Anda di halaman 1dari 13

REKAYASA IDE

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK


“Solusi Pemecahan Masalah Siswa Yang Membolos Ke Sekolah”

Dosen Pengampu: Aisiah S.Pd., M.Pd


Ishaq Matondang S.Psi., Mm., M.Psi

DISUSUN OLEH :
GLORY MEI SHINTA SIAHAAN (7173144011)
PETRA NABABAN (7173344041)
SABRIMAL (7172144018)
SARTIKA FRESILLIA SIHOMBING (7172144019)
YOSI CICILIA SEMBIRING (7173344060)

PENDIDIKAN ADMINISTRASI PERKANTORAN


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2017

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat
dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas Rekayasa Ide Mata Kuliah Perkembangan
Peserta Didik ini dengan baik, meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga penulis
berterima kasih pada Ibu Asiah S.Pd., M.Pd selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah
Perkembangan Peserta Didik yang telah memberikan tugas ini kepada penulis.

Makalah ini berisikan ulasan-ulasan tentang Solusi pemecahan masalah pembolosan ke


sekolah.

Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan
dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, penulis berharap adanya kritik, saran dan usulan
demi perbaikan makalah yang telah kami buat dimasa yang akan datang, mengingat tidak ada
sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga Rekayasa Ide ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya
laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi penulis maupun orang yang membacanya.
Penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan penulis
memohon kritik dan saran yang membangun dari saudara/i demi perbaikan makalah ini di
waktu yang akan datang.

Medan, 07 Desember 2017

Penulis

Kelompok

Rekayasa Ide Perkembangan Peserta Didik| 1


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................1

DAFTAR ISI..............................................................................................................................2

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................ 2

1.1. Latar Belakang Masalah .................................................................................................... 2

1.2. Rumusan Masalah ............................................................................................................. 3

1.3. Tujuan ................................................................................................................................ 3

1. 4. Manfaat ..............................................................................................................................4

BAB II PEMBAHASAN ..........................................................................................................5


2.1.1. Pengertian Membolos .....................................................................................................5

2.1.2. Faktor– Faktor Penyebab Siswa Membolos ....................................................................5

2.1.3. Akibat yang Ditimbulkan oleh Peserta Didik yang Membolos ...................................... 7

2.1.4. Tindakan yang Dapat Dilakukan Untuk Menangani Peserta Didik yang Suka
Membolos...................................................................................................................................8

BAB III REKAYASA IDE .....................................................................................................10

BAB IV PENUTUP ............................................................................................................... 11

4.1. Kesimpulan ...................................................................................................................... 11

4.2. Saran ................................................................................................................................ 11

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 12

Rekayasa Ide Perkembangan Peserta Didik| 2


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Kenakalan siswa merupakan suatu bentuk perilaku siswa yang menyimpang dari aturan
sekolah. Kenakalan siswa banyak macamnya. Salah satunya ialah membolos atau masuk tidak
teratur. Membolos disebut kenakalan remaja karena membolos sudah merupakan perilaku
yang mencerminkan telah melanggar aturan sekolah. Perilaku membolos sebenarnya bukan
merupakan hal yang baru lagi bagi banyak pelajar. Setidaknya bagi mereka yang pernah
mengenyam pendidikan. Hal ini disebabkan kerena perilaku membolos itu sendiri telah ada
sejak dulu. Tindakan membolos dikedepankan sebagai sebuah jawaban atas kejenuhan yang
sering dialami oleh banyak siswa terhadap kurikulum sekolah. Tidak hanya di kota-kota besar
saja siswa yang terlihat sering membolos, bahkan sekolah yang letaknya di daerah-daerah pun
prilaku membolos sudah menjadi kegemaran. Banyak siswa yang sering membolos bukan
hanya di sekolah - sekolah tertentu saja tetapi banyak sekolah mengalami hal yang sama. Hal
ini juga sering kali membuat peserta didik ikut serta terlibat pada hal - hal yang cenderung
merugikan. Betapa seriusnya perilaku membolos ini perlu mendapat perhatian penuh dari
berbagai pihak. Bukan saja hanya perhatian yang berasal dari pihak sekolah, melainkan juga
perhatian yang berasal dari orang tua, teman maupun pemerintah, Apabila hal ini terus menerus
dibiarkan berlalu, maka yang bertanggung jawab atas semua ini bukan saja dari siswa itu
sendiri melainkan dari pihak sekolah ataupun guru yang menjadi orang tua di sekolah juga akan
ikut menanggungnya.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang akan dibahas ialah :

1. Apa pengertian dari membolos ?


2. Apa saja faktor - faktor yang menjadi penyebab siswa membolos ?
3. Apakah akibat yang akan ditimbulkan oleh siswa yang suka membolos ?

