Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH TENTANG

“health promotion pada anak & remaja”

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 8

SITIFARADIBA NUR :16 3145 105 034

SUCI FITRI HANDAYANI : 16 3145 105 035

SURATMI M.ABUBAKAR : 16 3145 105 036

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES MEGA REZKY MAKASSAR
T.A 2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah Yang Maha Kuasa, atas rahmat dan karunia-
Nya jugalah tugas Keperawatan Anak “Health Promotion Pada Anak” ini dapat penulis
selesaikan.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi
dalam proses pembuatan makalah ini, terutama dosen pembimbing mata kuliah Keperawatan
Anak, yang telah memberi materi ini kepada mahasiswa agar bisa dibahas secara rinci dengan
tujuan agar semua mahasiswa dapat memahami materi mata kuliah ini.
Akhirnya, segala kritik, masukan, dan saran demi kesempurnaan tulisan ini kami terima
dengan semangat kebersamaan dan hati terbuka. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita
semua. Amiin.

Makassar,15 Mei 2018

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………………

DAFTAR ISI …………………………………………………………………

BAB I. PENDAHULUAN …………………………………………………..

A. Latar belakang …………………………………………………….


B. Tujuan …………………………………………………………….

BAB II. PEMBAHASAN …………………………………………………..

A. Health Promotion pada Anak …………………………………….


B. Health Promotion pada Remaja …………………………………..
C. Pencegahan Obesitas pada Anak dan Remaja ……………………

BAB III. PENUTUP ………………………………………………………..

A. Kesimpulan ……………………………………………………….
B. Saran ………………………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………….


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.
Menurut WHO, promosi kesehatan anak adalah proses membuat anak mampu meningkatkan
kontrol dan memperbaiki kesehatan mereka. Dengan demikian dapat diartikan sebagai
memperbaiki kesehatan, memajukan, mendorong, dan menempatkan kesehatan anak lebih tinggi
pada kebutuhan perorangan ataupun masyarakat umumnya. Karena itu, aspek promosi kesehatan
anak yang mendasar bahwa promosi kesehatan bertujuan untuk melakukan pemberdayaan
sehingga seorang anak mempunyai kepekaan yang lebih besar terhadap aspek-aspek kehidupan
mereka yang mempengaruhi kesehatannya, seperti dari segi nutrisi, gigi, istirahat dan tidur,
exercise dan aktifitas.
Periode usia sekolah merupakan periode klinis untuk penerimaan latihan perilaku dan
kesehatan menuju kehidupan dewasa yang sehat. Jika tingkat kognisi meningkat pada periode
ini, pendidikan kesehatan yang efektif harus dikembangkan dengan tapat. Promosi praktek
kesehatan yang baik merupakan tanggung jawab perawat.
Selama progam ini, perawat berfokus pada pengembangan perilaku yang secara positif
berpengaruh pada status kesehatan anak. Perawat dapat berperan untuk memenuhi tujuan
kebijakan nasional dengan menigkatkan kebiasaan gaya hidup yang sehat termasuk nutrisi. Anak
usia sekolah harus berpartisipasi dalam progam pendidikan yang memungkinkan mereka untuk
merencanakan, memilih dan menyajikan makanan yang sehat. Perawat juga mengikutsertakan
orang tua tentang peningkatan kesehatan yang tepatbagi anak usia sekolah. Orang tua perlu
mengenali pentingnya kunjungan pemeliharaan kesehatan

B. Tujuan
Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami health promotion pada anak dan remaja
BAB II

PEMBAHASAN

A. Health Promotion pada Anak


Masalah kesehatan pada anak cukup bervariasi. Obesitas, kebersihan dan kesehatan gigi, perilaku
jajan makanan, mencuci tangan dengan sabun dan sebagainya merupakan bukti diperlukannya
promosi kesehatan di masa anak-anak (Childhood Health Promotion). Program-program dalam
promosi kesehatan bertujuan agar individu menerapkan perilaku sehat serta mempersuasi
individu agar meninggalkan kebiasaan tidak sehat (unhealthful habits) yang selama ini
dijalaninya, dan hal ini seringkali membutuhkan upaya memodifikasi keyakinan-keyakinan sehat
(health beliefs)
Beberapa metode dalam promosi kesehatan mencakup :
1. Fear arousing,
2. Penyediaan informasi dan
3. Metode perilaku.

