Anda di halaman 1dari 75

PANDUAN PRAKTIK KLINIK

SMF ANAK

RSU ALIYAH KENDARI


2017
LEMBAR PENGESAHAN

KETUA SMF ANAK RSU ALIYAH KENDARI

dr. Jeanida Mauliddina, M.Ked (Ped)., Sp.A

KETUA KOMITE MEDIK RSU ALIYAH

dr. Hery Irawan, Sp.An

Ditetapkan di : Kendari
Pada tanggal : 9 Februari 2017

DIREKTUR RSU ALIYAH KENDARI,

dr. Hj. Maryam Rufiah MR, M.Kes


PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

BAYI BERAT LAHIR RENDAH


P 07.1

1. Definisi  Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat badan lahir
kurang dari 2.500 gram tanpa memandang masa gestasi
 Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah
lahir
2. Anamnesis Keadaan ibu selama hamil (sesuai dengan faktor etiologi), usia gestasi
3. Pemeriksaan Pemeriksaan fisis lengkap bayi baru lahir. Pemeriksaan skor Balard untuk
Fisik menilai usia gestasi, dan diplot pada kurva Lubchenco untuk menilai
kesesuaian berat lahir dengan usia gestasi.
Klasifikasi :
A. Berdasarkan berat lahir
1. Berat badan lahir kurang dari 1000 gr : bayi berat lahir amat sangat rendah
2. Berat badan lahir kurang dari 1500 gr : bayi berat lahir sangat rendah
3. Berat badan lahir kurang dari 2500 gr : bayi berat lahir rendah

B. Berdasarkan usia gestasi BBLR dibedakan:


1. Kurang bulan : usia gestasi kurang dari 37 minggu
2. Cukup bulan : usia gestasi ≥ 37 minggu atau lebih

C. Berdasarkan berat lahir dan usia gestasi maka BBLR dapat diklasfikasikan
menjadi:
1. SMK (sesuai masa kehamilan)
2. KMK (kecil masa kehamilan)
3. atau BMK (besar masa kehamilan)
4. Kriteria Berdasarkan berat lahir dan usia gestasi diklasifikasikan sesuai dengan
Diagnosis klasifikasi di atas
5. Diagnosis  Timbang berat bayi
 Tentukan masa gestasi (hari pertama haid terakhir, Skor Ballard)
 Tentukan bayi sesuai masa kehamilan atau kecil masa kehamilan dengan
menggunakan kurve pertumbuhan dan perkembangan intrauterine dari
Battalgia dan Lubchenco
 Usia gestasi < 36 minggu  prematuritas murni
 Usia gestasi ≥ 36 minggu  dismatur
 Usia gestasi < 37 minggu dan berat lahir kurang untuk masa gestasi
tersebut  gabungan keduanya
 Cari faktor penyebab/risiko yang mendasari
6. Diagnosis Sesuai klasifikasi
Banding
7. Pemeriksaan Glukosa darah, haemoglobin, leukosit, diff. count, serta pemeriksaan lain
Penunjang atas indikasi ( foto thoraks, ECG, USG)
8. Terapi Indikasi rawat :
 Semua bayi berat lahir kurang dari 1.500 gram
 Usia gestasi ≤ 35 minggu
 Bayi dengan komplikasi
Perawatan :
 Dirawat dalam inkubatir, jaga jangan sampai hipotermi, suhu bayi 36,5 –
37,5 °C
 Bayi dengan distress pernapasan : pengobatan lihat bab distress
pernapasan
 Tentukan usia gestasi
 Bayi BB > 1.500 gram tanpa asfiksia dan tak ada tanda-tanda distress
pernapasan dirawat gabung
 Bila bayi < 1.500 gram , pindah rawat bagian IKA dan beri ASI/LLM
 Bayi-bayi KMK (kecil masa kehamilan) diberi minum lebih dini (2 jam
setelah lahir)
 Periksa gula darah dengan dekstrostik bila ada tanda-tanda hipoglikemia
 Kebutuhan cairan setiap kgBB/24 jam :
o Hari ke 1 : 80 cc
o Hari ke 2 : 100 cc
o Hari ke 3 : 120 cc
o Hari ke 4 : 130 cc
o Hari ke 5 : 135 cc
o Hari ke 6 : 140 cc
o Hari ke 7 : 150 cc
o Hari ke 8 : 160 cc
o Hari ke 9 : 165 cc
o Hari ke 10 : 170 cc
o Hari ke 11 : 175 cc
o Hari ke 12 : 180 cc
o Hari ke 13 : 190 cc
o Hari ke 14 : 200 cc
 Jenis cairan IVFD :
o BB > 2.000 gram : dekstrose 10% 500 cc + Ca glukonas 10%
o BB < 2.000 gram : dekstrose 7½ % 500 cc + Ca glukonas 10%
Kebutuhan Ca glukonas/ hari : 5 cc / kgBB
 Mulai hari ke-3 baru ditambahkan NaCl 15% 6 cc/kolf dan KCl
sesuai kebutuhan.
 Hari kedua diberi protein 1 gram/kgBB/hari, dinaikkan perlahan-
lahan 1½ gram, 2 gram, 2½ gram, 3 gram/kgBB/hari.
 Pada bayi tanpa distress pernapasan (RR < 60 x/menit) dapat
langsung diberi minum per oral dengan menghisap sendiri atau
dengan nasogastrk drip. Bila bayi tidak mentolerir semua kebutuhan
peroral, maka diberikan sebanyak yang dapat ditoleransi lambungnya
dan sisanya diberikan dengan IVFD.
 Pemberian minum tiap 2 – 3 jam pada bayi dengan BB < 1.500 gram
secara sonde lambung, kemudian dilanjutkan dengan menghisap
langsung ASI dari ibu, secara bertahap 1 x/hari dilanjutkan 2 – 3
x/hari dan seterusnya akhirnya sampai penuh sampai bayi
dipulangkan.
 Bayi dengan masa gestasi < 32 minggu diberikan :
 Theophilin per oral dosis awal 6 mg dan dilanjutkan 1,5
mg/kgBB/kali tiap 8 jam sampai masa gestasi 34 minggu.
 Theophilin juga diberikan pada bayi dengan masa gestasi 33 – 34
minggu bila bayi tersebut apnu yang disertai bradikardia dan
sianosis.
Bila bayi belum bisa makan per oral dapat juga diberikan
aminophylin IV dosis awal 7 – 8 mg/kgBB dilanjutkan dosis 2
mg/kgBB tiap 8 jam.
9. Edukasi Penjelasan mengenai komplikasi jangka panjang dan jangka pendek dari
BBLR dan perawatan metode kangguru.
10. Prognosis Ad vitam : dubia
Ad sanationam : dubia
Ad fungsionam : dubia
11. Tingkat Evidens II
12. Tingkat A
Rekomendasi
13. Penelaah Kritis dr. Jeanida Mauliddina, M.ked( Ped)., Sp. A
dr. Yeni Haryani, M.kes., Sp. A

14. Indikator Medis  Berat badan


 Kemampuan minum

15. Target Bayi sudah dapat minum secara adekuat sesuai dengan kebutuhan dan tidak
ada komplikasi.
16. Kepustakaan 1. Papageorgio A, Pelausa E., Kovacs L. The extremely Low Birth-
weight infant. Dalam : Macdonald MG,Mullet MD, Seshia M,
penyunting. Avery’s Neonatology, Pathophysiology & management
of the newborn. Edisi 6. Philadelphia :Lippincont William & Wilkin,
2005;459-89.
2. Anderson M.S., Hay W.W. Intrauterine growth restriction and the
small-for-gestational-age infant. Dalam:Macdonald MG,Mullet MD,
Seshia M, penyunting. Avery’s Neonatology, Pathophysiology &
management of the newborn. Edisi 6. Philadelphia : Lippincont
William & Wilkins,2005;490-522.
3. Grider D.L, Robinson T.L. Management of the extremely Low
Birth- weight infant during the first week of life. Dalam: Gomella
TL, cuninngham MD, Eyal FG, Zenk KE, Penyunting. Neonatology,
management, producer, on call problem, deases, and drug. Edisi 6.
New york: Lange McGraw Hill, 2011;163-74.
4. Rao R. Intrauterine growth restriction and the small-for-gestational-
age infant. Dalam: Gomella TL, cuninngham MD, Eyal FG, Zenk
KE, Penyunting. Neonatology, management, producer, on call
problem, deases, and drug. Edisi 6. New york: Lange McGraw Hill,
2011;558-67.
5. Lee K.G. Idenifying the hight-risk newborn and evaluating
gestational age, prematury, postmaturity, large-for-gestational-age,
and the small-for-gestational-age infant Dalam: Cloherty JP,
Eichenwald EC, Strak AR, Peyunting .manual of neonatal care,
Edisi 6. Philadelphia : Lippincont William & Wilkins, 2008;41-58.
6. Stewart J.E., Martin C.R., Joselow M.R Follow-up care of very Low
Birth- weight infant. Dalam :Clorety JP, Eichenwald EC, Stark AR,
Peyunting .manual of neonatal care, Edisi 6. Philadelphia :
Lippincont William & Wilkins, 2008;159-63.
7. Kliegman R.M Intrauterine growth restriction. Dalam : Martin RJ,
Fanaroff AA, Walsh MC, penyunting Fanarof fdan Martin’s neonatal
perinatal medicine. Edisike 9. Missouri : Elsevier, 2011;245-76
8. American Heart Associaton and American Academy ofPediatric.
Texbook of neonatal resuscitation. Kattwinkel J. penyunting. Edisike
6,2011.
9. The low brithweight infant. Dalam :Levene MI, Tudehope DI, Sinha
S, Penyunting. Essential Neonatal Medicine. Edisi 4. Australia :
BlackWell publishing, 2008; 77-86.
PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

ASFIKSIA PERINATAL
P 21.9
1. Definisi Kegagalan bernapas spontan dan teratur segera setelah lahir sehingga
terjadinya gangguan pertukaran gas (O2 dan CO2) yang mengakibatkan bayi
baru lahir mengalami hipoksia, hiperkarbia dan asidosis metabolik.
2. Anamnesis Faktor risiko (etiologi)  perkiraan asfiksia.
Riwayat persalinan  lahir langsung menangis (bernapas spontan) atau tidak.
3. Pemeriksaan Dinilai appearance (warna kulit), pulse (denyut jantung), grimace (mimic
Fisik wajah), activity (tonus otot), respiratory effort (usaha napas) pada menit 1 dan
5, kalau perlu setiap 5 menit sampai menit 20 sesuai dengan kondisi bayi.
Penilaian bersamaan dengan langkah-langkah resusitasi. Sambil melakukan
resusitasi, menilai APGAR 1 menit, 5 menit, dan 10 menit. Setelah selesai
resusitas, dilanjutkan dengan perawatan pasca resusitasi, dipantau fungsi vital
(nadi, pernapasan, dan kesadaran), mencari komplikasi dan penyakit penyerta
serta pemeriksaan fisik lengkap.
4. Kriteria 1. Nilai APGAR 0 – 3 pada menit ke 5
Diagnosis 2. Asidosis metabolic atau campuran (pH darah arteri umbilikalis < 7)
3. Manifestasi neurologik (kejang, hipotoni, koma, dan ensephalopati
hipoksik iskemik)
5. Diagnosis Sesuai dengan nilai APGAR menit ke 5 dan manifestasi neurologik
6. Diagnosis Neonatal ensephalopati
Banding
7. Pemeriksaan Glukosa darah, hemoglobin, leukosit, diff. count, serta pemeriksaan lain atas
Penunjang indikasi (foto thoraks, ECG, USG).
8. Terapi Sebelum melakukan langkah awal resusitasi lakukan penilaian awal :
1. Apakah bayi cukup bulan ?
2. Apakah bayi bernapas atau menangis ?
3. Apakah tonus otot baik ?
Bila ada jawaban “tidak” dari ketiga pertanyaan ini maka langkah awal
resusitasi harus dimulai, sedangkan bila semua jawaban “ya” maka bayi
tersebut hanya dilakukan perawatan rutin saja (jaga kehangatan, bersihkan
jalan napas, dan keringkan).
A. Langkah Awal Resusitasi
Letakan bayi di meja resusitasi dengan alat pemancar panas, letakan pada
posisi yang benar (kepala bayi menghadap operator), lakukan
penghisapan (bila perlu), keringkan, rangsangan taktil, reposisi dan nilai :
pernapasan, frekuensi jantung, dan warna kulit.

B. Ventilasi Tekanan Positif (VTP)


Ventilasi tekanan positif dapat diberikan dengan balon resusitasi dan
sungkup atau dengan balon resusitasi dan intubasi endotrkheal (ETT)
1. Indikasi :
Bila bayi apnu/megap-megap atau bernapas tetapi frekuensi jantung <
100 x/menit atau sianosis sentral menetap meskipun diberikan oksigen
aliran bebas sampai 100%
2. Frekuensi :
Lakukan ventilasi dengan frekuensi 40 – 60 x/menit selama 30 detik
dengan oksigen 21 – 100% (pada bayi cukup bulan dimulai dengan
oksigen 21% dan pada bayi preterm dimulai dengan oksigen lebih dari
21% yang dapat ditinggikan sampai dengan target saturasi oksigen
preduktal tercapai), lalu nilai frekuensi jantung:
a. Diatas 100 :
1. Bila napas spontan dan saturasi oksigen membaik, VTP
hentikan bertahap.
2. Bila tidak bernapas, atau megap-megap lanjutkan VTP.
b. Diantara 60 hingga 100 :
1. Membaik, pasang pipa orogastrik dan lanjutkan VTP.
2. Tidak membaik, evaluasi VTP yang telah dilakukan (posisi,
perlekatan sungkup, jalan napas bersih, mulut terbuka,
tekanan pada balon), pertimbangkan intubasi dan lanjutkan
VTP.
c. Dibawah 60 :
1. Lanjutkan VTP
2. Mulai kompresi dada

C. Kompresi Dada
1. Indikasi :
Frekuensi jantung < 60 x/menitsetelah 30 detik mendapat VTP
dengan oksigen 100%
2. Frekuensi :
Kompresi dada dilakukan selama 30 detik. Setiap 2 detik dilakukan 3
kali kompresi dada dan 1 kali VTP (selama 30 detik dilakukan 45
kali kompresi dada dan 15 kali VTP).
3. Evaluasi :
Setelah 30 detik melakukan tindakan kompresi dada dan ventilasi,
periksa frekuensi jantung atau nadi. Bila frekuensi jantung :
a. Kurang dari 60 kali per menit : lanjutkan tindakan kompresi
dada dan ventilasi dan pemberian epinefrin.
b. 60 kali per menit atau lebih : hentikan tindakan penekanan dada
tetapi lanjutkan ventilasi dengan oksigen 100%.

D. Intubasi Endotrakheal
Indikasi :
a. Bila cairan amnion bercampur meconium dan bayi mengalami
depresi napas, tonus otot jelek, atau denyut jantung < 100 x/menit
maka intubasi dilakukan pada kesempatan pertama (perlu melakukan
penghisapan melalui trachea untuk mengeluarkan meconium),
sebelum memulai tindakan resusitasi yang lain.
b. Bila VTP dengan balon dan sungkup tidak efektif (tidak
mengembangkan dada) atau memaksimalkan efisiensi VTP,
membutuhkan pemberian VTP agak lama, dicurrigai ada hernia
diafragmatiak, pemberian surfaktan dan berat bayi amat sangat
rendah (berat lahir kurang dari 1.000 gram)
Bila diperlukan kompresi dada, intubasi memudahkan koordinasi
kompresi dada dan VTP.
E. Obat-obatan
Obat-obatan baru diperlukan pada resusitasi neonates bila tidak
memberikan respon dengan pemberian VTP yang adekuat dengan
oksigen 100% dan kompresi dada.
1. Epinefrin
a. Indikasi
Frekuensi jantung tetap dibawah 60 x/menit walaupun telah
dilakukan paling sedikit 30 detik ventilasi adekuat dengan oksigen
100% dan penekanan dada.
Frekuensi jantung nol. Bila detak jantung tidak dapat dideteksi,
epinefrin harus diberikan segera pada saat yang sama dengan VTP
dan penekanan dada dimulai.
b. Pemberian
Dosis 0,1 – 0,3 ml/kgBB epinefrin 1:10.000 intravena atau 0,3 – 1
ml/kgBB melalui ETT, dapat diulang setiap 3 – 5 menit bila
frekuensi jantung kurang dari 60 x/menit.
2. Cairan penambah volume darah
Bila bayi tidak memberikan respon terhadap resusitasi dan ada bukti
kehilangan darah maka indikasi pemberian cairan penambah volume
darah, yaitu garam fisiologis atau ringer laktat dengan dosis 10
ml/kgBB.
3. Nalokson
Bila ibu mendapat morphin atau petidin dalam waktu 4 jam terakhir
dan tidak ada usaha napas, tetapi frekuensi jantung dan warna kulit
normal langsung diberikan nalokson 0,1 mg/kgBB intravena melalui
vena umbilikalis atau pipa endotracheal.
Ingatlah, walaupun didapatkan frekuensi jantung nol, penekanan dan
ventilasi harus dilanjutkan sampai diambil keputusan medik untuk
menghentiakn tindakan resusitasi.
Resusitasi dihentikan bila semua langkah dilakukan dengan baik selama
15 menit frekuensi jantung tetap nol.
9. Edukasi Penjelasan mengenai komplikasi jangka panjang dan jangka pendek dari
asfiksia perinatal.
Penjelasan mengenai factor risiko asfiksia neonatorum.
10. Prognosis Ad vitam : dubia
Ad sanationam : dubia
Ad fungsionam : dubia
11. Tingkat Evidens II
12. Tingkat B
Rekomendasi
13. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A
2) dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A

14. Indikator Medis Nilai APGAR dan manifestasi neurologic


15. Target Tidak sesak, dengan frekuensi napas 40 – 60 x/menit. Tidak ada tanda-tanda
infeksi, penyakit penyerta dan komplikasi telah teratasi dan bisa minum
secara adekuat.
16. Kepustakaan 1. American Heart Associaton and American Academy of PediatricTexbook
of neonatal resuscitation. Kattwinkel J. penyunting.Edisike 6,2011.
2. Rehan KV, Phibbs Rh. Delivery Room management. Dalam : Macdonald
MG,Mullet MD, SeshiaM,penyunting. Avery’s Neonatology,
Pathophysiology & management of the newborn.Edisi 6.Philadelphia
:Lippincont William & Wilkins, 2005; 302-26.
3. Sill J. Perinal asphyxia.Dalam: Gomella TL, cuninngham MD, Eyal FG,
Zenk KE, Penyunting. Neonatology, management, producer, on
callproblem, deases, and drug.Edisi 6. New york: Lange McGraw Hill,
2009;624-36.
4. Goldsmith JP.Delivery Room resuscitation of the newborn.Dalam :Martin
RJ, Fanaroff AA, Walsh MC, penyunting Fanaroff dan Martin’s neonatal
perinatal medicine. Edisike 9.Missouri : Elsevier, 2011;245-76.
5. Papile LA, Adcock LM. Clorety JP, Eichenwald EC, Stark AR, Peyunting
.manual of neonatal care, Edisi 6. Philadelphia :Lippincont William &
Wilkins, 2008;159-63.
PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

