Anda di halaman 1dari 8

Analisis Kasus Audit SNP Finance

1. Menetapkan objektivitas
Menteri Keuangan Republik Indonesia menjatuhkan sanksi administratif kepada masing-
masing Akuntan Publik Marlinna, Akuntan Publik Merliyana Syamsul, dan Kantor Akuntan
Publik (KAP) Satrio Bing, Eny & Rekan (Deloitte Indonesia). Sanksi ini diberlakukan
sehubungan dengan pengaduan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menginformasikan adanya
pelanggaran prosedur audit oleh KAP. Kemudiaan Kementerian Keuangan dalam hal ini Pusat
Pembinaan Profesi Keuangan (PPPK) melakukan analisis pokok permasalahan dan
menyimpulkan bahwa terdapat indikasi pelanggaran terhadap standar profesi dalam audit yang
dilakukan oleh kedua akuntan publik dalam pelaksanaan audit umum atas laporan keuangan PT
Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance) tahun buku 2012 s.d. 2016. Hasil pemeriksaan
menyimpulkan bahwa Akuntan Publik Marlinna dan Merliyana Syamsul belum sepenuhnya
mematuhi Standar Audit-Standar Profesional Akuntan Publik dalam pelaksanaan audit umum
atas laporan keuangan SNP Finance.

2. Identifikasi Permasalahan
Kasus ini pada dasarnya adalah pengaduan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang
menginformasikan adanya pelanggaran prosedur audit oleh KAP. Kementerian Keuangan dalam
hal ini Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (PPPK) menyimpulkan bahwa Akuntan Publik
Marlinna dan Merliyana Syamsul belum sepenuhnya mematuhi Standar Audit-Standar
Profesional Akuntan Publik dalam pelaksanaan audit umum atas laporan keuangan SNP Finance.
Hal-hal yang belum sepenuhnya terpenuhi adalah pemahaman pengendalian sistem informasi
terkait data nasabah dan akurasi jurnal piutang pembiayaan, pemerolehan bukti audit yang cukup
dan tepat atas akun Piutang Pembiayaan Konsumen dan dalam meyakini kewajaran asersi
keterjadian dan asersi pisah batas akun Pendapatan Pembiayaan, pelaksanaan prosedur yang
memadai terkait proses deteksi risiko kecurangan serta respons atas risiko kecurangan, dan
skeptisisme profesional dalam perencanaan dan pelaksanaan audit.

3. Analisis Permasalahan
Dengan hasil keputusan yang disimpulkan oleh Kementerian Keuangan dalam hal ini Pusat
Pembinaan Profesi Kuangan (PPPK) menyebutkan bahwa kedua Akuntan Publik tersebut belum
sepenuhnya paham mengenai:
a. Pengendalian sistem informasi yang terkait data nasabah dan akurasi jurnal piutang
pembiayaan. Kurangnya pemahaman mengenai Sistem Informasi Pengendalian Intern
Piutang menyebabkan sulitnya dalam pengelompokan data nasabah yang belum membayar
dan jatuh tempo. Dengan ketidakpahaman yang minim tersebut akan menjadikan
perhitungan piutang menjadi sulit dan tidak akurat.
b. Pemerolehan bukti audit yang cukup dan tepat atas akun Piutang Pembiayaan Konsumen
dan dalam meyakini kewajaran asersi keterjadian dan asersi pisah batas akun Pendapatan
Pembiayaan. Kurangnya pemerolehan bukti audit atas akun Piutang Pembiayaan
Konsumen menandakan bahwa Akuntan Publik tersebut tidak memahami tentang prosedur
audit awal terhadap piutang usaha dan prosedur analitik atas piutang usaha. Untuk
meyakini kewajaran asersi keterjadian dan asersi pisah batas akun Pendapatan Pembiayaan,
auditor perlu mengidentifikasi dan menyusun sejumlah tujuan audit spesifik untuk setiap
akun laporan keuangan, dengan melihat tujuan audit spesifik tersebut auditor akan dapat
mengidentiikasi bukti apa yang dapat dihimpun dan bagaimana cara menghimpun bukti
tersebut.
c. Pelaksanaan prosedur yang memadai terkait proses deteksi risiko kecurangan serta respons
atas risiko kecurangan. Terdapat tiga kondisi yang menyebabkan terjadinya kecurangan
dalam laporan keuangan dan penyalahgunaan aset sebagaimana dijelaskan dalam PSA 70
(SA 316). Tiga kondisi tersebut dinamakan segitiga kecurangan (fraud triangle) yaitu
tekanan/insentif, kesempatan, dan sikap/rasionalisasi.
d. Skeptisisme profesional dalam perencanaan dan pelaksanaan audit. Skeptisme
menunjukkan bahwa auditor telah, dan terus dididik dan dilatih untuk menerapkan
keahliannya dalam mengambil keputusan sesuai standar profesionalnya. Hal ini
menandakan bahwa kedua Akuntan Publik tersebut selalu meragukan dan mempertanyakan
segala sesuatu, dan menilai secara kritis bukti audit serta mengambil keputusan audit
berlandaskan keahlian auditing yang dimilikinya.
Selain hal tersebut, sistem pengendalian mutu yang dimiliki oleh KAP mengandung
kelemahan karena belum dapat melakukan pencegahan yang tepat atas ancaman kedekatan
berupa keterkaitan yang cukup lama antara personel senior (manajer tim audit) dalam perikatan
audit pada klien yang sama untuk suatu periode yang cukup lama.

