Anda di halaman 1dari 12

Buku Prof

Definisi Konsumen

Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan


Konsumen, konsumen didefinisikan sebagai ”Setiap orang pemakai barang atau jasa yang
tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun
makhluk yang lain dan tidak untuk diperdagangkan” Tampaknya definisi ini mengandung
kelemahan karena banyak hal yang tidak tercakup sebagai konsumen, padahal seharusnya ia juga
dilindungi, seperti badan hukum, badan usaha, barang yang tidak ditawarkan dalam masyarakat
dan adanya batasan-batasan yang samar.

Pendapat lain merumuskan, bahwa konsumen adalah setiap individu atau kelompok yang
menjadi pembeli atau pemakai akhir dari kepemilikan khusus, produk, atau pelayanan dan
kegiatan, tanpa memperhatikan apakah ia berasal dari pedagang, pemasok, produsen pribadi atau
publik, atau apakah ia berbuat sendiri ataukah secara kolektif.

Dalam Islam tampaknya belum dikonkretkan secara definitif, siapakah sebenarnya konsumen
itu? Mengutip pendapat M. Abdul Mannan secara sempit menyinggung bahwa konsumen dalam
suatu masyarakat Islam hanya dituntun secara ketat dengan sederetan larangan (yakni: makan
daging babi, minum minuman keras, mengenakan pakajaian sutera dan cincin emas untuk pria,
dan seterusnya).

Apa yang dikemukakan Mannan di atas jelas bukanlah sebuah rumusan pengertian dari sebuah
definisi konsumen. Namun, hanya menggambarkan secara sederhana mengenai perilaku yang
harus dipatuhi oleh seorang konsumen muslim. Oleh karena itu, sebagai gambaran, yang
dimaksud konsumen menurut penulis—adalah,”Setiap orang atau badan pengguna produk, baik
berupa barang maupun jasa dengan berpegang teguh pada ketentuan-ketentuan yang berlaku.”
Bagi konsumen muslim dalam mengonsumsi sebuah produk bagaimanapun harus yang halal dan
baik. Oleh karena itu, di sinilah arti pentingnya produsen melindungi kepentingan konsumen
sesuai dengan nilai etis yang bersumber dari ajaran keyakinan yang mereka anut tanpa
mengabaikan aturan perundangan yang berlaku.

Hak Dan Kewajiban Konsumen


Pada era globalisasi dan perdagangan bebas dewasa ini, sebagai dampak kemajuan teknologi dan
informasi, memberdayakan konsumen semakin panting. Untuk perberdayaan itu dj negara kita
telah dibuatlah Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 8 Tahun 1999 tentang Perljndungan
Konsumen.

Dalam hal ini ada dua pasal yang perlu diperhatikan, yaitu yang mengatur hak-hak konsumen, di
samping kewajiban yang harus dilakukan.

1) Hak Konsumen (Pasal 4)

a. Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengonsumsi barang, atau jasa.

b. Hak untuk memilih barang dan jasa serta mendapatkan barang dan jasa tersebut sesuai
dengan nilai tukar kondisi serta jaminan yang dijanjikan

c. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi jaminan barang dan jasa.

d. Hak untuk didengarkan pendapat dan keluhannya atas barang dan jasa yang digunakan.

e. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa


perlindungan secara patut.

f. Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen.

g. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif.

h. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan penggantian apabila barang dan jasa
yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.

i. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan perundang-undangan lainnya.

2) Kewajiban Konsumen (Pasal 5)

a. Membaca dan mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan
barang dan jasa.

b. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan jasa.


c. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati.

d. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut.

