Anda di halaman 1dari 16

2.

1 Pengertian Konsumen: Sebuah Gambaran Umum

Dalam undang-undang republik indonesia nomor 8 tahun 1999 tentang


perlindungan konsumen, konsumen didefinisikan sebagai “setiap orang pemakai
barang atau jasa yang tersedia dalam masyarakat baik bagi kepentingan diri
sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk yang lain dan tidak untuk
diperdagangkan”1. Pendapat lain merumuskan bahwa konsumen adalah setiap
individu atau kelompok yang menjadi pembeli atau pemakai akhir dari
kepemilikan khusus, produk, atau pelayanan dan kegiatan tanpa memperhatikan
apakah ia berasal dari pedagang, pemasok, produsen pribadi atau publik, atau
apakah ia berbuat sendiri ataukah secara kolektif.2
mengutip pendapat M. Abdul Mannan secara sempit menyinggung para
konsumen dalam suatu masyarakat islam hanya di tuntun secara ketat dengan
sederet and larangan (yakni: makan daging babi, minum minuman keras
mengenakan pakaian sutra dan cincin emas untuk pria, dan seterusnya). Apa yang
dikemukakan Mannan tersebut bukanlah sebuah rumusan pengertian dari sebuah
definisi konsumen. Namun, hanya menggambarkan secara sederhana mengenai
perilaku yang harus dipatuhi oleh seorang konsumen muslim. Oleh karena itu,
sebagai gambaran, yang dimaksud konsumen menurut penulis adalah “setiap
orang atau badan pengguna produk baik berupa barang maupun jasa dengan
berpegang teguh pada ketentuan-ketentuan yang berlaku”. Bagi konsumen muslim
dalam mengonsumsi sebuah produk bagaimanapun harus yang halal dan baik.
Oleh karena itu disinilah arti pentingnya produsen melindungi kepentingan
konsumen sesuai dengan nilai estetis yang bersumber dari ajaran keyakinan yang
mereka anut tanpa mengabaikan aturan perundangan yang berlaku.3

2.2 Hak dan Kewajiban Konsumen


Pada era globalisasi dan perdagangan bebas dewasa ini, sebagai dampak
kemajuan teknologi dan informasi, memberdayakan konsumen semakin penting.

1
Undang-Undang RI Nomor: 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Bab I, Pasal 1.

2
Shidarta,2000, Hukum Perlindungan Konsumen, Jakarta: Grasindo, 2
3
Djakfar Muhammad, 2012, Etika Bisnis, Jakarta: Penebar Plus, 1, Hal: 141-142
Untuk pemberdayaan itu di negara kita telah dibuat undang-undang republik
indonesia nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen.4
Dalam minggu ini ada dua pasal yang perlu diperhatikan, yaitu yang
mengatur hak-hak konsumen, di samping kewajiban yang harus dilakukan.

1. Hak Konsumen (pasal 4)


a. Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi
barang atau jasa.
b. Hak untuk memilih barang dan jasa serta mendapatkan barang dan jasa
tersebut sesuai dengan nilai tukar kondisi serta jaminan yang dijanjikan.
c. Hak atas informasi yang benar, jela,s dan jujur mengenai kondisi jaminan
barang dan jasa.
d. Untuk didengarkan pendapat dan keluhannya atas barang dan jasa yang
digunakan.
e. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian
sengketa perlindungan secara patut.
f. Untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen.
g. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif.
h. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi, dan penggantian apabila
barang dan jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak
sebagaimana mestinya.
i. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan perundang-undangan lainnya.

2. Kewajiban Konsumen (pasal 5)


a. Membaca dan ikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau
pemanfaatan barang dan jasa.
b. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan jasa.
c. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati.

4
Djakfar Muhammad, 2012, Etika Bisnis, Jakarta: Penebar Plus, 1, Hal: 142
d. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen
secara patut.

