Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

Standar Pekerjaan Lapangan –


Perencanaan Audit: Risiko Audit dan
Materialitas

OLEH

KELOMPOK 2:

1. AYU WANDIKA PUTRI UTAMI (0012 04 24 2017)

2. DIAN SABRINA (0021 04 24 2017)

PASCA SARJANA UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI

2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha

Penyayang. Puji syukur kami panjatkan atas segala berkah, rahmat, dan hidayah

yang dilimpahkan-Nya. Atas izin-Nya-lah sehingga kami dapat menyelesaikan

makalah mengenai Standar Pekerjaan Lapangan – Perencanaan Audit: Risiko

Audit dan Materialitas.

. Tidak lupa sholawat kami kirimkan untuk Rasulullah SAW, yang

dengan segala perjuangannya mengantarkan umatnya dari keadaan iman dan adab

yang gelap gulita menuju keadaan iman dan adab yang terang benderang.

Makalah yang kami susun ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan

berbagai pihak. Untuk itu kami menyampaikan rasa terima kasih untuk semua

yang telah membantu dan mendukung sehingga makalah ini dapat

terselesaikan.Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan yang

terdapat dalam makalah ini, baik dari segi susunan kalimat, tata bahasa maupun isi

pembahasan. Oleh karena itu kritik dan saran khalayak pembaca akan kami terima

dengan tangan terbuka agar dapat menjadi masukan dan bahan perbaikan bagi

kami.

Akhir kata, kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat

dan menambah wawasan bagi pembaca semuanya.


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah.

Audit laporan keuangan pada dasarnya adalah kegiatan memperoleh

dan mengevaluasi bukti tentang laporan-laporan entitas dengan maksud agar

dapat memberi pendapat apakah laporan-laporan tersebut telah disajikan

secara wajar sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan, yakni prinsip-

prinsip akuntansi yang berlaku umum. Pemeriksaan kewajaran terhadap

laporan keuangan klien dilakukan agar laporan keuangan yang bersangkutan

dapat menjadi bahan pertimbangan pengambilan keputusan bagi stakeholder

yang terkait dengan perusahaan klien.

Sebagaimana halnya pembuatan laporan keuangan, pengauditan pun

memiliki standar tersendiri yang berlaku umum. Adapun standar yang berlaku

umum tersebut terdiri atas 3 bagian, yakni standar umum, standar pekerjaan

lapangan, dan standar pelaporan.

Dalam standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan, salah satu hal

mendasar yang cukup penting adalah risiko audit dan materialitas. Tidak

dapat dipungkiri kedua hal tersebut adalah dasar-dasar yang perlu

diperhatikan dalam melaksanakan pengauditan. Auditor perlu

mempertimbangkan risiko audit dan materialitas dalam beberapa tingkatan.

Tingkatan tersebut adalah tingkat laporan keuangan dan tingkat saldo akun.
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka penulis merumuskan

masalah yakni sebagai berikut:

1. Bagaimanakah pertimbangan risiko audit pada tingkat laporan keuangan

dan pada tingkat saldo akun?

2. Bagaimanakah pertimbangan materialitas pada tingkat laporan keuangan

dan pada tingkat saldo akun?

3. Bagaimanakah cara mengevaluasi temuan audit?


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pertimbangan Risiko Audit pada Tingkat Laporan Keuangan dan pada

Tingkat Saldo Akun

Dalam Audit Risk and Materiality in Conducting an Audit (SAS No. 47

dan 82), AU 312.02, didefinisikan bahwa risiko audit adalah risiko bahwa

auditor mungkin tanpa sengaja telah gagal untuk memodifikasi pendapat

secara tepat mengenai laporan keuangan yang mengandung salah saji

material.

