Anda di halaman 1dari 21

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pancasila sebagai dasar filsafat negara Republik Indonesia yang secara resmi
disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 dan tercantum dalam Pembukaan
UUD 1945 yang diundangkan dalam berita Republik Indonesia tahun II No.7
bersamaan dengan batang tubuh UUD 1945. Pancasila adalah lima nilai dasar luhur
yang ada dan berkembang bersama dengan bangsa Indonesia sejak dahulu.Sejarah
merupakan deretan peristiwa yang saling berhubungan. Peristiwa-peristiwa masa
lampau yang berhubungan dengan kejadian masa sekarang dan semuanya bermuara
pada masa yang akan datang. Hal ini berarti bahwa semua aktivitas manusia pada
masa lampau berkaitan dengan kehidupan masa sekarang untuk mewujudkan masa
depan yang berbeda dengan masa yang sebelumnya.
Dasar Negara merupakan alas atau fundamen yang menjadi pijakan dan mampu
memberikan kekuatan kepada berdirinya sebuah Negara. Negara Indonesia dibangun
juga berdasarkan pada suatu landasan atau pijakan yaitu pancasila. Pancasila, dalam
fungsinya sebagai dasar Negara, merupakan sumber kaidah hukum yang mengatur
Negara Republik Indonesia, termasuk di dalamnya seluruh unsur-unsurnya yakni
pemerintah, wilayah, dan rakyat. Pancasila dalam kedudukannya merupakan dasar
pijakan penyelenggaraan Negara dan seluruh kehidupan Negara Replubik Indonesia.
Pancasila sebagai dasar Negara mempunyai arti yaitu mengatur
penyelenggaraan pemerintahan. Konsekuensinya adalah Pancasila merupakan
sumber dari segala sumber hukum. Hal ini menempatkan pancasila sebagai dasar
Negara yang berarti melaksanakan nilai-nilai Pancasila dalam semua peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Pancasila Pada Era Pra Kemerdekaan?
2. Bagaimana Pancasila Pada Era Kemerdekaan?
3. Bagaimana Pancasila Pada Era Orde Lama?

4
4. Bagaimana Pancasila Pada Era Orde Baru?
5. Bagaimana Pancasila Pada Era Reformasi?

1.3 Tujuan Masalah


1. Menjelaskan Pancasila Pada Era Pra Kemerdekaan?
2. Menjelaskan Pancasila Pada Era Kemerdekaan?
3. Menjelaskan Pancasila Pada Era Orde Lama?
4. Menjelaskan Pancasila Pada Era Orde Baru?
5. Menjelaskan Pancasila Pada Era Reformasi?

BAB 2

5
PEMBAHASAN

2.1 Pancasila Pada Era Pra Kemerdekaan


2.1.1 Nilai-nilai Pancasila dalam Sejarah Bangsa Indonesia
Menurut sejarah pada abad VII-XII, bangsa Indonesia telah mendirikan
kerajaan Sriwijaya di Sumatera Selatan dan kemudian pada abad XIII-XVI
didirikan pula kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Kedua jaman itu
merupakan tonggak sejarah bangsa Indonesia karena bangsa Indonesia masa
itu telah memenuhi syarat-syarat sebagai suatu bangsa yang mempunyai
negara. Kedua kerajaan itu telah merupakan negara-negara berdaulat,
bersatu serta mempunyai wilayah yang meliputi seluruh Nusantara. Kedua
jaman kerajaan itu telah mengalami kehidupan masyarakat yang sejahtera.
Menurut Mr. Muhammad Yamin berdirinya negara kebangsaan
Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan kerajaan-kerajaan lama yang
merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia. Negara kebangsaan
Indonesia terbentuk melalui tiga tahap yaitu: Pertama, jaman Sriwijaya di
bawah Wangsa Syailendra (600-1400). Kedua, negara kebangsaan jaman
Majapahit (1293-1525). Kedua tahap negara kebangsaan tersebut adalah
negara kebangsaan lama. Ketiga, negara kebangsaan modern yaitu negara
Indonesia merdeka 17 Agustus 1945 (Sekretariat Negara.RI. 1995:11).

2.1.2. Masa Kejayaan Kerajaan


1. Masa Kerajaan Sriwijaya
Pada abad ke VII berdirilah kerajaan Sriwijaya dibawah kekuasaan Wangsa
Syailendra di Sumatera. Kerajaan yang berbahasa Melayu Kuno dan
huruf pallawa adalah kerajaan maritim yang mengandalkan jalur perhubungan
laut. Kekuasaan Sriwijaya menguasai Selat Sunda (686), kemudian Selat
Malaka (775). Sistem perdagangan telah diatur dengan baik, di mana
pemerintah melalui pegawai raja membentuk suatu badan yang dapat
mengumpulkan hasil kerajinan rakyat sehingga rakyat mengalami kemudahan