Dengan terbitnya undang-undang tersebut maka diharapkan kepada para


pelaku bisnis untuk melakukan peningkatan dan pelayanan sehingga konsumen
tidak merasa dirugikan. Yang penting dalam hal ini adalah bagaimana sikap
produsen agar memberikan hak-hak konsumen yang seyogyanya pantas diperoleh.
Disamping juga agar konsumen juga menyadari apa yang menjadi kewajibannya.
Di sini dimaksudkan agar kedua belah pihak saling memperhatikan hak dan
kewajibannya masing-masing. Apa yang menjadi hak konsumen merupakan
kewajiban bagi produsen, dan juga sebaliknya.5
Apa yang tertuang dalam undang-undang diatur secara eksplisit dan
substansial sebenarnya sama dengan ajaran etika islam. Hak atas kenyamanan,
keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang atau jasa apa yang
dimaksudkan agar konsumen muslim dapat memegang dan memakai setiap
produk benar-benar aman kesehatannya dan aman agama. Dalam hal ini dituntut
agar setiap produk aman bahan bakunya, benar prosesnya dan unsurnya dengan
demikian bisa menjawab pertanyaan sebagaimana dikutip sebelum ini, yakni
untuk siapakah barang dan jasa dihasilkan, bagaimana cara menghasilkannya.
Bentuk nyata untuk menelepon orang ini di dalam islam dikenal dengan
istilah khiyar, disini dimaksudkan agar konsumen diberi kebebasan mendapatkan
barang atau jasa sesuai dengan selera (keinginannya). Selain itu, ia juga perlu
mendapat kualitas barang sesuai dengan harga yang ditetapkan dan disepakati.
Perlu dihindari adanya penipuan oleh pelaku bisnis terhadap konsumen karena
bisa jadi barang yang telah diperoleh tidak sesuai dengan harga yang dibayar.
Pelaku bisnis biasa saja mempermainkan harta dengan cara menaikkan dari harga
normal. Justru karena itu Nabi saw dalam sebuah hadis nya secara umum telah
melarang mempermainkan harga:

5
Djakfar Muhammad, 2012, Etika Bisnis, Jakarta: Penebar Plus, 1, Hal: 145
“Barangsiapa yang melakukan sesuatu untuk mempengaruhi harga-
harga barang kaum muslimin dengan tujuan untuk memberikan harta
tersebut, makan sudah menjadi Allah untuk menempatkannya di
‘Uzm (tempat besar) dalam neraka pada hari kiamat (HR. Ahmad dan
Ibnu Majah dari Abu Hurairah)”

Semua itu sangat tergantung kepada keadilan, kejujuran, dan keterbukaan


para pelaku bisnis (produsen). Karena tidak adanya kebebasan konsumen dalam
memilih suatu barang akibat mekanisme pasar monopolistik maka Rasulullah saw
dengan tegas telah melarang praktik monopoli, karena ia juga sebagai pemicu dari
tidak seimbangnya nilai tukar dalam jual beli. Dengan demikian, dapat diprediksi
banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya harga yang tidak normal di
masyarakat. Diantaranya: a) permainan harga yang disebabkan oleh praktek
monopoli dan persaingan tidak sehat (Al-Ihtikar), penyalahgunaan kelemahan
konsumen seperti karena keluguannya - istirsal, karena tidak terpelajar atau
karena keadaan konsumen yang sedang terdesak untuk memenuhi kebutuhannya -
dharurah, karena karena penipuan dan informasi yang tidak akurat/informatif -
ghurur.6
Untuk mengantisipasi permainan harga yang tidak wajar dalam pasar, fiqih
islam telah menawarkan beberapa solusi, antara lain larangan praktik ribawi,
larangan monopoli, dan persaingan tidak sehat, pemberlakuan al-tas’ir (fixing
price) memberlakukan khiar al-ghibn al-fahisy ( perbedaan nilai tukar menyolok),
pemberlakuan kihar al mustarsil (karena tidak tahu harga sehingga ia membeli
atas kepercayaan pada pedagang), larangan jual beli an-najasy, larangan jual beli
taqali rukban dan jual beli al-hadhir li bad.7
Demikian juga dalam hubungan dengan hak mendapat advokasi jika
sekiranya terjadi sengketa, pada prinsipnya islam mengedepankan adanya
perdamaian (al-shilhu). Namun, jika sekiranya tidak ditemukan jalan keluarnya
maka cara penyelesaiannya perlu melalui arbitrase (al-tahkim) Hanya saja pada
umumnya yang dimenangkan adalah pihak konsumen sehingga disinilah perlu

6
Djakfar Muhammad, 2012, Etika Bisnis, Jakarta: Penebar Plus, 1, Hal: 146

7
Ibid, Hal: 147
diciptakan dewan pengawas yang dikenal dengan sebutan al-hisbah di negara
islam. Jangan ini bisa saja ikut membela hak-hak konsumen agar menghindari dari
arogansi pelaku bisnis. Di indonesia tugas penyelesaian kasus semacam ini antara
lain bisa melalui badan peradilan niaga.

