Anda di halaman 1dari 15

MATA PELAJARAN

SENI BUDAYA

BAHAN AJAR UNTUK SMK

MATERI:
SENI KONTEMPORER

Disusun Oleh :
VIREKA PUTRA MALANGI, SE
(Staff Pengajar Seni Budaya Pada SMK Kesehatan DBP)

“Karya Ini Sengaja Kami Buat Sebagai Alat Bantu Peningkatan Pembelajaran
Siswa/i di Tingkat SMK.
Semoga Karya Ini Dapat Bermanfaat Bagi Kita Semua, Amin.”
Vireka PM, SE

SMK KESEHATAN DARMA BHAKTI PERTIWI


JL. GAMPRIT NO.10, BEKASI.
OKTOBER, 2010

-------------------------- 1
Bahan Ajar Seni Budaya, SMK Kes DBP, Tahun 2010
Karya Sederhana Dari : Vireka PM, SE
SENI KONTEMPORER
Oleh : Vireka PM, SE

Pengertian Seni Kontemporer

Seni Kontemporer adalah salah satu cabang seni yang terpengaruh dampak

modernisasi. Kontemporer itu artinya kekinian, modern atau lebih tepatnya adalah

sesuatu yang sama dengan kondisi waktu yang sama atau saat ini; jadi seni kontemporer

adalah seni yang tidak terikat oleh aturan-aturan zaman dulu dan berkembang sesuai

zaman sekarang. Lukisan kontemporer adalah karya yang secara tematik merefleksikan

situasi waktu yang sedang dilalui. Misalnya lukisan yang tidak lagi terikat pada

Rennaissance. Begitu pula dengan tarian, lebih kreatif dan modern.

Kata “kontemporer” yang berasal dari kata “co” (bersama) dan “tempo” (waktu).

Sehingga menegaskan bahwa seni kontemporer adalah karya yang secara tematik

merefleksikan situasi waktu yang sedang dilalui. Atau pendapat yang mengatakan

bahwa “seni rupa kontemporer adalah seni yang melawan tradisi modernisme Barat”.

Ini sebagai pengembangan dari wacana pascamodern (postmodern art) dan

pascakolonialisme yang berusaha membangkitkan wacana pemunculan indegenous art

(seni pribumi). Atau khasanah seni lokal yang menjadi tempat tinggal (negara) para

seniman.

Secara awam seni kontemporer bisa diartikan sebagai berikut:

1. Tiadanya sekat antara berbagai disiplin seni, alias meleburnya batas-batas antara

seni lukis, patung, grafis, kriya, teater, tari, musik, anarki, omong kosong, hingga

aksi politik.

2. Punya gairah dan nafsu “moralistik” yang berkaitan dengan matra sosial dan politik

sebagai tesis.

-------------------------- 2
Bahan Ajar Seni Budaya, SMK Kes DBP, Tahun 2010
Karya Sederhana Dari : Vireka PM, SE
3. Seni yang cenderung diminati media massa untuk dijadikan komoditas pewacanaan,

sebagai aktualitas berita yang fashionable.

Peran Gambar Dalam Seni Kontemporer

BERNETT Newman, salah satu seniman papan atas Amerika, pernah berujar

manusia yang pertama menjadi seniman adalah pada saat dia menorehkan sebuah garis

di atas permukaan tanah menggunakan sebilah kayu. Torehan garis tersebut bisa

dianggap sebagai gambar pertama. Gambar tampaknya selalu menyertai perjalanan

peradaban dan kebudayaan manusia. Karena itu, tak mengherankan jika gambar menjadi

wilayah sangat penting dan tak dapat dipisahkan dari dunia seni dan seniman.

Sebetulnya “menggambar”, seperti corat-coret, membuat sketsa, membuat bagan dan

sebagainya merupakan salah satu cara seniman (dan para perancang) dalam

menvisualisasikan gagasan yang ada dalam kepalanya. Karena itu menggambar

sesungguhnya juga merupakan upaya pengkongkretan imajinasi, gagasan seniman.

Tentu saja setiap bentuk karya seni sesugguhnya merupakan bentuk pengkongkretan

gagasan sang seniman, namun gambar menduduki posisi istimewa sebab dalam

prosesnya merupakan visualisasi konkret yang paling awal, spontan dan langsung. Hal

itu diutarakan dengan gamblang oleh G. Sidharta Soegijo: “Salah satu cara yang paling

langsung untuk menghubungkan proses berpikir, yang berlangsung secara abstrak,

dengan bentuk visual, yang konkret, adalah melalui gambar.”

Dalam nada yang sama, Kate Macfarlane dan Katharina Stout berujar: “It is to

drawing that many artists turn when they are not sure how to proceed with a particular

line of enquiry, or how to realise an ambitious proposal. As Avis Newman suggests,

drawing offers the most direct access to the intimate workings of the artist’s mind: ‘I

-------------------------- 3
Bahan Ajar Seni Budaya, SMK Kes DBP, Tahun 2010
Karya Sederhana Dari : Vireka PM, SE
have always understood drawing to be, in essence, the materialisation of a continually

mutable process, the movements, rhythms, and partially comprehended ruminations of

the mind: the operations of thought. For this reason alone, drawing will always be at

the heart of the visual arts‘.”

Gambar menjadi bagian penting dalam perjalanan seni rupa Barat sejak masa

Renesans sampai pada masa modern. Akademi seni di Eropa sejak abad 16 sampai abad

19 menekankan pentingnya gambar sebagai tulang punggung seni lukis dan seni patung.

Apa yang dikenal sebagai akademisme, tak lain adalah formulasi dan pendekatan seni

rupa yang menekankan pentingnya kemampuan menggambar bagi seorang seniman. Hal

itu bisa kita lihat dari peninggalan gambar-gambar para pelukis-pelukis terkenal Eropa

sejak masa Renesans sampai era seni rupa modern. Karena itu, sungguh mengherankan

bahwa gambar—atau lebih tepat seni gambar—menjadi kategori seni yang otonom baru

beberapa tahun belakangan ini.

Agaknya, fungsi gambar sebagai preparatory—kerja persiapan untuk

menghasilkan lukisan—menjadikan gambar tenggelam di bawah medium atau kategori

seni yang disokongnya, yaitu seni lukis, seni patung dan seni grafis. Menjadi perangkat

preparatory menjadikan gambar dibutuhkan, namun sekaligus diletakkan bukan sebagai

tujuan akhir. Kendati gambar, atau kemampuan menggambar merupakan hal penting

dalam seni lukis dan seni patung, namun hal itu lebih bertautan dengan proses

penyiapan dalam eksekusi lukisan. Tentu saja yang dianggap lebih penting adalah hasil

akhir atau tujuan akhir, yaitu lukisan atau patung. Tujuan akhir merupakan supremasi,

dan dalam tradisi fine art apa yang menjadi akhir adalah yang utama, seperti dijelaskan

oleh Mortimer J. Adler: “These are the arts that later came to be called the fine arts,

when the word ‘fine’ is understood to mean ‘finis’ and to signify that the works

-------------------------- 4
Bahan Ajar Seni Budaya, SMK Kes DBP, Tahun 2010
Karya Sederhana Dari : Vireka PM, SE
produced by these arts were things to be enjoyed for their own sake, not to be used as

means to further ends.”

Sejak masa Renesans ketrampilan menggambar menjadi bagian penting dalam

melukis. Sejak masa Renesans pula seni lukis menjadi kategori seni tinggi (high art)

yang otonom. Maka tak mengherankan di era seni rupa modern, lukisan merupakan

kategori seni yang paling penting. Ironisnya supremasi seni lukis dicapai melalui

dukugan yang tak lekang dari gambar. Agaknya, karena terlalu lama menservis seni

lukis dan patung menyebabkan status atau kedudukan gambar menjadi problematik,

sebagaimana diutarakan oleh Emma Dexter, “Yet the medium’s status has always been

problematic, due to its servitude to the arts of painting and sculpture, as well as its

association with preparation and incompletion.”

Pelukis kenamaan Perancis Ingres pernah berujar mengenai pentingnya gambar

untuk painting, “If I were to put a sign above my door, it would read School of

Drawing, and I’m certain that I would produce painters.” Hal itu tampaknya berlaku

secara universal. Bukankah hal itu pula yang telah dibuktikan oleh Balai Universitas

Pendidikan Guru Gambar (dibuka tahun 1947) yang menjadi cikal bakal seni rupa ITB?

Untuk menjadi kategori seni yang otonom ternyata gambar masih membutuhkan

perjalanan panjang. Seni rupa modern yang lebih mementingkan konsep, semakin

menempatkan gambar—sebagai proses preparatory—semakin tidak penting. Dari masa

Renesans sampai akhir abad 19 virtuositas menggambar sepertinya menjadi keharusan

bagi seniman agar dapat menghasilkan karya lukis dan patung yang berkualitas.

Sebaliknya seniman modern justru mencurigai hal-hal yang berkait dengan aspek

ketrampilan, termasuk ketrampilan menggambar. Deanna Petherbridge, seorang

prefesor dalam bidang gambar menjelaskan situasi diametrikal antara masa klasik

-------------------------- 5
Bahan Ajar Seni Budaya, SMK Kes DBP, Tahun 2010
Karya Sederhana Dari : Vireka PM, SE
dengan kepercayaan pada pendekatan akademik melawan masa modern yang

mendestruksi pendekatan akademik, “The practice of art in this century has been no less

closely tied to education than it has in other times. Eighteenth-century neoclassicism,

for example, is as closely allied with the spread of the academies. As modernism has

been with the destruction of the academic system. The academy, as we all know, was

posited on the teaching of life gambar, in fact learning art in the West since

Renaissance has been entirely to do with question of disegno—as both drawing and

composisitional design.”

Maka tak mengherankan jika bagi para seniman modernis, gambar, khususnya

dalam pendekatan akademis menjadi wilayah yang tidak penting. Tentu saja seniman

modern tetap membutuhkan visualisasi bagi gagasan dan pemikirannya, namun hal

tersebut tak harus diterapkan melalui ketrampilan gambar yang canggih. Gambar atau

sketsa yang dihasilkan oleh para seniman modern, konseptual dan avant garde tidak

menunjukkan virtuositas gambar seperti para seniman di abad-abad sebelumnya.

Formalisme dan pencarian esensi seni lukis telah menggeser pentingnya gambar sebagai

proses preparatory untuk melukis. Karena itu segi ketrampilan menggambar ala

akademisme (kemampuan gambar anatomis) makin hilang dan tidak penting di masa-

masa seni rupa modern dan era neo avant-garde, yaitu masa-masa transisi dari seni rupa

modern menuju seni rupa kontemporer.

Demikian pula, di masa-masa tersebut akademi seni rupa di Barat memandang

pembekalan ketrampilan, termasuk gambar semakin tidak relevan, dan mengurangi

secara drastis mata kuliah menggambar. Hal yang dikenal dengan sebutan de-skilling ini

berkaitan (catatan dari subject of art) dengan arahan dan prioritas utama pada segi

konsep. Proses menuju de-skilling ini agaknya sesuai dengan paradigma seni rupa

-------------------------- 6
Bahan Ajar Seni Budaya, SMK Kes DBP, Tahun 2010
Karya Sederhana Dari : Vireka PM, SE
modern, dan dalam beberapa hal kemudian juga ditunjukkan oleh seni rupa

kontemporer—khususnya dalam karya-karya yang bersifat transgresif. Kendati

kemudian juga terbukti bahwa seni rupa kontemporer menunjukkan pula karakter yang

berlawanan dengan kecenderungan de-skilling, yaitu munculnya kembali (revival)

kebutuhan terhadap skill atau ketrampilan.

Gambar Sebagai Wilayah Otonom dalam Seni Rupa Kontemporer

Setelah di akhir tahun 60-an sampai tahun 80-an gambar dianggap kurang penting

dalam ruang lingkup pendidikan seni rupa, maka tahun 90-an ditandai dengan

kegelisahan karena makin berkurangnya kemampuan menggambar para mahasiswa seni

rupa. Ada upaya-upaya untuk “back to basic”, yaitu mengembalikan gambar sebagai

variabel penting dalam seni rupa—termasuk dalam pendidikan tinggi seni rupa. Hal itu

misalnya ditunjukkan oleh sebuah konferensi yang diadakan oleh Tate Gallery tahun

1993-1994 mengenai The role of drawing in Fine Art Education. Hal itu kemudian

ditandai pula oleh dibukanya program studi gambar di beberapa perguruan tinggi seni

rupa di Barat.

Di masa sebelumnya, kita tahu bahwa seni lukis modern yang puncaknya

ditunjukkan oleh abstrak ekspresionisme mengalami kebuntuan. Perkembangan lebih

lanjut yang ditunjukkan oleh Pop Art, Conceptual Art dan Minimal Art merupakan masa

transisi dari seni rupa modern menunju seni rupa kontemporer. Penentangan pada

konteks spiritual kesenimanan dan sublimasi seni lukis menyebabkan seni lukis pada

awal tahun 70-an mendapatkan stigma, dan untuk beberapa saat mengalami titik nadir.

Performance, happening, eart art, dan bentuk-bentuk seni patung dalam sense sculpture

in extended field menjadi utama. Hal itu kemudian disusul oleh new media art. Namun

secara perlahan tapi pasti seni lukis kembali menunjukkan kebangkitannya. Berbeda

-------------------------- 7
Bahan Ajar Seni Budaya, SMK Kes DBP, Tahun 2010
Karya Sederhana Dari : Vireka PM, SE
dengan masa seni lukis modern, seni lukis kontemporer bangkit dengan menempatkan

dirinya sebagai kemungkinan medium representasional—bukan sebagai entitas esensial

dan sublim seni rupa.

Pluralitas seni rupa kontemporer menunjukkan dirinya dengan menerima setiap

kemungkinan seni, baik dari segi pemikiran (teori), konsep, medium, material dan ruang

kehadiran serta asal usul seniman. Terbukti bahwa seni rupa kontemporer semakin

menunjukkan wajah globalnya. Tentu saja tak bisa dipungkiri tetap hadirnya kekuatan-

kekuatan penentu di balik praktek produksi dan konsumsi seni rupa kontemporer.

Sebagai contoh, tak bisa disangkal bahwa kebangkitan seni lukis tidak lepas dari

maraknya pasar seni rupa, dan itu ditandai oleh maraknya art-fair di pusat-pusat

ekonomi dunia, termasuk pusat-pusat ekonomi baru.

Yang menarik, bangkitnya gambar atau lebih tepat seni gambar dalam dekade

terahir ini ditengarai tidak lepas dari come-backnya seni lukis. Seni lukis melihat

peluang bahwa seni rupa kontemporer dengan kepercayaan pada pluralisme dan

“apapun boleh” (anything goes) tidak memiliki alasan untuk menolak eksistensi seni

lukis. Agaknya, melihat hal itu, para seniman yang tertarik dengan gambar sebagai

kemungkinan medium seni rupa kontemporer mulai menampilkan dirinya. Karena itu

Emma Dexter, editor Vitamin D (buku kompilasi seniman gambar yang paling

komprehensif saat ini) berpendapat bahwa popularitas seni gambar sedikit banyak

disebabkan oleh kembali populernya seni lukis: “In painting’s slipstream followed the

shy sibling, gambar, arriving without any apologies or explanation. Gambar had never

been widely theorized in its own right, allowing the field to be open for the artists to

make of it what they choice.”

-------------------------- 8
Bahan Ajar Seni Budaya, SMK Kes DBP, Tahun 2010
Karya Sederhana Dari : Vireka PM, SE
Selain itu, popularitas seni gambar ditengarai dodorong oleh arus balik pada hal-

hal yang lebih moderat dan sederhana, setelah praktek seni rupa tahun 70an sampai 90-

an disibukkan oleh aspek monumental seni. Hal itu diutarakan oleh Emma Dexter: “But

when drawing first started to emerge autonomously in the mid-1990s, it was also the

perfect medium to contrast with the sort of art that preceded it. Circa 1990,

contemporary exhibition were dominated by a form of monumentalism, one that

ironically trumpeted its decosntruction of the monument yet aped the monument’s

hunger for the space, power and theatricality.”

Seni Gambar Kontemporer Indonesia

Dalam konteks seni rupa modern Indonesia gambar atau istilah gambar

menduduki posisi penting. Sebelum istilah seni atau seni lukis dipergunakan dan

populer, maka “gambar” merupakan istilah yang kerap dipergunakan untuk menunjuk

beragam seni rupa 2 dimensi. Tentu kita masih ingat keberadaan Persagi, singkatan dari

persatuan ahli-ahli gambar Indonesia, kendati yang terutama dipraktekkan adalah seni

lukis. Istilah gambar dapat merujuk pada seni lukis karena seni lukis selalu

menggambarkan seseorang atau sesuatu, lukisan adalah gambar atau gambaran tentang

sesuatu. Hal itu juga menunjukkan bahwa istilah gambar, khususnya dalam konteks

budaya Indonesia masa lalu memiliki pengertian yang lebih luas dari pengertian

drawing. Sanento Yuliman almarhum dengan cakap menjelaskan hal tersebut: “Yang

pertama-tama perlu diingat dalam membicarakan gambar ialah bahwa kata “gambar”

mempunyai lingkup pengertian yang luas. Yang tampak di layar televisi ketika pesawat

dihidupkan, yang kelihatan di layar bioskop ketika film main, demikian juga foto di

harian dan majalah, lukisan, peta, denah, grafik, dan sebagainya, itu semua dalam

bahasa Indonesia disebut “gambar”.

-------------------------- 9
Bahan Ajar Seni Budaya, SMK Kes DBP, Tahun 2010
Karya Sederhana Dari : Vireka PM, SE
Saat ini pengertian istilah gambar tampaknya menyempit, khususnya dalam medan

seni rupa kontemporer Indonesia, mendekati pada pengertian drawing dalam bahasa

Inggris. Namun demikian apa yang diutarakan Sanento Yuliman menunjukkan bahwa

potensi seni rupa—apapun mediumnya—sebagai wilayah penggambaran (representasi)

sesuatu hal atau persoalan merupakan hal yang mudah diterima sejak lama. Karena itu,

tak mengherankan jika gambar sebagai wilayah atau kategori seni yang otonom mudah

diterima oleh masyarakat. Hal itu ditunjukkan oleh penerimaan yang cukup terbuka

pada karya-karya seni gambar. Terbukti, saat ini beberapa seniman muda menjadi

populer semata-mata menggunakan teknik/medium gambar dalam berkarya.

Pameran ini menandai apa yang dijelaskan oleh Laura Hoptman, “it also mark a

moment when drawing has become a primary mode of expression for the most inventive

and influential, artist of the time.” Terbukti, wajah seni rupa kontemporer Indonesia

ditandai oleh karya-karya yang dikerjakan dengan teknik gambar dan masuk dalam

kategori gambar, atau dalam hal ini lebih tepat disebut seni gambar. Barangkali istilah

seni gambar terlalu berlebihan, sebab dalam bahasa Inggris cukup disebut drawing,

bukan drawing-art. Namun, penyebutan seni gambar memang sebuah penekanan,

seperti juga istilah seni lukis dan seni patung yang merupakan padanan istilah painting

dan sculpture. Dengan demikian, jelas bahwa pameran ini berkenaan dengan gambar

sebagai karya seni, khususnya dalam konteks seni rupa kontemporer.

Namun demikian, saat ini, tak mudah menetapkan secara tegas batasan seni

gambar. Dalam beberapa hal seni gambar bergerak masuk dalam batasan seni lukis. Hal

itu contohnya ditunjukkan oleh beberapa seni kontemporer kelas dunia yang karyanya

dianggap sebagai drawing, namun juga diketegorikan sebagai painting. Menurut Emma

Dexter karya-karya Marlene Dumas dan Elizabeth Payton menunjukkan kualitas

-------------------------- 10
Bahan Ajar Seni Budaya, SMK Kes DBP, Tahun 2010
Karya Sederhana Dari : Vireka PM, SE
“antara” (drawing dan painting): “In the case of Dumas, gambar has always featured

heavily in her exhibitions, the juxtaposition between the more final and ‘developed’

form of painting and the immediacy of gambar being an essential element in the

presentation of her work. In other cases, artists such as Elizabeth Peyton and Katharina

Wulff have blurred the distictions between drawing and painting, transferring some of

the fragility and immediacy of drawing into their painting. Using thin paint or

combining media to leave the white ground uncovered, thus gaining an increased sense

of immediacy and responsiveness from a medium often associated with closure and

ponderausness.

Penjelasan serupa ditunjukkan oleh Deanna Petherbridge, yang merujuk karya

David Salle dan Anish Kapoor: “Salle’s triptych ‘walking the dog’ of 1982 is in oil and

acrylic on cotton, although it is andoubtedly drawn in line, and Kapoor’s gouaches and

moulded paper pieces from his Tate exhibition of 1989 are designated ‘gambar’

althought they have nothing to do with line.”

Dengan ketiadaan spesifikasi medium, maka cukup sulit untuk menetapkan

definisi gambar yang pasti. Kita sepertinya “mengerti” apa itu gambar, namun benarkah

demikian? Karena apa yang kita sebut gambar bisa cukup beragam dan berbeda

karakternya. Di sisi lain cairnya batasan gambar justru merupakan sebuah berkah,

karena akan melebarkan kemungkinan-kemungkinan seni gambar, pun tak masalah jika

tumpang tindih dengan wilayah atau medium lain. Bukankah atmosfir seni rupa

kontemporer ditandai oleh ketidaksukaan pada batasan yang pasti dan definitif?

Sebelumnya disebut bahwa di masa lalu gambar belum sampai pada kondisi

otonom. Namun jika sekarang gambar menjadi medium yang “otonom” tentunya tidak

dalam sense beranalogi dengan otonomi seni yang kaku. Karena seni sebagai wilayah

-------------------------- 11
Bahan Ajar Seni Budaya, SMK Kes DBP, Tahun 2010
Karya Sederhana Dari : Vireka PM, SE
otonom dianggap sebagai konstruksi yang diangan-angankan oleh seni rupa modern—

yang terbukti tidak tercapai. Yang dimaksud gambar sebagai seni yang otonom adalah

keberadaan gambar sebagai tujuan akhir ekpresi seni—bukan sebagai preparatori atau

sketsa. Karena itu karakter bahwa seni gambar menjadi medium akhir (selesai sebagai

karya seni) tidak diikuti oleh ketentuan formulatif atau absolut mengenai “kebenaran”

seni gambar. Seni gambar mengikuti kaidah seni rupa kontemporer yang pluralis: segala

macam kemungkinan seni gambar berhak hidup. Karena itu, menurut para pengamat,

seni gambar mengalami kemajuan yang sangat pesat, sehingga batas-batasnya pun

meluas, yang dalam istilah Emma Dexter disebut drawing within an expanded field —

mengingatkan kita pada istilah sculpture in the expanded field.

Harus diakui Pameran Seni Gambar Kontemporer bukanlah upaya menyuruk

untuk memeriksa sejauh mana seniman menterjemahkan atau mencari kemungkinan

seni gambar. Arah yang diambil dalam pameran ini lebih sederhana, yaitu menunjukkan

bahwa gambar dapat menjadi media yang otonom untuk ekpresi kesenian—dalam

konteks seni rupa kontemporer. Karena itu, sekali lagi, penyebutan seni gambar

merupakan penekanan bahwa medium atau teknik gambar merupakan pilihan utama

sang seniman dalam menghasilkan karya seni. Dengan kata lain pameran ini

menekankan bahwa karya-karya yang ditampilkan adalah karya-karya dengan tujuan

akhir adalah “karya seni” yang “selesai”, bukan semata-mata eskperimentasi gambar.

Dalam upaya meletakkan gambar—yang selama ini dipandang sebagai proses

preparatori untuk seni lukis dan patung, atau visualisasi awal gagasan—sebagai sebuah

karya “seni gambar” yang mandiri maka meletakkannya sebagai kemungkinan

representasi agaknya menjadi pilihan utama dalam pameran ini.

-------------------------- 12
Bahan Ajar Seni Budaya, SMK Kes DBP, Tahun 2010
Karya Sederhana Dari : Vireka PM, SE
Maka, dalam pameran ini, konten representasi menjadi alibi bahwa karya yang

ditampilkan adalah karya seni. Dengan kata lain pameran ini menegaskan bahwa dengan

teknik gambar pun konten, subyek matter atau permasalahan yang hendak disuarakan

dapat tampil dengan maksimal. Karena itu, bukan tanpa alasan bahwa para seniman

diminta untuk menyuguhkan kemungkinan teknik gambar di atas kanvas. Hal ini tentu

saja sama sekali tidak menciderai pengertian gambar, sebab istilah drawing on paper,

menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan salah satu kemungkinan seperti juga

kemungkinan drawing on canvas. Lagi pula hal tersebut pun telah ditunjukkan oleh

banyak seniman yang memanfaatkan teknik gambar di atas kanvas dalam karya-

karyanya. Bagaimanapun kanvas memiliki aura yang lebih dibandingkan kertas. Tentu

saja hal ini tidak meniscayakan bahwa gambar di atas kertas lebih rendah. Pada

akhirnya adalah persoalan pilihan, beberapa seniman memilih tetap menampikan karya

seni gambar menggunakan kertas.

Namun demikian, terlepas dari konteks konten dan representasinya, perkara

keragaman, eksplorasi dan konsep tentang gembar juga menjadi bagian penting yang

menyertai pameran ini. Keragaman dan berbagai pendekatan gambar ditunjukkan dalam

pameran ini, baik dari pengertian yang paling konvensional, sampai seni gambar yang

cukup eksperimental. Demikian pula muncul karya-karya gambar yang sulit dibedakan

dengan seni lukis. Hal itu harus diterima sebagai refleksi beragamnya pengertian dan

kemungkinan seni gambar.

Selain itu, cukup menarik bahwa popularitas seni gambar muncul saat seni media

baru menjadi bagian penting dalam seni rupa kontemporer. Agaknya ada relasi

mutualistis, komplemen dan saling melengkapi. Perkembangan teknologi digital

agaknya menyebabkan servis gambar terhadap proses melukis, khususnya seni lukis

-------------------------- 13
Bahan Ajar Seni Budaya, SMK Kes DBP, Tahun 2010
Karya Sederhana Dari : Vireka PM, SE
realis—yang kembali populer belakangan ini.—menjadi sangat berkurang. Saat ini

proses penyapan dan pengerjaan seni lukis dan patung lebih mudah dibantu dengan

perangkat digital, seperti kamera digital, software komputer dan proyektor LCD. Hal ini

semakin membebaskan tugas gambar sebagai alat atau media bantu bagi seni lukis.

