Anda di halaman 1dari 11

Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol. 4, No.

2, Desember 2008

Urgensi Literasi Informasi dalam Kurikulum Berbasis


Kompetensi di Perguruan Tinggi
Jonner Hasugian
Program Studi Ilmu Perpustakaan
Universitas Sumatera Utara

Abstract

Information literacy is knowing when and why some one need information, where to find it, and how
to evaluate, use and communicate it in an ethical manner. To be information literate, a person must
be able to recognize when information is needed and have the ability to locate, evaluate and use
effectively the needed information. The International Bureau of Education (the International
Comission on Education for the 21 st Century), UNESCO recommended curriculum based in
competency with four pillars: learning to know, learning to do, learning to live together, and learning
to be. Information literacy has an important role for achieving them.

Keywords: information literacy, curriculum based in competency

1. Pendahuluan seorang siswa atau mahasiswa memperoleh


keterampilan itu, ia diharapkan dapat
Dewasa ini berbagai lembaga pendidikan mulai mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan
dari jenjang pendidikan dasar sampai dengan menyelesaikan masalah, serta pada gilirannya
pendidikan tinggi ada yang mulai, sedang, dan menambah motivasi untuk belajar. Akan tetapi
telah membangun program literasi informasi. dalam perkembangan selanjutnya, program-
Literasi informasi yang merupakan terjemahan program pelatihan literasi informasi diperluas
dari information literacy dalam pengertian menjadi pelatihan tentang dunia teks pada
ringkas diartikan sebagai keberaksaraan umumnya yaitu bagaimana cara yang efektif dan
informasi atau kemelekan informasi. Penguasaan efisien untuk mencari dan menemukan dokumen
literasi informasi dipandang sangat penting dari perpustakaan, selanjutnya ditambah dengan
dalam proses pembelajaran sehingga menjadi penumbuhan budaya digital agar mampu dan
bagian dari program pendidikan. Dalam lingkup terbiasa melakukan akses terhadap berbagai
yang lebih luas, bahwa program literasi sumber daya informasi elektronik. Akses
informasi sebenarnya adalah program terhadap sumberdaya informasi elektronik saat
pemberdayaan masyarakat khususnya dalam ini sudah menjadi keharusan mengingat volume
bidang informasi. informasi dalam format elektronik yang tersedia
saat ini diperkirakan jauh melebihi informasi
Literasi informasi berhubungan erat dengan yang tersedia dalam format tercetak. Akibatnya,
tugas pokok pelayanan perpustakaan. Dalam proses pembelajaran harus memanfaatkan
perkembangannya, para pustakawan terutama informasi dalam format elektronik.
pustakawan pada perpustakaan sekolah dan
perguruan tinggi, umumnya memandang Keterampilan mencari dan menemukan
keterampilan yang hendak dikembangkan dalam informasi menjadi faktor pendukung dan
program literasi informasi adalah berupa semacam fasilitas untuk belajar secara lebih
keterampilan yang tidak mengundang efektif dan efisien. Seseorang yang sudah melek
permasalahan (non-problematis). Artinya, bahwa informasi dianggap akan mampu menjelajahi
kemampuan seseorang untuk mencari dan lautan dan belantara informasi yang semakin
menemukan informasi adalah berupa lama semakin luas dan rumit, baik yang
serangkaian keterampilan yang dipindahkan dari menggunakan sumber-sumber tercetak maupun
pustakawan kepada pengguna untuk tujuan yang elektronik. Program penguasaan literasi
memudahkan pelayanan dan agar tidak informasi dianggap dapat menciptakan
merepotkan pustakawan. Selanjutnya, setelah keberaksaraan yang berbasis keterampilan

Halaman 34
Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol. 4, No. 2, Desember 2008

(skills-based literacy). Termasuk di dalam Pentingnya penguasaan kompetensi literasi


