Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

CKR (CIDERA KEPALA RINGAN )


DI RUANG SARAF RSU JENDRAL AHMAD YANI METRO

Oleh :

SITI AMINAH
NIM. 149012018178

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN (NERS)
STIKES MUHAMDIYAH PRINGSEWU
2018
LAPORAN PENDAHULUAN
DENGUE HAEMORAGIC FEVER
A. KONSEP DASAR PENYAKIT
1. DEFINISI
DHF (Dengue Haemoragic Fever) adalah penyakit yang disebabkan oleh
karena virus dengue yang termasuk golongan abrovirus melalui gigitan
nyamuk Aedes Aegygti betina. Penyakit ini biasa disebut Demam Berdarah
Dengue (Hidayat, 2006). Dengue Hemorrhagic fever (DHF) atau Demam
berdarah dengue adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue
dan ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti (Nursalam, 2005).
DHF adalah penyakit yang terdapat pada anak dan dewasa dengan gejala
utama demam, nyeri otot dan sendi yang disertai leucopenia, dengan atau
tanpa ruam (rash) dan limfadenopati, trombositopenia ringan dan bintikbintik
perdarahahan (ptekie) spontan (Noer, 2000).
Demam berdarah dengue adalah penyakit akut dengan ciri-ciri demam
manifestasi perdarahan dan bertendensi mengakibatkan renjatan yang dapat
menyebabkan kematian (Mansjoer, 2000).
Klasifikasi
Menurut WHO (1986) DHF diklasifikasi berdasarkan derajat beratnya
penyakit, secara klinis dibagi menjadi 4, sebagai berikut:
1. Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan.Uji tourniquet
(+), trombositopenia dan hemokonsentrasi.
2. Derajat II
Deajat I dan disertai perdarahan spontan pada kulit atau ditempat lain.
3. Derajat III
Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan darah
rendah (hipotensi), gelisah, sianosis sekitar mulut, hidung, dan ujung jari
(tanda-tanda dini renjatan)
4. Derajat IV
Renjatan berat (DSS) dengan nadi tak teraba dan tekanan darah tidak
dapat diukur.
2. ETIOLOGI
a. Virus dengue
Berdiameter 40 monometer dapat berkembang biak dengan baik pada
berbagai macam kultur jaringan baik yang berasal dari sel – sel
mamalia, maupun sel – sel Arthropoda misalnya sel aedes Albopictus.
(Soedarto, 1990; 36). Diketahui ada empat jenis virus yang
mengakibatkan demam berdarah yaitu DEN-1, DEN-2, DEN3, dan
DEN-4.
b. Nyamuk aedes aegypti
Yaitu nyamuk aedes aegypti, nyamuk aedes albopictus, aedes polyne
siensis, infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi
seumur hidup terhadap serotipe bersangkutan tetapi tidak ada
perlindungan terhadap serotipe jenis yang lainnya (Arief Mansjoer
&Suprohaita; 2000; 420).
c. Host (pembawa)
Jika seseorang mendapat infeksi dengue untuk pertama kalinya maka
ia akan mendapatkan imunisasi yang spesifik tetapi tidak sempurna,
sehingga ia masih mungkin untuk terinfeksi virus dengue yang sama
tipenya maupun virus dengue tipe lainnya.
3. PATOFISIOLOGI
Fenomena patologis yang utama pada penderita DHF adalah meningkatkan
permeabilitas dinding kapiler yang mengakibatkan terjadinya perembesan
plasma ke ruang ekstra selular.
Hal pertama yang terjadi setelah virus masuk ke dalam tubuh penderita adalah
viremia yang mengakibatkan penderita mengalami demam, sakit kepala,
mual, nyeri otot,, pegal-pegal diseluruh tubuh, ruam atau bintik-bintik merah
pada kulit (petekie), hiperemi tenggorokan dan hal lain yang mungkin terjadi
seperti pembesaran kelenjar getah bening, pembesaran hati (hepatomegali)
dan pembesaran limpa (splenomegali)
Peningkatan permeabilitas dinding kapiler mengakibatkan berkurangnya
volume plasma, terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi, dan hipoproteinema
serta efusi dan renjatan (syok).
Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit >20%) menunjukkan atau
menggambarkan adanya kebocoran (perembesan) plasma (plasma leakage)
sehingga nilai hematokrit menjadi penting untuk patokan pembesaran cairan
intravena. Oleh karena itu pada penderita DHF sangat dianjurkan untuk
memantau hematokrit darah berkala untuk mengetahui berapa persen
hemokonsentrasi yang terjadi. Rumus perhitungan yang digunakan adalah
sebagai berikut:
𝐴−𝐵
𝑥 100% = 𝐶
𝐵
Keterangan:
A = Ht tertinggi selama dirawat
B = Ht saat pulang
C = prosentase hematokrit
Setelah pemberian cairan intravena, peningkatan jumlah trombosit
menunjukkan kebocoran plasma terah teratasi sehingga pemberian cairan
intravena harus dikurangi kecepatan dan jumlahnya untuk mencegah
terjadinya edema paru dan gagal jantung. Sebaliknya jika tidak mendapatkan
cairan yang cukup, penderita akan mengalami kekurangan cairan yang dapat
mengakibatkan kondisi yang buruk bahkan bisa mengalami renjatan.
Jika renjatan atau hipovolemik berlangsung lama akan timbul anoksia
jaringan, metabolik asidosis dan kematian apabila tidak segera diatasi dengan
baik.
Ganggaun hemostasis pada DHF, ditemukan tanda-tanda perdarahan hampir
seluruh alat tubuh, seperti di kulit, paru, saluran pencernaan dan jaringan
adrenal. Hati umumnya membesar dengan perlemakan dan koagulasi
nekrosis pada daerah sentral atau parasentral lobulus hati.
Pathway
Kompleks
Hipertermi Infeksi Dengue antigen antibodi
Nutrisi kurang + komplemen

