Anda di halaman 1dari 20

PELAKSANAAN, PEMBANGUNAN DAN EVALUASI RUANG TERBUKA

HIJAU TAMAN BUNGKUL KOTA SURABAYA

(Tugas Mata Kuliah Administrasi Pembangunan)

Nama Kelompok :

1. Yusrina Nur A (1641010001)


2. Amelia Putri N.R (1641010012)
3. Cecylia Fristyawati (1641010023)

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAWA TIMUR
2019
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI....................................................................................................................... 1
BAB I .................................................................................................................................. 3
PENDAHULUAN .............................................................................................................. 3
A. Latar Belakang ........................................................................................................ 3
B. Rumusan Masalah ................................................................................................... 5
C. Tujuan Penulisan ..................................................................................................... 5
BAB II................................................................................................................................. 6
LANDASAN TEORI .......................................................................................................... 6
A. Teori Administrasi Pembangunan ........................................................................... 6
B. Teori Perencanaan Pembangunan ........................................................................... 8
C. Pelaksanaan Administrasi Pembangunan .............................................................. 10
D. Evaluasi Admninistrasi Pembangunan.................................................................. 11
BAB III ............................................................................................................................. 12
PEMBAHASAN ............................................................................................................... 12
A. Perencanaan Pembangunan Taman Bungkul Surabaya ........................................ 12
B. Pelaksanaan Pembangunan Taman Bungkul Surabaya......................................... 14
C. Evaluasi Pembangunan Taman Bungkul Surabaya............................................... 16
BAB IV ............................................................................................................................. 19
PENUTUP ........................................................................................................................ 19
A. Kesimpulan ............................................................................................................ 19
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 20
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Jumlah penduduk Indonesia semakin tahun semakin meningkat,
berdasarkan data telah menunjukkan bahwa sekitar 3,5 miliar orang
tinggal di perkotaan. Semakin banyak penduduk diperkotaa ini
menyebabkan kurangnya ruang terbuka hijau bagi masyarakat kota.
Kehidupan perkotaan semakin rumit dan menimbulkan berbagai masalah
yang kompleks.
Berbagai masalah timbul di perkotaan akibat meningkatnya
populasi penduduk, tetapi masalah lingkungan menjadi masalah yang
serius karena lingkungan adalah unsur utama berlangsungnya kehidupan.
Salah satu masalah lingkungan perkotaan yang menjadi perhatian banyak
pihak adalah eksistensi ruang terbuka di tengah meningkatnya
pembangunan perkotaan baik untuk pemukiman maupun kebutuhan
lainnya.
Alih funngsi ruang terbuka hijau juga banyak terjadi di negara-
negara maju, seperti di Eropa. Banyak lahan pertanian yang digunakan
sebagai lahan industri dan pemukiman penduduk. Sehingga pemerintah
perlu melakukan revitalisasi dan optimalisasi pengelolaan ruang terbuka
yang ada. Oleh karena itu perlu adanya peningkatan pada pengelolaan
RTH yang berimplikasi pada tren perkotaan untuk menciptakan dan
meningkatkan pengelolaan RTH khususnya taman kota.
Taman kota adalah taman dalam skala yang luas yang berada di
dalam lingkungan perkotaan dan dapat dinikmati oleh seluruh penduduk
kota. Kota – kota besar di beberapa negara mengupayakan luasan RTH
seimbang proporsinya dengan keseluruhan luas wilayah dan jumlah
penduduknya.
Tren perkotaan di Indonesia menciptakan taman kota muncul sama
halnya dengan negara-negara maju, seperti Eropa, Amerika Utara dan
Jepang yang sangat kaya akan taman kota. Banyak taman di Jakarta yang
hilang dan beralih fungsi. Taman tersebut beralih fungsi salah satunya
karena tidak ada kehidupan dan kepedulian dari masyarakatnya. RTH yang
ada sebagian besar telah dikonversi menjadi infrastruktur perkotaan di
Indonesia khususnya kota metropolitan serta padatnya penduduk yang
menyebabkan penurunan tersebut.
Regulasi yang telah dikeluarkan pemerintah dalam masalah ruang
terbuka hijau untuk pemukiman ini antara lain yaitu : Undang-undang No.
26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (UUPR), Peraturan Menteri
Dalam Negeri No. 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau
Kawasan Perkotaan (RTHKP), dan Peraturan Menteri PU No. 05/PRT/M
Tahun 2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang
Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan.
Dari berbagai taman kota yang telah dibangun di Surabaya , taman
bungkul merupakan taman yang letaknya strategis karena berada di pusat
kota yang rawan dari kemacetan. Taman bungkul juga tela mendapatkan
penghargaan tingkat internasional pada tahun 2013 sebagai kategori
Taman Terbaik se-Asia. Taman ini adalah taman aktif yang berisi aneka
tanaman dan pohon hijau serta dilengkapi berbagai sarana pendukung
seperti jogging track, taman bermain anak, akses nirkabel internet,
perpustakaan serta digunakan sebagai sarana edukasi pengolahan air dan
pengolahan sampah.
Selain dikenal dengan wisata umum, taman bungkul juga dikenal
sebagai taman dengan wisata religi karena di dalam area taman ini
dimakamkan Sunan Bungkul, seorang tokoh penyebar agama Islam di
Surabaya Tidak hanya itu, pelayanan publik juga dapat diperoleh di Taman
Bungkul.
Taman ini juga menyediakan Bus Pelayanan SIM Keliling
Polrestabes Surabaya bagi pengunjung yang ingin melakukan
perpanjangan SIM. Taman bungkul direvitalisasi dan diresmikan pada 21
Maret 2007. Tak hanya itu, dari sektor ekonomi juga terlihat karena
aktivitas pedagang yang meningkat, mulai dari makanan, minuman, dan
aneka macam barang.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Perencanaan Pembangunan ruang terbuka hijau di Taman
Bungkul Surabaya ?
2. Bagaimana penerapan taman sebagai pusat ruang terbuka hijau bagi
masyarakat ?
3. Apakah perlu adanya evaluasi dari pembangunan ruang terbuka hijau
bagi masyarakat kota Surabaya ?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui perencanaan dalam pembangunan ruang terbuka
hijau terutama di taman bungkul Surabaya
2. Untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan oleh masyarakat kota
Surabaya
3. Agar kita perlu mengetahui apakah perlu dikaji ulang atau diperbaiki
dalam pelaksanaan dan tujuan dari pembangunan taman kota.
BAB II

