Anda di halaman 1dari 60

TUGAS MATA KULIAH

ILMU BEDAH VETERINER


(Premedikasi dan Anestesi)

“ANESTESI UMUM INJEKSI PADA KUCING”

KELAS 2016 C

NIM : 1609511042
NAMA : I DEWA AGUNG MADE WIHANJANA PUTRA

LABORATORIUM BEDAH VETERINER


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN 2019

i
RINGKASAN

Kucing adalah salah satu hewan peliharaan terpopuler di dunia. Berbagai


jenis penyakit pun dapat menyerang kucing, baik yang bersifat infeksius maupun
non-infeksius. Banyak diantara penyakit tersebut yang tidak dapat ditangani dengan
obat-obatan, sehingga untuk penanganannya dibutuhkan bebrapa metode anastesi
untuk tindakan pembedahan.
Anestesi umum adalah keadaan hilangnya nyeri di seluruh tubuh dan
hilangnya kesadaran yang bersifat sementara yang dihasilkan melalui penekanan
sistem saraf pusat karena adanya induksi secara farmakologi atau penekanan
sensori pada saraf.Berbagai prosedur diagnostik dan operasi di dunia kedokteran
hewan sering memerlukan tindakan anestesi.Kucing memerlukan perhatian khusus
dalam prosedur anestesi karena sulit ditangani, memiliki kelenturan otot tinggi,
gerakannya cepat, mudah stres, serta dapat mencakar dan menggigit. Kematian
akibat tindakan anestesi pada kucing dengan kondisi status fisik hewan sehat
{resiko minimal) adalah 1.06%, resiko ringan 1.11%, resiko sedang 3.33 %, dan
resiko berat 33.33% . Obat anastesi umum injeksi yang byasanya digunakan pada
kucing adalah ketamine, xylazine, atropin, dan zoletil. Ketamine sering
dikombinasikan dengan xylazine maupun zoletil. Kombinasi antara ketamin dan
xylazin merupakan kombinasi yang paling baik bagi kedua agen ini, untuk
menghasilkan analgesia dibandingkan dengan zoletil.

Kata Kunci : anestesi, ketamine, xylazine, atropin, zoletil, kucing , injeksi

ii
SUMMARY

Cats are one of the most popular pets in the world. Various types of diseases
can attack cats, both infectious and non-infectious. Many of these diseases cannot
be treated with drugs, so that for handling them some anesthetic methods are needed
for surgery.
General anesthesia is a condition of pain relief throughout the body and
temporary loss of consciousness generated through the suppression of the central
nervous system because of the induction of pharmacologically or sensory emphasis
on saraf. Various diagnostic procedures and surgery in the veterinary world often
requires action anestesi. Cats need attention specialized in anesthesia because it is
difficult to handle, has a high muscle tone, movement quickly, easily stressed, and
can scratch and bite. Deaths from anesthesia in cats with the condition of the
physical status of healthy animals {minimal risk) is 1:06% 1:11% risk of mild,
moderate risk 3:33%, and 33.33% risk weight. General anesthetic injection usually
used in cats is ketamine, xylazine, atropine, and zoletil. Ketamine is often combined
with xylazine and zoletil. The combination of ketamine and xylazin is the best
combination for both of these agents, to produce analgesia compared with zoletil.

Keywords: anesthesia, ketamine, xylazine, atropine, zoletil, cats, injection

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmat-Nyalah saya dapat menyelesaikan paper dengan judul “Anestesi Umum
Injeksi Pada Kucing” ini tepat pada waktunya. Paper ini dibuat untuk memenuhi
tugas Ilmu Bedah Veteriner.
Tugas ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah tugas Ilmu Bedah
Umum Veteriner. Pada kesempatan ini Penulis mengucapkan terima kasih kepada
pihak yang telah membantu Penulis dalam menyelesaikan tugas ini baik berupa
pikiran, tenaga, bahkan dana.
Penulis menyadari bahwa paper ini belum sempurna. Oleh karena itu,
Penulis menerima dengan senang hati apabila ada kritik dan saran yang membangun
dari pembaca. Akhir kata semoga paper ini dapat bermanfaat bagi kita.

Denpasar, 28 Februari 2019

Hormat saya,

Penulis

iv
DAFTAR ISI

Halaman Judul ......................................................................................... i


Ringkasan ................................................................................................ ii
Summary ................................................................................................ iii
Kata Pengantar ......................................................................................... iv
Daftar Isi.................................................................................................. v
Daftar Gambar ......................................................................................... vi
Daftar Lampiran ...................................................................................... vii
Bab I Pendahuluan
1.1. Latar Belakang ............................................................................ 1
1.2. Rumusan Masalah ....................................................................... 1
Bab II Tujuan dan Manfaat
2.1. Tujuan Penulisan ........................................................................ 2
2.2. Manfaat Penulisan ...................................................................... 2
Bab III Tinjauan Pustaka
3.1. Klasifikasi dan Morfologi kucing ............................................... 3
3.2. Anestesi ..................................................................................... 4
3.3. Anestesi Umum Injeksi .............................................................. 5
Bab IV Pembahasan
4.1. Tahapam Anestesi ..................................................................... 6
4.2. Obat Anestesi Umum Injeksi ..................................................... 8
4.3. Kombinasi Obat Anestesi Umum Injeksi ................................... 17
4.4. Metode Anestesi Umum Injeksi ................................................. 18
Bab V Simpulan dan Saran
5.1. Kesimpulan ................................................................................. 20
5.2. Saran ........................................................................................... 20
Daftar Pustaka ......................................................................................... 21
Lampiran Jurnal ....................................................................................... 23

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kucing lokal ........................................................................... 4

Gambar 2. Ketamin .................................................................................. 10

Gambar 3. Thiopental .............................................................................. 11

Gambar 4. Xylazin ................................................................................... 13

Gambar 5. Zilotil ..................................................................................... 15

Gambar 6. Propofol.................................................................................. 17

vi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Apritya Desty et al. 2013. Perbandingan mula dan lama kerja anestesi
umum dengan premedikasi antara acepromazine dengan kombinasi
acepromazine-atropine sulfat pada kucing lokal (felis domestica). Bagian
Klinik Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Wijaya Kusuma
Surabaya1 Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Wijaya Kusuma
Surabaya
Lampiran 2. Chairul Fadhli et al. 2016. Perbandingan Onset Dan Sedasi Ketamin-
Xilazin Dan Propofol Pada Anjing Jantan Lokal (Canis Familiaris). Jurnal
Medika Veterinaria. 10 (2) : 94-96.
Lampiran 3. R.E. Pertiwi, S. Widodo, dan R.H. Soehartono.2004. Perbandingan
Gambaran Klinis Antara Kombinasi Atropin Sulfas-Xylazine-Ketamine
Dan Kombinasi Atropin Sulfas- M Id Azolam-Ket Amine Pada Kucing.
Forum Pascasarjana Vol. 27 No 2 April 2004 123-134
Lampiran 4. Nesgash, A et al. 2016. Evalution of General Anesthesia Using
Xylazine-Ketamine Combination with and without Diazipam for
Ovariohysterectomy in Bitches. J Vet Sci Technol. 7 (6) : 1-6.

vii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kucing adalah salah satu hewan peliharaan terpopuler di dunia. Kucing
yang garis keturunannya tercatat secara resmi sebagai kucing trah atau galur murni
(pure breed), seperti angora persia, siam, manx, sphinx. Kucing seperti ini biasanya
dibiakkan di tempat pemeliharaan hewan resmi. Jumlah kucing ras hanyalah 1%
dari seluruh kucing di dunia, sisanya adalah kucing dengan keturunan campuran
seperti kucing liar atau kucing kampung Kucing dalam bahasa latinnya Felis
silvestris catus, adalah sejenis karnivora. Kata "kucing" biasanya merujuk kepada
"kucing" yang telah dijinakkan, tetapi bisa juga merujuk kepada "kucing besar"
seperti singa, harimau, dan macan. Kucing telah berbaur dengan kehidupan manusia
paling tidak sejak 6.000 tahun SM, dari kerangka kucing di Pulau Siprus. Orang
Mesir Kuno dari 3.500 SM telah menggunakan kucing untuk menjauhkan tikus atau
hewan pengerat lain dari lumbung yang menyimpan hasil panen(Remington, 2007).
Anestesi umum dapat diberikan secara parenteral dan inhalasi (Erwin et al
2013). Anestesi umum adalah keadaan hilangnya nyeri di seluruh tubuh dan
hilangnya kesadaran yang bersifat sementara yang dihasilkan melalui penekanan
sistem saraf pusat karena adanya induksi secara farmakologi atau penekanan
sensori pada saraf. Anestesi umum merupakan kondisi hilangnya respon rasa nyeri
(analgesia), hilangnya ingatan (amnesia), hilangnya respon terhadap rangsangan
atau refleks dan hilangnya gerak spontan (immobility), serta hilangnya kesadaran
(unconsciousness) (McKelvey dan Hollingshead, 2003).
Dari latar belakang penulis akan mengulas tentang “Anestesi Umum Injeksi
pada Kucing” mengingat pentingnya pengetahuan tentang anestesi umum injeksi
pada kucing dan ilmunya sangat penting dalam praktik nantinya.

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimana tahapan anestesi umum?
2. Apa saja obat anestesi umum injeksi pada kucing?
3. Bagaimana kombinasi obat anestesi umum injeksi pada kucing?
4. Bagaimana metode anestesi umum injeksi pada kucing?

1
BAB II
TUJUAN DAN MANFAAT TULISAN

2.1. Tujuan Penulisan


Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penulisan paper ini
adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui tahapan anestesi umum.
2. Untuk mengetahui obat anestesi umum injeksi pada kucing.
3. Untuk kombinasi obat anestesi umum injeksi pada kucing.
4. Untuk mengetahui metode anestesi umum injeksi pada kucing.

2.2. Manfaat Penulisan


Semoga hasil tulisan ini bermanfaat bagi pembaca, menambah wawasan dan
diharapkan dapat menjadi referensi dalam mengkombinasikan anestesi injeksi pada
kucing.

2
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Klasifikasi dan Morfologi Kucing

Kucing domestik adalah salah satu hewan karnivora sejati yang berada
dalam satu famili Felidae dengan 37 spesies kucing lain yang antara lain
mencakup cheetah, puma, jaguar, macan tutul, singa, lynx, dan harimau. Kucing
lokal atau kucing kampung (Felis domestica) sulit disebut sebagai kucing bergalur
murni secara genetik karena perkawinan hewan ini sulit diamati dan dikontrol,
sehingga keturunan yang dihasilkan pun sudah tergolong campuran yang tidak
jelas.

Klasifikasi kucing kampung (Felis domestica) menurut Fowler adalah


sebagai berikut:

Kingdom : Animalia,

Phylum : Chordata,

Sub phylum : Vertebrata,

Kelas : Mamalia,

Ordo : Carnivora,

Sub ordo : Conoidea,

Famili : Felidae,

Sub famili : Felinae,

Genus : Felis,

Spesies : Felis domestica.

Kucing dapat dikelompokkan berdasarkan ukuran tubuhnya, lebih dari 50


% atau sekitar 20 spesies tergolong kucing kecil (small cat), 30 % atau sekitar 11
spesies termasuk kucing berukuran sedang dan sisanya sekitar 7 spesies termasuk
kucing besar (big cats) (Titin Tambing, 2014).

3
Gambar 1. Kucing Lokal
Sumber : vetstreet.com (2016)
3.2. Anestesi
Anestesi merupakan tahapan yang sangat penting pada tindakan
pembedahan, karena pembedahan tidak dapat dilakukan bila anestesi belum
dilaksanakan. Sejarah menunjukkan ilmu bedah mengalami revolusi pesat setelah
eter ditemukan sebagai anestetik oleh William Thomas Green Morton pada tahun
1846 (Pretto, 2002; Miller, 2010). Anestesi umum juga mempunyai resiko sangat
besar dari prosedur pembedahan karena nyawa pasien yang dianestesi dapat
terancam, sehingga diperlukan pemilihan anestetik yang benar-benar aman dan
ideal. Sampai saat ini, belum ada anestesi yang dijamin aman untuk pasien dan
memenuhi kriteria ideal, yaitu anestesi yang menghasilkan analgesi, sedasi,
relaksasi, dan menghasilkan suatu keadaan tidak sadar/unconsciousness, aman
untuk sistem vital, serta mudah diaplikasikan (Fossum, 1997).
Tujuan penggunaan anestesi pada hewan adalah untuk melakukan
pengendalian hewan (restraint), keperluan penelitian biomedis, pengamanan
pemindahan (transportasi) hewan liar, pemotongan hewan yang humanis, dan
untuk melakukan ruda paksa (euthanasia). Secara umum tujuan pemberian
anestetikum pada hewan adalah mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri
dengan meminimalkan kerusakan organ tubuh dan membuat hewan tidak terlalu
banyak bergerak. Semua tujuan anestesi dapat dicapai dengan pemberian obat
anestetikum secara tunggal maupun dalam bentuk balanced anesthesia, yaitu
mengkombinasikan beberapa agen anestetikum maupun dengan agen
preanestetikum (McKelvey dan Hollingshead 2003; Tranquilli et al. 2007).

4
3.3. Anestesi Umum Injeksi

Anestesi umum dapat didefinisikan sebagai keadaan umum dari depresi


fungsi sistem saraf pusat (Central Nervous System) yang menyebabkan hilangnya
respon dan persepsi terhadap rangsangan eksternal yang diberikan, tetapi hal ini
tidak berlangsung secara permanen (Evers dan Crowder,2001). Menurut Trevor
dan Miller (1998) Stadium dalam anestesi umum meliputi analgesia, amnesia,
hilangnya kesadaran, terhambatnya sensorik dan reflek otonom serta relaksasi
otot. Keadaan ini dicapai dengan pemberian obat anestesi umum baik melalui
injeksi, inhalasi, maupun kombinasi dari keduanya (Pablo, 2003).

Pada anestesi injeksi yang baik memiliki sifat-sifat tidak mengiritasi


jaringan, tidak menimbulkan rasa nyeri pada saat diinjeksi, asorbsinya cepat,
waktu induksi, durasi dan masa pulih dari anestesia berjalan mulus, tidak ada
tremor otot, memiliki indeks terapuetik yang tinggi, tidak bersifat toksik,
minimalisasi efek samping pada organ tubuh seperti saluran pernafasan dan
kardiovaskuler, cepat dimetabolisme, tidak bersifat akumulatif, dapat
dikombinasikan dengan obat lain seperti relaksan otot, analgesik, dan sudah
diketahui antidotnya. Untuk mendapatkan efek anestesia yang diinginkan dengan
efek samping seminimal mungkin, anestesi dapat digabungkan atau
dikombinasikan antara beberapa anestesi atau dengan zat lain sebagai preanestesi
dalam sebuah teknik yang disebut balanced anesthesia (Mc Kelvey dan
Hollingshead, 2003).

5
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1. Tahapan Anestesi

Tahapan anestesi sangat penting untuk diketahui terutama dalam


menentukan tahapan terbaik untuk melakukan pembedahan, memelihara tahapan
tersebut sampai batas waktu tertentu, dan mencegah terjadinya kelebihan dosis
anestetikum. Tahapan anestesi dapat dibagi dalam beberapa langkah (McKelvey
dan Hollingshead2003) , yaitu :

a. Preanestesi
Tahap preanestesi merupakan tahapan yang dilakukan segera sebelum
dilakukananestesi, dimana data tentang pasien dikumpulkan, pasien dipuasakan,
serta dilakukan pemberian pre-anestetikum.
b. Induksi
Induksi adalah proses dimana hewan akan melewati tahap sadar yang
normal atau conscious menuju tahap tidak sadar atau unconscious. Agen induksi
dapat diberikansecara injeksi atau inhalasi. Apabila agen induksi diberikan secara
injeksi maka akan diikuti dengan intubasi endotracheal tube untuk pemberian
anestetikum inhalasi ataugas menggunakan mesin anestesi. Waktu minimum
periode induksi biasanya 10 menit apabila diberikan secara intramuskular (IM) dan
sekitar 20 menit apabila diberikan secara subkutan (SC).Tahap induksi ditandai
dengan gerakan tidak terkoordinasi, gelisah dan diikuti dengan relaksasi yang cepat
serta kehilangan kesadaran.Idealnya, keadaan gelisah dan tidak tenang dihindarkan
pada tahap induksi, karenamenyebabkan terjadinya aritmia jantung.Preanestesi dan
induksi anestesi dapat diberikan secara bersamaan, seperti pemberian acepromazin,
atropine, dan ketamine dicampur dalam satu alat suntik dan diberikan secara
intravena (IV) pada kucing.
c. Pemeliharaan,
Selanjutnya hewan akan memasuki tahap pemeliharaan status teranestesi.
Pada tahap pemeliharaan ini, status teranestesi akan terjaga selama masa tertentu
dan pada tahap inilah pembedahan atau prosedur medis dapat dilakukan. Tahap
pemeliharaan dapat dilihat dari tanda-tanda hilangnya rasa sakit atau analgesia,

6
relaksasi otot rangka, berhenti bergerak, dilanjutkan dengan hilangnya refleks
palpebral, spingter ani longgar, serta respirasi dan kardiovaskuler tertekan secara
ringan.Begitu mulai memasuki tahap pemeliharaan, respirasi kembali teratur dan
gerakan tanpa sengaja anggota tubuh berhenti. Bola mata akan bergerak menuju
ventral, pupil mengalami konstriksi, dan respon pupil sangat ringan. Refleks
menelan sangat tertekan sehingga endotracheal tube sangat mudah dimasukkan,
refleks palpebral mulai hilang, dankesadaran mulai hilang.Anestesi semakin dalam
sehingga sangat nyata menekan sirkulasi dan respirasi.Pada anjing dan kucing,
kecepatan respirasi kurang dari 12 kali per menit dan respirasi semakin
dangkal.Denyut jantung sangan rendah dan pulsus sangat menurun karena terjadi
penurunan seluruh tekanan darah. Nilai CRT akan meningkat menjadi 2 atau 3
detik. Semua refleks tertekan secara total dan terjadirelaksasi otot secara sempurna
serta refleks rahang bawah sangat kendor. Apabilaanestesi dilanjutkan lebih dalam,
pasien akan menunjukkan respirasi dankardiovaskuler lebih tertekan dan pada
keadaan dosis anestetikum berlebih akan menyebabkan respirasi dan jantung
berhenti. Dengan demikian, pada tahap pemeliharaan sangat diperlukan
pemantauan dan pengawasan status teranestesi terhadap sistim kardiovaskuler dan
respirasi (McKelvey dan Hollingshead 2003;Tranquilliet al.2007 ).
d. Pemulihan
Ketika tahap pemeliharaan berakhir, hewan memasuki tahap pemulihan
yangmenunjukkan konsentrasi anestetikum di dalam otak mulai menurun.Metode
ataumekanisme bagaimana anestetikum dikeluarkan dari otak dan sistem sirkulasi
adalah bervariasi tergantung pada anestetikum yang digunakan.Sebagian besar
anestetikuminjeksi dikeluarkan dari darah melalui hati dan dimetabolisme oleh
enzim di hati danmetabolitnya dikeluarkan melalui sistem urinari.Pada hewan
kucing, ketamine tidak mengalami metabolisme dan dikeluarkan langsung tanpa
perubahan melalui ginjal.Kadar anestetikum golongan tiobarbiturat di dalam otak
dapat dengan cepat menurunkarena dengan cepat disebarkan ke jaringan terutama
otot dan lemak, sehingga hewanakan sadar dan terbangun dengan cepat mendahului
ekskresi anestetikum dari dalam tubuh hewan. Anestetikum golongan inhalasi akan
dikeluarkan dari tubuh pasien melalui sistem respirasi, molekul anestetikum akan
keluar dari otak memasuki peredaran darah, alveoli paru-paru, dan akhirnya

7
dikeluarkan melalui nafas. Tanda - tanda adanya aktivitas refleks, ketegangan otot,
sensitivitas terhadap nyeri pada periode pemulihan dinyatakan sebagai kesadaran
kembali (McKelvey danHollingshead 2003).Durasi atau lama waktu kerja
anestetikum dan kualitas anestesi dapat dilihatdari pengamatan perubahan fisiologis
selama stadium teranestesi.Dikenal dua waktu induksi pada durasi anestesi.Waktu
induksi 1 adalah waktu antara anestetikumdiinjeksikan sampai keadaan hewan tidak
dapat berdiri.Waktu induksi 2 adalah waktu antara anestetikum diinjeksikan sampai
keadaan hewan tidak ada refleks pedalatau hewan sudah tidak merasakan sakit
(stadium operasi).Durasi adalah waktu ketika hewan memasuki stadium operasi
sampai hewan sadar kembali dan merasakan sakit jika daerah disekitar bantalan jari
ditekan.Waktu siuman atau recovery adalah waktu antara ketika hewan memiliki
kemampuan merasakan nyeri bila syaraf disekitar jari kaki ditekan atau
mengeluarkan suara sampai hewan memiliki kemampuan untuk duduk sternal,
berdiri atau jalan.

