Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tidak terbantahkan bahwa bisnis merupakan salah satu aktivitas
kehidupan manusia dan bahkan telah merasuki semua sendi kehidupan masyarakat
modern. Dengan fenomena ini mustahil orang terlepas dari pengaruh bisnis dan
sebagai konsekuensinya, masyarakat adalah konsumen yang menjadi sasaran para
produsen di mana-mana. Karena itu sangatlah logis jika dikatakan bahwa bisnis
adalah bagian integral dari masyarakat di mana pun mereka berada dan akan
mempengaruhi kehidupan mereka, baik secara positif maupun negatif.
Berdasarkan kenyataan di atas, dari perspektif etis, segala aktivitas bisnis
dituntut untuk menawarkan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia, dalam arti
tidak menawarkan suatu yang merugikan hanya demi meraih keuntungan sepihak.
Dalam kenyataannya tidaklah demikian. Berbagai fakta menunjukkan bahwa
dalam banyak hal justru produsen itulah yang menciptakan kebutuhan bagi
masyarakat dan bukan sekedar melayani kebutuhan yang sudah ada. Namun
demikian akan lain lagi, jika motif produsen ingin memanfaatkan lemahnya posisi
tawar (position bargaining) konsumen dengan jalan melakukan berbagai modus
penipuan yang berpotensi merugikan mereka sebagai pengguna sebuah produk.
Bertolak dari kenyataan di atas, dengan sendirinya dibutuhkan adanya
perangkat legal politis untuk menentukan aturan main yang bisa melindungi
kepentingan masyarakat atau konsumen. Dalam hal ini dibutuhkan aturan
perundang-undangan yang meletakkan batasan-batasan minimal yang berfungsi
untuk mengatur kegiatan bisnis dalam kaitannya dengan kepentingan masyarakat
luas. Sehingga didalam makalah ini akan dibahas mengenai perlakuan terhadap
konsumen dengan mengacu pada undang-undang yang berlaku di Indonesia dan
perspektif Islam.

1.2 Rumusan Masalah


Dari penjelasan latar belakang diatas, dapat dibuat beberapa rumusan
masalah sebagai berikut:

1. Jelaskan gambaran umum mengenai pengertian konsumen?

1
2. Jelaskan tentang hak dan kewajiban bagi konsumen?
3. Jelaskan mengenai asas dan tujuan perlindungan konsumen?
4. Bagaimana prinsip konsumsi dalam Islam?
5. Jelaskan gambaran umum mengenai gerakan konsumen?
6. Jelaskan mengenai instrumen perlindungan konsumen?
7. Jelaskan mengenai aspek-aspek yang perlu dilindungi berkaitan dengan
perlindungan konsumen dalam perspektif Maqashid al-Syariah?
8. Jelaskan mengenai tanggung jawab bisnis lainnya terhadap konsumen?
9. Jelaskan beragam bentuk penyimpangan yang berkaitan dengan
konsumen?

1.3 Tujuan
Dari rumusan masalah yang telah disusun oleh penulis diatas, memiliki
tujuan sebagai berikut:

1. Mengetahui gambaran umum mengenai pengertian konsumen.


2. Mengetahui tentang hak dan kewajiban bagi konsumen.
3. Mengetahui tentang asas dan tujuan perlindungan konsumen.
4. Mengetahui tentang prinsip konsumsi dalam Islam.
5. Mengetahui gambaran umum mengenai gerakan konsumen.
6. Mengetahui tentang instrumen perlindungan konsumen.
7. Mengetahui tentang aspek-aspek yang perlu dilindungi berkaitan dengan
perlindungan konsumen dalam perspektif Maqashid al-Syariah.
8. Mengetahui tentang tanggung jawab bisnis lainnya terhadap konsumen.
9. Mengetahui tentang beragam bentuk penyimpangan yang berkaitan
dengan konsumen.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Konsumen: Sebuah Gambaran Umum


Dalam undang-undang republik indonesia nomor 8 tahun 1999 tentang
perlindungan konsumen, konsumen didefinisikan sebagai “setiap orang pemakai
barang atau jasa yang tersedia dalam masyarakat baik bagi kepentingan diri
sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk yang lain dan tidak untuk
diperdagangkan”.1 Pendapat lain merumuskan bahwa konsumen adalah setiap
individu atau kelompok yang menjadi pembeli atau pemakai akhir dari
kepemilikan khusus, produk, atau pelayanan dan kegiatan tanpa memperhatikan
apakah ia berasal dari pedagang, pemasok, produsen pribadi atau publik, atau
apakah ia berbuat sendiri ataukah secara kolektif.2 Dalam arti sempit, pengertian
konsumen terbatas kepada mereka yang secara kontraktual mempunyai hubungan
hukum dengan pengusaha. Sedangkan dalam arti luas, pengertian konsumen
meliputi semua pihak yang mengkonsumsi suatu produk baik berupa barang atau
jasa, lepas ada hubungan kontraktual dengan pengusaha atau tidak.3

Mengutip pendapat M. Abdul Mannan secara sempit menyinggung para


konsumen dalam suatu masyarakat islam hanya dituntun secara ketat dengan
sederetan larangan (yakni: makan daging babi, minum minuman keras
mengenakan pakaian sutera dan cincin emas untuk pria, dan seterusnya). Apa
yang dikemukakan Mannan tersebut bukanlah sebuah rumusan pengertian dari
sebuah definisi konsumen. Namun, hanya menggambarkan secara sederhana
mengenai perilaku yang harus dipatuhi oleh seorang konsumen muslim. Oleh
karena itu, sebagai gambaran, yang dimaksud konsumen menurut penulis
adalah “setiap orang atau badan pengguna produk baik berupa barang maupun
jasa dengan berpegang teguh pada ketentuan-ketentuan yang berlaku”. Bagi
konsumen muslim dalam mengonsumsi sebuah produk bagaimanapun harus yang
halal dan baik. Oleh karena itu disinilah arti pentingnya produsen melindungi

1
Undang-Undang RI Nomor: 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Bab I, Pasal 1.
2
Shidarta, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Grasindo, 2000), Hal: 2
3
Muslich, Etika Bisnis: Pendekatan Substantif dan Fungsional, (Yogyakarta: EKONISIA, 1998),
Hal:91

3
kepentingan konsumen sesuai dengan nilai estetis yang bersumber dari ajaran
keyakinan yang mereka anut tanpa mengabaikan aturan perundangan yang
berlaku.4

2.2 Hak dan Kewajiban Konsumen


Pada era globalisasi dan perdagangan bebas dewasa ini, sebagai dampak
kemajuan teknologi dan informasi, memberdayakan konsumen semakin penting.
Untuk pemberdayaan itu di negara kita telah dibuat undang-undang republik
indonesia nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen.5
Dalam undang-undang ada dua pasal yang perlu diperhatikan, yaitu yang
mengatur hak-hak konsumen, di samping kewajiban yang harus dilakukan.