2.3 Prinsip Konsumsi dalam Islam: Memadukan yang Material dan Spiritual
Konsumsi adalah permintaan (demand) sedangkan produksi adalah
penyediaan (supply). Perbedaan antara ilmu ekonomi modern dan ekonomi islam
dalam konsumsi terletak pada cara pendekatannya dalam memenuhi kebutuhan
seseorang. Islam tidak mengakui keinginan materialis semata sebagaimana pola
konsumsi modern. Semakin tinggi peradaban sebuah komunitas
berkecenderungan semakin meningkat kebutuhan fisiologik mereka karena
dorongan faktor psikologik. Harga diri seseorang tidak lagi diukur dari aspek yang
bersifat spiritual, tetapi dari apa yang nampak secara fisik, yang antara lain bisa
berupa sebera’pa banyak kendaraan yang dimiliki, bagaimana kualitas baju yang
dipakai, seberapa banyak uang yang ditabung dan masih banyak lagi. Inilah
fenomena yang sangat menonjol di era modern dewasa ini yang menjadikan
kebendaan (harta) sebagai parameter status sosial seseorang. 8
Pandangan terhadap atmosfer kehidupan seperti itu sangat berbeda dengan
konsep dinilai islami. Etika islam berusaha mengurangi kebutuhan material
manusia yang hampir tanpa batas, untuk bisa menghasilkan energi dalam
mengejar cita-cita spiritualnya. Perkembangan batiniah telah dijadikan cita-cita
tertinggi dan mulia dalam hidup. Sekalipun diakui bahwa manusia butuh materi
sebagai pemuas kebutuhan fisio-biologisnya, tetapi bagaimanapun kebutuhan
spiritual tetap harus dikedepankan. Sikap semacam ini tentu saja akan
berpengaruh pada bagaimana cara seorang konsumen mengkonsumsi sebuah
produk untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini islam telah
menetapkan prinsip-prinsip konsumsi yang seyogyanya menjadi panduan bagi
produsen selaku penghasil produk dan bagi konsumen selaku penikmat produk.

8
Djakfar Muhammad, 2012, Etika Bisnis, Jakarta: Penebar Plus, 1, Hal: 148
Ada lima prinsip konsumsi dalam islam sebagaimana yang dikemukakan
M. Abdul Mannan sebagai berikut.
1. Prinsip keadilan
Prinsip ini mengandung arti yang mendasar sekali yang dimaksud dalam
mencari rezeki seseorang harus dengan cara yang halal dan tidak dilarang
hukum ,sebagaimana ditegaskan dalam al-Quran:

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik daripada yang
terdapat di dalam bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah
syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata
bagimu” (QS., al-Baqarah, ayat 168)

Kata “halal” dimaksudkan bahwa cara perolehannya harus sah


secara hukum memperhatikan prinsip keadilan, dalam arti tidak menipu
dan merampas hak orang lain karena apabila tidak, maka harta yang
diperoleh dan dimakan tidak lebih dari bangkai yang haram dimakan. Oleh
karena, itu alangkah bahagia dan mulianya orang yang mengedepankan
prinsip keadilan baik dalam mencari rezeki, maupun dalam
mengkonsumsinya. Kemuliaan itu tidak hanya di hadapan sesama
manusia, bahkan lebih jauh dari itu, yakni kemuliaan di hadapan Tuhan.9

2. Prinsip kebersihan
“Halal” dalam prinsip yang pertama bisa saja dikatakan bersih secara
yuridis. Lain halnya dengan prinsip yang kedua yang menekankan adanya
kebersihan. Bersih di sini dimaksudkan dalam arti lahir fisik. Faktor
kebersihan diutamakan dalam ajaran islam. Bahkan sedemikian
pentingnya sampai-sampai kita dituntun memperhatikan kebersihan itu
yang dalam islam berkaitan dengan kualitas keimanan. Oleh karenanya,
arahan al-Qu’ran dan sunnah yang berkaitan dengan makanan, hendaknya
harus yang baik dan cocok untuk dimakan tidak kotor ataupun menjijikkan

9
Mannan , Teori, 45, dalam Djakfar Muhammad, 2012, Etika Bisnis, Jakarta: Penebar Plus, 1, Hal:
149
sehingga merusak selera. Nabi saw menyatakan bahwa kebersihan dalam
segala hal adalah sebagian dari iman. Selain itu Rasulullah saw
mengatakan “makanan di berkahi jika kita mencuci tangan sebelum dan
sesudah memakannya” (Hr. Tirmizi). Namun demikian, sisi lain yang
perlu disadari bahwa memelihara kebersihan merupakan sebuah
keniscayaan sebagai kondisi yang harus diciptakan menuju tubuh yang
sehat yang sangat dianjurkan dalam ilmu medis.