4.2 Obat Anestesi Umum Injeksi

Obat anestesi umum dapat digunakan melalui injeksi, inhalasi, atau melalui
gabungan secara injeksi dan inhalasi. Anestetikum dapat digabungkan atau
dikombinasikan antara beberapa anestetikum atau dengan zat lain sebagai
preanestetikum dalam sebuah teknik yang disebut balanced anesthesia untuk
mendapatkan efek anestesi yang diinginkan dengan efek samping minimal.
Anestetika umum yang diberikan secara injeksi meliputi barbiturat (tiopental,
metoheksital, dan pentobarbital), cyclohexamin (non barbiturat) (ketamine,
tiletamin), etomidat, dan propofol. (McKelvey dan Hollingshead 2003; Garcia et
al. 2010).
a. Ketamin
Ketamin merupakan obat tunggal untuk tindakan operasi kecil pada hewan
penderita beresiko tinggi, biasanya ketamin juga dikombinasi dengan beberapa
obat sedatif (penenang). Obat ini dikenal sebagai agen anestesi umum non
barbiturat yang berefek atau bekerja cepat, dan termasuk golongan Phenylcyclo
Hexylamine dengan rumus kimia 2-(0-chlorophenil)-2(methylamino)
cyclohexanone hyidroclhoride (Kusumawati 2004).

8
Ketamin merupakan disosiatif anestetikum yang mempunyai sifat
analgesik, anastetik, dan kataleptik dengan kerja singkat (Gunawan et al.
2009). Ketamin diklasifikasikan sebagai anestesi disosiatif karena penderita
tidak sadar dengan cepat, namun mata tetap terbuka tapi sudah tidak
memberikan respon rangsangan dari luar. Dalam anestesi hewan, ketamin
sering digunakan pada kucing, anjing, kelinci, tikus, dan beberapa hewan kecil
lainnya untuk pemberian efek anestesi dan analgesik. Ketamin juga sering
digunakan atau di kombinasikan dengan obat penenang agar menghasilkan
anastesi seimbang dan analgesia, serta sebagai infus tingkat konstan yang
membantu mencegah rasa sakit (Hilbery et al.1992).

Pemberian ketamin dapat diberikan dengan mudah pada penderita


secara intramuskuler. Obat ini menimbulkan efek analgesia yang sangat baik
dan dapat dikatakan sempurna dengan hanya diikuti tidur yang superfisial. Hal
ini dapat dilihat pada penderita yang diberikan ketamin sering menunjukkan
gerakan spontan dari ekstrimitasnya walaupun pelaksanaan operasi telah
dilakukan. Keadaan ini disebabkan titik tangkap kerjanya pada daerah kortek
dari otak dibanding dengan obat anestesi lainnya yang titik tangkap kerjanya
adalah reticular actifiting system dari otak. Dosis ketamin pada kucing yaitu
10-30 mg/kg secara intra muskuler. Ketamin menyebabkan pasien dalam
kondisi tidak sadar dalam durasi yang cepat namun mata masih tetap terbuka
tetapi tidak memberikan respon rangsangan dari luar. Selain itu ketamin juga
memiliki efek anestetikum yang dapat menekan hipotalamus sehingga
menyebabkan penurunan temperatur tubuh (Titin Tambing, 2014).
Sifat-sifat ketamin, yaitu larutan tidak berwarna, stabil pada suhu
kamar, dan suasana asam (pH 3,5 – 5,5). Adapun farmakokinetik dari ketamin
adalah sebagian besar ketamin mengalami dealkilasi dan dihidrolisis dalam
hati, kemudian dieksresi terutama dalam bentuk metabolik dan sedikit dalam
bentuk utuh. Ketamin dengan pemberian tunggal bukan anestetik yang bagus,
karena obat ini tidak merelaksasi muskulus bahkan kadang-kadang tonus
sedikit meningkat .Efek puncak pada hewan umumnya tercapai dalam waktu
6-8 menit dan anestesi berlangsung selama 30-40 menit, sedang untuk
pemulihan membutuhkan waktu sekitar 5-8 jam. Ketamin merupakan salah

9
satu jenis anesthesi yang sering digunakan pada kucing untuk beberapa jenis
operasi. Efek ketamin dapat merangsang simpatetik pusat yang akhirnya
menyebabkan peningkatan kadar katekolamin dalam plasma dan
meningkatkan aliran darah. Karena itu ketamin digunakan bila depresi sirkulasi
tidak dikehendaki. Sebaliknya, efek-efek ini meringankan penggunaan ketamin
pada penderita hipertensi atau stroke. Kelemahan dari anastetika ini
menyebabkan terjadinya depresi pernafasan dan tidak memberikan pengaruh
relaksasi pada muskulus, yang karenanya sering dikombinasikan dengan obat
yang mempunyai pengaruh terhadap relaksasi muskulus (Titin Tambing,
2014).

Gambar 2. Ketamin
Sumber : Pirade, P.F. 2015
b. Tiopental
Obat ini merupakan salah satu anestesi umum golongan barbiturat ultra
short acting. Obat golongan barbiturat ini dalam bentuk garam sodium
dilarutkan dalam air menjadi larutan 2,5% atau 5% dengan pH 10,8.
Metabolisme utamanya terjadi di hepar, hanya sebagian kecil keluar lewat
urine tanpa mengalami perubahan. Tiopental atau Pentotal 10-15% dari dalam
tubuh akan dimetabolisir setiap jam. Kesadaran kembali hewan penderita
diperoleh dengan cepat disebabkan pemecahan dalam hepar yang cepat karena
itu obat ini termasuk dengan daya kerja sangat singkat. Dalam jumlah kecil
Tiopental atau Pentotal masih ditemukan dalam darah 24 jam setelah
pemberian (Sardjana dan Kusumawati, 2011).

10
Pada susunan saraf pusat, obat ini menimbulkan sedasi, hipnosis dan depresi
pernapasan tergantung pada dosis dan kecepatan pemberian obat. Efek
analgesia sedikit dan terjadinya depresi serta diikuti kesadarannya menurun
secara progresif. Efek pernafasan utamanya adalah depresi pada pusat
pernapasan dan pada kardiovaskuler ini mendepresi pusat vasomotor dan
kontraktilitas miokard mengakibatkan vasodilatasi sehingga menyebabkan
penurunan jantung dan tekanan darah (Sardjana dan Kusumawati, 2011).
Komplikasi yang sering terjadi pemberian Tiopental atau Pentotal dalam
bentuk lokal, pemberian secara intravena akan menimbulkan rasa sakit,
bengkak, warna kulit lokasi penyuntikan kemerahan dan berlanjut terjadi
nekrosis. Indikasi pemberian Tiopental atau Pentotal sebagai induksi anestesi
umum, digunakan untuk operasi yang berlangsung singkat dan juga untuk
terapi eklamsia dan epilepsi. Kontraindikasi dari pemakaian obat ini pada
hewan penderita yang mengalami penyakit pernapasan, gangguan
metabolisme, kejadian syok, miastenia gravis dan penderita alergi terhadap
barbiturat (Sardjana dan Kusumawati, 2011).
Keuntungan pemakaian obat ini sebagai induksi dapat dilakukan dengan
mudah dan cepat, delirium tidak ada, kesadaran hewan penderita diperoleh
dengan cepat dan iritasi mukosa jalan napas tidak ada. Kekurangannya, hewan
penderita sering mengalami depresi pernapasan, depresi kardiovaskuler,
spasme laring, efek analgesia tidak ada dan relaksasi otot perut kurang. Dosis
direkomendasikan untuk hewan kecil 20-26 mg/kg BB secara intravasculer
dengan konsentrasi 2,5% (Sudisma, I.G.N. dkk, 2006).

Gambar 3. Thiopental
Sumber : https://prequine.com/all-products/prequine/thiopental/

11
c. Xylazine
Xylazin HCl merupakan senyawa sedatif golongan α2 adrenergik agonis
yang bekerja dengan cara mengaktifkan central α2–adrenoreceptor. Xylazin
memiliki rumus kimia 2-(2,6-xylodino)5,6-dihydro-4H-1,3- thiazin hydrochloride.
Xylazin menyebabkan penekanan sistem saraf pusat yang diawali dengan sedasi
kemudian pada dosis yang lebih tinggi digunakan untuk hipnotis, sehingga akhirnya
hewan menjadi tidak sadar dan teranestesi (Titin Tambing, 2014).
Di dalam anestesi hewan, xylazin biasanya paling sering digunakan dengan
kombinasi ketamin. Obat ini bekerja pada reseptor presinapsis dan pos-sinapsis dari
sistem saraf pusat dan perifer sebagai agonis adrenergik. Reseptor α2
adrenoreceptor agonis mengerahkan efek penghambatan pada fungsi sistem saraf
pusat melalui penghambatan pelepasan neurotransmiter dari saraf simpatis. Hal ini
menyebabkan aktivitas saraf simpatis menurun sehingga menurunkan tingkat
kewaspadaan, menurunkan frekuensi denyut jantung dan tekanan darah. Reseptor
α2 adrenoreceptor ditemukan di otot polos pembuluh darah arteri organ dan vena
abdomen. Ketika α2 adrenoreceptor diaktifkan dapat menyebabkan terjadinya
vasokonstriksi, selain itu α2 adrenoceptor dijumpai juga pada sistem
kardiovaskular, respirasi, gastrointestinal, sistem saraf pusat, ginjal, sistem
endokrin dan trombosit (Titin Tambing, 2014).
Xylazin menyebabkan penekanan sistem saraf pusat yang diawali dengan
sedasi kemudian pada dosis yang lebih tinggi digunakan untuk hipnotis, sehingga
akhirnya hewan menjadi tidak sadar atau teranestesi. Obat ini bekerja pada reseptor
presinaptik dan postsinaptik dari sistem saraf pusat dan perifer sebagai agonis
sebuah adrenergik. Xylazin menimbulkan efek relaksasi muskulus sentralis. Selain
itu, xylazin juga mempunyai efek analgesia, xylazin dapat menimbulkan kondisi
tidur yang ringan sampai kondisi narkosis yang dalam, tergantung dari dosis yang
diberikan untuk masing-masing spesies hewan (Pirade Priskha Florancia, 2015).
Obat ini banyak digunakan dalam subtansi kedokteran hewan dan sering
digunakan sebagai obat penenang (sedasi), nyeri (analgesik) dan relaksasi otot
rangka (relaksan otot). Pemberian xylazin sebagai preanestesi dapat
memperpanjang durasi analgesi, mengurangi dosis anestesi dan memperpendek

12
masa pemulihan. Pada kucing penggunaan kombinasi ketamin-xylazin
menyebabkan perlambatan absorpsi ketamin sehingga eliminasi ketamin lebih
lama, hal ini menyebabkan durasi anestesi lebih panjang, pada kucing range dosis
xylazin yang sering digunakan yaitu 1,0-2,0 mg/kg BB secara intra muskuler dan
1-2 mg/kg BB. Xylazin dapat menyebabkan gejala bradikardia, arythmia,
peningkatan tekanan sistem saraf pusat, pengurangan sistem sistolik, depresi
respirasi (pengurangan frekuensi respirasi dan volume respirasi per menit) serta
hipertensi yang diikuti dengan hipotensi. Xylazin memiliki efek farmakologis yang
sebagian besar terdiri dari penurunan cardiac output, sehingga terjadi penurunan
frekuensi setelah kenaikan di awal injeksi pada tekanan darah kemudian dalam
perjalanan dapat menyebabkan efek vasodilatasi pada tekanan darah yang juga
dapat menyebabkan bradikardia, vomit, tremor, motilitas menurun tetapi kontraksi
uterus meningkat pada betina, bahkan dapat mempengaruhi keseimbangan
hormonal seperti menghambat produksi insulin dan antidiuretic hormon (ADH).
Xylazin juga menghambat efek stimulasi saraf postganglion. Pengaruh xylazin
dapat dihambat dengan menggunakan antagonis reseptor adrenergik seperti
atipamezole, yohimbine dan tolazoline (Titin Tambing, 2014).
Kontraindikasi dari xylazin adalah tidak boleh digunakan pada hewan yang
memiliki hipersensitivitas terhadap obat tersebut. Xylazin dapat diberikan secara
intravena, intramuskular, dan subkutan. Pada ruminansia, xylazin dapat
menyebabkan peningkatan sekresi saliva, meningkatkan risiko pneumonia aspirasi
(pernafasan), tetapi dapat dihambat oleh kerja dari atropin. Efek xylazin pada fungsi
respirasi biasanya tidak berarti secara klinis, tetapi pada dosis yang tinggi dapat
mendepres respirasi sehingga terjadi penurunan volume tidal dan respirasi rata-rata.
Perubahan yang cukup jelas terlihat pada fungsi kardiovaskular. Awalnya segera
setelah injeksi, tekanan darah akan meningkat, kemudian diikuti dengan konstriksi
pembuluh darah kapiler. Sebagai reflek normal terhadap peningkatan tekanan darah
dan pemblokiran saraf simpatis, frekuensi denyut jantung akan menurun sehingga
menimbulkan bradikardi dan tekanan darah menurun mencapai level normal atau
subnormal. Xylazin tidak dianjurkan pada hewan yang memiliki penyakit jantung,
darah rendah, dan penyakit ginjal (Titin Tambing, 2014).

13
Gambar 4. Xylazin
Sumber : https://www.dutchfarmint.com
d. Zoletil
Zoletil merupakan preparat anestesika injeksi yang baru yang berisi
disosiasi tiletamin sebagai tranquilizer mayor dan zolazepam sebagai
perelaksasi otot. Zoletil merupakan kombinasi antara tiletamin dan zolazepam
dengan perbandingan 1:1. Tiletamin merupakan disosiasif anestetikum yang
berasal dari golongan penisiklidin, sedangkan zolazepam merupakan
kelompok benzodiazepin yang dapat menyebabkan relaksasi otot (Gwendolyn,
2002). Obat ini memberikan anestesi general dengan waktu induksi yang
singkat dan sangat sedikit dalam hal efek samping, sehingga obat ini menjadi
anestestika pilihan yang memberikan tingkat keamanan yang tinggi dan
maksimal.
Zoletil memberikan kemudahan dalam pemberiannya, baik melalui
intramuskuler atau melalui intravena dengan faktor keamanan yang tinggi.
Indikasi pemakaian zoletil untuk pengendalian pasien atau hewan penderita
dan anestesi umum pada hewan kecil seperti anjing, dan kucing serta satwa liar.
Zoletil kontradiksi pada pasien atau hewan penderita dalam perawatan atau
pengobatan dengan Carbamates atau Organophosporous systemic, juga pada
hewan yang mengalami gangguan jantung dan pernapasan, defisiensi pankreas
dan hipertensi. Penggunaan zoletil juga tidak dianjurkan digunakan dengan
obat golongan Phenotiazine (contohnya chlorpromazine dan acepromazine)

14
karena dapat menimbulkan resiko yang berbahaya terhadap depresi respirasi
dan cardiac, serta hipotermia (Sardjana dan Kusumawati, 2011).
Dosis pemberian premedikasi dengan atropin biasanya 15 menit
sebelum pemberian zoletil. Dosis zoleti pada kucing 10-15 mg/kg BB
(intramuskular) atau 5-7,5 mg/BB (intravena) dan durasi anastesi kurang lebih
20-60 menit bergantung pada dosis yang diberikan. Pengulangan pemberian
dapat dilakukan 1/2 - 1/3 dosis inisial dan sebaiknya diberi melalui intravena,
karena pemberian melalui intramuskuler akan menghilangkan refleks dan
kesadaran penderita dalam waktu ± 3-6 menit sedangkan pemberian dengan
cara intravena akan membuat hewan penderita mengalami kehilangan reflek
dan kesadaran dalam waktu 1 menit. Dalam praktek zoletilsebagai
kontraindikasi pada kelinci karena efek tiletamin yang menyebabkan
nephrotoxis dan juga dapat menyebabkan depresi pada susunan syaraf pusat
serta memberikan efek anaestesi yang kurang baik. Selain itu penggunaan
zoletil® tidak dianjurkan dengan kombinasi pemberian premedikasi derivat
phenothiazine mengingat efek negatif yang terjadi pada cardiovascular dan
depresi pernafasan serta terjadinya hypotermia. Penanganan kesehatan hewan
dalam praktek pada hewan domestik dan hewan kesayangan banyak
dilaporkan, namun penanganan di bidang satwa liar masih dirasakan minim
informasi yang dapat diperoleh (Titin Tambing, 2014).

Gambar 4. Zoletil
Sumber : https://www.hyperdrug.Zoletil-injection-for-Cats.com

15
e. Propofol
Propofol adalah obat anestesi yang diberikan melalui intravena, memiliki
aksi yang sangat cepat sebagai anestetika dengan durasi yang singkat dan tidak
memberikan eksitasi sebagai efek samping. Obat anestesi ini mengandung 2,6-
diisoprophylphenol dalam bentuk oil dan saat ini telah diproduksi dalam
bentuk emulsi. Pada pemberian melalui injeksi, obat ini tidak menimbulkan
kerusakan jaringan, demikian juga rasa sakit yang terjadi saat penyuntikan.
Refleks depresi tampak dan pemberian obat ini sangat bersaing dengan obat
anestesi lainnya, karena memiliki skala penggunaan luas anestetika agen, baik
sebagai untuk premedikasi, anestesi inhalasi maupun sebagai obat yang
memblokade jaringan saraf (Sardjana dan Kusumawati, 2011).
Konsentrasi Propofol dalam darah, memiliki tiga fungsi yang ditunjukan
yang pertama sebagai distribusi dari darah ke dalam jaringan, yang kedua
metabolic clearence dari darah dan yang ketiga metabolic clearence yang
mengalami hambatan melalui pengembalian yang lambat dari obat ini ke dalam
darah dari perfusi yang terbatas jaringan yang memuat. Propofol sebagai obat
anestesi, sangat sering digunakan pada anjing dan kucing, keuntungan dari
pemakaian obat ini adalah pemulihan dan kesadaran kembali dari hewan
penderita yang sangat cepat, obat ini yang didistribusikan dan dimetabolis
dengan sangat cepat. Dosis obat ini diberikan untuk induksi anestesi 6-7 mg/kg
BB (IV) sedang untuk pemberian dosis tunggal 6 mg/kg BB (IV). Pada anjing
pemulihan kembali diperoleh setelah 20 menit tanpa diikuti dengan keadaan
gemetar maupun ataxia dari hewan penderita, namun demikian kejadian vomit
bisa terjadi pada anjing dalam masa pemulihan kucing sedikit lebih lambat,
pemulihan diperoleh sekitar 30 menit (Sardjana dan Kusumawati, 2011).

16
Gambar 5. Propofol
Sumber : http://steelcityanesthesia.com

4.3 Kombinasi Obat Anestesi Umum Injeksi

Salah satu kombinasi anestesi umum yang sering digunakan pada kucing
adalah :
1. Kombinasi Ketamin-Xylazin
Kombinasi antara ketamin dan xylazin merupakan kombinasi yang paling
baik bagi kedua agen ini, untuk menghasilkan analgesia. Banyak hewan yang
teranestesi secara baik dengan menggunakan kombinasi keduanya.Anestesi dengan
kombinasi ketamin-xylazin memiliki efek yang lebih pendek jika dibandingkan
dengan pemberian ketamin saja, tetapi kombinasi ini menghasilkan relaksasi
muskulus yang baik tanpa konvulsi. Emesis sering terjadi pasca pemberian
ketamin-xylazin, tetapi hal ini dapat diatasi dengan pemberian atropin 15 menit
sebelumnya (Pirade Priskha Florancia, 2015).
Pada kucing, penggunaan kombinasi ketamin-xylazin dapat menyebabkan
perlambatan absorbsi ketamin sehingga eliminasi ketamin lebih lama, hal ini
menyebabkan durasi anestesi lebih panjang.Efek sedasi xylazin akan muncul
maksimal 20 menit setelah pemberian secara IM dan akan berakhir setelah 1 jam,
sedangkan efek anestesi ketamin akan berlangsung selama 30-40 menit dan untuk
recovery dibutuhkan waktu sekitar 5-8 jam (Pirade Priskha Florancia, 2015).

17
2. Kombinasi Ketamine – Zoletil

Ketamin sebagai anestesi dissosiatif yang menyebabkan pasien mengalami


analgesia somatik yang dalam, diikuti ketidaksadaran yang ringan pada pasien,
namun demikian pasien tidak terpengaruh dengan situasi dan kondisi lingkungan
dan sekitarnya. Kelemahan dari anestetika ini menyebabkan terjadinya depresi
pernapasan dan tidak memberikan pengaruh relaksasi pada muskulus sehingga
sering dikombinasikan dengan obat yang mempunyai pengaruh terhadap relaksasi
muskulus. Diketahui bahwa salah satu bahan dalam zoletil yaitu zolazepam
merupakan kelompok benzodiazepin yang dapat merelaksasi otot. Pemberian
zoletil membuat pasien tertidur cukup lama (rata-rata mencapai lebih dari 1 jam),
sehingga pelaksanaan operasi atau pembedahan dapat dilakukan dengan baik dan
meminimalkan pemberian anestetika berulang tetapi pemulihan kembali kesadaran
pasien sepenuhnya dapat dicapai lebih dari 6 jam (Pirade Priskha Florancia, 2015).

Penggunaan ketamin-zoletil sebagai anestetika dapat diberikan secara


intramuskuler yang memudahkan pelaksanaannya terutama pada golongan felidae,
baik itu satwa liar maupun hewan kesayangan. Efek obat anestesi ini mempengaruhi
pasien sangat cepat, sehingga meminimalkan atau bahkan tidak mengalami depresi
pernapasan ataupun muculnya efek samping yang lain. Dalam praktek, ketamin dan
zoletil dapat digunakan untuk pengendalian hewan dan operasi pada penderita yang
membutuhkan durasi waktu yang lama atau panjang (Pirade Priskha Florancia,
2015).