Demam Mual, Hepato- Alkalosis Trombosit- Vaskulitis Reaksi


Muntah megali respiratorik openia Imunologik
(trauma
dengan
salisilat)
Dehidrasi
Hemoragik Permeabilitas
diastensis vaskular Derajat I
meningkat
DEVISIT VOLUME
CAIRAN
Hemokonsentrasi
Kebocoran Hipoproteinemia
Plasma
Efusi Serosa

Hiponatremia Derajat II
Hipovolemia Peningk Penurunan
atan ekskresi
reabsorb Na+ urine
si air &
Hipotens dan Na+ peningkata
a oleh n
ginjal osmolalitas

Perdarahan Syok
Derajat III

Pola nafas tidak efektif Hipoksia Derajat IV


jaringan

DIC Asidosis
metabolik
Perdarahan Masif

Kematian

Gambar 1.1 Patofisiologi DHF


4. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis pada DHF yang timbul bervariasi berdasarkan derajat DHF
dengan masa inkubasi antara 13-15 hari. Penderita biasanya mengalami
demam akut (suhu meningkat tiba-tiba), sering disertai menggigil, saat
demam pasien kompos mentis.
Fase pertama yang relatif ringan dengan demam mulai mendadak, malaise
muntah, nyeri kepala, anoreksia, dan batuk. Pada fase kedua penderita
biasanya menderita ekstremitas dingin, lembab, badan panas, maka merah,
keringat banyak, gelisah, iritabel, dan nyeri mid-epigastrik. Seringkali ada
petekie tersebar pada dahi dan tungkai, ekimosis spontan mungkin tampak,
dan mudah memar serta berdarah pada tempat fungsi vena adalah lazim.
Ruam makular atau makulopopular mungkin muncul dan mungkin ada
sianosis sekeliling mulut dan perifer. Nadi lemah cepat dan kecil dan suara
jantung halus. Hati mungkin membesar sampai 4-6 cm dibawah tepi costa dan
biasanya keras agak nyeri. Kurang dari 10% penderita ekimosis atau
perdarahan saluran cerna yang nyata, biasanya pasca masa syok yang tidak
terkoreksi.
Selain demam dan perdarahan yang merupakan ciri khas DHF, gambaran
klinis lain yang tidak khas dan biasa dijumpai pada penderita DHF adalah:
 Keluhan pada saluran pernapasan seperti batuk, pilek, sakit waktu
menelan
 Keluhan pada saluran pencernaan seperti mual, muntah, tidak nafsu
makan (anoreksia), diare, konstipasi
 Keluhan sistem tubuh yang lain seperti nyeri atau sakit kepala, nyeri
pada otot, tulang dan sendi (break bone fever), nyeri otot abdomen,
nyeri ulu hati, pegal-pegal pada seluruh tubuh, kemerahan pada kulit,
kemerahan (fushing) pada muka, pembengkakan sekitar mata,
lakrimasi dan fotofobia, otot-otot sekitar mata sakit bila disentu dan
pergerakan bola mata terasa pegal.
Patokan WHO (1975) untuk menegakkan diagnosis DHF adalah sebagai
berikut:

 Demam tinggi mendadak dan terus menerus selama 2-7 hari.


 Manifestasi perdarahan, termasuk setidak-tidaknya uji turniket positif
dan salah satu bentuk lain (petekie, purpura, ekimosis, epistaksis,
perdarahan gusi), hematemesis, dan atau melena.
 Perbesaran hati
 Renjatan yang ditandai dengan nadi lemah, cepat disertai tekanan
darah menurun (tekanan sistolik menjadi 80 mmHg atau kurang dan
diastolik 20 mmHg atau kurang), disertai kulit yang teraba dingin dan
lembab terutama pada ujung hidung, jari, dan kaki, penderita gelisah,
timbul sianosis disekitar mulut.
Gambaran klinis kemungkinan terjadinya renjatan hari ke-3 sampai hari ke-7:
 Perubahan sensorik dan nyeri perut
 Perdarahan nyata selain perdarahan kulit
 Terdapatnya efusi pleura atau asites
 Peningkatan hematokrit 20% atau lebih
 Trombosit kurang dari 50.000/mikroliter
 Hiponatremia dengan Na urine <10 mmol/L
 EKG abnormal
 Hipotensi
5. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Darah
 Trombosit menurun.
 HB meningkat lebih 20 %.
 HT meningkat lebih 20 %.
 Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3.
 Protein darah rendah.
 Ureum PH bisa meningkat.
 NA dan CL rendah
b. Serology : HI (hemaglutination inhibition test)
 Rontgen thorax : Efusi pleura.
 Uji test tourniket (+)
Tes torniket dilakukan dengan menggembungkan manset tekanan
darah pada lengan atas sampai titik tengah antara tekanan sistolik
dan diasolik selama 5 menit. Tes dianggap positif bila ada petekie
20 atau lebih per 2,5 cm (1 inchi). Tes mungkin negatif atau positif
ringan selama fase syok berat. Ini biasanya menjadi positif kuat,
bila tes dilakukan setelah pemulihan dari syok.
6. KOMPLIKASI
Adapun komplikasi dari penyakit demam berdarah diantaranya :
a. Perdarahan luas.
Perdarahan pada DHF disebabkan adanya perubahan vaskuler, penurunan
jumlah trombosit (trombositopenia) <100.000 /mm³ dan koagulopati,
trombositopenia, dihubungkan dengan meningkatnya megakoriosit muda
dalam sumsum tulang dan pendeknya masa hidup trombosit. Tendensi
perdarahan terlihat pada uji tourniquet positif, petechi, purpura, ekimosis,
dan perdarahan saluran cerna, hematemesis dan melena.
b. Kegagalan sirkulasi
DSS (Dengue Syok Sindrom) biasanya terjadi sesudah hari ke 2 – 7,
disebabkan oleh peningkatan permeabilitas vaskuler sehingga terjadi
kebocoran plasma, efusi cairan serosa ke rongga pleura dan peritoneum,
hipoproteinemia, hemokonsentrasi dan hipovolemi yang mengakibatkan
berkurangnya aliran balik vena (venous return), prelod, miokardium
volume sekuncup dan curah jantung, sehingga terjadi disfungsi atau