1.3. Tujuan

Rekayasa Ide Perkembangan Peserta Didik| 3


Adapun tujuan dari rekayasa ini adalah:

1. Untuk menjelaskan pengertian dari membolos.


2. Untuk mengetahui apa saja faktor - faktor yang menjadi penyebab siswa membolos.
3. Untuk mengetahui dampak atau akibat yang akan ditimbulkan pada siswa yang suka
membolos.
4. Untuk mengetahui bagaimana mengatasi siswa yang suka membolos.

1.4. Manfaat

Bagi pembaca, rekayasa ide ini dapat dimanfaatkan sebagai penambah ilmu
pengetahuan mengenai bagaimana mengatasi pemasalahan membolos pada pelajar/siswa.

Rekayasa Ide Perkembangan Peserta Didik| 4


BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Membolos

Membolos dapat diartikan tidak masuk sekolah tanpa keterangan, tidak masuk sekolah
beberapa hari, dari rumah berangkat tapi tidak sampai ke sekolah, dan meninggalkan sekolah
pada jam pelajaran. Membolos sekolah mungkin merupakan salah satu budaya dalam
pendidikan di Indonesia. Seringkali kita mendapati permasalahan yaitu anak-anak sekolah
yang masih berseragam berkeliaran di luar sekolah pada jam sekolah. Anehnya lagi pada zaman
sekarang bukan hanya anak laki-laki saja yang melestarikan kebudayaan membolos tetapi anak
perempuan juga sudah mulai terbiasa melakukan kegiatan membolos juga. Padahal membolos
merupakan salah satu bentuk dari kenakalan siswa, yang jika tidak segera diselesaikan atau
dicari solusinnya dapat menimbulkan dampak yang lebih parah. Oleh karena itu penanganan
masalah terhadap siswa yang suka membolos menjadi perhatian yang sangat serius.
Penanganan tidak saja dilakukan oleh sekolah, tetapi pihak keluarga juga perlu dilibatkan.
Malah terkadang penyebab utama siswa membolos lebih sering berasal dari dalam keluarga itu
sendiri. Jadi komunikasi antara pihak sekolah dengan pihak keluarga menjadi sangat penting
dalam pemecahan pemasalahan

2.1.1. Faktor – Faktor Penyebab Siswa Membolos

Penyebab pemasalahan siswa membolos dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor.


Beberapa faktor-faktor penyebab siswa membolos dapat dikelompokkan menjadi 2 faktor,
yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam
diri siswa bisa berupa karakter siswa yang memang suka membolos, sekolah hanya dijadikan
tempat mangkal dari rutinitas-rutinitas yang membosankan di rumah. Sementara itu, faktor
eksternal adalah faktor yang dipengaruhi dari luar siswa, misalnya kebijakan sekolah yg tidak
berdamai dengan kepentingan siswa, guru yang tidak profesional, fasilitas penunjang sekolah
misal laboratorium dan perpustakaan yang tidak memadai, bisa juga kurikulum yang kurang
bersahabat sehingga mempengaruhi proses belajar di sekolah.

Rekayasa Ide Perkembangan Peserta Didik| 5


Selain faktor internal dan faktor eksternal, Faktor pendukung munculnya perilaku
membolos sekolah pada remaja juga dapat dikelompokkan sebagai berikut.

A. Faktor Keluarga

Mungkin kita pernah mendengar ada siswa yang tidak diperbolehkan masuk sekolah oleh
orang tuanya. Untuk suatu alasan tertentu mungkin hal ini dianggap paling efisien untuk
mengatasi krisis atau permasalahan dalam keluarganya. Misalkan kakaknya sakit, sementara
kedua orang tuanya harus pergi bekerja mencari nafkah. Untuk menemani kakaknya tersebut
maka adiknya terpaksa tidak masuk sekolah. Untuk alasan tersebut bolehlah sang adik tidak
masuk sekolah. Tapi yang menjadi masalah terkadang anak tersebut tidak membuat surat izin
kepada pihak sekolah, sehingga pihak sekolah tidak tahu duduk permasalahannya. Yang
mereka tahu si A membolos. Sementara dampaknya bagi anak tersebut ialah ia harus
kehilangan waktu belajarnya. Jika hal ini menjadi kebiasaan (membolos), lambat laun siswa
tersebut tidak peduli lagi dengan peraturan. Ia akan berbuat seenaknya, terserah mau masuk
atau tidak.