4.4 Metode Anestesi Umum Injeksi


Metode pemberian dapat dilakukan secara parenteral baik melalui intavena
maupun intramuskuler (Sardjana dan Kusumawati, 2011). Penggunaan anestesi
umum preparat barbiturat diberikan secara intravena dan tidak dianjurkan
diaplikasikan secara subcutan dan intramuskular karena dapat menimbulkan
iritasi dan vasokontriksi hebat pada jaringan yang akan berlanjut terjadi ischemia
dan nekrosis (Sudima, I.G.N, 2006). Metode anestesi umum injeksi pada kucing
lebih sering dilakukan pada intramuskuler. Dibandingkan dengan anjing
dilakukan pada vena, yaitu vena cephalica di kaki depan atau vena tarsal recurent
di kaki belakang. Dan penyutikkan vena harus dibendung lebih dalulu di bagian

18
proksimalnya, sehingga vena akan tampak menggembung dan mempermudah
menyuntikkannya. Walaupun anestesi intra vena ini mudah diberikan dengan
induksi cepat, namun akan lebih aman dalam pelaksanaannya sepertiga atau
setengah dosis yang telah diperhitungkan diberikan secara segera atau cepat
(namun tetap harus mengacu bahwa suntikan intra vena diberikan secara perlahan-
lahan), cara pemberian tersebut dimaksudkan untuk hewan atau pasien segera
masuk stadium ketiga (operasi) dan stadium ke dua atau stadium eksitasi hanya
dilewati; sehingga akan terhindar dari gerakan-gerakan hewan yang berlebihan di
luar kemauan yang mungkin dapat mengganggu sehubungan suntikan intravena
tersebut. Dalam prakteknya penggunaan anestesi ini mesti harus dilakukan
premedikasi lebih dahulu dengan obat-obatan antikolinergik dan juga obat
penenang/tranqulizer demi mulusnya dan amannya pembiusan (Santosa, A.B.)
Pada anestesi umum nonbarbiturat yang dalam pemberiannya dapat
diberikan dengan suntikan intravena, intramuskuler maupun subkutan. Keadaan
anestesinya tidak biasa seperti anestesi umum lainnya; disini mata hewan masih
terbuka dan ototnya dalam keadaan kejang atau kaku, tidak ada relaksasi. Ketidak
sadaran dan analgesianya pada kucing dan primata cukup memuaskan, sedang
pada anjing anestesianya tidak tetap (poor), sehingga dalam prakteknya perlu
ditambahkan obat lain, misalnya xilasin, diazepan dll (Santosa, A.B.).

19
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan

Anestesi adalah proses reversibel yang ditargetkan untuk menghasilkan


cara restrain kimia yang efektif, aman, namun murah sehingga prosedur medis atau
pembedahan dapat dilakukan dengan meminimum stress, nyeri, ketidaknyamanan,
dan meminimumkan efek samping dari toksik kepada pasien atau pada ahli
anestesi.

Anestesi umum injeksi merupakan metode anestesi umum yang dilakukan


dengan cara menyuntikkan agen anestesi langsung melalui muskulus atau
pembuluh darah vena. Dan Obat Anestetika umum yang dapat diberikan secara
injeksi meliputi ketamin, Tiopental, Xylazine, Ziletil, Propofol dan adapun
kombonasi anetesi umum yang sering digunakan pada kucing yaitu kombinasi
ketamin-xylazin dan ketamin- zoletil. Dan Kombinasi antara ketamin dan xylazin
merupakan kombinasi yang paling baik bagi kedua agen ini, untuk menghasilkan
analgesia.
Metode anestesi injeksi umum pada kucing yaitu pada penggunaan anestesi
umum preparat barbiturat diberikan secara intravena dan tidak dianjurkan
diaplikasikan secara subcutan dan intramuskular sedangkan anestesi umum
nonbarbiturat yang dalam pemberiannya dapat diberikan dengan suntikan
intravena, intramuskuler maupun subkutan

5.2. Saran

Disarankan untuk anastesi umum injeksi pada kucing menggunakan


kombinasi anatara ketamine dan xylazine karena memiliki efek yang lebih pendek
dibandingkan kombinasi antar ketamine dan zoletil yang dapat menyebabkan
depresi respirasi. Selain itu, penilaian kondisi pasien sebelum anastesi perlu
dilakukan, dan meminta persetujuan dari klien untuk menjamin kondisi pasien
nantinya setelah dianastesi.

20
DAFTAR PUSTAKA

Chairul Fadhli et al. 2016. Perbandingan Onset Dan Sedasi Ketamin-Xilazin Dan
Propofol Pada Anjing Jantan Lokal (Canis Familiaris). Jurnal Medika
Veterinaria. 10 (2) : 94-96
Cullen, L.K. (1991). Lecture Notes on Veterinary Anesthesia. Murdoch University.
Australia. P. 25-28
Davis, C. 2006. Sikap-sikap Anjing yang Normal.
http://www.anjingkita.com/wmview.php? ArtID=2300
Erwin et al. 2013. Kadar Hemoglobin Selama Induksi Anestesi Per Inhalasi Dan
Anestesi Per Injeksi Pada Anjing Lokal (Canis Lupus Familiaris). Jurnal
Medika Veterinaria. 7 (2) : 98-100.
Garcia PS, Kolesky SE, Jenkins A. 2010. General anaesthetic action on GABA A

receptors. Current neuropharmacology. 8:2-9.


Gorda, I.W Wardhita, ., A.A.G.J., Dharmayudha, A.A.G.O. 2010. Perbandingan
Efek Pemberian Anestesi Xylazin-Ketamin Hidroklorida Dengan Anestesi
Tiletamin-Zolazepam Terhadap Capillary Refill Time (Crt) Dan Warna
Selaput Lendir Pada Anjing. Buletin Veteriner Udayana. 2 (1) : 21-27
Gunawan GS, Rianto SN, Elysabeth, editor. 2009. Farmakologi dan Terapi.
Jakarta: Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
Hilbery ADR, AE Waterman, GJ Brouwer. 1992. Manual of Anaesthesia for Small
Animals Practise, Edisi ke-3. London: British Small Animal Veterinary
Association.
Kusumawati D, Sardjana IKW. 2004. Anestesi Veteriner. Yogyakarta (ID):UGM
Maya, E. 2006. Pengaruh Anestesi Per-injeksi dan Anestesi Per-inhalasi terhadap
Nilai Saturasi Oksigen dan Nilai Fisiologis Lainnya pada Kucing Lokal (Felis
domestica) selama Enterotomi. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
McKelvey D, Hollingshead KW. 2003. Veterinary Anesthesia and Analgesia. Ed
ke-3. United States of America: Mosby. 448 hlm.

21
Mentari, Novia. 2013. Efektivitas Anestetikum Kombinasi Zoletil-ketamin-Xylazin
pada babi lokal (Suis domestica) [internet].[Skripsi] [diunduh tanggal 2
Maret 2019]. Tersedia pada: https://www.scribd.com/
doc/171442712/fisiologi-anestesi
Miller RD. 2010. Miller’s Anesthesia. Ed ke-7. United States of America: Churchill
Livingston Elsevier.
Mullen, J.M., J. Lehman , R. Bohacek, dan R.S. Fisher. (1987). Tiletamine is a
poten Inhibitor of N-Methyl-Aspartate Induced Depularization in Rat
Hipocampus and Stiatum. J.Pharmacol, Exp. Ther. 243 (3) : 915-200.
Pirade, P.F. 2015. Perbandingan Pengaruh Anestesi Ketamin-Xylazin Dan
Ketamin-Zoletil Terhadap Fisiologis Kucing Lokal (Felis Domestica).
Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Hasanuddin, Makassar.
Santosa, A.B. ANESTESIOLOGI. [online]. Tersedia di :
http://elisa.ugm.ac.id/user/archive/download/38473/7b9e13dad280d1781cf2
826b49489397. Diakses pada 2 Maret 2019.
Sudisma, I.G.N. 2011. Keterpilihan Dan Kebakuan Dosis Anestesi Ketamine Dan
Propofol Menggunakan Metode Gravimetrik Pada Anjing. Disertasi.
Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Sudisma, I.G.N., dkk. 2006. Ilmu Bedah Veteriner dan Teknik Operasi. Denpasar:
Pelawa Sari.
Tambing Titin. 2014. Perbandingan Pengaruh Anestesi Ketamin-Xylazin dan
Ketamin-Zoletil Terhadap Frekuensi Nafas dan Denyut Jantung pada Kucing
Lokal (Felinedomestica) dalam Kondisi Sudden Loss of Blood [Skripsi
William WM, John AE, Richard MB, Roman TS (2007) Hand Book of Veterinary
Anesthesia. 4th edn. Mosby Elsevier USA, Columbus, USA.

22
LAMPIRAN JURNAL

23
PERBANDINGAN MULA DAN LAMA KERJA ANESTESI UMUM DENGAN
PREMEDIKASI ANTARA ACEPROMAZINE DENGAN KOMBINASI
ACEPROMAZINE-ATROPINE SULFAT PADA
KUCING LOKAL (Felis Domestica)

Oleh :
Desty Apritya ¹ Tria Ardiani ²
Bagian Klinik Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya 1
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya 2

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan mula dan lama kerja anestesi umum
dengan premedikasi antara acepromazine dengan kombinasi acepromazine-atropin pada kucing lokal
(Felis Domestica).Penelitian ini menggunakan hewan coba sebanyak 27 ekor kucing yang dibagi menjadi
3 kelompok perlakuan, yaitu P1, P2, dan P3. Masing-masing kelompok terdiri dari 9 ekor. P1 merupakan
kelompok kontrol yang diberikan ketamin sebagai obat tunggal dengan dosis 20 mg/KgBB injeksi secara
intramuskular. P2 merupakan kelompok yang diberikan acepromazine 0,2 mg/KgBB sebagai premedikasi
secara subkutan dan ketamin 20 mg/KgBB IM. P3 diberikan kombinasi acepromazine 0,2 mg/KgBB
dengan atropin 0,04 mg/KgBB keduanya diinjeksi secara subkutan dan ketamin 20 mg/KgBB
intramuskular.Data yang diperoleh diuji dengan metode statistik anova. Hasil yang didapat mula dan
lama kerja anestesi pada P2 (ketamin-acepromazine) tidak berbeda nyata terhadap P3 (ketamin-
acepromazine-atropin), dan keduanya memiliki perbedaan yang nyata terhadap P1 (ketamin).

Kata Kunci : Premedikasi, Acepromazine, Atropine Sulfat, Ketamin, Felis Domestica


PENDAHULUAN anestesi golongan dissosiative. Ketamin
merupakan analgesik yang bekerja kuat pada
Anestesi umum dapat didefinisikan sistem saraf pusat melalui saraf simpatomimetik
sebagai keadaan umum dari depresi fungsi dan parasimpatolitik (Pertiwi et al., 2004).
sistem saraf pusat (Central Nervous System) Ketamin merangsang proses metabolisme kerja
yang menyebabkan hilangnya respon dan kardiovaskular, salivasi, meningkatkan suhu
persepsi terhadap rangsangan eksternal yang tubuh, detak jantung, dan tekanan arteri
diberikan, tetapi hal ini tidak berlangsung secara (Ramsey, 2008). Ketamin bila diberikan secara
permanen (Evers dan Crowder,2001). Menurut tunggal memiliki beberapa efek samping antara
Trevor dan Miller (1998) Stadium dalam lain meningkatnya tekanan darah arteri terutama
anestesi umum meliputi analgesia, amnesia, bila diberikan secara intravena, hipersalivasi,
hilangnya kesadaran, terhambatnya sensorik dan halusinasi, dan tidak adanya reflex otot (Erwin,
reflek otonom serta relaksasi otot. Keadaan ini 2009). Penggunaan ketamin sebagai agen
dicapai dengan pemberian obat anestesi umum anestesi memiliki beberapa keuntungan
baik melalui injeksi, inhalasi, maupun kombinasi diantaranya adalah mudah pengaplikasiannya,
dari keduanya (Pablo, 2003). induksi cepat, dan dapat dikombinasikan dengan
Obat-obatan anestesi terutama diberikan agen preanestesi lainnya. Penggunaan ketamin
secara injeksi harus memenuhi beberapa kriteria juga memiliki dampak negatif karena
tertentu untuk menghindari resiko-resiko yang menyebabkan terjadinya ketegangan otot, oleh
tidak diinginkan. Kriteria tersebut meliputi obat karena itu perlu dicarikan alternatif campuran
yang tidak bersifat toksik dan kumulatif di ketamin untuk menghilangkan efek ketegangan
dalam tubuh pasien, potensinya besar yaitu otot akibat ketamin (Slatter, 2003).
dalam dosis rendah mampu memberikan efek Pemberian premedikasi juga ditujukan
yang diinginkan, daya kerja cepat diikuti dengan untuk mendukung kerja dari obat anestesi umum
waktu pemulihan yang cepat pula, dapat (Bataglia, 2001) sehingga mampu memenuhi
dikombinasikan dengan obat anestesi yang lain, kriteria-kriteria seperti disebutkan sebelumnya.
tidak bersifat alergenik, tidak menimbulkan Umumnya hewan tidak terlihat nyeri ketika
kesakitan saat injeksi (Lee, 2007). Tidak ada operasi dan nampak nyeri pasca. Eckenhoff dan
satupun obat anestesi yang memenuhi semua Herlich (1958) membuktikan pasien dengan
kriteria tersebut dalam dosis tunggal (Pablo, premedikasi narkotika nampak tidak merasakan
2003). nyeri pada masa pemulihan, akan tetapi masa
Shianne et al. (2006), menyatakan pulih lebih lama (Mama, 2007)
bahwa laporan umum kejadian kematian pada Penelitian ini menggunakan premedikasi
waktu operasi karena anestesi sangat bervariasi dari golongan anticholinergik (Atropine Sulfate)
dari 5%-50%. Tingginya angka kematian ini dan transquilizer (Acepromazine). Atropine
sendiri dapat dipicu oleh beberapa faktor digunakan untuk mengurangi sekresi saliva dari
diantaranya adalah kurangnya pengalaman bronkial, melindungi jantung dari efek
dalam melakukan tindakan anestesi, obat-obat muskarinik anticholinesterase seperti
anestesi yang digunakan, faktor klinik dan neostigmine, juga dapat menurunkan peristaltik
kecelakaan teknik. Berdasarkan hal tersebut di intestinal dan menyebabkan dilatasi pupil.
atas maka penggunaan obat-obatan dalam Acepromazine mempunyai efek penenang dan
bidang anestesi yang modern dapat memerankan mengatasi rasa cemas. Obat ini berbeda dengan
arti penting dalam menurunkan kematian. sedatif, sebab hewan tidak mengalami
Pemilihan obat-obatan anestesi harus dengan drowsiness dan pada dosis tinggi tidak
pertimbangan yang matang untuk mengurangi menimbulkan hipnosis atau anastesi umum
kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa namun tranquilizer yang digunakan sendiri
terjadi. kebanyakan tidak mempunyai efek analgesi.
Ketamin sebagai salah satu anestesi Obat-obatan dari kedua golongan ini diharapkan
injeksi, dapat digunakan sebagai anestesi umum dapat mempermudah injeksi ketamin (Sardjana
pada kucing, primata, kuda, sapi, unggas, dan dan Kusumawati, 2004).
anjing (Adams, 2001). Ketamin termasuk
METODE PENELITIAN HASIL DAN PEMBAHASAN

Variabel dalam penelitian ini terdiri dari Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
3 (tiga) macam yaitu variabel bebas, variabel mula kerja obat anestesi pada perlakuan 1 (P1)
terikat, dan variabel kendali. Variabel bebas yang menggunakan ketamin sebagai obat
pada penelitian ini adalah dosis acepromazine tunggal adalah rata-rata 7.37 menit (457 detik).
0,2 mg/KgBB (SC), acepromazine 0,2 Hal tersebut sesuai dengan pendapat Sardjana
mg/KgBB – atropin 0,02 mg/KgBB (SC), dan dan Kusumawati (2004), bahwa mula kerja
ketamin 20 mg/KgBB (IM). Variabel terikat normal ketamin yang diinjeksi secara
adalah mula kerja anestesi (dihitung mulai intramuskular pada kucing adalah 1-5 menit, dan
penyuntikan sampai kucing kehilangan efek puncaknya tercapai dalam waktu 6-8 menit.
kesadaran) dan lama kerja anestesi (dihitung Pemberian ketamin secara intramuskular
mulai obat bekerja yaitu sejak kucing tidak menjadi salah satu faktor mula kerjanya lama
sadarkan diri pasca injeksi sampai kucing mulai dibanding dengan pemberian secara intravena
terbangun), sedangkan variabel kendali pada (Plumb, 2008). Hal ini dikarenakan ketamin
penelitian ini adalah kucing lokal jantan yang melalui proses metabolisme terlebih dahulu
berumur lebih dari atau sama dengan satu tahun sebelum diserap oleh tubuh (Poerwanto, 2010).
dan memiliki berat badan antara 2 sampai 3 kg. Maka dari itu, mula kerja obat menjadi lebih
lama.
Penelitian ini menggunakan 27 ekor
kucing lokal jantan dibagi menjadi 3 (tiga) Tabel 5.5 Data Hasil Lengkap Mula dan Lama
kelompok penelitian, yaitu kelompok P1, P2, P3, Kerja Anestesi pada Perlakuan 1 (Ketamin),
masing-masing kelompok terdiri dari 9 ekor. Perlakuan 2 (Ketamin-Acepromazine), dan
Kelompok 1 (P1) sebagai kelompok kontrol Perlakuan 3 (Ketamin-Acepromazine-Atropin)
diberikan ketamin dengan dosis 20mg/kgBB
secara injeksi intramuskular. Kelompok II (P2) Mula kerja Lama kerja
Perlakuan
diberikan acepromazin sebagai premedikasi (menit) (menit)
dengan dosis 0,2mg/kgBB diberikan secara
A 7.28 18.20
injeksi subcutan dan ketamin dengan dosis
B 7.35 22.33
20mg/kgBB diberikan secara injeksi C 7.18 19.47
intramuskular. Kelompok III (P3) diberikan D 4.07 46.55
acepromazin-atropin dengan dosis acepromazine P1 (Ketamin) E 9.45 20.41
0,2mg/kgBB dan atropine 0,02mg/kgBB setalah F 8.17 23.37
dicampur, diberikan secara injeksi subcutan, G 7.20 18.57
sedangkan ketamin dengan dosis 20mg/kgBB H 9.13 21.43
diberikan secara injeksi intramuscular. I 6.52 32.53

Sebelum dilakukan anestesi untuk


operasi, kucing dipuasakan terlebih dahulu A 4.27 65.37
selama 12 jam, untuk menghindari reflek B 5.43 70.42
muntah yang disebabkan oleh penggunaan obat C 3.46 57.25
anestesi. P2 D 4.46 34.07
(Ketamin- E 5.20 43.27
Hasil data penelitian ini akan disajikan acepromazine) F 3.51 97.30
dalam bentuk rataan ± standar deviasi dalam G 5.28 83.33
H 6.20 50.33
bentuk deskriptif dan diuji dengan metode
I 5.34 77.44
Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan
analisis statistik ANOVA yang dilanjutkan
dengan uji Duncan.
Paddleford (1999) bahwa pemberian
A 9.22 41.48 acepromazine sebagai premedikasi dapat
B 6.57 97.11 memperpanjang masa kerja ketamin.
C 5.52 90.15 Perpanjangan masa kerja ketamin ini menurut
P3
D 5.10 19.57 Sawyer (1993) terjadi karena acepromazine
(Ketamin-
E 5.10 131.49
acepromazine- mengakibatkan perpanjangan depresi pada
F 7.33 38.57
atropin)
G 3.32 52.58
susunan saraf pusat. Selain itu, Kaban (2013)
H 4.00 53.20 menyebutkan bahwa acepromazine menghambat
I 3.43 55.57 reseptor inap dopamin yang bertugas untuk
mengatur aktivitas otak termasuk pusat tidur.