1. Hak Konsumen (pasal 4)


a. Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi
barang atau jasa.
b. Hak untuk memilih barang dan jasa serta mendapatkan barang dan jasa
tersebut sesuai dengan nilai tukar kondisi serta jaminan yang dijanjikan.
c. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi jaminan
barang dan jasa.
d. Untuk didengarkan pendapat dan keluhannya atas barang dan jasa yang
digunakan.
e. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian
sengketa perlindungan secara patut.
f. Untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen.
g. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif.
h. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi, dan penggantian apabila
barang dan jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak
sebagaimana mestinya.

4
Muhammad Djakfar, Etika Bisnis, (Jakarta: Penebar Plus,2012), Hal: 141-142
5
Ibid., Hal: 142

4
i. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan perundang-undangan lainnya.

2. Kewajiban Konsumen (pasal 5)


a. Membaca dan ikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau
pemanfaatan barang dan jasa.
b. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan jasa.
c. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati.
d. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen
secara patut.

Dengan terbitnya undang-undang tersebut maka diharapkan kepada para


pelaku bisnis untuk melakukan peningkatan dan pelayanan sehingga konsumen
tidak merasa dirugikan. Yang penting dalam hal ini adalah bagaimana sikap
produsen agar memberikan hak-hak konsumen yang seyogyanya pantas diperoleh.
Disamping juga agar konsumen juga menyadari apa yang menjadi kewajibannya.
Di sini dimaksudkan agar kedua belah pihak saling memperhatikan hak dan
kewajibannya masing-masing. Apa yang menjadi hak konsumen merupakan
kewajiban bagi produsen, dan juga sebaliknya.6
Apa yang tertuang dalam undang-undang diatur secara eksplisit dan
substansial sebenarnya sama dengan ajaran etika islam. Hak atas kenyamanan,
keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang atau jasa apa yang
dimaksudkan agar konsumen muslim dapat memegang dan memakai setiap
produk benar-benar aman kesehatannya dan aman agama. Dalam hal ini dituntut
agar setiap produk aman bahan bakunya, benar prosesnya dan unsurnya dengan
demikian bisa menjawab pertanyaan sebagaimana dikutip sebelum ini, yakni
untuk siapakah barang dan jasa dihasilkan, bagaimana cara menghasilkannya.
Selanjutnya hak untuk memilih barang yang di dalam islam dikenal
dengan istilah khiyar, disini dimaksudkan agar konsumen diberi kebebasan
mendapatkan barang atau jasa sesuai dengan selera (keinginannya). Selain itu, ia
juga perlu mendapat kualitas barang sesuai dengan harga yang ditetapkan dan

6
Muhammad Djakfar, Etika Bisnis, (Jakarta: Penebar Plus, 2012), Hal: 145

5
disepakati. Perlu dihindari adanya penipuan oleh pelaku bisnis terhadap konsumen
karena bisa jadi barang yang telah diperoleh tidak sesuai dengan harga yang
dibayar. Pelaku bisnis bisa saja mempermainkan harga dengan cara menaikkan
dari harga normal. Justru karena itu Nabi saw dalam sebuah hadis nya secara
umum telah melarang mempermainkan harga:

“Barangsiapa yang melakukan sesuatu untuk mempengaruhi harga-


harga barang kaum muslimin dengan tujuan untuk memberikan harta
tersebut, maka sudah menjadi ketentuan Allah untuk menempatkannya
di ‘Uzm (tempat besar) dalam neraka pada hari kiamat (HR. Ahmad
dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah)”

Semua itu sangat tergantung kepada keadilan, kejujuran, dan keterbukaan


para pelaku bisnis (produsen). Karena tidak adanya kebebasan konsumen dalam
memilih suatu barang akibat mekanisme pasar monopolistik maka Rasulullah saw
dengan tegas telah melarang praktik monopoli, karena ia juga sebagai pemicu dari
tidak seimbangnya nilai tukar dalam jual beli. Dengan demikian, dapat diprediksi
banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya harga yang tidak normal di
masyarakat. Diantaranya: a) permainan harga yang disebabkan oleh praktek
monopoli dan persaingan tidak sehat (Al-Ihtikar), penyalahgunaan kelemahan
konsumen seperti karena keluguannya - istirsal, karena tidak terpelajar atau
karena keadaan konsumen yang sedang terdesak untuk memenuhi kebutuhannya -
dharurah, karena penipuan dan informasi yang tidak akurat/informatif - ghurur.7
Untuk mengantisipasi permainan harga yang tidak wajar dalam pasar, fiqih
Islam telah menawarkan beberapa solusi, antara lain larangan praktik ribawi,
larangan monopoli, dan persaingan tidak sehat, pemberlakuan al-tas’ir (fixing
price) memberlakukan khiar al-ghubn al-fahisy (perbedaan nilai tukar menyolok),
pemberlakuan kihar al mustarsil (karena tidak tahu harga sehingga ia membeli
atas kepercayaan pada pedagang), larangan jual beli an-najasy, larangan jual beli
taqali rukban dan jual beli al-hadhir li bad.8

7
Muhammad Djakfar, Etika Bisnis, (Jakarta: Penebar Plus, 2012), Hal: 146
8
Ibid, Hal: 147

6
Demikian juga dalam hubungan dengan hak mendapat advokasi jika
sekiranya terjadi sengketa, pada prinsipnya Islam mengedepankan adanya
perdamaian (al-shulhu). Namun, jika sekiranya tidak ditemukan jalan keluarnya
maka cara penyelesaiannya perlu melalui arbitrase (al-tahkim) Hanya saja pada
umumnya yang dimenangkan adalah pihak konsumen sehingga disinilah perlu
diciptakan dewan pengawas yang dikenal dengan sebutan al-hisbah di negara
Islam. Dewan ini bisa saja ikut membela hak-hak konsumen agar menghindari
dari arogansi pelaku bisnis. Di indonesia tugas penyelesaian kasus semacam ini
antara lain bisa melalui badan peradilan niaga.