6
dalam pemasarannya. Dalam sistem pemerintahan sudah terdapat pegawai
pengurus pajak, harta benda kerajaan, rohaniawan yang menjadi pengawas
teknis pembangunan gedung-gedung dan patung-patung suci sehingga saat
itukerajaan dapat menjalankan sistem negaranya dengan nilai-nilai
Ketuhanan (Kaelan,1999:27)
Unsur-unsur yang terdapat di dalam Pancasila yaitu: Ketuhanan,
Kemanusiaan, Persatuan, Tata pemerintahan atas dasar musyawarah dan
Keadilan sosial telah terdapat sebagai asas-asas yang menjiwai bangsa
Indonesia, yang dihayati serta dilaksanakan pada waktu itu, hanya saja belum
dirumuskan secara kongkrit. Dokumen tertulis yang membuktikan terdapatnya
unsur-unsur tersebut ialah Prasasti-prasasti di Talaga Batu, Kedukan Bukit,
Karang Brahi, Talang Tuo dan Kota Kapur (Dardji
Darmodihardjo.1974:22-23).
Pada hakekatnya nilai-nilai budaya bangsa semasa kejayaan Sriwijaya telah
menunjukkan nilai-nilai Pancasila, yaitu:
1) Nilai Sila pertama, terwujud dengan adanya umat agama Budha dan Hindu
hidup berdampingan secara damai. Pada kerajaan Sriwijaya terdapat pusat
kegiatan pembinaan dan pengembangan agama Budha.
2) Nilai Sila Kedua, terjalinnya hubungan antara Sriwijaya dengan India (Dinasti
Harsha). Pengiriman para pemuda untuk belajar di India. Telah tumbuh
nilai-nilai politik luar negeri yang bebas dan aktif.
3) Nilai Sila Ketiga, sebagai negara maritim, Sriwijaya telah menerapkan konsep
negara kepulauan sesuai dengan konsepsi Wawasan Nusantara.
4) Nilai Sila Keempat, Sriwijaya telah memiliki kedaulatan yang sangat luas,
meliputi (Indonesia sekarang) Siam, semenanjung Melayu.
5) Nilai Sila Kelima, Sriwijaya menjadi pusat pelayanan dan perdagangan,
sehingga kehidupan rakyatnya sangat makmur.

2. Masa Kerajaan Majapahit


Sebelum kerajaan Majapahit berdiri telah muncul kerajaan-kerajaan di Jawa

7
Tengah dan Jawa Timur secara silih berganti, yaitu Kerajaan Kalingga (abad ke
VII), Sanjaya (abad ke VIII), sebagai refleksi puncak budaya dari kerajaan tersebut
adalah dibangunnya Candi Borobudur (candi agama Budha pada abad ke IX)
dan Candi Prambanan (candi agama Hindu pada abad ke X).
Nilai-nilai kemanusiaan telah tercermin dalam kerajaan ini, terbukti
menurut prasasti Kelagen bahwa Raja Airlangga telah mengadakan hubungan
dagang dan bekerja sama dengan Benggala, Chola dan Champa. Sebagai nilai-nilai
sila keempat telah terwujud yaitu dengan diangkatnya Airlangga sebagai raja
melalui musyawarah antara pengikut Airlangga dengan rakyat dan kaum
Brahmana. Sedangkan nilai-nilai keadilan sosial terwujud pada saat Raja
Airlangga memerintahkan untuk membuat tanggul dan waduk demi kesejahteraan
pertanian rakyat (Aziz Toyibin. 1997:28-29).
Pengamalan sila Ketuhanan Yang Maha Esa telah terbukti pada waktu agama
Hindu dan Budha hidup berdampingan secara damai, Empu Prapanca menulis
Negarakertagama (1365) yang di dalamnya telah terdapat istilah Pancasila. Empu
Tantular mengarang buku Sutasoma di mana dalam buku itu tedapat seloka
persatuan nasional yang berbunyi “ Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma
Mangrua”, artinya walaupun berbeda-beda, namun satu jua dan tidak ada agama
yang memiliki tujuan yang berbeda. Hal ini menunjukkan realitas beragama
saat itu.
Sebagai perwujudan nilai-nilai Sila Persatuan Indonesia telah terwujud
dengan keutuhan kerajaan, khususnya Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Gajah
Mada yang diucapkannya pada Sidang Ratu dan Menteri-menteri yang berisi
cita-cita mempersatukan seluruh Nusantara.
Sila Kerakyatan (keempat) sebagai nilai-nilai musyawarah dan mufakat yang
dilakukan oleh sistim pemerintahan Kerajaan Majapahit. Kerukunan dan gotong
royong dalam kehidupan masyarakat telah menumbuhkan adat bermusyawarah
untuk mufakat dalam memutuskan masalah bersama.Sedangkan, perwujudan sila
Keadilan Sosial adalah sebagai wujud dari berdirinya kerajaan beberapa abad yang
tentunya ditopang dengan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya.