Meskipun tanggung jawab utama sekolah adalah untuk mendidik anak dalam bidang akademik,
namun partisipasi sekolah dalam mempromosikan keterampilan hidup sehat pada anak-anak,
seperti aktivitas fisik dan perilaku makan diketahui cukup efektif. Pelaksanaan promosi
kesehatan untuk anak di sekolah dilakukan melalui kegiatan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat). Adapun indikator PHBS di sekolah adalah

1. Mencuci tangan memakai sabun,


2. Mengkonsumsi jajanan sehat,
3. Menggunakan jamban yang bersih dan sehat,
4. Olahraga yang teratur dan terukur,
5. Memberantas jentik nyamuk
6. Tidak merokok di sekolah,
7. Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan dan
8. Membuang sampah pada tempatnya.
Beberapa indikator PHBS diatas merupakan masalah kesehatan yang ada pada anak-anak dan
dapat diatasi melalui kegiatan promosi kesehatan. Agar kegiatan program promosi kesehatan
efektif perlu dibuat suatu strategi dalam pelaksanaanya seperti pemilihan media sebagai alat
bantu kegiatan promosi kesehatan serta strategi penyampaian materi dalam kegiatan promosi
kesehatan

B. Health Promotion pada Remaja


1. Masa remaja
Masa remaja (adolescence) merupakan masa transisi atau perubahan dari masa anak-anak ke
masa dewasa yang diawali dengan masa pubertas. Pada masa ini terjadi banyak perubahan yang
berlangsung cepat dalam hal perubahan fisik, kognitif dan psikososial/tingkah laku. Perubahan-
perubahan tubuh secara fisik disebabkan karena pengaruh hormonal, pekembangan kognitif juga
menunjukkan kemajuan berupa kemampuan berfikir dalam artian dapat memahami akibat dari
perbuatan/tingkah laku serta dapat melakukan beberapa tindakan secara serentak (Machfoedz,
2009) 1)
Tahapan remaja Menurut (Notoatmodjo, 2005) tahapan remaja dibagi menjadi 3, yaitu :

a. Remaja awal (10-14 tahun)


Memiliki karakteristik:
 Kekhawatiran pada body image
 Mempercayai dan menghargai orang dewasa
 Kekhawatiran tentang hubungan dengan teman sebaya

b. Remaja menengah (15-18 tahun)


Memiliki karakteristik:
 Sangat dipengaruhi oleh teman sebaya
 Kehilangan kepercayaan pada orang dewasa
 Mencoba mandiri sering tampak dalam bentuk penolakan terhadap pola makan keluarga
c. Remaja lanjut (19-24 tahun)
Memiliki karakteristik:
 Merencanakan masa depan dan bersifat lebih mandiri
 Telah mempunyai persepsi terhadap body image

2. Masalah remaja puteri Masalah yang dialami remaja puteri antara lain:
 Makan tidak teratur
 Kehamilan
 Gangguan makan
 Obesitas/ kegemukan
 Alcohol dan penyalahgunaan obat
 Jerawat

Sebagai tenaga kesehatan salah satunya tentu harus memiliki kompetensi sebagai educator,
fasilitator, advocator dan motivator. Pendidikan kesehatan/ promosi kesehatan yang
dilaksanakan pada remaja adalah pentingnya pendidikan mengenai kesehatan reproduksi
wanita dan masalah gizi pada remaja.

Promosi kesehatan menggunakan pendekatan pada klien sebagai pusat dalam pemberian
pelayanan dan membantu mereka untuk membuat pilihan dan keputusan.
Istilah “promosi kesehatan” merupakan suatu payung dan digunakan untuk menggambarkan
suatu rentang aktivitas yang mencakup pendidikan kesehatan dan pencegahan penyakit
(Gillies,
Ada tiga tingkatan dari pendidikan kesehatan menurut Gillies:
Primary Health education, tujuannya tidak hanya mencegah perubahan kesehatan tetapi juga
meningkatkan kualitas kesehatan, dengan demikian kualitas hidup, nutrisi, kontrasepsi dan
hubungan seksual secara aman, dan pencegahan kecelakaan dengan menggunakan helm.
Secondary health education, tujuannya adalah untuk membantu individu dengan masalah
kesehatan yang reversible untuk menyesuaikan dengan gaya hidupnya, contohnya berhenti
merokok,merubah kebiasaan makan dan olahraga Tertiary health education, tujuannya untuk
membantu individu yang sakit dan tidak sembuh total sehingga mereka dapat melewati hidup
dengan sesuai kemampuan yang dimiliki.
Contohnya anak yang menderita asma, epilepsi, bronchitis kronik dan kanker
Remaja didefinisikan sebagai:

1. Masa peralihan dari anak-2 menuju dewasa


2. Umumnya antara usia 10-19 tahun
3. Merupakan periode kematangan seksual yang merubah anak secara biologi menjadi
dewasa yang memiliki kemampuan bereproduksi
4. Merupakan perkembangan psikologi dan sosio-ekonomi.
5. Dengan kata lain merupakan periode transisi, tumbuh, kembang dan “kesempatan”

C. Pencegahan Obesitas pada Anak dan Remaja

Obesitas menyumbang terjadinya beban gizi ganda masyarakat disamping kasus malnutrisi.
Obesitas merupakan masalah kesehatan dunia yang semakin sering ditemukan di berbagai
negara. Prevalensi overweight dan obes pada anak di dunia meningkat dari 4,2% (1990) menjadi
6,7% (2010), dan diperkirakan akan mencapai 9,1% di tahun 2020. Peningkatan prevalensi
obesitas juga diikuti dengan peningkatan prevalensi komorbiditas, seperti peningkatan tekanan
darah, aterosklerosis, dan sindrom metabolik (IDAI, 2014). Permasalahan ini memperlihatkan
bahwa obesitas pada anak dan remaja tidak bisa dianggap remeh. Mengingat bahwa anak dan
remaja merupakan generasi penerus bangsa yang harus senantiasa ditingkatkan kesehatan dan
kualitas hidupnya. Oleh karena itu, obesitas perlu dicegah sejak dini. Berikut adalah penjelasan
tentang pencegahan obesitas pada anak dan remaja.

Dampak dari Obesitas

IDAI (2014) menyatakan peningkatan prevalensi obesitas berbanding lururs dengan peningkatan
prevalensi komorbiditas, seperti peningkatan tekanan darah, aterosklerosis, hipertrofi ventrikel
kiri, sumbatan jalan napas saat tidur (obstructive sleep apnea), asma, sindrom polikistik ovarium,
diabetes melitus tipe-2, perlemakan hati, abnormalitas kadar lipid darah (dislipidemia), dan
sindrom metabolik.
Berbagai penelitian yang telah dilakukan di Indonesia mendapatkan hasil keterkaitan antara
obesitas dengan beberapa gangguan kesehatan , yaitu :

1. anak dan remaja obes sudah mengalami komorbiditas seperti hipertensi, dislipidemia,
peningkatan kadar SGOT dan SGPT, dan uji toleransi glukosa yang terganggu
2. prevalensi dislipidemia sebesar 45% ditemukan pada anak obes usia sekolah dasar di
Surakarta dan anak obes berisiko lebih tinggi mengalami dislipidemia dibandingkan anak
tidak obes
3. kecepatan aliran ekspirasi puncak (peak expiratory flow rate/PEFR) anak obes lebih
rendah dibandingkan anak tidak obes bahkan sebelum aktivitas fisik
4. gangguan emosional dan perilaku berdasarkan Child Behavior Checklist (CBCL) dan
17-item Pediatric Symptom Checklist (PSC- 17) berturut-turut ditemukan pada 28% dan
22% anak obes. Masalah terbanyak yang ditemukan adalah gangguan internalisasi seperti
menarik diri, keluhan somatik, kecemasan, ataupun depresi
5. sebesar 32,5% anak obes mengalami ketidakmatangan social
6. resistensi insulin ditemukan pada 47% anak laki-laki superobes berusia 5-9 tahun19 dan
38% remaja obes
7. remaja obes berisiko lebih tinggi mengalami defisiensi besi dibandingkan remaja tidak
obes
8. ketebalan tunika intima media arteri karotis, kadar profil lipid, tekanan darah sistolik dan
diastolik remaja obes lebih tinggi dibandingkan dengan remaja tidak obes
9. tiga penelitian yang dilakukan di Jakarta dan Manado mendapatkan prevalensi sindrom
metabolik pada remaja obes berturut-turut 19,6%20, 34%23, dan 23%24, sedangkan
prevalensi sindrom metabolik pada anak laki-laki superobes sebesar 42%.