3. prinsip kesederhanaan
Prinsip ketiga ini menekankan agar dalam mengkonsumsi makanan dan
minuman manusia tidak berlebih-lebihan, sesuai dengan firman-Nya:

“Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki)


masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan,
sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan” (QS.,
al-A’raf, ayat 31)

“Israf” ( mainanberlebihan), merupakan simbol keserakahan dalam segala


hal di dunia ini. Berlebihan dalam apapun berarti seseorang berada dalam
titik ekstrem yang seringkali menimbulkan kesenjangan di tengah
kehidupan. Berlebihan dalam hal makanan produksi seseorang
dikendalikan oleh nafsu perut. Berapa kelanjutan nafsu itu akan merambah
pada nafsu ingin berkuasa karena dengan kekuasaan seseorang akan
berlimpah fasilitas. Dengan fasilitas yang berlebih seseorang akan mudah
mengumpulkan harta yang bisa memfasilitasi keinginan nafsu perut dan
seksualnya. Demikian seterusnya sirkulasi kehidupan manusia yang
dikendalikan oleh nafsu serakah. Jika nafsu itu menguasai pelaku bisnis
(produsen), bukanlah mustahil ia akan memperlakukan konsumen hanya
untuk mengeruk keuntungan diri sendiri. Di sinilah relevasi perlunya islam
melarang seseorang berlebihan dalam hal makanan dan minuman. Tentu
saja larangan ini bisa kita eksplanasikan pada kebutuhan yang lain.10

10
Djakfar Muhammad, 2012, Etika Bisnis, Jakarta: Penebar Plus, 1, Hal: 150
4. Prinsip kemurahan hati
Dengan mentaati perintah islam maka tidak akan ada bahaya maupun dosa
dalam mengonsumsi makanan dan minuman halal yang dikaruniakan
Tuhan karena kemurahan-Nya. Akan tetapi jika dalam keadaan terpaksa
diluar batas kemampuan manusia (darurat emergency) ketentuan itu bisa
saja di simpangi ini sesuai dengan firman-Nya:

“sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah,


daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain
Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya), sedang
ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak
ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha
penyayang” (QS., al-Baqarah, ayat 173)

Pada hakekatnya semua rezeki yang kita konsumsi adalah anugerah Allah.
Apa yang kita konsumsi pada hakikatnya nya adalah milik Allah yang
diamanahkan kepada manusia di muka bumi. Sangatlah lukis jika kita
dalam memiliki dan mengonsumsi harta tidak boleh berlebihan karena di
dalam apa yang kita miliki itu ada orang lain yang harus ditunaikan. Itu
secara umum bisa berubah zakat, infaq dan shodaqoh. Namun dalam hal-
hal khusus bagi seorang pelaku bisnis kemurahan hati itu bisa diwujudkan
dalam bentuk melindungi konsumen dari segala modus kecurangan seperti
harga yang pantas, kualitas barang yang wajar, takaran yang jujur dan lain
sebagainya. Sikap murah hati adalah merupakan salah satu sifat Allah
SWT yang harus diberikan oleh manusia didunia sebagai wujud ajaran
islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. 11

5. Prinsip moralitas
Berahlak dalam islam tidak hanya dialamatkan kepada manusia, tetapi
juga kepada diri sendiri, lingkungan (alam sekitar) dan bahkan terhadap

11
Djakfar Muhammad, 2012, Etika Bisnis, Jakarta: Penebar Plus, 1, Hal: 151
Tuhan sekalipun. Wujud terima kasih kepada Tuhan di dalam mengelola
dan mengonsumsi harta hendaknya kita mengikuti petunjuk-Nya. Apa
yang kita makan dan minum yang diperoleh dengan cara yang sama hanya
dengan menghargai diri sendiri dan hormat kepada Tuhan. Menjaga
lingkungan alam karena sebagian telah kita konsumsi sama halnya dengan
menghargai lingkungan dan mentaati ajaran Tuhan. Demikian seterusnya.
Dalam kita mengonsumsi, dituntut agar selalu ingat kepada-Nya, karena
islam menghendaki perpaduan nilai-nilai itu material dan spiritual secara
simultan.12

