Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM MEKANIKA KAYU

Disusun oleh :

Berto Darmawan G1011171103


Fransiska Selvia Paula G1011171153
Insyaroh Nurul Adha G1011171231
Linda G1011171009
Muhammad Edwin G1011171177
Rendi Kusnadi G1011171225
Yulio Kaspa Ringgo G1011171327

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS TANJUNGPURA

PONTIANAK

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas Berkat dan RahmatNya lah sehingga
akhirnya LAPORAN PRAKTIKUM MEKANIKA KAYU yang membahas tentang “
MEKANIKA DAN FISIKA KAYU” ini dapat terselesaikan.

Laporan praktikum yang membahas tentang “ MEKANIKA DAN FISIKA KAYU” ini
ialah suatu laporan praktikum yang terbentuk dari hasil kerja sama kelompok dimana praktikum
ini merupakan aspek penilaian mata kuliah mekanika kayu.

Dalam penyelesaian laporan praktikum ini, kami banyak mengalami kesulitan. Namun
pada akhirnya laporan praktikum ini dapat di selesaikan meskipun masih terdapat banyak
kekurangan. Penyusunan laporan praktikum ini tak lepas dari dukungan dan bantuan dari
berbagai pihak,oleh karena itu pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih.

Kami menyadari bahwa laporan praktikum ini masih banyak memiliki kekurangan, oleh karena
itu kritik dan saran kami harapkan agar laporan ini dapat menjadi lebih baik lagi. Kami harapkan
untuk kemajuan masa-masa mendatang, harapan kami semoga laporan praktikum ini dapat
diambil manfaatnya oleh pembaca.

Pontianak, 24 November 2018

Penyusun
DAFTAR TABEL

1. Tabel.1 hasil pengukuran kerapatan……………………………………………………………

2. Tabel.2 hasil pengukuran kadar air…………………………………………………………….

3. Tabel 3 hasil pengukuran pengembangan tebal………………………………………………..

4. Tabel 4 hasil pengukuran penyerapan air……………………………………………………...

5. Tabel 5 hasil pengukuran kekerasan kayu……………………………………………………..


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..............................................................................................................

DAFTAR ISI ............................................................................................................................

DAFTAR TABEL .....................................................................................................................

DAFTAR GAMBAR ................................................................................................................

BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................................................

1.1 Latar Belakang ....................................................................................................................

1.2 Tujuan .................................................................................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..............................................................................................

2.1 Klasisikasi kayu ..................................................................................................................

2.2 Sifat Fisik Kayu ( penyerapan air, pengembangan tebal, kadar air dan kerapatan ) ...........

2.3 Sifat Mekanik Kayu ( kekerasan ) ......................................................................................

BAB III METODE KERJA ......................................................................................................

3.1 Watu dan Tempat ................................................................................................................

3.2 Bahan dan Alat ....................................................................................................................

3.3 Prosedur Kerja ....................................................................................................................

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................................................

4.1 Hasil Praktikum ..................................................................................................................

4.2 Pembahsan ..........................................................................................................................

BAB V PENUTUP ...................................................................................................................

5.1 Kesimpulan .........................................................................................................................

5.2 Saran ...................................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Kayu merupakan hasil hutan yang mudah diproses untuk dijadikan barang sesuai dengan
kemajuan teknologi. Kayu memiliki beberapa sifat yang tidak dapat ditiru oleh bahan-bahan lain.
Pemilihan dan penggunaan kayu untuk suatu tujuan pemakaian, memerlukan pengetahuan
tentang sifat-sifat kayu. Sifat-sifat ini penting sekali dalam industri pengolahan kayu sebab dari
pengetahuan sifat tersebut tidak saja dapat dipilih jenis kayu yang tepat serta macam penggunaan
yang memungkinkan, akan tetapi juga dapat dipilih kemungkinan penggantian oleh jenis kayu
lainnya apabila jenis yang bersangkutan sulit didapat secara kontinyu atau terlalu mahal.

