Anda di halaman 1dari 4

SISTEM INFORMASI AKUNTANSI

Tugas Esai

OLEH :

PROGRAM MATRIKULASI
MAGISTER SAINS JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2018
Persepsi kebermanfaatan dan persepsi kemudahan menggunakan
merupakan dua komponen utama dari TAM yang dikembangkan oleh Davis et al.,
1986 (Technology Acceptance Model), TAM sendiri merupakan model yang
digunakan untuk mempresiksi penerimaan terhadap suatu teknnologi yang baru
diterapkan. Pada dasarnya model TAM sendiri diadopsi dari TRA yang
dikembangkan oleh Fishbein dan Ajzen, 1975 (Theory of reason action) Menurut
TRA, perilaku sesungguhnya yang dilakukan oleh seseorang (acual behavior)
ditentukan oleh niat berperilaku (Behavioral intention) yang secara bersama-sama
juga ditentukan oleh sikap sendiri seorang individu dalam melakukan sesuatu
(atitude toward behavior) berupa condong positif atau conding negatif dan
(subjective form) sikap kebanyakan yang dekat dengan individu tersebut, kedua
sikap tersebut atitude toward behavior dan subjective form dipengaruhi oleh
keyakinan diri sendiri maupn keyakinan orang yang dekat dengan individu tersebut.

Dua komponen utama dari TAM berupa Persepsi kebermanfaatan dan


persepsi kemudahan menggunakan. Persepsi kebermanfaatan (perceived
usefulness) merupakan keyakinan seorang pengguna tentang bagaimana suatu
teknologi bisa memberikan manfaat untuk meningkatkan kinerja mereka, dengan
kata lain jika seseorang yakin dengan manfaat yang diberikan oleh suatu teknologi
maka ada kecenderungan orang tersebut akan menggunakan teknologi yang baru
diperkenalkan, beberapa literatur menjelaskan bahwa perceived usefulness
berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap penggunaan suatu sistem
informasi, Keyakinan seseorang tentang persepsi kebermanfaatan akan
mempengaruhi Sikap terhadap Perilaku untuk menggunakan (Attitude towards
Using) yang juga akan mempengaruhi Minat Perilaku seseorang untuk
menggunakan (Behavioral Intention to use) yang pada akhirnya akan
mempengaruhi Perilaku seseorang untuk mengadopsi sebuah teknologi ( Actual
system use).

Persepsi kemudahan untuk menggunakan (perceived ease of use)


merupakan tingkat keyakinan sejauh mana seseorang yakin bahwa tidak perlu
usaha ekstra untuk menggunakan suatu teknologi, dengan kata lain jika seseorang
merasa percaya bahwa suatu teknologi mudah untuk digunakan maka teknologi
tersebut cenderung diadopsi. Disisi lain perceived ease of use mempengaruhi
perceived usefulness karena pada dasarnya sesuatu yang mudah digunakan maka
akan ada manfaat yang akan didapatkan oleh pengguna begitu juga sebaliknya
sesuatu yang sulit untuk digunakan maka cenderung tidak ada manfaat yang
dirasakan karena kesulitan pengguna dalam mengadopsi dan menggunakan
teknologi baru yang diperkenalkan.

Jika kita mencoba mengembangkan kerangka berpikir dari komponen TAM


berupa perceived of usefulness dan perceived ease of use berdasarkan TRA maka
kita bisa memahami bahwa penggunaan sebuah teknologi dipengaruhi keyakinan
(beleif) diri sendiri pengguna tentang apa yang bisa diberikan oleh teknologi
tersebut atau apakah penggunaaan suatu teknologi bisa memberikan manfaat
kepada para penggunanya dan bagaimana kemudahan dalam menggunakan
teknologi yang akan diadopsi sehingga para pengguna bisa memaksimalkan
penggunaan teknologi untuk menunjang pekerjaan dan aktivitas yang dilakukan.
Artificial intelligence

Dapatkah Kecerdasan Buatan Meningkatkan Kualitas Audit

1. Pendahuluan

Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat terus mendorong


perusahaan untuk terus melakukan inovasi untuk dapat bersaing dengan para
kompetitornya dan kebutuhan pasar yang menuntut untuk meningkatkan produktivitas dan
efisiensi dalam melakukan kegiatan operasional perusahaan. Salah satu perkembangan
teknologi yang saat ini menjadi perbincangan banyak kalangan adalah munculnya
kecerdasan buatan (artificial intelligence). Kemunculan kecerdasan buatan sedikit banyak
akan merubah tatanan hidup suatu organisasi. Perkembangan kecerdasan buatan sudah
diaplikasikan pada berbagai bidang dan digunakan untuk membantu pekerjaan layaknya
manusia. Kusumadewi, (2003) menjelaskan bahwa cabang ilmu kecerdasan buatan itu
sendiri dapat dibagi menjadi beberapa kelompok bidang yaitu Sistem Pakar (Expert
System), Pengelohan Bahasa Alami (Natural Language Processing), Pengenalan Ucapan
(Speech Recognition), Robotika dan Sistem Sensor (Robotic & Sensory Sistem), Computer
Vision, Intelligent Computer-aided Instruction, dan Game Playing.

Expert system merupakan sebuah sitem kecerdasan buatan yang menggabungkan


antara pengetahuan dan penelusuran data dalam membantu pemecahan masalah
penggunanya. Kokina dan Davenport (2017) menjelaskan bahwa bidang audit sebagai
sesuatu yang cocok untuk pengaplikasian kecerdasan buatan karena audit merupakan suatu
tugas yang terstruktur, pekerjaan yang berulang-ulang, dan dapat diotomasisasi. Beberapa
perusahaan big 4 telah melakukan investasi untuk pengembangan kecerdasan buatan
dengan menggandeng beberapa vendor dalam mengembangkan suatu alat kecerdasan
buatan.

Kualitas audit sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan auditor dalam mengaudit
klien, semakin baik kualitas audit yang dihasilkan oleh auditor dapat mengurangi asimetri
informasi antara manajer (agent) dan para pemangku kepentingan (principal) serta dapat
meningkatkan keyakinan tentang informasi yang disajikan dalam laporan keuangan.
Banyak literatur yang meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas audit.