GAWAT NAPAS PADA NEONATUS


P 22.0
1. Definisi Kumpulan dari 2 atau lebih gejala gangguan ventilasi paru yang ditandai
dengan frekuensi napas > 60 x/menit; merintih pada waktu ekspirasi; retraksi
intercostal, subcostal, supra-sternal, dan epigastrium; pernapasan cuping
hidung dan sianosis.
2. Anamnesis Masa gestasi, cara persalinan, nilai APGAR, air ketuban bercampur
meconium, faktor risiko atau faktor predisposisi infeksi (suhu ibu > 38°C,
leukosit ibu >15.000/mm3, air ketuban keruh & berbau busuk, ketuban pecah
> 12 jam, partus kasep).
3. Pemeriksaan Tergantung bentuk klinis:
Fisik 1. Transient Tachypnoe of the Newborn : dispnu, takipnu, retraksi,
merintih, sianosis, vesikuler normal.
2. Penyakit Membran Hyalin : dispnu, takipnu, retraksi, merintih,
sianosis, vesikuler menurun, dan tanda-tanda bayi kurang bulan.
3. Bronkopneumonia : dispnu, takipnu, retraksi, merintih, sianosis,
vesikuler dapat normal atau menurun, dan jarang ditemukan ronkhi.
4. Sindroma Aspirasi Meconium : dispnu, takipnu, retraksi, merintih,
sianosis, vesikuler dapat normal atau menurun, meconium staining, dan
dada dapat tampak lebih cembung.
5. Pneumothoraks : dispnu, takipnu, retraksi, merintih, sianosis, vesikuler
menurun, sela iga melebar dan dada tampak lebih cembung, dan gerakan
dinding dada asimetris.
6. Hernia Diafragmatika : dispnu, takipnu, retraksi, merintih, sianosis,
vesikuler menurun, dada tampak lebih cembung, perut skapoid, dan dapat
terdengar peristaltik usus pada thoraks.
7. Kelumpuhan Saraf Phrenikus : dispnu, takipnu, retraksi, merintih,
sianosis, vesikuler menurun dan sering ditemui brakial palsi
(parese/paralise Erb).
4. Kriteria Ditemukan gejala klinis atau gejala klinis ditambah dengan hasil pemeriksaan
Diagnosis penunjang positif :
1. Transient Tachypnoe of the Newborn : gejala klinis + foto thoraks
(hiperinflasi paru, perihillar cuffing, cairan di fisura interlobularis,
diafragma lebih datar, kardiomegali ringan).
2. Penyakit Membran Hyalin : gejala klinis + foto thoraks (infiltrate
retikulogranuler, air bronchogram, batas jantung paru kabur, kollaps
seluruh paru).
3. Bronkopneumonia : gejala klinis + foto thoraks (infiltrate tak spesifik).
4. Sindroma Aspirasi Meconium : gejala klinis + foto thoraks (diafragma
datar, sela iga lebar, bercak infiltrate kasar).
5. Pneumothoraks : gejala klinis + foto thoraks (radiolusen dan kolaps
parsial atau total paru yang terkena, pergeseran mediastinum, pendataran
diafragma) + transluminasi positip terutama pada bayi kecil.
6. Hernia Diafragmatika : gejala klinis + foto thoraks (tampak gambaran
usus di rongga thoraks).
7. Kelumpuhan Saraf Phrenikus : gejala klinis + foto thoraks (elevasi
diafragma sisi parese, pergeseran mediastinum dan atelectasis) + USG
(gangguan/berkurang gerakan diafragma sisi parese).
5. Diagnosis Sesuai klinis dan pemeriksaan penunjang
6. Diagnosis Tergantung diagnosis
Banding
7. Pemeriksaan Darah : Hb, leukosit, diff. count, trombosit, mikro LED dan CRP
Penunjang Radiologi (foto thoraks dan ultrasonography)
Transluminasi
8. Terapi 1. Suportif, umumnya sama pada semua gawat napas, yaitu :
a. Pemberian cairan
 IVFD dekstrose 7½% atau 10% + Ca glukonas sesuai dengan
kebutuhan bayi
 Mulai hari ke 3 ditambahkan NaCl 15% sebanyak 6 cc/kolf
 Bila ada tanda dehidrasi atasi dehidrasi
 Bila ada asidosis berikan cairan dekstrose dan natrium
bikarbonat (4 : 1). Bila dapat diperiksa analisa gas darah,
asidosis dan dikoreksi langsung dengan pemberian cairan
Natrium Bikarbonat 4,2% secara perlahan-lahan.
 Bila belum bisa makan per oral beri larutan asam amino 1 – 3
g/kgBB/hari. Bila sudah bisa minum per oral beri ASI atau susu
formula.
b. Terapi oksigen (intra nasal, head box, bubble CPAP, ventilator)
2. Antibiotika : Ampisilin dan gentamisin, bila tidak ada perbaikan dalam 2
hari, gentamisin diganti dengan ceftazidime.
3. Terapi khusus, tergantung dari etiologi gawat napas :
a. Pneumothoraks :
 Tidak ada tension pneumothoraks : berikan oksigen 100%
selama 12 jam pada bayi aterm (nitrogen washing).
 Dengan tension pneumothoraks dilakukan pemasangan kateter
intercostal dengan kontinous suction (WSD).
 Jika keadaan kritis dapat dilakukan aspirasi dengan
menggunakan wing needle no. 21 dan spuit 5 cc serta three way
stopcock (diagnosis dan terapi).
b. Hernia Diaphragmatika : operatif ( repair diafragma)
c. Parese Syaraf Phrenikus : konservatif (bayi dimiringkan ke sisi
parese), operatif bila setelah 1 bulan tidak ada perbaikan (plikasi
diafragma).
9. Edukasi Penjelasan mengenai faktor risiko dan penatalaksanaan serta komplikasi yang
mungkin terjadi.
10. Prognosis Ad vitam : dubia
Ad sanationam : dubia
Ad fungsionam : dubia
11. Tingkat II
Evidens
12. Tingkat A
Rekomendasi
13. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A
2) dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A
14. Indikator Medis 1. Klinis
2. Pemeriksaan penunjang
15. Target Tidak sesak dengan frekuensi napas 40 – 60 x/menit, minum baik, tidak ada
tanda infeksi, dan penyakit penyebab telah terkendali.
16. Kepustakaan 1. Whisset J.A., Rice W.R., Warner B.B., Wert S.E., Pryhuber G.S.
Acute Respiratory deases Dissorder. Dalam : Macdonald MG,Mullet
MD, Seshia M, penyunting. Avery’s Neonatology, Pathophysiology &
management of the newborn. Edisi 6. Philadelphia : Lippincont
William & Wilkins,2005;553-77.
2. Troug W.E., Golombek S.G., principles of Management of
Respiratory Problems. Dalam:Macdonald MG,Mullet MD, Seshia M,
penyunting. Avery’s Neonatology, Pathophysiology & management of
the newborn. Edisi 6. Philadelphia : Lippincont William &
Wilkins,2005;600-21.
3. Bany-Mohammed F, Gomella TL, cuninngham MD, Eyal FG, Zenk
KE, Penyunting. Neonatology, management, producer, on
callproblem, deases, and drug.Edisi 6. New york: Lange McGraw Hill,
2003;524-52.
4. M.Soleh Kasim. Gangguan Nafas Pada Bayi Baru Lahir. Dalam :
Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A. penyunting
Buku Ajar Neonatology. Edisi 1. Jakarta : Badan Penerbit IDAI,
2008;126-46.
5. Bhakta K.Y. Respiratory Distress Syndrom.Dalam: Cloherty JP,
Eichenwald EC, Strak AR, Peyunting .manual of neonatal care, Edisi
6. Philadelphia : Lippincont William & Wilkins, 2008;323-30.
PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

PENYAKIT MEMBRAN HIALIN


P 22.0
1. Definisi Sindroma gawat napas uang disebabkan defisiensi surfaktan
2. Anamnesis Premature, riwayat ibu DM, asfiksia, gemelli II, perdarahan ante partum,
persalinan dengan section cesaria.
3. Pemeriksaan Dispnu, takipnu, retraksi, merintih, sianosis, vesikuler menurun dan tanda-
Fisik tanda bayi kurang bulan.
4. Kriteria Gejala klinis + foto thoraks (inflitrat retikulogranuler, air bronchogram, batas
Diagnosis jantung paru kabur, kollaps seluruh paru).
5. Diagnosis Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan foto thoraks.
6. Diagnosis Transient Tachypnoe of the Newborn
Banding Pneumonia
Sepsis
7. Pemeriksaan Darah : Hb, leukosit, diff. count, trombosit, mikro LED, dan CRP
Penunjang Radiologi : foto thoraks
8. Terapi 1. Suportif, umumnya sama pada semua gawat napas, yaitu :
a. Pemberian cairan
 IVFD dekstrose 7½% atau 10% + Ca glukonas sesuai dengan
kebutuhan bayi
 Mulai hari ke 3 ditambahkan NaCl 15% sebanyak 6 cc/kolf
 Bila ada tanda dehidrasi atasi dehidrasi
 Bila ada asidosis berikan cairan dekstrose dan natrium
bikarbonat (4 : 1). Bila dapat diperiksa analisa gas darah,
asidosis dan dikoreksi langsung dengan pemberian cairan
Natrium Bikarbonat 4,2% secara perlahan-lahan.
 Bila belum bisa makan per oral beri larutan asam amino 1 – 3
g/kgBB/hari. Bila sudah bisa minum per oral beri ASI atau susu
formula.
b. Terapi oksigen (intra nasal, head box, bubble CPAP, ventilator)
2. Antibiotika : Ampisilin dan gentamisin, bila tidak ada perbaikan dalam 2
hari, gentamisin diganti dengan ceftazidime.
9. Edukasi Penjelasan mengenai faktor risiko dan penatalaksanaan serta komplikasi yang
mungkin terjadi.
10. Prognosis Ad vitam : dubia
Ad sanationam : dubia
Ad fungsionam : dubia
11. Tingkat II
Evidens
12. Tingkat B
Rekomendasi
13. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A
2) dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A

14. Indikator Medis Klinis


15. Target Tidak sesak dengan frekuensi napas 40 – 60 x/menit, minum baik, tidak ada
tanda infeksi, dan penyakit penyebab telah terkendali.
16. Kepustakaan 1. Whitsett J.A, Rice W.R, Warner B.B, Wert S.E, Pryhuber G.S, Acute
Respiratory Disorder. Dalam: MacDonald MG, Mullet MD, Seshia M,
penyunting. Avery’s Neonatology Pathophysiology & Management of
the Newborn. Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Walkins,
2005;553-77.
2. Truog W.E, Golombek S.G, Principles of Management of Respiratory
Problems. Dalam: MacDonald MG, Mullet MD, Seshia M,
penyunting. Avery’s Neonatology Pathophysiology & Management of
the Newborn. Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Walkins,
2005;600-21.
3. Bany-Mohammed F, Gomella T.L, Hyaline Membran Disease. Dalam:
Gomella TL, Cunningham MD, Eyal FG, Zenk KE, penyunting.
Neonatology, management, procedur, on-call problem disease, and
drug. Edisi 5. Newyork : Lange McGraw Hill. 2003;524-52.
4. M.Sholeh Kosim. Gangguan Nafas pada bayi baru lahir. Dalam:
Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A, penyunting.
Buku Ajar Neonatologi. Edisi 1. Jakarta : Badan Penerbit IDAI,
2008;126-46.
5. Bhakta K.Y. Respiratory Distress Syndrome. Dalam: Cloherty JP,
Eichenwold EC, Stark AR, penyunting. Manual of Neonatal care.
Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Walkins, 2008;323-30.
6. Rodriguez R.J., Martin R.J, Fanaroff A.A, Respiratory Distress
Syndrome and its management. Dalam: Martin RJ, Fanaroff AA,
Walsh MC, penyunting. Fanaroff and Martin’s Neonatal-Perinatal
Medicine. Edisi 8. Missouri : Mosby Elsevier, 2006;1097-107.
7. Respiratory disorder. Dalam : Levene MI, Tudehope DI, Sinha S,
penyunting. Essential Neonatal Medicine. Edisi 4. Australia:
Blackwell Publishing, 2008;92-110.
PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

SINDROMA ASPIRASI MECONIUM


P 24.0
1. Definisi Masuknya air ketuban yang bercampur meconium ke dalam saluran napas
2. Anamnesis Masa gestasi, cara persalinan, nilai APGAR, air ketuban bercampur
meconium, faktor risiko atau faktor predisposisi infeksi (suhu ibu > 38°C,
leukosit ibu >15.000/mm3, air ketuban keruh & berbau busuk, ketuban pecah
> 12 jam, partus kasep).
3. Pemeriksaan Dispnu, takipnu, retraksi, merintih, sianosis, vesikuler dapat normal atau
Fisik menurun, meconium staining, dan dada dapat tampak lebih cembung.
4. Kriteria Gejala klinis + foto thoraks (diafragma datar, sela iga lebar, bercak infiltrate
Diagnosis kasar).
5. Diagnosis Sesuai klinis dan foto thoraks
6. Diagnosis Pneumonia
Banding
7. Pemeriksaan Darah : Hb, leukosit, diff. count, trombosit, mikro LED, dan CRP
Penunjang Radiologi : foto thoraks
8. Terapi 1. Suportif, umumnya sama pada semua gawat napas, yaitu :
a. Pemberian cairan
 IVFD dekstrose 7½% atau 10% + Ca glukonas sesuai dengan
kebutuhan bayi
 Mulai hari ke 3 ditambahkan NaCl 15% sebanyak 6 cc/kolf
 Bila ada tanda dehidrasi atasi dehidrasi
 Bila ada asidosis berikan cairan dekstrose dan natrium
bikarbonat (4 : 1). Bila dapat diperiksa analisa gas darah,
asidosis dan dikoreksi langsung dengan pemberian cairan
Natrium Bikarbonat 4,2% secara perlahan-lahan.
 Bila belum bisa makan per oral beri larutan asam amino 1 – 3
g/kgBB/hari. Bila sudah bisa minum per oral beri ASI atau susu
formula.
b. Terapi oksigen (intra nasal, head box, bubble CPAP, ventilator)
2. Antibiotika : Ampisilin dan gentamisin, bila tidak ada perbaikan dalam 2
hari, gentamisin diganti dengan ceftazidime.
9. Edukasi Penjelasan mengenai faktor risiko dan penatalaksanaan serta komplikasi yang
mungkin terjadi.
10. Prognosis Ad vitam : dubia
Ad sanationam : dubia
Ad fungsionam : dubia
11. Tingkat II
Evidens
12. Tingkat B
Rekomendasi
13. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A
2) dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A
14. Indikator Medis Klinis : tanda-tanda gawat napas
15. Target Tidak sesak dengan frekuensi napas 40 – 60 x/menit, minum baik, tidak ada
tanda infeksi, dan penyakit penyebab telah terkendali.
16. Kepustakaan 1. Whitsett J.A, Rice W.R, Warner B.B, Wert S.E, Pryhuber G.S, Acute
Respiratory Disorder. Dalam: MacDonald MG, Mullet MD, Seshia M,
penyunting. Avery’s Neonatology Pathophysiology & Management of
the Newborn. Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Walkins,
2005;553-77.
2. Truog W.E, Golombek S.G, Principles of Management of Respiratory
Problems. Dalam: MacDonald MG, Mullet MD, Seshia M,
penyunting. Avery’s Neonatology Pathophysiology & Management of
the Newborn. Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Walkins,
2005;600-21.
3. M.Sholeh Kosim. Gangguan Nafas pada bayi baru lahir. Dalam:
Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A, penyunting.
Buku Ajar Neonatologi. Edisi 1. Jakarta : Badan Penerbit IDAI,
2008;126-46.
4. Bhakta K.Y. Respiratory Distress Syndrome. Dalam: Cloherty JP,
Eichenwold EC, Stark AR, penyunting. Manual of Neonatal care.
Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Walkins, 2008;323-30.
5. Rodriguez R.J., Martin R.J, Fanaroff A.A, Respiratory Distress
Syndrome and its management. Dalam: Martin RJ, Fanaroff AA,
Walsh MC, penyunting. Fanaroff and Martin’s Neonatal-Perinatal
Medicine. Edisi 8. Missouri : Mosby Elsevier, 2006;1097-107.
6. Respiratory disorder. Dalam : Levene MI, Tudehope DI, Sinha S,
penyunting. Essential Neonatal Medicine. Edisi 4. Australia:
Blackwell Publishing, 2008;92-110.
PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

HERNIA DIAFRAGMATIKA
K 44.9
1. Definisi Adanya defek pada diafragma sehingga isi abdomen masuk ke rongga thoraks
2. Anamnesis Riwayat asfiksia dan sesak napas sejak lahir
3. Pemeriksaan Dispnu, takipnu, retraksi, merintih, sianosis, vesikuler menurun, dada tampak
Fisik lebih cembung, perut skapoid, dan dapat terdengar peristaltik usus pada
thoraks.
4. Kriteria Gejala klinis + foto thoraks (tampak gambaran usus di rongga thoraks).
Diagnosis
5. Diagnosis Sesuai klinis dan foto thoraks.
6. Diagnosis Eventrasi diafragma kongenital
Banding Kelumpuhan syaraf phrenikus
7. Pemeriksaan Darah : Hb, leukosit, diff. count, trombosit, mikro LED, dan CRP
Penunjang Radiologi : foto thoraks
8. Terapi 1. Suportif, umumnya sama pada semua gawat napas, yaitu :
a. Pemberian cairan
 IVFD dekstrose 7½% atau 10% + Ca glukonas sesuai dengan
kebutuhan bayi
 Mulai hari ke 3 ditambahkan NaCl 15% sebanyak 6 cc/kolf
 Bila ada tanda dehidrasi atasi dehidrasi
 Bila ada asidosis berikan cairan dekstrose dan natrium
bikarbonat (4 : 1). Bila dapat diperiksa analisa gas darah,
asidosis dan dikoreksi langsung dengan pemberian cairan
Natrium Bikarbonat 4,2% secara perlahan-lahan.
 Bila belum bisa makan per oral beri larutan asam amino 1 – 3
g/kgBB/hari. Bila sudah bisa minum per oral beri ASI atau susu
formula.
b. Terapi oksigen (intra nasal, head box, bubble CPAP, ventilator)
2. Antibiotika : Ampisilin dan gentamisin, bila tidak ada perbaikan dalam 2
hari, gentamisin diganti dengan ceftazidime.
3. Terapi khusus : operatif (repair diafragma).
9. Edukasi Penjelasan mengenai faktor risiko dan penatalaksanaan serta komplikasi yang
mungkin terjadi.
10. Prognosis Ad vitam : dubia
Ad sanationam : dubia
Ad fungsionam : dubia
11. Tingkat II
Evidens
12. Tingkat B
Rekomendasi
13. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A
2) dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A

14. Indikator Medis Klinis : tanda-tanda gawat napas


Foto toraks
15. Target Tidak sesak dengan frekuensi napas 40 – 60 x/menit, minum baik, tidak ada
tanda infeksi, dan penyakit penyebab telah terkendali.
16. Kepustakaan 1. Whitsett J.A, Rice W.R, Warner B.B, Wert S.E, Pryhuber G.S, Acute
Respiratory Disorder. Dalam: MacDonald MG, Mullet MD, Seshia M,
penyunting. Avery’s Neonatology Pathophysiology & Management of
the Newborn. Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Walkins,
2005;553-77.
2. Truog W.E, Golombek S.G, Principles of Management of Respiratory
Problems. Dalam: MacDonald MG, Mullet MD, Seshia M,
penyunting. Avery’s Neonatology Pathophysiology & Management of
the Newborn. Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Walkins,
2005;600-21.
3. M.Sholeh Kosim. Gangguan Nafas pada bayi baru lahir. Dalam:
Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A, penyunting.
Buku Ajar Neonatologi. Edisi 1. Jakarta : Badan Penerbit IDAI,
2008;126-46.
4. Bhakta K.Y. Respiratory Distress Syndrome. Dalam: Cloherty JP,
Eichenwold EC, Stark AR, penyunting. Manual of Neonatal care.
Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Walkins, 2008;323-30.
5. Rodriguez R.J., Martin R.J, Fanaroff A.A, Respiratory Distress
Syndrome and its management. Dalam: Martin RJ, Fanaroff AA,
Walsh MC, penyunting. Fanaroff and Martin’s Neonatal-Perinatal
Medicine. Edisi 8. Missouri : Mosby Elsevier, 2006;1097-107.
6. Respiratory disorder. Dalam : Levene MI, Tudehope DI, Sinha S,
penyunting. Essential Neonatal Medicine. Edisi 4. Australia:
Blackwell Publishing, 2008;92-110.
PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