Konsep keseluruhan mengenai risiko audit merupakan kebalikan dari

konsep keyakinan yang memadai. Semakin tinggi kepastian yang ingin

diperoleh auditor dalam menyatakan pendapat yang benar, semakin rendah

risiko audit yang akan ia terima. Jika 99% kepastian diinginkan, maka risiko

audit adalah 1%, sementara jika kepastian sebesar 95% dianggap memuaskan,

maka risiko audit adalah 5%. Biasanya pertimbangan professional berkenaan

dengan keyakinan yang memadai dan keseluruhan tingkat risiko audit

dirancang sebagai satu kebijakan kantor akuntan publik, dan risiko audit akan

dapat dibandingkan antara satu audit dengan audit lainnya.

Auditor merumuskan suatu pendapat atas laporan keuangan sebagai

keseluruhan atas dasar bukti yang diperoleh dari verifikasi asersi yang

berkaitan dengan saldo akun secara individual atau golongan transaksi.

Tujuannya adalah untuk membatasi risiko audit pada tingkat saldo akun
sedemikian rupa sehingga pada akhir proses audit, risiko audit dalam

menyatakan pendapat atas laporan keuangan sebagai keseluruhan akan berada

pada tingkat yang rendah.

Model Risiko Audit

Model risiko audit dapat dinyatakan secara kuantitatif sebagai berikut:

AR = IR × CR × DR

Di mana :

AR = Risiko audit (Audit Risk)

IR = Risiko bawaan (Inherent Risk)

CR = Risiko pengendalian (Control Risk)

DR = Risko deteksi (Detection Risk)

Untuk menggambarkan penggunaan model tersebut, asumsikan bahwa

auditor membuat pertimbangan professional untuk asersi tertentu, seperti

asersi penilaian atau asersi penilaian atau alokasi untuk piutang usaha sebagai

berikut :

AR = 5%, IR = 90%, dan CR = 20%

Risko deteksi dapat ditentukan dengan menyelesaikan model tersebut

sebagai berikut :

DR = (AR)/(IR × CR)

= 0,05/(0,9 × 0,2)

= 0,28
Menilai Komponen Risiko Audit

Ada tiga komponen risiko audit, yakni:

a. Risiko Bawaan

Risiko bawaan adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongan

transaksi terhadap suatu salah saji material, dengan asumsi bahwa tidak

terdapat kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern yang terkait.

Penilaian risiko bawaan memerlukan pertimbangan mengenai hal-hal

yang mungkin memiliki dampak yang mendalam terhadap asersi-asersi

untuk semua atau banyak akun dan hal-hal yang hanya berkaitan dengan

asersi spesifik untuk suatu akun spesifik.

Contoh hal-hal yang mungkin memiliki dampak mendalam

termasuk:

- Profitabilitas dari entitas secara relatif terhadap industri

- Sensitivitas dari hasil-hasil operasi terhadap faktor-faktor ekonomi

- Masalah going concern seperti kurang banyaknya modal kerja

- Sifat, sebab, dan jumlah dari salah saji yang diketahui dan

kemungkinan salah saji yang terdeteksi dalam audit terdahulu

- Perputaran manajemen, reputasi manajemen, dan keahlian akuntansi

- Dampak dari pengembangan teknologi pada operasi dan daya saing

perusahaan

Hal-hal yang mungkin hanya berkaitan dengan akun-akun spesifik

termasuk:
- Akun-akun atau transaksi-transaksi yang sulit untuk diaudit

- Masalah akuntansi yang sulit atau diperdebatkan

- Kerentanan terhadap penyalahgunaan

- Kompleksitas penghitungan

- Luasnya pertimbangan yang berkaitan dengan asersi

- Sifat, sebab, dan jumlah dari salah saji yang diketahui dan salah saji

yang terdeteksi dalam audit sebelumnya

- Sensitivitas dari penilaian faktor-faktor ekonomi

Banyak dari item-item tersebut yang menunjukkan kompleksitas

bawaan dan ketidakpastian yang terlibat dalam proses akuntansi yang

spesifik terhadap saldo akun tertentu atau siklus transaksi

Risiko bawaan dapat lebih besar untuk beberapa asersi daripada

untuk asersi-asersi lainnya. Sebagai contoh, asersi keberadaan dan

keterjadian untuk kas lebih rentan terhadap salah saji karena

penyalahgunaan daripada asersi yang sama untuk aktiva pabrik.

