Anda di halaman 1dari 10

Jur. Ilm. Kel. & Kons., Januari 2016, p : 1-10 Vol. 9, No.

1
ISSN : 1907 – 6037 e-ISSN : 2502 – 3594

PENGARUH TUGAS PERKEMBANGAN KELUARGA TERHADAP KEPUASAN


PERKAWINAN IBU YANG BARU MEMILIKI ANAK PERTAMA

Rahmaita1*), Diah Krisnatuti2, Lilik Noor Yuliati2

1Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta, Jakarta 13220,
Indonesia
2Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Insitut Pertanian Bogor,

Bogor 16680, Indonesia

*) E-mail: rahma88hrp@gmail.com

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik dan tugas perkembangan keluarga terhadap
kepuasan perkawinan ibu yang baru memiliki anak pertama. Desain penelitian ini menggunakan cross sectional
yang dilakukan pada 120 ibu dari keluarga yang baru memiliki anak pertama usia di bawah dua tahun. Data
dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Capaian keseluruhan dari tugas perkembangan keluarga yaitu
67,30 yang menunjukkan bahwa tugas perkembangan keluarga telah cukup dipenuhi. Hasil menunjukkan bahwa
semakin tinggi pendapatan per kapita keluarga dan semakin bertambah usia ayah maka semakin baik tugas
perkembangan dimensi orang tua. Sementara itu, semakin bertambah usia ibu dan usia ayah serta usia
pernikahan yang lebih lama maka semakin baik tugas perkembangan keluarga pada dimensi anak. Selain itu,
semakin tinggi pendidikan ibu, usia pernikahan yang semakin lama, dan semakin baik tugas perkembangan
keluarga (baik pada dimensi orang tua maupun anak) maka kepuasan perkawinan semakin tinggi. Kepuasan
perkawinan dipengaruhi oleh tugas perkembangan keluarga. Penelitian ini menegaskan kembali perlunya
keluarga untuk dapat memenuhi tugas perkembangannya sesuai dengan tahapan keluarga yang sedang dilalui.

Kata kunci: anak pertama, dimensi anak, dimensi orang tua, kepuasan perkawinan, tugas perkembangan
keluarga

The Effects of Family Developmental Tasks on Marital Satisfaction on First-Time


Mothers

Abstract

This study aimed to analyze the influence of family characteristics and family developmental tasks on marital
satisfaction of first-time mothers. This was a cross-sectional study involving 120 first-time mothers with a child
aged less than two years old. Data were analyzed using multiple linear regression. The average scores of the
overall family developmental task were 67,30, indicating that the developmental task of the family has been
adequately fulfilled. The results showed that the increase in a family per capita income and age of the father, the
better the developmental task, specifically on parents dimension. Meanwhile, a family with older mother and
father was associated with a higher score of child dimension of the family developmental task. Moreover, the
increase in mother's education level, the longer the marriage duration, and the higher score of the family
developmental task (on both parents and child dimensions), were associated with higher marital satisfaction.
Marital satisfaction was influenced by the developmental task of the family. This research reaffirms the need for
families to be able to fulfill their developmental task in accordance with their developmental stages.

Keywords: first child, the child dimension, the parent dimension, marital satisfaction, developmental task of family

PENDAHULUAN 2013 sebanyak 324.527 pasangan bercerai di


Indonesia. Data ini menunjukkan bahwa sudah
Saat ini banyak pasangan yang kurang dalam melebihi angka sepuluh persen dari jumlah
mempersiapkan diri untuk memasuki kehidupan perkawinan sebanyak 2.218.130 pasangan.
berumah tangga, hanya siap untuk menikah Ironisnya, perceraian terbanyak terjadi pada
namun tidak siap untuk berkeluarga. Akibatnya, usia rumah tangga muda yakni di bawah lima
tidak jarang pasangan setelah pernikahan tahun.
mengalami disfungsi keluarga yang berujung
pada perceraian. Menurut data Kementerian Salah satu yang dapat menjadi penyebab dari
Agama Republik Indonesia (RI), pada tahun perceraian yaitu berkurangnya kepuasan
2 RAHMAITA, KRISNATUTI, & YULIATI Jur. Ilm. Kel. & Kons.

