Anda di halaman 1dari 16

REFLEKSI KASUS Januari 2019

Varisela Dalam Kehamilan

Disusun Oleh:
Riswandha
N 111 17 070

PEMBIMBING KLINIK:
dr. SASONO UDIJANTO, Sp. OG

DIBUAT DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2018
BAB I

PENDAHULUAN

Ibu hamil sangat peka terhadap terjadinya infeksi dari berbagai


mikroorganisme. Secara fisiologik sistem imun pada ibu hamil menurun,
kemungkinan sebagai akibat dari toleransi sistem imun ibu terhadap bayi yang
merupakan jaringan semi-alogenik, meskipun tidak memberikan secara klinik.
Bayi intra uterin baru membentuk sistem imuni pada umur kehamilan sekitar
sekitar 12 minggu, kemudian meningkat, dan pada kehamilan 26 minggu hampir
sama dengan sistem imun pada ibu hamil itu sendiri.1
Pada masa perinatal bayi mendapat antibodi yang dimiliki oleh ibu, tetapi
setelah 2 bulan antibodi akan menurun. secara anatomik dan fisiologik ibu hamil
juga mengalami perubahan, misalnya pada ginjal dan saluran kencing sehingga
mempermudah terjadinya infeksi. Infeksi bisa disebabkan oleh bakteri, virus, dan
parasit, sedangkan penularan dapat terjadi intrauterin, pada waktu persalinan atau
pascalahir, transmisi bisa secara transplacental ataupun melalui aliran darah atau
cairan amnion.1
Varisela atau yang biasa kita kenal dengan cacar air atau chicken pox adalah
penyakit infeksi akut primer oleh Virus Varisela-Zoster (VVZ) yang menyerang
kulit dan mukosa, klinis terdapat gejala konstitusi, disertai kelainan kulit polimorf,
terutama berlokasi di bagian sentral tubuh.2
Di Amerika Serikat, sebelum diperkenalkan vaksin varisela terjadi epidemi
tahunan setiap musim dingin dan musim semi. Tercatat angka kejadian sekitar 4
juta kasus, dan pada tahun 2000 menurun 71%-84% sejak diperkenalkannya
vaksin varisela. Angka kesakitan dan kematian menurun terutama pada kelompok
umur 1-4 tahun. Angka kejadian varisela di Indonesia belum pernah diteliti
sedangkan berdasarkan data dari poliklinik umum Ilmu Kesehatan Anak Rumah
Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta (IKA-RSCM) pada tahun 2005 sampai 2010
tercatat 77 kasus varisela tanpa penyulit.2

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFENISI
Varisela atau yang biasa kita kenal dengan cacar air atau chicken pox
adalah penyakit infeksi akut primer oleh Virus Varisela-Zoster (VVZ) yang
menyerang kulit dan mukosa, klinis terdapat gejala konstitusi, disertai
kelainan kulit polimorf, terutama berlokasi di bagian sentral tubuh.2

B. EPIDEMIOLOGI
Varisela terdapat di seluruh dunia, dan tidak ada perbedaan ras maupun
jenis kelamin. Varisela dapat mengenai semua kelompok umur termasuk
neonatus, tetapi hampir sembilan puluh persen kasus mengenai anak dibawah
umur 10 tahun dan usia puncak terjadinya adalah 5-10 tahun. Penularan
terjadi akibat kontak langsung, atau melalui udara.2

C. ETIOLOGI
Virus ini termasuk kelompok DNA Herpes Virus dan hidup Laten pada
ganglion bagian belakang setelah infeksi Primer. Sebagian besar orang
dewasa ( 80-90 % ) pernah terinfeksi virus ini sehingga sudah mempunyai
kekebalan.1

D. PATOFISIOLOGI
Masa inkubasi antara 11-21 hari ( rata-rata 14 hari ), disusul oleh gejala
prodromal yang ringan selama 1-2 hari. Penderita demam, anoreksia dan
malaise, pada kulit timbul papula kemerahan yang kemudian menjadi
vesikula. Vesikel-vesikel baru tetap terbentuk sementara vesikel terdahulu
pecah, mengering dan menjadi krusta dengan demikian pada suatu saat akan
tampak bermacam-macam ruam kulit ( polimorf ). Vesikel biasanya beratap
tipis, bentuknya bulat/lonjong menyerupai setetes air sehingga disebut
teardrop Vesicle.3

