Anda di halaman 1dari 14

TUGAS ETIKA DAN HUKUM KESEHATAN RINGKASAN

PERATURAN KONSIL DOKTER DAN DOKTER GIGI,


IDENTIVIKASI KODE ETIK KESEHATAN
MASYARAKAT DAN KODE ETIK APOTEKER

NAMA : INA NIRWANA


NIM : J1A1171221
KELAS : B 2017

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2018
A. Ringkasan Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomer 15 dan
Nomer 16 /KKI/PER/VIII/2006
1. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomer 15/KKI/ PER/ VIII/2006,
Tentang Organisasi dan Tata Kerja Majelis Kehormatan dan Majelis
Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia Di Tingkat Provinsi

Dimana dalam peraturan tersebut terdapat 10 Bab dan 24 pasal yang


mengatur dan menjelaskan tentang organisasi dan tata kerja organisasi ynag
mengatur peraturan kinerja dokter.

Di dalam Bab I yaitu, ketentuan umum yang membahas tentang Praktik


Kedokteran, Dokter dan Dokter Gigi, Konsil Kedokteran Indonesia, Majelis
Kehormatan Disiplin Indonesia pada tingkat provinsi, Organisasi Profesi dan
Mentri.

Bab II membahas tentang lambang, logo dan lencana MKDKI. Bab III
menjelaskan tentang fungsi, tugas dan kewenangan MKDKI dan MKDKI-P
dimana dimulai dari pasal 3 sampai pasal 6.

Bab IV yang terdapat 4 pasal dan 12 ayat yang mengatur tentang


kedudukan, status dan pembentukan organisasi MKDKI. Bab V adalah peraturan
lanjutan bab IV mengenai pembentukan MKDKI dan MKDKI-P, dimana
membahas tentang pemimpin dan tata cara pemilihan pemimpin organsasi
tersebut. Kemudian bagian keanggotaan diatur dalam Bab VI yang terdapat 4
pasal dan 15 ayat dimana disertai denga sumpah atau janji keanggotaan dalam
organisasi MKDKI dan MKDKI-P.

Bab VII membahas tentang tata kerja organisasi MKDKI dan MKDKI-P
dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai pemimpin maupun anggota
organisasi.
Bab VIII menjelaskan bagian pebiayaan dalam Organisasi MKDKI dan
MKDKI-P. Bab IX berisi tentang ketentuan lain mengenai organisasi MKDKI
dan Bab terakhir yaitu bab 10 berisi tentang penutup.

2. Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomer 16/KKI/ PER/ VIII/2006,


Tentang Tata Cara Penanganan Kasus Dugaan Pelanggaran Disiplin
Dokter Dan Dokter Gigi Oleh Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran
Indonesia Dan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia Di
Tingkat Provinsi