Dengan terbitnya undang-undang tersebut maka diharapkan kepada para pelaku bisnis untuk
melakukan peningkatan dan pelayanan sehingga konsumen tidak merasa dirugikan. Yang penting
dalam hal ini adalah bagaimana sikap produsen agar memberikan hak-hak konsumen yang
seyogianya pantas diperoleh. Di samping juga agar konsumen juga menyadari apa yang menjadi
kewajibannya. Di sini dimaksudkan agar kedua belah pihak saling memperhatikan hak dan
kewajibannya masing-masing. Apa yang menjadi hak konsumen merupakan kewajiban bagi
produsen. Sebaliknya apa yang menjadi kewajiban konsumen merupakan hak bagi produsen.
Dengan saling menghormati apa yang menjadi hak maupun kewajiban masing-masing, maka
akan terjadilah keseimbangan (tawazun) sebagaimana yang diajarkan dalam ekonomi Islam.
Dengan prinsip keseimbangan akan menyadarkan kepada setiap pelaku bisnis agar segala
aktivitasnya tidak hanya mementingkan dirinya sendiri, namun juga harus memperhatikan
kepentingan orang lain.

Apa yang tertuang dalam undang-undang di atas secara eksplisit dan substansial sebenarnya
sama dengan ajaran etika Islam. Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam
mengkonsumsi barang atau jasa misalnya, dimaksudkan agar konsumen muslim dalam memakan
dan memakai setiap produk benar-benar aman kesehatannya dan aman agamanya. Dalam hal ini
dituntut agar setiap produk aman bahan bakunya, benar prosesnya dan halal zatnya sehingga
dengan demikian bisa menjawab pertanyaan Mannan sebagaimana dikutip sebelum ini, yakni
untuk siapakah barang dan jasa dihasilkan, barang dan jasa apa yang akan dihasilkan, dan
bagaimana cara menghasilkannya? Mampu menjawab dan mempraktikkan pertanyaan ini maka
berarti para pelaku bisnis (produsen) telah melindungi kepentingan konsumen sesuai yang
diinginkan dalam etika bisnis Islam.

Selanjutnya hak untuk memilih barang yang di dalam Islam dikenal dengan istilah khiyar, di sini
dimaksudkan agar konsumen diberi kebebasan mendapatkan barang atau jasa sesuai dengan
selera (keinginannya). Selain itu, ia juga perlu mendapat kualitas barang sesuai dengan harga
yang ditetapkan dan disepakati. Perlu dihindari adanya penipuan oleh pelaku bisnis terhadap
konsumen karena bisa jadi barang yang telah diperoleh tidak sesuai dengan harga yang dibayar.
Pelaku bisnis bisa saja mempermainkan harga dengan jalan menaikkannya (mark up) dari harga
normal. Justru karena itu Nabi saw dalam sebuah hadithnya secara umum telah melarang
mempermainkan harga:

“Barang siapa yang melakukan sesuatu untuk mempengaruhi harga-harga barang kaum
Muslimin dengan tujuan untuk menaikkan harga tersebut, maka sudah menjadi hak Allah untuk
menempatkannya di ’Uzm (tempat besar) dalam neraka pada hari kiamat (HR. Ahmad dan Ibnu
Majah dari Abu Hurairah)”

Semua itu sangat tergantung kepada keadilan, kejujuran dan keterbukaan para pelaku bisnis
(produsen). Karena tidak adanya kebebasan konsumen dalam memilih suatu barang akibat
mekanisme pasar yang monopolistik, maka Rasulullah saw dengan tegas telah melarang praktik
monopoli karena ia juga sebagai pemicu dari tidak seimbangnya nilai tukar dalam jual beli.
Dengan demikian, dapat diprediksi banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya harga yang
tidak normal di masyarakat. Di antaranya: a) permainan harga yang disebabkan oleh praktik
monopoli dan persaingan tidak sehat (al-ihtikar), b) penyalahgunaan kelemahan konsumen
seperti karena keluguannya-istirsal, karena tidak terpelajar, atau karena keadaan konsumen yang
sedang terdesak untuk memenuhi kebutuhannya-dharurah, dan c) karena penipuan dan informasi
yang tidak akurat/informatif-ghurur”