keterampilan ini adalah kemampuan mencari informasi disadari oleh sebahagian besar
informasi, memilih sumber informasi secara pengelola pendidikan tingggi, akan tetapi
cerdas, menilai dan memilah-milah sumber mungkin masih banyak juga yang belum
informasi, menggunakan serta menyajikan menyadarinya. Bagi lembaga perguruan tinggi
informasi secara etis (Webber dan Johnston, yang sudah menerapkan kurikulum berbasis
2000). kompetensi, maka penguasaan literasi informasi
menjadi kompetensi yang sangat penting
Literasi informasi sebagai kemampuan mencari, dimiliki baik mahasiswa maupun dosen.
mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang Perguruan tingggi yang telah menerapkan
dibutuhkan secara efektif bukanlah merupakan kurikulum berbasis kompetensi haruslah
kemampuan atau keterampilan baru yang tanggap dengan perubahan yang terjadi di
muncul sebagai tuntutan dari era informasi. lingkungannya, sehingga wajib untuk
Kebutuhan akan penguasaan kemampuan ini membekali dosen dan mahasiswanya dengan
telah muncul sejak puluhan tahun lalu, yang kompetensi literasi informasi. Penguasaan
berubah hanyalah jumlah dan bentuk dari
literasi informasi tidak hanya bertujuan untuk
informasi yang tersedia serta cara untuk
menjadikan mahasiswa sebagai individu yang
mengakses dan mendapatkannya. Lima puluh
information literate, yang mampu
tahun yang lalu sumber informasi yang tersedia
pada umumnya didominasi media tercetak menyelesaikan tugas-tugas akademisnya dengan
seperti buku, surat kabar, jurnal, dan terbitan baik, tetapi juga untuk membekali mereka
pemerintah. Akan tetapi pada saat ini sumber dengan pemahaman yang mendalam tentang
informasi telah tersedia dalam bentuk yang lebih literasi informasi karena merekalah nantinya
beragam seperti CD-ROM, pangkalan data yang akan menularkan dan mengajarkan
terpasang, internet, dan lain sebagainya. kompetensi ini ke lingkungan kerjanya. Tulisan
Walaupun kebutuhan untuk mencari, ini mencoba menguraikan pemahaman tentang
mengevaluasi dan menggunakan informasi yang konsep literasi informasi, modelnya dan
dibutuhkan secara efektif telah ada sejak lama, urgensinya dalam kurikulum berbasis
tetapi kemampuan yang dibutuhkan pada saat ini kompetensi pada perguruan tinggi.
terus berkembang menjadi lebih kompleks
sejalan dengan kemajuan jaman dan 2. Literasi Informasi
perkembangan teknologi yang digunakan.
Definisi tentang literasi informasi sangat
Perkembangan teknologi informasi yang banyak dan terus berkembang sesuai kondisi
digunakan untuk menghendel pengelolaan waktu dan perkembangaan lapangan. Dalam
informasi telah menunjukkan dan menandai rumusan yang sederhana literasi informasi
realita bahwa semakin pentingnya penguasaan adalah kemampuan mencari, mengevaluasi
literasi informasi. Sejak munculnya teknologi dan menggunakan informasi yang dibutuhkan
informasi, produksi informasi telah meningkat secara efektif. Hakekat dari literasi informasi
dengan sangat tajam dan diperkirakan akan adalah seperangkat keterampilan yang
terus meningkat melampaui persentase diperlukan untuk mencari, menelusur,
produksi sebelumnya. Literasi informasi menganalisis, dan memanfaatkan informasi
menjadi sangat penting di era informasi (Bundy, 2001). Mencari informasi dapat
sekarang ini karena para individu dihadapkan dilakukan ke perpustakaan, toko buku, pusat-
dengan beragam pilihan informasi yang pusat informasi, di Internet dan sebagainya.
tersedia. Teknologi informasi membuat Menelusur adalah upaya untuk menemukan
informasi menjadi begitu mudah diakses dan kembali informasi yang yang telah disimpan.
digunakan, tetapi kecepatan dan kemudahan Jika ke pepustakaan diperlukan alat
memperoleh informasi hanya akan diperoleh jika penelusuran yaitu katalog, sedangkan untuk
pencari informasi memiliki kompetensi dalam mencari informasi ke Internet diperlukan
literasi informasi. Penguasaan kompetensi search engine. Dalam konteks perpustakaan
literasi informasi tidak hanya bermanfaat bagi dan informasi, literasi informasi selalu
mahasiswa yang masih mengikuti perkuliahan dikaitkan dengan kemampuan mengakses dan
tetapi juga bermanfaat di dunia kerja mereka memanfaatkan secara benar sejumlah
nantinya. informasi yang tersedia baik di dalam

Halaman 35
Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol. 4, No. 2, Desember 2008

perpustakaan maupun yang berada di luar b) Menentukan informasi yang dibutuhkan


gedung perpustakaan. untuk pertanyaan, permasalahan, atau isu
penelitian.
Konsep literasi informasi sebenarnya telah c) Mengetahui tempat/letak dan menemukan
diartikan dan dilakukan dalam berbagai cara informasi yang relevan.
sejak awal tahun tujuh puluhan. Semula istilah d) Mengorganisasikan informasi.
yang sering digunakan adalah seperti study e) Menganalisa dan mengevaluasi informasi
skills, research skills, dan library skills dan f) Mensintesa informasi.
cenderung digunakan dalam konteks kegiatan g) Mengkomunikasikan dengan menggunakan
pendidikan. Oleh karena itu, literasi informasi berbagai jenis teknologi informasi.
merukan bagian yang tidak dapat dipisahkan h) Menggunakan perangkat teknologi untuk
dari kegiatan pendidikan dan/atau memperoleh informasi.
pembelajaran. Sedangkan dalam lingkungan i) Memahami etika, hukum, dan isu-isu sosial
kerja sering digunakan istilah information politik yang terkait dengan informasi dan
competencies dan information proficiencies. teknologi informasi.
Akan tetapi, apapun istilah yang digunakan, j) Menggunakan, mengevaluasi, dan bersifat
bahwa berbagai istilah tersebut tetap merujuk kritis terhadap informasi yang diterima dari
kepada kemampuan mencari, mengevaluasi, media massa.
dan menggunakan informasi secara efektif. k) Menghargai bahwa keahlian yang diperoleh
Kalaupun istilah yang digunakan untuk dari kompetensi informasi memungkinkan
menyatakan kemampuan ini berbeda-beda, hal untuk belajar seumur hidup (California State
itu tergantung kepada lingkungannya. Sebagai University, 2002).
contoh, sampai dengan pada tahun 1980-an
istilah literasi informasi belum begitu dikenal Dari berbagai definisi tentang literasi informasi
di Indonesia, istilah yang dikenal adalah yang telah dikembangkan oleh berbagai institusi
keterampilan perpustakaan (library skill) pendidikan, organisasi profesional dan
karena pada masa itu penggunaan sumberdaya individual, pada umumnya memiliki kesamaan
informasi elektronik khususnya internet masih dengan definisi yang ditawarkan dalam Final
langka. Akan tetapi setelah akhir tahun 1990- Report of the American Library Association
an penggunaan sumberdaya informasi (ALA). Dinyatakan bahwa literasi informasi
elektronik khususnya internet di perguruan adalah serangkaian kemampuan yang
tinggi sudah membudaya sehingga istilah dibutuhkan seseorang untuk menyadari kapan
literasi informasi semakin populer. Terdapat informasi dibutuhkan dan memiliki kemampuan
kaitan antara ketersediaan sumberdaya untuk menemukan, mengevaluasi dan
informasi elektronik dengan penggunaan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara
istilah literasi informasi. Dari sisi pandang efektif. Literasi informasi adalah serangkaian
perpustakaan bahwa pada sejumlah negara kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk
yang tingkat pemerataan fasilitas internetnya menyadari kapan informasi dibutuhkan dan
sudah merata, maka tingkat literasi informasi memiliki kemampuan untuk mencari,
penduduknya cenderung merata dan khusus mengevaluasi, menggunakan, dan
pada perguruan tingggi pelatihan literasi mengkomunikasikan informasi secara efektif.
informasi melalui user education telah dapat Istilah informasi tidak terbatas hanya dalam
dilakukan dalam berbagai format dengan bentuk tercetak akan tetapi juga dalam format
memanfaatkan fasilitas internet. yang lain.