perkawinan antara suami dan istri. Kepuasan orang tua (ibu dan ayah), fokus keluarga,
perkawinan merefleksikan secara umum perawatan bayi serta penyesuaian peran baru
kebahagiaan dan keberfungsian dalam sebagai orang tua, sehingga pertumbuhan dan
pernikahan seseorang (Schoen et al., 2002). perkembangan anak dapat tercapai secara
Hawkins (1968) menjelaskan bahwa kepuasan optimal. Pada tahap ini banyak ibu baru yang
perkawinan adalah perasaan subjektif yang merasa tidak mampu mengerjakan banyak hal
dirasakan pasangan suami atau istri. Kepuasan dan akan merasa tertekan, serta ingin lari dari
perkawinan merupakan bentuk persepsi kenyataan. Apabila keluarga tidak berhasil
terhadap kehidupan pernikahan seseorang memenuhi tugas perkembangannya maka akan
yang diukur dari besar dan kecilnya berdampak pada ketidakbahagiaan dan
kesenangan yang dirasakan dalam jangka kesulitan dalam menjalankan tugas
waktu tertentu (Roach, Frasier, & Bowten, perkembangan pada tahap selanjutnya. Selain
1981). Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh itu, pandangan dan sikap yang sama dari ibu
Zainah et al. (2012) menemukan bahwa dan pasangan terhadap tumbuh kembang anak
pasangan dengan lama pernikahan lebih dari dapat memengaruhi kepuasan perkawinan ibu.
sepuluh tahun memiliki kepuasan yang lebih Dengan demikian, penting melakukan
tinggi. penelitian untuk melihat pengaruh tugas
perkembangan keluarga terhadap kepuasan
Berkurangnya kepuasan perkawinan antara perkawinan ibu yang baru mempunyai anak
suami dan istri juga dapat disebabkan hadirnya pertama usia di bawah dua tahun.
anak di tengah-tengah pasangan yang baru
membentuk sebuah keluarga. Kehadiran anak Di Indonesia, penelitian terkait kepuasan
dapat menambah sekaligus mengurangi perkawinan sudah beberapa dilakukan.
keharmonisan suami-istri, yang mengubah Penelitian Meliani, Sunarti, & Krisnatuti (2014)
hubungan yang bersifat dwitunggal menjadi menunjukkan bahwa kepuasan perkawinan
tritunggal (Hurlock, 1999). Keluarga yang dipengaruhi secara signifikan negatif oleh
sedang mengalami masa transisi menjadi konflik antara pekerjaan dan keluarga. Hanya
orang tua dengan anak pertama usia di bawah saja belum ada penelitian yang mengaitkan
dua tahun merupakan masa yang paling kritis antara kepuasan perkawinan, khususnya
dan rentan karena para orang tua akan sadar, kepuasan perkawinan ibu, dengan tugas
mereka harus mengubah pola makan, pola perkembangan keluarga baik yang dilihat dari
tidur serta pola hubungan suami-istri. Tuntutan dimensi orang tua maupun dimensi anak. Oleh
sebagai ayah dan ibu akan dirasa semakin karenanya, penelitian ini bertujuan untuk
berat apabila ayah dan ibu tidak dapat mengidentifikasi karakteristik keluarga, tugas
menyesuaikan peran dan tugas perkembangan perkembangan keluarga, dan kepuasan
keluarganya. Hal ini didukung dengan hasil perkawinan ibu yang baru memiliki anak
penelitian yang menyatakan bahwa keterlibatan pertama. Selain itu, penelitian ini juga
suami/ayah dalam pekerjaan rumah tangga dan menganalisis hubungan antarvariabel penelitian
pengasuhan anak dapat memberikan pengaruh dan menganalisis pengaruh karakteristik
yang positif terhadap kepuasan perkawinan ibu keluarga dan tugas perkembangan keluarga
(Forste & Fox, 2008). Hal tersebut terhadap kepuasan perkawinan ibu yang baru
menunjukkan bahwa pemenuhan tugas memiliki anak pertama.
perkembangan keluarga memerlukan
dukungan baik dari segi materi maupun METODE
nonmateri.
Penelitian ini dilakukan menggunakan desain
Tugas perkembangan yang terpenuhi pada cross sectional. Penelitian ini dilakukan di
tahapan awal membangun keluarga akan Kecamatan Cipayung, Kota Depok, Provinsi
mengarahkan pada tugas-tugas perkembangan Jawa Barat. Kota Depok merupakan salah satu
selanjutnya dan mengarahkan pada kota yang cukup maju dan merupakan salah
kebahagiaan serta kesuksesan keluarga. satu kota penyangga ibu kota. Hanya saja,
Tugas perkembangan bagi keluarga yang baru Kecamatan Cipayung dipilih karena
mempunyai anak pertama merupakan tahap berdasarkan BPS Kota Depok (2011)
kedua dari delapan tahapan keluarga menurut merupakan kecamatan dengan Indeks
Duvall (1971). Pada tahap kedua ini ada Pembangunan Manusia terendah di Kota
masalah yang harus dihadapi oleh keluarga Depok yang mengindikasikan adanya
yang baru mempunyai anak pertama yang permasalahan pada pembangunan manusia,
terdiri atas dua dimensi yaitu dimensi anak dan termasuk kehidupan keluarga. Penelitian ini
dimensi orang tua. Masalah yang harus dilaksanakan pada bulan April sampai dengan
dihadapi meliputi pendidikan tentang menjadi bulan Oktober tahun 2014.
Vol. 9, 2016 KEPUASAN PERKAWINAN IBU YANG BARU MEMILIKI ANAK PERTAMA 3

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu Instrumen tugas perkembangan keluarga
dari keluarga yang memiliki anak pertama usia dalam peneliian ini dikembangkan oleh peneliti
di bawah dua tahun di kedua kelurahan terpilih. melalui pendekatan teori perkembangan
Penelitian ini melibatkan 120 ibu yang dipilih keluarga Duvall (1971). Instrumen dimensi
dari populasi penelitian yang dipilih secara acak orang tua terdiri atas 19 pertanyaan dengan
sebagai responden penelitian. Data primer nilai Cronbach’s alpha 0,660. Sementara itu,
dalam penelitian ini diperoleh melalui instrumen dimensi anak terdiri atas 16
wawancara langsung terhadap responden pertanyaan dengan nilai Cronbach’s alpha
dengan menggunakan alat bantu kuesioner. 0,832. Secara keseluruhan dengan
Data primer yang dikumpulkan meliputi menggabungkan kedua dimensi tersebut maka
karakteristik keluarga (usia ayah, usia ibu, usia diperoleh nilai Cronbach’s alpha tugas
menikah ayah, usia menikah ibu, usia ibu saat perkembangan keluarga sebesar 0,784. Setiap
melahirkan anak pertama, pendidikan ayah, pertanyaan mempunyai empat pilihan rentang
pendidikan ibu, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, jawaban dari 1=tidak pernah, 2=kadang-
lama pernikahan, pendapatan keluarga, dan kadang, 3=sering, dan 4=selalu. Selanjutnya,
pendapatan per kapita keluarga), tugas total nilai yang diperoleh kemudian dihitung
perkembangan keluarga, dan kepuasan indeksnya sehingga diperoleh skor minimum
perkawinan. adalah nol dan skor maksimum adalah 100,0.
Pengkategorian data yang digunakan adalah
Dalam penelitian ini, tugas perkembangan interval kelas dengan tiga kategori, yaitu
keluarga didefinisikan sebagai serangkaian kategori rendah (0,0-59,0), sedang (60,0-80,0),
kewajiban yang harus dipenuhi oleh keluarga dan tinggi (81,0-100,0).
selama kehidupannya. Tugas perkembangan
keluarga tahap kedua (keluarga dengan anak Selanjutnya, kepuasan perkawinan dalam
pertama masih di bawah dua tahun) diukur penelitian ini merupakan perasaan subjektif
dengan dua dimensi, yaitu dimensi orang tua yang dirasakan oleh ibu terhadap
dan dimensi anak sesuai konsep Duvall (1971). perkawinannya. Instrumen kepuasan
Dimensi orang tua merujuk pada tugas perkawinan terdiri atas sepuluh dimensi, yaitu
perkembangan yang harus dipenuhi oleh kedua masalah kepribadian, kesetaraan peran,
orang tua (ayah dan ibu). Dimensi ini terdiri komunikasi, penyelesaian konflik, pengelolaan
atas beberapa indikator, yaitu rekonsiliasi keuangan, aktifitas bersama, relasi seksual,
penyesuaian peran, menerima dan anak dan pernikahan, keluarga dan teman, dan
menyesuaikan tuntutan sebagai ibu muda, orientasi religius. Instrumen kepuasan
belajar merawat bayi dengan kompeten, perkawinan yang digunakan dalam penelitian
membangun dan mempertahankan rutinitas ini menggunakan alat ukur ENRICH (Evaluation
keluarga yang sehat, memberikan kesempatan and Nurturing Relationship Issues,
penuh untuk perkembangan anak, berbagi Communication and Happiness) Marital
tanggung jawab orang tua dengan suami, Satisfaction (EMS) dari Fower dan Olson
mempertahankan hubungan yang romantis (1993). Instrumen ini terdiri atas 15 pertanyaan
dengan suami, membuat penyesuaian yang dan memiliki nilai Cronbach’s alpha sebesar
memuaskan dengan realitas kehidupan, 0,885. Setiap pertanyaan mempunyai lima
menjaga kehidupan ibu muda melalui otonomi pilihan rentang jawaban dari 1=sangat tidak
pribadi, dan mengeksplorasi dan setuju, 2=tidak setuju, 3=biasa saja, 4=setuju,
mengembangkan rasa memuaskan menjadi dan 5=sangat setuju. Selanjutnya, total nilai
keluarga. yang diperoleh dihitung indeksnya dan
dikategorikan berdasarkan cut off point menjadi
Sementara itu, dimensi anak merujuk pada tiga kategori, yaitu rendah (0,0-59,0), sedang
tugas perkembangan yang seharusnya (60,0-80,0), dan tinggi (81,0-100,0).
dituntaskan oleh anak, terdiri atas beberapa
indikator, yaitu: mencapai keseimbangan Analisis data yang digunakan dalam penelitian
fisiologis setelah kelahiran, belajar untuk ini yaitu analisis deskriptif dan inferensial.
mendapatkan kepuasan akan makanan, belajar Analisis deskriptif digunakan untuk meng-
mengetahui kapan, dimana dan bagaimana identifikasi karakteristik keluarga, tugas
BAK dan BAB, belajar untuk mengelola tubuh perkembangan keluarga dimensi anak dan
secara efektif, belajar menyesuaikan dengan dimensi orang tua, dan kepuasan perkawinan
orang lain, belajar untuk menyayangi dan ibu. Analisis inferensial yang digunakan dalam
disayangi, mengembangkan sistem penelitian ini meliputi uji hubungan dan analisis
komunikasi, belajar untuk mengekspresikan regresi linear berganda. Uji hubungan
dan mengendalikan perasaan, dan digunakan untuk melihat hubungan antar-
menempatkan dasar untuk kesadaran diri. variabel. Sementara itu, analisis regresi linear
4 RAHMAITA, KRISNATUTI, & YULIATI Jur. Ilm. Kel. & Kons.

