Anda di halaman 1dari 10

Volume 08, Nomor 01, Juni 2017

Hal. 1-10

HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN GANGGUAN SIKLUS


MENSTRUASI PADA REMAJA PUTRI
(Studi Di Asrama III Nusantara Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang)

(THE RELATIONSHIP OF STRESS LEVEL WITH ADOLESCENT


MENSTRUATION CYCLE DISORDER)
(Study in Nusantara III Dormitory of Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang)

Siti Muniroh*, Wiwiek Widiatie*

 Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum


Jombang, email: sitimuniroh52@gmail.com, wiwiekwidiatie@gmail.com

ABSTRAK

Remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan


fisik, emosi dan psikis. Secara psikis remaja juga mengalami perubahan
emosi yakni sensitif atau peka misalnya mudah menangis, cemas, frustasi, dan
sebaliknya bisa tertawa tanpa alasan yang jelas. Kejadian tersebut sering terjadi
pada remaja putri, terutama sebelum menstruasi. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui hubungan tingkat stres terhadap gangguan siklus menstruasi.
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 15-17 Juli 2014. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah korelatif. Populasi dalam penelitian ini
adalah remaja putri usia 16-19 tahun di Asrama III Nusantara Pondok Pesantren
Darul Ulum Jombang. Adapun teknik sampling yang digunakan adalah
Simple Random Sampling dengan sampel sebanyak 69 responden. Alat
pengumpulan data menggunakan kuisioner dan checklist.
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan tingkat stres dengan
gangguan siklus menstruasi pada remaja putri Asrama III Nusantara Pondok
Pesantren Darul Ulum Jombang menggunakan uji chi square didapatkan nilai
p=0,002. Perlu dilakukan upaya-upaya pencegahan untuk meminimalisir
terjadinya stres. Saran bagi responden adalah untuk dapat menggunakan
mekanisme koping yang adaptif sehingga tidak terjadi stres.

Kata kunci : Remaja, menstruasi, stres

ABSTRACT
Adolescent is a period of transition characterized by a change in
the physical, emotional and psychological. In psychic teenagers also
experience emotional changes that are sensitive or sensitized for example easy to
cry, worry, frustration, and vice versa can laugh for no apparent reason.
The main common in young women, especially before menstruation. The
purpose of this study to determine the relationship of of stress level with
adolescent menstruation cycle disorder.

1
The experiment was conducted on 15-17 July 2014. Methods used in
this study are correlative. The population in this study were young women aged
16-19 years in Boarding Schools Boarding Nusantara III Darul 'Ulum Jombang.
The sampling technique used was simple random sampling with a sample of
69 respondents. Means of data collection using questionnaire and checklist.
The results of this study showed a correlation between stress with
menstrual cycle disorders in adolescent girls Boarding School Boarding
Nusantara III Darul 'Ulum Jombang using chi square test p value=0.002.
Thus the necessary preventive measures to minimize stress. Suggestion for
the respondent is to be able to use adaptive coping mechanisms so that no
stress.