1. Pencegahan Primer

Promosi kesehatan tentang pola hidup sehat pada semua anak dan remaja beserta orang tuanya

Pendekatan pada kelompok berisiko (anak dengan berat badan berlebih/ anak yang memiliki
riwayat obesitas dari orang tua) sebagai berikut :

Mendorong pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif sampai usia 6 bulan dan meneruskan
pemberian ASI sampai usia 12 bulan dan sesudahnya setelah pengenalan makan padat dimulai
Mendorong orangtua untuk menawarkan makanan baru secara berulang serta menghindari
minuman manis dan makanan selingan (french fries dan potato chips)

Tidak meletakkan televisi di dalam kamar tidur anak

Pengasuh selain orangtua harus menerapkan strategi yang dianjurkan

Pada anak berusia 12-24 bulan, strategi pencegahan obesitas yang dianjurkan adalah:

Menghindari minuman manis, konsumsi jus dan susu yang berlebih. Konsumsi susu > 480-720
mL/hari dapat menambah energi ekstra atau menggantikan nutrien lainnya

Makan bersama di meja makan dengan anggota keluarga lainnya sebanyak 3x/hari dan TV
dimatikan selama proses makan bersama

Keluarga tidak membatasi jumlah makanan dan selingan yang dikonsumsi anak, tetapi
memastikan bahwa semua makanan yang tersedia sehat serta cukup buah dan sayuran

Selingan dapat diberikan sebanyak 2 kali, dan orangtua hanya menawarkan air putih bila anak
haus diantara selingan dan makan padat

Anak harus mempunyai kesempatan bermain aktif, membatasi menonton televisi atau DVD,
serta tidak meletakkan televisi di dalam kamar tidur anak

Orangtua dapat menjadi model untuk membantu anak belajar lebih selektif dan sehat terhadap
makanan yang dikonsumsi. Orangtua berperan aktif dalam pendidikan media anak dengan
menemani anak saat menonton program televisi dan mendiskusikan acara tersebut dengan anak

Membuat jadwal penggunaan media, membatasi waktu menonton <1-2 jam/hari dan mengurangi
pajanan media

2. Pencegahan Sekunder

Melakukan pemantauan berat badan secara rutin pada anak dan remaja. Pemantauan Berat Badan
(BB) anak pada usia 0 – 5 tahun harus selalu dipantau salah satu caranya yaitu dengan megikuti
kegiatan posyandu agar berat badan terpantau untuk selalu dalam BB normal, tidak hanya berat
badan namun pertumbuhaan perkembangan anak pun akan terpantau dengan mengikuti kegiatan
posyandu. Sedangkan pada remaja bisa dengan menyediakan timbangan badan di rumah.

3. Pencegahan tersier

Pencegahan tersier dilakukan dengan mencegah komorbiditas yang dilakukan dengan menata
laksana obesitas pada anak dan remaja. Tata laksana obesitas pada anak dan remaja dilakukan
dengan pengaturan diet, peningkatan aktivitas fisik, mengubah pola hidup (modifikasi perilaku),
dan terutama melibatkan keluarga dalam proses terapi. Sulitnya mengatasi obesitas
menyebabkan kecenderungan untuk menggunakan jalan pintas, yaitu diet rendah lemak dan
kalori, diet golongan darah atau diet lainnya serta berbagai macam obat. Hal ini sebisa mungkin
dihindari karena penggunaan diet rendah kalori dan lemak dapat menghambat tumbuh kembang
anak terutama di masa emas pertumbuhan otak, sedangkan diet golongan darah ataupun diet
lainnya tidak terbukti. Penggunaan obat bisa dipertimbangkan pada anak dan remaja obes dengan
penyakit penyerta yang tidak memberikan respons pada terapi konvensional.

Demikian informasi tentang pencegahan obesitas pada anak dan remaja. Mari kita sayangi
generasi penerus, hindarkan mereka dari obesitas dengan memberikan gizi sehat dan seimbang
serta menerapkan pola hidup sehat sejak dini.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Pemberian promosi kesehatan pada infant dapat diberikan dengan memberikan
pendidikan kesehatan pada orang tua terutama pada ibu, maupun keluarga. Dengan
pemberian promosi kesehatan pada ibu terhadap pentinnya pemberian ASI eksklusif
dapat meningkatkan status kesehatan bayi. Selain itu saat usia balita diperlukan
untuk dilakukan imunisasi lengkap guna menghindarkan balita dari infeksi penyakit.
Pemberian imunisasi yang tepat dan sesuai dengan tingkat tumbuh kembang balita
dapat meningkatkan sstatus imunitas dan menghindariakn dari infeksi penyakit yang
dapat berdampak pada kecacatan.
B. Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna. Kedepannya penulis akan
lebih fokus dan detail dalam menjelaskan tentang makalah diatas dengan sumber-
sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat dipertanggung jawabkan
DAFTAR PUSTAKA

https://www.neliti.com/journals/jurnal-promosi-kesehatan-indonesia?page=2

http://journal.unair.ac.id/download-rullpapers-jupromkesfe0d40c082full.pdf