Anda di halaman 1dari 15

Page |1

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Yang telah memberikan rahmat
serta hidayah-Nya kepada kami sehingga tugas makalah mengenai “Evaluasi Belajar” ini dapat
kami selesaikan dengan tepat waktu. Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada Ibu Prof. Dr.
Hj. Zaenab Hanim HAM, M. Pd selaku dosen Belajar dan Pembelajaran yang telah memberikan
kami kesempatan untuk menyelesaikan tugas ini sehingga kami mendapatkan pengetahuan yang
lebih tentang evaluasi pendidikan.
Melalui kata pengantar ini kami lebih dulu meminta maaf seandainya di dalam makalah ini
terdapat kekurangan ataupun penulisan yang kurang tepat. Dengan ini kami mempersembahkan
makalah ini dengan penuh rasa terimakasih dan semoga Allah Swt. memberkahi makalah ini
sehingga dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Samarinda, 13 Februari 2018
Penulis,

Kelompok VIII
Page |2

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................................. i


KATA PENGANTAR ................................................................................................ 1
DAFTAR ISI .............................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................... 3
A. Latar Belakang .................................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah ............................................................................................... 4
C. Tujuan ................................................................................................................. 4
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................ 5
A. Pengertian Evaluasi ............................................................................................ 5
B. Pengertian Belajar ............................................................................................... 7
C. Alat Evaluasi Belajar .......................................................................................... 7
D. Prinsip-Prinsip Evaluasi Belajar ......................................................................... 10
E. Evaluasi Ranah Kognitif, Afektif, Psikomotorik ................................................ 11
BAB III PENUTUP .................................................................................................... 14
A. Kesimpulan ......................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 15
Page |3

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam dunia pendidikan, evaluasi memegang peranan yang amat penting. Dari
evaluasi itu, para pengambil keputusan pendidikan mendasarkan diri dalam
memutuskan apakah seorang siswa dapat dinyatakan lulus atau tidak serta layak
diberikan sertifikasi atau tidak.
Ulangan dan Ulangan Umum yang dulu disebut THB (Tes Hasil Belajar) dan
TPB (Tes Prestasi Belajar) adalah alat ukur yang banyak digunakan untuk menentukan
taraf keberhasilan sebuah proses belajar mengajar. Sementara itu istilah evaluasi
biasanya dipandang sebagai ujian untuk menilai hasil pembelajaran para siswa pada
akhir jenjang pendidikan tertentu. Di Indonesia ujian seperti ini disebut Ujian Akhir
Nasional (UAN).
Isu aktual yang berkembang dalam pendidikan saat ini adalah rendahnya mutu
pendidikan Indonesia yang telah disadari oleh berbagai pihak, terutama oleh para
pemerhati pendidikan di Indonesia. Rendahnya mutu pendidikan ini dapat dilihat, antara
lain dari rendahnya rata-rata nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) untuk semua bidang
studi yang di-UAN-kan, baik di tingkat nasional maupun daerah.
Rendahnya pendidikan di Indonesia dapat diketahui dari hasil
penelitian Programme for International Student Assesment (PISA) 2006 yang
diterbitkan Selasa, 4 desember 2007, menunjukkan bahwa kemampuan mambaca
(reading literacy) anak-anak Indonesia usia 15 tahun berada pada peringkat ke-48,
kemampuan matematika berada pada peringkat ke-50, dan kemampuan Ilmu
Pengetahuan Alam berada pada peringkat ke-50 dari 57 negara yang diteliti.
Kemampuan membaca siswa usia 15 masih pada peringkat ke-48 (peringkat bawah),
padahal kemampuan membaca ini merupakan faktor yang terpenting untuk melakukan
eksplorasi informasi yang sangat erat dengan kegiatan siswa dalam belajarnya.
Kemampuan matematika dan ilmu pengetahuan alam berada pada peringkat ke-50, hal
ini juga sangat memprihatinkan dalam sejarah pendidikan Indonesia.
Laporan dari PISA ini juga sejalan dengan laporan yang dikeluarkan
oleh International Association for the Evaluation of Educational Achuievement (IEA)
berdasarkan hasil studi Trends in International Mathematic and Sciense Study (TIMSS)
2004 menunjukkan bahwa untuk bidang matematika, siswa sekolah menengah pertama
(SMP) kelas II di Indonesia berada pada peringkat ke-34 dari 45 negara. Sementara
Page |4