berganda digunakan untuk menganalisis memenuhi tuntutan-tuntutan perkembangan


pengaruh karakteristik keluarga dan tugas mereka secara individual. Tugas-tugas
perkembangan keluarga terhadap kepuasan perkembangan keluarga juga diciptakan oleh
perkawinan ibu. tekanan-tekanan komunitas terhadap keluarga
dan anggotanya untuk menyesuaikan diri
HASIL dengan harapan-harapan kelompok acuan
keluarga dan masyarakat yang lebih luas.
Karakteristik Keluarga
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata
Hasil penelitian karakteristik keluarga capaian keseluruhan dari tugas perkembangan
menunjukkan bahwa rata-rata usia ayah dan keluarga adalah sebesar 67,3 (Tabel 1).
ibu pada penelitian ini adalah 29,10 dan 25,60 Temuan ini menunjukkan bahwa rata-rata ibu
tahun. Usia ini termasuk dalam kelompok usia dalam penelitian ini telah menilai bahwa
dewasa muda menurut Hurlock (1999), yang keluarga mereka telah cukup baik
mana usia dewasa muda berada rentang usia menyelesaikan tugas perkembangannya.
antara 18 hingga 40 tahun. Rata-rata usia ayah Sementara itu, apabila dilihat pada masing-
dan ibu menikah yaitu 26,40 tahun dan 22,80 masing dimensi, hasil penelitian menunjukkan
tahun. Rata-rata usia ibu melahirkan yaitu pada bahwa rata-rata tugas perkembangan keluarga
usia 24,40 tahun dengan usia minimum dan pada dimensi orang tua adalah sebesar 61,9
maksimum sebesar 16 tahun dan 41 tahun. (kategori sedang), dengan capaian paling tinggi
(80,0) yaitu berbagi tanggung jawab sebagai
Rata-rata lama pendidikan yang ditempuh oleh orang tua dengan suami. Sementara itu,
ayah dan ibu sebesar 11,50 tahun dan 11,40 capaian yang masih rendah atau rata-rata
tahun yaitu setara dengan SMA. Rata-rata lama kurang dari 60,0 tampak pada indikator belajar
pernikahan dalam penelitian ini adalah 2,80 merawat bayi dengan kompeten (57,8),
tahun dengan lama pernikahan minimum 1 memberi kesempatan penuh untuk
tahun dan maksimum 15 tahun. Sementara itu, perkembangan anak (56,8) mempertahankan
rata-rata pendapatan per kapita yang dimiliki hubungan yang romantis dengan suami (41,7),
oleh keluarga yaitu sebesar Rp1.080.611,00 dan menjaga kehidupan ibu muda melalui
dan pendapatan per kapita terendah yang otonomi pribadi (46,5).
dimiliki oleh keluarga yaitu sebesar
Rp333.333,00 yang dapat dikatakan bahwa Selain itu, berdasarkan hasil penelitian juga
penghasilan per kapita berada di atas garis menemukan bahwa rata-rata capaian dari
kemiskinan Kota Depok tahun 2012 yaitu tugas perkembangan keluarga dimensi anak
sebesar Rp310.279,00. secara keseluruhan adalah sebesar 73,10.
Hasil ini juga menunjukkan bahwa rata-rata
Berdasarkan jenis pekerjaan yang dimiliki oleh anak di bawah usia dua tahun dalam penelitian
ayah dan ibu dapat dipaparkan beberapa jenis ini telah memenuhi tugas perkembangannya
pekerjaan yang dimiliki oleh ibu dan ayah yang dengan cukup baik. Pada kelompok anak usia
terdiri atas tidak bekerja atau ibu rumah tangga 0 hingga 1 tahun, capaian terendah tugas
(IRT); Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang meliputi perkembangannya adalah pada aspek belajar
guru, dosen, Tentara Nasional Indonesia (TNI), untuk mengekspresikan dan mengendalikan
Polisi, pegawai instansi milik negara, perawat; perasaan dengan rata-rata capaian sebesar
karyawan yaitu pegawai swasta yang memiliki 57,45 dan pada anak usia 0 hingga 2 tahun
gaji tetap setiap bulannya; wiraswasta atau yaitu pada aspek memiliki kemampuan
memiliki usaha sendiri; dan buruh yaitu terhadap kesadaran diri dengan rata-rata
pekerjaan dengan penghasilan tidak tetap capaian sebesar 67,90. Sementara itu, pada
(misalnya petani, tukang). Pekerjaan yang kedua kelompok usia capaian yang tertinggi
paling banyak dimiliki oleh responden adalah tampak pada aspek belajar mengetahui,
sebagai ibu rumah tangga sebesar (50,0%) dan bagaimana, dimana, dan kapan anak
pekerjaan kedua tertinggi yaitu sebagai melakukan BAK/BAB (eliminasi).
karyawan (32,5%). Lebih dari separuh jenis
pekerjaan yang dimiliki suami adalah sebagai Apabila dikategorikan berdasarkan cut-off point
karyawan dan persentase terkecil pekerjaan capaian tugas perkembangan keluarga, hasil
suami yaitu sebagai PNS. penelitian menunjukkan bahwa sebanyak tiga
dari lima ibu termasuk dalam kategori sedang.
Tugas Perkembangan Keluarga Sementara itu, sebanyak 24,2 persen ibu
berada pada kategori rendah dan sebanyak
Tugas-tugas perkembangan keluarga terjadi 15,8 persen ibu yang berada pada kategori
apabila keluarga sebagai sebuah unit berupaya tinggi.
Vol. 9, 2016 KEPUASAN PERKAWINAN IBU YANG BARU MEMILIKI ANAK PERTAMA 5