Barangkali karena itu, belakangan banyak seniman memanfaatkan gambar sebagai

wilayah otonom, sebagai terminal akhir praktek seninya. Yang menarik, bahkan

seniman gambar pun saat ini memanfaatkan bantuan foto dan proyektor LCD dalam

prose’s penyiapan dan pengerjaan seni gambarnya.

Tentu disadari bahwa pameran ini tidak akan dapat memberikan gambaran yang
komprehensif dan inlukisf mengenai kenyataan sesungguhnya seni gambar dalam
medan seni rupa Indonesia. Namun demikian, sebisa mungkin diupayakan keragaman
seni gambar dapat diperlihatkan. Hal itu ditunjukkan mulai dari seni gambar yang
menunjukkan kepiawaian membentuk dengan tarikan garis yang ekspresif dan artistik
sampai karya-karya yang serupa dengan gambar komik.
Seperti telah disebutkan di awal bahwa gambar selalu menyertai peradaban dan
kebudayaan manusia. Segala jenis citraan dalam kebudayaan tradisi umumnya
merupakan gambar, baik berupa sungging, rajahan, maupun ukiran di berbagai material.
Karena itu dirasa penting untuk menampilkan seni gambar dari ranah tradisi, dan
sepertinya Bali merupakan wilayah yang paling tepat untuk dipilih. Bagaimanapun di
Bali gambar sebagai sebentuk seni tradisi dapat bertahan dan tembus ke era modern. Hal
itu ditunjukkan bagaimana para seniman Bali legendaris macam Lempad dan banyak
lainnya dapat mengindividuasi pakem gambar tradisi menjadi suatu karya yang personal
namun tetap dapat menunjukkan identitas dan karakter ke Balian. Seni kontemporer
merupakan bagian elemen seni dan budaya Indonesia yang telah memberikan kontribusi
bagi peningkatan citra seni budaya Indonesia di mata International.

-------------------------- 14
Bahan Ajar Seni Budaya, SMK Kes DBP, Tahun 2010
Karya Sederhana Dari : Vireka PM, SE
Soal Latihan
A. Isilah Dengan Jawaban Yang Benar dan Tepat !
1. Salah satu cabang seni yang terpengaruh dampak modernisasi. Kontemporer itu
artinya kekinian, modern atau lebih tepatnya adalah sesuatu yang sama dengan
kondisi waktu yang sama atau saat ini disebut dengan…………………………
2. Secara awam seni kontemporer bisa diartikan sebagai berikut:…………………
3. BERNETT Newman, salah satu seniman papan atas Amerika, pernah berujar
manusia yang pertama menjadi seniman adalah pada saat……………………...
4. Menggambar sesungguhnya juga merupakan upaya pengkongkretan imajinasi,
gagasan seniman. Tentu saja setiap bentuk karya seni sesugguhnya merupakan
bentuk pengkongkretan gagasan sang seniman, namun gambar menduduki posisi
istimewa sebab……………………………………………………………………
5. Menurut G. Sidharta Soegijo: “Salah satu cara yang paling langsung untuk
menghubungkan proses berpikir, yang berlangsung secara abstrak, dengan
bentuk visual, yang konkret, adalah melalui……………………………………...
6. Fungsi gambar sebagai preparatory adalah ………………………………………
7. Yang dimaksud gambar sebagai seni yang otonom adalah………………………
8. Saat ini proses penyapan dan pengerjaan seni lukis dan patung lebih mudah
dibantu dengan perangkat digital, seperti…………………………………………

B. Essay !
1. Jelaskan dan Uraikan Upaya “back to basic” dalam seni rupa Indonesia Pada
Dekade 90-an !
2. Jelaskan dan Uraikan apa yang dimaksud dengan mengindividuasi pakem
gambar tradisi menjadi suatu karya yang personal namun tetap dapat
menunjukkan identitas dan karakter !

-------------------------- 15
Bahan Ajar Seni Budaya, SMK Kes DBP, Tahun 2010
Karya Sederhana Dari : Vireka PM, SE