LANDASAN TEORI
A. Teori Administrasi Pembangunan
Administrasi pembangunan mencakup 2 pengertian yakni adminisitrasi dan
pembangunan. Menurut Siagian (2003) Administrasi dalah keseluruhan proses
pelaksanaan keputusan-keputusan yang telah diambil dan diselenggarakan oleh dua atau
lebih untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Sedangkan pembangunan
didefinisikan sebagai rangkaian usaha mewujudkan pertumbahan dan perubahan secara
terencana dan sadar yang ditempuh oleh suatu negara bangsa menuju modernitas dalam
rangka pembinaan bangsa.

Dengan begitu ada 7 ide pokok yang dapat ditarik dari definisi diatas sebagai
berikut :

1. Pembangunana merupakan suatu proses.


2. Pembangunan merupakan upaya yang secara sadar ditetapkan sebagai sesuatu untuk
dilaksanakan.
3. Pembangunana dilakuakan secara terencana, baik dalam arti jangka panjang, jangka
menengah dan jangka pendek.
4. Rencana pembangunan mengandung makna pertumbuhan dan perubahan.
5. Pembangunan mengarah pada modernitas.
6. Modernitas yang ingn dicapai melalui berbagai kegiatan pembangunan per definisi
bersifat multidimensional.
7. Semua hal yang telah disinggung ditujukan kepada usaha pembinaan bangsa.
Maka dapat ditarikan batasan pengertian dari administrasi pembangunan yaitu seluruh
usaha yang dilakukan oleh suatu negara bangsa untuk bertumbuh, berkembang dan
berubah secara sadar dan terencana dalam semua segi kehidupan dan penghidupan negara
bangsa yang bersangkutan dalam rangka pencapaian tujuan. Dengan begitu pembanguna
bukan hanya peran pemerintah saja tapi juga butuh peran dari beberapa pihak contohnya
para politisi, dunia usaha, para teoritis, para pembentuk opini bahkan juga masyarakat.

Administrasi pembangunan administrasi negara dan publik yang berperan sebagai


agen perubahan dengan tujuan menyukseskan pembangunna dalam berbagai aspeknya,
melalui perencanaan yang berorientasi pada pelaksanaan, transfer teknologi, transformasi
sosial, pengembangan kapasitas dan partisipasi masyarakat serta pemerataan hasil
pembangunan (Weidner, 1962; Unites Nation, 1969; Gaiden, Naomi, Wildawsky dan
Aaron, 1974; Watersfion, 1985). Ada lagi yang mengatakan bahwa Administrasi
pembangunan adalah suatu organisasi bagi usaha pembangunan sosial-ekonomi yang
bersifat dinamis dan inovatif dengan mengupayakan perubahan berbagai aspek kehidupan
masyarakat melalui berbagai pengerahan dan alokasi sumber daya untuk kegiatan
pembangunan. Administrasi pembangunan berfungsi merumuskan kebijakan dan
program-program pembangunan dan melaksanakannya secara efektif dengan pendekatan
multidisiplin. Oleh karena itu, administrasi pembangunan adalah suatu ilmu dan suatu
peroses pembelajaran yang aplikatif dan relevan dalam upaya pembangunan.