Work Group on Information Literacy dari 3. Literasi Informasi dan Dunia Perguruan
California State University, mendefinisikan Tinggi
literasi informasi sebagai kemampuan untuk
menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan Ketersediaan sumberdaya informasi merupakan
informasi dalam berbagai format. Untuk dapat faktor penting dalam dunia perguruan tinggi.
melakukannya maka perncari informasi harus Pernyataan klasik menyatakan bahwa
mampu menunjukkan sejumlah keahlian dalam perpustakaan sebagai pusat tersediaanya
suatu proses yang terpadu, yaitu: berbagai sumberdaya informasi disebut sebagai
a) Menyatakan pertanyaan, permasalahan, atau jantungnya perguruan tinggi. Akan tetapi bila
isu penelitian. kemampuan untuk memanfaatkan sumberdaya

Halaman 36
Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol. 4, No. 2, Desember 2008

tersebut tidak dimiliki maka sumberdaya tersebut tujuan penting dari pendidikan. Ia menyatakan,
akan menjadi sesuatu yang tidak berdaya. Untuk informasi merupakan sumber yang sangat
itulah literasi informasi menjadi sesuatu yang berharga. Pendidikan harus dapat
sangat urgen. Urgensi literasi informasi tidak memberdayakan semua orang untuk
hanya untuk mahasiswa melainkan untuk seluruh mendapatkan informasi yang sesuai dengan
sivitas akademika termasuk dosen, laboran, dan kebutuhannya. Memang disadari bahwa untuk
staf lainnya. merubah informasi menjadi pengetahuan
bukanlah perkerjaan yang mudah. Proses
Literasi informasi pada dunia perguruan tinggi pembejaran sangat berpengaruh untuk merubah
dianggap sebagai serangkaian keterampilan yang informasi menjadi pengetahuan. Pengaruh proses
bersifat generik dan dapat diterapkan di segala itu akan semakin kuat bila didukung oleh
bidang ilmu. Pustakawan dan penyelenggara kompetensi literasi informasi yang baik. Manfaat
pendidikan memberikan program-program dasar kompetensi literasi informasi dalam dunia
bagi para mahasiswa baru dengan harapan perguruan tinggi adalah:
mereka akan dapat mengembangkan diri lebih a) Menyediakan metode yang telah teruji
lanjut di sepanjang masa belajar mereka. untuk dapat memandu mahasiswa kepada
Program-program literasi informasi di perguruan berbagai sumber informasi yang terus
tinggi pada umumnya berdasarkan pandangan berkembang. Sekarang ini individu
untuk keterampilan mencari, menemukan, dan berhadapan dengan informasi yang
menggunakan informasi. Keterampilan seperti beragam dan berlimpah. Informasi tersedia
itu disebut keterampilan teknis. Dari sudut melalui perpustakan, sumber-sumber
pandang pendidikan, pada umumnya program komunitas, organisasi khusus, media, dan
literasi informasi memakai prinsip-prinsip yang internet.
menekankan pada perubahan keadaan mental b) Mendukung usaha nasional untuk
dan pikiran. Pendekatan ini lebih dikenal dengan meningkatkan kualitas pendidikan.
istilah pendekatan Cartes (Cartesian approach) Lingkungan belajar yang proaktif
yaitu pendidikan yang berdasarkan pandangan mensyaratkan setiap mahasiswa memiliki
bahwa proses belajar dianggap berhasil jika ada kompetensi literasi informasi. Dengan
perubahan keadaan mental misalnya dari bodoh keahlian informasi tersebut maka
menjadi pintar. mahasiswa akan selalu dapat mengikuti
perkembangan bidang ilmu yang
Munculnya beragam pilihan informasi yang dipelajarinya.
tersedia baik itu tercetak, elektronik, image, c) Menyediakan perangkat tambahan untuk
spatial, suara, visual, maupun yang bersifat memperkuat isi perkuliahan. Dengan
numerikal membuat literasi informasi menjadi kompetensi literasi informasi yang
semakin penting di era informasi seperti dimilikinya, maka mahasiswa dapat
sekarang ini. Permasalahan yang terjadi mencari bahan-bahan yang berhubungan
bukanlah tidak tersedianya informasi yang dengan perkuliahan sehingga dapat
cukup, tetapi karena begitu banyaknya informasi menunjang isi perkuliahan tersebut.
yang tesedia dalam berbagai format sehingga d) Meningkatkan pembelajaran seumur hidup.
menimbulkan pertanyaan tentang keaslian, Meningkatkan pembelajaran seumur hidup
kesahihan, dan kebenarannya. Selain itu, adalah misi utama dari institusi pendidikan
masalah lain yang muncul dalam berinteraksi tinggi. Dengan memastikan bahwa setiap
dengan informasi adalah waktu yang tidak individu memiliki kemampuan intelektual
pernah cukup dan sulit mengetahui informasi apa dalam berpikir secara kritis yang ditunjang
saja yang tersedia. Healy (2002) dengan kompetensi informasi yang
mengungkapkan bahwa ada dua masalah utama dimilikinya maka individu dapat
dalam informasi yaitu bagaimana memiliki melakukan pembelajaran seumur hidup
waktu yang cukup untuk mengaksesnya dan secara mandiri (California State University
bagaimana mengetahui informasi apa yang 2001).
tersedia saat ini.
Selain bermanfaat dalam dunia pendidikan,
Boyer (1997) menyatakan bahwa literasi informasi menjadi penting untuk
memberdayakan peran informasi merupakan dikuasai berdasarkan fakta-fakta yang ditemui

Halaman 37
Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol. 4, No. 2, Desember 2008

pada dunia kerja. Beberapa fakta yang informasi untuk pendidikan tinggi menyediakan
menunjukkan pentingnya kompetensi informasi kerangka kerja untuk mengidentifikasikan
dalam dunia kerja antara lain: jumlah informasi individu yang memiliki kompetensi informasi.
yang diperoleh individu dalam sehari sangat Dalam kompetensi ini, ada lima standar dan dua
banyak, kantor-kantor menghasilkan informasi puluh indikator performance. Standar berfokus
dalam bentuk dokumen yang sangat banyak per pada kebutuhan mahasiswa di pendidikan tinggi.
tahun, pubkilkasi dunia terus meningkat dan Standar ini juga menampilkan daftar hasil untuk
pada umumnya setiap pekerja selalu menilai perkembangan kompetensi informasi
meluangkan waktu untuk membaca. Dengan mahasiswa. Dalam standar kompetensi literasi
demikian literasi informasi juga sangat penting informasi dari ACRL, seseorang disebut
untuk dunia kerja. information literate jika mampu:

4. Standar Kompetensi Literasi untuk (1) Menentukan sifat dan cakupan informasi
Pendidikan Tinggi yang dibutuhkan
a. Mendefinisikan kebutuhan informasi.
Literasi informasi diperlukan untuk b. Mengidentifikasi beragam jenis dan
meningkatkan kualitas diri dalam rangka belajar format dari sumber-sumber nformasi
seumur hidup. Ketika seseorang bermaksud yang potensial.
meningkatkan taraf hidupnya, maka dia c. Mempertimbangkan biaya dan manfaat
memerlukan sesuatu yang lebih dari dirinya yaitu dari pencarian informasi yang
perkembangan diri, baik ketrampilan, pendidikan dibutuhkan.
atau kinerja yang lebih baik. Proses untuk d. Mengevaluasi kembali sifat dan
menjadi lebih adalah sesuatu yang dapat dicapai cakupan informasi yang dibutuhkan.
melalui proses belajar. Kemampuan untuk dapat
belajar secara mandiri akan membuat proses (2) Mengakses informasi yang dibutuhkan
yang dilalui lebih mudah dengan berbekal secara efektif dan efisien
kemampuan literasi informasi. a. Menyeleksi metode pencarian atau
sistem temu kembali informasi yang
Ketrampilan baru hanya dapat diperoleh dengan paling tepat untuk mencari informasi
menjalani proses belajar. Dalam proses belajar yang dibutuhkan.
itupun memerlukan informasi yang tepat dan b. Membangun dan menerapkan strategi
benar. Bagi mahasiswa, kemampuan ini akan penelusuran yang efektif.
menentukan banyaknya informasi yang dapat c. Menemukan kembali informasi secara
diserap, dan lebih dari itu mahasiswa makin on-line atau secara pribadi
mampu menyelesaikan masalah secara kritis, menggunakan beragam metode.
logis, dan tidak mudah diperdaya oleh informasi d. Mengubah strategi penelusuran jika
yang diterimanya tanpa evaluasi. Untuk itu perlu.
diperlukan standar kompetensi literasi informasi e. Mengutip, mencatat, dan mengolah
yang perlu dipahami agar tidak larut diperdaya informasi dan sumber-sumbernya.
informasi.
(3) Mengevaluasi informasi dan sumber-
Rumusan tentang standar kompetensi literasi sumbernya secara kritis
informasi untuk pendidikan tinggi pernah a. Meringkas ide utama yang dapat
dilakukan oleh Association of College & dikutip dari informasi yang terkumpul.
Research Libraries Standards Committee dan b. Mengeluarkan dan menggunakan
hasilnya juga diakui oleh Tlie Board of Directors kriteria awal untuk mengevalusi
of the Association of College and Research informasi dan sumber-sumbernya.
Libraries (ACRL) dan pada sauatu pertemuan c. Mengumpulkan ide-ide utama untuk
yang diselenggarakan oleh American Library membangun konsep baru.
Asociation di San Antonio, Texas (Association d. Membandingkan pengetahuan baru
of College and Research Libraries, 2000). ACRL dengan pengetahuan terdahulu untuk
meminta pengesahaan pengumuman standar ini menentukan nilai tambahnya,
dari para profesional dan asosiasi akreditasi di kontradiksi, atau karakteristik unik
perguruan tinggi. Standar kompetensi literasi lainnya dari informasi.

Halaman 38
Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol. 4, No. 2, Desember 2008

e. Menentukan apakah pengetahuan baru International Comission on Education for the 21