4. Penyebab Masalah
Kurangnya pemahaman peran auditor menjadi penyebab utama dalam kasus ini. Menurut
saya, kedua Akuntan Publik dan satu Kantor Akuntan Publik (KAP) tersebut masih belum
memahami peran, tugas dan tanggung jawab sebagai auditor serta masih minimnya cara untuk
menganalisa, menilai saran dan komentar mengenai kegiatan yang diperiksanya. Disini peran
auditor sangat penting. Jadilah seorang audit profesional yang mengedepankan nilai etis,
kejujuran, serta memiliki kredibiitas yang tinggi terhadap kebenaran pencatatan laporan
keuangan.

5. Memutuskan Solusi Terbaik


Dengan dijabarkan mengenai hal-hal yang dilanggar oleh akuntan publik Marlinna dan
Merliyana Syamsul dan Kantor Akuntan Publik (KAP) Satrio Bing Eny & Rekan (Deloitte
Indonesia), maka dapat disimpulkan:
a. Pengendalian intern piutang dikenal sebagai suatu fase yang sangat penting dalam proses
pengelolaan keuangan, ketidak berhasilan pengelolaan piutang akan mempengaruhi
kelancaran auditor dalam menjalankan operasinya. Sebagai auditor juga harus paham betul
tentang cara kerja sistem informasi keuangan. Apabila mengetahui cara kerja Sistem
Informasi Pengendalian Intern Piutang maka akan mudah dalam mengelompokan data
nasabah yang belum membayar dan jatuh tempo. Sehingga menjadikan perhitungan denda
keterlambatan piutang menjadi lebih mudah dan akurat.
b. Kurangnya pemerolehan bukti audit yang cukup dan tepat atas akun Piutang Pembiayaan
Konsumen. Hal tersebut ada pada perencanaan audit siklus piutang. Auditor harus
memahami prosedur analisis tentang siklus piutang yang dimulai dari membuat ekspektasi
tentang pendapatan hingga membuat ekspektasi tentang piutang netto berdasarkan rata-rata
periode pengumpulan piutang untuk klien.
c. Kurangnya keyakinan pada kewajaran asersi keterjadian dan asersi pisah batas akun
Pendapatan Pembiayaan. Pada asersi keterjadiaan, transaksi & kejadian yang dicatat benar
terjadi dan terkait dengan entitas baru serta aset, liabilitas dan ekuitas benar-benar ada.
Sedangkan pada asersi pisah batas, transaksi telah di catat di periode pembukuan yang
benar.
d. Apabila auditor mencurigai adanya kecurangan saya menyarankan agar auditor harus
mengumpulkan bukti tambahan, seringkali dengan cara meminta keterangan, dan
bertanggungjawab untuk melakukan sejumlah komunikasi tentang kecurangan yang
dicurigai atau terdeteksi dengan manajemen senior dan pihak yang bertanggungjawab atas
tata kelola.
e. Dengan adanya kasus ini menyebabkan Akuntan Publik dan KAP tersebut berakibat
kehilangan independensinya dan kepercayaan terhadap pemakai jasa akuntan.