Untuk mengantisipasi permainan harga yang tidak wajar dalam pasar, fikih Islam telah
menawarkan beberapa solusi, antara lain larangan praktik ribawi, larangan monopoli dan
persaingan tidak sehat, pemberlakuan al-tas’ir (fixing price), pemberlakuan khiyar al-ghubn al-
fahisy (perbedaan nilai tukar menyolok), pemberlakuan khiyar al-mustarsil (karena tidak tahu
harga sehingga ia membeli atas kepercayaan pada pedagang), larangan jual beli an-najasy,
larangan jual-beli talaqi rukban dan jual-beli al-hadhir li bad.

Demikian juga dalam hubungan dengan hak mendapat advokasi jika sekiranya terjadi sengketa,
pada prinsipnya Islam mengedepankan adanya perdamaian (al-shulhu). Namun, jika sekiranya
tidak ditemukan jalan keluarnya maka cara penyelesaiannya perlu melalui arbitrase (al-tahkim).
Hanya saja pada umumnya yag dimenangkan adalah pihak konsumen sehingga di sinilah perlu
diciptakan dewan pengawas yang dikenal dengan sebutan al-hisbah di negara Islam. Dewan ini
bisa saja ikut membela hak-hak konsumen agar terhindar dari arogansi pelaku bisnis. Di
Indonesia tugas penyelesaian kasus semacam ini antara lain bisa melalui badan peradilan niaga.

Selain hal di atas, jika sekiranya konsumen melakukan klaim karena merasa dirugikan karena
ternyata barang yang diterima mengandung cacat dengan maksud untuk mendapat ganti rugi.
Apabila suatu barang telah rusak di tangan pembeli, kemudian ia mengetahui bahwa terdapat
cacat pada barang tersebut, maka jika bersandar pada pendapat al-Khatib al-Syarbainiy, pembeli
berhak menuntut kerugian senilai cacat yang terjadi, dengan cara penghitungan nilai apabila
barang tersebut sempurna. Adapun patokan harga diambil dari harga terendah pada hari terjadi
transaksi. Ibnu ’Abidin menyatakan bahwa patokan harga sesuai dengan waktu dan tempat
transaksi, namun apabila mata uang yang berlaku ketika akad tidak berlaku lagi pada saat ganti
rugi, maka yang dituntut nilainya (al-qimah) bukan barang semisal (al-mitsl).

Jika sekiranya pelaku bisnis tidak mau tahu (membangkang) atas kerugian yang diderita
konsumen, padahal sudah jelas terbukti, maka menurut Ibnu Taymiyah perlu diberlakukan
hukum hudud Allah dan hak-hak publik (huquq Allah). Secara hukum dan moral bagaimanapun
seseorang tidak boleh marampas sekecil apa pun hak orang lain, dalam arti ia harus mengganti
kerugian itu kepada yang berhak. Bagi yang mempunyai kesadaran etis tentu saja ia tidak akan
menunggu sampai diberlakukannya hukum hudud. Dengan kesadaran etisnya ia akan mengganti
kerugian itu kepada siapa pun yang berhak, dalam hal ini adalah konsumen.

Buku Prof. Dr. Iwan Triyuwono. 2009. Anatomi Perilaku Bisnis ‘Dialektika Etika dengan
Realitas’. Malang: UIN-Malang Press. Halaman 348-351.