2
E. DIAGNOSIS
Varicella ibu biasanya didiagnosis secara klinis. Virus dapat diisolasi
dengan mengerok dasar vesikel selama infeksi primer dan melakukan apusan
Tzanck, biakan jaringan, atau uji antibodi fluoresen langsung. Teknik-teknik
amplifikasi asam nukleat yang tersedia juga sangat sensitif. Varisela
kongenital dapat diagnosis dengan menggunakan teknik amplifikasi asam
nukleat pada cairan amnion, meskipun hasil positif tidak berkorelasi baik
dengan terjadinya infeksi kongenital.4
Terutama pada badan dan sedikit pada wajah dan ekstremitas. Mungkin
juga timbul pada mulut, palatum mole dan faring. Efloresensi / sifat - sifatnya
Vesikel berukuran miliar sampai lentikular, di sekitarnya terdapat daerah
eritematosa. Dapat ditemukan beberapa stadium perkembangan vesikel mulai
dari eritema, vesikula, pustula, skuama hingga sikatriks (polimorf).3

F. PENATALAKSANAAN
1. Topikal:5
a. Lesi vesikular: diberi bedak agar vesikel tidak pecah, dapat ditambahkan
mentol 2% atau antipruritus lain.
b. Vesikel yang sudah pecah/krusta: salep antibiotik.
2. Sistemik:5
a. Antivirus
Dapat diberikan pada: anak, dewasa, pasien yang tertular orang
serumah, neonatus dari ibu yang menderita varisela 2 hari sebelum
sampai 4 hari sesudah melahirkan. Berdasarkan CDC, neonatus dari ibu
yang menderita varisela 2-4 hari sebelum melahirkan, sebaiknya
diberikan imunoglobulin. Bermanfaat terutama bila diberikan <24 jam
setelah timbulnya erupsi kulit.
1. Asiklovir: dosis bayi/anak 4x10-20 mg/kg (maksimal 800 mg/hari)
selama 7 hari, dewasa: 5x800 mg/hari selama 7 hari atau

3
2. Valasiklovir: untuk dewasa 3x1 gram/hari selama 7 hari. Pada ibu
hamil, pemberian asiklovir perlu dipertimbangkan risiko dan manfaat
pemberiannya. Asiklovir oral dapat diberikan pada ibu hamil usia >20
minggu dengan awitan varisela <24 jam. Pemberian asiklovir sebelum
usia gestasi 20 minggu perlu dipertimbangkan risiko dan manfaatnya.
B. Simtomatik
1. Antipiretik: diberikan bila demam, hindari salisilat karena dapat
menimbulkan sindrom Reye.
2. Antipruritus: antihistamin yang mempunyai efek sedatif.
Wanita hamil yang didiagnosis menderita infeksi varisela primer perlu
diisolasi dari wanita hamil lainnya. Pneumonia sering tidak memperlihatkan
banyak gejala sehingga perlu dipertimbangkan untuk foto toraks. Sebagian
besar wanita hanya memerlukan terapi suportif, tetapi mereka yang
memerlukan cairan intravena dan khususnya mereka yang mengidap
pneumonia perlu dirawat inap. Terapi asiklovir intravena diberikan dengan
dosis 500mg/ m2 atau 10 sampai 15 mg/ kg setiap 8 jam.4
Suatu vaksin hidup yang telah dilemahkan-Varivax- telah disetujui
pemakaiannya pada tahun 1995. Dua dosis yang diberikan terpisah 4 sampai
8 minggu. Dianjurkan untuk remaja dan dewasa tanpa riwayat varisela.
Vaksin ini menghasilkan serokonversi 97 persen. Imunitas yang dipicu oleh
vaksin berkurang seiring waktu dan angka infeksi breakthrough adalah
sekitar 5 persen pada 10 tahun. Vaksin ini tidak dianjurkan untuk wanita
hamil dan jangan diberikan kepada wanita yang mungkin hamil dalam satu
bulan setelah setiap pemberian dosis vaksin. Suatu data tentang 362
kehamilan yang terpajan vaksin tidak melaporkan adanya sindrom varisela
kongenital atau malformasi kongenital terkait lainnya.4
Varicella Zoster Immunoglobulin (VZIG) direkomendasikan oleh CDC
and Prevention 1996: untuk pencegahan, dengan dosis 125 U/10 kgBB,
maksimum 625 unit atau 5 vial untuk pencegahan pre atau pascatercemar.
Varicelk Vaccine (Varivax), merupakan life virus vaksin tetapi tidak
direkomendasikan pada perempuan hamil. Terjadinya infeksi virus ini pada