B. Kurangnya Kepercayaan Diri

Sering rasa kurang percaya diri menjadi penghambat segala aktifitas. Faktor utama
penghalang kesuksesan ialah kurangnya rasa percaya diri. Ia mematikan kreatifitas siswa.
Meskipun begitu banyak ide dan kecerdasan yang dimiliki siswa, tetapi jika tidak berani atau
merasa tidak mampu untuk melakukannya sama saja percuma. Perasaan diri tidak mampu dan
takut akan selalu gagal membuat siswa tidak percaya diri dengan segala yang dilakukannya.
Terkadang ia merasa tidak mampu dengan mata pelajaran matematika, tetapi ia mampu pada
mata pelajaran biologi. Pada mata pelajaran yang ia tidak suka, ia cenderung berusaha untuk
menghindarinya, sehingga ia akan pilih-pilih jika akan masuk sekolah. Sementara itu siswa
tidak menyadari bahwa dengan tidak masuk sekolah justru membuat dirinya ketinggalan materi
pelajaran.

C. Perasaan yang Termarginalkan

Perasaan tersisihkan tentu tidak diinginkan semua orang. Tetapi kadang rasa itu muncul
tanpa kita inginkan. Seringkali anak dibuat merasa bahwa ia tidak diinginkan atau diterima di

Rekayasa Ide Perkembangan Peserta Didik| 6


kelasnya. Perasaan ini bisa berasal dari teman sekelas atau mungkin gurunya sendiri dengan
sindiran atau ucapan. Siswa yang ditolak oleh teman-teman sekelasnya, akan merasa lebih
aman berada di rumah. Ada siswa yang tidak masuk sekolah karena takut oleh ancaman
temannya. Ada juga yang diacuhkan oleh teman-temannya, ia tidak diajak bermain, atau
mengobrol bersama. Penolakan siswa terhadap siswa lain dapat disebabkan oleh faktor tertentu,
misalnya faktor SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan).

D. Faktor yang Berasal dari Sekolah

Tanpa disadari, pihak sekolah bisa jadi menyebabkan perilaku membolos pada remaja,
karena sekolah kurang memiliki kepedulian terhadap apa yang terjadi pada siswa. Awalnya
barangkali siswa membolos karena faktor personal atau permasalahan dalam keluarganya.
Kemudian masalah muncul karena sekolah tidak memberikan tindakan yang konsisten, kadang
menghukum kadang menghiraukannya. Selanjutnya, faktor lain yang perlu diperhatikan pihak
sekolah adalah kegiatan belajar mengajar yang berlangsung di sekolah. Dalam menghadapi
siswa yang sering membolos, pendekatan individual perlu dilakukan oleh pihak sekolah. Jadi,
dapat dikatakan bahwa faktor sekolah merupakan faktor yang berisiko meningkatkan
munculnya perilaku membolos pada remaja, yaitu antara lain kebijakan mengenai pembolosan
yang tidak konsisten, interaksi yang minim antara orang tua siswa dengan pihak sekolah, guru-
guru yang tidak suportif, atau tugas-tugas sekolah yang kurang menantang bagi siswa.

2.1.2. Akibat yang Ditimbulkan oleh Peserta Didik yang Membolos

Anak yang dapat ke sekolah tapi sering membolos, akan mengalami kegagalan dalam
pelajaran. Meskipun dalam teori guru harus bersedia membantu anak mengejar pelajaran yang
ketinggalan, tetapi dalam prakteknya hal ini sukar dilaksanakan. Kelas berjalan terus. Bahkan
meskipun ia hadir, ia tidak mengerti apa yang diajarkan oleh guru, karena ia tidak mempelajari
dasar-dasar dari mata pelajaran-mata pelajaran yang diperlukan untuk mengerti apa yang
diajarkan. Selain mengalami kegagalan belajar, siswa tersebut juga akan mengalami
marginalisasi atau perasaan tersisihkan oleh teman-temannya. Hal ini kadang terjadi manakala
siswa tersebut sudah begitu “parah” keadaannya sehingga anggapan teman-temannya ia anak
nakal dan perlu menjaga jarak dengannya. Hal yang tidak mungkin terlewatkan ketika siswa
membolos ialah hilangnya rasa disiplin, ketaatan terhadap peraturan sekolah berkurang. Bila
diteruskan, siswa akan malas pada urusan sekolahnya. Dan yang lebih parah siswa dapat
dikeluarkan dari sekolah. Lalu karena tidak masuk, secara otomatis ia tidak mengikuti pelajaran
yang disampaikan guru. Akhirnya ia harus belajar sendiri untuk mengejar ketertinggalannya.