f. Profesi akuntan publik sangat penting perannya dalam dunia bisnis di Indonesia, maka
Akuntan Publik harus selalu menjaga integritas dan profesionalisme melalui pelaksanaan
standar dan kode etik profesi secara konsekuen dan konsisten. Sistem pengendalian mutu
yang dimiliki oleh KAP belum dapat melakukan pencegahan yang tepat atas ancaman
kedekatan berupa keterkaitan yang cukup lama antara personel senior (manajer tim audit)
dalam perikatan audit pada klien yang sama untuk suatu periode yang cukup lama.
Padahal dalam setiap penugasan yang diberikan, Akuntan Publik harus selalu bersikap
independen dan menggunakan kemahiran jabatannya secara professional.
6. Analisis Menurut Etika Bisnis
Etika Profesi diperlukan agar apa yang dilakukan oleh suatu profesi tidak melanggar batas-
batas tertentu yang dapat merugikan suatu pribadi atas masyarakat luas seperti melakukan
tindakan yang menyimpang hukum. Semua profesi dituntut untuk berperilaku etis yaitu bertindak
sesuai dengan moral dan nilai-nilai yang berlaku. Oleh karena itu, setiap profesi dituntut untuk
bekerja secara profesional. Kelompok – kelompok profesional, seperti akuntan merupakan salah
satu profesi yang memiliki peran cukup besar dalam dunia bisnis, organisasi sosial maupun
lembaga pemerintahan. Karena seorang akuntan dapat berkarir sebagai auditor pemerintah,
auditor internal, akuntan sektor publik, akuntan keuangan daerah, akuntan manajemen dan lain-
lain. Akuntan memiliki kode etik perilaku yang disebut etika profesional. Kode etik tersebut
berupaya untuk memastikan standar kompetensi yang tinggi diantara anggota – anggota
kelompok, mengatur hubungan mereka, dan meningkatkan serta melindungi citra profesi dan
kesejahteraan komunitas profesi. (Simamora, 2002: 44).
Adanya kode etik kepercayaan masyarakat terhadap suatu profesi dapat diperkuat, karena
setiap klien mempunyai kepastian bahwa kepentingannya terjamin. Kepercayaan dari masyarakat
inilah yang menjadi alasan perlunya kode etik profesi. Banyak masalah yang terjadi pada
berbagai kasus bisnis yang melibatkan profesi akuntan. Pelanggaran etika oleh akuntan publik
misalnya dapat berupa pemberian opini wajar tanpa pengecualian untuk laporan keuangan yang
tidak memenuhi kualifikasi tertentu menurut norma pemeriksaan akuntan atau Standar
Profesional Akuntan Publik (SPAP).
(Mulyadi, 2001: 53), Kode etik akuntan Indonesia memuat delapan prinsip etika sebagai
berikut :
a. Tanggung Jawab profesi
b. Kepentingan Publik
c. Integritas
d. Obyektivitas
e. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional
f. Kerahasiaan
g. Perilaku Profesional
h. Standar Teknis