Risiko bawaan muncul secara independent dari audit laporan

keuangan. Oleh karena itu, auditor tidak dapat mengubah tingkat aktual

dari risiko bawaan. Akan tetapi, auditor dapat mengubah tingkat risiko

bawaan yang dinilai.


b. Risiko Pengendalian

Risiko pengendalian adalah risiko terjadinya salah saji material

dalam suatu asersi yang tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat

waktu oleh struktur pengendalian intern entitas.

c. Risiko Deteksi

Risiko deteksi adalah risiko sebagai akibat auditor tidak dapat

mandeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi.

Risiko deteksi dapat dinyatakan sebagai suatu kombinasi dari risiko

prosedur analitis dan risiko pengujian terinci. Dalam menentukan risiko

deteksi auditor juga harus mempertimbangkan kemungkinan akan

membuat suatu kekeliruan.

Dalam perencanaan audit, suatu tingkat risiko deteksi yang

direncanakan dapat diterima untuk prosedur analitis dan pengujian terinci

ditentukan untuk setiap asersi yang signifikan dengan menggunakan model

risiko audit.

Risiko Audit ada Tingkat Laporan Keuangan Dan Tingkat Saldo Akun

Kenyataan bahwa auditor tidak dapat memberikan jaminan tentang

ketepatan informasi yang disajikan oleh klien dalam laporan keuangan

mengharuskan auditor mempertimbangkan baik materialitas maupun risiko

audit, tanpa disadari, tidak memodifikasi pendapatnya sebagaimana

mestinya, atau suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji


material. Risiko audit, dibagi menjadi dua bagian, yaitu risiko audit

keseluruhan yang berkaitan dengan laporan keuangan sebagai keseluruhan

dan risiko audit individual yang berkaitan dengan setiap saldo akun

individual yang dicantumkan dalam laporan keuangan.

1. Risiko Audit Tingkat Laporan Keuangan (Overall Audit Risk)

Pada tahap perencanaan auditnya, auditor pertama kali harus

menentukan risiko audit keseluruhan yang direncanakan, yang

merupakan besarnya risiko yang dapat ditanggung oleh auditor dalam

menyatakan bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar, padahal

kenyataannya, laporan keuangan tersebut berisi salah saji material.

2. Risiko Audit Individual Tingkat Saldo Akun (Individual)

Karena audit mencakup pemeriksaan terhadap akun-akun secara

individual, risiko audit keseluruhan harus dialokasikan kepaada akun-

akun yang berkaitan. Risiko audit individual perlu ditentukan untuk

setiap akun karena akun tertentu seringkali sangat penting karena

besar saldonya atau frekuensi transaksi perubahan. Dari pengalaman

audit di tahun sebelumnya, auditor dapat menaksir risiko audit atas

akun tertentu.
B. Pertimbangan Materialitas pada Tingkat Laporan Keuangan dan Pada Tingkat

Saldo Akun

Materialitas merupakan dasar penerapan standar auditing, terutama

standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan. Oleh karena itu,

materialitas mempunyai pengaruh yang mencakup semua aspek audit dalam

audit atas laporan keuangan. Dalam SA Seksi 319 Risiko Audit dan

Materialitas Audit dalam Pelaksanaan Audit mengharuskan auditor untuk

mempertimbangkan materialitas dalam perencanaan audit, dan penilaian

terhadap kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan sesuai dengan

prinsip akuntansi berterima umum.

Pengertian Materialitas adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau

salah saji informasi akuntansi yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya,

dapat mengakibatkan perubahan atas atau pengaruh terhadap pertimbangan

orang yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi tersebut, karena

adanya penghilangan atau salah saji itu.

Pertimbangan Awal Tentang Materialitas

Auditor melakukan pertimbangan awal tentang tingkat materialitas

dalam perencanaan auditnya. Pertimbangan materialitas mencakup

pertimbangan kuantitatif yang berkaitan dengan hubungan salah saji dengan

jumlah kunci tertentu dalam laporan keuangan dan kualitatif yang berkaitan

dengan penyebab salah saji.


Dalam perencanaan suatu audit, auditor harus menetapkan materialitas

pada dua tingkat berikut ini, yakni tingkat laporan keuangan (karena pendapat

auditor atas kewajaran mencakup laporan keuangan sebagai keseluruhan) dan

tingkat saldo akun (karena auditor memverifikasi saldo akun dalam mencapai

kesimpulan menyeluruh atas kewajaran laporan keuangan).

Faktor yang harus dipertimbangkan dalam melakukan pertimbangan

awal tentang materialitas pada setiap tingkat dijelaskan berikut ini :

a. Materialitas pada Tingkat Laporan Keuangan

Auditor menggunakan dua cara dalam menerapkan materialitas.

Pertama, auditor menggunakan materialitas dalam perencanaan audit dan

kedua, pada saat mengevaluasi bukti audit dalam pelaksanan audit. Pada

saat merencanakan audit, auditor perlu membuat estimasi materialitas

karena terdapat hubungan terbalik antara jumlah dalam laporan keuangan

yang dipandang material oleh auditor dengan jumlah pekerjaan audit

yang diperlukan untuk menyatakan kewajaran laporan keuangan.

Laporan keuangan mengandung salah saji material jika laporan

tersebut berisi kekeliruan atau kecurangan yang dampaknya, secara

individual atau secara gabungan, sedemikian signifikan sehingga

mencegah penyajian secara wajar laporan keuangan tersebut sesuai

dengan prinsip akuntansi berterima umum. Dalam keadaan ini, salah saji

dapat terjadi sebagai akibat penerapan secara keliru prinsip akuntansi

berterima umum di Indonesia, penyimpangan dari fakta, atau

penghilangan informasi yang diperlukan.


Dalam perencanaan audit, auditor harus menyadari bahwa terdapat

lebih dari satu tingkat materialitas yang berkaitan dengan laporan

keuangan. Kenyataannya, setiap laporan keuangan dapat memiliki dari

satu tingkat materialitas. Untuk laporan laba-rugi, materialitasnya dapat

dihubungkan dengan total pendapatan, laba bersih usaha, laba bersih

sebelum pajak, atau laba bersih setelah pajak. Untuk neraca, materialitas

dapat didasarkan pada total aktiva, aktiva lancar, modal kerja, atau modal

saham.

Pertimbangan awal auditor tentang materialitas seringkali dibuat

enam sampai dengan sembilan bulan sebelum tanggal neraca. Oleh

karena itu, pertimbangan tersebut dapat didasarkan atas data laporan

keuangan yang dibuat tahunan. Sebagai alternatif, pertimbangan tersebut

dapat didasarkan atas hasil keuangan satu tahun atau lebih yang telah

lalu, yang disesuaikan dengan perubahan terkini, seperti keadaan

ekonomi umum dan trend industri.

Sampai dengan saat ini, tidak terdapat panduan resmi yang

diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia tentang ukuran kuantitatif

materialitas. Berikut ini diberikan contoh beberapa panduan kuantitatif

yang digunakan dalam praktik :

a. Laporan keuangan dipandang mengandung salah saji material jika

terdapat salah saji 5 % sampai 10 % dari laba sebelum pajak.

b. Laporan keuangan di pandang mengandung salah saji material jika

terdapat salah saji ½ % sampai 1 % dari total aktiva.


c. Laporan keuangan di pandang mengandung salah saji material jika

terdapat salah saji 1 % dari total pasiva.

d. Laporan keuangan di pandang mengandung salah saji material jika

terdapat salah saji ½ % sampai 1 % dari pendapatan bruto.

b. Materialitas pada Tingkat Saldo Akun

Materialitas pada tingkat saldo akun adalah salah saji minimum

yang mungkin terdapat dalam saldo akun yang dipandang sebagai salah

saji material. Konsep materialitas pada timgkat saldo akun tidak boleh

dicampuradukkan dengan istilah saldo akun material. Saldo akun

material adalah besarnya saldo akun yang tercatat, sedangkan konsep

materialitas berkaitan dengan jumlah salah saji yang dapat

mempengaruhi keputusan pemakai informasi keuangan.