Dimana dalam peraturan tersebut terdapat 10 Bab dan 24 pasal yang


mengatur dan menjelaskan tentang organisasi dan tata kerja organisasi ynag
mengatur peraturan kinerja dokter.
Di dalam Bab I yaitu, ketentuan umum yang membahas tentang Praktik
Kedokteran, Dokter dan Dokter Gigi, Konsil Kedokteran Indonesia, Surat Tanda
Registrasi Dokter dan Dokter Gigi, Surat Izin Praktik, Majelis Kehormatan
Disiplin Indonesia pada tingkat provinsi, Organisasi Profesi dan Mentri.
Bab II mengatur tentang pengaduan pasien terhadap ketidak puasan
pelayanan kesehatan terutama dokter atau dokter gigi. Bab III berisi peraturan
tentang Majelis Pemeriksaan Awal dimana tahap awal setelah diterimanya
pengaduan. Bab IV adalah kelanjutan dari bab III yaitu Majelis Pemeriksaan
Disiplin untuk menindak lanjuti pengaduan yang hasil pemeriksaan awal dierima
dan sudah dicatat lengkap dan benar, kemudian dilanjutkan pembentukan Majelis
Pemeriksaan Disiplin.
Bab V membahas tentang pembuktian yang terkait dengan bukti-bukti
yang ditemukan oleh Majelis Pemeriksaan Disiplin mengenai pengaduan tersebut.
Bab VI berisikan tentang Keputusan Majelis Pemeriksaan Disiplin yang dudah
dibuktikan dan keputusan diambil melalui sidang yang diputuskan oleh MKDKI
atau MKDKI-P terhadap pengaduan tersebut.
Bab VII mengatur tentang pelaksanaan pemeriksaan disiplin setelah
pengamblan keputusan bersalah atau tidak maka dokter atau dokter gigi yang
bersangkutan mendapatkan surat peringatan. Bab VIII berkaitan dengan ketentuan
peralihan yang dimaksud adalah :
1) Semua pengaduan dugaan pelanggaran disiplin yang telah diterima dan
diperiksa oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dan Menteri pada tingkat
banding tetap diselesaikan pemeriksaannya dan keputusannya disampaikan
kepada Konsil Kedokteran Indonesia dan MKDKI atau MKDKI-P.
2) Selama MKDKI-P belum terbentuk, semua pengaduan adanya dugaan
pelanggaran disiplin dokter atau dokter gigi diadukan kepada MKDKI.

Bab IX adalah bab penutup dari peraturan konsil nomer 16 yang terkait
dengan cara penanganan kasus dugaan pelanggaran diiplin dokter dan dokter gigi.

B. Identifikasi Potensi Pelanggaran Kode Etik Dokter dan Dokter Gigi


1. Perlakuan tidak adil terhadap pasien
2. Lebih mementingkan urusan pribadi daripada kesehatan pasien
3. Tidak menghormati norma-norma yang ada di masyarakat
4. Melakukan praktik kedokteran dengan tidak kompeten
5. Tidak merujuk pasien kepada dokter atau dokter gigi lain yang memiliki
komeeptensi yang sesuai
6. Mendelegasikan pekerjaan kepada tenaga kesehatan tertentu yang tidak
memiliki kompetensi untuk melaksanakan pekerjaan tersebut
7. Menyediakan dokter atau dokter gigi pengganti sementara yang tidak
memiliki kompetensi dan kewenangan yang sesuai atau tidak melakukan
pemberitahuan perihal penggantian tersebut
8. Menjalankan praktik kedokteran dalam kondisi tingkat kesehatan fisik atau
mental sedemikian rupa sehingga tidak kompeten dan dapat membahayakan
pasien
9. Tidak melakukan tindakan atau asuhan medis yang memadai pada situasi
tertentu yang dapat membahayakan pasien
10. Melakukan pemeriksaan atau pengobatan berlebihan yang tidak sesuai dengan
kebutuhan pasien
11. Tidak memberikan penjelasan yang jujur, etis, dan memadai (adequate
information) kepada pasien atau keluarganya dalam melakukan praktik
kedokteran.
12. Melakukan tindakan atau asuhan medis tanpa memperoleh persetujuan dari
pasien atau keluarga dekat, wali, atau pengampunya.
13. Tidak membuat atau tidak menyimpan rekam medis dengan sengaja.
14. Melakukan perbuatan yang bertujuan untuk menghentikan kehamilan yang
tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku
15. Melakukan perbuatan yang dapat mengakhiri kehidupan pasien atas
permintaan sendiri atau keluarganya.
16. Menjalankan praktik kedokteran dengan menerapkan pengetahuan,
keterampilan, atau teknologi yang belum diterima atau di luar tata cara praktis
kedokteran yang layak.
17. Melakukan penelitian dalam praktik kedokteran dengan menggunakan
manusia sebagai subjek penelitian tanpa memperoleh persetujuan etik (ethical
clerance) dari lembaga yang diakui pemerintah.
18. Tidak melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, padahal
tidak membahayakan dirinya, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang
bertugas dan mampu melakukannya.
19. Menolak atau menghentikan tindakan atau asuhan medis atau tindakan
pengobatan terhadap pasien tanpa alasan yang layak dan sah sesuai dengan
ketentuan etika profesi atau peraturan perundang-undangan yang berlaku
20. Membuka rahasia kedokteran.
21. Membuat keterangan medis yang tidak didasarkan kepada hasil pemeriksaan
yang diketahuinya secara benar dan patut.
22. Turut serta dalam pembuatan yang termasuk tindakan penyiksaan atau
eksekusi hukuman mati.
23. Meresepkan atau memberikan obat golongan narkotika, psikotropika, dan zat
adiktif lainnya yang tidak sesuai dengan ketentuan etika profesi atau peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
24. Melakukan pelecehan seksual, tindakan intimidasi, atau tindakan kekerasan
terhadap pasien dalam penyelenggaraan praktik kedokteran.
25. Menggunakan gelar akademik atau sebutan profesi yang bukan haknya.
26. Menerima imbalan sebagai hasil dari merujuk, meminta, pemeriksaan, atau
memberikan resep obat atau alat kesehatan.
27. Mengiklankan kemampuan atau pelayanan atau kelebihan kemampuan
pelayanan yang dimiliki baik lisan ataupun tulisan yang tidak benar atau
menyesatkan.
28. Adiksi pada narkotika, psikotropika, alkohol, dan zat adiktif lainnya
29. Bepraktik dengan menggunakan surat tanda registrasi, surat izin praktik,
dan/atau sertifikat kompetensi yang tidak sah atay berpraktik tanpa memiliki
surat izin praktik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
30. Tidak jujur dalam menentukan jasa medis.
31. Tidak memberikan informasi, dokumen, dan alat bukti lainnya yang
diperkulan MKDKI/MKDKI-P, untuk pemeriksaan atas pengaduan dengan
pelanggaran Disiplin profesional Dokter dan Dokter Gigi.
C. KodeEtikProfesiKesehatanMasyarakat Indonesia

Kodeetikprofesikesehatanmasyarakatindonesia yang diuraikandalambab -


babdanpasal – pasalsebagaiberikut:

BAB I

KEWAJIBAN UMUM

Pasal1 :SetiapprofesiKesehatanmasyarakatharusmenjunjungtinggi, menghayati,


danmengamalkanetikaprofesikesehatanmasyarakat.

Pasal2
:DalamMelaksanakantugasdanfungsinyaprofesikesehatanmasyarakatlebihmementi
ngkankepentinganumumdaripadakepentinganpribadi.
Pasal3 :Dalammelaksanakantugasdanfungsinya,
hendaknyamenggunakanpronsipefektifitas-
efisiensidanmengutamakanpenggunaanteknologitepatguna.

Pasal4 :Dalammelaksanakantugasdanfungsinya, tidakbolehmembeda –


bedakanmasyarakatataspertimbangan-pertimbangan agama, suku, golongan,
sosialpolitik, dansebagainya.

Pasal5 :HakAnggota

Dalammelaksanakanfungsidantugasnyaahanyamelaksanakanprofesidankeahlianny
a.

BAB II

KEWAJIBAN TERHADAP MASYARAKAT

Pasal6 :Dalammelaksanakantugasdanfungsinya,
selaluberorientasikepadamasyarakatsebagaisatukesatuan yang
tidakterlepasdariaspeksosial, ekonomi, politik, psikologisdanbudaya.

Pasal7 :Dalammelaksanakantugasdanfungsinya,
harusmengutamakanpembinaankesehatan yang menyangkut orang banyak.

Pasal8 :Dalammelaksanakantugasdanfungsinya,
harusmengutamakanpemerataandankeadilan.

Pasal9
:Dalampembinaankesehatanmasyarakatharusmenggunakanpendekatanmenyeluruh
, multidisiplindanlintassektoralsertamementingkanusaha – usahapromotif,
preventif, protektifdanpembinaankesehatan.

Pasal10 :Upayapembinaankesehatanmasyarakathendaknyadidasarkankepadafakta
– faktailmiah yang diperolehdarikajian – kajianataupenelitian – penelitian.
Pasal11 :DalamPembinaankesehatanmasyarakat,
hendaknyamendasarkankepadaprosedurdanlangkah – langkah yang profesional
yang telahdiujimelaluikajian – kajianilmiah.

