Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PAKAN

PENGOLAHAN BAHAN PAKAN SECARA KIMIA

Disusun Oleh :
Kelas B
Kelompok 4

FARHAN FAOZI 200110160042


DESY NUR HARYATI 200110160219
GELAR ABIFADILLA 200110160230
MINEU 200110160196
FATHAN HAZBUL Y 200110160220
M.YUSUF HABIBI 200110160

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

SUMEDANG

2018

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur dipanjatkan kepada Allah SWT karena hanya berkat

rakhmat dan hidayah-Nya penyusunan Laporan Praktikum Teknologi Pakan

“Pengolahan Bahan Pakan Secara Kimia” ini dapat diselesaikan dengan baik.

Penyusun berharap laporan praktikum ini dapat memberikan manfaat yang positif

bagi kita semua.

Penyusun menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh

karena itu, saran yang membangun dari pembaca sangat dibutuhkan untuk

penyempurnaan laporan ini. Atas perhatian dan tanggapan pembaca, penyusun

mengucapkan terimakasih.

Sumedang, November 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Bab Halaman
KATA PENGANTAR ...................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................... iii

DAFTAR TABEL ........................................................................... iii

I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.......................... Error! Bookmark not defined.
1.2 Identifikasi Masalah ................................................................... 2
1.3 Maksud dan Tujuan .................. Error! Bookmark not defined.
1.4 Manfaat Praktikum .................................................................... 2
1.5 Waktu dan Tempat...................................................................... 3

II KAJIAN KEPUSTAKAAN
2.1 Bulu Ayam .................................................................................. 4
2.2 Keratin pada Bulu Ayam ............................................................ 6
2.3 Pengolahan Tepung Bulu Ayam ................................................. 6
2.4 Proses Kimia dan Fisik Pengolahan Tepung Bulu Ayam........... 7

III ALAT, BAHAN DAN PROSEDUR KERJA


3.1 Alat dan Bahan .......................................................................... 10
3.1.1 Asam Kuat .................................................................... 14
3.1.2 Asam Lemah ................................................................. 15
3.3 Prosedur Kerja ........................................................................... 10
3.2.1 Asam Kuat .................................................................... 14
3.2.2 Asam Lemah ................................................................. 15
IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan ....................................................................... 13
4.1.1 Asam Kuat .................................................................... 14
4.1.2 Asam Lemah ................................................................. 15
4.2 Pembahasan ............................................................................... 14
4.2.1 Asam Kuat .................................................................... 14

iii
4.2.2 Asam Lemah ................................................................. 15

V KESIMPULAN ................................................................................ 19

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 21

iv
0

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman
1 Hasil Pengamatan Basa Kuat dan Asam Kuat .............................. 10
2 Hasil Pengamatan Basa Lemah dan Asam Lemah ........................ 10
1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pakan memiliki peranan penting dalam keberhasilan usaha peternakan,

karena 60—80% total biaya produksi digunakan untuk biaya pakan. Pakan

merupakan kebutuhan pokok bagi suatu usaha peternakan, baik pada peternakan

ruminansia maupun non ruminansia. Seiring dengan bertambahnya populasi

manusia, maka kebutuhan akan produk-produk peternakan seperti daging, susu, dan

telur terus meningkat hal ini harus diimbangi dengan pengelolaan peternakan yang

baik, dewasa ini dunia usaha peternakan dihadapkan kepada ketersediaan pakan

bagi ternak yang tergantung pada musim ataupun ketersediaan bahan baku serta

lahan untuk tanaman pakan yang sangat terbatas.

Salah satu cara agar dapat memenuhi kebutuhan pakan ternak ruminansia

atau non ruminansia sepanjang tahun adalah dengan mengolah bahan tersebut

dengan cara fisik ataupun kimia. Pengolahan bahan pakan secara kimia dapat

dilakukan dengan menggunakan asam. Bahan 1, Bahan 2 merupakan bahan yang

dapat digunakan untuk pengolahan bahan pakan secara kimia. Fungsi dari kedua

bahan tersebut adalah untuk meningkatkan kecernaaan bahan pakan akan tetapi

tidak meningkatkan palatabiltas dari bahan pakan.

Berdasarkan uraian diatas pengolahan pakan bertujuan untuk mengolah

pakan supaya tingkat kecernaannya lebih tinggi dengan cara pengolahan pakan

secara kimiawi menggunakan asam dan membantu mengawetkan serta mengolah

pakan bagi ternak.


2

1.1 Identifikasi Masalah

1) Bagaimana pengolahan bahan pakan secara kimia dengan asam kuat.

2) Bagaimana pengolahan bahan pakan secara kimia dengan asam lemah.

1.2 Maksud dan Tujuan

1) Dapat mengetahui mengetahui pengolahan bahan pakan secara kimia

dengan asam kuat.

2) Dapat mengetahui pengolahan bahan pakan secara kimia dengan asam

lemah.

1.3 Waktu dan Tempat

1.4.1 Praktikum 1 - Pengolahan Bahan Pakan dengan Asam Kuat

Hari/Tanggal : Senin, 15 Oktober 2018.

Waktu : Pukul 12.30 – 14.30 WIB.

Tempat : Laboratorium Nutrisi Ternak Unggas Non Ruminansia

dan Industri Makanan Ternak, Fakultas Peternakan,

Universitas Padjadjaran.

1.4.2 Praktikum 2 - Pengolahan Bakan Pakan dengan Asam Lemah

Hari/Tanggal : Senin, 22 Oktober 2018.

Waktu : Pukul 12.30 – 14.30 WIB.

Tempat : Laboratorium Nutrisi Ternak Unggas Non Ruminansia

dan Industri Makanan Ternak, Fakultas Peternakan,

Universitas Padjadjaran.
3

II

KAJIAN KEPUSTAKAAN

2.1 Bulu Ayam

Bulu ayam merupakan produk samping yang berasal dari pemotongan

ayam. Potensi bulu ayam sebagai salah satu komponen pakan sangat mungkin

mengingat perkembangan industri perunggasan di Indonesia berkembang pesat.

Seberapa banyak jumlah bulu ayam yang dapat diperoleh setiap tahunnya akan

sangat bergantung dari jumlah ternak ayam yang dipotong. Menurut PACKHAM

(1982) bahwa dari hasil pemotongan setiap ekor ternak unggas akan diperoleh bulu

sebanyak ± 6% dani bobot hidup (bobot potong ± 1,5 kg). Atas dasar jumlah

pemotongan ayam dan asumsi tersebut maka dapat dihitung jumlah bulu ayam yang

dapat diperoleh setiap tahunnya.

2.2 Keratin pada Bulu Ayam

Keratin merupakan protein struktural yang tidak larut dalam air yang

ditemukan pada bulu, rambut, kuku, tanduk, dan jaringan epidermal lain yang

mengalami pengerasan (Gushterova dkk, 2005). Polipeptidanya diikat padat dengan

stabilitas yang kuat oleh ikatan hidrogen dan interaksi hidrofobik, serta rantai

proteinnya dihubungkan oleh beberapa ikatan disulfida yang memberi stabilitas

mekanik tinggi dan tahan terhadap pendegradasi protein lainnya (Kreplak dkk,

2004), seperti pepsin, papain, dan tripsin (Werlang & Brandelli, 2005) sehingga

sulit didegradasi.

Keratin berbentuk tiga dimensi yang memiliki lilitan α-heliks atau lipatan

βsheet, dan tersusun atas atom karbon yang berikatan dengan gugus fungsional
4

(gugus amin-NH2 dan gugus karboksil-COOH), atom hidrogen dan gugus R

(sulfur) (Brandelli dkk, 2010). Kandungan karbon yang tinggi mengakibatkan

keratin dapat bersifat fleksibel dan hidrofobik (Brandelli dkk, 2010). Keratin juga

tersusun atas 8% jembatan sistein (ikatan disulfida) yang merupakan penghambat

enzim proteolitik biasa dalam mendegradasi keratin dan menjadi penentu kekuatan

mekanik dari keratin tersebut.

Kandungan bulu ayam terdiri dari 91% protein keratin, 1% lipid, dan 8%

air. Keratin pada bulu ayam sebagian besar disusun oleh asam amino sistein,

glutamin, prolin, dan serin (Kreplak dkk, 2004), sedangkan menurut Gushterova

dkk (2005), keratin bulu ayam tersusun atas beberapa asam amino seperti glisin,

alanin, serin, sistein, dan valin, serta sedikit lisin, metionin, dan triptofan.

Keratin pada bulu ayam dapat didegradasi dengan memecah atau memutus

ikatan disulfida pada keratin tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan pemanasan

tinggi (hidrotermal), perlakuan kimia, serta perlakuan biologis. Perlakuan

hidrotermal dilakukan dengan pengaturan suhu dan tekanan yang tinggi, begitu pula

perlakuan kimia dilakukan dengan penambahan asam (HCl) dan basa (NaOH) pada

konsentrasi tinggi (Steiner dkk, 1983). Perlakuan biologis dapat dilakukan secara

enzimatis dengan menggunakan enzim khusus yaitu keratinase (Brandelli dkk,

2010).

2.3 Pengolahan Tepung Bulu Ayam

Kendala utama penggunaan tepung bulu ayam dalam ransum untuk ternak

adalah rendahnya daya cerna protein bulu. Hal tersebut disebabkan sebagian besar

kandungan protein kasar berbentuk keratin (SRI INDAH, 1993). Dalam saluran

pencernaan, keratin tidak dapat dirombak menjadi protein tercerna sehingga tidak
5

dapat dimanfaatkan oleh ternak. Agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan,

bulu ayam harus diberi perlakuan, dengan memecah ikatan sulfur dari sistin dalam

bulu ayam tersebut. Adapun pengolahan tepung bulu dapat dilihat sebagai berikut:

(1) Pengolahan secara fisik

Limbah bulu ayam yang diproses menggunakan teknik fisik yaitu dengan

tekanan dan suhu tinggi pada suhu 105°C dengan tekanan 3 atm dan kadar air 40%

selama 8 jam. Sampel yang sudah bersih akan di autoklaf, kemudian dikeringkan

dan siap untuk digiling (Adiati dkk, 2004).

(2) Pengolahan secara kimiawi

Proses kimiawi dilakukan dengan penambahan HCl 12%, dengan ratio 2:1

pada bulu ayam yang sudah bersih, lalu disimpan dalam wadah tertutup selama

empat hari. Sampel yang telah direndam oleh HCl 12% kemudian dikeringkan dan

siap untuk digiling menjadi tepung.

(3) Pengolahan secara enzimatis

Bulu ayam yang diproses dengan teknik enzimatis dilakukan dengan

menambahkan enzim proteolitik 0,4% dan disimpan selama dua jam pada suhu

52°C. Bulu ayam kemudian dipanaskan pada suhu 87°C hingga kering dan digiling

hingga menjadi tepung

(4) Pengolahan secara kimia dengan basa

Pengolahan secara kimia menggunakan basa, dapat dilakukan denga menambahkan

NaOH 6%, disertai pemanasan dan tekanan menggunakan autoklaf. Bulu ayam

yang sudah siap kemudian dikeringkan dan digiling (Puastuti, 2007).

(5) Pengolahan secara mikrobiologi.


6

Proses hidrolisis bulu ayam menggunakan agen mikrobiologis, dilakukan

dengan menambahkan Bacillus licheniformis dan diinkubasi selama 72 jam

(Puastuti, 2007).

2.4 Proses Kimia dan Fisik Pengolahan Tepung Bulu Ayam

Penggunaan bahan kimia untuk mengolah bulu dilakukan dengan cara

mencampur bulu ayam yang telah kering dengan larutan 0,4% NaOH, kemudian

dikukus dengan autoclave, selanjutnya bulu ayam dimasukkan ke dalam oven

dengan tujuan untuk dikeringkan dan akhirnya digiling menjadi tepung bulu ayam

(Steiner dkk, 1983).

Pengolahan secara kimia menggunakan basa, dapat dilakukan dengan

menambahkan NaOH 6% disertai pemanasan dan tekanan menggunakan autoclave.

Bulu ayam yang sudah siap kemudian dikeringkan dan digiling. pemrosesan

kimiawi dan basa menggunakan NaOH 6% dengan pemanasan dan tekanan

meningkatkan kecernaan bahan kering 64,4% (Puastuti, 2007). Perlakuan kimia

dapat berhasil berkat adanya bahan kimia yang bersifat basa yaitu NaOH sehingga

perlu diketahui bagaimana karakteristik dari NaOH itu sendiri. NaOH mudah larut

dalam air dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan, NaOH juga larut dalam

etanol dan metanol, walaupun kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini lebih kecil

dari pada kelarutan KOH, NaOH tidak larut dalam dietil-eter dan pelarut non-polar

lainnya.

NaOH berbentuk padat bersifat lembab cair dan secara spontan menyerap

CO2 yang ada diudara, NaOH juga dikenal sebagai soda kuastik atau Sodium

hidroksida adalah sejenis basa logam kuastik. NaOH murni berbentuk putih pada

dan tersedia dalam bentuk pelet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50 %.
7

(Puastuti, 2007). Perlakuan fisik berupa pemanasan menggunakan autoklaf yang di

lanjutkan hidrolisis menggunakan NaOH mampu meningkatkan daya cerna bulu

ayam (Kim dan Petterson, 2000). Teknik hidrolisis bulu ayam yang telah banyak

dilakukan yaitu dengan asam alkali. Selain itu penggunaan tekanan dan suhu tinggi

juga telah digunakan.

Tepung bulu ayam dalam bentuk alami tanpa pengolahan mempunyai nilai

nutrisi yang rendah. Oleh sebab itu, bulu ayam sebelum digunakan sebagai pakan

ternak terlebih dahulu dilakukan pengolahan. Hidrolisat bulu ayam dengan HCl

12% merupakan salah satu cara pengolahan bulu ayam (Adiati dkk, 2002). Proses

fisikokimia (pemanasan dalam larutan kimia) mampu melunturkan lapisan lilin

bulu sehingga bulu lebih larut. Bulu ayam direbus dalam larutan yang mengandung

0,5% NaOH selama 45 menit. Bulu selanjutnya direndam dalam larutan 0,5%

NaOH dan Na2S pada suhu 60°C residu bahan kimia dihilangkan dengan cara bulu

dicuci menggunakan air mengalir. Setelah ditiriskan, bulu disterilisasi

menggunakan autoklaf pada tekanan 121 atm selama 20 menit. Setelah dikeringkan

didalam oven 60°C selama 2 hari selanjutnya bulu digiling menjadi tepung bulu

(Adiati dkk, 2002).


8

III

ALAT, BAHAN, DAN PROSEDUR KERJA

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Asam Kuat

(1) H2SO4 3N

(2) Bulu ayam 100 gram

(3) Toples

(4) pH meter

(5) Beaker glass

(6) Aquadest

(7) Termometer

3.1.2 Asam Lemah

(1) CH3COOH

(2) Bulu ayam 100 gram

(3) Toples

(4) pH meter

(5) Beaker glass

(6) Aquadest

(7) Termometer

3.2 Prosedur Kerja

3.2.1 Asam Kuat

(1) Timbang bahan dasar sebanyak 100 gram, tentukan BK bahan olahan.
9

(2) Tambahkan larutan kimia pereaksi dengan perbandingan 1 : 1 berdasarkan

BK bahan olahan.

(3) Masukkan larutan kimia pereaksi ke dalam toples.

(4) Ukur suhu dan pH awal bahan olahan.

(5) Ukur suhu dan pH setiap hari selama 3 hari berturut-turut.

(6) Lakukan pengecekan suhu dan pH akhir.

(7) Keringkan bahan hasil olahan.

(8) Analisa komposisi kimia bahan awal dan bahan hasil pengolahan.

Keterangan:

Keadaan awal bahan olahan

 pH = 7,9

 suhu = 25°C

3.2.2 Asam Lemah

(1) Timbang bahan dasar sebanyak 100 gram, tentukan BK bahan olahan.

(2) Tambahkan larutan kimia pereaksi dengan perbandingan 1 : 1 berdasarkan

BK bahan olahan.

(3) Masukkan larutan kimia pereaksi ke dalam toples.

(4) Ukur suhu dan pH awal bahan olahan.

(5) Ukur suhu dan pH setiap hari selama 3 hari berturut-turut.

(6) Lakukan pengecekan suhu dan pH akhir.

(7) Keringkan bahan hasil olahan.

(8) Analisa komposisi kimia bahan awal dan bahan hasil pengolahan.

Keterangan:

Keadaan awal bahan olahan

 pH = 2,7
10

 suhu = 24°C
11

IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

4.1.1 Asam Kuat

Tabel 1. Hasil Pengamatan Basa Kuat dan Asam Kuat


pH Suhu (°C)
Kelompok
Awal 1 2 3 Awal 1 2 3
1 11,7 11,5 12,5 12,2 25 26 25 25
2 12,3 12,4 12,3 12,3 26 25 25 25
Basa
3 11,2 11,6 12 9,5 25 24 25 25
Kuat
4 12,4 12,3 9,1 11,9 25 25 24 25
5 12,4 11,7 11,5 12,3 24 25 25 25
6 1,4 1,6 1,43 1,5 25 25 24 25
7 1,7 2,2 1,8 1,6 23 24 25 25
Asam
8 1,675 1,5 1,7 2,6 24 25 25 24
Kuat
9 1,6 2,4 3,4 1,8 25 25 25 25
10 1,6 1,8 2,4 3,6 25 24 25 25

4.1.2 Asam Lemah

Tabel 2. Hasil Pengamatan Basa Lemah dan Asam Lemah


pH Suhu (°C)
Kelompok
Awal 1 2 3 Awal 1 2 3
1 7,9 7,9 7,5 7,4 24 24 25 25
2 8,0 8,4 8,5 8,6 24 24 25 26
Basa
3 7,6 8,1 8,9 8,8 24 25 25 25
Lemah
4 7,8 8,6 8,7 8,7 24 24 24 25
5 8,17 8,6 8,1 8,4 25 25 25 25
6 4,47 5,8 7,1 8,2 25 25 25 25
7 4,23 6,76 7,75 7,8 23 25 25 25
Asam
8 4,2 4,3 5,1 5,4 24 26 25 25
Lemah
9 3,9 4,2 7,1 7,8 24 25 25 25
10 4,5 4,8 5,8 6,3 24 24 24 25
12

4.2 Pembahasan

4.2.1 Asam Kuat

Pemanfaatan bulu ayam sebagai bahan pakan ternak belum maksimal,

karena memiliki keterbatasan dalam penggunaannya akibat rendahnya kualitas 4

nutrien limbah tersebut. Bulu ayam, meskipun kadar proteinnya mencapai 80-90%

akan tetapi protein tersebut tersusun dari protein keratin yang sulit dicerna oleh

unggas (Kim & Patterson 2000, Zerdani dkk 2004). Adanya pengolahan bulu yang

tepat dan relatif biaya ringan akan memberikan manfaat yang besar, yaitu

menggurangi pencemaran lingkungan dan juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber

protein konvensional pengganti bungkil kedelai dan tepung ikan (Hartadi dkk,

1997). Bulu ayam mengandung protein kasar yang tinggi yakni 80-91% dari bahan

kering (BK).

Protein bulu ayam sebagian besar terdiri atas keratin yang digolongkan ke

dalam protein serat. Keratin adalah produk pengerasan jaringan epidermal dari

tubuh dan merupakan protein fibrous yang kaya akan sulfur dan banyak terdapat

pada bulu (Horowitz dkk, 1984). Keratin merupakan protein serat yang membentuk

rambut, bulu (burung), kuku serta kaya akan sistein dan sistin. Keratin pada bulu

ayam dapat didegradasi dengan memecah atau memutus ikatan disulfida pada

keratin tersebut.

Pada praktikum kali ini dilakukan proses perendaman bulu ayam dengan

asam kuat yaitu H2SO4 , pada proses pengolahan dengan asam kuat merupakan hal

yang dilakukan untuk meningkatkan daya cerna bulu ayam tersebut. Proses awal

pengolahan bulu ayam ini awalnya bulu ayam direndam sebentar oleh aquadest

selanjutnya perendaman oleh H2SO4 3N. Proses perendaman tersebut telah

dijelaskan pula bahwa tujuannya untuk menghancurkan protein keratin yang susah
13

untuk dicerna. Setelah dilakukan perendaman dengan asam sulfat, selanjutnya

diamati suhu dan pH selama empat hari berturut-turut . Hasil pengamatan suhu pada

hari pertama yaitu 25oC , hari kedua 25oC, hari ketiga 25oC dan hari ke empat 25oC.

Sedangkan pH yang didapat pada hari pertama yaitu 16, hari kedua 24, hari ketiga

3,4 dan hari ke empat 1,8.

Pada suhu pertama sampai hari keempat tidak terjadi perubahan diakibatkan

selama proses perendaman yang terjadi adalah proses reduksi yang dimana

terjadinya proses pengikatan oksigen sehingga suhu yang didapatkan tetap sebesar

25oC, sedangkan pH terjadi fluktuasi atau penurunan yang menunjukkan bahwa

keadaan bulu tersebut asam sehingga menunjukkan proses denaturasi protein

sedang terjadi.

4.2.2 Asam Lemah

Pemrosesan limbah bulu ayam menggunakan bahan kimia prinsipnya

digunakan untuk memutuskan ikatan sulfur dan sistin di dalam bulu ayam.

Pemutusan ikatan keratin tersebut salah satunya menggunakan asam lemah. Asam

lemah merupakan asam yang tidak teronisasi secara signifikan dalam larutan. Pada

praktikum pengolahan bulu ayam menggunakan asam lemah, bulu ayam direndam

dengan CH3COOH dengan perbandingan 1 : 1 berdasarkan berat kering bulu ayam,

kadar air bulu sekitar 45%. Bulu ayam yang diambil dari rumah potong kemudian

dicuci dan dikeringkan. Bahan yang sudah siap dan sudah dimasukkan ke dalam

toples diaduk secara rata agar bulu ayam tercampur dengan CH3COOH. Selama

tiga hari dilakukan pengukuran suhu dan pH, pada hari ke satu sampai pada hari ke

empat suhu tetap stabil yaitu 250c ini dikarenakan tempat dan suhu ruang

pengamatan tidak mengalami perubahan ataupun tidak mengalami perlakuan

apapun. Tetapi seharusnya suhu ruang mengalami perubahan akibat proses oksidasi
14

ataupun reduksi. Pengukuran pH mengalami perubahan dimulai dari hari ke satu

hingga hari keempat, pada hari kedua masih dalam keadaan asam yaitu sekitar 4,2

kemudian pada hari ketiga dan keempat pH berubah menjadi netral yaitu sekitar 7,8

, hal ini disebabkan oleh perombakan akibat perlakuan pemberian CH3COOH,

proses ini terjadi akibat adanya oksidasi yang akan menyebabkan pengurangan dari

nilai protein, juga diikuti dengan pertambahan suhu. Setelah pengamatan selama

tiga hari kemudian bahan di haluskan hasil penghalusan bulu menjadi lebih lunak

berbeda dengan bulu yang tidak mendapatkan perlakuan sama sekali. Bulu lebih

mudah hancur setelah diberikan perlakuan, hal ini disebabkan ikatan sulfur dan

ikatan sistin pada bulu ayam sudah diputus. Proses pemutusan ikatan sufur dan

ikatan sistin dengan perendaman CH3COOH akan menunjukkan hasil yang baik

jika mengalami proses reduksi dan proses oksidasi, baik itu proses reduksi terlebih

dahulu kemudian diakhiri dengan oksidasi maupun sebaliknya. Perlakuan ini

memiliki potensi untuk dijadikan tepung bulu, tetapi perlakuan menggunakan asam

lemah tidak sebaik menggunakan asam kuat. Tepung bulu yang baik memiliki

kandungan protein yang cukup tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Desi (2002)

yang menyatakan bahwa tepung bulu merupakan salah satu bahan pakan dengan

kandungan protein relatif tinggi. Hal ini didukung dengan pendapat Howie dkk

(1996), bulu ayam sangat potensial dijadikan sebagai sumber protein pada ransum

ternak karena kandungan protein kasarnya sangat tinggi, yaitu antara 85-95%.
15

KESIMPULAN

Dari praktikum yang dilaksanakan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Pada asam kuat suhu tidak mengalami perubahan signifikan diakibatkan

selama proses perendaman yang terjadi adalah proses reduksi sehingga suhu

tetap sebesar 25oC, sedangkan pH terjadi fluktuasi atau penurunan yang

menunjukkan bahwa keadaan bulu tersebut asam sehingga menunjukkan

proses denaturasi protein sedang terjadi.

2. Pada asam lemah suhu diperoleh yaitu 23 oC, 24 oC, 25 oC, dan 24 oC. Hal

ini dikarenakan suhu ruang mengalami perubahan akibat proses oksidasi

ataupun reduksi. Pengukuran pH mengalami perubahan, pada awal hingga

hari kedua masih dalam keadaan asam yaitu 4,1; 4,3; dan 4.1. Pada hari

ketiga pH berubah menjadi netral yaitu sekitar 7,6 , hal ini disebabkan oleh

perombakan akibat perlakuan pemberian CH3COOH yang terjadi akibat

adanya oksidasi yang menyebabkan pengurangan nilai protein, diikuti

pertambahan suhu.
16

DAFTAR PUSTAKA

ADIATI, U., W PUASTUTI dan I-W. MATHIUS. 2002. Explorasi potensi produk
samping rumah potong (bulu dan darah) sebagai bahan pakan imbuhan
pascarumen. Laporan Penelitian Balai Penelitian Ternak Ciawi: Bogor.

Brandelli, D.J. Daroit, A. Riffel. 2010. Biochemical features of microbial


keratinases and their production and applications. Applied Microbiology
and Biotechnology, 85 pp. 1735-1750

Desi, M. 2002. Aktivitas Keratinase Bacillus licheniformis. Tesis. Istitut Pertanian


Bogor: Bogor.

Gushterova, A., E. Vasileva-Tonkova, E. Dimova, P. Nedkov, and T. Haertlé. 2005.


Keratinase production by newly isolate Antarctic actinomycetes strains.
World J. Microbiol. Biotechnol. 21: 831 – 834.

Hartadi, H., Soedomo R., Soekanto L., Allen D. Tillman. 1997. Tabel-tabel Dari
Komposisi Bahan Makanan Ternak Untuk Indonesia. Fakultas Peternakan
Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta.

Horowitz E. & Sahni S. 1984. Fundamentals of Data Structures in Pascal. Pitman


Publishing Limited.

Howie, S.A., Calsamiglin and M.D. Stern. 1996. Variation in ruminant degradation
and Intestinal digestion of animal by product protein. Animal. Feed Science.
Tech. 63(14) : 1-7.

Kim WK and PH. Patterson. 2000. Nutritional Value of Enzyme- or Sodium


Hydroxide-Treated Feathers from Dead Hens. Poultry Science 79:528–
534.

Kreplak, L., Doucet, J., Dumas, P. and Briki, F. 2004. New aspects of -helix to -
sheet transition in stretched hard -keratin fibres. Biophysic. J., 87, 640-
47

PACKHAM, R.G. 1982. Feed Composition, Formulation and Poultry Nutrition .


Nutrition and Growth Manual. Australian Universities International
Development Program (AUIDP), Melbourne.

Puastuti W, Yulistiani D, Mathius IW. 2004. Bulu ayam yang diproses secara kimia
sebagai sumber protein by pass rumen. JITV 9 (2): 73- 80.
17

SRI INDAH Z. 1993. Pengaruh lama pengolahan dan tingkat pemberian tepung
bulu terhadap performans ayam jantan broiler. Skripsi . Fakultas
Peternakan IPB: Bogor.

STEINER, R.J., R.O. KELLEMS and D.C. CHURCH. 1983. Feather and hair
meals for ruminant. IV. Effects of chemical treatments of feathers and
processing time on digestibility. J. Anim. Sci. 57: 495 – 502

Werlang, P.O., Brandelli, A. 2005. Characterization of a Novel Feather-Degrading


Bacillus sp. Strain. Applied Biochemistry and Biotechnology. 120 (5): 71-
80.