Keywords : Teens, menstruation, stress

PENDAHULUAN jumlah dan lamanya menstruasi


(Winkjosastro, 2005).
Remaja adalah masa transisi Penelitian yang dilakukan oleh
yang ditandai oleh adanya Mulastin (2013) menunjukkan adanya
perubahan fisik, emosi dan psikis. hubungan antara stres terhadap siklus
Kematangan secara fisik sebagai menstruasi. Wanita yang tidak stres
tanda kematangan organ reproduksi cenderung tidak mengalami
pada perempuan adalah datangnya gangguan siklus menstruasi. Wanita
haid. Ini adalah permulaan dari yang stres cenderung mengalami
serangkaian pengeluaran darah, gangguan siklus menstruasi.
lendir dan jaringan sel yang hancur Berdasarkan penelitian yang
dari uterus secara berkala,yang akan dilakukan oleh Mesarini (2013)
terjadi kira-kira setiap 28 hari. menunjukkan bahwa tidak ada
Secara psikis remaja juga hubungan antara mekanisme koping
mengalami perubahan emosi yakni dengan tingkat stres tetapi ada
sensitif atau peka misalnya mudah hubungan antara tingkat stres dengan
menangis, cemas, frustasi, dan gangguan siklus menstruasi.
sebaliknya bisa tertawa tanpa Hasil penelitian pada mahasiswi
alasan yang jelas. Utamanya sering menunjukkan bahwa mahasiswi yang
terjadi pada remaja putri, lebih- memiliki stres ringan cenderung
lebih sebelum menstruasi tidak mengalami gangguan siklus
(Widyastuti, 2009). Gangguan menstruasi. Pada mahasiswi yang
menstruasi paling umum terjadi memiliki stres sedang cenderung
pada awal dan akhir masa ada gangguan siklus menstruasi. Pada
reproduktif, yaitu dibawah usia 19 mahasiswi yang memiliki stres berat
tahun dan diatas 39 tahun (Nita, cenderung gangguan siklus
2008). Gangguan menstruasi menstruasi lebih besar. Berdasarkan
merupakan masalah yang cukup survei awal yang dilakukan peneliti,
banyak dihadapi oleh wanita, sebanyak 7 dari 10 orang remaja
terutama pada usia remaja. putri di asrama III Nusantara Darul
Gangguan ini mungkin berkaitan Ulum mengalami gangguan siklus
dengan lamanya siklus haid, atau menstuasi yang disebabkan karena
stres karena berbagai faktor seperti

2
kecemasan ujian akhir semester yang demikian hormon estrogen dan
semakin dekat, tugas sekolah yang progesteron juga tidak akan
menumpuk, permasalahan dengan terbentuk sebagaimana seperti
teman, masalah keuangan, ataupun seharusnya. Estrogen merupakan
karena perasaan homesick. hormon feminim yang
Ada tiga jenis gangguan mengakibatkan perubahan fisik pada
menstruasi yang termasuk ke dalam wanita ketika remaja, seperti
siklus menstruasi yang tidak teratur perkembangn payudara, munculnya
yaitu polimenorea, oligomenorea, menstruasi dan estrogen juga
dan amenorea. Gangguan pada mempengaruhi rangkaian siklus
siklus menstruasi dipengaruhi oleh menstruasi (Carole, 2009).
gangguan pada fungsi hormon, Faktor stres ini dapat
kelainan sistemik, stres, kelenjar menurunkan ketahanan terhadap rasa
gondok, dan hormon prolaktin nyeri. Tanda pertama yang
yang belebihan (Winkjosastro, 2005). menunjukkan stres adalah adanya
Secara teori, tingkat stres reaksi yang muncul yaitu
memiliki hubungan dengan menegangnya otot tubuh individu
terganggunya siklus menstruasi. dipenuhi oleh hormon stres yang
Stresor yang membuat satu menyebabkan tekanan darah, detak
tuntutan bagi suatu pekerjaan, jantung, suhu tubuh dan pernafasan
meningkatkan panjang siklus meningkat. Disisi lain saat stres,
menstruasi, jadi menunda periode tubuh akan memproduksi hormon
setiap bulannya. Stres pada adrenalin, estrogen, progesteron
seseorang akan memicu pelepasan serta prostaglandin yang berlebihan.
hormon kortisol dalam tubuh Estrogen dapat menyebabkan
seseorang, dimana hormon ini akan peningkatan kontraksi uterus secara
bekerja mengatur seluruh sistem di berlebihan, sedangkan progesteron
dalam tubuh seperti jantung, paru- bersifat menghambat kontraksi.
paru, peredaran darah, metabolisme Peningkatan kontraksi secara
tubuh dan sistem kekebalan tubuh berlebihan ini menyebabkan rasa
dalam menghadapi stres yang ada. nyeri. Selain itu hormon adrenalin
Biasanya hormon kortisol ini juga meningkat sehingga membuat
dijadikan tolak ukur untuk melihat otot tubuh tegang termasuk otot rahim
derajat stres seseorang. Semakin dan dapat menjadikan nyeri ketika
stress seseorang, kadar kortisol dalam menstruasi (Istiqomah, 2009).
tubuhnya akan semakin tinggi (Graha, Strategi menghadapi stres
2010). Ini disebabkan karena stres antara lain dengan mempersiapkan
yang dialami mempengaruhi kerja diri menghadapi stresor dengan cara
hormon kortisol diatur oleh melakukan perbaikan diri secara
hipotalamus otak dan kelenjar psikis/mental, fisik dan sosial.
pituitari (Yustinus, 2009). Dengan Perbaikan diri secara psikis/mental
dimulainya aktivitas hipotalamus ini, yaitu dengan pengenalan diri lebih
hipofifis mengeluaraka FSH dan lanjut,penetapan tujuan hidup yang
proses stimulus ovarium akan lebih jelas, pengaturan waktu yang
menghasilkan estrogen jika terjadi baik. Perbaikan diri secara fisik
gangguan pada hormoon FSH dan dengan menjaga tubuh tetap sehat
LH tidak akan menyebabkan yaitu dengan memenuhi asupan gizi
terbentuknya sel telur. Jika yang baik, olah raga

