Anda di halaman 1dari 17

RUMAH SAKIT GRAHA HERMINE

KOTA BATAM
Komplek Ruko Asih Raya No. 06-15 Batu Aji, Batam
Telp : (0778) 363 318, 363 127. Fax (0778) 363 164. Email : graha_Hermine@yahoo.com

KEPUTUSAN DIREKTUR RS GRAHA HERMINE BATAM


Nomor: …… / ….. / …. /2018

TENTANG
PEDOMAN PELAKSANAAN SISTEM IDENTIFIKASI PASIEN
DI RS GRAHA HERMINE BATAM

DIREKTUR RS GRAHA HERMINE BATAM

Menimbang : a. Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan dan mewujudkan


keselamatan pasien (Pasien Safety) di rumah sakit,maka perlu
dibuatkan tentang pedoman pelaksanaan system identifikasi pasien
guna mencegah terjadinya kekeliruan dalam proses pemberian
pelayanan;
b. Bahwa agar pelaksanaan system identifikasi pasien dapat berjalan
dengan baik dan lancar maka diperlukan pedoman pelaksanaan;
c. Bahwa untuk maksud butir a dan b maka diperlukan Keputusan
Direktur tentang berlakunya Pedoman Pelaksanaan Sistem Identifikasi
Pasien di RS Grahe Hermine Batam.

Mengingat : a. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor


1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang Keselematan Pasien Rumah
Sakit.
b. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 749a/MENKES/PER/XII/1989
tentang Rekam Medis/Medical Record

MEMUTUSKAN

Menetapkan : Kesatu : SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR TENTANG


PEDOMAN PELAKSANAAN SISTEM
IDENTIFIKASI PASIEN DI RS GRAHA HERMINE
BATAM.

Kedua : Identifikasi pasien adalah memberikan identitas pasien


minimal tiga kategori, yakni : nama, tanggal, bulan, tahun
lahir, dan nomor MR.

1
Ketiga : Diberlakukannya Pedoman Tentang Pelaksanaan Sistem
Identifikasi Pasien maka menjadi acuan petugas identifikasi
dalam meng-identifikasi pasien di Front Office, di
Keperawatan, dan semua pelayanan Rumah sakit

Keempat : Petugas Identifikasi Pasien dilaksanakan oleh


Keperawatan, Front Office, Rekam Medis, Dokter,
Farmasi, Rehab Medik, Penunjang Medik.

Kelima : Surat Keputusan Ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Keenam : Apabila terdapat kekeliruan dalam surat keputusan ini akan


dilakukan pembetulan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Batam
Pada Tanggal : …………2018

Direktur
RS Graha Hermine

dr.Fajri Israq, MARS


NIP. ……………………..

2
LAMPIRAN
SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR
RS GRAHA HERMINE
NOMOR : .…./……/…/2018
TENTANG
PEDOMAN PELAKSANAAN
SISTEM IDENTIFIKASI PASIEN
DI RS GRAHA HERMINE BATAM

PEDOMAN PELAKSANAAN SISTEM IDENTIFIKASI PASIEN

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik indonesia nomor
1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang keselamatan pasien rumah sakit pada Bab IV
Sasaran Keselamatan Pasien Rumah Sakit pasal 8, berbunyi ayat (1) Setiap rumah
sakit wajib mengupayakan pemenuhan Sasaran Keselamatan pasien, ayat (2) Sasaran
Keselamatan Pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi tercapainya hal-hal
sebagai berikut : Ketepatan identifikasi pasien, Peningkatan komunikasi yang efektif ,
Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai, Kepastian tepat-lokasi, tepat-
prosedur,tepat-pasien operasi ,Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
dan Pengurangan resiko pasien jatuh.

Sasaran keselamatan pasien merupakan syarat untuk diterapkan di semua rumah sakit,
maksud dari sasaran keselamatan pasien adalah mendorong perbaikan spesifik dalam
keselamatan pasien. Sasaran menyoroti bagian-bagian yang bermasalah dalam
pelayanan kesehatan dan menjelaskan bukti serta solusi dari consensus berbasis bukti
dan keahlian atas permasalahan ini. Diakui bahwa desain system yang baik secara
intrinsik adalah memberikan pelayanan kesehatan yang aman dan bermutu tinggi,
sedapat mungkin sasaran umum diifokuskan pada solusi-solusi yang menyeluruh.. dari
keenam sasaran keselamatan pasien point pertama sasaran tersebut adalah ketepatan
identifikasi pasien, maka rumah sakit harus mengembangkan pendekatan untuk
memperbaiki / meningkatkan ketelitian identifikasi pasien.