Analisis:
Akuntan Publik dapat dikatakan tidak bersalah, sepanjang sudah melakukan pemeriksaan atas
laporan keuangan klien sesuai dengan standar minimal yang disyaratkan oleh Ikatan Akuntan
Indonesia melalui standar professional akuntan publik. Dalam kasus ini, Seorang akuntan publik
yang membuat laporan keuangan PT. Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance) diduga
melakukan pelanggaran prosedur audit oleh KAP. Hasil pemeriksaan menyimpulkan terdapat
hal-hal yang belum sepenuhnya terpenuhi seperti pemahaman pengendalian sistem informasi
terkait data nasabah dan akurasi jurnal piutang pembiayaan, pemerolehan bukti audit yang cukup
dan tepat atas akun Piutang Pembiayaan Konsumen dan dalam meyakini kewajaran asersi
keterjadian dan asersi pisah batas akun Pendapatan Pembiayaan, pelaksanaan prosedur yang
memadai terkait proses deteksi risiko kecurangan serta respons atas risiko kecurangan, dan
skeptisisme profesional dalam perencanaan dan pelaksanaan audit.
Dalam prinsip-prinsip kode etik, Akuntan Publik Marlinna dan Akuntan Publik Merliyana
Syamsul telah melanggar beberapa prinsip kode etik diantaranya yaitu:
a. Tanggung jawab profesi
Pada permasalahan yang terjadi terdapat indikasi pelanggaran terhadap standar profesi
dalam audit yang dilakukan oleh kedua akuntan publik dalam pelaksanaan audit umum atas
laporan keuangan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance) tahun buku 2012
s.d. 2016, Akuntan publik tersebut tidak melakukan tanggung jawabnya secara professional
hal ini dikarenakan akuntan publik tersebut tidak menjalankan tugas profesinya dengan
baik yang berkaitan dalam hal pencatatan data nasabah, akurasi jurnal piutang,
pemerolehan bukti audit dan perencanaan dalam pelaksanaan audit sehingga dengan
terjadinya kasus tersebut menimbulkan suatu dampak yang menyebabkan tingkat
kepercayaan masyarakat terhadap akuntan publik menjadi hilang.
b. Kepentingan Publik
Seorang akuntan hendaknya harus secara terus menerus menunjukkan dedikasi mereka
untuk mencapai profesionalisme yang tinggi. Dalam kasus ini, pihak akuntan publik telah
mengorbankan kepentingan publik demi kepentingan mereka semata. Akuntan Publik
tersebut tidak menghormati kepercayaan publik dikarenakan melakukan kesalahan dalam
laporan keuangan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance).
c. Objektivitas
Dalam kasus ini, Akuntan Publik tidak menjalankan prinsip Objektivitas dengan cara
melakukan tindak ketidakjujuran secara intelektual dengan melakukan kecurangan dalam
pembuatan laporan keuangan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance).
d. Perilaku Profesional
Dalam kasus ini, Akuntan Publik berperilaku tidak baik dengan melakukan pembuatan
laporan keuangan yang salah sehingga menyebabkan reputasi profesinya buruk dan dapat
mendiskreditkan profesinya serta menimbulkan reputasi KAP yang buruk. Bukan hanya itu
saja, citra kinerja profesionalisme dari seorang akuntan publik juga dapat merusak reputasi
mereka selaku akuntan serta dapat merugikan bagi pihak-pihak yang terkait dalam kasus
ini. Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan
menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.
e. Integritas
Dalam kasus ini, Akuntan Publik tidak dapat mempertahankan integritasnya sehingga
terjadi benturan kepentingan (conflict of interest). Kepentingan yang dimaksud adalah
kepentingan publik dan kepentingan pribadi dari akuntan publik itu.

Analisis Kasus Roy Suryo

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik
Negara/Daerah, disebutkan dalam Pasal 1 Ayat (1), Barang Milik Negara adalah semua barang
yang dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau berasal dari
perolehan lainnya yang sah. Selanjutnya, BMN ini dikelola oleh menteri keuangan sebagai
bendahara negara. Pada pasal selanjutnya, disebutkan pihak-pihak yang menjadi pengguna BMN
adalah setingkat menteri/pimpinan kementerian/lembaga, kepala kantor lingkungan kementerian/
lembaga, dan kepala satuan kerja perangkat daerah.

Dalam PP tersebut, tertulis salah satu wewenang dan tanggung jawab yang dimiliki oleh
pengguna BMN adalah menggunakan barang yang berada dalam penguasaannya untuk
kepentingan penyelenggaraan tugas dan fungsi kementerian/lembaga/satuan kerja yang
dipimpinnya. Ketentuan itu dapat diartikan, pengguna BMN yang sudah selesai menjabat dan
menjalankan fungsinya di pemerintahan, tidak lagi berwenang untuk menggunakan BMN karena
sudah terlepas dari segala bentuk tugas dan fungsi di kementerian/lembaga/satuan kerja yang
pernah dipimpinnya.

Namun, Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo diketahui belum mengembalikan
sejumlah BMN yang pernah dikuasainya saat menjabat, kepada pemerintah.

Berikut ini empat fakta terkait polemik Kemenpora dengan mantan orang nomor satunya di era
pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu.