Tabel 1 Nilai rata-rata dan standar deviasi Tabel 2 Nilai rata-rata dan standar deviasi
tugas perkembangan keluarga capaian kepuasan perkawinan ibu
Rata-rata + Rata-rata ± Standar
Tugas Perkembangan Keluarga Kepuasan Perkawinan
Standar deviasi deviasi
a. Rekonsiliasi penyesuaian 73,20 + 21,26 Masalah kepribadian 62,60 ± 22,11
peran Kesetaraan peran 71,30± 26,85
b. Menerima dan menyesuaikan 69,30 + 24,27 Komunikasi 63,00 ± 18,89
tuntutan sebagai ibu muda Penyelesaian konflik 66,00 ± 31,88
c. Belajar merawat bayi dengan 57,80 + 26,76 Pengelolaan keuangan 52,00 ± 29,15
kompeten
Aktifitas bersama 68,50 ± 32,49
d. Membangun dan 60,40 + 27,40
Relasi seksual 69,00 ± 29,88
mempertahankan rutinitas
keluarga yang sehat Anak dan pernikahan 61,90 ± 22,33
e. Memberi kesempatan penuh 56,80 + 29,21 Keluarga dan teman 54,00 ± 33,21
untuk perkembangan anak Orientasi religious 75,20 ± 26,22
f. Berbagi tanggung jawab 80,00 + 23,71 Kepuasan perkawinan total 63,10 ± 12,65
sebagai orang tua dengan
suami
g. Mempertahankan hubungan 41,70 + 41,66 Dimensi kepuasan perkawinan dengan skor
yang romantis dengan suami rata-rata yang paling tinggi capaiannya adalah
h. Membuat penyesuaian yang 60,80 + 30,64 orientasi religius yaitu ibu merasa senang
memuaskan dengan realitas tentang bagaimana keluarga mempraktikkan
kehidupan keyakinan agama dan nilai-nilai dalam sebuah
i. Menjaga kehidupan ibu muda 46,50 + 29,91 keluarga (75,20). Sementara itu, capaian
melalui otonomi pribadi terendah (52,00) adalah pengelolaan keuangan
j. Mengeksplorasi dan 62,40 + 33,19 yang dapat dikatakan ibu masih kurang
mengembangkan rasa bahagia dengan posisi keuangan keluarga dan
memuaskan menjadi keluarga cara ibu dan ayah dalam membuat keputusan
Dimensi orang tua total 61,90 +13,75 keuangan. Selain itu, rata-rata terendah (54,00)
0–1 1–2 juga berkaitan dengan kebutuhan yang tidak
tahun tahun terpenuhi dalam hubungan dengan keluarga
a. Mencapai keseimbangan 76,12+ 81,00+ dan teman.
fisiologis setelah kelahiran 27,35 30,05
b. Belajar untuk mendapatkan 67,88+ 84,71+ Tabel 3 menunjukkan bahwa skor indeks
kepuasan akan makanan 29,48 18,91 kepuasan perkawinan minimum adalah 30,00
c. Belajar mengetahui 81,40+ 88,58+ dan skor maksimum adalah 88,00. Apabila
bagaimana, dimana dan 27,48 23,47 kepuasan perkawinan dinilai berdasarkan
kapan terjadi eliminasi
kategori cut-off point ditemukan bahwa sekitar
d. Belajar untuk mengelola 64,05+ 77,92+
tiga dari sepuluh ibu tingkat kepuasan
tubuh secara efektif 28,94 22,39
perkawinannya berada pada kategori rendah.
e. Belajar menyesuaikan 67,28+ 77,98+
dengan orang lain 25,25 20,24
Hasil lain juga menunjukkan bahwa enam dari
f. Belajar untuk menyayangi 63,47+ 81,69
sepuluh ibu telah mencapai kepuasan
dan disayangi 23,61 +18,61 perkawinan kategori sedang. Hasil ini
g. Mengembangkan sistem 61,98+ 78,73+ menunjukkan bahwa lebih dari separuh jumlah
komunikasi 22,63 19,93 ibu (60,8%) telah merasa cukup terhadap
h. Belajar untuk 57,45+ 80,15+ kepuasan perkawinan ibu dengan suami
mengekspresikan dan 30,29 21,53 walaupun baru memiliki anak pertama yang
mengendalikan perasaan berusia di bawah dua tahun. Hanya saja,
i. Memiliki kemampuan 60,40+ 74,47+ penelitian ini hanya menemukan 7,5 persen ibu
terhadap kesadaran diri 32,69 26,32 yang memiliki kepuasan perkawinan yang tinggi
Dimensi anak total 64,93+ 79,85+ atau baik.
17,09 12,03
Tugas perkembangan keluarga 67,30 + 11,20 Tabel 3 Sebaran kategori kepuasan
total perkawinan ibu
Kategori Kepuasan Perkawinan n %
Kepuasan Perkawinan Rendah (0,0-60,0) 38 31,7
Sedang (61,0-80,0) 73 60,8
Hasil analisis variabel kepuasan perkawinan Tinggi (81,0-100,0) 9 7,5
responden yang ditunjukkan pada Tabel 2 Total 120 100,0
bahwa rata-rata capaian keseluruhan dari Minimum-maksimum 30,00 – 88,00
kepuasan perkawinan yaitu sebesar 63,10. Keterangan: n = jumlah, %=persentase
6 RAHMAITA, KRISNATUTI, & YULIATI Jur. Ilm. Kel. & Kons.