2.3 Asas dan Tujuan Perlindungan Konsumen

Kerangka perlindungan konsumen sebagaimana kita ketahui sekarang ini


dibentuk selama pemerintah Kennedy. Di dalam pidatonya di depan kongres
mengenai konsumen pada tahun 1962, presiden Kennedy menggambarkan 4 hak
konsumen. Keempat hak yang digambarkan meliputi hak atas keamanan, hak
untuk didengar, hak untuk memilih dan hak untuk mendapat informasi. Pesan dan
perundang-undangan yang dihasilkan sebagai dasar untuk gerakan konsumen
sekarang ini.9

Sebagaimana uraian di atas, maka dalam menerapkan perlindungan


terhadap konsumen maka diatur dalam undang-undang maupun peraturan sebagai
berikut.10

Pasal 2 UU No. 8 Tahun 1999, tentang Asas Perlindungan Konsumen:


“Perlindungan Konsumen berdasarkan manfaat, keadilan, keseimbangan,
keamanan dan keselamatan konsumen, serta kepastian hukum”. Sedangkan
menurut Pasal 3 UU No. 8 Tahun 1999, tentang Tujuan Perlindungan Konsumen.

Perlindungan konsumen bertujuan untuk:

1. Meningkatkan kesadaran, kemampuan, dan kemandirian konsumen untuk


melindungi diri;

9
Erni Ernawan, Business Ethics, (Bandung: Alfabeta, 2007), Hal. 30-31
10
Agus Arijanto, Etika Bisnis bagi Pelaku Bisnis, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), Hal: 56-58

7
2. Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara
menghindarkannya dari akses negatif pemakai barang dan atau jasa;
3. Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan, dan
menuntut hak-haknya sebagai konsumen;
4. Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur
kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk
mendapatkan informasi;
5. Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan
konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab
dalam berusaha;
6. Meningkatkan kualitas barang dan atau jasa yang menjamin kelangsungan
usaha produksi barang dan atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan,
dan keselamatan konsumen.

Adapun asas perlindungan konsumen antara lain:

1. Asas Manfaat, mengamanatkan bahwa segala upaya dalam


penyelenggaraan perlindungan ini harus memberikan manfaat sebesar-
besarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara
keseluruhan.
2. Asas Keadilan, partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan secara
maksimal dan memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku
usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya secara
adil.
3. Asas Keseimbangan, memberikan keseimbangan antara kepentingan
konsumen, pelaku usaha, dan pemerintah baik dalam materiil maupun
spiritual.
4. Asas Keamanan dan Keselamatan Konsumen, memberikan jaminan atas
keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan,
pemakaian dan pemanfaatan barang dan atau jasa yang dikonsumsi atau
digunakan.

8
5. Asas Kepastian Hukum, baik pelaku usaha maupun konsumen menaati
hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan
konsumen, serta Negara menjamin kepastian hukum.

Dalam rangka mengembangkan upaya perlindungan konsumen,


pemerintah membentuk badan perlindungan konsumen nasional (BPKN) yang
bertanggung jawab kepada presiden (Pasal 31 dan 32)11. Badan ini mempunyai
tugas sebagai berikut (Pasal 34):
1. Memberikan saran dan rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka
penyusunan kebijakan di bidang perlindungan konsumen.
2. Melakukan penelitian dan pengkajian terhadap peraturan perundang-
undangan yang berlaku di bidang perlindungan konsumen.
3. Lakukan penelitian terhadap barang dan atau jasa yang menyangkut
keselamatan konsumen.
4. Mendorong berkembangnya lembaga perlindungan konsumen swadaya
masyarakat.
5. Menyebarluaskan informasi melalui media mengenai perlindungan
konsumen dan memasyarakatkan sikap keberpihakan kepada konsumen.
6. Menerima pengaduan tentang perlindungan konsumen dari masyarakat,
lembaga perlindungan swadaya masyarakat, atau pelaku usaha.
7. Melakukan survei yang menyangkut kebutuhan konsumen.

2.4 Prinsip Konsumsi dalam Islam: Memadukan yang Material dan Spiritual
Konsumsi adalah permintaan (demand) sedangkan produksi adalah
penyediaan (supply). Perbedaan antara ilmu ekonomi modern dan ekonomi islam
dalam konsumsi terletak pada cara pendekatannya dalam memenuhi kebutuhan
seseorang. Islam tidak mengakui keinginan materialis semata sebagaimana pola
konsumsi modern. Semakin tinggi peradaban sebuah komunitas kecenderungan
semakin meningkat kebutuhan fisiologik mereka karena dorongan faktor
psikologik. Harga diri seseorang tidak lagi diukur dari aspek yang bersifat
spiritual, tetapi dari apa yang nampak secara fisik, yang antara lain bisa berupa

11
Ketut Rindjin, Etika Bisnis dan Implementasinya, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004), Hal.
108

9
seberapa banyak kendaraan yang dimiliki, bagaimana kualitas baju yang dipakai,
seberapa banyak uang yang ditabung dan masih banyak lagi. Inilah fenomena
yang sangat menonjol di era modern dewasa ini yang menjadikan kebendaan
(harta) sebagai parameter status sosial seseorang. 12
Pandangan terhadap atmosfer kehidupan seperti itu sangat berbeda dengan
konsepsi nilai Islami. Etika islam berusaha mengurangi kebutuhan material
manusia yang hampir tanpa batas, untuk bisa menghasilkan energi dalam
mengejar cita-cita spiritualnya. Perkembangan batiniah telah dijadikan cita-cita
tertinggi dan mulia dalam hidup. Sekalipun diakui bahwa manusia butuh materi
sebagai pemuas kebutuhan fisio-biologisnya, tetapi bagaimanapun kebutuhan
spiritual tetap harus dikedepankan. Sikap semacam ini tentu saja akan
berpengaruh pada bagaimana cara seorang konsumen mengkonsumsi sebuah
produk untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini Islam telah
menetapkan prinsip-prinsip konsumsi yang seyogyanya menjadi panduan bagi
produsen selaku penghasil produk dan bagi konsumen selaku penikmat produk.
Ada lima prinsip konsumsi dalam islam sebagaimana yang dikemukakan
M. Abdul Mannan sebagai berikut.13
1. Prinsip Keadilan
Prinsip ini mengandung arti yang mendasar sekali yang dimaksud dalam
mencari rezeki seseorang harus dengan cara yang halal dan tidak dilarang
hukum ,sebagaimana ditegaskan dalam al-Quran:
 
   
  
 
   
  
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang
terdapat di dalam bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah
12
Muhammad Djakfar, Etika Bisnis, (Jakarta: Penebar Plus, 2012), Hal: 148

13
M. Abdul Mannan, Teori dan Praktek Ekonomi Islam, (Yogyakarta: PT Dana Bhakti Wakaf,
1995), Hal 44

10
syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata
bagimu” (QS., al-Baqarah, ayat 168)

Kata “halal” dimaksudkan bahwa cara perolehannya harus sah


secara hukum memperhatikan prinsip keadilan, dalam arti tidak menipu
dan merampas hak orang lain karena apabila tidak, maka harta yang
diperoleh dan dimakan tidak lebih dari bangkai yang haram dimakan. Oleh
karena, itu alangkah bahagia dan mulianya orang yang mengedepankan
prinsip keadilan baik dalam mencari rezeki, maupun dalam
mengkonsumsinya. Kemuliaan itu tidak hanya di hadapan sesama
manusia, bahkan lebih jauh dari itu, yakni kemuliaan di hadapan Tuhan.

