BISNIS INTERNASIONAL
DOSEN PENGAMPU :
DISUSUN OLEH :
Kelompok 11
MANAJEMEN KELAS A
FAKULTAS EKONOMI
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah swt. yang telah memberikan rahmat
dan karunia yang dilimpahkan-Nya kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan tugas ini.
Adapun yang menjadi judul tugas saya adalah “Lembaga Internasional Dalam
Perspektif Bisnis Internasional”. Tujuan saya menulis makalah ini yang utama untuk
memenuhi tugas dari dosen pengampu saya “Dr. Sri Rezeki.,SE.,M.Si” dalam mata kuliah
“Bisnis Internasional”.
Jika dalam penulisan makalah saya terdapat berbagai kesalahan dan kekurangan
dalam penulisannya, maka kepada para pembaca, penulis memohon maaf sebesar-besarnya
atas koreksi-koreksi yang telah dilakukan. Hal tersebut semata-mata agar menjadi suatu
berupa ilmu pengetahuan yang baik bagi penulis maupun bagi para pembaca.
Kelompok 11
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................................ ii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah.............................................................................................. 1
C. Tujuan Penulisan................................................................................................ 1
BAB II : PEMBAHASAN
A. Lembaga............................................................................................................ 2
C. Uni Eropa.......................................................................................................... 6
KESIMPULAN................................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................... 12
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jika melihat tipenya, lembaga international ini mempunyai beberapa bentuk yaitu
Lembaga Formal yaitu lembaga yang mempengaruhi perliaku melalui hukum dan regulasi,
sementara Lembaga Informal merupakan lembaga yang menggunakan kultur dan ideologi.
Lembaga international bisa dikatakan kompleks dan berbelit-belit . Hal ini disebabkan
oleh batas-batas politik serta kenegaraan yang akhirnya sedikit menghambat aktifitas kinerja
organisasi, misalnya adanya peraturan antar negara, kultur, dan masalah politik negara
tersebut. Oleh karena itu, lembaga international ini akan dibahas lebih lanjut.
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan
1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Lembaga
Salah satu pengertian kontemporer mengenai lembaga yang telah dikembangkan oleh
kelompok kerja kolaboratif antara ekonom, ahli politik, dan sosiolog menyatakan bahwa
Lembaga adalah pemikiran kelompok-kelompok yang dibangun secara social dengan
“elemen-elemen regulative, normative, dan kognitif-kultural, yang bersama dengan
aktivitas dan sumber daya terkait menyediakan stabilitas dan makna kehidupan social”.
Salah satu aspek penting dari teori lembaga baru, seperti yang sudah diketahui, yaitu
lembaga dilihat sebagai kumpulan norma yang “mengatur hubungan individu terhadap
satu sama lain. Jadi, lembaga dibangun secara social-sebuah kelompok, masyarakat, atau
kultur yang membangunnya, dan mereka membatasi perilaku. Cendekiawan-cendekiawan
penting dalam teori baru ini adalah W. Richard Scott, Douglass North, Paul J. Di Maggio,
Walter W. Powell da M. W. Peng.
2. Tipe-tipe Lembaga
Lembaga Formal yaitu lembaga yang mempengaruhi perilaku melalui hukum dan
regulasi, sementara Lembaga Informal merupakan lembaga yang menggunakan kultur
dan ideologi. Contoh dari lembaga Formal adalah Directorate General for Competition
Uni Eropa. Badan ini mempengaruhi perilaku perusahaan Internasional ketika ia ingin
melakukan penggabungan atau akuisisi, meskipun perusahaan-perusahaan yang terlibat
didalam transaksi yang diajukan bukan merupakan Negara Eropa. Jika penggabungan
bisnis ingin menjualnya ke Uni Eropa, akuisisinya memerlukan persetujuan Uni Eropa.
1. Persatuan Bangsa-Bangsa
PBB dilatar belakangi dalam optimisme dan harapan yang datang dengan berakhirnya
perang dunia II, perwakilan 50 negara bertemu di San Fransisco tahun 1945 untuk
merancang piagam PBB. PBB sekarang Organisasi yang paling dikenal di seluruh dunia,
dan terdapat 192 negara anggota yang berdedikasi pada kemajuan perdamaian stabilitas
global. Dan sebagian aktivitasnya berhubungan langsung dengan bisnis dan tindakan
yang mungkin dilakukan perusahaan. PBB beraktivitas dalam perjanjian, secara garis
besar PBB adalah lembaga informal yang otoritasnya bersandaar pada pilar normative.
Berikut beberapa cara PBB memainkan peranan penting dalam bisnis internasional :
Perjanjian PBB mengatur standar dan norma teknis. Standar dan norma ini
berfungsi sebagai “Infrastruktur lunak” untuk ekonomi global. United Nations
Center for Trade Facilitation and Electronic Business (UN/CEFACT)
menstandardikasi dokumen perdagangan dan standar yang telah dikembangkan
untuk pertukaran data elektronik.
Bermacam-macam badan PBB mengatasi kerugian globalisasi, seperti terorisme,
kejahatan, obat-obatan terlaarang, dan lalu lintas senjata. Perjanjian difokuskan
pada daerah terorisme (seperti pengambilan sandera) yang telah dikembangkan
sehingga ada tanggapan kesepakatan antara anggota-anggota PBB.
PBB mengatasi masalah pendidikan dan kesehatan yang memerlukan solusi tingkat
global yang dapat dicapai dengan kemitraan bersama pengusaha, melalui Global
Compact, sebuah usaha untuk memitrakan industry swasta dengan kelompok di
Negara-negara berkembang.
3
PBB mendorong terciptanya keadilan social dan hak asasi manusia dan buruh.
Lembgaga yang focus pada masalah ini adalah Economic and Social Council dari
PBB.
Tahun 1944, ketika mendekati akhir perang dunia II, perwakilan 44 negara sekutu
bertemu di Hotel Mount Washington di Bretton Woods New Hampshire, untuk
merencanakan masa depan moneter. Di Bretton Woods merupakan sebuat pertemuan para
perwakilan keuangan Negara-negara sekutu dan bank sentral mendekati akhir Perang
Dunia II untu menetapkan International Monetery Fund (IMF) dan Bank Dunia. Bretton
Woods penting karena menghasilkan perjanjian pertama yang dinegosiasikan dunia antar
negara-negara merdeka untuk mendukung perdagangan melalui lembaga moneter.
Tujuan IMF adalah untuk menetapkan peraturan bagi kebijakan moneter internasional
dan pelaksanaannya. Bank Dunia juga disebut sebagai bank International Bank for
Recuntruction and Development (IBRD) yang didirikan untuk meminjamkan uang bagi
proyek pengembangan.
4
Memperpendek durasi dan menurangi ketidakseimbangan neraca pembayaran
anggota.
b. Bank Dunia
Bank Dunia didirikan bersamaan dengan IMF pada pertemuan Brettton Woods untuk
mengatasi persoalan pembangunan. Bank Dunia adalah Lemaga yang focus terhadap
pendanaan proyek pembangunan. Fungsi lembaga ini adalah sebagai bentuk kerjasama
nonprofit bagi 185 negara anggotanya. Bank Dunia memiliki kemampuan untuk
meminjamkan dana dengan kisaran nilai rendah kepada Negara-negara berkembang.
Dua lembaga utama Grup Bank Dunia adalah International Bank for Recuntruction
and Development (IBRD) yang sering disingkat dengan Bank Dunia, dan International
Development Assosiation (IDA). Bank Dunia Bergerak Maju. Ketika Negara-negara
berpendapatan menengah mengurangi kemiskinan dan tumbuh dalam kemakmuran ,
mereka memperoleh akses pinjaman dari pendanaan swasta yang lebih disukai oleh
sebagian besar Negara karena komitmen peminjaman ini tidak terikat dengan konsultasi,
seperti pinjaman dari Bank Dunia.
WTO adalah aturan dasar, organisasi yang digerakkan oleh anggota, dengan
keputusan yang dinegosiasikan oleh semua pemerintahan anggota. Perjanjian WTO
membatasi kemungkinan tindakan pemerintah yang diambil dalam perdagangan mereka
(misalnya, dalam menetapkan tarif dan penawaran subsidi untuk produsen domesik).
Peraturan ini mempengaruhi perusahaan dengan 2 cara : langsung, dalam transasi
perdagangan mereka, dan ditingkat yang lebih luas, yakni ketika mereka
menyederhanakan lingkungan perdagangan.
5
C. Uni Eropa
Uni Eropa adalah sebuah lembaga yang terdiri dari 27 negara merdeka yang telah
berkomitmen untuk kerja sama ekonomi dan politik tertutup. Uni eropa berasal dari sebuah
serikat pabean, kemudian menjadi pasar umum, dan sekarang terus berkembang mencapai
integrasi ekonomi dan politik yang besar. Lembaga-Lembaga Uni Eropa.
Ada Sembilan lembaga utama Uni Eropa yang melaksanakan fungsi yang sama
dengan yang dilaksanakan oleh pemerintah nasional, yaitu sebagai berikut :
Dipilih dengan suara terbanyak diseluruh Eropa setiap 5 tahun dan dilihat secara luas
sebagai suara rakyat Eropa di Uni Eropa. Anggota parlemen Eropa saat ini memiliki 785
anggota dari 27 negara Uni Eropa.
Lembaga pengatur kebijakan utama Uni Eropa dan suara dari Negara-negara anggota.
Council minister, merupakan anggota pemerintahan nasional masing-masing Negara,
membuat keputusan penting pada kebijakan luar negeri dan permasalahan keamanan
bersama.
Lembaga eksekutif dan mewakili seluruh kepentingan seluruh Eropa. Lembaga ini
merupakan lembaga yang menjalankan kegiatan operasional harian Uni Eropa dan
menjamin pelaksanaan ketentuan Treaty of Roma. Selanjutnya, komisi Eropa membuat
Undang-Undang yang kemudian akan diserahkan kepada Dewan dan Parlemen Eropa.
6
Lima Lembaga Uni Eropa yang tersisa memiliki focus pada permsalahan keuangan
dan social :
1. Court of Auditor adalah kesadaran financial Uni Eropa. Lembaga ini meninjau
pengeluaran dana Uni Eropa untuk meyakinkan bahwa pengeluaran tersebut bersifat
legal dan sesuai dengan tujuan yang dimaksudkan.
2. European Economic and Social Committee (EESC), adalah lembaga penasihat dan
konsultasi khusus pada kepentingan kerja dan social.
4. Bank Sentral Eropa (European Central Bank-ECB) adalah lembaga yang mengatur
euro untuk memastikan stabilitas harga pasar-pasar Eropa. Perhatian utamanya adalah
untuk mengatur inflasi, dan membuat keputusan terlepas dari pemerintah anggota.
7
BAB III
STUDI KASUS
Indonesia sebagai negara berkembang pada umumnya akan memilih suatu perusahaan
domestik untuk disubsidi khususnya industri yang benar-benar menjadi ekspor Indonesia.
Dan selain itu, Indonesia juga mengambil kebijakan ekonomi seperti penetapan batasan
impor, hambatan tarif dan non tarif dan kebijakan lainnya. Sama seperti negara lainnya,
Korea juga menetapkan kebijakan ekonomi anti dumping untuk melindungi industri
domestiknya. Kali ini yang menjadi sasaran negara yang melakukan dumping adalah
Indonesia. Salah satu kasus yang terjadi antar anggota WTO yaitu kasus antara Korea Selatan
dan Indonesia, dimana Korsel menuduh Indonesia melakukan dumping Woodfree Copy
Paper ke Korsel sehingga Indonesia mengalami kerugian yang cukup besar.
Pada mulanya harga produk kertas Korsel tinggi dan juga produsen kertas Korsel
tidak dapat memenuhi beberapa permintaan pasar. Pada saat itulah masuk produk kertas
Indonesia dengan harga yang lebih murah (termasuk jika dibandingkan dengan harga di pasar
Indonesia) dan juga dengan produk yang memiliki fungsi/nilai substitusi atas produk kertas
yang tidak dapat dipenuhi produsen kertas Korsel, hal ini disebut juga dengan “Like
Product”. Karena hal inilah maka produk kertas Indonesia lebih banyak diminati oleh pasar
di Korsel, sedangkan kertas produk Korsel sendiri menurun penjualannya. Itulah mengapa
Korsel menetapkan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) terhadap produk kertas yang masuk
dari Indonesia, untuk melindungi produk dalam negeri nya. Produk kertas Indonesia yang
dikenai tuduhan dumping mencakup 16 jenis produk, tergolong dalam kelompok uncoated
paper and paper board used for writing, printing, or other graphic purpose serta carbon
paper, self copy paper and other copying atau transfer paper.
Kasus ini bermula ketika industri kertas Korea Selatan mengajukan petisi anti-
dumping terhadap produk kertas Indonesia kepada Korean Trade Commission (KTC) pada 30
September 2002. Dan pada 9 Mei 2003, KTC mengenai Bea Masuk Anti Dumping
Sementara (BMADS) dengan besaran untuk PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk sebesar
8
51,61%, PT Pindo Deli 11,65%, PT Indah Kiat 0,52%, April Pine dan lainnya sebesar 2,80%.
Namun, pada 7 November 2003 KTC menurunkan BMAD terhadap produk kertas Indonesia
ke Korsel dengan ketentuan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk, PT Pindo Deli dan PT Indah
Kiat diturunkan sebesar 8,22% dan untuk April Pine dan lainnya 2,80%.
Dan akibat adanya tuduhan dumping itu ekspor produk itu mengalami kerugian.
Ekspor Woodfree Copy Paper Indonesia ke Korsel yang pada tahun 2002 mencapai 102 juta
dolar AS, turun menjadi 67 juta dolar pada tahun 2003. Dan Indonesia mengadukan masalah
ini ke WTO tanggal 4 Juni 2004 dan meminta diadakan konsultasi bilateral, namun konsultasi
yang dilakukan pada 7 Juli 2004 gagal mencapai kesepakatan.
PENYELESAIAN KASUS
9
B. Sekretaris Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional Departemen
Perdagangan mengatakan dalam putusan Panel DSB pada November 2005
menyatakan Korsel harus melakukan rekalkulasi atau menghitung ulang margin
dumping untuk produk kertas asal Indonesia. Untuk itu, Korsel diberikan waktu untuk
melaksanakan paling lama delapan bulan setelah keluarnya putusan atau berakhir
pada Juli 2006. Panel DSB menilai Korsel telah melakukan kesalahan dalam upaya
membuktikan adanya praktik dumping kertas dari Indonesia. Pengenaan tuduhan
dumping kertas melanggar ketentuan anti dumping WTO. Korea harus menghitung
ulang margin dumping sesuai dengan hasil panel maka ekspor kertas Indonesia ke
Korsel kurang dari dua persen atau deminimis sehingga tidak bisa dikenakan Bea
Masuk Anti Dumping. Panel Permanen merupakan panel tertinggi di WTO jika
putusan Panel Permanen juga tidak ditaati oleh Korsel, Indonesia dapat
melakukan retaliasi, yaitu upaya pembalasan atas kerugian yang diderita. Dalam
retaliasi, Indonesia dapat mengenakan bea masuk atas produk tertentu dari Korsel
dengan nilai kerugian yang sama selama pengenaan Bea Masuk Anti-Dumping
(BMAD). Korean Trade Commision yang merupakan otoritas dumping Korsel
mengenakan BMAD 2,8 - 8,22 % terhadap empat perusahaan kertas, seperti yang
telah disebutkan diatas yaitu PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia, PT Pindo Deli Pulp &
Paper Mills, PT Indah Kiat Pulp & Paper, dan PT April Fine sejak 7 November 2003.
Dalam membuat tuduhan dumping, KTC menetapkan margin dumping kertas dari
Indonesia mencapai 47,7 persen. Produk kertas yang dikenakan BMAD adalah plain
paper copier dan undercoated wood free printing paper.
Solusi :
Korea terlalu cepat menilai Indonesia melakukan praktek dumping tanpa berfikir
panjang dengan tidak berusaha menghitung ulang margin dumping pada produk kertas
Indonesia dan tidak meneliti kembali kesepakatan perdagangan antara Korea dan Indonesia.
Solusi yang bisa kami tawarkan untuk kasus dumping adalah pengawasan pemerintah yang
ketat terkait ekspor yang dilakukan di indonesia untuk negara lain. Dimana pemeritah lebih
ketat dalam hal barang yang diekspor tersebut apakah barang itu diperlukan oleh khalayak
ramai untuk dikonsumsi/dipakai, disamping itu pemerintah harus memerhatikan harga terkait
barang yang dijual terhadap luar negeri apakah seajarnya harga itu diiberikan atau tidak.
10
KESIMPULAN
Berdasarkan pemahaman dalam materi ini bahwa bisnis internasional itu mutlak harus
diatur, diawasi, serta dikembangkan oleh lembaga-lembaga yang ada tergabung dalam suatu
organisasi bisnis agar dalam kegiatan bisnis itu sendiri akan ada aturan-aturan yang
memperketat kegitan bisnis itu sendiri. Dengan ini, setiap pelaku bisnis internasional akan
lebih mematuhi dan berhati-hati dalam menjalankan akitivitasnya dalam bisnis dengan sesuai
ketentuan maupun peraturan yang berlaku dalam masing-masing Negara yang melakukan
aktivitas bisnis tersebut.
PBB sebagai lembaga yang mengatur penuh dalam kebijakan kegiatan aktivitas bisnis
dalam lingkup internasional. PBB berhak membuat kebijakan yang bersifat absolute bagi
anggota yang menjalankan bisnis internasional tersebut.
11
DAFTAR PUSTAKA
Donal A. Ball, Wendell H. McCulloch, Jr, Paul L. Frantz, J. Michael Geringer, Michael
S.Minor, 2014 Bisnis Internasional, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.
12