Hubungan Karakteristik Keluarga dan Tugas Pengaruh Karakteristik Keluarga dan Tugas
Perkembangan Keluarga dengan Kepuasan Perkembangan Keluarga terhadap
Perkawinan Kepuasan Perkawinan Ibu

Hasil uji hubungan menunjukkan bahwa tugas Hasil uji analisis regresi menunjukkan nilai
perkembangan keluarga dimensi orang tua Adjusted R Square sebesar 0,247. Hasil ini
mempunyai hubungan positif dengan berarti bahwa model ini mampu menjelaskan
pendapatan per kapita dan usia ayah. Artinya, pengaruh karakteristik keluarga dan tugas
semakin tinggi pendapatan per kapita keluarga perkembangan keluarga (dimensi orang tua
dan semakin tinggi usia ayah maka semakin dan dimensi anak) terhadap kepuasan
baik tugas perkembangan keluarga dimensi perkawinan ibu sebesar 24,7 persen.
orang tua. Sementara itu, tugas perkembangan Sementara itu, sisanya sebanyak 75,3 persen
keluarga dimensi anak berhubungan positif dipengaruhi variabel lain yang tidak terdapat
signifikan dengan usia ibu, usia ayah, dan lama dalam model. Hasil analisis juga menunjukkan
pernikahan. Hasil ini dapat diartikan bahwa bahwa tugas perkembangan dimensi orang tua
semakin tinggi usia ibu dan ayah serta semakin berpengaruh positif dan signifikan terhadap
lama pernikahan maka semakin baik pula tugas kepuasan perkawinan (β=0,364, p=0,000). Hal
perkembangan anaknya. ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan
capaian tugas perkembangan dimensi orangtua
Selain itu, usia ibu, usia ayah, pendidikan ibu, menyebabkan peningkatan tingkat kepuasan
dan lama pernikahan mempunyai hubungan perkawinan yang dimiliki ibu. Selain itu, tugas
positif terhadap kepuasan perkawinan. Artinya, perkembangan dimensi anak juga berpengaruh
semakin tinggi usia ayah dan ibu, pendidikan terhadap kepuasan perkawinan ibu (β=0,224,
ibu, dan semakin lama pernikahan maka p=0,026). Hal ini menunjukkan bahwa semakin
kepuasan perkawinan juga semakin meningkat baik capaian tugas perkembangan dimensi
atau baik. Hasil analisis juga menunjukkan anak, maka tingkat kepuasan perkawinan ibu
terdapat hubungan yang positif signifikan akan semakin meningkat. Hasil analisis
antara tugas perkembangan keluarga dimensi pengaruh karakteristik keluarga dan tugas
orang tua dan dimensi anak dengan kepuasan perkembangan keluarga terhadap kepuasan
perkawinan. Temuan tersebut menegaskan perkawinan disajikan pada Tabel 5.
bahwa semakin baik tugas perkembangan
keluarga baik dari dimensi orang tua maupun Tabel 5 Hasil uji pengaruh karakteristik
anak maka semakin tinggi kepuasan keluarga dan tugas perkembangan
perkawinan yang dirasakan oleh ibu (Tabel 4). keluarga terhadap kepuasan
perkawinan
Tabel 4 Hasil uji hubungan karakteristik Kepuasan perkawinan
keluarga, tugas perkembangan Variabel β
keluarga, dan kepuasan perkawinan B Sig.
(Beta)
Tugas Konstanta 16,598 0,044
Perkembangan Usia ibu (tahun) 0,285 0,103 0,249
Kepuasan
Variabel Keluarga Pendidikan ibu
Perkawinan 0,705 0,131 0,156
Dimensi Dimensi (tahun)
Status bekerja ibu
orang tua Anak 0,075 0,003 0,975
(1=bekerja, 0=tidak)
Usia ibu 0,162 0,316** 0,269** Usia anak (tahun) -0,298 -0,149 0,139
Pendidikan ibu 0,117 0,036 0,203* Pendapatan per
Status 0,168 -0,083 0,076 -2,113 -0,009 0,929
kapita (Rp/bulan)
Bekerja ibu Lama pernikahan
0,748 0,118 0,201
Usia ayah 0,192* 0,387** 0,285** (tahun)
Pendidikan 0,142 -0,011 0,161 Tugas
ayah perkembangan 0,335 0,364 0,000**
dimensi orang tua
Pendapatan 0,267** -0,074 0,133
Tugas
per kapita perkembangan 0,173 0,224 0,026*
Lama 0,138 0,288** 0,185* dimensi anak
pernikahan F 5,872
Dimensi - 0,250** 0,443** Sig. 0,000
orang tua R Square 0,297
Dimensi anak - - 0,313** Adjusted R Square 0,247
Keterangan: *signifikan pada p<0,05; **signifikan pada Keterangan: *signifikan pada p<0,05; **signifikan pada
p<0,0 p<0,01
Vol. 9, 2016 KEPUASAN PERKAWINAN IBU YANG BARU MEMILIKI ANAK PERTAMA 7