Menurut Mustopadidjaja (1976) dalam Indrawijaya & Pranoto (2011),


administrasi pembangunan adalah ilmu dan seni tentang pembangunana suatu system
administrasi negara dilakukan sehingga system administrasi tersebut mampu
menyelenggrakan berbagai fungsi umum pemerintahan dan pembangunan secara efektif
dan efisien. Definisi administrasi pembangunan yang dikemukakan oleh J.B Kristadi
berbeda lagi, ia mengatakan bahwa administrasi pembangunan adalah administrasi negara
yang mampu mendorong kea rah proses perubahan, pembaharuan dan penyesuaianserta
pendukung suatu perencanaan. Sedangkan menurut Paul Meadows (1968:86), dalam
bukunya Motivation for Change and Development Administration, mendefinisikan
administrasi pembangunan adalah kegiatan mengatur masyarakat

dibidang ekonomi dan perubahan sosial dalam hal menetapkan kebijakan publk.

Menurut Irving Swerdlow dan Saul M. Katz (1963), beberapa ciri administrasi
pembangunan adalah sebagai berikut:

1. Adanya suatu orientasi administrasi untuk mendukung pembangunan.


2. Adanya peran administrator sebagai unsur pembangunan.
3. Perkembangan, baik dalam ilmu maupun pelaksanaan perencana pembangunan
memiliki orientasi yang semakin besar dalam memberikan perhatian terhadap aspek
perencanaan rencana.
4. Administrasi pembangunan masih berdasar prinsip administrasi negara.
Administrasi pembangunan mempunyai tujuan utama untuk mengusahakan
peningkatan kemampuan pemerintah dalam melayani masyarakat dengan melakukan
investasi (mengganti atau menambah aktiva tetap). Administrasi pembangunan tidak
hanya merupakan kerangka teoritik yang bersifat statis saja, mellainkan juga merupakan
upaya dan tindakan nyata segera serta responsif terhadap perubahan yang terjadi di
masyarakat dan dunia internasional. Oleh sabab itu dengan pendekatan yang berorientasi
pada tindakan, maka administrasi pembangunan bersifat inovatif dalam arti selalu
berusaha mengembangkan gagasan-gagasan baru. Administrasi juga selalu berusaha pada
perubahan-perubahan dan penyesuaian terhadap lingkungannya (nasional dan
ininternasional), sedangkan perubahan-perubahan dan penyesuaian seringkali
menimbulkan dampak positif maupun negative, maka dalam menghadapi hambatan dan
kendala, administrasi pembangunan selalu berupaya melakukan perubahan-perubahan
dan pemecahan masalah-masalahyang timbul dalm semua aspek pembangunan bangsa.

Para ahli Administrasi Negara mengembangkan apa yang disebut Administrasi


Pembangunan , yaitu administrasi yang cocok diterapkan di negara-negara berkembang.
Administrasi pembangunan yang dikembangkan di negara berkembang mempunyai
karakteristik, ruang lingkup yang berbeda dengan negara-negara yang sudah maju. Akibat
perbedaan tersebut, cakupan Administrasi pembangunan di negara berkembang berbeda
dengan di negara yang telah maju. Mengenai ruang lingkup administrasi pembangunan,
Bintoro Tjokroamidjojo mengemukakan bahwa Administrasi Pembangunan mempunyai 2
fungsi, yaitu Penyusunan kebijaksaan penyempurnaan Administrasi Negara dan
Perumusan kebijakan-kebijakan dan program program pembangunan di berbagai bidang
serta pelaksanaannya secara efektif.

Administrasi untuk pembangunan (the development of administration) dapat


dibagi tiga yaitu :

1. Perumusan kebijakan pembangunan, perumusan kebijakan-kebijakan pemerintah/


negara sekarang masuk wilayah administrasi negara.
2. Pelaksanaan kebijaksanaan pembangunan secara efektif, untuk ini diperlukan
instrument-instrumen yang baik.
3. Pencapaian tujuan-tujuan pembangunan tidak mungkin terlaksana dari hasil
pemerintah saja.

B. Teori Perencanaan Pembangunan


Menurut George R Terry dalam Riyadi Deddy (2004) menyatakan bahwa
perencanaan adalah upaya untuk memilih dan menghubungkan fakta-fakta sertamembuat
dan menggunakan asumsi mengenai masa yang akan dating dengan jalan
menggambarkan dan merumuskan kegiatan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang
dinginkan. Sedangkan pengertian perencanaan menurut Jawaharlal Nehru dalam Riyadi
(2004), perencanaan merupakan penetapan inteligensia untuk mengoleh fakta-fakta dan
situasi apa adanya dan menemukan suatu cara untuk memecahkan masalah. Sama halnya
dengan Anggara & Sumantri (2016), perencanaan adalah teknik atau metode proses
identifikasi masalah sejak dini pilihan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan
dikehendaki.