kegagalan sirkulasi dan penurunan sirkulasi jaringan.
DSS juga disertai dengan kegagalan hemostasis mengakibatkan aktivity
dan integritas system kardiovaskur, perfusi miokard dan curah jantung
menurun, sirkulasi darah terganggu dan terjadi iskemia jaringan dan
kerusakan fungsi sel secara progresif dan irreversibel, terjadi kerusakan
sel dan organ sehingga pasien akan meninggal dalam 12-24 jam.
c. Hepatomegali
Hati umumnya membesar dengan perlemakan yang berhubungan dengan
nekrosis karena perdarahan, yang terjadi pada lobulus hati dan sel sel
kapiler. Terkadang tampak sel netrofil dan limposit yang lebih besar dan
lebih banyak dikarenakan adanya reaksi atau kompleks virus antibody.
d. Efusi pleura
Efusi pleura karena adanya kebocoran plasma yang mengakibatkan
ekstravasasi aliran intravaskuler sel hal tersebut dapat dibuktikan dengan
adanya cairan dalam rongga pleura bila terjadi efusi pleura akan terjadi
dispnea, sesak napas.
7. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan penderita dengan DHF adalah sebagai berikut:
a) Tirah baring atau istirahat baring
b) Diet makan lunak
c) Minum banyak (2-2,5 liter/24 jam) dapat berupa: susu, teh manis,
sirop dan beri penderita oralit, pemberian cairan merupakan hal yang
paling penting bagi penderita DHF.
d) Pemberian cairan intravena (biasanya Ringer Laktat, NaCl faali).
Ringer Laktat merupakan cairan intravena yang paling sering
digunakan, mengandung Na+130 mEq/liter, K+,4 mEq/liter, korekbasa
28 mEq/liter, Cl- 109 mEq/liter dan Ca++ 3 mEq/liter.
e) Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam (suhu, nadi, tensi, pernapasan)
jika kondisi pasien memburuk, observasi ketat tiap jam
f) Pemeriksaan Hb, Ht dan trombosit setiap hari.
g) Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminofen,
eukinin atau dipiron (kolaborasi dengan dokter). Juga pemberian
dengan kompres dingin.
h) Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut.
i) Pemberian antibiotika bila terdapat kekuatiran infeksi sekunder
(kolaborasi dengan dokter)
j) Monitor tanda-tanda dini renjatan meliputi keadaan umum, perubahan
tanda-tanda vital, hasil-hasil pemeriksan laboratorium yang
memburuk.
k) Bila timbul kejang dapat diberikan diazepam (kolaborasi dengan
dokter)
B. KONSEP PROSES KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a. Identitas pasien
Nama, umur (pada DHF paling sering menyerang anak-anak dengan usia kurang
dari 15 tahun), jenis kelamin, alamat, pendidikan, nama orang tua, pendidikan
orang tua, dan pekerjaan orang tua.