PERDARAHAN PARU
P 26.9
1. Definisi Terdapatnya darah di saluran napas yang disertai perburukan klinis penderita
dan bukan disebabkan trauma.
2. Anamnesis Terdapat darah yang keluar dari endotracheal tube atau dari laring.
3. Pemeriksaan Terdapat darah yang keluar dari endotracheal tube atau dari laring pada bayi
Fisik yang tidak diintubasi. Hipoaktif, pucat, takikardi, hipotensi, sesak, sianosis,
vesikuler melemah. Pada perdarahan massif klinis penderita cepat memburuk.
Mungkin dapat ditemui manifestasi perdarahan di tempat lain.
4. Kriteria A. Pemeriksaan Fisik
Diagnosis Terdapat darah yang keluar dari endotracheal tube atau dari laring pada
bayi yang tidak diintubasi. Hipoaktif, pucat, takikardi, hipotensi, sesak,
sianosis, vesikuler melemah. Pada perdarahan massif klinis penderita
cepat memburuk. Mungkin dapat ditemui manifestasi perdarahan di
tempat lain.
B. Pemeriksaan Laboratorium
i. Pemeriksaan darah (Hb, hematokrit, leukosit, diff. count,
trombosit, clotting time, prothrombin time, partial thromboplastin
time, thrombin time).
ii. Analisis gas darah
C. Radiologi : foto thoraks : pada perdarahan local terdapat infiltrate
(patchy, linier, atau noduler) dan pada perdarahan massif didapati
gambaran radiopaque pada kedua lapang paru dengan air bronchogram.
5. Diagnosis Sesuai klinis dan pemeriksaan penunjang
6. Diagnosis Ditujukan pada etiologic
Banding
7. Pemeriksaan A. Pemeriksaan Laboratorium
Penunjang i. Pemeriksaan darah (Hb, hematokrit, leukosit, diff. count,
trombosit, clotting time, prothrombin time, partial thromboplastin
time, thrombin time).
ii. Analisis gas darah
B. Radiologi : foto thoraks : pada perdarahan local terdapat infiltrate
(patchy, linier, atau noduler) dan pada perdarahan massif didapati
gambaran radiopaque pada kedua lapang paru dengan air bronchogram.
8. Terapi A. Umum :
1. Bersihkan jalan napas
2. Perbaiki tekanan darah
3. Koreksi asidosis
4. Transfusi darah (bila perlu)
5. Obati penyebab yang mendasari
B. Khusus :
1. Ventilator terpasang :
a. Bersihkan jalan napas melalui ETT
b. Tingkatkan FiO2
c. Tingkatkan PEEP sampai 6 – 8 cm H2O
d. Pertimbangkan untuk menggunakan PIP
2. Tidak menggunakan ventilator :
a. Bersihkan jalan napas
b. Pertimbangkan pemasangan ventilator
9. Edukasi Penjelasan mengenai faktor risiko dan penatalaksanaan serta komplikasi yang
mungkin terjadi.
10. Prognosis Ad vitam : dubia
Ad sanationam : dubia
Ad fungsionam : dubia
11. Tingkat II
Evidens
12. Tingkat B
Rekomendasi
13. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A
2) dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A

14. Indikator Medis Klinis


15. Target Perdarahan teratasi
16. Kepustakaan 1. Whitsett J.A, Rice W.R, Warner B.B, Wert S.E, Pryhuber G.S, Acute
Respiratory Disorder. Dalam: MacDonald MG, Mullet MD, Seshia M,
penyunting. Avery’s Neonatology Pathophysiology & Management of
the Newborn. Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Walkins,
2005;573-4.
2. Pulmonary hemorrhage. Dalam: Gomella TL, Cunningham MD, Eyal
FG, Zank KE, penyunting. Neonatology, management, procedures, on-
call problems, desease, and drug. Edisi 5. Newyork : Lange McGraw
Hill, 2004;304-5.
3. Louis N.A. Pulmonary Hemorrhage. Dalam: Cloherty JP, Eichenwald
EC, Stark AR, penyunting. Manual of Neonatal care. Edisi 6.
Philadelphia : Lippincott William & Wilkins, 2008;366-68.
4. Jobe A.H. The Respiratory System. Dalam: Martin RJ, Fanaroff AA,
Walsh MG, penyunting. Fanaroff and Martins’s Neonatal-Perinatal
Medicine. Edisi 8. Sint Louis : Mosby Elsevier, 2006;1127.
5. Massive pulmonary hemorrhage. Dalam : Levene MI, Tudehope DI,
Sinha S, penyunting. Essential Neonatal Medicine, Edisi 4. Australia:
Blackwell Publishing, 2008;104.
PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

INFEKSI PADA NEONATUS


P 38
1. Definisi Sindroma klinis dari infeksi lokal / sistemik pada bayi yang terjadi dalam
bulan pertama kehidupan.
Tersangka infeksi adalah bila bayi baru lahir mempunyai faktor risiko /
predisposisi untuk infeksi, yaitu :
 Suhu ibu > 38°C
 Leukosit ibu >15.000/mm3
 Air ketuban keruh & berbau busuk
 Ketuban pecah > 12 jam
 Partus kasep
2. Anamnesis Faktor risiko atau faktor predisposisi infeksi (suhu ibu > 38°C, leukosit ibu
>15.000/mm3, air ketuban keruh & berbau busuk, ketuban pecah > 12 jam,
partus kasep), perawatan tali pusat, dan pemberian zalf mata setelah
melahirkan.
3. Pemeriksaan Tergantung bentuk klinis :
Fisik 1. Omfalitis : indurasi & eritema sekitar umbilicus, bau busuk kadang
terdapat pus.
2. Oftalmia neonatorum gonnorrhoika : timbul umur 2 – 5 hari, pada mata
ditemukan edema kelopak mata, palpebral/konjungtiva merah, secret pus
banyak, bisa mengenai satu atau dua mata.
3. Bronkopneumonia : dispnu, takipnu, retraksi, merintih, sianosis,
vesikuler dapat normal atau menurun, dan jarang ditemukan ronchi.
4. Gastroenteritis : diare, muntah, perut kembung, dan tanda-tanda
dehidrasi.
5. Klinis sepsis : didapatkan gejala sepsis, namun tidak didukung hasil
pemeriksaan laboratorium. Gejala klinis sepsis terdiri atas :
a. Gejala umum : bayi tampak lemah, terdapat gangguan minum yang
disertai penurunan berat badan, keadaan uum memburuk, dan
hipotermi/hipertermi.
b. Gejala SSP : letargi, iritabilitas, hiporefleks, tremor, kejang,
hipotoni/hipertoni, serangan apnu, dan gerakan bola mata tidak
terkoordinasi.
c. Gejala pernapasan : dispnu, takipnu, apnu, dan sianosis.
d. Gejala GIT : muntah, diare, meteorismus, dan hepatomegaly.
e. Kelainan kulit : purpura, eritema, pustula, dan sklerema.
f. Kelainan sirkulasi : pucat/sianosis, takikardia/aritmia, hipotensi,
edema, dan akral dingin.
g. Kelainan hematologi : perdarahan, ikterus, atau purpura.
6. Sepsis : gejala klinis sepsis ditambah lebih dari satu pemeriksaan
laboratorium yang positif (leukosit < 5.000/mm3 atau > 34.000/mm3, I/T
ratio 0,2 atau lebih, mikro LED > 15 mm/jam, CRP > 9 mm/dL) atau
kultur darah yang positif.
7. Meningitis : Sepsis ditambah hasil pemeriksaan cairan serebrospinal yang
positif.
4. Kriteria Ditemukan gejala klinis atau gejala klinis ditambah dengan hasil pemeriksaan
Diagnosis penunjang yang positif.
1. Omfalitis : gejala klinis.
2. Oftalmia neonatorum gonnorrhoika : gejala klinis + ditemukan
diplokokus gram negative intra & ekstraseluler di sekret mata.
3. Bronkopneumonia : gejala klinis + gambaran infiltrate pada foto thoraks.
4. Gastroenteritis : gejala klinis.
5. Klinis sepsis : bila bayi baru lahir mempunyai faktor risiko atau faktor
predisposisi untuk infeksi, yaitu : suhu ibu > 38°C, leukosit ibu
>15.000/mm3, air ketuban keruh & berbau busuk, ketuban pecah > 12
jam, partus kasep
6. Sepsis : gejala klinis + lebih dari satu pemeriksaan laboratorium yang
positif atau kultur darah yang positif.
7. Meningitis : gejala klinis sepsis + hasil pemeriksaan cairan
serebrospinalis :
 Tes pandy : + atau ++
 Jumlah sel : umur 0 – 48 jam : > 100/mm3
umur 2 – 7 hari : > 50/mm3
umur > 7 hari : > 32/mm3
 Diff. count : PMN meningkat, protein meningkat, dan glukosa
menurun.
5. Diagnosis Sesuai klinis dan pemeriksaan penunjang
6. Diagnosis Tergantung diagnosis
Banding
7. Pemeriksaan Darah : Hb, leukosit, diff. count, trombosit, mikro LED, dan kultur dan tes
Penunjang resistensi.
LCS : protein, diff. count, pengecatan gram, dan kultur.
Urin : rutin, dan kultur dan tes resistensi.
USG transfontanela : terutama untuk melihat komplikasi meningitis
(ventrikulitis dan hidrosefalus).
8. Terapi 1. Omfalitis :
Bersihkan tali pusat dengan alcohol 70% dan povidine iodine.
Beri antibiotika ampisilin dan gentamisin.
2. Oftalmia neonatorum gonnorrhoika :
Isolasi irigasi mata dengan ringer laktat, beri antibiotika ceftriakson dosis
tunggal 25 – 50 mg/kgBB (maksimal 125 mg).
Profilaksis : salep mata tetrasiklin diberikan segera pada semua bayi baru
lahir.
3. Bronkopneumonia :
a. Pemberian cairan
 IVFD dekstrose 7½% atau 10% + Ca glukonas sesuai dengan
kebutuhan bayi
 Mulai hari ke 3 ditambahkan NaCl 15% sebanyak 6 cc/kolf
 Bila ada tanda dehidrasi atasi dehidrasi
 Bila ada asidosis berikan cairan dekstrose dan natrium
bikarbonat (4 : 1). Bila dapat diperiksa analisa gas darah,
asidosis dan dikoreksi langsung dengan pemberian cairan
Natrium Bikarbonat 4,2% secara perlahan-lahan.
 Bila belum bisa makan per oral beri larutan asam amino 1 – 3
g/kgBB/hari. Bila sudah bisa minum per oral beri ASI atau susu
formula.
b. Terapi oksigen (intra nasal, head box, bubble CPAP, ventilator).
c. Antibiotika : Ampisilin dan gentamisin, bila tidak ada perbaikan dalam
2 hari, gentamisin diganti dengan ceftazidime.
4. Gastroenteritis :
a. Pemberian cairan :
 GEA derajat ringan-sedang :
Diberikan IVFD.
 GEA derajat berat :
 Dengan asidosis : dekstrose 5% 480 cc + Bicnat 7½% 10
– 20 cc
 Tanpa asidosis atau asidosis telah teratasi : dekstrose 5%
500 cc + NaCl 3% sebanyak 30 cc.

Jumlah dan kecepatan pemberian pada dehidrasi berat :


 4 jam pertama 100 cc/kgBB atau 25 tetes/kgBB/menit
(mikrodrip).
 20 jam berikutnya 150 cc/kgBB atau 7½ tetes/kgBB/menit.
b. Obat-obatan :
 Antibiotika : ampisilin dan gentamisin.
 Anti jamur : nystatin bila ada indikasi.
c. Minum :
Langsung diberikan ASI begitu bayi dapat minum, bila bayi mendapat
PASI di rumah diberikan susu yang sama dengan pengenceran
setengah kemudian penuh.
5. Klinis sepsis :
Pada bayi langsung diberikan ampisilin dan gentamisin.
Bila selama observasi ditemukan tanda infeksi baik klinis dan
laboratorium, antibiotika diganti dengan ceftazidime.
6. Sepsis :
a. Pemberian cairan sesuai dengan kebutuhan bayi.
b. Terapi oksigen bila diperlukan.
c. Antibiotika : ceftazidime. Bila dicurigai infeksi oleh karena
staphilokokus maka diberikan sefalosporin generasi ke-2, 50
mg/kgBB/hari dalam 2 kali pemberian, bila tidak ada perbaikan
klinis dalam 48 jam atau keadaan umum semakin memburuk,
pertimbangkan pindah ke antibiotika yang lebih poten, misalnya
meropenem atau sesuai dengan hasil tes resistensi.
Antibiotika diberikan 7 – 10 hari (antibiotik dihentikan setelah klinis
membaik 5 hari).
7. Meningitis :
a. Pemberian cairan sesuai dengan kebutuhan bayi.
b. Terapi oksigen bila diperlukan.
c. Antibiotika : ceftazidime.
Bila tidak ada perbaikan klinis dalam 48 jam atau keadaan umum
semakin memburuk, pertimbangkan pindah ke antibiotik yang lebih
poten atau sesuai dengan hasil tes resistensi. Antibotika diberikan selama
21 hari.
9. Edukasi Penjelasan mengenai faktor risiko dan penatalaksanaan serta komplikasi yang
mungkin terjadi.
10. Prognosis Ad vitam : dubia
Ad sanationam : dubia
Ad fungsionam : dubia
11. Tingkat II
Evidens
12. Tingkat B
Rekomendasi
13. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A
2) dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A
14. Indikator Medis Klinis dan pemeriksaan penunjang.
15. Target Klinis membaik dan tanda-tanda infeksi telah teratasi.
16. Kepustakaan 1. Schelonka R.L., Freij B.J., McCracken G.H. Bacterial and fungal
infections. Dalam : Macdonald MG,Mullet MD, Seshia M,
penyunting. Avery’s Neonatology, Pathophysiology & management of
the newborn. Edisi 6. Philadelphia : Lippincont William &
Wilkins,2005;1235-73.
2. Asril Aminullah. Sepsis pada bayi baru lahir. Dalam : Kosim MS,
Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A. penyunting Buku Ajar
Neonatology. Edisi 1. Jakarta : Badan Penerbit IDAI, 2008;170-87.
3. Naglie R. Infecttions Deases. Dalam: Gomella TL, cuninngham MD,
Eyal FG, Zenk KE, Penyunting. Neonatology, management, producer,
on callproblem, deases, and drug. Edisi 6. New york: Lange McGraw
Hill, 2003;434-68.
4. Puopolo K.M. Bacterial and fungal infections Dalam :Clorety JP,
Eichenwald EC, Stark AR, Peyunting .manual of neonatal care, Edisi
6. Philadelphia : Lippincont William & Wilkins, 2008;159-63.
5. Edwards M.S. Postnatal Bacterial infections. Dalam : Martin RJ,
Fanaroff AA, Walsh MC, penyunting Fanarof fdan Martin’s neonatal
perinatal medicine. Edisike 9. Missouri : Elsevier, 2006;791-829.
6. Klein J.O., Nizet V. Bacterial sepsis and meningitis. Dalam :
Remington JS, Jerome O, Klaein MD, penyunting. Remington’s
infections Diseases of the Fetus and Fetus and Newborn Infant. Edisi
5. Philadelphia : WB Saundares Company. 2001;222-75.
7. Barnett E.D., Klein J.O., Nizet V. Bacterial sepsis and meningitis.
Dalam : Remington JS, Jerome O, Klaein MD, penyunting.
Remington’s infections Diseases of the Fetus and Fetus and Newborn
Infant. Edisi 5. Philadelphia : WB Saundares Company. 2001;222-75.
8. O’Ryan M.L., Nataro JP., Microorganisme responsible for neonatal
diarrhea. Remington’s infections Diseases of the Fetus and Fetus and
Newborn Infant. Edisi 5. Philadelphia : WB Saundares Company.
2001;222-75.
9. Embree J.E gonococcal infections. Dalam :Remington’s infections
Diseases of the Fetus and Fetus and Newborn Infant. Edisi 5.
Philadelphia : WB Saundares Company. 2001;222-75.
Dosis pemberian antibiotika berdasarkan berat badan dan umur
Dosis (mg/kgBB) dan interval pemberian
< 1.200 1.200 – 2.000 > 2.000
Antibiotika Cara pemb. 0 – 4 mgg 0 – 7 hari > 7 hari 0 – 7 hari > 7 hari
Amikasin IV / IM 7,5 /12 jam 7,5 /12 jam 7,5 /8 jam 10/12 jam 10 /8 jam
Ampisilin IV 25/12 jam 25/12 jam 25/8 jam 25/8 jam 25/6 jam
Ampisilin* IV 50/12 jam 50/12 jam 50/8 jam 50/8 jam 50/6 jam
Ceftazidime IV 50/12 jam 50/12 jam 50/8 jam 50/8 jam 50/8 jam
Ceftazidime* IV 50/8 jam 50/8 jam 50/8 jam 50/8 jam 50/8 jam
Gentamisin IV / IM 2,5/18 jam 2,5/12 jam 2,5/8 jam 2,5/12 jam 2,5/8 jam
Meropenem IV 20/12 jam 20/12 jam 20/12 jam 20/12 jam 20/8 jam
Meropenem* IV 40/8 jam 40/8 jam 40/8 jam 40/8 jam 40/8 jam
Metronidazol IV 7,5/48 jam 7,5/24 jam 7,5/12 jam 7,5/12 jam 15/12 jam
Keterangan :
Tanda astriks (*) : dosis untuk meningitis bakterialis.
PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

OPHTALMIA GONNORRHOIKA NEONATORUM


A 54.3
1. Definisi Konjungtivitis neonatus yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae
2. Anamnesis Timbul umur 2 – 5 hari, pada mata ditemukan sekret pus, banyak, bisa
mengenai satu atau dua mata.
3. Pemeriksaan Pada mata ditemukan edema kelopak mata, palpebra/konjungtiva merah,
Fisik sekret pus banyak bisa mengenai satu atau dua mata.
4. Kriteria Gejala klinis + ditemukan diplokokus gram negatif intra & ekstraseluler di
Diagnosis sekret mata.
5. Diagnosis Sesuai klinis dan penunjang
6. Diagnosis Konjungtivitis akut
Banding
7. Pemeriksaan Darah : Hb, leukosit, diff. count, trombosit, dan mikro LED.
Penunjang Pengecatan gram dari sekret mata ditemukan kuman gram negatif diplokokus
(bentuk biji kopi) intra dan ekstra sel.
8. Terapi Isolasi, irigasi mata dengan ringer laktat, beri antibiotika ceftriakson dosis
tunggal 25 – 50 mg/kgBB (maksimal 125 mg).
Profilaksis : salep mata tetrasiklin diberikan segera pada semua bayi baru lahir
9. Edukasi Penjelasan mengenai faktor risiko infeksi dan penatalaksanaan serta
komplikasi
10. Prognosis Ad vitam : bonam
Ad sanationam : bonam
Ad fungsionam : bonam
11. Tingkat II
Evidens
12. Tingkat B
Rekomendasi
13. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A
2) dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A
14. Indikator Medis Klinis
15. Target Tidak ditemukan lagi sekret pada mata
16. Kepustakaan 1. Schelonka R.L., Freij B.J., McCracken G.H. Bacterial and fungal
infections Dalam : Macdonald MG,Mullet MD, Seshia M, penyunting.
Avery’s Neonatology, Pathophysiology & management of the
newborn. Edisi 6. Philadelphia : Lippincont William &
Wilkins,2005;1235-73.
2. Naghlie R. infectious Deases. Dalam: Gomella TL, cuninngham MD,
Eyal FG, Zenk KE, Penyunting. Neonatology, management, producer,
on callproblem, deases, and drug. Edisi 6. New york: Lange McGraw
Hill, 2003;434-68.
3. Puopolo K.M. Bacterial and fungal infections. Dalam : manual of
neonatal care, Edisi 6. Philadelphia : Lippincont William & Wilkins,
2008;274-300.
4. Edwards M.S. Postnatal Bacterial infections. Dalam : Martin RJ,
Fanaroff AA, Walsh MC, penyunting Fanarof fdan Martin’s neonatal
perinatal medicine. Edisike 9. Missouri : Elsevier, 2006;791-829.
5. Infections. Dalam :Levene MI, Tudehope DI, Sinha S, Penyunting.
Essential Neonatal Medicine. Edisi 4. Australia : BlackWell
publishing, 2008; 61-76.
6. Embree J.E gonococcal infections. Dalam :Remington’s infections
Diseases of the Fetus and Fetus and Newborn Infant. Edisi 5.
Philadelphia : WB Saundares Company. 2001;516-23.
PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