Menurut Arthur W. Lewis (1965) perencanaan merupakan kumpulan


kebijaksanaandan program pembangunan untuk merangsang masyarakat dan swasta
untuk menggunakan sumber daya yang tersedia secara lebih produktif. Menurut M. L.
Jhingan (1984) menyatakan bahwa perencanaan pembangunan merupakan pengendalian
dan pengaturan perekonomian dengan sengaja oleh suatu penguasa pusat untuk mencapai
suatu sasaran dan tujuan tertentu dalam jangka waktu tertentu pula. Hal ini sama dengan
dalam Undang-Undang No. 25 tahun 2004 Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
(SPPN) adalah suatu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan
rencana-rencana pembangunan jangka panjang, jangka menengah dan tahunan, yang
dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat pusat dan
daerah. Dengan begitu Anggara & Sumantri (2016) menyimpulkan bahwa perencanaan
merupakan cara atau teknik untuk mencapai tujuan pembangunan secara tepat, terarah
dan efisien sesuai dengan kondisi negara atau daerah bersangkutan. Tujuan pembangunan
untuk mmendorong proses pembangunan secara lebih cepat untuk mewujudkan
masyarakat yang maju, makmur dan sejahtera.

Tujuan pokok dan fungsi perencanaan pembangunan, yaitu :

1. Mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan


2. Menjamin terciptanya integrase, sinkronisasi dan sinergi antar daerah, waktu dan
fungsi pemerintah, baik pusat maupun daerah
3. Menjamin keterkaitandan konsistensiantara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan
dan pengawasan
4. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan
5. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif dan adil.
Menurut Jhingan (1983), kunci keberhasilan suatu perencanaan pembangunan
ditentukan oleh hal berikut:
1. Komisi Perencanaan
2. Data statistic
3. Tujuan
4. Penetapan sasaran dan prioritas yang dibuat secara makro dan sectoral
5. Mobilisasi sumber daya
6. Keseimbangan dalam perencanaan
7. System administrasi yang efisien
8. Kebijaksanaan pembangunan yang tepat dilakukan
9. Administrasi yang ekonomis
10. Dasar pendidikan
11. Teori konsumsi

C. Pelaksanaan Administrasi Pembangunan


Administrasi pembangunan diharapkan dapat mendukung proses pembangunan
dan menghasilkan pertumbuhan pada tingkat memadai sehingga pembangunan dapat
dikatakan berhasil. Administrasi pembangunan harus mampu merangsang niat menabung
masyarakat melalui kegiatan ekonomi. Teknis pelaksanaan Administrasi Pembangunan di
Indonesia adalah sebagai berikut :

a. Sistem Perencanaan Pembangunan, terdiri dari :


1) Perencanaan menurut jangkauan jangka panjang
2) Perencanaan menurut dimensi pendekatan koordinasi
3) Perencanaan menurut proses
b. Sistem Pembiayaan Pembangunan, dibedakan atas :
1) APBN
2) APBD
c. Pelaksanaan Proyek Pembangunan
d. Sistem Pemantauan dan Evaluasi Kinerja
e. Pengawasan Pembangunan dilakukan oleh 3 pihak, yaitu :
1) Pengawasan fungsional yang dilakukan oleh Aparat Pengawasan Fungsional
Pemerintah (APFP) dan Aparat Pengawasan Eksternal Pemerintah (APEP)
2) Pengawasan melekat
3) Pengawasan masyarakat
D. Evaluasi Admninistrasi Pembangunan
Evaluasi merupakan proses menentukan nilai atau pentingnya suatu kegiatan,
kebijakan, atau program. Evaluasi adalah penilaian yang objektif dan sistematik terhadap
sebuah intervensi yang direncanakan, sedang berlangsung ataupun yang telah
diselesaikan. Evaluasi menurut PP no. 39 tahun 2006 adalah rangkaian kegiatan
membandingkan realisasi masukan, keluaran dan hasil terhadap rencana dan standar yang
telah diteteapkan. Evaluasi dilakukan secara berkala. Evaluasi bertujuan untuk
menganalisis data yang telah diperoleh dari monitoring, memberikan penilaian atas
pelaksanaan rencana dan sebagai umpan balik periodik kepada pemangku kepentingan
utama.