3
teratur,istirahat yang cukup. (16-19 tahun) di Asrama III
Perbaikan diri secara sosial dengan Nusantara Darul Ulum Jombang.
melibatkan diri dalam suatu kegiatan, Populasi dalam penelitian ini
acara, organisasi dan kelompok adalah remaja akhir (16-19 tahun) di
sosial. Mengelola stres merupakan Asrama III Nusantara Darul Ulum
usaha untuk mengurangi atau sebanyak 230 orang. Sampel yang
meniadakan dampak negatif stresor digunakan dalam remaja akhir (16-
(Chomaria, 2009). 19 tahun) di Asrama III Nusantara
Berdasarkan uraian diatas, Darul Ulum yang berjumlah 69
penulis tertarik melakukan responden. Penelitian ini
penelitian untuk mengetahui menggunakan simple random
bagaimanakah hubungan antara sampling yaitu teknik acak sederhana
tingkat stres dengan siklus dilakukan seperti undian, yaitu
menstruasi pada remaja putri di semua individu berpeluang untuk
asrama III Nusantara Darul Ulum. diambil.
Instrumen yang digunakan dalam
METODE DAN ANALISA penelitian ini yaitu : a. Kuesioner
Depression Anxiety Stress Scale 42
Penelitian ini menggunakan (DASS 42) yang telah dimodifikasi.
desain penelitian korelational. DASS 42 merupakan instrumen
Penelitian korelational mengkaji yang digunakan oleh Lovibon
hubungan antara variabel. Peneliti (1995) untuk mengetahui tingkat
dapat mencari, menjelaskan suatu depresi, kecemasan dan stres. Tes ini
hubungan, memperkirakan, an merupakan tes standar yang sudah
menguji berdasarkan teori yang ada. diterima secara internasional.
Sampel perlu mewakili seluruh Kuesioner Depression Anxiety and
rentang nilai yang ada. Peneltian Stres Scale (DASS) terdiri dari 14
ini mengguanakan metode Cross soal untuk stres. Subjek menjawab
sectional. Metode Cross Sectional pertanyaan yang ada. Setiap
adalah jenis penelitian yang pertanyaan dinilai dengan skor
menekankan waktu antara 0-3. Setelah menjawab
pengukuran/observasi antar variabel seluruh pertanyaan, skor dari setiap
indepeden dan dependen hanya skala dipisahkan satu sama lain
satu kali pada satu saat, jadi tidak kemudaian diakumulasikan sehingga
ada tindak lanjut. Tentunya tidak mendapat total skor untuk stres. b.
semua subjek penelitian harus Checklist Pertanyaan yang diajukan
diobservasi pada hari atau waktu meliputi adakah gangguan siklus
yang sama, akan tetapi baik menstruasi yaitu siklus kurang dari
variabel independen maupun 24 hari atau lebih 35 hari.
variabel dependen. Analisis data Variabel
Dalam penelitian ini variabel Independen dilakukan dengan
independen yaitu tingkat stress menentukan tingkat stres pada
pada remaja akhir (16-19 tahun) di remaja putri, yaitu dengan kategori
Asrama III Nusantara Darul Ulum :Normal 0-14, Ringan 15-18, Sedang
Jombang. Dalam penelitian ini 19-25, Parah 26-33, Sangat parah >
variabel dependen yaitu gangguan 34. Uji statistik dalam penelitian ini
siklus menstruasi pada remaja akhir dengan menggunakan uji statistik
Chi-Square.

