Anda di halaman 1dari 4

PENGETAHUAN

Hasil survei di Indonesia oleh Ditjen Pemberantas Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (2011),
tingginya angka kejadian TB paru salah satunya disebabkan oleh kurangnya tingkat pengetahuan.
Pengetahuan masyarakat Indonesia tentang TB paru masih rendah, hanya 8% responden yang menjawab
dengan benar cara penularan TB paru, 66% yang mengetahui tanda dan gejala (Kemenkes RI, 2011).
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt
behavior).

Pengetahuan berhubungan dengan jumlah informasi yang dimilki seseorang, semakin banyak informasi
yang dimiliki oleh seseorang semakin tinggi pula pengetahuan yang dimiliki seseorang (Notoatmodjo,
2010). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yusuf dan Dani (2011), mengatakan masih didapatkan
kurangnya pengetahuan tentang TB Paru disebabkan oleh kebanyakan responden percaya mitos bahwa
penyakit TB paru merupakan penyakit keturunan yang disebabkan oleh banyak pikiran, dan tidak tahunya
mengenai cara penularan serta kesalahan dalam minum obat.

(TIVANI INDRIANA. 2016. Tivani Indriana_2212162_nonfull resize)

Pengetahuan dan sikap juga menentukan perilaku keluarga. Perilaku merupakan suatu kegiatan atau
aktivitas organisme yang bersangkutan (Notoatmodjo, 2003). Oleh karena itu dalam hal pengobatan dan
pencegahan penularan penyakit Tuberkulosis paru (TBC paru) yang dilakukan oleh keluarga sangatlah
berperan supaya tidak terjadi penularan dalam anggota keluarga lainnya. Akan tetapi penyakit
Tuberkulosis paru (TBC paru) dapat dicegah dengan berbagai cara yaitu dengan hidup sehat (makan
makanan bergizi, istirahat cukup, olah raga teratur, hindari rokok, alkohol, obat bius dan hindari stres),
bila batuk mulut ditutup, jangan meludah di sembarang tempat serta menerapkan strategi DOTS (Directly
Observed Treatment, Shortcourse) (PPTI, 2004). Jika keluarga tidak memiliki pengetahuan tentang
pencegahan penularan Tuberkulosis paru (TBC paru) dengan baik, maka sulit bagi keluarga untuk
menentukan sikap serta mewujudkannya dalam suatu perbuatan (Ancok, 1999; 3). ( Ferry Andreas
Nugroho, 2010 Jurnal STIKES RS. Baptis Volume 3, Edisi 1, Juli, 2010)

Notoadmodjo (2002) mengatakan, dengan adanya pengetahuan manusia dapat menjawab permasalahan
dan memecahkan masalah yang dihadapi. Seseorang yang memiliki pengetahuan yang baik dan tinggi,
maka ia akan mampu untuk berfikir lebih kritis dalam memahami segala sesuatu. Seseorang yang
berpengetahuan baik tidak menjamin akan mempunyai sikap dan perilaku yang positif. Karena seseorang
dalam menentukan sikap dan perilaku yang utuh selain ditentukan oleh pengetahuan, juga dipengaruhi
oleh pikiran, keyakinan dan emosi yang memegang peranan penting (Notoadmodjo, 2010).

(pengetahuan%20dan%20pencegahan%20tb/JURNAL%20HABIBAH.pdf)
Faktor pengetahuan, sikap dan perilaku mempunyai pengaruh besar terhadap status kesehatan individu
maupun masyarakat dan berperan penting dalam menentukan keberhasilan suatu program
penanggulangan penyakit dan pencegahan penularannya termasuk penyakit tuberkulosis.

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan
seseorang (overt behavior). Pengetahuan yang baik apabila tidak ditunjang dengan sikap yang positif yang
diperlihatkan akan memengaruhi seseorang untuk berperilaku, seperti yang diungkapkan Notoatmodjo
yang menyatakan bahwa domain dari perilaku adalah pengetahuan, sikap dan tindakan.