PEMBAHASAN mengindikasikan bahwa semakin bertambah


kelompok usia anak maka ibu cenderung
Hasil analisis deskriptif pada penelitian ini semakin baik memenuhi tugas perkembangan
menunjukkan bahwa rata-rata usia menikah anak. Kesuksesan keluarga dalam
ayah dan ibu adalah 26,40 dan 22,80 tahun. pelaksanaan tugas perkembangan keluarga
Hal ini dapat berarti bahwa sebagian besar tidak menutup kemungkinan akan memberikan
suami dan istri telah menikah pada batas usia dukungan dalam perkembangan anak, karena
yang ideal menurut program Pendewasaan perkembangan anak pada lima tahun pertama
Usia Perkawinan (PUP) BKKBN, yaitu laki-laki merupakan dasar untuk perkembangan
sebaiknya menikah di atas usia 25 tahun dan selanjutnya.
perempuan di atas 20 tahun.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa lebih
Hasil capaian yang kurang berkontribusi pada dari seperempat ibu mengalami kepuasan
tugas perkembangan keluarga dimensi orang perkawinan yang rendah dan lebih dari separuh
tua yaitu mempertahankan hubungan yang ibu berada pada kategori sedang. Hal ini
romantis dengan suami. Menurut Guerrero dan menunjukkan bahwa tidak semua indikator
Mongeau (2008), hubungan romantis dapat kepuasan perkawinan dapat dirasakan oleh ibu
muncul dari pertemanan yang kemudian dari keluarga dengan anak pertama di bawah
berkembang menjadi percintaan. Akan tetapi, usia dua tahun. Indikator yang tidak dapat
tidak mudah untuk mempertahankan hubungan dipenuhi oleh ibu yaitu pada dimensi
romantis yang dimiliki dalam jangka waktu pengelolaan keuangan. Menurut Hurlock
lama, apalagi pasangan suami istri sedang (1999), konsep yang tidak realistis seperti
dalam masa penyesuaian akibat kehadiran harapan-harapan tentang kemampuan
anak yang masih di bawah usia dua tahun. keuangan untuk memiliki barang-barang yang
Kemampuan mempertahankan romantisme dianggap penting dan ketidakmampuan untuk
antara suami istri merujuk pada kemampuan memenuhi biaya hidup dapat menjadi masalah
individu dalam melakukan penetapan, yang timbul dalam perkawinan. Hal ini sesuai
perencanaan dan pengambilan keputusan dengan pendapat Furstenberg (diacu dalam
mengenai hubungan romantis yang sedang Wiliams, Sawyer & Wahlstrom, 2006) bahwa
dijalani (McCabe & Barnett, 2000). konflik keuangan biasanya terjadi karena
adanya perbedaan harapan dalam masing-
Sementara itu, capaian yang paling masing peran yang dijalankan oleh pasangan.
berkontribusi pada tugas perkembangan Keterbukaan dalam hal pengelolaan dan
keluarga dimensi orang tua yaitu bahwa ibu pengeluaran keuangan akan membuat
telah mampu dalam berbagi tanggung jawab pasangan lebih bahagia dalam perkawinan.
dengan suami, serta telah mampu Selain itu, rata-rata capaian kepuasan
menyesuaikan peran baik sebagai ibu maupun perkawinan ibu yang masih rendah yaitu
sebagai istri. Penelitian ini menemukan bahwa dimensi keluarga dan teman. Hasil penelitian
suami dan istri bersepakat dalam membagi menunjukkan bahwa ibu masih kurang dalam
peran dan tugas sehari-hari, bertanggung menyesuaikan diri dengan mertua dan ipar.
jawab terhadap peran dan tugas masing- Penyesuaian ini seharusnya dilakukan karena
masing dan saling menjaga komitmen adanya perbedaan latar belakang budaya,
bersama. Menurut Hoffman (1984) masyarakat minat, dan usia sehingga pasangan harus
pada umumnya menilai pekerjaan rumah belajar untuk memahami mertua dan ipar. Hal
tangga terbatas pada tanggung jawab untuk ini sejalan dengan pernyataan Wiliams,
mempersiapkan makanan, membersihkan, dan Sawyer, dan Wahlstrom (2006) bahwa seiring
mengatur rumah tangga, serta mengasuh anak. waktu kebersamaan yang terjalin dengan
Padahal sebagai ibu rumah tangga, ibu juga kerabat dari pihak masing-masing pasangan
memiliki tanggung jawab untuk seperti mertua dan ipar turut berpengaruh
mengembangkan hubungan yang memuaskan terhadap kepuasan perkawinan.
bersama keluarga yaitu suami dan anak.
Walaupun mungkin terlihat sederhana, Orientasi religius merupakan capaian paling
pekerjaan sebagai ibu rumah tangga pada tinggi pada kepuasan perkawinan ibu. Orientasi
kenyataannya cukup berat dan menyita waktu. religius memiliki peran dalam kepuasan
perkawinan karena orientasi religius seseorang
Sementara itu, pada capaian tugas dapat memengaruhi pola pikir dan perilakunya
perkembangan keluarga dimensi anak, pada dalam menjalani kehidupan pernikahan. Hal ini
kelompok anak usia 0-1 tahun diperoleh hasil disebabkan karena pernikahan merupakan
rata-rata indeks adalah 64,93 dan 79,85 pada sebuah proses adaptasi, dan agama dapat
kelompok usia 1-2 tahun. Temuan tersebut memfasilitasi dan menjadi sumber kekuatan
8 RAHMAITA, KRISNATUTI, & YULIATI Jur. Ilm. Kel. & Kons.