8
Berdasarkan uraian di atas dapat kita pahami bahwa jaman Sriwijaya dan
Majapahit adalah sebagai tonggak sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam
mencapai cita-citanya.
2.1.3 Zaman Penjajahan
Kesuburan Indonesia dengan hasil buminya yang melimpah, terutama
rempah-rempah yang sangat dibutuhkan oleh negara-negara di luar Indonesia,
menyebabkan bangsa Asing masuk ke Indonesia. Bangsa Barat yang
membutuhkan rempah-rempah itu mulai memasuki Indonesia, yaitu Portugis,
Spanyol, Inggris dan Belanda. Kemasukan bangsa Barat seiring dengan
keruntuhan Majapahit sebagai akibat perselisihan dan perang saudara, yang berarti
nilai-nilai nasionalisme sudah ditinggalkan, walaupun abad ke XVI agama Islam
berkembang dengan pesat dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam,
seperti Samudra Pasai dan Demak, nampaknya tidak mampu membendung
tekanan Barat memasuki Indonesia.
Penjajahan terlama di lakukan oleh bangsa Belanda. Sejarah mencatat bahwa
belanda berusaha dengan keras untuk memperkuat dan mengintensifkan
kekuasaannya di seluruh Indonesia. Mereka ingin membulatkan hegemoninya
sampai ke plosok-plosok nusantara. Oleh karena itu, banyak terjadi perlawanan
rakyat di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Dorongan akan cinta tanah air
menimbulkan semangat untuk melawan penindasan dari bangsa Belanda, namun
karena tidak adanya kesatuan dan persatuan di antara mereka dalam perlawanan
melawan penjajah sehingga mengakibatkan perlawanan tersebut kandas dan
bahkan menimbulkan banyak korban.

2.1.4 Kebangkitan Nasional


Kebangkitan akan kesadaran berbangsa yaitu kebangkitan nasional (1908)
dipelopori oleh dr. Wahidin Sudirohusodo dengan Budi Utomonya. Gerakan ini
lah yang merupakan awal gerakan nasional untuk mewujudkan suatu bangsa yang
memiliki kehormatan akan kemerdekaan dan kekuasaannya sendiri.
Budi Utomo yang didirikan pada tanggal 20 mei 1908 inilah yang merupakan

9
pergerakan nasional, sehingga segera setelah itu muncullah organisasi-organisasi
pergerakan lainnya. Organisasi-organisasi pergerakan nasional itu antara lain :
Sarakat Dagang Islam (SDI) (1909), yang kemudian dengan cepat mengubah
bentuknya menjadi gerakan politik dengan mengganti namanya menjadi Sarikat
Islam (SI) tahun (1911) di bawah H.O.S. Cokroaminoto.
Berikutnya munculah Indische Partij (1913),yang di pimpin oleh tiga
serangkai yaitu: Douwes Dekker, Ciptomangunkusumo, Suwardi Suryaningrat
(yang kemudian lebih di kenal dengan nama Ki Hajar Dewantoro), partai ini tidak
menunjukkan keradikalannya, sehingga tidak dapat berumur panjang karena
pemimpinnya di buang di luar negeri (1913).
Dalam situasi yang menggoncangkan itu munculah Partai Nasional Indonesia
(PNI) (1927) yang dipelopori oleh Soekarno, Cipto mangunkusumo, Sartono dan
tokoh lainnya. Perjuangan Nasional Indonesia di titik beratkan pada kesatuan
nasional dengan tujuan Indonesia Merdeka. Perjuangan rintisan kesatuan
Nasional kemudian diikuti dengan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober
1928, satu bahasa, satu bangsa dan satu tanah air Indonesia. Lagu Indonesia Raya
pada saat ini pertama kali dikumandangkan dan sekaligus sebagai penggerak
kebangkitan kesadaran berbangsa.

2.1.5. Zaman Penjahan Jepang


Fasis Jepang masuk ke Indonesia dengan propaganda Jepang pemimpin
Asia, Jepang saudara tua Indonesia. Akan tetapi dalam perang melawan
Sekutu Barat seperti Amerika, Inggris, Rusia, Prancis, Belanda, dan negara
sekutu lainnya, nampaknya Jepang semakin terdesak. Oleh karena itu agar
mendapat dukungan dari bangsa Indonesia, maka pemerintahan Jepang
bersikap murah hati terhadap pemerintah Indonesia, yaitu menjanjikan
Indonesia merdeka kelak dikemudian hari. Maka sebagai realisasi janji
tersebut maka dibentuklah suatu badan yang bertugas untuk menyelidiki
usaha-usaha persiapan kemerdekaan Indonesia yaitu Badan Penyelidik
Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Dokuritsu Zyumbi