Periodisasi pelaksanaan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan, melalui


tahap berikut:

a. Perencanaan (ex ante). Tahapan dilakukan sebelum ditetapkannya rencana


pembangunan. Tahapan ini dilakukan untuk meilhat rasionalitas pilihan, target, dan
kesesuaian antar dokumen perencanaan.
b. Pelaksanaan (on going). Tahapan in dilakukan saar pelaksanaan kegiatan. Tahapan
ini dilakukan untuk mejamin bahwa kegiatan telah dilakukan sesuai dengan rencana
yang telah ditetapkan.
c. Pasca Pelaksanaan (ex post). Tahapan dilaksanakan setelah pelaksanaan rencana
berakhir. Memiliki tujuan untuk menilai pencapaian program sehingga mampu
mengatasi masalah pembangunan yang ingin dipecahkan serta untuk menilai
efisiensi, efektivitas dan dampak terhadap sasaran ataupun manfaat dari suatu
program.
BAB III

PEMBAHASAN

A. Perencanaan Pembangunan Taman Bungkul Surabaya


Kota Surabaya merupakan kota metropolitan dengan pertumbuhan
penduduk, pendidikan, sosial dan ekonomi yang jauh berkembang pesat. Masing-
masing kota mempunyai wahana wisata yang berbeda-beda. Kota Surabaya yang
dijuluki sebagai Kota Pahlawan ini memiliki banyak tempat wisata seperti
bangunan kuno, wahana permainan, dan banyak tersebar wisata taman kota.

Ruang terbuka hijau atau biasa dikatakan Taman Kota dapat menjadi
pilihan lokasi kunjungan alternatif untuk dimanfaatkan sebagai area untuk
melakukan aktifitas rekreasi, olahraga, atau sarana hiburan lainnya dengan
didukung fasilitas sebagai sarana edukasi. Menurut Yolanda & Masnuna
(2015:276) tujuan Taman Kota dibuat khususnya di Kota Surabaya sebagai sarana
bermain dan belajar bagi anak-anak, sarana hiburan, dan area untuk melakukan
aktifitas rekreasi yang hingga kini masih dipertahankan dan terus di kembangkan
keberadaannya.

Kondisi awal yang mengharuskan para pihak melakukan kolaborasi dalam


penyediaan ruang terbuka hijau taman kota di Surabaya adalah adanya perbedaan
kekuatan, tugas, dan fungsi dari masing-masing Organisasi Perangkat Daerah.
Perbedaan yang ada menuntut kebutuhan untuk saling berkolaborasi dalam
menyediakan ruang terbuka hijau taman kota di Surabaya. Adanya tujuan
mengefisiensikan anggaran pemerintah daerah juga menuntut para organisasi
perangkat daerah untuk melakukan kolaborasi dengan pihak ketiga. Adanya
mandat Walikota Surabaya, mendukung kepentingan organisasi perangkat daerah,
memenuhi kebutuhan masyarakat akan penyediaan ruang terbuka dan menangani
permasalahan lingkungan di kota Surabaya, mengharuskan para pihak untuk
saling berkolaborasi dalam penyediaan ruang terbuka hijau taman kota.
Pada kondisi awal penyediaan ruang terbuka hijau taman kota di Surabaya,
terdapat dua tahapan yang dilakukan, pertama melakukan perencanaan, kedua
melakukan penyediaan lahan. Dua Organisasi Perangkat Daerah, yakni Dinas
Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau Kota Surabaya dan Badan Perencanaan
Pembangunan Kota Surabaya, melakukan perencanaan yang meliputi,
perencanaan desain, perencanaan anggaran dan perencanaan wilayah. Setelah
perencanaan dilakukan, pada tahap selanjutnya para pihak melakukan penyediaan
lahan bagi ruang terbuka hijau taman kota.

