Anda di halaman 1dari 7

Tak Ada Hujan, Banjir Bandang

Hantam Desa di Gorontalo


Antara, CNN Indonesia | Senin, 10/12/2018 05:30 WIB
Bagikan :

Ilustrasi banjir bandang. (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah warga mengaku panik saat banjir


bandang setinggi dua meter menerjang Desa Dungaliyo,
Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.

Salah seorang korban banjir, Roman Antu mengatakan ia sedang tidur saat
banjir menerjang rumahnya.

"Saat saya bangun dan membuka pintu, air langsung masuk ke dalam rumah,"
ujarnya, Minggu (9/12) seperti dikutip dari Antara.

Ia mengungkapkan air bah datang secara tiba-tiba padahal di daerah itu tidak
diguyur hujan.
"Biasanya kita waspada jika hujan, tapi ini tidak ada hujan dan airnya deras
sekali, airnya mencapai dua meter," ucap Roman.

Ia menjelaskan saat air masuk ke dalam rumah, ia langsung lari menuju jalan
raya dan meninggalkan semua barang.

"Di rumah saya ini juga saya jadikan tempat usaha salon kecantikan, jadi
barang-barang elektronik yang digunakan rusak, kerugian saya mencapai
Rp30 juta," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Dungaliyo, Dedi Yasin menjelaskan pada


kejadian banjir tersebut, satu rumah rusak dan 32 rumah terendam banjir. Ada
58 jiwa yang terdampak atas banjir bandang itu.

"Banjir ini airnya kiriman dari daerah pegunungan perbatasan Momala," kata
Dedi.

Akibat banjir bandang tersebut, puluhan warga pun terpaksa bermalam di


pengungsian karena tempat tinggal yang sementara tidak bisa ditempati.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
Kabupaten Gorontalo Erwan Tome menyatakan setidaknya seorang warga
masih dinyatakan hilang karena diduga hanyut terseret air bah yang melanda
Desa Dungaliyo kemarin.

"Informasi awal yang kami terima ada saksi yang melihat korban hanyut,"
ujarnya. (kid)
Pemkab Gorontalo Targetkan
Program Destana Menyeluruh
Kamis, 10 Januari 2019 22:15 WIB

ilustrasi
Gorontalo, (Antaranews Gorontalo) - Pemerintah Kabupaten
(Pemkab) Gorontalo, Provinsi Gorontalo menargetkan
program Desa Tangguh Bencana (Destana) secara menyuluruh
di daerah itu.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Badan Penanggulangan


Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gorontalo Erwanto Tone
di Gorontalo, Kamis, mengatakan saat ini Pemkab sedang
gencar membangun Destana dan berharap dapat terpenuhi
pada tahun 2019 ini.

"Program ini secara nasional untuk seluruh desa dan kelurahan


termasuk Kabupaten Gorontalo," ujarnya.

Ia menjelaskan jika Pemerintah Kabupaten Gorontalo pada


tahun 2017 beroleh anggaran untuk empat desa dan telah
dilakukan di Desa Tualango, Kecamatan Tilango, Desa
Padengo, Kecamatan Limboto barat, dan kKcamatan Bilato di
Desa Tilote serta Tohupo.

"Memang parameternya 20 poin, ada petunjuk pelaksanaan


pendampingan, fasilitator dan seterusnya," ungkap Erwan saat
ditemui diruang kerjanya.

Erwan menambahkan, untuk tahun 2019 ada lanjutan


pendanaanya dari BNBP, jika pada tahun lalu pembentukan
maka tahun ini status pengembangan dengan sasaran anggaran
di daerah itu harus Destana.

"Sehingga, Kami berkolaborasi dengan teman- teman kampus,


Alhamndulillah Universitas Negeri Gorontalo menjalin kerja
sama dengan BNPB, dan mahasiswa Kuliah Kerja Sibermas
Tematik arahnya wilayah kegiatan pengembangan Destana,"
jelas Erwan.

Hanya saja kata Erwan, harus ada kolaborasi antara provinsi


dan Kabupaten, sehingga desa yang didampingi oleh para
mahasiswa ditambahkan dengan empat desa yang difasilitasi.
"Kabupaten Gorontalo saat ini sudah memiliki 46 desa
tangguh bencana dari 191 desa dan 14 kelurahan sehingga 205
totalnya," ungkapnya.
Pewarta : Adiwinata Solihin
Editor: Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2019
Banjir Rendam 45 Rumah di
Gorontalo Utara
Selasa, 8 Januari 2019 16:28 WIB

Foto ilustrasi banjir. (foto Shanty)


Gorontalo, (ANTARA News) - Banjir merendam 45 unit
rumah di Desa Tudi, Kecamatan Monano, Kabupaten
Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)


Gorontalo Utara, Nurhadi Rahim, di Gorontalo, Selasa,
mengatakan, banjir dipicu intensitas hujan sedang hingga lebat
yang terjadi sejak pukul 05.00 Wita.

Akibatnya, sungai di wilayah itu meluap dan merendam


pemukiman warga.
Informasi yang diterima dari relawan Desa Tangguh Bencana
(Destana), air mulai masuk ke pemukiman sekitar pukul 08.10
Wita, merendam 45 unit rumah menyebabkan 65 jiwa
terdampak banjir setinggi 60 senti meter - 1 meter.

"Siang ini, air sudah surut dan masyarakat sudah mulai


melakukan pembersihan rumah sebab tidak ada yang
mengungsi," ujarnya.

Hingga kini tercatat kata Nurhadi, banjir yang diakibatkan


luapan sungai itu, tidak menyebabkan korban luka maupun
meninggal serta tidak ada infrastruktur yang rusak.

Tim BPBD bersama satuan tugas penanggulangan bencana


(Satgas PB), telah berkoordinasi dengan aparat desa terkait
pendataan warga terdampak banjir.

Termasuk menyebarluaskan imbauan agar masyarakat tetap


tenang, selalu waspada dan berhati-hati.

Para taruna siaga bencana (Tagana) dan relawan Destana pun


masih berada di lokasi untuk membantu masyarakat
melakukan pembersihan rumah maupun lingkungan
pascabanjir.
Pewarta : Susanti Sako
Editor: Hence Paat
COPYRIGHT © ANTARA 2019