KEJANG PADA NEONATUS


P 90
1. Definisi Kejang pada BBL secara klinis adalah perubahan paroksimal dari fungsi
neurologic (misalnya perilaku, sensorik, motoric, dan fungsi autonomy system
saraf) yang terjadi pada bayi berumur sampai dengan 28 hari pertama
kehidupan.
2. Anamnesis a. Riwayat kejang dalam keluarga
b. Riwayat kehamilan : infeksi TORCH, preeklampsia, gawat janin
c. Riwayat persalinan : asfiksia, trauma persalinan, ketuban pecah sebelum
waktunya
d. Riwayat pasca natal : infeksi, ikterus, infeksi tali pusat, waktu timbulnya
kejang dan bentuk klinis kejang.
3. Pemeriksaan a. Bila penderita dalam keadaan kejang identifikasi bentuk klinis kejang.
Fisik b. Tanda vital
c. Pemeriksaan kepala : jejas persalinan, ubun-ubun besar (tegang atau
membonjol), hydrosefalus (lingkaran kepala dan transluminasi),
pemeriksaan mata (korioretinitis yang dapat disebabkan infeksi
sitomegalovirus, rubella , dan toksoplasmosis).
d. Pemeriksaan tali pusat ; omfalitis.
4. Kriteria a. Apabila ditemukan manifestasi klinis dari kejang (tergantung bentuk
Diagnosis klinis kejang).
b. Dilanjutkan dengan mencari etiologi kejang berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan penunjang.
5. Diagnosis Sesuai klinis
6. Diagnosis Ditujukan pada etiologi kejang
Banding
7. Pemeriksaan Pemeriksaan gula darah, elektrolit, hemoglobin, hematokrit, leukosit, diff.
Penunjang count, trombosit, kultur darah, kadar bilirubin bila ada ikterus, USG kepala
dan EEG.
8. Terapi a. Jalan napas bersih dan terbuka serta beri bantuan respirasi dan terapi
oksigen bila diperlukan.
b. Pasang jalur intravena dan beri cairan dekstrose 10% dengan dosis
rumatan.
c. Bila ada hipoglikemia, tangani hipoglikemianya.
d. Bila ada hipokalsemi, berikan kalsium glukonas 10% 3 cc/kgBB
diberikan secara perlahan-lahan melalui drip (10 cc Ca glukonas + 90 cc
dekstrose 10% + NaCl 15% 6 cc)
e. Bila ada kejang, berikan phenobarbital loading dose 20 mg/kgBB IM
kemudian dilanjutkan dengan 3 mg/kgBB/kali setiap 12 jam per oral/IM,
kalau dosis awal kejang belum teratasi bisa diberikan lagi dosis 10
mg/kgBB.
 Bila masih kejang berikan phenobarbital 10 mg/kgBB (max 40
mg/kgBB).
 Bila masih kejang berikan phenytoin 15 – 20 mg/kgBB intravena
selama 30 menit dilanjutkan maintenance 3 – 5 mg/kgBB/hari (2
kali pemberian).
f. Bila gagal, berikan lorazepam 0,05 – 0,1 mg/kgBB intravena ulangi 2 – 3
dosis tiap 15 menit (dosis maksimal 0,1 mg/kgBB). Bila lorazepam tidak
tersedia dapat diberikan diazepam 0,1 – 0,3 mg/kgBB/intravena pada bayi
tanpa ikterus atau umur > 7 hari dan dilanjutkan dengan 0,2
mg/kgBB/kali.
g. Bila hypomagnesemia berikan MgSO4 0,25 cc/kgBB/IM
h. Bila dicurigai defisiensi pridoksin diberikan piridoksin 25 – 50 mg IV
(bila semasa hamil ibu banyak makan vitamin B6).
9. Edukasi Penjelasan mengenai faktor risiko, penatalaksanaan serta komplikasi.
10. Prognosis Ad vitam : dubia
Ad sanationam : dubia
Ad fungsionam : dubia
11. Tingkat III
Evidens
12. Tingkat B
Rekomendasi
13. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A
2) dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A

14. Indikator Medis Klinis


15. Target Penderita tidak kejang lagi.
16. Kepustakaan 1. Hill A. Neurological and neuromuscular disorders. Dalam :
Macdonald MG,Mullet MD, Seshia M, penyunting. Avery’s
Neonatology, Pathophysiology & management of the newborn. Edisi
6. Philadelphia : Lippincont William & Wilkins,2005;1384-1409.
2. Gatot I. Sarosa. Kejang Dan Spasme. Dalam : Kosim MS, Yunanto A,
Dewi R, Sarosa GI, Usman A. penyunting Buku Ajar Neonatology.
Edisi 1. Jakarta : Badan Penerbit IDAI, 2008;126-46.
3. Pathak A. Seizure Seizure in neonatus . Dalam: Gomella TL,
cuninngham MD, Eyal FG, Zenk KE, Penyunting. Neonatology,
management, producer, on callproblem, deases, and drug. Edisi 6.
New york: Lange McGraw Hill, 2003;496-500.
4. Plessis A.J. Seizure in neonatus. Dalam: Cloherty JP, Eichenwald EC,
Strak AR, Peyunting .manual of neonatal care, Edisi 6. Philadelphia :
Lippincont William & Wilkins, 2008;41-58.
5. Scher M.S. Seizure in neonatus. Dalam: Fanarof fdan Martin’s
neonatal perinatal medicine. Edisike 9. Missouri : Elsevier, 2006;791-
829.
6. Neurological Dissorders. Dalam :Levene MI, Tudehope DI, Sinha S,
Penyunting. Essential Neonatal Medicine. Edisi 4. Australia :
BlackWell publishing, 2008; 61-76.
7. Volpe J.J. Seizure in neonatus. Dalam : Volpe J.J. Neurology of the
newborn, penyunting. Edisi 5. Philadelphia : WB Saunders, 2008.
PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

NEONATAL HIPOGLIKEMI
P 70.4
1. Definisi Kondisi bayi dengan kadar glukosa darah kurang dari nilai normal (< 45
mg/dL) yang dapat menimbulkan gejala (simptomatik) atau tidak
(asimptomatik).
2. Anamnesis Cari faktor risiko : bayi dari ibu DM, neonatus besar masa kehamilan,
neonatus kecil masa kehamilan, bayi premature/postmatur, neonatus puasa,
polisitemia, dan eritoblastosis.
3. Pemeriksaan Dapat asimptoatik atau simptomatik (apatis, hipotoni, muntah, sianosis, apnu,
Fisik twitching/kejang, nystagmus, dan temperature tidak stabil).
4. Kriteria Berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium yaitu bila kadar
Diagnosis gula darah < 45 mg/dL.
5. Diagnosis Sesuai pemeriksaan kadar gula darah sewaktu.
6. Diagnosis Ditujukan pada etiologic hipoglikemia.
Banding
7. Pemeriksaan Pemeriksaan gula darah, elektrolit, hemoglobin, hematokrit, leukosit,diff.
Penunjang count, trombosit, dan kultur darah.
8. Terapi Curigai dan antisipasi hipoglikemia neonatus dengan faktor risiko:
a. Bila hipoglikemia asimptomatik pemberian makan sedini mungkin, bila
dua kali pemberian makan dini (interval 2 jam) tidak berhasil berikan
IVFD dekstrose 20%.
b. Bila hipoglikemia simptomatik berikan dekstrose 10% dengan inisial 2
cc/kgBB diboluskan selama 5 menit (8 – 10 mg/kgBB/menit) dilanjutkan
IVFD dekstrose 10% (jumlah cairan sesuai umur dan berat badan) atau
infus glucose 10% dengan GIR 6 – 8 mg/kgBB/menit. Monitor kadar
gula darah setiap 2 jam dalam 6 jam pertama, selanjutnya setiap 4 jam.
Bila kadar gula darah normal tidak tercapai dalam 4 jam, maka diberi
dekstrose 12%. Bila 4 jam belum tercapai kadar gula normal maka
ditambahkan hydrocortisone 5 mg/kgBB dalam cairan infus setiap 12 jam
atau prednisone 2 mg/kgBB dibagi 3 dosis. Dalam keadaan lanjut
(menjadi progresif) baru dipertimbangkan penyebab yang jarang seperti
“inborn error of metabolism”, tumor pankreas dan lain-lain.
9. Edukasi Penjelasan mengenai faktor risiko dan penatalaksanaan serta komplikasi.
10. Prognosis Ad vitam : dubia
Ad sanationam : dubia
Ad fungsionam : dubia
11. Tingkat II
Evidens
12. Tingkat B
Rekomendasi
13. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A
2) dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A
14. Indikator Medis 1. Klinis
2. Gula darah > 45 mg/dl.
15. Target hipoglikemi, penyebab dan komplikasi telah teratasi.
16. Kepustakaan 1. Ogata E.S. Carbohydrate homeostasis. Dalam: MacDonald MG,
Mullet MD, Seshia M, penyunting. Avery’s Neonatology
pathophysiology & management of the newborn. Edisi 6. Philadelphia
: Lippincott William & Walkins, 2005;876-91.
2. Gilmore M.M. Hypoglicemia. Dalam: Gomella TL, Cunningham MD,
Eyal FG, Zenk KE, penyunting. Neonatology, management,
procedure, on-call problem, desease, and drug. Edisi 5. Newyork :
Lange McGraw Hill, 2003;262-6.
3. Wilker R.E. Hypoglicemia and hyperglycemia. Dalam: Cloherty JP,
Eichenwald EC, Stark AR, penyunting. Manual of Neonatal care.
Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Walkins, 2008;540-9.
4. Kalhan S.C, Parimi P.S. Disorders of carbohydrate metabolism.
Dalam: Martin RJ, Fanaroff AA, Walsh MC, penyunting. Fanaroff and
Martin’s Neonatal-Perinatal Medicine. Edisi 8. Missouri : Mosby
Elsevier, 2006;1467-90.
5. Hypoglycemia. Dalam : Levene MI, Tudehope DI, Sinhz S,
penyunting. Essential Neonatal Medicine. Edisi 4. Australia :
Blackwell Publishing, 2008;158-163.
PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

JEJAS AKIBAT PERSALINAN


P 12.3
1. Definisi Gangguan pada struktur atau fungsi tubuh yang terjadi akibat efek samping
proses persalinan.
2. Anamnesis 1. Ibu : primipara, ibu dengan CPD, prolong atau rapid labour,
oligohydramnion, malpresentasi janin.
2. Persalinan : vacuum ekstraksi, foreps ekstraksi, versi ekstraksi.
3. Janin : BBLR, prematuritas, macrosomia, kelainan kongenital.
3. Pemeriksaan 1. Paralisis Ducchene Erb
Fisik Pemeriksaan fisik:
 Lengan adduksi dan endorotasi
 Ekstensi sendi bahu
 Pronasi sendi bahu
 Fleksi pergelangan tangan
 Tidak didapat reflex moro, biseps maupun radius.
2. Paralisis Klumpke
Gambaran klinis : pergelangan tangan lumpuh, paresis otot-otot tangan,
refleks memegang kurang dan biasanya terdapat gangguan sensoris.
3. Paralisis Plexus Brachialis Total
Gabungan dari paralisis Ducchene Erb dab klumpke, seluruh lengan
lumpuh dan semua refleks menghilang.
4. Paralisis N. Phrenicus
Gambaran klinis :
 Ditemukan pada bayi dengan trauma pleksus brakialis
 Jam-jam pertama setelah lahir terjadi kesukaran bernapas
 Takipnu dan sianosis
 Kasus yang berat gejala muncul segera setelah lahir
 Pernapasan paradoksal atau gerakan see saw
 Pemeriksaan fisik didapatkan gerakan melemah pada hemithoraks
yang parese
 Suara napas melemah pada auskultasi pada hemidiafragma yang
terkena
5. Paresis Saraf Facialis Perifer
Gambaran klinis tergantung dari berat ringannya kerusakan saraf.
 Dapat terlihat segera setelah lahir, lebih jelas lagi pada hari kedua
atau ketiga
 Bila ringan tampak muka asimetri saat menangis
 Pada kerusakan yang berat atau komplit, kelopak mata terbuka
pada waktu menangis, mata akan terbuka lebih lebar pada sisi
yang sakit pada keadaan istirahat dan plika nasolabialis mendatar
serta muka tampak asimetris
4. Kriteria 1. Paralisis Ducchene Erb
Diagnosis Diagnosis :
Pemeriksaan fisik :
 Lengan adduksi dan endorotasi
 Ekstensi sendi bahu
 Pronasi sendi bahu
 Fleksi pergelangan tangan
 Tidak didapat refleks moro, bisep maupun radius.
2. Paralisis Klumpke
Diagnosis :
Gambaran klinis : pergelangan tangan lumpuh, paresis otot-otot tangan,
refleks memegang kurang dan biasanya terdapat gangguan sensoris.
3. Paralisis Plexus Brachialis Total
Gabungan dari paralisis Ducchene Erb dab klumpke, seluruh lengan
lumpuh dan semua refleks menghilang.
4. Paralisis N. Phrenicus
Diagnosis :
Diagnosis ditegakkan dengan :
 Pemeriksaan klinis
 Gambaran radiologis : pada pemeriksaan fluoroskopi atau USG
akan terlihat gerakan yang tertinggal pada diafragma yang
mengalami paralisis.
Radiologi :
Pada foto thoraks tampak elevasi (tampak lebih tinggi) hemidiafragma
yang lumpuh. Pada fluoroskopi atau USG akan terlihat gerakan diafragma
yang mengalami paralisis tertinggal.
5. Paresis Saraf Facialis Perifer
Diagnosis :
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang ditemui dan adanya
riwayat trauma pada persalinan.
5. Diagnosis Sesuai klinis dan pemeriksaan penunjang.
6. Diagnosis Tergantung diagnosis.
Banding
7. Pemeriksaan Radiologi, USG
Penunjang
8. Terapi 1. Paralisis Ducchene Erb
Tindakan : Immobilisasi selama 2 – 3 minggu dengan posisi tangan
diletakkan diatas perut.
Mulai fisioterapi setelah 7 – 10 hari.
Sembuh total dapat sampai 18 bulan.
2. Paralisis Klumpke
Tindakan : pergelangan tangan diletakkan dalam posisi netral, diberi
genggaman. Dalam keadaan ringan dapat sembuh sendiri dalam 3 – 6
minggu. Bila tidak sembuh perlu pemeriksaan saraf dan konsultasi ke
bedah ortopedi.
3. Paralisis N. Phrenicus
Penatalaksanaan :
 Tidak ada penatalaksanaan khusus
 Bayi ditidurkan miring pada posisi yang sakit
 Terapi oksigen
 Cairan nutrisi parenteral
 Rangsangan listrik perkutaneus pada N. Phrenicus
 Antibiotika diberikan bila ada indikasi
 Tindakan bedah dilakukan bila terdapat gangguan pernpasan yang
berat dan terapi konservatif tidak ada perbaikan selama 1 bulan.
4. Paresis Saraf Facialis Perifer
Pengobatan :
 Tidak ada terapi spesifik
 Bila paralisis komplit pengobatan terutama ditujukan agar kornea
mata tidak mengalami kekeringan dengan memberikan tetes
metilselulose 1% secara berkala setiap 4 jam.
 Fungsi N. Facialis harus diobservasi ketat, bila tidak ada
menunjukkan perbaikan sampai hari ke 7 – 10 dilakukan tes
elektrodiagnostik untuk melihat apakah ada syaraf yang
mengalami degenerasi atau terputus. Bila ada, maka harus
dilakukan bedah syaraf. Pada paresis yang ringan biasanya akan
sembuh sendiri dalam 3 minggu.
9. Edukasi Penjelasan mengenai faktor risiko dan penatalaksanaan serta komplikasi.
10. Prognosis Ad vitam : dubia
Ad sanationam : dubia
Ad fungsionam : dubia
11. Tingkat III
Evidens
12. Tingkat B
Rekomendasi
13. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A
2) dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A
14. Indikator Medis Klinis
15. Target Perbaikan klinis
16. Kepustakaan 1. Gilmore M.M. Traumatic delivery. Dalam: Gomella TL, cuninngham
MD, Eyal FG, Zenk KE, Penyunting. Neonatology, management,
producer, on call problem, deases, and drug. Edisi 6. New york: Lange
McGraw Hill, 2003;314-20.
2. Abdulhayoglu E. Birth Trauma. Dalam: Cloherty JP, Eichenwald EC,
Strak AR, Peyunting .manual of neonatal care, Edisi 6. Philadelphia :
Lippincont William & Wilkins, 2008;41-58.
3. Mangurten H.H. Birth Injuries. Dalam: Fanarof fdan Martin’s neonatal
perinatal medicine. Edisike 9. Missouri : Elsevier, 2006;529-60.
4. Birth Injuries. Dalam :Levene MI, Tudehope DI, Sinha S, Penyunting.
Essential Neonatal Medicine. Edisi 4. Australia : BlackWell publishing,
2008; 61-76.
PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

IKTERUS NEONATORUM
P 59.9
1. Definisi Ikterus neonatorum adalah keadaan klinis pada bayi yang ditandai oleh
pewarnaan ikterus pada kulit dan sklera akibat akumulasi bilirubin tak
terkonyugasi yang berlebih. Hyperbilirubinemia bila kadar bilirubin plasma
lebih dari 5 – 7 mg/dL.
2. Anamnesis Riwayat kehamilan (penyakit yang diderita ibu selama kehamilan), riwayat
persalinan (masa gestasi, cara persalinan), faktor risiko infeksi (sepsis),
golongan darah ibu dan ayah, kapan timbulnya ikterus, riwayat ikterus pada
anak sebelumnya.
3. Pemeriksaan  Terlihat kuning pada sklera, mukosa, dan kulit.
Fisik  Cari manifestasi klinis dari penyakit atau kelainan patologis yang
menyebabkan ikterus untuk memperkirakan ikterus fisiologis atau non
fisiologis.
4. Kriteria Sesuai dengan etiologi diatas.
Diagnosis Untuk mencari etiologi perlu dilakukan :
 Anamnesis sedini dan secermat mungkin mengenai riwayat kehamilan
dan persalinan
 Ikterus timbul pada hari ke 1 : periksa kadar bilirubin, diff. count,
golongan darah ibu dan bayi, dan coomb test.
 Ikterus timbul pada hari ke 2 dan 3 : periksa kadar bilirubin, diff.
count, golongan darah bayi dan ibu, coomb test (bila peningkatan
bilirubin > 5 mg% dalam 24 jam, karena masih ada kemungkinan
penyebabnya inkompatibilitas ABO atau Rh), dan pemeriksaan enzim
G6PD.
 Ikterus timbul pada hari ke 4 atau lebih : periksa kadar bilirubin,
periksa darah tepi, dan pemeriksaan enzim G6PD.
5. Diagnosis Sesuai klinis dan pemeriksaan bilirubin serum.
6. Diagnosis Ditujukan pada etiologi ikterus.
Banding
7. Pemeriksaan Darah : kadar bilirubin, hemoglobin, leukosit, diff. count, trombosit, mikro
Penunjang LED, golongan darah ibu dan anak, kultur dan coomb test.
8. Terapi  Foto terapi atau transfuse tukar bila ada indikasi berdasarkan grafik AAP
pada bayi dengan masa gestasi > 35 minggu dan berdasarkan table
terlampir untuk bayi preterm dan bayi berat lahir rendah.
 Foto terapi dihentikan bila kadar bilirubin tidak meningkat lagi dan
kadarnya lebi dari 3 mg/dL dibawah garis risiko.
 Transfusi tukar dilakukan dengan golongan darah yang sesuai dengan
golongan darah ibu dan anak. Jumlah darah diberikan 2 kali volume darah
bayi. Sebelum dan sesudah transfuse tukar lakukan terapi sinar.
9. Edukasi Penjelasan mengenai faktor risiko dan penatalaksanaan serta komplikasi.
10. Prognosis Ad vitam : dubia
Ad sanationam : dubia
Ad fungsionam : dubia
11. Tingkat II
Evidens
12. Tingkat B
Rekomendasi
13. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A
2) dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A
14. Indikator Medis 1. Klinis
2. Kadar bilirubin serum
15. Target Kadar bilirubin serum sudah dibawah indikasi fototerapi dan etiologic sudah
teratasi.
16. Kepustakaan 1. Maisels M.J. Jaundice. Dalam : MacDonald MG,Mullet, Seshia M,
penyunting. Avery’s Neonatology, pathophysiology & management of
the newborn. Edisi 6, Philadephia : Lippincot William & Wilkins
2005;768 – 846.
2. Abdulrahman Sukadi. Hyperbilirubinemia. Dalam : Kosim MS,
Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A, penyunting. Buku Ajar
Neonatologi. Edidi 1. Jakarta : Badan Penerbit IDA, 2008;147 – 69.
3. Gilmore M.M. Hyperbilirubinemia. Dalam : Gomella TL,
Cunningham MD, Eyal PG, Zenk KE, penyunting. Neonatology,
management, procedur, 0n-call problem, disease, and drug. Edisi 5.
New York : Lange McGraw Hill, 2003;244 – 50.
4. Martin C.R., Cloherty J.P. Neonatal hyperbilirubinemia. Dalam :
Cloherty JP, Eichenwald EC, Stark AR, penyunting. Manual of
Neonatal Care. Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Wilkns,
2008;181 – 212.
5. Wong R.J., DeSandre G.H., Sibley E., Stevenson D.K. Neonatal
Jaundice and Liver Disease. Dalam : Martin RJ, Fanaroff AA, Walsh
MC, pnyunting. Fanaroff and Martin’s Neonatal-Perinatal Medicine.
Edisi 8. Missouri : Mosby Elsevier, 2006;1419 – 65.
6. Jaundice. Dalam : levene MI, Tudehope DI, Singa S, penyunting.
Essential Neonatal Medicine. Edisi 4. Australia : Blackwell
Publishing, 2008;130 – 41.
PANDUAN TERAPI SINAR PADA BAYI USIA ≥ 35 MINGGU (Sumber : AAP)
Keterangan :
Kadar bilirubin yang digunakan adalah bilirubin total. Jangan dikurangi dengan bilirubin
direk.
Faktor risiko adalah : penyakit hemolitik isoimun, def. G6PD, asfiksia, letargi yang nyata,
instabilitas suhu, sepsis, asidosis atau kadar albumin < 3 gr/dl (bila diukur).
Untuk bayi usia 35 – 37 6/7 minggu bila keadaan umum bayi dapat dipertimbangkan kadar
bilirubin pada garis risiko sedang, terutama pada usia yang lebih mendekati batas 37 6/7.
Fototerapi dapat dilakukan sampai kadar bilirubin total 2 – 3 mg/dl dibawah garis pedoman.
PANDUAN TRANSFUSI TUKAR PADA BAYI USIA ≥ 35 MINGGU (Sumber : AAP)
Keterangan :
Garis putus-putus pada 24 jam pertama menunjukkan keadaan tanpa patokan pasti karena
terdapat pertimbangan klinis dan tergantung respon terhadap fototerapi.
Transfusi tukar dianjurkan segera dilakukan bila bayi menunjukkan tanda-tanda ensefalopati
bilirubin akut atau bila kadar bilirubin total ≥ 5 mg/dl di atas garis pedoman.
Faktor risiko adalah penyakit isoimun, def. G6PD, asfiksia, letargi yang nyata, instabilitas
suhu, sepsis, dan asidosis.
Hitung kadar albumin serum dan hitung rasio bilirubin/albumin.
Gunakan kadar bilirubin total.

Rasio bilirubin total / albumin sebagai penunjang untuk memutuskan transfusi tukar

Rasio B/A Saat Transfusi Tukar


Harus Rasio Dipertimbangkan
BT/Alb Rasio BT/Alb
Bayi ≥ 38 0/7 mgg 8,0 0,94
Bayi 35 0/7 mgg – 36 6/7 mgg dan sehat atau > 38 0/7 7,2 0,84
mgg, jika risiko tinggi atau isoimun haemolytic disease
atau defisiensi G6PD
Bayi 35 0/7 – 37 6/7 mgg, jika risiko tinggi atau 6,8 0,80
isoimun haemolytic disease atau defisiensi G6PD
Pedoman terapi sinar dan transfusi tukar bayi berat lahir rendah
berdasarkan berat badan

Bilirubin total [mg/dL (umol/L)]


Berat badan (g) Terapi sinar Transfusi tukar
< 1.500 5 – 8 (85 – 140) 13 – 16 (220 – 275)
1.500 – 1.999 8 – 12 (140 – 200) 16 – 18 (275 – 300)
2.000 – 2.499 11 – 14 (190 – 240) 18 – 20 (300 – 340)

Pedoman terapi sinar dan transfusi tukar bayi berat lahir rendah
berdasarkan masa gestasi

Bilirubin Total [mg/dL (umol/L)]


Masa gestasi (mg) Terapi sinar Transfusi tukar bayi Transfusi tukar bayi
sehat sakit
36 14,6 (250) 17,5 (300) 20,5 (350)
32 8,6 (150) 14,6 (250) 17,5 (300)
28 5,8 (100) 11,7 (200) 14,6 (250)
24 4,7 (80) 8,8 (150) 11,7 (200)
PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

KLINIS SEPSIS DAN SEPSIS NEONATORUM


P 36.1
1. Definisi Sindroma klinis dari infeksi lokal / sistemik pada bayi yang terjadi dalam
bulan pertama kehidupan.
2. Anamnesis Faktor risiko atau faktor predisposisi infeksi (suhu ibu > 38°C, leukosit ibu >
15.000/mm3, air ketuban keruh & berbau busuk, ketuban pecah > 12 jam,
partus kasep), perawatan tali pusat, pemberian zalf mata setelah melahirkan.
3. Pemeriksaan Gejala klinis sepsis terdiri atas :
Fisik a. Gejala umum : bayi tampak lemah, terdapat gangguan minum yang
disertai penurunan berat badan, keadaan umum memburuk
hipotermi/hipertermi.
b. Gejala SSP : letargi, iritabilitas, hiporefleks, tremor, kejang,
hipotoni/hipertoni, serangan apnea, gerak bola mata tidak terkoordinasi.
c. Gejala pernapasan : dispnu, takipnu, apnu, dan sianosis.
d. Gejala GIT : muntah, diare, meteorismus, hepatomegaly.
e. Kelainan kulit : purpura, eritema, pustula, sklerema
f. Kelainan sirkulasi : pucat/sianosis, takikardi/aritmia, hipotensi, edema,
akral dingin.
g. Kelainan hematologic : perdarahan, ikterus, purpura.
4. Kriteria Gejala klinis sepsis ditambah lebih dari satu pemeriksaan laboratorium yang
Diagnosis positif (leukosit < 5.000/mm3 atau > 34.000/mm3, I/T ratio 0,2 atau lebih,
mikro LED > 15 mm/jam, CRP > 9mg/dl), kultur darah positif
5. Diagnosis Sesuai klinis, laboratiorium diatas dana tau kultur darah positif
6. Diagnosis Meningitis
Banding
7. Pemeriksaan Darah : Hb, leukosit, diff. count, trombosit, mikro LED, CRP, dan kultur dan
Penunjang tes resistensi
LCS : protein, diff.count, pengecatan gram dan kultur
8. Terapi a. Pemberian cairan sesuai dengan kebutuhan bayi.
b. Terapi oksigen bila diperlukan.
c. Antibiotik : ceftazidime. Bila dicurigai infeksi oleh karena stafilokokkus
maka diberikan sefalosporin generasi ke 2 dengan dosis 50 mg/kgBB/hari
dalam 2 kali pemberian, bila tidak ada perbaikan klinis dalam 48 jam atau
keadaan umum semakin memburuk, pertimbangkan pindah ke antibiotika
yang paten atau sesuai dengan hasil tes resistensi. Antibiotika diberikan 7
– 10 hari (antibiotik dihentikan setelah klinis membaik 5 hari).
9. Edukasi Penjelasan mengenai faktor risiko dan penatalaksanaan serta komplikasi.
10. Prognosis Ad vitam : dubia
Ad sanationam : dubia
Ad fungsionam : dubia
11. Tingkat II
Evidens
12. Tingkat B
Rekomendasi
13. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A
2) dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A
14. Indikator Medis Klinis dan laboratorium darah
15. Target Infeksi sudah teratasi ditandai dengan perbaikan klinis dan laboratorium darah
16. Kepustakaan 1. Schelonka R.L., Freij B.J., McCracken G.H. Bacterial and fungal
infections. Dalam : MacDonald MG, Mullet MD, Seshia M,
penyunting. Avery’s Neonatology, pathophysiology & management of
the newborn. Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Walkins,
2005;1235 – 73.
2. Naglie R. Infecctious Diseases. Dalam: Gomella TL, cuninngham
MD, Eyal FG, Zenk KE, Penyunting. Neonatology, management,
producer, on call problem, deases, and drug. Edisi 6. New york: Lange
McGraw Hill, 2003;434 – 68.
3. Puopolo K.M. Bacterial and fungal infections. Dalam: Cloherty JP,
Eichenwald EC, Strak AR, Peyunting .manual of neonatal care, Edisi
6. Philadelphia : Lippincont William & Wilkins, 2008;274 – 300.
4. Edwards M.S. Postnatal bacterial infections. Dalam: Fanarof fdan
Martin’s neonatal perinatal medicine. Edisike 9. Missouri : Elsevier,
2006;791 – 829.
5. Infection. Dalam :Levene MI, Tudehope DI, Sinha S, Penyunting.
Essential Neonatal Medicine. Edisi 4. Australia : BlackWell
publishing, 2008; 61-76.
6. Klein J.O., Nizet V. Bacterial sepsis and meningitis. Dalam
:Remington’s infections Diseases of the Fetus and Fetus and Newborn
Infant. Edisi 5. Philadelphia : WB Saundares Company. 2001;222 –
75.
PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

MENINGITIS NEONATORUM
G 03.9
1. Definisi Meningitis pada neonatus adalah infeksi pada meningen dan susunan syaraf
pusat bayi baru lahir pada bulan pertama kehidupan.
2. Anamnesis Faktor risiko atau faktor predisposisi infeksi (suhu ibu > 38°C, leukosit ibu >
15.000/mm3, air ketuban keruh & berbau busuk, ketuban pecah > 12 jam,
partus kasep), perawatan tali pusat, pemberian zalf mata setelah melahirkan.
3. Pemeriksaan Gejala klinis mirip dengan sepsis. Gejala dini umumnya iritabel.
Fisik a. Gejala umum : bayi tampak lemah, terdapat gangguan minum yang
disertai penurunan berat badan, keadaan umum memburuk
hipotermi/hipertermi.
b. Gejala SSP : letargi, iritabilitas, hiporefleks, tremor, kejang,
hipotoni/hipertoni, serangan apnea, gerak bola mata tidak terkoordinasi.
c. Gejala pernapasan : dispnu, takipnu, apnu, dan sianosis.
d. Gejala GIT : muntah, diare, meteorismus, hepatomegaly.
e. Kelainan kulit : purpura, eritema, pustula, sklerema
f. Kelainan sirkulasi : pucat/sianosis, takikardi/aritmia, hipotensi, edema,
akral dingin.
g. Kelainan hematologic : perdarahan, ikterus, purpura.
4. Kriteria Gejala klinis sepsis ditambah hasil pemeriksaan cairan serebrospinalis:
Diagnosis  Tes Pandy : + atau ++
 Jumlah sel : umur 0 – 48 jam : > 100/mm3
umur 2 – 7 hari : > 50/mm3
umur > 7 hari : > 32/mm3
 Diff. count : PMN meningkat, protein meningkat, dan glukosa
menurun
5. Diagnosis Sesuai klinis dan hasil pemeriksaan cairan serebrospinalis
6. Diagnosis Sepsis neonatorum
Banding
7. Pemeriksaan Darah : Hb, leukosit, diff. count, trombosit, mikro LED, dan kultur dan tes
Penunjang resistensi
LCS : protein, diff. count, pengecetan gram dan kultur
Urin : rutin dan kultur dan tes resistensi
USG transfontanela
8. Terapi a. Pemberian cairan sesuai dengan kebutuhan bayi.
b. Terapi oksigen bila diperlukan.
c. Antibiotik : ceftazidime.
Bila tidak ada perbaikan klinis dalam 48 jam atau keadaan umum
semakin memburuk, pertimbangkan pindah ke antibiotik yang lebih poten
atau sesuai dengan hasil tes resistensi.
Antibiotika diberikan 21 hari.
9. Edukasi Penjelasan mengenai faktor risiko dan penatalaksanaan serta komplikasi.
10. Prognosis Ad vitam : dubia
Ad sanationam : dubia
Ad fungsionam : dubia
11. Tingkat II
Evidens
12. Tingkat B
Rekomendasi
13. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A
2) dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A

14. Indikator Medis 1. Klinis


2. Hasil pemeriksaan serebrospinalis
3. USG transfontanela
15. Target Klinis dan hasil USG transfontanela perbaikan.
16. Kepustakaan 1. Schelonka R.L., Freij B.J., McCracken G.H. Bacterial and fungal
infections. Dalam : Macdonald MG,Mullet MD, Seshia M,
penyunting. Avery’s Neonatology, Pathophysiology & management of
the newborn. Edisi 6. Philadelphia : Lippincont William &
Wilkins,2005;1235 – 73.
2. Naglie R. Infectious Diseases. Dalam: Gomella TL, cuninngham MD,
Eyal FG, Zenk KE, Penyunting. Neonatology, management, producer,
on call problem, deases, and drug. Edisi 6. New york: Lange McGraw
Hill, 2003;434 – 68.
3. Puopolo K.M. Bacterial and fungal infections. Dalam: Cloherty JP,
Eichenwald EC, Strak AR, Peyunting .manual of neonatal care, Edisi
6. Philadelphia : Lippincont William & Wilkins, 2008;274 – 300.
4. Edwards M.S. Postnatal bacterial infections. Dalam: Fanarof fdan
Martin’s neonatal perinatal medicine. Edisike 9. Missouri : Elsevier,
2006;791 – 829.
5. Infection. Dalam :Levene MI, Tudehope DI, Sinha S, Penyunting.
Essential Neonatal Medicine. Edisi 4. Australia : BlackWell
publishing, 2008; 61-76.
6. Klein J.O., Nizet V. Bacterial sepsis and meningitis. Dalam
:Remington’s infections Diseases of the Fetus and Fetus and Newborn
Infant. Edisi 5. Philadelphia : WB Saundares Company. 2001;222 –
75.
PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

PNEUMOTHORAKS
P 25.1
1. Definisi Terdapat udara dalam rongga pleura.
2. Anamnesis Mengidentifikasi faktor risiko : aspirasi meconium, tindakan VTP,
bronkopneumonia, pemakaian ventilasi mekanik.
3. Pemeriksaan Dispnu, takipnu, retraksi, merintih, vesikuler menurun, sela iga melebar dan
Fisik dada tampak lebih cembung, asimetris gerakan dinding dada.
4. Kriteria Gejala klinis + foto thoraks (radiolusen dan kolaps parsial atau total paru yang
Diagnosis terkena, pergeseran mediastinum, pendataran diafragma) + transluminasi
positif, terutama pada bayi kecil.
5. Diagnosis Sesuai klinis dan pemeriksaan penunjang.
6. Diagnosis Transient tachipnea of the newborn
Banding Penyakit membrane hialin
Pneumonia
Sepsis
7. Pemeriksaan Darah : Hb, leukosit, diff. count, trombosit, mikro LED
Penunjang Foto thoraks AP dan lateral
Transluminasi
8. Terapi 1. Suportif, umumnya sama pada semua gawat napas, yaitu :
a. Pemberian cairan
 IVFD dekstrose 7½% atau 10% + Ca glukonas sesuai dengan
kebutuhan bayi
 Mulai hari ke 3 ditambahkan NaCl 15% sebanyak 6 cc/kolf
 Bila ada tanda dehidrasi atasi dehidrasi
 Bila ada asidosis berikan cairan dekstrose dan natrium
bikarbonat (4 : 1). Bila dapat diperiksa analisa gas darah,
asidosis dan dikoreksi langsung dengan pemberian cairan
Natrium Bikarbonat 4,2% secara perlahan-lahan.
 Bila belum bisa makan per oral beri larutan asam amino 1 – 3
g/kgBB/hari. Bila sudah bisa minum per oral beri ASI atau susu
formula.
b. Terapi oksigen (intra nasal, head box, bubble CPAP, ventilator)
2. Antibiotika : Ampisilin dan gentamisin, bila tidak ada perbaikan dalam 2
hari, gentamisin diganti dengan ceftazidime.
3. Terapi khusus :
 Tidak ada tension pneumo thoraks : berikan oksigen 100 % selama
12 jam pada bayi aterm (nitrogen washing)
 Dengan tension pneumothoraks dilakukan pemasangan kateter
intercostal dengan kontinous suction (WSD)
 Jika keadaan kritis dapat dilakukan aspirasi dengan menggunakan
wing needle no. 21 dan spuit 5 cc serta three way stopcock (diagnosis
dan terapi).
9. Edukasi Penjelasan mengenai faktor risiko dan penatalaksanaan serta komplikasi.
10. Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
11. Tingkat II
Evidens
12. Tingkat B
Rekomendasi
13. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A
2) dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A