1. Surat Tagihan Surat


Di media sosial beredar foto yang memperlihatkan surat tagihan berkop Kemenpora yang
ditujukan kepada Roy Suryo untuk mengembalikan sejumlah BMN Kemenpora yang masih
belum dikembalikan selepas ia menjabat menteri pada 2014. Surat itu dikeluarkan Kemepora
setelah Tim Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang tiga bulan sebelum kemunculan surat
tagihan melakukan pemeriksaan, menemukan sejumlah BMN di lingkungan Kemenpora belum
dikembalikan. Sekretaris Kemenpora Gatot S Dewabroto mengklarifikasi bahwa surat bernomor
5-2-3/SET.BIII/V/2018 dan tertanggal 2 Mei 2018 tersebut memang dikeluarkan oleh pihak
kementerian. Untuk itu, Roy Suryo diminta untuk segera mengembalikan BMN yang dimaksud
agar proses inventarisasi barang di lingkup Kemenpora dapat dipertanggungjawabkan sesuai
ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

2. Ada 3.226 barang


Dalam surat tagihan itu disebutkan hasil pemeriksaan Tim BPK di Kemenpora menemukan
sejumlah 3.266 unit BMN yang belum dikembalikan oleh Roy Suryo. Menurut Sesmenpora,
Gatot S Dewabroto, salah satu BMN yang belum dikembalikan Roy Suryo adalah barang
elektronik. Selain itu, masih ada barang-barang lain yang dibawa Roy Suryo, akan tetapi Gatot
enggan memberikan rinciannya. Gatot menyebutkan, pihaknya akan berkoordinasi dengan
Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) dari Kementerian Keuangan dan BPK terkait
tidak kunjung dikembalikannya BMN dari Roy Suryo tersebut.

3. Pernyataan Roy Suryo


Roy heran atas tagihan yang dialamatkan kepadanya dan mengaku sama sekali tidak
menguasai BMN yang dimaksud. Ia menyebut hal ini sebagai fitnah yang sengaja dikeluarkan
untuk menjatuhkan martabak serta nama baiknya di tahun politik ini, dan menduga adanya motif
politik di balik ini semua.

4. Pernyataan Pengacara
Pengacara Roy Suryo, Tigor P Simatupang menyatakan, Kemenpora mengirimkan barang-
barang ke kediaman kliennya di Yogyakarta menggunakan kontainer. Pengiriman dilakukan
sesaat setelah Roy Suryo berhenti dari jabatannya sebagai menteri pada 2014. Saat barang itu
dikirimkan, Roy tidak berada di rumah. Sebulan setelah itu, menurut Tigor, Roy baru
mengetahui banyak tumpukan barang di rumahnya dan menanyakan milik siapakah barang-
barang tersebut. Ia meminta dilakukan pengembalian, karena merasa barang-barang itu bukan
miliknya. Surat tagihan yang kini beredar luas di media sosial, diakui Tigor tidak pernah diterima
oleh kliennya. Karena itu, ia akan meminta penjelasan dari Kemenpora dan menuntut
kementerian tersebut untuk meminta maaf. Jika tidak dipenuhi, maka pihaknya akan menempuh
langkah hukum dan mengajukan somasi.

5. Pernyataan BPK
Wakil Ketua BPK Achsanul Qosasi mengakui surat yang dikirim Kemenpora kepada Roy
Suryo adalah tindaklajuti dari temuan lembaganya. Menurutnya apa yang dilakukan Roy Suryo
masuk dalam belanja modal. Sehingga semua barang tersebut harus menjadi aset negara. Belanja
yangg dilakukan Roy Suryo adalah Belanja Modal (Anggaran 53). Sehingga semua barang
tersebut adalah Barang Milik Negara (BMN), harus terdaftar di DJKN. Jika Roy Suryo belanja
menggunakan Dana Operasional Menteri (DOM) maka tidak akan jadi masalah. BPK meminta
agar Barang tersebut dikembalikan ke Negara.