4
Data yang sudah didapat yang berumur 17 tahun sebanyak 30
dianalisis menggunakan teknik orang ( 43,5%), 19 tahun sebanyak 23
SPSS 21 nilai α< 0.05 berarti ada rorang (33,3%), sebagian kecil
hubungan antara tingkat stres berusia berusia 16 tahun sebanyak
terhadap gangguan siklus menstruasi 9 orang (13%) dan berusia 18 tahun
sedangkan apabila nilai α > 0.05 sebanyak 7 orang (10,1%).
berarti tidak ada hubungan antara Tabel 2 menunjukkan bahwa
antara tingkat stres terhadap sebagian besar dari responden
gangguan siklus menstruasi. berpendidikan SMA sebanyak 46
orang (66,7%), dan hampir
HASIL DAN PEMBAHASAN setengahnya berpendidikan perguruan
tinggi sebanyak 23 orang (33,3%).
Tabel 1 menunjukkan bahwa
hampir setengah dari responden

Tabel 1 Karakteristik responden berdasarkan umur di Asrama III Nusantara


Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang.
No Umur Frekuensi %
1 16 tahun 9 13,0
2 17 tahun 30 43,5
3 18 tahun 7 10,1
4 19 tahun 23 33,3
Total 69 100

Tabel 2 Karakteristik responden berdasarkan pendidikan di Asrama III


Nusantara Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang.

No Pendidikan Frekuensi %
1 SMA 46 66,7
2 Perguruan Tinggi 23 33,3
Total 69 100%

Berdasarkan tabel diatas dapat hampir setengahnya berpendidikan


diketahui bahwa sebagian besar perguruan tinggi sebanyak 23 orang
dari responden berpendidikan SMA (33,3%).
sebanyak 46 orang (66,7%), dan

Tabel 3 Distribusi tingkat stres remaja putri Asrama III Nusantara Pondok
Pesantren Darul Ulum Jombang

No Tingkat stres Frekuensi %


1 Normal 20 29
2 Ringan 33 47,8
3 Sedang 10 14,5
4 Parah 5 7,2
5 Sangat parah 1 1,4
Total 69 100%

5
Tabel 3 menunjukkan bahwa sebanayak 10 orang (14,5%),
hampir setengah dari responden mengalami stres parah sebanyak 5
mengalami stres ringan sebanyak orang (7,2%), dan mengalami stres
33 orang (47,8%), sebagian kecil sangat parah sebanyak 1 orang
tidak mengalami stres sebanyak 20 (1,4%).
orang (29%), mengalami stres sedang

Tabel 4 Gangguan siklus menstruasi pada remaja putri Asrama III Nusantara
Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang

No Mengalami gangguan siklus Frekuensi %


menstruasi
1 Ya 45 65,2
2 Tidak 24 34,8
Total 69 100%

Tabel 5 Hubungan tingkat stress dengan gangguan siklus menstruasi pada remaja
putri asrama III Nusantara Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang

Tingkat stres Gangguan siklus Total Nilai


menstruasi ρ
Ya Tidak
Normal Jumlah 6 14 20 0,002
Prosentase 8,7 20,3 29
Ringan Jumlah 26 7 33
Prosentase 37,7 10,2 47,9
Sedang Jumlah 9 1 10
Prosentase 13,1 1,4 14,5
Parah Jumlah 3 2 5
Prosentase 4,3 2,9 7,2
Sangat Jumlah 1 0 1
parah
Prosentase 1,4 0 1,4
Total Jumlah 45 24 69
Prosentase 65,2 34,8 100

Tabel 4 menunjukkan bahwa mengalami stres ringan dan


dari hasil observasi didapatkan gangguan siklus menstruasi
sebagian besar responden sebanyak 26 orang (37,7%),
mengalami gangguan siklus sebagian kecil mengalami stres
menstruasi sebanyak 45 orang sedang dan gangguan siklus
(65,2%), dan hampir setengahnya menstruasi sebanyak 9 orang
tidak mengalami gangguan siklus (13,1%). Responen yang mengalami
menstruasi sebanyak 24 orang stres parah dan gangguan siklus
(34,8%). menstruasi sebanyak 3 orang (4,3%)
Tabel 5 menunjukkan bahwa dan mengalami stres sangat parah
hampir setengah dari responden sebanyak 1 orang (1,4%).

6
Berdasarkan uji statistik Chi-square suatu perubahan organ-organ fisik
Hubungan tingkat stres dengan (organobiologik) secara cepat,
gangguan siklus menstruasi pada perubahan tersebut tidak seimbang
remaja putri Asrama III Nusantara dengan perunahan kejiwaasn (mental
Pondok Pesantren Darul „Ulum emosional). Terjadinya perubahan
Jombang menunjukkan nilai p = besar ini umumnya membingungkan
0,002. remaja yang mengalaminya. Dalam
Berdasarkan tabel 5 didapatkan hal inilah bagi para ahli dalam
bahwa setengah dari responden bidang ini, memandang perlu akan
mengalami stres ringan sebanyak 33 adanya pengertian, bimbingan dan
orang (47,8%). Menurut Hawari dukungan dari lingkungan di
yang dikutip dari Amberg (1979) sekitarnya, agar dalam perubahan
tanda-tanda dari stres ringan adalah sistem tersebut terjadi pertumbuhan
semangat bekerja besar, berlebihan dan perkembangan yang sehat
(overacting), penglihatan “tajam” sedemikian rupa sehingga kelak
tidak sebagaimana biasanya, merasa remaja tersebut menjadi manusia
mampu menyelesaikan pekerjaan dewasa yang sehat. Oleh sebab itu
lebih dari biasanya namun tanpa remaja sangat rentan mengalami stres
disadari cadanagn energi dihabiskan karena banyak terjadi perubahan
(all out) disertai rasa gugup yang dalam dirinya. Selain itu masa
berlebihan pula, merasa senang remaja merupakan masa awal
dengan pekerjaanya itu dan menuju dewasa, sehingga remaja
semakin bertambah semangat, dituntut untuk dapat melaksanakan
namun tanpa disadari cadangan tugas perkembanagnnya dengan
energi semakin menipis. Hal ini baik serta dituntut untuk
bisa karenakan beban tugas yang menjalankan peran baru menuju
tinggi, sehingga menimbulkan suatu tahap kedewasaan, tuntutan ini
tuntutan untuk menyelesaikannya, seringkali menimbulkan remaja
akan tapi tanpa disadari semangat bingung sebab remaja masih dalam
yang tinggi untuk menyelesaikan tahap adaptasi dan mencari jati diri.
tugas tersebut mengarah pada stres Tabel 5 diketahui bahwa
yang berkelanjutan apabila sebagian besar responden
seseorang tersebut tidak segera mengalami gangguan siklus
menggunakan mekanisme koping menstruasi sebanyak 45 orang
yang adaptif. (65,2%), hal ini dipengaruhi oleh
Salah satu faktor yang beberapa faktor, diantaranya adalah
berpengaruh terhadap stres adalah faktor usia yang mana seluruh
faktor usia yang mana seluruh responden berusia remaja. Menurut
responden berusia remaja. Menurut Prawiroharjo (2011) Pada remaja
Widyastuti (2009) bahwa pada oligomenorea dapat terjadi karena
remaja bisa terjadi perubahan imaturitas poros hipotalamus
emosi, perubahan tersebut serupa hipofisis ovarium endometrium.
kondisi sensitif atau peka misalnya Remaja merupakan masa awal
mudah menangis,cemas,frustasi,dan peralihan dari anak-anak menuju
sebaliknya bisa tertawa tanpa dewasa, sehingga banyak terjadi
alasan yang jelas. Utamanya sering perubahan, salah satunya perubahan
terjadi pada remaja putri. Pada dan perkembanagan organ
masa remaja tersebut terjadilah reproduksi. Menurut Nita (2008)