2. Prinsip Kebersihan
“Halal” dalam prinsip yang pertama bisa saja dikatakan bersih secara
yuridis. Lain halnya dengan prinsip yang kedua yang menekankan adanya
kebersihan. Bersih di sini dimaksudkan dalam arti lahir fisik. Faktor
kebersihan diutamakan dalam ajaran Islam. Bahkan sedemikian
pentingnya sampai-sampai kita dituntun memperhatikan kebersihan itu
yang dalam Islam berkaitan dengan kualitas keimanan. Oleh karenanya,
arahan al-Qu’ran dan sunnah yang berkaitan dengan makanan, hendaknya
harus yang baik dan cocok untuk dimakan tidak kotor ataupun menjijikkan
sehingga merusak selera. Nabi saw menyatakan bahwa kebersihan dalam
segala hal adalah sebagian dari iman. Selain itu Rasulullah saw
mengatakan “makanan di berkahi jika kita mencuci tangan sebelum dan
sesudah memakannya” (Hr. Tirmizi). Namun demikian, sisi lain yang
perlu disadari bahwa memelihara kebersihan merupakan sebuah
keniscayaan sebagai kondisi yang harus diciptakan menuju tubuh yang
sehat yang sangat dianjurkan dalam ilmu medis.

3. Prinsip Kesederhanaan
Prinsip ketiga ini menekankan agar dalam mengkonsumsi makanan dan
minuman manusia tidak berlebih-lebihan, sesuai dengan firman-Nya:

11
   
  
 
 
    
 
“Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki)
masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan,
sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan” (QS.,
al-A’raf, ayat 31)

“Israf” (berlebihan), merupakan simbol keserakahan dalam segala hal di


dunia ini. Berlebihan dalam apapun berarti seseorang berada dalam titik
ekstrem yang seringkali menimbulkan kesenjangan di tengah kehidupan.
Berlebihan dalam hal makanan berarti seseorang dikendalikan oleh nafsu
perut. Bila kelanjutan nafsu itu akan merambah pada nafsu ingin berkuasa
karena dengan kekuasaan seseorang akan berlimpah fasilitas. Dengan
fasilitas yang berlebih seseorang akan mudah mengumpulkan harta yang
bisa memfasilitasi keinginan nafsu perut dan seksualnya. Demikian
seterusnya sirkulasi kehidupan manusia yang dikendalikan oleh nafsu
serakah. Jika nafsu itu menguasai pelaku bisnis (produsen), bukanlah
mustahil ia akan memperlakukan konsumen hanya untuk mengeruk
keuntungan diri sendiri. Di sinilah relevasi perlunya Islam melarang
seseorang berlebihan dalam hal makanan dan minuman. Tentu saja
larangan ini bisa kita eksplanasikan pada kebutuhan yang lain.14

4. Prinsip Kemurahan Hati


Dengan mentaati perintah Islam maka tidak akan ada bahaya maupun dosa
dalam mengonsumsi makanan dan minuman halal yang dikaruniakan
Tuhan karena kemurahan-Nya. Akan tetapi jika dalam keadaan terpaksa

14
Muhammad Djakfar, Etika Bisnis, (Jakarta: Penebar Plus, 2012), Hal: 150

12
diluar batas kemampuan manusia (darurat emergency) ketentuan itu bisa
saja di simpangi ini sesuai dengan firman-Nya:
  
 
  
    
   
     
   

“sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah,
daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain
Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya),
sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka
tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha
penyayang” (QS., al-Baqarah, ayat 173)

Pada hakikatnya semua rezeki yang kita konsumsi adalah anugerah Allah.
Apa yang kita konsumsi pada hakikatnya nya adalah milik Allah yang
diamanahkan kepada manusia di muka bumi. Sangatlah logis jika kita
dalam memiliki dan mengonsumsi harta tidak boleh berlebihan karena di
dalam apa yang kita miliki itu ada orang lain yang harus ditunaikan. Itu
secara umum bisa berubah zakat, infaq dan shodaqoh. Namun dalam hal-
hal khusus bagi seorang pelaku bisnis kemurahan hati itu bisa diwujudkan
dalam bentuk melindungi konsumen dari segala modus kecurangan seperti
harga yang pantas, kualitas barang yang wajar, takaran yang jujur dan lain
sebagainya. Sikap murah hati adalah merupakan salah satu sifat Allah
SWT yang harus diberikan oleh manusia didunia sebagai wujud ajaran
islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. 15

15
Muhammad Djakfar, Etika Bisnis, (Jakarta: Penebar Plus, 2012), Hal: 151

13
5. Prinsip moralitas
Berakhlak dalam Islam tidak hanya dialamatkan kepada sesama manusia,
tetapi juga kepada diri sendiri, lingkungan (alam sekitar) dan bahkan
terhadap Tuhan sekalipun. Wujud terima kasih kepada Tuhan di dalam
mengelola dan mengonsumsi harta hendaknya kita mengikuti petunjuk-
Nya. Apa yang kita makan dan minum yang diperoleh dengan cara yang
sama hanya dengan menghargai diri sendiri dan hormat kepada Tuhan.
Menjaga lingkungan alam karena sebagian telah kita konsumsi sama
halnya dengan menghargai lingkungan dan mentaati ajaran Tuhan.
Demikian seterusnya. Dalam kita mengonsumsi, dituntut agar selalu ingat
kepada-Nya, karena Islam menghendaki perpaduan nilai-nilai hidup
material dan spiritual secara simultan.16

