Anda di halaman 1dari 12

1

A. Judul : Pemanfaatan Limbah Air Kelapa sebagai Auxin Pada Bahan Stek

Terhadap Pertumbuhan Turus Mucuna bracteata

B. Latar Belakang Masalah

Pada pengelolaan perkebunan kelapa sawit kebijakan membangun

kacangan penutup tanah sudah lama dilaksanakan terutama pada pertanaman

muda. Penanaman kacangan ini bertujuan untuk menanggulangi erosi

permukaan dan pencucian hara tanah, memperkaya bahan organik, fiksasi

Nitrogen untuk memperkaya hara N tanah, memperbaiki struktur tanah, dan

menekan pertumbuhan gulma (Pahan, 2006).

Penggunaan kacangan konvensional seperti Pueraria phaseoloides,

Calopagonium cereleum, dan Centrosema pubescent sering kali tidak mampu

menekan pertumbuhan gulma – gulma tertentu. Di samping itu, kacangan

konvensional tersebut umumnya sangat digemari ternak–ternak ruminansia

seperti lembu dan kambing, serta tidak toleran terhadap naungan. Untuk

mengatasi kelemahan – kelemahan tersebut, maka pada saat ini diperkenalkan

jenis kacangan yang memiliki keunggulan lebih dibandingkan LCC

konvensional yaitu Mucuna bracteata. Tanaman ini merupakan kacangan

yang tumbuh dengan cepat, pesaing gulma yang handal (menghasilkan

senyawa allelopati yang relative berspektrum luas bagi berbagai jenis gulma

perkebunan), kemampuan memfiksasi N yang tinggi, sangat toleran terhadap

naungan, dan tidak disukai oleh hama dan ternak (Harahap et al, 2008).

Pembiakan tanaman M. bracteata dilakukan secara generatif dan

vegetatif. Pembiakan secara generatif memungkinkan terjadinya perubahan


2

sifat genetic dari pohon induknya, tanaman yang dihasilkan tidak seragam dan

jangka produksinya relatif lama. Oleh karena itu pemenuhan kebutuhan bibit

dalam rangka peremajaan dan pembukaan kebun kelapa sawit, lebih

ditekankan pembiakan secara vegetatif. Pembiakan vegetatif pada tanaman M.

bracteata umumnya dilakukan secara penurusan. Penurusan mempunyai

beberapa kebaikan yaitu tidak adanya masalah tunas palsu (Cramer, 1934, in.

Sastrowiratmo, 1988), tidak memerlukan keahlian khusus dalam

pelaksanaannya, biaya lebih murah (Vasudewa, 1983, in. Sastrowiratmo,

1988), bibit yang dihasilkan relatif lebih seragam dan keberhasilannya tinggi

(Hearer, 1970).

C. Perumusan Masalah

Pada penelitian ini akan dicoba perbanyakan secara vegetatif dengan

menggunakan auksin yaitu Limbah Air Kelapa dengan pertimbangan Air

Kelapa mudah didapatkan dan harganya lebih murah dibandingkan dengan

auksin lainnya, tetapi kandungan auksinnya lebih rendah. Dengan kandungan

auksin yang lebih rendah maka akan diteliti dengan berbagai tingkat

kosentrasi yang berbeda untuk mengetahui perbedaan pertumbuhan Mucuna

bracteata.

D. Tujuan

Penelitian ini bertujuan:

1. Untuk mengetahui pengaruh Bahan Stek dan Air Kelapa terhadap

pertumbuhan Mucuna bracteata.


3

2. Untuk mengetahui konsentrasi Air Kelapa pada bahan stek yang

terbaik.

E. Luaran yang Diharapkan

1. Air Kelapa berpengaruh terhadap beberapa perlakuan dan konsentrasi.

2. Terjadi interaksi Kelapa dan bahan stek ruas ke-7 pada bagian tengah

memberikan hasil yang terbaik.

F. Kegunaan

Penelitian ini merupakan usaha untuk mengetahui pengaruh Bahan

Stek dan Air Kelapa terhadap pertumbuhan Mucuna bracteata, diharapkan

dapat memberikan solusi usaha dalam memenuhi kebutuhan tanaman penutup

tanah secara cepat pada perkebunan kelapa sawit.