memiliki dampak terhadap st Century), UNESCO yang terkenal dengan
sistem nilai seseorang dan menentukan empat pilar pendidikan berdasarkan tujuan
cara untuk menyatukan belajar yaitu: learning to know, learning to do,
perbedaan-perbedaan. learning to live together, dan learning to be.
f. Membuktikan kebenaran dari Untuk pendidikan tinggi di Indonesia
pemahaman dan interpretasi informasi penyusunannya diatur dalam Surat Keputusan
melalui diskusi dengan individu lain, Menteri Pendidikan Nasional Nomor
para ahli, dan/atau praktisi. 232/U/2000 yang menetapkan Pedoman
g. Menentukan apakah query (pertanyaan) Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan
awal perlu direvisi Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa. Bersasarkan
pemikiran tentang tujuan belajar tersebut maka
(4) Menggunakan informasi untuk mata kuliah dalam kurikulum perguruan tinggi
menyelesaikan tujuan tertentu dibagi atas 5 kelompok yaitu: (1) Mata Kuliah
a. Menggunakan informasi baru dan yang Pengembangan Kepribadian (MPK) (2) Mata
terdahulu untuk perencanaan dan Kuliah Keilmuan dan Ketrampilan (MKK) (3)
penciptaan hasil yang istimewa atau Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKB) (4)
performa. Mata Kuliah Perilaku Berkarya (MPB), dan (5)
b. Merevisi proses pengembangan untuk Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat
hasil atau performa. (MBB).
c. Mengkomunikasikan hasil atau
performa secara efektif kepada orang Dalam Surat Keputusan Mendiknas nomor
lain. 045/U/2002 tentang Kurikulum Inti Perguruan
Tinggi mengemukakan bahwa kompetensi
(5) Memahami aspek ekonomi, hukum, dan adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh
sosial yang berkaitan dengan tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai
penggunaan informasi syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat
a. Memahami isu-isu ekonomi, hukum dan dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang
aspek sosial ekonomi seputar informasi pekerjaan tertentu". KBK adalah kurikulum yang
dan teknologi informasi. pada tahap perencanaan, terutama dalam tahap
b. Mengikuti peraturan/hukum serta pengembangan ide akan dipengaruhi oleh
kebijakan institusi dan etika yang kemungkinan-kemungkinan pendekatan,
berhubungan dengan akses dan kompetensi dapat menjawab tantangan yang
penggunaan sumber-sumber informasi. muncul. Artinya, pada waktu mengembangkan
c. Menghargai penggunaan sumber-sumber atau mengadopsi pemikiran kurikulum berbasis
informasi dalam mengkomunikasikan kompetensi maka pengembang kurikulum harus
produk atau performa. mengenal benar landasan filosofis, kekuatan, dan
kelemahan pendekatan kompetensi dalam
5. Kurikulum Berbasis Kompetensi dan menjawab tantangan, serta jangkauan validitas
Literasi Informasi pendekatan tersebut ke masa depan. Harus
diingat bahwa kompetensi bersifat terus
Literasi informasi membentuk dasar bagi berkembang sesuai dengan tuntutan dunia kerja
pembelajaran seumur hidup. Hal ini berlaku atau dunia profesi maupun dunia ilmu.
umum bagi semua disiplin, bagi semua
lingkungan belajar, dan bagi semua tingkatan Implementasi KBK di perguruan Tinggi adalah
pendidikan. Dengan literasi informasi, memperlakukan kelima kelompok mata kuliah
mahasiswa dapat menguasai isi materi dan tersebut sebagai kelompok kompetensi, sehingga
memperluas penelitian, mengarahkan diri setiap matakuliah menjabarkan kompetensi yang
sendiri, serta memiliki kontrol yang lebih besar dikembangkan matakuliah tersebut dan setiap
terhadap proses pembelajaran. mata kuliah memiliki matriks kompetensi.
Setelah itu dapat dikembangkan matriks yang
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah menggambarkan sumbangan setiap matakuliah
model kurikulum yang disarankan oleh the terhadap kelima kategori kompetensi.
International Bureau of Education (the

Halaman 39
Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol. 4, No. 2, Desember 2008

Para ahli di bidang pendidikan menyadari bahwa menggali dan mencari informasi dari berbagai
bagian yang sangat penting dari pendidikan yang sumber termasuk salah satunya di
menerapkan kurikulum berbasis kompetensi perpustakaan. Oleh karena itu pembekalan
adalah terletak pada kemampuan mahasiswa literasi informasi menjadi sangat urgen.
untuk dapat menemukan informasi bagi dirinya Literasi informasi sebagai kemampuan
sendiri. Jika mahasiswa lulus dari perguruan menggali dan menemukan informasi serta
tinggi tanpa mampu menemukan, mensintesa, mengolah informasi untuk kemudian
dan mengevaluasi informasi, maka mereka tidak digunakan dalam pengambilan keputusan atau
akan memiliki keahlian yang diperlukan untuk kesimpulan menjadi sangat penting bagi
bertahan dalam bidang apapun. Lebih jauh lagi, mahasiswa.
walaupun mahasiswa dapat mengingat materi
yang diajarkan dengan hampir sempurna, namun Literasi informasi dibutuhkan dalam
karena tingkat perubahan suatu pengetahuan implementasi kurikulum berbasis kompetensi
terjadi dengan begitu cepat dari apa yang yang mensyaratkan peserta didik untuk
dipelajari pada saat ini khususnya pada bidang- memanfaatkan pelbagai sumber informasi yang
bidang tertentu sehingga pengetahuan tersebut tersedia dalam pelbagai format. Ada dua hal
tidak akan akurat dan relevan lagi beberapa yang membuat perlunya literasi informasi, yaitu
tahun yang akan datang. Untuk itu, kemampuan kebutuhan akan kemampuan belajar terus-
literasi informasi sangat diperlukan untuk menerus serta mandiri agar seseorang dapat
membantu memperbaharui pengetahuan kita hidup sukses dalam masyarakat informasi, dan
sendiri. secara khusus, penerapan kurikulum berbasis
kompetensi di sekolah dan perguruan tinggi.
Dalam komunitas informasi pada saat ini, hasil
yang paling penting dalam proses pembelajaran 6. Implementasi Model Literasi Informasi
bagi semua mahasiswa adalah kemampuan
mereka untuk dapat berfungsi sebagai Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa
pembelajar seumur hidup yang mandiri. Hal literasi informasi adalah kemampuan untuk
yang paling mendasar untuk tujuan tersebut memahami kebutuhan informasi, mencari dan
adalah literasi informasi. Urgensi dari literasi menentukan informasi yang dibutuhkan,
informasi pada perguruan tinggi adalah, membangun atau menyusun informasi yang baru
mahasiswa diharapkan dapat melakukan secara etis dan mempresentasikan/menyajikan
pembelajaran mandiri, oleh karena itu mereka kepada audiens yang tepat. Individu yang
harus memiliki kemampuan yang baik dalam memiliki kemampuan itu adalah orang literat
mencari, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yaitu mereka yang mampu belajar
informasi yang dibutuhkan. secara mandiri sepanjang hidupnya. Untuk
memiliki kemampuan tersebut ada beberapa
Proses pembelajaran untuk menjadi melek langkah yang harus dikuasai.
informasi atau information literate diintegrasikan
dengan proses pembelajaran. Pada dunia Pada dasarnya ada banyak model literasi
pendidikan tinggi program literasi informasi informasi. Dalam setiap model literasi disusun
kemudian dikaitkan dengan konsep belajar langkah-langkah atau prosedur untuk
learning how to learn yaitu belajar bagaimana melaksankannya. Langkahlangkah tersebut
cara untuk belajar (Kapitzke, 2003). Pengertian disusun sebagai suatu model yang disebut model
belajar bagaimana cara untuk belajar adalah literasi informasi. Ada dua model literasi yang
mengajarkan cara belajar yang mengarahkan sering digunakan yaitu The Big6 dan
dan mendorong peserta didik untuk Empowering8.
mengembangkan dan memperluas materi
secara mandiri melalui diskusi, observasi, studi The Big6 adalah model literasi informasi yang
literatur dan studi dokumentasi (metode dikembangkan oleh Michael B. Eisenberg dan
inquiry) dan cara belajar yang dapat Robert E. Berkowitz pada tahun 1987
menumbuhkan dan memupuk motivasi internal (Gunawan, 2008). Menurut model ini literasi
peserta didik untuk belajar lebih jauh dan lebih informasi terdiri dari enam keterampilan dan
dalam. Dengan konsep tersebut maka peserta dua belas langkah, dimana setiap keterampilan
didik akan menjadi aktif belajar untuk