7
Gangguan menstruasi paling umum sendiri dapat diketahui dengan
terjadi pada awal dan akhir masa melihat atau merasakan perubahan
reproduktif, yaitu dibawah usia 19 yang terjadi pada dirinya yang
tahun dan diatas 39 tahun. meliputi respon fisik, psikologis
Menurut Winkjosastro (2005) dan perilaku namun masih ada
Gangguan menstruasi merupakan yang tidak sadar bahwa pada saat
masalah yang cukup banyak dihadapi itu sedang mengalami stres. Oleh
oleh wanita, terutama pada usia karena itu pengetahuan mengenai
remaja. Gangguan ini mungkin stres dan penanganannya perlu
berkaitan dengan lamanya siklus haid, diketahui dengan harapan dapat
atau jumlah dan lamanya menstruasi. menyikapi stres dengan tindakan
Masa awal perkembangan yang benar.
reproduksi ini sangat rentan terjadi Berdasarkan penelitian yang
gangguan karena masih dalam tahap dilakukan oleh Isnaeni (2010)
penyesuaian. menunjukkan adanya hubungan
Berdasarkan analisis data positif antara stres dengan
dengan SPSS versi 21 gangguan pola menstruasi pada
menggunakan uji statistik chi mahasiswa D IV Kebidanan Jalur
square dengan taraf signifikansi Reguler Universitas Sebelas Maret
α<0,05 diperoleh nilai p = 0,002. Hal Surakarta dengan kekuatan korelasi
ini berarti bahwa terdapat hubungan lemah. Menurut Graha (2010)
secara positif antara tingkat stres tingkat stres memiliki hubungan
dengan gangguan siklus menstruasi dengan terganggunya siklus
pada remaja putri Asrama III menstruasi. Stresor yang membuat
Nusantara Pondok Pesantren Darul satu tuntutan bagi suatu pekerjaan,
Ulum Jombang dengan kekuatan meningkatkan panjang siklus
korelasi lemah hal ini dapat menstruasi, jadi menunda periode
dipengaruhi oleh beberapa faktor. setiap bulannya. Stres pada
Salah satunya adalah faktor jumlah seseorang akan memicu pelepasan
responden. Karena banyak hormon kortisol dalam tubuh
sedikitnya responden dapat seseorang, dimana hormon ini akan
mempengaruhi hasil penelitian bekerja mengatur seluruh sistem di
karena untuk penelitian dengan dalam tubuh seperti jantung, paru-
design cross sectional diperlukan paru, peredaran darah, metabolisme
subjek yang cukup besar (Arief, tubuh dan sistem kekebalan tubuh
2008). Kondisi responden saat dalam menghadapi stres yang ada.
pengisian kuesioner juga Biasanya hormon kortisol ini
mempengaruhi, karena stres dapat dijadikan tolak ukur untuk melihat
berubah-ubah dari waktu ke waktu. derajat stres seseorang. Semakin
Stres bersifat subyektif dan stres seseorang, kadar kortisol
individual. Keadaan ini bermula dalam tubuhnya akan semakin
ketika mengamati satu situasi atau tinggi. Menurut Yustinus (2009) stres
kejadian yang disebut dengan yang dialami mempengaruhi kerja
stressor. Hal ini berarti bahwa otak hormon kortisol diatur oleh
tidak memberikan respon secara hipotalamus otak dan kelenjar
buta tetapi respon yang terjadi pituitari. Menurut Carole (2009)
merupakan hasil interpretasi Dengan dimulainya aktivitas
subyektif. Walaupun stres itu hipotalamus ini, hipofifis