Rekayasa Ide Perkembangan Peserta Didik| 7


2.1.3. Tindakan yang Dapat Dilakukan Untuk Menangani Peserta Didik yang Suka
Membolos

Tindakan yang dapat dilakukan untuk menangani masalah peserta didik yang suka
membolos adalah sebagai berikut:

1. Dengan Mengetahui Faktor - Faktor Penyebabnya


Dengan mengetahui faktor-faktor penyebabnya, guru pembimbing sedikit tahu
bagaimana kondisi permasalahan siswa. Langkah selanjutnya ialah melalui
pendekatan supaya siswa yang membolos mau menerima arahan dari guru
pembimbing. Adapun jika siswa masih bersikap tertutup, tidak mau menceritakan
permasalahan mengapa ia membolos, maka pembimbing menggunakan cara lain
yaitu menanyakan pada teman dekatnya. Begitu semua informasi yang diperlukan
telah diperoleh, pembimbing langsung mengambil tindakan preventif dan
pengobatan. Seperti yang telah dikemukakan di atas, pencegahan tidak harus
melalui hukuman. Memberi nasehat dan arahan yang baik akan lebih mengena dari
pada membentak dan memarahinya. Tidak teraturnya anak masuk sekolah tidak
sepenuhnya terletak pada siswa. Ada banyak sebab yang terletak di luar kekuasaan
anak, atau yang kurang dikuasai anak. Jadi kegiatan membolos siswa tidak
sepenuhnya kesalahan siswa. Ada faktor dari luar yang juga turut andil dalam
pembolosan tersebut. Oleh karena itu, tugas guru BK selain memberi arahan pada
siswa juga mengkondisikan lingkungan sekolahnya sebaik mungkin supaya siswa
merasa betah berada di sekolah. Selain itu guru juga selalu menjalin komunikasi
dengan keluarga siswa ada kesepakatan dalam usaha mengatasi masalah anak.
2. Menerapkan Gerakan Disiplin
Gerakan disiplin ini difokuskan untuk memantau para pelajar yang membolos atau
pergi pada waktu jam-jam sekolah. Biasanya mereka berada di tempat keramaian
atau di tempat hiburan. Pelajar yang membolos selain merugikan dirinya sendiri
juga berpotensi untuk menimbulkan keresahan di masyarakat karena biasanya
pelajar yang suka membolos mempunyai tingkat kenakalan yang tinggi dan justru
sering mendekati kriminal seperti pengompasan pelajar yang lebih kecil atau
dibawahnya sampai dengan tawuran dan pesta miras. Sex bebas di kalangan pelajar

Rekayasa Ide Perkembangan Peserta Didik| 8


juga muncul dari fenomena bolos sekolah dimana orang tua sering kali tidak di
rumah karena harus bekerja dimanfaatkan untuk berbuat negatif. Fenomena bolos
sekolah ini sebenarnya tidak bisa dianggap remeh karena dari sinilah banyak hal
tentang kerusakan moral pelajar dimulai.
3. Sosialisasi Kepada Pengelola Hiburan
Pihak Dinas Pendidikan dibantu oleh Kesbanglinmas dan Satpol PP serta
berkoordinasi dengan Kepolisian harus terus mensosialisasikan kepada para
pengelola hiburan seperti Play Station untuk tidak menerima konsumen Pelajar
pada jam sekolah. Kebanyakan pelajar yang bolos sekolah ”bersembunyi” di sana.
Setelah sosialisasi dirasa cukup mungkin dengan penempelan stiker atau poster
tentang larangan pelajar bermain di waktu jam sekolah maka ditingkatkan menjadi
taraf pemantauan. Jika dari pihak pengelola masih membiarkan para pelajar bolos
bermain di situ maka dapat diberi peringatan ,jika peringatan tidak diindahkan
maka bisa dilakukan penyegelan sementara atau bahkan penutupan paksa
disesuaikan dengan aturan yang berlaku. Sesungguhnya yang paling dominan
dalam mempengaruhi siswa membolos adalah keberadaan guru. Guru yang ideal
harus berfungsi sebagai, Designer of Instruction. Sebagai Designer, guru harus
mampu membuat pembelajaran menarik dan tidak membosankan, tapi seperti yang
telah kita ketahui banyak guru yang tidak mampu sebagai peracik bahan-bahan
pengajaran yang kemudian dikemas dan di sajikan menarik kepada siswa, sehingga
pada gilirannya siswa merasa jenuh di kelas