14. Indikator Medis Klinis dan foto thoraks


15. Target Tidak sesak dengan frekuensi napas 40 – 60 x/menit, minum baik, tidak ada
tanda infeksi dan penyakit penyebab telah terkendali.
16. Kepustakaan 1. Whitsett J.A., Rice W.R., Warner B.B., Wert S.E., Pryhuber G.S.
Acute Respiratory Disorders. Dalam : Macdonald MG,Mullet MD,
Seshia M, penyunting. Avery’s Neonatology, Pathophysiology &
management of the newborn. Edisi 6. Philadelphia : Lippincont
William & Wilkins,2005;553 – 77.
2. Truog W.E., Golombek S.G. Principles of Management of Repirtory
Problems. Dalam : Macdonald MG,Mullet MD, Seshia M, penyunting.
Avery’s Neonatology, Pathophysiology & management of the
newborn. Edisi 6. Philadelphia : Lippincont William &
Wilkins,2005;600 – 21.
3. M.Soleh Kosim. Gangguan Nafas pada bayi baru lahir. Dalam : Kosim
MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A. penyunting Buku Ajar
Neonatology. Edisi 1. Jakarta : Badan Penerbit IDAI, 2008;126 – 46.
4. Bhakta K.Y. Respiratory Distress Syndrome. Dalam: Cloherty JP,
Eichenwald EC, Strak AR, Peyunting .manual of neonatal care, Edisi
6. Philadelphia : Lippincont William & Wilkins, 2008;323 – 30.
5. Rodriguez R.J., Martin R.J., Fanaroff A.A. Respiratory Distress
Syndrome and its management. Dalam: Fanarof fdan Martin’s
neonatal perinatal medicine. Edisike 9. Missouri : Elsevier, 2006;1097
– 107.
6. Respiratory disorder. Dalam :Levene MI, Tudehope DI, Sinha S,
Penyunting. Essential Neonatal Medicine. Edisi 4. Australia :
BlackWell publishing, 2008;92 – 110.
PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

SEPSIS NEONATORUM
P 36.9
1. Definisi Sindroma klinis dari infeksi sistemik pada bayi yang terjadi dalam bulan
pertama kehidupan.
2. Anamnesis 1. Riwayat risiko persalinan :
a. Ketuban pecah sebelum waktunya (KPSW) > 12 jam
b. Air ketuban keruh dan berbau busuk
c. Partus kasep
2. Riwayat penyakit ibu : tanda-tanda infeksi
3. Keluhan kondisi bayi :
a. Riwayat demam
b. Kemampuan minum
c. Kejang
d. Mencret
e. Muntah
f. Sesak napas
g. Keluhan bayi tampak lemah
h. Berat badan semakin menurun
3. Pemeriksaan Gejala klinis sepsis terdiri atas :
Fisik a. Gejala umum : bayi tampak lemah, hipoaktif, refleks hisap lemah, refleks
nangis lemah, dispnu, ikterus, pucat, takipnu, bradikardi,
hipotermi/hipertermi.
b. Gejala SSP : letargi, iritabilitas, hiporefleks, tremor, kejang,
hipotoni/hipertoni, serangan apnea, gerak bola mata tidak terkoordinasi.
c. Gejala pernapasan : dispnu, takipnu, apnu, dan sianosis.
d. Gejala GIT : muntah, diare, meteorismus, hepatomegaly.
e. Kelainan kulit : purpura, eritema, pustula, sklerema
f. Kelainan sirkulasi : pucat/sianosis, takikardi/aritmia, hipotensi, edema,
akral dingin.
g. Kelainan hematologic : perdarahan, ikterus, purpura.
4. Kriteria Gejala klinis sepsis ditambah lebih dari satu pemeriksaan laboratorium yang
Diagnosis positif (leukosit < 5.000/mm3 atau > 34.000/mm3, I/T ratio 0,2 atau lebih,
mikro LED > 15 mm/jam, CRP > 9mg/dl), kultur darah positif
5. Diagnosis Sesuai klinis, laboratiorium diatas dana tau kultur darah positif
6. Diagnosis Meningitis
Banding
7. Pemeriksaan Darah : Hb, leukosit, diff. count, trombosit, mikro LED, CRP, dan kultur dan
Penunjang tes resistensi
LCS : protein, pandy, glukosa, warna, kejernihan, diff.count, pengecatan gram
dan kultur
8. Terapi a. Ceftazidime 50 mg/kgBB/hari (dalam 2 dosis) selama 10 hari, bila tidak
ada perbaikan dalam 48 jam, diganti dengan meropenem 20 mg/kgBB IV
atau sesuai dengan hasil tes resistensi
b. Pemberian cairan
 IVFD dekstrose 7½% atau 10% 500 cc + ca glukonas dengan
jumlah sesuai dengan kebutuhan bayi.
 Hari ke 3 :
a. Ganti kalsium glukonas dengan NaCl 15% 6 cc/kolf
b. Berilah larutan asam amino 2 – 3 gr/kgBB/hari
c. Koreksi keseimbangan asam basa, elektrolit, dan gula
d. Oksigen intranasal dana tau CPAP
e. Bila gagal napas : mekanik ventilator
f. Transfusi darah bila ada indikasi
g. Vit K 1 mg IM dan salep mata kloramphenikol 1% untuk setiap bayi baru
lahir
h. Nutrisi parenteral bila ada indikasi
9. Edukasi Penjelasan mengenai faktor risiko dan penatalaksanaan serta komplikasi,
penjelasana perawatan bayi, penjelasan pemberian ASI dan imunisasi, dan
penjelasan tanda-tanda kegawatan.
10. Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
11. Tingkat IV
Evidens
12. Tingkat C
Rekomendasi
13. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A
2) dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A
14. Indikator Medis Klinis dan laboratorium darah
15. Target Infeksi sudah teratasi ditandai dengan perbaikan klinis dan laboratorium darah
PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

KEJANG DEMAM
R 56.0
1. Definisi Kejang yang terjadi pada kenaikan suhu (suhu rectal diatas 38°C) dikarenakan
proses.
2. Anamnesis 5. Demam
6. Kejang : lama kejang, frekuensi kejang, berapa kali kejang dalam 24 jam,
kejang seluruh tubuh atau sebagian tubuh.
7. Riwayat kejang sebelumnya dan pada keluarga
8. Kejang demam sederhana : kejang > 15 menit, kejang umum, dalam 1 x
24 jam tidak berulang
9. Kejang demam kompleks : kejang > 15 menit, kejang fokal (kejang
sebagian tubuh), berulang lebih dari 1 x dalam 24 jam
10. Riwayat trauma
3. Pemeriksaan 1. Keadaan umum : kesadaran, temperature > 38°C, frekuensi napas,
Fisik nadi/denyut jantung, dan tekanan darah dalam batas normal
2. Focus infeksi : infeksi saluran napas, saluran cerna, saluran kemih atau
yang lain
3. Gejala neurologis : tidak ada kelainan
4. Kriteria Anamnesis dan pemeriksaan fisik
Diagnosis
5. Diagnosis Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik
6. Diagnosis Meningitis
Banding Encephalitis
7. Pemeriksaan Darah : Hb, leukosit, diff. count, trombosit, CRP kuantitatif bila diperlukan,
Penunjang kultur bila diperlukan
Lumbal pungsi bila diperlukan
EEG bila diperlukan
CT scan bila diperlukan
8. Terapi 1. Pengobatan saat kejang : sesuai tata laksana kejang
2. Pengobatan setelah kejang berhenti
a. Paracetamol 50 mg/kgBB/hari dibagi 3 – 4 x/hari
b. Pemberian cairan
c. Pengobatan fokus infeksi ekstrakranial sesuai yang dibutuhkan
d. Pemberian anti kejang;
 Terapi intermiten
Diberikan diazepam oral 0,3 mg/kgBB/hari diberikan 3 – 4 x/hari
 Rumatan
Diberikan bila kejang lama, kejang vocal, adanya kelainan
neurologis yang nyata sebelum kejang (serebral palsi, retardasi
mental, hidrosefalus, mikrosefali), sesudah kejang (hemiparese,
paralisis todd).
Pengobatan rumatan dipertimbangkan jika : kejang berulang 2 x
atau lebih dalam 24 jam, kejang demam terjadi pada bayi kurang
dari 12 bulan, kejang demam sama dengan lebih dari 4x/tahun.
Obat rumatan yang diberikan :
1. Asam valproate dosis 10 – 40 mg/kgBB/hari dibagi 2 – 3
dosis diberikan salama 1 tahun.
2. Fenobarbital 3 – 4 mg/kgBB/hari dibagi 1 – 2 dosis diberikan
selama 1 tahun.
9. Edukasi Penjelasan mengenai mengatasi bila kejang dirumah dan pemberian obat
rumatan dan efek sampingnya.
10. Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
11. Tingkat IV
Evidens
12. Tingkat C
Rekomendasi
13. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A
2) dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A
14. Indikator Medis 80% pasien kejang demam dirawat selama 3 hari.
15. Target Kejang berhenti dan penyebab diatasi
16. Kepustakaan 1. Hardiono D Pusponegoro, Dwi Putro Widodo, Sopyan Ismael
(penyunting), Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam, Cetakan II,
Badan Penerbit IDAI.2006.
2. Taslim S Soetamenggolo. Kejang Demam. Dalam : Taslim S
Soetamenggolo, sofyan Ismael, penyunting. Buku Ajar Neurologi,
Edisi I, BP IDAI : Jakarta 1999, halaman 244 – 251.
3. Kejang Demam dalam Standar Penatalaksanaan Ilmu Kesehatan Anak,
bagian IKA FK UNSRI/RSMH Palembang 2009.
PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

STATUS EPILEPTIKUS
G 40.5
1. Definisi Kejang yang berlangsung terus menerus dengan lama kejang > 30 menit atau
kejang yang berulang dimana diantara kejang anak tidak sadar
2. Etiologi 1. Kriptogenik (tidak diketahui)
2. Simptomatik (malformasi/jejas otak sebelumnya)
3. Idiopatik
3. Pathogenesis Gangguan fungsi sel-sel neuron di susunan saraf pusat
4. Klasifikasi Berdasarkan jenis serangan:
1. Status epilepticus konvulsivus
2. Status epilepticus non konvulsivus
Berdasarkan etiologic serangan :
a. Remote symptomatic (kejang tanpa provokasi)
b. Acute symptomatic (SE yang terjadi selama penyakit akut)
c. Febrile (SE yang terjadi akibat demam)
d. Progressive encephalopathy (SE akibat ensefalopati progresif)
e. Remote symptomatic with an acute precipitant (SE akibat ensefalopati
kronik)
f. Crytogenic (idiopatik)
5. Anamnesis Manifestasi klinis dapat diikuti perkembangannya melalui stadium-stadium
berikut:
1. Prestatus, kondisi sebelum status sering ditandai dengan meningkatnya
adekuat di stadum ini dapat mencegah terjadinya status
2. Early status, kondisi dimana serangan konvulsif atau terjadi terus menerus
bersamaan denagan kondisi ini akan terjadi perubahan fisiologis sistemik
serius berupa gangguan metabolic
3. Established status, serangan berlangsung lebih dari 30 menit yang dapat
menyebabkan perubahan pada fungsi vital tubuh
4. Refractory status, serangan kejang telah berlangsung lama dan menetap
meskipun telah dilakukan terapi
5. Subtle status, serangan kejang telah berlangsung berjam-jam dimana
aktifitas kejang konvulsivus dengan gerakan motoric berkurang secara
bertahap yang dapat berupa gerak halus (twitch). Serangan ini sering
disertai dengan koma dalam.
6. Pemeriksaan  Gejala dan tanda klinis adanya infeksi
Fisik  Tanda rangsang meningeal
 Deficit neurologis fokal
7. Kriteria Anamnesis, pemeriksaan fisik disertai pemeriksaan penunjang
Diagnosis
8. Pemeriksaan  EEG,
Penunjang  CT scan,
 MRI,
 Darah : darah tepi, AGD, elektrolit, BSS, fungsi ginjal, dan fungsi hati
9. Terapi 1. Manajemen jalan napas dan pernapasan
2. Stabilisasi hemodinamik
3. Terminasi kejang
4. Penghentian kejang berulang
10. Edukasi Penjelasan mengenai faktor risiko dan penatalaksanaan serta komplikasi.
11. Prognosis Ad vitam : dubia
Ad sanationam : dubia
Ad fungsionam : dubia
12. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A
2) dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A

13. Kepustakaan Naskah lengkap pendidikan kedokteran berkelanjutan ilmu kesehatan anak II
Palembang.
PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

MENINGITIS BAKTERIALIS
G 00
1. Definisi Peradangan pada selaput otak ditandai dengan peningkatan jumlah sel
polimorfonuklear dalam cairan serebrospinal dan terbukti adanya bakteri
penyebab infeksi dalam cairan serebrospinal.
2. Etiologic  Neonatal : golongan Enterobacter terutama Escherichia coli,,
Streptococcus grup B, Streptococcus pneumonia, Staphylococcus sp,
dan Salmonella sp.
 Bayi 2 bulan – 4 tahun : Haemophilus influenza tipe B, Streptococcus
pneumonia, dan Neisseria meningitis.
 Anak 4 tahun : Streptococcus pneumoniadan Neisseria meningitis.
 Kuman batang gram negative : proteus, areobacter, Enterobacter,
klebsiella sp, dan seprata sp.
3. Pathogenesis Komponen-komponen bakteri dan mediator inflamasi berperan dalam proses
peradangan pada meningen yang menyebabkan perubahan fisiologis dalam
otak berupa peningkatan tekanan intracranial dan penurunan aliran darah otak
yang dapat mengakibatkan timbulnya gejala sisa.
4. Anamnesis  Panas
 Penurunan kesadaran
 Kejang
 High pitch cry pada bayi
5. Pemeriksaan Gejala klinis:
Fisik Tidak ada yang patognomonik untuk meningitis. Bervariasi tergantung:
 Umur
 Lama sakit sebelum diperiksa
 Reaksi anak terhadap infeksi
Pada bayi suka didiagnosis dini gejala klinis pada bayi :
 Panas
 Hyperirritable
 Gangguan kesadaran
 Poor muscle tone
 Kejang
 UUB menonjol
 Muntah
Pada anak gejala klinisnya :
 Gejala umum : panas, sakit kepala, nausea dan muntah, photophobia,
irritabilitasi, lethargi, dan gangguan kesadaran.
 Gejala kesadaran dan neurologis : GRM (tanda kernig dan brudzinsky
I & II, kaku kuduk) dan gejala syaraf otak
6. Kriteria Gejala klinis dan laboratorium LCS dari pungsi lumbal
Diagnosis
7. Diagnosis Meningitis tuberculosis
Banding Meningitis aseptic
Encephalitis
8. Pemeriksaan Darah : leukosit dan diff. count bergeser ke kiri, LED meningkat, CRP positif
Penunjang LCS : opalesen sampai keruh (stadium dini dapat jernih)
9. Terapi
10. Edukasi Penjelasan mengenai faktor risiko dan penatalaksanaan serta komplikasi.
11. Prognosis Ad vitam :
Ad sanationam :
Ad fungsionam :
12. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A
2) dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A
PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

MENINGITIS ASEPTIK
A 87
1. Definisi Infeksi pada meningen yang disebabkan virus
2. Etiologi Penyebab yang sering : herpes simpleks, arbovirus, eastern and western
Equine St Louis Encephalitis.
Penyebab yang jarang : enterovirus, parotitis, adenovirus, lassa virus, rabies,
cytomegalovirus
3. pathogenesis Virus masuk melalui kulit, saluran pernapasan, dan saluran pencernaan
menyebar ke seluruh tubuh dengan cara :
a. setempat : infeksi terbatas di selaput lender permukaan atau organ
tertentu
b. hematogen primer : virus masuk ke darah dan menyebar ke organ
c. hematogen sekunder : virus berkembang di selaput lender dan
menyebar melalui syaraf.
4. Anamnesis  Panas
 Penurunan kesadaran
 Kejang
 High pitch cry pada bayi
5. Pemeriksaan  Demam
Fisik  Sakit kepala
 Mual muntah
 Letargi
 GRM (+) (kaku kuduk, kernig dan brudzinsky)
6. Pemeriksaan Darah : normal
Penunjang LCS : jernih, jumlah sel 20 – beberapa ribu/mm3, protein normal atau sedikit
meningkat (50 – 200mg/dl), dan glukosa normal (> 50 mg/dl)
Untuk menyingkirkan meningitis TB dilakukan : mantoux atau BCG test dan
foto thoraks
7. Kriteria Gejala klinis dan laboratorium LCS dari pungsi lumbal
Diagnosis
8. Diagnosis Meningitis tuberculosis
Banding Meningitis bakterialis
Encephalitis
9. Terapi 1. Simptomatik
2. Antibiotika prfilaksis diberikan ampisilin dan chloramphenicol samapi
diketahui faktor penyebab.
10. Edukasi Penjelasan mengenai faktor risiko dan penatalaksanaan serta komplikasi.
11. Prognosis Ad vitam :
Ad sanationam :
Ad fungsionam :
12. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A
2) dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A
13. Kepustakaan 1. Menkes, J.H., Sarnat, H.B., 2000. Child Neurology, 6th edition.
California : Lippincott Williams & Willkins.
2. Swaiman K.F., 2006. Pediatric Neurology : Principles and Practie, 4th
ed. Toronto : Mosby Company.
3. Volpe, J.J., 2008. Neurology of the newborn. Philadephia : Saunders
Elsevier.
PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

BRONKOPNEUMONIA
J 18.0
1. Definisi Peradangan / iflamasi yang mengenai parenkim paru
2. Etiologi Streptococcus grup B dan bakteri gram negative seperti :E. coli, Pseudomonas
sp, Klebsiella sp, Streptococcus pneumoniae, Haemophillus influenza tipe B,
dan Stapylococcus aureus.
3. Patogenesis Mikroorganisme penyebab terhisap ke paru bagian perifer melalui saluran
pernapasan  edema  konsolidasi (serbukan sel PMN, fibrin, eritrosit,
cairan edema)  deposit fibrin semakin bertambah  proses fagositosis 
jumlah makrofag meningkat  degenerasi sel  fibrin menipis  kuman &
debris menghilang.
4. Klasifikasi Kalsifikasi (MTBS) :
Pneumonia berat
Pneumonia
Bukan pneumonia
5. Anamnesis Demam, batuk, sesak napas
6. Pemeriksaan Pernapasan cepat dan dangkal disertai pernapasan cuping hidung, retraksi
Fisik dinding toraks, suara napas vesikuler meningkat sampai bronkial, dan bising
tambahan ronkhi basah halus nyaring.
7. Kriteria Anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang (darah lengkap, CRP,
Diagnosis foto toraks, uji tuberculin, serologis, mikrobiologis)
8. Diagnosis Bronkiolitis
Banding Bronchitis akut
9. Pemeriksaan Darah lengkap, CRP, foto toraks, uji tuberculin, serologis, mikrobiologis
Penunjang
10. Terapi Antibiotika polifragmassi selama 10 – 15 hari :
 Ampicillin 100 mg/kgBB/hari dalam 3 – 4 dosis
 Chloramphenicol dengan dosis :
Umur < 6 bulan : 25 – 50 mg/kgBB/hari
Umur > 6 bulan : 50 – 75 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis
 Atau Gentamisin 3 – 5 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis
 Atau bila klinis berat dan laboratorium mndukung kea rah sepsis
diberikan ceftazidime 50 – 100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 – 3 dosis
Suportif : IVFD, oksigen, pembersihan jalan napas
11. Edukasi Imunisasi, ASI yang adekuat, asupan gizi yang cukup, jauhkan anak dari
polusi udara dan asap rokok
12. Komplikasi dan Empyema thorasis, pericarditis purulenta, pneumothoraks, meningitis
Prognosis purulenta, miokkarditis. Penggunaan antibiotik merupakan kunci utama
keberhasilan pengobatan. Terapi antibiotik harus segera diberikan pada anak
dengan pneumonia yang diduga disebabkan oleh bakteri.
13. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A 2) dr. Yeni Haryani,
M.Kes., Sp.A
dr. Dewi Hayati, Sp. A
dr. Lidia Halim, Sp. A
14. Kepustakaan 1. Said M. Pneumonia. Dalam : Rahajoe NN, Supriyanto B, Setyanto
DB, penyunting. Buku ajar respirology anak. Edisi I. Jakarta : BP
FKUI; 2008. h. 350 – 365.
2. Kolegium Ilmu Kesehatan Anak Indonesia / IDAI. Modul Program
Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan Anak. 2008
3. Alberta Medical Association. Guideline for the diagnosis and
management of community acquired pneumonia. Pediatric. 2001.
4. Supriyatno B, dkk. Pneumonia. Dalam : Pusponegoro HD,
HAdinegoro SRS, Firmanda D, Tridjaja B, Pudjiadi AH, Kosim AS,
Rusmil K, penyunting. Standar pelayanan medis kesehatan anak. Edisi
I. Jakarta : BP IDAI; 2004. h. 351 – 354.
5. Crowe JE. Viral pneumonia. Dalam : Chernick V, Boat TF, Wilmott
RW, Bush A, penyunting. Kendig’s disorders of the respiratory tract in
children. Edisi ke 7. Philadelphia : Saunders Elsevier; 2006. h. 433 –
440.
6. Stein RT, Marostica PJC. Community-acquired-bacterial pneumonia.
Dalam : Chernick V, Boat TF, Wilmott RW, Bush A, penyunting.
Kendig’s disorders of the respiratory tract in children. Edisi ke 7.
Philadelphia : Saunders Elsevier; 2006. h. 441 – 452.
7. Crawford SE, Daum RS. Bacterial pneumonia, lung abcess, and
empyema. Dalam : taussig LM, Landau LI, penyunting. Pediatric
respiratory medicine. Edisi II. Philadelphia : Mosby Elsevier; 2008. h.
501 – 553.
PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