Setiap kayu memiliki ciri tersendiri baik kimia, fisika maupun meknikanya. Faktor- faktor
yang mempengaruhi kekuatan kayu diantaranya factor biolgis (mikroorganisme yang dapat
menyerang kayu ), kadar air, berat jenis. Factor tersebut pada dasarnya dapat menipulasi kekuatan
kayu sehingga mempengaruhi kekuatan kayu yang dapat di pertahankan misanya pengawetan
dengan zat kimia pengeringan dan memanipulasi pertumbuhan.
Sifat mekanik kayu ialah kemampuan kayu untuk menahan muatan atau beban dari luar.
Muatan dari luar ialah gaya-gaya di luar benda yang mempunyai kecenderungan untuk mengubah
bentuk dan besarnya benda.
Gaya adalah setiap usaha yang cenderung untuk menggerakkan benda yang diam, atau
mengubah bentuk dan ukurannya, atau mengubah arah dan kecepatan benda yang bergerak.
Ada beberapa macam gaya yang dapat bekerja pada benda yang disebut gaya primer yaitu :
1. Gaya yang mengakibatkan pemendekan ukuran atau memperkecil volume benda disebut
gaya tekan (compressive stress)
2. Gaya yang cenderung untuk menambah dimensi atau volume benda disebut gaya tarik
(tensile stress)
3. Gaya yang mengakibatkan satu bagian benda bergeser terhadap bagian benda yang lain
disebut gaya geser (shearing stress)
4. Gaya lengkung (bending stress) adalah hasil kombinasi semua gaya primer yang
menyebabkan terjadinya pelengkungan.

Sifat mekanika biasanya merupakan syarat-syarat terpenting bagi pemilihan kayu sebagai
bahan struktural misalnya untuk konstruksi bangunan, palang-palang lantai, tiang listrik, kerangka
perabot rumah tangga, alat-alat olah raga, alat kedok-teran dan lain-lain.
Sifat mekanika kayu terdiri dari keteguhan tarik, keteguhan tekan/kompressi, keteguhan
geser, keteguhan lengkung (lentur), kekakuan, keuletan, kekerasan, dan keteguhan belah. Dalam
laporan ini, percobaan yang dilakukan khusus mengenai keteguhan lengkung (lentur).
Keteguhan lengkung/lentur adalah kekuatan untuk menahan gaya-gaya yang berusaha
melengkungkan kayu atau untuk menahan beban mati maupun hidup selain beban pukulan.
Terdapat 2 (dua) macam keteguhan yaitu :
a) Keteguhan lengkung statik, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya secara
perlahan-lahan.
b) Keteguhan lengkung pukul, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya secara
mendadak, misalnya pukulan.
Dengan mengetahui sifat-sifat mekanik kayu, kita dapat memastikan fungsi spesifik dari
suatu bahan dan kita bisa mengetahui bahan tersebut cocok digunakan untuk bidang tertentu.
Karena setiap bahan memiliki sifat-sifat
mekanik dan fisik yang berbeda maka pengetahuan tentang sifat-sifat ini adalah hal yang mutlak
untuk diketahui. Dalam praktikum ini kita akan mengetahui tentang salah satu sifat mekanik bahan
kayu, khususnya sifat kekuatan lentur. Dimana pada hasil akhirnya kita dapat mengetahui kekuatan
lentur dari suatu bahan yang kita uji.

1.2 Tujuan praktikum


Tujuan praktikum mekanika dan fisika kayu bertujuan untuk :
 Dapat mengukur dan menentukan nilai Keteguhan lengkung statis kayu
 Dapat mengukur kekerasan kayu
 Memahami cara penentuan kadar air dengan metode kering udara dan kering oven
pada kayu
 Memahami cara pengukuran dengan alat Moisture meter.
 Memahami cara penentuan kerapatan kayu
 Mengukur kerapatan kayu
 Memahami cara pengukuran dan penentuan perubahan dimensi kayu.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi kayu meranti putih, kayu mabang dan kayu kebaca

a. klasifikasi Meranti Putih

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Teales

Famili : Dipterocarpaceae

Genus : Shorea

Sepesies : Shorea leprosula Miq

b. Klasifikasi Mabang

Kingdom : Plantae

Divisi : Teracheophyta

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Spindales

Famili : Maliaceae

Genus : Swietenia jacq

Sepesies : Swietenia macrophylla King

c. Klasifikasi Pohon Kebaca

Kingdom : Plantae

Divisi : Angiospermae

Kelas : Rosidae
Ordo : Sapindales

Famili : Anacardiaseae

Genus : Gluta L

Spesies : Gluta renghas L.