4
kehamilan 13 - 20 minggu akan menyebabkan terjadinya cacat bayi pada 0,4 -
2 % dari kehamilan. Kelainan dapat merupakan korioretinitis, atrofi kortek
serebri, hidronefrosis, dan cacat pada kulit serta kaki. Jika infeksi terjadi
sesaat sebelum dan sesudah persalinan juga berbahaya bagi bayi karena
antibodi ibu belum terbentuk (masa inkubasi virus ini umumnya kurang dari
14 hari). Karena itu, bayi yang lahir dari ibu hamil dengan infeksi virus ini 5
hari sebelum dan sesudah persalinan harus segera divaksin dengan YZIG atau
ZIG (zoster immunoglobulin). Dengan pemberian vaksin ini 30 - 40 % bayi
masih bisa mengalami infeksi, tetapi komplikasi dan kematian sangat
dikurangi.1

G. KOMPLIKASI
Pada wanita dengan cacar air selama paruh pertama kehamilan, janin
dapat mengalami sindrom varisela kongenital. Beberapa kelainan yang dapat
timbul adalah korioretinitis, mikroftalmia, atrofi korteks serebrum, hambatan
pertumbuhan, hidronefrosis, dan kelainan kulit atau kuku.4
Infeksi varisela pada ibu hamil trimester I mungkin menyebabkan cacar
bawaan seperti koriorerinitis, atrofi kortek serebri, hidronefrosis, dan kelainan
pada tulang dan kulit. Jika infeksi pada kehamilan kurang dari 13 minggu,
cacat bawaan terjadi sebesar 0,2 %, jika pada kehamilan 13 - 20 minggu
sebesar 2%, tetapi jika infeksi terjadi setelah 20 minggu umumnya tidak
terjadi kelainan. Masa inkubasi varisela virus umumnya kurang dari 2 minggu
12. Jika persalinan terjadi sebelum masa inkubasi atau pada persalinan, maka
karena antibodi pada tubuh ibu belum terbentuk, bayi akan terinfeksi dan
menimbulkan cacat pada usus dan susunan saraf pusat. Karena hal tersebut,
bayi yang lahir dari ibu hamil seperti disampaikan di atas harus disuntik
dengan YZIG atau ZIG, meskipun daya proteksinya 60 – 70%.1

5
BAB III

STATUS OBSTETRI

Tanggal Masuk Rumah Sakit : 9-8 -2018 Tanggal Pemeriksaan :9-8 -2018
Ruangan : K. Bersalin Jam :01.45 WITA

IDENTITAS
Nama : Ny. F
Umur : 19 tahun
Alamat : Desa Kabonena, Kec. Dolo
Pekerjaan : IRT
Agama : islam
Pendidikan : SMA

ANAMNESIS
GIP0 A0 Usia Kehamilan :40 - 41 minggu
HPHT : 27/11/2017 Menarche : 13 tahun
TP : 4/8/2018 Perkawinan : Pertama (1 tahun)

Keluhan Utama : nyeri perut tembus belakang


Riw. Penyakit Sekarang : pasien Ny. F usia 19 tahun, GIP0A0 gravid 40-41
minggu masuk ke rumah sakit umum Anutapura datang dengan keluhan nyeri
perut tembus belakang, keluhan nyeri dirasakan kurang lebih 1 minggu sebelum
masuk rumah sakit. Keluhan dirasakan setiap hari dan memberat saat pasien
melakukan aktivitas berlebihan. Pasien tidak mengeluhkan adanya pelepasan
lendir, cairan dan darah. Pasien juga mengeluhkan demam, keluhan demam
dirasakan sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, keluhan demam dirasakan
pagi, siang maupun malam. pasien juga mengeluhkan munculnya bentol-bentol
kecil berisi air jika dipecahkan dibagian dada, perut, tangan, wajah, dan kaki.
Pasien merasa gatal dibagian Bentol-bentol tersebut. Awalnya keluhan dirasakan
hanya dibagian dada, namun lama-kelamaan muncul diseluruh tubuh pasien.

6
Suami korban juga merasakan keluhan yang sama. Pasien belum pernah berobat
ke rumah sakit. Nyeri kepala tidak ada, pusing tidak ada,pasien juga mengeluhkan
mual dan muntah, Bab lancar, dan bak lancar.