b. Keluhan utama
Keluhan yang biasanya pada pasien DHF datang ke rumah sakit adalah panas
tinggi dan pasien lemah.
c. Riwayat penyakit sekarang
Didapatkan adanya keluhan panas mendadak dengan disertai menggigil dan saat
demam kesadaran kompos mentis. Panas turun terjadi antara hari ke-3 dan ke-7,
dan anak semakin lemah. Kadang-kadang disertai keluhan batuk pilek, nyeri telan,
mual, muntah, anoreksia, diare atau konstipasi, sakit kepala, nyeri otot dan
persendian, nyeri ulu hati dan pergerakan bola mata terasa pegal, serta adanya
manifestasi perdarahan pada kulit, gusi (grade III, IV), melena atau hematemasis.
d. Riwayat penyakit yang pernah diderita
Penyakit apa saja yang pernah diderita. Pada DHF, anak biasanya mengalami
serangan ulangan DHF dengan type virus yang lain.
e. Riwayat imunisasi
Apabila anak mempunyai kekebalan yang baik, maka kemumgkinan akan
timbulnya komplikasi dapat dihindarkan.
f. Riwayat gizi
g. Status gizi anak yang menderita DHF dapat bervariasi. Semua anak dengan status
gizi baik maupun buruk dapat berisiko, apabila ada faktor predisposisinya. Anak
yang menderita DHF sering mengalami keluhan mual, muntah,dan nafsu akan
menurun. Apabila kondisi ini berlanjut dan tidak disertai pemenuhan nutrisi yang
mencukupi, maka anak dapat mengalami penurunan berat badan sehingga status
gizinya menjadi kurang.
h. Kondisi lingkungan
Sering terjadi pada daerah yang padat penduduknya dan lingkumgan yang kurang
bersih (seperti yang mengenang dan gantungan baju yang di kamar).
i. Pola kebiasaan
a) Nutrisi dan metabolisme : frekuensi, jenis, pantangan, nafsu makan
berkurang, dan nafsu makan menurun.
b) Eliminasi BAB: kadang-kadang anak mengalami diare atau konstipasi.
Sementara DHF grade III-IV bisa terjadi melena.
c) Eliminasi BAK : perlu dikaji apakah sering kencing, sedikit atau banyak,
sakit atau tidak. Pada DHF grade IV sering terjadi hematuria.
d) Tidur dan istirahat : anak sering mengalami kurang tidur karena mengalami
sakit atau nyeri otot dan persendian sehingga kualitas dan kuantitas tidur
maupun istirahatnya kurang.
e) Kebersihan : upaya keluarga untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan
cenderung kurang terutama untuk membersihkan tempat sarang nyamuk
aedes aegypti. Perilaku dan tanggapan bila ada keluarga yang sakit serta
upaya untuk menjaga kesehatan.
j. Pemeriksaan fisik
Meliputi inspeksi, auskultasi, palpasi, perkusi dari ujung rambut sampai ujung
kaki. Berdasarkan tingkatan grade DHF, keadaan fisik anak adalah :
 Kesadaran : Apatis
 Vital sign : TD : 110/70 mmHg
 Kepala : Bentuk mesochepal
 Mata : simetris, konjungtiva anemis, sclera tidak ikterik, mata anemis
 Telinga : simetris, bersih tidak ada serumen, tidak ada gangguan pendengaran
 Hidung : ada perdarahan hidung / epsitaksis
 Mulut : mukosa mulut kering, bibir kering, dehidrasi, ada perdarahan pada
rongga mulut, terjadi perdarahan gusi.
 Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, kekakuan leher tidak ada, nyeri
telan.
 Dada
Inspeksi : simetris, ada penggunaan otot bantu pernafasan
Auskultasi : tidak ada bunyi tambahan
Perkusi : Sonor
Palpasi : taktil fremitus normal
 Abdomen :
Inspeksi : bentuk cembung, pembesaran hati (hepatomegali)
Auskultasi : bising usus 8x/menit
Perkusi : tympani
Palpasi : turgor kulit elastis, nyeri tekan bagian atas
 Ekstrimitas : sianosis, ptekie, echimosis, akral dingin, nyeri otot, sendi tulang
 Genetalia : bersih tidak ada kelainan di buktikan tidak terpasang kateter
 Sistem integumen
Adanya peteki pada kulit, turgor kulit menurun, dan muncul keringat dingin dan