Maksud dan tujuan ketepatan identifikasi pasien adalah kesalahan karena keliru dalam
mengidentifikasi pasien dapat terjadi di hamper semua aspek/tahapan diagnosis dan
pengobatan,. Kesalahan identifikasi pasien bias terjadi pada pasien yang dalam keadaan
terbius/tersedasi, mengalami disorientasi, tidak sadar, bertukar tempat
tidur/kamar/lokasi di rumah sakit, adanya kelainan sensori, atau akibat situasi lain.
Maksud sasaran ini adalah untuk melakukan dua kali pengecekan yaitu; pertama, untuk
3
identifikasi pasien sebagai individu yang akan menerima pelayanan atau pengobatan;
dan kedua, untuk kesesuaian pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut.

Maka rumah sakit perlu membuat kebijakan dan atau prosedur secara kolaboratif
dikembangkan untuk memperbaiki proses identifikasi, khususnya pada proses untuk
mengidentifikasi pasien ketika pemberian obat, darah, atau produk darah; pengambilan
specimen lain untuk pemeriksaan klinis; atau pemberian pemberian pengobatan atau
tindakan lain. Kebijakan dan atau prosedur memerlukan sedikitnya dua cara untuk
mengidentifikasi seorang pasien, seperti nama pasien, nomor rekam medis, tanggal
lahir, gelang identitas pasien. Nomor kamar pasien atau lokasi tidak bias digunakan
untuk identifikasi. Kebijakan dan atau prosedur juga menjelaskan penggunaan dua
identitas berbeda di lokasi yang berbeda di rumah sakit seperti di pelayanan rawat jalan,
unit pelayanan gawat darurat atau ruang operasi termasuk identifikasi pasien pada
pasien koma tanpa identitas. Suatu proses kolaboratif digunakan untuk mengembangkan
kebijakan dan atau prosedur agar dapat memastikan semua kemungkinan situasi untuk
dapat diindentifikasi.

B. PENGERTIAN

1. Rumah Sakit adalah insitusi pelayanan yang menyelenggarakan pelayanan


kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap,
rawat jalan, gawat darurat.
2. Gawat darurat adalah keadaan klinis pasien yang membutuhkan tindakan medis
segera guna penyelamatan nyawa pencegahan kecacatan lebih lanjut.
3. Dalam Pereturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
269/MENKES/PER/III/2008 tentang rekam medik disebutkan bahwa rekam medis
adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien,
pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan pada
pasien.
4. Identifikasi pasien adalah suatu proses pemberian tanda atau pembeda yang
mencakup nomor rekam medis dan identitas pasien dengan tujuan agar dapat
membedakan antara pasien satu dengan pasien yang lainnya guna ketepatan
pemberian pelayanan, pengobatan dan tindakan atau prosedur kepada pasien.
5. Pasien adalah setiap orang yang melakukan yang melakukan konsultasi masalah
kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan , secara
langsung dan tidak langsung di rumah sakit.

4
C. DASAR HUKUM
2. Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit
3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 269/Menkes/Per/III/2008
tentang Rekam Medis
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :
749a/MENKES/PER/XII/1989 tentang Rekam Medis/Medical Records
5. Surat Keputusan Dirjen Pelayanan Medis No. 78/Yan. Med/ RS GH/YMU/I/1991
tentang Penyelenggaraan Rekam Medis
6. Keputusan Dirjen Pelayanan Rekam Medis Nomor MK 0006/1400744 tentang
Pedoman Sistem Pencatatan Rumah Sakit

D. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mempermudah dalam proses pemberian pelayanan kesehatan kepada pasien yang
datang berobat dan mencegah kesalahan dan kekeliruan dalam proses pemberian
pelayanan ,pengobatan tindakan atau prosedur.

2. Tujuan Khusus
a. Mencegah Kesalahan atau kekeliruan pemberian pelayanan di unit rawat jalan,
rawat darurat, dan ruang operasi.
b. Mencegah Kesalahan atau kekeliruan sebelum pemberian obat, darah, atau
produk darah.
c. Mencegah Kesalahan atau kekeliruan sebelum mengambil darah dan specimen
lain untuk pemeriksaan klinik.
d. Mengarahkan pelaksanaan identifikasi pasien yang konsisten pada semua situasi
dan lokasi.

E. SASARAN

Sesuai dengan tujuan pelaksanaan ketepatan identifikasi yakni untuk membedakan


pasien satu dengan pasien yang lainnya dan mencegah kesalahan dan kekeliruan dalam
proses pemberian pelayanan pengobatan tindakan / prosedur. Maka sasaran identifikasi
pasien tersebut dikaitkan dengan pencapaian tujuan tersebut.

Sasaran ketepatan identifikasi adalah semua pasien yang berobat ke RS Graha Hermine
baik rawat inap maupun rawat jalan.

F. RUANG LINGKUP

Dalam rangka mewujudkan keselamatan pasien (pasien safety) di RSU Adella Slawi
maka perlu disusun Pedoman-pedoman sebagai acuan petugas rumah sakit dalam
melakukan pekerjaannya. Salah satu pedoman yang dibuat adalah pedoman
pelaksanaan system identifikasi pasien dengan tujuan sebagai acuan petugas
5
identifikasi dalam menemukenali pasien secara benar dan tepat dalam memberikan
pelayanan pengobatan atau tindakan. Sehingga mencegah kesalahan dalam penanganan
pasien. Petugas identifikasi meliputi Keperawatan, Front Office, Rekam Medis,
Dokter, Farmasi, Rehab Medik, Penunjang Medik.

6
BAB II

PELAKSANAAN SISTEM IDENTIFIKASI

A. PEMBERIAN IDENTITAS PASIEN

1. Sistem Penamaan Pasien


Sistem penamaan dalam pengidentifikasi pasien adalah tata cara penulisan nama
seseorang yang bertujuan untuk membedakan satu pasien dengan pasien lain dan
untuk memudahkan dalam pengindeksan data base pasien sebagai Indeks Utama
Pasien (IUP) secara komputeriasi. Sistem penamaan yang digunakan di RSU Adella
Slawi adalah dengan memberikan identitas kepada seorang pasien serta
membedakan antara pasien satu dengan pasien lainnya, sehingga mempermudah /
memperlancar di dalam memberikan pelayanan rekam medis kepada pasien yang
datang berobat ke RS Graha Hermine Batam. Prinsip utama yang harus ditaati oleh
petugas identifikasi khususnya petugas admission adalah :
a. Nama pasien sendiri terdiri dari satu suku kata atau lebih
b. Penulisan nama sesuai dengan KTP/SIM/PAPSOR yang masih berlaku
c. Untuk keseragaman penulisan nama pasien digunakan ejaan baru yyang
disempurnakan dengan menggunakan huruf cetak/capital.
d. Tidak diperkenankan adanya pencantuman title/jabatan/gelar
e. Perkataan Tuan, Saudara, Bapak, tidak dicantumkan dalam penulisan nama
pasien
f. Apabila pasien berkewarganegaraan asing maka penulisan namanya harus
disesuaikan dengan paspor yang berlaku di Indonesia
g. Bila seorang bayi baru lahir hingga saat pulang belum mempunyai nama, maka
penulisan namanya adalah Bayi Ny. Xxx
h. Tulisan harus jelas dapat terbaca oleh orang lain dan tidak ada penghapusan Tip
Ex jika terjadi kesalahan pembetulannya diberi paraf dan tulisan yang diubah
masih dapat dibaca.
i. Penulisan nama menggunakan nama asli pasien bukan nama samaran atau
panggilan.
Adapun cara penulisannya adalah sebagai berikut :
a. Cara Penulisan Nama Pasien :
Nama pada KTP/SIM : PANDHU BAGUS SAMIAJI
Nama pada Kartu pasien : PANDHU BAGUS SAMIAJI
Nama pada IUP/data dasar pasien : PANDHU BAGUS SAMIAJI
Nama pada Gelang pasien : PANDHU BAGUS SAMIAJI

b. Cara Penulisan Nama Pasien Bayi :


Nama ibu : ROSITA DEWI
Nama pada bayi : By.Ny.ROSITA DEWI
Nama pada IUP/data dasar pasien : By.Ny.ROSITA DEWI
Nama pada gelang bayi : By.Ny.ROSITA DEWI

7
Apabila pada kunjungan selanjutnya bayi telah memiliki nama, maka nama yang
digunakan adalah namanya saat ini. Maka hanya petugas admission yang
berwenang dapat merubah nama bayi sesuai dengan namanya sekarang.
c. Petunjuk Silang
Dengan penulisan nama pasien sesuai dengan KTP/SIM/PASPOR serta
diharapkan seorang pasien hanya memiliki satu nomor pasien. Apabila
ditemukan seorang pasien memiliki lebih dari satu nomor rekam medis maka
berkas medis tersebut harus digabungkan menjadi satu nomor dimana berkas
nomor tersebut juga digabung, biasanya nomor yang digunakan adalah nomor
rekam medis yang pertama. Tetapi terlebih dahulu harus dicocokan antara
tanggal lahir, alamat, serat identitas lainnya apakah benar-benar sesuai anatar
keduanya.