Riwayat Penyakit Sebelumnya : -

Riwayat Penyakit Keluarga: Hipertensi (-), DM (-), penyakit jantung (-)

Riwayat Obstetri : -

Riwayat ANC 4 kali di bidan


Riwayat Imunisasi : tidak ada

PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum: Sakit sedang
2. Kesadaran : Kompos mentis
3. Vital sign :
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 84 kali/menit
Respirasi : 20 kali/menit
Suhu : 39.0 ºC
4. Kepala – Leher : terdapat vesikel berukuran seperti biji jagung.
Konjungtiva tidak anemis, tidak sclera ikterus, edema palpebra tidak ada,
pembesaran KGB tidak ada, pembesaran kelenjar tiroid tidak ada.
5. Thorax :
I : Pergerakan thoraks simetris, terdapat vesikel berukuran seperti biji
jagung.
P : Vf ka = ki
P : Sonor pada kedua lapang paru, pekak pada area jantung, batas jantung
DBN

7
A : Bunyi pernapasan vesikular, rhonki tidak ada, wheezing tidak ada. Bunyi
jantung I/II murni reguler
6. Abdomen :
I : Tampak cembung, stira gravidarum, linea nigra, terdapat vesikel
berukuran seperti biji jagung.
A : Peristaltik usus kesan normal
P : Timpani diseluruh kuadran
P : Nyeri tekan tidak ada
7. Ekstremitas :
Atas : Akral hangat, tidak edema, terdapat vesikel berukuran seperti biji
jagung.
Bawah : Akral hangat, tidak edema, terdapat vesikel berukuran seperti biji
jagung.

PEMERIKSAAN OBSTETRI :
Leopold I : Tinggi Fundus Uteri: 28 cm
Leopold II : Punggung Kanan
Leopold III : Presentasi Kepala
Leopold IV : sudah masuk Pintu atas Panggul
HIS :-
Pergerakan Janin : Aktif
Janin : Tunggal
Denyut Jantung Janin: 152 kali/menit
Pemeriksaan dalam (VT):
Vulva : tidak ada kelainan Bagian terdepan : kepala
Vagina : tidak ada kelainan Penurunan : tidak ada
Portio : tebal, lunak UUK : tidak ada
Pembukaan: 2 cm
Ketuban : tidak dapat dinilai
Pelepasan : tidak ada

8
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil Laboratorium:
WBC : 18.9 x 103/uL
RBC : 4.97 x 106/uL
HCT : 30.6 %
HGB : 8.9 g/dL
PLT : 192 x 103/uL
HbSAg : non reaktif
RT HIV : non reaktif
Pemeriksaan USG: tidak dilakukan

RESUME
pasien Ny. F usia 19 tahun, GIP0A0 gravid 40-41 minggu dengan keluhan
nyeri perut tembus belakang, keluhan nyeri dirasakan ± 1 minggu sebelum masuk
rumah sakit. Keluhan dirasakan setiap hari dan memberat saat pasien melakukan
aktivitas berlebihan. pelepasan lendir (-), cairan (-) dan darah (-). Pasien juga
mengeluhkan demam (+), keluhan demam dirasakan sejak 3 hari sebelum masuk
rumah sakit, keluhan demam dirasakan pagi, siang maupun malam. pasien juga
mengeluhkan munculnya bentol-bentol kecil berisi air jika dipecahkan dibagian
dada, perut, tangan, wajah, dan kaki. Pasien merasa gatal dibagian Bentol-bentol
tersebut. Awalnya keluhan dirasakan hanya dibagian dada, namun lama-kelamaan
muncul diseluruh tubuh pasien. Suami korban juga merasakan keluhan yang sama.
Pasien belum pernah berobat ke rumah sakit. Nyeri kepala (-), pusing (-), mual
dan muntah (+), Bab lancar, dan bak lancar. Pada pemeriksaan fisik didapatkan
Keadaan Umum: Sakit sedang, Kesadaran: Komposmentis Tekanan darah: 120/80
mmHg, Nadi: 84 kali/menit Respirasi: 20 kali/ menit, dan Suhu: 39.0 ºC. pada
pemeriksaan fisik Kepala, leher, thoraks, abdomen dan eksremitas didapatkan
dalam batas normal, namun didapatkan vesikel berukuran seperti biji jagung
diseluruh badan. Hasil Laboratorium didapatkanWBC: 18.9 x 103/uL, RBC: 4.97

9
x 106/uL, HCT : 30.6 %, HGB : 8.9 g/dL, PLT: 192 x 103/uL, HbSAg : non reaktif
dan RT HIV: non reaktif.