2.5 Gerakan konsumen: antisipasi terhadap distorsi moral


Sebagaimana telah di singgung sebelum ini bahwa untuk mengatasi dan
mengantisipasi pengaruh kekuatan produsen yang cenderung merugikan
konsumen diperlukan keterlibatan pemerintah sebagai pemegang hak otoritas
dalam sebuah Negara. Dalam hal ini pemerintah bisa melakukan pengawasan dan
pengaturan (regulasi) yang memaksa para pelaku bisnis untuk menghormati hak
orang lain. Tetapi dalam praktiknya, hal ini tidak mudah dilakukan sehingga pada
akhirnya lahirlah gerakan dari kalangan masyarakat yang disebut dengan
‘Gerakan Konsumen’. Ini berarti untuk melawan arogansi produsen belum cukup
dilakukan pemerintah (top down) semata namun tampaknya harus juga didukung
oleh masyarakat secara umum (buttom up).17
Sebenarnya gerakan dalam pengawasan pemerintah tidak diperlukan lagi
jika sekiranya dalam diri para pelaku bisnis ada kesadaran bahwa pengawasan
Allah SWT jauh lebih teliti dari pada pengawasan manusia. Ada kesadaran bahwa
mementingkan kehidupan akhirat jauh lebih penting dari pada mengejar
kepentingan duniawi yang sesaat dan berjangka pendek. Dari kesadaran seperti
inilah yang akan mengetuk hati para pelaku bisnis agar tidak melakukan bisnis

16
Ibid., Hal: 151
17
Ibid., Hal 152

14
yang merugikan konsumen. Dengan kata lain produsen akan memperlakukan
konsumen secara adil, transparan, jujur dan lain sebagainya akan berjalan dengan
tulus jika dilandasi oleh kesadaran etis yang bernuansakan nilai spiritual.
selanjutnya akan dikemukakan beberapa alasan lahirnya gerakan
konsumen sebagai mana dikemukakan A. Sonny Keraf seperti berikut:18
1. Banyaknya produsen berhati emas dan punya kesadaran moral yang
tinggi, tetapi hati dan kesadaran moralnya itu sering dibungkam oleh
keinginan untuk mendapat keuntungan atau uang dalam waktu singkat
daripada mempedulikan hak konsumen.
2. Banyak negara sedang berkembang, termasuk Indonesia, para produsen
lebih dilindungi oleh pemerintah karena mereka dianggap punya jasa
besar dalam menopang perekonomian negara tersebut. Akibatnya,
kepentingan mereka lebih diamankan pemerintah daripada kepentingan
konsumen.
3. Dalam sistem sosial politik dimana kepastian hukum tidak jalan, pihak
produsen akan dengan mudah membeli kekuasaan untuk melindungi
kepentingannya terhadap tuntutan konsumen. Kalaupun konsumen
menuntut, pihak produsen selalu merasa diri di atas angin.
4. Konsumen, (individual khususnya) merasa rugi kalau harus menuntut
produsen dan karena itu ia selalu berada dalam posisi yang lemah.
Masih beruntung bahwa kini media massa benar-benar digunakan
sebagai kekuatan konsumen dimana keluhan mereka melalui rubrik
surat pembaca punya dampak efektif mempengaruhi produsen.

Menurut keraf, salah satu syarat bagi terpenuhi dan terjaminnya hak-hak
konsumen adalah perlunya pasar terbuka dan dibebaskan dari semua pelaku
ekonomi, termasuk produsen dan konsumen. Pasar terbuka dan bebas akan
berfungsi semaksimal mungkin untuk menjamin kepentingan konsumen dan juga
kepentingan produsen. Bagi konsumen, hanya dengan pasar terbuka dan bebas
mereka bisa leluasa mendapatkan informasi sebanyak mungkin dari berbagai

18
A. Sonny Keraf, Etika Bisnis: Tuntutan dan Relevansinya (Yogyakarta: Kanisius, 1998), Hal 190-
194

15
perusahaan yang pada akhirnya bisa menentukan pilihannya secara bebas dan
tepat.
Salah satu langkah yang sangat berpengaruh adalah Gerakan Konsumen.
Gerakan ini lahir (sebagaimana di atas) karena disadari adanya penggunaan
kekuasaan bisnis yang tidak fair. Dan dirasakan adanya praktik bisnis yang
merugikan hak dan kepentingan konsumen yang tidak ditanggapi dalam bentuk
sebuah “gerakan” akan semakin merugikan konsumen.19
Di samping alasan disebut, gerakan konsumen di barat lahir karena
berbagai pertimbangan, yaitu:
1. Kebutuhan akan informasi dan pedoman yang akurat tentang berbagai
produk yang beredar di masyarakat.
2. Kebutuhan akan informasi dari produk jasa yang semakin spesialisasi
untuk membantu konsumen agar bisa mengambil keputusan mana yang
benar-benar dibutuhkan oleh mereka.
3. Adanya pengaruh iklan yang seringkali membuat konsumen kebingungan
dan tidak cara menipu atau merugikan mereka.
4. Kurang perhatiannya keamanan produk secara serius oleh produsen.
5. Kebutuhan konsumen akan wadah konsultasi, advokasi, dan perlindungan
untuk menuntut hak dan kepentingannya sesuai dengan prinsip kontrak
jual beli yang adil.20

2.6 Instrumen Perlindungan Konsumen


Berdasarkan uraian di atas, beberapa instrumen yang dapat diterapkan
untuk melindungi konsumen, antara lain dapat berupa.
1. Perlu adanya perundangan
2. Standarisasi halal (bagi konsumen muslim)
3. Perlu kehadiran lembaga advokasi

