Anda di halaman 1dari 3

2.

4 GARAM TIDAK TERHIDROLISIS


Garam yang berasal dari asam kuat dan basa kuat tidak bereaksi dengan air dan
dikatakan tidak terhidrolisis.
Contoh: H2O
NaCl(aq) Na+(aq) + Cl-(aq)
Ion Na+ dan ion Cl- di dalam air tidak mengalami reaksi dengan air, sebab jika
dianggap beraksi dengan air, maka ion Na+ akan menghasilkan NaOH yang akan segera
terionisasi kembali menjadi ion Na+. Halini disebabkan NaOH merupakan basa kuat yang
terionisasi sempurna. Demikian pula sebaliknya dengan ion Cl-. Oleh karena itu,
konsentrasi ion H+ dan OH- dalam air tidak terganggu, sehingga larutan bersifat netral
(pH=7)
(Yrama Widya, 2017)

2.5 TITRASI ASAM BASA MEMBENTUK GARAM TERHIDROLISIS


Titrasi adalah prosedur analisis untuk menentukan konsentrasi larutan yang tidak
diketahui dengan menggunakan pereaksi yang memiliki konsentrasi tertentu. Dalam titrasi
asam-basa, garam terhidrolisis terbentuk secara maksimum ketika semua analit (zat yang
dititrasi) habis bereaksi dengan zat yang ditambahkan. Jadi, prosedur ini dapat dijadikan
sebagai penentu pH larutan hasil pencampuran asam dengan basa.
Reaksi-Reaksi Pembentukan Garam
Beberapa reaksi asam-basa yang berpengaruh terhadap pH larutan yang terbentuk yaitu:
1. Asam Kuat + Basa Kuat → Garam netral + air
Contoh:
𝐻𝐶𝑙(𝑎𝑞) + 𝑁𝑎𝑂𝐻(𝑎𝑞) → 𝑁𝑎𝐶𝑙(𝑎𝑞) + 𝐻2 O(l)
𝑁𝑎𝐶𝑙(𝑎𝑞) → 𝑁𝑎+ (𝑎𝑞) + 𝐶𝑙 − (aq)
Ion Na+ dan ion Cl- di dalam larutan tidak mengalami reaksi dengan air, sebab jika
ion-ion tersebut bereaksi dengan air maka akan kembali menghasilkan zat semula (NaOH
dan HCl). Kemudian zat-zat tersebut akan kembali terionisasi menjadi ion Na+ dan ion Cl-,
karena kedua zat tersebut merupakan basa kuat dan asam kuat yang terionisasi sempurna
dengan air. Jadi, garam yang berasal dari asam kuat dan basa kuat tidak terhidrolisis,
konsentrasi ion H+ dan OH- dalam air tidak akan terganggu, sehingga larutan bersifat
netral.

2. Asam Kuat + Basa Lemah → Garam asam + air


Contoh:
𝐻𝐶𝑙(𝑎𝑞) + 𝑁𝐻4 𝑂𝐻(𝑎𝑞) → 𝑁𝐻4 𝐶𝑙(𝑎𝑞) + 𝐻2 O(l)
𝑁𝐻4 𝐶𝑙(𝑎𝑞) → 𝑁𝐻4 + (𝑎𝑞) + 𝐶𝑙 − (aq)

𝑁𝐻4 + (𝑎𝑞) + 𝐻2 O(l) 𝑁𝐻4 𝑂𝐻(𝑎𝑞) + 𝐻 + (aq)

Adanya ion H+ yang dihasilkan dari reaksi tersebut mengakibatkan konsentrasi ion
H+ di dalam air lebih banyak daripada konsentrasi ion OH-, sehingga larutan bersifat asam.
Dari kedua ion yang dihasilkan oleh garam tersebut hanya ion NH4+ yang mengalami
hidrolisis, sedangkan ion Cl- tidak berekasi dengan air. Hidrolisis ini disebut hidrolisis
sebagian (parsial) sebab hanya sebagian ion yang mengalami reaksi hidrolisis. Jadi, garam
yang berasal dari asam kuat dan basa lemah akan terhidrolisis sebagian (parsial) dan
bersifat asam.