untuk bidang sains, siswa Indonesia pada tingkat yang sama berada pada urutan ke-36
dari 45 negara.
Nilai kelulusan UAN yang dicapai oleh sebagian besar siswa kita sebenarnya
merupakan nilai yang tidak wajar. Namun, masyarakat kelihatannya senang jika sekolah
tertentu semua siswanya (100%) lulus. Masyarakat senang jika anak-anak lulus dengan
nilai baik, walaupun dengan cara yang tidak mendidik dan tidak masuk akal. Barangkali
sekarang, sudah saatnya sekolah tidak memberi tanda lulus dengan disertai dengan nilai
kelulusan. Sekolah cukup memberikan Surat Tanda Tamat Belajar (STTB). Dalam
STTB cukup diterangkan, seorang anak telah tamat belajarnya di SD, SMP, SMA atau
SMK. Jika orang mau melihat prestasi yang dimiliki siswa, silahkan melihat nilai yang
dimilikinya.
“On logical and empirical grounds, IQ test scores are not necessary for the
definition of learning disabilities”, artinya pada dasar logis dan empiris, nilai tes IQ
tidak diperlukan untuk definisi ketidakmampuan belajar.
“Identification of children with learning disabilities is based on understanding
the difference between ability and achievement”, artinya identifikasi anak-anak dengan
ketidakmampuan belajar didasarkan pada pengertian perbedaan antara kemampuan dan
prestasi.
Dari uraian di atas pemakalah ingin menjelaskan lebih lanjut tentang bagaimana
dunia evaluasi dalam pendidikan. Agar kita mengetahui makna sebenarnya dari evaluasi
untuk selanjutnya menjadi lebih bijak dalam mengaplikasikannya pada proses belajar
mengajar sehingga pendidikan di Indonesia tidak tertinggal dengan negara lain dan
mampu bersaing dalam dunia global.

B. Rumusan Masalah
1. Mengapa evaluasi belajar penting untuk dilakukan?
2. Apa ragam alat evaluasi belajar ?
3. Bagaimana cara mengevaluasi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik siswa?

C. Tujuan
Tujuan di dalam makalah ini adalah
1. Untuk mengetahui konsep evaluasi belajar.
2. Untuk mengetahui evaluasi ranah kognitif, afektif, psikomotorik.
3. Untuk mengetahui alat evaluasi belajar.
Page |5

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Evaluasi
Evaluasi merupakan bagian yang integeral dari pendidikan/pengajaran, sehingga
perencanaan/penyusunan, pelaksanaan dan penggunaannya pun tidak dapat
dipisahkan dari keseluruhan program pendidikan/pengajaran. Di dalam membahas
langkah-langkah evaluasi pun tidak dapat dipisahkan dari langkah-langkah
pengajaran. Evaluasi artinya penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai
tujuan yang telah di tetapkan dalam sebuah program.
Fungsi dan tujuan evaluasi belajar
1. Fungsi Evaluasi
Di samping memiliki tujuan, evaluasi belajar juga memiliki fungsi-fungsi sebagai
berikut:
a) Fungsi administrasi untuk penyusunan daftar nilai dan pengsianbuku raport.
b) Fungsi promosi untuk menetapakan kenaikan atau kelulusan.
c) Fungsi diagnostik untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa dan
merencanakan program remedial teaching (pengajaran perbaikan ).
d) Dumber daya BP untuk memasok data siswa tertentu yang memerlukan
bimbingan dan penyuluhan (BP).
e) Bahan pertimbangan pengembangan pada masa yang akan datang yang
meliputi pengembangan kurikulum, metode dan alat-alat PBM.
Selanjutnya Muhibin Syah (1999) menjelaskan bahwa selain memiliki fungsi-
fungsi seperti di atas, evalusi juga mengandung fungsi psikologis yang cukup
signifikan bagi siswa maupun bagi guru maupun bagi orang tuanya. Bagi siswa,
penilaian guru merupkan alat bantu untuk mengatasi ketidakmampuannya dalam
menilai kemampuan dan kemajuan dirinya sendiri, siswa memiliki self-
consciousnes, kesadaran yang lugas menegenai eksistensi dirinya, dan
juga metacognitive, pengetahuan yang benar mengenai batas kemampuan akal
sendiri (Mulchacyet al, 1991). Dengan demikian, siswa diharapkan mampu
menentukan posisi dan statusnya secara tepat di antara teman-teman dan
masyarakatnya sendiri.
Selain itu juga ada fungsi lain untuk evaluasi belajar antara lain:
Page |6

1) Untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan instruksional secara


komperehensif yang meliputi aspek pengetahuan,sikap,dan tingkah laku.
2) Sebaagai umpan balik yang berguna bagi tindakan berikutnya dimana segi-
segi yang sudah dapat dicapai lebih ditingkatkan lagi dan segi-segi yang
dapat merugikan sebanyak mungkin dihindari.
3) Bagi pendidik, evaluasi berguna untuk mengukur keberhasilan proses belajar
mengajar. Bagi peserta didikberguna untuk mengetahui bahann pelajaran
yang diberikan dan dikuasainya.dan bagi masyarakat, untuk mengetahui
berasil tidaknya program-progam yang dilaksanakan.
4) Untuk memberikan umpan balik pada guru sebagai dasar untuk memperbaiki
proses belajar mengajar dan mengadakan program remedial bagi murid.
5) Untuk menemukan angka kemajuan atau hasil belajar.
6) Untuk menempatkan murid dalam situasi belajar mengajar yang tepat.
7) Untuk mengenal latar belakang murid yang mengalami kesulitan-kesulitan
belajar.
2. Tujuan Evaluasi
Adapun tujuan evaluasi menurut Muhibbinsyah (1999) adalah
Pertama, untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah di capai oleh siswa
dalam suatu kurun waktu proses belajar tertentu. Hal ini berarti dengan evaluasi
guru dapat mengetahui kemajuan perubahan perilaku siswa sebagai proses belajar
dan mengajar yang melibatkan dirinya selaku pembimbing dan pembantu kegiatan
belajar siswanya.
Kedua, untuk mengetahui posisi atau kedudukan seorang siswa dalam
kelompok kelasnya. Dengan demikian, hasil evaluasi itu dapat di jadikan guru
sebagai alat penetap apakah siswa tersebut termasuk kategori cepat, sedang, atau
lambat dalam arti mutu kemampuan belajarnya.
Ketiga, untuk mengetahui tingkat usaha yang di lakukan siswa dalam belajar.
Hal ini berarti dalam evaluasi, guru akan dapat mengetahui gambaran tingkat
usaha siswa. Hasil yang baik pada umumnya enunjukkan tingkat usaha yang
efisien.
Keempat, untuk mengetahui hingga sejauh mana siswa telah
mendayagunakan kapasitas kognitifnya (kemampuan kecerdasan yng di milikinya)
untuk keperluan belajar. Jadi, evaluasi itu dapat dijadikan guru sebagai gambaran
realisasi pemanfaatan kecerdasan siswa.
Page |7

Kelima, untuk mengetahui tingkat daya guna dan hasil guna metode
mengajar yang telah di gunakan guru dalam proses belajar mengajar. Dengan
demikian, apabila sebuah metode yang digunakan guru tidak mendorong
munculnya prestasi belajar siswa yang memuaskan, guru sebaiknya mengganti
metode tersebut atau mengkombinasikannya dengan metode lain yang serasi.