Halaman 40
Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol. 4, No. 2, Desember 2008

terdiri dari dua langkah. Adapun keenam sehingga tampak relasinya dengan
keterampilan tersebut adalah seperti berikut: menggunakan bagan dan garis, atau
menggunakan gambar sketsa.
(c) Freewriting adalah menulis bebas tentang
6 Keterampilan 12 Langkah apa saja yang berkaitan dengan topik atau
1. Perumusan 1.1. Merumuskan masalah
tugas. Gunakan freewriting untuk
Masalah 1.2. Mengidentifikasi yang menyatakan atau menggambarkan proyek
diperlukan secara tulisan.
2. Strategi 2.1. Menentukan sumber
Pencarian 2.2. Memilih sumber terbaik Hasil dari proses di atas adalah pernyataan atau
Informasi
3. Lokasi dan 3.1. Mengalokasi sumber secara
penjabaran dari tugas yang menjadi rumusan
Akses intelektual dan fisik masalah. Rumusan masalah diperoleh setelah
3.2. Menemukan informasi di diidentifikasi melalui berbagai cara.
dalam sumber-sumber
tersebut Langkah 2: Strategi Pencarian Informasi
4. Pemanfaatan 4.1. Membaca, mendengar,
Informasi meraba dsb Setelah mampu menyatakan dan menjabarkan
4.2. Mengekstraksi informasi yang masalah dalam tugas, langkah berikutnya adalah
relevan menentukan kebutuhan untuk menjawab
5. Sintesis 5.1. Mengorganisasikan informasi masalah. Untuk itu diperlukan strategi pencarian
dari pelbagai sumber
informasi untuk mendapatkan informasi yang
5.2. Mempresentasikan informasi
tersebut dapat digunakan untuk menyelesaikan tugas/
6. Evaluasi 6.1. Mengevaluasi hasil proyek tersebut. Ada dua langkah penting yang
(efektivitas) perlu dilakukan yaitu menentukan sumber dan
6.2. Mengevaluasi proses memilih sumber terbaik. Untuk itu perlu
(efisiensi)
dipahami bahwa tersedia beragam sumber
informasi yang dapat digunakan, baik lokasi
Untuk memperoleh keterampilan literasi seperti maupun bentuk informasinya. Sumber informasi
disebut di atas, kepada mahasiswa perlu disini dapat disajikan berupa gambar, citra, foto,
diberikan latihan literasi informasi. Berikut teks, diagram, audio, audio-video, hasil
contoh implementasi untuk melakukan 6 langkah wawancara, laporan, email, spasial dan
di atas. Misalnya kepada beberapa orang sebagainya. Namun demikian perlu diperhatikan
mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan bahwa sumber informasi dapat terbagi dalam
diberi tugas untuk memahami konsep tiga jenis yaitu:
perpustakaan digital. Sesuai model literasi The a. sumber informasi primer: informasi yang
Big6 tahapan yang akan dilakukan adalah diperoleh dari asal informasi tanpa
sebagai berikut: interpretasi, evaluasi dan perubahan dari
pihak ke dua. Contoh: hasil wawancara,
Langkah 1: Perumusan Masalah hasil survey, penemuan, kumpulan data
Setelah mendapat tugas seperti disebut di atas, mentah, artikel jurnal, surat-surat, karya seni.
maka langkah pertama adalah memahami b. sumber information sekunder: hasil tulisan
masalah tugas secara keseluruhan dengan cara: tentang suatu kejadian, penemuan dan
(a) Brainstorming dengan kelompok untuk lainnya seperti: buku teks, ensiklopedia,
memastikan bentuk, isi, kebutuhan untuk komentari, artikel majalah,dsb.
menyelesaikan tugas. Cara ini digunakan c. sumber informasi tertier: kumpulan
untuk menggali, mempertajam, dan informasi yang digunakan untuk menelusuri
mengembangkan gagasan dan penemuan suatu sumber informasi, biasanya berisi
masalah. Brainstorming dapat dilakukan deskripsi dari sumber informasi. Contoh:
melalui visualisasi pemikiran kita dan abstrak, index, bibliografi, direktori,
mengajukan pertanyaan. Gunakan petunjuk dari suatu literatur.
pertanyaan 5W1H (what, when, who, why,
where, dan how) untuk memperjelas area Untuk masing-masing sumber informasi
topik tugas dan memperjelas tugas tersebut, ada yang tersedia dalam format cetak
(b) Clustering dapat digunakan untuk membuat maupun format elektronik. Misalnya artikel
hubungan dari bagian-bagian topik jurnal ada yang tersedia dalam bentuk elektronik

