul.
Implementasi dilaksananakan sesuai dengan perencanaan. Evaluasi dilakukan untuk
mengetahui apakah tujuan tercapai atau tidak.

5.2 Saran
Setelah melakukan asuhan keperawatan pada An M, penulis memberikan saran berupa :
1. Untuk semua perawat, dalam pendokumentasian asuhan keperawatan agar
ditingkatkan lagi karena merupakan alat komunikasi, sehingga dapat memudahkan
dalam memantau perkembangan pasien.

37
2. Untuk perawat harus mengikuti perkembangan ilmu keperawatan yang terupdate
mengenai asuhan keperawatan khususnya ilmu keperawatan bedah dan dapat
diaplikasikan di lapangan.
3. Untuk perawat hendaknya tidak segan memberikan ide, gagasan ataupun masukan
yang dirasa bermanfaat, guna lebih meningkatkan kualitas asuhan keperawatan
pada pasien dilapangan, agar terciptanya pengkajian secara komperhensif dan
menyeluruh dan dapat lebih teliti dalam pendokumentasian.
4. Saran untuk perawat dilapangan yaitu lebih meningkatkan lagi pengkajian fokus,
ketelitian dan detail dalam menggambarkan masalah sehingga asuhan yang
diberikan kepada pasien dapat optimal.
5. Saran untuk perawat dilapangan untuk lebih meningkatkan dan mengembangkan
diagnosa, karena kondisi post operatif dapat berubah sewaktu-waktu terutama bila
dalam pengawasan ketat.
6. Perbaikan untuk perawat dilapangan yaitu lebih meningkatkan motivasi untuk
melengkapi data-data yang mendukung masalah, sehingga tidak akan terjadi
kesenjangan.
7. Saran untuk perawat dilapangan diharapkan perawat melakukan implementasi
sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat, dan menggambarkan 5 aspek.
8. Saran untuk perawat dilapangan didalam planning selanjutnya, sebaiknya dituliskan
kembali intervensi diagnosa mana yang harus terus dilanjutkan.
9. Saran untuk RSIA Hermina Pasteur agar lebih mempermudah perawat dengan
membuat format pengkajian yang terstruktur dengan baik dan komprehensif,
sehingga perawat dengan kemampuan dan waktu yang terbatas bisa memberikan
asuhan yang tepat, efektif, efisien dan bertanggung jawab kepada semua pasien
yang diberikan asuhan keperawatan.
Semoga apa yang penulis tuangkan dalam makalah ini dapat di mengerti dan
dipahami dan memberikan manfaat terhadap pembaca.

38

Beri Nilai