G. Tinjauan Pustaka

Introduksi kacangan yang lebih tahan naungan dilakukan oleh Golden

Hope di Malaysia pada tahun 1991 dari Negara bagian Kerala, India bagian

Selatan. Kacangan ini cukup toleran terhadap semua lokasi tumbuh, namun

untuk tumbuh secara optimal kacangan juga memerlukan syarat tumbuh

tertentu yang berkaitan dengan faktor iklim dan tanah. Selain itu, jenis

kacangan ini juga memiliki spesies lain dalam genus yang sama seperti

Mucuna cochichinensis yang sudah dikenal sebelumnya sebagai kacangan

penutup tanah, Mucuna pruriens, Mucuna macrocarpa, Mucuna hubery,

Mucuna killipiana, Mucuna gigantean, dan lain sebagainya yang sampai saat

ini masih belum dieksplorasi (Harahap et al, 2008).


4

Walaupun kacangan ini termasuk kedalam jenis kacangan penutup

tanah baru di bidang perkebunan tanah air, tetapi jenis kacangan ini sudah

pernah dipelajari dan telah disusun system klasifikasinya sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Division : Spermathophyta

Kelas : Dicotyledoneae

Ordo : Rosales

Famili : Leguminosae

Genus : Mucuna

Spesies : Mucuna bracteata

Di perkebunan kelapa sawit pada umumnya selama masa tanaman

belum menghasilkan atau sebelum tajuk saling menutup gawangan ditanami

dengan tanaman penutup tanah leguminosa yang merambat atau legume

cover crop (LCC). Dalam budidaya tanaman kelapa sawit, pengelolaan LCC

selama periode belum menghasilkan sudah merupakan standar baku teknis.

Walaupun sudah terbukti berdampak positif, penanaman LCC pada

perkebunan rakyat kurang berkembang. Hal ini disebabkan karena pekebun

tidak dapat merasakan keuntungannya secara langsung dari tanaman penutup

tanah. Meskipun secara umum kelapa sawit memiliki kemampuan tumbuh

yang lebih baik pada tanah-tanah bermasalah dari pada tanaman pangan,

ternyata perlu juga diperhatikan lingkungan tumbuhnya. Ekosistem tanaman


5

kelapa sawit tanpa adanya penutup tanah sangat membahayakan kestabilan

lingkungan dibanding dengan hutan belukar (Siregar, 1984).

Zat pengatur tumbuh pada tanaman adalah senyawa organik yang

bukan hara (nutrient), yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung (promote),

menghambat (inhibit) dan dapat merubah proses fisiologi tumbuhan (Abidin,

1982).

Auxin adalah senyawa yang dicirikan oleh kemampuannya dalam

mendukung terjadinya perpanjangan sel pada pucuk, dengan struktur kimia

dicirikan oleh adanya Indole ring. Sedangkan yang dimaksud dengan

Gibberellin skeleton, menstimulasi pembelahan sel, perpanjang sel atau

keduanya. Zat pengatur tumbuh yang ketiga adalah Cytokinin, zat pengatur

tumbuh ini adalah senyawa yang mempunyai bentuk dasar Adenie (6-amino

purine) yang mendukung terjadinya pembelahan sel. Zat pengatur tumbuh

yang keempat yaitu Ethylene, senyawa ini sangat sederhana sekali yang terdiri

dari 2 atom karbon dan 4 atom hydrogen. Dalam keadaan normal zat pengatur

tumbuh ini akan berbentuk gas, mempunyai peranan dalam proses pematangan

buah dalam fase climacteric. Zat pengatur tumbuh yang terakhir yaitu

Inhibitor, adalah kelompok zat pengatur tumbuh yang menghambat dalam

proses biokimia dan fisiologis bagi aktivitas keempat zat pengatur tumbuh di

atas. Kelima zat pengatur tumbuh ini, secara sintetis telah dibuat untuk

keperluan pertanian dan penelitian, yang kemungkinan akan bermanfaat bagi

bidang ilmu pengetahuan alam dan pertanian (Abidin, 1982).