10
Tioosakai.

2.1.6 Sidang BPUPKI


Dr. Radjiman Wedyodiningrat, selaku Ketua Badan dan Penyelidik
Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI), pada tanggal 29 Mei 1945,
meminta kepada sidang untuk mengemukakan dasar negara Indonesia
merdeka, permintaan itu menimbulkan rangsangan memutar kembali ingatan
para pendiri bangsa ke belakang; hal ini mendorong mereka untuk menggali
kekayaan kerohanian, kepribadian dan wawasan kebangsaan yang terpendam
lumpur sejarah (Latif, 2011: 4). Begitu lamanya penjajahan menyebabkan
bangsa Indonesia hilang arah dalam menentukan dasar negaranya. Atas
permintaan Dr. Radjiman inilah, figur-figur negarawan bangsa Indonesia
berpikir keras untuk menemukan kembali jati diri bangsanya. Pada sidang
pertama BPUPKI yang dilaksanakan dari tanggal 29 Mei - 1 Juni 1945,
tampil berturut-turut untuk berpidato menyampaikan usulannya tentang dasar
negara. Pada tanggal 29 Mei 1945 Mr. Muhammad Yamin mengusulkan
calon rumusan dasar Negara Indonesia sebagai berikut:
1) Peri Kebangsaan,
2) Peri Kemanusiaan,
3) Peri Ketuhanan,
4) Peri Kerakyatan dan
5) Kesejahteraan Rakyat.
Kemudian Prof. Dr. Soepomo pada tanggal 30 Mei 1945 mengemukakan
teori-teori Negara, yaitu:
1) Teori negara perseorangan (individualis),
2) Paham negara kelas dan
3) Paham negara integralistik.
Selanjutnya oleh Ir. Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 yang mengusulkan
lima dasar negara yang terdiri dari:
1) Nasionalisme (kebangsaan Indonesia),

11
2) Internasionalisme (perikemanusiaan),
3) Mufakat (demokrasi),
4) Kesejahteraan sosial, dan
5) Ketuhanan Yang Maha Esa (Berkebudayaan) (Kaelan, 2000: 37-40).
Selanjutnya pada tanggal 14 Juli 1945 sidang BPUPKI mengesahkan naskah
rumusan panitia Sembilan yang dinamakan Piagam Jakarta sebagai Rancangan
Pembukaan Hukum Dasar, dan pada tanggal 16 Juli 1945 menerima seluruh
Rancangan Hukum Dasar yang sudah selesai dirumuskan dan di dalamnya
juga memuat Piagam Jakarta sebagai pembukaan.

2.2 Pancasila pada Era Kemerdekaan


Bangsa Indonesia pasca kemerdekaan mengalami banyak perkembangan.
Sesaat setelah kemerdekaan Indonesia pada 1945, Pancasila melewati masa-masa
percobaan demokrasi. Pada waktu itu, Indonesia masuk ke dalam era percobaan
demokrasi multi-partai dengan sistem kabinet parlementer. Partai-partai politik
pada masa itu tumbuh sangat subur, dan proses politik yang ada cenderung selalu
berhasil dalam mengusung kelima sila sebagai dasar negara. Pancasila pada masa
ini mengalami masa kejayaannya. Selanjutnya, pada akhir tahun 1959, Pancasila
melewati masa kelamnya dimana Presiden Soekarno menerapkan sistem
demokrasi terpimpin. Pada masa itu, presiden dalam rangka tetap memegang
kendali politik terhadap berbagai kekuatan mencoba untuk memerankan politik
integrasi paternalistik (Somantri, 2006). Pada akhirnya, sistem ini seakan
mengkhianati nilai-nilai yang ada dalam Pancasila itu sendiri, salah satunya
adalah sila permusyawaratan. Kemudian, pada 1965 terjadi sebuah peristiwa
bersejarah di Indonesia dimana partai komunis berusaha melakukan
pemberontakan.
Pada 11 Maret 1965, Presiden Soekarno memberikan wewenang kepada
Jenderal Suharto atas Indonesia. Ini merupakan era awal orde baru dimana
kemudian Pancasila mengalami mistifikasi. Pancasila pada masa itu menjadi
kaku dan mutlak pemaknaannya. Pancasila pada masa pemerintahan presiden

12
Soeharto kemudian menjadi core-values yang pada akhirnya kembali menodai
nilai-nilai dasar yang sesungguhnya terkandung dalam Pancasila itu sendiri. Pada
1998, pemerintahan presiden Suharto berakhir dan Pancasila kemudian masuk ke
dalam era baru yaitu era demokrasi, hingga hari ini.

2.3 Pancasila pada era orde lama


Orde Lama berlangsung dari tahun 1945 hingga 1968. Dalam jangka waktu
tersebut, Indonesia menggunakan bergantian sistem ekonomi liberal dan sistem
ekonomi komando. Di saat menggunakan sistem ekonomi liberal, Indonesia
menggunakan sistem pemerintahan parlementer. Presiden Soekarno di gulingkan
waktu Indonesia menggunakan sistem ekonomi komando.
a. Pelaksanaan Pancasila Orde Lama.
Pada masa Orde lama, Pancasila dipahami berdasarkan paradigma yang
berkembang pada situasi dunia yang diliputi oleh tajamnya konflik ideologi.
Pada saat itu kondisi politik dan keamanan dalam negeri diliputi oleh
kekacauan dan kondisi sosial-budaya berada dalam suasana transisional dari
masyarakat terjajah (inlander) menjadi masyarakat merdeka. Masa orde lama
adalah masa pencarian bentuk implementasi Pancasila terutama dalam sistem
kenegaraan. Pancasila diimplementasikan dalam bentuk yang berbeda-beda
pada masa orde lama. Terdapat 3 periode implementasi Pancasila yang berbeda,
yaitu periode 1945-1950, periode 1950-1959, dan periode 1959-1966.
Pada periode 1945-1950, implementasi Pancasila bukan saja menjadi
masalah, tetapi lebih dari itu ada upaya-upaya untuk mengganti Pancasila
sebagai dasar negara dengan faham komunis oleh PKI melalui pemberontakan
di Madiun tahun 1948 dan oleh DI/TII yang akan mendirikan negara dengan
dasar islam. Pada periode ini, nilai persatuan dan kesatuan masih tinggi ketika
menghadapi Belanda yang masih ingin mempertahankan penjajahannya di
bumi Indonesia. Namun setelah penjajah dapat diusir, persatuan mulai
mendapat tantangan. Dalam kehidupan politik, sila keempat yang
mengutamakan musyawarah dan mufakat tidak dapat dilaksanakan, sebab

13
demokrasi yang diterapkan adalah demokrasi parlementer, dimana presiden
hanya berfungsi sebagai kepala negara, sedang kepala pemerintahan dipegang
oleh Perdana Menteri. Sistem ini menyebabkan tidak adanya stabilitas
pemerintahan. Kesimpulannya walaupun konstitusi yang digunakan adalah
Pancasila dan UUD 1945 yang presidensiil, namun dalam praktek kenegaraan
system presidensiil tak dapat diwujudkan.
Pada periode 1950-1959, walaupun dasar negara tetap Pancasila, tetapi
rumusan sila keempat bukan berjiwakan musyawarah mufakat, melainkan
suara terbanyak (voting). Sistem pemerintahannya yang liberal sehingga lebih
menekankan hak-hak individual. Pada periode ini persatuan dan kesatuan
mendapat tantangan yang berat dengan munculnya pemberontakan RMS,
PRRI, dan Permesta yang ingin melepaskan diri dari NKRI. Dalam bidang
politik, demokrasi berjalan lebih baik dengan terlaksananya pemilu 1955 yang
dianggap paling demokratis. Tetapi anggota Konstituante hasil pemilu tidak
dapat menyusun UUD seperti yang diharapkan. Hal ini menimbulkan krisis
politik, ekonomi, dan keamanan, yang menyebabkan pemerintah mengeluarkan
Dekrit Presiden 1959 untuk membubarkan Konstituante, UUD 1950 tidak
berlaku, dan kembali kepada UUD 1945. Kesimpulan yang ditarik dari
penerapan Pancasila selama periode ini adalah Pancasila diarahkan sebagai
ideology liberal yang ternyata tidak menjamin stabilitas pemerintahan.
Pada periode 1959-1965, dikenal sebagai periode demokrasi terpimpin.
Demokrasi bukan berada pada kekuasaan rakyat sehingga yang memimpin
adalah nilai-nilai Pancasila tetapi berada pada kekuasaan pribadi presiden
Soekarno. Terjadilah berbagai penyimpangan penafsiran terhadap Pancasila
dalam konstitusi. Akibatnya Soekarno menjadi otoriter, diangkat menjadi
presiden seumur hidup, politik konfrontasi, menggabungkan Nasionalis,
Agama, dan Komunis, yang ternyata tidak cocok bagi NKRI. Terbukti adanya
kemerosotan moral di sebagian masyarakat yang tidak lagi hidup bersendikan
nilai-nilai Pancasila, dan berusaha untuk menggantikan Pancasila dengan
ideologi lain. Dalam mengimplentasikan Pancasila, Bung Karno melakukan

14
pemahaman Pancasila dengan paradigma yang disebut USDEK. Untuk
memberi arah perjalanan bangsa, beliau menekankan pentingnya memegang
teguh UUD 45, sosialisme ala Indonesia, demokrasi terpimpin, ekonomi
terpimpin dan kepribadian nasional. Orde Lama telah dikenal prestasinya
dalam memberi identitas, kebanggaan nasional dan mempersatukan bangsa
Indonesia. Namun demikian, Orde Lama pula yang memberikan peluang bagi
kemungkinan kaburnya identitas tersebut (Pancasila dan Undang-Undang
Dasar 1945). Beberapa peristiwa pada Orde Lama yang mengaburkan identitas
nasional kita adalah; Pemberontakan PKI pada tahun 1948, Demokrasi
Terpimpin, Pelaksanaan UUD Sementara 1950, Nasakom dan Pemberontakan
PKI 1965.
b. Sejarah Perkembangan Pancasila Orde Lama
Kedudukan pancasila sebagai idiologi Negara dan falsafah bangsa yang
pernah dikeramatkan dengan sebutan azimat revolusi bangsa, pudar untuk
pertama kalinya pada akhir dua dasa warsa setelah proklamasi kemerdekaan.
Meredupnya sinar api pancasila sebagai tuntunan hidup berbangsa dan
bernegara bagi jutaan orang diawali oleh kahendak seorang kepala
pemerintahan yang terlalu gandrung pada persatuan dan kesatuan.
Kegandrungan tersebut diwujudkan dalam bentuk membangun kekuasaan yang
terpusat, agar dapat menjadi pemimpin bangsa yang dapat menyelesaikan
sebuah revolusi perjuangan melawan penjajah( nekolim, neokolonialisme )
serta ikut menata dunia agar bebas dari penghisapan bangsa atas bangsa dan
penghisapan manusia dengan manusia. Namun sayangnya kehendak luhur
tersebut dilakukan dengan menabrak dan mengingkari seluruh nilai-nilai dasar
pancasila.
Setelah menetapkan berlakunya kembali UUD 1945, Presiden Soekarno
meletakkan dasar kepemimpinannya. Yang dinamakan demokrasi terimpin.
Adapun yang dimaksud dengan demokrasi terpimpin oleh Soekarno adalah
demokrasi khas Indonesia yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan. Demokrasi terpimpin dalam prakteknya tidak