lembab. Kuku sianosis atau tidak.
 Kepala dan leher
Kepala terasa nyeri, muka tampak kemerahan karena demam (flusy), mata
anemis, hidung kadang mengalami perdarahan (epistaksis) pada grade
II,III, IV. Pada mulut didapatkan bahwa mukosa mulut kering, terjadi
perdarahan gusi, dan nyeri telan. Sementara tenggorokan mengalami
hyperemia pharing dan terjadi perdarahan telingga (grade II, III, IV).
 Dada
Bentuk simetris dan kadang-kadang sesak. Pada fhoto thorax terdapat
adanya cairan yang tertimbun pada paru sebelah kanan, (efusi pleura),
rales, ronchi, yang biasanya terdapat pada grade III dan IV.
 Abdomen
Mengalami nyeri tekan, pembesaran hati (hepatomegali) dan asites.
 Ekstremitas : akral dingin, serta terjadi nyeri otot, sendi, serta tulang.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a) Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) sehubungan dengan proses penyakit
(veremia).
b) Defisit volume cairan berhubungan dengan berpindahnya cairan intraseluler ke
ekstraseluler.
c) Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan cairan dirongga
paru (effusi pleura).
d) Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi; kurang dari kebutuhan sehubungan
dengan mual, muntah, anoreksia, dan sakit saat menelan.
e) Potensial terjadinya perdarahan lebih lanjut sehubungan dengan
trombositopenia.
f) Gangguan rasa nyaman; nyeri sehubungan dengan mekanisme patologis
(proses penyakit).
g) Potensial terjadi syok hipovolemik sehubungan dengan perdarahan hebat.
h) Kecemasan ringan-sedang sehubungan dengan kondisi pasien yang
memburuk.
3. RENCANA KEPERAWATAN
No Diagnose Tujuan Intervensi Rasional
keperawatan keperawatan
1. Nyeri akut NOC : NIC :
1. Untuk tindakan
 Pain Level, 1. Lakukan
selanjutnya
 pain control, pengkajian nyeri
 comfort level secara 2. Dapat mengurangi
Setelah dilakukan tinfakan komprehensif nyeri karena
termasuk lokasi, lingkungan dapat
keperawatan selama 3x24 karakteristik, mempengaruhi
jam Pasien tidak durasi, frekuensi, 3. Untuk mengurangi
kualitas dan dan menurunkan
mengalami nyeri, dengan factorpresipitas tanpa farmakologis
kriteria hasil 2. Kontrol 4. Analgetik dapat
1. tanda vital dalam lingkungan yang
rentang normal mengurangi nyeri
dapat
2. menyatakan rasa mempengaruhi
5. Mengetahui
nyaman setelah nyeri sepertisuhu keadaan umum
nyeri berkurang ruangan,
pencahayaan dan
kebisingan
3. Ajarkan tentang
teknik non
farmakologi:
napas dala,
relaksasi,
distraksi, kompres
hangat/ dingin
4. Berikan analgetik
untuk mengurangi
nyeri
5. Monitol vital sign
2. Pola nafas tidak efektif NOC : NIC : 1. Posisi semi
berhubungan Dengan
fowler
hiperventilasi 1. Electrolit and acid 1. Posisikan pasien
basebalance
membantu
untuk
2. Fluid balance memaksimalkan
memaksimalkan
3. Hydration ekspansi paru
ventilasi
Setelah dilakukan tindakan 2. Adanya
2. catat adanya
keperawatan selama …. pernafasan
suara tambahan
Kelebihan terganggu
3. kaji respirasi dan
status O2
3. Menurunkan
volume cairan teratasi terkanan arteri
dengan kriteria: 4. Pertahankan jalan
nafas yang paten dan
1. Terbebas dari edema, 5. Kaji adanya meningkatkan
efusi,anaskara kecemasan pasien aliran darah dan
2. Bunyi nafas bersih, terhadap perfusi jaringan
tidak oksigenasi serebral
adadyspneu/ortopneu 4. Tirah baring
3. Terbebas dari distensi membantu
venajugularis, menurunkan
4. Memelihara tekanan oksigen
venasentral, tekanan
kapiler paru,output terhambat dan
jantung dan vital posisi duduk
signDBN meningkatkan
5. Terbebas dari aliran darah
kelelahan, 5. Obat inhibitor
dapat
menurunkan
tekanan darah,
curah jantung