6

Hasil penelitian menunjukkan bahwa air kelapa kaya akan potasium

(kalium) hingga 17 %. Selain kaya mineral, air kelapa juga mengandung gula

antara 1,7 sampai 2,6 % dan protein 0,07 hingga 0,55 %. Mineral lainnya

antara lain natrium (Na), kalsium (Ca), magnesium (Mg), ferum (Fe), cuprum

(Cu), fosfor (P) dan sulfur (S). Disamping kaya mineral, air kelapa juga

mengandung berbagai macam vitamin seperti asam sitrat, asam nikotinat,

asam pantotenal, asam folat, niacin, riboflavin, dan thiamin. Terdapat pula 2

hormon alami yaitu auksin dan sitokinin sebagai pendukung pembelahan sel

embrio kelapa.

Penelitian di National Institute of Molecular Biology and

Biotechnology (BIOTECH) di UP Los Banos mengungkapkan bahwa dari air

kelapa dapat diekstrak hormon yang kemudian dibuat suatu produk suplemen

disebut cocogro. Hasil penlitian menunjukkan bahwa produk hormon dari air

kelapa ini mampu meningkatkan hasil kedelai hingga 64 %, kacang tanah

hingga 15 % dan sayuran hingga 20-30 %. Dengan kandungan unsur kalium

yang cukup tinggi, air kelapa dapat merangsang pembungaan pada anggrek

seperti dendrobium dan phalaenopsis.

Air kelapa ternyata memiliki manfaat untuk meningkatkan

pertumbuhan tanaman. Air kelapa yang sering dibuang oleh para pedagang di

pasar tidak ada salahnya untuk kita manfaatkan sebagai penyubur tanaman.

Selama ini air kelapa banyak digunakan di Lab sebagai nutrisi tambahan di

dalam media kultur jaringan.


7

Air kelapa sebagai cadangan makanan yang mengandung vitamin

dan zat tumbuh, sehingga dapat menstimulir perkecambahan. Air kelapa

mengandung zat atau bahan seperti; vitamin, asam amino, asam nukleat

fosfor, dan zat tumbuh auksin dan asam giberelat. Yang berfungsi sebagai

penstimulir dalam proliferasi jaringan, memperlancar metabolisme dan

respirasi. Oleh karena itu air kelapa mempunyai kemampuan besar untuk

mendorong pembelahan sel dan proses deferensiasi. Konsentrasi optimum air

kelapa yang diberikan 15% (Tulecke et al, 1960).

H. Metode Pelaksanaan

1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Kebun Pendidikan dan Penelitian (KP2)

Institut Pertanian Stiper Yogyakarta yang terletak di Desa Maguwoharjo,

Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Waktu

Penelitian dilaksanakan dari bulan November 2010 sampai bulan Februari

2011.

2. Alat dan Bahan

a. Alat yang digunakan adalah timbangan analitik, gunting stek, cangkul,

gembor, ember, meteran, martil, paku, kawat, selang, penggaris dan alat

tulis.

b. Bahan yang digunakan adalah Air Kelapa, air, polibag, plastik, paranet,

bambu, tanah top soil, pupuk kandang, dan stek Mucuna bracteata.

3. Metode Penelitian
8

Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak

Lengkap (RAL) atau Completely Randomized Design (CRD) yang terdiri

dari 2 Faktor.

Faktor pertama yaitu kosentrasi Rotone F terdiri atas 4 aras

(R0) Kontrol

(R1) 20 %

(R2) 40 %

(R3) 60 %

Faktor kedua yaitu Bahan Stek terdiri atas 3 aras

(S3) Ruas ke-3

(S7) Ruas ke-7

(S11) Ruas ke-11

Dari kedua perlakuan diperoleh 12 kombinasi perlakuan dari masing-

masing kombinasi sebanyak 5 sampel dan diulang 3 kali. Jumlah bibit yang

diperlukan untuk percobaan adalah (4 x 3) x 5 x 3 = 180 tanaman.