Analisis Kasus:

Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK atas Laporan Keuangan (LK) Kemenpora Tahun 2014
mencatat pembelanjaan Roy sebagai bagian dari kecacatan laporan keuangan. Belanja dilakukan
mendahului kontrak, sedangkan proses penyusunan pengadaan barang dengan mekanisme
penunjukan langsung diurus belakangan. Manipulasi pembelanjaan ini juga melibatkan
perusahaan rekanan Kemenpora, CV WS. Perusahaan rekanan Kemenpora sejak 2007 itu
dipinjam namanya sebagai pelaksana pengadaan barang yang dibeli Roy, dan memberikan dana
talangan untuk melunasi pembelian barang. Kasus barang belanjaan Roy Suryo tidak cukup
diselesaikan dengan pengembalian barang. Sesuai yang tertulis pada website Badan Pendidikan
Dan Pelatihan Keuangan Kementerian Keuangan bahwa Penyelenggaraan pengadaan barang dan
jasa pemerintah yang dilaksanakan oleh Pejabat Pembuat Komitmen dan Penyedia yang dibuat
dalam suatu kontrak atau perjanjian dan ditandatangani oleh para pihak. Pelaksanan suatu
kontrak mewajibkan Pejabat Pembuat Komitmen untuk mengawasi atau mengendalikan kontrak
yang telah ditandanganinya. Jika ada terjadi sengketa antara Pembuat Komitmen dan Penyedia
dan penyedia maka jalan penyelesaian sengketa dilakukan dengan beberapa cara antara lain
penyelesaian sengketa dengan cara musyawarah, selajutnya jika musyawarah tidak bisa
menyelesaiakan dipilih dengan cara arbitrase, atau alternative dispute resolution dan jika jalan
yang damai sudah berhenti barulah dengan cara litigasi dimuka pengadilan.

Kasus ini berpotensi merugikan negara karena perencanaan dan pengadaan barang tidak sesuai
aturan yang berlaku. Adanya kelalaian dari Roy Suryo yang membeli barang sendiri tanpa
prosedur yang berlaku membuat kesalahan dalam pencatatan barang. Hal tersebut menyebabkan
kesalahan dalam inventarisasi aset. Manajemen perlu melakukan inventarisasi aset yang
merupakan salah satu dari fungsi manajemen aset. Manajemen aset merupakan suatu cara dalam
mengelola, mengoptimalkan dan mengendalikan aset agar dapat menunjang kegiatan utama
operasional perusahaan. Inventarisasi aset merupakan serangkaian kegiatan yang mencakup
proses pendataan, pencatatan serta pengecekan mengenai kualitas dan kuantitas aset secara fisik
dan yuridis/legal, kemudian selanjutnya dilakukan kodefikasi/labelling dan
mendokumentasikannya untuk kepentingan pengelolaan aset bersangkutan dalam bentuk
laporan. Dengan dilakukannya proses inventarisasi seluruh aset beserta aspek legalnya akan
memberikan keuntungan bagi pihak pemilik dalam mengelola aset-aset yang dimilikinya, dengan
sistem pencatatan yang baik dan terintegrasi akan semakin memudahkan pemiliki dalam
melakukan pengecekan, perawatan, maupun penghapusan aset yang sudah tidak berfungsi
efektif. Inventarisasi aset adalah pekerjaan yang penting, karena berhubungan erat dengan
kondisi fisik suatu aset yang dimiliki. Apabila sistem inventarisnya baik maka akan
memudahkan pemilik aset untuk melakukan kontrol terhadap setiap aset yang dimiliki, selain itu
dengan inventarisasi yang baik akan memudahkan pemilik aset dalam mengelola dan
menggunakan aset yang dimiliki.

Kemungkinan lainnya yang dapat terjadi dari kasus ini yaitu adanya kesalahan dalam Kodefikasi
Inventarisasi Barang Milik Instansi Pemerintah. Kodefikasi dilakukan untuk memudahkan
pencatatan dan pemahaman disetiap instansi pemerintahan. Dengan inventarisasi yang baik dan
terintegrasi maka akan mengurangi hilangnya aset ataupun barang karena kelalaian maupun
kesengajaan akibat lemahnya teknis pencatatan dan pengawasan terhadap setiap aset yang
dimiliki. Inventarisasi yang dibarengi dengan pencatatan seluruh aspek legal yang lengkap pun
akan mencegah terjadinya sengketa ataupun perpindahan hak milik yang tidak diinginkan oleh
pemilik, maka hal tersebut yang membuat tidak bisa dilepaskannya pencatatan aspek-aspek legal
suatu aset disaat melakukan kegiatan inventarisasi.