2.2 Kayu

Pada SNI 03-3527-1994, dijelaskan Tentang Mutu dan Ukuran kayu bangunan, dijelaskan
defenisi kayu seperti berikut ini; Pengertian kayu disini ialah sesuatu bahan, yang diperoleh
dari hasil pohon-pohon di hutan, yang merupakan bagian dari pohon tersebut, setelah
diperhitungkan bagian-bagian mana yang lebih banyak dimanfaatkan untuk sesuatu tujuan
penggunaan. Baik berbentuk kayu pertukangan, kayu industri maupun kayu bakar. Kayu
merupakan hasil hutan dari kekayaan alam, merupakan bahan mentah yang mudah diproses
untuk dijadikan barang sesuai kemajuan teknologi. Kayu memiliki beberapa sifat sekaligus,
yang tidak dapat ditiru oleh bahan-bahan lain.

2.3 Kerapatan

Kayu telah menjadi bagian dari kehidupan manusia, karena kayu telah banyak digunakan
sebagai alat perlengkapan sehari-hari. Kayu sebagai bahan bangunan mempunyai kelebihan
dibanding bahan bangunan lainnya, tersedia hampir di seluruh dunia yang mudah diperoleh
dalam berbagai bentuk dan ukuran, secara alami mempunyai penampilan yang sangat
dekoratif, serta beratnya relatif ringan (behaviorurldefaultvmlo.html.2013)

Kayu adalah bahan yang terdiri dari sel-sel. Struktur yang terdiri atas sel tersebut
memberikan kayu banyak sifat-sifat dan ciri-ciri yang unik. Kerapatan adalah perbandingan
antara massa atau berat benda terhadap volumenya. Kerapatan kayu berhubungan langsung
dengan porositasnya, yaitu proporsi volume rongga kosong. Sekeping kayu segar dari cemara
dengan kerapatan 23,4 pon bahan kayu kering/kaki kubik berisi kira-kira 25 % bahan dinding
sel dan 75% rongga (terutama rongga sel) menurut volumenya. Sebaliknya, white oak dengan
kerapatan 46,8 pon kering/kaki kubik mempunyai volume rongga kira-kira 50%. Apabila
membicarakan kayu, sangat membantu untuk membayangkan volume rongga yang ada
hubungannya dengan itu. Orang dapat memahami mengapa suatu balok yang berisi 50%
volume rongga akan bertahan terhadap pemampatan jauh lebih besar daripada suatu balok
dari spesies yang berbeda dengan 75% rongga (Haygreen dan Bowyer, 1996).

2.3 Kadar Air

Yang dimaksud air dalam analisis proksimat adalah semua cairan yang menguap pada
pemanasan dalam beberapa waktu pada suhu 1050-1100C dengan tekanan udara bebas
sampai sisa yang tidak menguap mempunyai bobot tetap. Penentuan kandungan kadar air
dari suatu bahan sebetulnya bertujuan untuk menentukan kadar bahan kering dari bahan
tersebut (Kamal, 1998).

Sampel makanan ditimbang dan diletakkan dalam cawan khusus dan dipanaskan dalam oven
dengan suhu 1050C. Pemanasan berjalan hingga sampel tidak turun lagi beratnya. Setelah
pemanasan tersebut sampel bahan pakan disebut sebagai sampel bahan kering dan
penggunaanya dengan sampel disebut kadar air (Tillman et al., 1998).

Hijauan pakan segar berkadar air sangat tinggi, setelah dikeringkan 550C sampai beratnya
tetap diperoleh bahan pakan dalam kondisi kering udara disebut juga berat kering, kering
udara atau dry weight. Bahan pakan konsentrat pada umumnya berada pada kondisi kering
udara dan sering disebut kondisi asfed (keadaan apa adanya) (Utomo dan Soejono,1999).

2.4 Pengembangan Tebal Dan daya Serap air

Iswanto (2005) menjelaskan sifat pengembangan tebal papan partikel merupakan salah satu
sifat fisis yang akan menentukan suatu papan komposit yang digunakan untuk keperluan
interior dan eksterior. Apabila pengembangan tebal suatu papan komposit tinggi berarti
stabilitas dimensi produk tersebut rendah, sehingga produk tersebut tidak dapat digunakan
untuk keperluan eksterior dan sifat mekanisnya akan menurun dalam jangka waktu yang
tidak lama.

Menurut Standar Indonesia Tahun 1983, untuk papan partikel eksterior, pengembangan tebal
ditetapkan setelah direbus 3 jam, dan setelah direbus 3 jam kemudian dikeringkan dalam
oven 100 °C sampai berat contoh uji tetap. Ada papan partikel interior yang tidak diuji
pengembangan tebalnya, misalnya tipe 100 menurut Standar Indonesia Tahun 1996,
sedangkan untuk tipe 150 dan tipe 200 diuji pengembangan tebalnya. Menurut standar FAO,
pada saat mengukur pengembangan tebal ditetapkan pula penyerapan airnya (absorbsi).

