Anda di halaman 1dari 8

Andai Anda Tahu Betapa

Murah Beli Intan Langsung


Ke Pendulangnya, Pasti
Buru-buru Ke Banjarbaru

Banjarmasin Post/ Yayu Fathilal


Pendulang intan tradisional di Banjarbaru, Kalsel, sedang mengurai butiran-butiran intan dari pasir di sungai.

TRIBUNNEWS.COM, BANJARBARU- Selain batu bara, intan merupakan


hasil bumi andalan Kalimantan Selatan lainnya yang mampu menciptakan
daya tarik tersendiri.

Kilaunya yang cemerlang, apalagi jika sudah diolah menjadi perhiasan,


mampu menyihir mata, khususnya kaum hawa.

Sebelum diolah menjadi perhiasan berharga, intan-intan itu harus disedot dulu
dari perut bumi.

Proses mendapatkannya pun tak mudah.


Para pendulangnya harus berpeluh-peluh, bersusah payah dalam waktu yang
lama jika ingin mendapatkan sebutir intan.

Kehidupan mereka bergantung pada nasib baik dan malangnya tak tiap hari
nasib mujur itu menghampiri mereka.

Acapkali mereka berkubang lumpur mendulang intan dari pagi hingga sore
namun tak mendapatkan hasil apa pun.

Esoknya, belum tentu nasib baik bakal menghampiri.

Bisa saja nasib yang sama hari ini, besok akan terulang lagi.

Namun terkadang bisa juga nasib mujur bahkan yang beruntung sekali
didapatkan besoknya.

Uang akan datang jika intan didapat.

Jika tak dapat intan sama sekali, siap-siap saja kantong akan kempes.

Malangnya lagi, intan-intan itu tak tiap hari mereka dapatkan.

Para pendulangnya ini biasanya bekerja di pendulangan atau tambang intan


di Desa Ujung Murung, Kelurahan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka,
Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Mereka kerap mendulang intan, berbasah-basahan di Sungai Tiung yang


mengaliri desa itu.

Pendulangan intan ini sudah ada sejak ratusan tahun silam.

Kebanyakan mata pencarian penduduk sekitar adalah mendulang intan.


Pekerjaan ini merupakan warisan nenek moyang di keluarga mereka.

Seorang pendulang intan di sana, Ramli, mengaku sudah sejak kecil bekerja
di sini.

“Keluarga saya pendulang intan sejak lama sekali. Kebanyakan penduduk sini
mendulang intan juga. Ada juga yang menjadi PNS tetapi sedikit sekali,”
katanya.

Anak-anak setempat yang putus sekolah biasanya akan diwarisi pekerjaan ini
oleh orangtua mereka.

Para pendulangnya ini ada yang bekerja secara berkelompok, ada juga yang
perorangan.

Mereka yang bekerja secara berkelompok biasanya mendulang di tanah yang


ada pemiliknya.

Pemiliknya ini yang mengelola pendulangan itu termasuk mengupah para


pendulangnya.

Intan produk Banjarbaru yang sudah diolah jadi bahan permata.


Satu kelompok biasanya terdiri atas delapan hingga sepuluh pendulang.

Dia mengatakan mereka hanya mendapatkan upah jika berhasil memperoleh


intan.

“Nanti intannya dikumpulkan lalu ditaksir harganya. Kami hanya mendapatkan


upah 40 persen dari harga intannya. 60 persennya buat pemilik tambang. Itu
pun nanti dibagi-bagi lagi. Yang dapat delapan orang, misalnya dapat intan
harga Rp 10 juta, 40 persennya sekitar Rp 4 juta, dibagi lagi buat delapan
orang itu, dapatnya cuma Rp 500 ribu. Itu hasil untuk hari itu. Besok belum
tentu lagi nasib kami seperti apa. Bisa dapat lebih, bisa kurang, bisa juga tak
dapat sama sekali. Nggak ada intan nggak ada duit,” tuturnya.

Tak jarang, walau hujan mendera pun mereka tetap bekerja demi sebuah
nasib mujur, harapan agar dapur mereka tetap berasap dan perut anggota
keluarga mereka tetap terisi.

Tubuh mereka seakan sudah kebal terhadap serangan angin dan hujan.

Mereka biasa mendulang intan menggunakan sebuah alat yang mirip topi
caping petani namun berukuran lebih lebar, tebal dan berbahan kayu jingah
yang sudah tua, namanya linggang.

Bebatuan di dasar sungai itu disedot menggunakan penyedot khusus, lalu


dibersihkan dengan disirami air lantas dimasukkan ke dalam linggang
kemudian digoyang-goyangkan untuk mencari intannya.

Seorang pendulang intan lainnya, Asikin, mengatakan tak tiap hari dia
mendapatkan intan.