Saldo suatu akun yang tercatat umumnya mencerminkan batas atas

lebih saji ( overstatement ) dalam akun tersebut. Oleh krena itu, akun

dengan saldo yang jauh lebih kecil dibandingkan materialitas seringkali

disebut sebagai tidak material mengenai risiko lebih saji. Namun, tidak

ada batas jumlah kurang saji dalam suatu akun dengan saldo tercatat yang

sangat kecil. Oleh karena itu, harus disadari oleh auditor, bahwa akun

yang kelihatannya bersaldo tidak material, dapat berisi kurang saji (

understatement ) yang melampaui materialitasnya.


Alokasi Materialitas Laporan Keuangan ke Akun

Bila pertimbangan awal auditor tentang materialitas laporan keuangan

dikuantifikasikan, penaksiran awal tentang materialitas untuk setiap akun

dapat diperoleh dengan mengalokasikan materialitas laporan keuangan ke

akun secara individual. Dalam melakukan alokasi, auditor harus

mempertimbangkan kemungkinan terjadinya salah saji dalam akun tertentu

dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk memverifikasi akun tersebut.

Hubungan Antara Materialitas, Risiko Audit, Bukti Audit

Berbagai kemungkinan hubungan antara materialitas, bukti audit, dan

risiko audit digambarkan sebagai berikut :

1. Jika auditor mempertahankan risiko audit konstan dan tingkat

meterialitas dikurangi, auditor harus menambah jumlah bukti audit yang

dikumpulkan.

2. Jika auditor mempertahankan tingkat materialitas konstan dan

mengurangi jumlah bukti audit yang dikumpulkan, risiko audit menjadi

meningkat.

3. Jika auditor menginginkan untuk mengurangi risiko audit, auditor dapat

menempuh salah satu dari tiga cara berikut ini :

a. Menambah tingkat meterialiras, sementara itu mempertahankan

jumlah bukti audit yang dikumpulkan.

b. Menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan, sementara itu

tingkat materialitas tetap dipertahankan.


c. Menambah sedikit jumlah bukti audit yang dikumpulkan dan tingkat

materialitas secara bersama-sama.

C. Evaluasi Temuan Audit

Penilaian temuan dilakukan auditor dengan dua tujuan: (1) menetapkan

jenis pendapat yang akan diberikan dan (2) menentukan apakah standar

auditing telah dipenuhi dalam audit. Untuk memenuhi tujuan-tujuan tersebut,

auditor melakukan langkah-langkah berikut:

1. Membuat penetapan akhir tentang materialitas dan risiko audit.

2. Mengevaluasi apakah terdapat keraguan substansial tentang kemampuan

perusahaan untuk melangsungkan usahanya (going concern).

3. Melakukan review teknis atas laporan keuangan.

4. Merumuskan pendapat dan membuat konsep laporan auditor.

5. Melakukan review akhir terhadap kertas kerja.

Membuat Penetapan Akhir tentang Materialitas dan Risiko Audit

Titik tolak dalam proses ini adalah menjumlahkan semua salah saji

yang ditemukan dalam pemeriksaan atas semua rekening yang tidak dikoreksi

oleh klien. Langkah berikutnya adalah menentukan pengaruh dari total salah

saji terhadap laba bersih dan terhadap total-total lainnya dalam laporan

keuangan yang ada kaitannya dengan salah saji tersebut, seperti misalnya

total aktiva lancar atau total hutang lancar.

Penentuan salah saji dalam suatu rekening harus meliputi komponen-

komponen berikut:
1. Salah saji tidak dikoreksi yang secara spesifik ditemukan melalui

pengujian substantif detail atas transaksi dan saldo-saldo.

2. Proyeksi salah saji tidak dikoreksi yang ditaksir melalui teknik sampling

audit.

3. Estimasi salah saji yang dideteksi melalui prosedur analitis dan

dikuantifikasi dengan prosedur audit lainnya.