Pada standar JIS A 5908 (2003) daya serap air tidak dipersyaratkan. Penggunaan bahan aditif
pada daya serap air mengakibatkan terjadinya penurunan daya serap air. Hal ini sesuai
dengan Han (1990) bahwa dengan adanya kehadiran DCP maka akan membentuk reaksi
dengan gugus OH. Adanya dua reaksi ini menyebabkan ikatan yang kuat antara partikel
kelapa sawit dengan plastik PE sehingga air atau uap air tidak mudah masuk kedalam papan
partikel.

Pada umumnya semakin tinggi sifat pengembangan tebal maka semakin tinggi pula
sifat daya serap air, dan begitu juga sebaliknya semakin rendah sifat pengembangan tebal
papan maka semakin rendah pula sifat daya serap airnya (Subiyanto, 2003).
BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 waktu dan tempat

1) Praktikum mekanika kayu tentang fisika kayu (kerapatan kayu dan kadar air kayu)
dilaksanakan:

Hari / tanggal : Kamis 20 september 2018

Waktu : 10.00-12.00 WIB

Tempat : Laboratorium pengolahan, fakultas kehutanan, universitas tanjung pura


Pontianak

2) Praktikum mekanika kayu tentang mekanika

Hari / tanggal : kamis 27 september 2018

Waktu : 10.00-12.00 WIB

Tempat : Laboratorium pengolahan, fakultas kehutanan, universitas tanjung pura


Pontianak

3.2 alat dan bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum mekanika kayu yaitu :

1. Sampel kayu mahang, kebaca dan meranti putih dengan ukuran 2cm x 2cm x2cm (3 buah
sampel), 2cm x 2cm x 4cm (3 buah sampel), 2cm x 2cm x 6 cm( 3 buah sampel)

2. Caliper

3. Timbangan analitik

4. Desikator

5. Moisture meter
6. Hardnes

7. Alat tulis dan lembar pengamatan

3.3 Langkah kerja

1. Kadar air kayu

Cara kerja :

Untuk pengujian dengan menggunakan moisture meter dengan menancapkan/menekan alat


tersebut pada sampel kayu ukuran 2cmx2cmx 2 cm, selanjutnya berapa nilai kadar air dapat
dilihat langsung pada alat tersebut.

2. Kerapatan kayu

Cara Kerja :

a. Kegiatan ini meneruskan dari pengukuran kadar air kayu

b. Mengukur volume kayu pada kondisi segar atau basah, kering udara dan kering oven
dengan menggunakan metode pencelupan untuk berat jenis. Sedangkan kerapatan
volume langsung diukur pada kondisi segar, kering udara dan kering oven tanpa
pencelupan.

c. Khusus untuk pengukuran volume pada berat jenis dalam kondisi segar atau basah dan
kering udara dilakukan metode pencelupan tanpa menggunakan paraffin.

d. Pengukuran volume berat jenis kering oven atau tanur dilakukan setelah kayu kecil di
kering oven dan telah mencapai berat konstan, baru dilakukan metode pencelupan dalam
paraffin.

e. Khusus untuk mengukur kerapatan kering udara dilakukan dengan cara menimbang
sampel didapat berat (gr), lalu mengukur volume sampel kering udara(cm).

f. Isikan semua data hasil penimbangan dan pengamatan yang diperoleh kedalam lembar
pengamatan.
Kerapatan kering udara = Berat kering udara (gram) : Volume kering udara (cm2)

3.Perubahan Dimensi Kayu

Cara Kerja :

g. Kegiatan ini meneruskan dari pengukuran kadar air kayu

h. Mengukur volume kayu pada kondisi segar atau basah, kering udara dan kering oven
dengan menggunakan metode pencelupan untuk berat jenis. Sedangkan kerapatan
volume langsung diukur pada kondisi segar, kering udara dan kering oven tanpa
pencelupan.

i. Khusus untuk pengukuran volume pada berat jenis dalam kondisi segar atau basah dan
kering udara dilakukan metode pencelupan tanpa menggunakan paraffin.

j. Pengukuran volume berat jenis kering oven atau tanur dilakukan setelah kayu kecil di
kering oven dan telah mencapai berat konstan, baru dilakukan metode pencelupan dalam
paraffin.

k. Khusus untuk mengukur kerapatan kering udara dilakukan dengan cara menimbang
sampel didapat berat (gr), lalu mengukur volume sampel kering udara(cm).

l. Isikan semua data hasil penimbangan dan pengamatan yang diperoleh kedalam lembar
pengamatan.