B. Pengertian Belajar
Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi
perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan. Belajar merupakan akibat adanya
interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru
kepada pelajar, sedangkan respon adalah berupa reaksi atau tanggapan pelajar
terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Oleh karena itu, apa yang
diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pelajar (respon) harus
dapat diamati dan diukur.
Siswa dikatakan telah mencapai tujuan pengajaran apabila dia telah menguasai
sebagian besar materi yang berhubungan dengan pengajaran yang telah ditetapkan.
Tingkat keberhasilan siswa dalam belajar dapat ditentukan dengan melihat
kedudukan kurva yang dibentuk oleh nilai-nilai hasil belajar yang dicapai oleh siswa.
Evaluasi belajar adalah keseluruhan kegiatan pengukuran (pengumpulan data
dan informasi), pengelolaan, penafsiran dan perimbangan untuk membuat keputusan
tentang tingkat hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik setelah melakukan
kegiatan belajar dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ingin dicapai oleh peserta
didik (Hamalik, 2008).

C. Alat Evaluasi Belajar


1. Ragam alat evaluasi
Kata “alat” biasa disebut juga dengan istilah “instrumen”. Dengan demikian
maka alat evaluasi juga dikenal dengan instrumen evaluasi. Dalam kegiatan
evaluasi, fungsi alat untuk memperoleh hasil yang lebih baik sesuai dengan
kenyataan yang di evaluasi.
Contoh:
Jika dievaluasi berapa siswa mampu mengingat nama nabi atau rasul, hasil
evaluasinya berupa berapa banyak siswa dapat menyebutkan nama nabi dan rasul
yang diingat.
Page |8

Dengan pengertian tersebut maka alat evaluasi dikatakan baik apabila


mampu mengevaluasi sesuatu yang dievaluasi dengan evaluator menggunakan
cara atau teknik, dan oleh karena itu dikenal dengan teknik evaluasi, yaitu
a. teknik nontes
Yang tergolong teknik nontes diantaranya adalah :
1) skala bertingkat (rating scale),
2) kuesioner (questionair),
3) daftar cocok (check list),
4) wawancara (interview),
5) pengamatan (observation),
6) riwayat hidup.
b. teknik tes
Istilah tes dari kata testum suatu pengertian dalam bahasa kuno yang berarti
piring untuk menyisihkan logam-logam mulia. Adapula yang mengartikan
sebagai sebuah piring yang dibuat dari tanah. Sebelum sampai kepada uraian
yang lebih jauh, maka akan diterangkan dahulu arti beberapa istilah-istilah yang
berhubungan dengan tes ini.

1. Menurut amir da’in indrakusuma


“Tes adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis dan obyektif untuk
memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang diinginkan tentang
seseorang, dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat” (1972: 27).
2. Menurut muhtar bukhori
“Tes adalah suatu percobaan yang diadakan untuk mengetahui ada atau
tidaknya hasil-hasil pelajaran tertentu pada seseorang murid atau kelompok
murid.”
Beberapa macam-macam tes antara lain :
a) Tes Lisan
Tes ini termasuk kelompok tes verbal, yaitu tes soal dan jawabannya
menggunakan bahasa lisan (wayan nurkancana, 1983: 60). Dari segi persiapan
dan cara bertanya tes lisan dapat dibedakan menjadi dua yaitu tes lisan bebas
adalah pendidik dalam memberikan soal kepada peserta didik tanpa
menggunakan pedoman yang dipersiapkan secara tertulis. Dan tes lisan
Page |9