15
sesuai dengan makna yang terkandung didalamnya dan bahkan terkenal
menyimpang. Dimana demokrasi dipimpin oleh kepentingan-kepentingan
tertetu
c. Penyimpangan-Penyimpangan Orde Lama
Penyimpangan-penyimpangan di era Orde Lama itu antara lain :
1) Presiden membubarkan DPR hasil pemilihan umum 1955 dan
membentuk DPR Gotong Royong. Hal ini dilakukan karena DPR
menolak rancangan pendapaan dan belanja Negara yang diajukan
pemerintah.
2) Pimpinan lembaga-lembaga Negara diberi kedudukan sebagai
menteri-menteri Negara yang berarti menempatkannya sebagai
pembantu presiden.
3) Kekuasaan presiden melebihi wewenang yang ditetapkan didalam UUD
1945. Hal ini terbukti dengan keluarnya beberapa presiden sebagai
produk hukum yang setingkat dengan UUD tanpa prsetujuan DPR.
Penetapan ini antara lain meliputi hal-hal sebagai berikut:
a) Penyederhanaan kehidupan partai-partai politik dengan
dikeluarkannya Penetapan Presiden nomer 7 than 1959
b) Pembentukan Front Nasional dengan PEnetapan Presiden nomer
13 tahun 1959.
c) Pengangkatan dan pemberhentian anggota-anggota MPRS, DPA
dan MA oleh presiden.
4) Hak budget DPR tidak berjalan karena pemerintah tidak mengajukan
rancangan undang-udang APBN untuk mendapatkan persetujuan DPR..
d. Pengamalan Pancasila Di Era Orde Lama
Pada masa pemerintahan Orde Lama, kehidupan politik dan pemerintah
sering terjadi penyimpangan yang dilakukan Presiden dan juga MPRS yang
bertentangan dengan pancasila dan UUD 1945. Artinya pelaksanaan UUD1945
pada masa itu belum dilaksanakan sebagaimana mestinya. Hal ini terjadi karena
penyelenggaraan pemerintahan terpusat pada kekuasaan seorang presiden dan

16
lemahnya control yang seharusnya dilakukan DPR terhadap
kebijakan-kebijakan.
Selain itu, muncul pertentangan politik dan konflik lainnya yang
berkepanjangan sehingga situasi politik, keamanaan dan kehidupan ekonomi
makin memburuk puncak dari situasi tersebut adalah munculnya
pemberontakan G 30 S/PKI yang sangat membahayakan keselamatan bangsa
dan Negara.
Mengingat keadaan makin membahayakan Ir. Soekarno selaku presiden
RI memberikan perintah kepada Letjen Soeharto melalui Surat Perintah 11
Maret 19669(Supersemar) untuk mengambil segala tindakan yang diperlukan
bagi terjaminnya keamanaan, ketertiban dan ketenangan serta kesetabilan
jalannya pemerintah. Lahirnya Supersemar tersebut dianggap sebagai awal
masa Orde Baru.
e. Berakhirnya Orde Lama
Setelah turunnya presiden soekarno dari tumpuk kepresidenan maka
berakhirlah orde lama.
f. Mengetahui kondisi politik indonesia pada masa Orde Lama
Selama kurun waktu berkuasanya pemerintahan orde lama, secara
perlahan tetapi pasti virtue (keutamaan) nilai-nilai luhur Pancasila seakan akan
lumat oleh sebuah proses akumulasi kekuasaan yang sangat agresif tanpa
mengindahkan cita-cita luhur yang dijadikan alasan untuk membangun
kekuasaan itu sendiri. Retorika dan jargon politik yang bersumber dari gagasan
bahwa revolusi belum selesai, termasuk cara cara revolusioner untuk
membangun tatanan dunia baru, dijadikan legitimasi politik untuk
membenarkan perlunya seorang pemimpin revolusi yang ditaati oleh seluruh
rakyatnya. Dengan semangat dan alasan melaksanakan amanat revolusi 1945
itu pulalah nilai-nilai luhur, konstitusi, norma dan aturan dapat ditabrak kalau
tidak sesuai dengan jalannya revolusi. Sedemikian membaranya semangat
berevolusi waktu itu, sehingga andai kata revolusi memerlukan korban, apapun
harus diberikan. Hal itu sesuai dengan ungkapan yang seringkali diucapkan