3. Asam Lemah + Basa Kuat → Garam basa + air


Contoh:
𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂𝐻(𝑎𝑞) + 𝑁𝑎𝑂𝐻(𝑎𝑞) → 𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂𝑁𝑎(𝑎𝑞) + 𝐻2 O(l)
𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂𝑁𝑎(𝑎𝑞) → 𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂− (𝑎𝑞) + 𝑁𝑎+ (aq)

𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂− (𝑎𝑞) + 𝐻2 O(l) 𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂𝐻(𝑎𝑞) + O𝐻 − (aq)

Adanya ion OH- yang dihasilkan dari reaksi tersebut mengakibatkan konsentrasi
ion H+ di dalam air lebih sedikit daripada konsentrasi ion OH-, sehingga larutan bersifat
basa. Dari kedua ion yang dihasilkan oleh garam tersebut hanya ion CH3COO- yang
mengalami hidrolisis, sedangkan ion Na+ tidak berekasi dengan air. Hidrolisis ini disebut
hidrolisis sebagian (parsial) sebab hanya sebagian ion yang mengalami reaksi hidrolisis.
Jadi, garam yang berasal dari asam lemah dan basa kuat akan terhidrolisis sebagian
(parsial) dan bersifat basa.
4. Asam Lemah + Basa Lemah → Garam basa/asam/netral + air
Contoh:
a. 𝐻𝐶𝑁(𝑎𝑞) + 𝑁𝐻4 𝑂𝐻(𝑎𝑞) → 𝑁𝐻4 𝐶𝑁(𝑎𝑞) + 𝐻2 O(l)
𝐾𝑎 = 6,2 × 10−10 𝐾𝑏 = 1,8 × 10−5
b. 𝐻𝐹(𝑎𝑞) + 𝑁𝐻4 𝑂𝐻(𝑎𝑞) → 𝑁𝐻4 𝐹(𝑎𝑞) + 𝐻2 O(l)
𝐾𝑎 = 6,8 × 10−4 𝐾𝑏 = 1,8 × 10−5
c. 𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂𝐻(𝑎𝑞) + 𝑁𝐻4 𝑂𝐻(𝑎𝑞) → 𝑁𝐻4 𝐶𝑁(𝑎𝑞) + 𝐻2 O(l)
𝐾𝑎 = 1,8 × 10−5 𝐾𝑏 = 1,8 × 10−5

Poin a merupakan reaksi asam lemah dengan basa lemah, dimana kation (NH4+) dan
anion (CN-) mengalami hidrolisis total, begitu pula dengan poin b dan c. Perbadaanya
terdapat pada harga Ka masing-masing reaksi, jika Kb > Ka maka gar am yang dihasilkan
adalah garam basa, jika Ka > Kb maka garam yang dihasilkan adalah garam asam dan jika
Ka = Kb maka garam yang dihasilkan netral.

Dalam titrasi asam-basa, saat analit (zat yang dititrasi) habis bereaksi menghasilkan garam
terhidrolisi disebut sebagai titik ekivalen. pH larutan pada titik ekivalen bervariasi sebagai
berikut:
1) Untuk titrasi asam lemah dengan basa kuat, titik ekivalen tercapai pada pH > 7
2) Untuk titrasi basa lemah dengan asam kuat, titik ekivalen tercapai pada pH < 7
3) Untuk titrasi asam lemah dengan basa lemah atau sebaliknya, titik ekivalen tercapai
pada pH > 7, pH = 7, atau pH < 7
Karena analit harus habis bereaksi, maka dalam penentuan jumlah garam yang terbentuk, zat
analit digunakan sebagai reaksi pembatas.