dalam suatu hubungan. Beberapa studi juga lebih tinggi dibandingkan dengan yang menikah
telah banyak menyebutkan bahwa adanya di atas lima tahun. Hal ini mungkin dapat
hubungan yang positif antara religiusitas disebabkan pasangan yang baru menikah di
dengan kepuasan perkawinan (Dudley & bawah usia pernikahan lima tahun masih
Kosinski, 1990; Filsinger & Wilson, 1984; berada pada tahap awal perkawinan. Penelitian
Oluwole & Adebayo, 2008; Ardhianita & lebih awal menunjukkan bahwa kepuasan
Andayani, 2004). Hal ini juga didukung perkawinan memperlihatkan hasil yang tidak
Mahoney (1999) diacu dalam Bradburry, konsisten, maka masih ada hal-hal yang
Fincham, dan Beach (2000) yang menyatakan diperdebatkan dalam literatur-literatur tersebut
adanya korelasi positif antara kepuasan (Clements & Swensen, 2000). Penelitian yang
perkawinan dengan partisipasi religius. dilakukan Burr (1970) menunjukkan bahwa
Kepuasan perkawinan dapat diprediksi dengan pada saat mengalami penurunan dalam masa
semakin baiknya ibadah keluarga, orientasi dua puluh tahun pertama setelah perkawinan
religius yang sesuai dengan pasangan, dan kemudian akan meningkat kembali di tahun-
kedatangan ke tempat ibadah. tahun berikutnya mengikuti kurva U. White,
Booth, dan Edwards (1985) juga menemukan
Selanjutnya, rata-rata capaian kepuasan dalam penelitian mereka bahwa kepuasan
perkawinan ibu yang juga tinggi yaitu perkawinan dialami paling tinggi pada saat awal
kesetaraan peran. Hal ini sesuai dengan pernikahan, lalu menurun secara bertahap di
pernyataan istri yang merasakan kepuasan tahun-tahun selanjutnya. Penelitian Vaillant dan
adalah apabila istri dapat memenuhi perannya Vaillant (1993) juga menunjukkan bahwa
dalam mengerjakan tugas rumah tangga, dan lamanya pernikahan tidak cukup prediktif bagi
di lain pihak suami juga berpartisipasi dalam munculnya kebahagiaan perkawinan yang
mengerjakan tugas rumah tangga (Khwaja & dirasakan oleh para istri.
Habib, 2007). Kesetaraan peran dapat
berlangsung dengan baik apabila ada Hasil uji hubungan juga menemukan bahwa
pembagian peran di dalam keluarga. Sesuai pasangan yang berpendidikan cenderung
dengan pernyataan Puspitasari, Puspitawati, menciptakan equalitarian marriage, yaitu
dan Herawati (2013) bahwa pembagian peran menciptakan kesempatan yang sama antara
dan kotribusi anggota keluarga sangat suami dan istri untuk bertanggung jawab. Hal
dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan ini sejalan dengan penelitian Glenn dan
dalam menjalankan fungsi keluarga menuju Weaver (1988), yang menjelaskan bahwa
terwujudnya tujuan keluarga. Suami dan istri perbedaan tingkat pendidikan memengaruhi
bersepakat dalam membagi peran dan tugas kemampuan individu dalam memenuhi
sehari-hari, bertanggung jawab terhadap peran kebutuhan, keinginan, dan aspirasinya. Hal ini
dan tugasnya masing-masing, dan saling berarti semakin tinggi pendidikan ibu semakin
menjaga komitmen. Hal ini sejalan dengan jelas wawasannya sehingga persepsi terhadap
Saginak (2005) yang menyatakan kepuasan diri dan kehidupan pernikahannya menjadi
perkawinan berhubungan dengan cara semakin baik.
pasangan bernegosiasi untuk membagi tugas
pekerjaan rumah, mencari nafkah, dan Sejalan dengan hasil uji hubungan, hasil uji
tanggung jawab antara suami dan istri. regresi pada penelitian ini juga menegaskan
pengaruh yang nyata dari tugas perkembangan
Hasil analisis hubungan menemukan bahwa keluarga yang terpenuhi dengan baik, baik
bahwa semakin lama pernikahan ayah dan ibu pada dimensi anak dan orang tua, terhadap
maka semakin baik tugas perkembangan kepuasan perkawinan ibu. Hasil ini sesuai
keluarga. Hasil lain menemukan bahwa dengan pernyataan Kapinus dan Johnson
semakin lama pernikahan yang telah dijalani (2003) yang menyatakan bahwa pemenuhan
maka kepuasan perkawinan semakin tugas perkembangan keluarga berhubungan
meningkat. Hal ini sejalan dengan penelitian positif dengan kepuasan perkawinan. Artinya,
Glenn dan Weaver (1990) yang menemukan peningkatan tugas perkembangan keluarga
bahwa lama pernikahan memengaruhi yang dijalankan akan menyebabkan
kepuasan perkawinan seseorang. Penelitian peningkatan kepuasan perkawinan dalam
Greenstein (1996) menemukan bahwa wanita keluarga. Hal ini juga didukung oleh Rostami
yang masa pernikahannya semakin lama maka (2013) yang menyebutkan bahwa pemenuhan
pernikahannya semakin stabil. Hasil penelitian tugas perkembangan keluarga yang baik
ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang berhubungan dengan kepuasan perkawinan,
dilakukan oleh Rini & Retnaningsih (2007) dan kepuasan perkawinan yang baik akan
bahwa pasangan yang menikah di bawah lima memengaruhi kualitas hidup. Dalam penelitian
tahun memiliki kepuasan perkawinan yang ini tidak ada satupun dari variabel karakteristik
Vol. 9, 2016 KEPUASAN PERKAWINAN IBU YANG BARU MEMILIKI ANAK PERTAMA 9

keluarga yang berpengaruh terhadap kepuasan dalam menyiapkan tugas perkembangan


perkawinan. Hasil ini sejalan dengan penelitian keluarga yang harus dipenuhi. Selain itu, untuk
Schmitt, Kliegel, dan Shapiro (2007) yang penelitian selanjutnya, kepuasan perkawinan
menyatakan variabel sosial ekonomi dan yang dalam penelitian ini hanya mengukur dari
kepribadian memiliki sedikit peran dalam sisi istri dapat diperkaya dengan
memprediksi kepuasan perkawinan. Temuan menyandingkannya dengan ukuran kepuasan
dari penelitian ini menegaskan besarnya peran perkawinan suami.
variabel pemenuhan tugas perkembangan
terhadap kepuasan perkawinan ibu pada DAFTAR PUSTAKA
keluarga dengan anak pertama di bawah usia
dua tahun. Tugas perkembangan yang Ardhianita, L., & Andayani, B. (2004).
terpenuhi dengan baik pada awal-awal Kepuasan pernikahan ditinjau dari
kehidupan keluarga akan mendorong ibu bepacaran dan tidak berpacaran. Jurnal
merasakan kehidupan pernikahan yang lebih Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas
puas. Kepuasan inilah yang kemungkinan Gajah Mada, 32(2), 101-111.
menjadi penentu keberhasilan tugas
perkembangan keluarga pada periode Bradburry, T. N., Fincham, F. D., & Beach, S.
berikutnya. R. H. (2000). Research on the nature and
determinants of marital satisfaction: A
SIMPULAN DAN SARAN decade in review. Journal of Marriage
and the Family, 62, 964‐980.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata Burr, W. R. (1970). Satisfaction with various
capaian tertinggi pada tugas perkembangan aspects of marriage over the life cycle.
keluarga dimensi orang tua yaitu berbagi Journal of Marriage and the Family, 32,
tanggung jawab dengan suami, sedangkan 29-37.
pada dimensi anak yaitu belajar mengetahui,
bagaimana, dimana dan kapan terjadi eliminasi. Clements, R., & Swensen, C. H. (2000).
Lebih lanjut, hasil penelitian juga menemukan Commitment to one’s spouse as a
bahwa capaian tertinggi dimensi kepuasan predictor of marital quality among older
perkawinan ibu yaitu pada dimensi orientasi couple. Current Psychology,19(2), 110-
religius dan capaian terendah adalah 120.
pengelolaan keuangan. Hasil penelitian
menegaskan bahwa semakin baik keluarga Dudley, M. G., & Kosinski, F.A. (1990).
dalam memenuhi tugas perkembangan Religiousity and marital satisfaction: A
keluarga maka semakin tinggi kepuasan research note. Review of Religious
perkawinan yang dimiliki oleh ibu. Peningkatan Research, 32, 78-86.
pemenuhan tugas perkembangan dimensi Duvall, E. M. (1971). Family Development. Ed
orang tua dan dimensi anak secara konsisten ke-4. New York, US: JB Lippincott
berpengaruh nyata terhadap peningkatan Company.
kepuasan perkawinan ibu dari keluarga dengan
anak pertama berusia di bawah dua tahun. Filsinger, E., & Wilson, M. R. (1984).
Religiosity, socioeconomic rewards, and
Berdasarkan hasil penelitian terdapat beberapa family development: Predictor of marital
saran yang dapat diberikan, yaitu istri harus adjusment. Journal of Marriage and
memiliki waktu berdua dengan suami, saling Family, 46(3), 663-670.
menghargai dan menjaga komitmen satu sama
lain, dan membangun komunikasi yang baik Forste, R., & Fox, K. (2008). Gender roles,
dengan suami agar tetap romantis. Selain itu, household labor, and family satisfaction:
dalam pengelolaan keuangan, untuk a cross-national comparioson. Bringham
meningkatkan kepuasan perkawinan ibu maka Young University: Departement of
keluarga dapat mengurangi pengeluaran Sociology.
belanja dan mencatat pemasukan dan Fower, B. J., & Olson, D. H. (1993). ENRICH
pengeluaran keluarga setiap bulan, atau marital satisfaction scale: a brief research
mencari alternatif untuk meningkatkan and clinical tool. Journal of Family
pendapatan keluarga. Peran yang cukup besar Psychology, 7(2), 176-185.
dari pemenuhan tugas perkembangan keluarga
terhadap kepuasan perkawinan ibu pada awal- Glenn, N. D., & Weaver, C. N. (1988). The
awal kehidupan pernikahan mengindikasikan changing relationship of marital status to
pentingnya pendidikan pranikah bagi calon reperted happiness. Journal of Marriage
pasangan suami istri untuk dapat lebih baik and the Family, 50, 317-324.
10 RAHMAITA, KRISNATUTI, & YULIATI Jur. Ilm. Kel. & Kons.