Perlakuan terhadap Konsumen (Costumers)

Dalam setiap aktivitas bisnis pasti akan terjadi proses transaksi (jual-beli). Dalam proses ini akan
terjadi hubungan antara penjual (produser) dan pembeli (konsumen = pengguna jasa).
Bagaimanapun faktor manusia sangat menentukan sekali etis atau tidaknya sebuah transaksi
dalam proses jual beli. Terutama sekali dari penjual sebagai pihak penentu sehingga tidak jarang
pembeli berada dalam posisi yang tidak berdaya. Dalam praktik, jika penjual lepas dari kontrol
etis, maka berkecederungan proses jual-beli akan mengandung cacat, seperti penipuan,
manipulasi dan sebagainya. Praktik seperti ini pada akhirnya akan merugikan pihak pembeli.
Dalam hal ini pembeli diperlakukan tidak adil karena hak-haknya dirugikan.
Bukankah penjual dan pembeli dalam proses jual-beli mempunyai kewajiban dan hak yang sama
yang harus dihormati oleh kedua pihak. Hak pembeli merupakan kewajiban pihak penjual.
Demikian pula sebaliknya, kewajiban pembeli menjadi hak penjual. Dalam jual-beli, kewajiban
penjual menyerahkan barang kepada pembeli yang menjadi haknya, setelah ia membayar harga
barang yang disepakati yang menjadi kewajibannya. Dengan demikian pada prinsipnya
hubungan antara penjual dan pembeli adalah setara karena keduanya sama-sama memiliki
bargaining position yang kuat. Karenanya, dengan persamaan posisi seperti ini adalah sangat
tidak adil menempatkan pembeli pada posisi yang terpinggirkan.

Menurut hasil pengamatan peneliti, ada perbedaan pelayanan antara pedagang yang menggelar
dagangannya di tempat bebas (tanpa stan = mobile) dengan pedagang yang berstan (menetap),
baik yang semi permanen maupun permanen. Hanya saja sekarang setelah dilakukan penertiban
pedagang kaki lima oleh pemerintah kota, kelompok non stan itu relatif kecil, karena semua
pedagang harus menempati tempat yang telah disediakan. Terlebih lagi yang berjualan di PB dan
PIG.

Ada tiga masalah pokok yang seringkali mengundang penyimpangan dalam kaitan dengan
pelayanan penjual terhadap pembeli, yaitu penetapan mutu barang, penawaran harga dan
kejujuran timbangan (sukatan). Atau dengan kata lain, paling tidak ada tiga kerawanan
penyimpangan nilai-nilai etis yang bisa dilakukan penjual sehingga bisa merugikan hak pembeli,
yaitu yang berkaitan dengan manipulasi mutu barang, penawaran harga dan manipulasi
timbangan (sukatan). Pertama, manipulasi mutu barang. Barang dagangan sebagai objek jual-beli
bisa menjadi salah satu sarana penipuan oleh penjual. Modusnya adalah dengan manipulasi
kualitas barang (buah). Sudah menjadi tradisi setiap pedagang buah ingin memikat calon pembeli
dengan jalan memanggil sambil menyuguhkan sampel yang berkualitas untuk dicicipi. Hal ini
berlaku untuk beberapa jenis buah seperti apel, jeruk, salak, sawo, anggur dan lain-lainnya.
Padahal apa yang disuguhkan itu adalah buah yang sengaja dipilih di antara buah yang beragam
mutunya. Praktik seperti ini antara lain untuk menjebak calon pembeli. Banyak kiat-kiat yang
dilakukan pedagang untuk menarik konsumen agar dagangannya cepat laku. Kiat-kiat seperti ini
ibarat promosi konvensional yang berlaku universal di kalangan pedagang buah sekalipun
caranya banyak menyimpan ketidakjujuran dan penipuan.
Praktik penipuan itu tidak sebatas menyuguhkan cicipan (moster) kepada setiap calon pembeli.
Jelasnya, modus yang mereka lakukan dapat dikategorikan ke dalam bentuk tindakan dan
pernyataan. Bentuk tindakan, selain cicipan juga dengan menempatkan buah yang berkualitas
dengan yang kurang berkualitas (mixed). Di samping itu cara lain, dengan jalan mengemas buah
ke dalam sebuah tempat dengan kualitas campuran, sebagaimana kasus pancengan. Sedangkan
bentuk pernyataan, pada intinya ingin meyakinkan calon pembeli bahwa barang dagangannya
manis, segar, tahan lama, tidak campuran dan sebagainya. Bahkan kadang-kadang bualan ini
disertai dengan sumpah. Pertanyaan yang perlu dikemukakan adalah mengapa para pebisnis buah
sedemikian agresif menawarkan barang dagangannya yang seringkali dengan modus yang tidak
jujur (tidak transparan). Kiranya pertanyaan ini telah terjawab dalam uraian terdahulu yang
antara lain karena bisnis buah penuh dengan risiko, permintaan pasar semakin terbatas,
persaingan semakin ketat, sedangkan kebutuhan hidup di kota besar kian meningkat dan berat.
Namun demikian, pihak kelompok jujur yang tidak mau terlibat dalam kasus pancengan selalu
berupaya agar semuanya itu bisa diminimalisir dan sekaligus sebagai tantangan, karena mereka
masih mempunyai kesadaran etis bahwa bisnis merupakan bagian dari ibadah. Sehingga dengan
demikian, hasilnya harus halal agar barakah.