Menilai Kelangsungan Hidup (Going Concern)

Auditor umumnya menilai apakah terdapat kesangsian besar tentang

kemampuan klien untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya

berdasarkan hasil pelaksanaan prosedur-prosedur audit yang normal baik

dalam tahap perencanaan, pengumpulan bukti, maupun penyelesaian audit.

Apabila auditor yakin bahwa terdapat kesangsian besar tentang kemampuan

klien untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam periode waktu

pantas, maka ia harus melakukan langkah-langkah berikut: (1) dapatkan

informasi tentang rencana manajemen yang ditujukan untuk mengurangi

pengaruh dari kondisi atau kejadian tersebut, dan (2) tentukan kemungkinan

rencana tersebut akan dapat diterapkan secara efektif.

Apabila setelah mengevaluasi rencana manajemen, auditor masih

berkesimpulan terdapat kesangsian besar tentang kemampuan klien untuk

mempertahankan kelangsungan hidupnya, maka auditor harus (1)

mempertimbangkan kecukupan pengungkapan tentang ketidakmampuan

perusahaan klien untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam


periode waktu pantas, dan (2) mencantumkan paragraf penjelasan (di bawah

paragraf pendapat) dalam laporan auditor untuk mencerminkan

kesimpulannya. Apabila auditor berpendapat bahwa kesangsian bear sudah

tidak ada, auditor masih harus mempertimbangkan kebutuhan akan

pengungkapan. Beberapa informasi yang perlu diungkapkan meliputi:

1. Kondisi atau kejadian yang bersangkutan yang telah memunculkan

kesangsian besar tentang kemampuan klien untuk mempertahankan

kelangsungan hidupnya selama periode waktu pantas.

2. Dampak yang mungkin terjadi sebagai akibat dari kondisi atau kejadian

tersebut.

3. Evaluasi manajemen mengenai signifikansi kondisi atau kejadian dan

faktor-faktor yang bisa mengurangi kesangsian tersebut.

4. Kemungkinan terhentinya operasi.

5. Informasi tentang kemungkinan pulihnya kembali keadaan perusahaan

klien, atau klasifikasi aktiva yang dicatat atau klasifikasi hutang.

Melakukan Review Teknis atas Laporan Keuangan

Kebanyakan kantor akuntan publik memiliki daftar pengecekan laporan

keuangan detail yang dikerjakan oleh auditor yang melakukan review atas

laporan keuangan. Daftar pengecekan yang telah dirampungkan selanjutnya

direview kembali oleh manajer atau partner yang ditunjuk dalam penugasan

yang bersangkutan. Daftar pengecekan meliputi hal-hal yang berhubungan


dengan bentuk dan isi setiap bagian pokok laporan keuangan beserta

pengungkapan-pengungkapannya.

Merumuskan Pendapat dan Membuat Konsep Laporan Audit

Sebelum sampai pada keputusan akhir tentang opini yang akan

diberikan, biasanya klien menyelenggarakan pertemuan dengan auditor.

Dalam pertemuan tersebut auditor melaporkan temuan-temuan secara lisan

dan memberikan alasan atas usulan penyesuaian dan/atau tambahan

pengungkapan. Sebaliknya, manajemen biasanya bertahan dengan pendapat

atas kemauannya. Apabila pada akhirnya dicapai kesepakatan untuk

melakukan perubahan, maka auditor bisa memberi pendapat wajar tanpa

pengecualian. Namun apabila tidak dicapai kesepakatan, maka auditor harus

memberi pendapat lain selain pendapat wajar tanpa pengecualian.

Melakukan Review Akhir atas Kertas Kerja

Review yang dilakukan partner atas kertas kerja dimaksudkan untuk

mendapat jaminan bahwa:

1. Pekerjaan yang dilakukan oleh para bawahan telah dilakukan dengan

cermat dan teliti.

2. Pertimbangan yang diberikan oleh bawahan cukup beralasan dengan

tepat sesuai dengan keadaan yang dihadapi.