Kerapatan kering udara = Berat kering udara (gram) : Volume kering udara (cm2)

4. kekerasan kayu

Cara Kerja

a. Sampel yang digunakan berukuran 2 x 2 x 6 cm yang bebas dari cacat kayu.


b. Sampel dikering udarakan hingga mencapai kadar air 12 – 18 %, diukur dan ditimbang
untuk mendapatkan ukuran dan berat kondisi kering udara.

c. Selanjutnya sampel diukur kekerasan kayunya dengan menggunakan alat uji kekerasan
kayu.

d. Catat hasil pengukuran dan masukkan dalam tabel pengamatan.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Praktikum

Tabel.1 hasil kerapatan

No Kode Berat kering Volume Kerapatan


Sample Udara(BKU) (gram) Kering (gr/cm2)
Udara (cm)

1 Mabang (M) 9,0963 5,1777 1,7568

2 Kebaca (K) 8,2711 10,5984 0,7804

3 Meranti 3,7633 14,2274 0,2645


Putih (MP)

Rumus Kerapatan = BKU (gr) / VOL. kering udara

Perhitungan:

Mabang = 9,0963 / 51777 = 1,7568 gr/cm2

Kebaca = 8,2711 / 10,5984 = 0,7804 gr/cm2

Meranti Putih = 3,7633 / 14,2274 gr/cm2

Tabel.2 hasil pengukuran kadar air

No Kode Sample Kadar Air(%)

1 Mabang 23%

2 Kebaca 16%

3 Meranti Putih 16%


Pengujian kadar air menggunakan alat moisture meter

Tabel.3 hasil pengukuran pengembangan tebal

No Kode Sample Tebal sebelum di Tebal Sesudah Pengembangan


Rendam Awal di rendam (cm) Tebal (%)
(cm)

1 Mabang 2,07 2,09 0,96

2 Kebaca 2,23 2,25 0,90

3 Meranti 2,06 2,08 0,97


Putih

Rumus Pengembangan Tebal (TS) = (T2 – T1) / T1 x 100%

Perhitungan:

Mabang : (2,09 cm – 2,07 cm) / 2,07 cm x 100% = 0.96%

Kebaca : (2,25 cm – 2,23 cm) / 2,23 cm x 100% = 0,90%

Meranti putih : (2,08 cm – 2,06 cm) / 2,06 cm x 100% = 0,97%

Ket :
TS : Pengembangan tebal (%)

T1 : Tebal sebelum direndam (cm)

T2 : Tebal setelah direndam (cm)

Tabel.4 hasil pengukuran penyerapan air

No Kode sampel Berat Awal (gr) Berat setelah Penyerapan air


perendaman (gr) (%)

1 Mabang 15,9341 17,9427 12,84

2 Kebaca 13,8153 17,9402 29,58

3 Meranti 7,0314 9,0352 28,49


Putih

Rumus Daya Serap Air( DAS ) = (B2 – B1) / B1 x 100%

Perhitungan :

Mabang = (17,9427 gr – 15,9341 gr) / 15,9341 gr x 100% = 12,84%

Kebaca = (17,9402 gr – 13,8153 gr) / 13,8153gr x 100% = 29,58%

Meranti Putih = (9,0352 gr – 7,0314 gr) / 7,0314 gr x 100% = 28,49%

Ket:

DAS = Daya Serap Air (%)

B1 = Berat sebelum sirendam (gr)

B2 = Berat Setelah direndam (gr)


Tabel.5 hasil kekerasan kayu

No Kode sampel Berat sampel (gr) Kadar air (%) Kekerasan


(kg/cm3)

1 Mabang 11,9379 18% 35,7

2 Kebaca 17,8348 17% 34,5

3 Meranti Putih 18,6381 15% 48,5

Pengujian kekerasan mengggunakan alat hardness.

4.2 Pembahasan

Sifat mekanik kayu adalah sifat yang berhubungan dengan ukuran kemampuan kayu
untuk menahan gaya luar yang membebani kayu. Kayu yang dibebani ini akan menyebabkan
tegangan dalam kayu tersebut dan dapat merubah bentuk kayu. Perubahan bentuk kayu ini dapat
terjadi akibat adanya beban (gaya luar) yang membebani kayu, perubahan kadar air (adanya gaya
pada seluruh bagian kayu), dan perubahan suhu (adanya muai dan susut pada kayu).