Pada tahap ini, terdapat dua organisasi perangkat daerah yang terlibat,
yakni Dinas Pengelolaan dan Bangunan Tanah Kota Surabaya yang terlibat dalam
penyediaan lahan dan Bagian Layanan Pengadaan dan pengelolaan aset kota
Surabaya yang terlibat dalam penetapan status pengguna ruang terbuka hijau.
Penyediaan lahan dapat dilakukan dengan dua hal, yakni dengan melakukan
pengadaan atau pembelian, dan melakukan pengalihfungsian lahan. Setelah
perencanaan, penyediaan lahan dilakukan, pada beberapa kondisi anggaran
pendapatan dan belanja daerah yang dialokasikan pada penyediaan ruang terbuka
hijau taman kota kurang memadai atau terbatas, oleh karena itu Dinas Kebersihan
dan Ruang Terbuka Hijau kota Surabaya memulai untuk mengajukan bantuan
Corporate Social Responsibility (CSR) kepada pihak ketiga, seperti pihak swasta
dan badan usaha milik negara. Terdapat proses kolaborasi dalam penyediaan
ruang terbuka hijau taman kota yaitu dengan melakukan dialog tatap muka
sebagai proses awal untuk membentuk kesepakatan bersama dalam kolaborasi
yang dilakukan dan melakukan pembahasan terkait teknis kerjasama yang dijalin
antara Organisasi Perangkat Daerah kota Surabaya dengan pihak ketiga. Setelah
itu, para pihak melakukan peninjauan lokasi yang bertujuan untuk memastikan
lokasi lahan memiliki status yang jelas sebagai aset pemerintah kota Surabaya,
memastikan kesesuaian perencanaan pembangunan dengan rencana tata ruang
wilayah kota, provinsi, dan nasional, melakukan penertiban, dan melakukan
pendataan terhadap masyarakat yang berada pada bangunan liar yang akan
dialihfungsikan.
B. Pelaksanaan Pembangunan Taman Bungkul Surabaya
Bagi Pemerintah Kota Surabaya, perwujudan green city bukan semata
untuk meraih penghargaan tetapi bagaimana pemerintah kota dan warga Surabaya
mampu memperbaiki dan membangun kualitas lingkungan agar generasi
mendatang mampu merasakan kualitas pembangunan yang tidak hanya bersifat
bangunan infrastruktur tetapi juga kualitas bangunan ruang terbuka hijau, taman-
taman kota, hutan kota, jalur hijau sebagai bagian dari lingkungan. Kota taman
atau “Green City” sebagai konsep realisasi RTH di Surabaya, diharapkan terjadi
keseimbangan tata guna lahan untuk pembangunan dibidang ekonomi, social-
politik, budaya dan lingkungan dan mencapai tujuan dibentuknya RTH dalam
berkehidupan di Surabaya. Pemerintah Kota Surabaya, sudah berusaha menata
RTH lebih baik dari sebelumnya, diawali dari Ibu Tri Rismaharini yang pada saat
itu menjabat sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Madya
Surabaya. Beliau memulai dengan menghijaukan dan menata kembali jalur-jalur
hijau, taman rekreasi kota dan taman-taman kota di Surabaya yang sudah lama
tidak diperhatikan. Penataan penghijauan di Surabaya masih diteruskan sampai
kini oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Madya Surabaya dan berhasil
menghijaukan sebagian besar jalur-jalur hijau, taman-taman kota, taman-taman
rekreasi kota dan hutan kota, sehingga telah mempercantik dan mempersegar kota
Surabaya (Widigdo & Canadarma, 2014).

Sejak tahun 2002, Kota Surabaya giat meningkatkan pembangunan dan


pengelolaan taman kota. Keseriusan tersebut diiringi dengan dikeluarkannya
Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 7 Tahun 2002 Tentang Pengelolaan
Ruang Terbuka Hijau. Dibuktikan pula dengan upaya keras Pemerintah Kota
Surabaya dalam mengembalikan fungsi RTH pada tiga belas taman yang
direvitalisasi dari lahan bekas stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Terdapat proses kolaborasi dalam penyediaan ruang terbuka hijau taman


kota yaitu dengan melakukan dialog tatap muka sebagai proses awal untuk
membentuk kesepakatan bersama dalam kolaborasi yang dilakukan dan
melakukan pembahasan terkait teknis kerjasama yang dijalin antara Organisasi
Perangkat Daerah kota Surabaya dengan pihak ketiga. Setelah itu, para pihak
melakukan peninjauan lokasi yang bertujuan untuk memastikan lokasi lahan
memiliki status yang jelas sebagai aset pemerintah kota Surabaya, memastikan
kesesuaian perencanaan pembangunan dengan rencana tata ruang wilayah kota,
provinsi, dan nasional, melakukan penertiban, dan melakukan pendataan terhadap
masyarakat yang berada pada bangunan liar yang akan dialihfungsikan.

Kemudian kolaborasi pembangunan, para pihak memulai untuk melakukan


proses pembangunan ruang terbuka hijau taman kota. Pada tahap pembangunan
ruang terbuka hijau taman kota, jika tidak disertai dengan keterlibatan pihak
ketiga, pihak organisasi perangkat daerah yang terlibat adalah Dinas Kebersihan
dan Ruang Terbuka Hijau, Dinas PU Bina Marga, dan terdapat keterlibatan Dinas
Pengelolaan Bangunan dan Tanah dalam proses pembangunan fisik, seperti
pembangunan fasilitas umum yakni toilet umum. Keterlibatan Dinas PU Bina
Marga pada pengerukan saluran air untuk mengolah tanah, membongkar
bangunan liar, mensupplai tanah, membangun pedestrian, melakukan penanaman
pohon dan pembuatan saluran, air mancur, dan jembatan. Keterlibatan Dinas
Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau dalam pembangunan ruang terbuka hijau
terlibat dalam pembangunan taman aktif secara keseluruhan, mengolah hasil
limbah menjadi tanah untuk media tanam, dan mengubah sampah menjadi
kompos. Kemudian jika dalam penyediaan ruang terbuka hijau taman kota
melibatkan pihak ketiga, bentuk keterlibatan pihak ketiga dalam pembangunan
ruang terbuka hijau taman kota berupa pembangunan secara keseluruhan area
ruang terbuka hijau taman kota atau berupa penyediaan zona tertentu, seperti
penyediaan air mancur, wahana bermain anak, wifi dan tempat berolahraga.
Terakhir penyerahan asset, pihak ketiga yang memberikan bantuan hibah atau
terlibat dalam kolaborasi penyediaan ruang terbuka hijau taman kota di Surabaya
dapat menyerahkan aset yang telah dibangun dengan dua cara. Yang pertama
dilakukan secara ceremonial, artinya penyerahan aset dari pihak ketiga ke pihak
pemerintah kota Surabaya, dilakukan secara resmi, dilangsungkan ketika ada
acara seperti ulang tahun kota Surabaya, atau acara gathering. Yang kedua
dilakukan dengan tanda tangan permeja, tidak ada kegiatan ceremonial yang
dilakukan. Pada tahap penyerahan aset, terdapat empat organisasi perangkat
daerah yang terlibat, Bagian Administrasi dan Kerjasama, Dinas Kebersihan dan
Ruang Terbuka Hijau, Bagian Hukum dan Bagian Layanan Pengadaan dan
Pengelolaan Aset.

C. Evaluasi Pembangunan Taman Bungkul Surabaya


Taman Bungkul salah satunya, merupakan RTH yang letaknya strategis
karena berada di pusat Kota Surabaya yang rawan kemacetan. Taman ini adalah
taman aktif yang berisi aneka tanaman dan pepohonan hijau serta dilengkapi
berbagai sarana pendukung seperti jogging track, taman bermain anak, akses
internet nirkabel, amfiteater, arena skateboard, perpustakaan serta digunakan
sebagai sarana edukasi pengolahan air dan pengolahan sampah. Semua
pengunjung dapat mengakses fasilitas yang ada secara gratis. Selain dikenal
dengan wisata umum, Taman Bungkul juga dikenal sebagai taman dengan wisata
religi karena di dalam area taman ini dimakamkan Sunan Bungkul, seorang tokoh
penyebar agama Islam di Surabaya Tidak hanya itu, pelayanan publik juga dapat
diperoleh di Taman Bungkul.

Taman ini menyediakan Bus Pelayanan SIM Keliling Polrestabes


Surabaya bagi pengunjung yang ingin melakukan perpanjangan SIM. Taman
Bungkul direvitalisasi dan diresmikan pada 21 Maret 2007. Menggunakan tema
Sport, Education, and Entertainment, taman ini berubah dari yang semula hanya
areal kumuh, tidak terawat, dan terkenal angker menjadi taman unggulan dan
kebanggaan Kota Surabaya. Walikota Tri Rismaharini melakukan zoning agar
pemanfaatan fasilitas Taman Bungkul lebih tertata. Fasilitas publik yang relatif
lengkap dapat dilihat pada areal taman ini.

Model kolaborasi pengelolaan Taman Bungkul didalamnya melibatkan


kolaborasi antara Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau Kota Surabaya dan
Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya, Dinas Pengelolaan dan
Bangunan Tanah Kota Surabaya, Organisasi Perangkat Daerah kota Surabaya,
Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau, Dinas PU Bina Marga, Bagian
Administrasi dan Kerjasama, Bagian Hukum dan Bagian Layanan Pengadaan dan
Pengelolaan Aset warga masyarakat pengunjung Taman Bungkul, dan komunitas
di Taman Bungkul. Setiap stakeholders memiliki peran, tugas dan tanggung jawab
yang berbeda beda. Di dalam model kolaborasi tersebut terdapat partisipasi untuk
mencapai tujuan bersama. Partisipasi aktor kolaborasi mendorong terciptanya
komitmen dan kepercayaan internal sehingga memudahkan dilakukannya
konsensus aktor kolaborasi dalam menentukan tindakan tindakan pengelolaan
taman. Wujud partisipasi masing masing aktor dalam pengelolaan taman juga
dipengaruhi oleh motivasi interdependensi, kepemimpinan, monitoring, dan
transparansi.

Pada model kolaborasi pengelolaan Taman Bungkul ini juga mengalami


hambatan diantaranya adalah tidak adanya ketentuan khusus sebagai pedoman
untuk seluruh aktor sehingga peran, tugas, dan tanggung jawab masing masing
aktor serta prosedur pengawasan dan target yang ingin dicapai kolaborasi
cenderung tidak jelas. Sedangkan kendala kendala dalam model kolaborasi
pengelolaan Taman Bungkul adalah masih adanya konflik diantara beberapa aktor
yang umumnya terkait penggunaan lahan dan konflik tersebut hingga saat ini
belum menemukan solusi karena antar aktor cenderung tidak terbuka atas
permasalahan yang dihadapi. Hal tersebut dikarenakan belum pernah diadakannya
pertemuan yang melibatkan seluruh aktor kolaborasi dan belum maksimalnya
peran DKRTH sebagai koordinator dalam memfasilitasi dialog antar aktor. Tidak
adanya mekanisme pengaduan juga menyebabkan sebagian besar masyarakat
jarang memberikan kritik, usulan, dan pendapatnya terkait pengelolaan Taman
Bungkul. Masyarakat sekitar juga belum banyak dilibatkan dalam tindakan
tindakan pengelolaan taman sehingga menandai masih kurangnya peran serta
masyarakat dalam kolaborasi pengelolaan Taman Bungkul. Kendala lainnya
adalah terbatasnya lahan parkir menyebabkan penataan parkir di taman tersebut
menjadi tidak rapi dan seringkali menimbulkan kemacetan di sekitar taman
khususnya ketika diadakan kegiatan tertentu di Taman Bungkul. Hal tersebut
menjadi permasalahan yang muncul dari adanya pengelolaan taman secara
kolaboratif karena pengunjung taman semakin meningkat.
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Ruang terbuka hijau atau biasa dikatakan Taman Kota dapat menjadi
pilihan lokasi kunjungan alternatif untuk dimanfaatkan sebagai area untuk
melakukan aktifitas rekreasi, olahraga, atau sarana hiburan lainnya dengan
didukung fasilitas sebagai sarana edukasi. Pada kondisi awal penyediaan ruang
terbuka hijau taman kota di Surabaya, terdapat dua tahapan yang dilakukan,
pertama melakukan perencanaan, kedua melakukan penyediaan lahan. Kemudian
kolaborasi pembangunan, para pihak memulai untuk melakukan proses
pembangunan ruang terbuka hijau taman kota. Pada tahap pembangunan ruang
terbuka hijau taman kota, jika tidak disertai dengan keterlibatan pihak ketiga,
pihak organisasi perangkat daerah yang terlibat adalah Dinas Kebersihan dan
Ruang Terbuka Hijau, Dinas PU Bina Marga, dan terdapat keterlibatan Dinas
Pengelolaan Bangunan dan Tanah dalam proses pembangunan fisik, seperti
pembangunan fasilitas umum yakni toilet umumKota taman atau “Green City”
sebagai konsep realisasi RTH di Surabaya, diharapkan terjadi keseimbangan tata
guna lahan untuk pembangunan dibidang ekonomi, social-politik, budaya dan
lingkungan dan mencapai tujuan dibentuknya RTH dalam berkehidupan di
Surabaya. Pada model kolaborasi pengelolaan Taman Bungkul ini juga
mengalami hambatan diantaranya adalah tidak adanya ketentuan khusus sebagai
pedoman untuk seluruh aktor sehingga peran, tugas, dan tanggung jawab masing
masing aktor serta prosedur pengawasan dan target yang ingin dicapai kolaborasi
cenderung tidak jelas. Sedangkan kendala kendala dalam model kolaborasi
pengelolaan Taman Bungkul adalah masih adanya konflik diantara beberapa aktor
yang umumnya terkait penggunaan lahan dan konflik tersebut hingga saat ini
belum menemukan solusi karena antar aktor cenderung tidak terbuka atas
permasalahan yang dihadapi.
DAFTAR PUSTAKA
Irmadella, A. (2018). Model Kolaborasi Stakeholders Dalam Pengelolaan Ruang
Terbuka Hijau ( Rth ) Taman Bungkul Kota Surabaya, 6(2), 1–11.

Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 7 Tahun 2002 Tentang Pengelolaan


Ruang Terbuka Hijau. (2002).

Rahadian, A. H. (2016). Strategi Pembangunan Berkelanjutan, III(01), 46–56.

Ulfa, L. M. (2018). Collaborative Governance Dalam Penyediaan Ruang Terbuka


Hijau ( Rth ) Taman Kota Di Surabaya, 6(3), 1–11.

Widigdo, W., & Canadarma, I. K. (2014). Surabaya Sebagai Kota Taman Atau “
Green City ,” (2003).

Yolanda, G., & Masnuna. (2015). Buku Infografis Taman Kota Di Surabaya, 4(2),
275–290.

Anggara, S., & Sumantri, I. (2016). Administrasi Pembangunan : Teori dan Praktik.
Bandung: Pustaka Setia.

Indrawijaya, I. A., & Pranoto, J. (2011). Revitalisasi Administrasi Pembangunan.


Bandung: Alfabeta.

Siagian, P. S. (2003). Administrasi Pembangunan. (Bumi Aksara, Ed.). Jakarta.