17
oleh Pemimpin Besar Revolusi bahwa pengorbanan adalah sesuatu yang
dianggap sebagai konsekwensi logis dari hakekat revolusi, karena demi sebuah
perjuangan yang revolusioner kadang-kadang revolusi bahkan harus tega
memakan anaknya sendiri.
Catatan singkat di atas adalah fakta sejarah yang mudah-mudahan dapat
menyegarkan ingatan kita semua, bahwa kesaktian serta kekeramatan Pancasila
sebagai ideologi dan falsafah bangsa sangat rentan terhadap penyelewengan
oleh aktor politik pemegang kekuasaan negara. Runtuhnya sistem
kekuasaan pemerintahan Orde Lama adalah akibat dari perilaku para
pemimpin politik yang menjungkir-balikkan nilai-nilai Pancasila demi ambisi
politik yang mengatas namakan Pancasila

2.4 Pancasila pada Era Orde Baru


Era Orde Baru dalam sejarah republik ini merupakan masa pemerintahan
yang terlama, dan bisa juga dikatakan sebagai masa pemerintahan yang paling
stabil. Stabil dalam artian tidak banyak gejolak yang mengemuka, layaknya
keadaan dewasa ini. Stabilitas yang diiringi dengan maraknya pembangunan di
segala bidang. Era pembangunan, era penuh kestabilan, menimbulkan
romantisme dari banyak kalangan.
Di era Orde Baru, yakni stabilitas dan pembangunan, serta merta tidak lepas
dari keberadaan Pancasila. Pancasila menjadi alat bagi pemerintah untuk semakin
menancapkan kekuasaan di Indonesia. Pancasila begitu diagung-agungkan;
Pancasila begitu gencar ditanamkan nilai dan hakikatnya kepada rakyat; dan
rakyat tidak memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang mengganjal.
Menurut Hendro Muhaimin bahwa Pemerintah di era Orde Baru sendiri
terkesan menunggangi” Pancasila, karena dianggap menggunakan dasar negara
sebagai alat politik untuk memperoleh kekuasaan. Disamping hal tersebut,
penanaman nilai-nilai Pancasila di era Orde Baru juga dibarengi dengan praktik
dalam kehidupan sosial rakyat Indonesia.
Di era Orde Baru, terdapat kebijakan Pemerintah terkait penanaman

18
nilai-nilai Pancasila, yaitu Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4).
Materi penataran P4 bukan hanya Pancasila, terdapat juga materi lain seperti
UUD 1945, Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), Wawasan Nusantara, dan
materi lain yang berkaitan dengan kebangsaan, nasionalisme dan patriotisme.
Kebijakan tersebut disosialisaikan pada seluruh komponen bangsa sampai level
bawah termasuk penataran P4 untuk siswa baru Sekolah Dasar (SD) sampai
dengan Sekolah Menengah Atas (SMA), yang lalu dilanjutkan di perguruan
tinggi hingga di wilayah kerja. Pelaksanaannya dilakukan secara menyeluruh
melalui Badan Penyelenggara Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan
Pengamalan Pancasila (BP7) dengan metode indoktrinasi. Visi Orde Baru pada
saat itu adalah untuk mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat, bangsa, dan
negara yang melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan
konsekuen.
Penanaman nilai-nilai Pancasila pada saat itu dilakukan tanpa sejalan dengan
fakta yang terjadi di masyarakat, berdasarkan perbuatan pemerintah. Akibatnya,
bukan nilai-nilai Pancasila yang meresap ke dalam kehidupan masyarakat, tetapi
kemunafikan yang tumbuh subur dalam masyarakat. Sebab setiap ungkapan para
pemimpin mengenai nilai-nilai kehidupan tidak disertai dengan keteladanan serta
tindakan yang nyata, sehingga banyak masyarakat pun tidak menerima adanya
penataran yang tidak dibarengi dengan perbuatan pemerintah yang benar-benar
pro-rakyat.

2.5 Pancasila dalam Era Reformasi


Pancasila pada era reformasi ditandai dengan mundurnya Presiden
Suhartopada tanggal 21 Mei 1998, yang kemudian disusul dengan dilantiknya
Wakil Presiden Prof. Dr. B.J Habibi menggantikan kedudukan Presiden.
Memahami peran Pancasila di era reformasi, khususnya dalam konteks sebagai
dasar negara dan ideologi nasional, merupakan tuntutan hakiki agar setiap warga
negara Indonesia memiliki pemahaman yang sama dan akhirnya memiliki
persepsi dan sikap yang sama terhadap kedudukan, peranan dan fungsi Pancasila

