Anda di halaman 1dari 2

Berbisnis Secara Jujur

Pebisnis yang jujur adalah sosok yang setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu bisa dipegang atau
bisa dipercaya. Pebisnis seperti ini akan menepati semua janjinya bukan karena takut dicap sebagai
scorang pembohong, melainkan semata-mata karena memang itulah keasliannya. Ia menyadari bahwa
berjanji kepada rekan bisnis, kepada karyawan bahkan kepada buruh sekalipun merupakan sesuatu yang
benar dan baik pada dirinya sendiri, karenanya wajib ia tepati. Ia menempatkan harga

dirinya ke ujung lidahnya. Konsekuensi logisnya, ia tidak akan pernah membiarkan dirinya, khususnya
harkat dan martabatnya dirusak oleh lidahnya sendiri. Pebisnis seperti ini akan menyingkirkan segala
macam tameng dan kedok jauh-jauh dari dirinya. Akibatnya? Semua yang diperintahkan kepada
bawahannya atau apa yang disampaikan kepada mitra-mitra bisnisnya adalah wajar, hal ini pasti bisa
dilakukan karna mereka memang percaya kepadanya. Mereka percaya kepada ucapan-ucapannya dan
juga arahan-arahannya. Pada aras ini, pebisnis identik dengan pemimpin yang selalu melaksanakan apa
yang dikotbahkan atau apa yang dipidatokan. Konsekuensinya, karyawan-karyawati atau buruh akan
memberikan diri sepenuhnya untuk dipimpin olehnya. Tidak hanya itu, kepada pebisnis model ini, tanpa
segan semua bawahan atau pengikut akan memercayakan hidup dan masa depan mereka.

Sama halnya bagi karyawan, pekerja, atau buruh (internal), seorang pebisnis di mata rekan, mitra bisnis,
atau dari pihak luar. Dia adalah orang yang lurus dan dalam kelurusannya dia tidak mudah untuk diajak
berbelok. Kekuatan batin dan kelurusan hati dengan sendirinya akan menggerakkan rekan dan mitra
bisnis untuk berlaku lurus dan tulus kepadanya. Namun, apa dampak konkret bagi bisnisnya? Kejujuran
selalu berbuah manis. Perusahaan atau bisnis yang dioperasikan dengan jujur merupakan perusahaan
sungguhan. Perusahaan sungguhan adalah perusahaan yang berperspektif kelanggengan atau keasrian.
Perusahaan yang berumur panjang pastilah perusahaan yang selalu memperoleh keuntungan dengan
tidak mengorbankan perusahaan lain, termasuk para pebisnisnya dan orang-orang lain yang terkena
dampak dari perusahaan-perusahaan tersebut. Singkatnya, perusahaan atau bisnis yang dioperasikan di
atas norma kejujuran akan diterima dan ikut dipertahankan oleh masyarakat luas. Masyarakat akan
selalu mendambakan produk-produknya karena percaya kepada pengusaha dan semua yang terlibat
secara operasional dalam perusahaan tcrscbut, khususnya dalam hal kualitas dan harga produknya. Lebih
lagi, perusahaan yang dioperasikan dengan jujur adalah perusahaan yang secara aktif ikut serta dalam
program pembangunan ekonomi nasional, mewujudkan kesejahteraan sosial-ekonomi bagi seluruh
rakyat, apalagi jika disertai dengan keadilan .

Berbisnis Secara Adil

Di satu pihak, seorang pebisnis yang baik adalah pengusaha yang berhasil meraup keuntungan ekonomis
sebanyak-banyaknya. Namun, pada saat yang sama masyarakat justru mengharapkan yang sebaliknya.
Bagi masyarakat umum, seorang pebisnis yang baik seharusnya juga adalah seseorang yang baik secara
moral. Untuk itulah etika memang mendesak dan perlu bagi para pebisnis. Mereka semestinya
menyadari bahwa keuntungan ekonomis atau keuntungan bisnis dapat diperoleh dengan tidak perlu
mengorbankan hak-hak pihak-pihak lain. Kesadaran seperti itu harusnya diwujudkan dalam perilaku-
perilaku konkret kepada semua pihak yang terjaring dalam bisnis. Para pebisnis tidak boleh berhenti
dengan hanya menyadari pentingnya keadilan sebagai norma moral, melainkan harus menerapkan
norma keadilan itu dalam ketusan-keputusan dan kebijakan-kebijakan konkret di tempat usaha atau
bisnisnya. Mereka wajib memberikan kepada pihak lain (karyawan, buruh, dan mitra) apa yang menjadi
hak-hak mereka.

Berbisnis Secara Bertanggung Jawab

Seorang pebisnis adalah orang yang bebas. Ia bebas merencanakan, mengorganisasikan staff dan
karyawannya, mempoduksikan barang dagangan, mengorganisasikan penjualannya kepada siapa saja. Ia
juga bebas memilih dan menetapkan manajer atau karyawannya sendiri. Ia bebas memilih dan
menetapkan siapa yang seharusnya menjadi mitra bisnisnya. Semuanya dilakukan berdasarkan pilihan
dan kehendak bebasnya. Kebebasan di sini hanya berarti “bebas dari” hambatan-hambatan eksternal
untuk melakukan suatu tindakan yang didasarkan pada pilihan bebas dan kehendak baik, bukan untuk
melakukan apa saja yang ia mau. Ia memang bebas, tetapi dalam kebebasannya ia juga harus selalu siap
untuk mempertanggungjawabkan semua akibat atau dampak yang muncul karena penggunaan
kebebasannya tersebut. Kata mempertanggungjawabkan kebebasan di sini berarti bahwa pebisnis tidak
hanya menuntut agar semua haknya dipenuhi, melainkan juga ia harus selalu siap memberikan apa yang
menjadi hak pihak-pihak yang dituntuk untuk melaksanakan semua kewajiban terhadap dirinya. Ia harus
melaksanakan segala sesuatu yang dijanjikannya dan yang akan dijanjikannya secara konsisten dan
konsekuen dengan semua pihak. Kepada para karyawan, misalnya ia harus membayarkan upah atau gaji
mereka tepat waktu, memberikan hak cuti, menciptakan kondisi kerja yang memadai, memerhatikan
keselamatan pekerja, dan lain-lain. Kepada para pemasok atau pelanggan dan semua mitra bisnis, ia
wajib menetapi semua kesepakatan dengan mereka, memberikan pelayanan yang baik, wajib menjaga
mutu produk dan memberikan hak tanya dan hak klaim. Sebaliknya, kepada pihak karyawan atau
pekerja, ia dapat menuntut mereka untuk melaksanakan tugas-tugas dan kewajiban-kewajiban mereka
sebagaimana tertera dalam Kesepakatan Kerja Bersama atau KKB. Dalam konteks ini, loyalitas
merupakan jawaban karyawan atau pekerja yang dituntut pebisnis atau pimpinan perusahaan.
Sementara apa yang diberikan pebisnis kepada pemasok, pelanggan, dan mitra bisnis, hal yang sama
juga akan diberikan kepadanya.