_________. (1990). Quantitative research on disclosure, sexual self-efficacy, and


marital quality in the 1980’s: A crritical spiritual among nigerian women. Pakistan
review. Journal of Marriage& The Family, journal os social sciences, 5(5), 464-469.
52(4), 818 – 832.
Puspitasari, N., Puspitawati, H., & Herawati, T.
Greenstein, T. N. (1996). Gender ideology and (2013). Peran gender, kotribusi ekonomi
perceptions of the fairness of the division perempuan dan kesejahteraan keluarga
of household labor: Effect on marital petani holtikura. Jur. Ilm. Kel. & Kons.,
quality. Social Forces, 74. 6(1), 10-19.
Guerrero, L. K., & Mongeau, P. A. (2008). On Rini, Q. K., & Retnaningsih. (2007). Kontribusi
becoming “more than friends”: The self disclosure pada kepuasan
transition from friendship to romantic perkawinan pria dewasa awal. Jurnal
relationship. S. Sprecher, J. Harvey, Psikologi, 2(12), 157-163.
editor. Handbook of relationship initiation. Roach, A. J., Frasier, L. P., & Bowten. (1981).
New York, US: Psychology Press, 175- The marital scale. Journal of The Family,
194. 42, 537-545.
Hawkins, J. L. (1968). Associations between Rostami, A. (2013). Marital satisfaction in
companionship, hostility and marital relation to social support, coping, and
satisfaction. Journal of Marriage and the quality of life in medical staff in Tehran,
Family, 30, 647-650. Iran (Tesis). Umea University, Sweden.
Hoffman, L. W. (1984). Maternal employment Saginak, K. (2005). Balancing work and family:
and the young child. Perlrnutter M, editor. Equity, gender, and marital satisfaction.
Parent-child interaction and parent-child The Family Journal, 11(10).
relations in child development, Hilladale,
NJ: Ertbaum, 101-27. Schmitt, M., Kliegel, M., & Shapiro, A. (2007).
Marital interaction in middle and old age:
Hurlock, E. B. (1999). Psikologi perkembangan: A predictor of marital satisfaction.
Suatu pendekatan sepanjang rentang International Journal Aging and Human
kehidupan edisi ke-5. Jakarta, ID: Development, 65(4), 283-300. doi:10.
Penerbit Erlangga. 2190/AG.65.4.a.
Kapinus, C. A., & Johnson, M. P. (2003). The Schoen, R., Astone, N. M., Rothert, K.,
utility of family life cycle as a theoretical Standish, N. J., & Kim, Y. J. (2002).
and empirical tool commitmen and family Women employment, marital happiness
life-cycle stage. J Family Issues, 24(2), and divorce. Social Forces, 81(2), 643-
155-184. 662.
Khwaja, M., & Habib, R. R. (2007). Husband’s Vaillant, C. O., & Vaillant, G. E. (1993). Is the
involment in housework and women’s U-curve of marital satisfaction an illusion?
psychological health: findinng from a A 40-year study of marriage. Journal of
population-based study in Lebanon. Marriage and the Family, 55, 230-239.
American Journal of Public Health, 97(5),
860–866. Wiliams, B. K., Sawyer, S. C., & Wahlstrom, C.
M. (2006). Marriages, families, and
McCabe, M. K., & Barnett, D. (2000). The intimate relationships: A practical
relation between familial factors and the introduction. Boston: Pearson Education,
future orientation of urban, african Inc.
american sixth graders. Journal of Child
and Family Studies, 9(4), 91-508. White, L. K., Booth, A., & Edwards, J. N.
(1986). Children and marital happiness:
Meliani, F., Sunarti, E., & Krisnatuti, D. (2014). why negative correlation. Journal of
Faktor demografi, konflik keluarga, dan Family Issues, 7, 131-147.
kepuasan perkawinan istri bekerja. Jur.
Ilm. Kel. & Kons., 7(3). 133-142. Zainah, A. Z., Nasir, R., Ruzy, S. H., & Noraini,
M. Y. (2012). Effect of demographic
Oluwole., & Adebayo, D. (2008). Marital variables on marital satisfaction. Asian
satisfaction: Connections of self- Social Science, 8(9).