(Fauzie Rahman, 2017 JURNAL MKMI, Vol. 13 No. 2, Juni 2017)

Hasil survei di Indonesia oleh Ditjen Pemberantas Penyakit Menular dan

Penyehatan Lingkungan (2011), tingginya angka kejadian TB paru salah satunya

disebabkan oleh kurangnya tingkat pengetahuan. Pengetahuan masyarakat Indonesia

tentang TB paru masih rendah, hanya 8% responden yang menjawab dengan benar cara

penularan TB paru, 66% yang mengetahui tanda dan gejala (Kemenkes RI, 2011).

Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan

seseorang (overt behavior). Pengetahuan berhubungan dengan jumlah informasi yang

dimilki seseorang, semakin banyak informasi yang dimiliki oleh seseorang semakin tinggi

pula pengetahuan yang dimiliki seseorang (Notoatmodjo, 2010). Berdasarkan penelitian

yang dilakukan oleh Yusuf dan Dani (2011), mengatakan masih didapatkan kurangnya

pengetahuan tentang TB Paru disebabkan oleh kebanyakan responden percaya mitos

bahwa penyakit TB paru merupakan penyakit keturunan yang disebabkan oleh banyak

pikiran, dan tidak tahunya mengenai cara penularan serta kesalahan dalam minum obat.

(TIVANI INDRIANA. 2016. Tivani Indriana_2212162_nonfull resize)


Pemahaman masyarakat terhadap TBC sangat kurang, pengetahuan penderita TB

Paru yang kurang tentang cara penularan, bahaya dan cara pengobatan akan berpengaruh

terhadap perilaku pencegahan penularan pada penderita TB paru padahal pengetahuan

tentang pencegahan penularan TB paru merupakan bekal utama untuk mencegah penularan

dan penyebaran penyakit Tuberkulosis Paru (dian noviati kurniasih, 2017 10-17-1-SM.pdf)

Pengetahuan merupakan dasar ilmu yang harus diketahui seseorang dalam pencegahan

penularan penyakit. Bagaimana jika seseorang yang terdiagnosa Tuberkulosis paru. Peran serta

seseorang tidak mengetahui secara jelas dan benar, apa sebenarnya yang dimaksud penyakit

Tuberkulosis paru itu dan bagaimana cara pencegahan penularannya (Notoatmodjo, 2010).

Pengetahuan dan perilaku seseorang sangat menentukan keberhasilan seseorang

untuk bisa sembuh. Karena jika seseorang terdiagnosa Tuberkulosis paru, peran serta

seseorang harus mengerti apa yang semestinya dilakukan. Maka secara otomatis mampu

melindungi dirinya dan anggota keluarga lainnya supaya tidak terjadi penularan

(Notoatmodjo, 2012) 112-215-1-SM.pdf

Dalam upaya penanggulangan penyakit TB harus diimbangi dengan pengetahuan

yang baik. Pengetahuan adalah hal apa yang diketahui oleh orang terkait dengan sehat dan

sakit atau kesehatan, misal pengertian, penyebab, cara penularan serta cara pencegahan

suatu penyakit. Penularan penyakit TB juga dipengaruhi oleh perilaku penderita, keluarga

serta masyarakat dalam mencegah penularan penyakit TB. 861-1871-3-PB(1).pdf


Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perilaku manusia dari tingkat

kesehatan. Menurut Green.L (1980) prilaku dapat dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu

faktor predisposisi, faktor ini mencakup lingkungan, pengetahuan, sikap dan tindakan

masyarakat terhadap kesehatan, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi dan status

pekerjaan. Kemudian faktor memungkinkan, faktor ini mencakup keterjangkauan fasilitas

kesehatan bagi masyarakat seperti jarak dan ekonomi masyarakat. Terakhir yaitu faktor

penguat, faktor ini meliputi dukungan tokoh masyarakat, petugas petugas kesehatan dan

peran kader (Notoatmojo S. 2007)

Pengetahuan penderita yang kurang tentang bahaya penyakit, penularannya, dan

cara pencegahan akan berpengaruh terhadap sikap dan tindakan sebagai orang yang sakit

dan akhirnya menjadi sumber penular bagi sekelilingnya. Sikap dan tindakan tersebut

seperti batuk tidak menutup mulut, buang dahak di sembarang tempat, dan tidur dalam satu

kamar dengan penderita lebih dari dua orang. (Suhardi, 2008) (Doni, 2015

Pendahuluan.pdf)