Buku Manuel G. Velas Quez. 2005. Etika Bisnis ‘Konsep dan Kasus’. Yogyakarta: Penerbit
ANDI. Halaman 317-321.

Pasar dan Perlindungan Konsumen

Para pembela hak konsumen menyatakan bahwa, tahun 1992 saja telah terjadi lebih dari 585.000
kecelakaan, yang memerlukan perawatan rumah sakit, pada anak-anak dan orang dewasa saat
menggunakan mainan, peralatan anak-anak, dan peralatan bermain; lebih dari 322.000 orang
terluka saat menggunakan peralatan bengkel untuk rumah tangga; 2.055.000 orang memerlukan
perawatan darurat akibat menggunakan perabotan rumah tangga; dan 3.467.000 orang
memerlukan perawatan karena terluka saat menggunakan material-material bahan bangunan.’
Pada tahun 1995 rata-rata terjadi kecelakaan yang melibatkan kendaraan bermotor sebanyak
44200 per minggu, sementara angka kematian rata-rata mencapai 120 per hari; dan kerugian
finansial diperkirakan mencapai $479 juta tiap hari.
Banyak orang yang percaya bahwa konsumen secara otomatis terlindungi dari kerugian dengan
adanya pasar yang bebas dan kompetitif dan bahwa pemerintah atau para pelaku bisnis tidak
mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menghadapi masalah ini. Pasar bebas
mendukung alokasi, penggunaan, dan distribusi barang-barang yang, dalam artian tertentu, adil,
menghargai hak, dan memiljld nilai kegunaan maksimum bagi orang-orang yang berpartisipasi
dalam pasar. Lebih jauh lagi, di pasar seperti ini, konsumen dikatakan ‘berdaulat penuh". Saat
konsumen menginginkan dan bersedia membayar untuk suatu produk. Para penjual memperoleh
insentif untuk memenuhi keinginan mereka. Jika penjuaI tidak menyediakan apa yang diinginkan
konsumen, berarti mereka rugi. Dan bila mereka menyediakan apa yang diinginkan konsumen
mereka untung. Seperti yang dikatakan seorang penulis ekonomi temama,”Konsumen, dengan
cita rasa mereka seperti yang diekspresikan dalam pilihan atas produk, mengarahkan bagaimana
sumber daya masyarakat disalurkan."

Dalam pendekatan 'pasar' terhadap perlindungan konsumen, keamanan konsumen dilihat sebagai
produk yang paling efisien bila disediakan melalui mekanisme pasar bebas di mana penjual
memberikan tanggapan terhadap permintaan konsumen. Jika konsumen menginginkan produk
yang lebih aman, mereka akan menunjukkan preferensi tersebut dengan bersedia membayar lebih
untuk membeli produk yang lebih aman, dan menunjukkannya pada produsen yang menjual
produk-produk yang aman serta mengabaikan produsen dari produk-produk yang tidak aman.
Pihak produsen harus menanggapi permintaan itu dengan meningkatkan keamanan produk
mereka, jika tidak, mereka akan kehilangan konsumen karena diambil alih oleh pesaing yang
memenuhi keinginan konsumen. Jadi, pasar menjamin bahwa produsen memberikan tanggapan
secara memadai terhadap keinginan konsumen untuk memperoleh keamanan. Akan tetapi, jika
konsumen tidak memedulikan masalah keamanan dan tidak menunjukkan kesediaan untuk
membayar lebih untuk produk yang lebih aman ataupun menunjukkan preferensi pada produk
yang lebih aman, maka adalah salah bila tingkat keamanan dinaikkan sedemikian tinggi melalui
peraturan pemerintah yang mewajibkan produsen meningkatkan keamanan produkproduk
mereka lebih tinggi dibandingkan pennintaan konsumen. Interferensi pemerintah seperti ini,
seperti yang kita lihat sebelumnya, akan mengganggu pasar, membuatnya tidak adil, tidak
menghargai hak, dan tidak efisien. Demikian juga, salah bila para pelaku bisnis memutuskan
bahwa konsumen harus memperoleh lebih banyak perlindungan dibandingkan yang mereka
inginkan, seperti halnya memaksa mereka untuk mengeluarkan dana lebih banyak untuk
peralatan keamanan yang tidak mereka inginkan. Hanya konsumen yang bisa mengatakan berapa
besar nilai yang mereka berikan pada masalah keamanan, dan mereka harus diperbolehkan
menunjukkan preferensi tersebut melalui pilihan-pilihan bebas dan tidak melalui pemaksaan dari
para pelaku bisnis atau pemerintah untuk membayar sesuatu yang tidak mereka inginkan.

Buku Dr. A. Sonny Keraf. 1998. Etika Bisnis ‘Tuntutan dan Relevansinya’. Yogyakarta:
Kanisius. Halaman 184-188

Hubungan Produsen dan Konsumen

Dalam pembicaraan mengenai bisnis, termasuk etika bisnis, menyangkut interaksi antara
produsen dan konsumen, selalu dikatakan bahwa hak konsumen harus dihargai dan diperhatikan.
Persoalannya, apakah konsumen mempunyai hak. Atas dasar apa konsumen, dalam relasinya
dengan produsen, dianggap mempunyai hak tertentu dan yang karena itu harus dipenuhi oleh
produsen?

Pada umumnya konsumen dianggap mempunyai hak tertentu yang wajib dipenuhi oleh produsen,
yang disebut sebagai hak kontraktual. Hak kontraktual adalah hak yang timbul dan dimiliki
seseorang ketika ia memasuki suatu persetujuan atau kontrak dengan pihak lain. Maka, hak ini
hanya terwujud dan mengikat orang-orang tcrtentu, yaitu orang-orang yang mengadakan
persetujuan atau kontrak satu dengan yang lainnya. Hak ini tergantung dan diatur oleh aturan
yang ada dalam masing-masing masyarakat.

Ada beberapa aturan yang perlu dipenuhi dalam sebuah kontrak yang dianggap baik dan adil,
yang menjadi dasar bagi hak kontraktual setiap pihak dalam suatu kontrak.

a. Kedua belah pihak mengetahui sepenuhnya hakikat dan kondisi persetujuan yang mereka
sepakati. Termasuk di sini, setiap pihak harus tahu hak dan kewajibannya, apa
konsekuensi dari persetujuan atau kontrak itu, jangka waktu dan lingkup kontrak itu, dan
sebagainya.

b. Tidak ada pihak yang secara sengaja memberikan fakta yang salah atau memalsukan
fakta tentang kondisi dan syarat-syarat kontrak untuk pihak yang lain. Semua informasi
yang relevan untuk diketahui oleh pihak lain harus diberikan sejelas mungkin dan tidak
boleh diberikan dalam wujud yang dapat menimbulkan perbedaan penafsiran atau
penafsiran ganda. Dalam kaitan dcngan ini, masing-masing pihak harus aktif meminta
informasi dan penjelasan serinci mungkin tentang berbagai hal yang menyangkut
persetujuan atau kontrak itu.

c. Tidak boleh ada pihak yang dipaksa untuk melakukan kontrak atau persetujuan itu.
Kontrak atau persetujuan yang dilakukan dalam keadaan terpaksa dan dipaksa harus batal
demi hukum.

d. Kontrak iuga tidak mengikat bagi pihak manapun untuk tindakan yang bartentangan
dengan moralitas. Maksudnya, kalau ternyata kontrak itu dimaksudkan untuk melakukan
tindakan yang bertentangan dcngan moralitas, pihak-pihak tersebut bebas melepaskan
dirinya dari kewajiban untuk memenuhi tuntutan dalam kontrak itu. Dengan kata lain,
kontrak itu harus dianggap batal.

Karena itu, sebagaimana halnya semua interaksi sosial lainnya, interaksi bisnis antara produsen
dan konsumen pun tetap mengenal adanya hak dan kewajiban antara satu pihak dan pihak
lainnya. Hak dan kewajiban ini tidak pertama-tama didasarkan pada kontrak tertentu, melainkan
didasarkan pada kenyataan bahwa interaksi bisnis di antara produsen dan konsumen adalah juga
interaksi sosial, interaksi manusia dengan manusia.

Adanya hak pada konsumen atas dasar bahwa interaksi bisnis adalah interaksi manusia lebih
berlaku lagi dalam transaksi bisnis antara penyalur dan konsumen atau pelanggan. Dalam
transaksi ini jelas-jelas terlihat bahwa transaksi tersebut adalah suatu bentuk interaksi manusia.
Karena itu, kendati penyalur hanya menjadi perantara antara produsen dan konsumen, mereka
juga mempunyai tanggung jawab dan kewajiban moral untuk memperhatikan hak dan
kepentingan konsumen yang dilayaninya. Mereka punya tanggung jawab untuk menuntut
produsen agar memenuhi berbagai hak konsumen yang berkaitan dengan produk yang
disalurkannya.

Atas dasar ini, sebagaimana halnya dalam interaksi sosial mana pun, demi menjamin hak
masing-masing pihak dibutuhkan dua perangkat pengendali atau aturan. Pada tempat pertama,
ada aturan moral yang tertanam dalam hati sanubari masing-masing orang dan seluruh
masyarakat yang akan berfungsi mengendalikan dan memaksa dari dalam baik produsen maupun
konsumen unruk menghargai atau tidak merugikan hak dan kepentingan masing-masing pihak.
Pada tempat kedua, perlu ada aturan hukum yang dengan sanksi dan hukumannya akan secara
efektif mengendalikan dan memaksa setiap pihak untuk menghormati atau paling kurang tidak
merugikan hak dan kepentingan masing-masing pihak.

Kedua perangkat pengendali ini terutama tertuju pada produsen dalam hubungannya dengan
konsumen, paling kurang karena dua alasan berikut. Pertama, dalam hubungan antara konsumen
atau pelanggan di satu pihak dan pemasok, produsen, dan penyalur barang atau jasa tertentu di
pihak lain, konsumen atau pelanggan terutama berada pada posisi yang lebih lemah dan rentan
untuk dirugikan. Posisi ini terutama semakin lemah kalau pasar bersifat tertutup atau
monopolistis. Dalam pasar yang sangat terbuka dan dalam situasi di mana konsumennya sudah
sangat kritis serta punya organisasi konsumen yang kuat, posisi ini malah bisa terbalik. Produsen
bisa sangat lemah posisinya. Contoh konkret adalah konsumen di negara-negara Barat yang
sudah sangat kuat dalam tuntutannya akan produk yang peduli lingkungan. Namun, di banyak
negara berkembang realitas menunjukkan bahwa konsumen masih berada pada posisi yang
lemah, dan karena itu perlu ada perangkat pengendali, khususnya aturan perundang-undangan
demi mengamankan dan melindungi hak dan kepentingan konsumen.

Kedua, dalam kerangka bisnis sebagai sebuah profesi, konsumen sesungguhnya membayar
produsen untuk menyediakan barang kebutuhan hidupnya secara profesional. Produsen dalam
hal ini diandaikan adalah orang yang profesional dan yang karena itu bisa diandalkan dan
dipercaya dalam menyediakan barang kebutuhan konsumen sesuai standar yang baik, yang tidak
bisa disediakan sendiri oleh konsumen secara profesional karena satu dan lain alasan. Namun, ini
hanya pengandaian atau imbauan belaka. Karena itu, untuk mengamankan kepentingan
masyarakat, konsumen dalam hal ini, dibutuhkan aturan sebagaimana halnya dalam bidang
profesi manapun. Aturan ini sekaligus menggariskan kewajiban yang harus dipenuhi produsen
(termasuk pemasok dan penyalur) terhadap konsumennya.

Aturan tersebut adalah, pertama, produsen wajib memenuhi semua ketentuan yang melekat baik
pada produk yang ditawarkan maupun pada iklan tentang produk itu. Dasar pemikirannya,
pembeli membeli sebuah produk umumnya karena tertarik pada informasi menyangkut produk
itu baik yang tertera langsung pada produk itu maupun pada iklannya. Dengan kata lain,
konsumen atau pembeli tidak boleh ditipu oleh produsen dan penjual dengan produk tertentu.
Karena itu, semua ketentuan mengenai produk itu harus dipenuhi, misalnya, mengenai masa
berlaku, tidak membuat orang kecanduan, tidak mengandung alkohol, halal, keamanan, unsur-
unsur atau komponen kimianya, dan seterusnya. Semuanya ini harus jelas dan dipenuhi
sebagaimana tercantum. Kalau tidak terpenuhi sebagaimana tercantum, konsumen dapat
menuntut balik produsen sebagai telah melakukan penipuan. Dalam kaitan dengan ini, kedua,
produsen punya kewajiban untuk menyingkapkan semua informasi yang perlu diketahui oleh
semua konsumen tentang sebuah produk. Jadi, produsen tidak boleh menutupi-nutupi informasi
penting tertentu: kadar alkohol, halal, unsur kimia, dan seterusnya. Semua fakta harus
diungkapkan secara benar dan tuntas, termasuk mengenai risiko keamanan dan keselamatan
dalam menggunakan produk tertentu. Misalnya, produk mainan anak-anak. Harus jelas batas usia
anak dan kemungkinan risiko yang bisa dihadapi.

Yang masih terkait dengan itu adalah, ketiga, kewajiban untuk tidak mengatakan yang tidak
benar tentang produk yang ditawarkan. Kewajiban ini jauh lebih keras dari dua kewajiban lain di
atas karena dalam mengatakan hal yang tidak benar tentang suatu produk sudah jelas-jelas
terkandung unsur penipuan. Ada maksud sadar untuk menipu konsumen. Pada kedua kewajiban
lain di atas, bisa saja ada unsur kelalaian tak disengaja (saat mencampur bahan baku, ada
kekeliruan menghitung, atau ada kelupaan dalam menyampaikan informasi yang tidak
terungkapkan). Namun, mengatakan yang tidak benar adalah suatu tindakan sadar yang disengaja
untuk menipu konsumen. Misalnya, dalam iklan,”Lima Belas Menit dari Semanggi” sudah jelas
ada penipuan karena semua orang waras tahu bahwa tidak mungkin mencapai lokasi perumahan
di Bekasi dalam jangka waktu lima belas menit dari Semanggi.