DIAGNOSIS
GIP0A0 gravid 40-41 minggu + impartu kala 1 fase laten + varicella

PENATALAKSANAAN
- bed rest
- IVFD RL 28 tpm
- Drips paracetamol 3 x 500 mg.
- Acyclovir 4 x 400 mg
- Observasi BJF dan Tanda-tanda vital.
-
Follow Up Hari 1 (10 Agustus 2018)
S: nyeri perut (+), pelepasan lendir (+), darah (+), air(+), nyeri kepala (-), demam
(-) mual dan muntah (-), Bab (-) dan bak lancar.
O: Keadaan Umum: Sakit sedang
Kesadaran: Kompos Mentis, GCS E4M6V5
TD: 120/70 mmHg
N: 80 x/mnt
R: 20 x/mnt

10
S: 37 oC
BJF: 157 x/ menit
A: GIP0A0 gravid 40-41 minggu + impartu kala 1 fase laten + varicella
P: IVFD RL + drips oxytocin ½ amp 40 tpm.
- Acyclovir 4 x 400 mg
- Observasi BJF dan Tanda-tanda vital.
- Rencanakan sc pukul 23.00
Follow Up Hari 2 (11 Agustus 2018)
S: nyeri perut bekas operasi (+), perdarahan pervaginam (+), nyeri kepala (-),
demam (-) mual dan muntah (-), Flatus (-), Bab (-) dan bak menggunakan
kateter.
O: Keadaan Umum: Sakit sedang
Kesadaran: Kompos Mentis, GCS E4M6V5
TD: 110/70 mmHg
N: 76 x/mnt
R: 20 x/mnt
S: 37,4 oC
A: P1A0 SC a/i Gagal induksi + Gawat janin+ varicella
P: IVFD RL 20 tpm.
- Inj ceftriaxone 1gr/ 12 jam
- Inj. Ketorolac 1 amp/ 8 jam
- Acyclovir 4 x 400 mg
- Paracetamol 3 x 500 mg (jika demam)
Follow Up Hari 3 (12 Agustus 2018)
S: nyeri perut bekas operasi (+), perdarahan pervaginam (+), nyeri kepala (-),
demam (-) mual dan muntah (-),Flatus (+), Bab (-) dan bak menggunakan
kateter.
O: Keadaan Umum: Sakit sedang
Kesadaran: Kompos Mentis, GCS E4M6V5
TD: 120/80 mmHg
N: 76 x/mnt

11
R: 20 x/mnt
S: 36,7 oC
A: P1A0 SC a/i Gagal induksi + Gawat janin+ varicella
P: IVFD RL 20 tpm.
- Inj ceftriaxone 1gr/ 12 jam
- Inj ketorolac 1 amp/ 8jam
- Acyclovir 4 x 400 mg
- Paracetamol 3 x 500 mg (jika demam)

12
BAB IV

PEMBAHASAN

Pada pasien didiagnosis varisela dalam kehamilan berdasarkan anamnesis,


pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis didapatkan pasien
Ny. F usia 19 tahun, GIP0A0 gravid 40-41 minggu masuk ke rumah sakit umum
Anutapura datang dengan keluhan nyeri perut tembus belakang, keluhan nyeri
dirasakan kurang lebih 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Keluhan dirasakan
setiap hari dan memberat saat pasien melakukan aktivitas berlebihan. Pasien tidak
mengeluhkan adanya pelepasan lendir, cairan dan darah. Pasien juga mengeluhkan
demam, keluhan demam dirasakan sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit,
keluhan demam dirasakan pagi, siang maupun malam. pasien juga mengeluhkan
munculnya bentol-bentol kecil berisi air jika dipecahkan dibagian dada, perut,
tangan, wajah, dan kaki. Pasien merasa gatal dibagian Bentol-bentol tersebut.
Awalnya keluhan dirasakan hanya dibagian dada, namun lama-kelamaan muncul
diseluruh tubuh pasien. Suami korban juga merasakan keluhan yang sama. Pasien
belum pernah berobat ke rumah sakit. Nyeri kepala tidak ada, pusing tidak
ada,pasien juga mengeluhkan mual dan muntah, Bab lancar, dan bak lancar. Hal
ini sesuai teori bahwa Masa inkubasi antara 11-21 hari ( rata-rata 14 hari ), disusul
oleh gejala prodromal yang ringan selama 1-2 hari. Penderita demam, anoreksia
dan malaise, pada kulit timbul papula kemerahan yang kemudian menjadi
vesikula.3
Pada pemeriksaan fisik didapatkan Keadaan Umum: Sakit sedang,
Kesadaran: Komposmentis Tekanan darah: 120/80 mmHg, Nadi: 84 kali/menit
Respirasi: 20 kali/ menit, dan Suhu: 39.0 ºC. pada pemeriksaan fisik Kepala,
leher, thoraks, abdomen dan eksremitas didapatkan dalam batas normal, namun
didapatkan vesikel berukuran seperti biji jagung diseluruh badan. Hasil
Laboratorium didapatkanWBC: 18.9 x 103/uL, RBC: 4.97 x 106/uL, HCT : 30.6
%, HGB: 8.9 g/dL, PLT: 192 x 103/uL, HbSAg : non reaktif dan RT HIV: non
reaktif. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa Terutama pada badan
dan sedikit pada wajah dan ekstremitas. Mungkin juga timbul pada mulut,

13
palatum mole dan faring. Efloresensi / sifat - sifatnya Vesikel berukuran miliar
sampai lentikular, di sekitarnya terdapat daerah eritematosa.4
Pada pasien dianjurkan untuk istirahat, Ringer Laktat 28 tpm, drips
paracetamol 3 x 500 mg untuk menurunkan demam pada pasien, Acyclovir 4 x
400 mg sebagai antivirus, Observasi BJF dan Tanda-tanda vital ibu untuk
memantau kesehatan ibu dan bayinya.
Prognosis pada kasus pasien ini terkena cacar air pada usia kehamilan
trimester akhir, pada wanita dengan cacar air selama paruh pertama kehamilan,
janin dapat mengalami sindrom varisela kongenital. Beberapa kelainan dapat
timbul adalah korioretinitis, mikroftalmia, atrofi korteks serebrum, hambatan
pertumbuhan, hidronefrosis dan kelainan kulit atau kuku. Enders dkk.,(1994)
mengevaluasi 1373 wanita hamil dengan infeksi varisela. Jika infeksi pada ibu
terjadi sebelum 13 minggu, hanya dua dari 472 kehamilan 0,4 % melahirkan janin
dengan varisela kongenital. Resiko tertinggi adalah antara 13 dan 20 minggu, saat
tujuh dari 351 janin yang terpajan 2 % memperlihatkan tanda-tanda varisela
kongenital. Setelah gestasi 20 minggu, mereka tidak menemukan bukti infeksi
varisela kongenital. Karena itu, infeksi kongenital, terutama setelah 20 minggu,
jarang terjadi, paling tidak sembilan laporan kasus menerangkan kelainan susunan
saraf pusat dan lesu kulit pada janin yang mengalami varisela kongenital pada
gestasi minggu ke 21 sampai 28.4

14
DAFTAR PUSTAKA

1. Surya IGP. Penyakit infeksi. Dalam: Saifudin AB, Rachimhadhi T,


Wiknjosastro GH. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka; 2016. p. 903-905.
2. Sondakh CC. Kandou RT. Kapantow GM. Profil Varicella Di Poliklinik Kulit
dan Kelamin RSUP Prof. DR. R.D Kandou Manado Periode Januari-
Desember 2012. Manado: Jurnal e-Clinic; 2015.
3. Siregar RS. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit ed 2.Jakarta: EGC; 2004. p.
88-89.
4. Cunningham FG. Leveno KJ. Bloom SL. Hauth JC. Rouse DJ. Spong CY.
Penyakit Infeksi. Dalam: Cunningham FG. Leveno KJ. Bloom SL. Hauth JC.
Rouse DJ. Spong CY. Obstetri william ed 23. Jakarta: EGC; 2012. P. 1278-
1279.
5. Widaty S. Soebono H. Nilasari H. Listiawan MY. Siswati AS. Triwahyudi D.
Rosita C. Hindritiani R. Yenni SW. Menaldi SL. Panduan Praktik Klinis Bagi
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Di Indonesia. Jakarta: PERDOSKI; 2017.
P. 147-149.

15