3. Penugasan audit telah selesai dikerjakan sesuai dengan ketentuan-

ketentuan dalam perjanjian kerja.


4. Semua persoalan akuntansi, pengauditan, dan pelaporan yang

menimbulkan pertanyaan yang signifikan selama audit berlangsung telah

terpecahkan dengan memuaskan.

5. Kertas kerja mendukung pendapat auditor.

6. Standar auditing dan kebijakan serta prosedur pengendalian mutu yang

berlaku di kantor akuntan publik yang bersangkutan telah terpenuhi.


BAB III

PENUTUP

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa risiko audit adalah risiko

bahwa auditor mungkin tanpa sengaja telah gagal untuk memodifikasi pendapat

secara tepat mengenai laporan keuangan yang mengandung salah saji material.

Konsep keseluruhan mengenai risiko audit merupakan kebalikan dari

konsep keyakinan yang memadai. Semakin tinggi kepastian yang ingin diperoleh

auditor dalam menyatakan pendapat yang benar, semakin rendah risiko audit yang

akan ia terima.

Ada tiga komponen risiko audit, yakni:

1. Risiko Bawaan

2. Risiko Pengendalian

3. Risiko Deteksi

Pada tahap perencanaan auditnya, auditor pertama kali harus menentukan

risiko audit keseluruhan yang direncanakan, yang merupakan besarnya risiko yang

dapat ditanggung oleh auditor dalam menyatakan bahwa laporan keuangan

disajikan secara wajar, padahal kenyataannya, laporan keuangan tersebut berisi

salah saji material.

Karena audit mencakup pemeriksaan terhadap akun-akun secara individual,

risiko audit keseluruhan harus dialokasikan kepaada akun-akun yang berkaitan.

Risiko audit individual perlu ditentukan untuk setiap akun karena akun tertentu
seringkali sangat penting karena besar saldonya atau frekuensi transaksi

perubahan. Dari pengalaman audit di tahun sebelumnya, auditor dapat menaksir

risiko audit atas akun tertentu.

Materialitas adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi

akuntansi yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya, dapat mengakibatkan

perubahan atas atau pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan

kepercayaan terhadap informasi tersebut, karena adanya penghilangan atau salah

saji itu.

Auditor menggunakan dua cara dalam menerapkan materialitas. Pertama,

auditor menggunakan materialitas dalam perencanaan audit dan kedua, pada saat

mengevaluasi bukti audit dalam pelaksanan audit.

Laporan keuangan mengandung salah saji material jika laporan tersebut

berisi kekeliruan atau kecurangan yang dampaknya, secara individual atau secara

gabungan, sedemikian signifikan sehingga mencegah penyajian secara wajar

laporan keuangan tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum.

Bila pertimbangan awal auditor tentang materialitas laporan keuangan

dikuantifikasikan, penaksiran awal tentang materialitas untuk setiap akun dapat

diperoleh dengan mengalokasikan materialitas laporan keuangan ke akun secara

individual. Dalam melakukan alokasi, auditor harus mempertimbangkan

kemungkinan terjadinya salah saji dalam akun tertentu dengan biaya yang harus

dikeluarkan untuk memverifikasi akun tersebut.

Penilaian temuan dilakukan auditor dengan dua tujuan: (1) menetapkan jenis

pendapat yang akan diberikan dan (2) menentukan apakah standar auditing telah
dipenuhi dalam audit. Untuk memenuhi tujuan-tujuan tersebut, auditor melakukan

langkah-langkah berikut:

1. Membuat penetapan akhir tentang materialitas dan risiko audit.

2. Mengevaluasi apakah terdapat keraguan substansial tentang kemampuan

perusahaan untuk melangsungkan usahanya (going concern).

3. Melakukan review teknis atas laporan keuangan.

4. Merumuskan pendapat dan membuat konsep laporan auditor.

5. Melakukan review akhir terhadap kertas kerja.


DAFTAR PUSTAKA

Boynton, William C, et. al. 2007. Modern Auditing Edisi Ketujuh (Terjemahan).

Jakarta: Erlangga.