Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang
Kesehatan Ibu dan anak merupakan salah satu komponen utama yang
mendukung perkembangan kesehatan Bangsa Indonesia.Masalah kesehatan ibu dan
anak merupakan hal yang harus segera ditangulangi.Angka kematian ibu dan anak
setiap tahunnya meningkat.Hal ini disebabakan karena masalah gizi
masyarakat,pertolongan persalinan,fasilitas kesehatan dan imunisasi ibu hamil yang
kurang di perhatikan.Peningkatan kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu upaya
kementrian kesehatan RI untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan melalui
pencapaian MDGs.
Program yang dapat dilakukan yaitu perencanaan persalinan dan pencegahan
komplikasi melalui kemitraan Bidan dan Dukun,pemanfaatan buku KIA,dan
merevitalisasi pelaksanaan pemantauan wilayah setempat.
Tingkat pengetahuan dan sikap keluarga terhadap manfaat mendapatkan
imunisasi bagi ibu hamil merupakan hal yang sangat penting.Seluruh ibu hamil wajib
mendapatkan imunisasi yang valid (lengkap, tepat waktu,efektif).
1.2 Tujuan
A. Tujuan Umum
Setelah menyelesaikan praktek di lapangan di harapkan mahasiswa mampu
mengelola berbagai program terkait manejemen integrasi KIA,Imunisasi dan
Malaria.
B. Tujuan Khusus
Setelah menyelesaikan praktek lapangan selama 1 ( satu) minggu,diharapkan
mahasiswa mampu merencanakan dan melaksanakan berbagai program dan
kegiatan terkait KIA.
1.3 Manfaat
Adapun manfaat yang ingin di kemukakan dalam laporan ini yaitu :
Di harapkan makalah ini dapat memberikan manfaat kepada mahasiswa/i khususnya
keompok oraktek klinik puskesmas onekore dan kelas karyawan umumnya agar dapat
mengetahui dan memahami mengenai Manajemen Integrasi KIA,malaria dan
Imunisasi secara tepat dan benar sehingga dapat menerapkannya saat bertugas nanti
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 KONSEP TEORI
A. Revolusi KIA
1. Pengertian Revolusi KIA
Merupakan bentuk upaya percepatan penurunan angka kematian ibu
dan bayi baru lahir dengan cara-cara- yang luar biasa melalui
persalinan yang di tolong oleh tenaga kesehatan yang terlatih pada
vasilitas pelayanan kesehatan yang memadai.
2. Kriteria fasilitas kesehatan yang memadai
a. Memberikan pelayanan 24 jam
b. Memenuhi standar dari setiap aspek:
 SDM
 Peralatan
 Obat,Bahan dan perbekalan kesehatan
 Bangunan
 Sistem (SOP dan sistem rujukan )
 Penganggaran
3. Peran
a. Pemerintah/penyedia pelayanan
 Menolong di fasilitas kesehatan yang memadai
 Merujuk pada saat yang tepat
 Bekerja SOP
b. Masyarakat/penerima pelayanan
 Melahirkan pada fasilitas kesehatan yang memadai
 Saat melahirkan di tolong oleh tenaga kesehatan terlatih
 Mendorong atau berupaya mendapat pelayanan
kesehatan yang optimal
4. Tujuan Revolusi KIA
Tercapainya percepatan penurunan kematian ibu melahirkan dan bayi
baru lahir melalui persalinan di fasilitas kesehatan yang memadai.
5. Peran dan fungsi program revolusi KIA
Ada dua sisi yang harus diintervensi di dalam pelaksanaan revolusi
KIA yaitu :
a.Pemerintah/Swasta sebagai penyedia pelayanan atau fasilitas
kesehatan berperan untuk merubah kondisi sebelum revolusi
menjadi kondisi sebagai berikut :
 Menolong di fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai.
 Merujuk pasien pada saat yang tepat,petugas kesehatan
melakukan identifikasi kasus resiko tinggi pada semua ibu
hamil dan dapat merujuk tepat waktu ke puskesmas
PONED/RS PONEK.
 Bekerja sesuai standar yang berpedoman pada standar
pelayanan kebidanan yang telah di tetapkan oleh kementrian
kesehatan Republik Indonesia.