Halaman 41
Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol. 4, No. 2, Desember 2008

dalam elektronik database dan jurnal tercetak dibandingkan dengan menggunakan bahasa
yang diletakkan di perpustakaan. Buku teks Indoensia. Akan tetapi untuk katalog
dapat berupa buku tercetak atau e-book perpustakaan lokal cukup dengan Bahasa
(electronic book). Buku elektronik banyak Indonesia. Bahasa Indonesia dapat
tersedia graris di internet dan dapat dicari digunakan pada search engine, misalnya
menggunakan mesin pencari atau search engine. Google, untuk mendapatkan informasi
Berbekal pemahaman terhadap tugas yang dalam Bahasa Indonesia. Untuk hal ini,
diperoleh, sehingga kita dapat menentukan dapat digunakan Google versi Bahasa
sumber informasi yang digunakan untuk Indonesia (http://www.google.co.id/)
menyelesaikan tugas tersebut, sehingga dapat (c) Penggunaan Operator Boolean untuk
diperinci kebutuhan misalnya: (a) kebutuhan isi: membangun Query. Pada semua alat
apa informasi yang akan disajikan, untuk siapa, pencarian di atas, operator Boolean dapat
sedalam/sejauh mana isi, visualisasi, teks, digunakan untuk merangkai dua atau lebih
pembagian sub topik, alur isi (dan seterusnya); kata/istilah penelusuan guna membantu
(b) kebutuhan bentuk penyajian: poster, artikel, mendapatkan sumber informasi yang tepat
buku, brosur dan (c) kebutuhan format: tercetak dengan kebutuhan. Operator yang
atau elektronik. Setelah itu, tentukan jenis dan digunakan dalam pencarian adalah AND,
format sumber informasi apa yang diperlukan OR, dan NOT. Operator AND untuk
untuk menyelesaikan tugas/proyek. menggabungkan dua atau lebih istilah yang
digunakan dalam query. Operator OR
Langkah 3: Lokasi dan Akses Informasi untuk mencari semua sumber informasi
Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan yang mengandung salah satu kata kunci
dalam hal ini yaitu mengalokasi sumber secara atau keduanya. Operator NOT untuk
intelektual dan fisik dan bagaimana menemukan mendapatkan sumber informasi tanpa
informasi di dalam sumber-sumber tersebut. istilah yang disebut kemudian. Penggunaan
Untuk melakukan hal ini perlu diketahui alat-lat operator biasanya disesuaikan dengan
pencarian sumber informasi. Alat pencarian aturan pada search engine. Masing-masing
sumber informasi adalah alat yang digunakan search engine menggunakan simbol
untuk mendapatkan sumber informasi. Contoh: tertentu untuk mewakili ketiga operator
alat lokasi menggunakan OPAC (Online Public tersebut. Beberapa search engine memiliki
Access Catalog) dari Perpustakaan tertentu, standar yang berbeda. Ada search engine
misal katalog online Perpustakaan USU pada yang langsung menggunakan operator
www.library.usu.ac.id. Search engine, directory, AND untuk semua kata kunci yang
meta search, Internet Google, Yahoo, Altavista, dimasukkan oleh pengguna, kecuali
Google Directory, Google Image, dan mungkin pengguna menggunakan operator lain.
spasial atau lokasi dari sejumlah Electronic Search engine menggunakan operator OR
Database yang diakses online seperti WEST untuk standar pencarian, kecuali pengguna
LAW, PROQUEST, EBSCO, EEE, ACE dan menentukan lain.
sebagainya.
Langkah 4: Pemanfaatan Informasi
Dalam menggunakan alat pencarian di atas hal Dengan tersedianya sumber informasi yang
yang perlu diperhatikan adalah: mendukung penyelesaian masalah, langkah
(a) Query berupa istilah atau kata-kata penting berikutnya adalah memanfaatkan informasi.
yang mewakili sumber informasi. Query Tahapan yang akan dilakukan dalam hal ini
biasanya berupa istilah atau kata atau suatu adalah membaca atau mendengar informasi yang
frase. Hindari menggunakan kata yang ditemukan dan mengekstraksi informasi yang
berupa stop words seperti: dan, oleh, relevan tersebut. Hal ini berarti: menentukan
karena, yang, mana, kapan, saya, dia, bagian informasi yang akan digunakan,
kamu, dengan, which, that, why, before, memilah-milah data yang akan dipakai untuk
will, is, am, are, dan sebagainya. memahami konsep perpustakaan digital seperti
(b) Bahasa query, gunakan bahasa quey yang yang disebut dalam masalah, dan melakukan
tepat dengan alatnya. Bahasa Inggris akan evaluasi sumber informasi yang diperoleh.
menghasilkan pencarian (recall) yang lebih
banyak pada search engine jika

Halaman 42
Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol. 4, No. 2, Desember 2008