2.4 Gerakan konsumen: antisipasi terhadap distorsi moral


Sebagaimana telah di singgung sebelum ini bahwa untuk mengatasi dan
mengantisipasi pengaruh kekuatan produsen yang cenderung merugikan
konsumen diperlukan keterlibatan pemerintah sebagai pemegang hak otoritas
dalam sebuah negara. Dalam hal ini pemerintah bisa melakukan pengawasan dan
pengaturan (regulasi) yang memaksa para pelaku bisnis untuk menghormati hak
orang lain. Tetapi dalam praktiknya, hal ini tidak mudah dilakukan sehingga pada
akhirnya lahirlah gerakan dari kalangan masyarakat yang disebut dengan
‘Gerakan Konsumen’. Ini berarti untuk melawan arogansi produsen belum cukup
dilakukan pemerintah (top down) semata namun tampaknya harus juga didukung
oleh masyarakat secara umum (buttom up).13
Sebenarnya gerakan dalam pengawasan pemerintah tidak diperlukan lagi
jika sekiranya dalam diri para pelaku bisnis ada kesadaran bahwa pengawasan
Allah SWT jauh lebih teliti daripada pengawasan manusia. Ada kesadaran bahwa
mementingkan kehidupan akhirat jauh lebih penting daripada mengejar
kepentingan duniawi yang sesaat dan berjangka pendek. Dari kesadaran seperti
inilah yang akan mengetuk hati para pelaku bisnis agar tidak melakukan bisnis
yang merugikan konsumen. Dengan kata lain produsen akan memperlakukan
konsumen secara adil, transparan, jujur dan lain sebagainya akan berjalan dengan
tulus jika dilandasi oleh kesadaran etis yang perenungan saga nilai spiritual.

12
Djakfar Muhammad, 2012, Etika Bisnis, Jakarta: Penebar Plus, 1, Hal: 151
13
Ibid., Hal 152
selanjutnya akan dikemukakan beberapa alasan lahirnya gerakan
konsumen sebagai mana dikemukakan A. Sonny Keraf seperti berikut:
1. Banyaknya produsen berhati emas dan punya kesadaran moral yang
tinggi, tetapi hati dan kesadaran moralnya itu sering dibungkam oleh
keinginan untuk mendapat keuntungan atau uang dalam waktu singkat
daripada mempedulikan hak konsumen.
2. Banyak negara sedang berkembang, termasuk Indonesia, para produsen
lebih dilindungi oleh pemerintah karena mereka dianggap punya jasa
besar dalam menopang perekonomian negara tersebut. Akibatnya,
kepentingan mereka lebih diamankan pemerintah daripada kepentingan
konsumen.
3. Dalam sistem sosial politik dimana bastian hukum tidak jalan, pihak
produsen akan dengan mudah membeli kekuasaan untuk melindungi
kepentingannya terhadap tuntutan konsumen. Kalaupun konsumen
menuntut, pihak produsen selalu merasa diri di atas angin.
4. Konsumen, (individual khususnya) merasa rugi kalau harus menuntut
produsen dan karena itu ia selalu berada dalam posisi yang lemah.
Masih beruntung bahwa gini media massa benar-benar digunakan
sebagai kekuatan konsumen dimana keluhan mereka melalui rubrik
surat pembaca punya dampak efektif mempengaruhi produsen.14

Menurut keraf, salah satu syarat bagi terpenuhi dan terjaminnya hak-hak
konsumen adalah perlunya pasar terbuka dan dibebaskan dari semua pelaku
ekonomi, termasuk produsen dan konsumen. Pasar terbuka dan bebas akan
berfungsi sama desimal mungkin untuk menjamin kepentingan konsumen dan
juga kepentingan produsen. Bagi konsumen, hanya dengan pasar terbuka dan
bebas mereka bisa leluasa mendapatkan informasi sebanyak mungkin dari
berbagai perusahaan yang pada akhirnya bisa menentukan pilihannya secara bebas
dan tepat.
Salah satu langkah yang sangat berpengaruh adalah Gerakan Konsumen.
Gerakan ini lahir (sebagaimana di atas) karena disadari adanya penggunaan

14
Djakfar Muhammad, 2012, Etika Bisnis, Jakarta: Penebar Plus, 1, Hal: 153
kekuasaan bisnis yang tidak fair. Dan dirasakan adanya praktik bisnis yang
merugikan hak dan kepentingan konsumen yang tidak ditanggapi dalam bentuk
sebuah “gerakan” akan semakin merugikan konsumen.15
Di samping alasan disebut, gerakan konsumen di barat lahir karena
berbagai pertimbangan, yaitu:
1. Kebutuhan akan informasi dan pedoman yang akurat tentang berbagai
produk yang beredar di masyarakat.
2. Kebutuhan akan informasi dari produk jasa yang semakin spesialisasi
untuk membantu konsumen agar bisa mengambil keputusan mana yang
benar-benar dibutuhkan oleh mereka.
3. Adanya pengaruh iklan yang seringkali membuat konsumen kebingungan
dan tidak cara menipu atau merugikan mereka.
4. Kurang perhatiannya keamanan produk secara serius oleh produsen.
5. Kebutuhan konsumen akan wadah konsultasi, advokasi, dan perlindungan
untuk menuntut hak dan kepentingannya sesuai dengan prinsip kontrak
jual beli yang adil.16

2.5 Instrumen Perlindungan Konsumen


Berdasarkan uraian di atas, beberapa instrumen yang dapat diterapkan
untuk melindungi konsumen, antara lain dapat berupa.
1. Perlu adanya perundangan
2. Standarisasi halal (bagi konsumen muslim)
3. Perlukah diran lembaga advokasi

Kehadiran sebuah peraturan perundangan merupakan keniscayaan untuk


menjamin kepastian hukum bagi setiap pencari keadilan untuk menjamin rasa
aman, nyaman, dan tenang dalam kehidupan. Perundangan yang berfungsi
mengatur hubungan secara khusus atas hak dan kewajiban konsumen akan
mengundang kecurangan kalangan produsen yang akan melahirkan hak-hak
konsumen. Sebab itu kehadiran undang-undang nomor 8 tahun 1999 tentang

15
Djakfar Muhammad, 2012, Etika Bisnis, Jakarta: Penebar Plus, 1, Hal: 153
16
Ibid., Hal: 154
perlindungan konsumen sebagaimana diatas sudah barang tentu akan
mempersempit ruang penyimpangan dalam dunia bisnis yang dapat merugikan
berbagai pihak. Dan dengan kehadiran perundangan ini maka akan memperjelas
apapun yang menjadi hak dan kewajiban konsumen, sebagai mana juga apa yang
menjadi hak dan kewajiban produsen.17
Demikian juga dengan adanya kebijakan standarisasi hal-hal yang cepat
mulai dilakukan oleh pemerintah dengan tujuan agar komunitas muslim dapat
terlindungi dari berbagai produk yang belum jelas status hukumnya. Baik yang
berupa makanan, minuman maupun kosmetik atau produk lain yang bisa
dikonsumsi oleh konsumen yang menurut ajaran agamanya terlarang untuk
dikonsumsi. Adanya standarisasi halal tidaknya berarti pemerintah ingin
memanjakan munitas tertentu di negara ini, karena kebijakan itu akhir-akhir ini
diketik di negara non muslim sekalipun.
Apabila sebuah produk tanpa label halal, bisa terjadi komunitas muslim
ragu mengonsumsinya sehingga menuntut kalkulasi bisnis sudah barang tentu
akan kurang menguntungkan. Sebaliknya, jika berlabel halal maka,
berkecenderungan seluruh konsumen dengan beragam agamanya akan tetap mau
mengonsumsinya. Inilah kiranya yang dimaksudkan dalam pencantuman label
halal akan jauh lebih menguntungkan dalam perspektif bisnis yang mengejar
profit. Karenanya atas pertimbangan itulah para pelaku bisnis hendaknya memiliki
kesadaran bahwasannya mencantumkan label halal sejatinya tidak saja melindungi
aspek keyakinan pengguna produk, tetapi juga akan lebih menguntungkan secara
bisnis yang menuntut kejujuran dan keterbukaan secara etis. Menjunjung norma-
norma etika tidak saja merupakan tuntutan agama, namun juga peraturan
perundangan di negara manapun di dunia. 18
Demikian pula kehadiran lembaga advokasi, baik secara langsung
maupun tidak langsung berupaya untuk melindungi kepentingan konsumen yang
sering kali terabaikan, sehingga lebih banyak merugikan mereka. Kehadiran
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Komisi Perlindungan
Persaingan Usaha (KPPU) tidak sehat, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), LP-

17
Djakfar Muhammad, 2012, Etika Bisnis, Jakarta: Penebar Plus, 1, Hal: 155
18
Ibid., Hal: 156
POM Majelis Ulama Indonesia, dan lain sebagainya niscaya akan dapat lebih
banyak memberi harapan bagi konsumen guna melindungi kepentingannya.
Selama institusi itu mau berbuat adil, dalam arti mampu menyeimbangkan antara
kepentingan konsumen di satu sisi dan kepentingan konsumen di sisi lain. Apabila
tidak, maka niscaya kehadirannya akan tanpa makna karena tidak memberikan
keuntungan kepada semua pihak yang seringkali terjadi tarik-menarik
kepentingan. Karena itu bagaimanapun operasionalisasi semua institusi itu
sejatinya tanpa kecuali harus tetap berpegang teguh pada kode etik yang berlaku.19

2.6 Aspek-Aspek yang Perlu Dilindungi: Perspektif Maqashid al-Syari’ah


Berbagai aspek yang perlu dilindungi hubungan dengan perlindungan
konsumen dapat dilihat dari ajaran-ajaran maqashid al-syariah, yakni tujuan
pokok diberlakukannya ajaran syariah bagi manusia yang telah ditetapkan oleh
Allah SWT Yang Maha Rahman dan Rahim. Aspek-aspek tersebut meliputi
agama (dien), jiwa (nafs), akal (‘aql), keturunan (nasl), dan harta (maal).
Betapapun perlindungan dalam masalah agama merupakan hal yang
sangat fundamental sekali bagi para pemeluk agama tanpa kecuali bagi pemeluk
Islam (muslim) dimanapun mereka berada. Oleh sebab itu, perlindungan terhadap
keamanan keyakinan (faith) itu bagi konsumen perlu diprioritaskan sebelum
melindungi aspek-aspek yang lain. Kendati demikian, tidaklah berarti aspek yang
lain tidak penting diperhatikan karena pada dasarnya kelima aspek tersebut
merupakan sebuah kesatuan (unity) yang menjamin kesempurnaan konsumen
sebagai ihsan yang beragama.20
Melindungi agama (dien) dimaksudkan adanya keyakinan seorang
konsumen tidak bercerai karena mengonsumsi sebuah produk baik berupa
makanan, minuman maupun kosmetika yang secara umum banyak dikonsumsi
oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, kehadiran perundangan yang
mengharuskan pencantuman standarisasi halal setiap produk yang mulai banyak
dikenal akan dipakai negara adalah merupakan salah satu bentuk ekspresi
perlindungan terhadap kepentingan konsumen. Labelisasi halal akan

19
Djakfar Muhammad, 2012, Etika Bisnis, Jakarta: Penebar Plus, 1, Hal: 157
20
Ibid., Hal: 158
menghilangkan keraguan konsumen muslim atas sebuah produk, sekaligus akan
menjamin ketenangan dan keamanan mereka secara syar'i.21
Demikian pula perlindungan atas keselamatan jiwa (nafs) para konsumen
merupakan salah satu aspek yang tidak kalah krusialnya di antara aspek-aspek lain
yang patut mendapat perhatian oleh kalangan produsen. Artinya, jika sebuah
produk apakah dalam jangka pendek maupun panjang dapat menyebabkan
terganggunya jiwa, terlebih lagi menyebabkan kematian niscaya produk tersebut
sangatlah tidak etis untuk dipasarkan. Hanya demi keuntungan sesaat dan demi
kepentingan korporat, secara etis produsen tidak dibenarkan memasarkan sebuah
produk yang mengancam keselamatan jiwa, kendati bisa jadi konsumen sendiri
tidak tahu akibat yang akan menimpa dirinya. Disinilah sejatinya hati nurani para
produsen diuji ketulusan dan kearifannya untuk menyeimbangkan antara
kepentingan korporat di satu pihak dengan kepentingan konsumen kelain pihak.
melindungi kesehatan (‘aql) agar tentu merupakan hal yang tidak kalah
pentingnya pula sebagai bagian dari perlindungan keamanan dan kenyamanan
konsumen. Akal merupakan anugerah Tuhan yang sangat vital dalam
kesempurnaan keberagaman seorang muslim. Tanpa akal sehat seseorang tidak
akan pernah menjadi “mukallaf” yang dibebani tanggung jawab untuk
melaksanakan kewajiban agama islam seperti salat, puasa, zakat, haji dan lain
sebagainya. Hal ini disebabkan ia dipandang sebagai manusia yang kurang
sempurna sehingga terlepas dari kewajiban-kewajiban syar’iy. Dalam kaitan ini,
dalam Islam dikenal ajaran “laa diina liman laa ‘aqla lahu” yang artinya tidak
akan dikenai kewajiban agama bagi seseorang yang tidak mempunyai akal
(sempurna-sehat)
Dalam Islam sangat dilarang penggunaan makanan maupun minuman
yang dapat merusak kesehatan akal karena kecenderungan akan mengganggu
seseorang dalam melaksanakan kewajiban yang diperintahkan agama. Dengan
alasan inilah sepertinya produsen dituntut agar segala macam produk yang
dihasilkan tidak berakibat terganggunya kesehatan penggunanya.
Demikian pula dalam kaitan dengan perlindungan terhadap keturunan
(nasl). Dalam hal ini produsen dituntut untuk memperhatikan keselamatan