“Kadang-kadang saja. Dua tahun lalu pernah dapat intan tiga karat. Paling
kecil pernah dapat yang 10 mata, ukurannya sebesar gula pasir saja,”
terangnya.
Tak jarang, di antara mereka juga ada yang bekerja secara perorangan
sehingga hasilnya pun murni seluruhnya untuk mereka.

Intan-intan hasil perolehan mereka ini pun dijual mereka pula ke para
pelancong yang mengunjungi kawasan ini.
Jika Anda tiba di sini, mereka akan mendekati Anda dan menawarkan jualan
mereka.

Pendulang lainnya, Toni, menambahkan jika intan-intan yang dijual di sini


harganya lebih murah setengahnya dibandingkan dengan yang dijual di toko.

“Kalau di toko Rp 3 juta, di sini hanya Rp 1,5 juta. Yang sudah jadi berupa
perhiasan juga ada. Harganya macam-macam sesuai kualitasnya. Kisarannya
ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Yang jelas, lebih murah lah dibandingkan
dengan di toko karena di sini dari tambangnya langsung. Kalau yang di toko
kan sudah terkena biaya sewa tempat dan pedagangnya juga pasti
mengambil keuntungan,” paparnya.

Diceritakannya juga, intan-intan yang dijual di toko tak semuanya asli hasil
lokal.

Ada juga yang berasal dari Eropa.

Kualitas dan harganya pun berbeda.

Untuk intan lokal yang sudah masak (sudah berupa perhiasan) sekitar Rp 60-
65 juta.

Sementara intan atau berlian Eropa sekitar Rp 15 juta.

“Beda-beda harga, sesuai kualitasnya. Tapi kalau harga pasarannya ya


segitu,” tambahnya.
Sementara untuk yang mentah (belum diolah) dan lokal, per karatnya sekitar
Rp 30-40 juta.

“Itu kalau yang bersih, kilaunya bagus dan kualitas mantap. Kalau yang jelek
Rp 6-7 juta saja per karatnya,” sambung seraya menunjukkan intan mentah
lokal dan Eropa.

Tampak intan lokal lebih bercahaya tajam, bersih dan bening dibandingkan
yang Eropa.

Kalau intan Eropa, kilaunya tampak pecah dan agak redup.

Tempat ini selalu diramaikan oleh aktifitas pendulangnya saban hari.

Tak ada jadwal libur bekerja di sini sehingga pelancong pun bisa tiap hari pula
berkunjung kemari.

Biasanya mereka bekerja antara pukul 08.00 Wita hingga 17.00 Wita.

Tak jarang, di antara pelancong ada saja yang tertarik membeli intan langsung
dari pendulangannya karena harganya jauh lebih murah daripada di toko.

Tempat ini tak sulit dicari.

Tiap hari ada saja wisatawan kemari.

Ada yang dari Jawa juga luar negeri seperti Singapura dan Malaysia.

Biasanya mereka naik bis atau menyewa mobil kemari, soalnya di sini tak bisa
dimasuki angkutan umum seperti angkot karena jalannya sempit.

Lokasi di sini juga tergolong aman.

Selama ratusan tahun daerah ini menjadi tempat pendulangan intan dan
kerap dikunjungi turis, tak pernah ada kejadian berbahaya apa pun.

Secara pemandangannya, daerah ini masih sangat alami.

Memasuki daerah ini Anda akan disuguhi pemandangan alam seperti sungai,
padang rumput dan pedesaan yang tentram.

Daerah di sekitar pendulangannya becek, sehingga tidak disarankan Anda


kemari menggunakan sepatu seperti high heels.

Sebab, jika ingin melihat langsung para pendulangnya bekerja, Anda harus
mendekat dan basah-basahan di sungainya.

Jika ingin kemari sebaiknya menggunakan alas kaki berupa sandal atau
sepatu teplek saja.

Menuju kemari, Anda cukup berkendara hingga tiba di Jalan Ahmad Yani Km
36, Banjarbaru atau tepatnya di tugu perempatan dekat Universitas Lambung
Mangkurat.

Ambil jalan ke kanan yaitu Jalan Mistar Cokroaminoto yang ke arah Kota
Pelaihari.

Lurus saja sekitar lima kilometer, di sebelah kiri jalan ada pelang bertulisan
SDN Sungai Tiung 4, ada jalan kecil bernama Jalan Eks Transpol.

Masuk saja ke situ sekitar beberapa ratus meter, lokasi pendulangannya


berada di sebelah kanan jalan, di belakang perumahan warga.

Jika masih bingung, jangan malu-malu untuk bertanya ke warga setempat,


mereka akan dengan senang hati mengarahkan atau bahkan mengantarkan
langsung ke lokasi yang dituju.

Bagaimana? Tertarik untuk melihat aktifitas pendulangan intan di sini dan


membeli langsung intannya dari pendulangnya? Harganya lebih murah
lho. (Yayu Fathilal)
Tags