Contoh penggabungan nomor :


Nama pasien : SRI WAHYUNI
Nomor pasien -1 : 00-09-10
Nomor pasien -2 : 00-12-89

Setelah digabungkan maka pada :


Nomor pasien -1 : 00-09-10 (SRI WAHYUNI)
Nomor pasien -2 : 00-12-89  00-09-10

2. Sistem Pemberian Nomor Pasien


Pengidentifikasian pasien dengan menggunakan system penomoran yaitu tata cara
penulisan nomor rekam medis yang diberikan kepada pasien yang datang berobat
sebagai bagian dari identitas pribadi pasien yang bersangkutan. Pemberian nomor /
numbering Sistem pada pasien yang masuk rumah sakit baik rawat jalan, rawat
darurat dengan cara : Unit Numbering Sistem (setiap pasien hanya memiliki satu
nomor rekam medis selama berobat/dirawat) di RS Graha Hermine yang bertujuan
agar nomor rekam medis yang dipergunakan tidak terjadi penggandaan. Ketentuan
pada sistem penomoran meliputi :
a. Pada pasien yang berobat jalan maupun rawat inap diberikan satu nomor rekam
medis.
b. Nomor dokumen rekam medis terdiri atas 6 (enam) digit mulai dari 00 00 00 sd.
99 99 99.
c. Sebagai kendali nomor yang akan digunakan dibuatkan buku bank nomor.

Prosedur tetap pada sistem penomoran adalah :


a. Nomor rekam medis dicek terlebih dahulu di Buku Bank Nomor.
b. Nomor yang tertulis dalam buku bank nomor adalah nomor yang sudah
digunakan.
c. Masing –masing buku bank nomor dipersiapkan menurut kegunaannya.

Nomor rekam medis perlu dipersiapkan dan diatur pendistribusiannya agar tidak
terjadi kerancuan atau penggandaan pemberian nomor, yang bertujuan untuk
8
mengetahui nomor rekam medis yang telah digunakan dan menghindari nomor yang
ganda. Adapun prosedur tetapnya adalah :
a. Nomor sudah disiapkan oleh petugas bank nomor.
b. Setiap pasien baru berkunjung petugas mencatat nomor pada buku bank nomor.
c. Setelah pergantian shift dilaporkan sampai nomor berapa yang telah terpakai.
Untuk Bayi baru lahir mempunyai nomor rekam medis tersendiri yang bertujuan
agar tidak terjadi kesalahan pada penomoran, ketentuannya adalah bayi baru lahir
mempunyai nomor rekam medis tersendiri tidak disamakan dengan nomor rekam
medis ibunya.

Sistem penomoran yang digunakan di unit Rekam Medis RS Graha Hermine


mempergunakan nomor “ Unit Numbering System “ yaitu pada saat seorang
penderita berkunjung pertama kali ke rumah sakit apakah sebagai penderita berobat
jalan ataupun untuk dirawat, kepadanya diberikan satu nomor
(Admitting Number) yang akan dipakai selamanya untuk kunjungan seterusnya,
sehingga rekam medis penderita tersebut hanya tersimpan didalam satu berkas
dibawah satu nomor. Satu problem yang biasa sering timbul dalam sistem unit
adalah bertambahnya satu rekam medis satu rekam medis menjadi berjilid-jilid
karena seringnya penderita tersebut mendapatkan pelayanan (dirawat) di rumah
sakit. Dalam penanganan dokumen rekam medis yang terlalu tebal, ketentuannya
sebagai berikut :
a. Pada dokumen rekam medis yang terlalu tebal maka dibuatkan jilid yang baru
b. Pada saat dokumen rekam medis di jilid maka harus dibuatkan catatan nomor
jilid dan jumlah jilidnya, missal : Jilid 1 dari 2, Jilid 2 dari 2.
c. Dokumen yang dijilid masih menggunakan nomor rekam medis yang sama.

3. Data Base Pasien Sebagai Indeks Utama Pasien.


Indeks utama pasien adalah salah satu cara menunjang kelancaran pelayanan
terhadap pasien, karena apabila seorang pasien lupa membawa kartu berobat maka
indeks utama pasien yang tersimpan dalam database computer akan membantu
untuk mencarikan data pasien yang diperlukan. Indeks utama pasien merupakan
kunci utama bagi setiap pasien baru yang disimpan selamanya. Indeks utama pasien
disimpan berdasarkan atas ringkasan klinik yang diperoleh dari tempat penerimaan
pasien. Karena IUP merupakan sumber data yang selamanya harus disimpan, maka
harus dibuat selengkap mungkin. Dalam IUP memuar data identitas pasien yang
harus dibuat secara terperinci dan lengkap, antara lain :

a. Nama lengkap pasien


b. Nomor rekam medis
c. Tempat/ Tanggal lahir
d. Jenis kelamin
e. Alamat lengkap
f. Nama Ayah
g. Nama Ibu
h. Nama Suami / Istri
i. Agama
j. Pekerjaan
k. Status
9
l. Penanggung jawab
m. Tanggal Kunjungan awal

Indeks utama pasien di RS Graha Hermine sudah menggunakan system informasi


manajemen rumah sakit (SIM RS) yang data dasar pasien diperoleh dari petugas
admission dan disimpan pada data base computer yang setiap harinya data tersebut
di back up melalui media penyimpanan lain. dengan adanya system komputeritasi
memudahkan dalam proses pelayanan dan perolehan data data dasar pasien secara
cepat, efesien dan efektif. Bila seorang pasien berganti nama, pekerjaan, ataupun
alamat maka petugas pendaftaran harus segera merubah data tersebut agar selalu
menghasilkan data yang up to date. Yang dimaksud dengan penyimpanan IUP
adalah penyimpanan data pasien yang berisikan nama, nomor rekam medis, umur,
alamat dan identitas lain yang disimpan dalam data base komputer dengan sistem
alfabert agar nomor rekam medis dapat ditemukan pada saat pasien tidak membawa
kartu berobat. Yang bertujuan memudahkan pencarian status apabila pasien lama
kehilangan / tidak membawa kartu berobat.

B. PEMBERIAN GELANG PADA PASIEN

Dalam mewujudkan pencapaian ketepatan identifikasi pada pasien guna mencegah


kesalahan dan kekeliruan pemberian pelayanan atau pengobatan maka perlu diadakan
langkah-langkah untuk tercapainya tujuan tersebut. Salah satu langkah dalam
mewujudkan ketepatan identifikasi pasien adalah dengan cara memberikan gelang pada
setiap pasien dengan kriteria tertentu. Dengan adanya pemberian gelang pasien maka
akan memudahkan dan mencegah terjadinya kesalahan pada petugas pemberi
pelayanan. Gelang pasien juga harus memiliki berbagai warna yang disesuaikan dengan
jenis kelamin dan kondisi derajat kesehatan pasien. Setiap petugas rumah sakit harus
memahami maksud warna gelang tersebut, guna mencegah terjadinya angka kejadian
yang tidak diharapkan. Kriteria pada gelang gelang pasien tersebut meliputi antara lain

1. Pemberian identitas pada gelang pasien


Agar memudahkan petugas kesehatan membedakan pasien satu dengan yang lain
maka gelang pasien harus tercantum identitas si pasien tersebut.antara lain nama
lengkap pasien, nomor rekam medis, tanggal lahir, alamat. Adapun prosedur tetap
dalam pemberian identitas pada gelang pasien sebagai berikut :
a. Gelang pasien dipakai pada tangan kiri pasien
b. Pada gelang pasien tertulis nama lengkap pasien
c. Pada gelang pasien tertulis nomor rekam medis pasien
d. Pada gelang pasien tertulis tanggal lahir pasien dan umur
e. Pada gelang pasien tertulis alamat pasien
f. Pada gelang pasien tertulis dokter penanggung jawab pasien
g. Pada gelang pasien tertulis nomor registrasi.
Petugas admission harus benar-benar menuliskan data identitas pada gelang pasien
secara lengkap,benar, jelas dan terbaca. Adapun kriteria warna gelang untuk
membedakan kondisi pasien dengan yang lain, antara lain :
a. Gelang berwarna biru digunakan untuk pasien berjenis kelamin laki-laki
b. Gelang berwarna pink digunakan untuk pasien berjenis kelamin perempuan
10
c. Gelang berwarna kuning digunakan untuk pasien resiko jatuh
d. Gelang berwarna merah digunakan untuk pasien alergi
Contoh pemberian identitas pada gelang pasien :
a. Pasien dengan jenis kelamin laki-laki