21
Djakfar Muhammad, 2012, Etika Bisnis, Jakarta: Penebar Plus, 1, Hal: 158-159
konsumen dalam kaitan dengan masalah keturunan mereka. Perlu dihindari
menghasilkan dan memasarkan produk yang dapat mengganggu janin,
menyebabkan kemandulan atau bahkan menyebabkan terjadinya dekandensi
moral di kalangan anak muda yang semua itu akan menyeramkan harapan masa
depan keluarga dalam masyarakat. Mendapatkan keturunan yang sehat tentu
menjadi harapan semua keluarga agar tidak terjadi loss generation yang justru
sangat ditakuti oleh semua orang. Sama halnya dengan harapan agar anak-anak
keturunan dalam sebuah keluarga menjadi manusia yang berakhlak dan
bermanfaat sebagai pelanjut kedua orang tua dimasa yang akan datang.
Selanjutnya dalam kaitan dengan perlindungan terhadap harta (maal),
antara lain seyogyanya produsen maupun penjual menetapkan harga secara
proporsional antara jumlah (quantity) barang dengan harga yang harus
dikeluarkan konsumen. Perlu ada keseimbangan antara kualitas barang dengan
harga yang pantas dan wajar. Karena dengan menjual sebuah produk yang
sedemikian mahal niscaya akan mengganggu stabilitas ekonomi seseorang selaku
konsumen.

2.7 Ragam Modus Penyimpangan


Diantara modus penyimpangan yang seringkali atau rentan dilakukan baik
oleh produsen maupun penjual adalah dalam bentuk kualitas (quality),
mengurangi kualitas (quantity) dan melambungkan harga (mark up/over price).
Terdapat sulit kiranya bagi produsen maupun penjual untuk menghindari ketika
mobil tersebut sehingga mereka akan terlepas dari praktik bisnis hitam yang tidak
terpuji.22
Mengurangi kualitas misalnya, dalam praktik seorang penjual mengatakan
kepada pembeli bahwa barang yang dijual berkualitas nomor satu, padahal
sejatinya yang dijual adalah kualitas di bawahnya. Bagi penjua,l praktek ini tentu
menguntungkan secara material, tapi rugi secara moral, karena jelas telah
merugikan konsumen secara materi yang sejatinya perlu dilindungi. Dalam
perspektif islam, perolehan harta yang tidak jujur akan menghilangkan

22
Djakfar Muhammad, 2012, Etika Bisnis, Jakarta: Penebar Plus, 1, Hal: 160
keberkahan, karena diraih oleh pendosa yang tidak terhormat baik di hadapan
manusia, terlebih lagi di hadapan Tuhan Yang Maha Adil.
Demikian pula dalam kaitan dengan aspek kualitas berat ukuran tidak
terang yang telah banyak mengantar produsen maupun penjual gelombang amoral
yang sangat tidak terpuji sehingga kepada pelakunya Allah SWT mengganjar
dengan neraka. Karakteristik koruptor timbangan ini dalam al-Qur’an dilukiskan,
apabila menjual ia mengurangi timbangan, yang semuanya itu akan merugikan
pihak lain karena telah keluar dari orbital etika yang sejatinya perlu dijunjung
tinggi oleh semua pihak.23

23
Djakfar Muhammad, 2012, Etika Bisnis, Jakarta: Penebar Plus, 1, Hal: 160