Kehadiran sebuah peraturan perundangan merupakan keniscayaan untuk


menjamin kepastian hukum bagi setiap pencari keadilan untuk menjamin rasa

19
Muhammad Djakfar, Etika Bisnis, (Jakarta: Penebar Plus, 2012), Hal: 153
20
Ibid., Hal: 154

16
aman, nyaman, dan tenang dalam kehidupan. Tanpa adanya perundangan yang
berfungsi mengatur hubungan secara khusus atas hak dan kewajiban konsumen
akan mengundang kecurangan kalangan produsen yang akan melahirkan hak-hak
konsumen. Sebab itu kehadiran undang-undang nomor 8 tahun 1999 tentang
perlindungan konsumen sebagaimana diatas sudah barang tentu akan
mempersempit ruang penyimpangan dalam dunia bisnis yang dapat merugikan
berbagai pihak. Dan dengan kehadiran perundangan ini maka akan memperjelas
apapun yang menjadi hak dan kewajiban konsumen, sebagai mana juga apa yang
menjadi hak dan kewajiban produsen.21
Demikian juga dengan adanya kebijakan standarisasi halal yang sudah
mulai dilakukan oleh pemerintah dengan tujuan agar komunitas muslim dapat
terlindungi dari berbagai produk yang belum jelas status hukumnya. Baik yang
berupa makanan, minuman maupun kosmetik atau produk lain yang bisa
dikonsumsi oleh konsumen yang menurut ajaran agamanya terlarang untuk
dikonsumsi. Adanya standarisasi halal tidaknya berarti pemerintah ingin
memanjakan komunitas tertentu di negara ini, karena kebijakan itu akhir-akhir ini
juga digalakkan di negara non muslim sekalipun.
Apabila sebuah produk tanpa label halal, bisa terjadi komunitas muslim
ragu mengonsumsinya sehingga menurut kalkulasi bisnis sudah barang tentu akan
kurang menguntungkan. Sebaliknya, jika berlabel halal maka, berkecenderungan
seluruh konsumen dengan beragam agamanya akan tetap mau mengonsumsinya.
Inilah kiranya yang dimaksudkan dalam pencantuman label halal akan jauh lebih
menguntungkan dalam perspektif bisnis yang mengejar profit. Karenanya atas
pertimbangan itulah para pelaku bisnis hendaknya memiliki kesadaran
bahwasannya mencantumkan label halal sejatinya tidak saja melindungi aspek
keyakinan pengguna produk, tetapi juga akan lebih menguntungkan secara bisnis
yang menuntut kejujuran dan keterbukaan secara etis. Menjunjung norma-norma
etika tidak saja merupakan tuntutan agama, namun juga peraturan perundangan di
negara manapun di dunia.22

21
Muhammad Djakfar, Etika Bisnis, (Jakarta: Penebar Plus, 2012), Hal: 155
22
Ibid., Hal: 156

17
Demikian pula kehadiran lembaga advokasi, baik secara langsung
maupun tidak langsung berupaya untuk melindungi kepentingan konsumen yang
sering kali terabaikan, sehingga lebih banyak merugikan mereka. Kehadiran
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Komisi Perlindungan
Persaingan Usaha (KPPU) tidak sehat, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), LP-
POM Majelis Ulama Indonesia, dan lain sebagainya niscaya akan dapat lebih
banyak memberi harapan bagi konsumen guna melindungi kepentingannya.
Selama institusi itu mau berbuat adil, dalam arti mampu menyeimbangkan antara
kepentingan konsumen di satu sisi dan kepentingan konsumen di sisi lain. Apabila
tidak, maka niscaya kehadirannya akan tanpa makna karena tidak memberikan
keuntungan kepada semua pihak yang seringkali terjadi tarik-menarik
kepentingan. Karena itu bagaimanapun operasionalisasi semua institusi itu
sejatinya tanpa kecuali harus tetap berpegang teguh pada kode etik yang berlaku.23
Dalam pendekatan 'pasar' terhadap perlindungan konsumen, keamanan
konsumen dilihat sebagai produk yang paling efisien bila disediakan melalui
mekanisme pasar bebas di mana penjual memberikan tanggapan terhadap
permintaan konsumen. Jika konsumen menginginkan produk yang lebih aman,
mereka akan menunjukkan preferensi tersebut dengan bersedia membayar lebih
untuk membeli produk yang lebih aman, dan menunjukkannya pada produsen
yang menjual produk-produk yang aman serta mengabaikan produsen dari
produk-produk yang tidak aman. Pihak produsen harus menanggapi permintaan
itu dengan meningkatkan keamanan produk mereka, jika tidak, mereka akan
kehilangan konsumen karena diambil alih oleh pesaing yang memenuhi keinginan
konsumen. Jadi, pasar menjamin bahwa produsen memberikan tanggapan secara
memadai terhadap keinginan konsumen untuk memperoleh keamanan. Akan
tetapi, jika konsumen tidak memedulikan masalah keamanan dan tidak
menunjukkan kesediaan untuk membayar lebih untuk produk yang lebih aman
ataupun menunjukkan preferensi pada produk yang lebih aman, maka adalah salah
bila tingkat keamanan dinaikkan sedemikian tinggi melalui peraturan pemerintah

23
Muhammad Djakfar, Etika Bisnis, (Jakarta: Penebar Plus, 2012), Hal: 157

18
yang mewajibkan produsen meningkatkan keamanan produk-produk mereka lebih
tinggi dibandingkan permintaan konsumen.24

2.7 Aspek-Aspek yang Perlu Dilindungi: Perspektif Maqashid al-Syari’ah


Berbagai aspek yang perlu dilindungi sehubungan dengan perlindungan
konsumen dapat dilihat dari ajaran-ajaran maqashid al-syariah, yakni tujuan
pokok diberlakukannya ajaran syariah bagi manusia yang telah ditetapkan oleh
Allah SWT Yang Maha Rahman dan Rahim. Aspek-aspek tersebut meliputi
agama (dien), jiwa (nafs), akal (‘aql), keturunan (nasl), dan harta (maal).
Betapapun perlindungan dalam masalah agama merupakan hal yang
sangat fundamental sekali bagi para pemeluk agama tanpa kecuali bagi pemeluk
Islam (muslim) dimanapun mereka berada. Oleh sebab itu, perlindungan terhadap
keamanan keyakinan (faith) itu bagi konsumen perlu diprioritaskan sebelum
melindungi aspek-aspek yang lain. Kendati demikian, tidaklah berarti aspek yang
lain tidak penting diperhatikan karena pada dasarnya kelima aspek tersebut
merupakan sebuah kesatuan (unity) yang menjamin kesempurnaan konsumen
sebagai ihsan yang beragama.25
Melindungi agama (dien) dimaksudkan hendaknya keyakinan seorang
konsumen tidak bercerai karena mengonsumsi sebuah produk baik berupa
makanan, minuman maupun kosmetika yang secara umum banyak dikonsumsi
oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, kehadiran perundangan yang
mengharuskan pencantuman standarisasi halal setiap produk yang mulai banyak
digalakkan diberbagai negara adalah merupakan salah satu bentuk ekspresi
perlindungan terhadap kepentingan konsumen. Labelisasi halal akan
menghilangkan keraguan konsumen muslim atas sebuah produk, sekaligus akan
menjamin ketenangan dan keamanan mereka secara syar'i.26
Demikian pula perlindungan atas keselamatan jiwa (nafs) para konsumen
merupakan salah satu aspek yang tidak kalah krusialnya di antara aspek-aspek lain
yang patut mendapat perhatian oleh kalangan produsen. Artinya, jika sebuah
produk apakah dalam jangka pendek maupun panjang dapat menyebabkan

24
G. Velas Quez, Etika Bisnis ‘Konsep dan Kasus’, (Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2005), Hal 317-318
25
Ibid., Hal: 158
26
Muhammad Djakfar, Etika Bisnis, (Jakarta: Penebar Plus, 2012), Hal: 158-159