berpedoman yaitu pendidik menggunakan pedoman tertulis tentang apa yang


akan ditanyakan kepada peserta didik.
Dalam tes bebas, dialog terjadi lebih orisinil tidak terikat formalitas, namun
sering jawaban lupa tidak tercatat. Sedangkan kalau dengan pedoman,
pertanyaan terarah, jawaban lebih mudah dicatat dan diseragamkan
skoringnya.
b) Tes Perbuatan/Pengukuran Ranah Psikomotor
Pengukuran Ranah Psikomotorrik dilakukan terhadap hasil-hasil belajar
yang berupa penampilan (suharsimi, 2001: 182). Menurut ngalim purwanto
(1987: 48), yang dimaksud tes perbuatan adalah tes dimana respon atau
jawaban yang dituntut dari peserta didik berupa perbuatan, tingkah laku
kongkrit. Alat yang dapat digunakan untuk melakukan tes ini adalah observasi
atau pengamatan terhadap tingkah laku tersebut.
Tes digunakan untuk mengukur perubahan sikap peserta didik,
kemampuan dalam meragakan atau mengaplikasikan jenis keterampilan
tertentu.
Bentuk tes ini berupa petunjuk-petunjuk atau perintah-perintah baik
secara lisan atau secara tertulis, dapat berupa penyediaan situasi dimana
peserta didik diminta untuk bereaksi terhadap situasi tersebut, baik dengan
disengaja ataupun tidak.
c) Tes sikap/ pengukuran ranah afektif
Pengukuran ranah afektif tidaklah semudah mengukur ranah
kognitif. Pengukuran ranah afektif tidak dapat dilakukan setiap saat (dalam
arti pengukuran formal) karena perubahan tingkah laku siswa tidak dapat
berubah sewaktu-waktu (suharsimi:2001:177). Pengubahan sikap
seseorang memerlukan waktu yang relatif lama. Demikian juga
pengembangan minat dan penghargaan serta nilai-nilai.
Pertanyaan afektif tidak menuntut jawaban benar atau salah,
namun jawaban yang khusus tentang dirinya mengenai minat, sikap, dan
internalisasi nilai (oleh cronbach dibedakan antara maximum performance
dengan typical performance attitude)(cronbach. 1970). Ada beberapa
bentuk skala yang dapat digunakan untuk mengukur sikap antara lain :
1) Skala likert
2) Skala pilihan ganda
P a g e | 10

3) Skala thurstone
4) Skala guttman
5) Semantic differential
6) Pengukuran minat

D. Prinsip-Prinsip Evaluasi Belajar


Sebelum penelitian (evaluasi) dilaksanakan, kiranya perlu diperhatikan
terlebih dahulu prinsip-prinsip penilaian yang nantinya dapat digunakan
sebagai pedoman kebijaksanaan dalam melaksanaknnya. Dan prinsip-prinsip
ini ditempuh dengan masksud agar tujuan yang diinginkan dapat tercpai.
Adapun prinsip-prinsip penilaian berlaku dalam dunia pendidikan
menurut Abror (1995) yaitu:
1. Prinsip Komprehensif. Prinsip ini mengajarkan kepada kita bahwa seluruh
aspek anak perlu dinilai. misalnya:
a. Bagaimana hafalannya
b. Bagaimana pemahamannya
c. Bagaimana kecepatan menangkap dan meresponnya
d. Bagaimana keterampilannya
e. Bagaimana sukap dan perilakunnya
f. Bagaimana kecepatan dan ketepatannya
2. Prinsip kontinuitas. Prinsip ini menyatakan kepada kita bahwa evaluasi itu
hendaknya dilaksanakan secara berkesenimbangan. Malahan sambil
mengajar, penilaian perlu dilakukan terhadap sikap, minat dan perhatan anak
didik, tanpa melupakan pertimbangan waktu yang tersedia. Sehubung dengan
itu, sekurang-kurangnya ada tiga tahap, yaitu:
a. Tahap pendahuluan (initial), yang sering disebut dengan “pretesst”;
b. Tahap formatif, yang berfungsi untuk memperhatikan proses belajar
mengajar, yang sering diistilahkan dengan “posttest”;
c. Tahap sumatif, yang berfungsi untuk menentukan hasil belajar anak, yang
sering disebut dengan “final test”.
Dalam pengalaman disekolah,jika test formatif dapat disamakan dengan
ulangan harian, maka test sumatif ini dapat disamakan dengan ulangan
umum yang biasannya dilaksanakan pada tiap akhir catur wulan atau akhir
semester (Suharsimi 1986).
P a g e | 11