b. Pasien Bayi Baru Lahir

2. Manfaat dan bahaya jika menolak menggunakan gelang


Untuk mengantisipasi dan mencegah hal yang tidak diharapkan pada pasien maka
petugas khususnya yang merawat pasien perlu menjelaskan manfaat dan bahaya jika
pasien menolak menggunakan gelang, dan perlu juga dibuat peraturan rumah sakit
yang mewajibkan setiap pasien yang dirawat harus menggunakan gelang pasien.
Adapun prosedur tetap dalam menjelaskan manfaat dan bahaya jika menolak
menggunakan gelang yaitu :
a. Setiap hari petugas pendaftaran rawat inap menyiapkan gelang pasien
b. Setelah dokter/perawat menganamnesa pasien dan menegakan diagnose masuk
di unit gawat darurat, perawat menginformasikan kepada petugas pendaftaran
rawat inap jika pasien memiliki kondisi alergi atau resiko jatuh.
c. Petugas mengisi identitas pada gelang pasien. Pemilihan warna gelang
disesuaikan dengan jenis kelamin serta kondisi pasien jika pasien tersebut
beresiko jatuh atau alergi obat.
d. Gelang pasien diserahkan ke petugas keperawatan agar gelang tersebut segera
dipasangkan di tangan kiri pasien.
e. Sebelum pemasangan gelang, perawat menjelaskan manfaat dan bahaya jika
pasien / keluarganya menolak menggunakan gelang
f. Perawat juga harus menyampaikan atau mengingatkan pasien ketika perawat
atau dokter atau petugas lainnya agar mengidentifikasi terlebih dahulu sebelum
memberikan pelayanan.
g. Penjelasan manfaat dan bahaya jika pasien menolak menggunakan gelang
sebagai berikut :

11
 Manfaat pemasangan gelang, meliputi ;
- Petugas dapat mengidentifikasi pasien dengan mudah sebelum
memberikan pelayanan,pengobatan atau tindakan
- Petugas mampu menemukenali pasien dengan pasien yang beresiko
jatuh dan mempunyai indikasi alergi obat, yang dilihat dari warna gelang
- Mencegah terjadinya kesalahan dan kekeliruan pada saat pemberian
pelayanan,pengobatan dan tindakan.

 Bahaya jika pasien menolak menggunakan gelang


- Petugas mengalami kesulitan dalam proses indentifikasi
- Petugas maupun pasien mempunyai resiko besar terjadinya kesalahan
dalam pemberian pelayanan.
- Dapat menimbulkan peningkatkan angka kejadian yang tidak diharapkan
(KTD) di rumah sakit.
Pemilihan gelang juga memerlukan perhatian khusus oleh rumah sakit .spesifikasi
gelang yang baik antara lain ;
a. Gelang tidak mudah terlepas, yang dimaksud adalah gelang digunakan satu kali
pakai dan tidak bisa dilepas.kecuali dengan cara kanibal.
b. Identitas yang tercantum pada gelang pasien tidak mudah terhapus atau sifatnya
permanen.
c. Jenis gelang juga harus nyaman ketika dipakai oleh pasien,dan berbahan lentur
tanpa melukai tangan pasien.

C. IDENTIFIKASI PADA BAYI BARU LAHIR

Dalam penanganan identifikasi pada bayi baru lahir maka perlu dibuatkan prosedur
yang benar dengan tujuan memberi kejelasan,dan menerangkan langkah identifikasi
bayi baru lahir agar tidak terjadi bayi tertukar atau hilang dan kesalahan dalam
pemberian pelayanan. Adapun prosedur tetapnya sebagai berikut :

1. Prosedur Indetifikasi bayi baru lahir


a. Setelah bayi lahir, bila keadaan ibu/bayi memungkinkan segera disusulkan pada
ibu dan ditunjukkan keadaan dan jenis kelamin bayi oleh petugas penolong
kelahiran bayi.
b. Bayi lahir dirumah sakit dibuat nomor rekam medis baru.
c. Tulis tanggal dan jam lahir, jenis kelamin, panjang bayi, berat bayi, ciri-ciri
yang ada, nama ibu, nama ayah, alamat serta anak ke.....
d. Beri gelang bayi yang berisi identitas, nama ibu, berat bayi, dan panjang bayi
serta no. Reg gelang bayi.
e. Gelang tersebut dipasang pada pergelangan tangan kanan bayi.
f. Gelang merah untuk bayi perempuan dan gelang biru untuk bayi laki-laki.
g. Pada RM.20 dibubuhkan :
 Cap ibu jari tangan kanan ibu.
 Cap ibu tangan kiri bayi.
 Cap kedua telapak kaki bayi.
12
 Dan terisi secara lengkap dan benar
h. Dibox tempat bayi diruang perinatologi dipasang kartu identitas yang meliputi :
nama bayi/ibu, berat badan, hari/ tanggal/jam lahir, jenis kelamin.
i. Pada waktu penderita pulang, ibu (keluarga yang mewakili) agar
menandatangani pernyataan penyerahan bayi disaksikan oleh petugas yang
menyerahkan.

2. Lembar identifikasi bayi baru lahir ( RM.20)


Seorang bayi haruslah dianggap sebagai individu yang mempunyai catatan
tersendiri dan seyogyanya catatan tersebut disimpan dalam berkas masing-masing
terpisah dengan berkas rekam medis ibunya. Karena itu merupakan hal yang penting
untuk mengetahui semua keterangan pengenal bayi yang termuat pada berkas rekam
medis bayi. Salah satu pengidentifikasian pada bayi baru lahir adalah dengan
membuat atau mencatat secara lembaran identifikasi bayi baru lahir secara lengkap,
benar dan jelas pada setiap elemen komponen lembaran tersebut. Adapun prosedur
tetap dalam pengisian lembar identifikasi bayi baru lahir, antara lain :
a. Kolom nama ibu, nama ayah dan nomr rekam medik ibu diisi dengan lengkap,
benar, dan mudah dibaca
b. Kolom nama bayi diisi nama ibu ( By Ny ................ )
c. Kolom No. RM diisi dengan nomor rekam medis bayi
d. Kolom dokter / bidan penolong diisi sesuai dengan dokter / bidan yang
menolong
e. Tanggal lahir bayi, jam, dan jenis kelamin diisi pada kolom yang tersedia
dengan benar jelas dan terbaca
f. Warna kulit diisi sesuai dengan warna kulit bayi
g. Berat badan dan panjang badan diisi oleh bidan sesuai dengan pengukuran
h. Kolom cap jari tangan kanan ibu diisi dengan cara menempelkan ibu jari tangan
kanan ibu ke bak busa yang telah diberi tinta cap kemudian ibu jari tangan
kanan tersebut ditempelkan pada kolom yang tersedia
i. Kolom tanda tangan dan nama terang ibu diisi dengan cara ibu membubuhi
tanda tangan dan menulis nama terang pada kolom yang tersedia
j. Kolom cap telapak kaki kanan bayi diisi dengan cara menempelkan telapak kaki
kanan bayi ke bak busa yang sudah diberi tinta cap kemudian telapak kaki kanan
bayi tersebut ditempelkan pada kolom yang tersedia
k. Kolom cap telapak kaki kiri bayi diisi dengan cara menempelkan telapak kaki
kiri bayi ke bak busa yang sudah diberi tinta cap kemudian telapak kaki kiri bayi
tersebut ditempelkan pada kolom yang tersedia
l. Kolom tanda tangan orang yang menentukan jenis kelamin, tanda tangan dokter
/ bidan, tanda tangan perawat kamar bersalin dan tanda tangan perawat ruang
bayi diisi nama dan ditandatangani semua sesuai kolom yang tersedia
m. Pengecekan nomor pada gelang bayi dan nomor pengenalnya dilakukan oleh
ibu bayi dan perawat atau bidan yang bertugas waktu itu dengan
menandatangani serah terima antara perawat / bidan dengan ibu bayi tersebut
pada kolom surat pernyataan waktu pulang
n. Pada isian kontak menyusui, rawat gabung, pemberian ASI, pemberian susu
formula, cairan lain diisi sesuai dengan hasil pengawasan perawat / bidan pada
bayi tersebut.