Pasal12
:Dalammennjalankantugasdanfungsinyaharusbertanggungjawabdalammelindungi,
memliharadanmeningkatkankesehatanpenduduk.

Pasal13
:Dalammenjalankantugasdanfungsinyaharusberdasarkanantisipasikedepan,
baikdanmenyangkutmasalahkesehatanmaupunmasalah lain yang
berhubunganataumempengaruhikesehatanpenduduk.

BAB III

KEWAJIBAN TERHADAP PROFESI KESEHATAN LAIN DAN PROFESI DI


LUARBIDANG KESEHATAN

Pasal14 :Dalammelakukantugasdanfungsinya,
harusbekerjasamadalamsalingmenghormatidengananggotaprofesilain,
tanpadipengaruhiolehpertimbangan – pertimbangankeyakinan, agama, suku,
golongan, dansebagainya.

Pasal15 :Dalammelakukantugasdanfungsinyabersama – samadenganprofesilain,


hendaknyaberpegangpadaprinsip – prinsip : kemitraan, kepemimpinan,
pengambilanprakarsadankepeloporan.

BAB IV

KEWAJIBAN TERHADAP PROFESINYA

Pasal16
:AhliKesehatanmasyarakathendaknyabersikapproaktifdantidakmenunggudalamme
ngatasimasalah.
Pasal17
:Ahlikesehatanmasyarakathendaknyasenantiasamemeliharadanmeningkatkanprofe
sikesehatanmasyarakat.

Pasal18 :Ahlikesehatanmasyarakathendaknyasenantiasaberkomunikasi,
membagipengalamandansalingmembantu di
antaraanggotaprofesikesehatanmasyarakat.

BAB V

KEWAJIBAN TERHADAP DIRI SENDIRI

Pasal19 :ProfesiKesehatanmasyarakatharusmemeliharakesehatannya agar


dapatmelaksanakantugasdanprofesinyadenganbaik.

Pasal20
:Ahlikesehatanmasyarakatsenantiasaberusahauntukmeningkatkanpengetahuandan
Keterampilannyasesuaidenganperkembanganilmupengetahuandanteknologi.

BAB VI

PENUTUP

Pasal21
:Setiapanggotaprofesikesehatanmasyarakatdalammelaksanakantugasnyasehari-
hariharusberusahadengansungguh-
sungguhmemegangteguhkodeetikkesehatanmasyarakat Indonesia ini.

D. KodeEtikApoteker Indonesia

BAB I

KEWAJIBAN UMUM
Pasal1 :SeorangApotekerharusmenjunjungtinggi,
menghayatidanmengamalkanSumpah / JanjiApoteker.

Pasal2 :SeorangApotekerharusberusahadengansungguh-
sungguhmenghayatidanmengamalkanKodeEtikApoteker Indonesia.
Pasal3
:SeorangApotekerharussenantiasamenjalankanprofesinyasesuaikompetensiApotek
er Indonesia
sertaselalumengutamakandanberpegangteguhpadaprinsipkemanusiaandalammelak
sanakankewajibannya.

Pasal4 :SeorangApotekerharusselaluaktifmengikutiperkembangan di
bidangkesehatanpadaumumnyadan di bidangfarmasipadakhususnya.

Pasal5 :Di
dalammenjalankantugasnyaSeorangApotekerharusmenjauhkandiridariusahamenca
rikeuntungandirisemata yang
bertentangandenganmartabatdantradisiluhurjabatankefarmasian.

Pasal6 :SeorangApotekerharusberbudiluhurdanmenjadicontoh yang baikbagi


orang lain.

Pasal7 :SeorangApotekerharusmenjadisumberinformasisesuaidenganprofesinya.

Pasal8 :SeorangApotekerharusaktifmengikutiperkembanganperaturanperundang-
undangan di bidangkesehatanpadaumumnyadan di bidangfarmasipadakhususnya.