3. Prinsip obyektivitas. Dalam melaksanakan penilaian hendaknya dihindari


perasaan “suka atau tidak suka” agar hasil penilaian benar-benar mencapai
obyektivitas. Dengan kata lain, penilaian hendaknya didasarkan ats kenyataan
(apa adanya), tanpa melupakan sifat individual.
4. Prinsip validitas (kesasihan). Yang dimaksud adalah menakar apa yang
hendak ditakar. Jadi, test inteligensi, misalnya dikatakan valid atau sahih
kalau test tersebut benar-benar hanya menakar kecerdasan; sebaliknya idk
valid jika digunakan untuk menakar ingatan. Dan berdasarkan pengalaman,
prinsip ini semakin jelas penerapannya untuk menakar benda-benda.
Misalnya, meteran hanya valid untuk menakar panjang dan lebar; sebaliknya,
tidak valid bila digunakan untuk menakar suhu dan berat.
Karena validitas atau kesahihan itu bukan merupakan ciri yang mutlak, maka
beberapa jenis kesahihan bisa diidentifikasikan, yang bergantung kepada
tujuan yang digunakannya metode evaluasi. (Crow & Crow, 1958, hlm 376).
5. Prinsip Reliabilitas. Secara sederhana, reliabilitas berarti hal tahan uji atau
dapat dipercaya. Sebuah alat evaluasi dipandang reliabel atau tahan uji,
apabila memiliki eksistensi atau keajegan hasil. Artinya apabila alat itu
diujikan kepada kelompok siswa pada waktu tertentu menghasilkan prestasi
“X”, maka prestasi yang sama atau hampir sama dengan “X” itu dapat pula
dicapai kelompok siswa tersebut setelah diuji ulang dengan alat yang sama
pada waktu yang lain (Mushibbinsyah, 19).

E. Evaluasi Ranah Kognitif, Afektif dan Psikomotorik


1. Evaluasi ranah kognitif
Mengukur keberhasilan siswa yang berdimensi kognitif (ranah cipta) dapat
dilakukan dengan berbagai cara, baik dengan te tertulis maupun tes lisan dan
perbuatan, karena semakin membengkaknya jumlah siswa di sekolah-sekolah, tes
lisan dan perbuatan hampir tak pernah digunakan lagi. Alasan lain mengapa tes
lisan khususnya kurang mendapat perhatian ialah karena sikap dan perlakuannya
yang subjektif dan kurang adil, sehingga soal yang diajukan pun tingkat
kesukarannya berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Untuk mengatasi masalah subjektifitas itu, semua jenis tes tertulis baik yang
berbentuk subjektif maupun objektif (kecuali tes Benar-Salah), seyogyanya dipakai
sebaik-baiknya oleh para guru. Namun demikian, apabila anda menghendaki
P a g e | 12

informasi yang lebih akurat mengenai kemampuan kognitif siswa, selain tes B-S,
tes pilihan berganda juga sebaiknya tidak digunakan, sebagai gantinya, anda sangat
dianjurkan untuk menggunakan tes pencocokan (matching test), tes isian dan tes
esai.
2. Evaluasi ranah afektif
Pengukuran ranah afektif tidaklah semudah mengukur ranah kognitif..
Pengubahan sikap seseorang memerlukan waktu yang relatif lama. Pertanyaan
afektif tidak menuntut jawaban benar atau salah, tetapi jawaban khusus tentang
dirinya mengenai minat, sikap dan internalisasi nilai.
Dewasa ini banyak ditemukan teknik konstruksi skala sikap, tetapi
pelaksanaan dan pengolahannya menuntut kemampuan dan keahlian ilmu statistik,
sehingga tidak setiap guru mampu menggunakannya. Ada beberapa bentuk skala
yang dapat digunakan untuk mengukur sikap antara lain :
a) Skala Likert
Skala ini berbentuk suatu pernyataan dan diikuti oleh lima respons yang
menunjukkan tingkatan. Misalnya: SS (Sangat Setuju), S (Setuju), TB (Tidak
Berpendapat), TS (Tidak Setuju), STS (Sangat Tidak Setuju). Rentang skala ini
diberi skor 1 sampai 5 atau 1 sampai 7 bergantung kebutuhan.
b) Skala Thurstone
Skala Thurstone mirip skala Likert karena merupakan suatu instrumen yang
jawabannya menunjukkan tingkatan. Pernyataan yang diajukan kepada
responden disarankan oleh Thurstone kira-kira 10 butir, tetapi tidak kurang dari
5 butir.
c) Skala Guttman
Skala ini berupa tiga atau empat buah pernyataan masing-masing harus dijawab
“ya” atau “tidak”. Pernyataan-pernyataan tersebut menunjukkan tingkatan yang
berurutan sehingga bila responden setuju pernyataan nomor 2, diasumsikan
setuju nomor 1 dan seterusnya.
d) Semantic Differential
Instrument yang disusun oleh Osgood dan kawan-kawan ini mengukur konsep-
konsep untuk tiga dimensi yakni baik-tidak baik, kuat-lemah, cepat-lambat atau
aktif-pasif atau dapat juga berguna-tidak berguna.
P a g e | 13