b.Masyarakat sebagai pihak yang membutuhkan pelayanan


kesehatan berperan merubah kondisi sebelum revolusi KIA
menjadi kondisi :
 Melahirkan pada fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai
yaitu :di pusekesmas PONED atau RS PONEK
 Bagi ibu hamil yang mempunyai tempat tinggal jauh dari
sarana pelayanan kesehatan,dianjurkan satu sampai dua
minggu sebelum tafsiran persalinan sudah menginap dirumah
tunggu puseksmas untuk menunggu proses kelahirannya.
 Mendorong atau berupaya untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan yang optimal.
6.Sasaran Program Revolusi KIA
Semua ibu hamil,ibu bersalin dan ibu nifas serta bayi baru lahir.
7.Program - Program terkait KIA
Di daerah endemik malaria, ibu hamil merupakan kelompok yang
paling rentan terhadap malaria (lebih cenderung menderita malaria
berat yang mengakibatkan kematian)
Program ANC merupakan program rutin yang cukup dewasa dan kuat
dengan sasaran ibu hamil, paket layanan yang terintegrasi akan
memudahkan masyarakat dan tenaga kesehatan. Paket yang terintegrasi
juga akan memperkuat sistem pelayanan kesehatan

8.Model Program:
a. Integrasi dengan ANC
b. Integrasi dengan imunisasi rutin
c. Integrasi dengan laboratorium
d. Integrasi dengan program gizi
e. Integrasi dengan program P2p
B. Malaria
1.Penyebab Malaria
Penyebab malaria adalah parasit plasmodium yang ditularkan melalui gigitan
nyamuk anopheles betina.Dikenal 5 (lima ) macam spesies yaitu :plasmodium
falciparum,plasmodium vivax,plasmodium ovale,plasmodium malariae dan
plasmodium knowlesi.Parasit yang terakhir disebutkan ini belum banyak
dilaporkan di Indonesia.
2.Jenis Malaria
a.Malaria falsiparum
Disebabkan oleh plasmodium falciparum. Gejala demam timbul intermitan
dan dapat kontinyu. Jenis malaria ini paling sering menjadi malaria berat
yang dapat menyebabkan kematian.
b.Malaria vivax
Disebabkan oleh plasmodium vivax. Gejala demam berulang dengan
interval bebas demam dua hari.Telah ditemukan juga kasus malaria berat
yang disebabkan oleh plasmodium vivax.
c.Malaria Ovale
Disebabkan oleh plasmodium ovale .Manifestasi klinis biasanya bersifat
ringan. Pola demam seperti pada malaria vivax.
d.Malaria Malariae
Disebabkan oleh plasmodium malariae. Gejala demam berulang dengan
interval bebas demam tiga hari.
e.Malaria Knowlesi
Disebabkan oleh plasmodium knowlesi.gejala demam menyerupai malaria
falciparum.
3.Gejala Malaria
Gejala demam tergantung jenis malaria.Sifat demam akut (Paroksisma)Yang
jika tidak didahului oleh stadium dingin (Menggigil)diikuti demam tinggi
berkeringat banyak.Gejala klasik ini biasanya ditemukan pada penderita non
imun (berasal dari daerah non endemis)Selain gejala klasik di atas,dapat
ditemukan gejala lain seperti nyeri kepala,mual,muntah,diare,pegal pegal,dan
nyeri otot.gejala tersebut biasanya terdapat pada orang orang yang tinggal
didaerah endemis (Imun).
4.Bahaya Malaria
1. Jika tidak ditangani segera dapat menjadi malaria berat yang
menyebabkan kematian
2. Malaria dapat menyebabkan anemia yang mengakibatkan penurunan
kualitas sumber daya manusia.
3. Malaria pada wanita hamil jika tidak diobati dapat menyebabkan
keguguran,lahir kurang bulan (Prematur)dan berat badan lahir rendah
(BBLR) serta lahir mati.
5.Pencegahan Malaria
Upaya pencegahan malaria adalah dengan meningkatkan kewaspadaan
terhadap resiko malaria,mencegah gigitan nyamuk,pengendalian vektor dan
kemoprofilaksis. Pencegahan gigitan nyamuk dapat dilakukan dengan
menggunakan kelambu berinsektisida,relepan,kawat kasa nyamuk dan lain-
lain.Obat yang digunakan untuk kemoprofilaksis adalah doksisiklin dengan
dosis 100mg/hari. Obat ini diberikan 1-2 hari sebelum bepergian,selama
berada di daerah tersebut sampai 4 minggu setelah kembali. Tidak boleh
diberikan pada ibu hamil dan anak dibawah umur 8 tahun dan tidak boleh
diberikan lebih dari 6 bulan.
6.Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan dengan Mikroskop
Pemeriksaan sediaan darah (SD) tebal dan tipis di
puskesmas/lapangan/RS/laboratorium klinik:
 Ada tidaknya parasit malaria (Positif atau negatif)
 Spesies dan stadium plasmodium
 Kepadatan parasit
b. Pemeriksaan dengan uji diagnostik cepat (Rapid diagnostic test)
Mekanisme test ini berdasarkan deteksi antigen parasit
malaria,denganmenggunakanmetoda imunokromatografi.Pemeri
ksaan dengan RDT tidak di gunakan untuk mengevaluasi
penggobatan.

7.Penggobatan Malaria pada Ibu Hamil


Pada prinsipnya pengobatan malaria pada ibu hamil sama dengan
pengobatan pada orang dewasa lainnya.
Pada ibu hamil tidak di berikan primakuin
Pengobatan malaria falsiparum dan malaria vivaks pada ibu hamil
UMUR KEHAMILAN PENGOBATAN

Trimester I-III (0-9 bulan) ACT tablet selama 3 hari

Semua obat anti malaria tidak boleh diberikan


dalam keadaan perut kosong karena bersifat iritasi
lambung. Oleh sebab itu penderita harus makan
terlebih dahulu setiap akan minum obat anti malaria.

C. IMUNISASI
Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Jadi imunisasi adalah
suatu tindakan untuk memberikan kekebalan dengan cara memasukkan vaksin
ke dalam tubuh manusia.

Secara umum imunisasi bertujuan untuk menurunkan angka kematian


dan kesakitan serta mencegah akibat buruk lebih lanjut dari penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi.Sasaran kegiatan imunisasi dalam program kesehatan
ibu dan anak adalah bayi umur 0-11 bulan dan ibu hamil.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mendukung keberhasilan program


imunisasi meliputi :

1). Menentukan besarnya sasaran dan target cakupan sasaran imunisasi. Ini
bisa ketahuan dari data yang dikeluarkan oleh Biro Pusat Statistik.
Jumlah bayi puskesmas tahun ini =
Jumlah penduduk Puskesmas tahun lalu X jumlah bayi Kab. tahun ini

Jumlah penduduk Kab. tahun lalu

( BUKU PEDOMAN PENGELOLAAN VAKSIN,DEPKES RI,TAHUN 2009)


Jumlah bayi : 5 angka kelahiran Propinsi dikalikan jumlah penduduk

puskesmas.

Jumlah sasaran ibu hamil untuk TT adalah seluruh ibu hamil.

Jumlah ibu hamil = 1,1 x jumlah bayi.

2). Membuat jadwal pelayanan imunisasi di seluruh wilayah kerja


Puskesmas
3). Merencanakan kebutuhan vaksin dan peralatan vaksinasi, cold chain dan
buku pencatatan/pelaporan.
4). Mengelola vaksin, peralatan vaksin dan cold chain sesuai dengan
petunjuk teknis.
5). Memberikan pelayanan imunisasi secara terpadu dengan program lain
dalam kegiatan Posyandu, pelayanan imunisasi di Gedung Puskesmas
dan di luar gedung puskesmas
6). Memberikan penyuluhan dan membina peran serta masyarakat.
7). Melakukan monitoring (pemantauan).
8). Pencatatan dan pelaporan.
Jenis imunisasi yang termasuk dalam program kesehatan ibu dan anak
adalah Tetanus Toxoid 2 kali pada ibu hamil dan BCG, DPT 3 x, Polio 3x,
Hepatitis B 3x dan Campak 1x pada bayi.

1. Melaksanakan Berbagai Kegiatan Terkait Malaria KIA dan Imunisasi

Kebijakan Kegiatan Terpadu Pengendalian Malaria, Pelayanan Ibu Hamil,


Balita dan Imunisasi :

 Kegiatan terpadu pengendalian malaria dengan program kesehatan ibu, anak


dan imunisasi dilaksanakan melalui pelayanan rutin antenatal, pelayanan balita
sakit, pelayanan imunisasi dasar lengkap disarana pelayanan kesehatan dasar
dan jejaringnya serta rumah sakit baik pemerintah maupun swasta
 Kegiatan terpadu pengendalian malaria dengan program kesehatan Ibu,
program kesehatan anak, dan program imunisasi dilaksanakan di wilayah
puskesmas endemis tinggi dan sedang. Penetapan puskesmas menggunakan
data API 2 tahun sebelumnya untuk digunakan selama 3 tahun berikutnya
 terpadu pengendalian malaria dengan program kesehatan di daerah dengan
akses pelayanan kesehatan terbatas dapat dilakukan dengan Pengembangan
MTBSM (Manajemen Terpadu Balita Sakit Berbasis Masyarakat).
2. Mengidentifikasi waktu pemberian imunisasi, mempraktekkan teknik pemberian
imunisasi tertentu dan melaksanakan pelayanan imunisasi.
a.Waktu pemberian imunisasi
Jadwal Pemberian Imunisasi Pada Bayi Dengan Menggunakan Vaksin DPT dan HB
dalam Bentuk Terpisah, Menurut Frekwensi dan Selang Waktu dan Umur
Pemberian :

Pemberia Selan Umuru Keteran

Vaksin Jumlah
w waktu umur keterangan
pemberian pemberian

BCG 1X - 0-11 Untuk bayi yang lahir di Rumah


Sakit/ Puskesmas Hep-B, BCG dan
BLN
Polio dapat segera diberikan

DPT 3 X (DPT:1,2,3) 2-11 DPT Lanjutan pada usia 1thn 6 bln-


1thn 18 bln.
4MINGGU BLN

po POLIO 4 X (POL 1,2,3,4) 0-11 IPV di berikan satu bulan setelah


pemeberian polio 4 dan DPT3
4 MINGGU BLN

CAMPAK 1X - 9-11 Campak Lanjutan pada usia 24 bln


(2 thn )
BLN

HEP-BhHHEPATITIS B 3 X (HEPB:1,2,3) 0-11


4MINGGU
BLN

Sumber : Petunjuk Pelaksanaan Program Imunisasi di Indonesia Tahun 2008.

Dari tabel diatas, bahwa pemberian imunisasi pada bayi usia 0-11
bulan diberikan dengan selang waktu pemberian 4 minggu dengan variasi
pemberian vaksin yang disesuaikan dengan kebutuhan bayi dan tentunya
sesuai dengan tingkat usia bayi yang akan diberikan imunisasi.

Jadwal Pemberian Imunisasi Pada Bayi Dengan menggunakan Vaksin DPT/HB


Kombo

UMUR VAKSIN TEMPAT

Bayi lahir di rumah

0 bulan HB 1 Rumah

1 bulan BCG, Polio 1 Posyandu

2 bulan DPT/HB, * Kombo 1,Polio 2 Posyandu*

3 bulan DPT/HB Kombo 2, Polio 3 Posyandu*

4 bulan DPT/HB Kombo 3, Polio 4 Posyandu*

9 bulan Campak Posyandu*

bayi lahir diRS/RB/Bidan Praktek

0 bulan HB 1, Polio 1,BCG RS/RB/BIDAN

2 bulan DPT/HB Kombo 1,Polio 2 RS/RB/BIDAN #

3 bulan DPT/HB Kombo 2, Polio 3 RS/RB/BIDAN #

4 bulan DPT/HB Kombo 3, Polio 4 RS/RB/BIDAN #

9 bulan Campak RS/RB/BIDAN #

Keterangan : * : Atau tempat pelayanan lain

# : Atau posyandu

a. Mempraktekkan tehnik Pemberian imunisasi


Pemberian Imunisasi yang tepat untuk mendapatkan imunisasi
adalah sebelum bayi mendapat infeksi dari penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi, berilah imunisasi sedini mungkin segera
setelah bayi lahir dan usahakan melengkapi imunisasi sebelum bayi
berumur 1 tahun. Khusus untuk campak, dimulai segera setelah anak
berumur 9 bulan. Pada umur kurang dari 9 bulan, kemungkinan besar
pembentukan zat kekebalan tubuh anak dihambat karena masih adanya
zat kekebalan yang berasal dari darah ibu (Satgas IDAI, 2008).
3. PWS-Imunisasi
 Pengertian:
Pemantauan Wilayah Setempat (PWS), merupakan alat pemantauan
hasil imunisasi berupa grafik atau gambar pencapaian hasil imunisasi dan
kecenderungannya di masing-masing wilayah (Desa, Posyandu, atau lainnya).
Dengan PWS dapat menentukan tindak lanjut yang harus dilakukan, sehingga
hasil imunisasi dapat diperbaiki dan akhirnya secara kumulatif dapat mencapai
target.
 Prinsip PWS :
Prinsip PWS dengan memanfaatkan cakupan dari data yang ada:

 Menggunakan indikator sederhana, seperti jangkauan aksesibilitas


seperti cakupan DPT1,HB < 0-7 hr, TT-1, Kualitas program (tingkat
perlindungan), seperti Cakupan DPT3, Polio4, Campak, TT2+ Ibu Hamil
 Efektifitas/manajemen program, seperti angka Drop Out OPT 1 —
Campak.
 Dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan setempat.
 Dimanfaatkan untuk umpan balik.
 Teratur dan tepat waktu (setiap bu!an).
 Memudahkan analisis.
4. Mengidentifikasi jenis dan sifat vaksin
 Jenis vaksin
1. Vaksin BCG (Bacillus Calmette Gueri
2. Vaksin DPT (Difteri Pertusis Tetanus)
3. Vaksin TT (Tetanus Toxoid)
4. Vaksin DT (Difteri dan Tetanus)
5. Vaksin Polio (Oral Polio Vaccine=OPV)
6. Vaksin campak
7. Vaksin Hepatitis B
8. Vaksin DPT-HB
 Sifat Vaksin
Sifat vaksin dapat digolongkan berdasarkan
kepekaan/sensitifitasnya terhadap suhu yaitu :

1. Vaksin yang sensitif terhadap beku (Freeze sensitive=FS) yaitu :


golongan vaksin yang akan rusak bila terpapar/terkena dengan suhu
dingin atau suhu pembekuan. Jenis vaksin yang sensitif terhadap
beku tersebut adalah : Hepatitis B, DPT-HB, DPT, DT dan TT.
2. Vaksin yang sensitive terhadap panas (Heat sensitive=HS) yaitu :
golongan vaksin yang akan rusak bila terpapar/terkena suhu panas
yang berlebihan.
Jenis vaksin yang sensitive terhadap panas tersebut adalah : Polio,BCG dan
Campak.
5. Mempraktekkan Pengelolaan Sistem Rantai Dingin

a. PengertianColdChain
Cold Chain (rantai dingin) merupakan cara menjaga agar vaksin dapat
digunakan dalam keadaan baik atau tidak rusak, sehingga mempunyai
kemampuan atau efek kekebalan bagi penerimanya.

b. Peralatan rantai vaksin

 Lemari Es

 Mini Freezer

 Vaccine Carrier

 Thermos

 Cold Box

 Freeze Tag/Freeze Watch

 Kotak dingin cair (Cool Pack)

 Kotak dingin beku (Cold Pack)


c. Pengelolaan Vaksin

 Penerimaan /pengambilan vaksin (transportasi)


1) Pengambilan vaksin dari Puskesmas ke kabupaten/kota dengan
menggunakan peralatan rantai vaksin yang sudah ditentukan.
Misalnya: cold box atau vaccine carrier.
2) Jenis peralatan pembawa vaksin disesuaikan dengan jumlah
vaksin yang akan diambil.
3) Sebelum memasukkan vaksin ke dalam alat pembawa, periksa
indikator vaksin (VVM).
4) Masukkan kotak cair dingin (cool pack) ke dalam alat pembawa
dan di bagian tengah diletakkan thermometer Muller, untuk
jarak jauh bila freeze tag/watch tersedia dapat dimasukkan ke
dalam alat pembawa.
5) Alat pembawa vaksin yang sudah berisi vaksin, selama
perjalanan dari kabupaten/kota ke puskesmas tidak boleh
kena sinar matahari langsung.
6) Catat dalam buku stok vaksin : tanggal menerima vaksin,
jumlah, nomor batch dan tanggal kadaluarsa.
 PenyimpananVaksin
1) Vaksin disimpan pada suhu +2ºC − +8ºC.
2) Bagian bawah lemari es diletakkan kotak dingin cair (cool
pack) sebagai penahan dingin dan kestabilan suhu
3) Vaksin TT diletakkan lebih jauh dari evaporator.
4) Beri jarak antara kotak vaksin minimal 1-2 cm atau satu jari
tangan agar terjadi sirkulasi udara yang baik.
5) Letakkan 1 buah thermometer Muller di bagian tengah
lemari es. Penyimpanan vaksin harus dicatat 2 kali sehari pada
grafik suhu yaitu saat datang pagi hari dan menjelang pulang
siang/sore hari.
 PenangananVaksin-RantaiDingin
Sebelum waktu sampai di puskesmas perlu adanya penanganan
dibawah ini:
 Harus cepat di ambil dari lapangan terbang
 Harus disimpan suhu yang tepat dalam lemari es baik di
penyimpanan pusat, provinsi, maupun kabupaten.
 Harus tetap dingin dalam perjalanan dari tempat
penyimpanan yang satu ke tempat yang lainnya. Sehingga
vaksin akan sampai ke puskesmas dalam keadaan yang baik.

Setelah vaksin sampai di puskesmas:

 Simpanlah vaksin tersebut di lemari es dengan suhu yang


tepat
 Bila akan membawa vaksin ke vaksinasi harus menggunakan
termos yang berisi es.
BAB IV
HASIL PRAKTEK DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL KEGIATAN


1. Mengidentifikasi Program-Program Terkait KIA
1) Program-program terkait KIA adalah sebagai berikut:
 Imunisasi
 Posyandu
 ANC terintegrasi
 Pemeriksaan gigi bagi ibu hamil baru
 Pemeriksaan darah (hb,malaria,golongan darah)
 Pemeriksaan HBS ag dan VDRL bagi ibu hamil baru
 Pemeriksaan protein uri bagi ibu hamil trimester III
 Konsultasi dengan petugc gizi jika ada bumil KEK
2) Program-program terkait imunisasi adalah sebagai berikut:
 Imunisasi dasar dan lanjut di dalam gedung maupun di luar gedung
(posyandu),
 Sweeping pemberian imunisasi,
 Bias campak pada anak kelas 1 SD,
 Bias TT pada anak kelas 2-3 SD,
 Bias Dt anak kelas 1 SD
 Imunisasi TT pada ibu hamil
3)Program – program terkait Malaria
 Pemeriksaan darah malaria pada ibu hamil
 Pembagian kelambu bagi ibu hamil
 Pembagian Abate di setiap rumah tangga
 Pemberantasan sarang nyamuk dilingkungan tempat tinggal ibu
hamil,bayi balita.
2. Melaksanakan Berbagai Kegiatan Terkait Malaria KIA dan Imunisasi :
 Melaksanakan berbagai kegiatan terkait malaria,
 Scrining malaria pada ibu hamil baru
NAMA UMUR ALAMAT GRAVIDA UK

Ny.Sherly fitri 23Tahun Jln.samratulangi 2 7 7 minggu

Ny.Stefania 38 tahun Potu 3 16 Mingg

Ny, 25 tahun Jlln sam 2 9 minggu


emerensiana ratulangi
maru

 Melaksanakan berbagai kegiatan terkait KIA


 Mengukur Tinggi Badan dan Berat Badan ibu hamil
 Pemeriksaan kehamilan
 Merujuk ibu hamil ke laboratorium untuk periksaan darah
 Merujuk ibu hamil ke poli gizi jika ibu hamil mengalami kekurangan
gizi (Bumil KEK)
 Merujuk ibu hamil ke poli gigi untuk pemeriksaan gigi bagi ibu hamil
baru

NAMA UMU ALAMAT UK/mgg GRAVID RUJUK HASIL


R/TH A
N

Ny.heldegardis Jln samratulangi 32 1 Poli gizi -


nemul 25

Ny.Sherly Fitri Jln samratulangi 7 2 Labort,poli Malaria


23 giz dan Negatif
imunisasi

Ny. Salmawati Jln wirajaya 7 1 Labor dan Malaria


gara 31 imunisasi Negatif

Ny.Stefania Potu 16 3 Labor,imunis Malaria


bebhe 38 asi,poli gigi Negatif
Ny.maria p.rena 35 Ende tengah 39 2 Laborat Malaria
Negatif

Ny. Ani Ampe 32 Jln.diponegoro 35 2 Laborat Malaria


Negatif

Ny. Imakulata 26 Jln wirajaya 25 1 Poli gizi


eti
Laborat dan Malaria
Ny.emirensiana 25 samratulangi 9 2 imunisasai Negatif

Ny. Maria laja 29 Marilonga 13 3 Imunisasi


TT 3
Ny.Anastasia 33 Nuamuri 9 3 Laboratorium Malaria
Dhope Negatif

Ny.Mentari A.M 24 Woloare A 11 1 Laboratorium Malaria


dan imunisasi Negatif

 Melaksanakan kegiatan terkait imunisasi


Melaksanakan kegiatan imunisasi TT bumil ( intramuscullar pada lengan
yang tidak dominan bekerja )

NAMA UMUR ALAMAT GRAVIDA UK

Ny.salmaNy.Salmawati 31 Tahun wirajaya 17 Minggu

Ny.Stefania 38 tahun potu 3 16 Minggu


bebhe

Ny. Sherly fitri 23 tahun Samratulangi 2 7 minggu

Ny. Emirensiana 25 tahun Samratulangi 2 9 minggu


Ny.Maria laja 29 tahun Marilonga 3 13 minggu

Ny.Mentari A.M 24 tahun Woloare A 1 11 Minggu

Ny.Halima 27 tahun Woloare A 2 39 Minggu

3.Tatalaksana Dan Pengobatan Malaria Pada Ibu Hamil Pada scrining malaria,tidak
ditemukan ibu hamil yang menderita malaria.
4.Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Malaria Pada Ibu Hamil. -Pembagian kelambunisasi
5.Survey – Survey Malaria (Mengenal kegiatan mass blood survey
6.Melakukan Integrasi ibu hamil dengan malaria dan imunisasi

NAMA UMUR ALAMAT GRAVIDA UK KETERANGAN

Ny salmawati 31 tahun Jln wirajaya 1 7 minggu Imunisasi TT 1

Ny stefania 38 tahun Potu III 16 minggu Imunisasi TT III dan


bebhe pemeriksaan malaria

Ny sherly fitri 23 tahun Jn sam II 7 minggu Imunisasi TT 1 dan


ratulangi pemeriksaan darah
malaria

Ny.Emerensia 25 tahun Jn sam II 9 minggu Imunisasi TT I dan


na maru ratulangi pemeriksaan malaria

Ny. Maria laja 29 tahun Marilonga III 13 minggu Imunisasi TT 3

Ny.Anastasia 33 tahun Nuamuri III 9 Minggu Pemeriksaan Malaria


Dhope
Ny.Mentari 24 tahun Woloare A I 11Minggu Imunisasi TT I dan
A.M pemeriksaan Malaria
4.2 PEMBAHASAN

1. Pada ibu hamil baru dilakukan observasi tanda tanda vital seperti : tinggi
badan,Berat badan,tensi,timbang dan pemeriksaan kehamilan.Pada ibu hamil
trimester I selain pemeriksaan fisik dan pemeriksaan kehamilan,diwajibkan
pemeriksaan laboratorium (Malaria,HB,HBSag dan VDRL),selain
itu ibu hamil dikirim untuk pemeriksaan gigi dan mulut,dan juga pemberian
imunisasi tetanus toxoid (TT).Semua ibu hamil yang datang saat kunjungan
awal harus dirujuk ke ruang Gizi. Pada kunjungan ulang triwulan II dan III,ibu
hamil wajib dirujuk ke polik
gigi. Pemeriksaan protein urine bagi ibu hamil wajib dilakukan bila ibu hamil
mempunyaim riwayat hipertensi,pada saat kunjungan tekanan darah ibu
meningkat di sertai oedema.Ibu hamil akan dirujuk ke kesling bila ibu hamil
mengalami penyakit berbasis lingkungan (Misalnya : Diare,Malaria,demam).
Ibu hamil akan dirujuk ke progam Gizi,bila ibu hamil mengalami kekurangan
gizi (Ibu hamil KEK)
2.Kegiatan MBS menjadi kegiatan rutin puskesmas Onekore.
BAB III
METODE PRAKTEK

3.1 FOKUS PRAKTEK

1. Mengidentifikasi Program-Program Terkait KIA Dan Imunisasi

a. Program Kesehatan Ibu dan Anak


Upaya kesehatan ibu dan anak adalah upaya dibidang kesehatan yang
menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu meneteki,
bayi dan balita serta anak prasekolah.

Tujuan program kesehatan Ibu dan Anak adalah tercapainya kemampuan


hidup sehat melalui peningkatan derajat kesehatan yang optimal, bagi ibu dan
keluarganya untuk menuju NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia dan
Sejahtera ) serta meningkatnya derajat kesehatan anak untuk menjamin proses
tumbuh kembang optimal yang merupakan landasan bagi peningkatan kualitas
manusia seutuhnya.

Salah satu kegiatan petugas Puskesmas untuk mencapai tujuan tersebut


diatas adalah dengan kegiatan imunisasi.

b. Imunisasi
Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Jadi imunisasi adalah
suatu tindakan untuk memberikan kekebalan dengan cara memasukkan vaksin
ke dalam tubuh manusia.

Secara umum imunisasi bertujuan untuk menurunkan angka kematian


dan kesakitan serta mencegah akibat buruk lebih lanjut dari penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi.Sasaran kegiatan imunisasi dalam program kesehatan
ibu dan anak adalah bayi umur 0-11 bulan dan ibu hamil.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mendukung keberhasilan program


imunisasi meliputi :
9). Menentukan besarnya sasaran dan target cakupan sasaran imunisasi. Ini
bisa ketahuan dari data yang dikeluarkan oleh Biro Pusat Statistik.
Jumlah bayi puskesmas tahun ini =
Jumlah penduduk Puskesmas tahun lalu X jumlah bayi Kab. tahun ini

Jumlah penduduk Kab. tahun lalu

Jumlah bayi : 5 angka kelahiran Propinsi dikalikan jumlah penduduk


puskesmas.

Jumlah sasaran ibu hamil untuk TT adalah seluruh ibu hamil.

Jumlah ibu hamil = 1,1 x jumlah bayi.

10). Membuat jadwal pelayanan imunisasi di seluruh wilayah kerja


Puskesmas
11). Merencanakan kebutuhan vaksin dan peralatan vaksinasi, cold chain
dan buku pencatatan/pelaporan.
12). Mengelola vaksin, peralatan vaksin dan cold chain sesuai dengan
petunjuk teknis.
13). Memberikan pelayanan imunisasi secara terpadu dengan program lain
dalam kegiatan Posyandu, pelayanan imunisasi di Gedung Puskesmas
dan di Puskesmas Pembantu.
14). Memberikan penyuluhan dan membina peran serta masyarakat.
15). Melakukan monitoring (pemantauan).
16). Pencatatan dan pelaporan.
Jenis imunisasi yang termasuk dalam program kesehatan ibu dan anak
adalah Tetanus Toxoid 2 kali pada ibu hamil dan BCG, DPT 3 x, Polio 3x,
Hepatitis B 3x dan Campak 1x pada bayi.

6. Melaksanakan Berbagai Kegiatan Terkait Malaria KIA dan Imunisasi

Kebijakan Kegiatan Terpadu Pengendalian Malaria, Pelayanan Ibu Hamil,


Balita dan Imunisasi :

 Kegiatan terpadu pengendalian malaria dengan program kesehatan ibu, anak


dan imunisasi dilaksanakan melalui pelayanan rutin antenatal, pelayanan balita
sakit, pelayanan imunisasi dasar lengkap disarana pelayanan kesehatan dasar
dan jejaringnya serta rumah sakit baik pemerintah maupun swasta
 Kegiatan terpadu pengendalian malaria dengan program kesehatan Ibu,
program kesehatan anak, dan program imunisasi dilaksanakan di wilayah
puskesmas endemis tinggi dan sedang. Penetapan puskesmas menggunakan
data API 2 tahun sebelumnya untuk digunakan selama 3 tahun berikutnya
 terpadu pengendalian malaria dengan program kesehatan di daerah dengan
akses pelayanan kesehatan terbatas dapat dilakukan dengan Pengembangan
MTBSM (Manajemen Terpadu Balita Sakit Berbasis Masyarakat).
7. Mengidentifikasi waktu pemberian imunisasi, mempraktekkan tehik pemberian
imunisasi tertentu dan melaksanakan pelayanan imunisasi.
b. Waktu pemberian imunisasi

Jadwal Pemberian Imunisasi Pada Bayi Dengan menggunakan Vaksin DPT/HB


Kombo

UMUR VAKSIN TEMPAT

Bayi lahir di rumah

0 bulan HB 1 Rumah

1 bulan BCG, Polio 1 Posyandu

2 bulan DPT/HB, * Kombo 1,Polio 2 Posyandu*

3 bulan DPT/HB Kombo 2, Polio 3 Posyandu*

4 bulan DPT/HB Kombo 3, Polio 4 Posyandu*

9 bulan Campak Posyandu*

bayi lahir diRS/RB/Bidan Praktek

0 bulan HB 1, Polio 1,BCG RS/RB/BIDAN

2 bulan DPT/HB Kombo 1,Polio 2 RS/RB/BIDAN #

3 bulan DPT/HB Kombo 2, Polio 3 RS/RB/BIDAN #

4 bulan DPT/HB Kombo 3, Polio 4 RS/RB/BIDAN #

9 bulan Campak RS/RB/BIDAN #

Keterangan : * : Atau tempat pelayanan lain


# : Atau posyandu

c.Mempraktekkan tehnik Pemberian imunisasi

Pemberian Imunisasi Umur yang tepat untuk mendapatkan imunisasi adalah sebelum bayi
mendapat infeksi dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, berilah imunisasi sedini
mungkin segera setelah bayi lahir dan usahakan melengkapi imunisasi sebelum bayi berumur
1 tahun. Khusus untuk campak, dimulai segera setelah anak berumur 9 bulan. Pada umur
kurang dari 9 bulan, kemungkinan besar pembentukan zat kekebalan tubuh anak dihambat
karena masih adanya zat kekebalan yang berasal dari darah ibu (Satgas IDAI, 2008).

3.2 INSTRUMEN PRAKTEK :

1. Silabus Mikim
2. Permenkes NO 5 tentang Malaria
3. Permenkes NO 12 Tahun 2017 tentang imunisasi
4. Pedoman Revolusi KIA Propinsi NTT Tentang Imunisasi
5. Buku Saku penatalaksanaan Malaria
3.3 METODE PENGUMPULAN DATA
1. Konsutasi dengan preseptor klinik dan preseptor Akademik
2. Wawancara dengan pemegang program
3. Arsip laporan

3.4 LOKASI DAN WAKTU PRAKTEK

1. Lokasi :PUSKESMAS ONEKORE


2. Waktu : TANGGAL 22 – 27 OCTOBER 2018
BAB V
PENUTUP

5.1KESIMPULAN

Setelah melaksanakan praktek klinik intergrasi KIA,Imunisasi dan Malaria sejak tanggal 22
s/d 27 Oktober 2018 di Puskesmas Onekore dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

 Puskesmas Onekore merupakan Unit pelayanan teknis Dinas Kesehatan


kabupaten/Kota Ende yang sudah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
 Dalam kegiatan pelayanan KIA,di Puskesmas Onekore sudah melakukan integrasi
dengan berbagai program Imunisasi,Labor,Perawatan gigi dan
mulut,Gizi,Kesling.Kegiatan ini dijalankan sesuai dengan Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 75 tahun 2014.

5.2SARAN

1.Bagi Mahasiswa/i Praktek klinik MIKIM di Puskesmas Onekore,diharapkan setelah


kegiatan ini dapat mengaplikasikan dengan tepat dan benar ilmu yang telah dipelajari ini pada
saat bertugas.

2.Bagi Puskesmas Onekore kami Mahasiswa/i Prodi Keperawatan Ende mengharapkan agar
PKM yang terakreditasi strata Madya,terus meningkatkan pelayanan sesuai dengan aturan
dan pedoman yang berlaku.
LAPORAN

MANAJEMEN INTEGRASI KIA,IMUNISASI DAN MALARIA


DI PUSKESMAS ONEKORE KECAMATAN ENDE TENGAH
TANGGAL 22 – 27 OKTOBER 2018

OLEH

BONEFASIUS CEISMAN
BRIGITHA BEKE
ELISABETH T.LEMBANG

KELAS KARYAWAN

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KUPANG
PROGRAM STUDI KEPERAWTAN ENDE
2018