DEMAM BERDARAH DENGUE


A 91
1. Definisi Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue ditandai dengan demam
tinggi mendadak disertai manifestasi perdarahan dan bertendensi
menimbulkan renjatan dan kematian.
2. Etiologi Virus dengue yang terdiri dari 4 serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan
DEN-4. Keempat serotipe ini dapat ditemukan di Indonesia. Serotipe DEN-3
merupakan serotipe yang paling banyak ditemukan di Indonesia dan
berhubungan dengan manifestasi yang berat.
3. Pathogenesis Aktidasi komplemen, agregrasi trombosit, kerusakan sel endotel  kebocoran
kapiler, ekstravasasi plasma, hemokonsentrasi, renjatan, efusi cairan,
ensefalopati, hipoksia jaringa,. Vaskulopati + trombopati + koagulopati
+trombositopenia  perdarahan, ensefalopati
4. Klasifikasi  Berdasarkan kepastian diagnosis :
 Tersangka demam dengue (TDD)
 Tersangka demam berdarah dengue (TDBD)
 Demam dengue (DD)
 Demam berdarah dengue (DBD)
 Berdasarkan derajat penyakit (demam berdarah dengue) :
 Derajat I : demam + gejala non spesifik + uji bendung (+)
 Derajat II : derajat I + perdarahan spontan di kulit atau
perdarahan lainnya
 Derajat III : kegagalan sirkulasi ditandai dengan nadi lemah,
takikardia, tekanan nadi ≤ 20 mmHg atau hipotensi, sianosis
sirkum oral, kulit lembab dan dingin disertai anak gelisah
 Derajat IV : renjatan berat, nadi tidak teraba, tekanan darah
tidak terukur.
Derajat III dan IV  Dengue syok syndrome (DSS)
5. Anamnesis  Demam merupakan tanda utama, terjadi mendadak tinggi selama 2 – 7
hari, lesu, tidak nafsu makan, muntah. Dapat disertai nyeri kepala,
nyeri otot, nyeri sendi, dan nyeri perut
 Gejala penyerta lebih mencolok pada demam dengue daripada demam
berdarah dengue
 Perdarahan yang paling sering dijumpai adalah perdarahan kulit dan
mimisan
6. Pemeriksaan  Hepatomegaly dan kelainan fungsi hati lebih sering fitemukan pada
Fisik DBD
 Perbedaan antara DD dan DBD adalah pada DBD terjadi peningkatan
permeabilitas kapiler sehingga menyebabkan pembesaran plasma,
hypovolemia dan syok
 Perembesan plasma menyebabkan ekstravasasi cairan ke dalam rongga
pleura (efusi pleura) dan rongga peritoneal (asites) selama 24 – 48 jam
 Fase kritis sekitar hari ke 4 sampai ke 5 perjalanan penyakit. Pada fase
ini suhu turun dan dapat merupakan awal penyembuhan pada infeksi
ringan namun pada DBD berat merupakan tanda awal syok
 Perdarahan dapat berupa tes tourniquet positif, petekie, epistaksis,
hematemesis, melena ataupun hematuria
 Tanda-tanda syok :
 Anak gelisah, penurunan kesadaran, sianosis
 Napas cepat, nadi teraba lemah hingga tidak teraba
 Tekanan darah turun, tekanan nadi < 20 mmHg
 Akral dingin, capillary refill menurun
 Diuresis menurun hingga anuria
 Fase penyembuhan : keadaan umum semakin membaik, nafsu makan
membaik, gejala gastrointestinal berkurang, status hemodinamik
stabil. Beberapa penderita timbul ruam yang terkadang gatal,
bradikardia dan perubahan elektrokardiografi dapat ditemukan pada
fase ini
7. Kriteria  Kriteria klinis :
Diagnosis  Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung
terus-menerus selama 2 – 7 hari
 Manifestasi perdarahan, termasuk tes tourniquet positif,
petekie, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis,
dan atau melena
 Hepatomegaly
 Syok, ditandai nadi cepat dan lemah, serta penurunan tekanan
nadi < 20 mmHg, hipotensi, kaki tangan dingin, dan gelisah.
 Kriteria laboratorium :
 Trombositopenia ≤ 100.000/microliter
 Hemokonsentrasi (peningkatan Ht ≥ 20% menurut standar
umur dan jenis kelamin
Diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan :
Dua kriteria klinis + trombositopenia dan hemokonsentrasi, serta dikonfirmasi
secara uji serologis.
8. Pemeriksaan  Pemeriksaan laboratorium : hematokrit dan hitung trombosit secara
Penunjang berkala serta pemeriksaan serologi, pemeriksaan LPB, albumin darah,
CT, BT, PT, PTT, gambaran darah tepi pada kecurigaan DIC.
 Pemeriksaan penunjang : foto thoraks pada dispnu untuk menelusuri
penyebab lain disamping efusi pleura, USG bila ada, dapat dipakai
untuk memeriksa efusi pleura minimal
Interpretasi hasil pemeriksaan serologis DBD
Ig M Ig G Interpretasi Keterangan
+ - Infeksi primer akut -
+ + Infeksi sekunder -
- - Tidak terbukti adanya infeksi Diulang
- + Infeksi pada 2 – 3 bulan sebelumnya Diulang

Pemeriksaan NS1
NS1 merupakan glikoprotein non structural 1 dari virus dengue. NS1 dapat
terdeteksi pada darah mulai awal demam sampai hari ke 5.
9. Terapi  Sesuai dengan bagan penatalaksanaan (bagan 1,2,3,4)
 Perhitungan pemberian cairan intravena maintenance dapat dihitung
dengan rumus Holliday-Segar :
4 ml/kg/jam untuk 10 kg pertama + 2 ml/kg/jam untuk 10 kg
kedua + 1 ml/kg/jam untuk kg selanjutnya.
Untuk penderita overweight perhitungan cairan berdasarkan berat
badan ideal
 Tata laksana komplikasi :
Overload cairan :
 Tanda-tanda awal : distress napas, sesak, napas cepat, retraksi,
wheezing, efusi pleura yang luas, peningkatan JVP
 Tanda-tanda lanjut : edema paru (batuk dengan sputum
berwarna merah, krepitasi, sianosis), syok ireversibel
 Tata laksana :
 O2 segera
 Mengurangi atau menghentikan pemberian cairan IV
 Bila penderita sudah melewati fase kritis (> 24 – 48
jam setelah demam turun) hentikan / kurangi cairan,
monitor secara ketat. Berikan furosemide 0,1 – 0,5
mg/kgBB/dosis bila perlu.
 Bila penderita masih pada fase kritis, kurangi
pemberian cairan, hindari pemakaian diuretic
 Penderita yang masih mengalami syok pada kadar HT
normal atau rendah dengan tanda-tanda overload cairan
mungkin mengalami perdarahan. Berikan transfusi
whole blood secara hati-hati.
 Tindak lanjut :
 DSS : tensi/nadi diperiksa setiap 15 – 20 menit sampai keadaan
stabil, Ht, trombosit setiap 3 – 6 jam sampai keadaan menetap
 Derajat I dan II : pemeriksaan Ht dan trombosit minimal 6 – 12
jam
 Pada semua DSS pada saat masuk rumah sakit harus diperiksa
juga CT dan BT. Bula CT cenderung memanjang lakukan juga
pemeriksaan gambaran darah tepi
 Pemeriksaan khusus : EKG bila gagal jantung, foto thoraks
bila efusi pleura dan edema paru. USG bila curiga efusi pleura
minimal
 BT, CT, PT, PTT, dan gambaran darah tepi bila curiga DIC
 Penderita yang berobat jalan diperiksa Hb, Ht, trombosit dan
dimonitor gejala klinis seperti muntah, nyeri perut, manifestasi
perdarahan, intake caira, urin outout (minimal BAK satu kali
dalam waktu 6 jam) setiap hari.
 Penderita yang dirawat, tampung urin 24 jam, bila kurang dari
1 ml/kgBB/jam periksa ureum dan kreatinin
 Elektrolit darah / AGD bila keadaan umum tidak membaik
 Pelaporan pada dinas kesehatan Tk II setempat melalui kurir,
telepon atau surat secara mingguan.
10. Edukasi dan Pencegahan atau pemberantasan DBD dengan membasmi nyamuk dan
pencegahan sarangnya dengan melakukan tindakan 3M, yaitu :
 Menguras tempat-tempat penampungan air secara teratur seminggu
sekali atau menaburkan bubuk larvasida (abate)
 Menutup rapat tempat penampungan air
 Mengubur barang bekas yang dapat menampung air
11. Komplikasi Perdarahan gastrointestinal massif, ensephalopati, edema paru, DIC, efusi
pleura
12. Prognosis Angka kematian kasus di Indonesia secara keseluruhan < 3%. Angka
kematian DSS di RS 5 – 10%. Kematian meningkat bila disertai komplikasi.
DBD yang akan berlanjut menjadi syok atau penderita dengan komplikasi
sulit diramalkan, sehingga harus hati-hati dalam melakukan penyuluhan.
13. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A
2) dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A

14. Kepustakaan 1. Sumarmo. The epidemiology, control and prevention of dengue


haemorrhagic fever in Indonesia. Presented at the WHO/HQ meeting
on dengue and DHF/DSS. Pune. India : 7 – 8 February 1994.
2. Hadinegoro SR. Tatalaksana demam demgue / demam berdarah
dengue. Jakarta : Departemen Kesehatan RI;2001.
3. Sumarmo SPS, Herry G, Sri Rezeki SH, Hindra IS. Buku ajar infeksi
dan pediatri tropis. Edisi kedua. Jakarta : IDAI; 2008.
PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

DEMAM REMATIK DAN PENYAKIT JANTUNG REMATIK


I 09.8
1. Definisi  Demam rematik (DR) adalah sindrom klinik akibat infeksi kuman
Streptococcus beta hemolytiku grup A, dengan satu atau lebih gejala
mayor, yaitu poliartritis migrans akut, karditis, korea minor, nodul
subkutan atau eritema marginatum.
 Demam rematik akut (DRA) adalah istilah untuk penderita demam
rematik yang terbukti dengan tanda radang akut.
 Demam rematik inaktif adalah istilah untuk penderita dengan riwayat
demam rematik tetapi tanpa terbukti tanda radang akut.
 Penyakit jantung rematik (PJR) adalah kelainan jantung yang
ditemukan pada DRA atau kelainan jantung yang merupakan gejala
sisa (sekuele) dari DR.
2. Etiologi Streptococcus beta hemolyticus grup A strain tertentu yang bersifat
reumatogenik dan adanya faktor predisposisi genetic. Kemungkinan
menderita DRA setelah mendapat infeksi Streptococcus beta hemolyticus
grup A di tenggorokan 0,3 – 3%.
3. Pathogenesis  Infeksi Streptococcus beta hemolyticus grup A  melepas berbagai
antigen.
 Antigen Streptococcus beta hemolyticus grup A tertentu + komponen
jaringan tubuh dengan struktur yang mirip dengan antigen yang
bersangkutan (+ mekanisme yang belum jelas)  reaksi antigen
antibiodi  reaksi radang : eksudasi / proliferasi / degenerasi 
kelainan pada organ target (karditis, poliartritis migrans, korea,
eritema marginatum, nodul subkutan ) + gejala umum radang (LED /
CRP meningkat, panas, dsb). Karditis  insufisiensi katup / dilatasi
jantung / miokarditis / pericarditis  cacat katup, kadang-kadang
perlengkatan pericardium  gangguan hemodinamik dengan segala
akibatnya. Proses sikatrisasi berlangsung lama  manifestasi
kelainan jantun / cacat katup berubah sebelum sampai bentuk yang
definitive.
 Infeksi ulang Streptococcus beta hemolyticus grup A  aktivasi DR
 biasanya dengan karditis yang lebih berat.
4. Klasifikasi DR : variasi sesuai dengan gejala mayor yang manifest
PJR : variasi sesuai cacat katup yang dihadapi dan derajat serta luasnya
karditis pada DR
5. Kriteria Diagnosis demam rematik ditegakkkan berdasarkan :
Diagnosis Tabel 1. Kriteria WHO Tahun 2002 – 2003 Untuk Diagnosis Demam
Rematik dan Penyakit Jantung Rematik (Berdasarkan Revisi Kriteria
Jones)
Kategori Diagnostik Kriteria
 Demam rematik serangan  Dua mayor atau satu minor
pertama dan dua minor ditambah
dengan bukti infeksi SGA
sebelumnya
 Demam remaik serangan  Dua mayor atau satu mayor
rekuren tanpa PJR dan dua minor ditambah
dengan bukti infeksi SGA
sebelumnya
 Demam rematik serangan  Dua minor ditambah dengan
rekuren dengan PJR bukti infeksi SGA
sebelumnya
 Korea Sydenham  Tidak diperlukan kriteria
mayor lainnnya atau bukti
infeksi SGA
 PJR (stenosis mitral murni  Tidak diperlukan kriteria
atau kombinasi dengan lainnya untuk mendiagnosis
insufisiensi mitral dan/atau sebagai PJR
gangguan katup aorta)

Manifestasi Mayor Manifestasi Minor


Karditis Klinis :
Poliartritis migrans Arthralgia
Korea Demam
Eritema marginatum
Nodulus subkutan Laboratorium :
Peningkatan reaktan fase akut, yaitu
LED dana tau CRP yang meningkat
Interval PR yang memanjang

Diagnosis demam rematik ditegakkan bila terdapat 2 manifestasi mayor atau


1 manifestasi mayor ditambah 2 manifestasi minor dan didukung bukti
adanya infeksi streptokokkus sebelumnya yaitu kultur apus tenggorok yang
positif atau kenaikan titer antibody streptokokkus (ASTO) > 200. Terdapat
pengecualian untuk gejala korea minor, diagnosis DR dapat ditegakkan tanpa
perlu adanya bukti infeksi streptokokkus.

Karditis
Kriteria karditis :
 Bunyi jantung melemah
 Adanya bising sistolik, mid sistolik di apeks atau bising diastolic di
basal jantung
 Perubahan bising misalnya dari grade I menjadi grade II
 Takikardia / irama derap
 Kardiomegali
 Pericarditis
 Gagal jantung kongestif tanpa sebab lain

Tabel 2. Pembagian Karditis Menurut Decourt


Karditis Ringan Karditis Sedang Karditis Berat
Takikardia, murmur Tanda-tanda karditis Ditandai dengan gejala
ringan pada area mitral, ringan, bising jantung sebelumnya ditambah
jantung yang normal, yang lebih jelas pada gagal jantung kongestif
EKG normal area mitral dan aorta,
aritmia, kardiomegali,
hipertopi atrium kiri
dan ventrikel kiri.

Poliartritis Migrans
Merupakan tanda khas untuk demam rematik. Biasanya mengenai sendi-sendi
besar, dapat timbul bersamaan tetapi lebih sering berpindah-pindah. Sendi
yang terkena menunjukkan gejala-gejala radang yang jelas yaitu merah,
panas, nyeri dan fungsiolesa, kelainan sendi ini menghilang sendiri tanpa
pengobatan.

Korea Sydenham
Korea Sydenham / korea minor adalah gerakan-gerakan cepat, bilateral, tanpa
tujuan dan sukar dikendalikan. Seringkali disertai kelemahan otot dan
gangguan emosional. Semua otot terkena, tetapi yang mencolok adalah otot
wajah dan ekstremitas.

Eritema Marginatum
Merupakan kelainan kulit berupa bercak merah muda, berbentuk bulat, lesi
berdiameter sekitar 2,5 cm, bagian tengahnya pucat sedang bagian tepinya
berbatas tegas, tanpa indurasi, tidak gatal paling sering ditemukan pada
batang tubuh dan tungkai proksimal.

Nodul Subkutan
Terletak di bawah kulit, keras, tidak sakit, mudah digerakkan dan berukuran 3
– 10 mm. Lokasinya sekitar ekstensor sendi siku, lutut, pergelangan kaki dan
tangan, dan kaki, daerah oksipital serta di atas prosesus vertebra torakalis dan
lumbalis.