19
terganggunya jiwa, terlebih lagi menyebabkan kematian niscaya produk tersebut
sangatlah tidak etis untuk dipasarkan. Hanya demi keuntungan sesaat dan demi
kepentingan korporat, secara etis produsen tidak dibenarkan memasarkan sebuah
produk yang mengancam keselamatan jiwa, kendati bisa jadi konsumen sendiri
tidak tahu akibat yang akan menimpa dirinya. Disinilah sejatinya hati nurani para
produsen diuji ketulusan dan kearifannya untuk menyeimbangkan antara
kepentingan korporat di satu pihak dengan kepentingan konsumen di lain pihak.
Melindungi kesehatan (‘aql) agar tentu merupakan hal yang tidak kalah
pentingnya pula sebagai bagian dari perlindungan keamanan dan kenyamanan
konsumen. Akal merupakan anugerah Tuhan yang sangat vital dalam
kesempurnaan keberagaman seorang muslim. Tanpa akal sehat seseorang tidak
akan pernah menjadi “mukallaf” yang dibebani tanggung jawab untuk
melaksanakan kewajiban agama islam seperti salat, puasa, zakat, haji dan lain
sebagainya. Hal ini disebabkan ia dipandang sebagai manusia yang kurang
sempurna sehingga terlepas dari kewajiban-kewajiban syar’iy. Dalam kaitan ini,
dalam Islam dikenal ajaran “laa diina liman laa ‘aqla lahu” yang artinya tidak
akan dikenai kewajiban agama bagi seseorang yang tidak mempunyai akal
(sempurna-sehat)
Dalam Islam sangat dilarang penggunaan makanan maupun minuman
yang dapat merusak kesehatan akal karena kecenderungan akan mengganggu
seseorang dalam melaksanakan kewajiban yang diperintahkan agama. Dengan
alasan inilah sepertinya produsen dituntut agar segala macam produk yang
dihasilkan tidak berakibat terganggunya kesehatan penggunanya.
Demikian pula dalam kaitan dengan perlindungan terhadap keturunan
(nasl). Dalam hal ini produsen dituntut untuk memperhatikan keselamatan
konsumen dalam kaitan dengan masalah keturunan mereka. Perlu dihindari
menghasilkan dan memasarkan produk yang dapat mengganggu janin,
menyebabkan kemandulan atau bahkan menyebabkan terjadinya dekandensi
moral di kalangan anak muda yang semua itu akan menyeramkan harapan masa
depan keluarga dalam masyarakat. Mendapatkan keturunan yang sehat tentu
menjadi harapan semua keluarga agar tidak terjadi loss generation yang justru
sangat ditakuti oleh semua orang. Sama halnya dengan harapan agar anak-anak

20
keturunan dalam sebuah keluarga menjadi manusia yang berakhlak dan
bermanfaat sebagai pelanjut kedua orang tua dimasa yang akan datang.
Selanjutnya dalam kaitan dengan perlindungan terhadap harta (maal),
antara lain seyogyanya produsen maupun penjual menetapkan harga secara
proporsional antara jumlah (quantity) barang dengan harga yang harus
dikeluarkan konsumen. Perlu ada keseimbangan antara kualitas barang dengan
harga yang pantas dan wajar. Karena dengan menjual sebuah produk yang
sedemikian mahal niscaya akan mengganggu stabilitas ekonomi seseorang selaku
konsumen.

2.8 Tanggung Jawab Bisnis lainnya terhadap Konsumen

Dalam pasal sebelumnya kita telah mempelajari tanggung jawab moral


bisnis dalam menjamin keamanan produk. Biarpun banyak produk membawa
risiko tertentu untuk pemakai, khususnya risiko bagi keseelamatan dan kesehatan,
produsen berkewajiban membatasi risiko itu sampai seminimal mungkin. Selain
harus menjamin keamanan produk, bisnis mempunyai kewwajiban lain lagi
terhadap konsumen. Disini kita akan menyoroti tiga kewajiban moral lain yang
masing-masing berkaitan dengan kualitas produk, harganya, dan pemberian label
serta pengemasan (labeling and packaging).27

1. Kualitas produk

Dengan kualitas produk di sini dimaksudkan bahwa produk sesuai dengan


apa yang dijanjikan oleh produsen (melalui iklan atau informasi lainnya) dan apa
yang secara wajar boleh diharapkan oleh konsumen. Konsumen berhak atas
produk yang berkualitas, karena ia membayar untuk itu. Dan bisnis berkewajiban
untuk menyampaikan produk yang berkualitas, misalnya produk yang tidak
kadaluwarsa (bila ada batas waktu seperti obat-obatan atau makanan).

Salah satu cara yang biasanya ditempuh untuk menjamin kualitas produk
adalah memberikan garansi. Kita bisa membedakan dua macam garansi: eksplisit
dan implisit. Garansi bersifat eksplisit, kalau terjamin begitu saja dalam

27
K. Bertens, Pengantar Etika Bisnis, (Yogyakarta: Kanisius, 2000), Hal: 239-246

21
keterangan yang menyertai produk. Garansi eksplisit menyangkut ciri-ciri produk,
masa pemakaian, kemampuannya, dan sebagainya. Bila produk rusak dalam
jangka waktu tertentu, si penjual melibatkan diri untuk memperbaikinya atau
menggantikannya dengan produk baru. Garansi bersifat implisit, kalau secara
wajar bisa diandaikan, sekalipun tidak dirumuskan dengan terang-terangan. Hal
itu terjadi, bila dalam iklan atau promosi tentang produk dibuat janji tertentu atau
bila konsumen mempunyai harapan sesuai dengan hakikat produk. Misalnya, jika
dalam iklan dikatakan bahwa pisau atau perabot rumah tangga lain bebas karat,
saya berhak mendapat pisau baru atau uang dikembalikan, kalau pisau yang saya
beli pada kenyataannya berkarat.

2. Harga

Harga merupakan buah hasil perhitungan faktor-faktor seperti biaya


produksi, biaya investasi, promosi, pajak, ditambah tentu laba yang wajar. Dalam
sistem ekonomi pasar bebas, sepintas lalu rupanya harga yang adil adalah hasil
akhir dari perkembangan daya-daya pasar. Kesan spontan adalah bahwa harga
yang adil dihasilkan oleh tawar-menawar sebagaimana dilakukan di pasar
tradisional, di mana si pembeli sampai pada maksimum harga yang mau ia bayar
dan si penjual sampai pada mimimum harga yang mau ia pasang. Transaksi
terjadi, bila maksimum dan minimum itu bertemu. Dalam hal ini mereka tentu
dipengaruhi oleh para pembeli dan penjual lain di pasar dan harga yang mau
mereka bayar atau pasang. Jika penjual lain menawarkan barangnya dengan harga
lebih murah, tentu saja para pembeli akan pindah ke tempat itu. Harga bisa
dianggap adil karena disetujui oleh semua pihak yang terlibat dalam proses
pembentukannya. Pengaruh pasar memang merupakan prinsip etis yang penting
dalam menentukan harga.