19
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Pada era reformasi, pancasila yang seharusnya sebagai nilai, dasar moral
etikbagi negara dan aparat pelaksana negara, dalam kenyataannya digunakan
sebagai alat legitimasi politik. Puncak dari keadaan tersebut ditandai dengan
hancurnnya ekonomi nasional, maka timbullah berbagai gerakan masyarakat
yang dipelopori mahasiswa, cendikiawandan masyarakat sebagai gerakan
morral politikyang menuntut adanya Reformasi” di segala bidang politik,
ekonomi, dan hukum (Kaelan, 200:245).
Peran dan fungsi pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara:
1. Pancasila sebagai paradigma ketatanegaraan, artinya pancasila
menjadi keranngka berfikir atau pola pikir bangsa Indonesia,
khususnya sebagai dasar negara pancasila sebagai landasan
kehidupan berbangsa dan bernegara, contohnya : sebagai negara
hukum, pancasila harus menjadi landasannya. Setiap perbuatan
baik dari warga masyarakat maupun dari pejabat-pejabat harus
berdasarkan hukum, baik yang tertulis maupun yang tidak
tertulis contohnya : substansi produk hukum yang dibentuk tidak
boleh bertentangan dengan pancasila.
2. Pancasila sebagai paradigma pembangunan sosial politik
mengandung arti bahwa nilai-nilai pancasila sebagai wujud
cita-cita indonesia, contohnya : penerapan dan pelaksanaan
keadilan sosial mencakup keadilan politik, agama, dan ekonomi
dalam kehidupan sehari-hari, mementingkan kepentingan rakyat
/ demokrasi dalam pengambilan keputusan, dalam pelaksanaan
pencapaian tujuan keadilan menggunakan pendekatan
kemanusiaan yang adil dan beradab, dan nilai-nilai keadilan,
kejujuran, dan toleransi pada nilai keTuhanan Yang Maha Esa .
3. Pancasila sebagai paradigma nasional dalam bidang ekonomi
mengandung pengertian bagaimana suatu falsafah itu

20
diimplementasikan secara riil dan sistematis dalam kehidupan
nyata.
4. Pancasila sebagai paradigma pembangunan nasional
Bidang kebudayaan  mengandung pengertian bahwa pancasila
adalah etos budaya persatuan dengan pembangunan kebudayaan
yang berlandaskan semboyan Bhenika Tunggal Ika sebagai
sarana pengikat persatuan dalam masyarakat mejemuk.
Bidang Hankam  mengandung pengertian bahwa TNI telah
meninggalkan peran sosial politiknya atau mengakhiri
dwifungsinya dan menetapkan dirinya sebagai bagian dari
sistem nasional.
5. Pancasila sebagai paradigma dalam ilmu pengetahuan,
mengandung pengertian bahwa pancasila perlu dipahami dasar
dan arah penerapannya dari aspek ontologis, epistomologis, dan
aksiologis.
Ontologis  bahwa hakikat ilmu pegetahuan aktivitas manusia
yang tidak mengenal titik henti dalam upayanya untuk mencari
dan menemukan kebenaran dan kenyataan. Ilmu pengetahuan
harus dipandang secara utuh, dalam menggambarkan aktivitas
warga melalui abstraksi, spekulasi, imjinasi, refleksi, observasi,
eksperimentasi, komparasi dan eksplorasi.
Epistimiologis  bahwa pancasila dengan nilai-nlai yang
terkandung didalamnya dijadikan metode berpikir, dalam arti
dijadikan dasar dan arah didalam pembangunan ilmu
penngetahuan dengan parameter kebenaran serta kemanfaatan
hasil-hasil yang dicapainya adalah nilai-nilai yag terkandung
dalam pancasila itu sendiri.
Aksiologis  dengan adanya epistimiologis tersebut diharapkan
pancasila secara positif mendukung atau mewujudkan nilai-nilai
ideal pancasila.

21
BAB 3
PENUTUP

1.1 Kesimpulan

22
Pancasila lahir untuk Indonesia didasarkan pada nilai-nilai yang telah ada
pada bangsa Indonesia sejak zaman dahulu kala sebelum bangsa Indonesia
mendirikan negara, yang berupa nilai-nilai adat-istiadat, kebudayaan serta
nilai-nilai religius. Nilai-nilai tersebut telah ada dan melekat serta diamalkan
dalam kehidupan sehari-hari sebagai pandangan hidup.
Oleh karena itu, untuk memahami pancasila secara lengkap dan utuh
terutama dalam kaitannya dengan jati diri bangsa Indonesia, mutlak
diperlukan pemahaman sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk
membentuk suatu negara yang berdasarkan suatu asas hidup bersama demi
kesejahteraan hidup bernegara yang berdasarkan pancasila. Nilai-nilai
essensial yang terkandung dalam pancasila yaitu: Ketuhanan, Kemanusiaan,
Persatuan, Kerakyatan serta Keadilan.

1.2 Saran
Pancasila merupakan kepribadian bangsa Indonesia yang mana setiap warga
negara Indonesia harus menjunjung tinggi dan mengamalkan sila-sila dari
Pancasila tersebut dengan setulus hati dan penuh rasa tanggung jawab agar
pancasila tidak menjadi keperibadian bangsa tanpa makna.

DAFTAR PUSTAKA

23
Latif, Yudi, 2011, Negara Paripurna (Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas
Pancasila), PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Saksono. Ign. Gatut, 2007, Pancasila Soekarno (Ideologi Alternatif Terhadap
Globalisasi dan Syariat Islam), CV Urna Cipta Media Jaya
Syarbaini, Syahrial, 2012, Pendidikan Pancasila (Implementasi Nilai-Nilai Karakter
Bangsa) di Perguruan Tinggi, Ghalia Indonesia, Bogor.
Undang-Undang No 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi
Kaelan, 2016, Pendidikan Pancasila, Paradigma, Yogyakarta.

24