Langkah 5: Sintesis dalam rangka pemecahan masalah dan proses


Ada dua tahapan kegiatan yang perlu dilakukan pencarian informasi. Maksud dari evaluasi ini
dalam langkah sintesis ini yaitu adalah untuk mengetahui apakah seluruh proses
mengorganisasikan informasi dari pelbagai telah berlangsung sesuai dengan yang
sumber dan mempresentasikan informasi diharapkan (efisiensi) atau belum untuk
tersebut. Langkah sintesis adalah kegiatan selanjutnya dapat diperbaiki.
membandingkan, mengelola, menyusun, dan
menggabungkan informasi yang diperoleh untuk Model literasi empowering 8 menggunakan
dapat membangun suatu produk informasi. pendekatan pemecahan masalah yang berupa
Informasi-informasi yang diperoleh dari sumber resource-based learning yaitu suatu kemampuan
informasi berhak cipta seperti buku, periodikal, untuk belajar berdasarkan sumber datanya.
citra digital dan data mentah harus diberi Model literasi ini dihasilkan dari dua workshop
pengakuan dengan mematuhi ketentuan atau cara yaitu di Kolombo tahun 2004 dan di Patiala-
mengutip suatu informasi. Informasi yang India tahun 2005. Menurut model ini, literasi
diperoleh dari hasil pencarian dapat digunakan informasi terdiri dari kemampuan untuk:
untuk menghasilkan suatu karya yang baru. (1) Mengindentifikasi topik/subyek, sasaran
Karya baru tersebut tentunya menjadi produk audiens, format yang relevan, jenis-jenis
informasi yang baru. Produk informasi yang sumber
dibangun berdasarkan informasi yang didapat (2) Mengeksplorasi sumber dan informasi yang
dari sumber informasi lain atau produk informasi sesuai dengan topik
lain, milik orang lain yang harus diakui dengan (3) Menyeleksi dan merekam informasi yang
mencantumkannya dalam kutipan dan/atau relevan dan mengumpulkan kutipan-kutipan
dalam bibliografi karya baru tersebut. Pengakuan yang sesuai
terhadap karya orang lain yang informasinya (4) Mengorganisasi, mengevaluasi, dan menyusun
memberi kontribusi atau dasar pada produk informasi menurut susunan yang logis,
informasi yang dibangun sangat penting membedakan antara fakta dan pendapat dan
dilakukan oleh setiap orang yang memproduksi menggunakan alat bantu visual untuk
karya tulis. Pada proses sintesis ini, informasi- membandingkan dan mengkontraskan
informasi yang dikumpulkan dipadukan, informasi
dianalisis dan kemudian dibentuk menjadi (5) Menciptakan informasi dengan menggunakan
produk informasi yang baru. kata-kata sendiri, mengedit dan membuat daftar
pustaka ataupun menghasilkan karya baru
Produk informasi baru yang telah selesai (6) Mempresentasi, menyebarkan atau
dibangun, atau karya baru yang dihasilkan, menyampaikan informasi yang dihasilkan
selanjutnya dipresentasikan. Presentasi adalah (7) Menilai output, berdasarkan masukan dari
menyajikan produk informasi baru kepada orang lain
pembaca atau audiens yang dituju. Berbagai cara (8) Menerapkan masukan, penilaian, pengalaman
untuk menyajikan produk informasi misalnya yang diperoleh untuk kegiatan yang akan
melalui publikasi tercetak: buku, artikel jurnal, datang; dan menggunakan pengetahuan baru
proceeding, laporan, brosur dan sebagainya; yang diperoleh untuk pelbagai situasi.
melalui publikasi online/elektronik pada website
atau mailing list dan sebagainya. Masing-masing Perbedaan antara The Big6 dan Empowring 8
cara menyajikan atau mempresentasikan tentu terletak pada kemampuan kelima yaitu sintesis di
memiliki kode etik dan aturannya. The Big6 menjadi organisasi, penciptaan dan
presentasi pada Empowring 8. Selanjutnya
Langkah 6: Evaluasi kemampuan ke 8 yaitu penerapan tidak terdapat
Makna evaluasi dalam langkah ini adalah pada The Big6.
mengevaluasi hasil penemuan dan pemanfaatan
informasi dengan maksud untuk mengetahui 7. Penutup
apakah informasi yang diperoleh berdaya guna
atau tidak (efektivitas). Evaluasi juga bermakna Kurikulum berbasis kompetensi bertujuan untuk
untuk menilai seluruh proses yang dilakukan menciptakan sejumlah kemampuan atau

Halaman 43
Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol. 4, No. 2, Desember 2008

kompetensi dalam rangka pembelajaran seumur Bundy, A. 2001. For a Clever Country:
hidup. Pembentukan kompetensi memerlukan information literacy diffusion in the 21st
ketersediaan informasi yang bermakna. Informasi century.
akan terus mengalir, membanjir, tiada henti dan <http://www.library.unisa.edu.au/about/
habis-habisnya, dan menawarkan berbagai macam papers/clever.pdf, diakses tanggal 22
pilihan. Kelimpahruahan informasi ini menuntut Maret 2007>
keterampilan mengelola, mencermati, dan California State University. 2002. Information
menyaring secara efisien. Berbeda dengan informasi Competence Assessment Phase Two
dari perpustakaan, informasi dari dunia maya Summary Report. http://www.csupomona.edu/
mempunyai ketersediaan yang melampaui batas kkdunn/Icassess/phase2summary.htm.
ruang dan waktu. Informasi yang bersumber dari diakses 1 November 2004
perpustakaan cenderung diterima sebagai informasi California State University. 2001. "Information
yang andal karena sumber informasinya dianggap Competence Initiative."
dipercaya. Akan tetapi, dari dunia maya, segala http://www.calstate.edu./LS/infocomp.sht
macam informasi membaur dari yang masih ml.; diakses 1 November 2004
Gunawan, Agustin Wydia. 2008. Tujuh Langkah
mentah, dalam proses diolah sampai yang sudah
Literasi Informasi: knowledge
matang, oleh karena itu keotentikan, kesahihan
management. Jakarta: Universitas Atma
(validity) dan keandalannya patut dipertanyakan.
Jaya.
Perlu seperangkat kemampuan atau kompetensi
Healy, Leigh Watson. 2002. "The Voice of the
untuk mengelola dan memanfaatkan informasi
User: Where Students and Faculty Go
secara efektif yaitu kemampuan literasi informasi. for Information."
http://www.educause.edu/ir/libran7/pow
Bibliografi erpoint/EDU0248c.pps.;
Hepworth, Mark. "A Study of Undergraduate
Association of College and Research Libraries. Information Literacy and Skills: the
Information Literacy Competency inclusion of Information Literacy and
Standards for Higher Educatioa 2000. Skills in the Undergraduate Curriculum."
Chicago: Association of College and www.ifla.org/IV/ifla65/papers/107-124e.
Research Libraries. http://www.ala.org/ htm-42k-; diakses 6 Maret 2005 diakses 1
content/NavigationMenu/ACRL/Standard Maret 2005
and Guidelines/Information Literacy Kapitzke, C. 2003. Information Literacy: a
Competency Standardsfor Higher review and poststructuralist critique.
Education.htm.; diakses 1 November 2005 Australian Journal of Language an
Boyer, Ernest L. 1997. New Technologies and Literacy, Vol. 26 No. 1, hal. 53-66.
the Public Interest. Selected Speeches Webber dan Johnston, B. 2000. Conception of
1979-1995. Princeton, N.J.: Carnegie Information Literacy: new perspective and
Foundation for the Advancement of implications. Journal of Information
Teaching. pp. 137-142. Science, Vol.26 N0.6, hal. 381-387.

Halaman 44