3. Pengemasan dan pemberian label

Pengemasan produk dan label yang ditempelkan pada produk merupakan


aspek bisnis yang semakin penting. Selain bertujuan melindungi produk dan
memungkinkan mempergunakan produk dengan mudah, kemasan berfungsi juga
untuk mempromosikan produk, terutama di era took swalayan sekarang.

22
Pengemasan dibuat sedapat mungkin menarik, untuk meraih lebih banyak
pembeli. Di samping itu pengemasan dan label memberi informasi tentang
produk. Misalnya, pada kemasan makanan dan obat-obatan diberi informasi
tentang isinya, beratnya, berapa lama bisa disimpan, dan sebagainya. Di banyak
Negara hal seperti itu malah diwajibkan berdasarkan peraturan hukum.

2.9 Beragam Modus Penyimpangan


Diantara modus penyimpangan yang seringkali atau rentan dilakukan baik
oleh produsen maupun penjual adalah dalam bentuk kualitas (quality),
mengurangi kuantitas (quantity) dan melambungkan harga (mark up/over price).
Betapa sulit kiranya bagi produsen maupun penjual untuk menghindari ketiga
modus tersebut sehingga mereka akan terlepas dari praktik bisnis hitam yang tidak
terpuji.28
Ada tiga masalah pokok yang seringkali mengundang penyimpangan
dalam kaitan dengan pelayanan penjual terhadap pembeli, yaitu penetapan mutu
barang, penawaran harga dan kejujuran timbangan (sukatan). Atau dengan kata
lain, paling tidak ada tiga kerawanan penyimpangan nilai-nilai etis yang bisa
dilakukan penjual sehingga bisa merugikan hak pembeli, yaitu yang berkaitan
dengan manipulasi mutu barang, penawaran harga dan manipulasi timbangan
(sukatan).29
Mengurangi kualitas misalnya, dalam praktik seorang penjual mengatakan
kepada pembeli bahwa barang yang dijual berkualitas nomor satu, padahal
sejatinya yang dijual adalah kualitas di bawahnya. Bagi penjual praktek ini tentu
menguntungkan secara material, tapi rugi secara moral, karena jelas telah
merugikan konsumen secara materi yang sejatinya perlu dilindungi. Dalam
perspektif islam, perolehan harta yang tidak jujur akan menghilangkan
keberkahan, karena diraih oleh pendosa yang tidak terhormat baik di hadapan
manusia, terlebih lagi di hadapan Tuhan Yang Maha Adil.

28
Muhammad Djakfar, Etika Bisnis, (Jakarta: Penebar Plus, 2012) Hal: 160
29
Iwan Triyuwono, Anatomi Perilaku Bisnis ‘Dialektika Etika dengan Realitas’, (Malang: UIN Press,
2009), Hal: 348

23
Demikian pula dalam kaitan dengan aspek kualitas (berat-ukuran) tidak
jarang yang telah banyak mengantar produsen maupun penjual ke lembah amoral
yang sangat tidak terpuji, sehingga kepada pelakunya Allah SWT mengganjar
dengan neraka. Karakteristik koruptor timbangan ini dalam al-Qur’an dilukiskan,
apabila menjual ia mengurangi timbangan. Sebaliknya, jika membeli,
berkecenderungan ia akan menambah berat timbangan, yang semuanya itu akan
merugikan pihak lain karena telah keluar dari orbital etika yang sejatinya perlu
dijunjung tinggi oleh semua pihak.

24
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dalam undang-undang republik indonesia nomor 8 tahun 1999 tentang
perlindungan konsumen, konsumen didefinisikan sebagai “setiap orang pemakai
barang atau jasa yang tersedia dalam masyarakat baik bagi kepentingan diri
sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk yang lain dan tidak untuk
diperdagangkan”. Kerangka perlindungan konsumen sebagaimana kita ketahui
sekarang ini dibentuk selama pemerintah Kennedy. Di dalam pidatonya di depan
kongres mengenai konsumen pada tahun 1962, presiden Kennedy
menggambarkan 4 hak konsumen. Keempat hak yang digambarkan meliputi hak
atas keamanan, hak untuk didengar, hak untuk memilih dan hak untuk mendapat
informasi. Pesan dan perundang-undangan yang dihasilkan sebagai dasar untuk
gerakan konsumen sekarang ini.
Kehadiran sebuah peraturan perundangan merupakan keniscayaan untuk
menjamin kepastian hukum bagi setiap pencari keadilan untuk menjamin rasa
aman, nyaman, dan tenang dalam kehidupan. Tanpa adanya perundangan yang
berfungsi mengatur hubungan secara khusus atas hak dan kewajiban konsumen
akan mengundang kecurangan kalangan produsen yang akan melahirkan hak-hak
konsumen.
Berbagai aspek yang perlu dilindungi sehubungan dengan perlindungan
konsumen dapat dilihat dari ajaran-ajaran maqashid al-syariah, yakni tujuan
pokok diberlakukannya ajaran syariah bagi manusia yang telah ditetapkan oleh

25
Allah SWT Yang Maha Rahman dan Rahim. Aspek-aspek tersebut meliputi
agama (dien), jiwa (nafs), akal (‘aql), keturunan (nasl), dan harta (maal).
Diantara modus penyimpangan yang seringkali atau rentan dilakukan baik
oleh produsen maupun penjual adalah dalam bentuk kualitas (quality),
mengurangi kuantitas (quantity) dan melambungkan harga (mark up/over price).
Betapa sulit kiranya bagi produsen maupun penjual untuk menghindari ketiga
modus tersebut sehingga mereka akan terlepas dari praktik bisnis hitam yang tidak
terpuji. Sehingga perlu yang namanya ketercukupan regulasi yang berfungsi
menjamin kepastian hukum bagi konsumen, selain juga perlu adanya lembaga
advokasi yang dapat turut membela kepentingan mereka, kapan pun dan di mana
pun saja. Instrumen ini hanya akan berjalan secara efektif jika didukung oleh
nilai-nilai etika yang harus dihormati oleh para pelakunya.

26