Grafik Mula dan Lama Kerja (Dalam


P1 yang menggunakan ketamin sebagai
Detik)
anestesi umum tanpa premedikasi memiliki lama
kerja anestesi yang cepat, yaitu dengan nilai
rata-rata 24.76 menit (1516 detik). Lama 4000
anestesi yang dimiliki ketamin menunjukkan 3000
bahwa ketamin memang digunakan untuk
Mula Kerja
pembiusan jangka pendek yaitu dengan lama 2000
aksi 12-25 menit dengan pemberian secara Lama Kerja
1000
intramuskular (Mutchler, 1991). Hal ini
disebabkan karena ketamin mempunyai berat 0
molekul yang kecil sehingga dengan cepat P1 P2 P3
melewati sawar darah otak dan mempunyai
onset 1-5 menit secara IM (Siahaan, 2011).
Gambar 5.3 Diagram mula dan lama kerja anestesi
Berbeda dengan P1, Perlakuan 2 (P2) dengan perlakuan, P1 (ketamin), P2
dengan menggunakan ketamin sebagai anestesi (ketamin-acepromazine), dan P3
umum dan acepromazine sebagai premedikasi (ketamin-acepromazine-atropin)
memiliki rata-rata mula kerja yang lebih cepat,
yaitu 4.79 menit (319 detik). Hal ini disebabkan
Perlakuan 3 yang mengkombinasikan
karena kucing diinjeksikan ketamin setelah 10
acepromazine dengan atropin memiliki waktu
menit pemberian acepromazine. Sedangkan
mula kerja 5.51 menit (351 detik), sehingga
mula kerja acepromazine pada kucing menurut
tidak terdapat perbedaan yang signifikan
Sardjana dan Kusumawati (2004) adalah 5-10
terhadap perlakuan 2. Penggunaan atropin dapat
menit, dengan mekanisme kerja menurut
mencegah bradikardia dan sekresi saliva
Setiawan (2012) acepromazine terdistribusi ke
berlebih serta mengurangi motilitas
seluruh tubuh dan memblok postinapsis
gastrointestinal (Sardjana dan Kusumawati,
dopamine yang berfungsi menghambat aktivitas
2004). Hal ini dibuktikan pada saat setelah 10
otak, sehingga kucing menjadi tenang.
menit kucing diinjeksikan dengan kombinasi
Pemberian ketamin dilakukan pada saat kucing
acepromazine-atropin, kucing sudah tenang dan
sudah dalam keadaan tenang, dan terdistribusi
tidak mengeluarkan sekresi saliva yang berlebih.
dengan cepat ke seluruh tubuh hingga ke sistem
saraf pusat dan ketamin bekerja secara langsung Lama kerja anestesi pada P3 yang
sehingga kucing cepat tidur. menggunakan kombinasi acepromazine-atropin
sebagai premedikasi adalah 64.41 menit (3881
Masa kerja anestesi pada P2 dengan
detik). Menurut Sardjana dan Kusumawati
kombinasi menggunakan acepromazine lebih
(2004), atropin merupakan antikholinergik yang
lama dibandingkan dengan P1, yaitu dengan
paling sering digunakan dengan fungsi utama
rata-rata 64.30 menit (3.870 detik). Hal tersebut
mengurangi sekresi kelenjar salivasi terutama
sesuai dengan pendapat Slatter (2003) dan
bila menggunakan obat anestesi yang
menimbulkan hipersalivasi kelenjar saliva 2. Lama kerja anestesi pada perlakuan 1
seperti ketamin. Hal tersebut menyebabkan (ketamin) lebih cepat dibandingkan
penggunaan atropin yang dikombinasikan dengan 2 perlakuan lainnya. Perlakuan 2
dengan acepromazine pada perlakuan ini tidak (ketamin-acepromazine) memiliki masa
begitu berpengaruh terhadap lama kerja anestesi. kerja anestesi yang lama, begitu juga
dengan perlakuan 3 (ketamin-
Idealnya, pada pemberian anestesi harus acepromazine-atropin). Namun
mempertimbangkan terlebih dahulu efek keduanya memiliki perbedaan yang
sampingnya, sehingga dapat ditentukan tidak signifikan.
premedikasi apa yang cocok untuk mengurangi
efek dari anestesi umum termasuk ketamin. Saran
Penggunaan ketamin sebagai anestesi umum
dengan premedikasi yang menggunakan Dengan diketahuinya hasil dari penelitian ini
kombinasi acepromazine-atropin merupakan penulis menyarankan :
pilihan yang tepat untuk meminimalisir efek 1. Penggunaan kombinasi acepromazie-
anestesi umum tersebut dan tentunya aman bila atropin sebagai premedikasi anestesi
digunakan. umum ketamin, lebih dianjurkan untuk
menghasilkan mula dan lama kerja
KESIMPULAN DAN SARAN anestesi yang lebih efektif dibandingkan
acepromazine, serta ketamin saja
Kesimpulan sebagai obat tunggal.
2. Dengan adanya penelitian ini,
1. Perlakuan 1 (ketamin) memiliki mula diharapkan dilakukan penelitian lanjutan
kerja yang cepat karena digunakan untuk mengetahui anestesi lain yang
sebagai obat tunggal. Berbeda dengan lebih efektif. Sehingga dapat dijadikan
perlakuan 2 (ketamin-acepromazine) sebagai bahan referensi dokter hewan
dan perlakuan 3 (ketamin- praktisi serta menambah pengetahuan
acepromazine-atropin). Kedua perlakuan tentang anestesi di bidang kedokteran
tersebut memiliki mula kerja anestesi hewan.
yang lama dengan selisih yang tidak
signifikan.

DAFTAR PUSTAKA Kaban, I. K. B. 2013. Pengaruh Acepromazine


sebagai Preanestesi dan Sebagai
Adams, R.H., 2001. Veterinary Pharmacology Campuran Anestetika Ketamin
and Therapeutics 8nd edition. IOWA terhadap Onset dan Durasi Anestesi
State University Press Ames. pada Kucing. Skripsi Fakultas
Battaglia, A. M. 2001. Small Animal Emergency Kedokteran Hewan Universitas Gadjah
and Critical Care : A Manual For The Mada. Yogyakarta.
Veterinary Technician. W. B. Saunders
Company : USA Lee, L. 2007. Canine & Feline Anesthesia.
Center for Veterinary Health Sciences.
Erwin. 2009. Dampak Anestesi Ketamin pada 11-16
Caesar.
http://erwinklinik.blogspot.com/2009/0 Mama, K. 2007. Individualizing Anaesthetic
7/dampak-anestesi-ketamin- Management – Benefits To Your
padacaesar. html Patients and The Practice: Part 1.
Evers, A.S., C.M. Crowder. 2001. The Departement Of Clinical Sciences,
Pharmacological basis of Therapeutics Colorado State University, Fort
10th Ed,. McGraw Hill : USA. Collins, Co. USA.
Mutschler, E. 1991. Dinamika Obat. Edisi 5. Shianne, Eva, Sisika, Butet, dan Kismaya. 2006.
Diterjemahkan oleh Widianto, M. B. Kematian Akibat Anestesi Forensik.
dan A. S. Ranti Penerbit ITB. Indonesia
Bandung.
Pablo, L.S. 2003. Total IV Anesthesia in Small Slatter, D., 2003. Textbook of Small Animal
Animals. College of Veterinary Surgery Volume 2 3th edition.
Medicine, University of Florida Sounders Company. Pennsylvania.
Gainesville, Fl. USA. State University Press. Ames.

Paddleford, R. R. 1999. Manual of Small Trevor, A.J and R.D. Miller. 1998. Farmakologi
Anesthesia. Churchill Livingstone. Dasar Dan Klinik Buku Kedokteran
New York. EGC. Jakarta.

Pertiwi, R. E., Widodo, S. dan Soehartono, R. H.


2004. Perbandingan Gambaran Klinis
Antara Kombinasi Atropin Sulfat –
Xylazine – Ketamine dan Kombinasi
Atropin Sulfat – Midazolam – Ketamin
pada Kucing. Forum Pascasarjana
Volume 27 Nomor 2 April 2004: 123 –
134
Plumb, D. C., 2008. Plumb’s Veterinary Drug
Handbook 6th edition. The IOWA

Purwanto, Eko. 2010. Perbandingan


Penggunaan Ketamin dengan Propofol
terhadap Mula dan Lama Kerja
Anestesi serta Perubahan Fisiologis
Anak Kucing (SKRIPSI). Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas
Airlangga Surabaya.

Ramsey, I. 2008. Small Animal Formulary.


Sixth Edition. British Small Animal
Veterinary Association, England
Sardjana, I. K. W dan Kusumawati. 2004.
Anestesi Veteriner Jilid I. Gadjah
Mada University Press. Bulaksumur,
Yogyakarta 1-49

Sawyer, D. C. 1985. Anesthetic Periode In : The


Practice of Small Animal Anesthesia.
W. B. Saunders. Philadelpia.

Setiawan, R., 2012. Potensi Penggunaan


Acepromazine sebagai Bahan
Alternatif Anestesi Ikan Nila
(Oreochromis Niloticus). SKRIPSI.
Institut Pertanian Bogor.
Jurnal Medika Veterinaria Vol. 10 No. 2, Mei 2016
P-ISSN : 0853-1943; E-ISSN : 2503-1600

PERBANDINGAN ONSET DAN SEDASI KETAMIN-XILAZIN DAN


PROPOFOL PADA ANJING JANTAN LOKAL (Canis familiaris)
Comparison of Onset and Sedation of Ketamine-Xylazine and Propofol
on Local Male Dog (Canis familiaris)

Chairul Fadhli1, Syafruddin2, Arman Sayuti2*, Nuzul Asmilia2, Erwin2, dan Frengky2
1
Program Studi Pendidikan Dokter Hewan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
2
Laboratorium Klinik Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
*Corresponding author: yanonani@yahoo.com

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh kombinasi ketamin-xilazin dan propofol secara tunggal terhadap onset dan sedasi pada anjing
jantan lokal (Canis familiaris). Dalam penelitian ini digunakan enam ekor anjing jantan lokal yang secara klinis dinyatakan sehat. Secara acak,
seluruh anjing dibagi menjadi dua kelompok perlakuan, masing-masing kelompok perlakuan terdiri atas tiga ekor. Seluruh hewan coba
dipuasakan selama 8-12 jam dan diberikan premedikasi atropin sulfat (0,04 mg/kg bobot badan) 10 menit sebelum pemberian anestesi. Kelompok
I (K1) diinjeksikan dengan kombinasi ketamin (10 mg/kg bobot badan) dengan xilazin (2 mg/kg bobot badan) secara intravena, sedangkan
kelompok II (K2) diinjeksikan dengan propofol (6,6 mg/kg bobot badan) secara intravena. Selanjutnya dilakukan pengamatan terhadap onset dan
sedasi. Data yang diperoleh terhadap timbulnya onset dan sedasi dianalisis dengan menggunakan uji t. Rata-rata onset dan sedasi pada K1 vs K2
masing-masing adalah 25,3±1,52 vs 31,6±1,15 detik dan 14,5±3,06 vs 4,35±1,13 menit. Hasil analisis statistik menunjukkan perbedaan sangat
nyata (P<0,01) antara kedua kelompok perlakuan terhadap onset dan sedasi pada anjing jantan lokal. Berdasarkan hasil penelitian dapat
disimpulkan bahwa kombinasi ketamin-xilazin memiliki waktu onset yang lebih cepat dan sedasi yang lebih lama dibandingkan dengan propofol
secara tunggal pada anjing jantan lokal.
____________________________________________________________________________________________________________________
Kata kunci: anestesi, ketamin, propofol, xilazin

ABSTRACT
The objective of this research was to find out the influence of anesthesia combination of ketamine-xylazine and propofol singly on onset and
sedation of local male dog (Canis familiaris). In this research, 6 clinically healthy local male dogs were used. Dogs were randomly divided into 2
treatment groups, each treatment group consisted of 3 dogs. All of the dogs were fasted for 8 to12 hours and given premedication of atropine
sulfate (0.04 mg/kg body weight) 10 minutes before giving anesthesia. First group was intravenously injected with ketamine combination (10
mg/kg bw) and xylazine (2 mg/kg bw) while second group was injected with propofol (6.6 mg/kg bw). Onset and sedation time were observed in
both groups. The onset and sedation data were analyzed using t-test. The result showed that onset and sedation of local male dog were
significantly difference (P<0.01) between two treatment groups. It can be concluded that the use of combination of ketamine-xylazine has a faster
onset time and longer sedation compared with singly propofol on male local dog.
____________________________________________________________________________________________________________________
Key words: anesthesia, ketamine, propofol, xylazine

PENDAHULUAN kesadaran. Pada stadium ini penderita masih dapat


mengikuti perintah dan rasa sakit hilang (analgesik).
Istilah anestesi dimunculkan oleh Holmes pada tahun Pada stadium ini dapat dilakukan tindakan pembedahan
1846 yang artinya tidak ada rasa nyeri. Pada dasarnya, ringan seperti cabut gigi, biopsi kelenjar dan
pemberian anestesi dilakukan untuk mengurangi bahkan sebagainya. Stadium II (delirium/eksitasi) dimulai dari
menghilangkan rasa nyeri baik disertai atau tanpa hilangnya kesadaran sampai permulaan stadium
disertai hilangnya kesadaran. Anestesi umum adalah pembedahan. Pada stadium ini terlihat jelas adanya
keadaan hilangnya nyeri di seluruh tubuh dan hilangnya eksitasi dan gerakan yang tidak menurut kehendak,
kesadaran sementara yang dihasilkan melalui penekanan berteriak, pernafasan tidak teratur, kadang-kadang
sistem saraf pusat karena adanya induksi secara apnea dan hipernea. Hal ini terutama terjadi karena
farmakologi atau penekanan sensori pada saraf. Agen adanya hambatan pada sistem saraf pusat. Pada stadium
anestesi umum bekerja dengan cara menekan sistem ini dapat terjadi kematian, karena itu stadium harus
saraf pusat (SSP) secara reversibel (Adams, 2001). cepat dilewati. Stadium III (pembedahan) dimulai
Anestesi umum merupakan kondisi yang dikendalikan dengan teraturnya pernafasan sampai pernafasan
dengan ketidaksadaran yang bersifat reversibel dan spontan hilang. Tanda yang harus dikenal adalah
diperoleh melalui penggunaan obat-obatan secara injeksi pernafasan yang tidak teratur pada stadium II
dan inhalasi yang ditandai dengan hilangnya respons rasa menghilang, pernafasan menjadi spontan dan teratur
nyeri (analgesik), hilangnya ingatan (amnesia), hilangnya oleh karena tidak ada pengaruh psikis, sedangkan
respons terhadap rangsangan atau reflek, hilangnya gerak pengontrolan kehendak hilang, refleks kelopak mata
spontan (immobility), serta hilangnya kesadaran dan konjungtiva hilang, gerakan bola mata yang tidak
(unconsciousness) (Mc Kelvey, 2003). menurut kehendak merupakan tanda spesifik untuk
Stadium anestesi umum dibagi menjadi empat permulaan stadium III. Stadium IV (paralisis medula
tingkatan (stadium). Stadium I (analgesik) dimulai dari oblongata), dimulai dengan melemahnya pernafasan
saat pemberian zat anastetik sampai hilangnya perut dibanding stadium III, tekanan darah tidak dapat

94
Jurnal Medika Veterinaria Chairul Fadhli, dkk

diukur karena kolaps pembuluh darah, berhentinya MATERI DAN METODE


denyut jantung dan dapat disusul kematian. Pada
stadium ini kelumpuhan pernafasan tidak dapat diatasi Seluruh anjing (Canis familiaris) diadaptasikan
dengan pernafasan buatan (Ganiswara, 1995). dalam kandang selama satu minggu, diberi makan tiga
Keadaan anestesi umum yang ideal harus mencakup kali sehari dan minum secara ad libitum. Jika terdapat
analgesik, amnesia, hambatan sensorik dan refleks kelainan secara klinis maka dikeluarkan dari kelompok
otonom, serta relaksasi musculus. Hal ini dapat dicapai perlakuan dan digantikan dengan anjing yang lain.
dengan berbagai tingkat depresi sistem saraf pusat Sebelum diberi perlakuan, anjing terlebih dahulu
akibat kerja obat anestesi. Namun demikian, tidak ada dipuasakan selama 8-12 jam, masing-masing anjing
obat anestesi tunggal yang bisa mencapai semua efek ditimbang berat badannya untuk penentuan dosis obat
yang diharapkan tanpa disertai sejumlah kerugian bila yang digunakan. Secara acak semua anjing dibagi
diberikan dengan dosis tunggal. Untuk mencapai menjadi dua kelompok perlakuan, masing-masing
stadium anestesi yang ideal tindakan yang sering kelompok perlakuan terdiri atas tiga ekor. Sepuluh
dilakukan adalah mengombinasikan obat-obatan dan menit sebelum penyuntikan anestesi, semua anjing
mengambil kelebihan masing-masing sifat yang diinjeksi dengan atropin sulfat dosis 0,04 mg/kg berat
diharapkan. Selain itu, juga diusahakan untuk badan sebagai premedikasi. Kelompok I (K1) adalah
memperkecil efek yang merugikan (Sardjana dan kelompok yang dinjeksi dengan kombinasi ketamin dan
Kusumawati, 2004). xilazin dengan dosis 10 mg/kg bobot badan dan 2
Pada pelaksanaan pembedahan, anestesi umum mg/kg bobot badan secara intravena, sedangkan
yang digunakan lebih sering dalam bentuk kombinasi kelompok II (K2) diinjeksi dengan propofol dosis 6,6
dari pada penggunaan secara tunggal. Hal ini bertujuan mg/kg bobot badan secara intravena. Onset dihitung
mendapatkan keadaan yang sinergis terhadap sistem pada saat obat telah diinjeksi sampai hilangnya
kardiovaskular, pernafasan, dan relaksasi otot (Hatch kesadaran, dan selanjutnya dihitung sedasi yang
dan Ruch, 1974). dimulai dari hilangnya kesadaran sampai sadar
Ketamin merupakan larutan yang tidak berwarna, kembali. Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini
termasuk golongan anestesi disosiatif serta dapat dianalisis dengan mengunakan uji t (Steel dan Torrie,
dipakai oleh hampir semua spesies hewan. Ketamin 1989).
dengan pemberian tunggal bukan merupakan anestesi
yang ideal karena obat ini tidak merelaksasi musculus HASIL DAN PEMBAHASAN
bahkan kadang-kadang tonus otot sedikit meningkat.
Apabila diberikan secara intramuskular, efeknya akan Onset
terlihat dalam waktu 5-8 menit (Sardjana dan Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa
Kusumawati, 2004). Xilazin biasanya digunakan pada pemberian kombinasi ketamin-xilazin dan propofol
klinik bedah hewan, karena memiliki batas secara tunggal memengaruhi onset pada anjing jantan
keamanannya yang lebar serta menimbulkan analgesik lokal. Rata-rata (±SD) onset pada K1 vs K2 masing-
kuat (Abram and Lavinger, 1973). Efek xilazin akan masing adalah 25,3±1,52 vs 31,6±1,15 detik (P<0,01).
timbul sepuluh menit setelah injeksi intramuskular dan Onset yang diperoleh pada K1 lebih cepat
tiga menit secara intravena. Keadaan tidur biasanya dibandingkan K2. Keadaan ini dapat terjadi karena
berlangsung selama 1-2 jam dengan analgesik yang setiap obat anestesi memiliki sifat dan cara kerja yang
efektif selama 15-30 menit (Sawyer, 1985). berbeda-beda. Reseptor muskarinik xilazin akan
Propofol merupakan derifat fenol yang banyak menekan sistem saraf pusat, sehingga menimbulkan
digunakan sebagai anestesi intravena dan lebih dikenal efek sedatif hipnotik (Ko et al., 1995).
dengan nama dagang Diprivan. Propofol (Dipprivan, Ketamin digunakan sebagai induksi anestesi dengan
Recofol) dikemas dalam cairan emulsi lemak berwarna dosis 1-2 mg/kg bobot badan pada intravena atau 5-10
putih susu bersifat isotonik dengan pemekatan 1% mg/kg bobot badan pada intramuskular. Suntikan
(1 ml= 10 mg ). Pemberian propofol pada intravena ketamin melalui intravena tidak menimbulkan nyeri
sering menyebabkan nyeri, sehingga beberapa detik atau iritasi pembuluh darah. Kesadaran hilang 30-60
sebelumnya dapat diberikan lidokain 1-2 mg/kg bobot detik setelah penggunaan intravena dan 2-4 menit
badan. Obat ini pertama kali digunakan dalam praktek setelah suntikan intramuskular.
anestesi pada tahun 1977 sebagai obat induksi Propofol diperlukan dan menjadi obat pilihan untuk
(Anonimus, 2010). induksi anestesi. Setelah pemberian intravena,
Onset adalah waktu yang dibutuhkan suatu obat distribusi dengan waktu paruh 2-8 menit dan waktu
untuk memengaruhi tubuh, sedangkan sedasi adalah paruh eliminasi 30-60 menit. Propofol bersifat lipid
lama hewan teranestesi (hilangnya kesadaran sampai solubility, beronset cepat (40 detik), dan sedasi singkat
sadar kembali) (Michael, 1983). Onset dan sedasi (5-10 menit). Metabolismenya di hati dengan sangat
merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan cepat (10 kali lebih cepat dari pentotal) melalui
pengaruh obat terutama obat anestesi sehingga peneliti konjugasi dengan glukuronid dan sulfat, kemudian
merasa perlu melakukan penelitian tentang lamanya diekskresikan melalui urine dan kurang dari 1%
onset dan sedasi dari kombinasi ketamin-xilazin dan diekskresikan dalam bentuk yang tidak berubah
propofol. (Lucille, 1996).

95
Jurnal Medika Veterinaria Vol. 10 No. 2, Mei 2016

Sedasi DAFTAR PUSTAKA


Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa
pemberian kombinasi ketamin-xilazin dan propofol Abram, M. and I.M. Lavinger. 1973. The effect rompun on puma and
cat. Vet. Med. Rev. 14(4):323-331.
secara tunggal memengaruhi sedasi pada anjing jantan Adams, H.R. 2001. Veterinary Pharmacology and Theurapeutics.
lokal. Rata-rata (±SD) sedasi pada K1 vs K2 masing- 8th ed. Iowa State University Press, USA.
masing adalah 14,5±3,06 vs 4,35±1,13 menit. Data Anonimus. 2010. Propofol. http://henridumas.blogspot.com/2010/
yang diperoleh menunjukkan bahwa K1 memiliki 01/propofol.
Bishop, Y.M. 1996. The Veterinary Formulary. The
waktu sedasi yang lebih panjang jika dibandingkan K2 Pharmaceutical. 3rd ed. Lea & Febiger, London.
(P<0,01). Ganiswara dan G. Sulistia. 1995. Farmakologi dan Terapi. Edisi
Gejala klinis dari sedasi ditandai dengan hilangnya ke-4. Fakultas Kedokteran UI, Jakarta.
refleks, tremor, dan hilang rasa sakit yang disertai Hatch, R.C. and T. Ruch. 1974. Experiment on antogonism of ketamin
anesthesia in cat given andrenergic and cholinergich stimulant
dengan hilangnya kesadaran. Pada penggunaan alone and in combination. Am. J. Vet. Res. 70(6):35-38.
kombinasi ketamin-xilazin memperlihatkan gejala Ko, J.C., B.L. Williams, E.R. Rogers, L.S. Pablo, W.C. McCaine,
klinis berupa hewan tenang, refleks berkurang, dan and C.J. McGrath. 1995. Increasing xylazine dose-enhanced
terjatuh disertai hilangnya kesadaran yang sangat anesthetic properties of telazol-xylazine combination in swine.
Lab. Anim. Sci. 45(3):290-296.
dalam. Dosis propofol yang dibutuhkan pasien dan Lucille, B. 1996. Endotracheal intubation and safe anaesthesia
durasi anestesinya tergantung pada preanestetik yang intubation. Am. J. Vet. Res. 19(1):113-126.
digunakan. Apabila digunakan dosis 6 mg/kg bobot Mc Kelvey, D. and K. Wayne. 2003. Veterinary Anesthesia and
badan secara intravena, durasinya sekitar 5-10 menit Analgesia. Occation The Veterinarian, America.
Michael, A. 1983. Physiologi and Behavior of the Dog. Academic
(Bishop, 1996). Press, London.
Sardjana, I.K.W. dan D. Kusumawati. 2004. Anestesi Veterinary.
KESIMPULAN Jilid I. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Sawyer, D.C. 1985. Anesthetic and Anesthesia Effect. In Text book
Kombinasi ketamin-xilazin memiliki waktu onset of Small Animal Surgery. Slatter, D.H. (Ed.). 2nd ed. WB
yang lebih cepat dan sedasi yang lebih lama Saunders Co., Philadelphia.
Steel, R.G.D. dan J.H. Torrie. 1989. Prinsip dan Prosedur
dibandingkan dengan propofol secara tunggal pada Statistika: Suatu Pendekatan Biometrik. P.T. Gramedia,
anjing jantan lokal. Jakarta.

96
Perbandingan Gambaran Klinis Antara Kombinasi Atropin (R. E. Pertiwi et al)

PERBANDINGAN GAMBARAN KLINIS ANTARA KOMBINASI ATROPIN


SULFAS-XYLAZINE-KETAMINE OAN KOMBINASI ATROPIN SULFAS- M ID
AZOLAM-KET AMINE PADA KUCING1

(The Comparison of the Clinical Effects between Sulfas A tropin e-Xylazine-


Ketamine and Sulfas Atropine-Midazolam-Ketamine in Cats
R.E. Pertiwi, S. Widodo2), dan R.H. Soehartono2)

ABSTRACT

This study was carried out to compare the clinical effects of sulfas atropine-
xylazine-ketamine (AXK) and sulfas atropme-midazolam-ke(amine (AMK) on several clinical
parameters in cats. Thirty six cats were used in this study and divided into two groups, 18 cats
each group. In the first group cats received intramuscularly (IM) xylazine 10mg/kg BW and
ketamine 15mg/kg BW. In the other group cats received IM midazolam 0. 3mgfkg BW and
ketamine 15mg/kg BW Fifteen minutes prior to injection, both groups received subcutaneously
(SC) sulfas atropine 0.04 mg/kg BW The effects of anesthesia on onset, duration, and recovery
time among both groups were stgnificantiy different, p=0.00f, p=0.003, and p=0.044 respectively
There was no different between rectal temperature, respiratory rate and pupil dilatation in both
groups. Heart and respiratory rate were decreased in AMK milder than in AXK. Cats in group I
showed good muscle relaxation (100%), moderate vomit (27.7%), urination (38.8%), defecation
(111%) and dry mouth (0%) compared to other group, 83.3%, 0.00%, 0.00%, 0.00% and 44.4%
respectively. There was no clinical difference between male and female cats and between young,
middle and old cats. However, there was different respiratory rate (p=0.009) after injection sulfas
atropine and 15 minutes after anaesthesia (p=0.018)

Key words' ketamine, xylazine, midazolam, cat, age, sex

PENDAHULUAN

Berbagai prosedur diagnostik dan operasi di dunia kedokteran hewan sering memerlukan
tindakan anestesi. Kucing memerlukan perhatian khusus dalam prosedur anestesi karena sulit
ditangani, merrnliki kelenturan otot tinggi, gerakannya cepat, mudah stres, serta dapat mencakar
dan menggigit (Wills, 1993). Kucing memiliki enzim glucoronyl transferase dalam konsentrasi
sedikit jika dibandingkan dengan spesies lain. Enzim ini berperan dalam metabolisme obat di hati
sehingga peluang intoksikasi pada kucing lebih besar (Mayer, 1993).
Kematian akibat tindakan anestesi pada kucing dengan kondisi status fisik hewan sehat
{resiko minimal) adalah 1.06%, resiko ringan 1.11%, resiko sedang 3.33 %, dan resiko berat
33.33% (Lumb dan Jones, 1996). Komplikasi pada tindakan anestesi kucing sebesar 1.30-10.40%
dengan gejala utama hipotensi, aritmia, dan apnea. Komplikasi pernah dilaporkan terjadi pada
kucing

123
Forum Pascasarjana Vol. 27 No 2 April 2004 123-134

'' Bagian dan penelitian tesis penulis pert am a, Program Studi Sains Vetenner, Sekolah
Pascasarjana IPB
11
Berturut-turut Ketua dan Anggota Komisi Pembimbing
muda sehat. Rata-rata kematian 0 06-0 40% (Mama, 1998). Di Indonesia data komplikasi dan
kematian pada tindakan anestesi kucing belum pernah dilaporkan
Anestetikum injeksi yang sering digunakan pada kucing adalah ketamine Ketamine
termasuk anestetikum disosiatif golongan cyclohexamine. Efek samping ketamine adalah
hipersalivasi, relaksasi otot buruk, hipertonus, dan masa siuman yang lambat. Kombinasi dengan
obat lain bertujuan mengurangi efek samping ketamine (Wright, 1982). Penggunaan atropin sulfas
mengurangi hipersalivasi pada kucing (Brock, 2001). Xylazine berefek sedatif, anestesi,
analgesia, dan relaksasi otot baik. Kelemahan xylazine adalah efek analgesia yang tidak dapat
diukur. bradikardi, hipotensi, hipoventilasi, disrrithmia, menghasilkan efek seperti tertidur,
khususnya pada anjing dan kucing disertai muntah (Dart, 1999) Xylazine hanya digunakan pada
hewan dan obat ini relatif sulit didapat di Indonesia
Midazolam merupakan golongan benzodiazepine yang umum digunakan pada manusia
Midazolam mencegah hipertonus otot, menmgkatkan efek sedasi. menghasilkan efek hipnotik,
dan lebih potensial jika dibandingkan dengan diazepam (Lumb dan Jones, 1996) Midazolam
bersifat stabil di dalam farutan sehingga dapat dikombinasikan dengan ketamine atau
ketamine-larutan saline untuk pemberian secara infus (Jacobson et a/., 1993) Midazolam
diabsorbsi dengan baik dan tidak mengiritasi jarmgan bila diaplikasikan intramuskular (Lumb dan
Jones. 1996). Sampai saat ini data penggunaan midazolam pada kucing belum pernah dilaporkan
di Indonesia, tetapi midazolam banyak digunakan pada manusia dan relatif mudah didapat jika
dibandingkan dengan xylazine yang hanya digunakan pada hewan.
Data pengaruh umur dan jenis kelamin kucing pada tindakan anestesi masih belum
dilaporkan, termasuk penggunaan kombinasi atropin sulfas-xylazine- ketamine dan kombinasi
atropin sulfas-midazolam-ketamine. Penelitian ini bertujuan mengamati berbagai efek klinis,
waktu induksi, durasi dan waktu siuman penggunaan atropin sulfas-xylazine-ketamine dan atropin
sulfas-midazolam- ketamine pada kucing ditinjau dari umur dan jenis kelamin.
METODE PENELITIAN Waktu dan
Tempat

Penelitian dilakukan April 2002 - September 2003 di Rumah Sakit Hewan Institut Pertanian
Bogor, Laboratorium Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor dan
Laboratorium Mandapa Farma Bogor.

Hewan Percobaan
Hewan percobaan adalah 36 ekor kucing lokal bulu pendek dengan spesifikast sebagaimana
yang disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Hewan percobaan yang digunakan dalam penelitian _ ___________

124
Perbandingan Gambaran Klinis Antara Kombinasi Atropin (R. E. Pertiwi et al)

Jumlah (ekor) Jenis kelamin ____________ Status Umur (buIan) Bobot


badjanjkg_{_
6Betina """ Muda 6.33 ± 0.47 1.83 ±0.69
6 Jartan Muda 5 67 ± 0.47 1.92 ±0 61
6 Betina Dewasa 23.00± 5.39 2.67±047
6 Jartan Dewasa 23.67 ± 4.96 3.75 ± 0 38
6 Betina Tua 78.00 ± 9 45 3.42 ±0 92
6 Jartan Tua 85.50t 12.00 4.33 ± 0.47
Metode Percobaan

Kucing diadaptasikan 4-6 minggu. Sebelum perlakuan, dilakukan pemeriksaan feses, urin
(Yenaco 10 tests reagent Strip), hemogram {hemoglobin, jumlah eritrosit, hematokrit, indeks
eritrosit, total leukosit, diferensiasi leukosit), dan kimia darah (total protein, albumin, globulin,
SGPT) untuk mengetahui kondisi kesehatan dan data penelitian awal Penghitungan jumlah
eritrosit, hemoglobin, hematokrit dan total leukosit dilakukan dengan Cell Counter Machine
Celdyn-1400. Penghitungan indeks eritrosit dan diferensiasi leukosit dengan pewarnaan Giemsa
mengikuti metode Pratt (1985). Kimia darah diukur dengan teknik fotometrik kolorimetrik
menggunakan kit reagen berdasar pada metode Biuret
Kucing dipuasakan 12 jam sebelum perlakuan kecuali air minum ad libitum. Semua aspek
klinis diamati sebelum perlakuan. Injeksi atropin sulfas 0,04 mg/kgBB subkutan (Atropini
sulfas®, Indo Farma). Lima belas menit kemudian dilanjutkan dengan penyuntikan ketamine
(Ketavet 100®, Delvet Pty,Ltd)-xylazine (Seton 2%®, Laboratories Caller,S.A) atau ketamine
{Ketavet 100®, Delvet Pty,Ltd)-midazolam (Dormicum®, Roche) sesuai dengan kelompok
percobaan pada Tabel 2. Pengamatan efek klinis dilakukan setiap selang 15 menit sampai hewan
duduk sternal.

Tabel 2. Kelompok hewan percobaan

Jenis kelamin ______________________ Umur ________


___________________Muda (1) ______ Dewasa (2) ~ Tua (3)
Jantan (J) MK MK MK
XK XK XK
Betina (B) MK MK MK
XK XK XK
Keterangan. XK- xylazine (2.00 mg/kgBB) dan ketamine (15 mg/kg8B) intramuskular; MK-
midazolam (0.30 mg/kgBB) dan ketamine {15mg/kgBB) intramuskular; jumlah 3
ekor tiap kelompok perlakuan

Parameter Pengamatan

Waktu induksi, durasi dan waktu siuman

125
Forum Pascasarjana Vol. 27 No 2 April 2004 123-134

Waktu induksi 1 (WI-1): waktu antara anestetikum diinjeksikan sampai keadaan hewan
tidak dapat berdiri. Waktu induksi 2 (WI-2) waktu antara anestetikum diinjeksikan sampai
keadaan hewan tidak ada refleks pedal {masuk stadium operas)). Durasi (D): waktu hewan
memasuki stadium operasi sampai hewan sadar kembali dan merasakan sakit bila daerah sekitar
jari kaki ditekan dengan pinset anatomis. Waktu siuman (WS): waktu antara ketika hewan
merasakan sakit bila saraf di sekitar jari kaki ditekan atau mengeluarkan vokal sampai hewan
memiliki kemampuan untuk duduk sternal, berdiri, atau jalan

Parameter fisiologis
Parameter fisiologis yang diamati adalah laju jantung (x/menit), warna mukosa gingiva,
waktu pengisian kembali kapiler pada mukosa membran bucalis (CRT), laju respirasi (x/menit),
suhu tubuh, diameter pupil (mm), respons terhadap cahaya, relaksasi otot (baik, sedang, buruk),
refleks (pedal dan palpebare), dan gejala klinis lain (muntah, hipersalivasi, defekasi, dan urinasi).

Analisis Statistik

Analisis statistik menggunakan rancangan petak terpisah (split-plot design) dengan


rancangan acak lengkap (RAL). Jenis kelamin sebagai petak utama, umur sebagai anak petak
umur, dan jenis praanestetikum sebagai anak petak berikutnya Setiap perlakuan diulang 3 kali Uji
lanjut menggunakan perbandingan berganda Duncan (Mattjik, 2000). Beberapa data dianalisis
dan disajikan secara deskriptif
HASIL DAN PEMBAHASAN Efek Klinis Atropin Sulfas-Xylazine-Ketamine

Waktu induksi 1, waktu induksi 2, durasi dan waktu siuman.


Waktu induksi 1 yang cepat {Tabel 3) menunjukkan bahwa absorbsi obat berlangsung cepat
Semua kucing memasuki stadium anestesi ke-3 (stadium operasi) Ketamine menghambat
transmisi preganglionik pada ganglia simpatetik sehingga terjadi hambatan beberapa
neurotransmiter seperti antikolinergik dan norepinephnn (Wright, 1982). Durasi kombinasi obat
ini panjang karena efek depresan ketamine bertambah dengan pemberian xylazine yang rnemiliki
fungsi sedatif dan analgesia. Sedasi terjadi karena xylazine menghambat reseptor o2 di lokus
ceruleus sel nonadrenergik pada sistem saraf pusat. Analgesia terjadi karena xylazine mengurangi
konsentrasi norepinephnn dan epinephrin (Doherty, 1988).

Tabel 3. Efek Atropin-xylazine-ketamine terhadap waktu induksi, durasi, dan waktu siuman
Jenis kelamin dan umurWaktu induksi 1Waktu induksi 2 Durasi Waktu siuman
Jl 1 77+0.63 2.73+1.07 67.18±2Ql8 29~71±15 51
J2 2.70+1.16 6.78±5.44 66.90±18.15 82 73+58 53
J3 2.41+0.81 5.09±1.48 136.69±64.11 75.27± 8.89
B1 2.22+0.42 2 99±1.69 7961M2.23 21 81 + 11.05
B2 166l0.42 5 36±3.53 111 98+63 00 51.98+1996
B3 2.16±0.75 4 68±1.08 109.55±22.84 48.69±49.05

126
Perbandingan Gambaran Klinis Antara Kombinasi Atropin (R. E. Pertiwi et al)

Keterangan: J1= Jantan muda; J2= Jantan dewasa, J3= Jantan tua; B1= Betina muda; B2= Betina
dewasa; B3= Betina tua

Waktu siuman yang panjang terjadi karena pengembalian konsentrasi norepinephnn lambat.
Eliminasi kombinasi ketamine-xylazine dua kali lebih lama jika dibandingkan dengan ketamine
tanpa xylazine. Xylazine menyebabkan penurunan tekanan arteri dan aliran darah. Penurunan ini
mengurangi kecepatan metabolisme ketamine menjadi norketamine di hatf sehingga terjadi
pemeliharaan konsentrasi ketamine pada plasma dan otak. Xylazine berpengaruh menghambat
N-dimethylasi dan konyugasi glucoronide oleh enzim glucoronyl transferase di hati sehingga
ketamine hanya dimetabolisme menjadi metabolit pertama (norketamine) dan tidak
dimetabolisme menjadi metabolit kedua (dehidronorketamine). Dehidronorketamine tidak
ditemukan pada plasma dan urin kucing, tetapi ditemukan pada tikus, anjing, kambing, manusia,
dan primata (Waterman, 1983).
Parameter Fisiologis
Tabel 4 menyajikan parameter fisiologis yang dihasilkan. Suhu tubuh pascainjeksi atropin
sulfas mengalami kenaikan pada jantan dewasa, betina muda, dan betina tua. Penurunan suhu
tubuh terjadi pada jantan muda, jantan tua, dan betina dewasa. Penurunan dan kenaikan suhu
tubuh ini tidak berbeda nyata jika dibandingkan suhu tubuh awal. Frekuensi respirasi
menunjukkan kecenderungan kenaikan kecuali pada jantan muda. Frekuensi jantung cenderung
mengalami penurunan kecuali pada jantan muda, jantan tua, dan betina tua. Peningkatan
frekuensi respirasi pada awal dan pascainjeksi atropin sulfas disebabkan oleh stres saat
penanganan, pengambilan darah awal, dan penyuntikan atropin sulfas. Farmakologi atropin sulfas
tidak membuat kenaikan frekuensi respirasi (Plumb, 1991). Dilatasi pupil sebesar 22.2%
pascainjeksi atropin sulfas (0.7 mm menjadi 1 1 mm).
Penurunan suhu tubuh diikuti oleh penurunan frekuensi respirasi terjadi pada menit ke-15
pascainjeksi kombinasi. Penurunan frekuensi respirasi dapat terjadi akibat relaksasi otot-otot di
antara tulang iga yang berfungsi mengembang- kempiskan rongga dada sewaktu respirasi karena
xylazine termasuk golongan relaksan otot Pada pemakaian dosis tinggi, xylazine akan
menurunkan tidal volume dan frekuensi respirasi karena penekanan pusat sentral respirasi (Muir,
2000). Frekuensi jantung cenderung menurun kecuali pada jantan muda Kondisi cyanotis terjadi
seluruhnya pada jantan dewasa, jantan tua, betina dewasa, dan betina tua Cyanotis pada jantan
muda dan betina muda masing-masing 66.7%. Relaksasi otot 100% bagus pada seluruh hewan
coba karena xylazine menghambat transmisi intraneural dalam sistim saraf pusat (Lumb dan
Jones, 1996).

label 4. Nilai rata-rata suhu tubuh, frekuensi respirasi, dan frekuensi jantung kucing pada
atropin sulfas-xylazine-ketamine

127
Forum Pascasarjana Vol. 27 No 2 April 2004 123-134

Jems kelamin Awa Pascain Pascainjeksi


dan umur l jeksi xylazine
-ketamme
atropin 15 30 45 60
sulfas menit menit menit menit
...Suhutubuhm
J1 38.82' 38.72* 38.24 3770* 37 27* 36.95
* " °
J2 38.17 38.35 37.98 37.77 37 66 37.62
J3 38.23* 38.22* 37.69 37.53 37 28* 37.16
* * "
B1 38.86* 39.08* 38.95 38 38 11* 37
* 53" 73"
B2 38.17* 38.06* 37.86 37.36 37 10* 36.81
bc
* "
63 38.33* 38.37* 38 37.77 37 60* 37.10
30* ** °
Frekuensi
resDirasi
Ix/menrtV ..
J1 49.33* 46.67* 24.00 22.67 2667* 29
1
° 33«
J2 49.00" SOS?' 28.00 3067* 10.67* 32.00
= *
J3 31.33* 33.67* 19.0f 19.00 20.67* 20
r * 67*
B1 48 00* 54.00* 24.00 25.33 3333* 38.67
d
" *
B2 41.33* 44.00* 16.00 19.33 25.33" 28.00
" " "
B3 31.33 3633 19.67 28.00 27.33 28.67
Frekuensi iantuna
Ix/menitl ..............
J1 110.67" 129.33* 145.3 144.0 130.67 126.6
= 3* 0* * 7*
J2 148.67 146.67 144.0 137.3 144.00 136.0
0 3 0
J3 128.67* 136.00* 129.0 120.6 116.00 104.6
0* 7* * 7"
B1 149.33 145.67 140 134.6 136.00 130.6
00 7 7
B2 154.67 144.00 142.6 138.6 130.67 129.3
7 7 3
128
B3 152.00* 162.67* 137.6 142 135.00 134.6
7* 00* "
Perbandingan Gambaran Klinis Antara Kombinasi Atropin (R. E. Pertiwi et al)

Dilatasi pupil sebesar 77.8% pascainjeksi kombinasi (0.7 mm menjadi 1.0 mm). Midriasis
disebabkan oleh hambatan parasimpatis pada iris dan atau stimulasi langsung simpatetik dari
cx2adrenoceptor yang berlokasi pada iris dan sistem saraf pusat (Lumb dan Jones, 1996). Dilatasi
pupil juga merupakan efek ketamine karena ada rangsangan pada sistem saraf simpatis
(Warren,1983). Respons pupil terhadap cahaya tetap ada pascainjeksi xylazine-ketamine (42 2%),
kecuali pada jantan muda (1 ekor), jantan tua (2 ekor) , betina dewasa (2 ekor), dan betina tua (3
ekor). Refleks palpebrae masih tertihat pascainjeksi atropin sulfas pada seluruh kelompok dan
refleks hilang selama anestesi.
Penurunan suhu tubuh tetap terjadi pada 30 menit pascainjeksi kombinasi. Suhu tubuh
kucing yang teranestesi turun di bawah normal karena pusat suhu tubuh di hipotalamus terdepres.
Pada anestesia umum, dan penurunan suhu tubuh juga disebabkan oleh vasodilatasi pembuluh
darah perifer, pengurangan pembentukan panas oleh otot skelet, dan penurunan rata-rata basal
metabolisme tubuh karena tidak ada aktivitas tubuh selama anestesi (Lumb dan Jones, 1996, Muir
et ai. 2000) Frekuensi respirasi cenderung meningkat walaupun penurunan tetap terjadi pada
jantan muda. Penurunan atau peningkatan frekuensi respirasi tidak berbeda nyata. Frekuensi
jantung cenderung menurun kecuali pada betina tua Cyanotis terjadi pada jantan muda (33.3%)
dan betina muda (33.3%). Tidak adanya respons pupil terhadap cahaya pada menit ke-15
pascainjeksi kombinasi kembali ada setelah menit ke-30 pascainjeksi Satu ekor betina tua tidak
menunjukkan respons cahaya sampai masuk waktu siuman.
Penurunan suhu tubuh tetap terjadi pada menit ke-45 dan menit ke-60 pascainjeksi
kombinasi. Penurunan frekuensi respirasi menit ke-45 hanya pada betina tua. Menit ke-60
pascainjeksi xylazine-ketamine terjadi peningkatan frekuensi respirasi pada semua kelompok.
Frekuensi jantung menit ke-45 cenderung mengalami penurunan frekuensi kecuali pada jantan
dewasa dan betina muda. Penurunan frekuensi jantung pada seluruh kelompok terjadi menit
ke-60. Cyanotis terjadi seluruhnya pada hewan coba pada menit ke-45 dan menit ke-60.
Penurunan frekuensi jantung disebabkan oleh pengurangan aktivitas simpatetik oleh
xylazine yang berakibat pada kontriksi pembuluh darah perifer sehingga frekuensi jantung, curah
jantung, dan tekanan darah perifer akan menurun Lamanya bradikardi bergantung pada dosis
xylazine (Doherty, 1988; Cullen, 1999) Penurunan ini diimbangi oleh ketamine dan atropin sulfas
sehingga penurunan tidak mencapai batas ambang minimal. Kerja ketamine pada sistem saraf
pusat akan meningkatkan aliran darah otak dan pemakaian oksigen sehingga terjadi stimulasi
general dari pusat vasomotor dan perifer untuk melepaskan norepinephnn yang membuat
frekuensi jantung lebih tinggi (Lumb dan Jones, 1996) Pemberian atropin sulfas akan mencegah
bradicardi dan disarrythmia berlebihan yang disebabkan xylazine dengan mencegah stimulasi
reseptor muskarimk akibat akumulasi asetikolin (Brock, 2001).
Pengukuran diameter pupil tidak selalu dapat dilakukan selama kondisi anestesia karena
efek lain pada mata, seperti naiknya membran niktitan, mata setengah tertutup atau mata menutup.
Kejadian ulkus kornea teramati pada hewan dengan posisi mata terbuka. Mata yang terbuka
sebagai efek dari ketamine, akan menimbulkan kekeringan pada kornea mata. Kejadian tidak

129
Forum Pascasarjana Vol. 27 No 2 April 2004 123-134

adanya respon pupil dalam waktu singkat, mata menutup, setengah menutup, dan kenaikan
membran niktitans karena efek sedasi xylazine yang menginduksi hewan seperti tertidur. Adanya
transmisi noradrenergik dalam jumlah moderat meningkatkan tidur (Stenberg, 1989).
Muntah terjadi sebesar 27.7% karena xylazine merangsang pusat muntah di hipotalamus
posterior, sedangkan ketamine tidak merangsang sistem saraf muntah (Lumb dan Jones, 1996}.
Urinasi (38.8%) terjadi karena xylazine mampu menghambat ADH disertai peningkatan sekresi
air dan sodium (Cullen,1999). Efek lain adalah defekasi 11.1% dan tidak terlihat gerakan
mengecap (0%).

Efek Klinis Atropin Sulfas-Midazolam-Ketamine

Waktu induksi 1, waktu induksi 2, durasi dan waktu siuman.


Waktu induksi 1 yang cepat menunjukkan absorbsi obat berlangsung cepat (Tabel 5) Waktu
induksi 2 dan durasi kucing jantan muda tidak dapat diukur karena seluruh hewan percobaa n dari
kelompok ini tidak mencapai stadium anestesia. Pada kelompok betina, dua ekor betina muda dan
satu ekor betina tua tidak terbius setelah injeksi midazolam-ketamine. Hal ini dapat terjadi karena
midazolam hanya memmbulkan sedasi dan tidak bersifat analgesia sehingga depresi neuron oleh
ketamine tidak bertambah, Selain itu midazolam memiliki masa metabolisasi dan eliminasi cepat
(Plumb, 1991).
Metabohsasi dan eliminasi obat dan tubuh berhubungan dengan kecepatan metabolisme
individu. Metabolisme tubuh lebih tinggi pada umur muda danpada dewasa dan tua. Faktor yang
mempertinggi metabolisme tubuh, antara lain, stres dan zat katekolamine. Stres sering terjadi
pada kucing muda karena usaha pertahanan din dari gangguan diluar tubuh Ketamine dapat
meningkatkan sirkulasi katekolamine pada tubuh Pada kuda dan manusia, masa siuman lebih
cepat terjadi pada penggunaan midazolam-ketamine daripada midazolam sendm (Luna etat,
1992).

Tabel 5. Efek atropin sulfas-midazolam-ketamine terhadap waktu induksi, durasi, dan waktu
siuman

PerlakuanWaktu induksi 1 Wgktu induksi 2 __ Durasi Waktu siuman


J1 1 65-0 70 -"" •
J2 2.11i0.69 7.39+3 21 37 34± 9.11 11.57+ 7 67
J3 4.16+4.68 11 04+8.93 43.69+ 3 31 49.37-21.05
B1 1.30±0.78 10.34±6.4520.48+10 15 5 59±1.72
B2 2.12+0.84 8.0910.4830.00+15.99 21 81 116 57
B3 3.2311 21 12.6910.83 42.13±10.88 12 71+11.26
Keterangan: J1= Jantan muda; J2= Jantan dewasa; J3- Jantan tua; B1- Betina muda; B2= Betina
dewasa; B3= Betina tua

Parameter fisiologis

130
Perbandingan Gambaran Klinis Antara Kombinasi Atropin (R. E. Pertiwi et al)

Tabel 6 menyajikan hasil pengamatan parameter fisiologis efek klinis atropin sulfas
midazolam-ketamine. Suhu tubuh pascainjeksi atropin sulfas mengalami kenaikan kecuali pada
betina muda. Penurunan dan kenaikan suhu tubuh tidak berbeda nyata jika dibandingkan dengan
suhu tubuh awal. Frekuensi respirasi cenderung mengalami kenaikan. Peningkatan frekuensi
respirasi di awal pengamatan dan pascainjeksi atropin sulfas disebabkan stres pada Kucing saat
penanganan, pengambilan darah awal, dan penyuntikan atropin sulfas. Farmakologi atropin sulfas
tidak membuat kenaikan frekuensi respirasi (Piumb, 1991). Frekuensi jantung cenderung
meningkat kecuali pada betina muda dan dewasa. Penurunan pada kedua kelompok ini tidak
berbeda nyata. Menurut Cullen (1999), kenaikan frekuensi jantung disebabkan oleh atropin sulfas
sebagai zat kolinergik dan bersifat arrithmogenik (dapat bersifat bradikardi atau takikardi).
Pascainjeksi midazolam-ketamine berpengaruh sedikit terhadap frekuensi jantung. Penggunaan
midazolam aman bagi pasien jantung karena efek midazolam sediktt pada curah jantung,
frekuensi jantung, dan ritme jantung (Cornick-Seahorn, 1994).
Pascainjeksi atropin sulfas terjadi dilatasi pupil 33.3% (0.5 mm menjadi 0.9 mm) dan 11.11%
ukuran pupil berkurang (0 8 mm menjadi 0.6 mm). Dilatasi pupil disebabkan oleh rangsangan
ketamine pada sistem saraf simpatis (Warren, 1983). Midazolam tidak memiliki efek pada pupil.
Pupil mengecil pada hewan yang tidak teranestesi karena gerakan alat pengukur mendekati bola
mata.

Tabel 6. Niiai rata-rata suhu tubuh, frekuensi respirasi, dan frekuensi jantung kucing pada
atropin sulfas-midazolanvketamine

131
Forum Pascasarjana Vol. 27 No 2 April 2004 123-134

Jems kelamin Awal Pascainjeksi


Pascainjeksi
dan umur midazolam-kelamin
e
atropin sullas 15 30 45 60
menit menit menit meni
t
SiihutiihiiH
rC) ..............
J1 38,47* 38.78 38.00 37.65 -
* * =
J2 38.90* 3893 38.17 37.73 37.37= 3685
J
* " " "
J3 3820s 33.20 37.87 37 37,27* 37.0
* * 60* 3'
:
B1 38.92' 3890 38 37.70 37 35
* 23® *
B2 38 70" 38 38.37 38.03 3783° -
67' * *
B3 38.33' 38.37 37 37.53 37,27* 3695
" 90* * '
J1 50.67 52.00 .. Frekuensi
" ' respirasi (x/menit) ...
28.00" 17,67"
J2 49,33* 49 22.67 17.33 33 33' 4200
33" ° " '
J3 22.67* 28.33 15.67 13.00 20.00* 3200
* * " '
B1 4267* 42.67 21.33 37,33 46 00"
* " *
B2 40 00 40.00 33 33 33.33 36.00
B3 34.00 37.00 26,00 21.00 33 33 2700
J1 157 33 164.0 Fre ku ensi ja ntung
0 (x/men it) ..............
164.00 156.00
J2 164 00 164.0 152.0 156.0 161 33 172
0 0 0 00
J3 119 33 140.6 135.0 136.6 139 33 142
7 0 7 00
B1 133.33 129 149 152 168.00'
d
33° 33* 00*
B2 156.00 150.6 152 152 150.67
7 00 00
B3 150 67 162.6 138.3 135 154 67 150
7 3 67 00
132
Keterangan: J1= Jantan muda, J2= Jantan dewasa, J 3= Jantan tua, Bl~
Perbandingan Gambaran Klinis Antara Kombinasi Atropin (R. E. Pertiwi et al)

muda, B2= Betina dewasa; B3- Betina tua. Superscript (a,b,c,d) yang berlainan ke
arah baris, berbeda nyata (p<0 05) di antara setang waktu datam kelompok yang
sama

Penurunan suhu tubuh terjadi kecuali jantan muda dan tua diikuti oleh penurunan frekuensi
respirasi pada menit ke-15 pascainjeksi midazolam-ketamine. Penurunan frekuensi respirasi
disebabkan oleh relaksasi otot-otot di antara tulang iga yang berfungsi mengembangkempiskan
rongga dada sewaktu respirasi karena midazolam termasuk golongan relaksan otot. Midazolam
menyebabkan sedikit penekanan pada frekuensi respirasi. Penekanan respirasi oleh midazolam
bersifat sementara (Cornick-Seahorn, 1994; Lumb dan Jones, 1996). Frekuensi jantung cenderung
mengalami penurunan frekuensi kecuali pada betina muda dan dewasa. Kondisi cyanotis terjadi
pada jantan dewasa dan tua (100%), betina dewasa (66.7%), betina tua (66.7%), dan 33.3% pada
betina muda. Kejadian cyanotis tidak terjadi pada hewan yang tidak teranestesi sebab kejadian
cyanotis berkaitan dengan kedataman anestesi. Relaksasi otot 83.3% bagus dan 16.7% sedang.
Midazolam menghambat transmisi intraneural dalam sistem saraf pusat sehingga terjadi relaksasi
otot (Lumb dan Jones. 1996) Dilatasi pupil sebesar 55 6% post injeksi kombinasi (0.6 mm
menjadi 1mm) Refleks palpebrae masih terlihat pascainjeksi atropin sufas dan refleks hilang
selama anestesi.
Penurunan suhu tubuh tetap terjadi pada menit ke-30 pascainjeksi midazolam- ketamine karena
terdepresnya pusat suhu tubuh di hipotalamus, vasodilatasi pembuiuh darah perifer, pengurangan
pembentukan panas oleh otot skelet, dan penurunan rata-rata basal metabolisme tubuh karena
tidak ada aktivitas tubuh selama anestesi umum (Lumb dan Jones, 1996, Muir ef a!, 2000).
Frekuensi respirasi cenderung menurun kecuali pada betina muda. Frekuensi jantung cenderung
meningkat kecuali pada jantan muda dan betina tua. Cyanotis terjadi pada betina tua (33.3%).
Pada menit ke-45 dan ke-60 pascainjeksi midazolam-ketamine penurunan suhu tubuh
terjadi diikuti oleh peningkatan frekuensi respirasi. Frekuensi jantung cenderung mengalami
peningkatan kecuali pada betina dewasa. Frekuensi respirasi pada betina tua mengalami
penurunan di menit ke-60. Frekuensi jantung cenderung meningkat kecuali pada betina tua
mengalami penurunan di menit ke- 60.
Respons pupil terhadap cahaya (100%) tetap ada pada kombinasi midazolam-ketamine. Hal
ini menunjukkan tidak adanya pengaruh midazolam dan ketamine pada mata. Refleks palpebrae
masih terlihat pascainduksi atropin sulfas pada seluruh kelompok hewan percobaan, tetapi refleks
hilang selama anestesi. Ulkus kornea tidak teramati pada kombinasi atropin
sulfas-midazolam-ketamine. Muntah, urinasi, dan defekasi tidak terjadi (0%). Efek lain adalah
gerakan mengecap (44.4%).

Efek Klinis Atropin Sulfas-Xylazine-Ketamine dan Atropin Sulfas- M id azolam-Keta mine

Kombinasi yang digunakan tidak berpengaruh nyata pada waktu induksi 1 (p=0.385), tetapi
berbeda nyata pada waktu induksi 2 (p=0.001), durasi (p=0.003), dan waktu siuman (p=0.044).
Suhu tubuh baik di awal perlakuan (p=0.529), pascainjeksi atropin sulfas (p=0.316), 15 menit

133
Forum Pascasarjana Vol. 27 No 2 April 2004 123-134

pascainjeksi praanestetikum- ketamine (p=0.607) dan 30 menit pascainjeksi


praanestetikum-ketamine (p=0.259) tidak berbeda nyata pada kedua grup, walaupun penurunan
suhu pada atropin sulfas-xylazine-ketamine cenderung lebih rendah jika dibanding dengan
atropin sulfas-midazolam-ketamine karena penurunan suhu tubuh berkaitan dengan kedalaman
anestesi. Semakin lama durasi, suhu tubuh semakin turun.
Pola kenaikan dan penurunan frekuensi respirasi tidak berbeda nyata antara kedua grup
pada awal perlakuan (p=0.588), pascainjeksi atropin sulfas (p=0.583), 15 menit pascainjeksi
praanestetikum-ketamine (p=0.138), dan 30 menit pascainjeksi praanestetikum-ketamine
(p=0.761).
Kombinasi kedua grup yang digunakan tidak berpengaruh nyata pada frekuensi jantung di
awal perlakuan (p=0 366), pascainjeksi atropin sulfas (p=0.152), dan 15 menit pascainjeksi
praanestetikum-ketamine (p=0.299). Pada 30 menit pascainjeksi praanestetikum-ketamine,
frekuensi jantung berbeda nyata (p=0.032) Penggunaan xylazine-ketamine menyebabkan
penurunan frekuensi jantung, tetapi midazolam-ketamine sedikit berpengaruh terhadap frekuensi
jantung.
Pengaruh Umur dan Jenis Kelamin

Tidak ada pengaruh nyata umur dan jenis kelamin terhadap waktu induksi, durasi dan masa
siuman, walaupun pada Tabel 3 dan 5 terlihat waktu induksi, durasi, dan masa siuman oleh
pemakaian atropin sulfas-xylazine-ketamine dan atropin sulfas-midazolam-ketamine berbeda
pada tiap kelompok umur dan jenis kelamin, Durasi dan waktu siuman lebih lama pada umur tua
jika dibandingkan dengan umur muda, baik pada kombinasi atropin sulfas-xylazine-ketamine
maupun atropin sulfas-midazolam-ketamine Bertambahnya usia berakibat penurunan
metabolisme secara perlahan sesuai dengan pengurangan aktivitas dan terjadi penurunan fungsi
hepatorenal karena penurunan aliran darah (Vetstream, 2003) Komposisi tubuh hewan berubah
sesuai dengan umur, jaringan aktif metabolisme akan digantikan oleh lemak sehtngga obat yang
larut dalam lipid akan mengalami peningkgtan volume distnbusi. Faktor di atas turut berperan,
hewan berumur tua akan lebih terdepres dengan perlakuan anestesi sehsngga masa durasinya akan
lebih panjang (Reid dan Nolan, 1996),
Seluruh k.ucing jantan muda tidak teranestesi pada pemakaian atropin sulfas-
midazolam-ketamine, sedangkan betina muda dengan perlakuan yang sama hanya satu ekor yang
tidak teranestesi Menurut Warren (1983), hewan jantan memiliki kecepatan metabolisme lebih
tinggi daripada betina. Basal metabolisme jantan lebih tinggi 7% daripada betina (Lumb dan
Jones, 1996).
Tidak ada pengaruh nyata jenis kelamin pada suhu tubuh baik pada awal, sesudah diinjeksi
atropin sulfas maupun setelah injeksi xylazine-ketamine atau midazolam-ketamine. Umur
berpengaruh pada suhu tubuh setelah diinjeksi oleh atropin sulfas (p-0,013). Hal ini
dimungkmkan karena faktor stres individu akibat perlakuan pemertksaan awal, pengambilan
darah, dan penyuntikan atropin sulfas, Namun, setelah injeksi kombinasi xylazine-ketamine
ataupun midazolam-ketamine tidak terlihat lagi pengaruh umur terhadap suhu tubuh

134
Perbandingan Gambaran Klinis Antara Kombinasi Atropin (R. E. Pertiwi et al)

Tidak ada pengaruh nyata jenis kelamin pada frekuensi respirasi baik sesudah diinjeksi
atropin sulfas maupun setelah injeksi xylazine-ketamine atau midazolam-ketamine Faktor umur
berpengaruh pada frekuensi respirasi sebelum perlakuan (p=0007), pascainjeksi atropin sulfas
(p=0.Q09), dan 15 menit pascainjeksi xylazine-ketamine atau midazolam-ketamine (p=0.018)
Interaksi antara obat, umur, dan jenis kelamin berbeda nyata pada 15 menit pascainjeksi
praanestetikum-ketamine (p=0.004). Frekuensi pernafasan dipengaruhi tingkat rata-rata
metabolisme tubuh dan aktivitas hewan. Hewan tua memiliki aktivitas lebih rendah dan
mengalami perubahan fisiologis respirasi karena berkurangnya kekuatan otot respirasi, penurunan
elastisitas dinding dada, penurunan volume darah kapiler pulmonum, dan permukaan alveolar
menyebabkan pengurangan efisiensi pertukaran udara (Vetstream, 2002).
Tidak ada pengaruh nyata jenis kelamin dan umur pada frekuensi jantung, baik sesudah
diinjeksi atropin sulfas maupun setelah injeksi kombinasi
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

(1) Kombinasi atropin sulfas-xylazine-ketamine menghasilkan waktu induksi lebih cepat, durasi
dan masa siuman lebih lama, penurunan frekuensi jantung,
relaksasi otot (100%) , muntah (27.7%) , urinasi (38.8%), dan defekasi (11.1%). Kombinasi
ini tidak menyebabkan efek mengecap.
(2) Kombinasi atropin sulfas-midazolam-ketamine menghasilkan waktu induksi lebih lama,
durasi dan masa siuman singkat, penurunan frekuensi jantung, relaksasi otot (83.3%) dan
efek mengecap 44.4%. Kombinasi ini tidak menimbulkan muntah, urinasi dan defekasi.
(3) Suhu tubuh, frekuensi respirasi, efek dilatasi dan respons cahaya terhadap pupil tidak berbeda
nyata antara pemberian kombinasi atropin sulfas-xylazine- ketamine dan atropin
sulfas-midazolam-ketamine.
(4) Tidak ada pengaruh jenis kelamin kucing pada pemberian kombinasi atropin
sulfas-xylazine-ketamine dan atropin sulfas-midazolam-ketamine.
(5) Umur berpengaruh pada frekuensi respirasi kucing saat tindakan anestesi menggunakan
kombinasi atropin sulfas-xylazine-ketamine dan atropin sulfas- midazolam-ketamine.

Saran

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap pemberian midazolam-


ketamine melalui intravena.

DAFTAR PUSTAKA

Brock, K.A 2001. Preanesthetic use of atropine in small animals. Australian Veterinary Journal
79(1).24-25.

Cornick-Seahorn, J.L. 1994 Anesthetic management of patients with cardiovascular disease. The
Compendium 16(9):1121-1190.

135
Forum Pascasarjana Vol. 27 No 2 April 2004 123-134

Cullen, L.K. 1999. Xylazine and medetomidine in small animals. These Drugs should be used
carefully. Australian Veterinary Journal 177(11).722-723.

Dart, C.M. 1999. Advantages and disadvantages of using aipha-2 agonists in veterinary practice.
Australian Veterinary Journal 177(11).720-722.

Doherty, T.J. 1988. Physiologic effects of a2-adrenergic receptors. Journal of The American
Veterinary Medical Association 192(11): 1612-1614.

Jacobson, J.D. and Hartsfield, S.M. 1993. Cardiorespiratory effects of intravenous bolus
administration and infusion of ketamine-midazolam in dogs American Journal Veterinary
Research 54 (10): 1710-1714.

Lumb, W.V. and Jones, E.W. 1996. Veterinary Anesthesia. Ed ke-3. USA: Lea and Febtger.

Luna, S P L., Massone, F., Castro, G.B., Fantoni, D.T., Hussni, C.A., and Aquiar, A.J.A. 1992. A
combination of methotripeperazine, midazolam and guaiphenensin, with and without
ketamine, in an anaesthetic procedure for horses. The Veterinary Record. July (11):33-35
Mama, K. 1998. New Drugs in Feline Anesthesia. The Compendium 20(2):125- 139.

Mattjrk, A.A. 2000. Perancangan Percobaan dengan Aplikasi SAS dan Minitab. Bogor: IPB
Press.

Mayer, S. 1993. Pharmacology and toxicology. Di dalam: Wills, J. and Wolf, A. Handbook of
Feline Medicine. Ed. ke-1. Pergamon Press, him 79-90

Muirlll, W.W., Hubbell, J.A.E., Skarda, R.T., and Bednarski, R.M. 2000. Handbook of Veterinary
Anesthesia. Ed ke-3. Missouri: Mosby Inc.

Plumb, D C. 1991 Veterinary Drug Handbook. USA: Pharma Vet Publishing, him 56-98.

Pratt 1985. Laboratory Procedures for Animal Health Technicians. Ed ke-1. USA: Santa Barbara.
American Vet Publiscations, Inc.

Reid, J and Nolan, A.M. 1996. Pharmacokinetics of propofol as an introduction agent in geriatric
dogs. Research in Veterinary Science 61:169-171.

Stenberg, D. 1989. Physiological role Of a2-adrenoceptorin the regulator of vigilance and pain:
Effect of medetomidine. Acta Vet Scandinavia 85:21-28.

Vetstream. 2002. Anesthesia: Geriatric. Apr-Jun Q2/2002 Ed. www.vetstream.com


File//D;\htm\fre00039. htm [30 September 2003],

Warren, R.G. 1983. Small Animal Anesthesia. Missouri: Mosby's Fundamentals of Animal
Health Technology, him 1-114.

136
Perbandingan Gambaran Klinis Antara Kombinasi Atropin (R. E. Pertiwi et al)

Waterman, A.E 1983. Influence of premedication with xylazine on the distribution and
metabolism of intramuscularly administered ketamine in cats. Research in Veterinary
Science 35:285-290.

Wright, M. 1982. Pharmacologic effects of ketamine and its use in veterinary medical. Journal of
the American Veterinary Medical Association 180(12):1462-1471.

Wills, J. 1993. Handling. Di dalam: Wills, J. and Wolf, A. Handbook of Feline Medicine. Ed ke-1.
United Kingdom: Pergamon Press, him 1-10

137
ary Science
rin

Journal of Veterinary
Veterinary Science &
urna of Vete

Nesgash et al., J Vet Sci Technol 2016, 7:6

&
Tech ology
DOI: 10.4172/2157-7579.1000376
l

n Technology
Jo

ISSN: 2157-7579

Research Article Open Access

Evalution of General Anesthesia Using Xylazine-Ketamine Combination


with and without Diazipam for Ovariohysterectomy in Bitches
Ayalew Nesgash*, Belay Yaregal, Tesfamariam Kindu and Endalkachew Hailu
Faculty of Veterinary Medicine, College of Medical and Health Science, University of Gondar, PO Box 196, Gondar, Ethiopia

Abstract
Clinical anesthetic trial was conducted on twelve apparently healthy bitches presented to Gondar University
Veterinary Clinic for ovariohysterectomy procedures. The aim of the study is to evaluate the effects of intravenous
diazepam on physiological, hematological, and anesthetic parameters and also to assess anesthetic complications
and develop anesthetic protocol for dogs. The bitches were randomly assigned into Group I and Group II. Anesthetic
protocol was achieved by administration of atropine (0.04 mg/kg BW, S.C) immediately followed with xylazine-
ketamine (1 mg/kg BW+10 mg/kg BW, I.M) for both groups but diazepam (0.5 mg/kg BW, I.V) was also given
to Group I bitches when the bitches were attaining lateral recumbency. Physio-hematological and anesthetic
parameters were recorded and analyzed. Quality of induction and recovery was statistically significant (P<0.05)
difference between the groups. The mean of induction time was significantly (P<0.05) shorter in Group I. The mean
time for loss of pedal reflex was found significantly (P<0.05) decreased in group I. Response to surgical incision
and muscle relaxation was statistically significant (P<0.05) difference between groups. Duration of anesthesia, time
of sternal recumbency, time of unassisted standing and duration of recovery were significantly (P<0.05) longer in
Group I as compared Group II. Post anesthetic salivation was significantly (P<0.05) exhibited by Group I. No bitches
were died during anesthesia or after recovery. In conclusion, atropine-Xylazine-ketamine-diazepam anesthesia does
not affect physio-hematological parameter and is a very satisfactory anesthetic protocol for excellent induction,
adequate muscle relaxation, longer duration of anesthesia and smooth recovery compared to atropine-Xylazine-
ketamine anesthesia.

Keywords: Atropine; Bitch; Diazepam; General anesthesia; Xylazine, an alpha-2 agonist used in animal experiments, stimulates
Ketamine; Ovariohysterectomy; Xylazine alpha-2 adrenergic receptor in cerebral presynaptic nerve ends, inhibits
release of cathecolamines and dopamine resulting in analgesic and
Introduction sedative eff ects, and hinders nerve conduction in the central nervous
Anesthesia is a reversible process which is targeted to produce a system leading to relaxation of striated muscles. Xylazine is usually
convenient, safe, effective, yet inexpensive means of chemical restraint used in combination with ketamine during anesthetic applications [7].
so that medical or surgical procedure may be conducted with minimum Diazepam is a potent hypnotic-sedative that causes muscle
stress, pain, discomfort, and toxic side effects to the patients or to the relaxation. It is a long-acting drug as it is metabolized slowly, and it has
anesthetist [1,2]. relatively weaker cardiovascular effects as compared to other sedative
The selection of anesthetic drugs and techniques depends on drugs. In combined use with ketamine, diazepam alleviates unwanted
species, breed, age, physical status, concurrent medications of the cardiovascular effects of ketamine, and demonstrates anticonvulsive,
animal, personal knowledge and experience, availability and training amnestic and muscle relaxant effects [8].
of assistants, familiarity with available equipment, and length and type
of operation or procedure performed. Pre-anesthetic medications are Ketamine increases heart rate and mean arterial pressure,
an essential part of safe anesthetic management and they minimize stimulates cardiovascular functions and when used alone. It can
stress, cardiopulmonary depression, and the deleterious effect when induce undesired effects such as muscular hypertonicity, myoclonus,
used appropriately and associated with many intravenous (IV) and and convulsions. To minimize these unwanted and restricting effects,
inhalation anesthetics [3]. ketamine is administered in combination with other drug groups such
as benzodiazepines, and alpha-2 agonists [7,9]. Recently, depending
Various sedatives and tranquilizing agents are used as pain killers on the species involved, the drug is commonly used in combination
and/or muscle relaxants while animals undergo minor or major
surgeries. These drugs are needed in veterinary practice and are
indispensable as they help in overcoming resistance of the animals
*Corresponding author: Ayalew Negash, Faculty of Veterinary Medicine,
during examination, maintaining depth of anesthesia, reducing the University of Gondar, Gondar, PO Box 196, Ethiopia, Tel: +251918020923; E-mail:
amount of anesthetic agents and increasing margins of safety. For ayalewnegash2014@gmail.com
these purposes, the commonest drugs used are Ketamine, Diazepam, Received August 02, 2016; Accepted August 17, 2016; Published August 22,
Xylazine and Atropine sulphate [4]. 2016

Atropine is most commonly used in premedication in combination Citation: Nesgash A, Yaregal B, Kindu T, Hailu E (2016) Evalution of General
with acepromazine maleate to minimize or prevent vagal effects that Anesthesia Using Xylazine-Ketamine Combination with and without Diazipam
for Ovariohysterectomy in Bitches. J Vet Sci Technol 7: 376. doi: 10.4172/2157-
may induce bradycardia and also this drug reduce potential muscles 7579.1000376
spasm gastrointestinal motility and secretion, salivation and animal
Copyright: © 2016 Nesgash A, et al. This is an open-access article distributed
respiratory secretion as well as decrease tear production during
under the terms of the Creative Commons Attribution License, which permits
anesthesia [5]. Atropine has been used to prevent bradycardia caused unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the
by administration of α2- agonists in dogs [6]. original author and source are credited.

J Vet Sci Technol, an open access journal


ISSN: 2157-7579 Volume 7 • Issue 6 • 1000376
Citation: Nesgash A, Yaregal B, Kindu T, Hailu E (2016) Evalution of General Anesthesia Using Xylazine-Ketamine Combination with and without
Diazipam for Ovariohysterectomy in Bitches. J Vet Sci Technol 7: 376. doi: 10.4172/2157-7579.1000376

Page 2 of 6

with diazepam, alpha-2-adrenergic drugs [4]. Since, drugs manifested mm) and Differential Leukocyte Count (DLC) in percentage (%) will be
different effects when they were used separately or in combination, estimated as per standard methods using Automatic Blood Analyzer.
changes that occurred during use of combined-drug should be The Packed Cell Volume (PCV) in percentage (%) will be estimated
understood and recognized [7]. by microhaematocrit method. Butter fly catheter (21G and 0.75 inch
length) or i.v canula (22G) was fixed in the cephalic vein on the dorsal
The UoG veterinary clinic receives large number of dogs for elective
aspects of the fore limb and taped it to the patient’s skin using plaster.
and emergency surgeries. There dogs which are highly aggressive and
nervous, even the owner could not restrain them for premedication and Administration of anesthetic drugs
general anesthetic administration. Almost all the general anesthetic
protocols developed so far for small animal surgery utilizes intravenous Drug administration: All bitches were randomly divided into
administration of drugs. The available protocols are difficult to follow two groups comprising of 6 animals in each group. Group-I (G-I):
in such highly aggressive and nervous dogs. Hence considering the Anesthesia was achieved by administration of atropine (0.04 mg/kg
temperament the dogs, it is decided to induce balanced anesthesia with body weight subcutaneously), immediately followed with xylazine-
intramuscular injection of anesthetic agents. Therefore, this study is ketamine combination (in the same syringe) (1 mg/kg+10 mg/kg
designed with the objective of developing a general anesthetic protocol body weight intramuscularly) and after attaining lateral recumbency
suitable for aggressive and nervous dogs, studying the clinical, and diazepam (at the rate of 0.5 mg/kg body weight intravenously) was
hematological changes during general anesthesia and assessing the given. Group-II (G-II): In this group, anesthesia was achieved by
anesthetic complications during anesthesia and recovery if any. administration of atropine (0.04 mg/kg body weight subcutaneously),
immediately followed with xylazine-ketamine combination (in the
Materials and Methods same syringe) (1 mg/kg+10 mg/kg body weight intramuscularly).
The total dose of anesthetic drug required in mg, the total amount of
The study was conducted from October 2015 to May 2016 in anesthetic drug required in ml and the time of injection for each drug
University of Gondar veterinary clinic, North Gondar, Ethiopia. was recorded (Table 1).
Bitches that were brought to University of Gondar Veterinary Clinic
for elective ovariohysterectomy were used for the study. Based on the The pedal reflex was assessed by deep pricking with a 1.0 inch
physical examination and medical history, apparently healthy bitches length 24G hypodermic needle at the coronary band region [10] and
the duration loss of pedal reflex was recorded. The total time taken for
alone were selected and the selected bitches (n=12) were randomly
induction of anesthesia was recorded and calculated by considering
divided into two experimental groups using a Randomised Controlled
time of loss of pedal reflex and time of injection of xylazine-ketamine
Trials (RCT). All study bitches were assigned into two groups as
anesthetics. Incremental dose was considered by adding additional
Group I (with diazepam) and Group II (without diazepam group) each dose of Ketamine @ dose rate of 5.0 mg/kg, i/v was administered if
consisting of six based on the anesthetic drugs given; atropine, zylazine, required, till the pedal reflex was completely abolished and the time of
ketamine and diazepam injected groups (G-I) and atropine, xylazine, 1st and 2nd incremental dose if any was recorded.
and ketamine injected groups (G-II).
Preoperative preparation of animals and ovariohysterectomy
Assessing physiological parameters surgical procedure
The physiological parameters; (temperature in c0), heart rate in Following anesthesia, all bitches were prepared aseptically for
beats min-1 and respiratory rate in breath min-1) were studied before ovariohysterectomy by placing the bitch on surgical table, lying on
anesthesia, during anesthesia and after recovery. Temperature was
her back and the surgical teams were prepared for the surgery with a
taken by inserting a clinical digital thermometer (produce sound after
meticulous hand scrubbing, followed by application of a sterile surgical
manipulation for 2 minutes in the rectum) at least 1.5-2.0 cm length in
gown and gloves thereby the surgery was started. The site (midline
to the rectum and keep it in the position. Heart rate and Respiratory
rate were recorded by auscultation with a stethoscope place over the left approach) was prepared by shaving or clipping hair aseptically in their
side of chest and counting the abdominal movements respectively [10]. respective direction with sterile surgical blade over the middle of the
abdomen after scrubbing with surgical soap and the skin is scrubbed
Assessment of hematological parameter with antiseptics (Savlon) to disinfect the area for 5 min. A sterile drape
Blood samples (n=3) of 2 ml each was collected aseptically from was placed over the surgical site. A scalpel was used to incise the skin at
cephalic vein of each experimental bitch before anesthesia, during the middle of the abdomen, and then the abdominal cavity was opened.
anesthesia and after recover. Immediately after collection, the blood The organs of the female reproductive tracts were identified and the
samples was transferred in a dry, clean and sterile test tube containing major blood vessels supplying the ovaries and the uterus were ligated
Ethylene Diaminetetra Acetic Acid (EDTA) as anticoagulant. It was (tied off). Sutures (cat gut) that dissolve over time were used to tie off or
used within 2 h after collection to determine Hemoglobin, PCV, TEC ligate the blood vessels and also to close the uterus above the cervix. The
and DLC. Hemoglobin (Hb) in gm per dl, Total Erythrocyte Count abdominal incision was then closed with one or two layers of sutures.
(TEC) in thousands per cubic millimeters (103/cu mm), the Total The outer layer of skin was closed with cotton suture and required to be
Leukocyte Count (TLC) in thousands per cubic millimeters (103/cu removed in about 7 days based on clinical union.

Group Induction of Anesthesia Maintenance by incremental dose


a) Atropine 0.04 mg/kg, s.c immediately followed with;
G-I b) Xylazine 1 mg/kg, +Ketamine 10.0 mg/kg IM were given. After attaining lateral recumbency Ketamine 5.0 mg/kg, i/v
Diazipam 0.5 mg/kg, i/v was given
a) Atropine 0.04 mg/kg, s.c immediately followed with,
G-II Ketamine 5.0 mg/kg, i/v
b) Xylazine 1.0 mg/kg, +Ketamine 10.0 mg/kg i.m were given.
Table 1: Anesthetic protocol.

J Vet Sci Technol, an open access journal


ISSN: 2157-7579 Volume 7 • Issue 6 • 1000376
Citation: Nesgash A, Yaregal B, Kindu T, Hailu E (2016) Evalution of General Anesthesia Using Xylazine-Ketamine Combination with and without
Diazipam for Ovariohysterectomy in Bitches. J Vet Sci Technol 7: 376. doi: 10.4172/2157-7579.1000376

Page 3 of 6

Assessment of anesthetic parameters using SPSS software version 20. Parametric variables were analyzed
statistically using Student’s independent-samples T-test was used to
The anesthetic parameters include quality of induction, duration compare the effect of different treatments at each of the assessment
of anesthesia, complication of anesthesia, time for sternal recumbency, time. Student’s independent-samples T-test was used for comparison
time for unassisted standing, quality and duration of recovery were of mean values for HR, RR, temperature, Hemoglobin, PCV, TEC,
recorded in all bitches. Type and time of induction of the animals TLC, DLC (neutrophil, lymphocyte, monocyte), induction time,
were observed carefully from the moment of premedication thereby duration of anesthesia, time of sternal recombency, time of unassisted
administration until the reflexes would be disappeared. Subjective standing and duration of recovery before, during and after anesthesia
evaluation of induction, muscle relaxation and recovery were assessment between two treatment groups. Fisher’s exact test (F)
monitored. The Induction time, time for sternal recumbency and time was used to compare the incidence of complication during and after
for unassisted standing were calculated as per the following guidelines anesthesia, quality of induction and quality of recovery. P-value <0.05
using a stop watch [11]. (at 5% level of significance) was considered as statically significant. All
Induction time and quality: The time interval in minute, between the data collected was statistically analyzed, compiled and reported.
the time of ketamine administration and loss of pedal reflex was taken
as induction time and recorded in all the animals. The quality of Results
induction was graded based on scale of 1 (very poor) to 5 (excellent) During the study period, animals remained hemodynamically
represented as per the following signs noted in the table [12] (Table 2). stable and any problem requiring medical support was not seen. The
Quality of anesthesia: The quality of anesthesia was assessed mean (± SD) age of bitches was 2.17 ± 0.835 and the mean (± SD) BW
based on adequacy of muscle relaxation and presence or absence of of the bitches was 14.75 ± 0.965. Withholding of feed and water for 12
salivation, regurgitation and movement in response to surgical incision and 6 hours, respectively prior to induction anesthesia was found to
[13]. The adequacy of muscle relaxation was graded as adequate, if jaws be satisfactory. There was no statistically significant difference (p>0.05)
could be opened at ease and abdominal muscles appeared relaxed and between group I and group II bitches in mean of age and weight such that
inadequate, if difficulty was encountered to open the jaws. The presence all the bitches (n=12) were found approximately equal weight and age.
of salivation, regurgitation and movement in response to surgical Induction of anesthesia
incision, if any was recorded periodically [11].
The induction of anesthesia was induced by using atropine (0.04
Duration of anesthesia: The time interval in minute between the mg/kg body weight subcutaneously), immediately followed with
injection of anesthetics (time of injection of xylazine+ketamine) to the xylazine-ketamine combination (in the same syringe) (1 mg/kg+10 mg/
movement of the first spontaneous elevation of the dogs’ head and limb kg body weight intramuscularly) and after attaining lateral recumbency
which was recorded in all bitches [7]. diazepam (at the rate of 0.5 mg/kg body weight intravenously) for Group
Time for sternal recumbency: The time interval in minute, I and atropine (0.04 mg/kg body weight subcutaneously), immediately
between the time of discontinuation of anesthesia and attainment of followed with xylazine-ketamine combination (in the same syringe)
sternal recumbency was taken as time for sternal recumbency and was (1 mg/kg+10 mg/kg body weight intramuscularly) for Group II. The
recorded in all the animals [7]. Time for unassisted standing: The time induction doses of the drugs atropine, xylazine and ketamine was
interval in minute between the time of discontinuation of maintenance not statistically significant (P>0.05) difference between G-I and
administration and attainment of unassisted standing was taken as G-II but diazepam was statistically significant (P<0.05) difference
time for unassisted standing and was recorded in all the bitches [11]. between the two groups.
Quality of recovery: The quality of anesthetic recovery was assessed Quality of induction: The quality of induction was assessed and
and graded as smooth, if no excitement was noticed during recovery graded as excellent, good, fair, poor and very poor. There was statistically
and rough if excitement was noticed during recovery. significant difference (P<0.05) in quality of induction between group I
and group II bitches. The quality of induction was excellent in 4 bitches
Duration of recovery: The time interval in minute between the
from G-I but no from G-II, good in 2 bitches from G-I and G-II, fair
time of movement of the first spontaneous elevation of the dog’s
and poor in 3 bitches and 1 bitch from G-II respectively. No bitch was
head and limb to unassisted standing was taken as time of recovery
found fair, poor or very poor induction from G-I.
and was recorded in all bitches [7]. Assessment of post anesthetic
complications: The anesthetic complications such as regurgitation, Quality of anesthesia: The quality of anesthesia was assessed
tympany, salivation, post-anesthetic mortality if any, were recorded in based on adequacy and inadequacy of jaw and abdominal muscle
all the animals [14]. relaxation and presence or absence of salivation, regurgitation,
urination, defecation and movement in response to pain stimuli. There
Data management and analysis
was statistically significant difference (P<0.05) in muscle relaxation
All the data collected during the study period was checked, between group I and group II bitches. The abdominal muscle and jaw
coded and entered in to Microsoft Excel spreadsheet and analyzed muscle relaxation was adequate in 5 bitches and two bitches from G-I

Score Description/sign
1 Very poor, unpredictable fall
2 Poor, attaining recumbency unpredictably, but no injuries
Induction 3 Fair, Bitches slowly attains sternal or lateral recumbency, marked paddling of limbs or shaking of head
4 Good ,slowly attains recumbency, only slight paddling of limbs or shaking of the head
5 Excellent, recumbency achieved slowly and smoothly, no paddling or head shaking
Table 2: Quality of induction.