4. Pengamatan

Pengamatan dilakukan 2 hari sekali, tujuannya untuk mendapatkan

perbedaan pertumbuhan yang akan diamati adalah :

a. Persentase stek yang hidup


9

Banyaknya stek yang hidup (warna masih hijau dan bertunas) dari setiap

kombinasi perlakuan pada setiap ulangan setiap 2 minggu.

b. Persentase stek berakar

Banyaknya stek yang berakar dari setiap kombinasi perlakuan pada setiap

ulangan di akhir penelitian setelah stek berumur 3 bulan.

c. Tinggi bibit (cm)

Tinggi bibit diukur dari pangkal atau dasar batang sampai ke ujung daun

termuda yang telah berkembang pada akhir percobaan.

d. Jumlah daun

Jumlah daun dihitung dengan menghitung seluruh daun yang telah

membuka sempurna setiap 2 minggu.

e. Berat segar tanaman

Tanaman terlebih dahulu dibersihkan dari tanah yang mungkin masih

melekat pada akar dan batang pada akhir percobaan.

f. Berat kering tanaman


10

Tanaman yang telah dibersihkan dimasukkan ke dalam oven, pada suhu

70oC sampai berat dalam keadaan konstan kemudian ditimbang

menggunakan timbangan analitis pada akhir percobaan.

g. Berat segar akar tanaman

Akar tanaman terlebih dahulu dibersihkan dari tanah yang mungkin masih

melekat pada akar kemudian ditimbang menggunakan timbangan analitis

pada akhir percobaan.

h. Berat kering akar tanaman

Akar tanaman yang telah dibersihkan dimasukkan ke dalam oven, sampai

dalam keadaan konstan kemudian ditimbang menggunakan timbangan

analitis pada akhir percobaan.

I. Jadwal Kegiatan

No. Macam Kegiatan Bulan ke-


1 2 3 4 5 6
1. Persiapan Penelitian
2. Pengisian Polibag dan Penanaman
3. Pemeliharaan Tanaman
4. Analisis Jaringan Tanaman
5. Analisis Data
6 Penulisan dan Pelaporan Penelitian
11

J. Rancangan Biaya

1. Bahan Habis Pakai :


a. Paranet untuk naungan = Rp 1. 900.000,-
b. Bambu untuk kerangka naungan = Rp 300.000,-
c. Plastik untuk sungkup = Rp 500.000,-
d. Gunting Stek = Rp 200.000,-
e. Ember Plastik Besar = Rp 100.000,-
f. Cangkul = Rp 100.000,-
g. Gembor = Rp 140.000,-
h. Sarung Tangan Plastik = Rp 100.000,-
i. Meteran = Rp 100.000,-
j. Martil = Rp 100.000,-
k. Paku = Rp 100.000,-
l. Kawat = Rp 100.000,-
m.Selang = Rp 200.000,-
n. Alat Tulis = Rp 100.000,-
--------------------- +
Jumlah ( 1 ) = Rp 4.040.000,-

2. Peralatan Penunjang PKM-P


a. Kertas HVS 3 Rim a Rp 30.000,- = Rp 90.000,-
b. Tinta Printer = Rp 400.000,-
c. Fotokopi = Rp 200.000,-
d. Flasdisk = Rp 200.000,-
---------------------- +
Jumlah ( 2 ) = Rp 890.000,-

3. Perjalanan
a. Transport luar kota 4 orang pp @ Rp 500.000,- = Rp 2.000.000,-
b. Transport lokal 4 orang x 7 kali pp = Rp 900.000,-
( Perijinan, kegiatan, surat-surat )
12

---------------------- +
Jumlah (3 ) = Rp 2.900.000,-

4. Lain-lain
a. Biaya analisis laboratorium untuk timbang berat = Rp 900.000,-
b. Biaya analisis data = Rp 500.000,-
c. Dokumentasi = Rp 200.000,-
d. Laporan dan Publikasi = Rp 300.000,-
e. Pemantauan Internal = Rp 270.000,-
---------------------- +
Jumlah (4 ) = Rp 2.170.000,-

JUMLAH TOTAL = Rp 10.000.000,-


( Sepuluh Juta Rupiah )