Rekayasa Ide Perkembangan Peserta Didik| 9


BAB III

REKAYASA IDE

Melihat permasalahan membolos ini di kalangan pelajar harus ada penangan serius dari
pemerintah, kepala sekloah, guru dan orang tua di rumah. Kepala sekolah ditegaskan lebih
meningkatkan lagi dalam pelaksanaan rapat guru dalam kaitannya mengenai siswa membolos,
dan Lebih menekankan kepada guru untuk bekerjasama dalam proses penanggulangan masalah
perilaku membolos siswa. Dan juga di tekankan untuk guru agar memegang peran penting
mengawasi dan melihat kondisi siswa serta lingkungan. Bila pelajar kebiasaan bolos terus
menerus terjadi tentu akan sangat merugikan siswa itu sendiri. Bukan hanya sistem
pembelajaran yang ia lewatkan, sikap kedisplinan pada anak dan sekolah itu sendiripun juga
akan menurun, untuk itu Kewajiban sekolah, selain mengajar dalam arti hanya mengisi otak
pelajar dengan berbagai ilmu pengetahuan, juga berusaha membentuk pribadi anak menjadi
manusia yang prilaku sopan santun dan berkarakter baik. Mengajar tidak sekedar transfer
pengetahuan, tetapi lebih kepada usaha untuk membentuk pribadi santun dan mampu berdiri
sendiri. Sehingga jika terjadi suatu permasalahan pada siswa, pendidik atau pihak sekolah juga
turut memikirkannya, berusaha mencarikan jalan keluar.

Dan juga perlu tindakan tegas dari para aparat Satpol PP untuk sering melakukan
operasi agar menjadi sebuah shock therapy yang mempunyai efek jera bagi para pembolos dan
juga ketegasan dari pihak sekolah untuk mencegah siswanya bolos sekolah. Kalaupun siswa
harus keluar sekolah pada jam sekolah haruslah seijin sekolah dengan menggunakan surat ijin.

Rekayasa Ide Perkembangan Peserta Didik| 10


BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Membolos merupakan salah satu kenakalan siswa yang dalam penanganannya perlu
perhatian yang serius. Memang tidak sepenuhnya kegiatan membolos dapat dihilangkan, tetapi
usaha untuk meminimalisir tetap ada. Faktor - faktor yang menjadi penyebab siswa membolos
terbagi menjadi dua golongan, yaitu faktor internal dan eksternal. Akibat yang ditimbulkan
oleh siswa yang membolos adalah selain mengalami kegagalan belajar, siswa tersebut juga
akan mengalami marginalisasi atau perasaan tersisihkan oleh teman-temannya. Adapun peran
Bimbingan dan Konseling (BK) dalam hal mengatasi siswa yang suka membolos, yakni dengan
mengetahui faktor-faktor penyebab siswa membolos, menerapkan gerakan disiplin serta
sosialisasi kepada pengelola hiburan.

4.2. Saran

1. Untuk Kepala Sekolah

a. Kepala sekolah diharapkan lebih meningkatkan lagi dalam pelaksanaan rapat guru
dalam kaitannya mengenai siswa membolos sekolah.
b. Lebih menekankan kepada para guru untuk bekerjasama dalam proses penanggulangan
perilaku membolos siswa.

2. Untuk Guru

Rekayasa Ide Perkembangan Peserta Didik| 11


a. Harus melihat situasi dan kondisi siswa serta lingkungannya ketika akan memberikan
suatu sanksi atas pelanggaran yang siswa lakukan, jangan sampai pemberian sanksi
yang pada hakikatnya bertujuan agar pelaku tidak melakukan perbuatannya dikemudian
hari malah membuat pelaku lebih berontak.
b. Guru selalu berkreasi, berinovasi agar suasana kelas tercipta ceria menyenangkan dan
hidup.

3. Untuk Siswa

a. Lebih pintar dalam memilih rekan sepermainan.


b. Bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk untuk dirinya, baik untuk dimasa
sekarang ataupun untuk masa yang akan datang dilihat dari dampaknya.

DAFTAR PUSTAKA

http://hindrasetiaone.blogspot.co.id/2013/11/makalah-perkembangan-peserta-didik.html

http://hildayanisafitri.blogspot.co.id/2015/04/contoh-makalah-perkembangan-peserta.html

Rekayasa Ide Perkembangan Peserta Didik| 12

Anda mungkin juga menyukai