J Vet Sci Technol, an open access journal


ISSN: 2157-7579 Volume 7 • Issue 6 • 1000376
Citation: Nesgash A, Yaregal B, Kindu T, Hailu E (2016) Evalution of General Anesthesia Using Xylazine-Ketamine Combination with and without
Diazipam for Ovariohysterectomy in Bitches. J Vet Sci Technol 7: 376. doi: 10.4172/2157-7579.1000376

Page 4 of 6

and G-II respectively. However, the abdominal muscle and jaw muscle 120
relaxation was also found inadequate in 1 bitch and 4 bitches from

Mean±(SD)
100
80
G-I and G-II bitches respectively. Salivation and vomiting were not 60
40
statistically significant (P>0.05) difference between G-I and G-II in 20
0
Group I
which salivation was encountered in 1 bitch from G-II and vomiting was Group II
encountered in 1 bitch from G-I during anesthesia. Regurgitation and
urination during anesthesia were not also found statistically significant
(P>0.005) between both groups but here was statistically significant Physiological Parameter
(P<0.05) difference in response to surgical incision in response to pain
Figure 1: Mean ± (SD) rectal temperature (°C), heart rate (HR) (cycle/min) and
stimuli between groups. Response to surgical incision was observed in respiration rate (RR) (beats/min) before anesthesia, during anesthesia and after
3 bitches from G-II but not observed in all bitches from G-I (n=6). recovery.

Anesthetic parameter
50
The anesthetic parameters: induction time, duration of anesthesia, 45
40
time of return of pedal reflex, time of head right reflex, time for sternal 35

Mean±(SD)
30
recumbency, time for unassisted standing in munities recorded during 25
20
the study were presented in Table 3. 15 Group I
10
Physiological parameters 5
0
Group II

The mean values of HR, RR and rectal temperature were differing


before, during, after anesthesia. All parameter was assessed before
during and after anesthesia and was not significantly decreased in Hematological Parameters
group I bitches (P>0.05). The data for HR, RR and rectal temperature Figure 2: Mean ± (SD) Hg, PCV, TEC, TLC, DLC before (b) anesthesia, during
before, during and after anesthesia were summarized in Table 3 (Figure 1). (d) anesthesia and after (a) recovery of both groups.

Hematological parameters
Post anesthetic complication
Hb, PCV, TEC, TLC and DLC were recorded and analyzed before
Post anesthetic complications were assessed whether salivation,
anesthesia, during surgery and after recovery. Comparison of the
regurgitation, urination or mortality was encountered after recovery in
mean (± SD) of Hb, PCV, TEC, TLC and DLC among the two groups
both groups. Salivation was found statistically significant (P<0.05) in group
revealed that there were significant differences (P<0.05) in PCV during
I bitches as compared to Group II in which salivation was encountered in 5
anesthesia between group I and group II but no significance difference
bitches from G-I but 1 bitch from G-II. Regurgitation was not encountered
(p>0.05) were recorded in the other hematological parameters. The
at all in both groups. Urination was present in 1 bitches from G-I which
data were summarized in Figure 2.
was not significant (P>0.05). All bitches (n=12) were survived the surgery
Data on nature of recovery and recovered from anesthesia without any death.
The quality of recovery was assessed and graded as smooth and Discussion
rough. The quality of recovery was found statistically significant
Various sedatives and tranquilizing agents are used as pain killers
(P<0.05) difference between group I and Group I. The quality of recovery
and/or chemical restraints while animals undergo minor or major
was found almost smooth in G-I when comparison was considered surgeries. These drugs are needed in veterinary practice and are
with G-II in which all were appearing calm. However, during working indispensable as they help in overcoming resistance of the animals
time G-II bitches were experienced as transient excitement, struggle during examination, maintaining depth of anesthesia, reducing the
to stand, and moderate ataxia in which recovery was almost rough as amount of anesthetic agents and increasing margins of safety [3].
compared with G-I. The purpose of anesthesia is to provide reversible unconsciousness,
amnesia, analgesia, and immobility with minimal risk to the patient [1].
Timing of
Group N Mean ± Std. Dev P-value
anesthesia Although the sedative and hemodynamic effect of diazepam
Induction of time
I 6 6.00 ± 0.894
0.000
has been reported previously, the sedative effect of simultaneous
II 6 9.67 ± 1.211 administration of diazepam and xylazine-ketamine in dogs has not been
Time of loss of I 6 3.00 ± 0.000 studied to current study knowledge. In present study, 12 indigenous
0.003
pedal reflex II 6 5.00 ± 0.894
bitches are taken with approximately equal age and body weight
Duration of I 6 67.83 ± 2.994
anesthesia II 6 59.17 ± 1.941
0.000 2.17 ± 0.835 and 14.75 ± 0.965 respectively when comparison was
Time of sternal I 6 12.17 ± 2.483
considered. OHE was done using xylazine- ketamine with diazepam
0.002 for Group I and xylazine- ketamine without diazepam for Group II
recombency II 6 7.17 ± 1.47
Time of provided that atropine was given for both groups as a premedication.
I 6 11.83 ± 2.483
unassisted
II 6 6.33 ± 1.033
0.001 This is in line of agreement with several studies using this mixture for
standing
general anesthesia in dog’s anesthetic drug [15]. OHE was performed
Time for duration I 6 17.67 ± 2.251
0.004 by xylazine- ketamine anesthesia with and without diazepam and this
of recovery II 6 13.83 ± 1.169
agreed with Delling [16] and William et al. [2].
Std. Dev.=Standard Deviations; Mean difference is significant (P<0.05); N=number
of animals In present study, xylazine-ketamine combination and diazepam
Table 3: Mean (± SD) of Anesthetic parameter. is given as single IM and IV injections respectively in order to

J Vet Sci Technol, an open access journal


ISSN: 2157-7579 Volume 7 • Issue 6 • 1000376
Citation: Nesgash A, Yaregal B, Kindu T, Hailu E (2016) Evalution of General Anesthesia Using Xylazine-Ketamine Combination with and without
Diazipam for Ovariohysterectomy in Bitches. J Vet Sci Technol 7: 376. doi: 10.4172/2157-7579.1000376

Page 5 of 6

avoid distress caused by multiple injections. In the clinical setting, of anesthesia for the comfortable completion of surgeries [4,25].
intramuscular injection is the preferred route of drug administration Ketamine and diazepam induced a synergistic action producing a
for sedation and premedication because minimal restraint is required. deep analgesia for long duration. Similar observations were also
Besides, cardiovascular responses are attenuated when anticholinergics reported in pigeons using ketamine-diazepam [8,18]. This result is
and α2-agonists are administered intramuscularly and when used in in line with the present study in which the duration of recovery of G
combination, the adverse actions of both drugs may be diminished due I was significantly longer than G II.
to the lower doses required [15].
Ketamine, in contrast to most of the anesthetic drugs, it has been
The induction of anesthesia produced by G I was found fast, shown to possess incremental effects on the heart rate, blood pressure
recumbency achieved slowly and smoothly as compared to G II. This and respiratory rate due to increase in sympathetic activation. It
result of the present study was in line with the findings of Azizpour had also unwanted respiratory effects such as increase in respiratory
and Hassani [12]. The fast induction of anesthesia result in G I was in secretions [21]. Diazepam decrease cardiovascular effects of ketamine
contrary to the reports of the earlier studies in sheep [7] but because [9]. Therefore the unwanted anesthetic effect of ketamine was
in the current study, there was no significant difference in age species compensated and balanced by xylazine and diazepam through lowering
and breed. This study was also investigated that loss of pedal reflex and blood pressure and decreasing heart and respiratory rate.
duration of induction which was shown in Table 3 was significantly
In the current study, the mean ± (SD) of temperature, respiratory
reduced. Because when diazepam and ketamine used together, they
rate and heart rate of both groups before anesthesia, during anesthesia
have a synergistic effect resulting in a smooth recovery and better
and after anesthesia were considered and compared between the
muscle relaxation and their efficacy is enhanced whilst minimising
groups. There were decrements of all the three parameters during
their unwanted adverse effects which was in line of agreement with
anesthesia and came to the normal physiological range after recovery
Sumitra et al. [17] conducted a research on male Wistar rats.
but the decrease in the physiological parameter was not found
In this study, muscle relaxation was significantly (p<0.05) adequate statistically significant (P>0.05) between the groups. These results were
in the G I than G II. Improvement of muscular relaxation in G I was in accordance with previous studies as Coulson et al. [26] investigated
associated with the muscle relaxant properties of diazepam. Diazepam cardiovascular effects of ketamine-diazepam in sheep and stressed
has potent muscle relaxant and anticonvulsant properties and has been lack of any meaningful effects on heart rates and respiratory rate. In
used in a wide range of wild and domestic animals and birds [18]. Jaw this study, alterations in physiological parameter caused by both drug
muscle relaxation was significantly (P<0.05) adequate in G I which was combinations remained within physiologic limits.
in accordance with earlier studies where resistance to open the mouth
Demirkan et al. [27] and Atalan et al. [15] emphasized that rectal
fully is lost in moderate anesthesia, hence jaw tone is considered to be
temperature decreased during the anesthesia. Anesthetic combination
a useful indicator of anesthesia [19,20]. In the present study, salivation,
decreased significantly the mean rectal temperature during surgery and
urination and vomition was not a significant difference between the two
the decline was highly significant after surgery. However, in the present
groups before anesthesia, during anesthesia and after anesthesia. This
study of the mean ± (SD) of rectal temperature of both groups began
result demonstrated in accordance with the previous reports in which
to decrease during anesthesia but came to the physiological range after
it has been demonstrated that anti-muscarinic drugs like atropine has
recovery and the difference between the groups was not significant
decreasing effect on hyper secretion induced with ketamine [5,21]. In
(P>0.05). This finding is in agreement with previous reports [28].
the present study, atropine was also incorporated in both groups as
premedication which decreased hyper secretion which was induced The mean ± (SD) of the Haemoglobin, PCV, TEC, TLC and DLC
during spontaneous breathing. were assessed before, during and after anesthesia and were slightly
decreased for a short time in both groups during anesthesia but the
In the current study, duration of anesthesia for G I was found
alteration was not significant (P>0.05) between the groups. However,
significantly longer as compare to G II which was in accordance
the values for PCV was significantly decreased (P<0.05) and the result
with the previous studies where the highest duration of anesthesia
was in accordance with previous studies [29,30]. Pooling of circulating
was observed in the study of birds [8]. This might be due to wide-
blood cells in the spleen and other reservoirs secondary to decreased
distribution of diazepam in the body, as because diazepam is highly
sympathetic activity could be the reason for a decrease in PCV. The
soluble in lipid and can be redistributed into muscles and adipose
decrease in PCV during the period of anaesthesia or sedation might be
tissues [22]. Furthermore, diazepam is a long-acting drug due to its
attributed to the shifting of fluid from extravascular compartment to
slow-metabolism in the body as compared to the other sedatives [23].
intravascular compartment in order to maintain normal cardiac output
The results obtained here were in line with the findings of Azizpour
in the animals [29].
and Hassani [12] who performed general anesthesia in pigeons
using a combination of ketamine HCL and diazepam. Lin et al. [24] The occurrence of post anesthetic complication in both groups
investigated the effects of two different anesthetic regimens, namely were assessed and it was found not statistically significant (P>0.05)
ketamine-diazepam and ketamine- diazepam-xylazine combinations except salivation which was more experienced in G I than G II which
in sheep and found that the latter combination resulted in a longer is supported by previous reports [31]. Although diazepam is an initial
duration of anesthesia. cause of salivation, but the loss of spontaneous swallowing and the loss of
In the present study, smooth recoveries were observed significantly spontaneous tongue reflex occurred during this study might be the cause
in G I than G II which was in line with finding of Durrani et al. [8] and of salivation observed after recovery as a result of diazepam injection.
Mahmud et al. [4] that smooth recoveries were observed in diazepam-
ketamine anesthesia. The longest recovery period was observed in the
Conclusion
birds of diazepam-ketamine anesthesia, which was desirable since The study was conducted on 12 female apparently healthy
diazepam could augment ketamine’s anesthetic effects decreasing indigenous bitches which were randomly grouped in to Group I
its side effects; thus, it provided necessary depth and duration and Group II. Anesthesia was induced using atropine (0.04 mg/kg

J Vet Sci Technol, an open access journal


ISSN: 2157-7579 Volume 7 • Issue 6 • 1000376
Citation: Nesgash A, Yaregal B, Kindu T, Hailu E (2016) Evalution of General Anesthesia Using Xylazine-Ketamine Combination with and without
Diazipam for Ovariohysterectomy in Bitches. J Vet Sci Technol 7: 376. doi: 10.4172/2157-7579.1000376

Page 6 of 6

BW, S.C) immediately followed with xylazine-ketamine (1.0 mg /kg/ 11. Vishnugurubaran D (2013) Comparison of Diazepam and Midazolam as
an adunct to xylazine- ketamine induction and isoflurane maintenance
BW+10.0 mg/kg BW, I.M) and after lateral recumbency, diazepam (0.5
anaesthesia in goats. MVSc Thesis submitted to Tamil Nadu Veterinary and
mg /kg BW, i/v) was administered for G-I and atropine (0.04 mg/kg Animal Sciences University, Chennai, Tamil Nadu, India.
BW, S.C) immediately followed with xylazine-ketamine (1.0 mg /kg/
12. Azizpour A, Hassani Y (2012) Clinical evaluation of general anaesthesia in pigeons
BW+10.0 mg/kg BW, I.M) for G-II. The anesthetic parameters; quality using a combination of ketamine and diazepam. J S Afr Vet Assoc 83: 12.
of induction, time loss for pedal reflex, induction time, duration of
13. McKelvey D, Hollingshead KW (2003) Veterinary analgesia and anesthesia.
anesthesia, quality of anesthesia, time for sternal recumbency, time for 3rd edn. St. Louis, Missouri: United State of America.
unassisted standing, duration and quality of recovery were recorded
14. Haliloglu M, Omur D, Yuksel TC, Alan C, Hanci V (2012) Post-Operative
and analyzed on both Group I and Group II and all the parameters
Effects: Anesthesia. J Anesth Clin Res 4: 291.
were found statistically significant. The results of the present study
concluded that atropine-xylazine-ketamine-diazepam combination 15. Atalan G, Uzun M, Demirkan I, Yildiz S, Cenesiz M (2002) Effect of
medetomidine-butorphanol-ketamine anaesthesia and atipamezole on heart
is useful anesthetic protocol for excellent induction, adequate muscle and respiratory rate and cloacal temperature of domestic pigeons. J Vet Med A
relaxation, satisfactory duration of anesthesia and smooth recovery Physiol Pathol Clin Med 49: 281-285.
for OHE in bitches although it might result in prolonged recovery
16. Delling U (2005) The effects of xylazine, ketamine, diazepam anesthesia.
and some complication like salivation rarely as compared to atropine- Faculty of the Virginia Polytechnic Institute and State University, USA, p: 28.
xylazine-ketamine combination. Both drug combinations do not
17. Sumitra M, Manikandan P, Rao KVK, Nayeem M, Manohar BM, et al. (2004)
affect the physiological and hematological parameters of the animals
Cardiorespiratory effects of diazepam-ketamine, xylazine-ketamine and
during study time and both of them can be safe for OHE if used safely and thiopentone anesthesia in male Wistar rats-A comparative analysis. Life Sci
appropriately. However, further studies are required to evaluate the effects 75: 1887-1896.
on cardiopulmonary function of these drug combinations in detail. 18. Lumeij JT, Deenik JW (2003) Medetomidine-ketamine and diazepam-ketamine
Acknowledgements anesthesia in racing pigeons (Columba livia domestica)-a comparative study. J
Avian Med Surg 17: 191-196.
We would like to express our heartfelt gratitude to our advisors’ Prof. V.
Ramaswamy and Prof. N. Rajendran for their unreserved crucial comments, 19. Tranquilli WJ, Thurmon JC, Grimm KA (2007) Injectable and alternative
valuable encouragement, and provision of necessary materials and sacrifice of anaesthetic techniques. In: Veterinary Anaesthesia. 4th edn. Lumb WV, Jones
their time to correct this manuscript. We would like to thank Dr. Ashenafi Assefa, EW (eds.). Blackwell Publishing, Ames, IA, USA, pp: 273-300.
head of the department of Veterinary Clinical Medicine for all the help and
encouragement rendered by him throughout the study period. Our thanks go to 20. Hopster K, Müller C, Hopster-Iversen C, Stahl J, Rohn K, et al. (2014) Effects
Dr. Samson Leta for all his help in analyzing the research data and Getie Kindu, of dexmedetomidine and xylazine on cardiovascular function during total
the surgery technicians for his help and cooperation rendered during the surgical intravenous anaesthesia with midazolam and ketamine and recovery quality
procedures. We never forget to say thanks to University of Gondar Faculty of and duration in horses. Vet Anaesth Analg 41: 25-35.
Veterinary Medicine microbiology and pathology laboratory staff workers for their 21. Ungern-Sternberg VBS, Regli A, Frei FJ, Ritz E, Jordi M, et al. (2007) A deeper
help, patience permission and full information during my working period.
level of ketamine anesthesia does not affect functional residual capacity and
References ventilation distribution in healthy preschool children. Pediatr Anesth 17: 1150-
1155.
1. Thurmon JC, Tranquilli WJ, Benson GJ (1996) Lumb & Jones Veterinary
Anesthesia. 3rd edn. Williams and Wilkins. Baltimore, Maryland, USA. 22. Bateson AN (2002) Basic pharmacologic mechanism involved in benzodiazepine
tolerance and withdrawal. Current pharmaceutical design 8: 5-21.
2. William WM, John AE, Richard MB, Roman TS (2007) Hand Book of Veterinary
Anesthesia. 4th edn. Mosby Elsevier USA, Columbus, USA. 23. Koshy TA, Mahabala TH, Srikantu J, Sanmathi S (2003) Thiopentone-
midazolam mixture as an induction agent for general anesthesia on ‘In-
3. Habib S, Das BC, Islam MN, Hossain MK, Ahmed MF (2002) A Comparison Patients’. Indian J Anaesth 47: 129-133.
of xylazine, diazepam, chlorpromazine and promethazine in relation to certain
clinical and hematological parameters of indigenous sheep (Ovis aries). 24. Lin HC, Wallace SS, Tyler JW, Robbins RL, Thurmon JC, et al. (1994)
Pakistan J Biol Sci 5: 484-488. Comparison of tiletamine-zolazepam-ketamine and tiletamine-zolazepam-
ketamine-xylazine anesthesia in sheep. Aust Vet J 71: 239-242.
4. Mahmud MA, Shaba P, Yisa HY, Gana J, Ndagimba R, et al. (2014) Comparative
efficacy of Diazepam, Ketamine, and Diazepam-Ketamine combination for 25. Muir WW, Hubbell JAE, Skarda RT, Bednarski RM (2000) Handbook of
sedation or anesthesia in cockerel chickens. J Adv Vet Anim Res 1: 107-113. Veterinary Anesthesia. 3rd edn. Mobsy Inc., St. Louis.
5. Liga K, Edite B (2011) The effects of some premedication and general 26. Coulson NM, Januszkiewicz AJ, Dodd KT, Ripple GR (1989) The
anesthesia drugs on intraocular pressure and pupil diameter in dog’s eyes. cardiorespiratory effects of diazepam-ketamine and xylazine-ketamine
LLU preclinical institute, LLU Raksti 26: 77-83. anesthetic combinations in sheep. Lab Anim Sci 39: 591-597.
6. Ko JC, Fox SM, Mandsager RE (2001) Effects of preemptive atropine 27. Demirkan I, Atalan G, Gokce HI, Ozaydin I, Celebi F (2002) Comparative study
administration on incidence of medetomidine-induced bradycardia in dogs. J of butorphanol-ketamin HCl and xylazine-ketamin HCl combinations for their
Am Vet Med Assoc 218: 52-58. clinical and cardiovascular/respiratory effects in healthy dogs. Turk J Vet Anim
7. Ozkan F, Cakir-Ozkan N, Eyibilen A, Yener T, Erkorkmaz U (2010) Comparison Sci 26: 1073-1079.
of ketamine-diazepam with ketamine-xylazine anesthetic combinations in
28. Davison KE, Lynne Hughes JM, Gormley E, Lesellier S, Costello E, et al.
sheep spontaneously breathing and undergoing maxillofacial surgery. Bosmian
(2007) Evaluation of the anaesthetic effects of combinations of ketamine,
J Basic Med Sci 10: 297-302.
medetomidine, romifidine and butorphanol in European badgers (Meles meles).
8. Durrani UF, Khan MA, Ahmad SS (2008) Comparative efficacy (sedative and Vet Anaesth Analg 34: 394-402.
anaesthetic) of detomidine, ketamine and detomidine-ketamine cocktail in
pigeons (Columba livia). Pakistan Vet J 28: 115-118. 29. Kilic N (2008) Cardiopulmonary, biochemical and haematological changes after
detomidinemidazolam-ketamine anaesthesia in calves. Bull Vet Inst Pulawy 52:
9. Dzikiti TB, Chanaiwa S, Mponda P, Sigauke C (2007) Comparison of quality 453-456.
of induction of anaesthesia between intramuscularly administered ketamine,
intravenously administered ketamine and intravenously administered propofol 30. Pawde AM, Kinjavdekar P, Aithal HP, Pratap K, Bisht GS (2000) Detomidine‐
in xylazine premedicated cats. J S Afr Vet Assoc 78: 201-204. Diazepam‐Ketamine Anaesthesia in Buffalo (Bubalus bubalis) Calves. J Vet
Med A 47: 175-179.
10. Amin A, Ali A, Al-Mutheffer E (2012) Clinical evaluation of TIVA by romifidine
as a premedication, midazolam and ketamine in donkeys. In: Proceeding of the 31. Clarke KW, Taylor PM, Watkins SB (1986) Detomidine/ketamine anesthesia in
Eleventh Veterinary Scientific Conference, pp: 203-208. the horse. Acta Vet Scand 82: 167-179.

J Vet Sci Technol, an open access journal


ISSN: 2157-7579 Volume 7 • Issue 6 • 1000376

Anda mungkin juga menyukai