8
mengeluarakan FSH dan proses tetap sehat yaitu dengan memenuhi
stimulus ovarium akan asupan gizi yang baik, olah raga
menghasilkan estrogen jika terjadi teratur,istirahat yang cukup,
gangguan pada hormon FSH dan melibatkan diri dalam suatu
LH tidak akan menyebabkan kegiatan, acara, organisasi dan
terbentuknya sel telur. Jika demikian kelompok sosial.
hormon estrogen dan progesteron
juga tidak akan terbentuk DAFTAR PUSTAKA
sebagaimana seperti seharusnya.
Estrogen merupakan hormon Carole (2009). Menstruasi. Salemba
feminim yang mengakibatkan Medika : Jakarta
perubahan fisik pada wanita ketika Graha, C., (2010). 100 Question
remaja, seperti perkembangan and Answers. PT Elex Media
payudara, munculnya menstruasi dan Komputindo : Jakarta
estrogen juga mempengaruhi Hawari, D., (2013). Manajemen stres
rangkaian siklus menstruasi. Dapat cemas dan depresi. Edisi ke 2.
dipahami bahwa stres erat Badan penerbit FKUI : Jakarta
kaitannya dengan sistem hormonal Hidayat, A.A., (2010). Metode
tubuh, yang diawali dari stimulus Penelitian Kesehatan. Health
stres pada hipotalamus, sehingga Books Publishing : Surabaya
akan mengganggu pada proses Isnaeni, D.N., (2010). Hubungan
pelepasan hormon oleh kelenjar antara stres dengan pola
hipofisis ke organ tertentu, salah menstruasi pada
satunya yaitu hormon-hormon yang mahasiswa D IV kebidanan
bekerja pada sistem reproduksi jalur reguler. Universitas
yaitu FSH dan LH, sehingga akan Sebelas Maret : Surakarta.
mengganggu rangkaian siklus Laili, N.N., (2011). Buku pintar
menstruasi. menstruasi. Bukubiru :
Yogyakarta.
SIMPULAN DAN SARAN Mesarini, B.A., & Astuti, V.W.,
(2013). Stres dan mekanisme
SIMPULAN koping terhadap gangguan
siklus menstruasi pada
Gangguan siklus menstruasi remaja putri. Stikes RS
berhubungan dengan tingkat stress Baptis. Kediri.
remaja putri Asrama III Nusantara Reeder, et al., (2012). Keperawatan
Pondok Pesantren Darul ‘Ulum maternitas. Edisi 18. Penerbit
Jombang. buku kedokteran EGC : Jakarta
Saam, Z & Wahyuni, S., (2013).
SARAN Psikologi Keperawatan. PT
Raja Grafindo Persada : Jakarta
Responden hendaknya Sarwono (2011). Ilmu kandungan.
melakukan strategi menghadapi Edisi ke Tiga. PT Bina
stres antara lain dengan pengenalan Pustaka Sarwono
diri lebih lanjut,penetapan tujuan Prawirohardjo : Jakarta
hidup yang lebih jelas, pengaturan Sarwono, J., (2009). Statistik itu
waktu yang baik. Perbaikan diri mudah. EGC : Jakarta
secara fisik dengan menjaga tubuh

9
Widyastuti, Y., (2009). Kesehatan Pustaka Sarwono Prawiroharjo
Reproduksi. Penerbit : Jakarta
Fitramaya : Yogyakarta Yustinus (2009). Siklus Menstruasi
Winkjosastro, H., (2005). Ilmu pada Wanita. Penerbit Buku
Kandungan. Yayasan Bina Kedokteran EGC : Jakarta.

10