Indikasi rawat :
DRA
PJR dengan dekompensasio kordis
PJR yan rekuren

Langkah diagnosis
Tegakkan diagnosis DR berdasarkan kriteria Jones
 Tetapkan aktif atau inaktif
 Tetapkan ada karditis atau tidak
 Tetapkan ada kelainan pada katup jantung atau tidak
 Jika tidak ada tanda-tanda DR aktif dan penyebab lain kelainan pada
jantung dapat disingkirkan dianggap PJR
 Tetapkan status hemodinamik jantung : dekompensasio kordis atau
tidak
6. Terapi 1. Antibiotika
a. Untuk eradikasi
Benzatin Penisilin G : BB ≤ 27 kg = 600.000 – 900.000 unit
BB > 27 kg = 1,2 juta unit
Bila tidak ada, dapat diberikan Prokain penisilin 50.000 Iu/kgBB
selama 10 hari
Alternatif lain :
Penisilin V (oral) : BB ≤ 27 kg 2 – 3 x 250 mg
BB > 27 kg 2 – 3 x 500 mg
Amoksisilin (oral) : 50 mg/kgBB/hari, dosis tunggal (maks 1 g)
selama 10 hari
Bila alergi terhadap penisilin dapat digunakan :
 Sefalosporin spectrum sempit : sefaleksim, sefadroksil
 Klindamisin : 20 mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis (dosis maks
1,8 g/hari) selama 10 hari
 Azitromisin : 12 mg/kgBB/hari, dosis tunggal (dosis maks
500 mg) selama 5 hari
 Klaritromisin : 15 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis (maks 250
mg/kali) selama 10 hari
 Eritromisin : 40 mg/kgBB/hari dibagi 2 – 4 kali sehari (dosis
maks 1 g/hari) selama 10 hari
b. Untuk profilaksis sekunder
 Benzatin penisilin G :
BB ≤ 27 kg = 600.000 unit setiap 3 atau 4 minggu IM
BB > 27 kg = 1,2 juta unit
 Alternative lain :
Penisilin V : 2 x 250 mg oral
Sulfadiazine : BB ≤ 27 kg = 500 mg sekali sehari
BB > 27 kg = 1000 mg sekali sehari
Bila alergi terhadap penisilin dan sulfadiazine dapat diberikan
Eritromisin
Klaritromisin
Aziromisin
Lama pemberian antibiotik profilaksis sekunder :
Kategori Lama pemberian setelah serangan
terakhir
Demam rematik dengan karditis Selama 10 tahun atau sampai usia
dan penyakit jantung residual 40 tahun, pada beberapa kondisi
(kelainan katup persisten) (risiko tinggi terjadi rekuren) dapat
seumur hidup
Demam rematik dengan karditis Selama 10 tahun atau sampai usia
tetapi tanpa penyakit jantung 21 tahun
residual (tanpa kelainan katup)
Demam rematik tanpa karditis Selama 5 tahun atau sampai usia 21
tahun

2. Obat anti inflamasi


Tabel Rekomendasi Penggunaan Anti Inflamasi
Hanya Karditis Karditis Karditis
Artritis Ringan Sedang Berat
Prednisone - - 2–4 2–6
minggu* minggu *
Aspirin a. 100 3–4 6–8 2 – 4 bulan
mg/kgBB/ minggu** minggu
hari
dalam 4 –
6 dosis (2
minggu)
b. Kemudian
dosis
dikurangi
menjadi
60
mg/kgBB/
hari (4 – 6
minggu)
Dosis : Prednisone 2 mg/kgBB/hari dibagi 4 dosis
Aspirin 100 mg/kgBB/hari dibagi 4 – 6 dosis
* Dosis prednisone ditappering (dimulai pada minggu ketiga) dan aspirin
dimulai minggu ketiga kemudian ditappering.
** Aspirin dapat dikurangi menjadi 60 mg/kgBB setelah 2 minggu
pengobatan.
3. Istirahat
Tabel 3. Petunjuk tirah baring dan ambulansi
Hanya artritis Karditis Karditis Karditis berat
ringan sedang
Tirah baring 1-2 minggu 3-4 minggu 4-6 minggu Selama masih
terdapat gagal
jantung
kongestif
Ambulansi 1-2 minggu 3-4 minggu 4-6 minggu 2-3 bulan
bertahap
(boleh rawat
jalan bila tidak
mendapat
steroid)
4. Penanganan gagal jantung kongestif sesuai tatalaksana gagal jantung
kongestif
5. Tatalaksana Korea Sydenham
a. Kurangi aktivitas fisik dan stress
b. Untuk kasus berat dapat digunakan :
- fenobarbital: 15-30 mg setia 6-8 jam atau
- Haloperidol dimulai dengan dosis 0,5 mg dan ditingkatkan
setiap 8 jam sampai 2 mg
6. Pasien dengan gejala sisa berupa PJR, memerlukan tatalaksana tersendiri
(akan dirujuk ) tergantung pada berat ringannya penyakit, berupa :
a. Tindakan dilatasi balloon perkutan ( ballon mitral valvulotomy)
b. Tindakan operasi katup jantung berupa valvuloplasti atau
penggantian katup.
7. Indikasi Pulang Dekompensasio kordis telah teratasi. Jadwal tirah baring dan terapisteroid
telah selesai.
8. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A
2) dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A
PANDUAN PRAKTIK KLINIK (PPK)
TATALAKSANA KASUS
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

TUBERKULOSIS
KODE ICD : A16.4
1. Definisi Penyakit akibat infeksi kuman mycobacterium tuberculosis sistemik sehingga
dapat mengenai hampir semua organ tubuh, dengan lokasi terbanyak di paru
yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer.
2. Etiologi Mycobacterium tuberculosis
3. Pathogenesis Inhalasi basil TB  alveolus  fagosistosis oleh makrofag  basil Tb
berkembang biak  destruksi makrofag  pembentukan tuberkel perkijuan
 pecah  lesi sekunder paru  kalsifikasi  komples ghon.
4. Klasifikasi Infeksi TB, Penyakit TB paru, Penyakit TB diluar TB paru.
5. Anamnesis Demam lama > 2 minggu disertai keringat malam, batuk lama > 3 minggu ,
berat badan turun tanpa sebab yag jelas, nafsu makan tidak ada, lesi, diare.
6. Pemeriksaan Konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu subfebris, badan
Fisik kurus atau berat badan menurun. Dapat ditemukan pembesaran kelenjar limfe
superfisialis yang tidak sakit dan biasanya multiple, gejala spesifik sesuai
organ yang terkena.
7. Kriteria Diagnosis dapat ditegakkan bila didapatkan 2 tanda bintang (*).
Diagnosis Pada institusi dengan fasilitas lengkap, diagnosis harus ditelusuri lebih lanjut.
 Kontak erat dengan penderita TBC terbuka
 Sering demam + berkeringat pada malam hari + anoreksia dan
gangguan gizi selama 3 bulan terakhir dan BB turun dengan sangat
cepat.
 BCG  > 3-7 hari (+) > 5 mm
 Mantoux test  > 10-15 mm
 Skrofuloderma
 Konjungtivitis pliktenularis
 Spondylitis / coxitis
 Pembesaran limfe regional terutama leher
 Irritable
 Adanya cairan dalam rongga pleura atau pericardium
 Diare persisten > 14 hari tidak sembuh sendiri dengan terapi
konvensional
 Laboratorium rutin / konvensional  LED ↑
 Rontgent:
 Infiltrate
 Pembesaran kelenjar limfe  tidak khas
 TB Milier
 Infiltrate endobronkial hebat
 Efusi pleura  serosa.
8. Pemeriksaan Uji tuberculin, foto thoraks, sputum BTA secara langsung atau bilasan
Penunjang lambung, uji interferon, serologis, mikrobiologi, patologi
9. Terapi Pengobatan :
Dipakai cara DOTS (Directly Observe Treatment Short Course)
H (INH)
R (Rifampisin)
Z (Pirazinamid)

Dosis :
H : 5 – 10 mg/kgBB maksimum 300 mg
R : 10 mg/kgBB diberikan 1 jam sebelum makan
Z : 20 – 30 mg/kgBB maksimum 2 g/hari
Untuk TBC berat dapat diberikan obat 4 macam seperti berikut :
E (Etambutol) : 10 – 15 mg/kgBB atau
S (Streptomisin) : 20 – 40 mg/kgBB maksimum 750 mg

Perhatian :
1. Perhatikan terhadap perbaikan gizi
2. Diberikan prednisone untuk anak umur > 3 bulan dengan TB milier atau
TB serosa selama 1 – 3 bulan

Monitoring :
1. Teratur selama 2 bulan, klinis kurang maju  lanjutkan maintanence,
evaluasi
2. Tidak teratur dalam 1 bulan ulang  ulang awal
Tidak teratur setelah 1 bulan inisial  tergantung klinis
3. Initial 2 bulan teratur  klinis baik, kemudian drop out  lanjutkan
maintenance dan evaluasi

Profilaksis terutama balita :


Profilaksis primer diberikan pada balita sehat yang memiliki kontak dengan
pasien TB dewasa dengan BTA sputum positif (+), namun pada evaluasi
dengan tidak didapatkan indikasi gejala dan tanda klinis TB. Obat yang
diberikan adalah INH dengan dosis 10 mg/kgBB/hari selama 6 bulan, dengan
pemantauan dan evaluasi minimal satu kali per bulan. Bila anak tersebut
belum pernah mendapat imunisasi BCG, perlu diberikan BCG setelah
pengobatan profilaksis dengan INH selesai dan anak belum atau tidak
terinfeksi (uji tuberculin negative). Pada anak dengan kontak erat TB yang
imunokompromais seperti pada HIV, keganasan, gizi buruk dan lainnya,
profilaksis INH tetap diberikan kepada anak-anak dengan bukti infeksi TB
(uji tuberculin atau IGRA positif) namun tidak terdapat gejala dan tanda klinis
TB. Dosis dan lama pemberian INH sama dengan pencegahan primer.
10. Edukasi Hindari kontak dengan penderita TB, imunisasi BCG
11. Komplikasi dan Dapat sembuh (gejala hilang) bila pengobatan teratur dan lengkap.
Prognosis
12. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A
2) dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A
13. Kepustakaan 1. UKK Respirologi IDAI. Pedoman nasional tata laksana tuberculosis
anak. Jakarta : BP FKUI; 2008.
2. Kartasasmita CB, dkk. Tuberculosis. Dalam : Rahajoe NN, Supriyatno B,
Styanto DB, penyunting. Buku ajar respirologi anak. Edisi I. Jakarta : BP
FKUI; 2008. h. 162 – 267.
3. Kolegium Ilmu Kesehatan Anak Indonesia / IDAI. Modul Program
Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan Anak, 2008.
4. Supriyatno B, dkk. Tuberculosis. Dalam : Pusponegoro HD, Hadinegoro
SRS, Firmanda D, Tridjaja B, Pudjiadi AH, Kosim AS, Rusmil K,
penyunting. Standar pelayanan medis kesehatan anak. Edisi I. Jakarta :
BP IDAI; 2004. h. 359 – 366.
5. Committee on nfectious disease : screening for tuberculosis in infant and
children. Pediatrics 1999; 93 : 131 – 4.
6. Mandalakas AM, Starke JR. tuberculosis and nontuberculosis
mycobacterial disease. Dalam : Chernick V, Boat TF, Wilmott RW, Bush
A, penyunting. Kendig’s disorder of the respiratory tract in children.
Edisi ke 7. Philadelphia. Saunders Elsevier; 2006. h. 507 – 529.
7. Shingadia D, Burgner D. Mycobacterial infections. Dalam : Taussig LM,
Landau LI, penyunting. Pediatric respiratory medicine. Edisi II.
Philadelphia : Mosby Elsevier; 2008. h. 597 – 614.
PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

BRONKIOLITIS AKUT
J 21.9
1. Definisi Penyakit infeksi saluran napas bawah yang ditandai dengan adanya inflamasi
pada bronkiolus
2. Etiologi RSV, Adenovirus, virus influenza, Parainfluenza, Rhinovirus, dan
Mycoplasma
3. Pathogenesis Infeksi virus pada epitel bersilia bronkiolus menyebabkan respon inflamasi
akut, ditandai dengan obstruksi bronkiolus akibat edema, sekresi mucus,
timbunan debris seluler/ sel-sel mati yang terkelupas, diikuti infiltrasi limfosit
peribronkial dan edema submucosa.
4. Anamnesis Umur kurang dari 2 tahun, pilek ringan, batuk, dan demam. Batuk disertai
sesak napas dan mengi
5. Pemeriksaan Demam subfebris, sesak napas dengan tanda-tanda obstruksi saluran napas,
Fisik sesak napas, ekspirasi memanjang dan mungkin terdengar wheezing ekspirasi
6. Kriteria Anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang (foto thoraks)
Diagnosis
7. Diagnosis Bronkopneumonia
Bronchitis akut
8. Pemeriksaan Pemeriksaan darah rutin, foto thoraks, kultur virus, ELISA, PCR
Penunjang
9. Terapi Antibiotika non alergik sebagai profilaksis :
 Pada saat sesak napas dapat diberiakn kloramfenikol IV dan
dilanjutkan dengan pemberian peroral bila sesak berkurang
 Bila dapat diberikan peroral langsung diberikan eritromisin 30 – 50
mg/kgBB/hari dalam 2 – 3 dosis
Suportif :
 Kortikosteroid diberikan untuk mengurangi edema saluran pernapasan.
Kortikosteroid 15 – 20 mg/kgBB/hari atau deksamethason 0,5
mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis selama 2 – 3 hari.
 Cairan dan elektrolit dengan dekstrose 5% dan NaCl disesuaikan
dengan kebutuhan berdasarkan umur dan berat badan.
 Oksigen dengan kelembaban yang cukup
10. Edukasi ASI, anak dihindarkan dari asap rokok, asupan gizi adekuat, tidak menitipkan
anak di tempat penitipan anak (TPA).
11. Komplikasi dan Asma. Banyak anak yang kemudian menjadi penderita asma.
Prognosis
12. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A
2) dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A
13. Kepustakaan 1. Zain MS. Bronkiolitis. Dalam : Rahajoe NN, Suprijatno B, Setyanto
DB, penyunting. Buku ajar respirology anak. Edisi I. Jakarta : BP
FKUI; 2008. h. 333 – 349.
2. Kolegium Ilmu Kesehatan Anak Indonesia / IDAI. Modul Program
Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan Anak. 2008.
3. Clinical practice guideline. American academy of paediatrics. 2006.
4. Supriyatno B, dkk. Bronkiolitis. Dalam : Pusponegoro HD,
Hadinegoro SRS, Firmanda D, Tridjaja B, Pudjiadi AH, Kosim AS,
Rusmil K, penyunting. Standar pelayanan medis kesehatan anak, edisi
I. Jakarta : BP IDAI; 2004. h. 348 – 350.
5. Wohl MEB. Bronchiolitis. Dalam : Chernick V, Boat TF, Wilmott
RW, Bush A, penyunting. Kendig’s disorders of the repiratory tract in
children. Edisi ke 7. Philadelphia : Saunders Elsevier : 2006. h. 423 –
432.
6. Everard ML. Respiratory syncytial virus-associated lower respiratory
tract disease. Dalam : Taussig LM, Landau LI, penyunting. Pediatric
respiratory medicine. Edisi II. Philadelphia : Mosby Elsevier; 2008. h.
491 – 499.
PANDUAN PRAKTIK KLINIK
SMF ANAK
RSU ALIYAH KENDARI

DIARE AKUT PADA ANAK


A 09
1. Definisi Buang air besar pada bayi atau anak > 3 x/hari disertai perubahan konsistensi
tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang berlangsung < 14
hari.
2. Anamnesis 1. Diare : lama diare, frekuensi diare, volume diare, konsistensi, warna, bau,
ada/tidak lendir dan darah
2. Muntah : volume, frekuensi, isi muntah
3. Panas : ada/tidak demam
4. BAK : biasa, berkurang, atau jarang, atau tidak BAK dalam 6 – 8 jam
5. Tindakan yang sudah diberikan : diberi oralit / tidak, dibawa berobat ke
puskesmas/ ke dokter/RS, serta obat-obat yang sudah diberikan
6. Penyakit yang menyertai : ada/ tidak, seperti betuk pilek, otitis media,
dan campak
3. Pemeriksaan 1. Tanda-tanda vital : suhu, frekuensi nadi atau denyut jantung, frekuensi
Fisik napas, tekanan darah, BB.
2. Tanda-tanda dehidrasi : kesadaran, rasa haus, dan turgor kulit di
abdomen. Tanda tambahan lainnya UUB cekung/tidak, mata
cowong/tidak, air mata kering/tidak, mukosa mulut dan lidah
kering/tidak.
3. Abdomen : perut cembung, cekung, peristaltic meningkat/tidak
4. Pemeriksaan ekstremitas : akral dingin/tidak, capillary refill time (CRT)
5. Anogenital : eritema natum +/-
4. Kriteria 1. BAB cair > 3 x/hari
Diagnosis 2. Lama diare < 14 hari
3. Diare tanpa dehidrasi
 Keadaan umum baik
 Mata tidak cekung
 Minum biasa, tidak haus
 Cubitan kulit perut/turgor kembali segera
4. Diare dehidrasi ringan-sedang
 Gelisah, rewel
 Mata cekung
 Ingin minum terus, ada rasa haus
 Cubitan kulit perut/turgor kembali lambat
5. Diare dehidrasi berat
 Lesu / lunglai, tidak sadar
 Mata cekung
 Malas minum
 Cubitan kulit perut / turgor kembali sangat lambat
5. Diagnosis Diare akut tanpa dehidrasi / dehidrasi ringan sedang / dehidrasi berat
6. Diagnosis Diare akut karena virus
Banding Diare akut karena bakteri
Diare akut karena malabsorbsi
7. Pemeriksaan 1. Darah rutin, urin rutin, feses rutin
Penunjang 2. Bila perlu kultur feses
3. Clinitest
4. Pemeriksaan elektrolit
8. Terapi 1. Rehidrasi : rencana terapi A untuk diare tanpa dehidrasi
 Oralit 10 – 20 cc/kgBB/BAB, tidak dirawat
Rencana terapi B untuk diare akut dehidrasi ringan sedang
 Oralit 75 cc/kgBB dalam 4 jam
 IVFD bila :
a. Gagal oralit
b. BAB propius
c. Muntah propius
d. Indikasi sosial
Terapi C untuk diare akut dehidrasi berat
 IVFD RL 10 – 12 cc/kgBB diberikan dalam 4 jam, diberikan 30
cc/jam, dievaluasi tiap 4 jam
2. Pemberian preparat zink selama 10 – 14 hari. Usia < 6 bln 10 mg/hari,
usia > 6 bulan 20 mg/hari
3. Diet : ASI dan makanan tetap harus diteruskan sesuai umur anak. Bila
ditemukan tanda-tanda malabsorbsi karbohidrat diberikan susu rendah
laktosa / bebas laktosa
4. Antibiotik selektif, antibiotika jangan diberikan kecuali ada indikasi.
Indikasi pemberian antibiotika : kolera, diare invasive, diare dengan
penyakit penyerta / penyulit, diare dengan penyakit parasite. Antibiotika
yang diberikan : untuk kolera : tetrasiklin. Diare invasive : shigella
disentri : amoksisilin, cefiksim. Salmonella : chloramphenicol. Parasite :
untuk amuba : metronidazole, candida : nystatin, helmintes : pyrantel
pamoat.
Diare dengan penyulit / penyerta : ampisilin, dimtamisin, cefotaksim
Dosis :
 Amoksisilin 50 mg/kgBB/hari dibagi 3 – 4 dosis
 Cefiksim : 10 – 15 mg/kgBB/hari dibagi 3 – 4 dosis
 Tetrasiklin 50 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis
 Chloramphenicol 100 mg/kgBB/hari dibagi 3 – 4 dosis
 Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dibagi 3 – 4 dosis
 Gentamisin 2 – 5 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis
 Cefotaxime 100 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis
 Metronidazole 50 mg/kgBB/hari dibagi 3 – 4 dosis
 Nystatin umur < 1 tahun 4 x 100.000 U, umur > 1 tahin 4 x
300.000 U
 Pyrantel pamoat 10 mg/kgBB/hari sekali pemberian
9. Edukasi 1. Pada penderita yang dipulangkan, kembali segera bila : demam tinggi,
tinja berdarah, BAB berulang, makan / minum sedikit, rasa sangat haus,
ada kejang
2. Penyuluhan meliputi usaha pencegahan diare, pemberian oralit, ASI
3. Penyuluhan imunisasi
10. Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
11. Tingkat IV
Evidens
12. Tingkat C
Rekomendasi
13. Penelaah Kritis 1) dr. Jeanida Mauliddina, M.ked (Ped)., Sp.A
2) dr. Yeni Haryani, M.Kes., Sp.A
14. Indikator Medis 80% pasien diare dirawat selama 5 hari
15. Kepustakaan 1. Bambang.S, Noortjahjo BS. Diare akut dalam M. Jeffrie, Sri Supar Yati
Soeharto, Hanifah Oswari eds. Buku Ajar Gastroentero Hepatologi Jilid I,
Cetakan Kedua, Badan Penerbit IDAI. 2011 : 87 – 119.
2. Diare akut dalam standar penatalaksanaan IKA, bagian IKA RSMH FK
unsri, 2009 : 1 – 5.
3. Pickering LK, Snyder, JD. Gastroenteritis in Berhman, Klugman, Jenson
eds, Nelson Textbook Of Pediatrics, 17 ed. Saunders 2004 : 1272 – 6.
4. Antonius B.P, Bandrulhegar, Setyo Hadryastuti eds, diare akut dalam
pedoman pelayanan medis IKA Jilid I, cetakan pertama Badan Penerbit
IDAI, 2010 : 58 – 62.