13
D. IDENTIFIKASI PADA PASIEN TIDAK SADAR

Dalam pemenuhan tujuan sasaran keselamatan pasien (pasien safety) pada sasaran
pertama yaitu ketetapan identifikasi pasien juga harus melihat kondisi pasien tersebut
guna mencegah kesalahan dalam penanganan pada pasien. Kesalahan identifikasi pasien
bias terjadi pada pasien yang dalam keadaan terbius/tersedasi, mengalami disorentasi,
tidak sadar. Maka RS Graha Hermine membuat prosedur tetap dalam penanganan
identifikasi pasien yang datang dengan kondisi tidak sadar, sebagai contoh meninggal,
kecelakaan, koma/pingsan/terbius. Adapun prosedur tetapnya sebagai berikut ;
1. Identifikasi pasien meninggal,prosedurnya meliputi ;
 Jenazah diidentifikasi oleh dokter pemeriksa dengan melakukan pemeriksaan
luar dicatat pada lembar gawat darurat (RM 1A).
 Pemeriksaan luar yang dimaksud pada poin 1 memuat hal-hal yang merupakan
keadaan umum yang ada pada jenazah serta menemukan penanda-penanda
tertentu yang merupakan ciri-ciri fisik secara khusus yang ditemukan pada saat
pemeriksaan.
 Berikan nomor rekam medis
 Nama pasien ditulis NN.
 Koordinasikan dengan pihak kepolisian untuk menghubungi keluarga.
 Data sosial pasien ditulis menunggu sampai ada keluarga yang datang.
 Buatkan surat kematian rangkap dua, lembar pertama untuk disimpan sebagai
rekam medis, rangkap dua digunakan untuk keluarga pasien.
.
2. Identifikasi pasien kecelakan, prosedurnya meliputi ;
 Pasien dibuatkan rekam medis IGD dan diberi nomor rekam medis dengan
dicatat tentang :
- Identitas pasien meliputi :
Nama, Umur, Agama, Jenis Kelamin, status Perkawinan, Alamat, Pekerjaan
dan Nomor Telepon.
- Identitas pengantar meliputi :
Nama, Umur, Alamat, Pekerjaan dan Nomor Telepon.
- Kejadian meliputi :
Tempat, waktu kejadian, Macam kendaraan yang telah menyebabkan
kecelakaan.
 Pada pasien tak sadar barang miliknya dicatat dan diamankan untuk diserahkan
pada keluarganya dengan identitas lengkap penerima barang tersebut.
 Dibuatkan berita acara.
 Pasien yang tak ada pengantarnya atau diantar oleh orang lain agar dilaporkan
ke kepolisian terdekat.

3. Identifikasi pasien tak sadar pada saat dirawat dirumah sakit.


 Sebelum memberikan penangan, perawat/dokter harus menemukenali pasien
dengan cara melihat gelang pasien dan rekam medis pasien.
 Menganamnesa keluarga pasien bahwa benar pasienlah yang akan diberikan
penanganan.
 Perawat harus benar-benar cermat dan teliti sebelum memberikan penanganan
pada pasien.

14
 Catatlah segala kegiatan pemeriksaan,pengobatan ataupun tindakan pada
lembara rekam medis secara lengkap, benar dan jelas dan diberi nama terang
dan tanda tangan.

15
BAB III

PEMANTAUAN DAN EVALUASI


DENGAN MENGEMBANGKAN SISTEM PELAPORAN INSIDEN

Mengacu kepada standar keselamatan pasien, maka harus dirancang proses baru atau
memperbaiki proses yang ada, memonitoring dan mengevaluasi kinerja melalui
pengumpulan data, menganalisis secara intensif insiden, dan melakukan perubahan untuk
meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien. Dengan cara membangun komitmen dan
focus yang kuat dan jelas tentang keselamatan pasien di rumah sakit. Dalam memonitoring
system tersebut maka harus ada pelaporan dilaporkan setiap bulannya tentang insiden
kejadian tidak diharapkan (KTD), Kejadian Tidak Cedera (KTC), Kejadian Nyaris Cedera
(KNC), Kejadian Potensial Cedera (KPC).

Pelaporan insiden adalah suatu system untuk mendokumentasikan laporan insiden


keselamatan pasien, analisis dan solusi untuk pembelajaran. Dengan adanya pelaporan
tersebut maka rumah sakit mampu mengevaluasi sejauh mana tingkat kesukesan system
identifikasi pasien ini diterapkan.

16
BAB IV

PENUTUP

Telah disusun Pedoman Pelaksanaan Sistem Identifikasi Pasien di RS Graha Hermine yang
dapat digunakan sebagai acuan dan pedoman bagi seluruh petugas identifikasi dalam
memberikan pelayanan,pengobatan dan tindakan, dengan tujuan mencegah kesalahan
pemberian penanganan pada pasien sehingga meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit
dan meningkatkan spesifik dalam keselamatan pasien.
Pedoman Pelaksanaan Sistem Identifikasi Pasien ini masih perlu untuk disempurnakan,
oleh sebab itu diharapkan partisipasi dari berbagai pihak untuk ikut memberikan sumbang
saran demi perbaikan dan penyempurnaan system ini.
Harapan kami pedoman ini dapat menjadi alat bagi RS Graha Hermine dalam upaya
meningkatkan keselamatan pasien. Semoga Allah Subhanahu wata’ala selalu meridhloi dan
memberi petunjuk pada setiap langkah kegiatan kita.

Direktur
RS Graha Hermine

dr.Fajri Israq, MARS


NIP. ……………………..

17