BAB II

KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP PASIEN


Pasal9
:SeorangApotekerdalammelakukanpraktikkefarmasianharusmengutamakankepenti
nganmasyarakat. menghormatihakazasipasiendanmelindungimakhlukhidupinsani.

BAB III

KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP TEMAN SEJAWAT

Pasal10 :Seorang Apoteker


harusmemperlakukantemanSejawatnyasebagaimanaiasendiri ingindiperlakukan.

Pasal11
:SesamaApotekerharusselalusalingmengingatkandansalingmenasehatiuntukmemat
uhiketentuan-ketentuankodeEtik.

Pasal 12 : Seorang Apoteker harusmempergunakansetiapkesempatan untuk


meningkatkankerjasama yang baiksesamaApoteker di
dalammemeliharakeluhuranmartabatjabatankefarmasian, serta mempertebal rasa
salingmempercayai di dalammenunaikantugasnya.

BAB IV

KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP SEJAWAT PETUGAS KESEHATAN


LAIN
Pasal13
:SeorangApotekerharusmempergunakansetiapkesempatanuntukmembangundanme
ningkatkanhubunganprofesi, salingmempercayai, menghargaidanmenghormati
sejawatpetugaskesehatan lain.

Pasal14 :SeorangApotekerhendaknyamenjauhkandiridaritindakanatauperbuatan
yang
dapatmengakibatkanberkurangnyaatauhilangnyakepercayaanmasyarakatkepadasej
awatpetugaskesehatan lain.

BAB V

PENUTUP

Pasal15 :Seorang Apoteker bersungguh-sungguh menghayati dan


mengamalkan kodeetikApoteker Indonesia
dalammenjalankantugaskefarmasiannyasehari-hari.

E. Kasus Pelanggaran Kode Etik Apoteker Di Rumah Sakit

Seorang pasien mendapat resep obat paracetamol generik, tetapi karena


obat paracetamol merek dagang Y jumlahnya digudang masih banyak dan
kecenderungan medekati tahun ED, maka obat paracetamol generik di dalam
resep diganti dengan obat Y yang kandungannya sama. Harga obat Y lebih mahal
dibandingkan obat generik, tetapi dengan informasi ke pasien bahwa efek obat Y
lebih cepat maka pasien menerimanya.

A. Identifikasi Masalah

1. Apoteker RS mengganti resep dengan obat Y yang harganya lebih mahal

2. Apoteker RS melakukan kebohongan kapada pasien


3. Apoteker RS ada kemungkinan melakukan kesalahan pembelian obat Y
sehingga stok berlebih bahkan mendekati ED atau kemungkinan mempunyai kerja
sama dengan produsennya.

4. Apoteker RS hanya mempertimbangkan keseimbangan stok obat tanpa


mempedulikan kondisi pasien.

B. Dasar Hukum yang digunakan Apoteker tersebut (Peraturan Perundangan


51/2009)

1. Pasal 24

Dalam melakukan pekerjaan kefarmasian pada fasilitas pelayanan kefarmasian,


Apoteker dapat mengganti obat merek dagang dengan obat generik yang sama
komponen aktifnya atau obat merek dagang lain atas persetujuan dokter dan/atau
pasien

Diskusi :

Berdasarkan pasal tersebut maka apoteker tersebut tidak salah, tetapi menjadi
salah karena landasan dasar yang digunakan dalam mengganti obat bukan karena
stok kosong tapi karena jumlah obat Y berlebih digudang dan mendekati waktu
ED serta ada kemungkinan kerja sama antara apoteker dengan produsen obat
tersebut.

C. Solusi dari Kasus

Apoteker tidak seharusnya melakukan kebohongan kepada pasien dengan


mengganti obat dalam resep dengan alasan efek obat lebih cepat, padahal hanya
karena stok obat pengganti berlebih dan mendekati ED. Masalah tersebut
harusnya dilakukan investigasi terkait penyebab jumlah obat yang masih banyak
digudang dan melaporkannya dalam rapat Komite Farmasi dan Terapi (KFT).