3 Ketidakseimbangan NOC: NIC


nutrisi kurang dari 1. Monitor adanya 1. Mengidentifikasi
a. Nutritional status:
kebutuhan tubuh penurunan BB adanya penurunan
Adequacy of dan gula darah berat badan atau
nutrient 2. Monitor tidak
lingkungan 2. Lingkungan dapat
b. Nutritional Status : food selama makan
mempengaruhi
and Fluid 3. Monitor turgor
kulit nafsu makan
Intake 4. Monitor mual 3. Meningkatkan
dan muntah klien dalam
c. Weight Control intervensi
Setelah dilakukan tindakan selanjutnya
4. Mengidentifikasi
keperawatan dalam
selama….nutrisi kurang keseimbangan
teratasi dengan indikator: nutrisi.

1. Albumin serum
2. Pre albumin serum
3. Hematokrit
4. Hemoglobin
5. Total iron binding
capacity
6. Jumlah limfosit
4 Kekurangan volume  Kekurangan volume cairan 1. Pengkajian: Kaji 1. dan hidrasi
cairan (00027) akan teratasi, dibuktikan oleh membrane seluler.Penurunan
berhubungan keseimbangan cairan dan mukosa, kaji tugor haluaran urin pekat
kehilangan cairan aktif asam-basa, hidrasi yang kulit dan dengan peningkatan berat
adekuat, dan status nutrisi: pengisian jenis diduga
asupan makanan dan cairan kapiler.Awasi dehidrasi/kebutuhan
yang adekuat masukan dan peningkatan cairan.
 Keseimbangan elektrolit dan haluaran, catat 2. Meningkatkan
asam-basa akan tercapai, warna keseimbangan cairan dan
dibuktikan oleh indicator urine/konsentrasi, mencegah komplikasi
gangguan sebagai berikut berat jenis. akibat kadar cairan yang
(sebutkan 1-5:gangguan 2. Manajemen abnormal atau yang tidak
ekstrem, berat, sedang, cairan: Berikan diharapkan. Hal ini
ringan, atau tidak ada minuman jernih dilakukan untuk
gangguan) atau berikan meminimalkan
- Frekuensi nadi dan cairan sesuai kehilangan cairan
irama jantung kebutuhan, 3. Mencegah komplikasi
apical tingkatkan asupan akibat dari kadar
- Frekuensi dan oral (misalnya, elektrolit serum yang
irama napas sediakan sedotan, tidak normal atau yang
- Kewaspadaan dan beri cairan tidak diharapkan
mental dan diantara waktu 4. Mengatur atau
orientasi kognitif makan) meningkatkan
- Elektrolit serum 3. Manajemen keseimbangan cairan
elektrolit:meningk dalam tubuh
atkan Meningkatkan dan
keseimbangan mempertahankan
elektrolit dalam keseimbangan nutrisi
tubuh dalam tubuh.
4. Terapi Intravena Dehidrasi
(IV): memberikan mengakibatkan bibir
dan memantau
dan mulut kering dan
cairan dan obat
pecah-pecah.
intravena
5. Manajemen
nutrisi: membantu
atau menyediakan
asupan makanan
dan
5 Hipertermia (00007) Pasien akan menunjukkan 1. Pemantauan tanda 1. Mengumpulakan dan
b.d penyakit termoregulasi, yang dibuktikan vital mnganalisis data
oleh indicator gangguan sebagai 2. Regulasi suhu: kardiovaskuler,
berikut (sebutkan 1-5: ekstrem, pantau suhu pernapasan dan suhu
berat, sedang, ringan, atau tidak minimal setiap 2 tubuh untuk menentukan
ada ganggua) jam, sesuai serta mencegah
- Peningkatan suhu kebutuhan. komplikasi
kulit Ajarkan/lakukan 2. Mencapai atau
- Hipertermia, upaya mengatasi mempertahankan suhu
berkeringat hipertermi: tubuh dalam rentang
- Dehidrasi kompres, sirkulasi normal
- Mengantuk cukup, pakaian 3. Mengobati hipertermi
- Denyut nadi radialis longgar dan dan mengembalikan suhu
- Frekuensi kering, tubuh dalam rentang
pernapasan 3. pembatasan normal.
aktivitas.
Aktivitas
kolaborasi:
berikan obat
antipiretik
DAFTAR PUSTAKA

WHO. Demam Berdarah Dengue: Diagnosa, Pengobatan, Pencegahan, dan


Pengendalian 2th Ed. EGC : Jakarta.
Doenges, Marilynn E, dkk.2000. Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa
Keperawatan. EGC : Jakarta.
Parasitologi,akhsin zulkoni,2011parasitologi, nuha medika: yogyakarta
NANDA 2018-2020
NIC NOC translate indonesia