Ada tiga sifat dasar yang perlu diketahui oleh semua jenis kayu, yaitu : Kadar air,
kerapatan dan perubahan dimensi karena informasi dari ketiga sifat dasar ini digunakan sebagai
dasar bagi semua pemanfaatan dan kegunaan kayu serta sebagai pendukung bagi pengamatan
untuk sifat lainnya.

Pada praktikum ini menggunakan tiga sampel kayu yaitu: Mabang, Kebaca, dan Meranti
Putih. Dari hasil praktikum pada perhitungan kerapatan kayu pada ketiga sampel kayu tersebut
didapatkan hasil kerapatan yang berbeda – beda yang mana pada sampel kayu mabang
kerapatannya adalah 1,7568 gram/cm2, kerapatan kayu kebaca adalah 0,7804 gram/cm2, dan
kerapatan kayu meranti putih adalah 0,2645 gram/cm2.
Pada pengukuran kadar air yang menggunakan alat Moisture meter dari ketiga sampel
kayu tersebut didapat hasil yaitu : kadar air pada kayu mabang adalah 23%, kayu kebaca kadar
airnya 16%, dan kayu meranti putih kadar airnya 16%.

Pada perhitungan pengukuran pengembangan tebal dari ketiga sampel kayu yang
menggunakan rumus (T2 – T1) / T1 x 100% mendapatkan hasil yaitu kayu mabang 0,96%, kayu
kebaca 0,90% dan kayu meranti putih 0,97.

Pengukuran penyerapan air dari ketiga sampel kayu tersebut yang menggunakan rumus (B2 –B1)
/ B1 x 100% didapatkan hasil yaitu kayu mabang 12,84%, kayu kebaca 29,58%,dan kayu meranti
putih 28,49%.

Dan pada pengukuran terakhir yaitu pengukuran kekerasan kayu dari ketiga sampel tersebut
yangmenggunakan alat Hardness didapatkan hasil yaitu kayu mabang 35,7 kg/cm3 , kayu kebaca
34,5 kg/cm3, dan pada kayu meranti putih 48,5 kg/cm3.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari hasil praktikum ini dapat kami simpulkan bahwa Sifat mekanik kayu adalah sifat yang
berhubungan dengan ukuran kemampuan kayu untuk menahan gaya luar yang membebani
kayu.Ada tiga sifat dasar yang perlu diketahui oleh semua jenis kayu, yaitu : Kadar air, kerapatan
dan perubahan dimensi.

Pada perhitungan dan pengukuran pada ketiga sampel kayu didapatkan hasil kerapatan, kadar air,
pengembangan tebal, penyerapan air, dan kekerasan kayu yang berbeda – beda. Kerapatan dan
kadar air pada sampel kayu mahang lebih tinggi dari pada kayu kebaca dan meranti putih.
Pengembangan tebal pada sampel kayu meranti putih lebih lebar dari pada sampel pada kayu
mahang dan kebaca. Pada pengukuran penyerapan air, didapatkan hasil bahwa kayu Kebaca
dapat lebih banyak menyerap kandungan air daripada kayu Mabang dan MerantiPutih.
Sedangkan pada hasil kekerasan kayu didapatkan hasil bahwa kayu Meranti Putih lebih kaeras
dari kayu Kebaca dan kayu Mabang.

5.2 Saran

Sebelum melakukan praktikum praktikan diharapkan memakai jas LAB dan mengikuti
prosedur yang telah di tentukan. Untuk alat yang digunakan dalam praktikum harus lengkap
agar praktikan mudah dalam melakukan praktikum dan mendapatkan hasil yang sesuai.
DAFTAR PUSTAKA

Haygreen, J.G. dan J.D. Boywer, 1995. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu. Universitas Gadjah Mada
Press, Yogyakarta.

Budianto, A. D. 2000. Sistem Pengeringan Kayu. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Duljapar, K. 2001.SNI 03-3527-1994,Pengertian Kayu

https://www.academia.edu/6961546/Tinjauan_Pustaka_Kadar_Air

http://juliusthh07.blogspot.com/2010/04/pengembangan-tebal-dan-daya-serap-
air.html#ixzz5XlCmOKn4

https://desainermenarik.blogspot.com/2017/11/pengertian-kayu.html

http://forester-untad.blogspot.com/2014/03/jenis-jenis-pohon-meranti-shorea-dan.html

http://www.materipertanian.com/klasifikasi-dan-ciri-ciri-morfologi-mahoni/

https://id.wikipedia.org/wiki/Rengas