3. Evaluasi ranah psikomotorik


Cara yang dipandang tepat untuk mengevaluasi keberhasilan belajar yang
berdimensi ranah psikomotor (ranah karsa) adalah observasi. Bentuk tes ini
berupa petunjuk-petunjuk atau perintah-perintah baik secara lisan atau tertulis,
dapat berupa penyediaan situasi dimana peserta didik diminta untuk bereaksi baik
dengan sengaja atau tidak.
P a g e | 14

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Evaluasi merupakan bagian yang integeral dari pendidikan/pengajaran, sehingga
perencanaan/penyusunan, pelaksanaan dan penggunaannyapun tidak dapat dipisahkan
dari keseluruhan program pendidikan/pengajaran. Di dalam membahas langkah-langkah
evaluasipun tidak dapat dipisahkan dari langkah-langkah pengajaran. Evaluasi artinya
penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai fungsi dan tujuan yang telah di
tetapkan dalam sebuah program. Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam
perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan. Alat evaluasi
dikatakan baik apabila mampu mengevaluasi sesuatu yang dievaluasi dengan evaluator
menggunakan cara atau teknik, dan oleh karena itu dikenal dengan teknik evaluasi, yaitu
teknik nontes dan teknik tes.
Evaluasi ranah kognitif yaitu mengukur keberhasilan siswa yang berdimensi
kognitif (ranah cipta) dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik dengan te tertulis
maupun tes lisan dan perbuatan, karena semakin membengkaknya jumlah siswa di
sekolah-sekolah, tes lisan dan perbuatan hampir tak pernah digunakan lagi. Alasan lain
mengapa tes lisan khususnya kurang mendapat perhatian ialah karena sikap dan
perlakuannya yang subjektif dan kurang adil, sehingga soal yang diajukan pun tingkat
kesukarannya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Evaluasi ranah afektif yaitu
pengukuran ranah afektif tidaklah semudah mengukur ranah kognitif.. Pengubahan sikap
seseorang memerlukan waktu yang relatif lama. Pertanyaan afektif tidak menuntut
jawaban benar atau salah, tetapi jawaban khusus tentang dirinya mengenai minat, sikap
dan internalisasi nilai. Evaluasi ranah psikomotorik yaitu cara yang dipandang tepat
untuk mengevaluasi keberhasilan belajar yang berdimensi ranah psikomotor (ranah
karsa) adalah observasi. Bentuk tes ini berupa petunjuk-petunjuk atau perintah-perintah
baik secara lisan atau tertulis, dapat berupa penyediaan situasi dimana peserta didik
diminta untuk bereaksi baik dengan sengaja atau tidak.
P a g e | 15

DAFTAR PUSTAKA

Algozzine, B., Ysseldyke, J.E., & Shinn, M. E. 1982. “Identifying children with learning
disabilities: When is a discrepancy severe?” Journal of School Psychology, 20,
299-305.
Najib, Ainun. 1994. Makalah Evaluasi Belajar,
http://ainunnajib1994.blogspot.co.id/2016/02/makalah-evaluasi-
belajar.html?m=1, (diakses tanggal 12 Februari 2018 pukul 16:11).
Prayitno. 2015. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Rineka Cipta.
Siegel, Linda S. 1989. “IQ Is Irrelevent to the Definiton of Learning Disabilities.”
Journal of Learning Disabilities, 22, 469-478.
Sulistyorini. 2009. Evaluasi Pendidikan dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Suwarto. 2013. Pengembangan Tes Diagnostik dalam Pembelajaran. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar.
Syah, M. 2006. Psikologi Belajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada.